SILUMAN GOA TENGKORAK : JILID-06


"Taihiap, sekarang upacara pengangkatan murid wanita yang baru akan segera dimulai," kata pula anggota siluman itu kepada Thian Sin ketika pertunjukan itu selesai dan tempat itu sudah dibersihkan kembali.

Tiba-tiba musik berbunyi semakin nyaring, kemudian nampaklah seorang wanita berjalan perlahan-lahan menaiki panggung atau puncak datar itu. Thian Sin memandang seksama. Dia melihat bahwa wanita itu sangat cantik dan biar pun mukanya agak pucat, akan tetapi muka itu sungguh mempunyai daya tarik yang kuat.

Wajah dan tubuhnya menunjukkan bahwa wanita ini sudah masak, usianya tentu ada dua puluh tujuh tahun. Rambutnya yang hitam terurai lepas itu sangat tebal dan panjangnya sampai ke pinggul. Kedua kakinya yang kecil telanjang dan dia memakai gaun yang sama tipisnya dengan gadis-gadis penari, gaun panjang menutupi kaki sehingga terseret di atas lantai, warnanya putih bersih. Apa bila dipandang sepintas lalu wanita ini seperti seorang mempelai yang akan dipertemukan dengan pengantin pria.

Wanita itu berjalan perlahan, kemudian berhenti di hadapan Sian-su yang masih berdiri tegak dengan wajah bercahaya. Sejenak wanita itu memandang wajah itu, lalu mengeluh lirih dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Sian-su!

"Itukah anggota baru?" Thian Sin bertanya.

"Benar, taihiap. Dia itulah wanita yang taihiap sebut-sebut ketika menghadap Sian-su."

Thian Sin benar-benar terkejut sekali. "Apa? Kau maksudkan dia ini adalah ibu muda dari kedua orang anak itu? Ibu dari keluarga Cia yang terculik?" Thian Sin bangkit berdiri. "Jadi benarkah bahwa kalian telah menculiknya dan membawanya ke sini?"

"Sabar dan tenanglah, taihiap," kata orang itu.

Dengan sudut matanya, Thian Sin dapat melihat betapa beberapa anggota perkumpulan itu agaknya selalu memperhatikannya dan mereka telah siap untuk turun tangan apa bila nampak gejala bahwa dia akan memberontak.

"Jangan menuduh yang bukan-bukan. Nanti setelah diadakan upacara sembahyang, para tamu selalu diberi kesempatan untuk mengajukan sendiri pertanyaan-pertanyaan kepada calon anggota atau murid baru."

"Hemm, jadi aku pun boleh mengajukan pertanyaan langsung kepada wanita itu?"

"Tentu saja boleh, akan tetapi nanti setelah upacara sembahyang."

Thian Sin menahan dorongan hatinya yang membuatnya penasaran. Jadi benar, wanita itu, ibu dari dua orang bocah she Cia itu, sudah berada di sini! Dan memakai gaun yang demikian tidak sopan sama sekali, gaun tipis tembus pandang tanpa ada sehelai kain penutup tubuh di balik itu! Padahal, suami wanita ini terbunuh, demikian pula enam orang pendekar lain. Ada apakah di balik semua ini?

Tentu wanita itu berada dalam pengaruh sihir, pikirnya. Akan tetapi, apa bila ada peristiwa yang amat keji dan jahat seperti itu, kalau dugaannya memang benar, kenapa para tamu yang terdiri dari orang-orang berpangkat beserta para pendekar itu suka menjadi pengikut atau peminat? Apakah mereka itu pun sudah tersihir oleh Sian-su itu?

Dia harus menyelidikinya dan kalau memang benar seperti apa yang diduganya itu, maka dia harus menentang dan membasminya! Akan tetapi, dia pun bukan tidak tahu bahwa pihak lawan ini amat berbahaya dan kuat, maka dia harus bersikap hati-hati sekali.

Kini Sian-su mengulurkan tangannya ke arah wanita itu yang segera menyambut uluran tangan ini dan wanita itu pun bangkit berdiri, kemudian tangannya digandeng oleh Sian-su, berjalan menuju ke tepi dataran itu di mana terdapat pondok kecil untuk pemujaan dewa. Sian-su atau siluman itu lalu menerima sebongkok hio yang sudah dinyalakan dari salah seorang anggota perkumpulan yang bertugas di sana. Dia segera mengacungkan hio ke empat penjuru, dan membagi-bagi hio itu menjadi tujuh.

Sekarang wanita itu bersembahyang di depan tujuh pondok kecil, dan setiap kali selesai sembahyang, sambil berlutut lalu menaruh hio di depan pondok, di tempat abu hio yang telah tersedia. Sesudah selesai, dia dituntun oleh Sian-su dan setelah dilepaskan, wanita itu kembali menjatuhkan diri berlutut di depan Sian-su yang berdiri di depannya.

Tujuh orang gadis yang tadi membawa kelinci dan bermacam barang itu selalu mengikuti mereka dari belakang dan kini mereka bertujuh juga berlutut mengelilingi Sian-su. Orang itu lantas mengangkat kedua tangan ke atas kepala dan mengeluarkan suara aneh, suara melengking dalam seperti bukan suara manusia dan ketika tangan kanannya melambai, tahu-tahu tangan itu sudah memegang sebatang bunga yang diberikannya kepada wanita itu.

Wanita itu menerima bunga, mencium bunga dengan khidmat, lalu menancapkan bunga itu pada rambutnya yang tebal. Kemudian, kembali Sian-su mengangkat kedua tangan ke atas dan mengembangkan kedua lengannya.

Terdengar suara ledakan kemudian disusul asap seperti tadi. Seperti juga tadi, asap itu menyelubungi dirinya dan juga wanita itu sehingga tidak nampak, kemudian setelah asap membuyar, Sian-su masih nampak berdiri seperti tadi, hanya kini cahaya pada wajahnya sudah lenyap.

"Sang Dewa Kematian telah kembali ke tempat asalnya," demikianlah si muka tengkorak yang menemani Thian Sin menerangkan hal yang memang telah dapat diduga oleh Thian Sin.

Siluman Tengkorak atau Sian-su itu kini menghadapi para tamunya dan berkata dengan suara biasa saja, "Cu-wi yang mulia, seperti biasa, apa bila ada yang ingin tahu, silakan mengajukan pertanyaan kepada murid baru ini."

Mendapatkan kesempatan ini, Thian Sin tidak dapat menahan kesabaran hatinya lagi. Dia lalu bangkit berdiri dan menghampiri Sian-su yang menyambutnya dengan sikap ramah.

"Ahh, Ceng taihiap suka memberi kehormatan kepada murid baru kami untuk mengajukan pertanyaan? Silakan, silakan, taihiap!"

Thian Sin mengangguk dan semua tamu memandang dengan hati tertarik. Mereka semua adalah pengikut-pengikut yang setia dan penuh kepercayaan, dan kini mendengar bahwa Pendekar Sadis hendak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tentu saja maksudnya untuk menguji, maka mereka merasa tertarik sekali. Mereka sendiri pun tadinya ragu-ragu terhadap perkumpulan agama pemuja Dewa Kematian ini. Tetapi setelah mereka menguji dan melihat hasil-hasil baiknya, mereka kemudian menaruh kepercayaan sepenuhnya.

Siapa yang tidak suka menjadi pengikut? Selagi hidup dapat menikmati kesenangan yang sangat luar biasa di tempat ini, dan selain itu, mereka semua telah menjadi pemuja Dewa Kematian sehingga telah menjadi ‘sahabat’ baik dewa itu. Dengan demikian, mereka akan terjamin kelak kalau terpaksa harus menghadapi kematian karena dewanya telah menjadi sahabat baik mereka. Dan menurut wejangan Sian-su, karena telah menjadi sahabat baik, maka Dewa Kematian akan berlaku murah pada mereka dan akan dapat ‘memperpanjang’ kehidupan mereka dan tidak cepat-cepat mencabut nyawa mereka.

Janji-janji muluk yang selalu dipamerkan memang merupakan umpan yang amat menarik bagi manusia pada umumnya yang selalu mengejar kesenangan dan keenakan, di mana pun dan kapan pun juga. Bahkan untuk mendapatkan janji-janji muluk ini, manusia tidak segan-segan untuk melakukan apa saja, bahkan kalau perlu menyiksa diri.

Alangkah banyaknya orang menyiksa diri dengan berpuasa dan bertapa di tempat sunyi, penyiksaan diri karena di sana terdapat harapan atau janji bahwa mereka akan mendapat ganjaran batin yang tentu saja menyenangkan! Bahkan untuk keadaan mereka sesudah mati sekali pun, selagi masih hidup manusia sudah hendak mengaturnya, semua itu demi mendapat kepastian bahwa keadaannya ‘di sana’ nanti akan enak, keenakan yang diukur dengan keadaan di waktu masih hidup.


Wanita itu masih berlutut dan Thian Sin terpaksa juga berjongkok ketika menghampirinya dan hendak mengajukan pertanyaan.

"Nyonya, bolehkah saya mengetahui namamu?"

Wanita itu mengangkat muka memandang kepada Thian Sin dan diam-diam Thian Sin harus mengakui bahwa isteri Cia Kok Heng ini adalah seorang wanita yang cantik menarik dan manis sekali. Ketika dia memandang matanya, dia mendapatkan kenyataan bahwa memang benar wanita itu berada dalam keadaan tersihir atau setidaknya dalam keadaan tidak begitu sadar! Tentu saja dia menjadi marah.

"Namaku Lu Sui Hwa...," jawab wanita itu dengan sikap yang ramah dan senyum manis menghias bibirnya.

Thian Sin segera mengerahkan tenaga saktinya dan menggunakan kekuatan sihir untuk menyadarkan wanita itu sambil berkata, "Lu Sui Hwa, sadarlah engkau dan mulai saat ini pergunakan pikiranmu sendiri!" Dengan gerakan tangan, Thian Sin membuat gerakan jari tangan kiri di depan wajah wanita itu.

Wanita itu segera terbelalak dan mengeluarkan seruan tertahan. "Ihhh...!"

"Sui Hwa, tenanglah dan jawab semua pertanyaan Pendekar Sadis. Ingat, engkau berada dalam keadaan aman!" Tiba-tiba terdengar suara Sian-su yang lemah lembut.

Ucapan itu membuat sepasang mata yang terbelalak itu menjadi suram lantas wanita itu memandang kepada Thian Sin dengan penuh kecurigaan! Akan tetapi, Thian Sin melihat bahwa usahanya berhasil dan wanita itu kini benar-benar telah sadar.

"Nyonya, kenalkah engkau pada orang yang bernama Cia Kok Heng?" tanyanya dengan lantang.

Akan tetapi, betapa heran hatinya ketika wanita itu menjawab dengan wajar, "Dia adalah suamiku."

"Dan dua orang anak kecil, seorang anak laki-laki dan seorang wanita bernama Cia Liong dan Cia Ling?"

Wajah itu menjadi pucat sekali, akan tetapi suaranya masih terdengar tenang dan lantang ketika menjawab, "Mereka adalah anak-anakku!"

Thian Sin lalu bangkit berdiri dan suaranya lantang dan penuh wibawa ketika dia berkata lagi, "Nyonya Cia, engkau yang memiliki suami dan dua orang anak, kenapa bisa berada di sini?"

Suasana menjadi tegang. Semua tamu maklum bahwa Pendekar Sadis ini mencari-cari permusuhan, dan semua telinga ditujukan kepada wanita itu, menanti jawabannya. Thian Sin sudah bersiap siaga karena dia merasa yakin bahwa wanita ini tentu akan membuka rahasia Siluman Goa Tengkorak, bahwa dia telah diculik oleh mereka.

"Aku memang meninggalkan mereka untuk menjadi pengikut Sian-su!"

Jawaban ini tentu saja tidak disangka sama sekali oleh Thian Sin dan mukanya menjadi merah ketika dia mendengar suara ketawa tertahan di sana-sini. Dia cepat menggunakan kekuatan sihirnya untuk ‘mencuci’ wanita yang masih berlutut itu dari hawa atau pengaruh sihir yang mempengaruhi, akan tetapi mendapat kenyataan bahwa wanita itu sudah tidak dalam pengaruh sihir lagi, melainkan menjawab dalam keadaan sadar!

"Engkau sebagai seorang nyonya terhormat rela merendahkan diri, mengenakan pakaian seperti ini dan meninggalkan suami serta anak-anakmu?" Suara Thian Sin mengandung penasaran dan dia tahu bahwa pertanyaannya itu tentu akan menikam perasaan seorang ibu dan isteri yang terhormat.

"Taihiap, pertanyaanmu itu sudah menyimpang dan merupakan penghinaan!" Terdengar Sian-su berkata halus.

Thian Sin menoleh. Dia melihat betapa pandangan mata para tamu ditujukan kepadanya dengan penuh penasaran, dan wanita itu pun menunduk dan menangis!

"Sui Hwa, jawablah, apakah ada yang memaksamu menjadi pengikut kami dan menjadi pemuja Dewa Kematian?" tanya Sian-su dengan suara lantang.

"Tidak ada, aku masuk atas kehendakku sendiri," jawab nyonya itu.

"Dan engkau rela mengikuti semua upacara dan peraturan seperti yang sudah berlaku di sini?"

"Aku rela."

Sian-su berpaling kepada Thian Sin. "Ceng-taihiap sudah mendengar cukup, maka harap silakan duduk dan menyaksikan upacara selanjutnya. Boleh saja orang luar merasa tidak setuju dengan cara-cara kami, tetapi jelas bahwa orang luar tidak berhak mencampuri."

"Aku tidak ingin mencampuri, hanya ingin tahu keadaan yang sebenarnya," bantah Thian Sin.

Akan tetapi, para anggota perkumpulan itu sudah datang mengurung dan para tamu juga memandang marah. Melihat ini, Thian Sin menggerakkan pundaknya lantas kembali ke tempat duduknya, mulai meragukan kebenaran tindakannya memasuki sarang berbahaya ini.

Bagaimana kalau memang wanita itu adalah wanita tak bermalu yang rela meninggalkan suami serta anak-anak untuk menjadi pengikut perkumpulan yang cabul ini? Mungkin saja suaminya tidak rela melepaskan lantas bersama kawan-kawannya yang merupakan Tujuh Pendekar Tai-goan mereka memusuhi perkumpulan ini akan tetapi mereka lalu dikalahkan sehingga semua jatuh tewas.

Kalau memang benar demikian keadaannya, maka persoalannya tentu saja menjadi lain sama sekali! Dengan wajah termangu-mangu Thian Sin menyaksikan upacara yang mulai dilakukan oleh Sian-su.

Siluman atau pendeta siluman ini mengambil kelinci putih dari tangan seorang di antara tujuh orang gadis, lalu mengambil pedang emas. Dia mengangkat kelinci itu di depannya, tepat di atas kepala Lu Sui Hwa atau nyonya Cia Kok Heng, kemudian pisau atau pedang kecil dari emas itu dihujamkan ke leher kelinci putih!

Darah mengucur keluar dari luka leher itu pada waktu pisau dicabut, nampak jelas sekali menodai bulu putih bersih, lalu darah itu mengucur jatuh ke atas kepala nyonya muda itu! Dari atas kepala, darah kelinci itu kemudian mengalir dan membasahi mukanya. Wanita itu menengadah dan nampak tersenyum bahagia sambil memejamkan matanya.

Dari kejauhan Thian Sin dapat melihat bahwa wanita itu sudah kembali berada di dalam cengkeraman sihir. Akan tetapi karena tadi malam dalam keadaan sadar wanita itu sudah mengaku bahwa dia melakukan semua itu atas kehendak hatinya sendiri dan secara suka rela, apa yang dapat dilakukannya? Dia hanya dapat memandang.

Kini pendeta siluman itu membiarkan darah kelinci memasuki bokor emas yang dipegang oleh salah seorang gadis, sampai darah itu tak menetes lagi dari leher kelinci. Tentu saja kelinci itu mati kehabisan darah. Akan tetapi, ketika pendeta siluman itu dengan bentakan keras melemparkan kelinci ke bawah, kelinci yang bermandikan darah itu menggerakkan tubuhnya dan lari cepat ke tebing dan menghilang di balik jurang!

Thian Sin mengangguk-angguk. Memang pendeta ini adalah seorang lawan yang tangguh, juga dalam ilmu sihir! Sang pendeta kemudian menuangkan arak atau anggur dari dalam guci-guci emas ke dalam bokor, mencampurkan arak itu dengan darah kelinci. Kemudian musik pun dipukul dengan gencar penuh semangat, dan makin lama semakin panas saat pendeta itu, diwakili oleh tujuh orang penari, membagi-bagikan isi bokor ke dalam cawan arak para tamu!

Thian Sin yang hendak diberi, menolak keras dengan menggeleng kepala dan mukanya menyatakan jijik. Kini semua penari, berikut tujuh orang gadis yang jumlahnya tak kurang dari tiga puluh orang, menari semua, menurutkan irama musik yang makin lama semakin panas merangsang.

Dan perlahan-lahan Lu Sui Hwa juga menggerak-gerakkan tubuhnya lantas bangkit berdiri sambil menari. Agaknya dia tak pernah belajar menari, akan tetapi dia hanya menggerak-gerakkan sepasang lengan serta pinggulnya, dan karena dia seorang wanita cantik yang memiliki bentuk tubuh yang indah, biar pun begitu tetap saja dia nampak amat menarik!

Seorang pemuda yang tadinya duduk di bagian tamu, nampaknya telah mulai mabok atau terseret oleh keadaan itu. Sambil tersenyum lebar dia maju menghampiri Sian-su yang memegang tangannya dan menariknya mendekati Sui Hwa. Mereka agaknya berkenalan dan Sui Hwa menyambutnya dengan senyuman manis, kemudian pemuda yang kelihatan sudah mabok itu lantas merangkul dan menjilati darah yang menodai wajah Sui Hwa, dan keduanya lalu menari-nari sambil berpelukan!

Para tamu mulai gembira, bersorak dan bertepuk tangan mengikuti irama musik. Agaknya mereka semua menjadi mabok birahi sesudah minum anggur yang bercampur darah tadi! Serentak mereka berdiri lantas menari-nari, masing-masing memilih pasangannya sendiri-sendiri di antara para penari kemudian terjadilah pemandangan yang hampir tidak dapat dipercaya oleh Thian Sin kalau dia tidak menyaksikannya sendiri!

Orang-orang itu mungkin telah menjadi gila semua, pikirnya. Mereka menari berpasang-pasangan, saling rangkul, saling belai dan saling cium, sedikit pun tidak merasa malu dan musik pun semakin riuh rendah, keranjingan dan mereka semua seperti sudah kerasukan iblis!

Pendeta siluman itu sendiri langsung meraih pinggang seorang wanita yang masih sangat muda, yang cantik manis dan yang agaknya memang menjadi kekasihnya. Thian Sin tidak tahu bahwa wanita muda ini adalah Thio Siang Ci, mempelai wanita dari dusun Ban-ceng yang sudah diculik pada malam pengantin! Dia diculik karena pendeta siluman itu sendiri yang tertarik dan tergila-gila kepada kembang dusun Ban-ceng ini.

Juga Pendekar Sadis tidak tahu bahwa orang muda yang kini sedang bergumul sambil menari-nari itu adalah seorang pemuda bangsawan she Phang dari Taigoan yang sudah lama tergila-gila kepada isteri Cia Kok Heng yang kini telah berada dalam pelukannya dan melayani hasrat hatinya dengan nafsu birahi bernyala-nyala itu.

Sesungguhnya, perkumpulan yang menamakan dirinya perkumpulan agama Jit-sian-kauw ini secara diam-diam sudah lama bersarang di tempat itu. Perkumpulan ini dipimpin oleh seorang yang hanya dikenal dengan sebutan Sian-su dan secara diam-diam sudah diakui pula oleh banyak anggota yang terdiri dari orang-orang penting di sekitar Tai-goan, malah ada pula yang dari kota raja.

Secara resmi agama ini mengadakan pelajaran-pelajaran agama yang diambil dari Agama Buddha Hinayana dan Agama To, juga dicampur dengan unsur dari agama kuno seperti Im-yang-kauw dan lain-lainnya yang menjurus kepada pelajaran kebatinan yang mengejar hal-hal gaib. Di antara tujuh dewa yang dipuja oleh Jit-sian-kauw (Agama Tujuh Dewa) itu yang terutama sekali dan menjadi pusat dari pemujaan mereka adalah Dewa Kematian.

Di bawah pimpinan Sian-su, para anggota dituntun untuk memuja dewa ini yang dianggap dapat memberi usia panjang dan dapat mengatur nasib mereka kelak sesudah mereka mati. Pemimpin yang disebut Sian-su itu adalah seorang yang selalu bersembunyi di balik topeng tengkorak sehingga belum pernah ada yang melihat atau mengenal wajah aslinya.

Akan tetapi semua anggota dan pengikut amat hormat dan taat kepadanya karena orang ini memang mempunyai ilmu kepandaian yang sangat tinggi, bukan hanya dalam hal ilmu silat akan tetapi juga ilmu gaib. Sian-su ini dikabarkan memiliki kepandaian seperti dewa, dapat menghilang, dapat mendatangkan tujuh dewa yang dipuja-puja itu.

Bukan itu saja, bahkan dalam upacara-upacara diadakan pesta yang oleh Sian-su disebut pesta pembebasan nafsu badaniah! Di dalam pesta seperti ini, mereka membiarkan diri hanyut ke dalam seretan gelombang nafsu birahi yang melanda mereka di mana mereka boleh melampiaskan nafsu birahi mereka sepuasnya dengan siapa pun juga asal tidak ada unsur pemaksaan.

Menurut ajaran Sian-su itu, nafsu itu akan meliar dan kalau diberi penyaluran sewajarnya tanpa ada perbuatan paksa, akhirnya nafsu itu akan habis sendiri kekuatannya dan tidak lagi mencengkeram jasmani kita sehingga jasmani kita menjadi cukup memenuhi syarat untuk menjadi jasmani yang bersih dan dihuni oleh jiwa yang bersih pula dan yang kelak akan diterima menjadi kesayangan Dewa Kematian. Tentu saja pelajaran yang diberikan ini merupakan pelajaran palsu yang amat berbahaya dan sama sekali tak bisa dibuktikan kebenarannya.

Yang jelas dapat dinyatakan adalah bahwa nafsu keinginan dalam bentuk apa pun juga timbul dari pada si aku yang ingin senang, dan nafsu ini bersifat seperti api yang apa bila diberi hati, apa bila dituruti akan seperti api yang diberi bahan bakar. Semakin banyak diberi bahan bakar, makin bernyala dan makin menjadi, makin membesar dan tidak akan padam lagi.

Mengendalikan nafsu pun tidak akan ada gunanya. Mematikan nafsu dengan kekerasan kemauan pun percuma karena yang mematikan dengan kekerasan itu adalah kemauan si aku pula yang ingin senang, yang menganggap bahwa kalau dapat mematikan nafsu itu akan lebih senang dari pada kalau dikuasai nafsu.

Sering kali terjadi konflik di dalam batin sendiri. Pada satu pihak keinginan atau nafsu itu timbul, pada lain pihak keinginan untuk mematikan pun timbul. Konflik ini merupakan api dalam sekam yang nampaknya saja padam, namun sesungguhnya masih membara dan sewaktu-waktu akan dapat berkobar lagi kalau penutupnya kurang kuat atau terbuka.

Nafsu itu sendiri merupakan energi yang amat hebat. Nafsu itu sendiri amat penting bagi kehidupan. Hanya cara penggunaannya yang menentukan apakah dia merusak ataukah mendatangkan manfaat. Dan cara yang baik dan benar ini timbul dengan sendiri melalui kewaspadaan dan kesadaran dari pengamatan diri pribadi.

Pengamatan diri pribadi akan menimbulkan kebijaksanaan dan dengan sendirinya timbul ketertiban yang tidak diatur lagi oleh si aku yang ingin senang. Pengamatan diri pibadi ini dapat terjadi setiap saat, yang berarti ada perhatian dan waspada sepenuhnya terhadap gerak-gerik kita, baik gerak-gerik hati, pikiran, kata-kata mau pun perbuatan.

Bukan mengamati sambil menilai karena penilaian itu juga merupakan hasil pekerjaan si aku! Jadi, kita harus benar-benar waspada dengan segala kepalsuan yang terjadi setiap saat, bukan hanya kepalsuan yang terjadi di luar diri, namun terutama sekali kepalsuan-kepalsuan yang terjadi di dalam batin kita sendiri.


Dengan umpan kesenangan di dalam pemuasan nafsu birahi ini, Sian-su berhasil menarik minat banyak orang untuk menjadi pengikut dari perkumpulan agamanya. Tentu saja dia pun memilih-milih orang, terutama sekali dipilihnya orang-orang yang berkedudukan, yaitu para bangsawan, hartawan, dan juga orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi atau yang menamakan diri mereka pendekar-pendekar.

Dan kerena sifat dari pesta-pesta agama ini, para pengikut itu sendiri merahasiakannya dari orang luar karena bagaimana pun juga, setiap orang manusia itu mempunyai naluri akan penyelewengan dirinya sendiri dan merasa malu kalau penyelewengannya diketahui orang. Demi kesenangan yang telah mencandu, mereka itu dengan sendirinya memerangi perasaan salah ini dengan berbagai alasan pelajaran keagamaan seperti yang diajarkan oleh Sian-su.

Hanya pada hari-hari tertentu saja mereka berdatangan ke tempat itu, dan hanya para anggota inilah yang tahu jalannya, melalui jalan rahasia yang hanya terbuka bagi mereka, yaitu tempat pemujaan di tengah-tengah pegunungan yang tidak kelihatan dari luar dan hanya dapat dicapai melalui jalan terowongan rahasia itu.

Sudah lebih dari dua tahun perkumpulan agama itu bersarang di sana, akan tetapi tidak ada yang mengetahuinya kecuali para anggota atau pengikutnya. Para pengikut ini sudah banyak menyerahkan uang sumbangan kepada perkumpulan ini, akan tetapi mereka tahu pula bahwa uang itu digunakan untuk memajukan perkumpulan dan terutama sekali untuk menyenangkan mereka.

Pesta-pesta dengan hidangan-hidangan yang lezat itu tentu memerlukan uang. Juga untuk memelihara para anggota atau murid-murid wanita yang cantik-cantik, muda dan pandai menari itu pun membutuhkan uang. Terlebih lagi untuk membangun ‘istana’ mereka yang berada di puncak bukit tersembunyi itu serta membuat pondok-pondok untuk tujuh dewa, semua membutuhkan uang yang amat banyak. Karena itu mereka tidak merasa sayang untuk menyumbangkan harta benda.

Tentu saja mereka yang sudah percaya penuh kepada kebijaksanaan Sian-su itu sama sekali tidak mau percaya dengan desas-desus bahwa akhir-akhir ini perkumpulan mereka itu melakukan kejahatan-kejahatan. Mereka menganggapnya sebagai kabar bohong serta fitnah belaka.

Mereka tidak tahu bahwa nafsu ketamakan orang yang mereka sebut Sian-su itu semakin lama semakin menjadi dan untuk membuat pondok-pondok serta benda-benda dari emas tulen itu memerlukan banyak sekali uang. Dan untuk memenuhinya, orang-orang itu telah mempergunakan kepandaiannya sendiri dan kepandaian anak buahnya untuk melakukan pencurian-pencurian. Juga untuk memperlengkapi persediaan mereka akan wanita-wanita cantik, maka perkumpulan ini mulai pula melakukan penculikan-penculikan terhadap para wanita muda dan cantik.

Tindakan Sian-su telah sedemikian beraninya untuk memenuhi ‘pesanan’ dari pemujanya,
bahkan pada malam hari itu dia telah memenuhi pesanan dari pemuda bangsawan Phang yang tergila-gila kepada nyonya Cia Kok Heng! Akan tetapi yang mengetahui akan hal ini hanya pemuda Phang itu dengan Sian-su sendiri, dan untuk jasa ini tentu saja pemuda Phang yang kaya raya itu tidak merasa sayang untuk memberi hadiah sumbangan yang sangat besar!

Perkumpulan agama ini mempunyai anak buah yang tidak terlalu banyak, hanya kurang lebih empat puluh orang yang terdiri dari berbagai golongan, akan tetapi rata-rata mereka memiliki ilmu silat yang lumayan. Mereka adalah anak buah sekaligus juga murid-murid Sian-su yang memiliki dasar ilmu silat berbagai aliran.

Tidak semua dari mereka berasal dari golongan penjahat, bahkan banyak pula yang terdiri dari orang baik-baik yang tertarik dengan agama itu dan kemudian menjadi pengikut lalu diangkat menjadi murid dan anak buah. Seperti juga Sian-su, sesudah menjadi anak buah perkumpulan agama itu mereka semua menggunakan pakaian seragam dan juga topeng tengkorak dalam melaksanakan tugas.

Kenapa mereka selalu menggunakan pakaian dan topeng tengkorak? Hal ini adalah untuk menyatakan pemujaan mereka terhadap Dewa Kematian. Tengkorak merupakan lambang kematian, dan kebetulan sekali mereka juga memperoleh sarang di Goa Tengkorak yang sungguh merupakan tempat yang amat cocok untuk perkumpulan agama mereka.

Anak buah perkumpulan itu sudah disumpah setia terhadap Sian-su. Di samping sumpah ini yang diperkuat oleh kepercayaan mereka terhadap Dewa Kematian, juga mereka takut sekali terhadap Sian-su yang mereka tahu mempunyai ilmu kepandaian yang amat tinggi. Maka, mereka sadar bahwa berkhianat atau melanggar pantangan berarti kematian yang mengerikan bagi mereka, baik di tangan Sian-su atau pun juga di tangan Dewa Kematian yang tentu akan menyiksa mereka di alam baka!

Sian-su yang berilmu tinggi itu dapat mencengkeram serta menguasai semua anak buah atau muridnya, juga menguasai semua wanita pelayan dan penari, menguasai pengikut-pengikutnya dengan mempergunakan ilmu sihirnya serta ramu-ramuan obat pembius dan perangsang yang dicampurkan dalam minuman. Perlahan-lahan tetapi pasti, pengaruhnya meluas dan anggotanya bertambah, para pengikutnya juga bertambah.

Melihat betapa pesta itu berubah menjadi tempat pemuasan nafsu tanpa mengenal batas kesopanan lagi, bahkan di antara pasangan-pasangan yang menari-nari dan berpelukan sambil berciuman itu ada yang sambil tertawa-tawa sudah bergandengan tangan menuju ke sudut-sudut di mana terdapat kasur-kasur kecil dengan pakaian si wanita sudah tidak karuan lagi, Thian Sin menjadi muak.

Dia sendiri adalah seorang pemuda yang romantis. Akan tetapi dia memandang hubungan antara pria dan wanita sebagai sesuatu yang indah, sesuatu yang merupakan pencurahan dari pada kasih sayang, bukan hanya merupakan pemuasan nafsu birahi belaka. Apa lagi kalau dilakukan secara demikian kasar, di hadapan orang banyak, tanpa mempedulikan kesusilaan dan sopan santun sedikit pun, tentu saja perasaannya menjadi tersingung dan dia menjadi tidak senang.

"Taihiap, marilah... apakah taihiap tidak ingin bersenang-senang? Mari kulayani, taihiap... aku sengaja mengelak dari siapa pun juga untuk melayanimu..."

Tiba-tiba ada lengan kecil berkulit halus merangkulnya, lantas hidungnya mencium aroma semerbak harum. Thian Sin menengok dan melihat bahwa yang merangkul dirinya adalah gadis yang tadi menerima sumbangannya. Pada saat itu hati Thian Sin sedang kesal dan murung, marah yang ditahan-tahan. Maka, sikap gadis ini membuatnya marah, lebih lagi ketika gadis itu tanpa malu-malu lagi lalu menciumnya dan menarik-narik lengannya.

"Pergilah!" bentaknya dan sekali dorong, gadis itu terpelanting dan jatuh sampai beberapa meter jauhnya.

Dia pun melihat betapa para anggota perkumpulan itu, yang sejak tadi tidak turut pesta melainkan hanya berdiri dan berjaga, memandang kepadanya penuh perhatian dan begitu dia mendorong jatuh gadis itu, lima orang di antara mereka segera berloncatan dan sudah mengurungnya. Thian Sin berdiri tegak dan bersikap tenang, maklum bahwa bagaimana pun juga akhirnya dia tidak akan dapat lolos dari pertempuran.

"Ceng-taihiap, sebagai tamu taihiap telah melangqar peraturan dan melakukan penghinaan terhadap murid-murid kami yang terkasih," terdengar suara Sian-su yang ternyata sudah berada pula di sana. Tangannya menunjuk ke arah gadis yang tadi jatuh, yang kini sudah berdiri dan memegangi siku tangan kirinya yang berdarah, kemudian gadis itu melangkah pergi dengan kepala menunduk.

"Sian-su, aku memang muak melihat semua ini dan aku sudah menolaknya, habis kalian mau apa?" tanyanya sambil memandang kepada lima orang yang mengurung dirinya dan mengambil sikap menyerangnya itu. Dia melihat bahwa di antara kelima orang ini terdapat tosu penghuni kuil itu yang dikenalnya dari kebiasaannya memiringkan kepala.

"Siancai... agaknya taihiap hendak mengandalkan kepandaian menentang kami. Ataukah taihiap hendak meramaikan pesta ini dengan pertunjukan ilmu silat?"

"Terserah apa yang hendak diartikan, akan tetapi yang jelas, aku akan pergi dari tempat kotor ini!" kata Thian Sin.

Dia telah membalikkan tubuhnya hendak pergi melalui anak tangga dari mana dia datang tadi. Akan tetapi lima orang itu dengan sekali loncatan telah menghadang di depannya.

"Ah, nanti dulu, taihiap. Tak semudah itu untuk pergi meninggalkan tempat ini tanpa seijin kami. Apa bila taihiap hendak memperlihatkan ilmu silat, baiklah. Biar aku melihat sendiri sampai mana kehebatan ilmu Pendekar Sadis yang terkenal itu." Lalu dia memberi isyarat kepada lima orang itu dan berkata, "Tangkap dia!"

Lima orang itu adalah lima orang pembantu utama dari Sian-su, merupakan murid-murid kepala yang paling lihai di antara semua anggota atau murid dan di antara lima orang ini memang terdapat tosu penghuni kuil yang tentu saja bukan bertapa di kuil itu melainkan bertugas sebagai penjaga dan pengintai.

Walau pun ketua mereka memberi perintah lisan untuk menangkap Pendekar Sadis, akan tetapi dari isyarat dengan tangan itu mereka maklum bahwa mereka disuruh membunuh musuh yang berbahaya ini. Maka, begitu tangan mereka bergerak, lima orang bertopeng siluman tengkorak itu sudah mencabut pedang mereka dari balik jubah di mana senjata mereka itu disembunyikan. Melihat ini, Thian Sin tersenyum.

"Majulah jika kalian memang menghendaki demikian!" Dia masih berdiri tegak, tidak mau mengeluarkan pedang Gin-hwa-kiam yang tersembunyi di balik bajunya.

Lima orang bertopeng tengkorak itu tiba-tiba menggerakkan pedang mereka dan mulailah mereka menyerang bergantian secara bertubi-tubi dan teratur. Pedang mereka berkelebat menyilaukan mata tertimpa sinar lampu-lampu di sekeliling tempat itu dan setiap gerakan mereka itu selain cepat juga amat kuat. Hal ini tentu saja diketahui Thian Sin dan pemuda ini pun langsung bersikap waspada, menggunakan kecepatan tubuhnya untuk mengelak dan kadang-kadang dia menggunakan tangannya untuk menangkis.

"Plakk! Plakk!"

Ketika tangan kirinya dengan gerakan cepat menangkis dua batang pedang, si pemegang pedang terhuyung mundur dan mereka terkejut sekali. Dengan tangan telanjang pemuda itu sanggup menangkis pedang dengan kekuatan sedemikian dahsyat, maka hal ini saja sudah membuktikan betapa lihainya Pendekar Sadis.

Sedangkan Sian-su sejak tadi menonton di pinggiran sambil merangkul pinggang ramping gadis yang tadi melayaninya. Beberapa kali dia mengangguk-angguk, sementara pandang matanya menjadi semakin kagum. Dari beberapa jurus saja tahulah dia bahwa Pendekar Sadis ini benar-benar sangat lihai sekali. Alangkah baiknya dan betapa menguntungkan apa bila dia bisa menariknya sebagai pembantu utamanya!

Kini yang menjadi pembantu utamanya adalah lima orang murid kepala ini. Akan tetapi agaknya mereka ini tak akan dapat menang melawan Pendekar Sadis, walau pun mereka semua memegang pedang dan Pendekar Sadis hanya bertangan kosong saja.

Pertandingan itu menarik perhatian mereka yang sedang berpesta. Akan tetapi, mereka yang tidak mengenal ilmu silat, para bangsawan dan hartawan yang sedang mabok birahi, tidak mempedulikan pertandingan itu dan melanjutkan kesenangan mereka, berpasang-pasangan dan tetap melanjutkan permainan mereka di sudut-sudut ruangan yang luas itu menyendiri berduaan saja. Mereka yang mengenal ilmu silat, terutama para pengikut yang berasal dari golongan pendekar, menjadi tertarik dan meski pun mereka masih merangkul pinggang pasangan masing-masing, tapi mereka mendekat dan menonton dengan penuh perhatian.

Para anak buah perkumpulan itu sudah mengurung tempat itu dan bersiap-siaga, bahkan ada sepuluh orang yang berderet dengan busur dan anak panah siap diluncurkan. Semua ini tidak terlepas dari pandang mata Thian Sin. Dia maklum bahwa dia akan menghadapi pengeroyokan dan karena dia belum tahu sampai di mana kelihaian Sian-su, juga para pendekar yang mabok birahi itu, maka keadaannya cukup berbahaya. Apa lagi dia berada di pusat tempat rahasia itu yang banyak mengandung perangkap-perangkap. Karena itu dia pun tidak mau menjatuhkan tangan maut.

Tepat seperti yang diduga oleh Sian-su, kini Thian Sin memperlihatkan kepandaiannya. Walau pun semuanya bersenjata, lima orang itu segera terdesak hebat. Setiap tangkisan itu membuat mereka terhuyung sehingga semua serangan mereka tak ada gunanya sama sekali, jika tidak terpental oleh tangan pemuda itu, tentu hanya mengenai tempat kosong saja. Namun sebaliknya, setiap tamparan tangan pemuda itu, baru angin pukulannya saja sudah membuat mereka kewalahan.

Tiba-tiba Thian Sin berteriak, "Pergilah kalian!"

Dan kaki tangannya bergerak cepat sekali. Terdengar suara berkerontangan dan nampak lima batang pedang terlempar ke sana-sini sedangkan lima orang itu pun terjengkang dan terpelanting ke kanan kiri!

Mereka tidak terluka parah, tetapi senjata mereka terlepas dari tangan dan tubuh mereka terpelanting, ini telah merupakan bukti cukup bahwa mereka telah kalah! Sian-su, pendeta siluman itu, kini melepaskan rangkulan dari pinggang ramping kekasihnya, lantas dengan sekali melompat dia sudah berhadapan dengan Thian Sin.

"Siancai, siancai...! Pendekar Sadis memang benar tangguh, cukup pantas untuk menjadi lawanku! Mari kita main-main sebentar, taihiap!"

Thian Sin melihat perubahan sikap para pengikut agama yang datang mendekat. Melihat betapa Sian-su sendiri yang maju, agaknya mereka pun merasa penasaran dan di antara mereka bahkan ada yang sudah melepaskan rangkulan mereka terhadap gadis pasangan mereka masing-masing dan mereka bersikap mengancam.

Akan tetapi pada saat itu, pendeta siluman itu sudah menerjangnya dengan pukulan yang cukup dahsyat. Sebelum tangannya tiba, sudah ada angin pukulan yang sangat dahsyat menyambar dan ini saja menunjukkan bahwa pendeta siluman itu memiliki tenaga sinkang yang kuat sekali.

Thian Sin juga tidak mau main-main lagi dan dia langsung mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang untuk menangkis. Thian-te Sin-ciang (Tangan Sakti Langit dan Bumi) ini adalah penghimpunan sinkang yang luar biasa kuatnya, yang membuat kedua tangan pemuda itu mampu menangkis senjata tajam tanpa terluka, merupakan satu di antara sekian banyak ilmu luar biasa yang dikuasainya. Sekarang, menghadapi lawan yang diketahuinya amat tangguh, Thian Sin tidak ragu-ragu lagi untuk mengeluarkan ilmunya ini untuk menandingi tenaga dalam lawannya.

"Dukkk!"

Pertemuan dua tenaga sakti yang amat hebat itu terasa oleh semua orang yang menjadi penonton. Ada getaran hebat menyambar ke sekitar tempat itu. Thian Sin sendiri merasa betapa tubuhnya terguncang sehingga memaksa dia melangkah mundur dua tindak, akan tetapi Siansu itu sendiri juga terhuyung ke belakang.

"Hebat...!" Sian-su memuji, bukan pujian kosong karena dia benar-benar merasa kagum dan makin besar keinginannya untuk bisa menarik pemuda sehebat ini sebagai sekutunya atau pembantunya. Tentu kedudukannya akan menjadi makin kuat jika dia dapat menarik pemuda ini menjadi sekutunya.

Kini dia menyerang lagi dan dia mengerahkan ginkang-nya. Diam-diam Thian Sin terkejut bukan main. Kiranya siluman ini adalah seorang ahli ginkang yang hebat! Kim Hong tentu tertarik sekali melihat ini, karena Kim Hong sendiri adalah orang ahli ginkang yang sukar dicari bandingnya. Dan agaknya ilmu meringankan tubuh pendeta siluman ini betul-betul hebat sekali sehingga tubuhnya berkelebatan seperti terbang saja.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner