ASMARA BERDARAH : JILID-16


"Kekasihmu? Dibelenggu?" Pemuda itu berkata dan kulit di antara sepasang alisnya yang tebal berkerut, pandang matanya yang tajam mencorong itu ditujukan ke arah tubuh Sui Cin, penuh selidik. Kemudian dia berkata lagi, suaranya bernada memerintah, "Lepaskan belenggu kaki tangannya!"

Sim Thian Bu nampak terkejut dan marah. "Akan tetapi, suheng, dia itu punyaku, dan aku berhak melakukan apa saja terhadap dirinya. Aku belum mau membebaskannya, hendak main-main dulu dengan gadis ini..."

"Lepaskan kataku!" Suara itu mengandung wibawa yang amat besar dan terasa pula oleh Sui Cin betapa kuatnya khikang yang terkandung di dalam suara itu.

Sim Thian Bu juga meraaakan ini, akan tetapi agaknya dia masih penasaran. "Suheng, engkau keterlaluan mendesakku..."

Sim Thian Bu terpaksa menghentikan kata-katanya karena tiba-tiba saja pemuda itu telah menerjangnya. Luar biasa cepatnya gerakan pemuda remaja itu. Bagaikan terbang saja tubuhnya tahu-tahu menyambar dan meluncur ke arah Sim Thian Bu, lantas tangannya menampar. Melihat ini Sim Thian Bu terkejut dan cepat mengelak sambil menggerakkan tangan untuk menangkis.

"Plakkk!"

Entah bagaimana, biar pun jai-hwa-cat yang tangguh itu sudah mengelak dan menangkis, tetap saja pundaknya terkena tamparan sehingga tubuhnya terpelanting seperti disambar pukulan yang amat kuat.

"Suheng...!" teriaknya dan dia pun meloncat bangun, kemudian hendak balas menyerang pemuda remaja itu.

"Plakk! Plakk!" Kembali tubuh Sim Thian Bu terjengkang, kini lebih keras lagi.

Sui Cin memandang heran dan kagum. Dara ini dapat melihat betapa pemuda remaja itu menguasai gerakan jai-hwa-cat, sehingga biar pun Thian Bu yang menyerang, akan tetapi sebaliknya dia yang roboh sendiri karena serangannya telah dihadang di tengah jalan dan sebaliknya, balasan pemuda remaja itu tidak mampu dihindarkannya.

Kini pemuda remaja itu agaknya telah marah. Semenjak tadi dia tidak mau mengeluarkan kata-kata lagi, akan tetapi sinar mata yang mencorong itu kini berapi-api. Dengan gerakan ringan sekali kedua kakinya melakukan gerakan, dan tahu-tahu tubuhnya sudah berada di dekat Thian Bu. Kini kaki tangannya bergerak secara aneh. Hebatnya, setiap sambaran tangan atau kakinya tentu mengenai sasaran!

“Plakk! Plokk! Bakk! Bukk!”

Terdengar suara ketika tubuh Thian Bu menjadi sasaran pukulan dan tendangan pemuda remaja itu sehingga tubuh Thian Bu terguling-guling dan tak sempat bangun karena setiap kali merangkak hendak bangun telah disambut oleh tamparan atau pukulan lain! Akhirnya terdengar Thian Bu mengeluh.

"Suheng... ampunkan aku..."

Pemuda remaja itu berhenti bergerak, lalu menatap wajah jai-hwa-cat yang telah bengkak-bengkak dan matang biru itu.

"Kau tahu, aku benci laki-laki yang memperkosa wanita. Lain kali kubunuh kau!" Hanya itu kata-katanya.

Tiba-tiba tubuhnya melayang ke dekat dipan dan dua kali dia menggerakkan tangannya lalu Sui Cin merasa betapa belenggu kaki tangannya putus semua dan dia dapat bergerak lagi! Begitu dapat bergerak, tentu saja meledaklah semua kemarahan dan ketakutan yang tadi menghimpit di dada dara itu.

"Haiiiiittttt...!"

Dia mengeluarkan suara melengking tinggi, lantas tubuhnya langsung meluncur ke depan. Dengan pengerahan sinkang sekuatnya dia telah menggerakkan tangannya, menghantam ke arah kepala Sim Thian Bu dalam serangan maut!

"Dukkk!"

Sim Thian Bu sendiri tak mampu menghindarkan diri karena tubuhnya masih nyeri semua dan kepalanya pening. Akan tetapi tiba-tiba saja pemuda remaja itu bergerak dan pemuda inilah yang menangkis pukulan Sui Cin tadi.

Tangkisan itu kuat bukan main, terasa oleh Sui Cin sampai lengannya tergetar hebat. Dia terdorong mundur tiga langkah, kemudian matanya menatap tajam kepada wajah pemuda remaja yang menangkis pukulannya tadi. Dia menjadi serba salah. Mau marah akan tetapi teringat bahwa pemuda inilah yang telah menyelamatkannya dari mala petaka yang nyaris menimpanya. Tidak marah, dia kecewa dan penasaran karena niatnya membunuh atau setidaknya menghukum Thian Bu dihalangi.

Sejenak mereka saling pandang dan di dalam pandang mata pemuda remaja itu sekarang terdapat kekaguman. Agaknya baru dia tahu bahwa dara yang tadi hendak diperkosa oleh Thian Bu itu adalah seorang gadis yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi. Hal ini dapat dirasakan ketika dia menangkis dan ternyata pukulan gadis itu mengandung sinkang yang amat hebat sehingga lengannya sendiri tergetar dalam pertemuan tenaga itu. Jelas bukan gadis sembarangan!

"Aku... aku harus menghajar jahanam busuk itu!" Sui Cin akhirnya berteriak marah.

Pemuda itu menggelengkan kepala, sikapnya tenang dan pandang matanya tetap dingin.

"Sute-ku sudah kuhajar sendiri," katanya singkat saja.

"Tapi... tapi dia hendak memperkosaku, dia penjahat jai-hwa-cat terkutuk!"

Kembali pemuda itu menggeleng kepalanya. "Baru hendak, tapi belum. Pergilah, nona."

Sui Cin menjadi bingung, laksana kehilangan akal menghadapi pemuda remaja yang tidak banyak cakap dan bersikap dingin serius ini. Jika dia berkeras hingga dia sampai bentrok dengan pemuda ini, berarti dia yang bo-ceng-li (tak tahu aturan). Bukankah dia baru saja diselamatkan dari bencana yang bahkan melebihi maut? Dan kalau pemuda ini membela Thian Bu, hal itu wajar saja karena memang Thian Bu itu sute-nya! Bagaimana ada sute seperti itu dan suheng seperti ini? Bumi dan langit bedanya.

Sui Cin mengepal tinju, merasa kehilangan akal. Akhirnya ia mendengus dan menyambar sepasang sepatunya, kemudian sekali berkelebat dia sudah melompat keluar dari dalam goa itu!

Kini pemuda remaja itu menghadapi Thian Bu yang sudah merangkak bangun dan duduk di atas dipan di mana dia tadi hendak memperkosa Sui Cin. Dia menyusuti darah dari ujung bibirnya dan kelihatan takut walau pun pada sinar matanya terdapat rasa marah dan dendam yang disembunyikan.

"Sute, kuulangi. Bila sekali lagi aku melihatmu memperkosa wanita, kubunuh engkau! Ada urusan penting yang engkau tinggalkan di telaga, malah engkau sibuk hendak melakukan perbuatan memalukan. Pergilah!" Pemuda itu menundingkan jari telunjuknya ke pintu goa dengan nada dan sikap mengusir.

Sim Thian Bu mengangkat muka dan memandang sejenak, lalu bangkit dan tertatih-tatih berjalan keluar tanpa berani membantah lagi. Sesudah Thian Bu pergi, pemuda remaja itu lantas menjatuhkan dirinya di atas dipan, duduk termangu-mangu sambil mengepal kedua tangannya.

Dia seperti orang sedang berpikir mendalam penuh rasa penasaran, lalu memukulkan tinju kanannya pada telapak tangan kiri sendiri sampai terdengar bunyi nyaring, kemudian dia menutupi muka dengan kedua tangan penuh penyesalan. Siapakah pemuda remaja ini?

Dia adalah pemuda yang muncul di telaga dan berperahu bersama seorang kakek kurus bertongkat. Dialah pemuda lihai yang melepas anak panah berapi yang membakar perahu besar di mana terjadi perkelahian dan dia pula yang monolong sehingga tiga orang tokoh Cap-sha-kui dapat lolos. Dialah pemuda yang dikagumi Hui Song yang sudah menduga bahwa pemuda itu sangat tangguh dan lihai. Dan tepat seperti dugaan Shan-tung Lo-kiam ketika dia bercerita kepada Hui Song, pemuda ini adalah putera tunggal Siangkoan Lo-jin Si Iblis Buta.

Siangkoan Lo-jin memiliki riwayat yang cukup menarik. Sejak muda, orang she Siangkoan ini memang hidup di dalam kalangan sesat. Akan tetapi pada waktu dia masih muda, dia yang sudah merasa tak suka akan perbuatan jahat yang kejam, sering kali dia menentang para paman gurunya, bahkan gurunya sendiri sehingga akhirnya dia dianggap murtad.

Sebagai hukuman kaum sesat yang kejam, kedua matanya lalu dibikin buta oleh guru dan para paman gurunya sendiri dengan jalan meracuninya. Semenjak itu, ketika baru berusia dua puluh tahun, dia telah menjadi seorang buta. Biar pun matanya tidak cacat dan masih terbuka seperti orang biasa, namun dia tidak dapat melihat apa-apa lagi.

Hukuman yang membuat cacat ini diterima dengan sabar dan tabah. Akan tetapi di dalam hatinya terkandung rasa penasaran yang amat hebat. Dia terus berlatih silat dengan tekun sehingga kepandaiannya menonjol, bahkan setelah berusia kurang lebih lima puluh tahun, kepandaiannya sudah melampaui semua paman gurunya! Sementara itu, suhu-nya sudah meninggal dunia.

Pada suatu hari, dendam yang terpendam selama puluhan tahun itu baru mendapatkan pelepasan. Siangkoan Lo-jin memberontak, dan lima orang paman gurunya yang dulu ikut membutakan matanya dibunuhnya semua satu demi satu! Dan di kalangan kaum sesat, siapa pun yang berani menentangnya lalu dibunuhnya.

Mulailah nama Siangkoan Lo-jin si kakek buta ini ditakuti orang. Dan terjadilah perubahan pada diri kakek ini. Kalau pada waktu mudanya dia menentang kejahatan para gurunya, sesudah kini cacat, dia malah ingin menjadi pemimpin kaum sesat! Hal ini mungkin timbul karena derita batinnya. Dia menentang kejahatan tetapi matanya menjadi buta, maka kini dia bahkan hendak menjadi kepala semua penjahat!

Setelah berusla setengah abad dan diakui sebagai seorang jagoan yang sangat ditakuti di antara golongan sesat, dia lalu mengambil seorang gadis dari kalangan sesat pula untuk menyambung keturunan. Dan isterinya itu ternyata mampu memberi keturunan padanya, seorang anak laki-laki yang diberi nama Siangkoan Ci Kang. Tentu saja hati kakek buta ini menjadi girang bukan main.

Semenjak lahir, Ci Kang sudah digemblengnya. Bahkan untuk mandi bayi itu pun dia beri ramuan obat supaya jasmani anak itu menjadi kuat dan kebal. Dan ternyata gemblengan penuh ketekunan dari Siangkoan Lo-jin tidak sia-sia.

Anak itu ternyata mempunyai bakat yang amat hebat dan setelah berusia delapan belas tahun, anak itu sudah mewarisi seluruh ilmu kepandaian ayahnya! Dia bahkan lebih lihai dari pada ayahnya karena dia lebih muda, jadi menang kuat dan menang daya tahannya, juga menang cepat.

Ternyata Siangkoan Ci Kang bukan hanya menuruni ilmu kepandaian ayahnya, melainkan juga menuruni wataknya! Semenjak kecil, sejak dia belajar membaca dan mulai membaca kitab-kitab kuno, Ci Kang menumbuhkan pendirian di batinnya yang berlawanan dengan kenyataan yang ada pada keluarganya.

Dia, seperti para pendekar dan para budiman di dalam kitab-kitab yang dibacanya, tidak suka dengan kejahatan! Dia tahu bahwa ayahnya adalah seorang tokoh kaum sesat yang ditakuti dan disegani, dan hal inilah yang membuatnya sering kali termenung dan merasa penasaran. Bahkan setelah mulai dewasa, pada suatu hari dia berani menyerang ayahnya dengan kata-kata mencela mengapa ayahnya terjun ke dalam dunia hitam dan menjadi pemimpin kaum sesat.

"Hemm, kau tahu apa?" ayahnya menjawab dengan senyum kecut. "Engkau tahu kenapa mata ayahmu menjadi buta? Karena aku pun ingin menjadi orang bersih macam engkau sekarang ini! Aku ingin menentang kejahatan dan akibatnya aku justru kehilangan kedua mataku! Kuharap engkau dapat mengerti bahwa menjadi orang baik hanya mengundang datangnya mala petaka dan kerugian saja. Semenjak kehilangan mataku, aku mengambil keputusan hendak menjadi tokoh sesat, akan tetapi tidak kepalang tanggung dan harus menjadi nomor satunya!"

Ci Kang merasa tidak puas akan keterangan ayahnya ini. Dia menyelidiki di antara tokoh sesat dan mendengar bahwa ayahnya dibikin buta oleh guru serta para paman gurunya sendiri karena menentang kaum sesat. Sesudah lihai, akhirnya ayahnya lantas membalas dendam, membunuh lima orang susiok-nya sendiri, kemudian bangkit menjadi pemimpin kaum sesat.

Hal ini membuat hati Ci Kang kadang kala berduka. Terjadi konflik dalam batinnya antara pendirian dan perasaan hatinya yang menentang kejahatan, terutama sekali kekejaman-kekejaman, dan kenyataan bahwa ayahnya adalah tokoh utama kaum sesat!

Sebagai putera Siangkoan Lo-jin, tentu saja dia tak dapat lari dari kenyataan ini sehingga beberapa kali dia harus turun tangan membantu ayahnya bila ayahnya atau teman-teman sekaum bertemu dengan lawan atau jika sedang melaksanakan tugas, seperti yang baru dilakukannya di Telaga Emas itu. Namun selamanya dia sendiri tidak pernah melakukan perbuatan jahat yang berupa kekejaman kepada orang lain.

Konflik-konflik batin yang dideritanya sejak dia mengerti itu membentuk suatu watak yang aneh pada Ci Kang. Dia menjadi seorang pemuda yang pendiam, dingin, keras bagaikan baja dan kadang-kadang membawa mau sendiri, tidak pedulian, dan aneh!

Ketika Ci Kang diajak ayahnya ke telaga itu kemudian dengan kegagahannya dia berhasil membebaskan tiga orang tokoh Cap-sha-kui, ayahnya memarahi tiga orang tokoh itu yang gagal membunuh panglima Liang.

"Kalian benar-benar tolol dan harus malu menjadi tokoh Cap-sha-kui kalau melaksanakan pekerjaan membunuh seorang menteri saja gagal, bahkan telah digagalkan oleh seorang pemuda yang menyamar sebagai menteri itu." Demikianlah Siangkoan Lo-jin mengomel sesudah mereka semuanya berhasil melarikan diri dan berada di tempat persembunyian. "Bukankah seharusnya kalian lebih dulu melakukan pengamatan dan pengintaian?"

"Maaf, Lo-jin. Sebenarnya kami bertiga sama sekali tidak tahu bahwa Menteri Liang telah digantikan oleh seorang pemuda lihai, dan semua ini adalah kesalahan jembel gendut ini yang bertugas sebagai pengamat. Kami telah dijanjikan oleh Hwa-i Kai-pang yang hendak membantu dengan penyelidikan, dan perkumpulan jembel itu sudah mengutus si gendut yang tidak teliti ini!" kata Kui-kok Lo-mo dengan nada suara jengkel sambil menuding ke arah Bhe Hok, tokoh Hwa-i Kai-pang yang gendut itu.

Siangkoan Lo-jin mengerutkan alisnya yang sudah putih. Tentu saja dia tak dapat melihat tudingan telunjuk Kui-kok Lo-mo ke arah orang gendut itu, akan tetapi dia dapat mengerti bahwa orang itu hadir pula di situ.

"Hemm, siapakah engkau utusan Hwa-i Kai-pang?!" bentaknya.

Bhe Hok adalah seorang bekas penjahat yang kejam dan tabah, akan tetapi berhadapan dengan kakek buta itu dia merasa gentar sekali. Dia sudah mendengar bahwa kakek buta ini amat lihai dan juga tidak segan-segan membunuh pembantu yang bersalah. Maka, biar pun orang itu tidak dapat melihat, dia segera memberi hormat.

"Saya bernama Bhe Hok, Lo-jin. Dan sayalah yang telah diutus oleh para pimpinan Hwa-i Kai-pang untuk membantu dalam usaha penyergapan di telaga itu. Saya bertugas untuk mengamati dan memata-matai telaga itu sampai Menteri Liang muncul. Namun, sebelum menteri itu muncul, secara tidak tersangka-sangka, saya terlibat dalam perkelahian yang disebabkan oleh... oleh murid Lo-jin sendiri."

Iblis buta itu mendengus. "Hemm, kau maksudkan Thian Sin Bu?"

"Benar, Lo-jin. Ketika saya sedang melakukan pengintaian, di pantai telaga saya melihat Sim-sicu sedang berkelahi melawan seorang gadis yang amat lihai. Karena saya melihat murid Lo-jin itu terdesak, saya lalu muncul dan membantunya, menotok roboh gadis itu. Akan tetapi tiba-tiba muncul Shan-tung Lo-kiam sehingga saya harus berkelahi melawan jago pedang itu sedangkan murid Lo-jin pergi melarikan gadis yang sudah roboh tertotok itu! Karena ditinggal sendiri, terpaksa saya juga melarikan diri karena Lo-kiam itu sangat lihai. Kalau saja Sim-sicu tidak muncul berkelahi dengan gadis itu, atau kalau saja dia tak meninggalkan saya dan melarikan gadis itu, tentu kami berdua akan mampu menjatuhkan Shan-tung Lo-kiam dan keadaan akan menjadi lain."

"Hemmm...!" Terpaksa Siangkoan Lo-jin tidak jadi marah kepada orang Hwa-I Kai-pang itu karena ternyata muridnya sendiri yang sudah menjadi biang keladi kegagalan usaha itu. "Ci Kang, engkau hendak ke mana?" Tiba-tiba kakek buta itu menegur ketika telinganya menangkap gerakan orang ke pintu. Dia mengenal gerakan puteranya yang sangat ringan sehingga dia cepat menegur.

Akan tetapi Ci Kang sudah tiba di luar tempat itu, hanya terdengar jawabannya dari luar, "Ayah, aku mau mencari angin segar." Dan dia pun sudah jauh sekali sehingga ayahnya tidak sempat lagi untuk mencegahnya. Siangkoan Lo-jin telah mengenal keanehan watak puteranya, karena itu dia pun lalu melanjutkan percakapannya dengan tiga orang tokoh Cap-sha-kui itu.

"Sudahlah, kegagalan membunuh Menteri Liang biarlah menjadi pelajaran baik bagi kalian semua. Lain kali kita bisa mencari jalan lain untuk melenyapkannya. Sekarang yang lebih penting bagaimana melaksanakan tugas kedua. Lo-mo dan Lo-bo, bukankah kalian sudah mempunyai rencana untuk membunuh jenderal itu?"

"Sudahlah, Lo-jin. Kami akan melaksanakannya sebaik mungkin, dibantu oleh Ular Betina ini."

"Biar pun kalian telah membantu melaksanakan tugasku, tapi telah mengalami kegagalan. Jika aku membantu kalian sampai berhasil, maka lain kali kalian harus membantuku pula sampai aku berhasil membunuh menteri itu." Kiu-bwe Coa-li mengomel.

Demikianlah, seperti diceritakan di bagian depan, Siangkoan Ci Kang ternyata melakukan pengejaran terhadap murid ayahnya. Sungguh pun murid ayahnya itu jauh lebih tua dari padanya, namun Sim Thian Bu termasuk murid terakhir sehingga harus menyebut suheng kepadanya.

Dia sudah tahu akan kejahatan Thian Bu, sudah mendengar bahwa sute-nya itu adalah seorang jai-hwa-cat keji. Ingin dia mempergoki sute-nya lantas menghajarnya, akan tetapi Thian Bu yang cerdik itu selalu dapat lolos dan merahasiakan kejahatannya. Sekarang, mendengar betapa sute-nya telah melarikan seorang gadis, dia menjadi marah sekali dan segera melakukan pengejaran.

Tentu saja dia dapat menduga ke mana sute-nya membawa pergi gadis culikannya itu. Ke mana lagi kalau bukan ke dalam goa rahasia tempat persembunyian ayahnya? Hanya di sanalah tempat aman bagi sute-nya itu untuk melakukan segala macam kejahatan tanpa diketahui orang!

Dan ternyata dugaannya memang benar. Dan dia datang pada saat yang tepat. Apa bila Sim Thian Bu tidak bermaksud memperisteri Sui Cin dan melakukan bujukan-bujukan dan ancaman-ancaman, melainkan langsung saja diperkosanya seperti yang selama ini biasa dia lakukan, tentu kedatangan Ci Kang akan terlambat dan gadis itu sudah ternoda, dan mungkin sekali jejaknya telah disingkirkan oleh Thian Bu yang licik.

Kemudian, setelah menyelamatkan Sui Cin dan mengusir sute-nya sehabis menghajarnya babak belur, Ci Kang duduk sendirian di dalam goa itu sambil termenung. Hatinya terasa semakin sakit dan menyesal sekali. Perbuatan keji dari sute-nya tadi telah mengingatkan dia bahwa pria yang amat cabul dan keji itu adalah sute-nya, murid ayahnya dan bahwa ayahnya adalah seorang gembong penjahat yang kini bahkan menjadi antek pemerintah yang lalim. Hatinya sedih bukan kepalang.

Dia sudah banyak membaca mengenai pembesar-pembesar lalim yang mempergunakan penjahat-penjahat. Dan dia selalu menganggap, betapa jahatnya pembesar seperti itu dan betapa rendah dan hinanya penjahat yang menjadi anteknya. Namun kini dia dihadapkan kenyataan bahwa ayah kandungnya sendiri telah menjadi penjahat antek pembesar lalim! Siapa yang tak akan hancur dan sedih hatinya?

Baru setelah goa itu mulai gelap, tanda bahwa senja telah mendatang, Ci Kang keluar dari dalam goa, menutupi lagi mulut goa dengan semak belukar, kemudian melangkah pergi dengan gontai dan hilang semangat. Pemuda ini semakin murung dan wajahnya semakin dingin…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner