ASMARA BERDARAH : JILID-02


Atas usul Thian Kong Hwesio, dua orang pemuda dipilih untuk menjadi pengantar barang-barang permintaan Dewi Laut. Tentu saja mereka bukan pemuda biasa, namun dua orang murid Thian Kong Hwesio sendiri yang selain muda dan tampan, juga gagah dan memiliki kepandaian silat yang sudah cukup tinggi.

Kamar di menara itu adalah sebuah ruangan atau tempat Hai Cu Nikouw biasa berlatih semedhi, sebuah ruangan yang berukuran tiga meter kali tiga meter. Satu-satunya jalan menuju ke ruangan itu hanya melalui sebuah anak tangga yang sempit dan yang hanya dapat dilalui oleh seorang saja.

Bersama kepala daerah dan para perwira, suheng dan sumoi itu lalu memasang jebakan dan mengatur baris pendam. Pasukan pilihan bersembunyi di kanan kiri anak tangga, dan di sekitar menara itu telah bersembunyi pula pasukan lain, sedangkan Thian Kong Hwesio dan Hai Cu Nikouw sendiri bersembunyi di atas genteng menara, bersiap untuk menyerbu kalau penjahat itu memasuki kamar menara.

Dua orang pemuda murid Thian Kong Hwesio yang nanti akan membawa barang-barang pesanan penjahat yang menyamar sebagai Dewi Laut, diam-diam juga memperlengkapi dirinya dengan senjata yang disembunyikan di bawah baju longgar.

Malam itu bulan lebih terang dari pada malam kemarin. Langit sangat cerah, akan tetapi tidak demikian cerah rasa hati dua orang suheng dan sumoi yang sedang bersembunyi di atas genteng. Jantung mereka berdebar tegang.

Walau pun mereka tahu bahwa tempat itu telah dikurung oleh pasukan yang dipimpin oleh para perwira yang pandai, bahkan di dalam menara sudah terdapat pasukan pilihan yang bersembunyi, namun mereka tahu bahwa mereka menghadapi seorang yang sangat lihai. Di samping itu, timbul kekhawatiran di hati Hai Cu Nikouw, yaitu kalau-kalau yang akan muncul adalah benar-benar penjelmaan Dewi Laut. Ngeri dia memikirkan kemungkinan ini, walau pun suheng-nya sudah menyatakan keyakinannya bahwa tentu wanita itu seorang penjahat yang mengaku-aku sebagai Dewi Laut.

Setelah malam agak larut dan bulan naik tinggi, suasana menjadi amat sunyi dan makin menyeramkan. Suara seekor burung malam yang terbang di atas kepala mereka sempat mengejutkan hati dua orang pendeta yang memiliki ilmu tinggi itu. Dalam keadaan tegang, memang orang menjadi mudah sekali kaget.

Dua orang pemuda murid Thian Kong Hwesio nampak naik ke atas menara melalui anak tangga. Mereka adalah dua orang pemuda berusia dua puluh tahun, berwajah tampan dan bersikap gagah, juga mengenakan pakaian indah. Dengan langkah tegap mereka menaiki anak tangga.

Salah seorang di antara mereka membawa baki penuh dengan hidangan-hidangan yang masih mengepulkan uap panas. Yang seorang lagi membawa baki tertutup kain merah dan di baki itu terdapat gumpalan-gumpalan emas seberat lima puluh tail emas.

Mereka sudah mempersiapkan diri dengan senjata rahasia dan pedang pendek yang kini mereka sembunyikan di bawah jubah. Mereka tahu pula bahwa guru dan bibi guru mereka berjaga di atas genteng menara, dan bahwa di situ juga banyak terdapat penjaga-penjaga yang bersembunyi untuk melindungi mereka. Namun tetap saja mereka merasa tegang dan agak gentar karena guru mereka sudah berpesan bahwa yang mereka hadapi adalah wanita iblis yang amat lihai.

Jantung mereka berdebar tegang ketika keduanya tiba di depan kamar menara. Dengan hati-hati mereka menggunakan kaki mendorong daun pintu yang dengan mudah terbuka karena memang tak terkunci. Ruangan itu kosong. Sebuah ruangan bersih berbau harum dupa dan bunga, dan lantainya ditilami permadani dan kasur tipis.

Mereka berdua saling pandang dengan hati lega karena ternyata iblis itu tidak berada di sana. Dengan hati-hati mereka membuka sepatu dan memasuki ruangan itu, meletakkan baki masakan dan emas itu di atas lantai. Karena lilin yang bernyala di sudut ruangan itu hampir padam, seorang di antara mereka lalu menyalakan sebuah lilin besar di sudut dan kamar itu menjadi terang.

Agaknya sinar terang di kamar itu menjadi tanda bagi sesosok bayangan untuk bergerak datang. Demikian cepatnya bayangan itu bergerak sehingga Thian Kong Hwesio dan Hai Cu Nikouw yang sedang berjaga di atas genteng hanya melihat berkelebatnya bayangan yang kemudian lenyap. Mereka mengira bahwa itu hanya bayangan burung yang lewat, maka mereka tetap mendekam di tempat persembunyian mereka sambil menanti dengan waspada.

Akan tetapi bayangan yang berkelebat amat cepat tadi ternyata bukan burung, melainkan bayangan dari sesosok tubuh manusia yang ramping pinggangnya. Bayangan itu melesat dengan cepatnya lantas bersembunyi di balik wuwungan menara. Cahaya lilin besar yang menyorot keluar dari genteng menara menimpa mukanya. Muka yang mengerikan karena memakai topeng hitam yang memiliki lubang-lubang kecil memperlihatkan sepasang mata yang bersinar tajam, hidung yang kecil serta mulut yang bibirnya lebar dan amat merah. Sukar menaksir bagaimana bentuk wajahnya atau pun berapa usianya.

Agaknya dia tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa di sekitar tempat itu bersembunyi banyak penjaga yang terus mengikuti gerak-geriknya dengan pandang mata yang tegang. Dengan seenaknya bayangan itu lalu meloncat turun dan menghampiri anak tangga. Akan tetapi baru saja dia meletakkan kakinya pada anak tangga pertama, tiba-tiba enam orang penjaga yang bersembunyi di sekitar anak tangga sudah bermunculan dan menyerbunya dengan senjata mereka.

Melihat senjata berkilatan dari segenap penjuru, wanita berkedok itu mengeluarkan suara mendengus dari hidungnya, kelihatan tidak kaget sama sekali dan bibir yang merah lebar di balik kedok itu menyeringai, memperlihatkan gigi yang putih dan besar-besar.

Tiba-tiba kedua tangannya bergerak, maka benda-benda kecil berkeredepan menyambar ke arah enam orang penyerangnya dan terdengarlah suara mereka menjerit lalu seorang demi seorang roboh terpelanting dan tidak dapat bangkit kembali melainkan berkelojotan dalam sekarat! Leher mereka, tepat di tenggorokan, tertancap oleh sebatang jarum yang amblas masuk, membawa racun bersamanya.

Jeritan-jeritan ini tentu saja menarik perhatian, lantas nampaklah bayangan banyak orang berlari-larian dan dari atas menyambar tubuh Hai Cu Nikouw. Melihat betapa ada seorang wanita berkedok berdiri di bawah anak tangga dan enam orang penjaga yang bertugas menjaga di sana telah roboh berkelojotan semua, Hai Cu Nikouw dan suheng-nya terkejut bukan main. Bagaimana wanita ini dapat masuk ke situ tanpa mereka ketahui?

"Iblis jahat, terimalah hukumanmu!" bentak Hai Cu Nikouw.

Sambil membentak dia menerjang ke depan, mempergunakan sepasang pedangnya yang jarang sekali keluar dari sarungnya itu. Dua cahaya putih berkelebat menyilang dan titik pertemuan silangan ini adalah leher wanita berkedok itu. Hebat bukan kepalang serangan nenek pendeta ini.

"Cringgg...!"

Sepasang pedang itu saling serempet sendiri, namun leher yang menjadi sasaran sudah tidak berada di tempat. Kiranya wanita berkedok itu dengan gerakan yang lebih cepat lagi sudah dapat mengelak dan meloncat ke belakang sambil tersenyum di balik kedoknya.

"Hemm, kalian mengkhianatiku! Berarti kalian mencari mampus dan kuil ini akan kubakar habis!"

Thian Kong Hwesio sudah ikut menerjang pula dengan mempergunakan tongkat bajanya. Wanita berkedok itu pun cepat mengelak dari sambaran tongkat yang mengarah kepala, kemudian tiba-tiba dia menggerakkan kedua tangannya seperti yang tadi dilakukan untuk merobohkan enam orang penjaga.

"Wuuuttt...!"

Tiga batang jarum beracun menyambar ke arah tubuh Thian Kong Hwesio dan tiga lagi ke arah Hai Cu Nikouw. Akan tetapi kedua orang pendeta ini tidaklah selemah para penjaga tadi. Mereka berdua sudah dapat menduga akan kelihaian dan kecurangan lawan, maka begitu wanita itu menggerakkan kedua tangannya dan melihat berkelebatnya benda kecil, mereka cepat meloncat ke samping sehingga terhindar dari maut. Dengan marah mereka berdua lalu menyerang wanita iblis itu dari kanan kiri.

"Singgg...!"

Wanita itu menggerakkan tangan kanan ke bawah jubahnya, lantas nampaklah sebatang pedang berkilauan di tangannya. Begitu dia menggerakkan pedang menangkis, serangan kedua orang pendeta itu dapat ditangkisnya dan mereka berdua cepat melangkah mundur dengan kaget ketika tangkisan itu menimbulkan suara nyaring dan mereka merasa betapa lengan mereka kesemutan. Cepat mereka memeriksa senjata masing-masing dan merasa lega bahwa senjata mereka yang juga merupakan senjata pilihan tidak sampai rusak oleh tangkisan pedang wanita iblis itu.

Kembali mereka menerjang, tetapi sekali ini wanita berkedok bukan hanya mengelak dan menangkis, melainkan juga membalas dengan serangan yang gerakannya sangat ganas, cepat dan kuat. Dalam belasan jurus saja suheng dan sumoi itu telah terdesak hebat oleh pedang si wanita iblis yang gaya permainannya sangat aneh dan ganas itu. Akan tetapi, kakak beradik seperguruan itu langsung merasa lega ketika bermunculan perwira-perwira dengan pasukannya yang mengurung dan mengeroyok si wanita iblis.

Wanita berkedok itu kini terdesak dan dia pun mulai memaki-maki dengan kata-kata kotor. Hal ini semakin meyakinkan hati Thian Kong Hwesio dan sumoi-nya bahwa tidak mungkin jika wanita berkedok ini merupakan penjelmaan Dewi Laut yang berbudi mulia itu. Mereka pun menyerang dan mendesak dengan sengit.

Karena sekarang dikeroyok oleh banyak orang, wanita berkedok yang sedang terdesak itu meninggalkan bawah anak tangga lalu menuju ke ruangan yang tak jauh dari situ, sebuah ruangan yang luas di mana dia dapat memainkan pedangnya dengan leluasa.

Wanita itu memang lihai sekali, terutama memiliki kecepatan yang luar biasa. Kalau tidak dikeroyok sampai delapan orang yang rata-rata memiliki ilmu silat yang lumayan, karena mereka yang membantu kedua orang pendeta itu adalah para perwira, maka belum tentu dua orang itu mampu mendesaknya. Dia telah berusaha untuk menyebar jarum-jarumnya, akan tetapi enam orang perwira itu terlalu tangguh untuk dapat dirobohkan dengan senjata rahasia.

Baiknya para prajurit penjaga yang mengepung tempat itu sudah gentar menghadapinya, sesudah empat prajurit yang ikut-ikutan maju akhirnya roboh dan tewas oleh pedangnya. Mereka hanya mengepung tempat itu dengan senjata di tangan, akan tetapi tidak berani sembarangan maju, bahkan dilarang oleh para perwira.

Kini wanita berkedok itu mulai merasa kerepotan dan mencari-cari jalan keluar yang telah tertutup dan terkepung oleh pasukan. Selagi dia kerepotan itu, mendadak terdengar suara ketawa yang parau, disusul suara ejekan yang kasar.

"Ha-ha-ha, sekarang nenek cabul seperti tikus tersudut!"

Terjadi kekacauan di dekat pintu dan nampak enam orang anggota pasukan roboh mandi darah, disusul kemunculan seorang kakek yang usianya sudah hampir enam puluh tahun. Kakek ini bertubuh tinggi besar, mukanya membayangkan kekasaran. Matanya lebar dan bundar, hidungnya besar, mulutnya hampir tidak terlihat akibat tertutup kumis dan jenggot. Pakaiannya juga terbuat dari kain kasar sederhana, dan sepatunya butut.

Kakek ini membawa sebatang pecut panjang, tetapi ketika membobol kepungan pasukan dari belakang tadi, dia merobohkan enam orang prajurit itu hanya dengan cengkeraman-cengkeraman tangan kirinya yang bagaikan tangan baja itu. Sekali cengkeram saja, maka pecahlah kepala orang-orang itu dan mereka pun roboh berlumuran darah dalam keadaan yang amat mengerikan!

Meski pun kakek itu datang sambil memaki si wanita iblis, akan tetapi melihat betapa dia membunuh enam orang prajurit, para perwira menjadi marah dan maklum bahwa kakek ini pun bukan orang baik-baik dan bukan pihak kawan. Maka mereka pun menyambutnya dengan serangan senjata mereka.

Terdengar bunyi ledakan-ledakan keras ketika kakek itu menggerakkan cambuknya, dan robohlah salah seorang di antara enam orang perwira itu. Dahinya, di antara kedua mata, berlubang mengeluarkan darah dan dia pun tewas seketika. Kiranya pada ujung cambuk kakek itu dipasangi sebuah benda seperti paku yang terbuat dari baja dan benda inilah yang tadi menyambar dan melubangi dahi itu.

Tentu saja keadaan menjadi geger dan kini perkelahian menjadi semakin sengit di mana nenek berkedok dan kakek bercambuk itu mengamuk dan membabati musuh seenaknya. Karena ditinggalkan oleh enam orang perwira tapi kini tinggal lima orang, karena hendak mengeroyok kakek itu, Thian Kong Hwesio dan Hai Cu Nikouw kini terpaksa menghadapi nenek iblis itu berdua saja sehingga mereka segera terdesak hebat.

"Kakek hina-dina, aku tak butuh bantuanmu!" Sambil terus menyerang, berkali-kali nenek iblis itu berteriak memaki-maki kakek itu.

“Nenek cabul tak tahu budi, tutup saja mulutmu dan mari kita bereskan mereka ini!" kakek itu menjawab, dengan suara kasar pula.

Karena saling memaki ini, agaknya timbul kemarahan di dalam hati mereka dan keduanya mengamuk semakin hebat. Dalam waktu yang tidak terlampau lama, akhirnya lima orang perwira itu pun roboh dan tewas di tangan kakek itu, sedangkan Thian Kong Hwesio dan Hai Cu Nikouw pun terdesak, bahkan sudah menderita luka-luka yang cukup parah oleh sambaran pedang wanita iblis!

Pasukan yang mengepung melihat atasan mereka sudah roboh semua. Mereka berusaha untuk mengeroyok, akan tetapi mereka yang berani maju lebih dulu seperti mengantarkan nyawa saja. Yang lain-lain menjadi gentar dan ketika Thian Kong Hwesio serta sumoi-nya terpaksa meloncat ke atas genteng dan menyelamatkan diri, sisa pasukan itu pun segera lari cerai-berai!

Kini tinggal si nenek iblis dan kakek lihai itu yang berdiri saling berhadapan, dan dengan senjata di tangan, wajah mereka masih nampak beringas. Belasan mayat bergelimpangan di sekitar mereka dan bau amis darah memenuhi udara tempat itu.

"Koai-pian Hek-mo, siapa suruh engkau membantu? Kita adalah saingan dan musuh, aku tidak membutuhkan bantuanmu!" Nenek iblis itu membentak.

Dengan tangan kiri kakek yang berjuluk Koai-pian Hek-mo itu mengusap mukanya yang kasar dan hitam, mengusap keringatnya. "Hwa-hwa Kui-bo, dalam keadaan kita ditentang oleh golongan putih, engkau masih begini congkak terhadap orang segolongan? Apakah otakmu sudah mulai miring?"

"Tua bangka hina, mampuslah kau!" Nenek berkedok itu pun segera menyerang dengan pedangnya, mengirim tusukan yang amat cepat ke arah dada lawan.

"Cringgg…! Tranggg...!"

Cambuk itu bergerak lantas gagangnya menangkis pedang. Pedang dan cambuk bertemu dengan amat kerasnya sehingga keduanya bertindak mundur tiga langkah.

"Kui-bo, musuh-musuh yang kuat sudah mulai berkumpul. Kita harus bersatu padu untuk menghadapi mereka. Biarlah saat ini kita berdamai dulu, kalau memang perlu lain kali kita lanjutkan. Mari kita bekerja sama. Bukankah ada dua orang pemuda di menara itu? Kita bagi saja seorang satu. Engkau sendiri tak boleh terlampau menghamburkan tenaga, ada pun dua orang pemuda sekaligus tentu dapat menghabiskan tenagamu, padahal kita akan memerlukannya dalam hari-hari mendatang ini. Bagaimana? Apakah kau ingin kita terus berkelahi dan membiarkan musuh-musuh kita mentertawakan kita?"

Nenek itu nampak bimbang dan akhirnya ia mendengus. "Huh, enak saja, aku yang susah payah engkau hanya ingin menggerogoti hasilnya!" Akan tetapi sambil berkata demikian, dia menyimpan pedangnya, membalikkan tubuh dan berjalan menuju ke tangga menara. Kakek itu tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, tadi aku pun sudah turut bersusah payah, maka sudah sepatutnya kalau aku mendapatkan bagianku pula." Kemudian dia pun melangkah lebar menyusul nenek iblis itu menaiki anak tangga.

Dapat dibayangkan betapa gentar dan tegang rasa hati dua orang muda yang berada di dalam kamar menara itu. Dari atas mereka menyaksikan perkelahian yang amat hebat itu dan melihat alangkah lihainya nenek dan kakek iblis. Bahkan mereka melihat pula betapa guru mereka, Thian Kong Hwesio, terluka dan melarikan diri. Kalau guru mereka sendiri, dibantu oleh bibi guru mereka, tak mampu mengalahkan nenek iblis itu, apa lagi mereka! Dan kini nenek itu malah disertai oleh kakek yang demikian lihainya.

Biar pun demikian, sebagai pemuda-pemuda yang semenjak kecil digembleng kegagahan oleh guru mereka, dua orang muda itu menanti kedatangan kakek dan nenek iblis dengan pedang di tangan kanan dan senjata rahasia piauw (pisau terbang) di tangan kiri. Begitu Hwa-hwa Kui-bo dan Koai-pian Hek-mo muncul dan baru saja mereka melangkahkan kaki melewati ambang pintu, dua orang muda itu menyerang dengan sambitan piauw mereka!

Akan tetapi sedikit pun kedua orang iblis itu tidak memperlihatkan rasa kagetnya. Hanya dengan gerakan tangan kiri sedikit saja keduanya sudah mampu menyampok runtuh dua batang piauw itu yang meluncur ke bawah lantas menancap ke atas lantai kamar menara yang berbuat dari papan tebal. Kini kedua orang pemuda itu menyerang dengan pedang mereka secara nekat.

"Ha-ha-ha-ha, kekasih-kekasih kita menyambut dengan hangat sekali!" Koai-pian Hek-mo tertawa dan dia pun menyambut pedang lawan dengan tangan kosong! Dalam beberapa gebrakan saja, pedang itu dapat dirampas dan sekali tangan kakek itu menotok, pemuda yang menyerangnya roboh lemas dan segera disambar ke dalam rangkulannya.

Pemuda kedua yang menyerang Hwa-hwa Kui-bo juga mengalami nasib yang sama pula. Pedangnya terpukul jatuh dan dia pun ditotok kemudian dirangkul dan dipondong. Sambil tertawa-tawa, Koai-pian Hek-mo telah memondong pemuda tawanannya menuju ke dalam kamar menara, membawanya ke sebuah sudut kamar. Hwa-hwa Kui-bo juga membawa korbannya ke sudut yang lain, kemudian dari tempat itu ia meniup ke arah lilin besar yang seketika menjadi padam.

"Ha-ha-ha, Kui-bo, engkau masih jengah dan malu-malu lagi? Ha-ha-ha!" kakek iblis itu mentertawakan temannya yang tidak menjawab. Kamar itu menjadi gelap dan dari luar tak terdengar apa-apa lagi…..

********************

Sementara itu, kepala daerah menjadi terkejut dan marah sekali saat mendengar laporan tentang kegagalan pasukan keamanan menghadapi penjahat yang mengacau di kuil Dewi Laut. Dia segera memerintahkan semua perwira yang ada untuk mengirim pasukan baru dan membantu kawan-kawan mereka.

Sesudah mengobati luka-luka mereka, Thian Kong Hwesio dan Hai Cu Nikouw juga turut membantu para perwira melakukan pengepungan terhadap kuil dan terutama menara itu. Mereka semua melihat betapa menara itu gelap, lilin di dalamnya telah dipadamkan orang dan tidak terdengar suara apa pun dari luar.

Pada saat para perwira membuat gerakan yang memerintahkan anak buahnya menyerbu menara, Thian Kong Hwesio cepat mengangkat tangan dan menggeleng kepala. "Jangan sembarangan bergerak! Mereka berada di tempat gelap dalam kamar dan mereka itu lihai sekali. Menyerbu mereka yang berada dalam gelap sama dengan mengantar nyawa saja. Biar kita kepung saja dan menanti sampai mereka keluar, baru kita serbu dan keroyok."

Karena sudah melihat bekas tangan dua orang iblis yang sangat lihai itu, para perwira lalu mentaati nasehat Thian Kong Hwesio sehingga mereka kini hanya mengepung menara itu dengan penjagaan yang ketat sekali. Pasukan anak panah dipasang di sayap kiri, sayap kanan adalah pasukan tombak, dan dari depan berjaga pasukan sepasang golok, lalu dari belakang dijaga oleh pasukan pedang. Semuanya telah diatur rapi dan agaknya kalau dua orang penjahat itu hendak keluar, maka mereka harus menghadapi pengepungan rapat yang pasti akan amat sukar mereka lalui.

Thian Kong Hwesio sendiri berulang-ulang menarik napas panjang. Dia mengkhawatirkan keselamatan dua orang muridnya, akan tetapi dia sendiri tidak berdaya menolong mereka, pihak musuh terlalu lihai, Maka diam-diam dia pun mengerutkan alisnya, mengingat-ingat siapa gerangan dua orang iblis yang mengacau Ceng-tao dan sekarang dengan beraninya menguasai menara kuil Dewi Laut, agaknya enak-enakan saja di dalam tanpa peduli akan kepungan pasukan penjaga keamanan.

Di dunia kang-ouw, nama Cap-sha-kui (Tiga Belas Iblis) telah sangat terkenal. Tiga belas orang manusia dari golongan hitam atau kalangan sesat ini merajalela di seluruh penjuru, merupakan tokoh-tokoh besar dalam dunia hitam. Akan tetapi karena mereka ini biasanya tidak turun tangan sendiri, dan hanya mengandalkan murid-murid atau anak buah mereka untuk mencari nafkah secara haram, hanya nama mereka saja yang dikenal. Akan tetapi jarang ada orang pernah berjumpa dengan mereka. Maka tidak mengherankan jika Thian Kong Hwesio yang sudah luas pengetahuan serta pengalamannya di dunia kang-ouw itu pun tidak mengenali dua orang iblis ini.

Koai-pian Hek-mo (Iblis Hitam Cambuk Aneh) dan Hwa-hwa Kui-bo (Biang Iblis Boneka) adalah dua orang di antara Cap-sha-kui (Tiga Belas Setan). Kakek itu disebut Hek-mo karena memang mukanya kasar dan hitam, sedangkan nenek itu dijuluki Hwa-hwa yang bisa diartikan boneka atau juga dapat diartikan Wanita Cabul karena memang dia adalah seorang wanita petualang yang suka mempermainkan pemuda-pemuda tampan, terutama yang masih perjaka. Tentu saja hal ini dilakukannya dengan paksaan!

Koai-pian Hek-mo mempunyai watak yang aneh pula, suatu kelainan batin yang membuat dia pun suka memperkosa pemuda-pemuda dan dia tidak suka mendekati wanita! Karena sama-sama suka mempermainkan pemuda tampan inilah maka terjadi sebuah persaingan di antara Koai-pian Hek-mo dan Hwa-hwa Kui-bo.

Pernah beberapa kali mereka memperebutkan seorang pemuda tampan, bahkan mereka sempat pula berkelahi mati-matian. Tapi tingkat kepandaian mereka terlampau seimbang sehingga di antara mereka belum pernah ada yang kalah mau pun menang. Dan karena mereka adalah tokoh hitam dari daerah yang sama, yaitu daerah Muara Sungai Kuning, maka mereka sering berjumpa dan bersaingan. Hanya karena mereka itu merasa masih ‘bersaudara’ dalam kesatuan Cap-sha-kui saja maka sampai sedemikian jauhnya mereka belum saling membunuh.

Dengan gelisah, marah dan tegang, Thian Kong Hwesio, Hai Cu Nikouw dan para perwira terus menjaga dan mengepung menara. Mereka merasa penasaran karena sampai lewat tengah malam, dua iblis itu belum juga keluar dari dalam menara.

Menjelang pagi, Thian Kong Hwesio dan sumoi-nya dengan kaget melihat berkelebatnya sesosok bayangan ke arah menara. Mereka cepat memberi isyarat dan semua anggota pasukan bersiap.

Dua orang pendeta itu terheran-heran. Mereka melakukan penjagaan dan mengharapkan dua orang jahat itu keluar dari menara, tetapi mengapa kini ada bayangan berkelebat dan agaknya malah menuju ke menara? Dan bagaimanakah bayangan ini bisa melalui semua penjagaan yang demikian ketatnya? Mereka berdua saling pandang dan merasa bingung, juga ngeri karena melihat kemunculan demikian banyak orang yang memiliki kepandaian begitu hebat.

Tiba-tiba saja para penjaga itu mendengar suara hiruk-pikuk dan bentakan-bentakan yang keluar dari dalam menara, bahkan kini ada cahaya lilin menyala di dalam kamar. Dari luar, nampak di balik tirai jendela bayangan orang-orang berkelahi dengan gerakan yang amat cepatnya!

Apakah yang sesungguhnya telah terjadi dalam kamar itu? Apakah kedua orang anggota Cap-sha-kui itu kambuh kembali penyakit mereka lantas saling berhantam sendiri? Sama sekali tidak demikian!

Tadinya keadaan di dalam kamar masih gelap dan sunyi, seakan-akan orang-orang yang berada di dalamnya sudah tidur nyenyak. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara perlahan diikuti daun pintu terbuka dari luar, lalu tampak sesosok bayangan menyelinap masuk dan terdengar suara seorang wanita menegur dengan suara mengejek.

"Huhh, tua bangka-tua bangka yang tidak tahu malu! Perbuatan hina kalian ini sungguh terkutuk dan akan menyeret kalian ke neraka jahanam!"

Yang pertama-tama bergerak adalah cambuk panjang Koai-pian Hek-mo, maka terdengar suara meledak ketika cambuk panjang itu melecut sambil menyambar ke arah datangnya suara wanita yang membentak mereka tadi. Akan tetapi, sebelum mengenai sasarannya, ujung cambuk itu membalik kepadanya dan tentu saja Koai-pian Hek-mo menjadi terkejut sekali.

"Siapa kau...?!" bentaknya. Jawabannya hanya suara ketawa merdu seorang wanita.

Di dalam kegelapan itu agaknya Hwa-hwa Kui-bo mampu menangkap gerakan serangan cambuk tadi dan juga dapat menduga bahwa serangan kawannya itu gagal, maka dia pun menggerakkan kedua tangannya. Jarum-jarum beracun segera menyambar ke arah suara ketawa wanita itu.

Akan tetapi terdengar suara berkerintingan dan jarum-jarum itu runtuh semuanya ke atas lantai, tanda bahwa yang diserangnya telah berhasil menangkis semua jarum itu di dalam gelap! Melihat kenyataan ini, Hwa-hwa Kui-bo cepat-cepat menyalakan api dan tidak lama kemudian lilin besar di sudut itu pun sudah bernyala hingga sinar terang memenuhi kamar itu, mengusir kegelapan.

Dua orang tokoh iblis itu sudah meloncat berdiri lantas memandang dengan heran ketika mereka melihat bahwa yang berani mengganggu dan mengejek mereka hanyalah seorang gadis remaja yang pakaiannya aneh dengan potongan tidak karuan! Seorang gadis remaja yang usianya antara lima belas atau enam belas tahun dengan rambut dikuncir menjadi dua, sepasang matanya lincah bersinar, mulutnya mengulum senyum mengejek.

Tentu saja mereka berdua tidak memandang sebelah mata kepada anak perempuan ini. Mereka berdua hanya suka kepada pemuda-pemuda remaja tampan, namun tidak suka bahkan membenci wanita-wanita muda yang cantik. Maka kini mereka pun memandang dengan sinar mata penuh kemarahan kepada gadis itu.

Melihat bahwa yang datang hanya seorang gadis remaja yang sempat membuat mereka terkejut, kedua orang tokoh besar itu merasa malu dan terhina. Perasaan ini lalu tumbuh menjadi kemarahan dan kebencian, maka tanpa banyak cakap lagi Hwa-hwa Kui-bo telah menggerakkan pedangnya menusuk ke arah perut dara itu ada pun tangan kirinya segera membentuk cakar dan langsung mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala lawan!

Sungguh merupakan serangan gabungan yang hebat bukan main, apa lagi bagi seorang dara remaja seperti itu. Biar pun hanya tangan kosong, harus diakui bahwa cengkeraman itu bahkan lebih mengerikan dan lebih berbahaya dari pada tusukan pedang.

Akan tetapi, nenek yang sudah merasa yakin bahwa satu di antara kedua tangannya yang melakukan serangan itu pasti akan memperoleh hasil, langsung berteriak kaget sesudah melihat betapa dara itu dengan lincah dan ringannya telah memiringkan tubuh mengelak dari tusukan pedang, sedangkan tangan kiri yang mencengkeram itu disambutnya dengan tamparan tangan terbuka.

"Plakkk!"

Dan tubuh nenek berkedok itu terhuyung ke belakang, tubuhnya terasa panas dan kaku seperti kemasukan hawa yang amat kuat dan aneh!

"Ihhh...!" Nenek itu berseru dan bergidik karena baru sekarang dia merasakan akibat yang demikian anehnya ketika tangannya bertemu dengan tangan lawan, apa lagi lawannya ini hanyalah seorang bocah!

Maklum bahwa bagaimana pun juga dara remaja itu ternyata memiliki kepandaian hebat, Koai-pian Hek-mo lalu menggerakkan cambuknya yang meledak dan menyambar secara bertubi-tubi, sekali bergerak langsung mematuk ke arah tiga jalan darah di bagian depan tubuh dara itu yang kesemuanya merupakan patukan mematikan.

"Ting-ting-cringggg...!"

Tiga kali ujung cambuk yang ada pakunya itu terpental, dan yang ketiga kalinya bahkan terpental keras lalu menyambar ke arah muka pemegang cambuk itu sendiri! Tentu saja Koai-pian Hek-mo terkejut sekali sehingga cepat menarik kembali cambuknya agar paku pada ujung cambuk tidak mematuk hidungnya sendiri.

Kini dua orang tokoh besar dunia hitam itu terbuka matanya. Dengan hati-hati mereka pun menyerang dari kanan kiri. Namun dara itu melayani mereka dengan tangan kosong saja! Demikian ringan gerakan tubuhnya, laksana sehelai bulu saja yang sukar sekali diserang, seolah-olah diterbangkan oleh gerakan senjata-senjata mereka sehingga sebelum senjata mengenai sasaran, tubuh itu sudah mendahului pergi.

Dua orang tokoh jahat itu memancing-mancing untuk mengenali gerakan sang dara. Akan tetapi, gerakan dara itu aneh bukan main. Mirip-mirip dasar gerakan ilmu silat dari Siauw-lim-pai, namun ada pula unsur gerakan Kun-lun-pai, Bu-tong-pai dan bahkan semua ilmu silat dari perguruan-perguruan besar bagai dicampur aduk menjadi satu! Selain kecepatan gerak, yang amat hebat adalah tenaga yang terkandung dalam kedua tangan yang kecil halus itu.

Dara itu jelas jauh lebih lihai dari pada kedua orang lawannya, akan tetapi agaknya dia memang berwatak bengal, jenaka dan suka main-main. Dia sengaja mempermainkan dua orang yang dia tahu sedang menyelidiki gerakan-gerakannya itu, lantas sengaja membuat gerakan kacau-balau, bahkan ketika balas menyerang dia menggunakan cara memukul seperti anak-anak yang tidak pernah belajar silat sehingga kelihatan lemah, akan tetapi dengan diam-diam dia mengerahkan sinkang-nya sehingga serangan balasannya itu luar biasa anehnya.

Dikatakan kuat, cara memukulnya sembarangan saja, akan tetapi jika dinamakan lemah, nyatanya pukulan itu mengandung tenaga yang amat ampuh. Jadi berat-berat ringan, juga ringan-ringan berat, cukup membingungkan kedua orang lawannya. Bukan hanya bingung dalam hal menerka ilmu silat lawannya itu, akan tetapi juga bingung bagaimana caranya untuk menghindarkan diri dari serangan-serangan balasan itu.

Bagaimana pun juga, dara remaja itu hanya bertangan kosong dan yang mengeroyoknya adalah dua orang tokoh yang amat lihai, dua orang di antara Cap-sha-kui yang memakai senjata ampuh andalan mereka masing-masing. Karena itu, akhirnya dara ini pun merasa bahwa permainannya sekali ini amat berbahaya.

Tiba-tiba saja dia mengeluarkan suara pekik melengking aneh dan pendek, lalu tahu-tahu dengan jari telunjuknya dia menyentil ujung cambuk yang menyambar ke arah lehernya. Ujung cambuk itu terpental ke arah muka Hwa-hwa Kui-bo, sedangkan serangan pedang nenek itu dihindarkannya dengan mengelak ke belakang. Nenek yang mukanya disambar ujung cambuk itu tentu saja menjadi terkejut bukan main.

"Gila kau...!" bentaknya kepada kawannya karena dia mengira bahwa kawannya itu salah sasaran. Sebaliknya, kakek itu pun kaget dan cepat menarik cambuknya.

Kesempatan ini dipergunakan oleh dara itu untuk balas menyerang. Tangannya meluncur ke arah ubun-ubun kepala Hwa-hwa Kui-bo, ada pun kakinya menendang atau menyepak ke arah perut Koai-pian Hek-mo yang berada di belakangnya.

Serangan itu amat cepat gerakannya dan pada waktu kedua orang iblis itu meloncat untuk menghindar, tiba-tiba tubuh dara itu berjungkir balik, kepala di bawah kaki di atas, tangan kirinya menunjang badan. Sekarang tiba-tiba saja dia melanjutkan serangannya dengan tubuh terbalik, yaitu kakinya menyerang ubun-ubun kepala Koai-pian Hek-mo sedangkan tangan kanannya menghantam ke arah perut Hwa-hwa Kui-bo! Dan hebatnya, di dalam serangan-serangannya itu terkandung hawa pukulan yang jauh lebih kuat dari pada tadi, sehingga meski pun kedua orang iblis itu berusaha menangkis dan mengelak, tetap saja mereka terdorong ke belakang, terhuyung-huyung dan hampir roboh!

Melihat kehebatan serangan ini, wajah mereka menjadi pucat dan tanpa diberi komando, keduanya langsung meloncat keluar dari menara itu, menggunakan ginkang mereka yang hebat, sekali melayang mereka sudah lenyap ditelan kegelapan malam larut itu.

Dara muda itu tidak mengejar, melainkan menengok dan memandang ke arah dua orang pemuda yang berada di sudut kanan dan kiri, sekilas pandang saja, lalu dia membuang muka dengan kulit muka berobah merah dan juga alis berkerut.

Kedua orang pemuda itu ternyata sudah tewas dalam keadaan telanjang bulat. Agaknya, keduanya mungkin menolak atau melawan sehingga setelah dipaksa mereka lalu dibunuh secara kejam oleh dua orang manusia iblis tadi. Oleh karena dua orang lawannya sudah melarikan diri, dara itu pun lalu meloncat keluar dari pintu kamar menara.

"Iblis betina, hendak lari ke mana kau?" Terdengar bentakan-bentakan dan serombongan anak panah menyambutnya dari samping!

"Ehh, gila...!" Dara itu berseru.

Akan tetapi karena puluhan batang anak panah yang menyambar ke arah tubuhnya itu tak mungkin dapat diusirnya hanya dengan seruan, terpaksa dia melempar diri ke belakang lantas bergulingan. Dia lupa bahwa dia bukan sedang berada di atas tanah, melainkan di wuwungan rumah dekat menara kuil, maka tentu saja susunan genteng yang tidak rata itu membuat dia terguling-guling kacau dan genteng-genteng banyak yang patah dan pecah. Setelah dia moloncat bangun, dia sudah dikepung dan dikeroyok oleh barisan tombak!

"Eh, eh, bagaimana ini?" teriaknya akan tetapi dia pun harus cepat mengelak ke sana sini karena para prajurit itu tidak mau banyak cakap lagi.

Semua orang mengira bahwa tentu gadis ini iblis betina yang sudah menyamar sebagai Dewi Laut. Apa lagi ketika beberapa orang di antara mereka mengenali gadis ini seperti yang digambarkan sebagai gadis aneh menunggang kuda yang sudah mengacau di pintu gerbang kemarin dulu, mereka merasa yakin bahwa gadis inilah iblis betina itu.

Repot jugalah gadis itu dikeroyok orang sedemikian banyaknya. Apa lagi karena dia tidak ingin melukai mereka, apa lagi membunuhnya. Dengan gerakan amat lincah dia mengelak ke sana-sini, membagi-bagi tendangan hanya untuk merobohkan beberapa orang namun tanpa mendatangkan luka berat.

Kalau kemarin dulu dia mematahkan semua gigi di mulut kepala jaga yang gendut, hal itu adalah karena si gendut bersikap terlalu kurang ajar kepadanya. Kini dia tidak tega untuk mencelakai orang-orang yang mengeroyoknya, maklum bahwa mereka itu salah duga dan mengira dialah penjahatnya yang mengacau di kuil itu.

Pada saat para penjaga yang bersembunyi di bagian lain bermunculan, gadis itu tiba-tiba masuk kembali ke dalam kamar menara. Semua orang tidak berani mengejarnya masuk, hanya mengurung menara itu dengan senjata siap di tangan.

Tidak lama kemudian pintu kamar itu terbuka dari dalam, lalu muncullah seorang pemuda tampan! Pasukan yang memegang busur dan siap dengan anak panah mereka tidak jadi melepaskan anak panah. Dan dari belakang terdengar seruan Thian Kong Hwesio,
"Tahan, jangan serang, dia murid pinceng!"

Akan tetapi pemuda yang dikenalnya sebagai muridnya karena mengenakan pakaian satu di antara dua pemuda itu, kini berlari ke depan, menggunakan kesempatan selagi orang lengah, meloncat lantas melayang di atas kepala mereka ke arah wuwungan kuil di depan kemudian berloncatan dan lenyap ditelan malam yang sudah hampir terganti pagi namun masih amat gelap itu. Barulah Thian Kong Hwesio sadar bahwa yang disangka muridnya tadi bukanlah muridnya, melainkan gadis itu yang mengenakan pakaian muridnya itu!

Para perwira memerintahkan anak buahnya untuk mengejar. Pengejaran cepat dilakukan akan tetapi para pengejar itu meraba-raba di tempat gelap, tidak tahu ke arah mana gadis itu menghilang.

Sementara itu, Thian Kong Hwesio dan Hai Cu Nikouw memasuki kamar menara. Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati mereka melihat dua orang murid yang sudah menjadi mayat itu. Semua hidangan yang dibawa oleh dua orang pemuda itu telah habis dimakan, akan tetapi buntalan emas masih berada di situ, tidak sempat dibawa pergi penjahat…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner