ASMARA BERDARAH : JILID-15


Kakek penabuh yang-kim ini adalah Shan-tung Lo-kiam. Seperti telah kita ketahui, kakek sasterawan pendekar ini pernah muncul pula dalam pertemuan antara para datuk sesat. Dia ikut mendengar rencana kaum sesat untuk membunuh Menteri Liang yang sejak lama menjadi sahabat baiknya, karena itu dia selalu mengamati.

Hari itu dia mendengar bahwa Menteri Liang akan berpesiar di Telaga Emas. Oleh karena itulah maka dia menanti di sana untuk ikut melindunginya. Ketika pagi hari itu dia melihat seorang gadis yang tidak dikenalnya dirobohkan orang, tentu saja pendekar tua ini tidak mau tinggal diam dan segera mendayung perahunya ke pantai.

"Siancai...! Di tempat hening seperti ini masih saja terjadi kejahatan!" Shan-tung Lo-kiam meloncat naik ke darat sambil membawa alat musik yang-kim yang tadi ditabuhnya.

Melihat munculnya seorang kakek tua renta membawa yang-kim, orang yang merobohkan Sui Cin dengan totokan itu memandang galak. Dia adalah seorang kakek yang perutnya gendut sekali. Dan kakek ini pernah dilihat oleh Sui Cin pada saat dia mengintai di gedung Hwa-i Kai-pang bersama Hui Song.

Kakek inilah yang bernama Bhe Hok, tokoh Hwa-i Kai-pang baru yang menjadi pembantu ketua perkumpulan pengemis ini. Dia cukup lihai dengan tongkatnya dan juga sangat licik sehingga Sui Cin berhasil ditotoknya ketika tadi dara itu lengah setelah berhasil membuat Sim Thian Bu terjengkang.

"Hemmm, tua bangka bosan hidup dari mana berani mencampuri urusan kami?" bentak kakek berperut gendut itu.

"Bhe-lopek, dia adalah Shan-tung Lo-kiam, musuh kita!" Tiba-tiba Sim Thian Bu berseru. Kiranya pemuda ini tidak terluka parah, tadi hanya terjengkang karena dahsyatnya tenaga dara itu.

Mendengar nama ini, kakek perut gendut terkejut sekali dan cepat dia menyerang dengan tongkatnya, menghantam ke arah kepala lawan. Shan-tung Lo-kiam segera mengangkat alat musiknya dan menangkis.

"Trangg...! Cringg...!" Terdengar suara nyaring ketika tongkat bertemu yang-kim.

Dua orang kakek itu lantas berkelahi dengan seru. Sementara itu, sambil tersenyum licik, Sim Thian Bu menyambar tubuh Sui Cin yang lemas, memanggulnya dan membawanya lari dari situ.

Perkelahian antara dua orang kakek itu berlangsung cepat dan seru, akan tetapi si gendut segera mengerti bahwa kakek yang menjadi lawannya itu terlampau kuat baginya. Melihat Sim Thian Bu sudah melarikan gadis tadi, dia pun meloncat dan melarikan diri memasuki hutan di tepi telaga.

Kakek pemegang yang-kim itu tak mengejar, melainkan mencari-cari dengan pandangan matanya. Ketika dia tidak dapat melihat ke mana dara tadi dilarikan, kakek itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan menarik napas panjang, kemudian dia pun melompat kembali ke dalam perahunya dan mendayung perahunya ke tengah telaga. Dia memiliki tugas yang dianggapnya lebih penting dari pada mencari dara yang dilarikan orang itu.

Orang-orang mulai berdatangan ke tepi telaga. Nelayan dan pelancong. Keadaan tenang dan biasa saja, seolah-olah tidak pernah dan tidak akan terjadi sesuatu yang luar biasa di tempat itu.

Kemudian tibalah saat yang ditunggu-tunggu dengan hati tegang oleh orang-orang yang bersembunyi. Sebuah kereta yang dikawal oleh enam orang prajurit datang ke tepi telaga. Dengan pengawalan ketat, seorang pria berpakaian pembesar bergegas menuruni kereta dan masuk ke dalam sebuah perahu besar yang memang sudah siap di pantai itu. Itulah Menteri Kebudayaan Liang, pejabat tinggi yang gemar memancing ikan di telaga itu.

Perahu itu lalu berlayar ke tengah telaga. Peristiwa ini tidak menarik perhatian orang yang asyik dengan kesibukan masing-masing dan sebentar saja perahu besar yang kini berada di tengah telaga itu sudah dilupakan orang.

Sementara itu terjadilah kesibukan-kesibukan rahasia di sekitar tempat itu. Sebuah perahu hitam dengan bilik tertutup didayung cepat oleh dua orang dan meluncur ke tengah telaga menuju perahu besar Menteri Liang. Setelah perahu hitam sampai di dekat perahu besar, tiba-tiba tiga orang berlompatan naik ke atas perahu besar dengan kecepatan luar biasa. Mereka itu adalah Kiu-bwe Coa-li, Kui-kok Lo-mo dan Kui-kok Lo-bo! Serentak mereka menyerbu pembesar yang asyik duduk memegang tangkai pancing itu.

"Tar-tarr-tarrr...!”

“Pembesar Liang, bersiaplah engkau untuk mampus!" Kiu-bwe Coa-li yang sudah ditugasi untuk membunuh pembesar itu cepat menerjang sambil menggerakkan cambuknya yang berekor sembilan. Sinar hitam menyambar ke arah pembesar itu dari belakang.

Kakek dan nenek Kui-kok itu pun telah berhantam melawan enam orang prajurit pengawal dan terkejutlah mereka ketika mendapatkan kenyataan bahwa para pengawal itu ternyata rata-rata memiliki ilmu silat tinggi. Segera terjadilah perkelahian hebat antara suami isteri Kui-kok-pang itu melawan pengeroyokan enam orang pengawal istimewa.

Akan tetapi yang paling kaget adalah Kiu-bwe Coa-li. Pada saat cambuknya menyambar, tiba-tiba Menteri Kebudayaan Liang itu menggerakkan tangkai pancingnya ke belakang.

"Wuuuttttt...!”

“Ayaaaa...! Aduuuhh...!" Kiu-bwe Coa-li berteriak kesakitan.

Tali pancing yang panjang itu menangkis dan membelit cambuk, membuat sembilan ekor cambuk itu lumpuh dan ujung tali kail masih menyambar dan mengait pangkal lengan kiri nenek iblis itu, masuk ke dalam daging tua! Bukan main nyerinya, kiut-miut rasanya dan nenek itu cepat mencengkeram lantas membikin putus tali pancing sehingga mata kail itu tertinggal di daging pangkal lengannya.

Pembesar itu sudah bangkit berdiri dan membalikkan tubuh. Kiranya dia seorang pemuda tampan yang tertawa gembira, dengan nada mengejek.

"Wah, tak kusangka pancingku mendapat seekor ikan siluman berekor sembilan!"

Kiu-bwe Coa-li memandang dengan mata mendelik dan kemarahannya memuncak ketika dia melihat bahwa orang yang memakai pakaian pembesar ini adalah seorang pemuda, sama sekali bukan Menteri Kebudayaan Liang. Dia dan teman-temannya telah tertipu dan terjebak. Ada orang yang telah sengaja menyamar dan menggantikan pembesar itu untuk menyambut serangan mereka.

"Kita tertipu!" teriaknya mengingatkan dua orang kawannya. "Dia bukan Menteri Liang!" Kemudian dia menggerakkan senjatanya dan menyerang pemuda itu dengan ganas.

Pemuda itu adalah Hui Song. Seperti kita ketahui, pemuda ini membagi tugas dengan Sui Cin. Dia sendiri mengunjungi Menteri Liang untuk melaporkan bahaya yang mengancam keselamatan menteri itu. Lalu diaturlah jebakan. Hui Song menyamar dan menggantikan sang menteri dalam kereta menuju ke perahu di telaga, dikawal oleh enam orang jagoan yang menyamar sebagai prajurit-prajurit biasa. Padahal mereka adalah perwira-perwira pilihan!

Akan tetapi enam orang pengawal itu masih kewalahan menghadapi amukan kakek dan nenek Kui-kok-pang, sedangkan Hui Song sendiri memperoleh kenyataan betapa lihainya nenek bercambuk ekor sembilan ini. Dia bisa menduga bahwa nenek ini tentulah seorang tokoh Cap-sha-kui yang berjuluk Kiu-bwe Coa-li.

Diam-diam dia harus mengakui kelihaian nenek ini. Masih untung bahwa mereka berkelahi di atas perahu, bukan di darat. Kabarnya nenek ini pandai memanggil dan mengerahkan ular-ular untuk mengeroyok lawan.

Kedua pihak yang berkelahi mengharapkan bantuan masing-masing. Para penyerbu tentu saja merasa heran sekali mengapa dua orang kawan yang boleh mereka andalkan itu tak juga muncul. Mereka telah bertemu dengan Sim Thian Bu yang sudah berjanji membantu, bahkan pemuda cabul itu hendak melakukan pengamatan bersama seorang tokoh Hwa-i Kai-pang yang bernama Bhe Hok itu. Tentu saja para iblis Cap-sha-kui tidak tahu bahwa Bhe Hok tak kuat menandingi Shan-tung Lo-kiam sehingga melarikan diri, sedangkan Sim Thian Bu setelah memperoleh mangsa, lupa akan janjinya.

Pada pihak lainnya, Hui Song juga terheran-heran mengapa pemuda jembel yang menjadi sahabatnya itu, Sui Cin, tak kunjung muncul untuk membantunya. Tiba-tiba saja terdengar suara yang-kim, lantas muncullah seorang kakek lihai yang bukan lain adalah Shan-tung Lo-kiam. Begitu naik ke atas perahu di mana sedang terjadi perkelahian, kakek ini segera membantu enam orang pengawal yang terdesak.

Melihat betapa para penjahat itu terjebak oleh seorang pemuda perkasa yang menyamar sebagai Menteri Liang yang dibantu oleh enam orang pengawal pilihan, kakek ini tertawa. "Ha-ha-ha-ha! Para tokoh Cap-sha-kui terjebak seperti tiga ekor tikus dalam perangkap, ha-ha-ha."

Dan dia pun segera menggerakkan senjatanya yang sebenarnya, yaitu sebatang pedang, sedangkan yang-kim di tangan kirinya hanya dipergunakan sebagai perisai. Dan ternyata, sesuai dengan julukannya, yaitu Lo-kiam (Pedang Tua), begitu memainkan pedangnya, kakek ini langsung memperlihatkan kelihaiannya.

Tiga orang tokoh Cap-sha-kui merasa terkejut bukan main melihat kemunculan Shan-tung Lo-kiam yang sudah mereka ketahui kelihaiannya. Kemunculan kakek ini tentu saja akan menambah kekuatan lawan dan sebaliknya membahayakan diri mereka. Namun tiba-tiba terdengar suara berdesir nyaring dan segera terasa getaran perahu disusul teriakan para anak buah perahu besar.

"Perahu terbakar...!"

Hui Song, enam orang pengawal serta Shan-tung Lo-kiam terkejut sekali melihat betapa ujung perahu terbakar. Mereka meloncat ke tepi dan melihat sebuah perahu kecil tak jauh dari sana. Ada dua orang yang berada di dalam perahu itu, yakni seorang kakek kurus memegang tongkat bersama seorang pemuda remaja yang berdiri tegak di atas perahu. Pemuda ini memegang sebuah busur dan dialah yang tadi telah melepaskan anak panah berapi yang kemudian membakar perahu besar.

Melihat peristiwa ini, tiga orang datuk Cap-sha-kui bergerak cepat. Mereka pun meloncat meninggalkan lawan dan melihat perahu kecil itu mereka langsung berlompatan turun dari perahu besar menuju ke perahu kecil itu. Kui-kok Lo-mo dan Lo-bo dapat hinggap di atas perahu kecil itu, namun membuat perahu terguncang.

Lompatan Kiu-bwe Coa-li tidak tepat. Nenek ini tentu terjatuh ke air kalau saja pemuda itu tidak cepat mengulur tangan kiri menyambar ujung baju si nenek dan sekali tarik dengan sentakan, tubuh nenek itu lalu tertahan dan dapat turun ke atas perahu dengan selamat! Gerakan pemuda yang memegang busur ini sungguh cekatan dan amat kuatnya sehingga diam-diam Hui Song harus mengakui bahwa pemuda itu merupakan lawan yang sangat tangguh.

Ketika para pengawal dan Hui Song hendak mengejar, tiba-tiba pemuda di atas perahu kecil itu kembali meluncurkan dua buah anak panah berapi yang tepat mengenai layar dan bilik perahu besar sehingga terjadi kebakaran besar. Sementara itu, tiga orang tokoh Cap-sha-kui langsung bergerak mendayung perahu tanpa diperintah lagi sehingga perahu kecil itu meluncur pergi dengan cepatnya.

Terpaksa Hui Song, para pengawal serta Shan-tung Lo-kiam sibuk membantu para anak buah perahu memadamkan api dan membiarkan perahu kecil yang membawa lima orang sesat itu melarikan diri. Dengan kecepatan luar biasa, perahu kecil yang didayung oleh orang-orang kuat itu sebentar saja lenyap.

Hui Song kecewa sekali. Tadinya dia mengharapkan untuk dapat menangkap seorang di antara mereka agar rahasia kejahatan Liu-thaikam dapat terbongkar. Tanpa adanya bukti, sukar untuk menjatuhkan pembesar korup yang amat dipercaya oleh kaisar itu. Kalau ada bukti dan saksi, barulah kejahatan pembesar itu dapat terbongkar dan kemudian diketahui oleh kaisar.

Para pengawal serta anak-anak buah perahu besar ternyata sudah mengenal baik kakek pembawa yang-kim itu dan mereka semua bersikap hormat. Memang kakek ini tidak asing bagi para pembantu dan keluarga Menteri Liang yang menjadi sahabat baiknya. Hui Song segera maju memberi hormat kepada Shan-tung Lo-kiam.

"Terima kasih atas bantuan locianpwe."

Kakek itu tersenyum sambil memandang kagum kepada pemuda itu. "Orang muda, aku Shan-tung Lo-kiam, sejak dahulu adalah sahabat baik Menteri Liang maka tidak aneh jika aku membela beliau. Akan tetapi engkau seorang muda sudah berani menghadapi para datuk sesat dari Cap-sha-kui, benar-benar amat mengagumkan. Siapakah engkau, orang muda?"

Mendengar bahwa kakek ini adalah Shan-tung Lo-kiam yang terkenal sebagai seorang pendekar angkatan tua, Hui Song menjadi kagum. Dia menjura dan memperkenalkan diri, "Saya bernama Cia Hui Song, locianpwe."

"She (marga) Cia? Adakah hubungannya dengan keluarga Cia dari Cin-ling-pai?"

Hui Song agak meragu. Akan tetapi pada waktu dia menghadap Menteri Liang, terpaksa dia memperkenalkan diri sehingga enam orang pengawal itu sudah mengetahui keadaan dirinya. Kini salah seorang dari mereka menyela, "Locianpwe, Cia-taihiap ini adalah putera ketua Cin-ling-pai."

"Ah, pantas begini gagah perkasa!" kakek itu memuji kagum, kemudian dia menarik napas panjang. "Sayang para penjahat itu dapat melarikan diri..."

"Siapakah pemuda yang melepas anak panah dan kakek bertongkat di dalam perahu kecil tadi, locianpwe? Saya melihat pemuda itu lihai sekali," tanya Hui Song.

"Aku sendiri belum pernah bertemu dengan kakek itu, akan tetapi aku yakin bahwa tentu dia yang kini memimpin para tokoh sesat dan dialah agaknya yang bernama Siangkoan Lo-jin dan berjuluk Si Iblis Buta."

"Ahhh...!" Enam orang perwira pengawal itu terkejut mendengar nama ini. Akan tetapi Hui Song tidak mengenalnya.

"Dan pemuda itu?" tanyanya.

"Entahlah," jawab Shan-tung Lo-kiam, "Akan tetapi aku pernah mendengar bahwa Si Iblis Buta mempunyai seorang putera yang kabarnya sudah mewarisi semua kepandaiannya. Mungkin juga pemuda tadi puteranya. Sayang, kalau saja kita tadi bisa menawan seorang saja di antara mereka, tentu akan memperoleh banyak keterangan."

Hui Song teringat akan sahabatnya yang tidak pernah muncul. "Locianpwe, saya memiliki seorang kawan, seorang pemuda jembel yang berada di sini lebih dulu untuk mengamati. Dia cukup lihai, dan apa bila dia tadi membantu, mungkin kita berhasil. Akan tetapi saya merasa heran sekali mengapa dia tidak muncul. Apakah barang kali locianpwe tadi ada melihatnya?"

Kakek itu mengingat-ingat, lantas menggelengkan kepala. "Seorang pemuda jembel? Aku tak pernah melihatnya. Pagi tadi di sini aku hanya melihat seorang gadis cantik berkelahi melawan seorang pemuda dan seorang tokoh Hwa-i Kai-pang gendut. Aku turun tangan membantunya, akan tetapi iblis Hwa-i Kai-pang itu melarikan diri dan nona itu ditawan lalu dilarikan si pemuda. Sayang aku tidak dapat mengejar mereka, karena aku harus menanti datangnya Menteri Liang."

"Siapakah pemuda itu dan siapa pula gadis yang dilarikannya itu, locianpwe?" tanya Hui Song dengan alis berkerut dan hati terasa tidak enak.

"Aku tidak mengenal mereka akan tetapi harus diakui bahwa mereka berdua bukan orang muda sembarangan. Gadis itu lihai, tetapi roboh akibat dibokong dan dikeroyok. Pemuda itu pun lihai sekali dan melihat gerak-geriknya, sepantasnya dia seorang pendekar. Akan tetapi pandang matanya cabul. Aku sedang menanti Menteri Liang untuk melindunginya, maka menyesal sekali aku tidak sempat melakukan pengejaran terhadap pemuda yang melarikan gadis itu."

Hati Hui Song terasa semakin tidak enak. Dia teringat akan enci dari Sui Cin. Dia sendiri tidak tahu kenapa dia menghubungkan peristiwa itu dengan enci-nya Sui Cin. Akan tetapi ketidak munculan pemuda jembel itu membuat hatinya merasa gelisah sekali.

"Biar saya yang akan mencarinya, locianpwe," kata Hui Song sambil menanggalkan jubah menteri yang menutupi pakaiannya sendiri, kemudian dia pun melompat ke atas sebuah perahu nelayan yang berdekatan dan minta kepada nelayan itu supaya mengantarnya ke pantai.

Sekarang banyak perahu mendekati perahu pembesar itu. Shan-tung Lo-kiam bersama enam orang perwira pengawal tadi tak berani menahan Hui Song karena mereka maklum bahwa sudah menjadi kewajiban seorang pendekar semacam putera ketua Cin-ling-pai itu untuk menolong gadis yang diculik penjahat.

********************

Bagaimanakah dengan nasib Sui Cin? Apakah yang menimpa diri gadis pendekar itu? Dia masih tetap sadar ketika roboh tertotok oleh tongkat Bhe Hok tokoh baru Hwa-i Kai-pang, hanya lemas dan dia sama sekali tidak dapat meronta ketika dirinya dipanggul kemudian dilarikan Sim Thian Bu.

Baru sekarang terbukti bahwa pemuda ini sama sekali bukanlah seorang pendekar gagah perkasa seperti yang disangkanya pada pertemuan pertama mereka di Bukit Perahu. Sim Thian Bu ini seorang penjahat, seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) yang cabul dan keji.

Sui Cin sejak kecil digembleng ayah bundanya menjadi seorang gadis yang selain berilmu tinggi, gagah perkasa dan juga tak pernah mengenal rasa takut. Akan tetapi sekali ini dia merasa ngeri sesudah terjatuh ke dalam tangan seorang jai-hwa-cat dalam keadaan tidak berdaya sama sekali.

Dia pernah mendengar dari ibunya tentang jai-hwa-cat yang senang memperkosa wanita. Akan tetapi dia pun ingat akan pesan dan nasehat ibunya bagaimana harus menghadapi bahaya seperti itu.

Pertama dia harus tenang dan tidak panik. Dalam keadaan tak berdaya untuk melakukan perlawanan dengan kekerasan, ia harus pura-pura menyerah. Menurut ibunya, jai-hwa-cat akan menjadi lunak hatinya apa bila korbannya menyerah dan dalam cengeraman nafsu, penjahat itu akan menjadi lengah. Saat itulah paling tepat untuk tiba-tiba menyerangnya.

Ia pernah bertanya kepada ibunya bagaimana kalau ia diperkosa dalam keadaan tertotok atau terbelenggu. Ibunya menjawab bahwa kalau tidak ada jalan lain menghindarkan mala petaka itu, satu-satunya jalan hanya mematikan rasa dan menutup pikiran. Kelak masih ada kesempatan untuk membalas perbuatan terkutuk itu berikut bunganya yang berlipat ganda. Bagaimana pun juga, hampir saja Sui Cin menangis kalau membayangkan betapa dia harus membiarkan dirinya diperkosa orang tanpa dapat melawan.

Diam-diam dia menghimpun hawa murni. Kalau saja totokan itu dapat dia punahkan, tentu dengan sekali pukul kepala pemuda yang memondongnya ini akan pecah dan dia akan dapat membunuhnya dengan mudah. Sekali ini dia akan melanggar pesan ayahnya. Dia tak akan segan-segan membunuh jai-hwa-cat ini!

Akan tetapi tiba-tiba pemuda itu berhenti berlari, menurunkannya ke atas tanah, kemudian menotok jalan darah di punggungnya hingga membuat dia terkulai kembali dengan lemas, dan pemuda itu sambil tersenyum-senyum bahkan membelenggu kaki tangannya dengan tali sutera halus yang amat ulet dan tidak akan mungkin terputuskan. Agaknya jai-hwa-cat ini sudah berpengalaman dan sudah mempersiapkan segalanya.

"Ha-ha-ha-ha! Menghadapi seorang gadis lihai sepertimu harus berhati-hati!" kata pemuda itu sambil mencolek dagu Sui Cin yang hanya dapat memandang dengan mata mendelik. Tapi mata itu tak basah dengan air mata. Pemuda itu kini memondongnya dan membawa lari dirinya dengan amat cepatnya.

Sambil melarikan gadis itu, di dalam otak pemuda itu pun terjadi kesibukan. Sim Thian Bu bukan seorang pemuda ceroboh dan bodoh yang hanya menurutkan dorongan nafsunya saja. Tidak, dia tidak bodoh karena dia adalah murid utama dari Siangkoan Lo-jin alias Si Iblis Buta! Karena kecerdikannya itulah dia merupakan satu-satunya murid datuk itu yang dapat mewarisi hampir semua ilmu kepandaian Si Iblis Buta. Dan karena kecerdikannya dia diberi tugas untuk menyusup sebagai seorang pendekar ke Bukit Perahu.

Dia begitu cerdik sehingga selama ini, walau pun dia mempunyai kesukaan memperkosa wanita dan membunuhnya, kejahatannya tidak dicurigai dan tidak dikenal. Bahkan dalam pertemuannya yang pertama dengan Sui Cin dan Cia Sun, Sim Thian Bu begitu cerdiknya mengelabui mata mereka.

Yang membunuh tiga orang muda dan seorang gadis yang lebih dulu diperkosanya adalah dia sendiri. Akan tetapi dengan cerdiknya dia mampu memaksa seorang laki-laki kasar, seorang penjahat rendahan biasa, agar mengakui perbuatan itu kemudian membunuh diri. Dengan demikian, dalam pandangan Sui Cin dan Cia Sun dalam pertemuan itu, dia bukan saja bebas dari tuduhan, bahkan dia menjadi seorang pendekar!

Pada saat bertemu Sui Cin yang cantik jelita, jenaka dan segar, tentu saja jai-hwa-cat ini merasa tertarik sekali dan bangkitlah nafsunya. Andai kata Sui Cin adalah seorang gadis biasa, tentu pada saat itu pula langsung dia kerjakan! Akan tetapi Sui Cin adalah seorang gadis yang sangat lihai, apa lagi dia adalah puteri Pendekar Sadis! Maka Sim Thian Bu mempergunakan siasat lain.

Mula-mula ia hendak menjatuhkan hati dara itu dengan rayuannya untuk memikat hatinya, mengandalkan ketampanan wajah serta kematangan pengalamannya dalam menghadapi wanita. Akan tetapi Sui Cin adalah seorang dara pendekar yang tak mudah terpikat oleh rayuan. Usahanya gagal sama sekali ketika pada suatu malam dara itu meninggalkannya begitu saja. Hatinya kecewa, penasaran dan juga marah.

Kedatangannya di Telaga Emas adalah sehubungan dengan tugas rahasia yang diterima dari suhu-nya untuk melakukan pengintaian di telaga itu, bersama seorang tokoh Hwa-i Kai-pang. Maka, bukan main girang hatinya ketika dia melihat Sui Cin di situ.

Pertemuan yang sama sekali tak disengaja, bahkan tak pernah disangka-sangkanya. Dan dia pun tak mau membuang kesempatan baik itu untuk menjumpainya sehingga terjadilah perkelahian dan akhirnya, dengan bantuan Bhe Hok tokoh gendut Hwa-i Kai-pang itu, dia berhasil merobohkan dan melarikan Sui Cin.

Tentu saja dia sudah lupa sama sekali akan tugasnya untuk membantu suhu-nya setelah dia berhasil melarikan dara yang membuatnya tergila-gila itu. Dan kini dia memutar otak mencari akal. Dia tahu ke mana harus membawa gadis itu. Ke dalam sebuah goa rahasia yang menjadi satu di antara tempat-tempat persembunyian suhu-nya. Tempat itu kosong dan di situ dia tak akan terganggu oleh siapa pun. Tempat sepi dan terpencil yang aman baginya.

Tak mungkin dia memperlakukan gadis ini seperti para korban lainnya, yaitu memperkosa dan mempermainkan hingga puas lalu membunuhnya untuk merahasiakan perbuatannya. Tidak! Gadis ini terlampau penting untuk sekedar dinikmati lalu dibunuh. Dia harus dapat memanfaatkan gadis ini, memperoleh keuntungan sebanyaknya.

Gadis ini adalah puteri Pendekar Sadis! Baru mengingat nama ini saja dia sudah merasa ngeri. Kalau dia memperkosa lalu membunuh Sui Cin seperti yang dilakukannya terhadap wanita-wanita lain, lantas hal itu sampai terdengar oleh Pendekar Sadis, dia tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya. Terlalu mengerikan!

Akan tetapi, kalau dia dapat menjadi suami Sui Cin, menantu Pendekar Sadis? Amboi...! Betapa hebatnya! Dia tentu akan menjadi terkenal, ditakuti, dan lebih lagi, dia mendengar bahwa keluarga Pendekar Sadis amat kaya raya, hidup di Pulau Teratai Merah.

Pada waktu Sim Thian Bu tiba di lembah sunyi itu, di mana goa tempat persembunyian gurunya berada, hari sudah menjelang senja. Dia berhenti di pinggir jurang, merebahkan tubuh Sui Cin di atas tanah berumput, lalu membebaskan totokannya.

Kini Sui Cin bisa bergerak kembali. Akan tetapi karena kedua kaki tangannya terbelenggu kuat, tetap saja dia tidak berdaya. Dia hanya memandang marah, lalu memaki, "Jahanam busuk!"

Thian Bu tersenyum. "Nona Ceng, mengapa engkau tidak mau melihat kenyataan? Aku cinta padamu, nona. Sungguh, sejak pertemuan kita yang pertama, aku sudah jatuh hati dan tergila-gila padamu. Aku sungguh-sungguh, bukan main-main dan hidupku baru akan berbahagia kalau engkau dapat menjadi isteriku yang sah."

"Lebih baik aku mati!" Sui Cin membentak marah.

"Nona, kau pikirlah baik-baik. Sekali aku melemparmu ke jurang ini, engkau akan tewas dengan tubuh hancur dan tak seorang pun akan dapat menemukanmu. Atau engkau lebih suka diperkosa dan dihina lantas dibunuh? Ingatlah, engkau masih muda. Tidakkah lebih baik engkau menjadi isteriku yang terhormat? Kurang apakah diriku? Aku cukup tampan dan masih muda, memiliki ilmu silat yang cukup, dan amat mencintamu."

Pura-pura menyerah mencari kelengahannya, pikir Sui Cin. Biar pun dadanya seperti mau meledak saking marahnya, ia menekan kemarahannya dan berkata halus, "Tentu saja aku tidak ingin begitu, akan tetapi beginikah sikapmu yang katanya mencinta? Lepaskan dulu belenggu-belenggu ini, baru kita bicara dan kupertimbangkan usulmu."

Akan tetapi Thian Bu tersenyum dan menggelengkan kepala. "Hemmm, lihat, bukankah di samping semua kelebihanku, masih ditambah kenyataan bahwa aku cerdik sekali dan tak tertipu muslihatmu? Kecerdikanku membikin aku makin berharga untuk menjadi suamimu. Nona, engkau bersumpahlah dahulu bahwa engkau tak akan melawan dan menentangku, bahwa engkau akan suka menjadi isteriku, lalu kita akan bersatu badan sebagai suami isteri, barulah aku akan melepaskan belenggumu. Maaf, semua itu hanya untuk menjamin dan meyakinkan hatiku."

Sui Cin membuang muka, menahan mulutnya yang hendak memaki-maki. Melihat sikap gadis itu, Thian Bu melakukan siasatnya yang pertama, yaitu membujuknya dengan jalan menakut-nakutinya.

"Nona, benarkah engkau begitu tega, memilih mati dan menghancurkan hatiku dari pada hidup berbahagia bersamaku?"

"Jahanam keparat, tidak perlu banyak cerewet lagi. Mati jauh lebih mulia dari pada hidup bersama seorang manusia berwatak iblis macammu ini. Bunuhlah, siapa takut mati?"

"Hemmm, perempuan sombong. Hendak kulihat sampai di mana keberanianmu!" Dia lalu memondong tubuh Sui Cin dan dibawanya ke pinggir jurang. "Lihat, lihat dasar jurang tak terukur dalamnya yang akan menerima tubuhmu ini!"

Tiba-tiba dia melepaskan tubuh Sui Cin dengan kepala lebih dulu ke dalam jurang! Tubuh itu melayang ke bawah dan Sui Cin memejamkan mata, menutup mulutnya rapat-rapat agar jangan menjerit. Tiba-tiba tubuhnya berhenti meluncur dan ternyata pemuda itu telah menangkap kedua kakinya sehingga tubuhnya tergantung dengan kepala di bawah.

Keadaan ini segera mengingatkan dia akan latihan semedhi sambil berjungkir balik ketika dia mempelajari ilmu menghimpun tenaga istimewa dari ayahnya. Maka, begitu tubuhnya tergantung membalik seperti itu, dari pusarnya terhimpun hawa panas dan sebentar saja aliran darahnya sudah menjadi lancar dan normal kembali, bekas totokan pemuda jahat itu lenyap sama sekali.

Dia percaya bahwa kalau saat itu dia mengerahkan tenaga dan melakukan ilmu Hok-te Sin-kun, tenaganya akan mampu mematahkan belenggu sutera dan sekalian menendang lawan. Akan tetapi, biar pun berhasil, tidak urung tubuhnya akan terjatuh ke dalam jurang dan ini berarti bunuh diri! Tidak, ia tidak sebodoh dan senekat itu.

"Bagaimana, nona? Apakah engkau memilih aku melepaskan kakimu kemudian tubuhmu meluncur ke bawah, kepalamu menimpa batu di dasar jurang itu sampai remuk-remuk?" Suara Sim Thian Bu penuh ejekan dan ancaman.

Sui Cin juga seorang yang cerdik sekali. Dia tahu bahwa semua ini dilakukan jai-hwa-cat itu hanya untuk menggertaknya. Satu-satunya cara untuk menghentikan siksaan ini hanya memperlihatkan bahwa dia tidak takut.

"Pengecut busuk! Kau kira aku takut? Lepaskan saja dan aku akan terbebas dari binatang busuk macam kamu ini!"

Thian Bu merasa mendongkol sekali. Kalau dia tidak merasa sayang dengan kecantikan gadis ini dan mempunyai rencana yang sangat menguntungkan dirinya terhadap Sui Cin, tentu tubuh itu telah dilemparkannya ke dalam jurang. Belum pernah selama hidupnya ada wanita berani menolaknya, bahkan sebagian besar wanita atau gadis yang diculiknya bisa ditundukkan dengan rayuan dan ketampanannya. Akan tetapi gadis puteri Pendekar Sadis ini tidak mempan dengan dirayu, dan tidak takut diancam, membuat dia kehilangan akal.

Tanpa banyak cakap lagi dia lalu melompat dan membawa Sui Cin ke dalam sebuah goa besar yang tertutup semak-semak belukar. Diam-diam Sui Cin memperhatikan tempat ini. Sebuah goa tersembunyi. Tak mungkin akan ditemukan orang luar karena mulut goa yang tidak seberapa besar itu tersembunyi di balik semak-semak belukar yang penuh duri dan pantasnya hanya menjadi sarang ular-ular dan binatang-binatang buas.

Sesudah menguak semak-semak belukar dan nampak mulut goa, pemuda itu membawa Sui Cin memasuki goa lantas menutupkan kembali semak-semak di depan goa. Sesudah masuk ke dalam goa, ternyata goa itu berlorong lebar yang membawanya ke dalam satu ruangan yang cukup luas. Akan tetapi keadaan di situ amat kotor dan tidak terawat, tanda bahwa tempat itu sudah lama tidak didatangi orang.

Ruangan di dalam goa itu seperti ruangan rumah saja, di mana terdapat meja-meja tua, bangku-bangku dan juga sebuah dipan kayu yang nampak masih kokoh kuat. Sim Thian Bu menurunkan tubuh Sui Cin lalu mengikat kaki dan tangan dara itu, menelentangkannya di atas dipan.

"Ha-ha-ha, nona manis. Dengar baik-baik, aku telah mengajakmu hidup bersama sebagai suami isteri, akan tetapi engkau selalu monolak. Dan engkau bahkan lebih memilih mati dari pada hidup sebagai isteriku yang terhormat dan tercinta. Kebandelanmu ini membuat aku bingung maka sebaiknya kalau engkau kupaksa menjadi isteriku, baru kita bicara lagi, ha-ha-ha!"

Sim Thian Bu tersenyum-senyum dan memandang penuh nafsu kepada tubuh gadis yang sudah ditelentangkan di atas dipan dalam keadaan kaki dan tangan terikat itu. Dia lantas menanggalkan bajunya hingga nampaklah dadanya yang bidang. Memang selain memiliki wajah tampan pesolek, pemuda ini juga mempunyai bentuk tubuh yang baik. Sayangnya bahwa tubuh yang demikian baik dihuni oleh batin yang bobrok dan kejam.

Melihat betapa pemuda itu mulai membuka baju, Sui Cin menjadi pucat dan dia merasa betapa tengkuknya dingin sekali saking ngeri dan takutnya. Dia dapat menduga apa yang akan dilakukan pemuda bejat akhlak ini terhadap dirinya dan mulailah dia meronta-ronta, mengerahkan tenaga untuk membebaskan diri dari ikatan kaki tangannya. Gerakannya ini membuat dipan itu bergoyang-goyang dan keempat kakinya berdetak-detak. Akan tetapi, pada saat itu pula sambil terkekeh Sim Thian Bu yang sudah menanggalkan bajunya itu menubruk dan memeluknya.

"Aihh, jantung hatiku, engkau hendak lari ke mana sekarang?"

Melihat pemuda itu telah menindihnya dan wajah pemuda itu pun demikian dekat dengan wajahnya, Sui Cin terbelalak dan menjerit. "Jangan...! Kau bunuh saja aku...!"

"Ha-ha-ha, membunuh engkau? Aihh, sayang dong...! Engkau cantik manis..." Sim Thian Bu hendak mencium akan tetapi Sui Cin mengelak dan miringkan mulutnya, kemudian dia ingat akan akal yang pernah didengarnya dari ibunya. Suaranya terdengar gemetar ketika dia berkata lirih.

"Akan tetapi jangan begini... ah, jika memang tiada jalan lain... aku bersedia... tapi jangan begini... lepaskan dulu belenggu ini agar kita dapat melakukannya secara wajar..."

Sim Thian Bu menjadi girang sekali. "Jadi engkau... engkau mau...?" Dia bertanya sambil menatap wajah dara itu. Sui Cin mengeraskan hatinya dan mengangguk.

"Tetapi lepaskan belenggu-belenggu ini... sungguh tidak enak dalam keadaan terbelenggu begini..." Dia sudah siap. Begitu belenggu dibuka, dia akan mengirim serangan kilat yang mematikan kepada pemuda jahanam itu.

"Baik...," kata Sim Thian Bu dengan girang.

Pemuda itu lalu turun dari atas tubuh Sui Cin yang ditindihnya. Tangannya meraih ke arah belenggu kaki, dan Sui Cin sudah menanti dengan jantung berdebar tegang. Akan tetapi jari-jari tangan pemuda itu tidak melepaskan belenggu, melainkan meraba kaki.

Kini wajah pemuda itu menoleh, memandangnya sambil tersenyum mengejek. Jari tangan itu sekarang malah membuka sepatu dari kaki Sui Cin, dan melihat gelagatnya, pemuda itu bukan hendak membuka tali belenggu, melainken hendak melucuti pakaian gadis itu.

"Heh-heh-heh, engkau puteri Pendekar Sadis, sungguh cerdik dan licik. Kau kira aku tidak dapat merasakan betapa tubuhmu menegang penuh kekuatan dan betapa engkau akan menyerbu begitu aku membuka kaki tanganmu? He-he-he, memang hendak kulepaskan, akan tetapi bukan belenggu kaki tanganmu, melainkan seluruh pakaianmu, ha-ha-ha-ha!" Tangan pemuda itu kini sudah mencengkeram kain celana Bui Cin.

"Jangan... ahhh, jangan...!" Kini gadis itu memohon dengan suara lemah karena hilanglah harapannya dan dia hampir pingsan menghadapi bayangan yang sangat mengerikan dari mala petaka yang akan menimpa dirinya.

"Sim Thian Bu! Mundur kau! Apa yang hendak kau lakukan ini?" Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras.

Tahu-tahu di ambang pintu telah muncul seorang pemuda bertubuh tinggi tegap yang jika melihat wajahnya masih nampak muda sekali, paling banyak berusia delapan belas tahun, akan tetapi wajah itu terlihat dingin dan sepasang matanya mencorong, ada pun tubuhnya tinggi tegap melebihi orang dewasa pada umumnya.

Sim Thian Bu yang tadinya sudah siap untuk merobek dan merenggut pakaian Sui Cin, menjadi amat terkejut dan menoleh lalu mundur dua langkah, matanya terbelalak nampak ketakutan akan tetapi mulutnya tersenyum membujuk.

"Ahh, kiranya suheng yang datang. Suheng, maafkan aku dan biarkan aku menyelesaikan urusan pribadiku ini dahulu, nanti akan kulayani suheng bicara apa bila memang suheng datang membawa keperluan yang harus kubantu."

"Sim Thian Bu, tadi aku bertanya. Apa yang akan kau lakukan ini?"

Sim Thian Bu menatap pemuda remaja itu dengan sinar mata mengandung kemarahan, akan tetapi agaknya dia merasa jeri terhadap pemuda remaja itu, dan dia pun tersenyum lebar. "Aihh, engkau masih terlampau muda untuk mengetahui urusan ini, suheng. Dia ini adalah kekasihku dan kami hendak bermain-main sebentar. Apakah suheng ingin melihat kami bermain cinta?"

Sui Cin sudah ingin memaki untuk menyangkal ucapan jai-hwa-cat itu, akan tetapi ia diam saja dan memandang heran. Memang sungguh mengherankan keadaan pemuda remaja yang baru tiba. Usianya paling banyak delapan belas tahun, namun mengapa jai-hwa-cat yang usianya dua puluh lima tahun ini menyebutnya suheng dan bersikap jeri terhadap pemuda remaja itu?

Ah, kalau pemuda remaja itu benar suheng dari Sim Thian Bu, tentu dia akan lebih celaka lagi dan tidak mempunyai harapan sama sekeli untuk dapat lolos. Menghadapi Sim Thian Bu yang lihai dan cerdik itu saja dia sudah tidak berdaya dan kini berada di ambang mala petaka yang mengerikan, apa lagi kalau kini datang suheng si jahanam itu yang tentu saja lebih jahat dan lebih lihai, walau pun usianya jelas lebih muda.

Dia lantas memandang dan mendengarkan penuh perhatian, ingin melihat perkembangan kemunculan pemuda remaja itu dengan waspada. Siapa tahu kemunculan ini malah akan menolongnya.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner