ASMARA BERDARAH : JILID-34


Hui Song memandang dan wajahnya berubah agak pucat. Tahulah dia apa artinya. Pasir itu merupakan pasir maut, semacam sumur atau danau pasir yang akan menelan segala sesuatu yang jatuh ke dalamnya! Terutama sekali benda-benda bergerak, sekali terjatuh dan bergerak hendak keluar, maka semakin cepat tersedot ke dalam. Dapat dibayangkan betapa mengerikan kalau tadi dia meloncat ke bawah.

“Ada dua orang kawanku lenyap tertelan oleh sumur pasir itu,” kata Siang Hwa. “Dan aku sendiri tidak berdaya menolongnya dari tempat ini. Karena itu, sekarang aku sudah siap membawa tali panjang yang kulibatkan di pinggang untuk menjaga kalau-kalau…”

“Hemmm, andai kata aku tadi terlanjur meloncat ke bawah, tentu dapat tertolong olehmu,” kata Hui Song. Kepercayaannya menebal terhadap gadis itu bahwa dia tak berniat buruk, buktinya telah memperingatkan agar tidak terjun ke bawah.

"Jalan selanjutnya bukan terjun ke bawah, tetapi melompati sumur pasir itu dan berusaha mendarat di seberang," kata Siang Hwa.

"Menyeberang ke sana? Tapi, di depan itu hanya tebing..."

"Inilah mengapa aku mengatakan bahwa tempat ini sangat sukar, taihiap. Dan bagian ini bukanlah yang paling sukar. Aku sendiri sudah sampai ke sana. Kau lihat batu menonjol di tebing itu, yang berwarna agak kehitaman? Nah, tonjolan batu itu dapat dipakai tempat mendarat. Disebelah atas tonjolan itu terdapat lekukan yang cukup dalam dan lebar untuk tangan berpegangan dan bergantung, sedangkan di bawah tonjolan batu itu terdapat pula lekukan yang lebih besar lagi untuk tempat kaki berpijak. Kau dapat melihatnya, taihiap?"

Hui Song mengangguk-angguk dan dia merasa kagum sekali pada nona ini. Seorang diri, Siang Hwa dapat menemukan tempat mendarat yang luar biasa itu, sungguh merupakan kecerdikan dan juga keberanian yang jarang terdapat. Kalau tidak diberi tahu, dia sendiri belum tentu akan dapat menemukan kemungkinan meloncati sumur pasir dan mendarat di tebing yang curam itu.

"Kalau ragu-ragu, biarlah aku yang melompat lebih dulu, taihiap," kata Siang Hwa.

Mendengar ini, tersinggung rasa harga diri Hui Song. Apa bila gadis itu berani meloncati, mengapa dia tidak? Dan pula, sesudah melihat tonjolan batu serta lekukan-lekukan pada dinding itu, dia maklum bahwa meloncati dan hinggap di tebing itu bukanlah merupakan pekerjaan yang terlalu sukar baginya.

"Tidak, biarkan aku melompat lebih dulu."

Tanpa menunggu jawaban, Hui Song lalu mengerahkan tenaganya dan meloncat. Dengan mudah saja tubuhnya melayang ke depan dan di lain saat dia sudah hinggap di tebing itu, tangan kanannya mencengkeram lekukan di atas tonjolan batu dan kaki kirinya hinggap di lekukan bawah.

"Bagus, sekarang harap merayap ke kiri. Di belakang batu itu terdapat batu datar, harap berputar di balik batu dan meninggalkan tempat mendarat itu untukku, taihiap."

Hui Song merayap ke kiri, berpegang kepada lekukan-lekukan di permukaan tebing yang tidak rata dan sebentar saja dia sudah menemukan tempat yang dimaksud oleh gadis itu. Memang, di balik tebing terdapat batu datar maka dia pun berputar lalu berdiri di atas batu datar itu. Kiranya di balik tebing terdapat lereng yang batunya datar.

Dia memandang ketika gadis itu meloncat dan ternyata Siang Hwa mampu pula meloncati sumur pasir itu dengan mudah, hinggap di tempat dia mendarat tadi. Tak lama kemudian gadis itu sudah berdiri di sampingnya, dan sebuah tangan yang hangat lunak memegang tangannya. Dia merasa betapa tangan gadis itu agak dingin gemetar.

"Kenapa?" tanyanya heran.

Jari-jari tangan itu mencengkeram dengan hangat, lalu pegangannya dilepaskan kembali. "Maaf, taihiap. Aku selalu merasa tegang sekali kalau sudah meloncati sumur mengerikan itu, teringat kepada teman-teman yang telah ditelannya." Dia bergidik.

Kemarahan Hui Song karena kemesraan yang lancang itu lenyap, bahkan kini dia merasa iba. "Engkau tidak sendirian, nona. Aku pun merasa tegang dan ngeri. Memang tempat ini sungguh menyeramkan dan sukar dilalui. Akan tetapi aku berjanji akan membantu sampai engkau berhasil menemukan tempat penyimpanan harta karun itu, terutama demi untuk menentang para penjahat yang hendak memberontak."

"Terima kasih, Cia-taihiap, mari kita melanjutkan perjalanan ini. Tak jauh lagi, akan tetapi masih harus melalui dua tempat yang lebih sukar dan lebih berbahaya lagi. Nah, kau lihat, di depan itu terbentang rawa yang menghalang perjalanan menuju tempat penyimpanan harta karun itu. Dalam perjalananku yang sudah-sudah, rawa itu menjadi biang keladi dari kegagalan usahaku. Yang pertama, ketika aku melakukan perjalanan seorang diri untuk menyelidik, aku hanya sampai di tepi rawa ini dan tidak sanggup melanjutkan. Kemudian aku datang lagi, dibantu oleh seseorang yang cukup lihai dan kami berhasil menyeberang, akan tetapi pada rintangan terakhir kami gagal dan pulangnya, kawanku itu bahkan celaka dan tewas di rawa itu."

Jika saja Hui Song tahu akan kebohongan gadis ini, tentu saat itu dia akan bergidik ngeri. Memang benar bahwa gadis itu dulu pernah berhasil menyeberangi rawa dengan bantuan seorang gagah. Akan tetapi setelah gagal menemukan harta pusaka, timbul rasa khawatir karena rahasia harta karun itu telah diketahui orang luar. Maka secara keji dia kemudian membunuh orang gagah yang tadinya membantunya itu di tengah rawa!

Mendengar ini, Hui Song lalu memandang rawa itu dengan penuh perhatian. Kini mereka sudah tiba di tepi rawa. Sebuah rawa yang kecil saja, akan tetapi sungguh tidak mungkin dilewati tanpa menggunakan alat. Melompati rawa ini hanya mampu dilakukan oleh burung atau binatang bersayap lainnya saja. Rawa itu merupakan air lumpur yang ditumbuhi oleh berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang biasa hidup di atas lumpur, sementara dia tidak melihat perahu atau alat lain untuk menyeberang.

"Bagaimana cara menyeberangi rawa ini dan apa bahayanya, nona?" tanyanya.

Siang Hwa tersenyum. "Terlihat aman dan tenang, bukan? Akan tetapi ketahuilah, taihiap, di bawah permukaan air berlumpur yang terlihat tenang itu bersembunyi banyak binatang iblis yang amat mengerikan dan liar sekali. Binatang yang mengintai dari bawah dan siap untuk menerkam serta menyerang siapa saja yang berani melintas di permukaan rawa."

"Binatang apakah itu?"

"Lihat, mereka akan kupancing keluar!" kata Siang Hwa.

Kemudian ia mengambil sebatang kayu dan menggunakan kayu itu untuk mengaduk-aduk dan menggerak-gerakkan permukaan air berlumpur di tepi rawa. Tidak lama kemudian air berlumpur itu berguncang dan muncullah moncong beberapa ekor binatang seperti buaya dan mereka bergerak ganas, memukul-mukul dengan ekor mereka yang seperti gergaji ke arah kayu itu bahkan ada yang menggunakan moncongya untuk menyerang.

Moncong itu mengerikan. Panjang dan ketika dibuka, sangat lebarnya, penuh dengan gigi yang tajam meruncing seperti gigi gergaji pula! Gerakan ini lantas memancing datangnya segerombolan binatang ini sehingga dalam waktu singkat saja di seluruh permukaan rawa itu nampak banyak sekali moncong atau ekor tersembul keluar! Mungkin ada ribuan ekor di seluruh rawa itu.

"Ahh, sungguh berbahaya sekali!" Hui Song bergidik ngeri. Bagaimana mungkin mereka akan dapat melawan sekian banyaknya binatang liar dan buas ini? "Lalu bagaimana kita akan dapat menyeberang?"

Siang Hwa tersenyum, agaknya bangga akan pengetahuan dan kecerdikannya. "Kita tidak dapat menggunakan perahu. Selain akan sukar sekali meluncur, juga sekali terpukul ekor binatang itu maka perahu kayu akan hancur berkeping-keping. Kita menggunakan bambu. Kalau kita berdiri di atas bambu dan mendayung, tentu bambu itu akan meluncur laju dan kalau kita berdua, kita dapat berjaga di kedua ujung bambu, mengusir serta menghantam setiap ekor binatang yang berani mendekat dengan pentungan kayu yang dapat kita cari di sini. Jika seorang diri saja akan amat berbahaya, karena kalau kita diserang dari depan belakang, selagi berdiri di atas bambu sambil mengatur keseimbangan badan pula, maka akan sukarlah untuk menyelamatkan diri."

Gadis itu lalu mengajak Hui Song pergi mengambil alat-alat itu yang disembunyikannya di balik bukit kecil tidak jauh dari situ. Mereka kemudian menggotong sebatang bambu yang panjangnya kurang lebih tiga meter, kedua ujungnya meruncing. Bambu ini sudah tua dan kering, kuat dan ulet sekali.

Siang Hwa juga telah menyiapkan dayung sebanyak dua batang dengan gagang panjang. Dayung ini terbuat dari kayu dilapis baja dan ujungnya malah seluruhnya terbuat dari besi, maka dayung ini dapat dipergunakan untuk mendayung perahu istimewa berupa sebatang bambu itu, juga dapat dipergunakan sebagai senjata ampuh untuk menghadapi binatang-binatang seperti buaya itu.

"Hemm, kiranya engkau sudah mempersiapkan segalanya, nona," kata Hui Song kagum.

"Sudah kukatakan bahwa sudah beberapa kali aku datang ke tempat ini, taihiap. Namun sampai kini tanpa hasil dan sekaranglah timbul harapanku akan berhasil, dengan bantuan darimu. Mari kita menyeberang. Biar aku menjaga di ujung depan dan engkau di ujung belakang, taihiap."

"Baiklah!" kata Hui Song yang merasa betapa jantungnya berdebar juga pada saat batang bambu itu diturunkan di atas permukaan air berlumpur.

Siang Hwa meloncat ke atas bambu dan berjalan sampai ke ujung depan, diikuti oleh Hui Song. Jangan dikira mudah berdiri di atas batang bambu besar yang terapung di atas air berlumpur. Batang bambu itu bergoyang-goyang dan cenderung untuk berputar sehingga orang yang tidak memiliki ginkang yang tinggi dan pandai mengatur keseimbangan tubuh, tentu akan terbawa berputar dan terpelanting ke dalam air berlumpur itu. Dan di kanan kiri bambu itu kini telah nampak moncong-moncong mengerikan dan ekor-ekor yang panjang dan kuat!

"Jangan sembarangan memukul mereka, taihiap. Apa bila ada yang mencoba menyerang, baru kita pukul, akan tetapi sekali pukul harus mengenai kepalanya dan harus langsung menewaskannya, kalau tidak maka dia akan mengamuk dan berbahayalah kita. Sesudah seekor itu kita tewaskan, kita harus cepat mendayung bambu ini meluncur maju, karena bangkainya akan dijadikan rebutan kawan-kawannya sendiri sehingga air lumpur akan berguncang hebat."

Hui Song mengangguk-angguk, matanya tidak berani berkedip memandang ke sekitarnya kemudian dia pun menggerakkan dayungnya dan membantu Siang Hwa yang telah mulai mendayung. Bambu yang ujungnya runcing itu menggeleser lembut dan meluncur dengan cepatnya di atas permukaan air berlumpur itu, menyusup di antara rumpun alang-alang dan tumbuh-tumbuhan lain.

Baru belasan meter bambu mereka meluncur, sesudah banyak pasang mata di belakang moncong-moncong itu memandang seperti terkejut dan terheran, maka mulailah serangan itu datang. Seekor binatang liar menerjang dari depan menyambut ujung bambu. Melihat bahaya ini, Siang Hwa menggerakkan dayungnya, menyambut dengan hantaman keras.

"Prakkk!"

Maka pecahlah kepala binatang itu lantas dengan dayungnya Siang Hwa mencongkel dan melemparkan bangkai binatang itu agak jauh. Hui Song melihat betapa tempat di mana bangkai itu jatuh sekarang tiba-tiba penuh dengan binatang yang segera mengeroyok dan memperebutkan bangkai yang dalam sekejap saja sudah dirobek-robek dan ditelan habis. Air lumpur menjadi merah warnanya. Secara diam-diam dia bergidik juga membayangkan bagaimana kalau tubuh manusia yang dijadikan rebutan seperti itu!

"Cepat dayung!" Siang Hwa berteriak.

Mereka mendayung dan bambu meluncur ke depan, akan tetapi terpaksa Hui Song harus berhenti mendayung karena tiba-tiba seekor binatang yang amat besar berenang dengan cepat lantas memukulkan ekornya ke arahnya. Dayungnya terlampau pendek untuk dapat mencapai kepala buaya itu, maka dia hanya mempergunakan dayung untuk menangkis ekor itu.

Buaya itu nampak kesakitan dan marah, membalik dan dengan moncong dibuka lebar dia lantas menyerang, hendak menggigit apa saja. Hui Song menggerakkan dayungnya maka pecahlah kepala binatang itu. Seperti yang sudah dilakukan oleh Siang Hwa tadi, dengan dayungnya dia mendorong dan melemparkan bangkai itu agak jauh dari bambu. Bangkai itu segera menjadi rebutan seperti tadi.

Akan tetapi, agaknya binatang-binatang itu menganggap bahwa kedua orang penunggang bambu itu telah mendatangkan rejeki dan memberi makanan kepada mereka, kini mereka semua berbareng menghampiri dan tampak betapa moncong-moncong itu muncul banyak sekali di kanan kiri, depan dan belakang perahu.

“Dayung cepat...!" Siang Hwa berteriak khawatir melihat begitu banyaknya binatang yang mendekati bambu.

Kembali mereka mendayung sambil mengerahkan tenaga sinkang dan karena tenaga Hui Song memang besar sekali, maka dayungnya membuat bambu itu meluncur dengan amat lajunya. Akan tetapi, baru sampai di tengah-tengah rawa, bambu itu sudah dikurung oleh ratusan ekor binatang buas itu yang kini agaknya menjadi marah karena tidak mendapat makanan lagi.

Binatang ini agaknya memiliki watak seperti ikan-ikan hiu di lautan. Mereka bekerja sama secara rukun, akan tetapi sekali mencium darah, mereka tak mempedulikan darah kawan atau lawan. Semua yang berdarah akan diserbu dan diganyang dengan lahapnya!

Melihat ancaman hebat ini, Siang Hwa berteriak, "Taihiap, cepat, kita berkumpul di tengah dan saling melindungi!"

Mereka berdua melangkah ke tengah-tengah bambu dan beradu punggung, menghadapi serbuan binatang-binatang buas itu. "Bunuh sebanyaknya dan lemparkan bangkai mereka ke sana-sini untuk mencerai-beraikan mereka!" Kembali gadis itu berkata dengan tenang, namun hanya sikapnya yang tenang, suaranya agak gemetar.

Diam-diam Hui Song merasa kagum. Dia sendiri merasa ngeri dan dia tahu bahwa kalau hanya sendirian saja, akan lebih besarlah bahayanya, walau pun dia tentu akan mendapat akal untuk menyelamatkan dirinya.

Sekarang binatang-binatang liar itu menyerbu dari kanan kiri, dan kedua orang muda itu menggerakkan dayung mereka untuk menyambut. Berulang kali terdengar suara nyaring pecahnya kepala binatang itu disusul terlemparnya bangkai-bangkai mereka ke kanan kiri. Bangkai-bangkai itu langsung menjadi rebutan, akan tetapi karena yang menyerbu amat banyaknya, walau pun sebagian ada yang memperebutkan bangkai kawan sendiri, namun yang menyerbu bambu itu tetap saja masih amat banyak.

Hui Song merasa tidak leluasa apa bila menghadapi sekian banyaknya binatang itu hanya dengan berdiri di atas bambu sambil menyambut setiap binatang yang berani menyerang paling dekat. Maka dia cepat meloncat dari atas bambu, menghantam seekor buaya, lalu kakinya hinggap di atas kepala seekor buaya lain, kembali menghantam dan dengan cara berloncatan dari kepala ke kepala, dia dapat membagi-bagi pukulan dengan lebih baik.

Sebentar saja belasan ekor buaya telah pecah kepalanya, kemudian terjadilah perebutan bangkai yang hiruk-pikuk. Melihat sepak terjang pendekar itu, Siang Hwa terkejut dan juga amat kagum. Meski pun dia tahu bahwa pendekar itu lihai sekali, namun dia tidak pernah mengira bahwa Hui Song akan seberani dan sehebat itu.

"Mari, taihiap, sekarang ada kesempatan untuk melarikan diri!" katanya sesudah kini para binatang itu sibuk saling serang sendiri memperebutkan bangkai-bangkai yang banyak itu.

Mereka lalu mendayung lagi setelah dengan sigapnya Hui Song meloncat kembali ke atas bambu. Bambu meluncur cepat dan biar pun ada beberapa ekor binatang yang memburu, namun mereka sudah dapat tiba di seberang dengan selamat. Mereka menarik bambu itu ke darat dan menyembunyikannya ke belakang serumpun semak-semak.

"Hayaa... berbahaya juga...!" kata Hui Song sambil menyusuti peluh dari lehernya dengan sapu tangan.

Siang Hwa juga menyusuti keringatriya sambil memandang kagum. "Akan tetapi engkau hebat, taihiap. Sungguh hebat dan membuatku kagum sekali. Memang sangat berbahaya tadi, dan sekiranya bukan engkau yang mendampingiku, tentu tamatlah riwayat Gui Siang Hwa pada hari ini!"

"Ahhh, sudahlah jangan terlalu memuji, nona. Engkau sendiri juga mengagumkan sekali. Nah, sekarang apa pula yang akan kita hadapi?"

"Tinggal satu lagi, taihiap, akan tetapi satu yang paling sukar dan biar pun sudah dibantu oleh teman lihai yang akhirnya tewas di rawa ini, tetap saja aku tidak mampu mengatasi kesukaran terakhir ini. Mari kita lanjutkan perjalanan."

Akhirnya tibalah mereka di depan sebuah goa kecil yang tertutup batu bundar yang besar. "Nah, di belakang batu besar inilah tempat penyimpanan harta karun, yaitu menurut peta rahasia yang menjadi warisan Ciang-tosu. Akan tetapi, sungguh pun aku sudah berusaha mati-matian bersama teman itu, tetap saja kami tak berhasil menggerakkan batu ini yang seolah-olah melekat pada goa di belakangnya."

Hui Song tertarik sekali dan memandang batu besar bulat itu. Batu itu memang besar, akan tetapi karena bentuknya bulat, kalau orang mempunyai tenaga sinkang yang sudah cukup kuat, rasanya tentu akan dapat mendorongnya hingga menggelinding atau tergeser dari tempat semula. Gadis ini cukup lihai dan kuat, apa lagi dibantu seorang teman yang juga lihai, bagaimana sampai tidak berhasil mendorong batu bulat ini ke samping?

Dia tidak boleh mempergunakan tenaga kasar saja. Kalau dengan tenaga gabungan dua orang itu tidak berhasil menggeser batu ini, tentu ada rahasianya. Dia harus berhati-hati dan tidak boleh sembrono. Sebab itu mulailah dia meneliti dan mendekati batu itu, meraba sana-sini sambil memeriksa ke sekelilingnya. Akhirnya dia mengambil kesimpulan bahwa memang batu ini, biar pun tidak melekat dan menjadi satu dengan mulut goa, akan tetapi ditahan oleh sesuatu yang membuat batu itu sukar dilepaskan dari mulut goa. Tentu ada alat rahasianya.

"Taihiap, marilah kita mencoba untuk menyatukan sinkang kemudian mendorong batu ini agar tergeser dan membuka pintu goa," kata gadis itu.

Akan tetapi Hui Song menggelengkan kepalanya. "Nona, kurasa akan percuma saja kalau mempergunakan tenaga kasar memaksa batu ini tergeser. Batu ini besarnya membuat dia tidak mungkin dipecahkan dan meski pun garis tengahnya ada dua meter, mestinya dapat didorong atau digeser. Apa bila tidak dapat digeser, itu berarti bahwa di balik batu ini ada sesuatu yang mungkin sengaja dipasang untuk menahan batu ini agar tidak dapat pindah dari tempatnya. Aku mempunyai akal yang akan lebih mudah kita laksanakan."

“Bagaimana, taihiap?" gadis itu memandang penuh harapan.

"Kekuatan manusia ada batasnya. Akan tetapi kekuatan yang timbul dari berat jenis batu ini sendiri akan sukar dapat ditahan oleh alat yang membuat batu itu tidak bergoyah dari tempatnya. Mari kita membuat batu itu melepaskan diri sendiri dengan berat jenisnya."

Pada mulanya Siang Hwa tidak mengerti, akan tetapi melihat pemuda itu mulai menggali tanah di sebelah batu besar, dia mengerti dan segera membantu penggalian itu. Karena mereka berdua adalah orang-orang pandai yang bertenaga besar, sebentar saja mereka sudah menggali cukup lebar dan dalam.

Tiba-tiba saja Hui Song berteriak sambil mendorong tubuh gadis itu ke samping. Batu itu bergerak! Tak lama kemudian batu itu pun menggelinding masuk ke dalam lubang galian di sebelah kirinya dan terbukalah setengah pintu goa itu!

"Awas, jangan masuk dahulu secara sembrono!" Hui Song memperingatkan dan betapa pun ingin hati Siang Hwa, dia cukup waspada dan mentaati peringatan ini.

Terdengar suara keras dan mendadak dari dalam lubang goa itu menyambar tujuh batang anak panah menghitam yang telah berkarat disusul oleh debu yang mengepul keluar, debu yang jelas mengandung racun! Kedua orang muda itu menyingkir dan bergidik melihat anak panah itu meluncur lewat dan jatuh ke dalam jurang di belakang mereka.

"Aihh, sungguh berbahaya sekali!" kata Siang Hwa.

Hui Song mempergunakan tenaga sinkang untuk pukulan jarak jauh, mendorong dengan dua telapak tangannya ke arah lubang goa mengusir sisa debu dan juga untuk menahan kalau-kalau dari dalam ada serangan mendadak.

Mereka berindap masuk dan ternyata bukan manusia menyerang mereka, melainkan alat rahasia yang agaknya dipasang orang untuk menyerang siapa saja yang berani membuka batu dan memasuki goa itu. Ternyata tepat seperti dugaan Hui Song, di belakang batu itu terdapat sambungan besi yang terkait pada kaitan baja yang ditanam di lantai goa. Pantas saja tenaga manusia tidak mampu mendorong batu itu dari luar.

Sesudah batu itu bergantung pada lubang yang mereka gali, kaitan baja itu tidak kuat menahan berat batu sehingga patah. Akan tetapi begitu goa terbuka dan batu tergeser, otomatis berjalanlah alat-alat rahasia yang membuat tujuh anak panah itu meluncur keluar dan kantong terisi debu beracun pun jatuh pecah berhamburan. Semuanya itu digerakkan dengan per yang bekerja setelah batu itu tergeser.

Setelah meniliti semua itu, Hui Song menggeleng kepala dengan kagum. "Sungguh hebat sekali kepandaian orang yang memasangkan alat rahasia ini." Akan tetapi Siang Hwa tak begitu memperhatikan lagi semua alat rahasia itu.

"Taihiap, mari kita masuk. Menurut peta, harta karun itu tersimpan dalam jarak dua puluh satu langkah dari pintu ini dan tersembunyi di dalam dinding goa sebelah kiri. Biar kuukur jarak itu!" Dengan sikap gembira dan penuh ketegangan, Siang Hwa segera melangkah sambil menghitung dari pintu goa. Setelah dua puluh satu langkah dia berhenti.

"Tentu di sini tempatnya," katanya sambil berjongkok dan memeriksa dinding sebelah kiri. Hui Song mendekati, hatinya juga ikut merasa tegang.

"Ihh... apa ini...?" tiba-tiba gadis itu berteriak.

"Awas...!" Hui Song berseru. Cepat tangan kanannya mencengkeram pundak Siang Hwa untuk ditariknya ke belakang sambil tangan kirinya menangkis ketika ada benda hitam yang tiba-tiba saja meluncur ke arah dada gadis itu.

"Trakkk!"

Benda itu ternyata sebuah tombak kuno yang menghitam dan mudah diduga pula bahwa tombak ini, seperti juga anak panah tadi, mengandung racun. Akan tetapi bukan itu yang mengejutkan hati Hui Song dan Siang Hwa, melainkan jatuhnya pula sebuah kerangka manusia lengkap dari dinding itu.

Tadi Siang Hwa meraba-raba dinding itu, kemudian menemukan besi kaitan yang segera ditariknya dan begitu penutup dinding terbuka, kerangka itu terjatuh berikut tombak yang langsung meluncur!

Hui Song menyingkirkan tombak itu, kemudian bersama Siang Hwa menyalakan lilin-lilin yang tadi sudah mereka bawa sebagai bekal. Di bawah penerangan cahaya lilin-lilin yang lumayan terang, mereka melihat bahwa di balik pintu yang menutup dinding tadi terdapat sebuah peti besar berwarna hitam.

"Itulah harta karunnya!" Siang Hwa berseru girang sekali dan melonjak seperti anak kecil. Hui Song tersenyum karena pemuda ini pun dapat merasakan gejolak hatinya yang ikut bergembira. Usaha mereka berhasil dan semua jerih payah tadi tidak sia-sia.

"Hati-hati, nona. Jangan-jangan ada jebakan lagi atau senjata rahasia. Mari kita turunkan peti itu perlahan-lahan."

Hui Song lebih dahulu mencoba dengan mencokel-cokel peti itu menggunakan sepotong batu, bahkan Siang Hwa lalu menghunus pedang dan memukul-mukul di atas peti. Akan tetapi tidak terjadi sesuatu. Barulah mereka berani menarik dan menurunkan peti besar itu yang ukurannya lebih dari setengah meter persegi.

"Mengapa begini ringan?" Hui Song berkata.

"Kita buka saja, coba lihat isinya!" kata Siang Hwa tak sabar.

Peti itu dapat dibuka dengan mudah dan mereka pun bersikap hati-hati ketika membuka tutup peti. Tidak terjadi sesuatu, akan tetapi keduanya terbelalak memandang ke dalam peti karena peti itu ternyata kosong sama sekali! Bagaikan awan tipis ditiup angin, segera lenyaplah semua kegembiraan yang tadi memenuhi hati, terganti rasa kecewa yang amat menghimpit batin.

"Peti kosong...!" teriak Siang Hwa kemudian setelah dia dapat mengeluarkan suara.

"Mungkin bukan ini, mungkin di tempat lain," kata Hui Song membangkitkan harapan.

"Tidak, tidak! Pasti ini. Tempatnya sudah tepat, dan memang beginilah gambaran peti di dalam peta Ciang-tosu... Yang dimaksudkan sama seperti apa yang diceritakan suhu-nya. Tapi... sudah kosong. Ahh, inilah sebabnya mengapa ada kerangka manusia ini, dan pasti ada orang yang mendahului kita. Di dalam peta tidak pernah disebutkan adanya kerangka manusia atau tombak!"

"Didahului orang? Akan tetapi siapa yang bisa mendahuluimu, nona? Bagaimana pula dia dapat masuk kalau tadi batu itu masih utuh dan kaitannya juga baru saja terlepas? Dan siapa pula kerangka manusia ini? Marilah kita selidiki!" Hui Song dan Siang Hwa masing-masing membawa lilin karena keadaan pada bagian dalam goa itu sudah mulai remang-remang, melakukan pemeriksaan dengan hati kecewa dan tegang.

Hui Song ingin sekali membuktikan kebenaran dugaan Siang Hwa bahwa ada orang yang mendahului mereka. Kalau benar demikian, harus ada tanda-tandanya bagaimana orang itu dapat memasuki goa itu. Ataukah justru orang itu yang memasang semua alat rahasia di dalam goa itu? Akan tetapi, bukankah jebakan dan alat-alat rahasia itu sudah diketahui oleh Siang Hwa melalui peta, kecuali alat terakhir berupa tombak meluncur tadi? Tidak, kalau benar ada yang mendahului, tentu orang itu mengambil jalan lain yang tidak perlu merusak kaitan batu bundar penutup mulut goa!

Akhirnya usahanya berhasil. Dia menemukan sebuah lubang di lantai goa sebelah kanan, dan ketika dia menyingkirkan tanah yang menutupi lubang itu, lubang itu ternyata menuju ke bawah dan menembus keluar goa, melalui bawah batu! Mengertilah dia kini dan dia berseru kagum.

"Ahh, orang itu memasuki goa dengan jalan membuat lubang terowongan di bawah batu. Sungguh cerdik sekali!" katanya.

"Kerangka ini adalah kerangka seorang Mongol, dan pembunuhnya atau orang yang telah mengambil harta karun ini tentu ada hubungannya dengan perkumpulan rahasia Harimau Terbang di Mongol!"

"Apa...? Begaimana engkau bisa tahu, nona?" Hui Song mendekati gadis itu yang sedang memeriksa sebuah lencana yang terbuat dari emas.

"Aku pernah mempelajari ciri-ciri khas orang Mongol asli berdasarkan tulang pipi dan dagu dan tengkorak kerangka ini jelas adalah tengkorak seorang Mongol. Dan lencana ini tadi kudapatkan dalam genggamannya, agaknya sampai tewas, orang ini terus menggenggam sebuah lencana yang besar kemungkinannya berhasil dirampasnya dari leher lawan yang membunuhnya. Lencana ini adalah tanda anggota Harimau Terbang, sebuah perkumpulan rahasia di Mongol, yaitu menurut tulisan Mongol yang diukir di atasnya."

Hui Song melihat lencana itu dan dia pun merasa semakin kagum terhadap Siang Hwa. Kiranya selain lihai, gadis ini juga mempunyai pengetahuan yang luas. "Jadi kalau begitu kesimpulannya..."

"Seorang atau lebih orang yang lihai dan cerdik sekali telah tahu akan rahasia harta karun ini, dan telah mendahului kita, mungkin juga telah belasan bulan melihat betapa mayat ini sudah menjadi kerangka yang masih utuh. Dia atau mereka memasuki goa dengan jalan membuat lubang terowongan kecil itu. Kemudian agaknya terjadi perebutan di sini, lantas orang ini tewas sedangkan dia hanya berhasil merampas lencana yang agaknya dipakai oleh lawan sebagai kalung tanpa diketahui lawan itu. Orang itu, atau lebih dari seorang, lalu mengambil seluruh isi peti harta karun, memasukkan mayat orang ini ke dalam lubang bersama peti, memasang sebuah tombak untuk menyerang orang yang datang kemudian membuka tempat penyimpanan peti harta pusaka, Bagaimana pendapatmu, taihiap?"

Hui Song mengangguk-angguk. Perkiraan yang tepat sekali karena dia sendiri pun tidak dapat menerka lain. "Dugaanmu agaknya tepat sekali, nona. Memang hanya seperti itulah kiranya yang dapat terjadi. Alat-alat rahasia di belakang batu penutup goa itu dibuat oleh mereka atau dia yang menyimpan harta pusaka itu, sedangkan mayat serta tombak tadi memang diletakkan kemudian, dan tentunya oleh si pencuri harta pusaka. Lalu sekarang bagaimana?"

Tiba-tiba Siang Hwa menangis! Hal ini amat mengejutkan hati Hui Song. Dia terkejut dan terheran, sama sekali tidak pernah dapat membayangkan seorang yang gagah dan lihai seperti Siang Hwa dapat menangis sesenggukan seperti anak kecil begitu.

Akan tetapi dia segera teringat bahwa bagaimana pun juga, Siang Hwa adalah seorang wanita, dan harus diakuinya bahwa mendapatkan peti harta pusaka yang telah kosong itu sungguh merupakan pukulan batin yang sangat hebat! Dia sendiri yang sama sekali tidak memiliki kepentingan dengan harta itu, yang hanya terlibat secara kebetulan saja, merasa amat kecewa, menyesal dan tertekan batinnya. Apa lagi Siang Hwa!

Gadis ini telah lama menyelidiki tempat ini, telah berkali-kali gagal, bahkan sudah banyak temannya tewas dalam tugas penyelidikan. Kini, setelah berhasil menemukan tempat dan peti harta pusaka itu, setelah harapan sudah memuncak di ambang keberhasilan, tiba-tiba saja segala-galanya hancur dan gagal sama sekali! Dia merasa iba, tetapi segera teringat bahwa harta pusaka itu diperebutkan hanyalah demi menentang pemberontakan, bukan untuk kepentingan diri pribadi.

“Sudahlah, nona. Kiranya tak ada gunanya ditangisi lagi. Pula, kita mencari harta pusaka untuk menghalangi pusaka itu jatuh ke tangan pemberontak. Dan seperti dugaanmu tadi, agaknya yang mengambilnya adalah orang Mongol, bukan para datuk sesat yang hendak memberontak. Yang penting adalah tidak terjatuh ke tangan pemberontak, jadi sama saja apakah pusaka itu terjatuh ke tangan kita ataukah orang lain asal jangan pemberontak, bukankah begitu?"

Siang Hwa memandang tajam dan sepasang matanya seperti berkilauan di bawah sinar lilin. "Taihiap, engkau tentu akan suka membantu kami untuk melakukan pengejaran ke Mongol, membantu kami merampas kembali harta pusaka itu, bukan?"

Hui Song mengerutkan alisnya. "Untuk apa, nona? Aku... aku mempunyai urusan lain..."

Dia teringat akan tugasnya seperti yang dipesankan oleh gurunya. Tentu saja dia tidak berani berterus terang kepada Siang Hwa tentang usaha para pendekar menentang para datuk sesat yang merencanakan pemberontakan, walaupun dia menganggap Siang Hwa juga seorang di antara para orang gagah yang menetang pemberontakan.

"Taihiap, bukankah kita satu haluan, yaitu hendak menentang para pemberontak? Nah, usaha mendapatkan harta karun itu merupakan pukulan paling hebat bagi mereka, selain mereka gagal memperoleh harta yang akan dapat mereka pergunakan untuk membiayai pemberontakan, juga kita bisa menggunakan harta itu bagi keperluan gerakan menentang mereka."

Ucapan gadis itu meyakinkan hatinya dan memperkuat kepercayaannya. Sekarang timbul kepercayaan di hati Hui Song. Jangan-jangan gadis ini adalah seorang di antara pimpinan para patriot yang hendak membela negara!

"Nona Gui, aku harus pergi ke bekas benteng Jeng-hwa-pang..." Dia memancing sambil menatap tajam wajah gadis itu. Akan tetapi wajah Siang Hwa tidak menunjukkan sesuatu, hanya sepasang mata itu yang berkilat penuh penyelidikan mengamati wajah Hui Song.

"Cia-taihiap, sudah terlampau lama aku sibuk dengan tugasku untuk mencari harta karun sehingga aku agak terlambat mengikuti perkembangan gerakan kawan-kawan kita di luar. Tentu di sana akan diadakan pertemuan rahasia antara kita, bukan?"

Hui Song mengangguk. "Para pendekar akan mengadakan pertemuan di sana, kalau aku harus membantumu maka aku khawatir akan terlambat."

"Ahh, kalau begitu aku tidak boleh mengganggumu! Apakah engkau akan datang sebagai wakil dan utusan Cin-ling-pai?"

Betapa inginnya hati Hui Song untuk mengaku demikian. Akan tetapi dia segera teringat akan sikap ayahnya dan dia tidak berani berbohong, maka dia pun tidak menjawab secara langsung melainkan hanya menggeleng kepala.

"Baiklah, kalau begitu terpaksa kami akan melanjutkan sendiri pencarian kami. Sekarang kita harus keluar dari tempat ini sebelum malam tiba, taihiap."

Akan tetapi, melihat gadis itu mengangkat lilin tinggi di atas kepala dan terus berjalan menuju ke sebelah dalam goa, Hui Song bertanya, "Ehh, jalan ke mana, nona?"

"Taihiap, menurut peta yang dimiliki Ciang-tosu, goa ini berupa terowongan yang menuju ke belakang bukit. Seperti yang kau lihat, di depan sana ada sinar terang, berarti di sana juga ada lubang mulut goa di belakang bukit ini. Mari kita mengambil jalan ke sana, dan melihat keadaan di situ. Siapa tahu kalau-kalau penjahat-penjahat yang mencuri harta itu menyembunyikan harta itu di sana, walau pun harapan ini tipis sekali. Akan tetapi setelah berhasil memasuki tempat yang luar biasa ini, tiada salahnya kalau kita melihat sebentar bagaimana macamnya tembusan goa ini, bukan?"

Hui Song mengangguk kemudian mengikuti gadis itu. Sesudah maju belasan meter dan membelok, benar saja nampak mulut goa sehingga kini mereka tidak perlu lagi memakai lilin karena cahaya terang memasuki goa dari pintu atau mulut goa itu. Matahari sudah condong ke barat, akan tetapi sinarnya masih nampak terang. Silau juga rasanya mata yang sudah lama berada di dalam goa gelap, hanya diterangi api lilin, kini tiba-tiba harus menghadapi cahaya matahari di luar goa itu.

Dan pemandangan di depan goa itu sungguh indah, juga amat mengerikan. Depan goa itu merupakan batu datar yahg lebarnya dua meter dan panjangnya kurang lebih lima belas meter, akan tetapi selanjutnya tak ada apa-apa lagi, merupakan jurang yang amat curam! Sungguh mengerikan kalau memandang ke bawah, yang nampak hanya kabut.

Tidak ada jalan keluar dari tempat itu, merupakan jalan mati yang berakhir dengan jurang yang amat dalam. Di depan tampak puncak bukit batu karang menonjol, jaraknya dari tepi jurang itu tidak terlampau jauh, hanya kurang lebih lima puluh meter, akan tetapi nampak menganga mengerikan dan kelihatan lebih jauh dari kenyataannya karena adanya jurang yang sangat curam itu.

"Ini merupakan jalan buntu dan mati, tidak ada jalan keluar dari sini. Tidak, nona, pencuri harta pusaka itu tidak mengambil jalan sini, melainkan kembali melalui terowongan kecil yang mereka buat di bawah batu," kata Hui Song sambil menjenguk ke bawah dari tebing jurang itu.

Sampai lama tidak terdengar suara jawaban. Hui Song menengok sambil memutar tubuh dan langsung terbelalak memandang dengan terheran-heran kepada tiga orang itu, Siang Hwa, Ciang-tosu serta Ciong-hwesio yang sudah berdiri menghadang di depan mulut goa dengan wajah beringas! Ada senyum mengejek menghias bibir Siang Hwa yang biasanya bersikap manis dan halus itu.

"Cia Hui Song, pencuri itu tidak keluar dari sini, akan tetapi sekarang engkau harus keluar dari sini!"

"Nona, apa artinya ini?" Hui Song bertanya, sikapnya masih tenang namun tetap waspada karena dia maklum bahwa tiga orang ini sudah membohonginya, buktinya kini dua orang kakek yang katanya tidak sanggup melewati jembatan batu-batu pedang itu ternyata telah dapat menyusul ke sini.

"Artinya, engkau harus mampus di sini untuk menebus semua dosamu. Pertama, engkau berani menghina dengan menolak perasaan hatiku kepadamu, dan kedua, engkau tidak bersedia membantu kami mencari harta karun itu ke Mongol, dan ketiga, engkau sebagai orang luar sudah tahu akan harta karun itu, maka untuk menutup rahasia ini serta untuk menebus dosamu, engkau harus mati. Nah, terjunlah ke dalam jurang itu."

“Tetapi... bukankah kita sehaluan...?" Hui Song bertanya, bukan karena takut melainkan karena penasaran dan heran.

"Ha-ha-ha!" kakek gendut yang disebutnya Ciong-hwesio tertawa bergelak. "Sehaluan? Ha-ha-ha...!"

"Nona, apa artinya semua ini?" Hui Song membentak kepada Siang Hwa, merasa cukup dipermainkan dan menuntut penjelasan, namun matanya tidak lepas dari sikap mereka itu karena dia cukup mengenal kelihaian dan kecurangan mereka.

"Orang tampan yang berhati dingin, engkau ingin tahu dan masih belum dapat menerka semua hal ini? Baik, dengarlah sebelum engkau mati. Aku Gui Siang Hwa adalah murid Pangeran Toan Jit-ong dan aku mewakili suhu mencari harta karun itu. Mereka ini adalah para pembantu suhu yang berjuluk Hui-to Cin-jin dan Kang-thouw Lo-mo..."

Mata Hui Song terbelalak dan ingin dia menampar muka sendiri sebab merasa menyesal sekali atas kebodohannya. Dia seperti pernah mendengar nama dua orang kakek itu, lalu mengingat-ingat lagi dan akhirnya mengangguk-angguk.

"Kiranya dua orang dari Cap-sha-kui...? Bagus, ternyata kalian bertiga adalah komplotan busuk itu sendiri!"

"Cia Hui Song, lebih baik engkau cepat meloncat ke bawah, atau engkau lebih suka kami yang memaksamu?" Siang Hwa menghunus pedang tipisnya.

Hui-to Cin-jin juga sudah menghunus keluar sepasang pisau belati, ada pun kakek gendut Kang-thouw Lo-mo melepaskan tali guci arak yang tadinya tergantung pada pinggangnya. Kiranya guci arak kecil ini juga dapat dipergunakan sebagai senjata oleh si gendut ini!

Hui Song tersenyum mengejek, timbul kembali kegembiraan dan ketabahannya. Lebih baik menghadapi lawan secara berterang begini dari pada menghadapi mereka yang disangkanya teman sehaluan yang dapat dipercaya.

"Perempuan hina, jangan disangka bahwa aku takut menghadapi kalian bertiga. Dulu aku terjebak karena tak mengira bahwa engkau adalah seorang iblis betina. Sekarang jangan harap kecuranganmu itu akan dapat mengulangi lagi!"

"Manusia sombong!" bentak Hui-to Cin-jin yang tadinya diberi nama Ciang-tosu itu, lantas tiba-tiba cahaya kilat menyambar ketika kedua tangannya bergerak. Dua batang pisau itu telah menyambar ke arah tenggorokan dan perut Hui Song dengan kecepatan bagai kilat! Memang inilah keistimewaan kakek itu, bahkan nama julukannya Hui-to (Pisau Terbang).

Akan tetapi sekali ini Hui Song sudah bersiap siaga dengan penuh kewaspadaan, maklum bahwa yang dihadapinya adalah lawan-lawan yang tangguh, berbahaya dan juga curang sekali. Maka begitu melihat ada dua sinar berkelebat, dengan tenang dia menggerakkan tangannya dan dengan sentilan jari tangannya, dua batang pisau itu runtuh ke atas tanah kemudian menancap sampai hanya nampak gagangnya saja! Tosu itu terkejut dan kedua tangannya sudah memegang dua batang pisau lainnya.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner