HARTA KARUN JENGHIS KHAN : JILID-10


Thian Sin yang telah berada di antara para penjaga itu mengepalkan tinjunya, akan tetapi wajahnya pun tidak memperlihatkan tanda sesuatu.

"Masih belum mau bicara, Bu-siucai? Bagaimana kalau kubuka sedikit lagi?"

Tangan itu kembali bergerak, terdengar kain robek dan kini penutup dada Kim Hong telah terbuka sama sekali. Nampak bagian depan tubuhnya dari perut ke atas! Gadis itu tetap memejamkan matanya dan wajahnya tetap biasa saja! Demikian hebat gadis ini sehingga dalam keadaan seperti itu, ia masih dapat bersikap tenang dan seolah-olah ia telah dapat mematikan rasa.

Kok Siang langsung membuang muka sambil mengeluarkan suara kutukan. "Demi Tuhan, Mo-ko, engkau bukan manusia! Jangan lanjutkan!"

"Ha-ha-ha, kalau engkau tetap tidak mau mengaku tentang peta itu, aku akan menyuruh dua orang prajurit untuk memperkosanya di depan matamu, Bu-siucai!"

"Bu-toako, jangan dengarkan dia! Dia hanya mampu menghina tubuhku, akan tetapi tidak mampu menjamah hatiku. Paling-palling aku mati, atau kalau tidak, maka hinaan ini tentu akan dibayarnya dengan bunga berlipat ganda! Jangan mengaku, karena sekali engkau mengaku, maka nyawa kita akan tidak ada harganya lagi!" demikian Kim Hong berkata, suaranya tetap tenang, sama sekali tidak gemetar.

"Hemm, biar pun hatiku berat sekali rasanya, agaknya engkau benar, nona," jawab Kok Siang.

Pat-pi Mo-ko menjadi semakin marah. Kakek ini sudah menggerakkan tangan lagi untuk merenggut penutup tubuh terakhir, akan tetapi tiba-tiba Su Tong Hak mendekatinya dan berbisik, "Pemuda itu tentu akan menyerah kalau melihat kekasihnya yang terancam!"

Mendengar ini, tiba-tiba Pat-pi Mo-ko tertawa. "Ha-ha-ha, engkau benar juga!" dan sambil tertawa-tawa kakek hitam tinggi besar itu lalu berlari keluar dari dalam ruangan itu. Tidak lama kemudian dia sudah kembali sambil menarik tangan seorang gadis, atau lebih tepat lagi setengah menyeretnya. Gadis itu bermuka pucat, sedangkan matanya merah bekas menangis, rambutnya dan pakaiannya kusut.

"Murid durhaka, lihat siapa itu, dan selamatkan nyawanya! Dia akan kubebaskan kalau dia mau mengaku tentang peta asli!" kata Pat-pi Mo-ku sambil mendorong gadis itu ke depan, ke arah dipan di mana Kok Siang rebah terlentang.

"Siang-koko...!" Gadis itu menubruk, berlutut dan menangis di dekat dipan.

"Bwee-moi... engkaukah ini? Hemmm, akhirnya engkau juga merasakan kekejaman iblis yang menjadi guru dan pamanmu sendiri?" kata Kok Siang sambil mengerutkan alisnya. In Bwee merangkulnya dan menangis di dada pemuda itu.

"Siang-koko... demi keselamatanmu, menyerah sajalah, katakan kepadanya tentang peta itu... ahh, koko, kalau engkau mati, aku pun tidak mau hidup lagi... berikanlah peta itu dan mari kita pergi berdua, tidak mencampuri urusan ini dan aku rela hidup melarat asal selalu bersamamu, koko..."

Gadis itu menangis sehingga Kim Hong mengerutkan alisnya. Dia tidak mencela gadis itu bahkan kagum akan cinta gadis itu terhadap Kok Siang. Akan tetapi gadis itu juga telah memperlihatkan kelemahannya dan hal ini merusak siasat mereka berdua yang hendak mempertahankan peta. Siapa tahu, demi cintanya terhadap gadis itu, Kok Siang akhirnya mau menyerah dan kalau sudah begitu, maka percuma sajalah semua siasat mereka dan akhirnya mereka semua akan celaka!

"Huh, tolol!" Dia membentak. "Apakah kalau peta itu diberikan, iblis itu mau melepaskan kita bertiga? Jangan kira begitu enak, ya? Bahkan dia akan segera membunuh kita semua untuk menutup mulut kita seperti yang dilakukannya terhadap diri Ciang Kim Su dan juga Louw siucai!" Dia sengaja menyebut nama Louw siucai untuk membakar semangat Kok Siang. Dan dia berhasil. Kok Siang yang tadinya ragu-ragu ketika melihat dan mendengar tangis kekasihnya, kini nampak bersinar-sinar matanya.

"Mo-ko, muslihat apa pun yang kau lakukan, peta itu takkan kuberikan kepadamu!" teriak Kok Siang. "Bwee-moi, jangan kecil hati. Marilah kita lawan iblis itu, kalau perlu dengan pengorbanan nyawa dari pada dia berhasil dan akhirnya kita dibunuhnya juga!"

"Keparat!" Pat-pi Mo-ko marah sekali, kemudian dengan langkah lebar dia menghampiri muridnya dengan tangan kanan menyambar.

Akan tetapi, dibangkitkan oleh kata-kata kekasihnya, In Bwee meloncat sambil mengelak, lantas menyerang guru dan pamannya sendiri yang biasanya amat ditakutinya itu. Tentu saja kakek itu menjadi kaget dan marah bukan main. Jelaslah baginya bahwa muridnya ini sekarang telah berpihak kepada musuh secara berterang.

Dia telah menangkap muridnya, ketika mendengar laporan bahwa muridnya itu diam-diam pada malam buta mengunjungi Pendekar Sadis. Dia membayangi dan melihat muridnya bicara dengan Pendekar Sadis, maka pada waktu pulang murid itu lalu ditangkapnya dan dijadikan tawanan.

Kini, melihat In Bwee melawan, cepat dia pun turun tangan dan tentu saja gadis itu bukan lawannya. Hanya dalam beberapa gebrakan saja, dia telah berhasil merobohkan In Bwee dengan dua kali totokan, membuat gadis itu roboh dengan tubuh lemas dan tidak mampu bangkit kembali, rebah miring dengan kaki dan tangan seperti lumpuh rasanya.

"Murid murtad! Kalau begitu biar kekasihmu melihat engkau diperkosa di depan matanya!"

Tiat-ciang Lai Cai Ko yang perutnya gendut dan matanya juling, rambutnya riap-riapan itu segera maju dan menyeringai. "Heh-heh-heh-heh, twako, kalau memang gadis ini hendak diperkosa, serahkan saja kepadaku untuk melaksanakannya. Sudah lama aku tergila-gila padanya, hanya karena mengingat dia itu muridmu maka aku tidak berani mengganggu. Sekarang dia berkhianat dan berpihak kepada musuh, kalau memang mau diperkosa, biar aku yang..."

"Boleh, lakukanlah! Akan tetapi harus di sini dan sekarang juga, supaya kekasihnya dapat melihatnya!" kata kakek tinggi besar berkulit hitam itu.

Tiat-ciang Lui Cai Ko adalah seorang begal tunggal yang usianya sudah empat puluh lima tahun, kejam dan sudah terbiasa dengan kekerasan. Perasaannya sudah kebal sehingga tak mengenal malu lagi. Maka, biar pun di situ terdapat banyak orang yang menyaksikan, tanpa malu-malu dan sambil tertawa bergelak dia maju menghampiri tubuh In Bwee yang menggeletak di atas lantai dengan lemas itu.

"Mo-ko, manusia iblis! Tega engkau terhadap murid dan keponakan sendiri?" Kok Siang berteriak-teriak.

"Brettttt...!" Sebagian dari baju In Bwee terkoyak dalam genggaman tangan Tiat-ciang Lui Cai Ko.

Semua mata mereka yang hadir, juga para penjaga, langsung terbelalak ada pun jantung mereka berdebar tegang membayangkan peristiwa yang akan mereka saksikan di dalam ruangan itu. In Bwee sendiri tidak lagi mampu bergerak, hanya matanya terbelalak seperti seekor kelinci yang berada dalam cengkeraman kuku harimau.

"Ha-ha-ha, engkau sungguh manis sekali. Aha, malam ini untungku benar-benar besar!" Tiat-ciang Lui Cai Ko langsung merangkul, meremas dan menciumi muka gadis itu yang hanya dapat mengeluh akan tetapi tidak mampu bergerak untuk melawan.

Semua orang yang hadir terbelalak melihat adegan ini, ada yang menelan ludah, ada yang membuang muka, ada yang tertawa-tawa dengan mata melotot hampir keluar dari rongga matanya. Si Tangan Besi Lui Cai Ko adalah orang yang sudah kebal, sama sekali tidak mengenal malu dan dia beraksi seolah-olah di tempat itu tidak ada orang lain. Tangannya meraih dan hendak menanggalkan sisa pakaian In Bwee.

"Tahan...!" Mendadak Kok Siang berteriak, matanya terbelalak, mukanya pucat. "Mo-ko, aku mau mengaku...!"

Akan tetapi Tiat-ciang Lui Cai Ko bagaikan tidak mendengar seruan ini dan hendak terus melanjutkan perbuatannya. Baru sesudah Mo-ko sendiri melangkah maju lantas menepuk pundaknya, dia berhenti dan memandang kecewa, akan tetapi tidak berani membantah.

"Tiat-ciang, kau mundurlah." kata Pat-pi Mo-ko.

Tiat-ciang Lui Cai Ko bangkit dan mundur, matanya melotot ke arah Kok Siang, kelihatan kecewa, mendongkol dan sangat marah. Daging yang sudah tersentuh bibir itu, sebelum dapat digigit dan dikunyah lalu ditelannya, telah direnggut orang dan terlepas!

Kim Hong mengerutkan alisnya, akan tetapi hanya dapat memandang kepada sastrawan muda itu. Habislah harapannya. Dia tahu bahwa Kok Siang dan In Bwee hanyalah orang biasa yang jalan pikiran serta perasaannya sudah tercetak semenjak kecil sehingga sama dengan jalan pikiran dan perasaan umum pada waktu itu.

Wanita diperkosa merupakan hal yang paling hebat bagi mereka, merupakan mala petaka yang tidak dapat diperbaiki lagi, seperti kematian, bahkan dianggap lebih hebat dari pada kematian. Karena inilah maka Kok Siang tak mampu bertahan ketika melihat kekasihnya hendak diperkosa di depan matanya. Alangkah bodohnya. Apakah kalau pemuda itu telah mengaku lalu In Bwee terbebas dari pada ancaman pemerkosaan atau pembunuhan?

"Mo-ko, aku mau mengaku tentang peta yang asli, akan tetapi engkau harus berjanji lebih dulu bahwa engkau tak akan membiarkan nona Toan dan In Bwee diperkosa orang. Kalau engkau tidak mau berjanji, meski apa pun yang terjadi, maka jangan harap aku akan mau mengaku," kata Kok Siang dengan suara lantang.

"Baiklah, aku berjanji bahwa mereka berdua tidak akan diperkosa," kata Pat-pi Mo-ko dan wajahnya nampak berseri gembira sekali.

"Ingat, Mo-ko. Bagi seorang yang berkedudukan tinggi seperti engkau, biar hanya sebagai seorang datuk sesat, janji merupakan sumpah yang lebih berharga dari pada nyawa. Aku percaya bahwa engkau tidak akan melanggar janjimu tadi, disaksikan oleh semua orang yang mendengarnya."

Wajah hitam itu semakin hitam dan sepasang mata itu mendelik. "Bu-siucai. Kau kira aku ini orang macam apa maka akan melanggar janji sendiri?"

"Bagus, kalau begitu aku akan mengaku dengan hati lapang. Engkau dengarlah baik-baik. Aku adalah keponakan dari mendiang Louw Siucai."

Semua orang sangat terkejut, terutama sekali Su Tong Hak dan Hai-pa-cu Can Hoa yang menjadi pelaksana dari pembunuhan terhadap Louw siucai.

"Hemm, kiranya begitukah?" kata Pat-pi Mo-ko sambil mengangguk-angguk dan dia dapat menduga apa yang telah terjadi. "Lanjutkan ceritamu."

"Paman Louw melihat gelagat yang tidak baik ketika Su Tong Hak beserta keponakannya datang untuk minta peta itu diterjemahkan. Paman sama sekali tidak menginginkan benda orang lain, akan tetapi dia tahu bahwa Su Tong Hak bukan manusia baik-baik dan bahwa keponakannya, pemuda dusun itu akan tertipu. Karena itu diam-diam paman minta waktu satu hari untuk menterjemahkannya lantas menukar peta yang asli itu dengan peta palsu. Ada pun peta yang asli lalu disembunyikannya dengan maksud kelak akan dikembalikan kepada yang berhak. Akan tetapi pemuda dusun itu akhirnya lenyap. Paman lalu menulis surat kepadaku dan memberi tahu tentang tempat peta asli disembunyikan. Ternyata aku terlambat dan paman telah terbunuh oleh kaki tanganmu."

"Dan peta itu? Di mana...?" Pat-pi Mo-ko seakan-akan tidak mendengar cerita itu karena pikirannya segera terpusat kepada peta yang asli.

"Di suatu tempat, di kebun rumah mendiang paman Louw."

"Katakan di mana agar kami dapat membuktikan kebenaran omonganmu! Kalau engkau membohong, tentu janjiku tak akan berlaku dan aku akan menyuruh dua orang wanita ini diperkosa di depan matamu sampai keduanya mampus, sebelum engkau disiksa sampai mati pula!"

"Di kebun itu ada sebatang pohon tua di dekat rumpun bambu, pada cabang yang ke tiga dari bawah terdapat lubang. Di situlah disimpannya peta itu, di dalam peti kecil."

Mendengar ini, Pat-pi Mo-ko segera memerintahkan para pembantunya untuk melakukan pengajaan ketat. "Langsung bunuh saja mereka ini kalau ada tanda-tanda mereka hendak memberontak. Juga kalau Pendekar Sadis berani muncul, bunuh mereka ini dengan alat rahasia dalam kamar!" Pesannya dengan suara lantang.

Kemudian, dengan membawa pasukan penjaga yang lima puluh orang banyaknya, Pat-pi Mo-ko sendiri berangkat menuju ke rumah Louw siucai di pinggir kota raja untuk mencari peta seperti yang diceritakan oleh Bu Kok Siang itu.

Malam hari itu juga, Pat-pi Mo-ko datang kembali dengan kegirangan yang meluap-luap. Peta itu telah ditemukan! Dengan wajah berseri dia pun memasuki ruangan tempat ketiga orang muda itu ditahan. Dia mengeluarkan peta yang asli itu dan membebernya di depan Kok Siang dan Kim Hong yang memandang dengan mata berapi-api.

"Ha-ha-ha, sudah dapat olehku. Ha-ha-ha! Akhirnya harta pusaka itu, harta karun Jenghis Khan, terjatuh ke dalam tanganku!" Kakek hitam itu menyimpan kembali gulungan peta ke dalam tubuh, lantas tiba-tiba dia berkata kepada dua orang pembantunya, yaitu Hai-pa-cu Can Hoa dan Tiat-ciang Liu Cai Ko, "Sekarang, kalian bunuh bocah she Bu dan gadis she Toan ini! Kalau tidak, mereka itu akan menjadi perintang saja!"

Tentu saja Kok Siang terkejut mendengar ini dan In Bwee yang sudah dapat bergerak itu menjerit dan menubruk kaki pamannya sambil menangis. "Paman, jangan bunuh dia... ah, jangan bunuh dia...!"

Pat-pi Mo-ko menggerakkan kakinya hingga tubuh keponakan dan muridnya itu terlempar. "Huh, murid durhaka. Masih baik aku tidak menyuruh membunuh engkau sekalian!"

"Paman, jangan bunuh dia... atau bunuh saja aku sekalian bersama dengannya!" In Bwee menangis.

"Engkau tidak percaya padaku, Bu-twako! Omongan orang semacam dia itu mana dapat dipercaya? Begitu peta dikuasainya, tentu kita langsung dibunuh!" kata Kim Hong, sama sekali tidak menyesal karena gadis perkasa ini yakin bahwa pada saat itu, Thian Sin tentu sudah bersiap-siap untuk menolongnya.

Tadi, lapat-lapat dia bisa mendengar suara burung ekor merah. Burung itu hanya terdapat di sekitar kepulauan yang berada di Laut Timur, terutama di Pulau Teratai Merah di mana mereka tinggal. Karena suara burung itu tidak dikenal oleh semua orang yang berada di situ ketika berbunyi, maka ialah satu-satunya orang yang mengenalnya dan tahu bahwa itu adalah tanda rahasia dari Thian Sin yang tentu berada di sekitar tempat penahanan itu. Maka dia pun merasa lega dan tenang saja. Kekasihnya itu tak mungkin membiarkan dia celaka tanpa turun tangan.

Kok Siang marah sekali. Dengan mata mendelik dia memandang kepada Pat-pi Mo-ko, lalu berkata dengan suara nyaring. "Pat-pi Mo-ko, kiranya selain jahat dan kejam, engkau juga seorang pengecut yang suka menjilat ludah sendiri! Engkau telah berjanji..."

"Ha-ha-ha, bagaimana janjiku, kutu buku? Semua orang tadi telah mendengar akan bunyi janjiku itu! Aku berjanji bahwa apa bila engkau memberi tahu tentang peta, aku tidak akan membiarkan dua orang gadis ini diperkosa, bukan? Nah, siapa yang hendak memperkosa mereka? Aku tidak pernah berjanji bahwa aku tidak akan membunuh engkau dan sahabat Pendekar Sadis ini! Jadi, bila sekarang aku menyuruh membunuh kalian, maka aku tidak menyalahi janji! Ha-ha-ha!"

Kok Siang hanya dapat memandang dengan dua mata mendelik. Tak disangkanya bahwa datuk sesat itu sedemikian curangnya, akan tetapi tentu saja dia tidak mampu membantah lagi. Dia pun bukan pengecut yang takut mati, maka melihat sikap Kim Hong yang tenang, dia pun merasa malu kalau harus banyak ribut untuk mempertahankan nyawanya.

Pada saat itu, Su Tong Hak melangkah maju mendekati Pat-pi Mo-ko. "Kurasa tidak benar kalau membunuh mereka sekarang."

"Su Tong Hak! Engkau tadi telah memberi nasehat baik sekali untuk memaksa pemuda itu mengaku. Akan tetapi sekarang kenapa engkau melarang aku untuk membunuh mereka? Mereka itu berbahaya sekali!"

Su Tong Hak tersenyum sambil meraba-raba kumisnya yang kecil panjang. "Pat-pi Mo-ko, aku melarangmu dengan perhitungan yang amat matang. Coba kau dengarkan baik-baik pendapatku. Pemuda itu sama sekali belum waktunya untuk dibunuh. Meski pun kita telah mendapatkan peta itu, akan tetapi siapa berani menanggung kalau peta itu benar-benar asli? Siapa tahu kalau itu pun hanya palsu saja dan yang asli masih dia sembunyikan di tempat lain?"

Pat-pi Mo-ko nampak kaget dan cepat menoleh, memandang kepada pemuda sastrawan itu yang hanya tersenyum mengejek. Kakek tinggi besar hitam ini mengangguk-angguk, dapat melihat kebenaran pendapat pedagang yang cerdik itu.

"Maka, membunuhnya sekarang sungguh tidak menguntungkan. Kita selidiki dulu apakah peta ini benar, baru kita boleh membunuhnya. Demikian pula dengan nona itu. Bukankah dia itu sahabat baik Pendekar Sadis? Kalau dia masih berada di tangan kita, setidaknya dia akan berguna untuk dijadikan sandera, untuk mencegah Pendekar Sadis mengganggu kita sampai usaha kita berhasil. Bagaimana pendapat ini, tepatkah?"

Untuk sejenak Pat-pi Mo-ko menunduk sambil mengerutkan alisnya yang tebal, kemudian dia menepuk-nepuk pundak Su Tong Hak dan tertawa lebar. "Ha-ha-ha, engkau sungguh berbakat untuk menjadi penasehat. Bagus sekali, aku setuju! Malah kita harus membawa mereka itu bersama ke tempat harta karun seperti yang ditunjukkan oleh peta ini, dan di sanalah nasib mereka itu ditentukan! Ha-ha-ha…..!"

********************

Thian Sin yang menyamar sebagai prajurit penjaga dan menyaksikan, mendengar semua itu, tentu saja mengalami ketegangan dan kegelisahan yang sangat hebat. Beberapa kali tubuhnya menegang dan beberapa kali hampir saja dia tidak mampu lagi menahan gelora hatinya yang seolah-olah mendorongnya untuk cepat-cepat turun tangan.

Ketika dia melihat pakaian luar Kim Hong dirobek, dia hanya mengepal tinju saja. Dia tahu bahwa Pat-pi Mo-ko hanya menggertak. Akan tetapi pada saat dia melihat In Bwee hampir saja diperkosa, dia harus menggigit bibirnya untuk menahan hatinya. Dia maklum bahwa dia harus kuat menghadapi semua itu. Keadaan masih tidak menguntungkan baginya.

Kalau dia menyerbu, mungkin saja dia mampu menghadapi pengeroyokan mereka. Akan tetapi amatlah berbahaya bagi keselamatan tiga orang itu. Dia takkan mampu melindungi mereka karena di situ terlalu banyak terdapat orang-orang pandai yang tak mungkin dapat dirobohkan dalam waktu singkat sehingga selagi dia dikeroyok, Kim Hong, Kok Siang dan In Bwee tentu mudah sekali terbunuh lawan. Dan dia tidak menghendaki hal itu terjadi. Terutama sekali dia tidak ingin kehilangan Kim Hong! Maka dia menanti sampai saat yang paling memuncak dan yang akan memaksanya turun tangan. Kalau masih ada harapan, dia akan sabar menanti.

Dia pun kaget bukan main ketika mendengar pengakuan Kok Siang tentang peta asli itu. Ahh, tidak disangkanya bahwa pengakuan Kok Siang ketika mereka berdua itu terjatuh ke dalam air, ternyata bukan hanya siasat pemuda itu, melainkan memang satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri mereka.

Kini mengertilah dia mengapa Kim Hong bertahan mati-matian. Kiranya kunci rahasia itu berada di tangan Kok Siang yang menyimpan peta rahasia yang asli. Dan kunci emasnya yang asli ada padanya! Kini Kok Siang sudah mengaku, tempat itu tentu akan ditemukan oleh Mo-ko. Akan tetapi Thian Sin masih dapat tersenyum geli karena dia tahu bahwa usaha Mo-ko yang sudah mendapatkan peta asli itu tetap saja akan sia-sia karena kunci emas yang asli berada padanya!

Ketika melihat Kim Hong dan Kok Siang hendak dibunuh, dia sudah hampir meloncat ke depan. Akan tetapi hatinya lega pada saat dia mendengar Su Tong Hak yang membujuk datuk sesat itu dengan alasan yang amat kuat. Diam-diam Thian Sin mengerti bahwa Su Tong Hak memang merupakan orang yang amat cerdik.

Pedagang itu kini menginjak dua perahu, keduanya memungkinkan dia untuk memperoleh keuntungan. Di satu pihak, pedagang itu menyelundupkan dia sehingga menganggap dia sekutunya, tentu dengan harapan untuk selain ada kawan menghadapi ancaman Mo-ko yang serakah, juga kalau sampai pihak Mo-ko gagal dan Pendekar Sadis yang menang, setidaknya pedagang itu dapat mengharapkan bagian.

Sebaliknya, bila Pat-pi Mo-ko yang menang, saudagar ini pun masih bisa mengharapkan bagian. Maka dia menyelundupkan dan tidak membuka rahasia Thian Sin, akan tetapi di lain pihak ia pun membantu Mo-ko, salah satu di antaranya melalui nasehat kejinya untuk memperkosa In Bwee dalam usaha memaksa pengakuan Kok Siang.

Ketika melihat Pat-pi Mo-ko membawa pasukan pergi untuk mengambil peta asli seperti yang ditunjukkan oleh Kok Siang, Thian Sin tidak ikut membayangi. Sebenarnya dia telah memperoleh kesempatan baik untuk membayangi datuk itu ke tempat penyimpanan peta asli lalu merampasnya, dan bila perlu membunuh kakek tinggi besar hitam itu. Akan tetapi kalau Kim Hong, Kok Siang dan juga In Bwee masih menjadi tawanan, apa artinya itu? Yang penting adalah melindungi mereka.

Oleh karena itu, Thian Sin hanya menanti dalam persembunyiannya. Biarlah Pat-pi yang mengambilkan peta itu untuknya, bahkan biarkan saja datuk itu bersama anak buahnya mencarikan tempat penyimpanan harta karun Jenghis Khan itu untuknya!

Maka, ketika pada keesokan harinya rombongan besar Pat-pi Mo-ko berangkat menuju ke tempat penyimpanan harta karun, diam-diam Thian Sin juga membayangi rombongan itu. Tiga orang tawanan muda itu pun dibawa dengan kereta dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya.

Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng sendiri mengepalai pasukan ini dengan menunggang kereta bersama tiga orang tawanannya. Para pembantu utamanya, yaitu Hai-pa-cu Can Hoa dan Tiat-ciang Lui Cai Ko, naik kuda dan mengawal di kanan kiri kereta. Su Tong Hak tidak ketinggalan, juga duduk di atas kereta di dekat kusir.

Kereta ke dua berjalan di belakang dan di dalam kereta ini duduk Phang-taijin, pembesar yang menjadi sekutu Pat-pi Mo-ko! Setelah mendengar bahwa peta asli sudah terjatuh ke tangan sekutunya, jaksa ini tak dapat menahan keinginan hatinya untuk ikut menyaksikan pengambilan harta pusaka atau harta karun Jenghis Khan!

Seratus orang prajurit pengawal turut memperkuat rombongan itu, sebagian mengawal di depan dan sebagian di belakang. Mereka itu bukan hanya mengawal untuk menjaga agar jangan ada pihak lawan, terutama sekali Pendekar Sadis yang masih mendatangkan rasa gentar di dalam hati Pat-pi Mo-ko, akan tetapi juga dipersiapkan untuk bekerja di tempat penyimpanan harta karun, kalau-kalau untuk mengambil harta karun itu diperlukan banyak tenaga untuk menggali dan sebagainya.

Perjalanan itu cukup jauh dan merupakan perjalanan yang sangat menarik karena tempat itu ternyata berada di luar Tembok Besar! Mula-mula jantung Thian Sin berdebar tegang ketika rombongan itu menyeberang Tembok Besar di sebelah utara kota raja karena jalan itu menuju ke Lembah Naga! Akan tetapi ternyata rombongan itu membelok ke timur.

Kalau dari luar Tembok Besar itu kemudian dilanjutkan ke utara sampai kaki Pegunungan Khing-an-san di tepi Sungai Huang-ho, di sanalah letaknya Lembah Naga tempat tinggal ayah angkatnya, Si Pendekar Lembah Naga Cia Sin Liong! Namun ternyata perjalanan ini tidak sejauh itu dan sesudah menunda perjalanan semalam di sebuah dusun, pada esok harinya mereka sampai di tempat tujuan, yaitu di kota Ying-kouw, sebuah kota pelabuhan yang letaknya di Teluk Cili atau Teluk Po-hai sebelah utara!

Setelah mereka tiba di kota Ying-kouw, kehadiran Jaksa Phang ternyata amat berjasa dan berguna. Pembesar setempat menyambutnya dengan penuh hormat dan memberi tempat menginap yang layak, bahkan juga menjamu mereka dengan makan minum. Kepada para pembesar setempat Jaksa Phang menjelaskan bahwa dia sebagai jaksa kota raja sedang menyelidiki sebuah perkara pencurian dan menurut penyelidikan harta yang dicuri itu telah dilarikan menuju ke tempat ini.

Tentu saja para pembesar di kota Ying-kouw amat terkejut dan bersedia untuk membantu sedapat mungkin. Akan tetapi Jaksa Phang langsung menolak, mengatakan bahwa untuk menemukan harta curian itu dia sudah mempersiapkan para pembantunya, juga pasukan. Sementara itu, tiga orang muda yang menjadi tawanan, yang oleh Jaksa Phang dikatakan sebagai orang-orang yang tersangkut di dalam pencurian besar-besaran itu, dimasukkan tahanan dan dijaga ketat sekali.

Pada malam itu, diam-diam Pat-pi Mo-ko bersama Jaksa Phang, juga para pembantunya, Su Tong Hak, Hai-pa-cu Can Hoa dan Tiat-ciang Lui Cai Ko, mempelajari peta asli yang sudah diterjemahkan itu. Ternyata menurut catatan dalam peta kuno itu, harta karun yang dimaksudkan itu berada di dalam sebuah di antara goa-goa yang banyak terdapat di tepi pantai yang curam, di luar kota Ying-kouw sebelah timur. Semalam itu mereka tidak dapat tidur, dengan hati tegang mereka menunggu datangnya pagi karena mereka ingin segera dapat menemukan harta karun Jenghis Khan itu.

Pagi itu cerah sekali. Langit bersih, tiada segumpal pun awan yang menghalangi cahaya matahari pagi yang muncul dari permukaan laut, kemudian makin meninggi merubah sinar kemerahan menjadi keemasan, kemudian semakin meninggi dan sinar itu berubah pula menjadi keperakan. Dan matahari pagi itu agaknya menenangkan lautan yang semalam menggelora dan menyerbu jauh ke pantai. Sekarang ombak mulai kembali ke lautan dan permukaan laut menjadi tenang, hanya ada keriput-keriput kecil yang membuat bayangan jalan putih matahari itu bergoyang-goyang lucu.

Dari atas tebing, rombongan itu memandang ke bawah. Dari tempat setinggi kurang lebih tiga ratus meter itu, lautan tampaknya semakin lembut dan tenang, seperti permukaannya tertutup beludru biru yang terhampar luas hingga ke ujung kaki langit. Menjenguk dari atas tebing itu mendatangkan rasa ngeri, membuat bulu tengkuk meremang dan menimbulkan rasa takut.

Rasa takut melihat tempat tinggi, seperti juga perassan takut akan apa pun juga, timbul oleh bayangan pikiran yang membayangkan hal-hal yang mengerikan. Kalau kita berdiri di atas tebing lantas melihat ke bawah, tidak akan timbul rasa takut kalau saja kita tidak membayangkan sesuatu. Akan tetapi begitu pikiran membayangkan bagaimana ngerinya jika sampai tergelincir dan terjatuh dari tempat yang demikian tingginya, maka otomatis bulu tengkuk meremang dan muncullah rasa takut yang membuat jantung berdebar dan kaki gemetar.

Tiga orang muda yang menjadi tawanan dikurung oleh satu pasukan yang dipimpin oleh komandan pasukan, juga oleh Hai-pa-cu Can Hoa dan Tiat-ciang Liu Cai Ko, sedangkan Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng sendiri melakukan pemeriksaan dan dengan hati-hati sekali dia menuruni tebing yang curam itu, bergantungan pada batu-batu dan akar-akar pohon. Sementara itu, dengan kaki dan tangan terikat rantai panjang, tiga orang muda itu duduk berkumpul.

Seperti biasa pada beberapa hari selama menjadi tawanan ini, Kim Hong nampak tenang saja, memandang kepada Kok Siang yang duduk bersandar pada batu dan In Bwee yang duduk menyandarkan kepalanya pada dada kekasihnya. Sejak In Bwee dijadikan tawanan pula bersama kekasihnya, gadis ini selalu mendekati Kok Siang dan nampak sudah begitu pasrah, ingin sehidup semati dengan pemuda itu yang dari pandang matanya juga amat menyayangnya.

Malam tadi, pada saat dua orang muda yang saling berkasihan itu menyatakan ingin mati bersama, Kim Hong menghibur mereka. "Jangan putus asa lebih dahulu, harapan masih banyak bagi kita untuk meloloskan diri," katanya berbisik sehingga tidak terdengar jelas oleh para penjaga di luar kamar tahanan mereka yang agaknya sudah jemu menjaga.

"Hemmm, kematian kita sudah berada di depan mata, aku tidak pernah putus asa, akan tetapi aku pun tahu apa bila keadaan kita sudah tidak ada kemungkinan untuk lolos pula," kata Kok Siang.

"Aku tidak takut mati selama bersamamu, koko," kata In Bwee sambil merebahkan diri di atas pangkuan kekasihnya.

Kim Hong tersenyum. "Kalian lupa bahwa di luaran masih ada kekasihku yang tak akan mungkin membiarkan kita mati."

"Pendekar Sadis?" In Bwee berkata penasaran. "Kalau memang dia mempedulikan kita, kenapa tidak sejak tadi dia turun tangan?"

"Dia bukan anak kecil yang ceroboh. Dia menanti saat baik. Percayalah kepadanya. Dia akan berusaha dengan taruhan nyawanya untuk menyelamatkan kita. Bahaya masih jauh sekali. Kalau tidak, apa kalian kira aku akan enak-enak saja begini?" Berkata demikian, Kim Hong memandang kepada rantai di kaki tangannya.

Memang, jika saja dia menghendaki, dengan sinkang-nya dia akan mampu mematahkan belenggu ini dan mengamuk. Pat-pi Mo-ko terlalu memandang rendah kepadanya dan hal ini baik sekali. Memang inilah yang dia kehendaki maka ketika diadu melawan Kok Siang, dia sengaja mengalah.

Karena memandang rendah, maka tentu Mo-ko menjadi lengah, bahkan kini memasang rantai belenggu sembarangan saja, tidak melumpuhkannya dengan totokan. Mungkin Kok Siang dan In Bwee tidak akan sanggup mematahkan belenggu mereka, akan tetapi dia merasa yakin bahwa dia akan dapat melakukannya bila mana memang tiba saatnya yang baik.

Kedua tangan mereka diikat belenggu di pergelangan tangan dan kedua lengan itu berada di belakang tubuh. Jarak antara dua lengan itu hanya kurang lebih tiga puluh sentimeter, namun cukup untuk melalui kepala.

Ia pernah mempelajari ilmu Sia-kut-hoat, yaitu sejenis ilmu melemaskan diri melepaskan tulang dan dengan ilmu ini, yang membuat tubuhnya menjadl lemas seperti tubuh ular, dia akan dapat menarik kedua lengan itu dari belakang ke atas kepala, kemudian diturunkan ke depan dengan menekuk sambil melemaskan tulang pangkal lengan hingga sepasang lengannya itu akan berpindah ke depan!

Dengan kedua tangan di depan, ia akan mengerahkan sinkang mematahkan belenggu itu, atau setidaknya, ia sudah akan dapat mempergunakan kedua tangannya untuk membuat para penjaga tidak berdaya lantas merampas kunci-kunci belenggu mereka. Akan tetapi saatnya belum tiba dan bila ia melakukannya sebelum waktunya, tentu ia akan dikeroyok sedangkan sebelum dia mampu meloloskan Kok Siang dan In Bwee, dia tidak akan mau mencobanya. Saat yang ditunggu-tunggu itu adalah saat kemunculan Thian Sin, maka dia tetap bersabar karena merasa yakin bahwa belum munculnya kekasihnya itu tentu atas dasar perhitungan yang matang.

Setelah menyelidiki sampai ke bawah, Pat-pi Mo-ko lalu naik lagi. Dia sudah mempelajari tebing itu dan maklum bahwa hanya para pembantunya yang pandai ilmu silat sajalah yang akan mampu menuruni tebing itu. Padahal, menurut peta, goa di mana harta karun itu disimpan, tertutup oleh batu-batu karang yang berguguran dari atas selama ratusan tahun dan untuk menyingkirkan batu-batu besar ini dibutuhkan tenaga para prajurit. Maka mereka semua harus dapat turun ke bawah, ke tepi pantai di mana terdapat goa-goa itu.

Sesudah tiba di atas tebing, Pat-pi Mo-ko lalu berunding dengan jaksa Phang dan para pembantunya, kemudian mengambil keputusan hendak mengerahkan anak buah mereka untuk membuat jalan darurat ke bawah tebing. Mereka memang sudah bersiap membawa alat-alat, dan mulailah seratus orang prajurit itu bekerja, membuat jalan dari atas tebing ke bawah.

Lewat tengah hari, mereka semua sudah berhasil menuruni tebing itu dan berkumpul di pantai yang luas di bawah tebing, di mana terdapat goa-goa batu karang yang sebagian besar tertutup dengan batu-batu karang sebesar perut kerbau yang berguguran dari atas. Mulailah mereka bekerja keras membongkari batu-batu karang di depan dan atas sebuah goa menurut petunjuk Mo-ko yang telah mengukur sesuai dengan petunjuk peta. Menurut peta itu, apa bila dari bawah ini orang melihat ke atas, maka akan terdapat tonjolan tebing yang bentuknya seperti kepala naga. Goa itu terletak persis di bawah kepala naga itu.

Tenaga seratus orang yang dikerahkan tentu saja segera dapat menyelesaikan pekerjaan itu dengan cepat. Setelah matahari mulai condong ke barat sehingga tempat itu tak panas lagi karena sinar matahari tertutup oleh puncak tebing, para prajurit yang bekerja tiba-tiba bersorak ketika mereka melihat goa besar yang tertutup batu-batu tadi.

Pat-pi Mo-ko lalu menyuruh mereka semua mundur. Dia sendiri segera mengajak jaksa Phang, Su Tong Hak, Hai-pa-cu Can Hoa dan Tiat-ciang Lui Cai Ko, beserta dua orang pembantunya yang menarik rantai yang membelenggu ketiga orang muda itu, memasuki goa. Para prajurit disuruh menanti di luar.

Dengan wajah berseri serta jantung berdebar mereka semua memasuki mulut goa yang cukup lebar itu. Juga Kim Hong, Kok Siang dan In Bwee merasakan ketegangan di dalam hati mereka. Kim Hong dan Kok Siang merasa tegang karena mereka pun ingin melihat harta karun itu, ada pun In Bwee merasa tegang karena dia merasa khawatir kalau-kalau kekasihnya akan dibunuh setelah harta karun itu terdapat oleh pamannya.

Goa yang lebar itu ternyata di bagian dalamnya menyempit dan akhirnya mereka berhenti pada sebuah pintu batu. Dari bentuknya, dapat diduga bahwa daun pintu ini tentu buatan manusia, merupakan batu tebal berbentuk persegi empat dan di tengah-tengah daun pintu batu itu terdapat sebuah lubang kecil. Itulah lubang kuncinya!

"Ahh, di sinilah tempatnya! Tak salah lagi!" kata Pat-pi Mo-ko dan suaranya gemetar, juga tangannya ketika dia mengeluarkan sebuah kunci emas dari dalam saku bajunya. Kunci emas yang sudah diterimanya dari In Bwee yang telah berhasil mengambilnya dari tangan Pendekar Sadis!

Semua mata para pembantu Pat-pi Mo-ko memandang dengan penuh ketegangan serta kegembiraan, akan tetapi pandang mata Kim Hong, Kok Siang dan In Bwee yang sudah tahu bahwa kunci emas itu palsu, adalah kegembiraan yang bercampur dengan kegelian hati, akan tetapi juga tegang karena mereka tidak dapat membayangkan bagaimana akan jadinya nanti setelah datuk sesat itu tidak berhasil membuka dengan kunci palsu.

Seperti juga kuncinya, lubang kunci itu terbuat dari pada emas, akan tetapi ketika Pat-pi Mo-ko memasukkan kunci itu ke lubangnya, ternyata ukurannya tidak cocok dan kunci itu sama sekali tidak dapat masuk!

"Ehh...?!" Pat-pi Mo-ko mengerutkan alisnya dan menusuk-nusukkan kunci itu, memutar-mutar, akan tetapi tetap saja kunci emas itu tidak dapat memasuki lubang kecil itu karena memang bukan ukurannya.

Lubang itu kecil memanjang dan berlika-liku, harus menggunakan kunci yang pas ukuran serta cetakannya. Akhirnya Pat-pi Mo-ko menjadi marah karena dia mulai sadar bahwa kunci emas itu adalah palsu!

"Keparat!" bentaknya sambil mencabut kembali kunci itu, memandang kepada kunci itu kemudian menoleh kepada keponakannya yang memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat.

"In Bwee! Keparat kau! Kunci apa yang kau berikan kepadaku ini?"

"Katanya itu kunci emas..."

"Bohong! Ini kunci palsu!"

"Paman, aku hanya menerima dari dia yang mengatakan bahwa itulah kuncinya. Mana aku bisa tahu apakah kunci itu palsu ataukah tulen?" bantah Im Bwee.

"Hi-hik, orangnya berhati jahat dan palsu, mendapatkan peta palsu dan sesudah akhirnya menemukan peta asli dengan cara yang keji, masih juga tidak berhasil karena kuncinya pun palsu!" Kim Hong mentertawakan.

"Jahanam!" Pat-pi Mo-ko membentak marah. "Kalau engkau tidak memberikan kuncinya yang tulen, akan kusiksa kau sampai mampus!"

"Hi-hik, lucunya! Jangan-jangan sesudah kau dapatkan harta karun itu, ternyata harta itu pun palsu, Mo-ko! Alangkah lucunya! Ingin sekali aku melihat mukamu!" Kim Hong tidak mempedulikan ancaman orang.

Mendengar ini, Mo-ko menoleh ke arah pintu yang tidak dapat dibukanya itu. Ucapan itu sungguh terasa menusuk perasaannya. Bagaimana jika betul demikian? Bagaimana kalau sesudah semua jerih payah, semua harapan muluk ini, ternyata harta karun itu palsu dan hanya merupakan permainan orong gila di jaman dahulu belaka? Dia bukan hanya akan kecewa setengah mati, akan tetapi juga amat malu karena namanya tentu akan menjadi buah tertawan orang sedunia kang-ouw bahkan dia akan dianggap seperti seorang badut! Bayangan ini membuatnya menjadi marah dan penasaran sekali.

Sementara itu, ketika melihat betapa Pat-pi Mo-ko tak mampu membuka pintu itu dengan kunci emasnya, tahulah Su Tong Hak bahwa kunci emas yang katanya diterima oleh In Bwee dari Pendekar Sadis itu adalah palsu. Tentu kunci aslinya masih berada di tangan pendekar itu, pikirnya. Maka bekerjalah otak yang bercabang itu.

Kini tidak menguntungkan jika menempel kepada Pat-pi Mo-ko. Lebih baik sekarang juga berusaha mendekati Pendekar Sadis dan dia merasa yakin bahwa pendekar itu berada di antara para prajurit yang berjaga di luar. Berpikir demikian, diam-diam, mempergunakan kesempatan selagi semua orang dicekam ketegangan melihat betapa kunci itu tidak dapat membuka pintu, Su Tong Hak cepat meninggalkan goa itu dan keluar, menghampiri para prajurit yang sedang beristirahat di luar goa sambil mencari-cari. Para prajurit itu sedang berkumpul di depan goa, di luar sambil mencoba untuk melihat ke dalam karena mereka pun ingin sekali melihat apakah harta karun itu dapat ditemukan.

Pat-pi Mo-ko sudah menjadi marah bukan kepalang, marah karena kecewa dan merasa dipermainkan. Dia menggulung lengan bajunya sehingga nampak kedua lengannya yang berotot, kekar dan kelihatan kuat sekali. Dengan menggerak-gerakkan kedua lengannya yang besar, dia mengerahkan tenaga sinkang-nya hingga terdengar suara berkerotokan dari kedua lengan itu, bahkan nampak uap mengepul dari kedua telapak tangannya.

Melihat ini, diam-diam Kim Hong terkejut dan kagum. Ternyata bahwa datuk ini memang sudah mempunyai tingkat kepandaian yang tinggi dan memiliki sinkang yang sangat kuat. Teringatlah dia ketika pertama kali terjebak dalam kompleks tahanan kantor kejaksaan, ia pernah melompat untuk mendobrak pintu tetapi disambut oleh pukulan kakek itu sehingga dia terlempar kembali ke bawah.

"Hyaattttt...!" Tiba-tiba Pat-pi Mo-ko menerjang ke depan, ke arah pintu, kedua tangannya menghantam ke arah pintu batu itu dengan niat untuk menghantam pecah pintu rahasia itu, membukanya tanpa bantuan kunci lagi.

Hebat bukan main pukulan kedua telapak tangannya ini. Tiba-tiba saja seluruh ruangan goa itu tergetar keras, disusul oleh gemuruh dari atas goa. Suara bergemuruh itu semakin hebat, pintu batu itu retak akan tetapi tidak pecah dan tidak runtuh, malah kini terdengar suara yang amat berisik dari luar goa, disusul oleh teriakan-teriakan mengerikan dari para prajurit yang tadi berkumpul di luar goa.

Mendengar suara itu, Pat-pi Mo-ko dan semua orang yang berada di dalam goa itu cepat memutar tubuh dan memandang. Ketika mereka melihat apa yang tejadi di luar goa, mata mereka terbelalak dan pucat.

Ternyata dari atas tebing sedang berjatuhan ratusan batu-batu besar, menggelinding ke bawah kemudian menghantam para prajurit yang berada di luar goa itu bagaikan hujan lebatnya! Ketika akhirnya suara gemuruh berhenti dan tidak ada lagi batu yang melayang turun, semua orang keluar dan penglihatan di luar goa sungguh amat mengerikan.

Hampir seluruh prajurit yang jumlahnya seratus orang itu tewas tertimbun atau terhimpit batu-batu besar. Darah mengalir ke mana-mana dan suara erangan-erangan orang yang terhimpit batu sangat mengerikan. Paling banyak tinggal belasan orang saja yang selamat secara ajaib dan hanya mengalami luka-luka kecil. Dan di antara mereka yang tewas itu terdapat pula Su Tong Hak yang terhimpit batu dengan kepala remuk dan lenyap menjadi berkeping-keping!

Melihat hal ini, pucatlah wajah Jaksa Phang. "Celaka...!" serunya dengan tubuh menggigil melihat betapa pasukannya terbinasa.

"Keparat! Harus kubunuh bedebah-bedebah itu!" Dan dia pun lari kembali memasuki goa teringat kepada tiga orang tawanannya.

Akan tetapi matanya terbelalak melihat betapa Toan Kim Hong dan dua orang yang lain itu sudah bebas dari belenggu dan di situ telah berdiri pula seorang pemuda tampan yang berpakaian sebagai seorang prajurit. Mula-mula dia mengira bahwa tentu dia seorang di antara prajurit yang lolos dari hujan batu. Namun melihat sikap prajurit itu yang merangkul Kim Hong, jantungnya segera berdebar tegang, ada pun matanya memandang terbelalak kepada prajurit muda yang tampan dan gagah itu. Prajurit itu bukan lain adalah Thian Sin, Si Pendekar Sadis.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner