SILUMAN GOA TENGKORAK : JILID-09


Para anak buah Hong-kiam-pang terkejut dan mereka pun jadi ragu-ragu apa yang harus mereka lakukan setelah melihat kenyataan bahwa yang menjadi Siluman Goa Tengkorak adalah Pendekar Sadis!

"Siancai...! Pendekar Sadis telah menjadi Siluman Goa Tengkorak dan membunuhi murid Hong-kiam-pang? Pinto harus membuat perhitungan!" Im Yang Tosu berseru marah.

Dan kakek ini sudah menerjang lagi ke arah siluman ke dua dengan dahsyat, dibantu oleh murid-muridnya, ada pun Bu Beng Tojin juga sudah mencabut pedangnya dan menyerang Thian Sin.

"Totiang, telah terjadi kesalah pahaman besar..." Thian Sin yang sudah meloncat bangun dan cepat mengelak ketika pedang di tangan Bu Beng Tojin menyambar, mencoba untuk membantah dan menjelaskan.

"Siluman busuk, tutup mulutmu!" bentak Bu Beng Tojin yang juga sudah marah sekali lalu dia mempercepat permainan pedangnya, dibantu pula oleh para murid Hong-kiam-pang.

"Thian Sin, tidak perlu berbantahan lagi. Lari...!" Siluman ke dua itu kembali berteriak dan dengan gerakan kilat dia sudah merobohkan seorang pengeroyok dengan tendangannya, kemudian dia meloncat dan pergi meninggalkan tempat itu, diikuti oleh Thian Sin.

"Kejar! Tangkap...!" Bu Beng Tojin berteriak.

Semua orang Hong-kiam-pang yang merasa marah dan penasaran itu segera melakukan pengejaran, namun mereka tidak mampu menyusul Thian Sin dan temannya yang sudah mengerahkan ginkang mereka dan melarikan diri secepatnya. Setelah para pengejar tidak nampak lagi, barulah mereka berdua berhenti kemudian siluman tengkorak yang bertubuh ramping itu membuka topengya.

"Kim Hong...!"

"Thian Sin...!"

Segera mereka berdua saling rangkul dan saling cium dengan hati penuh kerinduan dan kegembiraan melihat bahwa keduanya akhirnya dapat bertemu dalam keadaan selamat. Setelah puas melampiaskan rasa rindu dan gembira di hati masing-masing, Thian Sin lalu menggandeng tangan Kim Hong dan mengajaknya duduk di atas batu besar.

"Nah, sekarang ceritakan bagaimana engkau tiba-tiba dapat muncul di sini dan menyamar sebagai Siluman Goa Tengkorak pula," kata Thian Sin sambil mengelus punggung tangan kekasihnya.

Kim Hong lalu menceritakan semua pengalamannya semenjak dia pergi mencari jejak dan menyusul Thian Sin ke daerah Goa Tengkorak sampai dia terjebak dan tertawan karena terpengaruh oleh kekuatan sihir dari Sian-su atau ketua dari perkumpulan Jit-sian-kauw atau Siluman Goa Tengkorak.

Seperti kita ketahui, dara ini berada dalam keadaan tidak sadar sesudah dia tersihir dan hendak dijadikan anggota baru dalam upacara pengangkatan anggota baru, bahkan dia terpilih sebagai calon jodoh dari Sian-su sendiri! Ketika dia bertemu dengan Thian Sin di dalam sarang Siluman Goa Tengkorak, dia sama sekali tidak dapat mengenali Thian Sin karena dia berada di dalam keadaan tersihir, bahkan ketika Thian Sin mengamuk, dia pun tidak tahu dan hanya memandang dengan bingung saja.

Akan tetapi, ketika Kim Hong hendak dibawa pergi, diam-diam Thian Sin mengerahkan segala kekuatan batinnya, menggunakan kepandaian sihirnya untuk membebaskan dara itu dari pengaruh sihir dan meski pun secara perlahan-lahan, Kim Hong mulai sadar ketika dia dibawa pergi!

"Aku tidak tahu apa yang terjadi dan ketika aku sadar, aku telah berada di dalam sebuah kamar yang amat indah, dilayani oleh tiga orang gadis cantik sebagai dayang. Ketika aku teringat bahwa aku sudah terjebak dan tertawan, aku bangkit dan melihat bahwa di luar kamar itu terdapat beberapa orang pria yang memakai pakaian dan topeng Siluman Goa Tengkorak. Aku hendak mengamuk, akan tetapi pada saat itu pintu kamar terbuka dan di luar kamar nampak laki-laki tinggi yang agaknya menjadi kepala gerombolan itu..."

"Itulah ketua Jit-sian-kauw atau yang disebut dengan sebutan Sian-su!" kata Thian Sin.

"Iblis itu menunjuk kepadamu yang kulihat dalam keadaan pingsan, sambil menodongkan pedangnya ke lehermu. Dia mengancam bahwa kalau aku memberontak, maka lebih dulu dia akan membunuhmu, dan dia pun mengatakan bahwa dia sudah mengancammu kalau engkau memberontak, maka lebih dahulu dia akan membunuhku. Karena engkau sedang tidak berdaya dan dia berjanji bahwa dia tidak akan membunuh kita berdua, aku bersabar diri dan engkau pun dibawa pergi. Aku terus menjaga kesehatanku dengan makan setelah yakin bahwa makanan itu tidak dicampuri obat bius. Aku mulai percaya bahwa agaknya Sian-su itu tidak berniat buruk dan benar-benar hendak bersahabat dengan kita."

"Hemm, dia menipumu. Dia menghendaki engkau menjadi isteri dan pembantunya," kata Thian Sin gemas.

"Aku pun baru malam tadi mendengar tentang hal itu. Seorang wanita berlari-lari masuk ke kamarku sambil menangis, tetapi beberapa orang penjaga bertopeng tengkorak yang berada di luar kamar hendak menangkapnya. Aku segera melompat dan menghardiknya. Agaknya mereka itu takut padaku, lalu membiarkan wanita itu berlutut di depan kakiku."

Cerita Kim Hong ini semakin menarik hati Thian Sin yang tidak dapat menahan keinginan tahunya sehingga dia pun bertanya, "Apakah dia itu isteri mendiang Cia Kok Heng?"

Kim Hong mengangguk membenarkan, lalu gadis ini melanjutkan ceritanya. Wanita cantik
yang usianya dua puluh tujuh tahun itu pada mulanya hanya menangis mengguguk sambil merangkul kedua kaki Kim Hong. Kim Hong mula-mula merasa heran dan mengira bahwa ini tentu akal bulus dari perkumpulan gerombolan iblis itu untuk menjebak atau menipu dirinya.

"Enci, siapakah engkau dan mengapa engkau menangis?" akhirnya Kim Hong bertanya, memegang kedua pundak wanita itu dan menariknya bangkit duduk.

Dia sengaja menekan pundak itu dan mendapat kenyataan bahwa wanita itu tidak pandai ilmu silat. Hal ini membuat hatinya lega karena setidaknya dia yakin bahwa wanita ini tak akan mampu menyerangnya secara menggelap.

Wanita itu menyusut air matanya sambil berusaha menahan isak tangisnya. "Lihiap... aku adalah seorang wanita yang paling sengsara di dunia ini..." Kembali dia menangis.

Kim Hong lalu mengerutkan alisnya. "Enci, bagaimana engkau tiba-tiba saja menyebutku lihiap? Bagaimana engkau tahu bahwa aku adalah seorang ahli silat, seorang pendekar wanita?"

Wanita itu memandang keluar, ke arah orang-orang bertopeng tengkorak itu kemudian dia berbisik. "Mereka itu bercerita tentang Pendekar Sadis yang tertawan, juga tentang dirimu yang katanya merupakan sahabat pendekar itu dan lihai sekali, maka aku sengaja nekat lari ke sini... aku ingin memberi tahukan hal yang penting sekali..."

"Nanti dulu, enci. Siapakah engkau dan bagaimana engkau bisa sampai ke tempat seperti ini?"

"Aku adalah salah satu di antara wanita-wanita yang berada di sini, seperti mereka ini." Ia menunjuk ke arah gadis-gadis cantik yang menjadi dayang dan yang memandang heran dan tidak mengerti. "Namaku Lu Sui Hwa dan seperti juga mereka ini, aku adalah wanita yang diculik. Ada yang datang ke sini karena bujukan, karena dibeli, karena diculik, dan aku telah diculik. Mereka semua ini terbius dan tersihir, tidak tahu lagi apa yang mereka lakukan. Akan tetapi aku tidak dibius lagi, tidak disihir lagi sesudah aku dibebaskan dari pengaruh sihir oleh Pendekar Sadis, tetapi... tetapi aku pun terpaksa mentaati kehendak mereka, melayani mereka... diperkosa, dipermainkah... ahhh..." Wanita itu lalu mendekap mukanya dan air mata mengalir dari celah-celah jari tangannya.

"Tapi, kalau engkau sadar dan tidak terbius, mengapa engkau mau menurut saja, enci?" Kim Hong menegur dan mengerutkan alisnya.

"Apa dayaku? Suamiku telah mereka bunuh, dan mereka juga sudah menculik dua orang anak-anakku. Mereka mengancam bahwa selama aku menurut, anak-anakku tidak akan dibunuh... maka aku... demi kedua anakku, aku terpaksa menyerah... hu-hu-huhhh..."

"Apakah engkau nyonya Cia Kok Heng, ibu kandung Cia Liong dan Cia Ling?" Mendadak Kim Hong bertanya.

Wanita itu menurunkan kedua tangannya, memandang pada pendekar itu dengan muka pucat dan mata terbelalak. Mulutnya ternganga dan sejenak dia tidak mampu menjawab, hanya memandang dengan sinar mata penuh harapan. Akhirnya dia dapat juga membuka mulut dan bicara.

"Benar... benar... mana mereka? Bagaimana mereka...?"

"Tenangkan hatimu. Aku menyelamatkan mereka dari tangan iblis-iblis itu dan kini mereka berada di tangan yang aman."

Tiba-tiba wanita itu berlutut dan mencium kaki Kim Hong. "Terima kasih... ah, terima kasih kepada Thian... terima kasih, lihiap..."

Empat orang anggota Siluman Goa Tengkorak kini berloncatan masuk ke dalam kamar itu dan hendak menyeret pergi Lu Sui Hwa atau nyonya Cia Kok Heng.

"Pergi engkau dari sini, perempuan bandel!"

Akan tetapi, kini Kim Hong tidak dapat menahan kesabarannya lagi. Tubuhnya berkelebat dan kaki tangannya bergerak, kemudian terdengar suara orang mengaduh berturut-turut diikuti tubuh empat orang itu terlempar ke kanan kiri. Mereka roboh tanpa dapat bangkit kembali karena mereka sudah tewas oleh pukulan serta tendangan Kim Hong yang tadi dilakukan dengan kemarahan meluap.

"Enci, ceritakan apa yang hendak kau katakan tadi? Pemberi tahuan penting apa?" Kim Hong mendesak cepat.

"Pendekar Sadis... dia dibawa oleh mereka... menurut pembicaraan mereka yang dapat kudengar, Pendekar Sadis yang pingsan itu diberi pakaian dan topeng Siluman Tengkorak kemudian hendak diserahkan kepada pihak Hong-kiam-pang agar diadili dan dibunuh oleh perkumpulan yang mendendam terhadap Siluman Goa Tengkorak. Aku dapat mendengar segalanya karena waktu itu aku tidak dibius dan mereka percaya bahwa aku tidak akan berani membocorkan rahasia..."

"Perempuan keparat!" Terdengar bentakan-bentakan dan lima orang bertopeng masuk.

Akan tetapi Kim Hong segera menyambut mereka dan melayani serbuan lima orang yang menggunakan senjata tajam itu. Kini Kim Hong tidak ragu-ragu lagi karena tahu bahwa Thian Sin tidak berada di situ dan bahwa janji Siluman Goa Tengkorak sama sekali tidak dapat dipercaya.

Begitu kaki tangannya bergerak, gadis cantik yang dulu pernah menjadi datuk kaum sesat di selatan dengan julukan nenek Lam-sin ini, dalam belasan jurus saja sudah membunuh empat orang lawan dan dia sudah menotok seorang anggota gerombolan yang tubuhnya kecil, kemudian dia melompat keluar kamar sambil membawa tawanannya.

"Enci, aku akan pergi menolong Thian Sin..."

Akan tetapi pada saat itu pula dia mendengar suara keras disusul jeritan mengerikan. Dia cepat menengok dan terkejutlah dia. Kiranya Lu Sui Hwa atau nyonya Cia Kok Heng, ibu dari kedua orang anak itu, sudah roboh dengan kepala pecah di dekat tembok. Ternyata ibu muda yang putus asa karena selain suaminya terbunuh juga dirinya telah ternoda itu membunuh diri. Kim Hong memandang dan menggigit bibirnya.

"Enci, pergilah dengan tenang. Aku akan menghancurkan gerombolan iblis ini dan akan menyelamatkan anak-anakmu." Dia berbisik, kemudian menerjang keluar.

Belasan orang anak buah perkumpulan itu mencoba untuk menghadangnya, akan tetapi dengan tamparan tangan serta tendangan kakinya, Kim Hong berhasil membuat mereka semua tercerai-berai dan membawa tawanannya meloncat ke atas genteng.

"Hayo tunjukkan jalan keluar kalau engkau tidak ingin kucokel keluar matamu!" desis Kim Hong sambil meraba mata orang dengan telunjuknya.

"Jangan... lihiap... baiklah… akan kutunjukkan..." Tawanannya itu mengeluh dengan suara gemetar dan tubuh menggigil ketika merasa betapa biji matanya diraba-raba jari! "Harap turun ke dekat menara itu, di sana ada jalan rahasia..."

Kim Hong membawa tawanannya melompat turun ke dekat menara. Dua orang anggota gerombolan yang berjaga di sana menyerangnya dengan golok dan pedang, akan tetapi hanya dalam dua gebrakan saja Kim Hong telah membuat mereka terpelanting dan roboh pingsan. Atas petunjuk tawanan itu dia berhasil memasuki terowongan rahasia sehingga akhirnya dia bisa keluar dari jalan rahasia itu sampai di balik tebing. Jalan ini adalah jalan yang diambil oleh Thian Sin ketika sebagai ‘utusan’ Sian-su dia mengusir lima orang dari Bu-tong-pai.

"Tunjukkan di mana adanya tempat orang-orang Hong-kiam-pang itu!" kembali Kim Hong membentak dan orang itu kelihatan semakin ketakutan.

"Tidak...saya... tidak berani..."

"Engkau lebih berani membangkang terhadap perintahku?" Kim Hong membentak. Sekali jari tangannya menotok orang itu lalu bergulingan di atas tanah sambil mengaduh-aduh.

Dalam kegelisahannya akan nasib Thian Sin dan kemarahannya terhadap gerombolan itu, apa lagi setelah melihat Lu Sui Hwa membunuh diri, Kim Hong pada saat itu seperti telah berubah menjadi nenek Lam-sin lagi. Jalan darah yang ditotoknya tadi adalah jalan darah yang membuat orang menderita rasa nyeri yang amat hebat sehingga seolah-olah seluruh tubuhnya bagian dalam dikeroyok ribuan semut api yang menggerogoti dagingnya!

"Ampun... ampunkan saya...!" Orang itu terengah-engah dan bergulingan.

"Kau mau menunjukkan tempat itu?" Dengan suara dingin Kim Hong bertanya.

Orang itu menangis saking nyerinya, kemudian mengangguk-angguk. Melihat ini, barulah Kim Hong membebaskannya dari totokan yang menyiksa itu kemudian berkata,

"Hayo cepat tunjukkan!"

Dengan sangat terpaksa orang itu menunjukkan kuil yang menjadi markas perkumpulan Hong-kiam-pang. Kim Hong yang menyeret tubuh orang itu lalu berlari bagaikan terbang cepatnya karena dia tidak ingin terlambat.

Ketika dia sampai di luar pekarangan kuil, dia merasa lega melihat Thian Sin masih dalam keadaan selamat dan banyak anggota Hong-kiam-pang berkumpul di ruangan depan. Dia cepat-cepat melucuti pakaian luar dan topeng orang itu, kemudian tergesa-gesa memakai pakaian itu dan juga mengenakan topeng Siluman Tengkorak.

"Demikianlah, Thian Sin," Kim Hong mengakhiri ceritanya. "Aku berhasil membuat mereka terkejut kemudian membebaskan totokanmu dengan dua sambitan batu kerikil yang telah kupersiapkan sebelumnya. Sekarang ceritakan pengalamanmu."

"Terima kasih, Kim Hong. Kembali engkau telah menyelamatkan nyawaku," berkata Thian Sin sambil mencium kekasihnya. “Tentang pengalamanku, sebaiknya kuceritakan dalam perjalanan saja. Sekarang yang penting kita harus cepat-cepat menyerbu Goa Tengkorak untuk membasmi mereka sebelum mereka sempat melarikan diri atau membunuh wanita itu."

Kim Hong menyetujui dan sepasang pendekar sakti ini lalu mengerahkan ginkang mereka untuk berlari menuju ke Goa Tengkorak. Di sepanjang perjalanan, Thian Sin menceritakan pengalamannya dengan singkat.

"Kiranya Sian-su keparat itu memang benar-benar hendak memegang janjinya, yaitu tidak akan membunuh kita berdua, akan tetapi dia hendak meminjam tangan orang-orang dari Hong-kiam-pang untuk membunuhku, kemudian dengan ilmu sihir dan obat biusnya tentu dia akan berusaha untuk menguasai dirimu supaya engkau suka membantu pekerjaannya yang terkutuk itu!" kata Thian Sin mengakhiri penuturannya.

"Akan tetapi bagaimana engkau bisa berada di tangan orang-orang Hong-kiam-pang yang haus darah itu?"

"Hushh, jangan kau sebut haus darah. Mereka sudah kehilangan tujuh orang murid, tidak aneh kalau mereka mendendam kepada Siluman Goa Tengkorak. Apa lagi kalau mereka ketahui bahwa gerombolan Siluman Goa Tengkorak memang amat jahat dan keji, sebagai pendekar-pendekar tentu mereka itu akan menentang secara mati-matian. Dan aku yang berpakaian dan bertopeng seperti ini, tentu tak akan mereka ampuni."

"Akan tetapi bagaimana engkau sampai terjatuh ke tangan mereka?"

"Sudah kukatakan tadi, aku dalam keadaan pingsan akibat obat bius. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku dan tahu-tahu aku sudah berada di sana sampai kau datang. Tentu ini adalah siasat Sian-su yang menyerahkan aku kepada Hiong-kiam-pang sebagai seorang Siluman Goa Tengkorak, dengan maksud agar orang-orang Hong-kiam-pang itu membunuhku."

"Sian-su keparat itu sungguh licik, curang, keji dan amat jahat. Jika bertemu dengannya, aku pasti tidak akan memberi ampun kepadanya!" Kim Hong berkata dengan nada suara marah.

"Akan tetapi engkau harus berhati-hati, karena dia memiliki ilmu sihir yang cukup kuat. Jangan lengah dan pergunakan semua ilmu penolak sihir seperti yang pernah kuajarkan kepadamu kalau dia mempergunakannya," pesan Thian Sin dan Kim Hong mengangguk.

Dia memang pernah mempelajari cara-cara penolakan sihir dari kekasihnya itu dan kalau dia sampai pernah jatuh dalam pengaruh sihir dari ketua Siluman Goa Tengkorak, adalah karena dia tak menyangka sama sekali, tertipu oleh tosu kuil itu dan juga karena memang siluman itu memiliki kekuatan sihir yang amat kuat…..

********************

Di dalam tempat rahasia ini perkumpulan Jit-sian-kauw itu, Sian-su mengumpulkan semua anak buah dan juga para tamunya. Sepasang mata di balik topeng itu nampak gelisah.

"Para anggota dan juga para saudara sekepercayaan yang mulia! Tempat pemujaan kita terancam bahaya besar! Pendekar Sadis serta pembantunya sudah berkhianat dan tentu mereka itu akan datang mengacau di sini. Oleh karena itu aku perintahkan kepada semua anggota supaya bersikap waspada, menjaga semua jalan masuk dan memasang semua jebakan. Dan kepada semua saudara sekepercayaan, saya harap sukalah mengeluarkan sedikit tenaga membantu mempertahankan tempat pemujaan kita yang keramat."

Dengan cekatan Sian-su lalu membagi-bagi tugas di antara anak buahnya yang jumlahnya tinggal tiga puluh orang lebih itu, memerintahkan para wanita itu bersembunyi di ruangan dalam dan tidak memperbolehkan mereka keluar. Dengan pakaian Siluman Tengkorak, Tosu Siok Cin Cu yang menjadi pembantu utamanya, mewakilinya untuk mengatur para anak buah dalam melakukan penjagaan.

Kemudian Sian-su membujuk para tamunya yang berkepandaian untuk turut melakukan penjagaan. Di antara para tamunya itu terdapat sepuluh orang yang memiliki kepandaian silat tinggi dan mereka ini yang merasa betapa pusat kepercayaan mereka terancam oleh musuh, dengan senang hati mau membantu Sian-su.

Kepercayaan yang membuta sering kali menyesatkan orang dan membuat manusia lupa bahwa segala macam agama atau kepercayaan diciptakan untuk manusia. Agama atau kepercayaan lain diadakan untuk menuntun manusia ke jalan yang dianggap benar dan baik. Sebab itu jelaslah bahwa manusianya yang penting dan kepercayaan itu merupakan pelengkap dalam kehidupan, sebagai alat penerangan dan penuntun.

Namun, betapa banyaknya kepercayaan yang membuta membuat para pemeluknya lupa bahwa manusianya yang penting dan mereka itu bahkan lebih mementingkan agama atau kepercayaannya, ada pun manusianya sendiri lalu menjadi alat belaka yang mudah saja dikorbankan demi kepercayaan atau agama itu.

Dan yang memegang peran di dalam hal ini adalah para pemimpinnya, para pendetanya yang mempergunakan nama agama untuk memenuhi ambisi pribadinya. Para pemeluk itu mau saja diseret ke dalam kancah permusuhan dan kebencian, bunuh-membunuh, rela berkorban untuk membunuh atau pun terbunuh, semua dilakukan demi mempertahankan agama atau kepercayaan seperti yang digembar gemborkan oleh para pemimpinnya. Dan terjadilah keadaan yang sama sekali terbalik. Bukan lagi agama untuk manusia namun manusia untuk agama, bukan lagi agama sebagai alat manusia tetapi manusia menjadi alat agama.


Demikian pula dengan para tamu dari ketua Jit-sian-kauw ini. Mereka pun menyerahkan kepercayaan secara membuta dan di dalam penyerahan kepercayaan ini memang selalu terdapat hal-hal yang dianggap menguntungkan atau menyenangkan sebagai pendorong.

Mereka, para pemeluk agama Jit-sin-kauw ini, tidak hanya sudah menikmati kesenangan jasmani berupa pesta pora pemuasan nafsu-nafsu birahi, akan tetapi juga kesenangan batiniah yang berupa harapan bahwa kelak apa bila sudah mati mereka akan memperoleh kesenangan karena sudah disediakan sebuah tempat yang baik untuk mereka oleh Dewa Kematian yang telah mereka puja-puja dan beri korban. Kini, mereka rela untuk membela kepercayaan mereka, bahkan jika perlu mereka rela untuk mati, dengan keyakinan bahwa kematian itu akan berakhir dengan kesenangan bagi mereka.

Para tamu ini sama sekali tidak tahu bahwa pada waktu mereka ikut berjaga dengan sibuk untuk menjaga dan mempertahankan ‘tempat pemujaan keramat’ itu, pada sebelah dalam kamar rahasianya, Sian-su yang dibantu oleh orang kepercayaannya, yaitu Siok Cin Cu, tengah sibuk sendiri membenahi barang-barang berharga yang amat berharga, semuanya dimasukkan ke dalam dua buah peti sampai penuh!

"Siok Cin Cu, kita harus dapat menyelamatkan dua peti ini lebih dahulu. Pendekar Sadis dan wanita itu tak boleh dipandang ringan. Engkau tahu ke mana harus menyembunyikan peti-peti ini kalau keadaan memaksa."

"Baik, Sian-su, jangan khawatir. Akan tetapi sudah demikian berbahayakah keadaannya sehingga Sian-su perlu berkemas dan berkhawatir?" tanya tosu Siok Cin Cu itu di balik topengnya.

"Berbahaya sekali sih belum, akan tetapi kita perlu waspada. Para anak buah dan para tamu dengan bantuan jebakan-jebakan mungkin akan sanggup menahan Pendekar Sadis dan temannya. Akan tetapi aku khawatir bahwa Hong-kiam-pang tidak akan mau sudah, kemudian mereka akan berusaha untuk menemukan tempat kita. Im Yang Tosu agaknya berkeras hati benar untuk menggempur kita."

Siok Cin Cu menarik napas panjang. "Agaknya kita telah salah tangan membunuh Tujuh Pendekar Tai-goan itu, Sian-su, sehingga masalah menjadi berlarut-larut dan memancing permusuhan dengan Hong-kiam-pang."

"Tidak salah tangan sama sekali. Pertama, mereka menentang kita. Ke dua, ada gejala-gejala bahwa di antara mereka itu sudah mengetahui rahasiaku. Mereka memang perlu dibinasakan untuk mencegah datangnya bahaya yang lebih besar."

Percakapan mereka terhenti pada saat terdengar suara hiruk pikuk di luar. Mereka saling pandang dan dua pasang mata di balik topeng itu nampak gelisah. Akan tetapi Sian-su menenangkan diri dan berkata, "Siok Cin Cu, engkau membawa peti ini sebuah dan aku sebuah. Engkau mengambil jalan kiri dan aku ke kanan. Engkau tahu di mana kita dapat bertemu di luar tempat ini."

"Sian-su... hendak meninggalkan tempat ini? Apakah tidak menahan musuh dulu?"

"Sstttt, diamlah. Yang penting adalah menyelamatkan dua peti ini, baru kita pikirkan untuk menghantam musuh yang berani masuk ke sini. Mari, cepat!" kata Sian-su menyerahkan sebuah di antara dua peti hitam itu kepada Siok Cin Cu.

Tosu ini menerima peti, mengangguk dan segera meloncat pergi dari kamar rahasia itu, bersimpang jalan dengan ketuanya. Memang di tempat itu telah terjadi pertempuran, mulai di terowongan.

Seperti kita ketahui, Thian Sin dan Kim Hong menuju ke belakang tebing untuk menyerbu sarang Jit-sian-kauw itu dari belakang, melalui jalan rahasia yang sudah mereka berdua ketahui. Akan tetapi sebelum menuju ke sana, Thian Sin mengajak Kim Hong untuk lebih dulu memasuki sebuah hutan kecil yang tak jauh dari situ.

"Ehh, kita ke mana?" tanya Kim Hong yang seperti juga kekasihnya telah menanggalkan pakaian dan topeng tengkorak.

"Sudah kuceritakan kepadamu bahwa aku pernah terpaksa mengusir lima orang tokoh Bu-tong-pai dan aku berhasil memberi tahu mereka tentang keadaanku lalu minta kepada mereka untuk menanti di hutan ini. Nah, itu mereka!" kata Thian Sin ketika melihat Liang Hi Tojin keluar dari sebuah gubuk kecil bersama empat orang murid Bu-tong-pai.

Cepat Thian Sin dan Kim Hong menghampiri mereka.

"Siancai, siancai... sungguh tidak sabar kami menanti-nanti berita darimu, Ceng-taihiap," kata Liang Hi Tojin sambil menjura ke arah dua pendekar itu. "Dan Toan-lihiap juga sudah datang, sungguh membesarkan hati!"

Thian Sin dan Kim Hong yang sudah mengenal tokoh ke dua dari Bu-tong-pai ini segera membalas penghormatan mereka berlima. "Saya menunggu saat dan kesempatan yang baik, totiang. Dan sekaranglah saat yang baik itu tiba."

"Kita menyerbu Goa Tengkorak? Tapi... kami tidak pernah menemui jalan masuk."

"Jangan khawatir, kami telah tahu jalannya," kata Kim Hong. "Mari ngo-wi (kalian berlima) ikuti kami."

Berbondong-bondong mereka kemudian berangkat dengan penuh semangat. Orang-orang Bu-tong-pai ini bukan hanya ingin membalas kematian Louw Ciang Su murid Bu-tong-pai, seorang di antara Tujuh Pendekar Tai-goan, akan tetapi juga mereka merasa bertugas untuk membasmi gerombolan Siluman Goa Tengkorak yang telah melakukan pengacauan dan kejahatan-kejahatan kejam itu.

Sesudah menemukan jalan masuk rahasia melalui terowongan itu, Thian Sin masuk lebih dahulu, diikuti oleh Kim Hong. Di belakang dua orang pendekar ini, barulah Liang Hi Tojin beserta empat orang murid keponakannya berjalan masuk dengan pedang siap di tangan mereka.

Sebagai orang yang pernah diperdaya oleh Sian-su, Thian Sin pernah melalui terowongan ini dan rahasia jebakan terowongan ini tidak disembunyikan darinya, maka sedikit banyak dia tahu di mana adanya jebakan-jebakan itu. Sebaliknya, pada waktu melarikan diri dari tempat itu, Kim Hong membawa seorang tawanan yang sudah memberi tahu kepadanya adanya jebakan-jebakan sehingga dia bersikap hati-hati sekali, dan juga dalam keributan itu, terowongan tidak terjaga dan tidak ada anggota gerombolan yang menggerakkan alat rahasia jebakan.

Ketika tiba di sebuah tikungan terowongan, tiba-tiba saja Thian Sin berseru, "Awas anak panah!"

Dan hampir berbareng dengan ucapannya, dari depan dan belakang menyambar puluhan batang anak panah ke arah mereka! Akan tetapi, orang-orang Bu-tong-pai itu sudah siap dengan pedang mereka dan dengan memutar pedang, anak panah yang menyambar itu runtuh ke atas tanah.

Kim Hong dan Thian Sin menggunakan gerakan tangan mereka untuk menangkis hingga ada dua batang anak panah berhasil ditangkap oleh Thian Sin yang cepat menggerakkan tangan. Dua batang anak panah itu meluncur ke atas, lantas terdengarlah jeritan orang yang disusul jatuhnya sesosok tubuh yang tadinya bersembunyi pada bagian atas sambil menggerakkan alat-alat yang meluncurkan anak-anak panah itu. Orang itu tewas dengan leher dan dada tertembus dua batang anak panah yang dilemparkan oleh Thian Sin tadi.

Mereka melanjutkan perjalanan dengan hati-hati tanpa mempedulikan orang yang sudah tewas itu. Mereka melangkahi mayat itu dan dengan hati-hati Thian Sin terus melangkah maju, diikuti oleh yang lainnya. Terowongan itu tidak begitu gelap, sedikit remang-remang karena ada cahaya matahari yang masuk melalui beberapa celah-celah yang berada di langit-langit torowongan.

"Berhenti...!" Tiba-tiba Thian Sin berbisik sehingga semua orang berhenti.

Tidak nampak sesuatu yang mencurigakan di situ, akan tetapi mereka melihat Pendekar Sadis memberi isyarat agar mereka berhenti, sedangkan dia sendiri melangkah ke depan sambil melirik ke sana-sini dengan penuh kewaspadan. Tiba-tiba terdengar bunyi berderit lantas lantai yang diinjaknya itu terbuka, sedangkan di dalam sumur itu nampak batu-batu meruncing menanti di bawah!

Akan tetapi, Thian Sin sudah mengeluarkan suara melengking dan tubuhnya mencelat ke kanan, ke arah batu karang besar dan sekali tangannya menyambar, dia telah menangkap seorang lelaki bertopeng tengkorak lantas tubuh orang itu pun dilemparkannya ke dalam sumur, sedangkan dia sendiri sudah meloncat kembali ke tempat semula di mana teman-temannya berdiri memandang dengan mata terbelalak ke dalam sumur.

Orang yang terlempar itu mengeluarkan suara pekik mengerikan, lalu tubuhnya disambut oleh batu-batu karang yang seperti golok itu dan tewas seketika. Lantai itu masih terbuka dan terpaksa mereka bertujuh harus melompati sumur itu dan melanjutkan perjalanan lagi ke depan.

Tidak ada lagi jebakan yang menghadang perjalanan mereka. Akan tetapi begitu keluar dari pintu rahasia, mereka segera diserbu oleh para anak buah Siluman Goa Tengkorak yang dibantu oleh sepuluh orang tamu pemeluk kepercayaan baru itu sehingga terjadilah perkelahian yang amat seru.

Liang Hi Tojin mengamuk, sementara empat orang murid keponakannya juga memainkan pedang mereka, dikeroyok oleh para anggota gerombolan Jit-sian-kauw yang dibantu oleh sepuluh orang tamu. Melihat betapa sepak terjang Liang Hi Tojin dan empat orang murid Bu-tong-pai itu cukup tangkas dan kuat, Thian Sin dan Kim Hong kemudian sama-sama meloncat ke arah dalam.

"Engkau dari kiri, aku dari kanan!" kata Thian Sin dan nona itu mengangguk, mengerti apa yang dikehendaki kekasihnya.

Mereka berdua sudah tahu di mana adanya kamar Sian-su, dan memang ada dua jalan yang menuju ke kamar itu, sebuah kamar yang mewah dan di mana hampir setiap malam terjadi kecabulan.

Pada saat itu tampak seorang yang berpakaian dan bertopeng Siluman Tengkorak tengah bergegas melarikan diri keluar dari lorong sambil membawa sebuah peti hitam. Orang ini bukan lain adalah Siok Cin Cu, yaitu tosu pembantu utama Sian-su yang bertugas untuk menyelamatkan sebuah peti berisi barang perhiasan itu.

Diam-diam tosu ini merasa heran sekali, kenapa Sian-su tidak lebih dulu menyambut dan menahan serbuan lawan akan tetapi lebih mementingkan untuk menyelamatkan barang-barang berharga itu. Akan tetapi, karena dia sendiri maklum betapa lihainya Pendekar Sadis, tugas ini tentu saja menggembirakan hatinya. Dia tidak perlu menghadapi lawan yang mengerikan itu dan lebih enak menyelamatkan diri sambil membawa peti perhiasan yang dia tahu amat berharga ini. Andai kata Sian-su gagal, dia sendiri masih mempunyai satu peti yang akan cukup untuk dimakan selama tujuh turunan dalam keadaan mewah!

Ketika dia berlari melewati lorong itu, tiba-tiba dia melihat seorang wanita cantik berdiri di depan. Dia menduga bahwa tentu seorang di antara para gadis dayang dan penari yang keluar dari tempat mereka dikurung. Melihat wanita cantik ini, Siok Cin Cu tersenyum di balik topengnya. Bagaimana kalau dia membawa wanita cantik itu bersamanya? Selain untuk teman di perjalanan juga untuk menghibur hatinya!

"Hei, berani engkau keluar dari ruangan itu? Hayo kau ke sini dan ikut bersamaku....!"

Akan tetapi tiba-tiba Siok Cin Cu menghentikan kata-katanya. Ternyata, sesudah datang mendekat, dia mengenal wanita ini yang bukan lain adalah Toan Kim Hong!

Kim Hong berdiri dengan senyum manis dikulum. Ucapan yang keluar dari balik topeng itu dikenalnya dengan baik dan senyumnya semakin melebar menghias bibirnya yang merah basah dan manis ini. Ia lalu bertolak pinggang menghadang di tengah lorong.

"Aihh, kiranya si pertapa Siok Cin Cu yang sangat suci itu pun memiliki jubah dan topeng tengkorak? Totiong, tentu engkau belum lupa kepadaku, bukan? Aku tidak pernah dapat melupakanmu sebab budi totiang saat membawaku ke susiok totiang itu sampai sekarang belum juga sempat kubalas!" Kim Hong berkata dengan nada manis dan ramah, namun sepasang matanya yang mencorong itu mengeluarkan cahaya dingin yang membuat Siok Cin Cu merasa bulu tengkuknya meremang.

Akan tetapi dia bukan seorang yang lemah. Dia adalah pembantu utama dari Sian-su dan dia sudah mempunyai ilmu kepandaian tinggi. Karena maklum bahwa bicara banyak juga tiada gunanya, dan bahwa wanita ini adalah teman dari Pendekar Sadis, maka dia harus dapat merobohkan wanita ini sebelum pendekar itu sendiri muncul.

Maka dia lantas mengeluarkan bentakan nyaring dan dia langsung menggerakkan tangan kanannya untuk mencabut senjatanya, yaitu sebatang pedang dari pinggangnya, lalu dia menubruk ke depan dengan serangan kilatnya! Tangan kirinya masih memeluk peti hitam di dekat dadanya.

"Singgg...! Wuuuutt...!"

Tusukan pedang itu luput ketika Kim Hong mengelak dengan gerakan seenaknya, namun tusukan itu langsung dilanjutkan dengan sabetan sebagai serangan selanjutnya. Gerakan tosu ini memang cukup cepat. Namun, tentu saja dia hanya merupakan lawan yang lunak dari Kim Hong yang pernah menjadi datuk berjuluk nenek Lam-sin ini.

Sambil tersenyum mengejek, Kim Hong kembali mengelak. Dia tidak segera turun tangan terhadap tosu ini karena perhatiannya tertarik kepada peti hitam yang dipeluk si kakek. Tentu berisi benda penting maka hendak dilarikan oleh tosu ini, pikirnya. Oleh karena itu, timbul niat di hatinya untuk merampas peti ini dan memeriksa apa isinya, baru dia akan menghajar tosu palsu ini.

"Hyaaaatt...!"

Kembali Siok Cin Cu menyerang dengan gerakan pedangnya yang berkelebat seperti kilat menyambar itu. Kim Hong cepat mengelak ke kiri dan ketika pedang itu menusuk ke arah matanya, dia miringkan kepala dan menggunakan tangan kiri untuk menjepit ujung pedang itu dengan ibu jari, telunjuk dan jari tengah, sedangkan kaki kanannya menendang ke arah muka lawan dengan gerakan kilat.

"Brettttt…!"

Tosu itu berteriak kaget, bukan hanya karena pedangnya seperti terjepit baja dan topeng tengkoraknya robek terkena ujung sepatu gadis itu, akan tetapi terutama sekali karena pada saat itu tangan kanan gadis itu sudah bergerak dan merampas peti hitamnya!

Sesudah berhasil merobek topeng sehingga nampak wajah Siok Cin Cu yang agak pucat dan berhasil pula merampas peti hitam itu, Kim Hong tertawa dan dengan tubuh membuat jungkir balik tiga kali, dia meloncat ke belakang lantas duduk sembarangan di atas lantai, membuka peti hitam itu. Wajahnya berseri, matanya terbelalak dan mulutnya tersenyum girang ketika dia melihat isi peti yang berkilauan itu, terdiri dari perhiasan-perhiasan emas perak penuh batu permata yang mahal-mahal itu.

Dengan wajah pucat Siok Cin Cu memandang. Dia tahu bahwa nona itu lihai bukan main dan jika berkelahi secara berhadapan, belum tentu dia akan menang. Karena itu, melihat betapa gadis itu kini terpesona oleh perhiasan di dalam peti bagaikan seorang anak kecil tertarik oleh mainan yang bagus, diam-diam dia lalu mengambil jalan memutar, mengitari gadis dalam ruangan itu dengan pedang siap di tangan.

Setelah tiba di belakang Kim Hong, tiba-tiba dia meloncat, menubruk dan menggerakkan pedangnya untuk melakukan serangan maut yang kiranya tak akan mungkin dihindarkan oleh gadis yang sedang duduk di lantai dan tertarik oleh perhiasan-perhiasan itu. Akan tetapi, tanpa menoleh Kim Hong menggerakkan tangan yang sedang memegang tusuk konde kumala tadi ke belakang dan gerakan tosu itu tiba-tiba terhenti di tengah udara!

Tubuh yang sedang mengangkat pedang hendak membacok itu tiba-tiba terhenti, seperti tertahan oleh kekuatan dahsyat. Pedangnya terhenti di atas kepala lalu terlepas dan jatuh ke atas lantai. Kedua lututnya terkulai dan tertekuk lantas tubuhnya jatuh berlutut, kedua tangan mendekap dada di mana tusuk konde itu amblas dan memasuki dadanya tepat menusuk jantung. Dia pun roboh dan hanya berkelojotan sebentar. Tewaslah Siok Cin Cu tanpa bisa bersambat lagi, matanya terbuka memandang kosong ke arah peti hitam yang terbuka di depan Kim Hong.

Kim Hong meloncat bangun dan menutupkan kembali peti hitam, lalu membawa peti itu dan berloncatan menuju ke kamar pusat di mana dia mengharapkan akan dapat bertemu dengan orang yang sangat dibencinya, yaitu Sian-su atau Siluman Goa Tengkorak, ketua dari Jit-siankauw. Akan tetapi dia telah kalah dulu oleh Thian Sin.

Seperti juga halnya tosu Siok Cin Cu, Sian-su atau Siluman Goa Tengkorak itu melarikan diri membawa sebuah peti hitam yang dipeluknya. Akan tetapi baru saja dia meninggalkan kamarnya dan tiba di ruangan sembahyang, tiba-tiba dia berhenti berlari dan memandang ke depan dengan mata terbelalak.

Pendekar Sadis telah berdiri di sana sambil bertolak pinggang dan menentang pandangan matanya dengan senyum mengejek dan mata mencorong penuh kemarahan! Maka dapat dibayangkan betapa kaget hati Siluman Goa Tengkorak ketika melihat pendekar ini.

"Ahh, Ceng-taihiap...!" katanya dengan suara yang ramah sekali, suara yang mengandung kekuatan sihir untuk menundukkan lawan. "Aku selalu memegang janji, tidak membunuh engkau atau Toan-lihiap..."

"Bagus, memang engkau tidak melanggar janji. Dan aku pun tidak akan membunuhmu, hanya ingin menangkapmu dan menyerahkanmu kepada para tosu Hong-kiam-pang dan Bu-tong-pai."

"Pengkhianat kau!" bentak Sian-su dan dia pun telah menerjang dan memukulkan tangan kanannya ke arah kepala Thian Sin.

"Darrrrr...!"

Thian Sin terkejut juga saat melihat sinar terang disertai bunyi ledakan ketika ada benda menghantam dinding di belakangnya.

Pukulan Sian-su tadi dielakkannya dan ternyata Sian-su itu tidak hanya memukul, akan tetapi juga melepaskan sesuatu dari kepalan tangannya ke arah kepalanya yang akhirnya membentur dinding dan meledak, membuat dinding itu berlubang sebesar kepala orang. Kalau benda itu mengenai kepalanya dan meledak, tentu kepalanya yang akan pecah!

Sian-su sudah menerjang lagi dengan penuh kemarahan dan karena tangan kirinya masih memeluk peti hitam, dia mempergunakan pukulan tangan kanan secara beruntun dua kali dibantu oleh tendangan kakinya satu kali.

"Dukk! Dukk! Desss...!"

Thian Sin sengaja menangkis dua kali pukulan serta satu kali tendangan itu sambil dia mengerahkan tenaga keras lawan keras. Tubuhnya tergetar oleh pertemuan tenaga itu, akan tetapi juga Sian-su terdorong ke belakang sampai dua langkah dan terhuyung. Thian Sin tersenyum mengejek.

"Ha-ha-ha, Siluman Goa Tengkorak! Sekarang keluarkanlah semua kepandaianmu. Mari kita lihat siapa di antara kita yang lebih kuat!"

Siluman itu hanya menggeram dan sekarang dia sudah menerjang lagi karena Thian Sin menghalang di depannya. Tangan kanannya bukan memukul melainkan mencengkeram, dan melihat betapa gerakan tangan itu berputar dan disertai bunyi suara mencicit nyaring, maka tahulah Thian Sin bahwa lawannya menggunakan ilmu pukulan yang amat keji, dan mungkin merupakan tok-ciang (tangan beracun). Akan tetapi, tentu saja Pendekar Sadis tidak takut, bahkan sedikit pun tidak gentar menghadapi cengkeraman ini.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner