ASMARA BERDARAH : JILID-09


Menjelang senja kakek dan nenek iblis itu tiba di luar pintu gerbang sarang Kang-jiu-pang. Sebagai rumah perkumpulan persilatan, tempat itu dikelilingi tembok tebal seperti benteng ada pun di luar pintu gerbang yang besar itu dijaga oleh beberapa orang pemuda anggota Kang-jiu-pang.

Ketika mereka sampai di sana, dua orang datuk kaum sesat itu tidak berani sembarangan bergerak. Keduanya sudah cukup lama mengenal perkumpulan ini hingga maklum bahwa perkumpulan itu dipimpin oleh Song Pak Lun yang lihai bukan main, terutama sekali dua ‘tangan baja’ yang telah dilatihnya secara sempurna itu. Mereka tahu bahwa perkumpulan ini juga memiliki murid atau anggota yang puluhan orang jumlahnya. Maka keduanya lalu menghampiri pintu gerbang, hendak bertindak secara terbuka sebab bagaimana pun juga, mereka merasa berada pada pihak pemerintah yang menghadapi pemberontak, jadi tentu saja mereka berdua merasa mendapat angin.

Ternyata bahwa kedatangan mereka itu sudah dinanti oleh tuan rumah. Buktinya, ketika mereka sampai di depan pintu gerbang, tiba-tiba saja muncul seorang laki-laki tua berusia kurang lebih enam puluh tahun, gagah perkasa dan bertubuh kokoh kuat serta sikapnya tenang dan angker. Inilah Song Pak Lun sendiri, ketua Kang-jiu-pang yang agaknya tidak ingin menerima tamu yang sudah membunuh delapan orang anak buahnya itu di dalam rumah, melainkan hendak menerimanya di luar tembok pintu gerbang!

Di samping kanan kirinya berjalan dua orang kakek yang tadi menyamar sebagai pelukis dan penyair, yang berhasil menyelamatkan diri untuk membawa berita yang sangat pahit itu, yaitu bahwa bukan saja tugas anak buah Kang-jiu-pang untuk menculik kaisar sudah gagal, bahkan delapan orang anak buah perkumpulan mereka tewas secara mengerikan dalam tangan dua orang datuk sesat.

Sejenak kedua belah pihak hanya saling pandang saja. Song Pak Lun tidak menunjukkan kedukaan atau kemarahan berhubung dengan kematian murid-muridnya dan kegagalan usahanya.

"Sejak kapankah Koai-pian Hek-mo dan Hwa-hwa Kui-bo menjadi antek pembesar lalim Liu-thaikam?" demikian sambutan Song Pek Lun ketika kedua orang iblis itu nampaknya tidak sabar lagi.

Kakek dan nenek itu melirik ke depan dan kanan kiri, melihat betapa ketua Kang-jiu-pang itu diikuti oleh murid-murid kepala dan juga semua murid yang jumlahnya tak kurang dari lima puluh orang. Semua murid atau anggota Kang-jiu-pang itu kelihatan amat marah dan mendendam kepada mereka berdua.

Dengan sikap tenang tapi mengejek Koai-pian Hek-mo melolos pecut bajanya, kemudian memutar-mutar senjata itu dengan sikap menantang sekali, baru dia berkata, "Dan sejak kapan Kang-jiu-pang menjadi gerombolan pemberontak?"

"Hemmm, sejak kapan datuk-datuk kaum sesat bersikap sebagai patriot sejati?" Kembali Song Pak Lun bertanya.

"Orang she Song, tidak usah banyak membuka mulutmu yang busuk!" Tiba-tiba Hwa-hwa Kui-bo yang memang wataknya galak itu memaki, "Engkau memusuhi kaisar atau tidak, itu bukan urusan kami. Akan tetapi ketahuilah, kami menerima tugas dari Siangkoan-lojin untuk melindungi kaisar dan untuk membasmi Kang-jiu-pang. Sekarang terserah padamu, engkau hendak menyerahkan nyawa secara baik-baik ataukah kami harus menggunakan kekerasan!" Sambil berkata demikian, nenek itu mencabut pedangnya.

Wajah Song Pak Lun menjadi pucat sebentar, kemudian berubah merah sekali, sepasang matanya lebar terbelalak dan seperti mengeluarkan api. Tadi dia terkejut sekali mendengar disebutnya narna Siangkoan-lojin. Ternyata si Iblis Buta itu benar-benar sudah keluar dari sarangnya untuk mengacau dunia! Dan dia marah mendengar kesombongan nenek itu.

"Kami adalah orang-orang gagah dan sampai mati pun kami menjunjung kegagahan. Jika kami mengandalkan banyak orang mengeroyok kalian, kami akan merasa malu walau pun memperoleh kernenangan. Hek-mo dan Kui-bo, majulah hadapi aku satu lawan satu. Bila aku kalah, aku akan menyerahkan nyawa dan akan membubarkan Kang-jiu-pang, akan tetapi kalau kalian kalah, kami akan menggunakan kepala kalian untuk menyembahyangi arwah delapan orang murid kami."

Koai-pian Hek-mo hanya tertawa mengejek. Akan tetapi Hwa-hwa Kui-bo yang lebih cerdik dan sudah tahu akan kelihaian ketua perkumpulan ini, lalu berseru, "Kami datang berdua sebagai utusan, maka mati hidup harus kami lakukan bersama. Karena itu kami berdua hendak maju bersama, dan engkau boleh memilih seorang jagoan lagi dari perkumpulan pemberontak ini untuk membantumu melawan kami berdua!"

Secara diam-diam Koai-pian Hek-mo merasa girang karena kecerdikan temannya ini telah menempatkan mereka di atas. Dia pun tahu bahwa orang paling lihai dari Kang-jiu-pang adalah ketua itu sendiri. Melawan ketua itulah yang berat. Apa bila mereka berdua maju bersama, maka ketua itu terpaksa harus memilih seorang muridnya untuk membantu. Dan kepandaian seorang murid tidak ada artinya bagi mereka berdua. Apa bila pembantu itu sudah roboh maka berarti mereka berdua akan mengeroyok sang ketua dan tentu mereka akan dapat menang!

Song Pak Lun juga merasa tersudut dengan alasan Hwa-hwa Kui-bo yang bukannya tidak masuk akal ini. Seorang di antara dua seniman tua tadi melangkah maju lantas berkata,

"Pangcu, biarlah saya yang membantu pangcu menandingi mereka."

Akan tetapi Song Pak Lun segera menggelengkan kepala. Dua orang seniman itu adalah murid-murid utama yang memiliki ilmu kepandaian paling tinggi di antara murid-muridnya. Akan tetapi tingkat mereka belum ada tiga perempatnya, maka dia pun tahu bahwa kalau dia membiarkan seorang di antara mereka maju, hal itu hanya berarti membiarkan mereka maju mengantar nyawa saja.

Tidak, usahanya memang telah gagal namun dia harus menghadapi kegagalannya secara jantan. Kalau perlu dia akan mengorbankan nyawa. Tidak boleh dia membiarkan seorang murid lain terbunuh lagi sesudah ada delapan orang yang tewas.

"Aku akan maju sendiri menghadapi Hek-mo dan Kui-bo!" katanya dengan tegas.

"Tidak adil apa bila satu orang melawan dua orang! Akulah yang akan membantu ketua Kang-jiu-pang!" Mendadak terdengar suara orang disusul berkelebatnya bayangan orang, dan dua orang iblis itu terkejut ketika mengenal yang datang ini adalah pemuda tampan yang pernah mereka perebutkan!

Dengan pakaiannya yang sederhana kedodoran sehingga nampak aneh, disertai senyum yang ramah dan sepasang matanya yang bersinar tajam, pemuda itu sudah berdiri di situ sambil memandang kepada dua orang datuk sesat.

"Kau...? Ahhh…, jangan lancang, orang muda, bukankah engkau ingin menjadi muridku?" Hwa-hwa Kui-bo yang agaknya sudah tergila-gila kepada pemuda itu membujuk dengan suara merayu. "Tunggulah, aku membasmi Kang-jiu-pang ini lebih dulu, baru engkau ikut denganku bersenang-senang!"

Pemuda itu tertawa. "Sayang seribu sayang, Kui-bo, tetapi kedokmu itu amat mengerikan hatiku. Bukalah dulu kedokmu agar aku dapat melihat bagaimana macamnya mukamu."

Pemuda itu agaknya sengaja mengeluarkan kata-kata ini untuk menggoda dan mengejek, karena tak ada hal lainnya yang lebih memanaskan hati Hwa-hwa Kui-bo dari pada kalau orang bicara tentang mukanya dan kedoknya.

"Bocah keparat, kucabut lidahmu!" bentak nenek itu dengan marah.

Sementara itu, Song Pak Lun memandang tajam kepada pemuda yang baru datang, dan ketika murid kepala yang berdiri di belakangnya membisikkan bahwa permuda inilah yang pernah membantu kedua orang iblis itu menyelamatkan kaisar dan merobohkan seorang murid Kang-jiu-pang, tentu saja hatinya penuh curiga dan kemarahan.

Tidak mungkin pemuda yang sudah membantu dua orang iblis itu kini hendak membantu Kang-jiu-pang menghadapi mereka. Ini tentu sebuah tipuan atau siasat pihak lawan. Kaum sesat terkenal curang dan tidak segan mempergunakan akal-akal licik.

"Kang-jiu-pang tidak pernah mengharapkan bantuan orang luar, dan engkau orang muda malah masih ada perhitungan yang belum beres dengan kami!" bentaknya.

Pemuda itu menoleh kepadanya dan menarik napas, lantas menjura. "Maaf, pangcu. Aku pernah merobohkan muridmu karena melihat murid-muridmu hendak mengganggu kaisar. Akan tetapi setelah kuselidiki tadi, baru aku tahu apa dasarnya. Biar pun aku sendiri tidak menyetujui cara-caramu, akan tetapi baru kuketahui bahwa Kang-jiu-pang bukan golongan jahat. Maka, untuk menebus kesalahanku, aku hendak membantu Kang-jiu-pang."

"Hemmm!" Ketua yang keras hati itu mencela. "Kalau tidak ada campur tanganmu, tentu usaha kami sudah berhasil dan murid-murid kami tidak ada yang tewas. Kami tidak dapat menerima bantuan orang yang telah mencelakakan kami!"

Pemuda itu agaknya maklum bahwa dalam saat seperti itu, banyak bicara juga tidak ada gunanya. Ketua Kang-jiu-pang itu agaknya bukan hanya bertangan baja, akan tetapi juga berwatak baja yang keras. Maka dia pun menggerakkan kedua pundaknya.

"Terserah, kalau tidak boleh membantu aku pun tidak akan membantu kalian. Akan tetapi, aku sendiri masih mempunyai perhitungan dengan kedua iblis ini yang harus kubereskan sekarang juga. Heiii, Koai-pian Hek-mo dan Hwa-hwa Kui-bo, kutantang kalian untuk maju melawan aku. Kalau kalian tidak berani, maka perkara ini akan kusudahi kalau kalian suka membuntungi lengan kanan masing-masing dan memberikannya kepadaku!"

Mendengar ucapan yang nadanya memandang rendah sekali ini, ketua Kang-jiu-pang dan semua anak buahnya terkejut. Bahkan kakek dan nenek iblis itu sendiri terbelalak, lebih kaget dari pada marah. Ada seorang muda yang berani mengeluarkan ucapan seperti itu! Sungguh kurang ajar, terlalu menghina.

Pemuda itu memang sengaja mengeluarkan kata-kata yang nadanya memandang rendah untuk memaksa dua orang iblis itu menandinginya, atau setidak-tidaknya salah seorang di antara mereka agar lawan ketua Kang-jiu-pang menjadi ringan. Dan usahanya ini berhasil baik.

Dua orang datuk sesat itu marah sekali, merasa dipandang rendah sekali. Maka terdengar suara menggereng keras seperti seekor harimau terluka lantas terdengar suara meledak nyaring ketika pecut baja di tangan Koai-pian Hek-mo menyambar dahsyat ke arah kepala pemuda itu. Ujung cambuk baja yang panjang itu dipasangi paku besar dan kini paku itu meluncur ke arah pelipis si pemuda yang dianggap sombong dan bermulut besar.

"Ehh, luput...!" Pemuda itu mengejek sambil menggerakkan kepalanya mengelak.

"Wuuuuttt...! Singgg...!"

Paku di ujung pecut itu lewat beberapa senti saja di pinggir kepala pemuda yang nampak begitu tenang dan menghadapi kakek iblis itu sambil tersenyum-senyum.

"Tar-tar-tar-tarrr...!"

Pecut itu meledak-ledak dan menyambar-nyambar, akan tetapi pemuda itu tetap tenang saja, menghindar ke kanan kiri dengan gerakan yang indah dan mantap. Demikian yakin dia akan dirinya sendiri sehingga gerakannya tidak terlihat gugup, akan tetapi ujung pecut yang nampaknya seperti akan mengenai dirinya itu selalu luput.

"Wah, tidak kena lagi, Hek-mo!" dia berulang-ulang mengejek.

Song Pak Lun bukanlah seorang yang bodoh. Biar pun dia keras hati dan memiliki harga diri yang tinggi, namun dia cukup cerdik. Dia tadi telah menolak bantuan pemuda itu, dan kalau kini pemuda itu berkelahi melawan Koai-pian Hek-mo, hal itu adalah urusan mereka berdua sendiri, tidak ada sangkut-pautnya dengan Kang-jiu-pang.

Namun hal ini tentu saja amat menguntungkan dirinya karena dengan terlibatnya Hek-mo dalam perkelahian melawan pemuda itu yang dia lihat mempunyai gerakan cukup hebat, maka kini dia hanya tinggal menghadapi Hwa-hwa Kui-bo seorang, jadi tidak begitu berat jika dibandingkan dengan melawan dua orang datuk sesat itu bersama.

"Hwa-hwa Kui-bo, lihat seranganku!" bentaknya.

Dan dia pun telah menerjang maju dengan tamparan tangannya. Sepasang tangan ketua Kang-jiu-pang ini, dari siku ke bawah, telah berubah warnanya menjadi persis warna besi baja dan mengkilat pula. Ketika tangan kiri itu menampar, bunyinya berdesing dan amat panas ketika menyambar ke arah muka Hwa-hwa Kui-bo.

Nenek ini maklum akan ampuhnya tangan baja ketua Kang-jiu-pang itu, karena itu dia pun cepat mengelak dan membalas dengan tusukan pedangnya ke arah lambung lawan.

"Tranggg...!"

Nenek berkedok itu terkejut sekali. Ternyata ketua Kang-jiu-pang itu berani menangkis pedangnya dengan tangan kosong dan ketika pedang itu bertemu dengan tangan kanan Song Pak Lun, terdengar bunyi nyaring seakan-akan pedangnya bertemu dengan logam dan mengeluarkan percikan bunga api, bahkan tangan kanan yang memegang pedang itu terasa tergetar hebat!

Sekarang dia baru tahu bahwa nama Song Pak Lun sebagai ketua perkumpulan Tangan Baja sungguh bukan nama kosong belaka, maka nenek ini pun lalu memutar pedangnya dan mengeluarkan semua ilmunya untuk menghadapi lawan yang tangguh ini. Terjadilah perkelahian yang amat seru dan mati-matian di antara mereka, ditonton oleh para anggota Kang-jiu-pang dengan hati tegang.

Tetapi, ketegangan yang mencul karena perkelahian antara ketua Kang-jiu-pang melawan Hwa-hwa Kui-bo mengendur banyak pada waktu mereka menyaksikan perkelahian antara Koai-pian Hek-mo dan pemuda tampan yang masih terus tersenyum-senyum itu. Bahkan para anggota Kang-jiu-pang kadang-kadang tak bisa menahan gelak tawa mereka melihat kelucuan pemuda itu menghadapi lawannya, di samping mereka menjadi terheran-heran, bahkan demikian kagum sampai bengong.

Pemuda itu sungguh-sungguh memiliki gerakan yang amat lincah. Ia tidak mengandalkan kecepatan saat menghadapi cambuk baja lawan, melainkan mengandalkan gerakan kaki yang demikian indah dan mantap. Kedua kakinya bergerak ke depan belakang, kanan dan kiri demikian indah dan mantapnya hingga tubuhnya dapat selalu terhindar dari sambaran ujung pecut baja. Kadang-kadang dia menterta-wakan lawannya.

"Wah, luput lagi, Hek-mo. Pakumu sudah usang, ganti saja dengan yang baru."

"Singgg...! Wirrr...! Singgg...!"

"Nah, tidak kena lagi! Gerakanmu terlampau lemah! Apa kau belum makan? Kalau lapar jangan bertanding silat, nanti masuk angin...!"

"Wuuuuttt...! Singgg...!"

"Apa kubilang, luput lagi...!"

"Keparat!" Kakek itu memaki dan memutar cambuk bajanya lebih cepat lagi.

Cambuk itu sendiri lenyap bentuknya, berubah menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Akan tetapi tiba-tiba saja pemuda itu membentak, suaranya demikian keras mengejutkan.

"Perlahan dulu!"

Kakek itu pun menjadi terkejut dan rasa kaget ini mengurangi kecepatan gerakannya dan tahu-tahu ujung cambuknya yang dipasangi paku itu telah tertahan dan terjepit oleh dua jari tangan kiri pemuda itu, yaitu ibu jari dan telunjuknya!

Semua orang memandang kagum. Sungguh amat berani perbuatan pemuda ini, menjepit ujung cambuk yang demikian ampuhnya dengan jari tangan saja! Akan tetapi Koai-pian Hek-mo sendiri kaget dan marah, juga diam-diam maklum bahwa biar pun masih muda, lawannya ini benar-benar tak boleh dipandang ringan!

Dia lalu mengerahkan tenaga membetot untuk melepaskan ujung cambuknya dari jepitan tangan pemuda itu, namun ujung cambuk itu tertahan kuat-kuat di dalam jepitan! Sinkang yang luar biasa kuatnya, pikir Hek-mo. Pantas saja pemuda ini tadi berani mengeluarkan kata-kata sombong, ternyata bukan bualan belaka dan memang pemuda ini ‘berisi’. Dia kembali mengerahkan tenaga sambil menarik dan tiba-tiba…

"Singggg...!" pemuda itu melepaskan jepitan jarinya! Tentu saja paku di ujung cambuk itu meluncur amat cepatnya ke arah orang yang menariknya.

"Uhhhhh...!"

Hampir saja muka Hek-mo termakan oleh paku di ujung cambuknya sendiri kalau dia tidak cepat-cepat mengangkat tangannya ke atas dan mengelak. Mukanya yang hitam berubah agak pucat. Nyaris dia menjadi korban senjatanya sendiri.

"Nah, apa kubilang? Jangan main-main dengan segala cambuk dan paku yang tidak ada gunanya, salah-salah hidungmu sendiri yang nantinya terpaku!" pemuda itu mengejek dan beberapa orang anggota Kang-jiu-pang bersorak.

Kini wajah Hek-mo berubah merah. Baru belasan jurus saja dan dia sudah hampir celaka. Hatinya menjadi sangat penasaran. "Orang muda, beri tahukan namamu supaya aku tahu dengan siapa aku bertanding!"

Pemuda itu tersenyum. "Ehhh, mengapa tanya-tanya nama segala? Apakah kau hendak menarik aku sebagai mantu? Wah, jelas kutolak jika mukanya seperti mukamu, Hek-mo. Tapi biarlah, supaya engkau tidak mati penasaran dan tahu siapa yang mengalahkanmu. Aku she Cia bernama Hui Song!"

"Dari perguruan mana?"

"Cerewet! Memangnya kita ini kong-kouw (ngobrol) atau sedang bertanding? Hayo lekas lanjutkan permainan cambuk bajamu yang jelek itu!" Pemuda yang bernama Cia Hui Song itu mengejek.

"Bocah sombong!" Koai-pian Hek-mo memaki dan memutar cambuknya.

"Tar-tarrr-tarrr!" lalu cambuk meluncur ke bawah, mengarah ke ubun-ubun kepala Cia Hui Song.

Akan tetapi sekali ini Hui Song tidak mengelak, melainkan menggerakkan tangan kirinya ke atas kepala dan ketika paku di ujung cambuk itu meluncur turun, dia menggunakan jari tangannya untuk menjentik.

"Tringgg...!" Dan paku itu terpental ke arah penyerangnya!

Tentu saja Koai-pian Hek-mo terkejut sekali dan kembali menghujankan serangan. Akan tetapi terdengar suara nyaring tang-ting-tang-ting pada waktu Hui Song menyambut paku itu dengan jentikan jari-jari tangan, bahkan dia pun segera membalas dengan tamparan-tamparan yang sedemikian kuatnya hingga angin pukulannya saja membuat rambut serta baju lawannya berkibar-kibar dan dalam beberapa gebrakan saja Hek-mo terhuyung dan terdesak.

Kini Hek-mo baru benar-benar terkejut dan maklum bahwa kalau dilanjutkan, akhirnya dia akan celaka di tangan bocah yang menjadi lawannya itu. Tentu saja dia merasa sangat penasaran dan malu. Ia memperebutkan bocah ini dengan Hwa-hwa Kui-bo untuk menjadi muridnya tetapi siapa kira, bocah ini malah mempunyai kepandaian sedemikian hebatnya sehingga dia yang ingin menjadi gurunya pun tidak mampu menandinginya!

Sementara itu, Hwa-hwa Kui-bo dengan pedangnya juga kewalahan dan kerepotan dalam menghadapi sepak terjang ketua Kang-jiu-pang dengan kedua tangan bajanya itu. Tangan kanannya yang memegang pedang juga terasa sangat lelah karena setiap kali bertemu dengan tangan baja lawan, pedangnya terpental dan tangannya tergetar.

Maka, ketika Koai-pian Hek-mo berteriak, "Kui-bo, mari kita pergi!" dia pun tidak menanti sampai ajakan itu diulang dua kali.

Dia pun tahu bahwa jika perkelahian ini dilanjutkan, lambat laun dia akan kalah melawan ketua Kang-jiu-pang. Cepat tangan kirinya mengebut dan jarum beracun menyambar ke arah lawan.

Song Pek Lun maklum akan bahayanya jarum-jarum itu, maka dia pun cepat mengelak mundur sambil mempergunakan kedua tangannya yang kebal seperti besi baja itu untuk menyampoki jarum-jarum hingga senjata-senjata rahasia itu runtuh semua ke atas tanah. Kesempatan itu dipergunakan oleh Hwa-hwa Kui-bo untuk meloncat dan melarikan diri, mengejar Koai-pian Hek-mo yang sudah lari terlebih dulu tanpa dikejar oleh Cia Hui Song yang hanya berdiri bertolak pinggang sambil tertawa melihat lawannya mengambil langkah seribu.

Pemuda itu kemudian menghadapi Song Pak Lun dan menjura. "Song-pangcu, sekali lagi maafkan salah duga yang membuat aku pernah merobohkan muridmu karena aku hanya bermaksud menolong kaisar yang diancam dan ditodong oleh muridmu. Dan kuharap saja pangcu bersama seluruh anggota Kang-jiu-pang cepat-cepat pergi meninggalkan tempat ini. Perbuatan para anggota Kang-jiu-pang dianggap sebagai pemberontak. Aku tidak akan merasa heran kalau sebentar lagi datang pasukan untuk menangkap atau pun membasmi Kang-jiu-pang."

Song Pak Lun menarik napas panjang. "Kami mengerti dan bagaimana pun juga, terima kasih atas bantuanmu. Orang muda, engkau she Cia dan ilmu silatmu tinggi. Entah apa hubunganmu dengan Cia-taihiap, ketua Cin-ling-pai?"

Kui Song tersenyum dan mukanya menjadi merah. "Aku tidak pernah memamerkan dan memperkenalkan orang tuaku, akan tetapi baiklah kepadamu aku berterus terang bahwa dia adalah ayahku."

"Ahhh...!" Para anggota Kang-jiu-pang berseru kaget. Ternyata pemuda ini adalah putera ketua Cin-ling-pai! Pantas saja demikian lihai!

"Aku mengerti bahwa kami tidak akan menyebut dan menyeret namamu ke dalam urusan kami, Cia-taihiap," kata ketua Kang-jiu-pang itu.

"Terima kasih, aku yakin akan kebijaksanaan pangcu. Aku sendiri tidak takut jika terseret, hanya saja ayah tentu akan marah sekali kalau sampai Cin-ling-pai terlibat. Nah, selamat berpisah, pangcu, harap saja engkau dengan semua anggotamu bisa meloloskan diri dari kejaran pasukan pemerintah!"

Cia Hui Song lalu pergi dan Song Pak Lun dengan tergesa-gesa lalu berkemas. Tak lama kemudian, pada hari itu juga, seluruh anggota Kang-jiu-pang berikut keluarga mereka pergi meninggalkan kota Cin-an. Ketika pasukan pemerintah datang menyerbu, mereka hanya menemukan sarang yang kosong karena semua burungnya telah terbang pergi entah ke mana.

Cia Hui Song adalah putera ketua Cin-ling-pai, dan pada waktu itu, yang menjadi ketua Cin-ling-pai adalah seorang pendekar gagah perkasa bernama Cia Kong Liang yang telah berusia lima puluh tahun.

Para pembaca kisah Pendekar Sadis tentu sudah mengenal nama Cia Kong Liang ini. Pendekar ini menikah dengan seorang gadis gagah perkasa putera seorang datuk sesat yang sudah mencuci tangan dan merubah jalan hidupnya di atas jalan bersih.

Ayah mertuanya adalah Tung-hai-sian Bin Mo To yang tinggal di kota Ceng-tao di Propinsi Shantung. Pada waktu masih menjadi datuk, Bin Mo To ini berjuluk Tung-hai-sian (Dewa Lautan Timur) dan dia adalah seorang Bangsa Jepang yang nama aslinya Minamoto.

Tung-hai-sian hanya mempunyai seorang anak perempuan yang berjiwa gagah dan tidak suka melihat ayahnya menjadi datuk kaum sesat. Puterinya ini yang bernama Biauw dan memakai she Bin, akhirnya menikah dengan Cia Kong Liang yang pada waktu itu adalah putera ketua Cin-ling-pai.

Cia Kong Liang hidup rukun dan saling mencinta dengan Bin Biauw dan mereka memiliki seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Cia Hui Song, yang kini sudah berusia dua puluh satu tahun. Setelah ayahnya meninggal dunia, Cia Kong Liang membangun kembali Cin-ling-pai sebagai ketuanya dan semenjak itu, di bawah pimpinannya dan dibantu oleh isterinya, Cin-ling-pai menjadi semakin kuat dan terkenal.

Di dalam mendidik dan melatih murid-murid Cin-ling-pai, Cia Kong Liang bersikap sangat keras sehingga di antara murid-muridnya banyak yang jadi. Tentu saja puteranya sendiri digemblengnya dengan tekun sehingga Cia Hui Siong telah mewarisi ilmu-ilmu Cin-ling-pai dari ayahnya, bahkan mewarisi juga ilmu-ilmu dari ibunya yang memiliki ciri khas.

Sejak kecil pemuda ini berada di Cin-ling-pai yang berpusat di Pegunungan Cin-ling-san, dan memiliki watak yang lincah gembira sekali, jauh berbeda dengan ayahnya yang sejak muda berwatak keras, pendiam dan serius, bahkan agak angkuh dan tinggi hati. Agaknya Hui Song menuruni watak ibunya yang lincah gembira, dan memiliki jiwa petualang sebab sejak kecil anak ini suka bermain-main sendiri di tempat-tempat yang sepi dan berbahaya sehingga sering kali mendapat teguran dan hukuman keras dari ayahnya.

Namun dia tidak pernah merasa jera, apa lagi karena dilindungi ibunya sehingga akhirnya ayahnya merasa bosan sendiri kemudian membiarkan puteranya tumbuh menjadi seorang pemuda yang wataknya riang gembira, bengal sekaligus juga aneh, mengenakan pakaian seenaknya saja tak pernah kelihatan rapi.

Dia hadir di Puncak Bukit Perahu adalah untuk mewakili ayahnya dan Cin-ling-pai. Akan tetapi seperti juga para pendekar lain yang mendengar berita dari para murid Pek-ho-pai bahwa pertemuan itu dibatalkan, dia pun meninggalkan tempat itu dan sebelum pulang ke Cin-ling-pai dia melancong dulu sampai ke Cin-an di mana akhirnya secara kebetulan dia berhasil menyelamatkan kaisar kemudian berbalik membantu Kang-jiu-pang menghadapi dua orang kakek dan nenek iblis.

Sesudah memberi nasehat kepada Kang-jiu-pang agar cepat-cepat meninggalkan Cin-an, Hui Song sendiri langsung pergi dari kota itu. Dia pun merasa khawatir kalau-kalau pihak pemerintah tahu bahwa dia adalah putera ketua Cin-ling-pai.

Bantuannya terhadap Kang-jiu-pang tadi sungguh berbahaya kalau diingat dua orang iblis itu ternyata adalah kaki tangan pemerintah pula! Dia sendiri masih merasa bingung akan segala peristiwa yang dialaminya.

Kaisar akan diculik oleh kumpulan pendekar Kang-jiu-pang, ada pun orang-orang macam Koai-pian Hek-mo dan Hwa-hwa Kui-bo malah melindungi kaisar. Apakah dunia ini sudah terbalik? Apakah kini para pendekar memusuhi kaisar sedangkan para penjahat malah membelanya?

Memang pemuda ini tidak begitu mempedulikan urusan pemerintahan, maka dia pun tidak tahu akan apa yang terjadi di istana, tidak tahu bahwa para datuk sesat itu sesungguhnya bukan mengabdi terhadap kaisar akan tetapi terhadap pembesar lalim yang memperoleh kesempatan menguasai pemerintahan melalui kaisar muda yang lemah.

Pada keesokan harinya, Hui Song sudah pergi jauh dari Cin-an menuju ke selatan. Dia harus pulang ke Cin-ling-san untuk melaporkan kepada ayahnya tentang kegagalan atau pembatalan pertemuan para pendekar itu, juga tentang keanehan yang dialaminya di kota Cin-an.

Sebelum dia turun tangan membantu Kang-jiu-pang, dia sudah melakukan penyelidikan kilat di Cin-an tentang perkumpulan itu dan memperoleh kenyataan bahwa Kang-jiu-pang adalah perkumpulan pendekar yang dihormati dan dipuji oleh rakyat. Itulah mengapa dia tanpa ragu-ragu cepat pergi ke Kang-jiu-pang dan melihat perkumpulan itu didatangi oleh dua iblis, dia pun segera membantu.

Siang hari itu matahari sangat terik dan semalam Hui Song sudah melakukan perjalanan tanpa berhenti, maka dia merasa lelah dan duduklah pemuda ini mengaso di luar sebuah hutan. Melibat adanya sebuah gubuk di pinggir jalan, dia pun lalu naik ke gubuk kecil itu untuk berteduh.

Di bawah naungan daun-daun pepohonan serta atap gubuk sederhana yang menciptakan tempat teduh dan sejuk dengan adanya angin semilir, membuat mata mengantuk sekali. Hui Song segera tertidur sesudah dia merebahkan diri terlentang di atas anyaman bambu di gubuk itu. Dia tertidur amat nyenyak dan nikmatnya.

Kita condong beranggapan bahwa segala kenikmatan yang dapat kita rasakan di dalam kehidupan ini haruslah diadakan dan sarananya berada di luar diri kita. Bila mau makan enak harus membeli masakan-masakan yang mahal harganya, kalau ingin tidur nyenyak harus berada di dalam kamar yang lengkap dan dengan perabot serba halus dan mahal, dan sebagainya. Pendeknya syarat mutlak supaya dapat menikmati hidup adalah adanya benda-benda berharga yang hanya bisa didapatkan dengan uang. Akan tetapi, benarkah demikian adanya?

Kita melihat petani sederhana yang sesudah bekerja keras di ladang dapat menikmati makanannya yang amat sederhana, dengan kenikmatan yang tidak dibuat-buat. Kenapa demikian? Karena badannya sehat dan batinnya tenteram, karena dia sehat lahir batin. Kesehatannya bekerja dengan wajar, membuat perutnya lapar setelah dia kelelahan dan ini menciptakan selera dan nafsu makan yang membuat apa saja menjadi terasa nikmat olehnya. Kita melihat petani yang sama pada waktunya akan dapat tidur nyenyak, hanya bertilamkan tikar atau bahkan rumput saja, juga hal ini bisa terjadi karena dia sehat lahir batinnya.

Sebaliknya, kita pun dapat melihat orang yang kaya raya tanpa banyak bekerja menjadi malas, makan tidak terasa enak meski pun menghadapi hidangan yang mahal-mahal dan banyak macamnya. Kita melihat orang kaya yang sama gelisah di atas tempat tidurnya yang empuk dan bertilamkan sutera di dalam sebuah kamar seperti istana, sukar dapat memejamkan mata dan tidak dapat lagi menikmati rasanya tidur nyenyak.

Jelaslah bahwa sumber kenikmatan hidup terdapat di dalam diri kita sendiri lahir batin. Jika lahir batin kita sehat kita akan dapat menikmati hidup. Badan sehat berarti tidak ada gangguan penyakit. Batin sehat berarti tidak ada gangguan pikiran.

Namun sungguh teramat sayang. Kita lebih senang MENGOBATI gangguan lahir batin itu dari pada MENJAGANYA. Kita hidup tidak sehat, makan minum tanpa ingat kesehatan, setiap hari ada gangguan kesehatan badan yang harus kita atasi dengan pengobatan-pengobatan. Lalu kita membiarkan hati dan pikiran terganggu setiap hari, yang ingin kita atasi pula dengan hiburan-hiburan!


Walau pun hanya di dalam gubuk reyot bertilamkan anyaman bambu yang kasar, di tepi sebuah hutan yang sunyi, akan tetapi Hui Song dapat tidur dengan nyenyak, benar-benar nyenyak sehingga tidak membutuhkan waktu tidur lama. Tidur dua tiga jam saja rasanya sudah kekenyangan dan puas sekali, sudah dapat melenyapkan segala letih dan kantuk.

“Tukk!” Mendadak ada sesuatu yang jatuh menimpa dahinya. Hanya sebuah benda kecil menimpa dahi, akan tetapi cukuplah untuk menggugah Hui Song dari tidurnya.

Sebagai seorang pendekar yang terlatih, begitu terbangun dia pun langsung waspada dan siap menghadapi bahaya yang mengancam. Badannya sudah sangat peka seperti badan binatang liar yang hidup di hutan, seperti burung yang selalu waspada meski pun dalam keadaan sedang tidur. Suara tak wajar dari belakang gubuk itu cukup membuat Hui Song sadar sepenuhnya.

"Brakkkkk...!"

Gubuk itu jebol, ambrol dan runtuh, dan seperti seekor burung saja, Hui Song berhasil melesat ke luar dari dalam gubuk sebelum dia turut terbanting dan tertindih. Ketika dia turun ke atas tanah dan membalikkan tubuhnya, dia melihat di situ telah berdiri tiga orang tua yang tertawa-tawa. Mereka ini bukan lain adalah Koai-pian Hek-mo, Hwa-hwa Kui-bo dan seorang kakek lagi yang tubuhnya amat menyeramkan.

Seorang kakek yang tinggi besar seperti raksasa, dan melihat perawakan ini, walau pun baru sekali bertemu dengan makhluk ini, Hui Song yang telah banyak mendengar tentang para iblis di dunia sesat, segera dapat menduga bahwa dia berhadapan dengan seorang pentolan Cap-sha-kui yang kabarnya memiliki ilmu kepandaian sangat mengerikan, yaitu Tho-tee-kui! Maka dia pun bersikap waspada, sungguh pun mulutnya bergerak membuat senyum mengejek ke arah Hek-mo dan Kui-bo yang tertawa-tawa itu.

"Wah, kiranya Koai-pian Hek-mo dan Hwa-hwa Kui-bo. Apakah kalian berdua belum puas mendapat hajaran tempo hari dan sekarang datang mencariku untuk minta tambahan?"

Mendengar ejekan ini Koai-pian Hek-mo dan Hwa-hwa Kui-bo menjadi marah sekali.

"Bocah sombong, kami datang menagih hutang berikut bunganya!" kata Hwa-hwa Kui-bo sambil menubruk maju dan menggerakkan tangan kiri mencengkeram ke arah kepala Hui Song.

"Plakkk!" Hui Song menangkis sambil tertawa.

"Tak tahu malu! Engkau yang hutang belum bayar memutar balikkan fakta!" Tangkisan itu dilakukan dengan pengerahan tenaga Thian-te Sin-ciang dan akibatnya nenek bertopeng itu terpelanting. Akan tetapi dari samping, kakek Koai-pian Hek-mo sudah menyerangnya. Kakek ini pun tidak menggunakan pecut bajanya.

Agaknya mereka berdua memang sudah sepakat untuk maju mengeroyok Hui Song dan karena pemuda itu tidak bersenjata, mereka pun merasa lebih leluasa untuk mengeroyok pemuda itu dengan tangan kosong saja agar mereka merasa lebih puas memberi hajaran kepada pemuda ini. Serangan Hek-mo dari samping itu cukup dahsyat, dengan pukulan keras ke arah lambung. Namun dengan mudah Hui Song dapat mengelak.

"Memang sudah lama aku tahu bahwa kalian ini tua bangka-tua bangka yang curang dan pengecut! Namun jangan dikira aku takut menghadapi pengeroyokan kalian berdua. Nah, terimalah ini untuk penyegar!" Berkata demikian, Hui Song segera menggerakkan kedua lengannya dengan cepat sekali.

Kedua lengan itu membuat gerakan yang berlawanan, yang kiri mengandung tenaga keras dan yang kanan mengandung tenaga lemas. Kedua tangannya berbareng menyambar ke arah Hek-mo dan Kui-bo dengan jurus sakti dari Im-yang Sin-kun!

"Plakk! Plakk...!”

“Ihhhh...!" Kakek dan nenek itu terhuyung dan hampir terpelanting pada waktu menangkis pukulan sakti ini sehingga mereka terkejut bukan main. Akan tetapi karena mereka maju berbareng, hati mereka pun menjadi besar. Mereka merasa penasaran sekali jika secara maju bersama tetap tidak mampu mengalahkan pemuda ini, maka mereka mengerahkan semua tenaga dan kepandaian mereka.

Tidak percuma Hui Song menjadi putera tunggal ketua Cin-ling-pai yang telah digembleng secara keras semenjak dia masih kecil dan sekarang dia telah mewarisi semua ilmu ayah dan ibunya sehingga tingkat kepandaiannya hanya berselisih sedikit saja dibandingkan dengan ayahnya sendiri.

Maka tentu saja dia dapat bergerak dengan amat sigapnya dan meski pun dikeroyok oleh dua orang tokoh Cap-sha-kui, pemuda ini dapat mengimbangi permainan mereka, bahkan dia nampak lebih unggul karena selain menang tenaga sinkang, juga ilmu silatnya yang banyak macamnya, aneh-aneh dan terdiri dari ilmu-ilmu yang tinggi itu membingungkan kedua orang pengeroyoknya.

Melihat betapa dua orang rekannya itu sampai lewat lima puluh jurus belum juga mampu mengalahkan lawan yang masih begitu muda, raksasa berjubah hijau compang-camping itu menjadi tidak sabar lagi. Tadinya dia nonton sambil duduk di atas batu besar di dekat pohon. Kini dia bangkit berdiri, lantas sekali dia menggerakkan kakinya, terdengar suara hiruk-pikuk dan batu sebesar perut kerbau itu telah ditendangnya sampai terlempar cukup jauh!

"Kalian berdua mundurlah, biarkan aku merobek tubuhnya menjadi dua potong!" katanya.

Dua orang rekannya merasa girang dan langsung meloncat ke belakang. Mereka berdua merasa kehilangan muka kalau sampai mereka tidak dapat mengalahkan pemuda itu, apa lagi kalau sampai mereka harus mengeluarkan senjata. Kini, Tho-tee-kui sudah menyuruh mereka mundur, berarti mereka berdua belum sampai kalah!

Hui Song berdiri tegak memandang kepada raksasa yang kini telah berdiri di depannya. Memang hebat sekali kakek itu. Dia sendiri bukan seorang yang kecil pendek, sebaliknya dia termasuk seorang pemuda yang memiliki tubuh cukup tinggi besar. Akan tetapi, ketika berhadapan dengan Tho-tee-kwi, tingginya hanya sampai di bawah pundak raksasa itu dan lengan raksasa itu besarnya sama dengan betisnya!

Tho-tee-kwi menyeringai sambil memandang pemuda itu. "Orang muda, engkau boleh juga karena dapat menandingi mereka berdua. Sayang engkau harus mampus di tangan Tho-tee-kong!"

"Hemmm, kiranya inikah yang berjuluk Setan Bumi? Tho-tee-kwi, aku mendengar bahwa engkau adalah seorang datuk sesat yang tidak pernah turun tangan sendiri mencampuri urusan dunia ramai, apakah sekarang engkau pun sudah ikut-ikutan menjadi kaki tangan golongan tertentu untuk mengacau dunia?" Hui Song mengejek.

Dia tidak tahu siapa sebenarnya yang menggunakan tenaga para datuk sesat ini sehingga kini Cap-sha-kui yang terkenal sebagai datuk-datuk besar yang tidak pernah turun tangan sendiri itu nampak berkeliaran di mana-mana.

"Ha-ha, orang muda, menurut keterangan dua orang rekanku, engkau pernah membantu mereka dan menyelamatkan kaisar, akan tetapi sekarang engkau membalik menentang kami. Mengingat bahwa engkau pernah berjasa, maka aku memberi kesempatan padamu untuk bersatu dengan kami dan menjadi sahabat kami. Akan tetapi, kesempatan ini hanya kuberikan sekali saja," kata Tho-tee-kwi. Sebetulnya dia lebih suka kalau bisa bersahabat dan bekerja sama dengan pemuda yang dia sudah lihat memiliki kepandaian yang tinggi itu.

"Bekerja sama dengan datuk-datuk kaum sesat? Dengan Cap-sha-kui? Wah, apa engkau hendak menarikku sehingga Tiga Belas Setan akan berubah menjadi Empat Belas Setan? Tak usah, ya! Terima kasih. Penawaranmu kutolak dan kalian menjemukan hatiku. Lekas pergilah agar aku bisa tidur lagi, kalian mengganggu tidurku saja." Berkata demikian, Hui Song teringat bahwa apa bila tadi tidak ada tahi tikus menjatuhi dahinya, tentu dia sudah celaka ketika gubuk itu ditendang runtuh oleh raksasa ini.

"Engkau sia-siakan kesempatan baik dan engkau memilih tidur selamanya? Baiklah, akan kucabut saja nyawamu!" Berkata demikian, kedua lengan yang besar itu menyambar ke depan, kaki kanan dihentakkan dan bumi pun tergetar hebat.

Seperti terjadi gempa bumi saja ketika raksasa itu menghentakkan kakinya dan pada saat itu, kedua tangannya yang besar-besar sudah menyambar dengan serangan pertamanya, yang kanan mencengkeram ke arah kepala Hui Song, sedangkan yang kiri menyambar ke arah perut. Serangan itu dilakukan oleh sepasang tangannya yang mengandung kekuatan dahsyat.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner