HARTA KARUN JENGHIS KHAN : JILID-07


Thian Sin mengerti bahwa tangis ini bukanlah air mata buaya, bukan tangis buatan untuk menundukkan hatinya, akan tetapi tangis yang timbul dari hati duka dan menyesal. Maka dia pun merasa kasihan, lantas merangkul dan menggunakan tangannya untuk mengelus rambut kepala yang agak kusut itu. Sentuhan tangannya, rabaan dan elusan tangan yang lembut itu sama sekali tidak mengandung gelora birahi, melainkan rasa iba yang tulus dan hal ini terasa oleh In Bwee yang menjadi makin terharu.

"Maafkan aku... ahhh, Ceng-taihiap, maafkan aku..." Demikian dia berbisik-bisik di antara isaknya.

Thian Sin mendekap tubuh itu, dipeluknya dengan erat, diciumnya rambut yang harum itu lantas dia pun berkata. "Menangislah sepuasmu, kemudian kalau engkau suka, ceritakan padaku apa artinya semua ini, In Bwee."

Dara itu tak menjawab, menghabiskan isaknya di atas dada pemuda itu, membasahi baju Thian Sin dengan air matanya dan air hidungnya. Sesudah hatinya yang tadinya terhimpit itu terasa lapang, seakan-akan himpitannya terbawa keluar oleh air mata, maka dia pun mulai bicara.

"Taihiap, aku tahu bahwa engkau adalah Pendekar Sadis."

Tentu saja kalimat pertama ini sangat mengejutkan Thian Sin, sungguh pun tidak terlalu mengherankan karena memang sebagai Pendekar Sadis dia pernah menggegerkan kota raja sehingga sedikit banyak tentu ada juga yang mengenalnya. Dia hanya terkejut oleh pernyataan tiba-tiba ini karena tadinya dia tidak pernah menyangka bahwa gadis ini telah mengenalnya pula. Karena kagetnya, dia segera memegang kedua pundak gadis itu dan mendorongnya agar dia dapat memandang wajahnya.

Wajah itu masih pucat dan basah, juga matanya agak kemerahan dan memandang sayu. "Taihiap, anak buah suhu mengenalmu dan aku diberi tahu oleh suhu-ku..."

"Suhu-mu...?" Kini Thian Sin mulai mengerti. Keluarga gadis itu tak ada sangkut pautnya dengan rahasia harta karun Jenghis Khan, akan tetapi di sana ada suhu-nya!

"Ya, suhu-ku... juga pamanku..."

"Ahh, sekarang aku mengerti! Tentu dia itu Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng, bukan?"

Gadis cantik itu menarik napas panjang lantas mengangguk. "Taihiap, aku bertugas untuk menundukkanmu dengan rayuan, aku terpaksa... akan tetapi... mana mungkin hal itu aku lakukan terhadapmu yang telah kukagumi sejak kita pertama kali bertemu?"

Thian Sin menarik tubuh itu dan kembali memeluknya, diam-diam dia tersenyum senang. "Nona... ehh, In Bwee, adik yang manis, di antara kita telah terasa adanya suatu ikatan persahabatan yang akrab. Mana mungkin kita saling menundukkan? Engkau sudah tahu bahwa dulu memang aku pernah berjuluk Pendekar Sadis, julukan yang sebetulnya amat kubenci. Dan tentu engkau tahu pula bahwa aku datang ke sini sebagai wakil keluarga Ciang yang malang itu, untuk menemukan kembali peta harta karun Jenghis Khan yang dirampas dari tangan Ciang Kim Su. Nah, engkau sudah tahu tentang semua keadaanku, maka sebagai sahabat, sudah adil kalau aku pun dapat mengetahui latar belakang semua perbuatanmu ini."

Sampai lama In Bwee berdiam diri di dalam pelukan Thian Sin hingga akhirnya pemuda itu mengangkat mukanya dan mencium bibir itu. Ciuman yang halus dan mesra, bukan paksaan seperti tadi dan sekali ini, terdengar In Bwee mengeluh dan memejamkan kedua matanya, merasa seperti dihanyutkan dan tenggelam ke dalam kemesraan. Setelah Thian Sin melepaskan ciumannya, In Bwee menarik napas panjang kemudian menyembunyikan mukanya di dada pemuda itu.

"Taihiap... betapa mudahnya bagiku untuk jatuh cinta pada seorang pria seperti engkau. Akan tetapi aku tahu bahwa engkau dan enci Kim Hong saling mencinta, hidup sebagai suami isteri..."

"Hemm, pamanmu itu agaknya menyebar banyak mata-mata."

"Benar, aku tahu dan aku merasa iri sekali kepada enci Kim Hong. Betapa bahagianya mempunyai seorang suami atau kekasih sepertimu, taihiap. Aku... aku hanyalah seorang wanita yang malang, yang ternoda dan terhimpit..."

"Ceritakanlah, aku siap untuk membantumu."

"Semenjak kecil aku dilatih ilmu silat oleh pamanku yang mempunyai kepandaian tinggi. Engkau sudah mengenal namanya, yaitu Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng. Dia benar-benar sangat sakti, taihiap, harap engkau berhati-hati menghadapi dia. Ahh, betapa aku sudah mengkhianati guru dan pamanku dan aku tak akan dibiarkan hidup kalau dia mengetahui hal ini."

"Jangan khawatir, aku akan melindungi dan membelamu, adik In Bwee. Teruskan dahulu ceritamu."

"Aku sendiri tidak tahu benar tentang rahasia harta karun Jenghis Khan. Aku tidak pernah mencampuri urusan guruku, karena aku tidak suka akan cara hidupnya yang bergelimang dengan kejahatan dan dia selalu bergaul dengan para tokoh jahat. Ayahku sendiri juga membencinya, bahkan tidak mengakui lagi sebagai adiknya. Yang kutahu dari penuturan suhu hanyalah bahwa dia telah menguasai sebuah peta, akan tetapi tanpa adanya kunci emas, maka peta itu tak ada gunanya. Dan menurut suhu kunci emas itu ada pada kalian, yaitu padamu dan enci Kim Hong. Maka aku lalu diperintah oleh suhu untuk menyelidiki dirimu, untuk menundukkanmu dengan rayuan, bahkan bila perlu mengorbankan diri dan kehormatan asalkan aku bisa mendapatkan kunci emas itu, atau paling tidak keterangan darimu mengenai kunci emas itu. Nah, sudah kuceritakan semua! Lega hatiku sekarang, akan tetapi sekaligus juga khawatir, karena pengakuan ini mungkin merupakan keputusan mati bagiku..." Wajah itu pucat sekali, matanya terbelalak memandang ke arah pintu dan jendela, seolah-olah dia merasa takut kalau-kalau ceritanya tadi dicuri dengar orang lain.

"Jangan takut, tidak ada orang yang mendengarkan, kecuali aku. Kalau ada orang yang mendekat, aku tentu mengetahuinya," kata Thin Sin yang mengerti akan isi hati gadis itu. "Akan tetapi, Bwee-moi, sungguh aku merasa heran sekali. Kalau engkau memang tidak suka akan semua perbuatan dan watak suhu-mu, mengapa engkau mau saja diperintah olehnya! Kenapa engkau tidak menjauhinya saja?"

Ditanya demikian, kembali In Bwee menangis, air matanya mengalir keluar namun cepat dihapusnya dengan ujung lengan bajunya yang sudah basah, "Aku terpaksa, terhimpit... aku... aku pernah menyeleweng, pada waktu aku berusia delapan belas tahun, aku sudah menyerahkan diri, ternoda oleh seorang suheng-ku, murid suhu juga. Semua murid suhu adalah orang-orang dunia hitam! Suhu mengetahui hal ini, sedangkan murid itu tidak mau bertanggung jawab, lalu suhu menggunakan rahasia itu untuk menekanku. Jika aku tidak menurut, bukan saja dia hendak membuka rahasiaku itu agar diketahui oleh ayah, ibu dan oleh umum, akan tetapi dia mengancam pula untuk membunuh ayah, ibu dan keluargaku. Aku terpaksa, taihiap... aku terpaksa dan... aku takut..."

Thian Sin masih merangkul dan memeluknya. Diam-diam dia pun merasa kasihan kepada gadis ini. Seorang gadis yang lemah sehingga di dalam hidupnya sudah tersandung dan terjatuh. Betapa sukar dan beratnya menjadi wanita, pikirnya.

Kehormatan seorang wanita diukur dari keperawanannya. Sekali saja dia lemah sehingga tergelincir, maka hal itu merupakan mala petaka yang akan merubah jalan hidupnya, akan mempengaruhi sepanjang hidupnya. Rasa takut akan selalu membayanginya, takut kalau aib yang menimpa dirinya ketahuan.

Noda yang satu kali itu seolah-olah merupakan noda yang melekat kuat lahir batinnya, tidak dapat terhapus lagi sampai orangnya mati! Seolah-olah, tidak ada kejahatan di dunia ini yang lebih hebat dari pada seorang gadis kehilangan keperawanannya! Gadis seperti itu, seperti In Bwee itu, tidak akan diampuni, akan dikutuk, selalu dicaci, dihina dan tidak ada seorang pun laki-laki agaknya yang akan mau mengambilnya sebagai isteri! Seorang gadis yang kehilangan keperawanannya seolah-olah merupakan manusia yang paling kotor di dunia ini!

Thian Sin menarik napas panjang. Persoalan ini pernah dia bicarakan dengan Kim Hong dan mereka sependapat. Tentu saja, seorang gadis yang menyerahkan keperawanannya begitu saja kepada seorang pria tanpa melewati sebuah pernikahan yang sudah menjadi hukum dan kebiasaan umum, merupakan perbuatan yang bodoh, hanya terdorong oleh nafsu dan kelemahan.

Akan tetapi, hal ini bukan berarti bahwa selama hidup dia tidak dapat sembuh dan sama sekali tidak adil kalau dijadikan semacam noda kotor yang menjijikkan sehingga para pria akan menolaknya sebagai barang hina! Apa lagi bagi Kim Hong yang dulu menyerahkan keperawanannya pada Thian Sin tanpa syarat apa pun, karena ikatan sumpah dan karena memang cinta. Anggapan yang sudah merupakan pendapat umum tentang hal itu sangat ditentangnya.

Kim Hong sudah banyak memperbincangkan hal ini dengan Thian Sin, bahkan berdebat. Upacara dan pesta pernikahan adalah suatu hal untuk umum, akan tetapi hubungan sex dan cinta adalah urusan pribadi dua orang yang bersangkutan. Orang yang benar-benar mencinta, tidak mungkin akan mau mencelakakan orang yang dicintanya itu. Apa bila ada seorang pemuda mencinta seorang dara, benar-benar mencintanya, bukan sekedar suka hanya karena dorongan nafsu, tentu pemuda itu akan selalu menjaga supaya orang yang dicintanya itu tidak sampai mengalami bencana, apa lagi kalau bencana itu terjadi karena ulahnya.

Pandangan umum dan tradisi memutuskan bahwa hubungan sex di luar nikah merupakan suatu perbuatan yang buruk dan hina maka pelanggarnya, khususnya kaum wanita, akan dipandang rendah dan menderita aib. Karena sudah mengerti akan hal itu, pemuda yang mencinta pacarnya, benar-benar mencintainya, tentu tidak akan mau membujuk pacarnya untuk melakukan hubungan sex di luar nikah. Bila dia tetap melakukannya, berarti bahwa cintanya itu adalah cinta birahi belaka!

Untuk memuaskan hasrat birahinya, dia lupa bahwa pacarnya, yang katanya merupakan satu-satunya wanita yang dicintanya, terancam mala petaka hebat bila terjatuh oleh bujuk rayunya. Dan banyak terjadi kenyataan bahwa setelah nafsu sexnya terpuaskan, pemuda itu baru melihat bahwa sesungguhnya dia tidak mencinta wanita itu, seolah-olah seorang kehausan yang setelah minum air sepuasnya lalu tidak lagi menginginkan air.


Akan tetapi, dengan Thian Sin dan Kim Hong soalnya berbeda lagi. Mereka berdua hidup sebagai suami isteri walau pun belum disahkan dengan upacara serta pesta pernikahan, bukan sekedar dorongan sex semata. Ada pertalian cinta yang amat mendalam di antara mereka dan hanya karena pandangan keduanya yang ingin bebas dan memberontak dari pada segala peraturan yang dianggap merupakan ikatan yang memuakkan maka mereka tidak peduli tentang upacara dan pesta pernikahan.

"Aku memang pengecut..." Akhirnya gadis itu mengeluh lalu perlahan melepaskan diri dari rangkulan Thian Sin, "dan aku... aku memang lemah terhadap rayuan pria. Aku tak berani menentang pamanku yang sesat itu dan aku... aku begini mudah jatuh hati kepadamu, padahal... padahal aku telah jatuh cinta kepada seorang lain...! Ah, Bu Kok Siang, betapa kelirunya engkau jatuh cinta kepada seorang gadis seperti aku..." Dan gadis itu menutupi muka dengan kedua tangan, nampaknya menyesal sekali.

Thian Sin memegang kedua lengan gadis itu, tidak lagi bersikap mesra. "Maafkan aku, In Bwee, bukan maksudku merayumu. Ah, kita ini memang hanya manusia-manusia lemah. Berdekatan dengan seorang seperti engkau ini, hati siapa takkan tertarik? Engkau saling mencinta dengan sastrawan itu? Bagus, dia seorang pemuda yang hebat. Dan memang sepantasnya bila seorang gadis seperti engkau ini tak usah takut-takut untuk menentang kelaliman dan kejahatan. Mati pun tak akan penasaran bila kita berada di atas kebenaran, In Bwee. Dan aku pun akan melindungimu dari ancaman iblis yang menjadi pamanmu itu. Sekarang katakan, di mana aku bisa bertemu dengan Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng itu?"

"Biar pun namanya amat terkenal di kota raja, namun tidak ada yang tahu di mana tempat tinggalnya. Bahkan para pendekar pun tidak mampu menemukan tempatnya itu."

"Tapi engkau tahu tempatnya?"

Gadis itu mengangguk. Lalu dia mengangkat mukanya memandang wajah Thian Sin yang amat tampan dan menarik itu. "Ceng-taihiap, begitu inginkah engkau dan enci Kim Hong memperoleh pusaka harta karun Jenghis Khan itu? Jika cuma uang yang kalian butuhkan, kiranya aku akan dapat membantu..."

Thian Sin tersenyum. "Maksudmu?" tanyanya sambil menatap tajam wajah yang cantik itu.

"Pamanku itu amat lihai, taihiap. Bukan hanya dia amat lihai, akan tetapi dia pun memiliki banyak kaki tangan yang pandai. Boleh dibilang semua tokoh sesat di kota raja adalah kaki tangannya, atau setidaknya tunduk kepadanya. Selain itu, juga di belakangnya ada pasukan pemerintah yang mendukung dan siap membantunya. Maka, kalau hanya untuk uang, amat berbahaya jika taihiap menentangnya. Lebih baik taihiap berikan kunci emas itu kepadanya, dan saya akan suka membantu taihiap, kalau memang uang yang..."

"Hushh... kau pikir kami adalah orang-orang yang haus akan harta, In Bwee? Tidak, kami tidak butuh uang. Akan tetapi kami adalah petualang-petualang yang selalu tertarik akan hal-hal yang berbahaya serta mengandung rahasia. Kami melihat betapa seorang petani tua dibunuh, juga isterinya, bahkan betapa putera petani itu pun agaknya sudah dibunuh orang pula. Kami melihat kejahatan dan kesewenang-wenangan terjadi di hadapan mata kami, tak mungkin kami mendiamkannya saja. Pula, kami ingin juga menemukan pemuda petani itu dan kepada dialah kami akan menyerahkan semua harta karun itu, sebab dialah satu-satunya orang yang berhak memperolehnya."

Mendengar ini, gadis itu mengangguk-angguk sambil menarik napas panjang. "Selama ini nama Pendekar Sadis selalu membuat aku merasa seram dan takut, akan tetapi setelah bertemu orangnya, ternyata taihiap adalah seorang pendekar yang berhati mulia, budiman dan sama sekali tidak menyeramkan, bahkan amat menarik. Bagaimana pun juga, hatiku khawatir sekali kalau membayangkan betapa taihiap akan berhadapan dengan pamanku dan semua kaki tangannya."

"Jangan khawatir dan engkau tidak perlu ikut-ikut, In Bwee. Katakan saja di mana tempat persembunyian pamarmu yang sesat itu."

In Bwee kembali menoleh ke luar jendela, seolah-olah takut kalau-kalau kata-katanya itu akan terdengar orang lain. Kemudian, dengan suara lirih dan agak gemetar, seolah-olah ia membukakan suatu rahasia yang amat besar, ia berkata. "Pamanku itu bersembunyi... di gedung jaksa..."

"Ehh...?" Thian Sin terbelalak, merasa heran bukan kepalang. "Di rumah jaksa? Bukankah jaksa itu seorang pembesar yang bertugas memberantas serta menuntut para penjahat? Bukankah jaksa itu tugasnya melindungi rakyat dari kesewenang-wenangan dan himpitan orang-orang jahat?"

In Bwee tersenyum pahit. "Ceng-taihiap, agaknya biar pun engkau seorang pendekar yang sudah banyak bertualang, akan tetapi engkau masih belum tahu benar akan keadaan di kota raja ini. Di sini para petugas dan penjaga keamanan itu sama sekali tidak melindungi rakyat, melainkan melindungi orang yang mampu memberi kesenangan kepada mereka, terutama sekali yang mampu memberi uang. Mereka itu tak ada bedanya dengan tukang-tukang pukul bayaran, hanya bedanya mereka itu mengandalkan pakaian seragam dan kedudukan. Di sini, uang bisa membeli apa saja, taihiap. Uang bisa membeli kehormatan, bisa membeli kebenaran, bisa membeli keadilan."

"Hemm, kau hendak mengatakan bahwa keadilan dan kebenaran dapat diperjual belikan di kota raja ini? Dan apakah jaksa itu pun telah dibeli oleh Pat-pi Mo-ko dengan sogokan harta?"

"Tidak dengan harta. Paman adalah seorang yang tak dapat dikatakan kaya. Segala harta yang diperolehnya juga dihamburkan seperti pasir. Bahkan dia banyak minta kepadaku. Akan tetapi, semenjak dahulu paman menjadi sahabat baik jaksa Phang-taijin. Aku sendiri tidak tahu bagaimana paman dapat mempengaruhi dan menundukkan Phang-taijin seperti itu, akan tetapi persembunyiannya di sana pun hanya aku yang mengetahui, di samping tentu saja kaki tangannya yang telah dipercayanya benar."

"Seperti Siang-to Ngo-houw, Hai-pa-cu Can Hoa dan Tiat-ciang Lui Cai Ko itu?"

Gadis itu mengangguk. "Akan tetapi harap engkau jangan memandang rendah, taihiap. Mungkin mereka itu tidak merupakan lawan tangguh bagimu, akan tetapi suhu itu..."

Thian Sin mengusap dagu yang halus itu. "Jangan khawatir, kami akan bertindak dengan amat hati-hati dan terima kasih atas segala keteranganmu. Tanpa bantuanmu itu, agaknya kami akan sukar untuk mencari pamanmu itu."

"Akan tetapi aku... suhu tentu akan marah bukan main dan mungkin akan menjatuhkan hukuman karena aku telah gagal merayumu..."

"Siapa bilang gagal? Ahh, belum percayakah engkau bahwa aku sudah hampir jatuh hati kepadamu, In Bwee? Engkau begini manis, jelita dan menawan hati. Kalau saja engkau tadi tidak mengatakan bahwa engkau saling mencinta dengan Bu Kok Siang, hemmm... agaknya sekarang juga aku masih akan mau untuk bercinta denganmu. Akan tetapi, tidak! Engkau seorang gadis baik dan engkau tentu akan menjadi seorang isteri yang baik sekali dari Bu Kok Siang."

In Bwee bangkit dan memandang dengan wajah berseri-seri. "Memang, dia sangat cinta kepadaku, taihiap. Dia sudah kuberi tahu mengenai keadaanku, akan tetapi, seperti juga engkau, dia tidak menghinaku, bahkan dia kasihan kepadaku. Biarlah kalau suhu hendak membunuhku, terserah! Aku telah bertemu dengan Bu Kok Siang yang amat mencintaku, dengan engkau yang begini baik kepadaku, maka kalau sekarang suhu membunuhku pun aku tidak akan penasaran lagi."

"Hushh, siapa yang bicara tentang mati? Engkau akan hidup seratus tahun lagi, In Bwee. Tentang suhu-mu, jangan khawatir. Kalau dia menuntut hasil rayuanmu, nah, kau berikan ini kepadanya."

Kemudian Thian Sin mengeluarkan sebuah kunci emas dari dalam saku bajunya, lantas memberikannya kepada In Bwee. Gadis ini terbelalak memandang kunci emas itu, lalu dia menatap wajah Pendekar Sadis.

"Taihiap, bukankah taihiap tadi mengatakan bahwa taihiap harus mendapatkan harta karun itu dan menyerahkan kepada yang berhak?"

Thian Sin tersenyum dan di dalam hatinya dia tahu bahwa gadis ini benar-benar sudah berubah, telah berpihak padanya dan secara diam-diam mulai menentang dan memusuhi guru atau pamannya. Dia pun bangkit berdiri dan memegang kedua lengan gadis itu.

"In Bwee, adikku yang manis, jangan kau khawatir. Serahkan saja kunci emas ini, karena kunci ini akan menyelamatkanmu dari kecurigaan dan ancamannya. Kunci ini pun tidak akan ada gunanya bagi Pat-pi Mo-ko. Percayalah engkau padaku..."

"Hemm, kunci palsu?" bisik gadis itu.

Thian Sin tersenyum. "Engkau jauh lebih cerdas dari pada para kaki tangan Pat-pi Mo-ko. Nah, kau kembalilah dan tenangkan hatimu."

Berserilah wajah In Bwee. Memang, dengan membawa kunci emas itu, baik asli atau pun palsu, akan menolongnya kerena itu merupakan bukti bahwa dirinya telah menyelesaikan tugasnya dengan baik sehingga suhu-nya tidak memiliki alasan untuk marah kepadanya. Andai kata kunci emas itu palsu sekali pun, hal itu bukanlah kesalahannya, karena mana dia tahu kalau kunci itu palsu?

Dia akan selamat, akan dapat berjumpa kembali dengan Bu Kok Siang dengan selamat dan siapa tahu, hubungannya dengan Kok Siang akan tumbuh dengan baik dan akhirnya ia masih akan dapat menjadi isteri orang yang mencintanya dan tidak memandang rendah kepadanya.

"Terima kasih, taihiap, terima kasih...," katanya dan sejenak In Bwee membiarkan dirinya dipeluk dan mukanya terdekap di dada yang bidang itu.

Ia merasa betapa aman dan tenteramnya berada di dalam pelukan pria ini, akan tetapi ia segera teringat akan Kok Siang dan teringat pula kepada Kim Hong, maka dilepaskannya pelukannya dan ia pun lalu keluar dari kamar itu, melalui jendela.

Setelah melihat bahwa gadis itu pergi jauh dan tidak ada gerakan lain yang menunjukkan bahwa ada orang yang membayangi dan mengancam In Bwee, Thian Sin menutupkan kembali jendela dan pintu kamarnya, lalu merebahkan diri terlentang di atas pembaringan kamarnya, tersenyum-senyum puas. Dia mengepal tinju.

Dia sudah berhasil memperoleh rahasia Pat-pi Mo-ko, di mana sembunyinya iblis itu dan tentu iblis itu yang telah menguasai peta rahasia yang harus dirampasnya kembali. Juga tentu iblis ini yang tahu di mana adanya Ciang Kim Su atau apa yang telah terjadi dengan pemuda petani itu. Hatinya terasa girang maka sambil menanti sampai kembalinya Kim Hong, dia pun dapat tidur pulas…..

********************

Akan tetapi Kim Hong yang ditunggu-tunggu oleh Thian Sin itu tidak juga kunjung datang! Di samping kegelisahan hatinya, tentu saja Thian Sin merasa heran sekali. Kekasihnya itu sedang melakukan penyelidikan atas diri Bu Kok Siang, sudah sejak kemarin, akan tetapi mengapa sehari semalam telah lewat dan Kim Hong belum juga pulang?

Dia tidak merasa khawatir kalau-kalau Kim Hong jatuh cinta pada sastrawan itu. Cemburu tidak pernah menyelinap di dalam hatinya seperti juga Kim Hong tak pernah menunjukkan rasa cemburu terhadap dirinya, walau pun gadis itu sering menyinggung tentang sifatnya yang mata keranjang!

Perasaan cemburu hanya meracuni cinta! Cinta kasih membutuhkan kepercayaan yang mutlak, cinta kasih artinya memberi kebebasan kepada orang yang dicinta. Cinta kasih antara dua orang, pria dan wanita, adalah cinta kasih kedua pihak, yang dirasakan oleh kedua pihak itu sendiri.

Tak mungkin ada unsur pemaksaan di sini. Yang ada hanyalah mencinta atau tidak! Bila mencinta, dengan sendirinya tidak ada penyelewengan, sebaliknya kalau tidak mencinta, tak akan mungkin dipaksakan, karena itu hanya akan menjadi cinta palsu dan pura-pura belaka.


Kegelisahan di dalam hati Thian Sin adalah karena mengingat bahwa dia dan kekasihnya menghadapi komplotan yang lihai, orang-orang yang merupakan tokoh-tokoh sesat yang berbahaya. Siapa tahu, sastrawan muda itu pun termasuk komplotan jahat, sungguh pun In Bwee telah menyatakan saling mencinta dengan sastrawan muda itu.

Tentu saja dia percaya penuh kepada kekasihnya. Tidak sembarang orang akan mampu menandingi Kim Hong. Akan tetapi, menghadapi orang-orang dari dunia sesat sangatlah berbahaya dan tidak boleh hanya mengandalkan kepandaian tinggi saja. Kaum sesat itu sangat berbahaya dengan kelicikan serta kecurangan mereka, penuh tipu muslihat yang berbahaya.

Akan tetapi dia tidak tahu ke mana Kim Hong menyelidiki pemuda sastrawan itu. Pula, kalau dia menyusul, tentu Kim Hong akan menjadi marah dan akan mengira bahwa dia tidak percaya kepada Kim Hong, bahkan mungkin akan dikira cemburu! Maka, walau pun hatinya gelisah, Thian Sin terpaksa menanti sampai sehari lagi.

Dan malam hari itu, In Bwee kembali datang ke kamarnya melalui jendela! Akan tetapi, begitu melihat bahwa yang masuk adalah gadis itu, dan dia segera menyalakan lilin lalu memandang pada wajah yang cantik itu, maklumlah dia bahwa tentu telah terjadi sesuatu yang hebat. Wajah itu amat pucat dan ada bekas-bekas menangis pada mata yang indah namun agak merah itu.

"Ada apakah, In Bwee?" tanya Thian Sin.

"Celaka, taihiap... celaka, kau tolonglah dia...," In Bwee berkata dengan suara setengah meratap.

Melihat gadis yang nampak amat gelisah dan kedua kakinya gemetaran itu, Thian Sin lalu memegang tangannya dan menariknya ke sebuah kursi, dengan halus menyuruh gadis itu untuk duduk. "Tenangkanlah hatimu, In Bwee, dan ceritakan apa yang telah terjadi."

"Mereka... mereka ditawan... ohhh... aku khawatir sekali..."

"Tenanglah. Begitukah sikap seorang gagah? Tenanglah dan bicara yang jelas!"

Sikap Thian Sin itu ada pengaruhnya dan sesudah memandang wajah yang tenang itu, In Bwee akhirnya berhasil menguasai keguncangan hatinya. "Ceng-taihiap, kemarin mereka telah tertawan. Enci Kim Hong dan Bu-koko... ehh, maksudku Bu Kok Siang."

"Tertangkap oleh Pat-pi Mo-ko maksudmu?"

Gadis itu mengangguk, menarik napas panjang, lantas menunduk. "Mereka dikeroyok di taman ketika mereka sedang bercakap-cakap. Mereka kemudian mengamuk akan tetapi akhirnya datang pasukan penjaga keamanan..."

"Hemm, pasukan yang dikerahkan jaksa Phang?"

"Benar. Mereka menyerah saat melihat pasukan pemerintah, mengira akan diadili dengan sebagaimana mestinya. Akan tetapi mereka kemudian dibawa ke tempat tahanan jaksa di mana terdapat kamar jebakan. Mereka lantas terjebak, kemudian dibius hingga tertawan, dan kini berada dalam kekuasaan suhu..."

Thian Sin mengerutkan alisnya. "Cepat beri tahukan aku di mana tempat tahanan itu dan bagaimana keadaan di sana."

In Bwee segera memberi tahukan tempat itu, akan tetapi dia pun tidak tahu benar tentang seluk beluk tempat itu karena belum pernah ke sana. Namun hal itu tidak ada artinya bagi Thian Sin. Baginya, yang terpenting tahu di mana kekasihnya itu ditawan.

"Pulanglah, aku akan cepat menolong mereka. Jangan khawatir," katanya.

Dan gadis itu pun lalu pergi meninggalkan rumah penginapan untuk kembali ke rumahnya sendiri dengan hati gelisah. Akan tetapi baru saja tiba tak jauh dari rumahnya, dia terkejut ketika melihat ada sesosok tubuh tinggi besar menghadangnya di tengah jalan. Ternyata sosok itu adalah gurunya, atau juga pamannya yang amat ditakutinya itu!

"Paman..."

"Hemm, apa maksudmu mengunjungi Pendekar Sadis?" suara pamannya penuh dengan kemarahan dan kecurigaan.

"Aku..." In Bwee merasa takut sekali, akan tetapi tiba-tiba dia teringat akan anjuran Thian Sin agar jangan takut menghadapi siapa pun juga asalkan berada dalam kebenaran. Maka ia pun mengeraskan hatinya, memandang wajah pamannya itu dan berkata lantang,

"Paman, aku dengan Bu Kok Siang saling mencinta. Maka, melihat dia kau tawan, hatiku menjadi sangat gelisah sehingga aku pergi mengunjungi Pendekar Sadis itu untuk minta agar dia suka menolong dan membebaskan Bu Kok Siang."

Kakek itu memandang tajam. "Hanya untuk itu saja?"

"Habis untuk apa lagi? Bukankah saya telah mendapatkan kunci emas itu dan telah saya serahkan kepada paman? Saya tak akan berani mengkhianati paman, akan tetapi melihat Bu Kok Siang ditawan, saya merasa khawatir dan untuk dia... saya rela mengorbankan nyawa sekali pun."

Sejenak kakek itu diam, lalu mendadak tangannya bergerak dan sebelum keponakan atau juga muridnya itu dapat menghindarkan diri, kakek itu telah menotoknya, lalu menyambar tubuhnya dan dibawanya pergi dengan cepat. Kejadian itu tidak dilihat oleh siapa pun juga karena terjadi di tempat sunyi dan gelap.

"Kalau begitu, engkau harus ikut denganku. Siapa tahu ada gunanya nanti."

********************

Sementara itu, Kim Hong bersama Kok Siang juga telah mengalami keadaan yang tidak menyenangkan. Seperti kita ketahui, dua orang muda itu terjebak di dalam kamar bawah tanah dan kemudian roboh pingsan oleh asap pembius yang tidak mungkin dapat mereka elakkan. Pada waktu siuman kembali, mereka mendapatkan diri mereka telah terbelenggu di atas dua dipan yang terdapat dalam sebuah kamar yang luas. Agaknya dipan itu bukan dipan yang biasa dipakai untuk tidur, namun dipan yang khusus dibuat untuk menyiksa orang!

Dan teringatlah mereka bahwa mereka kini terjatuh ke dalam tangan petugas pemerintah yang entah mengapa telah menjebak dan menangkap mereka. Dipan itu terbuat dari pada besi, ditanam di dalam lantai dan kuat sekali. Dan dipan itu diperlengkapi dengan kalung-kalung baja untuk membelenggu kaki serta tangan, juga ada alat putaran untuk menyiksa orang, menarik kedua kaki, menjepit jari-jari kaki atau tangan, bahkan terdapat pula alat pemanas untuk dibakar yang berada di bawah dipan.

Begitu siuman, Kim Hong segera teringat keadaannya dan sekali pandang, maka tahulah dia bahwa dia sungguh tidak dapat berdaya. Selain gelang baja yang membelenggu kaki tangannya itu terlampau kuat, juga dia mendapatkan kenyataan bahwa tubuhnya berada di bawah pengaruh totokan. Andai kata pengaruh totokan itu telah hilang sekali pun. belum tentu dia akan mampu membebaskan diri dari belenggu kaki tangannya.

Dia melirik ke kiri dan melihat betapa Kok Siang juga sudah siuman, bahkan pemuda itu menoleh ke kanan, memandang padanya kemudian tersenyum lebar! Tersenyum dalam keadaan seperti itu, sungguh hal yang luar biasa! Diam-diam Kim Hong merasa heran dan juga kagum.

"Engkau masih bisa tersenyum?" tanyanya.

"Kenapa tidak?" jawab pemuda itu dan senyumnya melebar. "Hadapilah segala sesuatu dalam hidup ini dengan senyum! Kematian pun akan terasa ringan kalau dihadapi dengan senyum. Sama-sama menggerakkan mulut, dan sama-sama tidak akan mampu merubah keadaan, mengapa tidak memilih senyum di antara pilihan senyum dan tangis? Ha-ha-ha, kalau dipikir lucu juga, ya?"

Diam-diam kekaguman Kim Hong terhadap pemuda ini melonjak. Seorang pemuda yang hebat, pikirnya. Seorang pemuda yang ahli sastra, mempunyai ilmu silat yang tak rendah, juga mempunyai keberanian yang mengagumkan, hampir menyamai Thian Sin, dan patut dijadikan seorang sahabat baik. Dan di samping itu, masih menyimpan rahasia peta yang amat menarik itu!

"Apanya yang lucu?" tanyanya untuk menanggapi sikap gembira yang mengagumkan hatinya itu.

"Masa tidak lucu? Kita dikeroyok para penjahat di taman, lalu pasukan pemerintah datang untuk menangkap semua orang yang berkelahi, termasuk kita. Tapi, pasukan pemerintah malah menjebak kita dan menawan kita dengan cara-cara kaum penjahat, menggunakan jebakan dan obat bius. Dan kini kita sudah dibelenggu di sini, bagaikan penjahat-penjahat besar! Sungguh lucu dan aneh. Sebenarnya, siapakah yang jahat? Para pengeroyok itu, pasukan pemerintah, ataukah kita?"

"Tentu saja kita!" Kim Hong menjawab sambil tersenyum. "Buktinya kita yang dibelenggu dan ditelikung seperti babi akan disembelih di sini!"

"Ha-ha-ha, seperti babi akan disembelih? Kurang tepat penggambaranmu itu, nona. Kita terlampau kurus jika disamakan dengan babi, tidak berdaging dan penyembelihnya hanya akan menemukan kulit dan tulang belaka!"

Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan masuklah beberapa orang pria ke dalam kamar yang luas itu. Kalau tadinya Kim Hong dan Kok Siang menduga bahwa mereka berada di tangan pasukan dan yang memasuki ruangan itu tentulah komandan, maka mereka pun kecelik. Ternyata yang masuk itu adalah delapan orang yang berpakaian biasa saja, biar pun kebanyakan dari mereka besikap kereng dan menyeramkan.

Kim Hong memandang penuh perhatian dan ia pun tahu siapakah mereka itu. Ada empat orang pria berusia empat puluh tahun yang segera dikenalnya sebagai sisa dari Siang-to Ngo-houw, lima jagoan yang telah kehilangan seorang anggotanya akibat tewas oleh anak panah yang sengaja dilepaskan untuk membungkam mulut orang itu, kemungkinan besar oleh kepala mereka sendiri.

Kemudian Kim Hong mengenal Hai-pa-cu Can Hoa yang pernah membikin ribut di rumah makan kemudian dihajar oleh Kok Bu Siang itu. Juga Jiat-ciang Lui Cai Ko yang perutnya gendut, matanya juling dan rambutnya riap-riapan nampak pula di antara mereka.

Kim Hong tidak merasa heran pula melihat munculnya Su Tong Hak di antara mereka dan kini orang itu memperlihatkan air mukanya yang sebenarnya, tanpa kedok manis seperti ketika dia dan Thian Sin mengunjunginya. Pedagang ini sekarang kelihatan sekali betapa mukanya penuh dengan nafsu, mulutnya menyeringai, matanya berkilat penuh kecerdikan hingga tahulah Kim Hong bahwa selama ini paman dari Ciang Kim Su ini memang sudah bersekongkol dengan para penjahat.

Ada pun orang yang ke delapan, yang bertubuh tinggi besar berkulit hitam, berusia lima puluh tahun lebih, mudah saja diduganya. Siapa lagi orang ini kalau bukan Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng, pikir Kim Hong. Dari gerak-gerik dan pandang matanya, Kim Hong dapat menduga bahwa orang ini mempunyai kepandaian tinggi dan mungkin orang ini pula yang membuatnya gagal mendobrak pintu ketika dia terjeblos ke dalam kamar rahasia itu, yang memiliki hawa pukulan amat kuat.

Sementara itu, Kok Siang juga memandang mereka penuh perhatian. Dia merasa sangat terkejut saat melihat bahwa yang menjebaknya bukanlah pasukan pemerintah, melainkan orang-orang jahat itu. Dan pemuda yang cerdik ini pun segera tahu bahwa tentu jaksa itu sudah bersekutu dengan para penjahat ini. Akan tetapi dia berpura-pura bodoh dan begitu melihat mereka masuk, dia pun berteriak-teriak.

"Heiii! Apa-apaan ini? Sungguh penasaran! Kami tidak berdosa, mengapa ditangkap? Di mana adanya keadilan? Dan siapa kalian ini? Mengapa bukan komandan pasukan yang datang? Kami menuntut keadilan!"

Hai-pa-cu Can Hoa yang bertubuh tinggi besar, yang kumis jenggotnya malang melintang tak terpelihara itu telah melangkah maju mendekati Kok Siang, tangan kirinya yang besar itu bergerak menampar.

"Plakk! Plakk!"

Dua kali wajah Kok Siang ditampar dengan keras. Karena Kok Siang sendiri juga masih terpengaruh oleh totokan hingga dia tidak mampu mengerahkan sinkang, maka tentu saja tamparan itu harus diterimanya dengan mandah sehingga pipi kanannya menjadi merah membengkak.

"Wah, bukankah engkau ini bajingan yang pernah mengacau di rumah makan? Ha-ha-ha, sobat, kiranya engkau pun seorang pengecut, beraninya hanya sesudah aku terjebak dan dibelenggu. Coba lepaskan belenggu ini, maka aku akan membuat engkau tidak sanggup bangun kembali!"

"Siucai sombong!" Kembali tangan kanan Can Hoa bergerak menampar dua kali.

"Plakk! Plakk!"

"Cukuplah!" kata kakek hitam tinggi besar yang sejak masuk tadi memandang kepada Kim Hong, sehingga Hai-pa-cu Can Hoa segera menghentikan tamparannya.

Kakek hitam itu lalu menghampiri Kok Siang yang kini kedua pipinya telah menjadi merah dan agak membengkak akibat tamparan-tamparan Hai-pa-cu Can Hoa tadi. Sejenak mata yang lebar dan tajam itu seperti hendak menembus dada Kok Siang, kemudian terdengar kakek itu berkata, suaranya dalam dan tenang, namun penuh wibawa.

"Apa engkau yang dikenal sebagai Im-yang Siang-pit Bu Siucai dari Thian-cin?"

Seperti juga Kim Hong, pemuda ini telah dapat menduga siapa adanya kakek hitam tinggi besar ini. Dia belum pernah berjumpa dengan kakek ini, akan tetapi nama besarnya telah lama didengarnya dan bahkan belum lama ini dia tahu bahwa Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng adalah paman dari gadis yang dicintanya, yaitu Bouw In Bwee!

Jadi inilah orangnya yang sudah menindas kekasihnya itu. Dan dia hampir merasa yakin bahwa orang ini pulalah, atau setidaknya juga para kaki tangannya yang telah membunuh pamannya sendiri, yaitu Louw siucai! Akan tetapi dia segera menekan perasaannya dan ketika dia ditanya, dia pun mengangguk.

"Benar," jawabnya. "Kawan-kawanku menyebutku Im-yang Siang-pit Bu Siucai, dan aku datang dari Thian-cin. Tidak tahu siapakah engkau! Dan bagaimana kami yang tadinya menjadi tangkapan pasukan pemerintah, kini bisa terjatuh ke tangan kalian?"

"Tutup mulutmu yang lancang itu dan jawab saja semua pertanyaan!" bentak Hai-pa-cu dengan sikap galak.

Jagoan dari kota Yen-tai ini memang merasa sakit hati terhadap Kok Siang yang pernah menghajar dan mempermainkannya, membuatnya malu di restoran tempo hari. Kalau dia tidak takut kepada Pat-pi Mo-ko, tentu dia akan menghajar habis-habisan malah mungkin membunuh pemuda yang amat dibencinya itu.

"Bu Siucai," kata pula Pat-pi Mo-ko, suaranya tenang akan tetapi mengandung nada yang penuh ancaman. "Tahukah engkau siapa aku?"

Kok Siang menggelengkan kepala. "Tidak, aku tak tahu. Yang kukenal hanyalah penjahat kecil yang pernah mengacau di rumah makan ini, dan juga si juling itu yang mengeroyok kami di taman. Yang lain-lain, aku tidak tahu..."

"Engkau berhadapan dengan Pat-pi Mo-ko!" kata kakek hitam itu, dan matanya berkilat ketika dia melihat pemuda yang terbelenggu itu nampak terkejut.

"Ahhh...! Tapi... tapi mengapa aku ditangkap? Dan bukankah yang menangkapku adalah pasukan pemerintah?" Kok Siang berpura-pura bodoh.

"Itu bukan urusanmu. Yang jelas, engkau sudah berani menentangku dan siapa pun yang berani menentangku di dunia ini, tentu dia sudah bosan hidup. Bu Siucai, namamu amat terkenal di Thian-cin sebagai seorang gagah yang tidak pernah lancang tangan. Sekarang engkau muncul di kota raja, apakah kehendakmu?" Sepsang mata itu memandang tajam penuh selidik.

Kok Siang bukan seorang yang bodoh. Dia telah menduga bahwa Louw siucai, pamannya itu, tentu terbunuh oleh iblis-iblis ini, maka jika dia mengaku bahwa dia adalah keponakan Louw siucai yang hendak mencari pembunuh pamannya, sama saja dengan membunuh diri.

"Apa yang hendak kulakukan di kota raja? Tentu saja melancong, apa lagi?"

"Hemm, kalau engkau tidak bergulang-gulung dengan nona ini, mungkin aku masih dapat percaya omonganmu." Pat-pi Mo-ko menuding ke arah Kim Hong.

"Ahh, nona ini? Kami berkenalan secara kebetulan saja, di rumah makan. Tentu jagoan Yen-tai itu sudah menceritakan kepadamu. Pat-pi Mo-ko, namamu terkenal sebagai orang besar, maka harap kau suka membebaskan kami yang tidak bersalah apa-apa. Terutama nona ini. Bagaimana kalau dunia kang-ouw mendengar bahwa Pat-pi Mo-ko yang besar itu menawan seorang nona muda dengan cara menjebaknya dan bersekongkol dengan pasukan pemerintah?"

"Tutup mulutmu! Apakah kau sudah bosan hidup?" Hai-pa-cu Can Hoa membentak dan mendekat, akan tetapi Kok Siang hanya tersenyum saja. Ia tadi memang sengaja hendak menggerakkan harga diri Pat-pi Mo-ko, memanaskan hatinya.

Akan tetapi kakek iblis hitam itu pun sangat cerdik dan tidak mudah dibakar hatinya. Dia lalu menghampiri Kim Hong, dan Kok Siang mengikuti gerakan kakek itu dengan jantung berdebar tegang dan khawatir. Dia tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri, akan tetapi dia tahu benar betapa berbahayanya bagi seorang gadis cantik seperti Kim Hong bila terjatuh ke tangan orang-orang macam ini. Ada bahaya penghinaaan yang lebih hebat dari pada kematian bagi gadis itu.

Akan tetapi, dia yang tentu saja tak akan mampu melindungi Kim Hong dengan kekuatan badannya yang sudah tak berdaya, merasa yakin bahwa ia akan mampu menyelamatkan Kim Hong dalam saat terakhir, karena dia masih memegang kunci rahasia yang sangat penting, yaitu peta yang asli! Dengan ini dia akan dapat menebus diri Kim Hong, kalau perlu.

"Nona, engkau bernama Toan Kim Hong yang menjadi sahabat serta kekasih Pendekar Sadis, bukan? Hemm, kasihan Pendekar Sadis, tidak tahu bahwa kekasihnya suka main gila dengan setiap orang pemuda ganteng seperti Bu Siucai di luaran!" Pat-pi Mo-ko lalu tersenyum menyeringai, agaknya merasa amat girang ketika mendapat kenyataan bahwa kekasih Pendekar Sadis mempermainkan pendekar itu.

Hal ini saja sudah dapat menimbulkan dugaan di dalam hati Kim Hong dan Kok Siang bahwa penjahat ini agaknya membenci Thian Sin. Akan tetapi, tanpa diketahui oleh siapa pun juga, diam-diam Kok Siang terkejut setengah mati mendengar disebutnya Pendekar Sadis.

Dia pun merasa seperti pernah mendengar nama Ceng Thian Sin ketika mereka saling berkenalan di rumah makan, akan tetapi sama sekali dia tidak pernah menduga bahwa pemuda itu adalah Pendekar Sadis yang pernah menggegerkan seluruh kota raja! Akan tetapi, dia dapat menyembunyikan keheranannya dan pura-pura tidak terpengaruh sama sekali oleh sebutan itu.

Akan tetapi, Kim Hong sama sekali tidak mau memberi jawaban dan hanya memandang dengan senyum mengejek, dan pandang matanya menghina sekali. Melihat ini Tiat-ciang Lui Cai Ko yang bermata juling itu mendekat.

"Twako, biarlah kusiksa dulu gadis ini supaya mau bersikap lunak dan mau menjawab pertanyaanmu!" Agaknya sudah gatal-gatal rasa tangan penjahat ini untuk menyiksa Kim Hong. Jari-jari tangannya sudah terbuka dan bersiap mencengkeram. Akan tetapi Pat-pi Mo-ko tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

"Sabarlah, Cai Ko. Belum tiba waktunya untuk itu." Dan kepala penjahat ini menghadapi Kim Hong lagi. "Nona, meski pun engkau tidak mengaku, kami sudah tahu bahwa engkau dan Pendekar Sadis datang sebagai utusan mendiang petani Ciang Gun, membawa kunci emas dan engkau tahu tentang rahasia harta karun Jenghis Khan itu. Marilah kita bicara secara terbuka saja karena kita sudah sama-sama tahu tentang hal itu. Kami juga telah menggeledah dan tidak temukan kunci emas di tubuhmu atau pakaianmu. Nah, katakan. Di manakah adanya kunci emas itu? Apakah dibawa oleh Pendekar Sadis?"

Diam-diam Kim Hong merasa sangat mendongkol. Ternyata dalam keadaan pingsan tadi tubuhnya sudah digeledah, tentu saja digerayangi tangan-tangan yang kotor dan kurang ajar itu. Untung tidak terjadi sesuatu dengan dirinya.

Hal ini tentu saja karena kepala penjahat ini masih membutuhkan keterangan-keterangan darinya, masih melihat manfaat pada dirinya. Akan tetapi bila sampai sekarang dia masih selamat, hal itu hanya soal waktu saja. Kalau ia sudah tidak dibutuhkan lagi, tentu ia akan dilempar kepada orang-orang kasar itu, untuk disiksa, diperkosa dan dipermainkan, bagai segumpal daging dilempar kepada anjing-anjing kelaparan. Atau mungkin Pat-pi Mo-ko ini sendiri yang akan mempeloporinya, melihat sinar matanya yang juga penuh mengandung nafsu ketika memandangnya itu.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner