ASMARA BERDARAH : JILID-10


Hui Song mengenal serangan berbahaya. Dia tahu bahwa kakek raksasa yang menjadi lawannya ini adalah seorang yang mempunyai tenaga kasar yang sangat kuat sehingga mengadu tenaga kasar dengan orang ini sama saja dengan mencari penyakit. Maka dia pun bersikap cerdik, mengandalkan kegesitannya dan mengelak sambil menusukkan jari tangannya untuk menotok ke arah jalan darah dekat siku ketika lengan itu meluncur lewat.

Akan tetapi di samping kekuatannya yang amat dahsyat, kiranya raksasa itu pun memiliki gerakan cepat. Sikunya telah ditekuk dan lengan itu menebas ke bawah untuk membabat tangan lawan, dilanjutkan dengan cengkeraman hendak menangkap pergelangan tangan pemuda itu lantas tiba-tiba saja kakinya dibanting lagi dibarengi dengan tamparan dahsyat ke arah kepala Hui Song!

Bantingan kaki itu benar-benar membuat Hui Song terkejut dan kehilangan keseimbangan sehingga ketika tangan yang besar itu menampar, elakannya agak lambat dan pundaknya kena serempet tangan yang lebar dan kuat itu.

"Dessss...!"

Tubuh Hui Song terpelanting, akan tetapi karena pemuda ini tadi dengan cepat langsung mengerahkan ilmu Tiat-po-san, semacam ilmu kebal yang pernah dipelajari dari ayahnya, maka tamparan yang menyerempet pundaknya itu tidak menimbulkan luka. Hanya saking kerasnya tenaga tamparan, tubuhnya terpelanting.

Hui Song cepat mengerahkan keringanan tubuh untuk menjaga tubuhnya agar tak sampai terbanting jatuh. Dengan berjungkir balik dia dapat turun lagi ke atas tanah, menghadapi lawannya yang tangguh itu sambil mengatur langkah-langkah Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun.

Ilmu ini ampuh sekali untuk melawan musuh yang pandai dan dengan ilmu ini berarti Hui Song tidak memandang rendah lawannya. Lawannya adalah seorang di antara pentolan-pentolan Cap-sha-kui yang amat lihai maka dia pun harus bersikap hati-hati sekali. Ketika lawannya membanting kaki lagi, dia pun mengerahkan sinkang lantas dari dalam perutnya keluar tenaga melalui mulut dan dia berseru,

"Hehhhhh…!"

Maka lenyaplah pengaruh bantingan kaki yang tadi menggetarkan tubuhnya itu sehingga dia dapat menghadapi serangan lawan dengan tenang sambil balas menyerang dengan pukulan-pukulan Thian-te Sin-ciang. Ia harus menyelingi Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun yang digunakan untuk melindungi tubuhnya itu dengan jurus-jurus ampuh dari Ilmu Silat San-in Kun-hoat dan Im-yang Sin-kun dan setiap kali memukul dia mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang karena maklum bahwa tubuh lawan yang seperti raksasa itu tentulah amat kuat dan kebal.

Terjadilah perkelahian yang amat seru dan hebat dan meski pun pemuda itu lebih banyak bertahan dari pada menyerang, namun tidak mudah bagi si raksasa untuk mendesaknya. Diam-diam Tho-tee-kui terkejut dan penasaran sekali, sebaliknya Hui Song mengeluh di dalam hatinya karena dia harus mengakui bahwa baru kali ini dia bertemu dengan lawan yang benar-benar tangguh sekali.

Kakek dan nenek iblis yang melihat betapa rekannya yang lebih lihai dari pada mereka itu pun sekian lamanya belum juga mampu merobohkan pemuda itu, menjadi semakin marah dan penasaran. Tak dikira oleh mereka bahwa pemuda yang tadinya mereka perebutkan untuk menjadi murid dan kekasih, ternyata mempunyai tingkat kepandaian yang demikian hebatnya sehingga rekan mereka yang sangat lihai seperti Tho-tee-kui pun tidak mampu mengalahkannya.

Seperti telah bersepakat lebih dulu, keduanya lalu menyerbu memasuki arena perkelahian itu dan mengeroyok Hui Song. Dasar watak penjahat, Tho-tee-kwi yang disohorkan orang sebagai pentolan Cap-sha-kui itu pun diam-diam dan enak-enak saja melihat dua orang rekannya membantu, dan mereka bertiga yang terkenal sebagai datuk-datuk besar kaum sesat tidak merasa sungkan atau malu mengeroyok seorang pemuda yang sama sekali belum terkenal di dunia persilatan!

"Ihhhh, bangkotan-bangkotan tebal muka, main keroyokan seperti bajingan-bajingan kecil saja!" tiba-tiba saja terdengar bentakan dan muncullah seorang dara remaja yang segera terjun pula ke dalam arena perkelahian itu, membantu Hui Song dan mengamuk dengan menggunakan senjata aneh, yakni sebuah payung butut!

Akan tetapi payung butut itu jangan dipandang rendah karena gagangnya terbuat dari baja dan payung butut hanyalah kainnya saja akan tetapi rangkanya yang baja itu masih utuh dan ujungnya runcing-runcing! Begitu terjun, gadis ini segera menyerang Hwa-hwa Kui-bo dan Koai-pian Hek-mo dengan ganas dan kalang-kabut!

"Ehh, engkau...?!" teriak Hwa-hwa Kui-bo dengan kaget.

Koai-pian Hek-mo juga terkejut sekali. Mereka berdua telah mengenal gadis yang pernah menghalangi mereka dan nyaris merobohkan mereka di kuil Dewi Laut! Gadis itu memang Ceng Sui Cin, siapa lagi kalau bukan dia yang mengamuk dengan payung butut itu?

"Ya, aku!" kata Sui Cin sambil tertawa mengejek. "Aku akan menyelesaikan pekerjaanku yang dulu belum selesai ketika kita saling bertemu di kuil Dewi Laut itu. Sekarang jangan harap kalian akan dapat lolos dari jari-jari payung bututku, hi-hi-hi!"

Tho-tee-kui juga terkejut bukan kepalang melihat munculnya seorang dara remaja dengan payungnya yang begitu mengamuk langsung membuat dua orang rekannya kalang-kabut sehingga memaksa kedua orang rekannya itu cepat-cepat mengeluarkan senjata mereka, Hek-mo mengeluarkan pecut bajanya dan Kui-bo mencabut pedangnya.

Di samping merasa terkejut dan juga heran menyaksikan munculnya seorang gadis yang aneh pakaiannya dan lihai ilmu silatnya itu, tentu saja Hui Song juga merasa amat girang. Apa lagi sesudah mendengar ucapan-ucapan gadis itu yang jenaka dan mempermainkan lawan, dia merasa benar-benar gembira.

"Benar, nona manis. Hajar mereka! Lutung muka hitam itu kurang ajar sekali, beri hadiah pukulan payungmu pada ubun-ubun kepalanya, sedangkan nenek topeng tikus itu, lucuti saja topengnya dan tusuk telinganya sampai tembus!"

Sepasang mata Sui Cin berkilat dan dia pun menahan senyum geli. Tapi dengan galak dia menghardik. "Kurang ajar, apa maksudmu menyebutku nona manis segala? Mau ceriwis dan kurang ajar engkau, ya?"

"Lho! Disebut nona manis kok malah marah, bagaimana sih? Apa lebih suka jika engkau kusebut nona jelek dan galak?"

"Plak-plak...! Dukkk!" Nyaris Hui Song terkena pukulan ketika dia bicara lalu kesempatan itu dipergunakan oleh Tho-tee-kwi untuk mendesak hebat.

"Rasakan kau hampir mampus!" Sui Cin mengejek. "Aku tidak sudi disebut nona manis, juga tidak mau disebut nona jelek dan galak!"

Pada saat dia bicara tentu saja perhatiannya kurang tercurah kepada dua orang lawannya sehingga seperti juga Hui Song, dia segera terdesak oleh pecut baja dan pedang lawan. Akan tetapi karena ilmu silatnya memang hebat dan jauh lebih lihai apa bila dibandingkan dua orang pengeroyoknya, begitu memutar payungnya, dia mampu menggagalkan semua serangan itu dan balas mendesak lagi.

Hati Hui Song makin gembira. Dia melirik dan melihat bahwa gadis itu masih muda sekali, baru sekitar lima belas atau enam belas tahun usianya, pakaiannya seperti gelandangan akan tetapi bersih, wajahnya manis dan gerakannya lincah, bibirnya selalu tersenyum dan sinar matanya bengal. Seorang gadis yang panas dan hidup, cocok dengan dia, pikirnya.

"Wah, lalu harus menyebut apa? Baiklah, kusebut nona yang setengah manis setengah galak...”

“Wuuuuttt...!" Dia terpaksa melempar tubuh ke belakang dan tak berani banyak cakap lagi sebab kakek raksasa itu telah mendesaknya kembali dan tentu akan selalu menggunakan kesempatan selagi dia bicara untuk merobohkannya.

Setelah kini kedua orang muda itu tidak lagi bicara, mereka pun dapat menghadapi lawan dengan baik dan tiga orang datuk sesat itu pun segera maklum bahwa keadaan sangat tak menguntungkan bagi mereka. Selain itu, kini mereka sudah dapat mengenal dengan samar-samar ilmu silat muda-mudi itu sehingga diam-diam mereka bertiga merasa gentar. Mereka mengenal gerakan-gerakan ilmu silat tinggi dari Cin-ling-pai!

"Kita pergi!" tiba-tiba raksasa itu berseru lantas dia mengeluarkan gerengan hebat sambil menghentakkan kakinya.

Sui Cin sendiri sampai kaget setengah mati dan tergetar kaki dan hatinya, maka dia pun cepat melompat ke belakang. Kesempatan itu digunakan oleh dua orang pengeroyoknya untuk meloncat jauh lalu melarikan diri dengan raksasa itu yang kini agaknya menyimpan kekuatannya sehingga ketika melarikan diri tidak terdengar derap kakinya yang biasanya berat itu.

Hui Song tidak mengejar lawannya. Selain tidak mempunyai permusuhan pribadi, juga dia tahu betapa besar bahayanya mengejar seorang datuk sesat seperti Tho-tee-kwi itu yang tentu untuk menyelamatkan diri tidak segan-segan menggunakan cara-cara yang keji dan curang.

Sui Cin juga tidak mengejar sebab dia ingin mengenal pemuda itu lebih lanjut. Dia merasa tertarik sekali karena dalam perkelahian tadi dia pun mengenal dasar-dasar gerakan ilmu silat pemuda itu yang mengingatkan dia pada Cia Sun. Seingatnya, paman gurunya, Cia Han Tiong, hanya mempunyai seorang putera saja. Akan tetapi pemuda ini agaknya lihai sekali, tidak kalah oleh putera ketua Pek-liong-pai itu. Ahh, tidak salah lagi, tentu pemuda ini murid utama Pek-liong-pai dan saudara seperguruan Cia Sun!

Di lain fihak, Hui Song juga memandang kepada Sui Cin dengan penuh kagum. Dia pun tadi telah melihat gerakan-gerakan ilmu silat dara itu dan dapat mengenal jurus-jurusnya. Betapa mengagumkan bahwa seorang dara remaja semuda ini telah mampu menandingi dan bahkan mengungguli pengeroyokan dua orang datuk seperti Koai-pian Hek-mo dan Hwa-hwa Kui-bo! Dia pun menduga-duga.

Dia tahu bahwa ilmu-ilmu silat dari Cin-ling-pai diwarisi banyak orang dan tersebar luas, terutama sekali di antara murid-murid Cin-ling-pai sendiri dan murid-murid Pek-liong-pai di Lembah Naga. Juga banyak para locianpwe bekas tokoh besar Cin-ling-pai sudah hidup terpisah dari Cin-ling-pai dan mereka tentu sudah menurunkan ilmu-ilmu itu kepada para murid dan cucu-cucu murid mereka. Tidak aneh kalau ada orang yang dapat memainkan ilmu-ilmu silat Cin-ling-pai, akan tetapi melihat kehebatan dara remaja ini, jelas bahwa dia bukanlah seorang murid sembarangan. Siapakah gadis ini?

Mereka berdiri berhadapan, dalam jarak tiga meter, saling pandang penuh selidik tanpa malu-malu atau sungkan-sungkan sebab keduanya memiliki keterbukaan yang sama. Dua pasang mata yang sama tajamnya, sama kocak dan bersinar gembira, saling memandang seperti pedagang kuda menaksir kuda yang hendak dibelinya, dari ubun-ubun sampai ke ujung kaki, kemudian dua pasang mata itu saling bertaut pandang.

Pandang mata pemuda itu penuh kekaguman sehingga agaknya dia merasa sayang untuk mengedipkan matanya, seolah-olah tidak mau lagi melepaskan pemandangan yang amat indah itu sebentar pun juga.

Sui Cin cemberut, menganggap pemuda itu tidak mau kalah dan ingin beradu kekuatan mata, maka dia pun tidak mau berkedip dan sepasang matanya terbelalak tajam. Sebagai seorang ahli silat, sejak kecil ia telah digembleng oleh ayah bundanya untuk menajamkan panca inderanya, terutama sekali mata.

Dengan air garam yang dicampur ramuan lain setiap pagi ia memercikkan air ke matanya yang terbuka tanpa berkedip dan dengan latihan seperti itu, pandangan matanya menjadi tajam. Dia mampu mengikuti gerakan senjata lawan, dan dia juga mampu bertahan tidak berkedip sampai berjam-jam lamanya!

Namun pandangan mata pemuda yang penuh kagum itu, yang mengandung kejenakaan, seperti menggelitiknya dan membuatnya tak mungkin dapat bertahan lebih lama lagi, apa lagi sesudah dia merasa darahnya naik dan api kemarahannya berkobar. Jari tangannya menuding ke arah mata pemuda itu dan mulutnya membentak,

"Kau melihat apa?! Matamu melotot seperti mata iblis!"

Dibentak demikian, Hui Song baru sadar bahwa sejak tadi dia terus memandang dengan bengong. Dia dapat merasakan keadaan yang amat lucu di antara mereka, maka dia pun tersenyum lebar.

"Masih cengar-cengir lagi, seperti monyet!" Sui Cin semakin marah sebab merasa dirinya ditertawakan.

Orang yang sedang dikuasai oleh nafsu amarah memang penuh prasangka buruk. Orang cemberut disangka menentang, orang bicara disangka menantang, orang diam disangka tidak mengacuhkan, orang tertawa dianggap mengejek. Serba susahlah bila hati sedang diracuni oleh nafsu amarah.

Akan tetapi, karena Hui Song sudah tertarik sekali kepada dara remaja yang amat cantik manis dan tinggi ilmu silatnya ini, kemarahan Sui Cin itu baginya malah membuat dara itu nampak lebih manis dan lucu. Bahkan makian Sui Cin membuatnya tertawa bergelak!

"Ha-ha-ha-ha, engkau sungguh lucu, nona. Siapa yang menyuruh engkau begini.... ehhh, hebat? Bukan salahku kalau aku memandang sampai melotot mengagumi kehebatanmu!" Dia tidak mau mengucapkan sebutan cantik jelita yang sudah berada di ujung lidahnya, takut kalau-kalau dara itu lebih marah lagi kepadanya dan menganggapnya ceriwis.

"Apa hebat? Apa maksudmu dengan kata hebat itu?" tanya Sui Cin, akan tetapi suaranya masih marah.

Kini terpaksa Hui Song berterus terang. "Engkau hebat... karena engkau demikian cantik jelita dan ilmu-ilmumu tinggi sekali. Dan aku melolot seperti mata iblis karena engkau juga melotot memandangku, akan tetapi matamu melotot jernih seperti mata... bidadari."

"Engkau laki-laki... cabul...!" Sui Cin membentak dan payungnya segera bergerak cepat, menusuk ke arah perut pemuda itu!

"Wuuutt... singgg...!”

“Heeiiittt...!" Hui Song cepat melempar dirinya ke belakang, berjungkir balik tiga kali baru berdiri kembali dan matanya semakin terbelalak.

"Wah, tahan dahulu, nona. Engkau ini bagaimana, sih? Tadi engkau membantuku ketika menghadapi iblis-iblis Cap-sha-kui sehingga boleh dibilang engkau sudah menyelamatkan nyawaku, akan tetapi mengapa sekarang engkau malah hendak membikin aku menjadi... sate, kau tusuk perutku dengan payung ajaibmu itu?"

"Manusia ceriwis, cabul, sialan!" Sui Cin menyerang terus.

Sekarang Hui Song memperoleh kegembiraan lain, yaitu dia mendapat kesempatan untuk menguji kepandaian dara yang dikaguminya ini dan sekaligus juga mengherankan hatinya melihat jurus-jurus yang amat dikenalnya sebagai jurus-jurus keluarga Cin-ling-pai. Akan tetapi, karena dia tahu benar betapa hebat serta berbahayanya ilmu silat gadis itu, dan bahwa watak keras dara itu membuat semua serangannya tidak main-main lagi, dia pun tidak berani memandang rendah dan terpaksa dia mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menandingi Sui Cin.

Dengan hati penuh kagum dan heran pemuda ini segera memperoleh kenyataan bahwa dara itu memang demikian lihainya sehingga tak mungkin dia bertahan terus tanpa balas menyerang, karena hal itu amat berbahaya. Maka dia pun cepat-cepat mainkan Thai-kek Sin-kun untuk bertahan diri dan kadang kala membalas serangan lawan dengan tamparan-tamparan Thian-te Sin-ciang.

Di lain plhak, Sui Cin terkejut melihat betapa pemuda ini benar-benar sangat mahir dalam dua ilmu silat keluarganya itu, bahkan mungkin sekali lebih mahir dari pada dia sendiri. Sudah selama lima puluh jurus mereka berkelahi akan tetapi belum juga ujung payungnya dapat menyentuh pemuda yang lincah itu.

"Tahan dulu...!" Tiba-tiba Hui Song berseru sambil meloncat ke belakang.

Sui Cin menghentikan gerakannya, akan tetapi payungnya masih melintang di dada, siap untuk menyerang lagi. Mukanya merah, dahi dan lehernya agak basah oleh peluhnya dan matanya bersinar-sinar.

"Belum ada yang kalah, kenapa berhenti?!" bentak Sui Cin penasaran.

Hui Song tersenyum dengan wajah bersungguh-sungguh. "Nona, terus terang saja selama hidupku baru tadi aku bertemu lawan tangguh saat iblis-iblis Cap-sha-kui mengeroyokku, dan sekarang ternyata engkau adalah lawan yang lebih tangguh lagi dari pada mereka. Nona, kita sama-sama mengetahui bahwa kita berdua merupakan saudara seperguruan, sama-sama menjadi murid Cin-ling-pai..."

"Aku bukan murid Cin-ling-pai!" bentak Sui Cin nyaring. "Apa kau kira hanya putera ketua Cin-ling-pai saja yang mampu bersilat?"

Sepasang mata pemuda itu berseri gembira dan senyumnya melebar. Sinar kebengalan kembali membuat matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri dan mulutnya tersenyum. Sui Cin sendiri tersenyum di dalam hati dan mengaku bahwa tak mungkin dapat marah-marah terlalu lama kepada wajah yang begitu gembira.

"Wah, aku mengaku kalah satu nol. Engkau ternyata sudah mengenalku sebagai putera ketua Cin-ling-pai sedangkan aku sama sekali tidak pernah dapat menduga siapa adanya dirimu. Bagaimana pun juga, aku merasa yakin bahwa orang tuamu memiliki hubungan dengan Cin-ling-pai. Nona yang baik, aku memang putera tunggal dari ketua Cin-ling-pai, namaku Cia Hui Song, usiaku dua puluh satu tahun dan aku belum bertunangan, apa lagi menikah!"

Geli juga hati Sui Cin mendengar kata-kata ini. Mulutnya yang tadinya cemberut itu kini membentuk senyum, walau pun senyum itu masih merupakan senyum mengejek.

"Siapa peduli apakah engkau masih perjaka ataukah sudah duda, sudah kakek berusia dua puluh satu atau lima puluh satu!" jawabnya, kemudian dia meninggalkan pemuda itu tanpa berkata apa-apa lagi.

Melihat gadis yang dikaguminya itu pergi, Hui Song terkejut. "Ehhh, nanti dulu nona, aku belum berkenalan..."

Namun Sui Cin mempercepat langkahnya, dan kini dia bahkan mengerahkan ginkang-nya berlari cepat laksana terbang. Melihat ini Hui Song penasaran, dan dia pun mengerahkan tenaga serta kepandaiannya, mengejar sekuat tenaga.

Dua orang muda itu berkejaran seperti sedang berlomba lari. Kembali keduanya merasa kagum karena ternyata dalam hal ilmu berlari cepat mereka pun mempunyai tingkat yang seimbang! Sui Cin mulai merasa lelah dan dia pun cepat-cepat mengambil jalan memutar menuju ke tempat di mana tadi dia meninggalkan kudanya. Melihat kudanya yang kecil itu masih enak-enakan makan rumput di bawah pohon, dia lantas mencengklaknya kemudian membalapkan kudanya!

"Heiii, tunggu...!" Hui Song penasaran sekali dan terus mengejar.

Tadinya dia memandang rendah sesudah melihat gadis yang dikejarnya itu menyambung larinya dengan naik kuda. Kuda sekecil itu, mana mampu lari cepat, pikirnya. Akan tetapi dia menjadi kaget dan penasaran sekali ketika melihat betapa kuda katai itu ternyata bisa berlari cepat dan kuat sekali, bahkan tidak kalah ketimbang larinya kuda besar! Dan kuda itu napasnya kuat sekali sehingga kuda itu masih terus membalap saja ketika napasnya sendiri sudah senin-kemis.

Akhirnya Hui Song terpaksa mengalah, berhenti berlari jika dia tak mau napasnya putus. Dia berhenti lantas mengamang-amangkan tinjunya dengan gemas ketika melihat Sui Cin menoleh dan mentertawakannya dengan suara ketawa nyaring memanaskan hati!

Cinta asmara memang sesuatu yang amat aneh. Pada dasarnya memang ada daya tarik yang sangat kuat antar lawan jenis, antara pria dengan wanita dan daya tarik ini adalah alamiah, sesuai dengan kekuatan Im dan Yang, dua kekuatan yang saling berlawanan, saling tarik, yang membuat bumi berputar, yang membuat segala sesuatu menjadi hidup berkembang.

Setelah memasuki masa remaja dan akil balikh, seorang pria akan tertarik jika melihat seorang wanita, atau sebaliknya. Hal ini sangat wajar. Kelenjar-kelenjar di dalam tubuh bekerja, otak yang penuh ingatan bekerja, dan tentu saja, rasa tertarik itu diperkuat oleh adanya selera sehingga menimbulkan pilihan-pilihan menurut selera masing-masing. Dan ini tentu saja penting sekali karena kalau selera kaum pria serupa, tentu setiap orang wanita akan diperebutkan oleh banyak pria, atau juga sebaliknya.

Pertemuan pertama antara pria dan wanita, terutama yang cocok dengan selera masing-masing, menimbulkan kesan pertama. Akan tetapi hal ini tidak atau jarang sekali berarti timbulnya rasa cinta asmara. Rasa cinta asmara biasanya timbul setelah masing-masing bergaul dan berdekatan, setelah masing-masing mengenal keadaan satu sama lain.

Betapa pun juga, pertemuan pertama merupakan goresan awal yang bukan tak mungkin berlanjut dengan perkenalan dan saling mencinta. Bunga-bunga api asmara suka berpijar di sudut kerling mata dan di ujung senyum bibir, dan apa bila sudah memperoleh bahan bakarnya, maka bunga api yang berpijar itu akan membakar hati.

Dan kalau dua hati sudah saling mencinta, tidak ada kekuatan apa pun di dunia ini yang akan mampu mengalahkannya. Badan boleh saja dipisah dengan kekerasan, akan tetapi terikatnya dua hati yang saling mencinta akan dibawa sampai mati.


Setelah kuda kecil yang membawa pergi Sui Cin lenyap tak dapat diikuti pandang mata lagi, Hui Song menjatuhkan diri di bawah pohon, di atas rumput gemuk, melepaskan lelah. Peluhnya membasahi badan dan dengan hati mengkal dia menyusut peluh dari muka dan lehernya. Hatinya mendongkol dan kecewa sekali.

Tentu saja dia tidak dapat mengatakan apakah dia suka pada dara itu, apa lagi mencinta. Tidak, belum sejauh itu lamunannya. Ia hanya merasa amat tertarik sehingga ingin sekali mengenal dara itu, ingin tahu siapa adanya dara remaja yang usianya tentu paling banyak enam belas tahun itu, yang demikian lihai, demikian manis, dan demikian bengalnya!

Dia merasa tertarik melihat kesederhanaan dara itu, dengan pakaiannya yang bersahaja namun bersih, pakaian yang agak nyentrik dengan payung bututnya yang dapat dijadikan senjata ampuh. Dia menduga-duga siapa gerangan dara itu, anak atau murid siapa?

Dia pernah mendengar dari ayahnya bahwa cukup banyak pendekar-pendekar sakti yang masih ada hubungan dengan Cin-ling-pai, di antaranya yang amat terkenal adalah ketua Pek-liong-pai di Lembah Naga jauh di utara sana, kemudian Pendekar Sadis yang tinggal di Pulau Teratai Merah. Hanya itu yang diketahuinya, namun dia tidak pernah mendengar tentang keadaan mereka, apa lagi tokoh-tokoh lain yang belum diceritakan oleh ayahnya, akan tetapi yang menurut ayahnya banyak terdapat di dunia ini.

Maka tidaklah mengherankan apa bila ada ahli ilmu silat keluarga Cin-ling-pai. Akan tetapi kalau yang menguasai ilmu itu adalah seorang dara yang masih demikian muda namun sudah sedemikian mahirnya sehingga tidak kalah oleh dia sendiri sebagai putera tunggal ketua Cin-ling-pai, maka hal itu tentu saja membuat dia penasaran dan harus dia ketahui siapa gerangan dara itu!

"Bocah bengal! Awas kalau aku bertemu lagi denganmu!" Dia lalu mengepalkan tinju dan cemberut, akan tetapi kemudian dia tersenyum lebar.

Kalau bertemu lagi, apa yang akan dilakukannya? Dan mana mungkin dia marah-marah terhadap dara selucu itu? Betapa pun juga, kalau tidak muncul dara itu yang membantu, bukan tidak mungkin dia celaka di tangan tiga orang iblis Cap-sha-kui tadi. Kalau bertemu lagi, apa yang akan dilakukannya terhadap dara itu?

"Aku akan mengucapkan rasa terima kasihku!" Akhirnya dia menjawab pertanyaan dalam hatinya sendiri.

Hui Song bangkit berdiri lalu melanjutkan perjalanannya dan tiba-tiba saja, secara aneh sekali, dia merasakan sebuah kelainan pada dirinya. Lain dari biasanya. Ada apa dengan hati ini, pikirnya.

Dia merasa kesepian! Dunia tampak begini kosong dan sunyi sekali, tak menggembirakan lagi. Mengapa begini? Dia mengepal tinju dan alisnya berkerut, suatu hal yang hampir tak pernah terjadi pada dirinya yang selalu bergembira.

Hidup kita merupakan urusan kita sendiri, tidak ada sangkut-pautnya dengan orang lain, dengan siapa pun juga. Hidup dan mati kita adalah urusan kita, kita sendiri yang akan menanggung, kita sendiri yang berhak menikmati, kita sendiri pula yang akan menderita, kita sendiri yang membuat kehidupan kita sendirt ini menjadi sorga atau neraka!

Kita hidup ini berarti kita sendirian, walau pun secara lahiriah kita saling bergantung dan saling bersandar dengan orang-orang lain. Akan tetapi kehidupan kita adalah urusan kita sendiri. Kita harus berani menghadapi kenyataan ini, ialah bahwa kita ini sendirian! Tapi bukan berarti kita kesepian!

Sekali kita bergantung kepada orang lain secara batiniah, akan muncullah rasa kesepian itu bila mana kita berpisah dari orang kepada siapa kita bergantung atau bersandar! Dan perpisahan selalu menjadi akhir dari pada pertemuan. Ketergantungan kepada orang lain ini yang menimbulkan rasa takut dan rasa kesepian, rasa sengsara.

Juga ketergantungan kepada benda, kepada ajaran-ajaran, gagasan, kelompok, dan lain sebagainya. Ketergantungan berarti suatu ikatan. Secara lahiriah, sebagai manusia yang hidup dalam masyarakat seperti sekarang ini, tentu saja kita pun mempunyai hak untuk mempunyai yang dilindungi oleh hukum. Akan tetapi, lahiriah boleh saja kita mempunyai sesuatu, mempunyal isteri dan anak, keluarga, sahabat, harta benda, kedudukan dan sebagainya. Namun, sekali kita memilikinya secara batiniah, kita akan terikat. Apa yang kita miliki secara batiniah itu akan mengakar di dalam hati sehingga bila sewaktu-waktu dicabut, maka hati ini akan terluka dan menderita!

Bukan berarti bahwa acuh tak acuh kepada segala yang kita punyai termasuk anak isteri dan keluarga. Cinta kasih akan mendatangkan perhatian, rasa sayang, iba hati, namun cinta bukan berarti ikatan batin. Sebaliknya, jika batin terikat, yang mengikat itu adalah nafsu ingin senang, nafsu ini yang ingin memiliki secara batiniah, ingin menguasai, maka dari sini timbullah benih-benih penderitaan.

Betapa kita selalu ingin memiliki ini dan itu, bahkan ingin memiliki segala-galanya yang menyenangkan hati kita! Keinginan memiliki ini tidak ada batasnya, dan nafsu keinginan memiliki inilah yang akan mendorong kita ke arah perbuatan-perbuatan yang kadang kala menjurus ke arah kejahatan.

Padahal, apakah yang dapat kita miliki sesungguhnya? Apakah yang abadi di dunia ini? Bahkan tubuh kita sendiri pun tidak bisa kita miliki selamanya! Semuanya akan musnah pada saatnya. Karena itu, keinginan memiliki sudah pasti menjadi sumber segala derita.


Hati Hui Song murung karena kecewa oleh ulah Sui Cin yang meninggalkannya begitu saja tanpa memberi kesempatan untuk saling berkenalan. Yang membuat hatinya makin penasaran adalah bahwa dara itu sudah mengenalnya sebagai putera ketua Cin-ling-pai sedangkan dia sendiri, menduga siapa adanya dara itu pun belum dapat!

Dengan murung dia melanjutkan perjalanan, bermaksud untuk pulang ke Cin-ling-san dan menemui orang tuanya, bukan hanya untuk melaporkan tentang pertemuan yang gagal di Puncak Bukit Perahu, tetapi terutama sekali dia hendak mencari keterangan dari ayahnya tentang tokoh-tokoh kang-ouw yang ada hubungannya dengan keluarga Cin-ling-pai, yang menguasai ilmu-ilmu silat Cin-ling-pai agar dia dapat menduga siapa adanya gadis manis itu.

Pada keesokan harinya, tibalah dia di kota Cin-an yang besar dan ramai. Kota ini ramai sekali terutama karena letaknya di pinggir sungai Huang-ho. Dari kota ini, melalui sungai, orang bisa mengunjungi kota-kota besar, bahkan sampai ke kota raja. Para saudagar dan pelancong hilir mudik mengunjungi kota Cin-an sehingga kota ini menjadi makmur dengan toko-toko serba lengkap dan besar.

Tidak ada orang yang menaruh terlalu banyak perhatian terhadap diri Hui Song, seorang pemuda biasa yang pakaiannya bersahaja, kebesaran, bahkan ada tambalan di sana-sini walau pun cukup bersih. Tak ada seorang pun yang menduga bahwa pemuda tinggi besar yang berwajah gembira ini adalah seorang pendekar muda yang mempunyai ilmu tinggi, putera tunggal ketua Cin-ling-pai, nama yang pernah menggemparkan dunia persilatan puluhan tahun yang lalu.

Hui Song adalah seorang pemuda yang berjiwa sederhana dan gembira. Walau pun dia putera ketua Cin-ling-pai dan dalam melakukan perjalanan itu dia membawa bekal uang secukupnya, namun dia selalu makan di pasar, di warung-warung kecil dan tidurnya pun kebanyakan di kuil-kuil kosong atau di hutan, dan jika terpaksa tidur di rumah penginapan, dia pun memilih rumah penginapan yang kecil sederhana dan tidak banyak tamunya.

Hari sudah siang ketika dia memasuki Cin-an. Pertama-tama yang dilakukannya adalah melakukan penyelidikan tentang Kang-jiu-pang. Dia kemudian mendengar bahwa pasukan pemerintah menyerbu pusat perkumpulan itu dengan tuduhan memberontak, akan tetapi tidak ada seorang pun anggota Kam-jiu-pang yang tertangkap karena sarang itu sudah kosong tak tampak seorang pun anggota Kang-jiu-pang.

Mendengar berita ini, Hui Song tersenyum gembira. Dia bersimpati kepada perkumpulan orang-orang gagah ini yang dengan cara mereka sendiri ingin membersihkan pemerintah dari tangan pembesar korup. Sayang usaha mereka itu terlalu kasar, hendak mengganggu kaisar sehingga usaha mereka pun gagal dan mereka bahkan kehilangan beberapa orang anggota yang tewas oleh amukan iblis-iblis Cap-sha-kui.

Hatinya gembira mendengar betapa orang-orang Kang-jiu-pang mau mentaati nasehatnya dan semua telah melarikan diri sebelum pasukan pemerintah menyerbu. Dengan langkah ringan dan hati senang dia pun lantas memasuki pasar di kota itu untuk mencari pengisi perutnya yang sudah terasa lapar.

Begitu memasuki pasar, Hui Song tertarik oleh suara ribut-ribut di lapangan terbuka di luar pasar yang ramai pula dengan orang-orang berjualan dan orang-orang yang datang untuk berbelanja. Di luar pasar dijual sayur-mayur yang diletakkan dalam keranjang-keranjang atau diletakkan di atas tikar-tikar yang dibentangkan di atas tanah begitu saja.

Keramaian yang terjadi di luar pasar ini bukan keramaian biasa karena Hui Song melihat banyak orang berpakaian jembel sedang berlari-larian dengan wajah amat girang. Hatinya tertarik dan dia pun melangkah mendekat ke tempat di mana para jembel itu berkerumun merubung sesuatu. Dan dia pun langsung terheran melihat seorang pemuda remaja yang juga berpakaian tambal-tambalan berdiri di tengah-tengah rubungan para jembel itu.

Pemuda ini berwajah kotor penuh debu sehingga wajahnya sukar dikenali, penuh keringat pula, akan tetapi sepasang matanya bersinar-sinar gembira. Di sebelahnya ada sebuah karung yang penuh berisi logam! Dan pemuda remaja ini sedang membagi-bagikan uang kepingan itu kepada para jembel, demikian royalnya dia menyebar uang bagaikan orang membuang pasir saja!

Tentu saja hal ini menggegerkan orang sepasar karena sungguh merupakan penglihatan luar biasa kalau seorang pemuda remaja jembel membagi-bagikan uang yang sedemikian banyaknya kepada kaum jembel dengan sikap bagai seorang hartawan besar yang sudah kebanyakan uang rupanya. Dan kini bukan hanya para jembel yang antri untuk menerima bagian pemberian, bahkan mereka yang miskin dan kebetulan berada di pasar, baik untuk berjualan mau pun untuk berbelanja, tidak malu-malu untuk ikut pula antri.

Pemuda remaja itu kelihatan gembira sekali, membagi-bagikan uang sambil tertawa-tawa. Akan tetapi, tiba-tiba semua orang yang sedang antri itu nampak ketakutan lalu mereka bubaran meninggalkan tempat itu. Juga para jembel cepat-cepat meninggalkan tempat itu biar pun mereka belum memperoleh bagian. Agaknya secara tiba-tiba saja semua orang merasa ketakutan seperti ada bahaya yang mengancam keselamatan mereka.

Semenjak tadi Hui Song berdiri dengan mata terbelalak penuh kekaguman. Juga di dalam hatinya timbul rasa heran dan juga terharu melihat ada seorang pemuda jembel membagi-bagikan uang secara demikian royalnya. Sungguh penglihatan itu sangat tidak lumrah dan seperti dunia sudah terbalik.

Orang-orang kaya paling sayang uang dan amat pelit mengeluarkan uangnya, sebaliknya seorang jembel malah membagi-bagikan uang seperti orang membuang pasir saja. Tentu saja hal ini pun menimbulkan kecurigaan hatinya. Benarkah pemuda itu seorang jembel? Kalau benar demikian, apakah betul uang yang dibagi-bagikan itu adalah uangnya sendiri ataukah uang curian? Biar bagaimana pun juga, hati Hui Song tertarik sekali dan sudah timbul semacam rasa suka di hatinya terhadap pemuda jembel itu.

Dia pun melihat betapa semua orang bubaran lantas melarikan diri dengan wajah seperti dicekam rasa takut. Keramaian di lapangan depan pasar itu jadi berkurang. Hanya mereka yang berjualan dan berbelanja saja yang masih berada di situ, akan tetapi wajah mereka pun membayangkan rasa takut.

Sebaliknya, pemuda jembel yang membagi-bagikan uang itu nampak kecewa. Uangnya di dalam karung masih ada cukup banyak, masih seperempat karung dan orang-orang yang antri dan belum kebagian sudah keburu pergi bubaran. Dia pun mengangkat muka, lantas memandang dan mencari-cari dengan pandang matanya. Ketika mencari-cari ini, tiba-tiba saja, tanpa sengaja, sepasang mata jembel muda itu bertemu dengan pandang mata Hui Song.

Hui Song terkejut sekali. Dia merasa seperti pernah mengenal pemuda jembel itu, akan tetapi dia sudah lupa lagi kapan dan di mana. Akan tetapi, begitu bertemu pandang, dia merasa yakin bahwa dia pernah mengenal jembel muda itu!

Dia mengingat-ingat, akan tetapi sementara itu, jembel muda itu sedah membuang muka dan memandang ke arah jalan masuk ke lapangan depan pasar itu. Hui Song juga cepat memandang ke sana dan tahulah dia sebab dari pada bubarnya semua orang tadi.

Dua orang kakek itu usianya tentu sudah ada enam puluh tahun. Pakaian mereka jelas menunjukkan bahwa mereka adalah dua orang pengemis oleh karena pakaian itu penuh dengan tambal-tambalan, hanya lucunya, baju penuh tambalan itu masih baru, malah kain kembang yang dipakai untuk menambal juga masih baru!

Keduanya memegang tongkat dan biar pun mereka itu jelas berpakaian pengemis, akan tetapi sikap mereka pada waktu melangkah memasuki lapangan terbuka di depan pasar itu tiada ubahnya dua orang pembesar tinggi atau dua orang perwira tinggi yang sedang berjalan. Kepala diangkat tinggi lurus, dada membusung dan langkahnya jelas dibuat-buat agar supaya nampak gagah! Tongkat itu dipegang seperti pembesar memegang tongkat komando saja.

Sungguh aneh, akan tetapi juga amat lucu dalam pandangan Hui Song sehingga dia pun tersenyum lebar menahan tawa. Baginya, dua orang itu lebih mirip dua orang badut yang sedang berlagak di atas panggung. Akan tetapi jelas bahwa munculnya dua orang kakek pengemis inilah yang menjadi penyebab bubarnya semua orang tadi.

Sekarang pun mereka berjalan bagaikan orang-orang yang berkuasa, dan pandang mata semua orang di sana yang ditujukan kepada mereka mengandung bayangan rasa takut, bagaikan orang-orang yang memandang dua ekor harimau ganas yang dilepas di tempat umum.

Siapakah adanya dua orang kakek pengemis yang begitu besar pengaruhnya sehingga semua orang menyingkir ketakutan begitu mereka muncul? Mereka itu adalah dua orang tokoh perkumpulan Hwa-i Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang).....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner