SILUMAN GOA TENGKORAK : JILID-05


Melihat gerakan itu, tahulah Thian Sin bahwa orang tinggi besar ini mempergunakan Ilmu Totok Tiam-hwe-louw, yaitu ilmu totok dari perguruan Siauw-lim-pai! Seperti juga tadi, dia pura-pura tidak tahu akan tetapi dengan diam-diam mengerahkan sinkang ke arah dada yang ditotok.

"Dukk!"

Dan orang tinggi besar itu pun meloncat ke belakang sambil menahan teriakannya karena jari tangannya bertemu dengan benda keras yang panas sekali!

Beberapa orang lain maju dan menotok tubuh Thian Sin, menggunakan bermacam cara, namun semuanya gagal. Dan Thian Sin sendiri menjadi terkejut. Orang-orang ini ternyata terdiri dari berbagai aliran perguruan silat, dan beberapa orang di antaranya adalah murid dari partai-partai bersih seperti Siauw-lim-pai dan Thian-san-pai. Tentu saja kenyataan ini membuat dia merasa heran bukan main.

"Hemm, orang muda, agaknya engkau mempunyai Ilmu I-kiong Hoan-hiat (Memindahkan Jalan Darah). Akan tetapi di depan kami tidak ada gunanya engkau berlagak," kata orang pertama atau orang yang diduga oleh Thian Sin tentulah tosu itu. Kini orang ini tiba-tiba menggerakkan tangan menotok dengan cara aneh, yaitu tanpa memilih jalan darah.

Thian Sin tahu bahwa ini adalah Ilmu Totok Coat-meh-hoat dari Bu-tong-pai! Tetapi sekali ini Thian Sin ingin memperlihatkan kelihaiannya, juga hendak memberi pelajaran kepada orang yang memandang rendah kapadanya ini, maka begitu totokan itu tiba, dia sengaja melontarkan tenaga sinkang dari tempat yang ditotok.

"Dukkk!"

Orang yang menotok itu mengaduh dan melangkah mundur, memegangi tangannya yang tadi menotok karena buku-buku tulang jari tangannya terasa remuk dan salah urat!

Semua orang bertopeng yang berada di situ siap dengan anak panah mereka. Thian Sin melihat hal ini dan dia pun berkata, "Aku sudah membiarkan diriku dibelenggu, mengapa kalian masih menghinaku? Kalau aku tidak ingin bertemu dengan pimpinan kalian, apakah semudah ini kalian dapat membelengguku? Nah, sekarang tidak perlu main-main dengan totokan lagi, mari bawa aku kepada pimpinan kalian!"

Seluruh mata di balik topeng itu memandang ragu dan agaknya kini mereka semua baru tahu bahwa tawanan muda itu sebenarnya adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan bahwa sejak tadi sudah mempermainkan mereka dengan membiarkan mereka menotoknya berganti-ganti!

Pemimpin kelompok itu cepat memberi isyarat dan tanpa banyak cakap lagi Thian Sin lalu diiringkan keluar dari tempat itu. Salah seorang anggota sebagai petunjuk jalan berjalan di depan, diikuti oleh Thian Sin yang sepasang tangannya dibelenggu. Di belakang Thian Sin berjalan si pemimpin yang terus menodongkan pedangnya pada tengkuk tawanan itu dan di belakangnya berbaris sepuluh orang anak buah yang menodongkan anak panah.

Sementara itu, melihat dari lampu-lampu yang dipasang di sepanjang lorong terowongan, maka maklumlah Thian Sin bahwa hari telah berganti malam. Jalan terowongan itu makin menaik dan dia melihat banyak sekali kamar-kamar di kanan kiri, ada yang kosong akan tetapi ada pula yang terisi karena dia mendengar suara orang-orang, laki-laki dan wanita, dari dalam kamar-kamar itu.

Akhirnya dia sampai di sebuah ruangan yang luas sekali dan melihat dindingnya yang dari batu dan langit-langitnya yang juga dari batu, dia menduga bahwa tentu dia masih berada di bawah tanah, walau pun tanah pegunungan karena sekarang dia tentu sudah mendaki cukup tinggi. Ruangan itu diterangi cahaya banyak lampu, dan di sana sudah berkumpul banyak orang.

Dengan pandangan matanya Thian Sin menyapu ruangan itu dan diam-diam dia merasa heran. Di situ berkumpul sedikitnya dua puluh lima orang, akan tetapi orang-orang biasa dan rata-rata mereka berpakaian sebagai orang-orang hartawan, malah ada yang bersikap seperti orang berpangkat, dan ada beberapa orang pula yang sikapnya seperti seorang ahli silat atau pendekar! Mereka semua memandang kepadanya dengan sinar mata orang memandang seorang penjahat atau seorang pengacau!

Ada pula belasan orang lainnya yang berpakaian seperti siluman tengkorak, berdiri sambil berjaga di sekitar tempat itu. Di belakang ruangan itu terdapat anak tangga yang menuju ke atas, lebar dan lantainya ditutup permadani merah. Akan tetapi yang sekarang menjadi perhatian Thian Sin adalah seorang pria yang memakai jubah sutera putih dengan gambar tengkorak darah di dadanya.

Jubah yang sama dengan yang dipakai oleh para anggotanya, akan tetapi ada perbedaan potongannya, karena yang dipakai orang ini sedikit longgar seperti jubah pendeta dengan lengan baju yang panjang dan lebar, dan jika para anggota itu mengenakan ikat pinggang putih, orang ini memiliki ikat pinggang yang keemasan.

Topeng yang menutupi mukanya juga topeng tengkorak, akan tetapi kalau para anggota itu topengnya nampak jelas, orang ini seakan-akan tidak bertopeng, melainkan mukanya memang muka tengkorak, hanya kulit pembungkus tulang belaka! Dan sepasang matanya mencorong menakutkan.

Thian Sin dapat menduga bahwa orang ini menggunakan topeng dari kulit yang tipis, akan tetapi dia harus mengaku dalam hati bahwa orang ini merupakan lawan yang tidak boleh dipandang ringan karena dari pandangan matanya itu berpancar kekuatan yang dia tahu kekuatan ilmu hitam atau sihir!

Mereka yang mengiringi Thian Sin kini berhenti dan Thian Sin dibiarkan berdiri di tengah ruangan. Pemuda ini berdiri tegak dengan dua tangan dibelenggu ke belakang. Suasana di dalam ruangan itu seperti sedang pesta atau menjamu tamu-tamu, dan perjamuan itu agaknya baru akan dimulai.

Thian Sin merasa betapa dia sudah mengganggu sebuah perjamuan, karena dia melihat kemarahan serta kejengkelan pada wajah orang-orang yang hadir di situ. Tiba-tiba orang yang memakai jubah dan topeng siluman itu bangkit dari tempat duduknya dan ternyata tubuhnya cukup jangkung.

"Ahh, ternyata kita sudah kedatangan seorang tamu kehormatan! Harap cu-wi yang hadir melihat baik-baik, bukankah benar bahwa tamu kita ini adalah Pendekar Sadis atau Sang Pangeran Ceng Thian Sin?"

Thian Sin terkejut bukan main. Dia mengerling ke arah para hadirin dan melihat beberapa orang di antara mereka mengangguk-angguk membenarkan. Ternyata dia sudah dikenal orang! Tentu mereka itu adalah orang-orang penting dan sesudah kini dia memperhatikan mereka, dia melihat bahwa di antara mereka itu terdapat pula pembesar-pembesar yang pernah dilihatnya di kota raja! Dia pun menanti dengan hati tegang, tidak dapat menduga dengan siapa dia sebenarnya berhadapan dan dengan perkumpulan macam apa pula.

Siluman itu kini berkata langsung kepadanya, "Orang muda yang gagah, tidak kelirukah dugaan kami bahwa engkau adalah Pendekar Sadis Ceng Thian Sin?"

Thian Sin merasa tidak perlu untuk menyembunyikan diri lagi maka dia pun mengangguk. Kini terdengar para hadirin saling berbisik dan suasana menjadi sangat tegang. Agaknya kenyataan yang telah diakui oleh beberapa orang bahwa tempat itu kedatangan Pendekar Sadis, merupakan hal yang mengejutkan mereka. Akan tetapi, siluman itu lalu melangkah maju dan menjura.

"Ahhh, selamat datang, Ceng-taihiap. Selamat datang! Hayo cepat lepaskan belenggunya dan kalian minta maaf!" katanya kepada dua belas orang yang tadi mengawal Thian Sin.

"Tak perlu repot-repot!" Thian Sin berkata dan sekali dia menggerakkan kedua lengannya yang terbelenggu di belakang tubuhnya, maka terdengarlah suara.

"Krekk! Krekkk!" dan belenggu rantai besi pada kedua tangan itu patah-patah dan runtuh ke atas lantai.

Karena semua orang memandang dengan hati tegang dan suasana amat sunyinya, maka ketika belenggu itu jatuh ke atas lantai batu, terdengar suara nyaring berdenting. Siluman Tengkorak itu tertawa, suaranya terdengar lebih nyaring dari pada denting rantai belenggu yang beradu dengan lantai.

"Hebat, Ceng-taihiap memang hebat. Silakan duduk!"

"Terima kasih!" kata Thian Sin dan dia menerima bangku yang disodorkan oleh seorang di antara para anggota Siluman Tengkorak, lalu duduk menghadapi ketua siluman yang telah duduk pula itu. "Ingin sekali saya mendengar apa artinya semua ini. Mengapa sambutan terhadap saya seperti ini?" Thian Sin mulai membuka kartu, tentu saja dengan maksud hendak memancing pembukaan kartu lawan dan untuk melihat apa yang tersembunyi di dalam hati pihak lawan.

Siluman itu tersenyum tetapi wajahnya nampak menyeramkan. Kini Thin Sin merasa yakin bahwa orang itu mengenakan topeng terbuat dari pada kain atau karet tipis, tidak sehalus topeng yang pernah dipakai oleh Kim Hong ketika dia menyamar sebagai nenek Lam-sin, akan tetapi juga tidak sekasar yang dipakai para anak buah Siluman Tengkorak itu.

"Sebetulnya pertanyaan itu harus dikembalikan kepadamu taihiap. Seingat kami, kami tak pernah bersimpang jalan dengan Pendekar Sadis, akan tetapi taihiap sudah mendatangi bahkan melakukan penyelidikan terhadap tempat kami. Sebenarnya, kami baru menduga saja bahwa taihiap adalah Pendekar Sadis, namun karena taihiap telah memasuki daerah terlarang kami, terpaksa teman-teman kami harus menangkapmu. Sesudah berada di sini dan kami yakin siapa adanya diri taihiap, tentu saja kami pun tak berani mengambil sikap sebagai musuh. Nah, harap taihiap suka menjelaskan, mengapa taihiap memasuki daerah kami? Mengapa taihiap mencampuri urusan kami?"

Thian Sin mengangguk-angguk. "Sebelum memberikan penjelasan dan menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu, lebih dulu saya ingin mengetahui, sebetulnya dengan siapakah saya bicara?"

"Perlukah hal itu taihiap tanyakan lagi? Apa bila taihiap sudah datang menyelidiki tempat kami kiranya taihiap sudah dapat menduga siapa adanya saya."

"Memang saya mendengar tentang nama Siluman Goa Tengkorak, akan tetapi saya juga mendengar anak buah Siluman Tengkorak menyebut Sian-su."

"Siancai... siancai...! Apa yang taihiap dengar itu sudah lebih dari cukup, maka terserah kepada taihiap."

"Baiklah, saya pun akan menyebut Sian-su padamu. Terus terang saja, selama ini belum pernah saya mendengar mengenai Siluman Goa Tengkorak dan hanya secara kebetulan saya melihat seorang bernama Kwee Siu tewas oleh seorang yang memakai pakaian dan topeng sebagai anggota Siluman Goa Tengkorak. Saya belum pernah bertindak tanpa sebab. Saya mendengar dari mendiang Kwee Siu bahwa Siluman Goa Tengkorak sudah membunuh Tujuh Pendekar Tai-goan. Karena itulah saya datang ke sini hendak bertemu dengan Siluman Goa Tengkorak dan bertanya mengapa tujuh orang pendekar itu dibunuh tanpa dosa?"

"Ha-ha-ha, sungguh pertanyaan ini terdengar lucu jika keluar dari mulut Pendekar Sadis! Taihiap sendiri dinamakan Pendekar Sadis akibat tindakan taihiap terhadap musuh-musuh taihiap jadi semua tindakan tentu ada sebabnya, bukan? Nah, demikian pula dengan tujuh orang itu. Mereka sudah berani menentang kami, maka anehkah kalau mereka itu roboh dan tewas di tangan kami? Kami hanya membela diri, dan di dalam perkelahian, wajarlah kalau terjadi kematian bagi yang kalah."

"Memang, sebab melahirkan akibat dan akibat menjadi sebab lagi. Kalau Tujuh Pendekar Taigoan menentang dan melawan Sian-su bersama para anggotanya, hal itu tentu ada sebabnya pula."

"Dan sebabnya itu apa, taihiap?"

"Ada seorang ibu muda keluarga Cia yang diculik orang dan suaminya, seorang di antara Tujuh Pendekar Tai-goan, dibunuh. Apakah peristiwa itu bukan merupakan suatu sebab yang cukup berat?"

"Siancai... siancai! Cu-wi yang hadir tentu sudah mendengar fitnah-fitnah itu. Ceng-taihiap rupanya juga terkena pengaruh fitnah keji yang dilontarkan kepada kami. Taihiap, lihatlah orang-orang terhormat yang hadir di sini! Kalau memang kami demikian jahatnya, apakah mereka itu akan sudi hadir di sini dan juga menjadi pengikut dan saudara sekepercayaan kami? Ketahuilah bahwa kami mengajak semua orang untuk menikmati hidup dan menjadi anggota agama baru kami. Dan tentang ibu muda keluarga Cia itu... ah, sebaiknya taihiap menyaksikan sendiri. Kebetulan sekali kami kini sedang mengadakan pesta dan upacara pengangkatan seorang anggota wanita baru. Lebih baik taihiap menyaksikan sendiri dari pada mendengar fitnah dari mulut lain orang."

Thian Sin tak bisa membantah lagi. Siluman itu lalu mempersilakan dengan suara lantang supaya semua orang suka mengikutinya ke apa yang dinamakannya sebagai ‘Panggung Puncak Bahagia’ dan semua orang pun berdiri dengan wajah gembira.

"Saatnya sudah hampir tiba, mari kita bersiap-siap menyambut turunnya Dewi Cinta dan mempersiapkan upacaranya." Demikian dia berkata sambil menghampiri Thian Sin yang masih duduk. "Ceng-taihiap, engkau menjadi tamu kehormatan, silakan mengikuti kami ke tempat upacara."

Thian Sin hanya mengangguk, lalu bangkit berdiri dan berjalan mengikuti siluman itu yang diiringkan pula oleh semua yang hadir. Para anggota siluman menjaga di kanan kiri dan ada pula yang berada di depan dan belakang. Mereka itu rata-rata memiliki kepandaian tinggi dan gerakan kaki mereka hampir tidak menimbulkan suara.

Semua orang kini mendaki anak tangga menuju ke atas yang bertilam permadani merah dan diam-diam Thian Sin memperhatikan kanan kiri. Dindingnya masih terbuat dari pada batu, akan tetapi kini dihiasi dengan kain-kain sutera, bahkan ada lukisan-lukisan kuno yang indah. Anak tangga itu memutar beberapa kali, seperti anak tangga yang menuju ke menara sebuah istana kuno. Akan tetapi setelah tiba di bagian teratas, Thian Sin segera terbelalak penuh kagum.

Kalau tadi di kanan kiri anak tangga itu dihiasi dan diterangi dengan lampu-lampu yang beraneka warna, kini langit-langit terbuka dan yang menghias langit-langit adalah bintang-bintang yang sinarnya suram karena kalah oleh sinar bulan yang sudah naik tinggi! Bulan sepotong, akan tetapi karena langit bersih, maka cuaca cukup terang.

Kiranya tempat upacara itu berada di atas puncak bukit yang dikelilingi puncak-puncak lain sehingga tidak akan nampak dari jauh, dan puncak itu merupakan tempat datar yang cukup luas, yang dikurung oleh jurang-jurang amat dalamnya sehingga orang tidak akan mungkin menuruni atau naik ke puncak lewat jurang-jurang itu, kecuali lewat jalan rahasia terowongan!

Luas puncak bukit datar itu tidak kurang dari dua puluh lima kaki tombak persegi, kurang lebih seribu lima ratus meter persegi dan karena terbuka, maka sinar bulan bintang atau matahari dari angkasa dapat menerangi seluruh tempat itu tanpa terhalang apa pun juga. Tempat itu dihiasi pohon, akan tetapi di sekeliling tepinya terdapat tanaman bunga-bunga indah, kemudian rumput-rumput hijau seperti permadani, dan di bagian tengahnya diberi rantai tembok yang halus mengkilap.

Kursi-kursi berjajar pada sebelah kiri, dan ke tempat inilah Siluman Tengkorak membawa para tamu. Semua orang lalu dipersilakan duduk dan Thian Sin sendiri mendapat tempat duduk kehormatan di sebelah kiri sang ketua namun mungkin juga sang pendeta karena sebutannya Sian-su.

Thian Sin memperhatikan sekeliling. Sungguh merupakan tempat yang tersembunyi dan indah sekali. Tidak kelihatan dari dunia luar, terlindung dan tersembunyi. Di dekat tempat duduk sang pemimpin terdapat sebuah meja sembahyang. Di samping kiri terdapat satu kelompok pemain musik yang pada saat itu memainkan alat musik mereka dengan lembut sehingga membuat suasana menjadi romantis dan syahdu. Di hadapan mereka terdapat lantai tembok yang amat halus itu dan di sana-sini, bahkan sampai ke lapangan-lapangan rumput, terdapat kasur-kasur kecil yang beraneka warna dengan selubung bersulam.

Di tempat-tempat yang dibuat secara nyeni terdapat lampu-lampu dengan penutup warna warni dan di sana-sini mengepul asap dupa wangi yang mendatangkan rasa nyaman dan menyenangkan. Di sebelah kanan, di tepi tempat itu, terdapat bangunan-bangunan kecil yang agaknya belum selesai dibangun.

Thian Sin bisa menduga bahwa bangunan-bangunan kecil itu adalah bangunan-bangunan yang dibangun untuk para ‘dewa’ seperti yang biasa dipergunakan untuk tempat arca atau patung yang dipuja orang di dalam kuil-kuil. Akan tetapi yang hebat bukan main adalah kenyataan bahwa pondok-pondok kecil seperti pondok boneka itu terbuat dari pada emas dan terukir indah. Sulit dibayangkan betapa mahalnya membuat pondok-pondok pemujaan dewa-dewa seperti itu.

Tiba-tiba suara musik yang tadinya lembut itu mulai berubah. Sang pemimpin mengangkat tangan kiri ke atas, kemudian suara musik itu berubah menjadi semakin keras dan penuh semangat. Dan bersama dengan perubahan suara musik ini, dari sebuah anak tangga kiri, agaknya menembus ke tempat yang lain lagi dari pada ruangan di mana tadi Thian Sin diterima oleh siluman itu, nampak belasan orang wanita berlari-larian naik.

Mereka itu semuanya terdiri dari wanita-wanita yang muda dan cantik-cantik, dan mereka memakai gaun panjang tipis yang membuat tubuh mereka nampak terbayang. Gaun dari kain sutera putih yang tembus pandang itu tertimpa sinar bulan dan lampu-lampu hingga menciptakan lekuk lengkung tubuh ditimpa bayangan-bayangan yang menggairahkan.

Karena mereka adalah wanita-wanita muda, tentu saja tubuh mereka itu padat dan indah. Kaki mereka yang tak bersepatu itu berlari-larian dan membuat gerakan berjungkit dalam langkah-langkah tarian. Rambut mereka yang hitam dan panjang terurai lepas ke belakang punggung dan kedua pundak, dihias bunga-bunga putih. Dua tangan mereka menyangga baki-baki yang agaknya terbuat dari pada emas pula!

Dengan gerakan yang lemah gemulai dan menggairahkan, lima belas orang penari wanita ini menari dan membuat gerakan berlarian kecil berputaran secara teratur menurut irama music, dan sambil menari mereka menggerak-gerakkan tubuh mereka dengan cara-cara yang menimbulkan pesona dan gairah, gerakan pinggul yang memikat dan penuh nafsu, makin lama makin liar ketika musik itu makin nyaring dibunyikan oleh para penabuhnya.

Sejenak Thian Sin sendiri tertarik dan terpesona. Memang indah bukan main. Suasananya amat romantis, sinar bulan dan cahaya lampu-lampu beraneka warna itu, di udara terbuka yang demikian sejuk, dengan keharuman kembang-kembang bercampur wanginya dupa. Dan gadis-gadis itu menjadi semakin cantik menarik karena tertimpa cahaya warna-warni yang redup, dengan lekuk lengkung tubuh gempal di balik pakaian yang tembus pandang, dan diiringi suara musik yang merangsang pula!

Akan tetapi pemuda ini segera dapat menguasai perasaannya dan secara diam-diam dia pun mengerling ke arah para tamu. Dia tidak merasa heran melihat betapa para tamu pria itu semakin terangsang, pandang mata mereka itu berseri-seri penuh nafsu birahi, wajah mereka kemerahan, hidung kembang-kempis dan mulut tersenyum-senyum penuh gairah.

Dari samping nampak betapa sering kalamenjing mereka naik turun saat mereka menelan ludah. Bahkan ada pula yang memandang dengan mata melotot, seakan-akan tubuh yang menggairahkan itu hendak ditelan bulat-bulat dengan pandangan matanya. Ada pula yang berpakaian sebagai ahli silat, tampak tenang saja akan tetapi tangannya mengepal keras, tanda bahwa dia pun terpesona dan berusaha untuk menekan perasaannya.

Semua ini nampak oleh Thian Sin dan dia menemukan sebab yang merupakan daya tarik bagi mereka itu, yaitu pemuasan birahi dan rangsangan yang agaknya sengaja disajikan oleh wanita-wanita cantik itu kepada mereka. Dan ketika dia mengerling ke arah siluman yang dipanggil Sian-su itu, dia melihat bahwa orang bertopeng ini pun seperti dia, sedikit juga tidak memperhatikan lagi kepada para penari, melainkan memandang ke kanan kiri, memperhatikan satu demi satu wajah para tamu dengan senyum puas yang membayang pada topeng tengkoraknya.

Setelah menari-nari beberapa kali putaran dan setiap berputar di dekat tempat duduk para tamu tercium bau harum winyak wangi dari tubuh mereka, kembali Sian-su mengangkat tangan kirinya dan ini pun merupakan isyarat karena suara musik tiba-tiba menurun. Para wanita yang menari itu pun memperhalus tarian mereka dan akhirnya mereka berkumpul menjadi suatu kelompok lalu bersama-sama menjatuhkan diri berlutut di hadapan Sian-su!

Siluman ini mengangguk-angguk dan tangannya bergerak seperti menebarkan sesuatu di udara dan... kelopak-kelopak bunga beterbangan lalu melayang turun ke atas kepala lima belas orang penari yang ditundukkan dalam penghormatan mereka itu. Kelopak-kelopak bunga itu hinggap di atas rambut-rambut hitam itu, indah seperti kupu-kupu yang hinggap di atas bunga-bunga mekar.

Thian Sin mengerutkan alisnya. Secara diam-diam dia tahu bahwa orang itu sangat lihai, bukan saja ahli ilmu silat tinggi seperti yang sudah disangkanya, akan tetapi juga pandai mempergunakan kekuatan sihir untuk bermain sulap! Dia pun cepat membuat tanggapan dengan sinar mata penuh kagum dan heran seperti yang diperlihatkan oleh wajah semua orang yang hadir.

Kebetulan sekali siluman itu memandang kepadanya dan Thian Sin melihat dengan jelas betapa muka tengkorak itu tersenyum simpul, jelas kelihatan gembira serta bangga sekali dengan ilmu kepandaiannya, terutama sekali karena ilmu sihirnya dikagumi oleh seorang pendekar seperti Pendekar Sadis!

Sekarang lima belas orang penari itu bangkit berdiri. Dengan gerakan lemah gemulai dan memikat mereka pun berjalan menghampiri para tamu dengan baki pada kedua tangan. Sambil tersenyum Si Muka Tengkorak itu berkata kepada Thian Sin,

"Maaf, taihiap, bukan kami mata duitan, akan tetapi karena kebutuhan untuk membangun perkumpulan agama kami membutuhkan banyak biaya, dan para anggota serta pengikut kami bermurah hati, maka acara sekarang ini adalah acara pemberian sumbangan suka rela yang dipungut oleh para gadis penari. Akan tetapi sebagai tamu kehormatan, tentu saja taihiap tidak diharapkan untuk menyumbang..."

"Ahh, jangan sungkan, Sian-su. Aku pun bersedia menyumbang, jangan khawatir!" Thian Sin langsung merogoh saku dalam bajunya dan mengeluarkan sebongkah kecil emas dan ketika ada seorang penari lewat di depannya, dia segera menaruh bongkahan emas yang besarnya sekepal itu di atas baki.

Tentu saja penari itu terkejut bukan kepalang, terbelalak melihat emas yang berat itu lalu melempar senyum manis dan kerling mata yang penuh daya memikat. Semua tamu juga memandang heran dan mereka maklum betapa besarnya harga sumbangan yang sudah diberikan oleh Pendekar Sadis. Akan tetapi tentu saja mereka tidak tahu bahwa Pendekar Sadis adalah seorang yang kaya raya sehingga sebongkah emas itu tak ada artinya sama sekali baginya!

Melihat ini, siluman itu lalu tertawa. "Siancai... taihiap sungguh dermawan. Terima kasih, taihiap. Abwee, kau simpan kerlingmu itu dan jangan khawatir, malam nanti engkau boleh melayani Ceng-kongcu!"

Gadis penari yang disebut A-bwee itu menahan senyum lalu berlari-lari ke arah tamu lain. Thian Sin memperhatikan ke sekelilingnya dan dia melihat betapa royalnya para tamu itu saat menyerahkan sumbangan kepada para gadis penari, meletakkan sumbangan mereka di atas baki-baki yang disodorkan oleh para gadis itu. Di antara mereka bahkan ada yang mengajak para gadis itu bersenda-gurau dan berbisik-bisik lirih.

Sesudah selesai upacara sumbangan itu, para gadis itu lalu mengundurkan diri sambil berlari-larian menuju anak tangga yang letaknya di belakang, yaitu tempat dari mana tadi mereka naik. Musik masih dimainkan dengan lembut, dan tidak lama kemudian, nampak para gadis manis itu sudah kembali lagi namun kini baki-baki itu sudah berganti isi, yaitu cawan-cawan dan guci arak dan ada pula yang membawa piring-piring berisi makanan.

Sambil tersenyum-senyum para gadis itu menghidangkan arak dan makanan di atas meja para tamu, kemudian dengan sikap lemah gemulai dan tersenyum-senyum ramah mereka lalu menuangkan arak dari guci ke dalam cawan para tamu. Begitu arak dituangkan ke dalam cawan, segera tercium bau sedap arak yang baik dan tua. Kini bukan hanya lima belas orang gadis penari tadi yang menjadi pelayan, namun ditambah lagi oleh beberapa orang lain yang sama muda dan cantiknya sehingga jumlah mereka ada dua puluh lima orang.

Setelah melihat betapa semua tamu menerima suguhan arak dan cawan mereka sudah dipenuhi arak harum, Siluman Tengkorak yang juga sudah menerima suguhan secawan arak lantas mengangkat cawan araknya ke atas dan berkata dengan suara ramah, "Cu-wi, silakan minum untuk persahabatan kita yang kekal!"

Semua orang mengangkat cawan araknya masing-masing dan Thian Sin juga mengangkat cawan araknya, tetapi tidak memperlihatkan sikap curiga walau pun dia menduga bahwa tentu ada apa-apanya di dalam suguhan arak ini. Akan tetapi dia mengandalkan kekuatan sinkang-nya untuk melindungi tubuhnya apa bila arak itu dicampuri racun. Lagi pula, dia melihat sendiri bahwa arak untuknya itu dari satu guci dengan arak untuk para tamu lain, maka dia ikut minum tanpa curiga sama sekali.

Begitu arak itu melewati mulut dan kerongkongannya, Thian Sin merasa bahwa arak itu memang lezat sekali dan mengandung sesuatu yang merupakan obat keras namun halus. Dia merasa yakin bahwa itu bukanlah racun, meski pun dia juga tahu bahwa tentu arak itu telah dicampuri semacam obat yang cukup keras. Beberapa lama kemudian setelah arak memasuki perutnya, Thian Sin baru tahu bahwa arak itu mengandung obat perangsang yang membuat tubuhnya hangat dan pikirannya gembira.

Sesudah merasa yakin bahwa arak itu tidak mengandung racun, Thian Sin berani minum dengan hati tenang. Sekarang dia melihat betapa para tamu itu sudah mulai terpengaruh arak, mereka tertawa-tawa gembira. Hidangan pun dikeluarkan dan musik kini mengiringi gadis-gadis yang datang dan menari-nari.

Pakaian mereka merupakan gaun-gaun tipis warna-warni sehingga selain indah, juga amat menggairahkan karena pakaian mereka tembus pandang. Gerakan-gerakan mereka yang erotis membuat suasana menjadi semakin panas, ditambah pula pengaruh arak sehingga di antara para tamu itu sudah ada yang mulai nakal dengan kata-kata dan tangan mereka, menggoda dan menowel para pelayan wanita yang muda dan cantik.

Thian Sin melihat bahwa pelayan-pelayan itu agaknya juga sudah mulai terpengaruh oleh sesuatu yang membuat mereka itu bersikap genit-genit dan berani, padahal melihat sikap mereka, gadis-gadis itu tentu dari golongan baik-baik.

Makin larut malam, suasana menjadi semakin panas. Thian Sin melihat betapa sudah ada beberapa orang di antara para tamu itu yang berani menarik lengan seorang pelayan dan mendudukkannya di atas pangkuan lalu menciuminya begitu saja di depan orang banyak!

Agaknya siluman yang jadi ketua perkumpulan itu dapat melihat pula hal ini, maka ia pun memberi isyarat dengan tangan diacungkan ke atas dan seorang di antara para anggota siluman itu lalu membunyikan canang bertalu-talu. Mendengar ini, gadis-gadis pelayan itu melepaskan diri dan mundur, bahkan lalu menghilang bersama-sama para gadis penari. Siluman Tengkorak itu bangkit berdiri dan suaranya terdengar lantang namun lembut dan ramah.

"Cu-wi yang terhormat, seperti diketahui malam hari yang suci ini akan dilakukan upacara pengangkatan seorang anggota baru. Oleh karena itu, sebelum kita memulai acara tarian bebas gembira untuk memuja dewa, terlebih dulu akan dilakukan upacara pengangkatan murid atau anggota baru itu. Harap cu-wi suka menjadi saksi."

Semua tamu yang sudah makan kenyang itu kini duduk tenang dan Thian Sin sendiri pun mengikuti perkembangan berikutnya dengan penuh perhatian. Dia belum lagi tahu di mana adanya ibu dari dua orang anak itu, akan tetapi dia sabar menanti sampai semua upacara selesai, baru dia akan mendesak siluman itu.

Dia harus berhati-hati karena tempat ini sungguh sangat berbahaya. Jumlah anak buah siluman ini kiranya tidak kurang dari dua puluh lima orang, belum dihitung gadis-gadis itu dan siapa tahu bahwa di antara para tamu itu terdapat orang-orang pandai yang agaknya tentu akan membantu siluman itu pula.

Semua ini ditambah lagi dengan kenyataan bahwa dia kini berada di dalam sarang musuh yang sangat berbahaya dan yang agaknya penuh dengan perangkap-perangkap rahasia sehingga andai kata dia akan dapat menghadapi pengeroyokan begitu banyaknya orang, belum tentu dia mampu mengatasi semua alat-alat jebakan di tempat itu. Biarlah bersabar sambil mencari kesempatan baik untuk turun tangan sambil mengukur sampai di mana kekuatan pihak lawan.

Siluman Tengkorak itu kemudian mengangkat tangannya memberi isyarat dan musik pun dimainkan lagi dengan lagu yang lembut akan tetapi sekaligus mengandung kekerasan di dalamnya, seperti dalam lagu puja-puji. Asap dupa pun mengepul makin tinggi, semerbak wanginya, sedangkan seluruh lampu diganti dengan lampu yang warnanya hijau sehingga cuaca menjadi redup.

Kini nampaklah tujuh orang gadis naik ke tempat itu, bertelanjang kaki dan mengenakan pakaian yang begitu tipisnya sehingga pakaian itu seperti kabut saja yang menutupi tubuh mereka, membuat tubuh di balik pakaian itu nampak jelas membayang. Mereka berjalan perlahan-lahan, penuh khidmat sambil membawa bermacam-macam benda.

Ada yang membawa seekor kelinci putih yang gemuk, ada yang membawa sebuah bokor emas, ada yang membawa guci arak dan ada pula yang membawa sebatang pedang kecil. Hebatnya, bokor, guci dan bahkan pedang kecil itu semua terbuat dari pada emas tulen!

Tujuh orang gadis ini melangkah perlahan, dengan kepala tunduk, ke arah tempat duduk Siluman Tengkorak, lalu mereka berlutut dengan sikap menanti. Siluman itu lantas bangkit berdiri, melangkah maju dan gadis-gadis itu berlutut di sekitarnya. Siluman itu kemudian mengangkat kedua tangannya ke atas kepala dengan lengan dikembangkan, lantas muka tengkorak itu menengadah dan terdengarlah suaranya lantang dan mengandung getaran yang amat kuat sehingga diam-diam Thian Sin terkejut bukan main. Itulah tenaga khikang yang kuat bercampur dengan kekuatan mukjijat ilmu sihir!

"Yang Mulia Dewa Kematian, silakan menjelma agar hamba sekalian dapat mengesahkan pengangkatan seorang pemuja baru bagi paduka...!" Suara itu bergema membuat semua hadirin memandang dengan sikap hormat dan juga dengan hati tegang.

Biar pun mereka yang hadir itu sudah beberapa kali menyaksikan peristiwa ini, namun selalu mereka merasakan ketegangan luar biasa karena pada saat itu mereka merasakan getaran aneh yang seolah-olah mengguncang jantung. Bahkan para pendekar yang hadir secara diam-diam harus mengakui bahwa sinkang yang mereka kerahkan untuk menekan getaran itu jauh kalah kuat, membuat mereka merasa semakin kagum terhadap Sian-su!

Thian Sin bersikap tenang, tetapi dengan mengerahkan tenaga dalam dan juga kekuatan sihirnya, dia dapat memandang lebih terang sehingga tahulah dia bahwa dengan kekuatan sihir yang kuat, orang itu telah mempengaruhi semua orang dengan halus tanpa mereka sadar bahwa mereka telah disihir melalui suara itu.

Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras dan nampak asap putih kebiruan mengepul tebal di tempat Siluman Tengkorak itu berdiri. Tubuh siluman itu lenyap terbungkus asap tebal sedangkan musik masih dimainkan dengan lagu yang amat aneh tadi. Selagi asap masih mengepul tebal, nampaklah dua puluh orang lebih penari yang tadi, tapi kini telah berganti pakaian gaun tipis berwarna-warni.

Mereka berlari-lari ringan dan menari-nari, membuat lingkaran mengelilingi Sian-su yang masih terbungkus asap di tengah-tengah lingkaran tujuh orang gadis yang masih berlutut. Perlahan-lahan asap itu membuyar kemudian tubuh orang itu mulai nampak lagi, dan kini semua orang memandang dengan hormat, bahkan ada di antara para hadirin yang cepat menjatuhkan diri berlutut memberi hormat.

Thian Sin memandang tajam dan dia pun terkejut melihat betapa wajah tengkorak itu kini mengeluarkan cahaya cemerlang! Orangnya masih yang tadi, tidak ada perubahan, yang berubah hanya wajah tengkorak itu yang mengeluarkan sinar, sedangkan sepasang mata itu pun kini bersinar-sinar mencorong lebih terang dari pada tadi.

Thian Sin maklum bahwa ledakan dan asap tadi hanya merupakan hasil dari pada bahan peledak saja, dan bahwa orang itu telah mempengaruhi pikiran dan semangat para hadirin dengan getaran suaranya. Akan tetapi, dia sendiri tidak tahu apa yang membuat wajah tengkorak atau topeng tipis itu menjadi cemerlang seperti itu.

Dia tahu pula bahwa tentu semua yang hadir percaya bahwa kini Dewa Kematian telah menjelma dan memasuki tubuh Sian-su! Tentu saja kepercayaan semacam ini membuat mereka itu semua tunduk dan kagum. Seorang anggota siluman mendekati Thian Sin dan dari kepalanya yang miring ke kiri itu Thian Sin dapat menduga bahwa orang ini tentulah tosu yang pertama kali memancingnya masuk ke tempat ini.

"Taihiap, saya bertugas untuk memberi keterangan kepadamu seandainya taihiap ingin mengetahui sesuatu."

Thian Sin tersenyum dan merasa bahwa pertunjukan ini, selain untuk mempengaruhi para hadirin dan menarik kepercayaan mereka, juga sengaja dipamerkan kepadanya! Maka dia pun mengikuti permainan ini dan bertanya dengan suara dibuat bernada penuh dengan keheranan, "Aku ingin tahu mengapa wajah Sian-su menjadi bercahaya seperti itu?"

Dengan suara yang serius dan penuh hormat, siluman itu berbisik, "Taihiap, yang berdiri di situ hanyalah tubuh Sian-su, akan tetapi sesungguhnya adalah Dewa Kematian yang memasuki dirinya."

"Ahhh...!" Thian Sin pura-pura heran dan mengangguk-angguk.

Kini dia melihat ada dua orang anggota siluman naik dan menghampiri Sian-su. Siluman Tengkorak ini menggerakkan tangan kirinya ke udara dan tahu-tahu dia telah memegang secawan arak! Lalu dipercikkan arak dari cawan itu kepada dua orang anggota yang telah belutut, mengenai kepala dan sebagian lehernya.

Percikan arak ini seakan-akan menjadi isyarat bagi mereka berdua, maka mereka segera mencabut sebatang pedang pendek dari pinggang, kemudian mulai menggurat leher serta pipinya dengan pedang itu. Darah pun muncrat dari luka-luka itu, akan tetapi kedua orang ini seperti tak merasakan sesuatu, lalu menari-nari dengan aneh diiringi suara musik dan ditanggapi oleh para penari yang mengelilingi tempat itu dengan gerakan-gerakan pinggul yang memutar-mutar erotis. Dua orang itu lalu sibuk menuliskan huruf-huruf dengan darah mereka di atas potongan-potongan kain putih.

Anggota siluman yang duduk di dekat Thian Sin menerangkan tanpa diminta, "Itu adalah hui-hu yang ditulis dengan darah mereka dan dapat menjadi jimat penolak iblis yang nanti akan dibagi-bagikan kepada para tamu. Sekarang akan diadakan upacara injak bara api dan mandi minyak mendidih."

Ternyata persiapan untuk itu sudah dikerjakan dengan amat cepatnya oleh para anggota siluman dan sebentar saja telah terhampar bara api dari arang yang membara sepanjang tiga meter, dan tidak jauh dari sana terdapat kuali besar penuh minyak yang dipanaskan sampai mendidih. Semua tamu yang duduknya cukup jauh dari tempat itu masih dapat merasakan panasnya bara api itu.

Setelah persiapannya selesai dan semua kain putih telah ditulisi dengan darah, dua orang anggota perkumpulan siluman itu bangkit, menari-nari, masih menggores-goreskan pisau atau pedang kecil itu pada dada mereka yang telanjang, kemudian mereka menghampiri bara api dan berjalan dengan kaki telanjang di atas arang membara!

Dua kali mereka berjalan melintasi arang membara itu, kemudian keduanya menghampiri kuali yang penuh dengan minyak mendidih dan mengoles-oleskan minyak mendidih itu di tubuh mereka. Sungguh luar biasa sekali. Asap mengepul dari tubuh mereka, akan tetapi kulit mereka sama sekali tidak melepuh atau pun terbakar, malah luka-luka goresan yang tadinya berdarah itu menjadi sembuh dan pulih kembali, bahkan bekas goresan luka saja tidak ada lagi!

Tontonan seperti ini bukanlah tontonan baru bagi orang-orang yang hadir, juga bagi Thian Sin, namun selalu masih amat menarik perhatian dan mendatangkan kengerian, membuat kepercayaan orang akan hal-hal yang aneh dan tidak mereka mengerti menjadi semakin tebal menyelinap di dalam hati dan membuat mereka lebih condong menerima ketahyulan dan membiarkan diri terpengaruh.

Thian Sin pernah beberapa kali menonton pertunjukan dari para tangsin seperti itu, yang dilakukan di kuil-kuil pada waktu ada upacara atau pesta. Maka dia tidak merasa heran sungguh pun dia tahu bahwa peristiwa itu sama sekali bukan hasil main sulap, melainkan akibat dari penyihiran diri sendiri melalui kepercayaan yang mutlak.

Sudah menjadi kelemahan kita manusia pada umumnya untuk merasa tertarik terhadap hal-hal yang aneh-aneh, peristiwa-peristiwa yang tidak masuk akal serta penuh rahasia, keajaiban-keajaiban dan kemukjijatan-kemukjijatan. Manusia selalu merasa haus dengan hal-hal yang baru, yang aneh, yang tidak kita mengerti.

Kita begitu mendambakan hal-hal baru sehingga kita telah melupakan hal-hal lain yang terjadi di sekitar kita, yang kita anggap telah lapuk dan lama, tidak menarik lagi. Padahal segala macam keajaiban serta kemukjijatan terjadi di sekitar kita, bahkan di dalam diri kita sendiri.

Tumbuhnya setiap helai rambut di kepala dan bulu di kulit kita merupakan keajaiban dan kemukjijatan yang besar, detak jantung kita yang mengatur peredaran darah di seluruh tubuh kita, kembang-kempisnya paru-paru kita yang menghidupkan, bekerjanya seluruh anggota tubuh kita, panca indera kita, bekerjanya otak kita yang membuat kita dapat bicara, mendengar, melihat dan berpikir. Bukankah semua itu merupakan sesuatu yang amat indah, sesuatu yang amat ajaib dan mukjijat, di mana sepenuhnya terdapat suatu kekuatan gaib yang sungguh maha kuasa?

Kemudian, segala benda yang tampak di luar diri kita. Gunung-gunung raksasa, tumbuh-tumbuhan dengan aneka warna, bunga, dan aneka rasa buahnya, segala makhluk hidup yang bergerak dengan segala macam bentuk, corak dan sifatnya, lalu awan berarak di angkasa, menciptakan hujan, hawa udara yang menghidupkan, sinar matahari, air, bumi, langit dan segala isi alam ini.

Bukankah semua itu merupakan keajaiban yang sangat hebat? Namun kita sudah tidak menghargai semua itu lagi, kita sudah buta akan keajaiban itu, kita menggapnya biasa saja hingga melihat orang menginjak bara api saja kita kagum setengah mati! Padahal, apa sih anehnya menginjak bara api itu apa bila dibandingkan dengan tumbuhnya sehelai rambut kepala atau kuku jari kita?

Keajaiban atau sesuatu yang kita anggap aneh adalah disebabkan kita belum mengerti. Karena masih belum mengerti, tidak tahu bagaimana proses terjadinya, maka kita lalu menganggapnya aneh, ajaib dan menimbulkan khayal yang bukan-bukan. Akan tetapi, sekali orang sudah mengerti, hal yang tadinya dianggap ajaib itu pun menjadi biasa dan terlupakan, tidak menarik lagi, seperti tidak menariknya melihat segala keajaiban yang terjadi sehari-hari di sekeliling kita. Kita memandang selalu jauh ke depan, mencari-cari yang baru.

Kita ini mahkluk pembosan. Tertarik akan hal-hal baru memang merupakan suatu sifat yang baik, seperti anak-anak yang selalu ingin tahu. Akan tetapi sifat ini harus menjadi dorongan untuk menyelidiki sesuatu bukan menerima segala sesuatu begitu saja hingga menciptakan watak tahyul.

Ketahyulan adalah suatu kebodohan, menerima sesuatu dengan keyakinan padahal kita tidak mengerti, dan hal ini terjadi karena kita senang akan sensasi. Menerima sesuatu dengan kata ‘percaya’ mau pun dengan kata ‘tidak percaya’ adalah perbuatan bodoh dan tidak bijaksana, karena menerima sesuatu dengan kata seperti itu berarti bahwa kita belum atau tidak mengerti.

Sebaiknya kalau kita menghadapi sesuatu yang tidak kita mengerti itu dengan waspada, membuka mata serta telinga, dan menyelami sendiri, menyelidiki sendiri sehingga kita mengerti. Karena apa bila kita sudah mengerti, maka tidak ada lagi istilah percaya atau tidak percaya.....



Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner