HARTA KARUN JENGHIS KHAN : JILID-06


Melihat datangnya serangan yang bertubi-tubi itu, yang membawa kilatan sinar pedang yang bergulung-gulung dan menyambar-nyambar ganas, Kok Siang cepat menggerakkan tubuhnya dan sekarang pemuda sastrawan ini baru memperlihatkan kepandaiannya.

Gerakannya cepat bukan main dan ternyata sepasang senjatanya itu mengandung tenaga yang berlawanan. Sepasang senjatanya diputar melindungi tubuhnya dan tiap kali pedang lawan bertemu dengan kim-pit (Pit emas) maka terdengar suara nyaring dan pedang itu tentu terpental keras, sebaliknya kalau bertemu dengan gin-pit (Pit perak) tidak terdengar suara, namun tenaga si pemegang pedang seperti lenyap, seakan-akan pedang mereka bertemu benda lunak atau seperti membacok atau menusuk air saja.

Di samping melindungi tubuh, sepasang pit itu juga mengirim serangan balasan berupa totokan-totokan ke arah jalan darah yang tak kalah dahsyatnya, membuat tujuh orang itu berputaran saling melindungi teman sendiri. Dan terjadilah pertandingan keroyokan yang amat seru, namun sedikit juga pemuda sastrawan yang dikeroyok tujuh itu tidak nampak kewalahan!

Di lain pihak, Kim Hong yang dihadapi oleh Tiat-ciang Lui Cai Ko dan dua orang sute-nya itu, menarik napas lega. Jika si juling yang diduganya paling lihai ini telah menghadapinya dan tidak ikut mengeroyok, maka dia tidak begitu mengkhawatirkan keadaan pemuda itu.

Terlebih lagi sesudah dia melihat cara Kok Siang memutar sepasang pitnya, membuat dia merasa yakin bahwa pemuda itu akan mampu mengatasi para pengeroyoknya, walau pun tujuh orang pengeroyok itu juga tidak boleh dipandang ringan sama sekali. Setelah dia tak lagi mengkhawatirkan pemuda keponakan mendiang Louw-siucai itu, dengan tersenyum tenang Kim Hong menghadapi tiga orang calon lawannya.

Tak seperti tujuh orang yang bertugas membunuh Kok Siang, si juling bersama dua orang sute-nya itu tidak mengeluarkan senjata. Mereka bertugas untuk menawan nona ini hidup-hidup, dan hal ini pun diketahui baik-baik oleh Kim Hong. Memang para penjahat itu tidak membutuhkan dirinya, melainkan kunci emas, oleh karena itu tentu saja mereka tak akan membunuhnya sebelum mereka menemukan kunci emas itu!

Tiat-ciang Lui Cai Ko juga telah mendengar bahwa nona ini pandai ilmu silat dan biar pun dia tidak merasa takut, akan tetapi dia juga tidak berani memandang rendah. Maka dia pun lalu menubruk ke depan sambil menampar dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sudah mencengkeram ke arah pundak nona itu. Tamparan tangan kirinya itu antep bukan main karena jagoan ini agaknya memang sudah mengerahkan tenaga dan mempergunakan tenaga sakti Tiat-ciang-kang (Tenaga Tangan Besi) untuk menggertak.

Telapak tangan orang she Lui ini nampak hitam kehijauan. Selama belasan tahun ini dia melatih kedua tangannya itu, setiap hari mempergunakan telapak tangan untuk memukuli bubuk besi dan pada malam harinya merendam kedua tangan itu ke dalam adonan bubuk besi dengan racun yang membuat tangan itu selain kuat, juga beracun dan berbahaya sekali bagi lawan.

Demikian kuat dan kerasnya telapak tangan Lui Cai Ko ini sehingga kedua telapak tangan itu tidak hanya dapat memukul hancur batu karang seperti sepasang palu besi yang kuat, akan tetapi juga mampu menangkis senjata tajam tanpa khawatir terluka! Itulah sebabnya maka dia terkenal dengan julukan Tiat-ciang (Si Tangan Besi).

"Wuuuttt...! Plakk!"

Kim Hong mengelak dengan mudah dan membiarkan tamparan itu lewat, kemudian ketika cengkeraman tangan kanan itu sudah mendekati pundaknya, tangan kirinya menyambar dari bawah, bukan menangkis namun menampar dengan tangannya ke arah sambungan siku tangan kanan itu. Walau pun tamparan itu tidak dilakukan dengan sepenuh tenaga, namun sambungan siku bagian bawah yang seperti hanya diusap itu tiba-tiba saja terasa nyeri dan lengan kanan itu seperti menjadi lumpuh seketika!

Tentu saja Lui Cai Ko tak dapat melanjutkan cengkeramannya, bahkan lalu mengeluarkan seruan kaget dan cepat melompat ke belakang dengan mata terbelalak. Tak disangkanya bahwa wanita itu sedemikian hebatnya, hanya dalam satu gebrakan saja membuat lengan kanannya terasa lumpuh! Hanya orang yang berilmu sangat tinggi sajalah yang demikian tenangnya menghadapi cengkeraman mautnya, bukan mengelak atau menangkis untuk menghadapinya, tetapi mendahului menyerang siku sehingga lengan itu menjadi lumpuh dan tentu saja serangan cengkeraman itu pun gagal.

Kim Hong hanya berdiri tenang sambil tersenyum. Ia maklum akan kelihaian Tiat-ciang Lui Cai Ko ini, akan tetapi tentu saja dia tidak merasa gentar, yakin benar akan kelebihannya dibandingkan dengan tiga orang pengeroyoknya itu. Dua orang sute dari Si Tangan Besi segera menyerang dari kanan kiri, bukan menyerang untuk merobohkan, melainkan untuk membuat nona itu tidak berdaya dan dapat ditawan. Mereka pun, seperti suheng mereka, mendapat perintah untuk menawan si nona cantik ini.

Namun Kim Hong dapat menghindarkan diri dari tubrukan kanan kiri itu dengan langkah-langkah ajaibnya. Dengan enak saja kedua kakinya bergeser, melangkah mundur maju dan tubrukan-tubrukan mereka itu semua hanya mengenai tempat kosong saja walau pun tadinya nampak seolah-olah akan berhasil.

Kok Siang juga mengamuk dan sepasang pit-nya menyambar-nyambar seperti sepasang naga. Lewat tiga puluh jurus saja, dua orang di antara para pengeroyoknya sudah roboh tertotok sehingga lima orang sisa pengeroyoknya menjadi agak gentar. Di lain pihak, Kim Hong mempermainkan tiga orang pengeroyoknya dengan langkah-langkah ajaibnya yang membuat Tiat-ciang Lui Cai Ko beserta dua orang sute-nya kewalahan dan juga semakin penasaran.

Mereka lalu menubruk dan mencoba untuk menangkap, akan tetapi jangankan orangnya, ujung baju gadis itu pun tak pernah dapat tersentuh oleh tangan mereka. Hal ini membuat mereka menjadi penasaran dan marah sehingga kini mereka tidak hanya menubruk dan mencoba untuk menangkap saja, tetapi juga mulai menyerang dengan sungguh-sungguh untuk morobohkan nona yang amat lincah itu.

Betapa pun juga, makin ganas mereka bergerak, semakin cepat pula nona itu mengelak, sehingga pandang mata mereka seperti kabur dan kadang-kadang mereka tidak tahu ke mana nona itu mengelak atau bergerak.

"Duk-duk-duk-dukk...!"

Empat kali Lui Cai Ko terpaksa menangkis sambil mundur akibat terdesak hebat. Padahal, sejak menampar sikunya tadi, baru sekaranglah Kim Hong membalas serangan tiga orang lawannya yang bertubi-tubi sampai tiga puluh jurus itu! Tetapi sekali membalas, Kim Hong sudah dapat mendesak Si Tangan Besi dengan empat kali tamparan berturut-turut. Setiap tamparan mengandung tenaga sinkang yang membuat tubuh si gendut yang rambutnya riap-riapan itu terhuyung-huyung.

Melihat ini dua orang sute-nya cepat menubruk dari kanan kiri membantu, akan tetapi Kim Hong menunggu sampai keduanya menyerang dekat, lalu tiba-tiba tubuhnya meloncat ke atas dan kedua kakinya terpentang ke kanan kiri. Itulah tendangan yang istimewa sekali, yang sekaligus menghantam dada kedua orang yang menyerang dari kanan dan kiri itu, mendahului serangan mereka dengan tangan yang belum sampai!

"Desss! Desss!"

Tubuh kedua orang itu terlempar ke kanan kiri. Mereka menyeringai karena dada mereka terasa sesak sekali dan napas mereka seperti berhenti. Sambil memegangi dada mereka bangkit dan mata mereka menjadi merah.

Juga Lui Cai Ko marah sekali. Tak disangkanya bahwa dia, jagoan yang terkenal, dibantu oleh dua orang sute-nya, bukan hanya tidak sanggup menawan gadis ini, bahkan mereka bertiga sudah mengalami malu karena terpukul dan tertendang oleh gadis itu. Akan tetapi, ada kekuasaan yang lebih tinggi dari pada Lui Cai Ko yang membuat dia masih ingat akan perintah yang diberikan kepadanya.

Dia tetap tidak berani melanggar perintah itu hanya karena perasaan pribadi yang marah dan penasaran. Dia tidak berani mempergunakan senjata untuk menyerang, tidak berani melukai apa lagi sampai membunuh wanita ini karena hal itu berarti melawan perintah dan dia merasa ngeri untuk mempertanggung jawabkan hal itu. Maka, walau pun dia merasa marah serta mendongkol sekali, terpaksa dia lalu membuka mulut dan terdengarlah suara suitan panjang dan nyaring keluar dari mulut si gendut ini.

Kim Hong terkejut dan menduga-duga apa maksud tanda rahasia itu. Memanggil kawan? Dia tentu merasa kewalahan dan memanggil kawannya, pikir Kim Hong. Mungkinkah kini ia memperoleh kesempatan untuk berhadapan dengan kepala penjahat yang mendalangi ini semua dan yang menguasai peta? Jantungnya berdebar tegang dan dia pun menanti saja.

Ia mengerling ke arah Kok Siang dan melihat bahwa lawan pemuda itu kini tinggal empat orang lagi karena yang tiga sudah roboh oleh pena sastrawan yang lihai itu. Empat orang itu pun kini bergerak mundur sambil tetap mengepung sesudah mendengar guru mereka mengeluarkan suara bersuit tadi.

Tidak lama kemudian muncullah banyak orang yang langsung mengepung tempat itu dan Kim Hong benar-benar merasa heran dan terkejut begitu melihat bahwa yang mengepung tempat itu adalah pasukan pemerintah! Pasukan itu dipimpin oleh seorang perwira yang berpakaian indah dan gagah, berusia empat puluh lima tahun dan bertubuh tinggi besar. Cepat Kim Hong meloncat mendekati Kok Siang yang juga memandang dengan heran.

"Berhenti semua dan lepas senjata!" Bentak perwira itu dengan suara yang agaknya telah terbiasa mengeluarkan aba-aba atau perintah yang harus ditaati. "Yang berani bergerak dianggap pemberontak dan akan dihukum! Kalian berdua telah menimbulkan perkelahian dan kekacauan di tempat umum, semua harus menyerah dan ikut bersama kami ke kantor untuk dibawa ke pengadilan!"

Kim Hong dan Kok Siang saling pandang. Tiba-tiba saja Kok Siang berbisik halus sekali sehingga hanya gadis itulah yang mungkin dapat mendengarnya, "Aku tahu di mana peta yang asli."

Kim Hong terkejut sekali. Otaknya bekerja dengan cepat. Dia tidak meragukan kebenaran omongan pemuda ini dan tentu karena melihat bahaya maka pemuda sastrawan ini cepat membuka rahasia itu, atau karena sudah percaya penuh kepadanya.

Bagaimana pemuda ini dapat mengetahui di mana adanya peta yang asli? Kalau begitu, yang kini menguasai peta tentu hanya menguasai peta palsu! Bagaimana mungkin terjadi demikian? Bukankah Ciang Kim Su dan pamannya, Su Tong Hak, telah membagi peta itu menjadi dua bagian dan peta yang dibawa Ciang Kim Su itu adalah peta yang asli? Apa yang sesungguhnya telah terjadi?

Pikirannya yang amat cerdas segera mencari sebab-sebab dan dugaan-dugaan. Tentu ada hubungannya dengan mendiang Louw siucai! Di antara semua orang, yang pertama kali mengetahui akan rahasia peta itu adalah Liuw Siucai. Bahkan dialah orang pertama yang sudah dapat mengetahui akan isi peta sebenarnya, karena dialah yang menterjemahkan peta itu!

Akan tetapi, bagaimana siucai itu dapat menguasai peta aslinya? Apa yang sudah terjadi? Dia tidak sempat untuk bertanya, karena di sana terdapat banyak orang dan pasukan itu sudah mengepung ketat. Ketika dia melihat pasukan mengepungnya, timbul kemarahan di dalam hatinya. Akan tetapi Kok Siang bersikap lain.

"Ciangkun, kami berdua tak bersalah. Kami berdua sedang duduk bercakap-cakap di sini lalu gerombolan ini datang menyerang kami, agaknya mereka hendak merampok kami!" katanya membela diri.

"Bohong! Mana buktinya kami merampok?" Lui Cai Ko membentak marah.

"Cukup, tidak perlu cekcok!" Perwira itu menegur. "Aku tidak peduli siapa di antara kalian yang bersalah. Yang sudah jelas, kalian berkelahi di sini dan hal ini berarti mendatangkan kekacauan. Kalian semua harus menyerah untuk kami bawa ke pengadilan!"

Kim Hong mengerutkan alisnya hendak membantah, akan tetapi Kok Siang lalu berkata, sikapnya halus menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang terpelajar. "Baik, ciangkun. Kami percaya bahwa pengadilan tentu akan menyelidiki kemudian memberikan keputusan yang seadil-adilnya. Mari, adik Hong, kita ikut ke kantor pengadilan."

Kim Hong cukup cerdik untuk mengerti kenapa pemuda itu bersikap mengalah. Kok Siang adalah penduduk Thian-cin yang telah dikenal, maka sangatlah berbahaya baginya kalau sampai dia dianggap melawan pasukan dan memberontak. Berbeda dengan Kim Hong yang belum dikenal, apa lagi mengingat bahwa tempat tinggal wanita ini juga jarang ada yang mengetahuinya.

Untuk membiarkan Kok Siang ditangkap sendiri dan dia melarikan diri, Kim Hong merasa tidak tega. Apa lagi setelah ia tahu bahwa pemuda itu tahu di mana peta yang asli, maka pemuda itu menjadi amat penting baginya. Dia harus melindungi pemuda ini agar jangan sampai peta yang asli terjatuh pula ke tangan penjahat. Maka dia pun mengangguk dan menyetujui.

Sepuluh anggota gerombolan itu bersama Kim Hong dan Kok Siang lantas digiring oleh pasukan menuju ke kantor kejaksaan. Sepuluh orang itu langsung dimasukkan ke dalam kamar tahanan besar, sedangkan Kim Hong dan Kok Siang dibawa ke bagian belakang di mana terdapat beberapa buah kamar tahanan.

"Kalian berdua harus tinggal di dalam kamar tahanan ini dulu sambil menanti datangnya pembesar yang akan membuka sidang pengadilan," perwira itu berkata sambil membuka daun pintu kamar tahanan. Tentu saja Kim Hong merasa marah dan mengerutkan alisnya.

"Kami bukan penjahat, kenapa mesti dijebloskan dalam kamar tahanan?"

Akan tetapi, kembali Kok Siang yang berkata dengan sikap tenang dan suara halus. "Jika memang demikian peraturannya, kita tidak perlu membantah. Pula, kita sama sekali tidak bersalah, takut apa? Biarlah kita menunggu di sini." Dan pemuda itu pun lalu memasuki kamar tahanan.

Melihat sikap pemuda ini, terpaksa Kim Hong mengalah. Kemudian, sambil cemberut dan mukanya merah saking marahnya, dia pun terpaksa turut masuk. Pintu kamar sel yang terbuat dari pada besi itu lalu dikunci dari luar, ada pun perwira itu bersama pasukannya masih berjaga di situ.

Melihat wajah perwira itu yang kelihatan girang sekali, diam-diam Kim Hong merasa tidak enak. Ia merasa bagai seekor harimau yang dijebak ke dalam kerangkeng. Akan tetapi ia sama sekali tidak merasa khawatir. Bagaimana pun juga, dia terjatuh ke tangan petugas pemerintah, bukan tangan penjahat. Dan kalau dia mengbendaki, apa sih sukarnya untuk membongkar pintu kamar itu dan meloloskan dirinya?

Pikiran ini membuatnya menjadi tenang, akan tetapi karena perwira bersama para anak buahnya masih berada di luar kamar, dia tidak dapat bicara dengan leluasa kepada Kok Siang Sesungguhnya, ingin sekali dia mengajukan banyak pertanyaan mengenai peta itu dan rahasianya. Karena hal itu tidak mungkin dilakukan pada waktu itu, Kim Hong lantas duduk bersila di tengah ruangan yang tidak berapa luas itu untuk mengumpulkan tenaga dan menenangkan hatinya yang diliputi rasa penasaran dan kemarahan itu.

Sedangkan Kok Siang sendiri juga duduk di sudut kamar itu dengan tenang-tenang saja. Urusan perkelahian adalah urusan kecil dan para pembesar pengadilan tentu akan lebih percaya kepada keterangannya dari pada keterangan orang semacam Lui Cai Ko yang kasar. Paling tidak, dia lebih pandai bicara, lebih sopan dan sebagai seorang terpelajar, tentu dia akan memperoleh perhatian dan penghormatan dari para petugas pengadilan.

Tidak dapat disangkal lagi bahwa Bu Kok Siang adalah seorang pemuda pilihan, pandai dalam ilmu silat, juga ahli sastera serta mempunyai pengetahuan yang cukup luas. Akan tetapi, bagaimana pun juga, dia masih muda dan belum mengenal benar akan kepalsuan manusia seperti keadaan yang sesungguhnya.

Kebenaran dan keadilan selalu menjadi lemah dan goyah di mana terdapat kekuasaan yang jauh lebih hebat, yaitu ketamakan akan uang! Uang berarti kesenangan. Di bagian dunia mana pun, manusia benar-benar telah dicengkeram serta dikuasai oleh uang atau lebih luas lagi, dikuasai oleh keinginan untuk memperoleh kesenangan. Dan kesenangan ini, harus diakui, hanya bisa dicapai kalau orang mempunyai uang.

Untuk memperoleh uang sebagai sarana utama agar dapat hidup senang ini, maka orang tidak segan-segan melakukan apa saja! Dari yang paling licin sampai yang paling keji dan kejam. Orang tidak segan-segan untuk berpura-pura, untuk merendahkan diri sedemikian rupa, untuk menipu, untuk menyiksa kalau perlu membunuh, menjadi penjahat-penjahat, wanita menjual diri menjadi pelacur, pendeknya segala kemaksiatan itu terdorong oleh keinginan mendapatkan uang sebanyaknya. Uang membuat apa saja dapat terjadi, yang nampaknya tidak mungkin sekali pun!


Kok Siang tidak atau belum sadar bahwa karena kekuasaan uang, dia akan menghadapi hal-hal yang nampaknya tidak mungkin terjadi. Dia tidak pernah menduga bahwa seorang pembesar tinggi dapat saja melakukan hal-hal yang lebih rendah dari pada pencuri atau perampok, karena kehausan akan uang.

Kedudukan disalah gunakan, kekuasaan menjadi alat untuk mencari uang sebanyaknya, martabat terlupa, hati nurani tiada bisikan murni lagi, prikemanusiaan menipis, semua ini terjadi apa bila manusia telah dikuasai oleh pengejaran kesenangan melalui pengumpulan uang. Halal atau tidak sudah tidak diperhitungkan lagi.

Dan hal ini kemudian menjadi suatu kebiasaan dan bila sudah menjadi kebiasaan, ahlak makin menipis sehingga keburukannya tidak terasa atau teringat lagi. Orang yang untuk pertama kali melakukan pencurian tentu akan merasa adanya penyesalan dalam hatinya, penyesalan yang datang karena kesadaran bahwa apa yang dilakukannya itu adalah tidak baik atau tidak benar. Akan tetapi kalau dia sudah terbiasa dengan perbuatan mencuri, maka penyesalan itu akan semakin menipis dan akhirnya lenyap sama sekali. Demikian pula dengan segala macam kemaksiatan lainnya.


Bu Kok Siang masih tebal kepercayaannya akan kebenaran dan keadilan. Dia tidak tahu bahwa pengaruh kesenangan melalui penumpukan uang sudah menjalar sampai ke mana pun, sampai ke dalam kantor-kantor para pembesar, bahkan sampai ke dalam istana. Dan kantor kejaksaan itu pun tak terluput, kantor pengadilan pun telah digerayangi oleh setan ini sehingga yang namanya keadilan pun dikemudikan oleh uang!

Selagi kedua orang muda itu tenggelam ke dalam keheningan masing-masing, mendadak terdengar suara keras dan lantai di dalam kamar tahanan itu pun terbuka ke bawah! Hal ini terjadi sedemikian cepat dan tiba-tiba sehingga mengejutkan Kim Hong dan Kok Siang karena mendadak tubuh mereka kehilangan tempat berpijak sehingga terjeblos ke bawah.

Akan tetapi, mereka adalah dua orang yang terlatih baik dan sudah menguasai ilmu silat sehingga gerakan ilmu itu sudah mendarah daging dalam tubuh mereka. Terutama sekali Kim Hong yang memiliki ginkang tinggi. Begitu tubuhnya terjeblos ke bawah, dia langsung mengeluarkan teriakan nyaring dan tubuh yang telah meluncur ke bawah itu tiba-tiba saja telah membuat gerakan dengan kaki yang mengenjot atau menendang ke bawah, ada pun kedua tangannya bergerak seperti sayap dan tubuhnya sudah mencelat lagi ke atas!

Kok Siang juga telah berhasil meloncat ke atas, akan tetapi ginkang-nya tak sehebat Kim Hong sehingga tubuhnya kembali meluncur ke bawah karena dia tidak bisa berpegangan pada apa pun. Berbeda dengan Kim Hong yang mampu membuat gerakan menyamping sehingga tubuhnya yang mencelat ke atas itu bisa meluncur ke arah pintu besi. Kim Hong mengerahkan tenaga sinkang-nya dan sambil meluncur ke arah pintu, dia menggerakkan kaki tangannya untuk menerjang pintu dan membobolkannya.

Akan tetapi ia melihat seorang kakek berusia lima puluh tahun lebih, bertubuh hitam tinggi besar, mendadak muncul di luar daun pintu berjeruji itu dan kakek itu pun mendorongkan dua tangannya menyambut terjangan Kim Hong. Dari dorongan kedua tangan ini segera menyambar hawa pukulan dahsyat sekali yang amat mengejutkan pendekar wanita itu. Ia mengenal tenaga yang amat kuat, maka Kim Hong lalu mengerahkan seluruh tenaganya pula.

"Brakkkkk...!"

Pintu besi yang kokoh kuat itu tidak sanggup menahan himpitan dua tenaga raksasa dari dalam dan luar kamar, pecah dan patah-patah berantakan. Akan tetapi, tubuh Kim Hong yang tertahan oleh tenaga kakek itu pun terdorong ke belakang dan tentu saja sekarang meluncur ke bawah tanpa dapat dicegah pula.

Sebaliknya, kakek itu sendiri pun terdorong mundur sampai empat langkah. Agaknya dia terkejut bukan main, mengeluarkan seruan aneh, mukanya pucat dan matanya terbelalak. Dia tidak mengira bahwa gadis muda itu sedemikian lihainya.

Sementara itu, tubuh Kim Hong yang meluncur ke bawah itu tiba-tiba sudah diterima oleh sepasang lengan yang kuat. Karena di tempat itu amat gelap, maka Kim Hong tidak dapat melihat siapa yang menerimanya dengan pondongan sepasang lengan itu, akan tetapi dia merasa jantungnya berdebar keras dan mukanya terasa panas ketika mendengar suara yang dikenalnya,

"Hong-moi, engkau tidak apa-apa?"

Kiranya yang menerima tubuhnya itu adalah Kok Siang! Tentu saja ia merasa malu dan cepat meloncat turun. "Aku tidak apa-apa, dan engkau?"

"Untung bahwa lantai yang menjadi dasar tempat ini agak lunak sehingga aku tak sampai terluka. Tadi ketika melihat ada tubuh meluncur dari atas, aku merasa khawatir sehingga menangkapmu. Maafkan aku, adik Hong."

Betapa sopan pemuda ini, pikir Kim Hong. Dia mengerti bahwa pemuda itu sama sekali tidak mempunyai bayangan pikiran kotor saat menerima tubuhnya. Dan sekarang, melihat dia tidak apa-apa dan sesungguhnya tidak perlu ditangkap dalam pondongan, pemuda itu minta maaf. Bagaimana mungkin dia bisa marah terhadap pemuda seperti ini?

"Tidak apa-apa dan terima kasih, Bu-twako. Kita berada di mana? Kita harus dapat keluar dari tempat ini. Tak kusangka bahwa kita telah terjebak."

"Tadi sudah kuperiksa dengan teliti, akan tetapi baru sebentar karena kulihat engkau jatuh ke bawah. Agaknya tempat ini buntu, merupakan lubang seperti sumur. Sama sekali tidak ada jalan keluar dari sini kecuali melalui atas."

"Belum tentu. Mari kita periksa lagi dengan meraba-raba."

Mereka pun mulai meraba-raba pada sepanjang dinding yang bentuknya bundar seperti sumur itu.

"Apakah yang telah terjadi? Bukankah kita dimasukkan kamar tahanan kantor kejaksaan? Mengapa kita terjebak seperti ini? Mungkinkah di kantor pemerintah ada tempat jebakan seperti ini?" Sambil memeriksa dinding, Kok Siang mengomel karena dia sungguh merasa penasaran dan terheran-heran.

"Ahh, twako. Di mana pun juga, apa pun juga kedudukannya, manusia tetap merupakan makhluk yang palsu dan kejam. Sebenarnya aku sudah tidak setuju untuk menyerahkan diri. Kurasa penangkapan itu memang sudah diatur sebelumnya. Tentu ada hubungannya antara Tiat-ciang Lui Cai Ko dengan perwira itu. Dan kulihat tadi kakek yang menyambut pukulanku ke arah pintu, hemmm... sungguh dia seorang lihai, seorang lawan tangguh."

"Siapa dia?"

"Aku belum pernah mengenalnya, akan tetapi aku dapat menduganya. Mungkin dia itulah yang menjadi dalang dan biang keladi ini semua, yang menjadi raja penjahatnya."

"Siapa?" Pemuda itu berhenti meraba-raba karena memang sekeliling dinding ruangan itu tanah padas belaka.

"Kalau tidak salah tentu yang bernama Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng."

"Ahhh...!"

"Kau mengenal dia?"

"Mengenal orangnya sih belum, akan tetapi siapa yang tak pernah mendengar namanya? Pat-pi Mo-ko adalah nama seorang datuk kaum sesat yang baru. Semenjak empat orang datuk kaum sesat itu lenyap, boleh dibilang dia inilah yang dikenal sebagai datuk. Engkau tentu pernah mendengar nama-nama keempat datuk kaum sesat, bukan? Pertama adalah See-thian-ong datuk dunia barat yang kabarnya telah tewas oleh Pendekar Sadis. Ke dua adalah Pak-san-kui Siongkoan Tiang yang kabarnya juga tewas di tangan Pendekar itu. Ke tiga adalah Tung-hai-sian datuk timur yang kini sudah melepaskan kedudukannya dan mencuci tangan, hidup sebagai seorang saudagar yang tidak pernah mencampuri urusan dunia kang-ouw lagi. Ke empat adalah Lam-sin datuk selatan yang lenyap tanpa ada yang tahu ke mana perginya. Nah, setelah keempat orang datuk kaum sesat itu lenyap, lantas muncullah Pat-pi Mo-ko ini!"

Tentu saja apa yang diceritakan oleh Kok Siang itu diketahui dengan baik oleh Kim Hong karena dia sendirilah yang dulu menyamar sebagai seorang nenek yang berjuluk Lam-sin. Dengan sendirinya dia tidak tertarilk oleh cerita itu, akan tetapi dia sangat memperhatikan nama Pat-pi Mo-ko.

"Jadi Pat-pi Mo-ko ini mengangkat diri menjadi pengganti para datuk itu?"

"Bukan mengangkat diri menjadi datuk, namun semua penjahat di seluruh empat penjuru takut dan menganggap dia sebagai datuk mereka karena ilmunya yang sangat hebat dan kekejamannya terhadap siapa saja yang tak mau tunduk kepadanya. Akan tetapi, selalu dia bekerja secara rahasia, bahkan para anak buahnya sendiri tidak pernah berhubungan langsung dengannya dan siapa saja yang ingin mengetahui rahasianya tentu dibunuhnya. Apa lagi membuka rahasianya. Dia orang aneh dan hanya dugaan orang saja dia berada di kota raja sebagai sarangnya, karena dia sering mengirim perintah dari kota raja. Kalau saja benar dia yang berdiri di belakang urusan harta karun Jenghis Khan ini..." Kok Siang berhenti seolah-olah merasa terlanjur bicara.

Keadaan di sumur itu amat gelap, mereka hanya dapat saling melihat bayangan masing-masing. Akan tetapi suara ini cukup bagi Kim Hong yang segera mendesak.

"Harta karun Jenghis Khan? Peta dari dusun itu?"

"Ya, jika benar dia yang memimpin semua itu, celakalah. Agaknya hanya Pendekar Sadis saja yang akan sanggup menghadapinya dan kabarnya, dia tidak pernah muncul karena jeri terhadap Pendekar Sadis yang sudah membunuh See-thian-ong dan Pak-san-kui. Dia sendiri kabarnya adalah seorang sute dari mendiang See-thian-ong. Kalau saja Pendekar Sadis dapat muncul... ahh… aku... sungguh mengagumi kegagahan pendekar itu."

Kim Hong diam saja. Ia pun memikirkan Thian Sin. Di sini ia terjebak bersama Kok Siang! Apa dayanya? Dan apakah Thian Sin akan bisa menemukan mereka sebelum terlambat? Tiba-tiba terdengar suara mendesis dan tempat itu segera penuh dengan asap!

"Celaka, asap beracun!" seru Kok Siang sambil mendekap hidung dan mulutnya.

"Ahhh, terlambat...!" Kim Hong juga berseru, melanjutkan lamunannya tentang Thian Sin tadi.

"Cepat tiarap dan rapatkan muka ke lantai!"

Mereka cepat-cepat bertiarap. Akan tetapi usaha ini hanya dapat menolong sejenak saja dan memperpanjang siksaan mereka karena akhirnya tempat itu penuh dengan asap dan setelah hawa udara di atas tanah itu habis, maka asap pun tersedot oleh mereka. Mereka terbatuk-batuk dan akhirnya keduanya roboh pingsan…..

********************

Thian Sin yang berada sendirian di dalam kamar hotelnya, tersenyum simpul mendengar jejak-jejak kaki halus di atas genteng kamarnya. Kim Hong telah pergi menyelidik tentang pemuda sastrawan yang mencurigakan itu dan dia juga sudah pergi menyelidiki ke rumah gedung tempat tinggal Bouw Wan-gwe (Hartawan Bouw) di mana tinggal Bouw In Bwee yang cantik jelita. Akan tetapi dia gagal untuk dapat berjumpa dengan gadis itu karena agaknya gadis itu tinggal di dalam kamarnya bersama beberapa orang pelayan dan dia tidak berani memaksa masuk ke dalam kamar.

Dia hanya menyelidiki keadaan gadis dan keluarganya dengan mencari keterangan di luar dan dia mendengar bahwa Bouw Siocia terkenal sebagai seorang gadis kaya raya yang berhati mulia, suka menolong orang dan di samping itu juga gadis ini dikenal mempunyai kepandaian silat tinggi sehingga semua orang mengagumi dan menghormatinya. Agaknya tidak ada yang mencurigakan pada diri gadis ini.

Maka, dia segera kembali ke kamar hotel, dengan keputusan untuk mengunjungi gadis itu secara berterang pada keesokan harinya, kalau bisa bersama dengan Kim Hong, sebagai sahabat-sahabat baru.

Namun pada malam hari ini, menjelang tengah malam, dia mendengar jejak kaki di atas genteng kamarnya itu. Bukan Kim Hong, pikirnya. Kalau Kim Hong yang datang, bahkan dia sendiri pun tidak akan dapat mendengar jejak kakinya, kecuali kalau dia sedang dalam semedhi dan mencurahkan seluruh perhatiannya. Dalam keadaan seperti itu, jarum jatuh pun akan terdengar olehnya. Namun dalam keadaan biasa, sukarlah dicari orangnya yang akan mampu mendengar telapak kaki Kim Hong yang memiliki ginkang hampir sempurna itu. Bukan, ini tentu orang lain. Ginkang-nya belum sehebat Kim Hong, akan tetapi sudah cukup lumayan, bukan penjahat biasa. Siapa lagi kalau bukan utusan para penjahat itu?

Dengan pendengarannya yang tajam, Thian Sin mengikuti gerak gerik orang yang datang itu tanpa bergerak dari atas pembaringannya di mana dia sedang duduk bersila. Karena dia kini memusatkan perhatiannya, maka dengan jelas dia dapat mengikuti gerakan orang itu.

Beberapa lamanya orang itu mendekam di atas genteng, membuka genteng mengintai ke dalam, lalu berlari di atas genteng, melompat turun dan menghampiri jendela kamarnya. Thian Sin tersenyum geli. Seorang penjahat yang masih hijau, pikirnya.

Akan tetapi, senyumnya segera lenyap dari mukanya ketika tiba-tiba dia mendengar suara berbisik dari luar jendela itu. "Taihiap... jangan kaget, aku yang datang..."

Suara Bouw In Bwee! Tentu saja hal ini sama sekali tak pernah disangkanya dan jantung pemuda itu berdebar kencang. Mau apa gadis itu malam-malam datang mengunjunginya dan dalam keadaan yang demikian mencurigakan? Apakah ini merupakan perangkap dan tipu muslihat pula dari pihak lawan?

Dia harus selalu berhati-hati. Pihak lawan agaknya tak akan pernah berhenti dalam usaha mereka untuk memperoleh kunci emas itu. Dan siapa tahu gadis jelita ini pun merupakan salah seorang di antara mereka, walau pun menurut penyelidikannya siang tadi, agaknya tidak mungkinlah bila seorang gadis seperti In Bwee menjadi kaki tangan penjahat! Akan tetapi, siapa tahu?

Sebelum Thian Sin sempat menjawab, daun pintu telah didorong dari luar sehingga jebol, kemudian gadis itu dengan pakaian serba hitam yang ringkas dan ketat, yang membuat tubuhnya kelihatan demikian menggairahkan dengan lekuk lengkung sempurna, meloncat masuk dengan ringannya lalu cepat-cepat menutupkan kembali daun pintu itu.

"Ahh, nona Bouw In Bwee...! Kenapa masuk seperti itu dan menutupkan daun jendela?" tegur Thian Sin sambil tersenyum dan melompat turun.

In Bwee membalikkan tubuhnya dan sejenak mereka bertukar pandang. Di bawah cahaya lilin tunggal itu, wajah yang halus manis itu nampak kemerahan.

"Habis, apakah aku harus berkunjung secara terang-terangan dan biar terlihat oleh orang lain? Betapa janggalnya seorang gadis berkunjung di tengah malam melalui pintu depan begitu saja!"

"Lalu... tentu ada hal penting sekali maka gadis itu datang berkunjung pada tengah malam melalui atas genteng dan membongkar jendela!" kata pula Thlan Sin, masih tersenyum.

Wajah gadis itu menjadi semakin merah seperti terbakar api lilin dan mukanya menunduk, akan tetapi segera diangkatnya kembali dan dengan mata berseri ia memandang pemuda itu. "Apakah engkau menyesal atas kedatanganku, taihiap? Jika begitu, biarlah aku pergi saja..." Dan dia membuat gerakan hendak membuka daun jendela.

Akan tetapi Thian Sin bukan anak kecil. Sudah beberapa kali dia bergaul dengan wanita dan dia sudah mengenal benar kemanjaan dan kepura-puraan dalam sikap wanita seperti yang diperlihatkan gadis itu. Dia pun memegang tangan gadis itu.

"Tunggu dulu, nona. Siapa bilang aku menyesal? Aku merasa gembira sekali, seolah-olah kejatuhan bulan dan aku merasa terhormat sekali!"

In Bwee membalik lagi. Tangan kirinya yang kecil lembut itu masih dipegang oleh Thian Sin. Tangan itu menggelepar hangat, terasa oleh Thian Sin seperti seekor burung pipit di dalam genggamannya. Lalu In Bwee menarik perlahan tangannya, dan sambil tersenyum simpul dia bertanya,

"Beginikah menerima tamu? Tidak disuruh duduk? Betapa sopannya..."

Thian Sin tertawa. "Aihh, maaf. Silakan duduk, nona."

In Bwee lalu duduk di atas kursi, sedangkan Thian Sin duduk pula di atas pembaringan. Sejenak mereka kembali berpandangan dan gadis itu tersenyum manis.

"Kau bilang tadi girang seperti kejatuhan bulan? Jika benar kejatuhan bulan, mungkinkah masih dapat bergirang hati? Aku pernah membaca dalam kitab kuno bahwa bulan hanya indah dan kecil nampak dari sini. Padahal merupakan sebuah dunia yang besar!"

Thian Sin tersenyum. "Bukan begitu maksudku. Akan tetapi bulan demikian indahnya dan wajahmu juga indah dan manis seperti bulan..."

"Ihhhh...! Engkau perayu benar, Ceng Taihiap!" In Bwee melempar senyum dan kerling tajam memikat.

Thian Sin menduga-duga apa gerangan yang tersembunyi di balik senyum dan kerling itu. Kalau benar gadis ini merupakan kaki tangan penjahat, tentu mudah diterka. Senyum dan kerling itu merupakan daya pikat, untuk memikat dirinya. Pihak lawan yang agaknya telah kewalahan untuk menundukkannya melalui kekerasan, tentu mungkin saja menggunakan kecantikan seorang gadis seperti In Bwee ini untuk menjatuhkannya.

Akan tetapi, mungkinkah In Bwee menjadi kaki tangan penjahat? Ia adalah puteri seorang hartawan besar, pandai silat dan hidupnya terhormat, juga terkenal sebagai seorang gadis gagah perkasa yang budiman. Mana mungkin menjadi kaki tangan penjahat?

"Nona, katakanlah terus terang saja, apa maksud kedatangan nona mengunjungiku pada tengah malam seperti ini? Sungguh mati, aku merasa heran sekali dan ingin tahu."

Gadis itu tersenyum lagi, lebih manis, dan dia memandang langsung dengan sinar mata tajam, seolah-olah hendak menembus dan menjenguk isi hati pemuda itu. "Ceng Taihiap, coba katakan padaku, apa yang sepatutnya menyebabkan seorang gadis seperti aku ini malam-malam datang mengunjungi seorang pendekar sepertimu?" Sungguh merupakan jawaban yang sekaligus merupakan pertanyaan yang jelas menantang!

Diam-diam Thian Sin merasa semakin tegang dan terheran. Apakah gadis ini merupakan seorang petualang asmara? Ini lebih besar kemungkinannya, mengingat ia seorang gadis kaya dan lihai. Apa lagi kalau bukan seorang petualang cinta? Namun, pikirannya masih terikat akan urusan peta dan kunci emasnya, maka dia pun mencoba dan memancing.

"Hemmm, apa bila gadis itu selihai engkau, nona Bouw, maka besar kemungkinan kalau kunjunganmu ini untuk membalas dendam kepadaku."

In Bwee menggeleng kepala keras-keras. "Tidak ada urusan apa-apa antara engkau dan aku yang boleh membuat aku sakit hati. Lagi pula, kalau aku hendak membalas dendam, apakah caranya mengunjungi seperti ini, dalam keadaan akrab? Tentu semenjak tadi-tadi aku sudah mencoba untuk menyerangmu, baik dari atas genteng, dari luar jendela, atau sekarang. Bukan mengajakmu bercakap-cakap secara santai begini."

"Kemungkinan ke dua adalah bahwa kunjunganmu ini mengandung maksud tertentu..."

"Tentu saja, yang kutanyakan adalah apakah kira-kira maksud itu?"

"Mungkin saja untuk menyelidiki aku." Thian Sin memandang wajah itu dengan tajam saat mengucapkan kata-kata pancingan ini.

"Menyelidikimu?" Biar pun cahaya lilin itu tidak cukup terang, akan tetapi Thian Sin yang memandang penuh perhatian itu dapat melihat adanya perubahan pada wajah yang cantik itu. "Menyelidiki apanya?"

"Hemm... misalnya... menyelidiki tentang kunci emas..."

Sekarang gadis itu benar-benar terkejut. "Kunci... kunci emas...? Apa... apa maksudmu, taihiap?"

Thian Sin tertawa. "Maksudku adalah seperti yang kau maksudkan."

"Ahh, harap jangan mengada-ada, taihiap. Aku datang sebetulnya..."

Melihat keraguan gadis itu Thian Sin mendesak. "Sebetulnya bagaimana?"

"Karena aku... kagum sekali padamu. Semenjak kita bertemu di restoran itu, aku merasa amat kagum dan..."

"Ya? Bagaimana?"

"Aku... aku ingin mempererat persahabatanku denganmu."

"Begitukah? Sungguh beruntung sekali aku! Tentu saja kuterima dengan tangan dan hati terbuka!"

Gadis itu mengangkat muka. Wajahnya yang tersorot cahaya lilin kemerahan itu sunggub cantik manis. "Dengan hati terbuka? Kulihat hatimu sudah tertutup penuh oleh enci Kim Hong..."

Thian Sin tersenyum. Ternyata benar saja, gadis cantik manis yang kaya raya ini adalah seorang petualang asmara! Mungkin juga hendak memikatnya. Kita sama-sama lihat saja, pikirnya. Siapa yang terpikat nanti!

"Ha-ha, In Bwee yang manis, dalam hatiku masih terbuka ruang yang lebar untuk seorang gadis seperti engkau!" Dan dia pun meraih dan menangkap pergelangan tangan gadis itu, lalu ditariknya ke arah dirinya.

"Ihh, mau apa kau?!" Gadis itu berseru dan kedua tangannya langsung mengirim pukulan bertubi-tubi ke arah muka, leher dan dada Thian Sin. Serangan yang sungguh-sungguh, bukan main-main dan dilakukan pada jarak sangat dekat. Namun, tentu saja serangan itu tidak terlalu berbahaya bagi Thian Sin.

"Plak-plak-plak-plak!"

Empat kali pukulan gadis itu dapat ditangkis dengan mudah oleh Thian Sin dan tangkisan terakhir disertai tangkapan pada kedua pergelangan tangan itu sehingga In Bwee hanya dapat meronta-ronta tanpa dapat memukul lagi.

"Lepaskan aku…! Lepaskan aku…!" serunya dengan suara lirih karena dia pun tidak ingin membangunkan para tamu di kamar-kamar lain.

Akan tetapi Thian Sin belum mau melepaskan pegangan kedua tangannya. "Benar-benar hebat. Tengah malam engkau datang memasuki kamarku, kemudian merayu dan bahkan sekarang hendak membunuhku. Nona Bouw In Bwee, sebenarnya apa sih yang engkau kehendaki dariku?"

"Lepaskan aku...! Kau... laki-laki kurang ajar!" In Bwee masih meronta-ronta, akan tetapi pegangan kedua tangan pemuda itu sungguh kuat bukan main.

"Kau dengar baik-baik, nona manis. Aku Ceng Thian Sin selama hidupku belum pernah memakai kekerasan untuk memaksa seorang wanita mencintaku. Aku bukannya seorang jai-hwa-cat, aku bukan pula seorang hidung belang. Aku hanya akan mendekati wanita kalau wanita itu pun menghendakiku. Maka, jangan khawatir, nona. Ingat, yang datang ke kamarku malam-malam adalah engkau." Sesudah berkata begini, Thian Sin menarik nona itu mendekat, lantas memegang kedua pergelangan tangan yang kecil itu dengan jari-jari tangan kanannya, dan dengan tangan kirinya yang kini bebas itu dia menjambak rambut In Bwee, menarik mukanya mendekat lalu mencium bibir itu.

"Uhh... uhhh...!" In Bwee meronta-ronta, akan tetapi makin meronta, ciuman itu semakin kuat hingga akhirnya tubuhnya terkulai lemas, dia menyerah dan terisak. Ketika Thian Sin melepaskannya, dia pun langsung jatuh terkulai di atas pembaringan.

"Itu tadi adalah hukumanmu karena engkau sudah datang di sini pada tengah malam dan mencoba merayuku, lantas menyerangku tanpa memberi tahukan sebab-sebabnya. Sudah selayaknya kalau engkau dipukul, akan tetapi aku tidak tega. Nah, ciaman itu tadi adalah hukumannya sebagai pengganti pukulan. Sekarang, bicaralah atau keluarlah!"

In Bwee yang menerima tugas dari suhu-nya untuk merayu dan menjatuhkan pemuda ini, dengan menggunakan kecantikannya, kini sadar bahwa usaha yang dilakukannya secara terpaksa itu sudah gagal sama sekali. Ketika tadi kedua lengannya ditangkap tanpa dia mampu melepaskan diri, lalu ketika dia dicium, hatinya sudah jatuh terhadap kegagahan pria ini. Seorang pria yang luar biasa!

Kini dia mengangkat tubuhnya, duduk dan memandang kepada pemuda itu dengan mata basah dan berlinang air mata. Dia lalu teringat akan keadaan dirinya, akan tekanan yang dilakukan oleh pamannya atau gurunya dan tiba-tiba dia pun menangis sesenggukan.

"Hemm, masih belum terlambat bagimu untuk bisa memperbaiki semua kesalahan, nona. Jangan menangis, aku paling tidak tahan jika melihat wanita cantik menangis." Thian Sin berkata halus sambil meraba pundak yang bergoyang-goyang itu.

Mendengar ucapan halus ini, tangis In Bwee makin menjadi dan dia pun merangkul dan menangis di atas dada Thian Sin, menangis sampai mengguguk.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner