ASMARA BERDARAH : JILID-26


Empat orang itu lalu memasuki warung dan atas perintah Wu-yi Lo-jin, Hui Song dan Sui Cin menutup semua pintu dan jendela.

"Sui Cin, engkau mengintai dari bagian belakang dan engkau Hui Song, engkau mengintai dari depan. Kalau nampak orang, cepat-cepat beri tahu kami."

Dua orang muda itu segera menuju ke pos masing-masing. Sui Cin berdiri mengintai dari balik jendela belakang, sedangkan Hui Song berdiri mengintai dari balik pintu depan yang direnggangkan sedikit. Dusun itu kini sunyi sama sekali. Tak ada seekor anjing atau ayam pun yang terlihat berkeliaran karena binatang-binatang itu sudah mati semua, yang masih hidup dibawa mengungsi oleh para penduduk.

Sementara itu, hari telah menjadi siang dan dusun yang kosong itu ditimpa sinar matahari yang cukup hangat. Akan tetapi, pemandangan yang nampak oleh Sui Cin dan Hui Song di luar warung itu amat menyeramkan. Sunyi sekali, tak ada sesuatu yang hidup. Karena itu, bergeraknya daun-daun yang tertiup angin saja sudah amat menarik perhatian. Dusun yang ramai itu kini berubah menjadi sunyi seperti tanah kuburan.

Dua orang kakek itu mulai bercakap-cakap dan biar pun biasanya mereka bersikap kocak bahkan ugal-ugalan, kini mereka terlibat dalam percakapan yang serius dan anehnya, dua orang kakek yang sudah jelas mempunyai kesaktian itu kini kelihatan seperti orang-orang yang ketakutan!

"San-sian, apa bila aku tidak keliru sangka, engkau yang selama ini juga bersembunyi dan bertapa, kini keluar tentu dengan alasan yang sama dengan aku, bukan?"

Si gendut mengangguk lantas mengangkat kedua jari kirinya, jari telunjuk dan jari tengah ke atas.

"Benar, mereka telah turun ke dunia, atau katakanlah keluar dari neraka dan tentu dunia akan menjadi rusak binasa. Apakah engkau juga mendengar apa yang kudengar di luaran bahwa para datuk sesat akan berkumpul menghadap mereka?"

Kembali si gendut mengangguk. "Sebab itulah aku tiba di dusun ini," katanya. "Ketika aku memasuki warung, aku sudah curiga, akan tetapi begitu melihatmu, aku tahu bahwa aku malah memperoleh teman. Aku makan sambil mempermainkan kalian, akan tetapi ketika pemuda itu membawa air, aku mencium hal yang tidak wajar."

"Wah, hidung anjingmu kiranya semakin tajam saja," kata si kakek katai.

"Apakah selama ini engkau tetap tinggal di Wu-yi-san dan tidak pernah keluar dari tempat pertapaanmu?" kakek gendut bertanya.

Kakek katai mengangguk. "Mau apa aku keluar? Hanya akan menderita penghinaan saja. Ketika secara kebetulan aku sedang keluar dan mendengar desas-desus bahwa mereka juga keluar dari tempat persembunyian mereka, hatiku lantas terasa panas sehingga aku pun nekat keluar. Dan engkau sendiri? Kabarnya tinggal di Lembah Sungai Harum?"

"Benar, aku tinggal di lembah Siang-kiang, tempat yang tersembunyi. Akan tetapi aku tak betah untuk terus menyendiri di tempat sunyi. Aku mulai sering keluar dan merantau, dan untung perutku sudah menjadi gendut sehingga tak mudah dikenali, apa lagi kipasku juga sudah berubah bentuk. Aku pun memakai nama Siang-kiang Lo-jin..."

"He-he-he, kenapa bisa sama? Aku tinggal di Wu-yi-san dan menggunakan nama Wu-yi Lo-jin, ternyata engkau pun mempergunakan nama Lo-jin pula. Apakah enam tua bangka yang lain juga menggunakan nama itu? Bagaimana dengan mereka?"

Si gendut yang memakai nama Siang-kiang Lo-jin (Kakek Sungai Harum) itu menggeleng kepalanya. "Aku tak pernah lagi mendengar tentang mereka. Akan tetapi aku mendengar betapa Si Iblis Buta memimpin beberapa orang Cap-sha-kui membantu pembesar korup yang kabarnya kini telah terbasmi. Akan tetapi dengan munculnya mereka berdua itu, apa bila para datuk sesat sampai dikuasai mereka berdua, tentu keamanan rakyat akan rusak binasa."

"Karena itu kita harus menyelidiki apa yang akan mereka lakukan. Dan ternyata mereka telah meninggalkan jejak, biar pun mereka telah membunuh puluhan orang di dusun ini."

"Kakek, apa sih maksud mereka membunuh orang-orang dusun dengan penyebaran racun di dalam air minum?" Sui Cin ikut bertanya sambil tetap melanjutkan penjagaannya sebab hatinya ingin sekali tahu. "Dan siapakah kiranya yang melakukan perbuatan keji itu?"

"Siapa lagi kalau bukan mereka? Ahh, perbuatan mereka sekali ini belum seberapa hebat. Mereka itu sanggup melakukan apa saja, bahkan yang jauh lebih kejam dari pada ini. Dan mereka membunuhi orang-orang dusun itu tentu ada maksudnya," kata kakek katai.

"Tetapi yang jelas tentu saja untuk membunuh kalian bertiga yang agaknya sudah mereka curigai," sambung kakek gendut Siang-kiang Lo-jin.

"Belum tentu!" kata kakek katai dengan muka berubah gelisah. "Jika mereka benar-benar menghendaki kami, kenapa yang mereka racuni adalah sumber air? Tidak, tentu mereka itu hendak membikin panik dan takut kepada penduduk sehingga semua penghuni dusun melarikan diri. Keadaan seperti sekarang inilah yang mereka kehendaki, untuk membuat keadaan di sekeliling sini menjadi sunyi agar mereka dapat melakukan pertemuan dengan aman dan tidak diketahui orang lain."

"Hayaaa, tua bangka Ciu-sian ternyata masih cerdik sekali. Agaknya hawa arak semakin mempertajam otakmu. Betul sekali dugaanmu itu. Akan tetapi tahukah engkau bagaimana kita akan mencari jejak mereka?"

"Aku tahu. Melalui air."

"Bagus! Aku pun berpikir demikian. Mari kita selidiki."

"Ssttt...!" Tiba-tiba saja Sui Cin memberi isyarat tanpa menoleh, matanya ditujukan keluar pondok warung. "Aku melihat berkelebatnya bayangan orang, mungkin lima atau enam orang, cepat sekali, di ujung dusun sebelah timur."

"Aku juga melihat bayangan tiga orang di ujung barat, menuju ke utara," bisik Hui Song.

"Benar," kata Sui Cin pula. "Bayangan-bayangan itu menuju ke utara."

Dua orang kakek itu bergerak cepat, mendekati tempat pengintaian dua orang muda itu, akan tetapi bayangan-bayangan yang bergerak cepat itu telah lenyap. Mereka menunggu sampai cukup lama, dan kini dua orang kakek itu ikut mengintai, akan tetapi dusun yang sudah kosong itu sunyi sekali, tidak nampak lagi adanya bayangan lewat di situ. Dan kini senja telah mendatang.

"Kita harus memberanikan diri mencari jejak mereka sekarang juga sebelum gelap. Siang tadi mereka sudah beraksi dan membunuh banyak orang, maka kurasa malam ini adalah waktu yang telah ditentukan bagi mereka berkumpul." Wu-yi Lo-jin yang bersikap sebagai pemimpin rombongan empat orang itu berkata dengan nada mengambil keputusan.

Agaknya Siang-kiang Lo-jin juga tak berkeberatan dan membiarkan rekannya mengambil sikap memimpin. Dia mengangguk dan mereka berempat lalu berloncatan keluar dengan hati-hati sekali. Sesudah mereka berempat mengadakan pemeriksaan dan merasa yakin bahwa di dusun itu memang tidak ada orang lain kecuali mereka berempat, mulailah dua orang kakek sakti itu mengadakan pemeriksaan. Semua saluran air mereka periksa dan ternyata di antara banyak saluran air, hanya ada satu saluran air yang tidak mengandung racun, yaitu yang mengalir ke utara!

"Hemm, kalau begitu tepatlah seperti yang tadi dilihat dua orang pembantu muda kita ini, mereka menuju ke utara dan air yang menuju ke sana saja yang bersih dari racun."

Dengan penuh semangat akan tetapi amat berhati-hati, dipimpin oleh Wu-yi Lo-jin mereka lalu bergerak menuju ke utara, menurutkan jalannya saluran air jernih itu. Saluran air itu berlika-liku sehingga akhirnya terjun ke dalam Sungai Huai yang baru saja meninggalkan sumbernya, jadi masih kecil dan jernih. Dan berhentilah mereka di lembah sungai yang datar, yang merupakan padang rumput yang luas.

Mereka melihat ada sebatang bambu tinggi yang puncaknya dipasangi sehelai bendera. Itulah bendera yang sangat dikenal oleh Wu-yi Lo-jin. Sebuah bendera yang melukiskan dua buah tengkorak disilang tulang-tulang yang menjadi gagang sepasang pedang. Wu-yi Lo-jin dan Siang-kiang Lo-jin nampak pucat dan gelisah.

Tentu saja Hui Song dan Sui Cin yang tidak mengenal bendera itu merasa heran. Akan tetapi ketika mereka hendak bertanya, dua orang kakek sakti itu sudah menaruh telunjuk di depan mulut, tanda bahwa dua orang kakek sakti itu amat gelisah, tak berani bergerak sembarangan, bahkan pernapasan mereka pun agaknya ditahan-tahan agar tidak sampai terdengar, tanda bahwa mereka berdua itu sungguh tidak ingin ketahuan orang!

Tentu saja hal ini membuat dua orang muda itu di samping merasa heran, juga merasa ngeri. Bila dua orang kakek seperti mereka itu sampai ketakutan, tentu ada hal yang amat gawat dan agaknya pemilik bendera itu betul-betul memiliki kesaktian seperti iblis sendiri!

Malam itu bulan bersinar terang, tidak dihalangi awan. Di angkasa memang ada beberapa gumpalan-gumpalan awan hitam, akan tetapi gumpalan-gumpalan awan itu terpisah-pisah dan hanya lewat sebentar saja, sejenak menutupi sinar bulan lalu pergi lagi, membentuk berbagai macam rupa yang menyeramkan.

Lapangan rumput itu pun nampak terang oleh sinar bulan yang lembut dan penuh rahasia. Namun yang tampak hanyalah tiang bendera dari bambu itu saja, dan bendera bergambar sepasang tengkorak yang kadang-kadang saja berkibar lembut tertiup angin malam yang halus.

Empat orang yang mengintai itu pun lalu berpencar, dengan hati-hati bersembunyi karena dua orang kakek itu tadi sudah memesan kepada Hui Song dan Sui Cin agar berhati-hati dan jangan sekali-kali sampai memperlihatkan diri.

"Mereka itu amat berbahaya, apa lagi kalau sedang berkumpul dalam jumlah banyak. Kita datang hanya untuk menyelidiki keadaan dan rencana mereka, bukan hendak melakukan penyerbuan." Demikianlah dua orang kakek itu berpesan kepada dua orang muda yang tentu saja dapat memaklumi pesanan itu sehingga tidak berani sembarangan bergerak.

Sesudah lebih satu jam mereka menunggu, tiba-tiba terdengar suara jerit tangis seorang anak kecil! Dalam sunyi menegangkan itu, tentu saja suara ini membuat suasana menjadi semakin menyeramkan. Suara anak menangis itu mengaduh-aduh ketakutan, membuat wajah Sui Cin menjadi pucat dan dia pun tidak dapat menahan perasaan hatinya lagi. Dia bergerak dan biar pun terdengar suara Hui Song mencegahnya, namun Sui Cin tidak mau diam lagi.

Tangis anak itu seperti menusuk-nusuk jantungnya. Mana mungkin dia tinggal diam saja bila ada seorang anak begitu ketakutan dan agaknya terancam bahaya maut? Bagaimana pun juga, dia harus menyelidikinya dan kalau perlu turun tangan menolongnya, apa pun yang akan menjadi resikonya.

Maka, dengan hati-hati sekali dia pun menyelinap di antara pohon-pohon dan batu-batu besar, bergerak cepat menuju ke arah suara tangis anak itu. Melihat ini, Hui Song merasa khawatir sekali dan dia pun terpaksa bergerak mengejar. Ketika dia dapat menyusul, dia cepat menangkap lengan gadis itu.

"Hati-hati, Cin-moi..." bisiknya.

"Aku harus menolongnya, apa pun yang terjadi," bisik Sui Cin kembali.

"Hati-hati, siapa tahu ini jebakan mereka..."

Tapi Sui Cin terus saja melanjutkan usahanya mencari karena kini hanya terdengar tangis ketakutan lemah dari suara anak tadi. Dan ternyata suara itu membawa mereka menjauhi padang rumput hingga tiba di luar sebuah hutan. Tiba-tiba, tiba-tiba sekali sehingga amat mengejutkan hati Sui Cin dan Hui Song, terdengar jeritan yang menyayat hati kemudian diam!

Dua orang pendekar itu saling berpegangan tangan dan saling pandang di bawah cahaya bulan, keduanya terbelalak dan muka mereka pucat. Jeritan tadi jelas merupakan jeritan maut seorang anak yang sedang berada dalam puncak ketakutan atau kesakitan. Sui Cin kini bergegas lari menyusup di antara semak-semak, diikuti oleh Hui Song dan tidak lama kemudian mereka tiba di depan sebuah goa, mengintai dari balik batu, pohon dan semak-semak.

Dan apa yang mereka lihat hampir membuat Sui Cin muntah, bahkan Hui Song sampai terbelalak dan tak mampu bergerak seperti telah berubah menjadi patung. Mereka berdua merasa ngeri, jijik, dan juga marah bukan main.

Pemandangan di depan goa itu sungguh membuat bulu kuduk berdiri. Sangat mengerikan! Seorang lelaki yang nampak seperti raksasa sedang memangku tubuh seorang anak kecil telanjang yang menelungkup dan bagian bawah tubuh anak itu bermandi darah sehingga juga membasahi paha lelaki raksasa itu. Melihat tubuh kecil telanjang yang tertelungkup di atas pangkuan dalam keadaan mandi darah dan tidak bergerak lagi itu mudah diduga bahwa anak itu tentu sudah mati dan agaknya baru saja tewas.

Yang sangat menjijikkan adalah betapa raksasa itu sedang memegang sebuah kaki kecil yang agaknya kaki anak itu yang direnggut lepas begitu saja dari tubuhnya. Raksasa itu memegang kaki seperti memegang paha ayam atau paha kelinci, lalu mengganyangnya mentah-mentah. Daging paha kaki yang masih berdarah itu dilahapnya bagaikan seekor harimau sedang melahap paha domba.

Sui Cin menutupi mulutnya untuk mencegah muntah atau berteriak. Memang penglihatan itu amat mengerikan. Bahkan Hui Song hanya diam tertegun memandang kakek raksasa yang terus mengganyang paha anak kecil itu dengan lahapnya.

Sulit menaksir berapa usia kakek itu. Akan tetapi tubuhnya telanjang hanya mengenakan untaian daun-daun yang dipasang melingkar di pinggangnya. Tubuh kakek itu besar sekali dan kelihatan kuat. Pada pundak dan lengannya tumbuh rambut panjang seperti monyet. Di bawah tengkuknya terdapat punuk atau daging jadi. Sebuah gelang yang terbuat dari akar kayu hitam menghias lengan kirinya.

Kepala serta muka orang ini sungguh menyeramkan. Di dahinya juga tumbuh daging jadi dan hanya pada bagian belakang kepalanya saja yang ditumbuhi rambut pendek kaku. Mukanya tidak berjenggot atau berkumis, muka yang kasar dengan mata besar, hidung pesek dan mulut lebar dengan gigi-gigi menonjol. Di belakang raksasa ini terdapat tulang-tulang dan tengkorak manusia, agaknya raksasa ini sudah biasa makan daging manusia mentah-mentah.

Melihat kekejian yang tiada taranya ini, Sui Cin tak bisa menahan kemarahannya dan dia pun sudah bergerak siap menerjang keluar. Akan tetapi tiba-tiba pundaknya ditekan orang dan tubuhnya menjadi lemas. Ketika dia menengok, ternyata yang menekan jalan darah di pundaknya itu adalah Wu-yi Lo-jin sendiri yang ternyata kini sudah berada di belakangnya bersama Siang-kiang Lo-jin!

Sui Cin mengerutkan alisnya, akan tetapi Wu-yi Lo-jin menggeleng kepala lantas memberi isyarat kepada dua orang muda itu untuk mengikutinya pergi meninggalkan tempat yang mengerikan itu. Setelah jauh dari raksasa itu, Wu-yi Lo-jin berkata,

"Sui Cin, hampir saja engkau menggagalkan semua usaha kita."

"Tetapi, kek, bagaimana mungkin kita mendiamkan saja kekejian seperti yang dilakukan oleh iblis raksasa itu?"

Wu-yi Lo-jin tidak bergurau seperti biasa, akan tetapi memandang dengan wajah serius. "Sui Cin, kekejian seperti itu saja masih belum apa-apa dibandingkan dengan kejahatan yang dapat dilakukan oleh orang-orang dunia sesat. Anak itu telah tewas, jadi tidak dapat ditolong lagi. Dan belum waktunya bagimu untuk turun tangan menentang iblis itu, karena kalau hal itu tadi kau lakukan, maka mereka semua akan bermunculan dan tak mungkin kita dapat menyelamatkan diri lagi."

Sebelum Sui Cin dapat membantah, tiba-tiba terdengar suara teriakan-teriakan dan hiruk pikuk di sebelah kiri, dari arah sebuah dusun yang berada di luar hutan. Mendengar suara ini, empat orang itu, dipimpin oleh Wu-yi Lo-jin, segera mempergunakan ilmu kepandaian mereka untuk berlari ke arah dusun itu.

Apakah yang terjadi di dusun kecil itu? Seorang kakek lainnya yang juga seperti raksasa, yang bertubuh tinggi besar dengan perut gendut dan membawa sebuah tongkat panjang, sedang mengamuk dan membunuhi para penduduk.

Seorang ayah yang melindungi anak isterinya mencoba melawan dengan golok di tangan. Akan tetapi ia bukanlah lawan kakek raksasa yang seperti iblis itu. Dengan sekali dorong saja petani itu segera roboh dan ujung tongkat menembus dadanya, sedangkan isterinya telah tewas di ambang pintu.

Anaknya yang tunggal, seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun, menangis dan tidak mampu bergerak ketika lengan kanannya dicengkeram oleh jari-jari tangan kiri yang besar dan panjang itu. Melihat betapa ayah dan ibunya dibunuh, anak itu menjadi nekat. Sambil menjerit-jerit dia lalu menggigit punggung tangan kakek yang mencengkeram lengannya.

“Huh! Keparat!" Kakek itu pun menghardik lalu sekali tangan kirinya bergerak, kepala anak itu langsung pecah dan tubuhnya terpelanting ke dekat mayat ayahnya dalam keadaan tewas seketika.

Begitu melihat kakek ini mengamuk, para penduduk dusun cepat melarikan diri ketakutan, meninggalkan belasan orang kawan yang sudah roboh dan tewas terlebih dahulu. Ketika Wu-yi Lo-jin, Siang-kiang Lo-jin, Hui Song dan Sui Cin tiba di sana dan mengintai, semua penduduk yang masih hidup sudah lari mengungsi dan yang ada hanya kakek raksasa itu yang tertawa bergelak memegangi tongkatnya, di tengah-tengah dusun dan di sana-sini nampak mayat-mayat berserakan.

Kembali Wu-yi Lo-jin harus menahan Sui Cin yang mukanya sudah merah karena marah dan tangannya sudah gatal-gatal untuk keluar dan menyerang iblis itu.

"Sabarlah. Mereka memang sengaja membuat pembersihan agar semua dusun di sekitar tempat ini ditinggalkan kosong sehingga pertemuan mereka tak akan terganggu. Dengan berbuat demikian itu, selain berusaha mengusir semua penghuni penduduk, juga agaknya mereka hendak memancing keluarnya golongan musuh yang mungkin datang mengintai seperti yang kita lakukan. Jangan kita mudah terpancing keluar dan mati konyol. Mari kita bersembunyi dan mengintai lagi di padang rumput itu. Di sana adanya bendera itu, maka tentu di sana pula mereka akan datang berkumpul."

Empat orang itu berindap-indap serta menyusup-nyusup melalui belakang semak-semak dan batu-batu besar, kembali ke tempat tadi. Di sana masih sunyi, dan bendera itu pun masih berkibar di ujung tiang bendera dari bambu. Akan tetapi, dengan gerakan tangan Wu-yi Lo-jin menudingkan jari telunjuknya dan memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk memperhatikan ke atas.

Sui Cin dan Hui Song memandang ke arah yang ditunjuk dan mereka terbelalak. Di sana, di atas puncak tiang bambu itu seperti ada dua ekor burung raksasa bermain-main. Yang seekor hinggap di atas puncak tiang bambu dan yang seekor lagi berjungkir balik di atas. Ketika yang berjungkir balik tadi melayang turun, yang hinggap di ujung bambu mencelat ke atas, berjungkir balik dan tempatnya kini dipakai oleh burung kedua.

Akan tetapi, sesudah dipandang dengan teliti, nampak oleh Sui Cin dan Hui Song bahwa dua bayangan yang bermain-main di puncak tiang bambu itu sama sekali bukan burung melainkan manusia! Dua orang manusia yang semuanya berambut panjang riap-riapan, berpakaian longgar dan dari jarak sejauh itu sukar dikenal wajahnya. Akan tetapi melihat bentuk tubuh yang seorang ramping, mudahlah diduga bahwa mereka itu adalah seorang pria dan seorang wanita.

Akan tetapi yang sangat mengagumkan adalah gerakan mereka. Sui Cin sendiri seorang ahli ginkang yang telah mewarisi ilmu ginkang ibunya yang juga sangat hebat. Akan tetapi melihat cara dua orang itu main-main di puncak tiang bambu yang lentur seperti dua ekor burung saja, diam-diam dia pun terkejut dan kagum bukan main. Tahulah dia bahwa dua orang itu memiliki ilmu ginkang yang sangat tinggi dan dia, seperti juga Hui Song, segera menduga-duga siapa adanya kedua orang lihai itu.

Ketika Sui Cin menoleh dan memandang kepada Wu-yi Lo-jin dan Siang-kiang Lo-jin, dia melihat betapa Dewa Arak dan Dewa Kipas itu tampak pucat, terbelalak dan seperti orang ketakutan. Bahkan ketika Si Dewa Arak Wu-yi Lo-jin menoleh kepada Sui Cin dan melihat gadis ini seperti hendak membuka mulut, dia cepat memberi isyarat supaya gadis itu tidak mengeluarkan suara.

Sekarang nampak oleh empat orang pengintai itu betapa yang pria hinggap di atas ujung bambu dan yang wanita melayang ke atas, berjungkir balik beberapa kali kemudian turun, melayang ke arah pria yang berdiri dengan satu kaki di atas puncak bambu. Akan tetapi laki-laki itu tidak meninggalkan tempatnya dan si wanita dengan lunaknya lantas hinggap di atas kepala lelaki itu dengan kepalanya pula! Mereka beradu kepala dan kini si wanita berdiri jungkir balik, kepalanya menempel pada kepala pria yang masih berdiri tegak.

Sungguh pertunjukan yang amat mengagumkan dan kalau saja tidak ada tiga orang lain yang memperingatkannya, tentu Sui Cin sudah bertepuk tangan sambil bersorak memuji. Ginkang seperti yang diperlihatkan dua orang yang agaknya sedang berlath itu sungguh membuat hatinya kagum bukan main.

Akan tetapi, Wu-yi Lo-jin yang juga merupakan seorang ahli ginkang yang sangat hebat, kini memandang khawatir. Dia tahu bahwa menghadapi sepasang iblis itu, hanya dalam ginkang saja dia masih mampu mengungguli mereka, akan tetapi kini, melihat cara kedua orang itu berlatih, dia merasa sangsi apakah ilmu ginkang-nya akan mampu menandingi mereka sekarang!

Melihat kekhawatiran pada wajah kedua orang kakek sakti, Sui Cin lalu menyentuh lengan Wu-yi Lo-jin, kemudian dengan isyarat ia mengangkat ke atas dua jari tangannya, telunjuk dan jari tengah. Melihat isyarat ini, Wu-yi Lo-jin mengangguk dan tahulah Sui Cin bahwa kedua orang yang sedang berlatih itu benar adalah Raja Iblis dan Ratu Iblis seperti yang pernah diceritakan Dewa Arak yang katai itu kepadanya. Maka tentu saja dia pun menjadi gelisah dan tertarik, memandang dengan penuh perhatian.

Tiba-tiba para pengintai itu melihat berkelebatnya bayangan orang. Agaknya mereka yang sedang berlatih di puncak bambu juga melihatnya karena mereka berdua secara tiba-tiba melayang turun. Gerakan mereka ketika melayang sambil mengembangkan kedua lengan dan jubah mereka yang lebar berkibar benar-benar membuat mereka nampak seperti dua ekor burung besar.

Tanpa mengeluarkan sedikit pun suara, kedua orang itu turun lantas hinggap di atas dua buah batu besar yang agaknya seperti juga tiang bendera itu, sudah sengaja dipersiapkan lebih dulu di tempat itu. Dengan berdiri di atas batu yang besar setinggi manusia ini, maka kedua orang itu nampak nyata dari jarak jauh.

Sui Cin memandang penuh perhatian. Laki-laki itu bertubuh jangkung dan berperawakan sedang. Wajahnya sama sekali bukan seperti wajah iblis atau wajah tokoh-tokoh sesat lain yang biasanya menyeramkan. Orang-orang Cap-sha-kui juga berwajah menyeramkan, juga dua orang raksasa yang dilihatnya tadi jelas membayangkan bahwa mereka adalah orang-orang sesat yang kejam sekali. Akan tetapi sungguh membuat hatinya penasaran kalau pria ini dinamakan Raja Iblis yang sangat ditakuti oleh dua orang kakek sakti yang berada di dekatnya.

Laki-laki itu sulit ditaksir berapa usianya karena meski pun wajahnya masih nampak muda dan tidak keriputan, akan tetapi rambutnya yang panjang dan riap-riapan itu sudah putih semuanya. Kumis dan jenggotnya dipotong pendek. Tak nampak sesuatu yang aneh atau menakutkan pada diri pria ini kecuali barang kali matanya. Sepasang matanya itu bersinar mencorong dan nampak kehijauan! Sungguh bukan seperti mata manusia biasa.

Orang kedua adalah seorang wanita yang bertubuh langsing, juga tidak terlihat aneh atau menakutkan. Tubuhnya masih langsing padat bagaikan tubuh seorang wanita muda, dan wajahnya pun belum berkeriput pula, akan tetapi rambutnya yang riap-riapan itu pun telah putih semua. Seperti pria itu, dia juga memiliki sepasang mata yang mencorong bersinar kehijauan.

Selain mata mereka yang mencorong kehijauan, juga sikap kedua orang ini amat dingin. Wajah mereka seperti topeng saja, seperti kulit mati dan hanya mata mereka yang hidup. Wajah itu tidak membayangkan perasaan apa-apa kecuali dingin dan mati, dengan kerut di dekat mata dan mulut yang menunjukkan kemarahan atau ejekan atau tidak pedulian. Pakaian mereka hanya dari dua macam warna, putih dan kuning, dan polos. Potongannya sangat sederhana, kebesaran dan longgar, akan tetapi kainnya terbuat dari sutera halus dan nampak bersih.

Bagaikan setan-setan yang berkeliaran, nampak bayangan-bayangan berkelebat dan kini di tempat itu telah berkumpul banyak orang. Tak kurang dari tiga puluh orang berdatangan dari segala penjuru.

Sui Cin yang mengintai, diam-diam bergidik melihat betapa sebagian besar dari puluhan orang ini memiliki bentuk wajah, tubuh atau pakaian yang aneh-aneh dan menyeramkan. Dua orang kakek raksasa yang dilihatnya tadi pun berada di situ. Anehnya, di antara tiga puluh orang lebih itu, sebagian berlutut menghadap kepada dua orang yang berdiri tegak di atas batu besar, akan tetapi sebagian lagi, kurang lebih setengahnya tetap berdiri dan menghadap dua orang itu dengan sikap yang jelas-jelas menyatakan bahwa mereka yang berdiri ini tidak mau tunduk! Dan dua orang kakek raksasa tadi termasuk di antara mereka yang berdiri dengan sikap angkuh.

Puluhan orang itu rata-rata sudah tua, di antara empat puluh tahun sampai ada yang sulit ditaksir berapa usianya. Dan Sui Cin melihat betapa hidung kakek gendut Dewa Kipas kini berkembang kempis tanda bahwa dia mencium sesuatu. Dia sendiri pun lapat-lapat dapat mencium bau yang bermacam-macam. Ada bau yang amis sekali, ada bau harum yang aneh.

Dia pun tahu bahwa di antara orang-orang yang berkumpul di situ tentu terdapat banyak datuk-datuk sesat yang selalu bergelimang dengan racun yang berbahaya. Pada saat dia membayangkan betapa di situ terdapat orang yang melepas racun ke dalam air sehingga telah membunuh puluhan orang, sungguh dia merasa ngeri dan bergidik. Agaknya mereka semua itu bukan manusia lagi, melainkan iblis-iblis jahat yang berhati kejam bukan main.

Laki-laki dan wanita yang berdiri di atas batu besar itu kini memandang ke bawah. Wajah mereka yang tertimpa sinar bulan itu nampak kehijauan, akan tetapi tidak memperlihatkan perasaan apa pun saat pandang mata mereka melihat betapa sebagian dari mereka yang muncul itu tidak berlutut.

Wanita berambut riap-riapan putih itu kini mengangkat tangan kanan ke atas, kemudian terdengar suaranya, suara yang lantang namun melengking halus, menusuk anak telinga. "Kawan-kawan yang sudah menunjukkan penghormatan kepada kami, kami menerimanya dan silakan kalian duduk dan berkumpul di sebelah kanan!" Jarinya menuding ke kanan.

Mereka yang berlutut itu, berjumlah belasan orang, lalu bangkit dan berkumpul di sebelah kanan, di mana mereka lalu duduk dengan santainya di atas rumput. Akan tetapi, dasar orang-orang kasar yang tak pernah mengindahkan kesopanan dan aturan, mereka duduk seenaknya, ada yang jongkok, ada yang mekangkang, ada pula yang setengah tiduran.

Tinggal belasan orang yang merupakan kelompok yang sejak tadi berdiri saja, tidak mau berlutut seperti yang lain. Dan di tengah-tengah mereka, kini bahkan berada paling depan, berdiri seorang kakek yang sudah dikenal oleh Sui Cin, yakni kakek buta yang terkenal dengan julukan Iblis Buta! Itulah Siangkoan Lo-jin, kakek yang berpakaian petani hitam sederhana, yang matanya buta hanya nampak putihnya saja dan melek terus, kakek yang menjadi datuk sesat dan yang pernah memimpin sebagian dari anggota Cap-sha-kui.

Siangkoan Lo-jin atau Iblis Buta itu kini berdiri tegak dengan tongkat kayu cendana hitam di tangannya. Sikapnya tegak dan angkuh berwibawa dan agaknya inilah yang membuat belasan orang datuk lainnya, termasuk pula mereka dari Cap-sha-kui, berani untuk berdiri di belakangnya menentang suami isteri yang merupakan raja dan ratu baru di kalangan sesat, akan tetapi yang belum pernah mereka rasakan sendiri kehebatan mereka itu.

Mereka semua adalah kaum sesat yang pernah mendengar nama Raja Iblis dan Ratu Iblis dari Goa Tengkorak, akan tetapi karena selama puluhan tahun suami isteri ini tidak pernah muncul, maka mereka pun tidak pernah bertemu dengan mereka dan kini mereka sangsi apakah benar suami isteri itu amat hebat dan lebih tangguh dari pada Si Iblis Buta!

Wanita itu kembali menghadapi mereka yang berdiri di bawah dan suaranya masih tetap terdengar melengking nyaring dan tidak ada bedanya dengan tadi, tidak memperlihatkan kemarahan, hanya terdengar lebih dingin.

"Dan kalian yang berani menentang kami dengan pandang mata dan sikap, kami masih memberi kesempatan untuk bicara dan mengemukakan alasan mengapa kalian tidak mau tunduk kepada kami, Raja dan Ratu kalian!"

Belasan orang yang tetap berdiri tegak dan tidak mau tunduk itu tampak ragu-ragu. Sikap wanita itu biar pun nampak halus namun sungguh mengandung suatu wibawa yang amat menyeramkan, dan lebih-lebih lagi sikap pria yang berdiri tegak di atas batu besar tanpa mengeluarkan sepatah kata itu, yang hanya melihat dengan matanya yang mengeluarkan sinar hijau laksana mata iblis. Agaknya Raja Iblis ini memang jarang bicara dan isterinya, Ratu iblis itu yang menjadi juru bicara untuknya.

Nama seseorang memang mempunyai pengaruh besar. Walau pun belum pernah melihat kelihaian Raja dan Ratu Iblis itu, namun tiga belas orang Cap-sha-kui yang kini berkumpul semua, bersama beberapa orang datuk sesat lainnya dan dipelopori oleh Iblis Buta, sudah pernah mendengar kesaktian suami isteri bangsawan yang kini menjadi manusia iblis itu. Maka, bagaimana pun juga, ada perasaan gentar di dalam lubuk hati mereka.

Hanya karena di situ terdapat Siangkoan Lo-jin Si Iblis Buta yang menjadi pelopor, maka mereka masih berbesar hati karena mereka semua sudah melihat sendiri kesaktian Iblis Buta ini yang sudah mereka akui sebagai pemimpin, atau setidaknya beberapa orang di antara Cap-sha-kui telah mengakuinya. Kini, mendengar pertanyaan serta kata-kata Ratu Iblis, belasan orang itu lalu memandang ke arah Siangkoan Lo-jin, mengharapkan tokoh pemimpin ini yang akan menjawab.

Siangkoan Lo-jin yang buta itu maklum melalui pendengaran dan perasaan hatinya bahwa rekan-rekannya mengharapkan dirinya sebagai pemimpin untuk menghadapi suami isteri yang begitu muncul sudah menentukan dan mengangkat diri sendiri sebagai raja dan ratu para datuk. Dia menjadi marah.

"Tukk! Tukk! Tukk!" Tiga kali ujung tongkat kayu cendana yang berada di tangannya itu menotok, di atas sebongkah batu yang berada di depan kakinya.

Totokan-totokan itu nampaknya perlahan saja, akan tetapi sebongkah batu itu retak-retak dan ketika tongkat kakek buta mendorong, batu itu pecah menjadi empat potong! Betapa hebat tenaga sinkang kakek buta ini yang disalurkan melalui tongkatnya!

"Seorang pemimpin dinilai dari perbuatannya, bukan dari namanya atau pun omongannya! Kalian datang-datang mengangkat diri menjadi raja dan ratu dan minta agar kami tunduk dan taat. Kami bukan anak kecil yang bisa kalian takut-takuti begitu saja. Aku Siangkoan Lo-jin, minta bukti apakah kalian memang sudah pantas untuk memimpin kami!"

Melihat betapa pemimpin ini sudah berani maju menentang, tiba-tiba saja suami isteri dari Kui-kok-pang, yaitu Kui-kok Lo-mo dan Kui-kok Lo-bo juga berloncatan ke depan dengan sikap menantang.

"Kami juga penasaran!" kata Kui-kok Lo-bo dengan suara melengking. "Melihat keadaan kalian, tidak lebih hebat dari pada aku dan suamiku. Mana mungkin kami berdua mau tunduk dan taat kepada kalian kalau kami belum tahu sampai di mana kesaktian kalian?"

Kui-kok Lo-bo memandang dengan mata terbelalak. Nenek ini sesungguhnya tidak kalah angkernya dibandingkan dengan nenek yang berdiri di atas batu besar. Dia dan suaminya memang merasa penasaran sekali. Mereka merupakan suami isteri yang terkenal sebagai sepasang iblis, ketua Kui-kok-pang (Perkumpulan Lembah Iblis) dan merupakan dua tokoh Cap-sha-kui yang ditakuti.

Kini muncul suami isteri yang seolah-olah hendak menyaingi mereka, dan melihat betapa suami isteri yang baru muncul lantas mengangkat diri sendiri menjadi Raja Iblis dan Ratu Iblis, tentu saja Kui-kok Lo-bo merasa penasaran. Kakek nenek di atas batu itu nampak seperti orang-orang biasa saja.

Dan memang keadaan suami isteri Kui-san-kok ini lebih menyeramkan jika dibandingkan dengan Raja dan Ratu Iblis itu. Suami isteri ini berpakaian putih-putih dan muka mereka pun putih pucat, seperti muka mayat. Mata mereka mencorong mengerikan dan kekejian mereka sudah sangat terkenal di seluruh dunia kang-ouw. Jauh lebih mengesankan dari pada suami isteri biasa sederhana yang kini berdiri di atas batu besar itu.

Sejenak nenek berambut putih itu memandang kepada suami isteri yang berdiri bertolak pinggang menentangnya di bawah batu itu tanpa perubahan air muka, hanya sepasang matanya berkedip-kedip dan sinar pandangan matanya menyambar ganas. Dengan suara tetap halus akan tetapi nadanya semakin dingin saja, akhirnya dia pun bertanya sambil memandang ke arah sekelompok orang yang berdiri di sebelah belakang Iblis Buta dan sepasang Iblis Kui-kok-pang itu,

"Masih ada lagikah yang merasa penasaran dan yang hendak menentang kami selain tiga ekor monyet ini?"

Sungguh pun di sana berkumpul datuk-datuk sesat yang amat kejam seperti sekumpulan Cap-sha-kui, namun selain ketiga orang itu ternyata tidak ada lagi yang berani menentang secara terang-terangan. Mereka merasa akan lebih aman apa bila menunggu dan melihat bagaimana kelanjutan dari sikap Iblis Buta dan suami isteri Kui-kok-pang itu.

Sementara itu, mendengar bahwa dirinya disebut ‘tiga ekor monyet’, tentu saja Iblis Buta dan suami isteri Kui-kok-pang menjadi marah bukan main. Itulah penghinaan yang hebat! Sekali. Namun, merasa betapa derajatnya lebih tinggi, yaitu sebagai pemimpin sebagian dari tokoh Cap-sha-kui termasuk suami isteri Kui-kok-pang itu, Iblis Buta hanya diam saja, membiarkan bawahannya untuk bertindak lebih dahulu.

Lagi pula dia sendiri belum mengenal kelihaian lawan, maka kalau lawan telah bergebrak melawan suami isteri Kui-kok-pang, dia dapat menggunakan pendengarannya yang tajam untuk mengikuti gerakan mereka dan mengukur sampai di mana kelihaian dua orang itu.

"Kawan-kawan semua yang sudah datang memenuhi undangan kami, kami berdua ingin mengucapkan selamat datang dan terima kasih atas perhatian kalian. Percayalah, kami berdua Raja dan Ratu kalian hendak mendatangkan suasana baru bagi kita semua, dan sudah waktunya bagi kita untuk menguasai dunia! Sekarang, kalau ada yang tidak setuju bahwa kami berdua yang menjadi Raja dan Ratu, dan bila ada yang hendak menentang, kami persilakan naik ke atas batu ini. Apa bila kami sampai dapat digusur turun dari atas batu ini, biarlah kami tidak akan banyak bicara lagi dan kembali ke tempat pertapaan kami lalu tinggal di sana sampai mati. Nah, hayo, siapa hendak naik? Tiga ekor monyet ini?"

Sikap dan ucapan nenek berambut putih itu sungguh menyakitkan hati Kui-kok Lo-mo dan Kui-kok Lo-bo. Mereka melihat bahwa batu besar itu cukup luas, luasnya tidak kurang dari lima meter persegi. Memang kurang luas untuk menjadi tempat perkelahian, akan tetapi, mereka maju bersama dan mereka berdua sudah mempunyai ilmu gabungan yang dapat dimainkan oleh mereka berdua. Tempat yang sempit itu bahkan menguntungkan apa bila mereka maju bersama.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner