HARTA KARUN JENGHIS KHAN : JILID-05


Akan tetapi, pemuda itu tidak nampak bingung atau kecewa mendengar ucapan itu. "Aku mengerti, nona. Aku tahu bahwa tanpa bantuanku sekali pun, anjing itu sama sekali tidak akan mampu mengganggumu. Hanya kupikir, tidak sepantasnya kalau nona sendiri yang turun tangan menghajar orang kasar macam dia. Padahal, andai kata tidak ada aku sekali pun di hadapan nona, terutama dengan hadirnya dua orang pendekar yang berilmu tinggi seperti kedua orang yang duduk di sebelah kiri itu, penjahat kecil semacam Hai-pa-cu itu akan mampu berbuat apakah?" Berkata demikian, pemuda itu menoleh kepada Thian Sin dan Kim Hong, lalu menjura ke arah mereka. Gadis itu pun menoleh, kemudian dia pun tersenyum manis kepada Thian Sin.

"Aku pun tahu dan merasa kagum sekali kepada mereka," lanjut pemuda itu.

Mendengar ini, Kim Hong tertawa dan berkata, "Ehh, sobat sastrawan yang hebat, setelah mejamu remuk, mengapa engkau tidak makan bersama kami sekalian belajar kenal?"

Thian Sin juga cepat bangkit dan menjura kepada gadis itu. "Agaknya kita semua saling mengagumi, bagaimana jika kita berempat makan semeja dan minta disediakan hidangan baru yang segar? Sudikah nona...?"

Tidak seperli ketika menghadapi pemuda sastrawan tadi, kini gadis ini tersenyum manis dan berkata, "Terima kasih, aku pun ingin sekali berkenalan dengan ji-wi..." Lalu gadis tu memanggil pelayan, menyuruh pelayan membersihkan meja baru dan mereka berempat pun lalu duduk di satu meja.

"Ha-ha-ha-ha, sungguh baik sekali nasibku hari ini. Perkenalkanlah, aku she Bu bernama Kok Siang seorang pelancong dari Thian-cin. Sungguh berbahagia sekali hatiku karena dapat berkenalan dengan tiga orang yang lihai dan amat mengagumkan." Sambil berkata begini, pemuda itu bangkit dan menjura kepada mereka bertiga, satu demi satu, sikapnya akrab, ramah dan kocak sekali sehingga Kim Hong tersenyum dan merasa semakin suka kepada sastrawan yang berwatak lembut, tidak pemarah dan selalu gembira ini.

"Aku she Bouw, bernama In Bwee." kata gadis itu, lebih ditujukan kepada Thian Sin dari pada kepada dua orang yang lain karena ketika memperkenalkan dirinya, matanya tidak pernah melepaskan wajah Thian Sin.

"Nama yang amat indah!" kata Bu Kok Siang, sastrawan muda yang usianya kurang lebih dua puluh tiga tahun itu. "Dan aku pun pernah mendengar bahwa di kota raja ada seorang hartawan besar. Nama Bouw-wan-gwe (Hartawan Bouw) sudah sangat terkenal, bukan hanya karena kaya raya melainkan juga karena dermawan..."

"Ahhh, itu hanya berita yang dilebih-lebihkan. Bouw-wan-gwe adalah ayahku, dan jangan terlalu memuji...," kata Bouw In Bwee dan sekali ini mau tidak mau dipandangnya Kok Siang sambil tersenyum simpul.

"Aha, ternyata puteri Bouw-wan-gwe! Wah, dibandingkan dengan harta kekayaan orang tuamu, aku tidak lebih hanya seorang jembel saja, siocia!" kata pula Kok Siang.

"Hemm, saudara Bu terlalu merendahkan diri," tegur Kim Hong tersenyum.

"Eh, eh, sampai lupa. Ji-wi (kalian berdua) belum memperkenalkan diri," kata Kok Siang, dan sepasang pendekar itu melihat sinar aneh berkilat dari kedua mata pemuda itu, sinar kecerdasan sehingga mereka dapat menduga bahwa di balik sikap yang acuh tak acuh itu sebenarnya tersembunyi perhatian yang besar.

"Namaku Ceng Thian Sin dan dia adalah Toan Kim Hong." kata Thian Sin sambil lalu, tapi dia memperhatikan kalau-kalau kedua orang itu mengenal namanya. Akan tetapi gadis itu tidak kelihatan terkejut, dan pemuda itu pun hanya mengerutkan alisnya.

"Ceng Thian Sin...? Serasa pernah aku mendengar nama ini, seperti tidak asing bagiku, akan tetapi... baru sekarang aku berjumpa dengan taihiap..."

"Ahh, buang saja taihiap itu, engkau sendiri pun berkepandaian hebat, saudara Bu."

"Tidak ada sekuku hitam Ceng-taihiap dan juga Toan-lihiap... ahh, nama Toan Kim Hong sungguh indah sekali!"

Kim Hong tersenyum dan menatap wajah ganteng itu. "Hik-hik, agaknya saudara Bu Kok Siang ini selain pintar bersajak, pintar ilmu silat, juga memiliki kepandaian untuk merayu dan memuji-muji nama wanita. Sungguh mempunyai banyak macam kepandaian!"

Ucapan ini sebenarnya dapat dianggap sebagai tamparan, akan tetapi karena Kim Hong mengatakannya dengan nada sungguh-sungguh, bukan mengejek, dan sambil tersenyum manis, maka pemuda itu pun tertawa gembira.

Mereka segera makan minum sambil bercakap-cakap gembira. Thian Sin dan Kim Hong mendengar bahwa In Bwee selain menjadi puteri seorang hartawan yang kaya, juga sejak kecil dia mempelajari ilmu silat hingga mencapai tingkat yang cukup tinggi sehingga andai kata tadi Kok Siang tidak turun tangan, dia sendiri pun akan sanggup menghajar penjahat kasar itu.

Karena selain sebagai seorang gadis kaya, juga dia merupakan seorang gadis ahli silat, maka tidaklah mengherankan kalau In Bwee suka melakukan perjalanan seorang diri, dan malam itu memasuki restoran tanpa teman lagi, seperti biasanya seorang gadis kang-ouw yang bebas.

Ada pun Bu Kok Siang, menurut pengakuannya adalah seorang perantau yang bertempat tinggal di kota Thian-cin dan kebetulan sedang melancong ke kota raja. Baru tiga hari dia berada di kota raja. Semua nampaknya kebetulan saja, akan tetapi diam-diam pasangan pendekar ini menduga dengan penuh keyakinan bahwa kedua orang muda yang menjadi teman baru itu sama sekali bukan secara kebetulan saja bertemu dengan mereka. Malah kemunculan Hai-pa-cu tadi pun bukan tidak mungkin sudah direncanakan terlebih dahulu.

Akan tetapi, tentu saja mereka tidak mau menyinggung soal ini. Semakin cerdik keadaan lawan, makin menariklah permainan itu! Mereka sendiri mengaku sebagai dua orang yang melancong kota raja, datang dari utara tanpa memberi tahu mengenai hubungan mereka berdua. Mereka hanya mengatakan bahwa mereka adalah teman-teman baik saja.

Mereka lalu berpisah sebagai kawan-kawan baru setelah saling berjanji akan berkunjung ke rumah Bouw In Bwee yang mengundang mereka. Akan tetapi yang terutama mendapat perhatian dan undangan khusus dari In Bwee adalah Thian Sin.

"Tidak salah lagi, mereka berdua itu tentu ada hubungannya dengan urusan ini," demikian kata Thian Sin setelah mereka tiba di kamar hotel mereka.

"Aku pun berpendapat begitu. Dan gadis itu memiliki she Bouw, sungguh kebetulan sekali she-nya sama dengan she dari kepala penjahat besar di kota raja yang pernah kita dengar dari Liong-kut-pian Ban Lok itu."

"Kau maksudkan Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng?"

Kim Hong mengangguk. "Sikapnya sungguh mencurigakan sekali dan... dan... dia selalu memperhatikan engkau, juga kelihatan selalu hendak memikat..."

"Ehhh, kau cemburu?" Tentu saja sejak tadi Thian Sin sudah dapat mengetahui betapa In Bwee selalu memikatnya dan betapa Kim Hong melihat hal ini dengan perasaan cemburu yang disembunyikan.

"Siapa cemburu? Sastrawan itu pun ganteng dan menarik sekali!" jawab Kim Hong.

Thian Sin maklum bahwa kekasihnya itu sengaja menyebut-nyebut nama Kok Siang untuk membalasnya.

"Pemuda itu pun patut diperhatikan, dia tidak kalah menarik dan mencurigakan dari pada In Bwee. Karena itu, aku ingin agar engkau mencari dan menyelidikinya."

"Dan engkau sendiri akan menyelidiki In Bwee?"

"Tepat! Kita membagi tugas dan kurasa dari mereka itulah kita akan mengetahui tentang rahasia peta yang hilang."

"Hemm, tugas yang manis dan menyenangkan bagimu, ya?"

"Kim Hong, keadaan kita sama saja."

"Maksudmu?"

"Aku bisa tertarik kepada In Bwee yang manis, akan tetapi engkau pun bisa saja tertarik kepada Kok Siang yang ganteng. Bukan engkau saja yang bisa cemburu, aku pun bisa."

"Jadi..."

"Nah, kita uji diri serta batin sendiri. Sedikit main-main, apa salahnya? Dan yang paling penting adalah kita bukan mengejar asmara, namun mengejar rahasia peta. Ingat!" Thian Sin tersenyum.

Kim Hong membalas pandang mata itu, dan tersenyum pula. Keduanya pun mengerti, lalu saling rangkul dan keduanya roboh di atas pembaringan sambil tertawa-tawa dan mereka segera tenggelam di dalam lautan kemesraan dan pencurahan kasih sayang mereka satu sama lain…..

********************

Gadis yang sedang membaca kitab seorang diri di pondak mungil di tengah taman bunga itu sungguh nampak cantik manis di bawah sinar lampu merah. Dan pondok yang terbuka jendelanya itu dipenuhi dengan keharuman bunga-bunga mawar yang sedang mekar dan juga bunga-bunga lain yang memenuhi taman.

Tidak ada seorang pun pelayan yang menemani Bouw In Bwee. Memang In Bwee ingin bersendirian membaca kitab dan dia telah mengusir semua pelayan dari pondok di taman bunga keluarganya yang kaya raya. Bulan di luar pondok amat cemerlang karena malam itu memang menjelang bulan purnama yang akan muncul dua malam lagi. Bulan sudah nampak bundar dan cerah.

Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu di dalam pondok itu sudah berdiri seorang laki-laki setengah tua yang bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam. Sekali pria itu mengebutkan lengan bajunya, maka padamlah lampu yang terletak agak jauh, terletak di atas meja! Hal ini membuktikan betapa hebatnya tenaga sinkang dari pria itu. Keadaan dalam pondok mendadak menjadi gelap remang-remang karena kini hanya mendapatkan sedikit penerangan dari cahaya bulan.

Akan tetapi In Bwee tidak nampak terkejut. Memang semenjak tadi dia telah menanti. Dia hanya bangkit berdiri, menoleh ke arah pria itu.

"Paman...," katanya lirih sebagai sambutan.

"In Bwee, bagaimana hasilnya?"

"Aku telah berhasil menghubungi mereka, paman. Akan tetapi aku harus bertindak secara hati-hati sekali. Mereka berdua mempunyai ilmu yang amat tinggi, dan mengingat bahwa pemuda itu adalah Pendekar Sadis, hatiku sungguh tidak tenang sekali."

"Hemmm…, sudah kukatakan bahwa engkau tak perlu mengandalkan ilmu silatmu. Untuk menghadapinya dalam hal itu, serahkan saja kepadaku kelak. Yang penting engkau harus dapat memikatnya, menarik perhatiannya sehingga dia dapat menceritakan dengan terus terang tentang kunci emas itu. Bagaimana hasilnya malam kemarin itu?"

"Sebetulnya, dengan bantuan Hai-pa-cu telah kuatur seperti yang paman kehendaki. Akan tetapi sialan benar, ada yang campur tangan dan sama sekali di luar rencana kita. Muncul seorang sastrawan muda dari Thian-cin bernama Bu Kok Siang yang memiliki kepandaian tinggi juga. Melihat gerakannya ketika dia mengalahkan Hai-pa-cu, tentu kepandaiannya lebih tinggi dari pada tingkatku."

"Hemm... jadi engkau gagal karena ulah sastrawan jahil itu?"

"Gagal sama sekali sih tidak, sebab aku berhasil berkenalan dengan mereka, juga dengan sastrawan itu tentu saja, dan aku sudah menjadi kenalan mereka, malah sudah kuundang dia untuk datang ke sini..."

"Bagus, kau atur saja dan jangan engkau main-main, In Bwee. Jika berhasil, maka selain akan mewarisi ilmu-ilmu simpananku, engkau juga akan memperoleh sebagian dari harta pusaka Jenghis Khan itu. Akan tetapi kalau engkau menolak dan mengkhianatiku, awas kau, aku tidak akan mengampunimu lagi. Ayah bundamu akan mendengar semuanya!"

"Paman..." Gadis itu terisak.

"Jangan khawatir, aku tidak akan sekejam itu, engkau adalah keponakanku sendiri. Akan tetapi engkau harus mentaati perintahku, hanya sekali ini. Mengerti?"

"Baik, paman."

"Nah, aku pergi dulu. Lakukan secepat mungkin dan harus berhasil!" Tiba-tiba orang tinggi besar itu berkelebat dan lenyap dari situ seperti setan saja.

In Bwee menyalakan lampu dengan jari-jari tangan gemetar. Wajahnya masih agak pucat dan jantungnya berdebar tegang. Setelah lampu menyala, barulah hatinya tenang, akan tetapi pikirannya mengenang keadaan dirinya dan tanpa dapat ditahan lagi gadis itu pun menangis sambil meletakkan kepala di atas kedua lengannya di atas meja. Entah berapa lamanya dia terhanyut dalam kedukaan ini, dia tidak ingat lagi.

"Nona In Bwee... kenapa kau menangis...?"

In Bwee terkejut bukan main dan sekali tubuhnya bergerak, dia telah meloncat keluar dari kamar pondok itu lantas dia berhadapan dengan seorang pemuda yang tadi berdiri di luar jendela, pemuda yang bersikap tenang dan bukan lain adalah Bu Kok Siang!

"Ahh, kiranya engkau..." In Bwee berkata dengan hati lega ketika melihat siapa orangnya yang barusan menegurnya tadi. Akan tetapi segera dia teringat akan kedatangan orang pertama tadi, maka sambil berusaha menatap wajah di bawah sinar bulan yang sayu itu, dia pun bertanya, "Sudah lamakah engkau tiba di sini?"

Kok Siang mengangguk. "Lama juga, aku tadi berlindung di balik rumpun bunga di sana."

"Ahh...! Jadi... jadi kau tadi melihat...?"

Pemuda itu mengangguk.

"Ahh...!" In Bwee menjadi terkejut sekali dan menggunakan kedua tangan untuk menutupi mukanya.

Sentuhan tangan pemuda pada pundaknya itu halus sekali, sama sekali tak mengandung kekurang ajaran dan suara itu tergetar penuh perasaan. "In Bwee... nona... tenangkanlah hatimu. Aku tidak sengaja melihat semua itu tadi, tapi... percayalah aku tak akan pernah mengatakannya kepada siapa pun juga. Aku bersumpah! Dan kau jangan khawatir, aku... aku siap untuk melindungimu dari ancaman apa pun juga, dengan taruhan nyawaku!"

Gadis itu menurunkan kedua tangannya dan sampai lama dia memandang wajah pemuda itu, memandang dengan penuh keheranan dan keraguan. Kemudian dia berkata, "Marilah kita bicara di dalam. Di sini bisa terlihat orang lain."

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, In Bwee memasuki pondok itu diikuti oleh Kok Siang. Kemudian, sesudah menutupkan daun jendela, In Bwee bersikap agak tenang dan mencoba untuk menahan getaran suaranya yang masih terguncang.

"Bu-kongcu... ehh, saudara Kok Siang, kau duduklah."

Mereka duduk berhadapan dan kembali di bawah penerangan lampu kini mereka saling pandang dan sinar mata mereka bertaut sampai lama sekali. Gadis itu lalu menunduk dan menarik napas panjang.

"Jawab pertanyaan-pertanyaanku. Pertama, kenapa malam-malam begini engkau datang ke sini, bukan berkunjung sebagai tamu namun datang seperti ini, melalui taman seperti pencuri?"

Pertanyaan itu tak mengandung kemarahan, akan tetapi tatapan mata itu demikian tajam seakan-akan gadis itu hendak menjenguk isi hati pemuda itu. Kok Siang yang biasanya berjenaka itu, sekarang nampak serius.

"Entahlah... aku tidak dapat tidur... siang tadi aku ingin mengunjungimu akan tetapi selalu teringat akan perbedaan keadaan antara kita, membuat aku ragu-ragu. Tapi malam ini... aku begitu gelisah dan ingin sekali berjumpa denganmu, atau setidaknya melihatmu, atau paling tidak melihat rumahmu dan... di sinilah aku. Ketika lewat di rumahmu, aku semakin ingin melihatmu, maka dengan lancang aku telah meloncati tembok lalu ke taman ini dan sungguh kebetulan sekali aku melihatmu dan tadi..."

"Cukup. Kini pertanyaan ke dua. Apakah kau tadi mengenal orang itu?"

Pemuda itu menggeleng. "Terlalu gelap untuk dapat melihatnya dan gerakannya demikian cepat, seperti setan menghilang saja. Akan tetapi dia itu pamanmu, bukan?"

Kedua tangan gadis itu mencengkeram lengan pemuda itu, bukan serangan, melainkan cengkeraman karena terkejut. "Kau... kau tahu...?"

Kok Siang menggelengkan kepala. "Aku tadi lapat-lapat mendengar engkau menyebut dia paman, dan... aku... aku tidak sengaja mendengar ancamannya yang terakhir tadi, yaitu kata-kata ini: Nah, aku pergi, lakukan secepat mungkin dan harus berhasil."

"Ahhh...!" Entah apa artinya keluhan ini, mungkin juga perasaan lega karena pemuda itu tidak mengetahui semuanya, atau juga khawatir. Kok Siang tidak dapat menyelami hati gadis ini. Akan tetapi In Bwee melepaskan cengkeraman tangannya, lalu duduk kembali.

"Sekarang, jawablah sejujurnya, ahh, jangan sembunyikan rahasia, jawablah sejujurnya... kenapa engkau bersikap seperti ini kepadaku? Mengapa engkau tadi mengatakan bahwa engkau hendak melindungi aku dari ancaman apa pun juga, dengan taruhan nyawamu?" Sekali ini, dengan terang-terangan In Bwee memandang wajah pemuda itu, sinar matanya seperti hendak menembus dan mengetahui isi hati pemuda itu.

Berdebar rasa jantung Kok Siang. Beberapa kali dia menelan ludah sebelum menjawab, kemudian dia pun berkata, suaranya lirih dan tergetar penuh perasaan, "Demi Tuhan, aku bersumpah bahwa apa yang hendak kukatakan ini adalah yang sejujurnya. Nona... ehhh, Bwee-moi, terus terang saja, selama hidupku belum pernah aku jatuh cinta. Akan tetapi sejak aku bertemu denganmu di restoran itu, melihat sikapmu menghadapi penjahat, aku sudah jatuh hati kepadamu dan aku telah mengambil keputusan bahwa engkaulah wanita satu-satunya yang kuingin agar menjadi jodohku. Akan tetapi... mendengar bahwa engkau adalah puteri seorang hartawan besar, timbul keraguanku karena aku tidak ingin dianggap pengejar harta dan hendak mengawini hartamu. Aku... aku cinta padamu, Bwee-moi. Nah, terus terang saja kukatakan ini, dari pada kusimpan-simpan hingga menjadi racun hatiku. Ketika melihat engkau menangis begitu sedih tadi... aku merasa bahwa akulah orangnya yang harus melindungimu dengan taruhan nyawaku."

"Ahh, tidak... tidak...!" Dan tiba-tiba In Bwee menutupi mukanya dan menangis lagi!

"Bwee-moi, jangan salah sangka. Aku sungguh tidak menginginkan hartamu. Aku sendiri bukanlah orang yang terlampau miskin, walau pun tidak sekaya ayahmu. Akan tetapi aku mempunyai cinta dan biar pun baru satu kali kita saling berjumpa, akan tetapi aku sudah yakin bahwa aku cinta padamu dan... aku bersedia menjadi jodohmu walau pun engkau tidak membawa harta secuwil pun."

Akan tetapi ucapan itu bahkan membuat In Bwee menangis semakin sedih.

"Bwee-moi, maafkan aku... ampunkanlah kalau aku menyinggung perasaanmu..."

In Bwee menggelengkan kepala. "Biarkan aku menangis... biarkan aku menangis..." dan dia pun mengguguk.

Kok Siang diam saja, hanya memandang dengan hati terharu dan dia tahu bahwa gadis itu bukan tersinggung melainkan sedang berduka, dan agaknya baru sekarang mendapat kesempatan untuk menumpahkan semua kedukaan hatinya melalui air matanya.

Setelah tangisnya mereda, akhirnya gadis itu mengangkat muka dan memandang kepada pemuda itu dengan wajah pucat dan mata merah. Sampai lama ia memandang, kemudian berkata lirih, "Aku percaya... sudah kurasakan sejak kemarin malam. Akan tetapi, aku... aku sungguh tidak berharga untuk menjadi isterimu atau isteri siapa pun juga." Kembali ia menangis.

Kok Siang terkejut dan cepat memegang tangan yang tergetar itu. "Ah, moi-moi... kenapa engkau bicara seperti itu? Engkau seribu kali lebih berharga dari pada aku!"

"Engkau tidak mengerti... ahh, baiklah, dengarkan akan kuceritakan kepadamu. Duduklah yang tenang, dan dengarkan ceritaku. Mala petaka itu terjadi tiga tahun yang lalu...! Kau tahu, semenjak kecil aku berlatih silat, dibimbing oleh pamanku yang ilmu silatnya amat tinggi. Aku berlatih bersama beberapa orang murid pamanku. Sesudah aku dewasa, tiga tahun yang lalu, aku berusia delapan belas tahun... dan keadaan pamanku itu, walau pun dia lihai tetapi... ahhh, dia bukan orang baik-baik... dia bergaul dengan orang-orang jahat, bahkan menjadi pemimpin mereka... begitu pula murid-muridnya... dan… ahh, aku terpikat oleh seorang suheng-ku... sampai... sampai pada suatu hari, dalam mabokku akibat kami minum arak, agaknya sudah disengaja oleh suheng-ku itu, aku... aku menyerahkan diriku padanya..." Gadis itu menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali. Kemudian dia mengepal tinjunya dan mengangkat muka. "Nah, kini telah kau dengar baik-baik? Apakah engkau masih berani mengaku cinta padaku?"

Pengakuan itu bagaikan halilintar menyambar kepala pemuda itu. Dia menjadi nanar dan wajahnya pucat, matanya menjadi sayu dan merenung kosong. Akan tetapi, dia segera menggoyang kepalanya dan juga mengepal tinju.

"Bwee-moi, aku cinta padamu sekarang! Yang kucinta adalah engkau sekarang ini, bukan engkau dahulu-dahulu dan bukan pula keperawananmu! Nah, sudah dengarkah engkau?"

Ucapan yang keras itu mengejutkan In Bwee, juga mengherankannya. "Tapi... tapi..."

"Lanjutkan ceritamu!"

"Aku merasa menyesal sekali akan peristiwa itu dan aku... aku lalu membunuh suheng-ku itu! Aku tahu bahwa dia sengaja memikat dan melolohku dengan arak keras, dan akhirnya aku juga tahu bahwa aku sama sekali tidak cinta padanya dan bahwa dia pun hanya mau mempermainkan aku. Paman, yaitu suhu kami sudah tahu akan hal itu. Dia membantuku, merahasiakan hal itu. Kalau dia memberi tahu kepada ayah, tentu ayah akan marah sekali dan mungkin aku akan diusir, tidak akan menjadi ahli warisnya karena ayahku tidak suka anak perempuan. Nah, kemudian paman membantuku, menyimpan rahasia itu akan tetapi sebaliknya aku juga harus membantunya."

"Membantunya? Membantu apa?"

"Macam-macam, pokoknya yang mendatangkan uang. Malah aku sering disuruh mencuri barang-barang berharga milik ayah dan ibu untuknya, dan aku disuruh pula melakukan kejahatan bersama murid-murid dan anak buahnya..."

"Ahhh…!"

"Aku terpaksa... aku takut kalau sampai ayah dan ibu tahu bahwa aku sudah bukan gadis lagi... aku bahkan terus menerus menolak kalau mau dikawinkan... ahh, betapa aku telah menderita hebat... bukan hanya karena keadaanku ini, akan tetapi juga akibat penekanan paman..." Gadis itu menangis lagi, dan kini tanpa ragu-ragu lagi pemuda itu melangkah maju, lantas memegang tangannya.

"Bwee-moi, pandanglah aku baik-baik. Nah, apakah sekarang engkau percaya bahwa aku cinta padamu? Mencinta dengan murni dan tulus, bukan hanya mencinta keperawananmu atau harta bendamu?"

Mereka saling pandang dan gadis itu mengangguk.

“Dengarkan baik-baik kalau engkau percaya dan engkau dapat membalas atau menerima cintaku. Engkau sudah bertindak keliru. Semestinya, engkau berterus terang kepada ayah bundamu dan menghadapi segala akibatnya. Dengan membiarkan dirimu diperalat oleh orang lain, maka berarti engkau semakin dalam terperosok. Sekarang, kau ceritakanlah semuanya kepadaku..."

"Tidak... aku tidak berani... engkau tidak tahu betapa lihainya pamanku," gadis itu berkata dengan muka pucat dan mata liar memandang ke kanan kiri. "Engkau pergilah, Siang-ko, pergilah dulu... dan biarkan aku berpikir dengan matang... kedatanganmu terlalu tiba-tiba. Besok... besok atau lusa kita bertemu lagi, di sini... malam-malam begini... sekarang kau pergilah..."

Kok Siang menghela napas, tidak berani memaksa. "Baiklah, akan tetapi ingatlah selalu bahwa di dunia ini ada Bu Kok Siang yang akan melindungimu dengan taruhan nyawa, yang akan tetap mencintamu dan tidak mempedulikan riwayatmu yang sudah lalu. Nah, selamat tinggal, sampai jumpa besok atau lusa malam."

"Baik, Siang-ko... kalau engkau melihat lampu merah di pondok ini, jendelanya terbuka, berarti aku menantimu di sini..."

Pemuda itu mengangguk, menggenggam kedua tangan itu, kemudian dia meloncat keluar dan lenyap dalam kegelapan malam. In Bwee memandang ke arah lenyapnya pemuda itu dengan mata sayu, kemudian termenung-menung dan akhirnya ia pun kembali menangis sendirian, menahan isaknya supaya tidak menimbulkan suara. Peristiwa yang baru saja terjadi itu terlalu hebat baginya. Dan ia sama sekali tidak tahu bahwa ada bayangan yang mendekatinya, kemudian terdengar suara orang di balik jendela.

"Hemmm…, diam-diam engkau telah punya pacar, ya? Baik, selesaikan tugasmu sampai berhasil dan engkau akan menikah dengan pacarmu itu, aku yang akan membujuk orang tuamu agar setuju. Akan tetapi kalau engkau mengkhianatiku, pacarmu itu akan kubunuh dan rahasiamu akan kuumumkan tidak hanya kepada ayah bundamu, akan tetapi kepada semua orang!"

"Paman...!" In Bwee berseru kaget sekali akan tetapi bayangan itu telah cepat berkelebat dan akhirnya lenyap.

In Bwee hanya dapat merenung dengan wajah pucat. Kemunculan guru atau pamannya yang lihai itu seketika langsung membuyarkan harapan serta khayalnya yang baru timbul bersama munculnya pemuda sastrawan itu. Sedikit harapan itu bagaikan awan tipis yang tersapu badai…..

********************

"Bu-kongcu...! Tunggu sebentar...!"

Bu Kok Siang yang sedang berjalan seorang diri pada pagi hari itu tentu saja mendengar teriakan suara wanita ini, maka ia pun cepat berhenti melangkah lalu menoleh. Wajahnya segera berseri dan bibirnya tersenyum ketika dia melihat siapakah gerangan wanita yang memanggilnya itu. Ternyata yang memanggilnya tadi adalah wanita cantik yang waktu itu telah dikenalnya di dalam rumah makan, yang bernama Toan Kim Hong!

Setelah wanita itu tiba di depannya, Kok Siang cepat mengangkat kedua tangan memberi hormat sambil berkata, "Ahh, kusangka siapa, tak tahunya nona Toan. Dan harap jangan menyebutku kongcu (tuan muda), membuat aku menjadi malu saja."

"Selamat pagi, Bu... twako! Biar kusebut twako, biar pun mungkin aku lebih tua. Engkau tahu, wanita selalu ingin dianggap lebih muda," kata Kim Hong tersenyum.

Kok Siang tertawa. "Dan memang kelihatannya engkau jauh lebih muda dari pada aku, nona. Sepagi ini engkau hendak ke manakah? Dan mengapa nona sendirian saja? Mana saudara Ceng Thian Sin yang gagah perkasa itu?"

"Dia tinggal di kamarnya di hotel. Aku memang sengaja keluar hendak mencarimu."

Pemuda itu mengangkat dua alisnya dan memandang heran. "Lihiap... ehh, nona mencari aku? Ya nasib mujur! Sungguh beruntung sekali. Ada keperluan apakah gerangan...?"

Kim Hong tertawa, manis sekali. "Kita sudah saling berkenalan, apakah kalau tidak ada urusan penting tidak boleh mencari dan mengunjungi? Tadi aku lewat di depan hotelmu tapi engkau tidak ada, lalu kulihat engkau berjalan sendirian, seperti orang tergesa-gesa, maka kupanggil. Apakah aku mengganggumu? Kalau begitu biarlah aku pulang lagi saja."

"Ehh, ehhh... nanti dulu. Tentu saja aku girang dapat bertemu denganmu, nona. Aku pun belum sempat mengunjungi rumah penginapan kalian, dan kebetulan dapat berjumpa di sini. Nah, ke mana kita pergi sekarang untuk merayakan pertemuan ini?"

"Aku ingin bercakap-cakap denganmu, Bu-twako."

"Kalau begitu, mari kita pergi ke taman umum di tepi sungai, di sana indah dan sepi. Tidak enak bercakap-cakap di tepi jalan seperti ini."

Mereka lalu berjalan bersama menuju ke taman yang luas itu. Kota raja terkenal dengan taman-tamannya yang indah, akan tetapi hanya beberapa buah saja yang terbuka untuk umum, di antaranya taman di tepi sungai yang dikunjungi oleh dua orang muda itu.

Banyak orang yang bertemu dengan mereka di jalanan memandang pasangan ini dengan rasa kagum karena memang pasangan ini cocok sekali. Yang wanita cantik jelita, yang pria juga tampan dan ganteng. Dan keduanya tidak merasa canggung berjalan bersama, seolah-olah mereka memang telah menjadi sababat baik sejak dahulu.

Pada sepanjang perjalanan menuju ke taman bunga itu, Kim Hong mendapat kenyataan bahwa pemuda itu telah hafal akan keadaan kota raja, dapat menunjukkan tempat-tempat penting kepadanya, seperti seorang penunjuk jalan yang pandai dan ramah.

Pagi itu taman di pinggir sungai masih sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang sedang berkunjung dan berjalan-jalan di dalam taman, dan mereka itu tentu para pendatang dari luar kota. Ada pula yang pesiar naik perahu di pinggir sungai. Kim Hong dan Kok Siang memilih tempat duduk di tepi kolam ikan emas, di atas sebuah bangku panjang di mana mereka duduk berdampingan.

"Nah, sekarang kita berada di tempat sepi, berdua saja. Apakah yang hendak kau katakan kepadaku, nona?"

"Bu-twako, bukan aku yang ingin mengatakan sesuatu kepadamu, akan tetapi engkaulah yang sebaiknya mengatakan dengan terus terang kepadaku mengenai dirimu...," kata Kim Hong sambil menatap wajah tampan itu dengan tajam dan penuh selidik.

Pemuda itu mengerutkan alisnya. "Maksudmu?"

Kim Hong memutar tubuhnya sehingga sepenuhnya menghadapi pemuda itu dan pandang matanya mencorong, mengejutkan hati pemuda itu. "Bu-twako, kiranya engkau tidak perlu bersandiwara lagi. Kemunculanmu di restoran itu tentu bukan sebuah hal yang kebetulan saja. Engkau membawa suatu rahasia dan engkau tentu telah mengenal kami, setidaknya engkau mengetahui sesuatu tentang kami. Benarkah itu?"

Hening sejenak. Pemuda itu masih mengerutkan kedua alisnya dan kini pandang matanya juga serius, berkilat dan penuh semangat, tak lagi disembunyikan di balik kejenakaan dan kegembiraannya.

"Mengapa engkau dapat menduga seperti itu, nona? Adakah sesuatu yang mencurigakan dalam tindak tandukku selama ini?" Dia memancing karena masih meragukan kata-kata Kim Hong tadi yang dianggapnya hanya dugaan-dugaan belaka.

Kim Hong tersenyum, senyuman yang mengandung ejekan. "Kau kira kami begitu bodoh? Engkau adalah seorang yang memiliki ilmu silat yang tinggi, tetapi engkau bersikap bodoh dan berkelakar. Kemudian secara sengaja engkau melemparkan Hai-pa-cu Can Hoa yang kau robohkan di restoran itu kepada kami. Ya, kami tahu bahwa dengan sengaja engkau melemparnya kepada kami, dan tentu saja ini berarti bahwa engkau hendak menguji kami dan berarti pula bahwa engkau sudah tahu atau menduga sesuatu mengenai kami. Nah, kuminta engkau bicara blak-blakan saja, kecuali kalau engkau hendak menganggap kami sebagai musuh."

Sejenak pemuda itu memandang kagum, lalu menarik napas panjang. "Aihh, sungguh aku sudah bertindak ceroboh sekali, tidak tahu menghadapi gunung Thai-san yang menjulang tinggi, tidak tahu bahwa nona amatlah cerdas dan pandai. Tentu sikapku waktu itu sudah memancing tawa dalam hati kalian. Maafkanlah. Terus terang saja aku mengetahui pada waktu kalian menghadapi Siang-to Ngo-houw, dan biar pun aku tidak mendengar sendiri percakapan antara kalian dengan mereka, akan tetapi aku dapat menduga kenapa kalian dicari oleh mereka itu. Tentu karena urusan... peta rahasia dan kunci emas, bukan?"

Kim Hong tidak terkejut, melainkan tersenyum. Memang dia dan Thian Sin telah menduga bahwa pemuda ini tentu ada kaitannya dengan urusan itu. "Bagus, ternyata engkau pun tersangkut. Tidak tahu engkau berdiri di pihak manakah?" katanya sambil melirik tajam.

Kok Siang menggelengkan kepala. "Tidak berdiri di pihak mana pun, melainkan di pihakku sendiri. Aku hendak menyelidiki siapa yang telah membunuh pamanku."

"Pamanmu?"

"Ya, Louw siucai adalah pamanku."

"Ahhh...!"

"Engkau tentu pernah mendengarnya."

Kim Hong mengangguk. "Sastrawan yang sudah membantu keluarga Ciang mengartikan peta kuno itu?"

"Benar, dia adalah pamanku. Paman membantu mereka menterjemahkan peta kuno dan beberapa hari kemudian dia terbunuh. Tentu pembunuhnya menghendaki agar dia tidak membocorkan rahasia tentang peta itu."

"Hemm, mungkin saja Su Tong Hak, paman Ciang Kim Su yang kurasa bukan merupakan orang baik-baik itu." kata Kim Hong.

"Aku pun tadinya menduga demikian. Akan tetapi aku ingin tahu secara pasti agar tidak salah tangan. Aku harus membalas kematian pamanku itu. Dia amat mencintaku dan dia sudah seperti ayahku sendiri. Aku sudah tidak mempunyai ayah bunda dan paman Louw itu kakak dari mendiang ibuku, bagiku merupakan pengganti orang tua. Dan dia dibunuh orang tanpa dosa!" Pemuda itu mengerutkan alis dan mengepal tinju.

Kim Hong merasa kasihan. "Jangan khawatir, Bu-twako, aku... kami akan membantumu. Kami pun sedang menyelidiki mereka, yaitu mereka yang merampas peta kuno itu. Kami adalah utusan dari petani Ciang Gun atau mendiang petani itu karena dia pun dibunuh orang. Kami sedang menyelidiki perkara ini. Menurut keterangan Su Tong Hak, Ciang Kim Su juga lenyap. Kami merasa curiga. Tentu ada permainan kotor dalam urusan ini dan dia pun bilang bahwa peta yang mereka bagi dua itu, yang berada di tangannya, juga dicuri orang. Kami sedang menyelidiki, di tangan siapa gerangan peta itu."

"Hemm, dan sekarang kunci emas itu berada di tangan kalian, bukan? Aku sudah tahu bahwa rahasia itu meliputi peta dan kunci emas."

"Ya, dan kami hendak mempergunakan kunci emas itu untuk menjadi umpan memancing datangnya ikan yang menguasai peta."

"Dan lihat, kurasa ada ikan-ikan yang datang!" tiba-tiba pemuda itu berkata sambil melirik ke arah kiri.

Kim Hong juga melirik ke kiri dan memang benar ada sekelompok orang, sepuluh orang jumlahnya, mendatangi taman itu namun mereka itu nampaknya bukan seperti pelancong biasa.

"Hemm, agaknya benar, mereka tentu anak buah yang dikirim ke sini," kata Kim Hong.

"Jangan khawatir, aku akan membereskan mereka kalau mereka berani mengganggumu!" Kok Siang berkata sambil bangkit berdiri.

Akan tetapi Kim Hong segera memegang lengannya dan menariknya agar duduk kembali. "Jangan, Bu-toako. Kalau mereka bergerak, tentu mereka itu berniat untuk menyerangku, ingin menangkap atau merampas kunci. Mereka datang untuk aku, sama sekali tidak ada hubungannya dengan engkau. Kau duduk sajalah dan biar aku menghajar mereka."

Ketika sepuluh orang itu tiba di sana, Kim Hong masih saling berpegang tangan dengan Kok Siang dengan maksud mencegah pemuda ini menghadapi orang-orang yang nampak kasar dan kuat-kuat itu. Salah seorang di antara mereka, yang rambutnya riap-riapan dan matanya agak juling, yang nampaknya sebagai pemimpin dari sepuluh orang itu, tertawa. Perutnya yang gendut itu bergoyang-goyang.

"Ha-ha-ha, kiranya si manis ini mempunyai pacar di mana-mana, sering berganti pacar! Kawan-kawan, sekali ini kita tidak boleh gagal. Tangkap si manis ini dan bunuh saja pacar barunya!"

Kim Hong adalah seorang dara yang selama beberapa tahun pernah menyamar sebagai Lam-sin, hal ini berarti bahwa ia pun pernah berkecimpung di dunia sesat, kaum penjahat, maka ucapan itu sebetulnya tidak aneh atau asing baginya. Ia sudah terbiasa mendengar kata-kata kasar. Ucapan kasar tidak akan membuat dia menjadi marah.

Akan tetapi, tuduhan bahwa dia berganti-ganti pacar, bahwa Kok Siang adalah pacarnya yang baru, langsung membuat kedua pipinya berubah merah. Hanya biasanya, Kim Hong tak pernah memperlihatkan perasaan hatinya. Tidak ada seorang pun di dunia ini, kecuali Thian Sin tentunya, yang dapat menduga isi hatinya. Maka, walau pun pada saat itu dia sedang marah, namun wajahnya tetap berseri dan senyumnya bertambah manis.

Sepuluh orang itu telah mengepung bangku di mana Kim Hong dan Kok Siang tadi duduk dan dari gerakan kaki mereka tahulah Kim Hong bahwa biar pun orang-orang ini nampak kasar, akan tetapi mereka adalah ahli-ahli silat pilihan! Terutama sekali si mata juling itu ternyata mempunyai kepandaian yang tinggi, dengan gerakan yang demikian ringan tanda bahwa ginkang-nya sudah mencapai tingkat yang tinggi.

Maka diam-diam dia pun terkejut sekali. Melihat gerakan si mata juling ini, agaknya akan merupakan lawan yang berat dan amat berbahaya bagi Kok Siang, maka dia pun segera mengambil keputusan untuk menandingi sendiri pemimpin gerombolan ini. Maka, sebelum gerombolan itu menyerbu dan membahayakan Kok Siang, dia langsung melangkah maju dan mendekati pemimpin gerombolan itu sambil menudingkan telunjuknya ke arah hidung orang.

"Ehh, mata juling gendut yang bermulut busuk! Kalau engkau beserta anjing-anjingmu ini mampu menangkapku, biar aku berjanji akan memberi ciuman sepuluh kali kepadamu!"

Mendengar ucapan ini, si mata juling beserta teman-temannya tertawa. "Ha-ha-ha, nona manis, sungguhkah itu? Memberi ciuman dengan suka rela? Ha-ha-ha!"

"Tentu saja, aku tidak pernah berbohong!" jawab Kim Hong dan mendengar ini, Kok Siang mengerutkan alisnya. Kenapa wanita cantik dan gagah perkasa ini mau melayani segala macam orang kasar seperti mereka?

Akal Kim Hong ini berhasil. Tadinya, kepala gerombolan yang sudah mendengar betapa pemuda sastrawan itu pernah mengalahkan Hai-pa-cu, bermaksud untuk terlebih dahulu mengeroyok dan membunuh si pemuda, baru kemudian, menawan gadis itu seperti yang sudah diperintahkan kepadanya. Akan tetapi, mendengar ucapan Kim Hong dan melihat betapa manisnya gadis itu tersenyum kepadanya, dengan janji yang demikian mesra, dia pun tak mampu menahan gejolak hatinya lagi. Bagaimana pun juga, dia percaya kepada kepandaiannya sendiri dan juga kepada kekuatan anak buahnya yang sebenarnya adalah beberapa orang sute-nya dan murid-muridnya.

"Ha-ha-ha, bagus sekali! Nona manis, engkau agaknya belum pernah mendengar nama Tiat-ciang Lui Cai Ko, maka berani menantangku. Bersiaplah engkau untuk menciumku sepuasnya, ha-ha-ha!" Setelah tertawa bergelak, dia memberi isyarat kepada dua orang sute-nya untuk membantunya, sedangkan kepada tujuh orang muridnya ia berkata tegas, "Bunuh kutu buku itu!"

Tujuh orang kasar itu adalah murid-murid pilihan dari Tiat-ciang Lui Cai Ko. Mendengar perintah suhu mereka, tujuh orang ini lalu mencabut pedang masing-masing dan dengan gerakan gagah mereka melintangkan pedang di depan dada, lalu memasang kuda-kuda yang nampak kokoh kuat.

Kuda-kuda mereka berbagai macam, ada yang memasang kuda-kuda dengan kedudukan kaki Jao-pian-se, Tu-li-se, Kung-se biasa atau Su-se, dengan kedudukan pedang yang bermacam-macam pula. Ada yang dilintangkan di depan dada, ada yang diangkat ke atas kepala, ada yang menuding ke bumi dan ada pula yang menjulang ke langit. Akan tetapi, rata-rata mereka itu memiliki kuda-kuda yang indah dan kuat, tanda bahwa mereka telah memiliki ilmu pedang yang bukan sembarangan.

Melihat ini, diam-diam Kok Siang terkejut sekali. Dia pernah mendengar nama Tiat-ciang (Tangan Besi) Lui Cai Ko itu, yaitu seorang begal atau perampok tunggal yang pernah membuat nama besar di sebelah utara kota raja. Maka dia pun sangat mengkhawatirkan keadaan Kim Hong dan karena dia dapat melihat dari gerakan para pengepungnya yang tujuh orang itu bahwa mereka adalah orang-orang yang merupakan lawan tangguh, maka Kok Siang tidak berani bersikap ceroboh.

Maka dia segera mengeluarkan sepasang senjatanya, yaitu Im-yang Siang-pit (Sepasang Tangkai Pena Im Yang), yang kiri terbuat dari pada perak sedangkan yang kanan terbuat dari pada emas. Dan sepasang pit ini memang benar-benar dapat juga digunakan untuk menulis di samping sebagai senjata.

Melihat betapa pemuda itu mengeluarkan senjata sepasang pit itu, tiba-tiba seorang di antara para pengepung itu berseru, "Kiranya engkau adalah Im-yang Siang-pit Bu Siucai!"

Memang, sebetulnya nama pemuda sastrawan itu telah banyak dikenal di dalam dunia kang-ouw. Yang membuat dia terkenal, pertama adalah gurunya dan yang ke dua adalah sepasang senjatanya itu. Gurunya adalah datuk kaum sesat di utara, yaitu Pak-san-kui, biar pun pemuda ini tidak menerima datuk itu sebagai guru langsung.

Pak-san-kui tertarik melihat bakat pemuda ini dan menurunkan beberapa macam ilmunya yang tinggi, sedangkan Bu Kok Siang juga hanya tertarik akan ilmu silat yang tinggi dari datuk itu, tetapi dia tidak senang melihat cara hidup gurunya sehingga sesudah menerima pelajaran ilmu-ilmu yang tinggi, terutama ilmu Im-yang Siang-pit itu, dia pun melepaskan diri dan tak pernah lagi mau berdekatan atau mencampuri urusan suhu-nya yang terkenal sebagai seorang datuk sesat.

Dan di dunia kang-ouw, pemuda yang sudah memiliki titel siucai ini, yang menerima ilmu silat tinggi dari seorang datuk sesat sakti, mempergunakan senjatanya untuk menentang kejahatan itu sendiri. Maka nama julukannya adalah sepasang senjatanya itu yang lebih dikenal orang dari pada wajahnya. Apa bila dia tidak mengeluarkan senjatanya itu, jarang ada yang mengenal mukanya.

"Hemm, bagus kalian mengenal senjataku. Lui Cat Ko adalah seorang perampok tunggal yang jahat, maka anak buahnya tentulah bukan manusia baik-baik pula!" kata Kok Siang sambil memasang kuda-kuda dan mengangkat pit emas di atas kepalanya, menunjuk ke langit, sedangkan pit perak dipegang ke bawah, menuding ke bumi. Inilah kuda-kuda yang dinamakannya Seng-thian Jip-te (Naik ke Langit Masuk ke Tanah), pembukaan dari pada ilmu silat Im-yang Siang-pit.

Tujuh orang murid utama dari Tiat-ciang Lui Cai Ko itu menjadi marah mendengar ucapan ini, lantas dengan dahsyat mereka pun mulai menerjang dengan pedang mereka. Setiap gerakan mereka cukup dahsyat karena selain terkenal mempunyai sepasang tangan yang kuat dan keras seperti besi sehingga dia berjuluk Tiat-ciang, memang Tiat-ciang Lui Cat Ko, juga merupakan seorang ahli silat pedang yang tangguh.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner