ASMARA BERDARAH : JILID-27


"Perempuan sombong, biarkan kami yang mencoba untuk menyeret kalian turun!" Bentak Kui-kok Lo-bo yang berwatak keras dan galak.

Dia mendahului suaminya meloncat dan tampaklah dua bayangan berkelebat cepat ketika suami isteri ini melayang naik ke atas batu dan dalam waktu sekejap mata saja mereka telah berdiri berdampingan, menghadapi nenek berambut putih yang menyambut mereka dengan sikap dingin dan mata mencorong penuh selidik.

Ada pun suaminya, yaitu kakek berambut putih riap-riapan itu, agaknya sama sekali tidak mempedulikan, bahkan kini dia mengundurkan diri dan duduk bersila di sudut permukaan batu, kemudian memejamkan kedua matanya seperti orang bersemedhi.

"Agaknya kalian berdua ini yang disebut Sepasang Iblis Kui-kok-pang, dua orang di antara Cap-sha-kui. Sayang, mulai sekarang Cap-sha-kui harus merasa puas dengan sebutan Cap-it-kui (Sebelas Iblis) saja," kata nenek berambut putih.

Mata suami isteri Kui-kok-pang itu mendelik. Penghinaan ini bahkan lebih hebat dari pada makian monyet tadi, karena ucapan itu sangat meremehkan mereka, memastikan bahwa mereka berdua tentu akan tewas sehingga jumlah Cap-sha-kui (Tiga Belas Iblis) hanya akan tinggal sebelas orang lagi saja.

"Perempuan sombong, engkaulah yang akan mampus di tangan kami!" bentak Kui-kok Lo-bo yang sudah menubruk ke depan. Kedua lengannya tadinya terkembang, kemudian menubruk dengan sepuluh jari tangan membentuk cakar setan. Gerakannya begitu cepat dan mengandung sinkang amat kuat sehingga mengeluarkan bunyi angin bersiutan!

"Plakk! Plakk!"

Dua kali tangan nenek berambut putih menangkis dan tubuh Kui-kok Lo-bo terdorong dan hampir terjengkang. Tentu saja dia terkejut bukan main ketika merasa betapa dorongan tangan lawan itu lunak dan lembut, akan tetapi di balik kelembutan itu terkandung tenaga dahsyat yang tenang seperti air telaga sehingga tenaga sinkang-nya sendiri yang bersifat keras itu seperti tenggelam ke dalamnya!

Itulah semacam tenaga halus yang amat hebat, yang membuat telapak tangan wanita itu bagaikan kapas halusnya akan tetapi mengandung tenaga dahsyat yang sewaktu-waktu dapat dikeluarkan untuk mengirim serangan maut dari balik kelembutan.

Pada waktu isterinya terdorong mundur, Kui-kok Lo-mo yang sangat terkejut melihat cara lawan menangkis isterinya dan mampu membuat isterinya terhuyung, telah mengeluarkan teriakan nyaring lantas dia pun menerjang maju mengirim pukulan dengan tangan kanan terbuka ke arah dada lawan. Kali ini, angin yang berhembus lebih kuat dari pada gerakan Kui-kok Lo-bo dan tangan maut itu menyambar dahsyat, mengeluarkan suara berdesing.

Nenek rambut putih mengenal pukulan dahsyat, maka dia pun segera mengelak. Dengan gerakan yang gesit tubuhnya menyelinap ke samping, akan tetapi bukan hanya sekedar mengelak karena sambil mengelak kakinya melayang ke arah selangkang lawan.

"Wuuuttttt...!"

Kui-kok Lo-mo cepat meloncat ke belakang sehingga tendangan yang amat berbahaya itu lewat di depan tubuhnya. Menggunakan kesempatan ini, Kui-kok Lo-bo sudah menerjang lagi dari belakang, mencengkeram ke arah tengkuk lawan, ada pun tangannya yang lain cepat menusuk ke arah lambung dengan jari-jari tangan ditegakkan. Sungguh merupakan serangan maut yang amat berbahaya, dilakukan dari belakang tubuh lawan pula!

Akan tetapi nenek rambut putih itu sama sekali tidak kelihatan terkejut atau gugup dalam menghadapi serangan dari belakang ini. Cepat dia menarik tubuh atas ke belakang sambil memutar tubuh, menangkis tusukan ke arah lambungnya itu, sedangkan cengkeraman ke arah tengkuknya luput. Secepat kilat dia lalu menggerakkan kepala dan rambutnya yang putih dan riap-riapan itu tiba-tiba saja berubah kaku seperti kawat-kawat baja menyambar ke depan.

Bukan main hebatnya serangan ini! Di dunia persilatan ada ilmu mempergunakan rambut sebagai senjata akan tetapi biasanya rambut itu dikuncir sehingga jika kepala digerakkan, kuncir yang tebal itu dapat menghantam seperti ujung toya.

Tapi ilmu mempergunakan rambut nenek ini lain lagi. Rambutnya tidak dikuncir melainkan riap-riapan sehingga menurut nalar, rambut yang riap-riapan ini tentu saja tidak memiliki daya kekuatan. Akan tetapi hebatnya, begitu nenek ini menggerakkan kepalanya, rambut putih yang riap-riapan dan beribu-ribu banyaknya itu menjadi tegang seperti kawat-kawat baja halus menyambar ke arah lawan.

Kui-kok Lo-bo terkejut bukan main ketika tubuhnya dari dada sampai kepala diserang oleh rambut-rambut putih yang menjadi kaku itu. Dia cepat melempar tubuh ke belakang, akan tetapi masih saja ada rambut yang menyentuh kulit lehernya sehingga kulit leher itu pun terluka berlubang-lubang seperti ditusuki jarum-jarum halus! Memang bagi wanita iblis ini tidak terlampau nyeri, akan tetapi cukup mengejutkan karena ternyata kekebalan kulitnya tidak dapat bertahan terhadap rambut-rambut putih halus itu.

Sementara itu, Kui-kok Lo-mo telah menyerang kembali dengan pukulan-pukulan dahsyat. Juga Lo-bo cepat membantu suaminya dan sebentar saja nenek berambut putih itu sudah dikeroyok dua oleh sepasang iblis dari Kui-kok-pang. Perlu diketahui bahwa suami isteri Kui-kok-pang itu sering kali melatih diri bersama, mempelajari berbagai ilmu pukulan yang ampuh-ampuh sehingga mereka berdua merupakan pasangan yang dapat bekerja sama dengan baik.

Akan tetapi, nenek yang keadaannya tidak mengesankan itu ternyata lincah bukan main dan dia seperti mempermainkan kedua orang pengeroyoknya! Gerakannya begitu mantap dan cepat sehingga ke mana pun kedua orang lawannya menyerang, dia telah siap untuk mengelak atau menangkis, bahkan hampir selalu dia membalas secara langsung setiap serangan dengan tak kalah dahsyatnya. Hebatnya, makin dahsyat serangan lawan, makin dahsyat pula dia membalas, seakan-akan kedahsyatan serangannya tergantung kepada serangan lawan.

Hui Song dan Sui Cin yang nonton dari tempat persembunyian mereka, terbelalak kagum. Mereka berdua sudah maklum akan kesaktian suami isteri Kui-kok-pang itu. Akan tetapi saat melihat betapa nenek rambut putih itu dapat mempermainkan pengeroyokan mereka, sungguh hal ini amat mengejutkan dan mengagumkan. Kini mengertilah mereka mengapa dua orang kakek sakti seperti Dewa Arak dan Dewa Kipas itu nampak jeri terhadap Raja dan Ratu Iblis!

Perkelahian di atas batu itu menjadi makin seru. Bagaimana pun juga harus diakui bahwa Kui-kok Lo-mo dan Kui-kok Lo-bo adalah dua orang datuk sesat yang sudah mempunyai kedudukan tinggi sehingga mengalahkan pengeroyokan dua orang ini bukan merupakan hal yang mudah, biar pun bagi nenek berambut putih itu sekali pun.

Memang benar bahwa nenek itu menang segala-galanya, baik kekuatan sinkang mau pun kepandaian silat dan ketinggian ginkang. Namun berkat kerja sama yang sangat kompak, suami isteri iblis dari Kui-san-kok itu dapat bertahan dan menjaga diri.

Mereka berdua terdesak hebat dan kini bahkan sukar untuk membalas serangan nenek itu yang dibantu oleh rambutnya itu. Bagaikan gelombang samudera, nenek itu mengirim serangannya susul-menyusul, dengan kedua tangan, kedua kaki, sambil diselingi dengan gerakan rambutnya yang amat berbahaya.

Oleh karena merasa kewalahan, suami isteri dari Kui-kok-pang itu menjadi penasaran dan marah. Walau pun mereka bertangan kosong dan nenek rambut putih itu juga bertangan kosong, akan tetapi penggunaan rambut nenek itu malah lebih merepotkan dari pada bila lawan menggunakan senjata.

Maka mereka pun mengeluarkan bentakan nyaring, lantas nampaklah sinar berkelebat di bawah bayangan cahaya bulan yang kini bersinar terang. Tahu-tahu Kui-kok Lo-mo sudah memegang sebatang pedang panjang lemas yang tadinya dipakai sebagai ikat pinggang, ada pun isterinya sudah memegang dua buah pisau belati yang tajam mengkilat. Dengan senjata di tangan, mereka lalu mengamuk dan menyerang kalang kabut.

"Plakk! Plakk! Plakk!"

Hampir saja Sui Cin berseru saking kagumnya. Nenek rambut putih itu tidak hanya pandai mengelak, bahkan berani menangkis pedang dan pisau yang amat tajam itu dengan dua lengannya! Kulit lengannya menjadi lunak sekali sehingga ketika bertemu dengan senjata tajam, sama sekali tidak terluka akibat tenaga bacokan senjata-senjata itu lenyap disedot oleh kulit pembungkus daging yang lunak dan ulet seperti kapas di udara yang tidak akan rusak terbacok senjata tajam.

Betapa pun juga, nenek itu belum berani menerima senjata-senjata yang digerakkan oleh tangan-tangan yang memiliki tenaga sinkang amat kuat itu dengan tubuhnya. Yang berani beradu dengan senjata-senjata tajam itu hanyalah kedua lengannya saja yang agaknya sudah terlatih dengan amat baiknya.

"Tringgg...! Crakkk...! Tranggg...!"

Bunga api berpijar ketika ujung pedang mencium permukaan batu, membuat debu batu bertaburan. Nenek itu harus melipat gandakan kecepatannya ketika dua kakinya diserang dengan babatan pedang sedangkan pada saat yang sama Kui-kok Lo-bo menggerakkan sepasang belatinya mengarah jalan-jalan darah yang berbahaya.

Sesudah suami isteri itu mempergunakan senjata, perkelahian menjadi semakin seru dan menegangkan. Semua orang yang hadir di sana, baik yang sekelompok dan kini duduk di sebelah kanan mau pun mereka yang masih berdiri di belakang Iblis Buta, nonton dengan perasaan tegang. Bagi mereka, yang berkelahi itu seolah-olah mewakili golongan masing-masing, yaitu golongan yang tunduk kepada Raja dan Ratu Iblis dengan golongan yang menentang.

Walau pun Sui Cin harus mengakui bahwa nenek berambut putih itu memang lihai sekali sehingga tidak sampai kalah meski dikeroyok suami isteri iblis dari Kui-kok-pang itu yang keduanya bersenjata tajam, akan tetapi dia masih merasa ragu-ragu apakah orang-orang seperti Dewa Arak atau Dewa Kipas harus takut menghadapinya. Menurut penilaiannya, tingkat kepandaian dua orang kakek itu belum tentu kalah oleh nenek berambut putih itu, akan tetapi mengapa mereka berdua nampak sedemikian takutnya menghadapi Raja dan Ratu Iblis? Dia menaksir bahwa kalau hanya dapat mengimbangi kepandaian dua orang suami isteri Kui-kok-pang itu saja, ayahnya atau ibunya belum tentu akan kalah!

Akan tetapi tiba-tiba kakek katai menyentuh lengannya dan menudingkan jari telunjuknya ke arah batu di mana perkelahian masih berlangsung dengan serunya. Dan Sui Cin yang tadinya termenung itu sekarang terbelalak. Kedua orang suami isteri Kui-kok-pang itu kini kelihatan terhuyung-huyung!

Yang membuat Sui Cin terheran-heran dan merasa ngeri adalah ketika dia melihat betapa kedua tangan suami isteri itu kini berubah menjadi hijau, juga muka mereka yang tadinya pucat seperti muka mayat itu tiba-tiba berubah menjadi kehijauan! Dan dia, sebagai puteri suami isteri pendekar sakti, dapat menduga apa artinya itu. Suami isteri Kui-kok-pang itu ternyata telah keracunan secara hebat sekali. Inilah sebabnya mengapa gerakan mereka menjadi kacau dan lemah.

Padahal nenek berambut putih itu sama sekali tak pernah kelihatan menggunakan racun! Dari mana datangnya racun yang menguasai suami isteri itu? Dan kedua suami isteri Iblis Kui-kok-san itu pun merupakan datuk-datuk sesat yang tidak asing dengan segala macam racun, bagaimana mungkin mereka dapat keracunan semudah itu?

Tiba-tiba saja nenek berambut panjang itu mengeluarkan suara bentakan melengking, lalu tubuhnya bergerak cepat dan tahu-tahu sepasang pisau dan pedang itu telah terbang dari tangan para penyerangnya. Suami isteri itu nampak sangat terkejut, akan tetapi mereka menggunakan tangan kosong untuk melawan terus. Bahkan sekarang mereka mengamuk secara nekat, melihat betapa tubuh mereka telah dipengaruhi hawa racun hijau yang tidak menimbulkan rasa nyeri, akan tetapi membuat tubuh mereka makin lama semakin lemas.

"Hyaaattttt…!" tiba-tiba Kui-kok Lo-bo menubruk dengan kedua tangan membentuk cakar setan.

Nenek ini sudah nekat karena merasa betapa sebetulnya dia dan suaminya dipermainkan, karena kalau dikehendaki, agaknya sejak tadi dia dan suaminya sudah dapat dikalahkan. Dia tadi sudah mencoba menggunakan pil anti racun untuk menyembuhkan keracunan itu dengan menelannya, akan tetapi tidak ada hasilnya sama sekali. Maka dia berlaku nekat, kalau perlu hendak mengadu nyawa dengan lawan.

Karena itu serangannya itu hebat bukan main, tidak mempedulikan daya pertahanan lagi, melainkan mengerahkan seluruh tenaga dan perhatian untuk mencengkeram tubuh lawan. Tentu saja dia menyerang sambil mengerahkan tenaga sinkang yang membuat sepasang tangannya berubah hitam dan mengandung hawa beracun yang amat berbahaya.

Akan tetapi karena racun hijau itu mulai menguasai dirinya, gerakannya menjadi kurang cepat dan lawannya dengan mudah saja dapat mengelak, bahkan kini lawannya berhasil menangkap kedua pergelangan tangan Kui-kok Lo-bo. Sebelum Lo-bo dapat mencegah, tahu-tahu ada sinar putih berkelebat lantas rambut-rambut putih yang riap-riapan itu telah bergerak menyerang mukanya!

Terdengar jerit mengerikan ketika rambut-rambut halus yang sudah berubah menjadi kaku meruncing itu menerkam muka dan leher Kui-kok Lo-bo. Ketika nenek berambut putih itu melepaskan pegangan sambil mendorong, tubuh Kui-kok Lo-bo terjengkang dan terlempar jauh dari atas batu, terbanting ke atas tanah dan di situ tubuhnya berkelojotan. Muka dan lehernya mandi darah, juga sepasang matanya rusak dan hancur karena tusukan-tusukan rambut-rambut itu!

Melihat isterinya roboh, Kui-kok Lo-mo menjadi marah dan mata gelap. Dia lupa bahwa sudah jelas dia bukan lawan nenek rambut putih, akan tetapi dia sudah nekat dan sambil berseru keras dia pun memukul dengan tangan kanannya ke arah kepala nenek berambut putih, sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah perut.

Serangan kedua tangan ini hebat bukan main. Meski pun kakek ini juga sudah keracunan dan tenaganya banyak berkurang, namun pengerahan sinkang dalam keadaan marah ini melipat gandakan kekuatannya sehingga dua serangan itu sangat dahsyat dan berbahaya sekali.

Nenek rambut putih itu cepat menyambut cengkeraman itu dengan pukulan kedua tangan miring ke bawah, sedangkan tangan yang menghantam ke arah kepalanya itu dia sambut dengan rambutnya. Akan tetapi kali ini rambut di kepalanya tidak bergerak sendiri-sendiri, melainkan menjadi bergumpal sebesar lengan dan dengan kekuatan dahsyat menyambut pukulan tangan kanan Kui-kok Lo-mo dengan tangkisan dari atas ke bawah pula, seperti sebuah lengan atau sebatang toya baja menangkis.

"Krakkk…! Krekkk...!"

Kui-kok Lo-mo meloncat ke belakang dan mukanya yang pucat agak kehijauan menjadi semakin pucat. Kedua lengannya tergantung lemas dan tidak berdaya lagi karena tulang-tulang kedua lengannya patah-patah oleh tangkisan gumpalan rambut serta kedua tangan nenek itu! Dalam satu jurus saja, kedua lengannya menjadi tidak berdaya dan tidak dapat dipergunakan untuk menyerang lagi.

"Haiiiittt...!" Biar pun sepasang lengannya sudah lumpuh, Kui-kok Lo-mo masih tidak mau mundur. Sudah kepalang baginya.

Isterinya telah tewas dan betapa pun juga, tak mungkin dia mundur menelan penghinaan dan kekalahan begitu saja di depan begitu banyak orang. Akan dikemanakan mukanya? Namanya akan hancur dan menjadi buah tertawaan orang bila dia mundur dan mengaku kalah. Maka, sambil mengeluarkan pekik yang nyaring tadi, kedua kakinya bergerak dan tubuhnya melayang ke atas, lalu kedua kaki melakukan tendangan dahsyat sekali.

"Plakkk! Brukkk...!"

Tubuh Kui-kok Lo-mo terbanting keras di atas batu ketika nenek itu mengelak ke samping sambil menangkis dengan lengannya. Akan tetapi Kui-kok Lo-mo bangkit kembali dengan loncatan karena kedua tangannya tidak dapat dipergunakan untuk menyangga tubuhnya, lantas dengan nekat dia menendang lagi. Akan tetapi, empat kali dia menendang, empat kali pula tubuhnya terbanting sebab setiap tendangan dapat dielakkan dengan mudah oleh lawannya, bahkan tangkisan keras lawan membuat tubuhnya terpelanting dan terbanting.

"Aaahhhh...!" Tiba-tiba Kui-kok Lo-mo mengambil posisi menunduk seperti seekor kerbau mengamuk dan hendak mempergunakan tanduk menyerang. Akan tetapi karena Kui-kok Lo-mo tidak bertanduk, pada saat dia lari menyeruduk ke depan, dia hanya menggunakan kepalanya yang menerjang dan menyeruduk ke arah perut nenek berambut putih itu.

Serangan semacam ini jangan dipandang ringan! Bukan hanya kaki tangan kakek itu yang terlatih dan dapat disaluri tenaga sinkang sehingga mampu menghancurkan batu karang. Akan tetapi kepalanya juga menjadi anggota badan yang dapat dipakai untuk menyerang. Serudukan kepala itu sangat berbahaya. Bahkan tembok tebal sekali pun akan jebol kalau diseruduk kepala yang penuh dengan tenaga sinkang ini.

Sui Cin dan Hui Song yang sejak tadi melihat semua peristiwa itu dengan mata jarang berkedip, kini memandang penuh perhatian. Mereka tahu bahwa nenek berambut putih itu tentu akan mengelak. Akan tetapi betapa kagetnya hati mereka melihat bahwa nenek itu sama sekali tidak mau mengelak, bahkan dia menerima kepala yang menyeruduk ke arah perutnya yang kecil itu.

"Ceppp...!"

Terdengar suara nyaring ketika kepala itu membentur perut dan... kepala itu menancap ke dalam perut. Perut yang ramping itu laksana menjadi kosong dan kepala Kui-kok Lo-mo masuk ke dalam rongga perut, disedot sehingga tidak dapat dikeluarkan lagi!

Kui-kok Lo-mo terkejut bukan main. Dari hidungnya ke atas, kepalanya sudah terbenam ke dalam perut wanita itu. Dia hanya mampu bernapas melalui mulutnya dan dia merasa betapa kepalanya menjadi panas sekali, seperti dimasukkan ke dalam perapian! Dan ada gencatan amat kuat yang seolah-olah akan meledakkan kepalanya.

Kedua lengannya telah lumpuh, tidak dapat dipakai untuk menyerang, dan kedua kakinya pun tidak dapat melakukan tendangan karena terlalu dekat dengan lawan. Kini dia hanya dapat mengerahkan tenaga seadanya untuk meronta serta berusaha melepaskan diri dari sedotan perut itu.

Akan tetapi semua usahanya itu sia-sia belaka dan kepalanya terasa semakin nyeri dan panas. Demikian hebat rasa nyeri yang dideritanya hingga kedua kakinya meronta-ronta, kemudian terdengar mulutnya mengeluarkan pekik mengerikan ketika tubuhnya terlempar dari atas batu karena wanita berambut putih itu secara tiba-tiba menggerakkan perutnya dan tenaga dari perut itu menendang kepala Kui-kok Lo-mo sehingga tubuhnya terpental ke bawah batu, tepat di sisi tubuh isterinya yang masih berkelojotan. Dari telinga, hidung dan mulutnya bercucuran darah dan mulutnya mengeluarkan suara ngorok seperti seekor babi disembelih.

Melihat tubuh kakek dan nenek itu berkelojotan dalam keadaan sekarat, Sui Cin merasa ngeri sekali. Betapa sadisnya nenek berambut putih itu, pikirnya. Biar pun dia ingat bahwa kakek dan nenek itu juga merupakan iblis-iblis berujud manusia, akan tetapi menyaksikan kekejaman sedemikian hebatnya terjadi di depan matanya, hampir dia tak dapat bertahan untuk meloncat keluar dan menyerang nenek iblis itu! Akan tetapi Dewa Arak yang berada di dekatnya agaknya tahu akan isi hati gadis ini, maka beberapa kali kakek itu menepuk pundak atau lengan Sui Cin untuk menyabarkannya.

Sementara itu Siangkoan Lo-jin kini menggerakkan kedua kakinya lalu tubuhnya mencelat ke atas batu besar, berhadapan dengan nenek berambut putih yang kini sudah bertolak pinggang menanti lawan itu. Biar pun buta, akan tetapi kakek berambut putih itu tadi dapat mengikuti jalannya perkelahian dengan baik, hanya menggunakan pendengarannya saja.

Bahkan lebih dari pada mereka yang mempunyai mata sehat, dia mampu mengenal dan meneliti gerakan-gerakan nenek berambut putih itu, dapat mengetahui di mana saja letak kekuatannya dan di mana pula letak kelemahannya. Kini, dengan tenang dia berhadapan dengan nenek itu, memegang tongkatnya dengan tangan kiri.

"Hemm, sobat. Agaknya kini tinggal aku seorang saja yang berani menentang kalian. Mari majulah dan kita akan selesaikan urusan ini dengan taruhan darah dan nyawa."

Melihat sikap kakek buta ini, nenek berambut putih nampak ragu-ragu. Biar pun buta tapi kakek ini tidak boleh dibuat main-main, tidak boleh dipandang ringan karena dia pun telah mendengar bahwa Siangkoan Lo-jin atau Iblis Buta ini telah berhasil menundukkan banyak tokoh sesat yang lihai, malah beberapa orang anggota Cap-sha-kui, termasuk pula suami isteri yang sudah dirobohkannya itu telah tunduk kepada Iblis Buta ini. Orang yang sudah dapat menundukkan mereka, apa lagi dalam keadaan buta, tentu mengandalkan ilmu silat yang luar biasa sehingga dia harus berhati-hati.

Agaknya sang suami maklum akan keraguan isterinya, karena suaminya itu tiba-tiba saja bangkit berdiri lantas melangkah maju. Tanpa bicara apa pun, si isteri agaknya maklum bahwa jika suaminya sudah maju sendiri, tak ada alasan baginya untuk mencampurinya. Maka dia pun mundur dan duduk bersila di sudut batu seperti yang dilakukan suaminya tadi. Kini kakek yang mukanya kehijauan itu berdiri berhadapan dengan Iblis Buta.

Siangkoan Lo-jin juga dapat mengikuti semua gerakan tadi, dan dia tahu bahwa nenek itu telah mundur, digantikan oleh seorang yang langkah kakinya perlahan namun getarannya terasa mempengaruhi batu besar itu hingga kakinya sendiri pun dapat merasakan getaran itu!

Diam-diam Siangkoan Lo-jin mengerutkan kedua alisnya dan maklum bahwa dia sedang berhadapan dengan seorang lawan yang amat tangguh. Akan tetapi dia adalah pemimpin para datuk sesat, selama ini dia dianggap raja, maka tentu saja ia akan mempertahankan kedudukannya itu yang hendak dirampas oleh suami isteri yang menyebut diri Raja Iblis dan Ratu Iblis itu.

"Apakah kini aku berhadapan dengan pangeran yang dijuluki Raja Iblis?" Slangkoan Lo-jin bertanya, tongkatnya mengetuk-ngetuk permukaan batu besar untuk mengenal keadaan.

"Kami adalah Pangeran Toan Jit Ong," untuk pertama kalinya terdengar kakek berambut putih riap-riapan itu bicara, suaranya halus dan tenang berwibawa, bagai suara dan sikap seorang bangsawan tinggi. "Kamu tentu orang she Siangkoan itu. Menyerahlah dan kami akan mengampunimu, lalu mengangkatmu menjadi pembantu kami!"

"Manusia sombong! Aku baru mau menyerah kalau kalah olehmu dan aku lebih baik mati jika sampai kalah oleh orang lain!" Selesai berkata demikian, si buta telah menggerakkan tongkatnya.

"Wirrrr...! Siuuuuttt...!"

Nampak cahaya hitam bergulung-gulung lalu mencuat ke arah kakek berambut putih yang mengaku bernama Pangeran Toan Jit Ong itu. Serangan ini dahsyat sekali karena tongkat kayu cendana itu digerakkan dengan tenaga sinkang yang amat kuat.

Pangeran yang dijuluki Raja Iblis itu agaknya mengenal serangan ampuh, maka cepat dia menggerakkan tubuhnya. Yang amat mengagumkan adalah bahwa gerakan itu dilakukan seenaknya saja dan tidak tergesa-gesa, dan hanya menarik kaki menggeser tubuh maka serangan tongkat itu luput dan lewat di samping tubuhnya.

Akan tetapi kakek buta itu memang lihai bukan main. Biar pun matanya buta, akan tetapi pendengarannya dapat mengikuti semua gerakan lawan dan walau pun tongkatnya luput dalam serangan pertama, akan tetapi tongkat itu seperti hidup dan dapat mengejar lawan dengan susulan serangan yang lebih dahsyat lagi, kini menghantam dari atas ke bawah!

"Wuuuttt...! Tarrr...!"

Bunga api berpijar ketika tongkat itu menghantam batu dan debu berhamburan. Hebat bukan kepalang tenaga pukulan ini. Batu besar itu tergetar dan dapat dibayangkan kalau hantaman seperti itu mengenai kepala atau anggota badan lainnya.

Sampai lima kali pangeran yang kini menjadi datuk sesat itu mengelak, dengan gerakan seenaknya saja, kemudian tahu-tahu tubuhnya mencelat ke tempat tadi dalam keadaan duduk bersila.

"Kamu orang buta masih tidak berharga menjadi lawan kami!" katanya dan dia pun sudah memejamkan kedua matanya.

Agaknya sikap ini mudah dipahami oleh isterinya. Nenek yang tadinya juga duduk bersila itu telah meloncat ke depan, menyambut si buta yang menjadi marah dan mengejar lawan yang meninggalkannya. Ketika dia mendengar suara nenek itu bergerak menyambutnya, dia cepat menggerakkan tongkatnya menyapu dari samping.

Wanita berambut putih itu mengelak dengan satu loncatan tinggi. Ketika tongkat lewat di bawah kakinya, nenek itu membalas serangan dengan tamparan tangan dari atas. Akan tetapi Siangkoan Lo-jin juga telah melanjutkan babatan tongkat tadi dengan membalikkan tongkatnya dan kini gagang tongkat yang berbentuk kepala ular atau naga itu menyambut serangan nenek itu dengan dorongan kuat!

Hampir saja Ratu Iblis itu celaka ketika gagang tongkat itu menyambut dadanya langsung dari depan. Namun dia lihai bukan main. Dalam keadaan meloncat tadi, selagi tubuhnya melayang di udara dan didorong tongkat, tiba-tiba rambutnya menyambar ke depan ketika dia menggerakkan kepalanya dan ribuan helai rambut membelit ujung tongkat. Tubuhnya lantas terbawa oleh gerakan tongkat sehingga tubuh itu terpelanting, akan tetapi berkat rambutnya yang bertahan pada tongkat, maka dia tidak sampai terkena dorongan, juga tidak sampai terbanting ke atas batu.

Siangkoan Lo-jin terkejut sekali ketika tubuh lawan menempel seperti lintah di tongkatnya. Dia tidak dapat melihat, juga tidak dapat mengikuti gerakan rambut yang halus itu, hanya mengira bahwa lawannya tentu menggunakan semacam senjata lemas untuk menangkap ujung atau gagang tongkatnya. Maka dia segera memutar tongkatnya agar tubuh itu ikut terputar dengan cepat.

Untung bagi Ratu Iblis bahwa dia dapat menduga maksud lawan. Jika dia sampai terbawa berputar oleh tongkat pada rambutnya, dia dapat celaka, terbanting keras atau rambutnya tercabut dari kepala! Namun nenek ini cerdik sekali. Dia dapat menduga siasat lawannya, maka cepat ia melepaskan rambutnya pada satu kali putaran, dan dengan berjungkir balik di udara sampai lima kali ia dapat mematahkan tenaga putaran itu lalu melayang turun ke atas batu.

Namun Iblis Buta sudah menyambutnya lagi dengan hantaman-hantaman dahsyat hingga membuat nenek itu terpaksa berloncatan ke sana-sini dengan sigapnya, bagaikan seekor lalat saja.

"Dinda, jangan main-main, cepat bereskan dia!" terdengar kakek yang duduk bersila itu berkata. Dan tiba-tiba saja terdengar suara getaran lembut, seperti suara nyamuk yang beterbangan di dekat telinga. Akan tetapi suara mendengung itu makin lama semakin kuat sehingga menusuk telinga.

Sui Cin terkejut sekali. Suara mendengung yang tadinya lembut seperti suara nyamuk itu kini benar-benar merupakan suara yang amat menyiksa dan tahulah dia bahwa suara itu dikeluarkan oleh Raja Iblis, suara mengandung khikang yang sangat kuat, semakin lama semakin kuat. Terpaksa dia harus mengerahkan sinkang untuk bertahan, karena dia tahu bahwa apa bila dibiarkan saja, kekuatan yang tersembunyi dalam suara itu akan merusak jantungnya dan akan merusak telinganya.

Pada saat dia melirik ke arah Hui Song, dia pun melihat betapa pemuda itu juga sedang mengerahkan tenaga sinkang untuk melawan suara yang sangat menyiksa itu. Demikian juga dua orang kakek sakti. Maka tahulah Sui Cin bahwa memang suara mendengung itu amat kuat.

Dan sekarang terjadi perubahan pada perkelahian di atas batu besar. Jika tadi Siangkoan Lo-jin menggerakkan tongkatnya dengan ganas sehingga Ratu Iblis sibuk mengandalkan ginkang-nya untuk mengelak terus menerus, kini dia nampak seperti orang kebingungan. Jelas bahwa dia terserang suara itu dan hal ini sungguh membuat dia bingung. Biar pun dengan sinkang-nya yang kuat dia mampu bertahan sehingga suara mendengung itu tak sampai melukainya, namun tetap saja pendengarannya terganggu.

Untuk berkelahi dia sepenuhnya hanya mengandalkan pendengaran saja. Akan tetapi kini pendengarannya terganggu suara berdengung yang semakin kuat itu, menggetarkan anak telinga sehingga tak mungkin lagi dia bisa mengikuti gerakan Ratu Iblis dengan seksama. Maka kini dia hanya memutar tongkatnya secara ngawur saja, bagaikan sebuah perahu tanpa kemudi dan tanpa kompas. Sudah tentu saja menghadapi seorang lawan selihai Ratu Iblis, tidak mungkin dilawan dengan pemutaran tongkat secara ngawur.

"Plakkk!"

Sebuah tamparan yang sangat keras dari tangan kiri Ratu Iblis mengenai telinga kanan Siangkoan Lo-jin. Tamparan itu masuk menyelinap melewati putaran tongkat dan sama sekali tidak mampu dielakkan atau ditangkis oleh Siangkoan Lo-jin yang kini benar-benar menjadi seperti buta-tuli itu.

"Ahhh...!" Tubuh kakek itu terpelanting.

Tamparan itu sangat keras, bukan hanya mengandung tenaga sinkang akan tetapi juga mengandung hawa beracun. Seketika muka kakek buta itu yang sebelah kanan menjadi kehijauan dan telinga kanannya menjadi rusak. Darah segar mengalir keluar dari telinga itu!

Akan tetapi kakek buta itu memang hebat bukan main. Setua itu dia masih memiliki daya tahan yang mengagumkan. Padahal, apa bila orang lain yang terkena pukulan seperti itu, tentu akan roboh dan tewas, atau setidaknya terluka parah dan tak mampu melawan lagi. Namun begitu terpelanting, kakek ini mempergunakan tongkatnya melindungi tubuh agar tidak menerima serangan susulan, lantas sekali menggerakkan tubuh dia sudah meloncat bangkit lagi dan memutar tongkatnya.

Kini bagaikan orang gila dia mengamuk, memutar tongkatnya sambil kakinya meraba-raba dan melangkah ke kanan kiri dengan tegapnya! Darah yang bercucuran keluar dari telinga kanannya tidak mengurangi kegesitannya.

Akan tetapi sekarang dia sungguh tidak berdaya, seperti seekor tikus menghadapi seekor kucing yang mempermainkan dirinya. Telinga kanannya sudah rusak, sedangkan telinga kirinya seperti tuli saja karena dipenuhi suara berdengung-dengung yang keluar dari dalam kerongkongan Raja Iblis.

Kini tahulah Sui Cin bahwa Raja Iblis itu secara lihai sekali menyerang dengan suara dan membuat Iblis Buta menjadi tidak berdaya sama sekali. Sungguh cerdik dan licik! Pantas saja dia tak mau melawan Siangkoan Lo-jin yang dianggapnya terlalu rendah atau terlalu lemah. Kiranya sekali berhadapan saja, Raja Iblis itu telah tahu apa yang harus dilakukan untuk melumpuhkan lawan dan isterinya saja sudah lebih dari cukup untuk menghadapi lawan ini.

"Desss...!"

Kembali Ratu Iblis memukul dan sekali ini pukulannya mengenai telinga kiri kakek buta itu. Kini darah juga mengucur keluar dari telinga kiri yang rusak dan tubuhnya terhuyung-huyung. Akan tetapi dia masih sanggup bertahan dan tidak roboh! Kembali dia memutar tongkatnya.

Sui Cin mengerutkan alisnya. Dia melihat betapa nenek berambut putih itu tersenyum dingin, senyum yang amat keji dan sinar mata yang mencorong itu kini berkilauan seperti mata seekor binaang buas yang haus darah. Penuh kesadisan! Tahulah dia bahwa nenek itu sengaja tidak mau merobohkan lawan, melainkan hendak mempermainkannya terlebih dahulu.

Tiba-tiba suara mendengung itu lenyap dan hal ini benar-benar mendatangkan perasaan yang amat tidak enak dalam hati. Kalau tadi ada suara mendengung-dengung sehingga dia terpaksa harus mengerahkan tenaga sinkang untuk melawan, kini suara itu mendadak lenyap akan tetapi telinganya masih saja mendengar suara dengungan itu, seakan-akan selamanya tidak akan mau meninggalkan telinga.

Dan perasaan tidak enak ini dapat nampak pada wajah semua orang yang berada di situ, yang tadi pun semua mengerahkan sinkang melawan suara yang menyiksa itu. Sungguh hebat sekali serangan suara Raja Iblis.

Agaknya memang benar dugaan Sui Cin. Kini Ratu Iblis itu mempermainkan Siangkoan Lo-jin yang sudah tidak dapat menggunakan pendengarannya lagi. Wanita itu berloncatan ke sana sini dan begitu tiba di belakang kakek yang mengamuk ke depan, dia mengirim tamparan. Tidak cukup keras untuk dapat mematikan lawan, akan tetapi juga tidak terlalu perlahan karena setiap kali terkena tamparan, tubuh kakek itu segera terputar-putar dan terhuyung-huyung.

Muka kakek itu telah berlumuran darah. Darah bercucuran dari mulut, hidung dan telinga, bahkan kedua matanya menjadi sasaran-sasaran pukulan ringan yang cukup membuat biji mata yang tak dapat melihat itu pecah-pecah dan berdarah. Namun kakek itu dengan semangat pantang mundur melawan terus dengan napas terengah-engah!

Yang mengerikan, di antara para tokoh yang berada di kelompok yang menakluk kepada Raja dan Ratu Ibils, terdengar sorak-sorai dan tepuk tangan. Mereka itu nampak beringas, bagai harimau-harimau mencium darah, dan semakin tersiksa Si Iblis Buta maka semakin gembira pula suara mereka bersorak-sorak.

"Dinda, hentikan main-main itu. Bereskan dia!" Kembali terdengar Raja Iblis berkata.

"Dukkk...! Aughhhh...!"

Tubuh Siangkoan Lo-jin terjengkang dan terbanting jatuh ke bawah batu. Di atas tanah, tubuh itu berkelojotan akan tetapi tongkat hitam kayu cendana masih saja dipegangnya erat-erat. Kakek itu tewas dengan dada pecah dan dengan senjata masih di tangan!

Sui Cin menahan napas menahan isak. Dia tahu bahwa kakek buta itu juga seorang datuk sesat yang kejam seperti iblis. Akan tetapi melihat kakek ini tersiksa seperti itu, hatinya menjadi panas dan dia membenci Raja dan Ratu Iblis itu.

Akan tetapi dia masih ingat bahwa dia tidak boleh sembarangan menuruti perasaan hati terhadap dua orang yang benar-benar memiliki kepandaian amat hebat itu. Maka dia pun segera menahan diri, sejenak menundukkan muka dan mengumpulkan hawa murni untuk menenangkan batinnya yang terguncang.

Ketika dia mengangkat muka lagi, dia melihat betapa para iblis Cap-sha-kui dan semua datuk yang tadinya berdiri dengan sikap menentang di belakang Si Iblis Buta, kini telah menjatuhkan diri berlutut. Agaknya sekarang mereka maklum bahwa setelah suami isteri Kui-kok-pang dan Siangkoan Lo-jin sendiri tewas di tangan pangeran dan isterinya yang mengangkat diri menjadi Raja dan Ratu Iblis, tidak ada harapan lagi bagi mereka untuk dapat menang. Menentang suami isteri yang amat lihai itu berarti mencari kematian yang mengerikan.

Ratu Iblis tersenyum dingin melihat sebelas orang Cap-sha-kui dan dua orang tokoh sesat lainnya berlutut tanda menakluk. "Kalian tadi berani menentang kami, untuk hal itu saja sudah cukup bagi kami untuk membunuh kalian! Akan tetapi karena kalian sudah insyaf dan menyerah, kalian harus bersumpah untuk selamanya tak akan menentang kami lagi. Bersediakah kalian disumpah?"

Cap-sha-kui kini tinggal sebelas orang lagi karena suami isteri Kui-kok-pang telah tewas. Mereka adalah datuk-datuk sesat yang sangat lihai dan ditakuti, akan tetapi mereka juga maklum bahwa kini berhadapan dengan dua orang yang memiliki kepandaian amat tinggi. Dan mereka tahu pula bahwa nenek berambut putih itu tidak mengancam kosong belaka. Kalau mereka menolak untuk takluk dan bersumpah, tentu nenek itu tidak akan ragu-ragu turun tangan membunuh mereka semua!

"Kami bersedia!" Serentak mereka menjawab!

Nenek itu kemudian menghadap ke arah suaminya yang masih duduk bersila dan sambil menjura dia pun berkata, "Pangeran, silakan. Saya akan menyumpah mereka."

Pangeran Toan Jit Ong membuka matanya dan bangkit berdiri. Tubuhnya yang jangkung nampak semakin tinggi dan Sui Cin memandang penuh perhatian kepada kakek berambut putih ini. Tadi dia mendengar bahwa kakek ini bernama Pangeran Toan Jit Ong. Hal ini mengingatkan dia dengan sesuatu yang membuat dara ini diam-diam merasa jantungnya berdebar dan dia bergidik.

Ibunya, yang selama ini dianggapnya sebagai seorang wanita gagah perkasa, seorang pendekar wanita yang hebat, kabarnya pernah menjadi seorang datuk sesat di selatan! Dan ibunya itu pun she Toan! Kakeknya, yaitu ayah dari ibunya yang sudah meninggal, bernama Pangeran Toan Su Ong! Jangan-jangan masih ada hubungan keluarga di antara kakeknya, Toan Su Ong itu dengan Raja Iblis yang mengaku bernama Pangeran Toan Jit Ong ini. Apa bila benar demikian, berarti Raja Iblis masih kakeknya juga! Kakek paman! Sungguh mengerikan, pikirnya.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner