ASMARA BERDARAH : JILID-05


Bagaimana pun juga, kemunculan Sui Cin menggembirakan hatinya, apa lagi melihat dara itu kini berkelahi dengan menggunakan ranting. Baru dia seperti diingatkan bahwa untuk menghadapi pengeroyokan ular-ular itu, senjata ranting seperti yang digunakan oleh gadis itulah yang paling tepat.

Dia pun cepat berloncatan, dikejar oleh ular-ular itu dan setelah tiba di bawah pohon, dia meloncat dan mematahkan sebatang ranting panjang. Kemudian mengamuklah Cia Sun! Dengan rantingnya, dia lalu menghajar ular-ular itu dan setiap kali rantingnya menyambar tubuh ular, ular yang kena disabet lantas melingkar-lingkar kesakitan karena sambungan tulangnya patah-patah dan hal ini membuat binatang itu tidak mampu merayap lagi.

Amukan Cia Sun membuat ular-ular itu menjadi gentar, apa lagi karena kini tidak ada lagi komando dari suara cambuk Kiu-bwee Coa-li yang sedang mengerahkan seluruh tenaga dan mencurahkan seluruh perhatian untuk menghadapi gadis yang lihai itu. Maka ular-ular itu menjadi panik dan akhirnya ketakutan, berlarian meninggalkan bangkai teman-teman mereka dan teman-teman yang melingkar-lingkar terluka tak mampu melarikan diri lagi itu.

Setelah ular-ular itu pergi menjauh, Cia Sun segera membalikkan tubuhnya dan menonton perkelahian antara gadis jembel dan nenek iblis. Dan dia tertegun, malah terbelalak ketika melihat ilmu silat yang dimainkan oleh gadis itu. Tentu saja dia amat mengenal Thai-kek Sin-kun!

Itulah ilmu dasar yang diberikan ayahnya kepadanya dan ilmu ini memang sangat tepat digunakan untuk mempertahankan diri terhadap tekanan lawan yang lebih lihai! Dan gadis itu memainkannya sedemikian indahnya. Begitu asli dan itulah dia Thai-kek Sin-kun yang tulen. Siapakah gadis yang pandai memainkan Thai-kek Sin-kun seindah itu?

Akan tetapi pada saat itu Cia Sun tidak mau memusingkan hal ini. Bagaimana pun juga, dia merasa yakin bahwa tentu ada hubungan dekat antara gadis itu dengan keluarganya, atau setidaknya dengan Cin-ling-pai, maka tanpa banyak bicara lagi dia sudah langsung menyerbu dengan senjata rantingnya.

Kini dua batang ranting yang digerakkan dengan cepat dan kuat mengeroyok Kiu-bwee Coa-li yang langsung terdesak hebat. Baru menghadapi gadis remaja itu saja dia sudah merasa penasaran dan pusing karena sedemikian lamanya belum juga dapat merobohkan dara itu, hanya mampu mendesak saja. Apa lagi kalau pemuda yang lihai ini maju pula. Bisa berbahaya bagi dirinya.

Bagi seorang tokoh sesat, tidak ada rasa malu bagi Kiu-bwee Coa-li. Yang penting dalam perkelahian dia harus menang dan jika keadaan berbahaya, dia tentu akan lari. Maka dia pun mengeluarkan teriakan-teriakan panjang, lantas dari ujung cambuk itu meluncurlah jarum-jarum halus beracun. Sembilan batang jarum halus menyambar ke arah Cia Sun dan Sui Cin.

"Awas senjata rahasia beracun!" seru Cia Sun memperingatkan gadis itu.

Akan tetapi Sui Cin tidak perlu diperingatkan. Seorang gadis yang sudah memiliki tingkat kepandaian seperti Sui Cin akan selalu waspada sehingga serangan mendadak itu tentu saja dapat dihindarkannya dengan baik. Rantingnya membentuk gulungan sinar hijau dan jarum-jarum yang menyambar ke arahnya tertangkis, bukan runtuh begitu saja melainkan langsung membalik dan meluncur mengejar pemiliknya, yaitu Kiu-bwee Coa-li yang mulai melarikan diri. Nenek itu dapat menghindar dengan lompatan dan terus melarikan diri.

Sedangkan Cia Sun telah meloncat ke samping menghindarkan diri dari jarum-jarum yang menyambar ke arahnya. Ketika mereka memandang ke depan, ternyata nenek itu sudah lenyap, sudah lari jauh sekali maka mereka berdua pun tidak mengejar.

Kini mereka berdiri berhadapan dan saling pandang. Sui Cin tersenyum dan berkata, "Kita sudah lunas, ya? Engkau pernah menolongku satu kali dan kini aku pun sudah membantu satu kali. Jadi satu-satu, lunas, bukan?"

Cia Sun semakin tertarik. Jantungnya terasa laksana disedot dan dia memandang wajah yang lucu itu dengan senyum kagum. Biasanya Cia Sun berwatak pendiam, serius, tidak suka berkelakar, dan sedikit bicara. Akan tetapi, berhadapan dengan gadis ini, dia merasa gembira sekali dan dia pun menanggapi.

"Nona, ketika aku menolongmu, ternyata engkau hanya pura-pura bodoh saja sehingga hal itu bukan merupakan pertolongan. Akan tetapi sekarang, kalau engkau tidak muncul dan membantuku menghadapi nenek iblis itu, tentu diriku akan terancam bahaya besar. Maka sudah sepatutnya apa bila aku menghaturkan terima kasih atas budi pertolonganmu tadi."

"Hemmm... siapa bicara tentang budi pertolongan? Engkau kebetulan melihat aku dalam kesukaran lantas menolong tanpa sengaja, dan sekarang aku pun tanpa sengaja melihat engkau dikeroyok ular kemudian turun tangan membantu. Tidak ada budi. Aku tak pernah hutang budi atau melepas budi."

Ucapan seorang pendekar sejati, pikir Cia Sun yang menjadi makin kagum. Begitu kagum hatinya sampai dia tidak mampu berbicara lagi, hanya memandang kepada wajah dara itu bagaikan orang terpesona. Melihat betapa pemuda itu memandangnya dengan bengong seperti orang bingung, Sui Cin pun tersenyum geli.

"Heiii, apa yang kau pandang?" tanyanya tiba-tiba sehingga mengejutkan Cia Sun.

"Ehh, tidak apa-apa... aku... hanya heran..."

"Mengapa heran? Apa rupaku tidak lumrah manusia?"

"Bukan begitu, tetapi tadi aku melihat nona memainkan Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun! Bagai mana nona dapat mempelajari ilmu itu?"

"Hemm, dan engkau, bagaimana engkau dapat mengenal Ilmu Thai-kek Sin-kun yang tadi kumainkan?" Suara itu lebih heran dan lebih curiga.

"Karena aku heran sekali... ilmu itu adalah milik keturunan Cin-ling-pai..."

"Kalau begitu..."

"Siapakah nona yang pandai ilmu silat keluarga kami?"

"Dan siapa pula engkau ini yang mengaku-aku keluarga kami?"

"Ehhh... jadi nona memang memiliki hubungan dengan Cin-ling-pai...? Siapakah namamu, nona?"

"Namamu dulu."

"Baiklah, namaku Sun, aku she Cia..."

"Haiii...! Engkau Cia Sun dari Lembah Naga? Wah, wah...! Aku... aku she Ceng..."

"Astaga... kau... kau ini Sui Cin anak yang bengal dulu itu?"

Sui Cin cemberut dan menghardik, "Siapa yang bengal?"

Cia Sun tersenyum lebar dan menjura. "Maaf, maaf... jika membayangkan engkau ketika masih kecil, sukarlah dipercaya engkau sekarang sudah menjadi begini... besar dan lihai!"

"Memangnya aku disuruh terus menjadi anak kecil selamanya? Dan jangan katakan aku bengal!"

"Ha-ha-ha, siauw-moi, lupakah engkau kepada dahiku yang dulu membenjol sebesar telur ayam karena kau sambit dengan batu?"

Sui Cin tertawa sambil menutupi mulutnya walau pun suara ketawanya tetap bebas lepas, lalu disambungnya dengan ucapan, "Wah, tentu saja aku ingat. Ayah ibuku memarahiku dan hampir aku kena digebuk ayah! Gara-gara engkau. Kenapa dahimu membenjol, baru kena batu begitu saja. Dan sekarang, Sun-ko, jangan kau melapor lagi kepada ayah ibuku kalau bertemu dengan mereka, ya?"

"Melapor bahwa engkau menyamar sebagai jembel, bahkan sebagai pemuda jembel yang mencuri bakpao dan membiarkan dirimu ditangkap dan ditahan? Ahh, tidak, Cin-moi. Kita bukan anak-anak lagi sekarang. Engkau sungguh telah menjadi seorang gadis yang..."

"...bengal...?"

"Tidak! Tidak...! Engkau telah besar dan kepandaianmu sungguh hebat, bahkan Kiu-bwee Coa-li sampai kewalahan menandingimu. Thai-kek Sin-kun tadi kau mainkan sangat indah dan hebat."

"Sudah, jangan terlalu memuji. Bisa membengkak dan pecah kepala ini nanti. Kalau tadi tidak kau bantu, apa kau kira aku dapat menang menghadapi nenek ular itu? Benar-benar mengherankan sekali, apakah benar-benar Cap-sha-kui sudah keluar dari sarangnya dan mengapa mereka bahkan datang ke tempat ini di mana para pendekar akan mengadakan pertemuan?"

"Bukankah baru seorang saja Kiu-bwee Coa-li tadi yang muncul?"

"Sudah tiga bersama nenek itu! Sebelumnya aku sudah bertemu dengan dua orang lain di antara mereka, di kuil Dewi Laut, yaitu Koai-pian Hek-mo dan Hwa-hwa Kui-bo."

Cia Sun mengangguk-angguk. "Ahh, kalau begitu agaknya benar mereka itu sudah keluar dari sarang. Bahkan baik untuk memperingatkan para sahabat dalam pertemuan nanti."

"Kalau begitu engkau hendak pergi menghadiri pertemuan para pendekar itu, Sun-ko?"

Sikap dan suara Sui Cin demikian akrab, seolah-olah selama ini Cia Sun selalu bergaul dengannya. Padahal, selama hidupnya baru satu kali dia berjumpa dengan Cia Sun, yaitu pada saat dia diajak ayah bundanya mengunjungi Lembah Naga, kira-kira sembilan tahun yang lalu.

Ketika itu ia baru berusia enam tahun dan Cia Sun berusia tiga belas tahun. Ia bersama orang tuanya tinggal setengah bulan di Lembah Naga dan setelah mereka pulang, ia tidak pernah berjumpa dengan Cia Sun lagi. Akan tetapi, karena memang gadis ini mempunyai pembawaan riang dan ramah jenaka, maka dia mudah akrab dengan siapa saja. Cia Sun sendiri yang biasanya pendiam dan serius, juga agak malu apa bila berdekatan dengan wanita, sekali ini kehilangan rasa canggungnya berkat sikap Sui Cin yang ramah itu.

"Benar, dan engkau sendiri, Cin-moi?"

“Aku pun hendak berkunjung ke sana."

"Mewakili orang tuamu?"

"Tidak. Sudah setengah tahun aku meninggalkan Pulau Teratai Merah. Hanya kebetulan di dalam perjalanan aku mendengar mengenai rencana pertemuan itu maka aku sengaja hendak menonton. Dan engkau?"

"Aku mewakili Pek-liong-pang, mewakili ayah."

"Kalau begitu, mari kita lanjutkan perjalanan. Tidak enak jika kemalaman di dalam hutan. Apa lagi bau bangkai ular-ular itu amat busuk."

"Baiklah, Cin-moi. Kau naiki saja kudamu, biar aku jalan kaki. Kita dapat bercakap-cakap di perjalanan."

Mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan sambil bercakap-cakap. Sui Cin menunggang kudanya, sementara Cia Sun berjalan di sebelahnya. Malam sudah tiba dan cuaca mulai gelap ketika mereka keluar dari dalam hutan. Karena tidak nampak dusun di dekat sana, keduanya terpaksa melewatkan malam di tepi hutan.

Mereka membuat api unggun lalu Sui Cin mengeluarkan bekal roti dan daging keringnya, ada pun Cia Sun mengeluarkan bekal araknya yang masih seguci penuh. Setelah makan sekedarnya untuk menghilangkan rasa lapar dan haus, keduanya duduk menghadapi api unggun dan melanjutkan percakapan mereka.

"Sun-ko, aku telah mendengar banyak sekali mengenai orang tuamu, dan terutama sekali mengenai ayahmu. Ayahku tiada bosannya mengatakan bahwa ayahmu adalah pendekar terbesar di dunia ini dan ayahmulah satu-satunya orang yang amat dihormati ayahku."

Cia Sun menghela napas. "Di antara ayah kita berdua memang terjalin tali persaudaraan yang amat kuat, melebihi saudara sekandung. Ayahku pun tiada bosannya membicarakan ayahmu dan sering kali dia mengatakan bahwa ayahmu adalah pendekar yang paling lihai dan satu-satunya orang yang amat disayang oleh ayahku."

"Kalau begitu, orang tua kita memiliki pertalian persaudaraan yang amat erat, dan dengan sendirinya kita pun dapat dibilang masih keluarga sendiri, bukan?"

"Begitulah, siauw-moi."

"Ihh, jangan sebuat aku siauw-moi (adik kecil), aku tidak kecil lagi, Sun-ko. Usiaku sudah lima belas tahun!"

"Lima belas tahun masih kecil namanya."

"Siapa bilang? Bagi seorang wanita, usia itu sudah berarti dewasa."

"Baiklah, maafkan aku. Aku akan menyebutmu Cin-moi saja."

"Maaf-maafan segala, engkau terlalu sungkan, Sun-ko. Jika aku tidak salah ingat, engkau lebih tua lima tahun dari pada aku."

"Tujuh tahun. Usiaku sekarang sudah dua puluh dua tahun."

"Engkau tentu sudah menikah..."

Perkataan ini membuat Cia Sun terkejut dan tertegun sejenak tak dapat menjawab karena bagi seorang pendiam dan sopan serta serius seperti dia, tak pernah terbayangkan akan menerima pertanyaan seperti itu dari seorang gadis yang pernah membuat dia tak mampu tidur nyenyak semalam suntuk.

Akan tetapi, ketika dia memandang sehingga mereka bertemu pandang, dia tidak melihat sesuatu di dalam sinar mata gadis itu selain kejujuran dan pertanyaan yang terbuka tanpa perasaan lain yang tersembunyi di balik kata-kata itu. Maka dia pun menggeleng.

"Kenapa engkau menyangka demikian?"

"Karena usiamu sudah dua puluh dua tahun."

"Siapa yang mau menjadi isteri orang seperti aku ini, Cin-moi?"

Sui Cin terbelalak memandang wajah pemuda itu, melihat betapa wajah itu tiba-tiba saja dibayangi kemurungan. Wajah yang gagah, biar pun tidak terlampau tampan, akan tetapi wajah itu berwibawa, gagah dan membayangkan kejujuran. Wajah seorang pendekar yang perkasa.

Akan tetapi, pada saat itu kegagahannya tertutup awan mendung sehingga menggelikan hatinya dan tiba-tiba Sui Cin tertawa, sekali ini lupa menutupi mulutnya hingga nampaklah deretan gigi putih dan rongga mulut yang merah sekali seperti dibakar warna api unggun, dan ujung lidahnya nampak sebentar. Mulut itu tertutup kembali dan Sui Cin memandang kepada api unggun.

Cia Sun kebingungan, merasa ditertawakan, mencari-cari kesalahan apa yang terkandung di dalam ucapannya, ada kelucuan apa sehingga gadis itu tertawa. Karena tidak berhasil menemukan, dia pun bertanya, "Cin-moi, kenapa engkau tertawa?"

Sui Cin masih kelihatan termenung sambil menatap api unggun, kemudian bicara, seperti berbicara kepada api unggun, suaranya lirih, satu-satu dan jelas, "Dia seorang pendekar perkasa berkepandaian tinggi, putera ketua Pek-liong-pang penghuni Lembah Naga yang sangat terkenal, disegani kawan ditakuti lawan dan dia bertanya siapa yang mau menjadi isteri seorang semacam dia! Padahal, gadis-gadis dari semua penjuru akan berbondong-bondong datang berlomba untuk dapat menjadi jodohnya."

Wajah pendekar itu berubah merah. "Ahh, Cin-moi, harap jangan memperolok..."

"Siapa berolok-olok? Sun-ko, engkau seorang pendekar yang gagah perkasa, hanya ada yang tidak menyenangkan hatiku... yaitu... hemmm... engkau terlalu sopan, terlalu lemah dan halus, engkau terlalu canggung, hemm... sudahlah, aku mau tidur," berkata demikian, dara itu lantas merebahkan diri di tempat yang sudah dipersiapkan sebelumnya, yaitu di bawah pohon bertilamkan rumput kering.

Ia rebah miring dan tidak bergerak lagi. Tak lama kemudian pernapasannya menunjukkan bahwa ia memang sudah pulas…..

********************

Malam itu kembali Cia Sun tidak dapat tidur. Kata-kata dan sikap Sui Cin yang membuat dia duduk bengong menghadapi api unggun dengan alis berkerut. Juga dia harus berjaga, siapa tahu nenek pawang ular itu muncul lagi. Sesudah melakukan perjalanan bersama Sui Cin, dia merasa bertanggung jawab menjaga keselamatan dara ini.

Dia benar-benar bingung menghadapi sikap Sui Cin. Kenapa hatinya tidak senang karena dia... hemmm, dianggap sopan, lemah, halus dan canggung? Apa maksudnya? Dia tidak marah disebut demikian, hanya dia ingin sekali tahu mengapa hati gadis itu menjadi tidak senang.

Akan tetapi dia tidak berani bertanya, takut kalau-kalau pertanyaannya atau desakannya akan membuat Sui Cin menjadi makin marah. Padahal dia sama sekali tak menghendaki gadis itu marah-marah. Sama sekali tidak, bahkan sebaliknya dia ingin membuat gadis itu bergembira. Akan tetapi bagaimana?

Ada sesuatu di dalam diri gadis ini yang membuatnya tertarik untuk menyelidikinya, untuk mengenalnya lebih baik. Dan sesudah ternyata bahwa gadis yang tadinya disangka gadis jembel aneh itu adalah puteri Pendekar Sadis, pamannya sendiri, kesan dalam batinnya menjadi semakin mendalam!

Ketika pada keesokan paginya mereka melanjutkan perjalanan, di sepanjang perjalanan Cia Sun dengan hati-hati sekali menjaga diri supaya jangan sampai membuat adik sepupu itu menjadi tidak senang hatinya. Hubungan antara dia dan Sui Cin memang dekat sekali. Dilihat dari sumber perguruan silat, mereka masih terhitung saudara seperguruan. Diingat akan hubungan antara ayah mereka yang mengangkat saudara, mereka masih terhitung saudara sepupu angkat.

Akan tetapi Cia Sun menemui kesulitan untuk dapat menyesuaikan diri dengan gadis itu, atau mengikuti gerak-geriknya. Ibarat seekor burung, Sui Cin adalah seekor burung walet yang amat gesit dan tidak pernah mau diam. Ibarat bunga, dia mirip bunga hutan yang liar dan kuat, tidak takut akan badai dan panas.

Wataknya lincah gembira, kadang kala seperti kanak-kanak, kadang-kadang telah matang dewasa, tetapi ada kalanya bengal suka menggoda orang. Pendeknya, amat berlawanan dengan watak Cia Sun yang pendiam, serius, dan tidak banyak cakap.

Namun, suatu keanehan sudah terjadi di dalam batin pemuda itu. Biar pun watak mereka bertolak belakang, dia merasa sangat tertarik. Dan kalau biasanya dia tidak suka melihat seseorang dengan sikap seperti Sui Cin, akan tetapi pada diri gadis itu, baginya nampak demikian memikat dan menyenangkan!

Asmara memang merupakan suatu kekuasaan yang amat jahil dan suka menggoda hati manusia! Demikian kuatnya asmara sehingga tidak ada seorang pun manusia yang kebal atau mampu melawan kekuasaannya. Tanpa pandang bulu, kaya atau miskin, pintar atau bodoh, dari segala lapisan, setelah melewati masa remaja, asmara mulai mengintai dan mencari korban di antara manusia. Dan sekali orang terkena panah asmara, maka dia akan menjadi seperti linglung dan terjadilah perubahan besar-besaran dalam dirinya.

Hebatnya, asmara dapat mendatangkan sorga pada seseorang hingga batinnya merasa gembira, segalanya kelihatan indah, hidup penuh arti yang menyenangkan. Di lain saat, asmara dapat meruntuhkan semuanya itu dan menyulap sorga berubah menjadi neraka, penuh derita batin, penuh kekecewaan, penuh sengsara. Yang lebih mengherankan lagi, manusia amat jinak dan suka sekali menjadi korban asmara yang jahil!


Dan Cia Sun, untuk yang pertama kali selama hidupnya, terkena panah asmara tanpa dia sendiri menyadarinya! Dia jatuh hati kepada Sui Cin. Namun, karena sejak kecil pemuda ini digembleng oleh kedua orang tuanya menjadi seorang pendekar yang budiman, sopan dan memegang teguh peraturan, sesuai dengan sifat seorang kuncu (budiman) seperti yang disebutkan oleh para guru besar dan para cerdik pandai, maka dia pun diam saja dan hanya menyimpan perasaan itu di lubuk hatinya.

Pada suatu siang tibalah mereka di kaki bukit itu. Puncak Bukit Perahu telah nampak dari situ. Bukit itu memang berbentuk sebuah perahu yang terbalik, tertelungkup. Oleh karena bentuknya itulah maka dinamakan Puncak Bukit Perahu. Puncaknya tidak runcing, akan tetapi seperti dasar perahu yang terbalik. Dari jauh nampak hutan-hutan yang amat subur karena bukit itu terletak di daerah lembah Sungai Huang-ho yang terkenal subur.

Selagi keduanya melanjutkan perjalanan, Sui Cin di atas punggung kudanya dan Cia Sun berjalan di sebelah kirinya, tiba-tiba gadis itu menunjuk ke depan. "Ehh, siapa itu tidur di tepi jalan?"

Mereka berdua lalu mempercepat jalan ke depan dan Sui Cin yang melihat bahwa yang menggeletak di tepi jalan itu adalah seorang wanita, segera meloncat turun dan sebentar saja dia sudah berlutut di dekat mayat itu.

Mayat seorang gadis yang usianya sebaya dengannya, mayat yang setengah telanjang, mayat yang diperkosa dan dibunuh secara kejam. Kejam karena tubuh itu tidak terluka, akan tetapi setelah diperiksa, di pelipisnya ada tanda jari hitam. Tahulah Sui Cin bahwa gadis ini dibunuh oleh orang yang mempunyai ilmu pukulan ganas dan kejam sekali, yang memiliki jari tangan yang mampu membunuh orang hanya dengan satu kali tusukan atau bahkan pijatan saja seperti yang dialami oleh gadis yang sudah mati itu.

Dengan muka merah karena marah sekali, Sui Cin menoleh ke arah Cia Sun dan melihat betapa pemuda itu telah berdiri dekat akan tetapi pemuda itu membuang muka, tentu saja karena melihat mayat setengah telanjang itu. Sui Cin cepat menutupi bagian-bagian yang biasanya tertutup dengan sisa pakaian yang masih ada sambil menghela napas panjang untuk menekan perasaannya yang dibakar api kemarahan.

"Kenapa dia?" tanya Cia Sun mendengar helaan napas gadis itu.

"Diperkosa kemudian dibunuh. Lihatlah sendiri betapa kejamnya pembunuh itu. Tak perlu sungkan, tubuhnya sudah kututupi."

Sebenarnya, andai kata di situ tidak ada Sui Cin, tentu Cia Sun tak begitu sungkan untuk memeriksa karena bagaimana pun juga, yang terbujur di atas tanah itu adalah tubuh yang sudah tak bernyawa lagi. Akan tetapi, dengan hadirnya gadis itu dia merasa tidak sampai hati untuk memandang ketika dilihatnya tubuh gadis itu terbuka telanjang.

Mendengar ucapan Sui Cin, Cia Sun berlutut dan atas petunjuk Sui Cin, dengan mudah dia menemukan sebab kematian. Totokan jari tangan yang amat ganas pada pelipis gadis itu sudah merusakkan otak dan menghentikan aliran darah, mendatangkan kematian yang amat menyiksa karena gadis itu mati perlahan-lahan sesudah mengalami rasa nyeri yang hebat tanpa dapat berkutik!

"Bedebah! Seorang jai-hwa-cat yang amat jahat!" kata Cia Sun.

"Dan gadis ini pun bukan seorang gadis biasa, namun seorang yang memiliki kepandaian silat. Lihat, di pinggangnya masih terdapat kantung piauw yang belum habis dia gunakan, dan pada lengan kirinya ada cacat goresan pedang yang sudah lama."

“Ahh, ini berarti bahwa jai-hwa-cat itu adalah satu di antara golongan hitam yang sengaja hendak mengacau pertemuan para pendekar, seperti juga tiga orang iblis dari Cap-sha-kui yang telah kau jumpai itu, Cin-moi."

"Kurasa begitu. Kasihan gadis yang masih begini muda tapi harus tewas dalam keadaan begini menyedihkan. Kenapa dia melakukan perjalanan seorang diri ke tempat berbahaya ini?"

"Ingat, Cin-moi, bukankah engkau pun seorang gadis muda yang melakukan perjalanan sendirian saja sebelum bertemu denganku? Kurasa ia pun mengandalkan kepandaiannya maka berani melakukan perjalanan sendiri, sungguh kasihan sekali."

"Atau dia terpisah dari rombongannya, siapa tahu..."

"Mungkin juga. Mari kita cepat mengubur mayatnya."

Dua orang pendekar muda itu segera menggali lubang dan mengubur jenazah itu secara sederhana sekali, lantas memberi tanda di atas kuburan itu dengan sebongkah batu yang berbentuk tinggi lurus. Setelah selesai mereka maju lagi dan mulai mendaki bukit.

Ketika memasuki hutan pertama yang kecil, mereka dikejutkan oleh penemuan kedua. Sekali ini mereka melihat tiga orang laki-laki muda yang sudah menjadi mayat dan tubuh mereka berserakan di tepi jalan. Seperti mayat gadis pertama tadi, jenazah mereka pun tidak terdapat cacat, tidak ada luka, hanya ada tanda satu jari hitam saja di bagian-bagian yang mematikan. Seorang di tengkuk, seorang lagi di ulu hati dan seorang lagi di kepala. Jelaslah bahwa mereka itu terbunuh hanya dengan satu kali serangan sebuah jari tangan saja yang meninggalkan bekas hitam!

"Jahanam, aku harus membasmi Si Jari Hitam yang kejam ini!" Cia Sun mengepal tinju. Di dekat ketiga mayat itu dia menemukan tiga batang pedang. Agaknya tentu senjata mereka yang terlepas dari tangan.

"Tentu ada hubungannya dengan kematian gadis yang diperkosa," kata Sui Cin. "Engkau tadi menduga benar, Sun-ko. Gadis itu tadi tentu serombongan dengan mereka ini."

Kembali mereka menggali lubang, kini cukup besar untuk mengubur ketiga buah mayat itu sekaligus. Mereka berkeringat juga setelah selesai meletakkan batu besar di atas makam baru ini. Matahari telah condong ke barat ketika mereka melanjutkan perjalanan dengan hati terasa semakin panas terhadap pelaku pembunuhan-pembunuban kejam itu.

Menjelang senja mereka sampai di lereng bukit itu dan tiba-tiba mereka melihat dua orang lelaki sedang berkelahi dengan serunya. Keduanya cepat-cepat menghampiri dan Sui Cin segera meloncat turun dari atas kudanya. Bersama Cia Sun ia memperhatikan dua orang yang sedang berkelahi mati-matian itu.

Orang pertama yang melakukan serangan membabi-buta adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun, bertubuh tinggi besar, bercambang bauk dan jelas memiliki potongan penjahat yang serba kasar dan sudah biasa menggunakan kekerasan untuk memaksakan kehendaknya. Orang ini menggunakan sebatang golok besar yang tebal dan berat untuk menyerang lawan. Goloknya membentuk gulungan sinar yang berkilauan akibat tertimpa cahaya matahari senja yang kemerahan.

Orang kedua yang menjadi lawannya amat menarik perhatian Sui Cin dan Cia Sun. Orang itu masih muda, kurang lebih dua puluh lima tahun usianya. Wajahnya tampan dan lincah gembira karena ketika menghadapi serangan bertubi-tubi dari lawannya itu dia masih bisa tersenyum-senyum!

Pakaiannya amat rapi dan malah agak mewah dan indah, pantas sekali dengan tubuhnya yang tegap serta wajahnya yang tampan. Benar-benar potongan seorang pendekar tulen, pendekar yang halus dan agaknya terpelajar, menilik dari pakaian dan gerak-geriknya.

Pemuda ini bertangan kosong dan pada tubuhnya tidak nampak adanya senjata, hanya di punggungnya terdapat sebuah buntalan pakaian. Rambutnya yang hitam lebat itu digelung ke atas, kemudian kepalanya dilindungi oleh sebuah caping bulat yang amat lebar. Begitu seenaknya dia menghadapi lawan sehingga topi lebar itu pun tidak dilepasnya dan caping itu mengangguk-angguk dan melambai-lambai mengikuti gerakan-gerakannya.

Sui Cin dan Cia Sun memperhatikan gerakan pemuda itu. Gerakannya indah dan cepat sekali. Sungguh pun sambaran golok itu cukup dahsyat, namun tubuh pemuda itu seperti kapas saja yang sukar disentuh golok, seakan-akan sambaran golok itu cukup membuat tubuhnya terdorong menghindar sehingga sebelum goloknya tiba, tubuhnya sudah lebih dulu menyingkir.

Tentu saja Sui Cin dan Cia Sun kagum dan mengerti bahwa pemuda bercaping lebar itu merupakan seorang ahli ginkang yang hebat. Sui Cin sendiri telah mewarisi ginkang yang hebat dari ibu kandungnya, akan tetapi melihat gerakan pemuda bercaping itu, dia pun merasa kagum dan diam-diam ia ingin sekali mencoba ginkang-nya melawan pemuda itu! Karena mereka tidak tahu urusannya, maka tentu saja mereka hanya menonton dan tidak berani sembarangan turun tangan.

Sementara itu, pemuda bercaping agaknya tidak pernah melihat kedatangan Sui Cin dan Cia Sun, karena dia terus didesak dan diserang secara bertubi-tubi oleh lawannya. Tetapi semua serangan mampu dihindarkannya dengan baik dan tiba-tiba dia membuat gerakan cepat sekali dengan kakinya.

"Hyaaat! Robohlah!"

Dan bagaikan mentaati perintah pemuda bercaping itu, tiba-tiba saja lawannya itu roboh terpelanting dan tidak mampu bangun lagi karena tendangan si pemuda sudah membuat sambungan lutut kanannya terlepas.

Tendangan yang hebat tadi dapat dilihat jelas oleh Cia Sun dan Sui Cin sehingga mereka kembali merasa kagum. Itu adalah semacam ilmu tendangan yang amat berbahaya, pikir mereka. Kini pemuda itu melangkah maju menghampiri.

Tiba-tiba Sui Cin hampir menjerit melihat betapa laki-laki tinggi besar yang sudah roboh itu secara mendadak menggerakkan goloknya membabat ke arah kaki, lantas serangan ini dilanjutkan dengan tusukan ke arah perut. Sungguh merupakan serangan amat berbahaya dan dilakukan dengan mendadak selagi pemuda itu menghampirinya dan sama sekali tak menduganya.

Tetapi Sui Cin dan Cia Sun kembali terkejut kagum melihat betapa mudahnya pemuda itu menghadapi serangan yang cukup berbahaya itu. Ketika golok membabat kaki, tubuhnya meloncat ke atas dan ketika golok itu menyambar ke arah perutnya, enak saja tubuhnya miring dan dari samping, tangannya bergerak ke arah pundak kanan lawan yang berada dalam keadaan terbuka.

"Krekkk!"

Golok terlepas jatuh ke dekat tubuh orang tinggi besar itu dan lengan kanannya terkulai karena tulang pundaknya sudah patah. Si tinggi besar memandang beringas, akan tetapi agaknya dia pun maklum bahwa kini dia menghadapi lawan yang lebih kuat maka hanya menundukkan mukanya.

"Hemm, penjahat busuk dan hina! Engkau masih tidak mau mengaku bahwa engkau telah memperkosa dan membunuh wanita itu?"

"Aku... aku mengaku, tapi..."

"Hemm, tidak ada tapi lagi. Setelah engkau mengaku menjadi pemerkosa dan pembunuh, sekarang boleh kau pilih, ingin menamatkan riwayat hidupmu sendiri ataukah engkau ingin aku membantumu dan membiarkan engkau mati perlahan-lahan dengan menderita? Nah, itu golokmu masih di situ dan engkau harus berterima kasih kepadaku yang membiarkan engkau masih dapat memilih." Pemuda itu tersenyum di bawah capingnya.

Dari jauh, yang nampak oleh Cia Sun hanya senyum itu saja dan dia merasa tidak suka dengan senyum ini. Senyum ini membayangkan kekejaman biar pun hanya sekilas saja.

Si tinggi besar menarik napas panjang. "Aku sudah kalah, siapa takut mati?" Dan tangan kirinya mengambil goloknya sendiri lalu dengan gerakan yang kuat, golok itu digerakkan menyambar leher sendiri.

Cia Sun dan Sui Cin terkejut sekali, hendak mencegah namun terlambat. Darah muncrat-muncrat dan orang tinggi besar yang tadinya duduk itu kini terjengkang dengan leher yang terkuak lebar hampir putus.

Pemuda bercaping lebar itu masih berdiri dengan kedua kaki terbuka lebar, mengangguk-angguk melihat bekas lawannya tewas. Lalu dengan tiba-tiba dia membalik, menghadapi Sui Cin dan Cia Sun. Wajahnya yang putih halus itu berseri-seri dan mulutnya tersenyum manis dan ramah sekali. Bahkan dia cepat menjura dengan sikap hormat kepada Sui Cin dan Cia Sun yang tentu saja segera membalasnya.

"Ahh, kiranya ada dua orang gagah perkasa yang ikut menyaksikan tewasnya jai-hwa-cat yang kejam ini. Saya dapat menduga bahwa ji-wi (anda berdua) tentu hendak menghadiri pertemuan para pendekar seperti saya juga, bukan?"

Ucapan ini makin meyakinkan hati Sui Cin bahwa pemuda tampan dan perkasa ini adalah seorang pendekar, maka ia pun cepat balas menjura dan memuji, "Caramu memaksa dia membunuh diri tadi sungguh cerdik sekali!"

"Begitukah, nona? Sebenarnya orang macam dia layak mampus, akan tetapi aku selalu merasa tidak tega untuk membunuh orang, betapa pun jahatnya. Kecuali kalau terpaksa sekali. Kalau bisa, aku lebih senang membiarkan dia membunuh diri sendiri."

"Maaf, saudara tadi mengatakan bahwa dia adalah seorang jai-hwa-cat. Apakah telah ada buktinya dia memperkosa wanita dan membunuh orang?" tiba-tiba Cia Sun bertanya dan matanya memandang penuh selidik.

Pemuda bercaping itu memandang kepadanya hingga sejenak dua orang muda itu saling pandang dengan tajam. Akan tetapi, pemuda bercaping itu lalu tertawa, suara ketawanya bebas lepas dan nyaring, mendatangkan rasa suka di hati Sui Cin. Selain gagah juga jujur dan gembira, pemuda ini tentu lebih menyenangkan sebagai sahabat seperjalanan dari pada Cia Sun yang pendiam sekali itu.

"Ha-ha-ha, saudara berpakaian putih sederhana, pantas dijuluki Pek-i Taihiap (Pendekar Besar Baju Putih), dan pertanyaanmu tadi menunjukkan bahwa engkau adalah seorang yang sangat teliti dan bijaksana. Memang, sebelum kita bersahabat, seyogianyalah kalau kalian berdua lebih dulu mengenal orang macam apa aku yang hendak dijadikan kenalan, bukan?" Orang itu tersenyum dan melirik ke arah Sui Cin yang juga tersenyum karena dia menganggap bahwa orang ini pandai bicara pandai pula membawa diri. "Namaku Thian Bu, she Sim. Sim Thian Bu, ya, itu nama yang mudah diingat, bukan? Aku tidak datang dari satu golongan atau partai persilatan tertentu, hidupku sendirian dan suka merantau di dunia yang luas. Karena sejak kecil aku sudah mempelajari bermacam-macam ilmu silat, maka sesudah mendengar akan diadakannya pertemuan para pendekar di Puncak Bukit Perahu, aku segera bermaksud menghadirinya untuk berkenalan dengan para pendekar dan meluaskan pengalaman. Ketika melewati hutan di bawah, aku melihat mayat seorang wanita diperkosa. Aku lalu mengejar ke atas dan melihat tiga orang pendekar mengeroyok penjahat ini. Sayang aku terlambat sehingga tiga orang pendekar itu telah roboh. Aku lalu mengejar lagi dan akhirnya berhasil menyusulnya di tempat ini."

Mendengar cerita itu, Sui Cin tersenyum dan memuji, "Sungguh engkau dapat bergerak cepat sekali hingga berhasil merobohkan penjahat keji itu, saudara Sim. Kami pun sedang mencari-carinya dan agaknya akan sukarlah mengetahui siapa pelaku kejahatan itu kalau dia dapat meloloskan diri."

"Nona terlalu memuji." Sim Thian Bu tersenyum dan menjura. "Setelah aku menceritakan semua tentang diriku, bolehkah aku mengenal nama ji-wi yang mulia?"

Sui Cin melihat betapa Cia Sun diam saja dan hanya memandang tajam kepada pemuda tampan itu, maka dia merasa tidak enak jika tidak menjawab. "Namaku Ceng Sui Cin dan ini adalah kakak misanku bernama Cia Sun."

Mendengar nama kedua orang muda itu, Sim Thian Bu nampak tercengang, akan tetapi hanya sebentar saja dan hanya Cia Sun yang melihatnya karena memang semenjak tadi dia terus memperhatikan orang itu.

"Di dalam dunia persilatan ada dua orang locianpwe yang memiliki she Ceng dan Cia yang paling terkenal, yaitu Ceng-locianpwe yang berjuluk Pendekar Sadis serta Cia-locianpwe sebagai ketua Pek-liong-pang di Lembah Naga..."

"Mereka adalah ayah-ayah kami." Baru sekarang ini Cia Sun berkata, memotong ucapan pemuda she Sim itu.

"Ahh, ternyata ji-wi adalah putera dan puteri dua orang locianpwe yang sangat terkenal. Maafkan kalau aku bersikap kurang hormat. Maaf, aku tak berani mengganggu lebih lama lagi. Sampai jumpa di tempat pertemuan!" Sim Thian Bu menjura dengan sikap hormat, kemudian dia menggerakkan kedua kakinya dan tubuhnya berkelebat cepat sekali, lenyap dari tempat itu, menyelinap di antara pepohonan. Gerakannya memang cepat sekali dan agaknya dia memang sengaja memamerkan ilmu ginkang-nya sehingga mau tidak mau, dua orang pendekar muda itu pun merasa kagum.

"Dia lihai, sayang kita tidak dapat berkenalan lebih baik dan tahu siapa dia sebetulnya," kata Sui Cin.

Akan tetapi Cia Sun tidak memberi komentar dan pemuda ini segera menghampiri mayat penjahat tinggi besar tadi, memandang sejenak lalu mulal menggali tanah.

"Apa yang kau lakukan, Sun-ko?"

"Mengubur jenazah ini," jawabnya singkat.

"Wah, kita mengubur lagi?"

"Mayat-mayat yang tadi pun kita kubur."

"Mereka adalah pendekar-pendekar, sedangkan yang ini adalah penjahat. Jika kita harus mengubur setiap mayat termasuk mayat penjahat juga, kita bisa menjadi tukang pengubur jenazah!"

"Cin-moi, apa bedanya? Baik buruk, pandai bodoh, kaya miskin, mulia hina, kalau sudah menjadi jenazah begini apa bedanya?" Cia Sun bekerja terus.

Sui Cin mengangkat pundak kemudian membantu pekerjaan itu tanpa banyak cakap lagi. Mereka bekerja keras, maka sebentar saja mereka sudah mengubur jenazah itu. Sambil membersihkan kedua tangannya, Sui Cin mengomel kepada gundukan tanah kuburan itu,

"Hemm, jai-hwa-cat, entah kebaikan apa yang telah kau lakukan sewaktu hidupmu hingga ketika mati engkau mendapat kehormatan dikubur oleh kami?"

"Cin-moi, aku masih belum percaya bahwa orang inilah yang membunuh dan memperkosa gadis yang kita kubur itu. Juga belum tentu dia yang membunuh tiga orang itu."

"Hemm, kenapa kau berkata demikian, Sun-ko? Bukankah sudah jelas..."

"Sama sekali belum jelas! Cin-moi, ingatkah engkau bagaimana matinya keempat orang pendekar muda itu? Mereka semua mati karena pukulan atau totokan jari tangan yang amat dahsyat. Akan tetapi orang yang kita kubur ini, dia berkelahi mempergunakan golok. Kenapa dia tidak mempergunakan jarinya yang lihai, seperti ketika dia membunuh empat orang itu?"

Sui Cin mengerutkan alisnya, terkejut karena baru sekarang dia teringat akan hal itu dan otaknya yang cerdik itu langsung bekerja. "Memang aneh..." katanya, "akan tetapi, kita harus mengakui bahwa permainan goloknya hebat sehingga bukan tak mungkin kalau dia menguasai pula ilmu totok yang sangat jahat itu. Mungkin saja, karena pemuda she Sim itu memang lihai dan lebih pandai dari padanya, maka dia tidak lagi mengandalkan ilmu totoknya dan menggunakan golok."

Pemuda itu menggelengkan kepala. "Meragukan sekali. Biar pun permainan goloknya tadi memang cukup lihai, akan tetapi kurasa tingkatnya belum mencapai tingkat Si Jari Hitam. Penjahat itu, kalau memang penjahat, adalah penjahat yang kasar dan tingkatnya belum tinggi."

"Akan tetapi, Sun-ko, bukankah dia sendiri sudah mengaku bahwa dia yang melakukan perkosaan dan pembunuhan? Kita berdua mendengar sendiri pengakuannya tadi sebelum dia membunuh diri."

"Itulah yang amat membingungkan hatiku, Cin-moi. Akan tetapi, walau pun dia mengaku memperkosa dan membunuh, dia tidak pernah mengatakan siapa yang diperkosanya dan dibunuhnya itu. Apakah gadis yang kita temui dan tiga orang pendekar muda itu? Ataukah orang lain yang dia maksudkan? Sayang orang she Sim itu tergesa-gesa mendesaknya membunuh diri sehingga aku tidak sempat mencegah untuk menanyainya secara teliti."

"Kini aku pun menjadi ragu, Sun-ko. Andai kata bukan dia yang melakukan perkosaan dan pembunuhan atas diri gadis dan tiga orang pemuda itu berarti..."

"Berarti bahwa seorang pemerkosa dan pembunuh yang amat lihai masih berkeliaran dan mengancam keselamatan banyak orang, terutama kaum pendekar."

Mereka melanjutkan perjalanan mendaki lereng bukit, tetapi Sui Cin mengomel, "Sun-ko, kenapa engkau memperkenalkan aku sebagai puteri Pendekar Sadis?"

"Ehh, apa salahnya karena memang kenyataannya begitu?"

"Aku tidak suka! Aku ingin hidup bebas, tidak mau membonceng nama besar ayahku. Kau lihat, aku suka menyamar, berarti aku hendak menyembunyikan keadaan diriku sebagai puteri Pendekar Sadis."

"Mengapa, Cin-moi? Seharusnya engkau merasa bangga mempunyai ayah seperti paman Ceng Thian Sin."

"Hemm, ayahku Pendekar Sadis dan ibuku Lam-sin, keduanya adalah tokoh-tokoh besar yang namanya menjulang tinggi. Apakah hal itu harus kupergunakan untuk mengangkat diriku sendiri? Tidak, aku tidak suka. Kalau orang mengenalku, maka dia boleh mengenal pribadiku sendiri, bukan suka berkenalan denganku karena aku puteri ayah bundaku yang terkenal itu." Gadis itu cemberut.

Kembali Cia Sun terheran-heran dan merasa bingung. Dia semakin tidak dapat menyelami watak gadis ini.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner