SILUMAN GOA TENGKORAK : JILID-08


Dengan mata terbelalak Thian Sin melihat betapa Kim Hong melangkah laksana boneka berjalan menghampiri Sian-su. Dia masih meragu, apakah Kim Hong tidak bersandiwara? Akan tetapi kemudian dia teringat bahwa walau pun Kim Hong memiliki kepandaian ilmu silat yang tak mungkin kalah dibandingkan dengan pendeta siluman itu, akan tetapi kalau pendeta siluman itu menggunakan ilmu sihir, tentu Kim Hong akan celaka. Dan agaknya kini gadis itu sudah berada di bawah pengaruh sihir.

Untuk upacara ini, agaknya ketua Jit-sian-kauw itu menggunakan cara lain. Mungkin saja karena dia tadi telah mengatakan hendak mengangkat anggota baru itu menjadi pilihannya sebagai murid tersayang, maka kini upacaranya pun berbeda dengan yang sudah-sudah.

Sesudah Kim Hong menjatuhkan diri berlutut di hadapan ketua agama itu, Sian-su lantas memberkahi gadis itu dengan dua tangannya di atas kepala Kim Hong, kemudian dengan gerakan halus membangunkan dara itu, memegang tangannya dan menuntunnya ke dekat pondok-pondok emas kecil. Akan tetapi di situ sekarang telah dihamparkan sebuah kasur dan kini Sian-su membimbingnya dan menyuruhnya terlentang di atas kasur.

Kim Hong melakukannya tanpa ragu sedikit pun dan tubuh yang menggairahkan itu, yang hanya terbungkus gaun tipis sekali, kini sudah terlentang di atas kasur dengan kedua kaki lurus dan kedua lengan disilangkan di depan perut. Tujuh orang wanita yang membawa kelinci, pisau dan lain-lain sudah maju berlutut dan Sian-su kini dengan gerakan perlahan seakan-akan hendak memperlihatkan pertunjukan yang sangat menarik, mulai membukai kancing depan gaun itu!

Dan memang pertunjukan itu amat menarik karena para tamu yang hadir segera behenti minum kemudian memandang dengan mata melotot dan pandang mata penuh nafsu! Jika pada murid biasa, darah kelinci hanya dikucurkan di atas kepala, maka pada murid pilihan ini, darah kelinci akan dikucurkan di atas badan yang telanjang!

Ketika kancing bagian atas membuka gaun dan memperlihatkan dada kekasihnya, Thian Sin sudah tidak sanggup menahan dirinya lagi. Dengan teriakan melengking panjang dia meloncat ke tempat itu, lalu mengeluarkan bentakan yang penuh dengan kekuatan sihir untuk membuyarkan pengaruh sihir atas diri Kim Hong,

"Kim Hong sadarlah! Engkau berada di tangan musuh-musuh kita!"

Teriakan ini memang hebat bukan main dan seketika itu Kim Hong terbelalak dan sadar. Akan tetapi dia masih bingung dan kepalanya terasa pening sehingga ketika pada saat itu pula Sian-su menggerakkan tangan menotoknya dari jarak yang dekat, dia tidak mampu mengelak. Kim Hong yang telah bangkit duduk itu roboh kembali dalam keadaan tertotok.

Sementara itu, para anak buah Jit-sian-kauw telah menerjang Thian Sin. Memang semua perlakuan terhadap Kim Hong tadi disengaja oleh Sian-su dalam usahanya unuk menguji kesetiaan Thian Sin. Ujian terakkir yang tentu saja amat berat bagi Thain Sin dan pendeta siluman yang amat cerdik itu tahu bahwa andai kata Pendekar Sadis berpura-pura, maka kepura-puraannya itu tentu akan terbongkar kalau menghadapi kekasihnya terancam.

Bagaimana pun juga, ketua Jit-sian-kauw ini masih sangsi dan merasa ragu-ragu apakah benar Pendekar Sadis dapat ditundukkannya dengan kekuatan sihir karena dia pun sudah mendengar bahwa selain memiliki kepandaian silat yang amat tangguh, juga pendekar itu kabarnya memiliki kepandaian ilmu sihir pula.

Apa bila pendekar itu tetap taat dan setia kepadanya ketika melihat keadaan Kim Hong, maka dia bisa merasa yakin bahwa dia telah benar-benar dapat menguasai Thian Sin dan dapat menarik pendekar itu menjadi pembantunya yang amat menguntungkan. Tapi kalau pendekar itu hanya pura-pura, maka tentu rahasianya akan tebongkar, dan untuk itu dia telah mempersiapkan anak buahnya yang semenjak tadi telah berjaga di situ, mengamati gerak-gerik Pendekar Sadis.

Dan itulah sebabnya, begitu Thian Sin mengeluarkan suara melengking dan membentak, belasan anak buah Jit-sian-kauw sudah menghadang dan mengoroyoknya, didahului oleh sambaran beberapa batang anak panah dari arah samping. Lima batang anak panah yang dilepas oleh pasukan anak panah dari samping itu disusul pula oleh lima batang yang lain.

Tetapi lima batang anak panah pertama itu runtuh semua ketika Thian Sin menggerakkan tangan kirinya sambil mengerahkan sinkang sehingga ada hawa pukulan menyambar dan meruntuhkan lima batang anak panah itu sebelum senjata itu dapat menyentuh tubuhnya. Kemudian, sambil meloncat ke depan dia memapaki lima batang yang lainnya dan kedua tangannya menangkapi lima batang anak panah ini dan langsung melontarkannya ke arah lima orang anggota pasukan panah itu.

Terdengar teriakan-teriakan kesakitan ketika tiga orang di antara mereka itu roboh dengan dada tertusuk anak panah mereka sendiri, sedangkan dua orang yang lain masih mampu menghindarkan diri dengan elakan. Akan tetapi, belum lagi Thian Sin sempat menerjang ke arah Sian-su, dia sudah dikepung dan segera dikeroyok oleh belasan orang anak buah Jit-sian-kauw yang bertopeng tengkorak.

Mereka semua telah mengeluarkan berbagai macam senjata dan menyerang dari semua jurusan dengan niat membunuh karena Sian-su sudah memberi isyarat untuk membunuh lawan yang sangat tangguh ini, yang ternyata sama sekali tidak pernah terpengaruh oleh sihirnya dan yang ternyata hanya pura-pura saja menyerah itu.

Kini Thian Sin benar-benar mengamuk! Melihat kekasihnya terancam penghinaan seperti itu, kemarahannya memuncak dan Pendekar Sadis segera memperlihatkan kelihaiannya. Dia tidak mau mengeluarkan pedangnya, melainkan menyambut hujan senjata itu dengan kedua tangan kosong saja. Akan tetapi tangan kosong yang hebat bukan kepalang!

Kedua tangan Thian Sin itu bagai sepasang naga mengamuk saja ketika dia menghadapi pengeroyokan anak buah Jit-sian-kauw. Dia mengeluarkan semua ilmu yang dikuasainya untuk menghajar para anggota Jit-sian-kauw itu. Meski mereka itu terdiri dari orang-orang yang berkepandaian tinggi, namun di tangan Pendekar Sadis mereka itu tak ada bedanya seperti segerombolan anak-anak kecil saja.

Seorang anggota yang agaknya mempunyai dasar ilmu silat Siauw-lim-pai, menggunakan sebatang toya. Ilmu toya Siauw-lim-pai terkenal kuat bukan main, didasari oleh gerakan yang mengandung tenaga lweekang sehingga ujung toya itu tergetar dan terlihat menjadi banyak.

Dengan gerakan mantap serta penuh tenaga, pemegang toya ini menusukkan toyanya ke arah dada Thian Sin sambil membentak keras. Akan tetapi karena ujung toya itu tergetar, maka sukarlah untuk diduga apakah benar dada yang diserang itu, ataukah tenggorokan atau pusar, atau juga lambung kanan kiri. Ada semua kemungkinan itu dan inilah lihainya permainan toya itu.

Namun Thian Sin menghadapinya dengan tenang saja, bahkan dia menanti sampai toya itu mencium tubuhnya dan ternyata ujung toya itu mendarat pada lambungnya yang kiri. Begitu ujung toya mencium bajunya di lambung, Thian Sin menggerakkan tangan kirinya yang dimiringkan dan mengandung tenaga Thian-te Sin-ciang sepenuhnya itu, membacok ke bawah ke arah toya.

"Krakkk!"

Dan toya itu patah-patah menjadi tiga potong, kemudian sebelum pemegang toya yang merasa betapa telapak tangannya berdarah dan terkupas kulitnya itu sempat menguasai keadaannya, kaki Thian Sin telah menendang sehingga orang itu langsung terlempar dan terbanting roboh, tidak mampu bangkit kembali.

Thian Sin masih ingat bahwa besar sekali kemungkinannya para anggota Jit-sian-kauw ini bergerak di bawah pengaruh sihir atau setidaknya juga kepercayaan yang membabi buta terhadap Sian-su sehingga mereka itu tidak sadar bahwa mereka telah membantu orang yang amat jahat. Mungkin sekali para anggota ini sebetulnya adalah orang baik-baik yang telah terseret karena pandainya Sian-su mengambil hati dan menundukkan mereka.

Karena itu, maka Pendekar Sadis ini masih merasa kasihan untuk membunuh mereka dan tendangannya tadi pun terarah dan terkendalikan sehingga biar pun orang itu tidak mampu bangkit lagi, namun tidak menderita luka yang dapat merenggut nyawanya, hanya patah tulang dan salah urat saja.

Anggota yang memegang toya itu terkenal di antara kawan-kawannya sebagai salah satu di antara lima murid utama dari Sian-su, maka melihat dia dalam segebrakan saja roboh, para pengeroyok itu menjadi gentar. Akan tetapi mereka pun kembali menyerbu dengan berbareng, tidak lagi berani maju satu-satu.

Thian Sin mengerling dengan ujung matanya. Ia melihat betapa Sian-su masih berdiri dan hanya menonton pertempuran itu, sedangkan Kim Hong sudah rebah miring tak bergerak dalam keadaan tertotok. Hatinya menjadi gelisah sekali. Ingin dia cepat-cepat menyerang Sian-su dan menyelamatkan Kim Hong, apa pun juga yang akan terjadi. Hal ini membuat dia menjadi semakin marah kepada para anggota yang mengepungnya.

Pada saat dia melihat tosu penghuni kuil yang dikenalnya dari kebiasaannya memiringkan muka, kemarahannya makin memuncak. Dia tidak memperhatikan serangan yang datang bagaikan hujan itu, melainkan memutar tubuhnya lantas melesat ke arah tosu itu sambil membentak,

"Tosu palsu keparat!"

Tubuhnya disambut oleh banyak senjata, akan tetapi gerakan tangannya yang mendorong dengan ilmu mukjijat Hok-liong Sin-ciang itu demikian hebatnya sehingga lima orang yang senjatanya langsung bertemu dengannya itu terjengkang seperti dilanda angin ribut.

Tosu yang memakai topeng setan itu sudah menusukkan pedangnya ke arah dada Thian Sin. Akan tetapi sebelum ujung pedangnya sempat mengenai dada lawan, angin pukulan dari Hok-liong Sin-ciang sudah lebih dulu menyambutnya dan tosu ini mengeluarkan pekik mengerikan ketika tubuhnya terjengkang lantas terbanting sedemikian kerasnya sehingga dia pun tidak berkutik, pingsan dan hampir mati kalau saja tadi Thian Sin tidak menahan tenaganya!

Gegerlah keadaan di ruangan atas itu. Beberapa orang tamu yang memiliki kepandaian silat langsung melangkah maju hendak membantu pihak tuan rumah, akan tetapi Sian-su cepat memberi isyarat sehingga mereka itu hanya berkumpul di belakang Sian-su, dengan senjata di tangan.

Sikap mereka sudah jelas hendak melindungi dan membantu Sian-su jika Pendekar Sadis berusaha menyerang ketua agama ini! Mereka itu rata-rata telah bersumpah setia kepada Sian-su, tentu saja dengan keyakinan penuh bahwa mereka akan menikmati kesenangan dunia akhirat!

Pengeroyokan semakin ketat, akan tetapi Thian Sin kini sudah menjadi marah betul. Dia ingin segera menyerang Sian-su dan membebaskan Kim Hong, namun ulah para anggota Jit-sian-kauw yang menghalanginya ini amat mengganggunya.

Maka tiba-tiba dia mengeluarkan pekik nyaring dan membiarkan dirinya menjadi sasaran banyak senjata. Akan tetapi, bukan dia yang terluka atau berteriak kesakitan, sebaliknya malah belasan orang itu kini terbelalak dan berteriak-teriak minta dilepaskan.

"Lepaskan aku...! Lepaskan aku...!"

"Lepaskan... aaahhh...!"

Belasan orang itu membetot-betot senjata mereka yang menempel pada tubuh Pendekar Sadis, akan tetapi makin kuat mereka membetot, semakin kuat pula senjata itu melekat! Thian Sin telah menggunakan ilmu mukjijat Thi-khi I-beng, yaitu ilmu sinkang yang sudah sampai di puncak kekuatannya sehingga dapat menyedot tenaga sinkang lawan melalui senjata atau tangan yang menempel pada tubuhnya. Tenaga dalam mereka itu membanjir keluar melalui gagang senjata masing-masing dan terasa disedot oleh kekuatan yang luar biasa besarnya!

Melihat keanehan ini, Sian-su dan para pengikutnya memandang dengan mata terbelalak dan pendeta siluman itu merasa tengkuknya meremang. Belum pernah selama hidupnya dia berhadapan dengan seorang yang seperti itu lihainya. Dia pernah mendengar tentang ilmu menyedot tenaga lawan ini, akan tetapi menganggap bahwa ilmu itu hanya dibesar-besarkan saja dan semacam dongeng.

Akan tetapi sekarang, biar pun tidak mengalaminya sendiri, dia telah menyaksikan betapa anak buahnya menjadi korban ilmu mukjijat itu. Dia sendiri mengerti bagaimana sebaiknya menghadapi ilmu menyedot yang berbahaya itu, akan tetapi dia sudah melihat keadaan yang lebih mudah dari pada harus mati-matian mencoba untuk menundukkan Pendekar Sadis dengan kekerasan.

"Hyaaaattt...!" tiba-tiba Pendekar Sadis memekik.

Belasan orang yang tenaganya tersedot olehnya, yang mukanya mulai pucat dan gerakan mereka untuk meronta makin lemah, segera terlempar ke kanan kiri dan jatuh terbanting di atas lantai, mengeluh dan tidak kuat untuk berdiri lagi. Mereka ini harus mengumpulkan tenaga dan hawa murni lebih dulu untuk memulihkan kekuatan.

Dengan mata mencorong seperti mata seekor naga sakti, Thian Sin kini melangkah maju perlahan-lahan. Para anggota Jit-sian-kauw yang belum roboh masih mengepungnya dan ikut bergerak melangkah, akan tetapi tidak berani terlalu dekat. Muka mereka pucat dan jelas terbayang di wajah mereka betapa hati mereka jeri menghadapi pendekar yang luar biasa ini.

"Berhenti, Ceng Thian Sin!" Tiba-tiba Sian-su membentak.

Thian Sin tersenyum mengejek. "Tak perlu menggertakku dengan ilmu sihirmu yang tidak manjur itu, siluman!"

"Berhenti atau pedangku akan menembus jantungnya!" Tiba-tiba Sian-su menggerakkan sebatang pedang dengan ujung pedang itu sudah menempel pada kulit putih di dada Kim Hong yang terbuka, tepat di antara kedua bukit dadanya.

Melihat hal ini, seketika Thian Sin menghentikan langkahnya dan matanya mengeluarkan cahaya kilat. Topeng tengkorak itu tersenyum lebar, penuh ejekan.

"Hemm, kau lihat, aku masih menguasaimu, Pendekar Sadis. Memang engkau hebat dan gagah perkasa, akan tetapi belum tentu aku kalah olehmu."

"Pendeta jahanam! Kalau memang engkau seorang lelaki sejati dan jantan tulen, jangan mengancam orang yang sudah tidak berdaya karena kecuranganmu! Hayo lawanlah aku sebagai laki-laki, atau kau bebaskan Kim Hong lalu melawannya tanpa kecurangan!"

"Ha-ha-ha, menggunakan tenaga sesedikit mungkin untuk mencapai kemenangan adalah sikap cerdik dan bijaksana. Kalau engkau berkeras, aku akan bunuh wanita ini lebih dulu, berarti aku sudah menang separuh. Kecuali kalau engkau menyerah..."

"Hemmm, engkau hendak memaksaku dengan mengancam nyawa Kim Hong. Baik, kalau aku menyerah lalu apa yang hendak kau lakukan? Tidak urung engkau akan membunuh kami berdua juga!" Thian Sin mengepal tinjunya. "Dari pada aku melakukan kebodohan itu, menyerahkan diri untuk akhirnya kau bunuh juga bersama Kim Hong, lebih baik aku membiarkan kau membunuh Kim Hong lalu engkau... hemm.. Pendekar Sadis akan hidup kembali, akan menjadi paling sadis di antara semua kesadisan yang pernah dilakukannya untuk menyiksamu!"

Tanpa disadarinya, pendeta siluman itu merasa betapa tengkuknya langsung meremang dan jantungnya berdebar-debar. Sungguh mengerikan mendengar kata-kata dari pemuda tampan itu dan dia dapat merasakan bahwa ucapan itu bukanlah ancaman belaka. Orang ini harus dienyahkan, harus dibasmi. Kalau tidak, selama hidupnya dia akan terancam.

"Aku bukan orang bodoh, Pendekar Sadis. Aku berjanji, kalau engkau menyerahkan diri tanpa melawan, aku tidak akan membunuh kalian."

"Lekas katakan, apa yang hendak kau lakukan terhadap kami kalau aku tidak melawanmu dengan kekerasan!"

"Apa yang hendak kami lakukan adalah urusan kami. Akan tetapi kalau engkau menyerah tanpa kekerasan, atas nama Jit-sian-kauw, atas nama Dewa Kematian, aku bersumpah untuk tidak membunuh Toan Kim Hong dan Ceng Thian Sin!"

Diam-diam Thian Sin mengerti bahwa apa bila dia menyerah, berarti dia mempertaruhkan nyawanya dan nyawa Kim Hong. Akan tetapi, dia percaya bahwa pendeta siluman itu tak mungkin akan berani melanggar sumpahnya setelah bersumpah demi nama Jit-sian-kauw dan Dewa Kematian, apa lagi disaksikan oleh semua pengikutnya.

"Sumpahmu disaksikan oleh para tamu yang hadir saat ini!" kata Thian Sin menekan.

"Benar, disaksikan oleh para tamu terhormat. Kami bukan golongan pengecut yang suka melanggar janji!" kata Sian-su dengan suara dibikin gagah.

"Baiklah, aku menyerah." Thian Sin berpendapat bahwa yang paling penting untuk saat itu adalah keselamatan dan keamanan mereka berdua. Soal nanti selanjutnya, biarlah, tentu akan ada jalan lain. "Akan tetapi, engkau harus menyingkirkan Kim Hong dari sini dahulu. Biarkan dia mengaso dan jangan mengganggunya selama sehari semalam! Kalau engkau tidak mau berjanji seperti itu, sampai mati aku tidak akan mau menyerah dan kita lihat saja, siapa yang akan binasa dalam pertempuran di antara kita!"

Ketua Jit-sian-kauw itu mengerti bahwa kalau pemuda itu mau menyerah, semata-mata adalah karena pemuda itu tidak ingin melihat Kim Hong mati. Dan dia sendiri pun tidak berniat untuk membunuh Kim Hong. Sama sekali tidak. Dia mempunyai rencana sendiri terhadap diri Kim Hong.

Dia sudah mendengar bahwa dara itu memiliki ilmu silat yang tidak kalah lihainya kalau dibandingkan dengan Pendekar Sadis. Oleh karena itu, biarlah dia kehilangan Pendekar Sadis sebagai pembantu, asalkan berhasil membuat gadis lihai itu menjadi pembantunya, juga kekasihnya yang baru. Kecantikan Kim Hong telah menarik hatinya dan dia pun bisa menguasai gadis itu dengan ilmu sihir, tidak seperti Pendekar Sadis yang kebal ilmu sihir.

"Baiklah, Pendekar Sadis. Aku berjanji bahwa selain aku tidak akan membunuh kalian berdua, juga nona Toan Kim Hong akan dirawat baik-baik, dibiarkan beristirahat dan tidak akan mengganggunya selama sehari semalam. Nah, aku berjanji, disaksikan semua tamu terhormat!"

Thian Sin melihat betapa tubuh Kim Hong yang masih lemas tertotok itu diangkut pergi oleh empat orang penari wanita setelah pendeta siluman itu memberikan perintahnya. Dia pun lalu melemaskan tubuhnya.

"Aku menyerah."

"Kami masih sangsi akan ketulusanmu, maka dengan terpaksa kami akan membelenggu kaki tanganmu," kata Sian-su.

Thian Sin mengangguk. Dia pun tidak memberontak dan mandah saja ketika dua orang anggota Jit-sian-kauw mendekatinya lantas membelenggu kedua tangannya ke belakang, juga kedua kakinya. Tiba-tiba saja sehelai sapu tangan ditutupkan ke mukanya. Thian Sin mencium bau keras dan dia pun tak sadarkan diri oleh obat bius yang amat kuat…..

********************

Orang-orang Hong-kiam-pang merasa marah dan sakit hati sekali pada waktu mendengar bahwa dua orang murid mereka yang terkenal, yaitu Cia Kok Heng dan Kwee Siu, tewas di dalam tangan Siluman Goa Tengkorak. Mereka langsung mengadakan rapat darurat, memanggil semua tokoh murid mereka. Rapat itu dipimpin oleh dua orang pemimpinnya yaitu Im Yang Tosu yang menjadi ketuanya dan Bu Beng Tojin yang menjadi pembantu utama atau wakil ketuanya.

Im Yang Tosu adalah seorang tosu berusia hampir tujuh puluh tahun, tubuhnya kurus dan pendek, akan tetapi wajahnya masih nampak segar dan gerakannya juga masih lincah. Tosu ini adalah tokoh Kun-lun-pai, maka tentu saja dia paling berhak untuk menjadi ketua Hong-kiam-pang yang menjadi cabang dari Kun-lun-pai. Ilmu kepandaiannya tinggi dan wataknya keras walau pun telah berpuluh tahun dia menjadi pendeta Agama To.

Wakilnya yang berjuluk Bu Beng Tojin adalah seorang pendeta pula, yang bertubuh tinggi kurus dan bermata tajam. Dia bersikap lemah lembut dan berwatak pendiam. Akan tetapi dia merupakan seorang pembantu yang amat baik, bahkan hampir semua urusan luar dari Hong-kiam-pang berada di dalam pengawasannya.

Seperti juga Im Yang Tosu, tentu saja Bu Beng Tojin ini sangat mahir dalam memainkan Ilmu Pedang Hong-kiam-sut. Akan tetapi berbeda dengan Im Yang Tosu yang memang merupakan murid yang pandai dari Kun-lun-pai, sebaliknya Bu Beng Tojin ini bukan murid Kun-lun-pai, melainkan ahli dalam pelbagai cabang ilmu silat berbagai aliran.

Akan tetapi, sesudah diuji oleh Im Yang Tosu sendiri, ternyata kepandaian Bu Beng Tojin ini amat lihai, bahkan hanya sedikit di bawah tingkat Im Yang Tosu. Oleh karena itu maka dia dipercaya dan diangkat sebagai pembantu utama atau boleh dibilang juga wakil ketua.

Dalam banyak urusan, usul-usulnya selalu baik dan dapat diterima. Di dalam menghadapi Siluman Goa Tengkorak sekali pun, Im Yang Tosu sudah menyerahkan kepada wakilnya untuk mengatur bagaimana baiknya untuk membalas kematian dua orang murid mereka.

"Sesungguhnya memang serba susah," kata Bu Beng Tojin dalam rapat itu ketika ditanyai pendapatnya. "Perkumpulan kita selalu berusaha menjauhkan diri dari permusuhan. Akan tetapi dua orang murid kita tewas dan tentu saja kita tidak dapat membiarkan kematian itu lewat tanpa terbalas. Cuma ada satu hal yang harus diselidiki dengan teliti, apakah benar kedua orang murid kita itu tewas di tangan orang yang berjuluk Siliman Goa Tengkorak itu."

Suheng-nya, Im Yang Tosu, menarik napas panjang. "Siancai...! Sebenarnya pinto sendiri tidak menghendaki adanya permusuhan antara Hong-kiam-pang dengan pihak mana pun juga. Dan di dunia ini banyak terdapat orang jahat yang memenuhi pemukaan bumi, tidak mungkin kalau Hong-kiam-pang lantas harus memusuhi dan berusaha membasmi semua penjahat itu. Maka kita pun tidak pernah ikut mencampuri urusan Siluman Goa Tengkorak selama dia juga tidak mengganggu kita. Akan tetapi, Tujuh Pendekar Tai-goan adalah murid-murid kita, dan terutama sekali Cia Kok Heng dan Kwee Siu yang langsung adalah murid-murid pinto sendiri. Tidak dapat disangkal lagi bahwa tentu Siluman Goa Tengkorak yang membunuh mereka. Bukankah isteri Kok Heng juga telah diculiknya?"

Bu Beng Tojin segera menarik napas panjang. "Tidak ada akibat tanpa sebab, dan itulah hukum alam! Mungkin isteri Kok Heng terlalu cantik maka dia diculik, dan dua orang murid kita itu tewas karena mereka menggunakan kekerasan. Lalu sekarang apa yang suheng kehendaki dalam menghadapi urusan ini?"

"Bukan hanya demi nafsu mendendam, sute, akan tetapi juga untuk membersihkan nama kita sekalian membersihkan dunia dari gangguan siluman itu. Kita harus menyerbu Goa Tengkorak dan membasmi siluman itu. Untuk ini, pinto serahkan siasatnya kepadamu."

Bu Beng Tojin mengangguk-angguk. "Jangan khawatir, suheng. Aku akan membawa anak murid kita dan menyelidiki keadaan Goa Tengkorak. Suheng tenang-tenang sajalah di sini menanti berita dari kami."

Demikianlah, pada malam hari bulan purnama itu, Bu Beng Tojin membawa para anak murid Hong-kiam-pang yang terkumpul sebanyak dua puluh lima orang menuju ke daerah Goa Tengkorak lantas melakukan penyelidikan. Semua goa dimasuki dan diobrak-abrik. Akan tetapi mereka tak menemukan sesuatu apa pun kecuali goa-goa kosong yang sunyi dan menyeramkan.

"Kalian semua menjaga di depan goa, dan sebagian lagi melakukan penyelidikan sambil meronda. Pinto sendiri diam-diam akan menyelinap ke belakang bukit, siapa tahu siluman itu akan melarikan diri dari jalan rahasia di belakang bukit. Kalian tak boleh meninggalkan tempat ini sebelum pinto datang kembali." Demikian Bu Beng Tojin berpesan kepada para murid Hong-kiam-pang, agaknya hendak mempergunakan siasat menggeprak dari depan dan membiarkan musuh lari lewat pintu belakang tetapi dia sudah menanti di sana untuk menyergapnya!

Dengan pedang telanjang di tangan, para murid Hong-kiam-pang itu berjaga-jaga dengan penuh kewaspadaan. Mereka percaya akan kelihaian ji-suhu mereka, akan tetapi betapa pun juga mereka merasa ngeri pula di tempat yang sunyi menyeramkan ini. Apa lagi kalau mereka ingat betapa Tai-goan Jit-hiap, Tujuh Pendekar Tai-goan yang kesemuanya amat lihai itu tewas di tangan siluman ini! Dan ji-suhu mereka itu pergi begitu lamanya.

Sampai lewat tengah malam belum juga kakek itu kembali dan mereka tidak berani pergi meninggalkan tempat itu seperti yang sudah dipesan oleh ji-suhu mereka. Padahal, selagi berjaga tadi, mereka mendengar suara-suara aneh, seperti dengung suara musik suling, yang-kim dan canang dipukul, dari tempat jauh sekali, kadang-kadang seperti terdengar keluar dari jurang-jurang terbawa angin.

Padahal mereka tahu pasti bahwa di sekitar tempat itu tidak ada dusun, dan suara musik itu juga bukan musik dusun, melainkan musik halus yang biasanya hanya terdapat di kota besar. Tentu saja hal ini membuat mereka semakin ngeri sebab suara itu agaknya datang dari alam lain yang didatangkan oleh siluman-siluman!

Tentu saja para anak murid Hong-kiam-pang ini tak pernah menduga sama sekali bahwa suara musik itu memang keluar dari jurang karena jurang-jurang itu merupakan ‘jendela’ dari tempat rahasia yang berada di balik bukit goa-goa itu, di dalam bukit yang bertebing tinggi itu.

Mereka tidak pernah menyangka bahwa di balik goa-goa itu sedang dilangsungkan pesta gila-gilaan, pesta yang penuh kecabulan di mana nafsu birahi diumbar dan dilampiaskan begitu saja secara liar tanpa mengenal malu-malu lagi. Juga pada malam hari itulah Thian Sin terpaksa menyerahkan diri karena hendak menyelamatkan Kim Hong. Akan tetapi dia lengah dan tidak memperhitungkan kecerdikan ketua Jit-sian-kauw itu.

Ketika dia membiarkan dirinya dibelenggu, merasa yakin bahwa tidak ada belenggu yang akan dapat menahannya, dan selagi dia mencurahkan perhatiannya kepada orang-orang yang membelenggunya, tanpa disangka-sangka dia sudah diserang oleh Sian-su dengan mempergunakan sapu tangan yang mengandung obat bius yang amat kuat sehingga dia pingsan.

Malam itu semakin larut dan suasana menjadi makin sunyi. Di luar daerah Goa Tengkorak itu terasa makin sunyi melengang, sedangkan di dalam tempat rahasia milik perkumpulan Jit-sian-kauw itu pun sudah mulai sunyi karena semua tamunya sudah mulai membawa pasangan mereka, masing-masing ke tempat menyendiri supaya dapat berasyik-masyuk tanpa terganggu.

Lampu-lampu telah dipadamkan dan diganti dengan lampu-lampu yang dibungkus dengan kain berwarna-warni sehingga suasana menjadi amat romantis dan cocok sekali bagi para pasangan itu untuk melampiaskan nafsu birahi masing-masing sesuka hati mereka. Ganti-berganti pasangan pun terjadilah dan pesta gila itu akan berlangsung sampai matahari terbit pada esok harinya, setelah tubuh mereka tidak mengijinkan lagi untuk melanjutkan pesta-pora pelampiasan nafsu itu.

Teriakan yang sangat mengejutkan para murid Hong-kiam-pang itu terjadi lewat tengah malam. Mereka mengenal suara ji-suhu mereka dari balik bukit.

"Anak-anak... ke sinilah dan cepat bantu pinto!" Demikian ji-suhu mereka itu berteriak-teriak dan mereka mendengar suara desir angin pukulan, tanda bahwa ji-suhu mereka itu sedang berkelahi.

Dan kalau ji-suhu mereka itu sampai berteriak minta bantuan, hal itu tentu berarti bahwa lawannya sungguh seorang yang luar biasa lihainya. Berbondong-bondong dua puluh lima orang itu segera berlari ke arah tempat itu.

Dan di bawah sinar bulan purnama yang sudah mulai condong ke langit barat itu mereka melihat bahwa ji-suhu mereka benar-benar sedang bertanding melawan seorang laki-laki yang memakai topeng tengkorak serta berpakaian serba putih dengan lukisan tengkorak darah pada bagian dada. Siluman Goa Tengkorak! Mereka melihat betapa ji-suhu mereka kini sedang mengadu tenaga sinkang dengan siluman itu, dua pasang tangan mereka itu saling lekat dan saling dorong!

Para murid itu berhenti dan memandang dengan bingung. Mereka semua maklum bahwa bila ji-suhu mereka sedang mengadu sinkang seperti itu, mereka tak boleh mengganggu. Selain tenaga sinkang mereka masih belum mencapai tingkat setinggi tingkat suhu-nya, juga campur tangan mereka dapat membahayakan keselamatan ji-suhu mereka sendiri. Maka mereka hanya mendekat dan mengepung saja, siap-siap dengan pedang di tangan untuk membantu kalau keadaan mengijinkan.

Tiba-tiba terdengar Bu Beng Tojin mengeluarkan bentakan nyaring. Dia mendorong dan... lawannya itu roboh terpental dan terpelanting. Melihat hal ini, para murid Hong-kiam-pang segera menubruk ke depan dan hendak menggerakkan pedang mereka untuk menyerang tubuh orang bertopeng yang sudah roboh itu.

"Tahan! Biarkan pinto menangkapnya!" teriak Bu Beng Tojin mencegah para murid itu dan kakek ini lalu menubruk ke depan, monotok beberapa jalan darah lawannya yang seketika menjadi lemas dan lumpuh. "Keluarkan belenggu dan belenggu kaki tangannya. Jangan sakiti atau bunuh dia, biar kita membawanya menghadap suheng!"

Bukan main girangnya hati para murid Hong-kiam-pang melihat betapa orang bertopeng tengkorak itu sudah roboh pingsan. Mereka lalu membelenggu dan menelikungnya seperti seekor babi hendak disembelih, dan beramai-ramai mereka menggotong orang tawanan ini turun dari tebing. Bu Beng Tojin melarang mereka membuka topeng yang menutupi muka orang itu.

"Inikah orang yang dinamakan Siluman Goa Tengkorak, ji-suhu?" tanya mereka kepada Bu Beng Tojin ketika mereka beramai pulang dengan hati gmbira karena kemenangan itu.

"Siapa lagi kalau bukan dia ini? Dia lihai sekali, hampir pinto kewalahan menghadapinya. Untung pada saat terakhir kalian datang sehingga perhatiannya tertarik dan sedikit banyak dia merasa terkejut dan khawatir. Hal itu telah mengurangi tenaga sinkang-nya sehingga memungkinkan pinto untuk mengalahkannya. Pantas dia dapat merajalela dan mengacau karena memang ilmu kepandaiannya luar biasa lihainya."

"Susiok, kenapa kita tidak bunuh saja iblis ini agar arwah toa-suheng dan ji-suheng dapat menjadi tenang?" seorang pemuda berkata dengan sikap penasaran. Pemuda ini adalah murid Im Yang Tosu ketua Hong-kiam-pang.

Ketua ini mempunyai lima orang murid, dan murid pertama dan ke dua adalah mendiang Cia Kok Heng dan Kwee Siu. Pemuda itu adalah murid ke tiga, maka dia menyebut susiok kepada Bu Beng Tojin.

"Bersabarlah, kita tunggu saja keputusan dari gurumu," jawab Bu Beng Tojin.

Malam sudah hampir terganti pagi ketika mereka tiba di kuil mereka, disambut oleh para murid lain yang menjadi tegang dan gembira, juga ingin tahu sekali ketika mendengar bahwa Bu Beng Tojin telah berhasil menawan Siluman Goa Tengkorak!

Bu Beng Tojin melemparkan tubuh siluman itu ke atas lantai ruangan depan. Para murid Hong-kiam-pang mengepung tempat itu dan sebagian lagi melapor ke dalam. Karena Im Yang Tosu sedang semedhi, maka mereka tidak berani mengganggu dan menanti sampai tosu tua itu selesai dengan semedhinya, sementara itu mereka mendengarkan Bu Beng Tojin menceritakan pengalamannya.

"Memang malam tadi menggelisahkan sekali ketika menunggu, sendirian di balik bukit itu. Tetapi pinto yakin bahwa penjahat itu tentu akan keluar juga. Kita telah mempergunakan siasat mengancam di depan pintu dan membiarkan harimau lolos dari belakang. Apa bila pinto membawa semua murid ke belakang, tentu dia tak akan berani keluar. Pinto sendiri bersembunyi dan membiarkan dia menyangka bahwa semua orang menyerbu dari depan. Dan akhirnya dia pun berkelebat keluar dari balik semak-semak yang pinto kira tentulah merupakan jalan rahasianya. Nah, pinto lalu menyergapnya, tetapi pinto sama sekali tidak menyangka bahwa dia memang lihai bukan main sehingga pinto tidak segera memangil kalian. Akan tetapi masih untung bahwa akhirnya pinto berhasil..." Tiba-tiba Bu Beng Tojin menghentikan kata-katanya dan menoleh ke luar dengan sikap kaget sekali.

Semua orang cepat menoleh dan juga terkejut karena tiba-tiba saja bagaikan munculnya setan, di pekarangan depan itu sudah berdiri seorang yang berpakaian putih-putih dengan sulaman tengkorak darah di dadanya, dan mukanya juga mengenakan topeng tongkorak! Keadaan orang itu persis dengan siluman yang sudah ditelikung dan kini rebah miring di atas lantai, hanya orang yang baru datang ini tubuhnya agak lebih kecil.

Dengan kecepatan kilat yang sama sekali tidak tersangka-sangka, tiba-tiba siluman yang baru datang ini menyambitkan sesuatu ke arah siluman yang terbelenggu.

"Takk! Takk!"

Dua buah benda hitam menyambar lantas mengenai punggung serta leher siluman yang terbelenggu itu. Siluman ini nampak berkelojotan sedikit lalu diam dan dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Bu Beng Tojin beserta para murid Hong-kiam-pang ketika melihat bahwa siluman tawanan itu agaknya telah tewas karena mukanya mendadak pucat sekali dan napasnya pun terhenti! Bu Beng Tojin marah bukan main.

"Keparat jahanam engkau!" Dan tosu yang bertubuh tinggi kurus ini sekali bergerak sudah meloncat ke depan, dan langsung menyerang siluman yang bertubuh kecil itu.

Akan tetapi bisa dibayangkan betapa kagetnya ketika siluman itu berkelebat dan sejenak lenyap dari pandang matanya, lalu tiba-tiba saja siluman itu yang telah berada di sebelah kirinya mengirim tamparan ke arah lehernya.

"Plakkk!"

Bu Beng Tojin menangkis dan dia merasa lebih kaget lagi. Tubuhnya terdorong mundur oleh tangkisan itu dan kembali siluman itu telah menyerang dengan tendangan kilat yang memaksa tosu itu untuk meloncat mundur.

Sekarang para murid Hong-kiam-pang sudah berloncatan datang, lantas serentak mereka menggunakan pedang untuk menyerang. Tadinya mereka memang merasa bingung dan hanya termangu-mangu melihat kemunculan seorang siluman lain lagi itu, akan tetapi kini mereka sadar bahwa yang disebut Siluman Goa Tengkorak tentu merupakan gerombolan yang memiliki banyak anggota dan semuanya mengenakan pakaian dan topeng seperti itu. Maka mereka pun sudah menerjang dengan marah.

Akan tetapi siluman itu memang lincah bukan main dan memiliki ginkang yang luar biasa. Tubuhnya cepat berkelebat ke sana-sini seolah-olah dapat menyelinap di antara sambaran pedang-pedang itu. Dia sama sekali tidak gugup biar pun dikeroyok banyak orang, bahkan ketika Bu Beng Tojin sendiri juga sudah terjun dan menyerangnya.

"Siancai... kiranya siluman ini berani pula mengacau di tempat pinto!" Terdengar bentakan halus yang disusul dengan suara mencicit seperti tikus terjepit, lalu ada sinar menyambar amat dahsyatnya.

"Ehhh...!" Siluman itu mengeluarkan seruan kaget.

Akan tetapi biar pun pedang yang digerakkan oleh Im Yang Tosu itu amat hebat, ia masih sempat melempar tubuhnya ke belakang dan dengan cara membuat poksai (salto) hingga lima kali, dia berhasil menghindarkan diri dari serangan sinar pedang yang bertubi-tubi itu. Akan tetapi kakek tua itu sungguh lihai bukan main permainan pedangnya, karena sinar pedang itu bergulung-gulung dan dapat mengirimkan serangan secara terus-menerus dan sambung-menyambung.

Diam-diam ketua Hong-kiam-pang itu terkejut bukan main. Baru sekarang ini permainan pedangnya selalu gagal walau pun dia sudah mengeluarkan jurus-jurus pilihan. Siluman itu gesit bukan main dan gerakannya lebih cepat dari pada sambaran sinar pedangnya!

Sementara itu, Bu Beng Tojin sudah meloncat mendekati siluman yang terbelenggu dan dengan sekali renggut dia telah melepaskan topeng tengkorak yang dipakai oleh siluman itu. Nampaklah wajah yang tampan dari Ceng Thian Sin!

"Pendekar Sadis...!" teriak Bu Beng Tojin dengan suara terkejut dan heran. "Dia adalah Ceng Thian Sin, Pendekar Sadis...!" Sambil berkata demikian, dia meloncat ke belakang.

Semua orang menjadi terkejut. Para anak buah Hong-kiam-pang telah mendengar tentang Pendekar Sadis dan tentu saja mereka kaget bukan main mendengar bahwa orang yang menyamar sebagai Siluman Goa Tengkorak itu adalah Pendekar Sadis!

Bahkan Im Yang Tosu sendiri kaget bukan kepalang mendengar seruan pembantunya itu sehingga serangannya terhadap siluman kedua yang tadinya gencar menjadi berkurang. Kesempatan ini digunakan oleh siluman ke dua itu untuk meloncat ke samping, menjauh dan terdengar seruannya nyaring.

"Thian Sin, mari pergi!"

Para anak buah Hong-kiam-pang yang ingin sekali menyaksikan sendiri wajah siluman yang oleh Bu Beng Tojin dikatakan sebagai Pendekar Sadis itu, mendekati dan merubung Thian Sin yang sudah mulai menggerakkan kedua matanya.

Sambitan dua buah kerikil hitam yang mengenai jalan darahnya tadi sudah membebaskan dirinya dari totokan, akan tetapi karena pengaruh obat bius itu masih membuatnya nanar, maka baru sekarang dia mulai sadar benar-benar. Begitu mendengar suara yang sangat dikenalnya itu, yang mengajaknya pergi, dia merasa seakan-akan kepalanya baru disiram air dingin sehingga seketika dia menjadi sadar sepenuhnya.

Dalam satu detik saja tahulah dia bahwa dia dalam bahaya, bahwa kedua kaki tangannya terbelenggu. Cepat dia mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang ke dalam kedua kaki dan tangannya, lantas sekali dia mengerahkan tenaga itu dan menggerakkan kaki tangannya, maka terdengarlah suara keras dan semua belenggu itu pun patah-patah.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner