ASMARA BERDARAH : JILID-28


Dengan gerakan perlahan dan tenang sekali, kakek berambut putih itu lalu mengeluarkan sebuah tongkat pendek hitam dari pinggangnya, yaitu sebatang tongkat yang panjangnya hanya dua kaki dan dari jauh hanya nampak kehitaman. Kakek itu mengangkat tongkat ke atas kepalanya dengan sikap menghormat sekali.

Dengan perasaan heran bukan main, Sui Cin melihat betapa Dewa Arak dan Dewa Kipas bersikap hormat pula dan menundukkan muka menghadap ke arah tongkat hitam itu!

"Kalian semua lihatlah baik-baik. Tongkat di tangan Raja kalian itu adalah Tongkat Suci, tongkat keramat pegangan para kaisar jaman dahulu, yang sampai sekarang pun masih dianggap suci dan dapat membuka semua pintu di istana kaisar! Pemegang tongkat suci ini berhak menasehati bahkan menegur kaisar yang mana pun juga. Tongkat suci ini pun mengandung kekuasaan untuk menghukum siapa saja yang bersalah, termasuk kaisar! Oleh karena itu kalian harus menganggap tongkat ini sebagai tongkat suci dan disaksikan oleh tongkat suci ini kalian diminta bersumpah. Bersediakah kalian?"

"Kami bersedia!" Jawab belasan orang itu yang sudah terpengaruh oleh keterangan Ratu Iblis mengenai tongkat hitam itu.

"Nah, ikuti kata-kataku!" kata nenek itu, kemudian dengan suara lantang ia mengucapkan kata-kata sumpah sekalimat demi sekalimat yang ditirukan oleh belasan orang itu dengan serempak.

"Kami bersumpah bahwa semenjak saat ini kami mengangkat Pangeran Toan Jit Ong dan isterinya menjadi Raja serta Ratu kami. Kami bersumpah akan mentaati semua perintah mereka dan kami siap mengorbankan nyawa untuk membela Tongkat Suci! Kami bersama seluruh murid serta keturunan kami akan selalu menjunjung Tongkat Sakti atau Tongkat Suci, dan akan taat kepada pemilik atau pemegangnya. Kalau kami melanggar, kami rela mati di ujung Tongkat Suci! Sumpah kami ini disaksikan oleh tongkat suci dan kesaktian tongkat suci akan menghukum kami, biarlah Bumi dan Langit akan mengutuk kami hingga tujuh turunan kalau kami melanggar sumpah!"

Sui Cin meleletkan lidahnya. Sungguh merupakan sumpah yang sangat berat, dan secara diam-diam dia memikirkan keadaan dua kakek sakti yang datang bersamanya ke tempat itu. Seperti itu pulakah sumpah kedua orang sakti ini maka kini mereka begitu ketakutan?

Kebetulan pada saat itu kakek katai memandang kepadanya dan agaknya kakek itu dapat menangkap pertanyaan di dalam hati Sui Cin itu melalui pandang matanya, karena kakek itu seakan-akan memberi jawaban dengan mengangguk-angguk!

Nampak Raja Iblis itu menyimpan kembali tongkat hitamnya dan berdiri tegak menghadapi semua datuk sesat yang kini berlutut semua. Di sudut nampak mayat tiga orang yang tadi dikalahkan Ratu Iblis.

"Kawan-kawan semua, bangkitlah dan dengarkan baik-baik!" kata Ratu Iblis yang agaknya memang menjadi juru bicara suaminya karena mungkin merasa terlalu tinggi untuk bicara sendiri kepada para datuk yang baru saja tunduk kepadanya itu.

"Toan Ong-ya sudah puluhan tahun meninggalkan istana, tetapi selama ini kaisar-kaisar yang memimpin kerajaan tak ada yang becus, bahkan kaisar yang sekarang terlalu muda dan tolol, hanya menjadi permainan pembesar-pembesar korup. Karena itu Toan Ong-ya telah mengambil keputusan untuk pulang ke istana dan memimpin sendiri pemerintahan!"

"Pemberontakan...?" terdengar suara kasar dari tengah rombongan orang-orang yang kini telah berdiri semua itu.

"Bukan pemberontakan, melainkan perbaikan! Dengan menggunakan Tongkat Suci, Toan Ong-ya hendak menggunakan kekuasaannya untuk menyalahkan dan menurunkan kaisar, kemudian mengangkat penggantinya yang cakap. Akan tetapi karena mungkin kelak akan timbul perlawanan dan pertentangan, kita perlu membina pasukan yang kuat. Untuk itulah teman-teman semua dikumpulkan malam ini. Kalian semua diwajibkan untuk menghimpun pasukan-pasukan dan membawa pasukan-pasukan itu untuk dilatih bersama oleh Ong-ya sendiri."

"Mengumpulkan pasukan-pasukan tentu akan diketahui pemerintah dan sebelum berhasil dihimpun, tentu pemerintah akan mengirim bala tentara untuk menghancurkan kita!" kata pula seorang datuk.

"Kita harus dapat bekerja secara rahasia. Pasukan itu dikirim satu rombongan demi satu rombongan kecil, menuju ke benteng yang telah disediakan. Dan Ong-ya memilih benteng di luar tembok besar, di utara. Kalian tentu dapat mencari benteng itu. Tempat itu dahulu merupakan markas dari perkumpulan Jeng-hwa-pang..."

"Ahh, aku tahu..."

"Aku tahu tempat itu!"

"Akan tetapi tempat itu telah terbakar dan orang-orang Jeng-hwa-pai telah terbasmi!"

Mendengar suara-suara itu, nenek berambut putih mengangkat tangan kanan ke atas dan suasana menjadi tenang kembali. "Kami tahu. Tempat itu kosong dan sunyi, bangunan-bangunannya sudah rusak. Akan tetapi tempat itu amat baik, berada di puncak bukit dan kalau kita membangun kembali benteng itu, maka akan menjadi markas yang amat baik. Tempatnya di luar tembok besar, jadi pemerintah tentu tidak akan mencampuri. Kita akan gembleng pasukan yang kita kumpulkan di situ, kemudian pada saat yang tepat, pasukan kita turunkan melalui tembok besar ke selatan, menuju ke kota raja, bertepatan dengan munculnya Toan Ong-ya di istana. Pasukan kita itu mungkin tidak usah bergerak, hanya untuk memperkuat wibawa saja."

Nenek itu berhenti bicara dan semua tokoh sesat yang berada di bawah kembali berbicara sendiri-sendiri hingga keadaannya menjadi berisik seperti tawon diganggu dari sarangnya. Sementara itu Sui Cin melihat betapa Dewa Arak dan Dewa Kipas saling pandang dengan mata terbelalak dan wajah mereka yang biasanya gembira itu nampak gelisah sekali.

"Kawan-kawan harap tenang! Apakah kalian sudah mengerti dan dapat mentaati perintah pertama tadi?"

"Akan tetapi, mengumpulkan pasukan membutuhkan waktu..."

"Kawan-kawan, dengarkan baik-baik! Toan Ong-ya sudah memikirkan hal itu pula. Maka, beliau memberi waktu selama tiga tahun. Tiga tahun lagi, tepat pada permulaan musim semi, pada hari Tahun Baru, semua pasukan harus dikumpulkan di luar tembok besar, di benteng kita untuk segera memulai dengan pembangunan benteng dan melatih pasukan. Mengertikah kalian?"

Semua orang mengangguk dan menjawab bahwa mereka mengerti dan dapat menerima perintah itu. Kalau diberi waktu selama tiga tahun, tentu saja mereka akan sanggup untuk mengumpulkan teman-teman. Bagaimana pun juga mereka telah bosan menjadi golongan hitam yang selalu dimusuhi para pendekar dan selalu dikejar pasukan pemerintah. Kini, di bawah pimpinan suami isteri yang sangat sakti itu, mereka ditawari kehidupan lain yang lebih mulia.

Jika sampai perjuangan Pangeran Twa Jit-ong itu berhasil, tentu mereka akan mendapat kedudukan tinggi lantas mereka dapat hidup mulia dan terhormat seperti para pembesar, bukan seperti sekarang ini. Dan mereka yakin bahwa pemimpin mereka sekarang ini tentu akan berhasil, tidak seperti Liu-thaikam yang hanya seorang pembesar korup saja. Kalau pemimpin sekarang ini berhasil merebut tahta kerajaan, tentu kelak mereka semua akan menjadi pejabat tinggi!

Akan tetapi, mendadak terdengar suara keras, "Tidak! Tidak boleh begitu! Pangeran Toan tidak boleh memberontak terhadap kerajaan dan menimbulkan perang saudara, sehingga menghancurkan kehidupan rakyat!" yang berseru demikian adalah Siang-kiang Lo-jin atau San-sian Si Dewa Kipas.

Agaknya kakek ini tidak dapat menahan dirinya lagi. Melihat dan mendengar semua yang terjadi di situ, dia merasa khawatir dan penasaran. Hal ini tidak aneh karena pada waktu mudanya, kakek ini adalah seorang yang berjiwa patriot, yang selalu condong membela pemerintah dan dia paling anti pemberontakan. Oleh karena itu, walau pun dia sendiri tidak berani menentang Toan Jit Ong dan isterinya, namun rasa penasaran mendengar persekutuan yang hendak melakukan pemberontakan itu, dia segera melompat keluar dan menegur.

Melihat hal ini, maka tahulah Wu-yi Lo-jin bahwa tempat persembunyian mereka tak dapat dipertahankan lagi sehingga tidak ada lain jalan baginya kecuali keluar dan mendukung pendapat temannya.

"Benar, Ong-ya. Tidak baik merencanakan pemberontakan karena setiap pemberontakan pada akhirnya hanya akan mendatangkan kehancuran bagi diri sendiri dan perang amat menyengsarakan rakyat!"

Melihat kemunculan kedua orang ini, Pangeran Toan Jit Ong memandang dengan mata mencorong marah. Juga Ratu Iblis menjadi marah sekali ketika mengenal dua orang itu. Dia tidak turun tangan sendiri karena ingin menguji kesetiaan para anak buah baru yang baru saja mengucapkan sumpah. Maka dia menudingkan telunjuknya kepada dua orang kakek yang baru muncul itu sambil berteriak,

"Kawan-kawan, tangkap dan bunuh dua orang tua bangka tak tahu diri ini!"

Kebetulan yang paling dekat dengan San-sian Si Dewa Kipas adalah raksasa pemakan anak kecil yang tadi mereka lihat. Raksasa ini hendak memperlihatkan kesetiaannya dan juga kelihaiannya, maka begitu membalik dia mengeluarkan suara mengggereng laksana seekor binatang buas, lantas mulutnya menyeringai, nampaklah giginya yang besar-besar dan ada taring di ujung mulutnya.

"Grrrrr... mampuslah!" bentak raksasa itu.

Dengan gerakan seperti seekor beruang dia sudah menubruk ke depan dan yang menjadi sasaran kedua tangannya yang besar-besar berbulu adalah perut gendut San-sian yang tidak tertutup baju itu. Agaknya sang pemakan daging manusia ini sudah mengilar melihat gumpalan di perut San-sian yang putih halus itu, maka langsung saja dia menghantam dengan tangan kanan, lalu mencengkeram dengan tangan kiri ke arah perut itu!

Semua orang memandang dengan mata terbelalak, maklum akan kehebatan raksasa ini. Akan tetapi San-sian hanya menyeringai saja, mulutnya tersenyum lebar dan sama sekali tidak mengelak atau pun membalas, bahkan dia menonjolkan perutnya sehingga perut itu mengembung seperti balon ditiup!

"Bukkk! Bunggg...!" Suara yang terdengar itu nyaring sekali, keluar dari perut gendut itu bagaikan sebuah tambur besar ditabuhi. Akan tetapi hebatnya, raksasa pemakan daging manusia itu terpental ke belakang dan hampir saja terbanting!

Tentu saja dia menjadi marah bukan main. Kekuatannya amat besar dan jarang ada orang yang mampu menahan pukulan atau cengkeramannya. Akan tetapi cengkeramannya tadi seperti mengenai bola baja saja, licin dan keras, sedangkan pukulannya malah membuat tubuhnya terpental, seperti orang memukul bola karet yang besar.

Kembali dia mengeluarkan gerengan marah dan kini dia tahu bahwa lawannya lihai sekali, maka dia sudah kembali menerjang ke depan, tidak ngawur macam binatang buas seperti tadi, melainkan dengan gerakan-gerakan silat tinggi yang amat berbahaya!

Sementara itu, kakek raksasa ke dua yang tadi mereka lihat membunuhi penduduk dusun dengan tongkat kepala harimau, kini pun sudah menerjang Ciu-sian dengan tongkatnya. Agaknya, tidak seperti raksasa pemakan daging manusia, kakek ini sudah bisa menduga bahwa lawannya amat lihai, maka begitu menyerang dia sudah menggunakan tongkatnya. Gerakannya mantap dan mengandung tenaga yang amat besar.

Akan tetapi tiba-tiba dia melongo, karena kakek katai kecil yang dihantam tongkatnya itu mendadak hilang begitu saja! Pada saat dia masih kebingungan, telinganya yang sebesar telinga gajah itu tahu-tahu disentil orang dari belakang, dibarengi suara orang terkekeh.

"Heh-heh-heh, aku di sini!"

Kakek raksasa itu segera membalik dan memutar tubuhnya, lantas menyerang lagi. Akan tetapi kembali Ciu-sian sudah lenyap. Kakek katai ini mempermainkan lawannya dengan menggunakan ginkang-nya yang memang luar biasa hebatnya itu. Kakek tinggi besar itu bagaikan seorang anak kecil yang berusaha memukul seekor capung dengan tongkatnya saja, memukul terus ke sana ke mari akan tetapi tidak pernah mampu mengenai Ciu-sian. Jangankan mengenai tubuhnya, sedangkan menyentuh ujung jubahnya pun tidak mampu. Demikian cepat gerakan kakek katai itu ketika mengelak.

"Wah, mulutmu bau darah dan mayat, bau bangkai, tidak kuat aku!" Berkali-kali San-sian mengeluh dan mengejek, membuat raksasa pemakan bangkai itu semakin marah.

Dia adalah seorang di antara Cap-sha-kui, seorang yang tadinya memiliki ilmu silat tinggi, akan tetapi karena menjadi buronan kemudian menyembunyikan diri di dalam hutan dan akhirnya dia berubah seperti seorang sinting atau seekor binatang buas yang suka makan daging mentah, termasuk daging manusia! Akan tetapi, walau pun dia sinting atau buas seperti binatang, dia tidak melupakan ilmu silatnya dan karenanya, dia amat berbahaya.

Dengan sebuah lompatan tinggi, kini raksasa itu menerjang San-sian yang semenjak tadi hanya mengelak atau membiarkan perut dan tubuhnya dipukuli. Akan tetapi, tiba-tiba saja sekarang San-sian membalikkan tongkat kipasnya, lalu gagang tongkat itu dia sodokkan, menyambut tubuh lawan, menotok ke arah muka di antara alis. Itulah serangan yang amat hebat dan berbahaya sekali bagi lawan.

Namun raksasa buas itu menggunakan kedua tangannya, mencengkeram dan menangkis ke arah ujung tongkat, berusaha menangkapnya. Karena itu, terpaksa San-sian menarik kembali tongkatnya sambil mengelak sebab tubuh lawan telah menubruknya bagai seekor singa menubruk domba. Dan kini, pada saat lawannya membalik, dia juga membalikkan senjatanya dan kipas besar itu bergerak meniup ke arah muka si raksasa.

Tiupan kipas ini hebat sekali. Datang angin laksana badai yang kekuatannya dipusatkan dan menyambar ke arah muka si raksasa. Tentu saja raksasa itu terkejut sekali, menarik kepala ke belakang dan terpaksa memejamkan matanya karena angin yang menyambar itu amat dahsyat. Saat itu, tongkat membalik lagi dan ujungnya menotok ke arah dada.

"Dukkk...!"

Kakek raksasa mengeluarkan pekik menyeramkan, kedua tangannya mencengkeram ke arah dada sendiri. Akan tetapi tiba-tiba dia muntah-muntah dan darah segar yang berbau busuk muncrat-muncrat dari mulutnya.

Totokan pada ulu hatinya itu ternyata sudah membuat jantungnya pecah. Walau pun dia berusaha untuk menyerang lagi, akan tetapi matanya terbelalak dan kini dia terpelanting roboh lantas berkelojotan. Kakek raksasa yang suka membunuh dan makan daging anak itu akhirnya tewas dalam keadaan yang amat mengerikan!

Sementara itu, raksasa kedua yang menyerang Ciu-sian juga mulai terengah sebab sejak tadi dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyerang secara bertubi-tubi tanpa hasil sedikit pun juga. Ketika Ciu-sian yang selalu mempermainkan lawan itu melihat betapa temannya sudah merobohkan musuh, dia pun segera menyemburkan arak dari mulutnya. Semburan arak itu menyerang wajah si raksasa yang menjadi bingung menghindar, dan kesempatan itu segera digunakan oleh Ciu-sian untuk menendang ujung tongkat lawan ke samping, lalu menyusulkan pukulan dengan ciu-ouw (guci arak) yang besar itu.

"Krakk!" Robohlah raksasa yang menjadi lawannya itu dengan kepala retak-retak.

Tentu saja peristiwa ini mengejutkan sembilan orang Cap-sha-kui yang lain. Tidak mereka sangka bahwa dua orang rekan mereka akan roboh dalam waktu yang sesingkat itu, tidak sampai dua puluh jurus! Dan dalam waktu singkat mereka telah kehilangan empat orang rekan!

Pertama-tama adalah suami isteri Kui-kok-pang yang tadi dibunuh oleh Ratu Iblis sendiri, kemudian dua orang rekan ini tewas pula di tangan dua orang kakek aneh yang agaknya menentang Toan Jit Ong! Sekarang Cap-sha-kui (Tiga Belas Iblis) hanya tinggal menjadi Kiu-lo-kwi (Sembilan Iblis Tua) saja!

"Ciu-sian dan San-sian! Berani kalian membunuh para pembantu Toan Jit Ong ya?" bentak Ratu Iblis dengan nada marah dan penasaran sekali.

"Maaf, aku melihat si pemakan bangkai ini tadi membunuh seorang anak kecil dan makan dagingnya. Dia bukan manusia lagi, tetapi iblis busuk yang sudah selayaknya dienyahkan dari muka bumi!" Siang-kiang Lo-jin berkata sambil mengipasi perutnya yang gendut dan berkeringat dengan kipasnya.

"Dan raksasa buas ini pun bukan manusia karena tadi aku melihat dia membunuhi banyak orang dusun yang sama sekali tidak berdosa, bahkan dia membunuh anak-anak dengan tongkatnya itu. Karena itu, terpaksa aku membunuhnya ketika dia menyerangku dan aku teringat akan kekejiannya!"

"Tua bangka-tua bangka gila, berani kalian melawan Toan Ong-ya?!" kembali Ratu Iblis membentak lagi, menoleh kepada suaminya yang kini berdiri tegak memandang pada dua orang kakek itu dengan mata mencorong seperti mengeluarkan api.

"Ha-ha, kami tak pernah menentang siapa saja, melainkan menentang kejahatan. Seperti belum tahu saja!" jawab Ciu-sian sambil menenggak arak dari gucinya, sikapnya acuh tak acuh walau pun Sui Cin dan Hui Song yang kini mengintai dengan khawatir itu maklum betapa sebetulnya dua orang kakek itu merasa ketakutan dan jeri terhadap suami isteri di atas batu itu.

Melihat sikap dua orang kakek yang jelas-jelas menentang itu, tiba-tiba saja Toan Jit Ong mengeluarkan tongkat hitamnya kemudian mengangkatnya ke atas kepala, lalu terdengar bentakannya yang halus tapi berwibawa, "Berlututlah kalian semua menghormati Tongkat Suci!"

Para datuk yang tadinya mengambil sikap bermusuh dan telah siap menerjang dua orang kakek itu, kini tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut menghadap ke arah Toan Jit Ong yang mengangkat tongkat itu, sehingga hanya tinggal Ciu-sian dan San-sian yang masih tetap berdiri, akan tetapi wajah dua orang kakek ini berubah pucat dan sikap mereka bingung.

"Ciu-sian dan San-sian, apakah kalian berani menentang Tongkat Suci dan melanggar sumpah kalian sendiri?" terdengar Raja Iblis atau Pangeran Toan Jit Ong berkata kepada mereka.

Kedua orang kakek itu saling pandang, kemudian menghadap ke arah tongkat dan kakek katai yang menjadi wakil mereka itu berkata dengan lirih, "Kami tidak berani..."

Kini Sui Cin melihat betapa wajah yang dingin seperti topeng itu agak tersenyum sehingga bertambah seram. "Ciu-sian dan San-sian, kalian berdua sudah berdosa karena berani memperlihatkan sikap menentang kepada kami, malah kalian telah membunuh dua orang pembantu kami. Kalian berdosa kepada Tongkat Suci, sudah melanggar janji dan karena itu, kami menjatuhkan hukuman mati kepada kalian. Adinda, segera laksanakan hukuman itu sekarang juga!"

Ratu Iblis mengangguk dan nampak girang sekali. Sui Cin dan Hui Song melihat dengan mata terbelalak, apa lagi melihat betapa dua orang kakek itu agaknya tidak akan melawan sama sekali, berlutut dengan muka tunduk, agaknya sudah pasrah!

Sui Cin yang cerdik itu tadi telah mencari sepotong kayu dan di dalam keremangan cuaca, kayu yang ukurannya persis sama dengan tongkat suci di tangan Toan Jit Ong itu nampak kehitaman. Dia berbisik ke dekat telinga Hui Song.

"Kita harus bertindak menolong mereka. Biar kupergunakan akal untuk merampas tongkat iblis itu dari tangannya." Setelah membisikkan kata-kata ini, Sui Cin segera menyelipkan tongkatnya di balik jubah, lalu bergegas meloncat keluar, diikuti Hui Song.

"Tahan dulu...!" Dengan gerakan yang amat gesit karena memang ginkang dara ini cukup hebat, tahu-tahu tubuh Sui Cin telah berada di atas batu besar, berhadapan dengan Raja dan Ratu Iblis. Hui Song juga meloncat dan tiba di belakang dara itu.

"Hemm, bocah-bocah yang bosan hidup! Siapa kalian berani mencampuri urusan kami?!" bentak Ratu Iblis marah.

Hui Song tidak dapat menjawab. Dia tidak tahu apa yang menjadi siasat Sui Cin. Karena tindakan Sui Cin itu secara mendadak dan dia belum tahu apa yang akan dilakukan oleh dara itu selanjutnya, maka dia diam saja, hanya bersikap waspada sambil menyerahkan jawabannya kepada dara itu.

"Aku ingin mengatakan bahwa tongkat suci yang berada di tangan Pangeran Jit-ong ini adalah tongkat palsu!"

Tentu saja semua orang terkejut bukan main mendengar ucapan ini, maka semua muka diangkat lalu semua mata memandang ke arah gadis yang berani mengeluarkan tuduhan seperti itu. Bahkan Ciu-sian dan San-sian yang tadinya menunduk dan pasrah, kini juga mengangkat muka memandang dengan mata terbalalak. Apakah gadis itu sudah menjadi gila karena gelisahnya?

Tentu saja Pangeran Toan Jit Ong marah bukan main. Dengan tongkat masih diangkat tinggi di atas kepalanya, dia melirik ke arah tongkatnya itu, lalu berkata, suaranya agak keras dan tidak sehalus tadi, "Anak perempuan gila, apa yang kau katakan itu? Siapakah kamu?"

"Ibuku adalah she Toan, dan ayah dari ibuku adalah Pangeran Toan Su Ong...!" Sui Cin memperkenalkan diri.

"Gadis itu adalah puteri Pendekar Sadis! Dan pemuda itu putera ketua Cin-ling-pai! Bunuh mereka!" Kini orang-orang dari Cap-sha-kui mengenal Sui Cin dan Hui Song dan mereka berteriak-teriak.

"Tenang!" Tiba-tiba Pangeran Toan Jit Ong berseru sambil mengangkat tongkat ke atas kepalanya. Suasana menjadi tenang dan pangeran itu memandang tajam kepada Sui Cin. "Mendiang Toan Su Ong adalah kakakku! Jadi engkau ini cucunya? Apa hubungannya kakekmu itu dengan tongkat suci ini?"

Sui Cin merasa mendapat hati dan dia pun berkata dengan suara lantang. "Tongkat Suci adalah sebuah tongkat keramat hadiah yang sangat mulia dari kaisar sendiri. Tongkat itu diberi nama Ceng-thian Hek-liong (Naga Hitam Naik ke Langit) dan merupakan semacam tek-pai atau tanda kekuasaan seseorang di istana. Orang yang dulu menerima tongkat itu adalah mendiang kakekku, lalu benda keramat itu diwariskan kepadaku. Maka, kalau kini muncul tongkat yang lain, benda itu adalah palsu! Yang asli berada bersamaku!"

Tentu saja semua ucapan Sui Cin ini hanya ngawur saja, walau pun pada saat itu sempat membikin kaget dan bingung semua orang, juga termasuk Hui Song, Siang-kiang Lo-jin dan Wu-yi Lo-jin. Sikap gadis itu sedemikian meyakinkan sehingga Pargeran Toan Jit Ong sendiri mengerutkan alisnya dan matanya terbelalak. Demikian pula isterinya.

"Tongkat ini adalah Tongkat Suci yang asli! Tongkat Sakti yang asli dan selamanya berada di tanganku. Mana mungkin palsu?" kata pangeran itu sambil memandangi tongkatnya.

"Sebagai cucu tunggal mendiang kakek Pangeran Toan Su Ong, tentu saja aku dapat mengenal mana palsu mana asli. Yang asli berada di tanganku," kata Sui Cin pula dengan suara lantang.

Pangeran Toan Jit Ong mengerutkan alisnya dan semua orang yang hadir saling pandang dengan bingung. "Bocah lancang, lekas kau perlihatkan tongkatmu agar kuperiksa apakah omonganmu itu benar!" bentaknya.

"Boleh, akan tetapi aku pun ingin melihat tongkatmu apakah bukan palsu seperti kuduga! Tidak boleh orang menggunakan tongkat palsu untuk mengelabui begini banyak orang!"

Tadinya pangeran tua itu ragu-ragu, akan tetapi lalu teringat bahwa seorang dara seperti Sui Cin ini akan dapat berbuat apakah terhadap dirinya? Sekali serang saja dara itu akan roboh tewas.

"Baik, mari kita saling memeriksa tongkat masing-masing!" katanya mengulurkan tongkat hitam itu.

Sui Cin juga mencabut tongkat kayu dari pinggangnya. Sambil menerima sodoran tongkat pangeran itu dengan tangan kiri, dia pun menyerahkan tongkatnya sendiri. Dengan sikap pura-pura sedang memeriksa lebih teliti tongkat hitam yang ternyata berat itu, mundur dua langkah, lalu tiba-tiba dara itu meloncat jauh!

"Hei, kembalikan tongkatku!" Pangeran Toan Jit Ong terkejut sekaii dan marah, tangannya bergerak hendak mengejar.

Akan tetapi kini Hui Song baru mengerti siasat apakah yang dipergunakan oleh temannya yang bengal itu dan langsung saja dia membantu. Melihat pangeran itu hendak mengejar, dia lalu membentak.

"Perlahan dulu!"

Dan tangannya telah menusuk ke arah perut orang itu. Bukan sembarang tusukan karena jari-jari tangannya sudah berisi tenaga Thian-te Sin-ciang sepenuhnya dan dia menusuk dengan jurus San-in Kun-hoat yang cepat dan halus.

Melihat serangan yang tenaga sinkang-nya bisa dia rasakan kehebatannya ini, Pangeran Toan Jit Ong langsung menggerakkan tongkat yang diambilnya dari tangan Sui Cin tadi untuk menangkis.

"Krekkk...!"

Tongkat yang sesungguhnya hanya sepotong dahan yang diambil Sui Cin tentu saja tidak dapat bertahan pada saat bertemu dengan tangan Hui Song. Tongkat pendek itu hancur berkeping-keping sehingga tahulah Pangeran Toan Jit Ong bahwa dia telah ditipu mentah-mentah oleh gadis yang agaknya memang hendak merampas tongkat suci itu.

"Plakkk...!"

Sebuah tamparan yang aneh dan tiba-tiba datangnya mengenai pundak Hui Song. Untung pemuda ini masih dapat membuang tubuh ke belakang sehingga yang terkena tamparan hanya pundaknya. Akan tetapi ini cukup membuatnya terpelanting. Sementara itu, Ratu Iblis yang juga baru tahu bahwa suaminya diakali orang, kini mengejar Sui Cin dengan kemarahan memuncak.

"Berikan tongkat itu!" Teriaknya dan tangannya diulur ke depan, mencengkeram ke arah tengkuk Sui Cin.

"Hihhhh...!" Sui Cin bergidik ketika merasa betapa tengkuknya diserang hawa dingin. Dia mempercepat gerakannya, berjungkir balik ke samping hingga serangan itu luput. Sui Cin sudah meloncat ke atas cabang pohon lantas mengangkat tongkat hitam itu tinggi di atas kepalanya.

"Berani kau melawan tongkat suci ini?!" bentaknya kepada Ratu Iblis pada waktu wanita itu hendak menyerangnya kembali. Aneh, tiba-tiba saja nenek itu menjatuhkan diri berlutut menghadap ke arah Sui Cin yang berdiri di atas cabang pohon, tidak berani berkutik.

"Hayo kalian semua berlutut!" bentak Sui Cin lagi. "Beri hormat kepada Tongkat Suci!"

Pada mulanya para datuk sesat itu menjadi bingung. Akan tetapi mereka segera teringat dengan sumpah mereka dan karena kini tongkat itu berada di tangan gadis itu, terpaksa mereka lalu menjatuhkan diri berlutut, walau pun hati mereka meragu dan bingung.

Sementara itu, Pangeran Toan Jit Ong masih hendak mengejar Sui Cin, akan tetapi Hui Song selalu menghalangi dan menyerangnya, membuat Raja Iblis itu menjadi semakin marah. Melihat ini Sui Cin berseru, "Hayo berlutut! Kau juga, Pangeran Toan Jit Ong...!"

Akan tetapi pangeran itu sama sekali tak mau mentaatinya, bahkan kini sambil mendesak Hui Song, dia berkata, "Dinda, bangkit dan bantu aku menangkap bocah itu, merampas kembali tongkatku!"

Nenek itu mengeluarkan seruan nyaring dan tubuhnya mencelat ke arah Sui Cin. Kaget bukan main gadis itu.

"Krakkk...!"

Batang yang tadi dijadikan tempat dia berdiri patah-patah, akan tetapi untung dia sudah meloncat turun lebih dulu sehingga terhindar dari bahaya maut. Kini dia harus berloncatan menjauh karena nenek itu terus-menerus mengejarnya dengan rambutnya yang putih itu riap-riapan seperti ular-ular hidup. Sungguh mengerikan sekali!

"Wu-yi Lo-jin dan Siang-kiang Lo-jin, apakah kalian akan berlutut sampai tua? Tongkat sudah berada di tanganku, kalian tidak perlu berlutut lagi kepada Toan Jit Ong! Bantulah aku dan Hui Song!"

Ketika mendengar teriakan Sui Cin ini, baru kedua orang kakek itu tahu mengapa dara itu melakukan hal yang demikian berani dan aneh. Barulah mereka sadar bahwa kini mereka bukan berarti melanggar sumpah apa bila melawan Raja dan Ratu Iblis, karena bukankah Tongkat Suci sudah pindah tangan? Akan tetapi mereka berdua maklum bahwa sampai kini pun, mereka bukanlah lawan Raja Iblis. Maka mereka segera meloncat dan San-sian sudah menerjang Raja Iblis membantu Hui Song yang kewalahan. Kipasnya mengebut dengan serangan dahsyat.

"Hemmm...!"

Pangeran Toan Jit Ong menghardik dan kedua tangannya mendorong. Dari kedua tangan itu keluar hawa pukulan yang dahsyat bukan main, bahkan ketika kedua telapak tangan pangeran itu saling bersentuhan, nampak cahaya berkilat seperti ada api yang bernyala! Akibatnya, Hui Song dan San-sian terdorong kemudian terpelanting! Bukan main kagetnya kakek gendut itu.

"Mari...!" serunya kepada Hui Song.

Sementara itu, Sui Cin menjerit ketika tiba-tiba lengan kirinya terlibat rambut putih yang panjang! Akan tetapi, pada saat itu pula Ciu-sian langsung menyemburkan arak ke arah muka nenek berambut putih dan sekali tangannya mengebut selagi nenek itu mengelak, rambut-rambut itu putus sehingga lengan Sui Cin bebas.

"Lari...!" teriak pula Ciu-sian kepada Sui Cin.

Sui Cin dan Hui Song cepat melompat dan melarikan diri, disusul oleh dua orang kakek yang menjaga di belakang dengan senjata masing-masing, yaitu tongkat kipas dan guci arak. Tentu saja Pangeran Toan Jit Ong bersama isterinya tidak mau membiarkan mereka melarikan diri begitu saja maka mereka berdua cepat mengejar!

Gerakan Toan Jit Ong dan isterinya sungguh sangat cepat dan yang dapat mengimbangi kecepatan lari mereka hanyalah Sui Cin dan tentu saja kakek katai, maka Sui Cin cepat memegang tangan Hui Song untuk dibantunya agar larinya lebih cepat, sedangkan kakek katai memegang ujung tongkat kipas kakek gendut untuk ditariknya. Namun, biar pun kini mereka dapat berlari lebih cepat, akhirnya tetap saja mereka dapat disusul!

"Sui Cin, cepat buang tongkat itu ke dalam jurang di kiri sana!" Teriak Ciu-sian kepada Sui Cin. Gadis yang sangat cerdik ini langsung maklum akan maksud kakek itu, maka sambil mengangkat tongkat hitam itu tinggi-tinggi, dara itu berteriak ke belakang.

"Toan Jit Ong, lihat tongkatmu melayang ke jurang dan lenyap di sana!" Ia melemparkan tongkat itu tinggi-tinggi ke arah jurang. Tongkat itu melayang di bawah sinar bulan.

"Tongkatku...!" Kakek berambut putih itu menjerit dan dia pun segera meloncat ke arah jurang, agaknya hendak mencari tongkatnya.

Melihat ini, Ratu Iblis tidak berani melakukan pengejaran sendirian saja. Dua orang kakek itu terlampau lihai, apa lagi dibantu dua orang muda yang tidak boleh dipandang ringan. Selain itu, dia pun harus membantu suaminya mencari Tongkat Suci karena tongkat itu sangat penting bagi mereka, untuk menundukkan serta menguasai semua datuk sesat. Maka wanita itu pun menghentikan pergejaran dan ikut turun ke dalam jurang.

Empat orang itu lalu mempercepat lari mereka, dan kini dipimpin oleh Wu-yi Lo-jin atau Ciu-sian yang sengaja mengambil jalan berlika-liku agar tidak dapat disusul oleh musuh. Biar pun tidak kelihatan ada yang mengejar mereka, namun mereka tidak berani berhenti sebelum pagi. Raja dan Ratu Iblis itu terlalu berbahaya, apa lagi sesudah mereka dibantu oleh para datuk sesat.

Setelah malam berganti pagi, barulah kakek katai itu berhenti di sebuah lereng bukit. Pagi itu di lereng bukit hawanya amat dingin, akan tetapi tetap saja San-sian sibuk mengipasi perutnya yang basah oleh peluh. Kakek gendut ini mengomel panjang pendek.

"Wah, wah, untunglah aku tidak mempunyai anak cucu. Jika punya, malam tadi sungguh menjadi bagian riwayat hidupku yang akan memalukan anak cucu. Lari terbirit-birit seperti anjing tua yang diancam cambuk. Ha-ha-ha!"

Ciu-sian juga tertawa. "Masih mending dari pada mati konyol disiksa Ratu Iblis. Aku si tua bangka ini sudah tidak berdaya dan sudah pasrah menanti maut. Eh, gendut, apa kau kira kita masih akan dapat menikmati sinar matahari pagi mengusir kabut ini kalau dua orang muda ini tidak turun tangan menyelamatkan kita dengan akal mereka?"

"Ha-ha-ha, memang mereka ini mengagumkan sekali! Dan ilmu silat mereka pun hebat. Aku ingin sekali mengambil mereka ini sebagai murid-muridku. Bagaimana pendapatmu, katai?"

"Enak saja kau ngomong! Aku yang terkena getahnya dan engkau yang mau menikmati hasilnya! Aku yang susah payah menemukan mereka tetapi kamu yang enak-enakan saja mengambil mereka sebagai murid? Mana ada aturan macam ini?"

Kakek gendut menghentikan senyumnya, menyeringai sambil alisnya berkerut. "Hai, katai! Kau berani menghalangi kehendakku?"

"Tentu saja, habis kau mau merampas muridku! Kemarin kau sudah mencuri arakku, itu bisa dimaafkan antara teman. Akan tetapi mencari murid? Nanti dulu, ya!"

"Wah, kalau aku tetap mengambil mereka menjadi murid, lalu engkau mau apa?" bentak si kakek gendut, kini melotot.

"Boleh, asal engkau dapat mengalahkan aku terlebih dahulu!" Si kakek katai membantah, ngotot.

Keduanya kini berdiri berhadapan dengan mata sama-sama melotot, dengan pasangan kuda-kuda. Si gendut hendak membusungkan dada, akan tetapi apa daya perutnya yang terlalu gendut itu mendahului dada sehingga yang membusung bahkan perutnya.

Sebaliknya, si katai yang ingin membusungkan dada pun tidak mungkin karena dadanya kerempeng, makin dibusungkan semakin kempis! Keduanya seperti dua ekor ayam aduan berlagak, siap untuk saling serang.

Sui Cin tersenyum geli melihat hal ini, akan tetapi Hui Song mengerutkan alisnya karena pemuda ini khawatir kalau-kalau dua orang kakek itu saling gempur dan akibatnya bisa hebat. Hanya Sui Cin yang agaknya sudah dapat menangkap watak kedua orang kakek sakti itu, yang kelihatan ayem saja, bahkan gembira karena dia tahu bahwa dia hendak diberi suguhan tontonan yang hebat kalau sampai kedua orang kakek sakti itu mengadu ilmu.

"Kau mau apa?" bentak si gendut.

"Kau mau apa?" bentak si katai.

"Heiii! Kalian punya apa? Aku sih apa-apa mau!" mendadak Sui Cin berseru sambil maju menghampiri kedua orang kakek itu.

Tentu saja ucapan dara ini membuat dua orang kakek yang sudah saling tantang seperti dua orang anak kecil memperebutkan kembang gula itu menjadi bingung, saling pandang dan seperti lupa bahwa mereka tadi sudah saling tantang.

"Punya apa? Kau mau apa?" kata kakek katai bingung.

"Aku tidak punya apa-apa!" kakek gendut juga menjawab ragu.

Sui Cin terkekeh menutupi mulutnya dengan punggung tangan. "Hi-hik, kalian ini kulihat seperti dua orang badut wayang sedang melawak!"

"Aku ingin mengambil kalian menjadi murid!" kata si gendut.

"Tidak bisa, aku yang lebih dulu!" kata si kakek katai.

"Aku dulu!"

"Aku dulu!" Kembali mereka melangkah maju, mulut dicemberutkan sampai meruncing, mata melotot, muka dijulurkan ke depan seolah-olah keduanya hendak berciuman dengan mulut.

"Eiitt, eiittt... harap diingat, ji-wi adalah dua orang sahabat. Kalau memang ingin adu ilmu, harus dilakukan tanpa emosi, tanpa kebencian agar tidak sampai saling bunuh!" kata Sui Cin.

"Eh, siapa yang mau saling bunuh?" kakek gendut bertanya heran.

"Heh-heh-heh! Sui Cin, kau kira kami ini orang-orang apa, mau saling bunuh? Kami hanya memperebutkan kebenaran. Nah, gendut, kau sudah mendengar nasehat nonamu. Kalau kau mampu menerima pukulan guci arakku sebanyak tiga kali, baru aku mau mengaku kalah."

"Baik! Dan kalau engkau mampu menerima kebutan kipasku tiga kali, aku pun mengaku kalah."

"Bagus! Nah, bersiaplah, aku akan memukulmu lebih dulu," kata Wu-yi Lo-jin.

"Enaknya! Tidak, aku yang mulai dulu dengan kebutan kipasku," bantah Siangkoan Lo-jin.

"Aku dulu!"

"Aku dulu!" Kembali mereka bersitegang seperti dua orang anak kecil, tidak mau saling mengalah.

Diam-diam Sui Cin dan Hui Song merasa heran. Mereka itu adalah dua orang kakek yang memiliki kesaktian, akan tetapi mengapa kedang-kadang sikap mereka seperti anak kecil? Apakah betul kata orang bahwa yang sudah terlampau tua berubah seperti kanak-kanak? Dan ada pula yang bilang bahwa orang yang terlalu pintar itu pun kadang-kadang sifatnya seperti kanak-kanak?

Betapa pun juga, Sui Cin yang telah mendapatkan janji kakek katai untuk belajar ginkang diam-diam berpihak kepada kakek ini. Maka, melihat mereka bersitegang kembali, dia pun maju lagi dan berkata, "Di dalam dunia ini, apa yang lebih baik dari pada keadilan? Biar pun gagah perkasa, kalau tidak adil apa gunanya?"

"Benar sekali!" kata Ciu-sian.

"Tidak salah itu!" kata San-sian.

"Demi kebenaran dan keadilan, sudah sepantasnya kalau Wu-yi Lo-jin yang memulai lebih dulu dalam adu ilmu ini. Pertama, melihat bentuk tubuhnya, dia jauh lebih kecil ketimbang Siang-kiang Lo-jin, dan kedua, memang sebenarnya kami berdua lebih dulu kenal dengan Ciu-sian sebelum bertemu dengan San-sian. Nah, kalau kalian berdua memang adil, tentu Ciu-sian yang memperoleh kesempatan lebih dahulu. Kecuali kalau kalian memang tidak adil."

Wajah si gendut menjadi merah. "Hah, siapa yang tidak adil dan siapa yang takut? Katai, kau pukulilah dulu, nih, perutku sudah siap menerima pukulanmu yang kau banggakan itu. Mulailah!" Berkata demikian, si gendut itu lalu berdiri memasang kuda-kuda, kaki kanan di depan, kaki kiri di belakang, tangan kiri memegang tongkatnya, tangan kanan dikepal di pinggang, perutnya dikembungkan ke depan!

"Bagus! Aku memang tahu bahwa engkau adalah seorang gagah yang adil!" seru kakek katai dengan girang sekali sambil menurunkan guci araknya. Dia membuka tutupnya, lalu minum sisa arak yang tinggal sedikit sampai kosong, menutup mulut guci lagi kemudian memegang leher guci yang kecil dengan kedua tangannya.

"Nah, kau bersiaplah baik-baik, aku akan mulai menghantam!" katanya sambil memasang kuda-kuda dengan kedua kakinya yang kecil tetapi kokoh kuat. Kemudian, diayunkannya guci itu dari belakang ke depan, menghantam ke arah perut gendut itu.

"Bunggg...!" Guci menghantam perut sehingga terdengar laksana gentong dipukul. Tubuh gendut itu tidak bergeming dan guci arak itu hanya terpental sedikit seperti menghantam karet yang amat kuat.

"Bukkkk...!" Hantaman kedua lebih kuat lagi, namun tetap saja tubuh kakek gendut tidak bergoyang malah kakek gendut itu selalu tersenyum lebar, mulutnya sedikit terbuka dan senyum itu membuat kedua matanya semakin sipit.

Kakek katai menjadi penasaran. Dua kali pukulan gucinya itu hebat sekali. Batu karang sekali pun akan ambrol dan pecah terkena pukulannya, akan tetapi pukulan guci araknya itu sungguh kehilangan daya kekuatannya ketika mengenai perut gendut yang terisi penuh hawa sinkang itu.

Diam-diam dia merasa kagum karena dua puluh tahun yang lalu. San-sian ini tidak akan mungkin kuat untuk menerima hantamannya itu. Hal ini membuktikan bahwa selama ini si gendut memang telah memperoleh banyak kemajuan.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner