ASMARA BERDARAH : JILID-21


Marahlah hati Siangkoan Lo-jin ketika mendapatkan kenyataan bahwa puteranya berhasil lolos. "Kalian ini sungguh sekelompok orang yang tidak berguna. Kalian membiarkan anak durhaka itu lolos begitu saja, tanpa mengejar?"

“Jangan salah mengerti, Lo-jin. Kami masih ragu-ragu untuk mengejar, karena betapa pun juga dia adalah putera tunggalmu, kami masih belum yakin benar apakah engkau hendak melihat dia terbunuh oleh kami," kata Kui-kok Lo-mo dengan cerdik.

"Bodoh! Siapa main-main?! Dari pada melihat anakku sendiri durhaka dan menentangku, lebih baik melihat dia mampus. Sekarang kuperintahkan kepada kalian, semua anggota Cap-sha-kui, untuk selain memusuhi Cin-ling-pai dan Pendekar Sadis, juga mencari dan menyeret anak durhaka itu ke depan kakiku agar aku dapat menghukumnya sendiri! Nah, pergilah kalian, aku tak ingin diganggu lagi!"

Enam orang itu lalu berkelebatan pergi sehingga kakek buta itu kini berada seorang diri di dalam ruangan. Dia berdiri seperti patung, termenung, dan dia membayangkan puteranya sebagai seorang pemuda yang gagah perkasa dan selalu menentang kejahatan sehingga namanya dipuja serta dikagumi semua pendekar di dunia kang-ouw.

Tanpa terasa lagi, bibirnya yang kering itu tersenyum. Teringatlah dia akan dirinya sendiri. Menjadi seorang gagah yang dikagumi oleh seluruh dunia adalah cita-citanya, dan karena cita-cita itu tidak dapat terlaksana melalui kebaikan, dia hendak mengejar nama besar itu melalui kejahatan dengan memimpin kaum sesat dan menjadi orang jahat nomor satu di dunia! Kalau puteranya bisa menjadi orang yang paling menonjol dan terkenal, tak peduli sebagai penjahat nomor satu atau pendekar nomor satu, dia akan merasa bangga!

Akan tetapi dia sudah memerintahkan Cap-sha-kui untuk memusuhi anaknya! Tidak apa, memang seharusnya begitu. Jika anakku itu ingin menjadi pendekar nomor satu di dunia, maka dia harus sanggup menghadapi Cap-sha-kui, bahkan dia harus mampu membasmi Cap-sha-kui! Apa bila anaknya yang tidak mau menjadi penjahat nomor satu itu tidak bisa menjadi pendekar nomor satu, biarlah anaknya mati saja dari pada menjadi manusia yang tidak terkenal sama sekali!

Pemikiran seperti yang berada dalam batin Siangkoan Lo-jin itu mungkin akan kita anggap gila dan tidak lumrah. Akan tetapi, kalau kita mau membuka mata mengamati kehidupan di sekeliling kita, akan kita temui bahwa hampir setiap orang tidak jauh bedanya dengan Siangkoan Lo-jin ini.

Kita semua ini haus akan kehormatan, haus akan penonjolan diri, bahkan watak ini telah mendarah daging sehingga tidak terasa lagi oleh kita. Lihatlah betapa banyaknya orang yang dengan nada suara penuh kebanggaan menuturkan betapa kakeknya dulu adalah seorang maling terbesar, seorang jagoan nomor satu, seorang penjudi paling hebat dan sebagainya? Mereka ini bercerita dengan nada suara sama bangganya dengan mereka yang menceritakan betapa kakek mereka dulunya seorang yang paling terhormat, paling kaya atau tertinggi kedudukannya.

Juga hampir semua orang bercerita dengan bangga bahwa anaknya adalah yang paling nakal, paling bandel, dan sebagainya, sama bangganya dengan mereka yang bercerita dengan suara malu-malu dan rendah hati bahwa anak mereka adalah yang paling patuh, paling pintar dan sebagainya. Kita sudah berwatak ingin menonjolkan diri, baik diri sendiri atau perkembangan dari diri sendiri yang dapat menjadi anakku, keluargaku, bangsaku dan selanjutnya.


Membayangkan betapa puteranya akan menjadi seorang yang sangat terkenal, kakek itu terkenang akan keadaan dirinya sendiri yang serba gagal. Dia lalu meraba-raba dengan tongkatnya, menemukan sebuah kursi, menjatuhkan dirinya di atas kursi itu dan menutupi muka dengan kedua tangan untuk menyembunyikan dua tetes air mata yang jatuh ke atas pipi…..

********************

Restoran itu cukup ramai dan besar, dan malam hari itu restoran ini dikunjungi banyak tamu. Restoran Ban Lok memang merupakan sebuah restoran yang terkenal mempunyai masakan enak, paling terkenal di seluruh kota Cin-an. Ketika Ci Kang memasuki restoran itu, untung baginya dia masih kebagian meja yang paling sudut.

Dia memasuki restoran, tidak peduli akan pandangan orang kepadanya. Memang pakaian pemuda ini agak menyolok, tidak mewah seperti pakaian para tamu lain. Pakaian Ci Kang yang amat sederhana, dengan jubah kulit harimau, membuatnya tampak sebagai seorang pemburu, tidak ada keduanya di restoran itu.

Ketika dia melewati serombongan orang yang duduk mengelilingi meja bundar besar, ada empat pasang mata yang memandangnya dengan senyum mengejek dan hidung sering dikembang-kempiskan seperti orang sedang mencium bau busuk, akan tetapi ada pula dua pasang mata halus yang memandang kepadanya, ke arah wajahnya, dengan pandang mata kagum.

Empat pasang mata yang terutama memandang kepada bajunya itu adalah mata empat orang laki-laki berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun. Mereka berpakaian mewah, akan tetapi dengan sekali pandang saja tahulah Ci Kang bahwa mereka adalah orang-orang yang tergolong penjahat yang suka melakukan hal-hal yang tidak baik untuk mencari uang.

Ada pun dua pasang mata halus itu adalah mata dua orang wanita yang juga berpakaian mewah. Mereka itu adalah dua orang wanita muda yang usianya antara dua puluh tahun, cantik manis akan tetapi melihat sikap mereka yang genit dengan gaya yang dibuat-buat untuk memikat hati orang, Ci Kang juga mengenal sifat berandalan pada dua orang wanita itu sehingga bisa menduga bahwa mereka tentu pelacur-pelacur yang dibawa ke restoran untuk pesta oleh empat orang itu yang agaknya baru saja memperoleh hasil banyak dari pekerjaan kotor mereka.

Akan tetapi Ci Kang tak peduli, kemudian duduk memesan nasi, sayur dan air teh panas. Sudah menjadi wataknya untuk tidak mencampuri urusan orang dan tidak memperhatikan orang lain. Dengan sekali pandang saja dia sudah dapat melihat keadaan. Kalau tadi dia memandang ke arah enam orang itu hanyalah karena kewaspadaan saja, bukan karena ingin tahu.

Setelah hidangan yang dipesannya datang, diantar oleh seorang pelayan, ketika Ci Kang mengangkat muka untuk menerima hidangan itu, kembali dia melihat betapa dua orang wanita cantik yang genit-genit itu memandang kepadanya sambil tersenyum-senyum dan melemparkan kerling. Bahkan keduanya cekikikan sambil saling berbisik dan memandang kepadanya, jelas sekali mereka itu sedang membicarakan dirinya.

Melihat ini, Ci Kang segera menundukkan muka dan menghindarkan pertemuan pandang mata dengan mereka. Hatinya sedang murung, ada pun sikap dua orang wanita cantik itu menambah kemurungan hatinya. Dia masih belum dapat melupakan peristiwa yang terjadi di dalam pertemuan antara ayahnya dengan para tokoh Cap-sha-kui itu.

Dia benar-benar menyesali sikap ayahnya yang demikian keras dan kejam, bahkan tega hendak membunuhnya. Dia yakin benar akan nafsu membunuh ayahnya ketika ayahnya menyerang dalam keadaan marah dan hal ini sungguh amat menyakitkan hatinya.

Dia merasa benar betapa ayahnya amat mencintanya, amat sayang kepadanya dan telah mencurahkan kasih sayangnya itu sejak dia masih kecil. Akan tetapi dia juga tahu bahwa ayahnya mengejar ambisi, dan untuk itu ayahnya bisa bersikap dan berbuat kejam seperti yang telah ditunjukkannya, yaitu dengan cara hendak membunuhnya, putera kandungnya sendiri.

"Heii, kalian melihat siapa sih? Kenapa lirak-lirik dan senyam-senyum saja kepada orang itu?" terdengar seorang di antara empat pria itu menegur.

Ci Kang mendengar ini dan sudah dapat menduga bahwa yang ditegur tentulah dua orang pelacur itu dan yang dimaksudkan dengan ‘orang itu’ tentulah dia sendiri. Akan tetapi dia terus makan minum dan tidak peduli.

"Percuma kami keluarkan banyak uang kalau kalian main mata dengan pria lain!" tegur suara orang ke dua.

"Apakah pelacur-pelacur masih mata keranjang melihat orang muda dan tampan?" orang ke tiga berkata.

"Uhhh, biar muda dan tampan, kalau kotor seperti itu, sungguh menjijikkan. Agaknya tak pernah berganti pakaian dan siapa tahu makanan itu tak akan dibayarnya!" ejek orang ke empat dan mereka berempat tertawa-tawa. Dua orang pelacur itu pun ikut tertawa walau pun suara ketawa mereka itu paksaan atau terdorong oleh kegenitan mereka.

Tentu saja Ci Kang mendengar semua itu dan tahu bahwa mereka molontarkan hinaan-hinaan kepada dirinya, bahkan mendengar suara mereka meludah-ludah ketika orang ke empat mengatakan bahwa dia kotor dan menjijikkan. Akan tetapi di dalam batin Ci Kang tersenyum, mentertawakan orang-orang itu karena dari sikap mereka itu, mereka seperti memperlihatkan kepada umum orang-orang macam apa adanya mereka.

Dia tidak mau melayani dan melanjutkan makan nasi dan sayur dengan cepat, lalu minum sedikit arak dan teh. Setelah semuanya selesai, dia pun cepat membayar harga makanan dan hendak meninggalkan restoran yang masih banyak pengunjungnya itu.

Empat orang itu memang jagoan-jagoan yang terkenal bengis dan ditakuti orang di kota Cin-an. Karena itu, biar pun semua orang juga mendengar ucapan-ucapan mereka yang menghina orang, tapi tidak ada yang mau mencampuri karena mencampuri urusan empat orang itu berarti mencari penyakit. Sedangkan empat orang jagoan itu memang sengaja melontarkan kata-kata tadi untuk menghina dan memancing kemarahan Ci Kang.

Pemuda itu makan di restoran ini tanpa mengganggu siapa pun juga, bahkan tidak pernah menoleh kepada mereka, maka tak ada alasan bagi mereka untuk mengganggu Ci Kang. Maka, karena hati mereka panas melihat betapa dua orang pelacur yang mereka bawa itu nampaknya tertarik kepada Ci Kang, mereka lantas melontarkan kata-kata hinaan untuk memancing supaya pemuda itu marah-marah sehingga mereka mempunyai alasan untuk menghajarnya. Siapa sangka pemuda itu sama sekali tidak mau menyambut atau saking tolol atau takutnya tidak berani menjawab.

Melihat betapa pemuda itu sudah bangkit dan hendak pergi, dan kini dua orang pelacur itu mendapat kesempatan untuk menatap wajah pemuda itu dengan pandang kagum, empat orang itu tidak dapat menahan kemarahan dan iri hati mereka. Sesudah saling pandang dan mengangguk, mereka lantas bangkit dari kursi mereka dan berloncatan menghadang Ci Kang yang hendak keluar dari restoran.

Melihat hal ini, para tamu yang telah mengenal empat orang jagoan itu menjadi ketakutan sehingga sebagian di antara mereka cepat menyingkir ke tempat yang agak jauh sambil memandang dengan hati khawatir.

Melihat empat orang itu berdiri menghadangnya, Ci Kang mengerutkan alisnya. Jelaslah bahwa empat orang yang menyeringai ini sengaja mencari keributan. Dia masih mencoba untuk menghindar dan mencari jalan keluar lain, akan tetapi gerakan ini oleh empat orang itu dianggap sebagai tanda takut, maka mereka segera mengurungnya sambil tersenyum lebar. Ci Kang kehabisan jalan, dan terpaksa dia mengangkat muka memandang mereka satu demi satu.

Empat orang itu amat terkejut melihat sinar mata yang mencorong itu, akan tetapi karena sejak tadi sikap pemuda itu yang tidak pernah memperlihatkan perlawanan, membuat hati mereka menjadi besar. Mereka sengaja hendak berlagak di depan dua orang pelacur itu dan ingin membikin malu kepada pemuda yang agaknya sudah menarik hati dan dikagumi oleh dua orang pelecur yang mereka sewa.

"Ha-ha-ha, bocah petani busuk, bersihkan dulu sepatu kami baru engkau boleh pergi dari sini!" kata seorang di antara mereka yang kumisnya lebat. Tiga orang temannya tertawa sambil bertolak pinggang dengan sikap angkuh dan memandang rendah.

Ci Kang tidak marah, hanya merasa muak dengan sikap mereka. Tanpa mempedulikan mereka, dia lalu melangkah maju dan ketika si kumis tebal yang berada di hadapannya itu mengangkat tangan ingin memukul, dia tidak mempedulikan dan melangkah terus hendak menabrak tubuh si kumis tebal.

Tentu saja si kumis tebal menjadi marah dan melanjutkan pukulannya ke arah kepala Ci Kang dan melihat ini, tiga orang kawannya juga sudah menggerakkan tangan menyerang Ci Kang dari kanan kiri dan belakang. Sekaligus, pemuda remaja itu diserang oleh empat orang dari empat jurusan, akan dipukuli begitu saja tanpa salah apa-apa.

Sejenak empat orang itu mengira bahwa pemuda itu tak akan melawan dan akan mandah saja mereka pukuli karena tubuh Ci Kang sama sekali tak nampak bergerak atau bersiap melawan. Akan tetapi, ketika tangan empat orang itu sudah tiba dekat tubuhnya, tiba-tiba saja Ci Kang menggerakkan tubuhnya, mengangkat kedua tangan sambil memutar tubuh menggeser kaki lantas terdengarlah suara tulang patah berturut-turut dan empat orang itu mengaduh-aduh sambil terpelanting ke belakang, jatuh dan memegangi tangan yang tadi dipakai menyerang karena lengan tangan itu telah patah-patah tulangnya ketika disambar tangan pemuda itu.

Ci Kang sama sekali tidak mempedulikan mereka lagi. Seperti tak pernah terjadi sesuatu, dengan wajah dingin dan langkah tenang pemuda ini lalu meninggalkan restoran itu, diikuti pandang mata semua orang yang terbelalak penuh keheranan dan kekaguman.

Empat orang itu bagaikan empat orang anak kecil, yang karena tololnya memukul benda keras sehingga tangan mereka sakit sendiri. Akan tetapi mereka langsung maklum bahwa pemuda berwajah dingin yang tadinya hendak mereka jadikan korban penghinaan mereka itu ternyata adalah seorang pemuda yang sakti, maka akhirnya mereka pun hanya berani memandang dengan muka pucat karena gentar dan karena menahan rasa nyeri dan tidak berani mengejar.

Peristiwa di dalam restoran itu tentu saja menjadi buah bibir para tamu sesudah mereka meninggalkan restoran. Akan tetapi, karena Ci Kang tidak pernah memperkenalkan nama, bahkan di dalam peristiwa itu tidak pernah mengeluarkan sepatah pun kata, orang-orang hanya dapat menduga-duga siapa gerangan pemuda remaja berwajah dingin tetapi amat lihai itu.

Sementara itu Ci Kang terus melanjutkan perjalanannya, meninggalkan kota Cin-an pada malam hari itu juga karena dia tidak ingin dirinya terlibat lagi dalam keributan lain sebagai lanjutan dari peristiwa di dalam restoran tadi. Sebagai putera seorang datuk sesat yang sudah banyak mengenal watak para penjahat, Ci Kang pun mengerti bahwa orang-orang macam penjahat-penjahat kecil seperti yang beraksi di restoran tadi tentu memiliki kepala atau pemimpin.

Orang-orang semacam itu tidak pernah mau mengenal kelemahan sendiri. Mereka tentu tidak mau sudah begitu saja, melapor kepada kepala mereka atau mengumpulkan semua kawan mereka kemudian mencarinya untuk melakukan pembalasan. Orang-orang seperti itu tidak mempunyai kejantanan sedikit pun juga, dan mereka tidak akan malu-malu untuk mengandalkan pengeroyokan serta kecurangan lain.

Oleh karena dia tak ingin direpotkan oleh urusan tetek bengek macam itu, maka lebih baik malam itu juga dia pergi meninggalkan kota Cin-an, bukan karena takut melainkan karena segan berurusan dengan penjahat-penjahat kecil itu.

Ci Kang tidak pernah menyangka bahwa urusan kecil di rumah makan itu memang tidak berhenti sampai di situ saja, melainkan mendatangkan akibat yang amat besar. Peristiwa itu menjadi buah bibir orang di kota Cin-an karena disebar oleh para tamu restoran yang menyaksikan keributan itu sehingga terdengar pula oleh enam orang tokoh Cap-sha-kui yang pada keesokan harinya kebetulan tiba di kota itu.

"Heh, tak salah lagi, pemuda berjubah kulit harimau itu tentulah Siangkoan Ci Kang," kata Kiu-bwe Coa-li.

"Benar, dan kita harus cepat mengejarnya!" kata Kui-kok Lo-mo.

"Mengapa? Apa perlunya kita mengejarnya?" tanya Tho-tee-kwi dengan suara tak acuh.

Yang lain-lain juga segera memandang kepada kakek jubah putih itu. Di samping tingkat kepandaiannya paling tinggi, juga Kui-kok Lo-mo selalu tampil bersama dengan isterinya yang juga amat lihai sehingga suami isteri ini dianggap sebagai pemuka oleh empat orang rekannya.

"Apa perlunya? Tentu saja untuk menangkapnya lantas menyeretnya kepada Siangkoan Lo-jin, hidup atau mati." jawab Kui-kok Lo-mo.

"Mengapa kita harus mencampuri urusan ayah dan anak itu?"

Kembali yang bertanya itu adalah Tho-tee-kwi. Di antara empat orang rekan suami isteri dari Kui-kok-san itu, hanya raksasa inilah yang kelihatan tidak gentar menentangnya dan sikapnya selalu kasar, liar dan tak acuh. Tiga orang rekan yang lain menunggu jawaban pertanyaan ini yang mereka anggap mampu mewakili keraguan hati mereka sendiri untuk mencampuri urusan keluarga Siangkoan.

"Begitu bodohkah engkau maka hal demikian saja engkau tidak mengerti? Apakah kalian merasa senang kalau selalu diperkuda oleh Siangkoan Lo-jin? Cap-sha-kui yang selama ini merajalela dan merajai dunia persilatan, kini harus tunduk kepada seorang kakek buta! Lihat, di antara kita tiga belas orang, hanya kita berenam saja yang tolol sehingga mau diperkuda olehnya. Kalau kita tempo hari merendahkan diri dan mau membantunya, hal itu adalah karena harapan imbalannya yang amat besar, selain harta benda juga mungkin kedudukan tinggi yang akan kita terima dari Liu-thaikam. Namun sekarang? Liu-thaikam sudah tidak ada, untuk apa kita masih terus merendahkan diri di bawah kekuasaan kakek buta itu lagi?"

"Nah, jika begitu, kenapa sekarang kita masih harus mentaati perintahnya untuk menyeret pemuda itu ke depan kakinya?" Hwa-hwa Kui-bo bertanya heran.

"Kakek buta itu tentu takkan mengampuni kita jika mendengar bahwa kita menentangnya. Dan kakek itu sendiri sesungguhnya hanya seorang tua bangka buta, betapa pun lihainya. Yang membuat dia kuat adalah puteranya itu. Kalau dia dan puteranya itu maju bersama, sungguh sukar untuk ditundukkan. Sekarang mereka itu saling bentrok, maka kita harus dapat mempergunakan kesempatan yang baik ini untuk menghancurkan kekuatan ayah dan anak itu. Kalau kita sudah berhasil membunuh anaknya, apa sukarnya bagi kita untuk menghadapi tua bangka buta itu? Dia sudah menyeret kita semua ke dalam persekutuan, berarti sudah merugikan kita, dan sudah cukup lama dia meremehkan dan merendahkan kita sebagai pembantu-pembantunya. Sekarang tibalah saat pembalasan kita!"

Memang kehidupan para kaum sesat selalu dipengaruhi oleh nafsu angkara murka serta dendam kebencian, maka pendapat Kui-kok Lo-mo ini segera mendapatkan persetujuan seluruh rekannya dan berangkatlah mereka bergegas untuk mencari jejak Siangkoan Ci Kang dan melakukan pengejaran.

Tidaklah mengherankan kalau pada keesokan harinya, selagi Ci Kang berjalan sendirian di luar sebuah dusun yang sunyi, di bawah terik matahari, tiba-tiba saja dia mendengar orang-orang berteriak memanggil namanya dan ketika dia berhenti, dia langsung tersusul oleh enam orang tokoh Cap-sha-kui yang kini sudah berdiri di hadapannya dan setengah mengepungnya.

Ci Kang memandang heran sambil mengerutkan alisnya. Sejak pertama kali orang-orang ini membantu ayahnya, dia memang sudah tidak suka kepada mereka. Koai-pian Hek-mo dan Hwa-hwa Kui-bo amat menjemukan hatinya karena kedua orang kakek dan nenek ini seolah-olah berlomba untuk memikat dirinya. Kiu-bwe Coa-li adalah seorang nenek kejam yang mengerikan dengan tubuh serta wajahnya yang buruk, ditambah lagi nenek ini suka bermain-main dengan ular, menjijikkan. Suami isteri dari Kui-kok-san itu pun menimbulkan rasa muak karena mereka berdua itu seperti mayat hidup saja. Ada pun Tho-tee-kwi yang suka makan daging manusia itu memang menjemukan hatinya.

"Ada keperluan apakah cu-wi memanggil-manggil dan menyusulku?" tanyanya singkat.

Yang menjawab adalah Kui-kok Lo-mo, dia mewakili rekan-rekannya, "Siangkoan Ci Kang, kami disuruh ayahmu untuk membawamu pulang."

Ci Kang mengangkat muka dan memandang kakek itu. Dia tahu akan adanya perubahan sebab kakek itu biasanya tidak memanggil namanya begitu saja. Biasanya mereka semua menyebutnya Siangkoan kongcu atau Siangkoan sicu dengan sikap dan nada yang amat menghormat.

"Kalau aku tidak mau?" tanyanya sebagai jawaban.

"Kami sudah diberi wewenang untuk memaksamu dan membawamu pulang, hidup atau mati. Kalau engkau menolak maka kami akan menggunakan kekerasan!"

Tanpa menanti jawaban Ci Kang, begitu Kui-kok Lo-mo berkata demikian, isterinya sudah menerjang pemuda itu dengan tamparan tangannya. Serangan ini dilakukan oleh Kui-kok Lo-bo dari samping kiri dan tangan kanannya yang mengandung hawa panas menyambar ke arah pelipis kiri Ci Kang.

Pemuda ini maklum betapa ampuhnya tamparan nenek itu, maka dia pun cepat mengelak dengan menggeser kaki ke belakang dan menarik tubuh atasnya ke belakang. Tamparan itu luput dan lewat di depannya sehingga terasa hawa panas menyambar mukanya. Pada saat itu, Kui-kok Lo-mo yang melihat isterinya sudah mulai menyerang, juga menerjang ke depan dan melakukan serangan yang tak kalah ampuhnya. Ci Kang cepat menangkis dan segera pemuda itu dikeroyok dua oleh suami isteri dari Kui-kok-san itu. Maka terjadilah perkelahian yang amat seru.

Tak dapat disangkal lagi bahwa Siangkoan Ci Kang adalah seorang pemuda remaja yang istimewa. Bakatnya menonjol sekali sehingga dalam usia delapan belas tahun dia sudah berhasil menguasai semua ilmu ayahnya. Akan tetapi, dibandingkan dengan suami isteri itu, tentu saja dia kalah pengalaman dan kalah latihan, atau ilmu silatnya kalah matang.

Mengingat bahwa Kui-kok Lo-mo dan Kui-kok Lo-bo adalah tokoh-tokoh Cap-sha-kui yang tinggi ilmunya, tentu saja Ci Kang menjadi repot dan terdesak hebat ketika dikeroyok dua. Andai kata suami isteri itu maju satu demi satu, agaknya tidak akan mudah bagi mereka untuk dapat mengalahkan Ci Kang.

Akan tetapi begitu maju bersama, suami isteri yang tentu saja dapat bekerja sama secara baik sekali di dalam serangan-serangan mereka, maka Ci Kang terdesak hebat dan lewat lima puluh jurus saja dia sudah terus mundur dan hanya mampu mengelak ke sana-sini sambil kadang kala menangkis, tanpa mempunyai kesempatan untuk balas menyerang. Bahkan tubuhnya telah menerima beberapa hantaman dan tendangan, akan tetapi berkat kekebalannya membuat dia belum juga dapat dirobohkan.

Ci Kang yang keras hati itu tidak pernah mengeluh dan sama sekali tidak berniat untuk melarikan diri. Dia bertekad untuk melawan sampai mati. Pula, apa gunanya lari? Di sana terdapat enam orang tokoh Cap-sha-kui sehingga lari pun, dalam keadaan terluka-luka, akan percuma saja. Dan dia pun tahu bahwa tidak ada harapan baginya untuk lolos. Baru suami isteri Kui-kok-san saja sudah begini hebat, apa lagi kalau empat orang tokoh lain itu ikut maju mengeroyok.

Melihat cara kedua orang suami isteri itu menyerang dengan pukulan-pukulan maut, maka tahulah Ci Kang bahwa mereka menghendaki kematiannya. Karena itu dia pun membela diri sebaik mungkin, segera mengeluarkan seluruh kepandaiannya, mengerahkan seluruh tenaganya.

Hebat bukan main sepak terjang pemuda ini. Meski pun terdesak hebat, akan tetapi tidak mudah bagi suami isteri itu untuk merobohkannya. Lengah sedikit saja maka pemuda itu akan membalas dengan serangan maut yang berbahaya.

Pada saat itu pula, entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja di belakang Ci Kang berdiri seorang kakek tinggi kurus. Kakek ini bajunya tambal-tambalan, tangan kanan memegang sebatang tongkat bambu kuning dan di punggungnya nampak sebuah ciu-ouw (guci arak). Kakek yang usianya kurang lebih enam puluh lima tahun ini memperhatikan perkelahian sambil mengelus jenggotnya, lalu mengomel,

"Terlalu, terlalu...! Suami isteri tua bangka mengeroyok seorang bocah ingusan. Sungguh terlalu...!"

Kemudian, tiba-tiba dia menggerakkan tubuhnya sambil terus berbicara, "Nah, anak baik, bagus begitu! Lawanlah dan jangan mau kalah terhadap sepasang mayat itu. Pukul, nah, bagus, begitu haittt... begini... bagus!"

Seperti orang gila, kakek jembel ini lalu meniru-niru gerakan Ci Kang bersilat. Akan tetapi karena tangannya memegang tongkat, maka tongkatnya bergerak pula dengan lucunya. Dia bukan mengajari Ci Kang, melainkan menirukan gerakan Ci Kang yang berloncatan ke sana-sini mengelak dari serangan suami isteri itu.

Dan... terjadilah hal yang luar biasa sekali. Tiba-tiba saja suami isteri itu merasa betapa tangkisan tangan Ci Kang menjadi sedemikian kuatnya sehingga mereka merasa lengan mereka nyeri kemudian tubuh mereka terpelanting! Ada angin pukulan dahsyat keluar dari kedua tangan Ci Kang. Pemuda ini sendiri merasa heran, akan tetapi dia dapat menduga bahwa kakek jembel aneh itu telah membantunya dengan tenaga sakti yang luar biasa.

Empat orang tokoh Cap-sha-kui yang lainnya bukan orang-orang tolol. Kemunculan kakek jembel yang aneh ini dan terdesaknya suami isteri Kui-kok-san tentu ada hubungannya, pikir mereka. Karena itu, tanpa banyak cakap lagi mereka berempat lalu maju menyerang kakek jembel yang masih mencak-mencak menirukan gerakan Ci Kang karena kini suami isteri itu sudah menyerang lagi.

Hwa-hwa Kui-bo menyerang dengan pedangnya yang beracun, ditemani Koai-pian Hek-mo yang menggerakkan senjatanya, yaitu seutas pecut baja yang ujungnya berpaku. Kiu-bwe Coa-li meledakkan cambuk hitam berekor sembilan, menyerang dari arah depan bersama Thio-tee-kui yang menggerakkan kedua lengannya sehingga dua buah gelang emas yang berat di kedua lengannya itu saling beradu mengeluarkan bunyi nyaring. Dikepung empat orang tokoh sesat yang lihai ini, kakek jembel itu malah tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, bagus, bagus!" Dan tiba-tiba saja tubuhnya sudah berkelebatan di antara sinar senjata empat orang pengeroyoknya yang bergulung-gulung itu.

Tentu saja empat orang pengeroyok itu terkejut bukan main. Tak pernah mereka sangka bahwa kakek jembel itu sedemikian lihainya dan seperti pandai menghilang saja saking cepatnya dan ringannya gerakan tubuhnya.

Ternyata kakek ini bukan hanya mampu menghindarkan diri dari sambaran senjata-senjata ampuh itu, bahkan dengan gerakan-gerakannya seperti tadi masih dapat pula membantu Ci Kang sehingga kini pemuda itu dapat membalas serangan kedua orang pengeroyoknya karena setiap serangan kedua suami isteri itu selalu tertumbuk pada tenaga yang tidak nampak akan tetapi memiliki kekuatan yang besar sekali.

"Ha-ha-ha, sungguh menggembirakan sekali!" kakek itu menari-nari ketika senjata-senjata lawan berubah menjadi sinar bergulung-gulung dan menyambar-nyambar.

"Tar-tar-tarrr...!" Senjata cambuk hitam ekor sembilan dari Kiu-bwe Coa-li meledak-ledak, diselingi ledakan satu-satu dan nyaring dari cambuk baja di tangan Koai-pian Hek-mo.

"Singg...! Tring-tringgg...!" Suara pedang di tangan Hwa-hwa Kui-bo dan sepasang gelang emas di lengan Tho-tee-kui juga terdengar nyaring membuat kakek jembel yang dikeroyok itu menjadi semakin girang seperti seorang anak kecil melihat permainan yang menarik.

"Tar-tarr-tarrrr...!" Cambuk ekor sembilan di tangan Kiu-bwe Coa-li meledak-ledak di atas kepala kakek itu. Sembilan ekor cambuk itu seperti hidup, seperti sembilan ekor ular yang menyambar-nyambar turun.

Akan tetapi kakek itu mempergunakan jari tangannya menyentil setiap kali ujung cambuk menyambar. Tiga kali dia menggunakan telunjuk tangannya menyentil maka ekor cambuk itu menyeleweng dan melesat amat cepatnya ke arah tiga orang pengeroyok lain.

Hal ini sama sekali tidak diduga-duga dan tahu-tahu Hwa-hwa Kui-bo, Koai-pian Hek-mo, dan Tho-tee-kwi berteriak kaget kemudian tubuh mereka terpelanting berturut-turut karena tahu-tahu tubuh mereka telah tertotok oleh ujung cambuk Kiu-bwe Coa-li yang tadi disentil sehingga menyeleweng. Melihat robohnya tiga orang itu, kakek jembel tertawa kemudian mengangkat kedua tangan di depan dada, menjura ke arah Kiu-bwe Coa-li.

"Terima kasih, engkau baik sekali telah menolongku dengan cambukmu!"

Saking kagetnya, Kiu-bwe Coa-li terbelalak ketika melihat betapa ujung cambuknya malah menotok dan merobohkan tiga orang kawannya sendiri. Dan pada saat kakek itu menjura, tiba-tiba saja dia merasa ada sambaran angin dari arah depan. Dengan cepat dia hendak mengelak, akan tetapi tidak keburu dan ketika dia mengerahkan tenaga untuk melawan, segera tubuhnya terjengkang dan dadanya terasa sesak, seperti baru saja dipukul orang dengan keras!

Empat orang itu merangkak bangun dengan mata terbelalak. Mereka adalah tokoh-tokoh Cap-sha-kui, bagaimana mungkin dapat dirobohkan semudah itu oleh kakek jembel ini? Si kakek jembel tertawa-tawa.

"Ha-ha-ha-ha, kalian memang sangat baik hati, pantas kalau kusuguhi arak!" Dan dia pun menurunkan guci araknya, mendekatkan bibir guci itu ke mulutnya dan minum beberapa teguk, lalu dia menyemburkan arak di mulutnya itu ke arah empat orang bekas lawan.

Empat orang datuk itu terkejut dan berusaha menghindar, akan tetapi masih terasa oleh mereka betapa kulit tubuh mereka yang terkena percikan arak yang disemburkan terasa nyeri seperti ditusuk-tusuk jarum. Bahkan percikan arak itu menembus baju mereka dan mengenai kulit.

Sementara itu, sesudah memperoleh bantuan rahasia dari kakek aneh, sekarang Ci Kang mulai mendesak kedua lawannya dan akhirnya dialah yang berada di pihak menyerang. Tiba-tiba terdengar suara kakek itu,

"Tendang pantat mereka! Tendang pantat mereka!"

Aneh sekali, dalam suara itu seperti terkandung tenaga mukjijat yang membuat Ci Kang tak dapat menahan diri lagi lalu kakinya pun menyambar dan menendang berturut-turut ke arah pinggul dua orang lawannya. Hebatnya, dua orang suami isteri itu tidak kuasa untuk mengelak seolah-olah tubuh mereka terhalang sesuatu.

"Bukk! Bukk!"

Dua kali kaki Ci Kang menendang lantas dua orang suami isteri itu pun terbanting ke atas tanah. Mereka berloncatan bangun sambil meringis dan sesudah saling pandang dengan rekan-rekannya, mereka lalu melarikan diri tanpa berani mengeluarkan kata-kata lagi.

Peristiwa tadi terlalu hebat bagi mereka. Belum pernah selama hidup mereka dikalahkan orang secara ini. Akan tetapi, ketika kakek tadi menyembur dengan arak, wajah mereka pucat karena mereka teringat akan nama seorang yang selama ini dikabarkan sudah mati atau telah menjadi dewa, yaitu Ciu-sian Lo-kai (Jembel Tua Dewa Arak).

Memang orang sakti ini tidak pernah muncul di dunia kang-ouw, akan tetapi ada beberapa orang tokoh kang-ouw pernah melihat kesaktiannya sehingga namanya dikenal sebagai seorang di antara tokoh-tokoh rahasia yang amat sakti. Maka, enam orang datuk sesat itu segera mengambil langkah seribu. Biar pun mereka itu telah menjadi datuk yang memiliki kedudukan tinggi, akan tetapi karena mereka adalah golongan sesat, maka melarikan diri bukanlah hal yang dipantang oleh mereka.

Ci Kang berdiri memandang sambil bertolak pinggang, sama sekali tidak bergerak untuk melakukan pengejaran.

"Orang muda, kenapa engkau tidak mengejar mereka?"

Ci Kang menoleh kepada kakek jembel itu. "Mengapa aku harus mengejar mereka?" dia balas bertanya sambil memandang tajam kepada kakek jembel yang sakti itu, yang entah mengapa telah mencampuri urusannya dan membantunya. Namun harus diakuinya dalam hati bahwa kakek ini telah menyelamatkan jiwanya dari ancaman maut akibat dikeroyok orang-orang Cap-sha-kui tadi.

"Lhoh! Bukankah mereka tadi mati-matian hendak membunuhmu?"

"Benar, akan tetapi aku tidak ingin membunuh mereka."

Kakek jembel itu bertindak mendekat dan memandang sambil tersenyum lebar, wajahnya berseri dan matanya bersinar-sinar. "Orang muda, apakah engkau tidak menaruh dendam kepada mereka yang hendak membunuhmu?"

"Tidak, mereka suka kekerasan dan suka membunuh, tetapi aku tidak."

"Bagus! Andai kata mereka itu membunuh ayahmu, apakah engkau juga tidak sakit hati dan mendendam?"

Ci Kang teringat akan ayahnya yang hidup sebagai datuk sesat. Kalau ayahnya terbunuh orang, hal itu hanya terjadi karena kesalahan ayahnya sendiri. Orang yang suka bermain dengan api seperti ayahnya, kalau sekali waktu terbakar, tidak perlu penasaran lagi. Maka dia pun menggelengkan kepalanya.

Kakek jembel itu kelihatan semakin girang. "Wah, inilah orangnya yang kucari selama ini. Orang muda, engkau bernama Siangkoan Ci Kang, bukan? Engkau adalah putera tunggal Siangkoan Lo-jin?"

Pemuda itu menjadi semakin heran, akan tetapi dia mengangguk.

"He-he-heh, bagus! Ayahnya menjadi pimpinan kaum sesat mengumbar nafsu, puteranya malah bebas dari nafau dendam. Siangkoan Ci Kang, kalau tadi tidak ada aku, engkau tentu sudah mati di tangan badut-badut itu. Nah, untuk membalas budi itu, apa yang ingin kau lakukan untukku?"

Ci Kang mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala. "Locianpwe, walau pun locianpwe sudah mengusir orang-orang yang mengeroyokku dan menyelamatkan diriku, hendaknya locianpwe ingat bahwa aku tidak pernah minta tolong kepadamu. Jadi aku tidak berhutang budi atau apa pun kepada locianpwe."

Orang lain tentu akan merasa penasaran serta marah sekali mendengar jawaban orang yang pernah diselamatkan nyawanya seperti itu, akan tetapi sungguh kakek itu berwatak aneh. Dia malah tertawa senang!

"Ha-ha-ha-ha, cocok! Bagus! Tidak pernah hutang budi dan tidak pernah menghutangkan budi, berarti tidak pernah mendendam pula. Ha-ha-ha, orang muda, engkaulah orang yang kucari-cari!"

Ci Kang merasa semakin heran. Kakek ini benar-benar luar biasa, tidak saja mengetahui keadaannya, akan tetapi juga omongannya aneh dan sikapnya luar biasa.

"Mengapa locianpwe berkata demikian? Mengapa locianpwe mencari-cari aku?"

"Aku sedang mencari murid dan engkaulah orangnya yang paling cocok. Orang muda, tak kusangkal bahwa engkau telah memiliki ilmu silat yang tinggi dan jarang ada orang dapat menandingimu. Akan tetapi sayang, ilmu-ilmumu masih amat mentah. Tadi pun andai kata ilmumu sudah matang, tanpa kubantu sekali pun tentu engkau akan menang menghadapi para pengeroyokmu."

Ci Kang menggeleng kepala. "Tidak mungkin, locianpwe. Mereka itu adalah tokoh-tokoh Cap-sha-kui yang berilmu tinggi. Bahkan ayah sendiri pun agaknya tidak akan kuat kalau harus menghadapi pengeroyokan mereka."

"Ha-ha-ha, engkau tadi sudah melihat betapa dengan mudahnya aku menghadapi mereka. Siangkoan Ci Kang, mari kau ikut bersamaku setahun saja dan aku akan mamatangkan ilmumu."

Ci Kang mengerutkan alisnya, mempertimbangkan. Dia yang sejak kecil belajar silat, tentu saja merasa gembira kalau sampai dapat menjadi murid kakek yang dia tahu mempunyai kepandaian hebat ini. Akan tetapi dia pun memiliki watak yang bebas, tidak mau terikat.

"Apakah locianpwe hendak mengambil murid kepadaku sebagai balas budi?"

“Ha-ha-ha, seperti engkau, aku pun seorang yang suka bebas dari pada segala macam hutang budi. Aku ingin mengambil engkau sebagai murid karena kulihat engkau berbakat sekali, dan karena aku merasa cocok dengan watakmu."

Giranglah rasa hati Ci Kang mendengar ucapan ini. Tanpa ragu-ragu lagi dia pun segera menjatuhkan diri berlutut di depan kakek jembel itu. "Baiklah, suhu, teecu terima dengan gembira sekali."

Kakek itu juga merasa gembira bukan main. Sambil tertawa-tawa dia lalu menarik tangan Ci Kang dan diajaklah pemuda itu pergi dari situ untuk mulai menggemblengnya sebagai murid. Kakek itu adalah Ciu-sian Lo-kai, tokoh sakti aneh yang tak pernah muncul di dunia kang-ouw dan yang pernah mengunjungi Lembah Naga tempo hari.

Seperti kita ketahui, Ciu-sian Lo-kai berbeda pendapat hingga berbantahan dengan Go-bi San-jin tentang sikap Pendekar Cia Han Tiong mengenai dendam dan ikatan. Dan karena mereka merasa sudah terlalu tua untuk saling gempur, keduanya kemudian berjanji untuk mencari murid dan mendidik murid itu menurut pandangan hidup mereka masing-masing, tentu saja dengan maksud untuk kemudian diuji siapa yang lebih berhasil. Go-bi San-jin lalu berhasil membujuk Cia Sun yang sedang dicekam dendam karena kematian ibu dan para suheng-nya, sedangkan Ci Kang yang jemu dengan dunia hitam dan kejahatan, kini menjadi murid kakek jembel itu…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner