ASMARA BERDARAH : JILID-36


Sehari lamanya dia berlari terus, hanya kadang-kadang lambat dan mengaso apa bila dia sudah merasa lelah sekali. Setelah malam tiba, baru dia berhenti dan beristirahat di dalam sebuah hutan. Gadis ini sudah lupa sama sekali dengan masa lalunya. Bahkan namanya sendiri pun dia lupa! Dia juga tidak mempunyai apa-apa lagi karena semua pakaiannya tertinggal di tempat persembunyian di dekat Goa Iblis Neraka.

Malam itu dia menangkap seekor kelinci dan setelah memanggang dagingnya lalu makan daging panggang. Dia lalu duduk melamun di depan api unggun, mengerahkan pikirannya untuk mengingat-ingat, akan tetapi tetap saja dia tidak tahu apa-apa. Yang diketahuinya hanyalah bahwa dia sedang dikejar-kejar oleh seorang lawan yang tangguh, dan bahwa dia harus pergi ke utara, jauh melewati Tembok Besar.

Entah bagaimana, mungkin karena urusan menghadapi pemberontakan para datuk sesat itu sangat terkesan di dalam batinnya, maka hal inilah yang teringat olehnya, yaitu bahwa dia harus pergi ke utara, keluar Tembok Besar!

Biar pun sudah kehilangan ingatannya tentang masa lalu, namun Sui Cin tidak kehilangan semangat dan kelincahannya. Dia tetap kelihatan segar dan wajahnya selalu berseri-seri, melakukan perjalanan dengap cepat, terus menuju ke utara. Sama sekali tidak ada tanda-tandanya bahwa dia tengah menderita luka dan guncangan yang membuat dia kehilangan ingatannya. Hanya kalau sedang duduk seorang diri sambil melamun dan mencoba untuk mengingat-ingat keadaan dirinya, siapa dirinya dan bagaimana asal usulnya, dia nampak bengong dan bingung.

Karena dia tidak sadar betul ke mana dia harus pergi, sesudah melewati Tembok Besar, Sui Cin memasuki daerah Mongol tanpa dia ketahui di mana dia berada dan ke mana dia harus pergi. Ia merasa gembira melihat daerah yang sama sekali asing baginya ini. Akan tetapi dia merasa bingung ketika bertemu dengan serombongan orang Mongol, dia sama sekali tidak mengerti bahasa mereka!

Setelah rombongan itu pergi dia melamun. Untuk apa dia datang ke tempat asing ini? Dia hanya merasa betapa ada dorongan dalam hatinya bahwa dia harus pergi keluar Tembok Besar, akan tetapi ke mana dan untuk apa dia tidak tahu!

Dia mengambil keputusan untuk merantau selama beberapa hari. Apa bila selama itu dia tidak juga dapat teringat untuk keperluan apa dia berada di tempat ini, dia akan kembali ke selatan, ke daerah di mana bahasa orang-orangnya dapat dia mengerti artinya.

Pada suatu hari, dalam keadaan kesepian, dia melihat satu rombongan orang Mongol lagi dan sekali ini di antara mereka terdapat beberapa orang wanita Mongol yang memakai pakaian wanita Han. Sui Cin segera teringat akan pakaiannya sendiri. Pakaiannya sudah kotor dan banyak yang robek-robek.

Hanya beberapa kali saja, di tempat sunyi di mana tidak terdapat orang lain, dia mencuci pakaiannya dan menjemur pakaian itu. Ia sendiri bertelanjang bulat, karena tidak memiliki pakaian cadangan. Dan kini pakaiannya sudah kotor lagi, bahkan sudah robek-robek.

Ia bukan seorang gadis pesolek, bahkan biasanya ia pun memakai pakaian seadanya dan seenaknya saja, bahkan kadang kala nampak nyentrik. Meski pun Sui Cin adalah seorang gadis puteri Pendekar Sadis yang kaya raya, namun sejak kecil ia lebih suka berpakaian sederhana.

Dalam keadaan kehilangan ingatan ini pun ia tidak berubah. Hanya ia sejak kecil memang suka akan kebersihan sehingga meski pun pakaiannya buruk dan lama, akan tetapi harus selalu bersih. Dan kini, dengan pakaian hanya satu-satunya sehingga tidak dapat diganti dan sudah kotor, ia merasa tersiksa sekali.

Karena itulah ketika melihat beberapa orang yang mengenakan pakaian bagus-bagus dan bersih itu, dia menjadi kepingin sekali. Akan tetapi, di saku bajunya sama sekali tidak ada apa-apanya, apa lagi uang untuk membeli pakaian.

Dengan hati amat kepingin akan tetapi tak berdaya membeli dan juga merasa malu untuk mencoba-coba minta, diam-diam Sui Cin mengikuti rombongan yang terdiri dari belasan orang itu. Mereka membawa dua buah kereta untuk para wanita dan anak-anak, ada pun para prianya berjalan sambil berjaga-jaga.

Malam itu, ketika rombongan berhenti dan bermalam pada sebuah dusun, Sui Cin beraksi dan pada esok harinya, keluarga itu ribut-ribut karena sudah kehilangan dua stel pakaian wanita yang masih baru. Dua stel pakaian itu menghilang tanpa bekas!

Dan pada pagi hari itu, Sui Cin dengan pakaian baru tersenyum-senyum gembira. Ia telah berganti pakaian dan merasa dirinya segar sehabis mandi di luar dusun dan mengenakan pakaian baru dan bersih, bahkan sekarang masih ada satu stel yang dibuntalnya dengan pakaian lamanya.

Hanya satu hal yang masih membuatnya tidak senang, yaitu bahwa ia sama sekali tidak dapat berhubungan dengan orang-orang itu karena tidak mengerti bahasanya. Dan ia pun tak ingin pakaian yang dipakainya itu dikenal oleh rombongan semalam, maka ia pun lalu melanjutkan perjalanannya, kini membelok ke timur.

Pada keesokan harinya, selagi berjalan seorang diri sambil menimbang-nimbang apakah tidak sebaiknya kalau dia kembali ke selatan, tiba-tiba dia melihat seorang nenek sedang menangis di tepi sebuah hutan. Nenek itu berjongkok sambil menangisi seekor ular yang mati dan melingkar di atas tanah.

Nenek itu jelek sekali. Mukanya penuh dengan keriput dan terlihat buruk, tubuhnya kurus, punggungnya bongkok melengkung, rambutnya yang putih riap-riapan. Pakaiannya jubah kedodoran dan ketika Sui Cin mendekat, dia mencium bau yang tidak enak. Akan tetapi, biar pun demikian, tetap saja hati gadis itu merasa gembira dan dia terus menghampiri.

Yang membuatnya bergembira adalah karena dia dapat mengerti kata-kata tangisan atau keluhan nenek itu! Nenek itu mempergunakan bahasa Han dari selatan, walau pun agak kaku, namun dia dapat mengerti dengan jelas.

"Aduhhh, anakku yang baik... ahhh, kenapa engkau mati dan kenapa engkau tega sekali meninggalkan aku seorang diri... hu-hu-hu-huhh... ke mana aku harus mencari pengganti sepertimu, yang setia, patuh dan tangguh? Hu-hu-huuhhh...!"

Dalam keadaan biasa, tentu Sui Cin akan merasa ngeri mendekati nenek itu. Wajahnya demikian buruk menakutkan, dan sikapnya itu bagaikan orang gila. Mana ada orang yang menangisi kematian seekor ular besar? Akan tetapi, karena sesudah berhari-hari baru kini dia mendengar kata-kata yang dapat dimengertinya, maka hatinya gembira sekali dan dia merasa kasihan kepada nenek ini.

Memang bukan hanya gadis itu yang mempunyai perasaan demikian. Semua orang pun, kalau berada di tempat asing, atau lebih tepat lagi, kalau berada di negara asing, di antara bangsa asing yang berbahasa asing pula, akan merasa gembira sekali apa bila berjumpa dengan orang sebangsa, atau setidak-tidaknya sebahasa! Seakan-akan bertemu dengan seorang saudara di antara orang-orang asing.

"Nenek yang baik, mengapa engkau begini bersedih? Engkau sedang kematian binatang peliharaanmu? Mengapa ular ini bisa mati, nek?"

Nenek itu menghentikan tangisnya dengan tiba-tiba, lalu menoleh. Matanya yang melotot lebar itu amat mengerikan, akan tetapi Sui Cin tersenyum manis padanya, dengan sikap menghibur.

Nenek ini seperti anak kecil saja, pikirnya, menangisi binatang peliharaannya yang mati. Kalau binatang peliharaan seperti kucing, anjing, kuda atau ternak lainnya, bahkan burung kesayangan, masih wajar. Akan tetapi yang ditangisi kematiannya ini adalah seekor ular besar yang mengerikan!

"Siapa kau...?" Nenek itu tiba-tiba bertanya, seakan-akan merasa heran ada orang yang menegurnya, apa lagi di dalam bahasa Han, lantas matanya terbelalak dan mengeluarkan sinar berkilat. "Eh, engkau... engkau gadis she Ceng itu...!" nenek itu berseru dan bangkit berdiri. Setelah dia berdiri, bongkoknya nampak sekali.

Sui Cin juga bangkit berdiri, memandang kepada nenek itu dengan wajah berseri. "Nenek yang baik, engkau mengenalku? Engkau tahu benar bahwa aku she Ceng? Sebenarnya, nek, aku sudah lupa segala tentang diriku, maka... tolonglah kau beri tahu siapa diriku ini, nek…"

Nenek itu tertawa, suara ketawanya terkekeh lirih, ada pun mata yang lebar itu berkilauan membayangkan kecerdikan dan kelicikan, juga kekejaman luar biasa. Kalau saja Sui Cin tidak kehilangan ingatannya, tentu dia akan kaget setengah mati berjumpa dengan nenek ini, karena nenek ini adalah seorang musuh lamanya, yaitu Kiu-bwe Coa-li (Nenek Ular Ekor Sembilan), seorang di antara Cap-sha-kui yang kejam dan lihai! Dan agaknya nenek yang menjadi datuk kaum sesat ini tidak melupakan Sui Cin, maka dia nampak terkejut sekali. Akan tetapi begitu melihat sikap Sui Cin yang lupa akan keadaan dirinya, nenek itu terkekeh girang.

"Ah, bagaimana engkau bisa lupa akan dirimu sendiri, nona?" tanyanya, sikapnya terlihat ramah sehingga wajahnya yang amat buruk itu tidak begitu menakutkan lagi.

"Entahlah, nek, aku lupa segalanya. Seingatku ada yang menghantam kepalaku, mungkin batu yang dilontarkan oleh seorang musuhku kepadaku dan mengenai belakang kepalaku. Akan tetapi aku menjadi pening dan sampai sekarang aku lupa segalanya tentang diriku. Bahkan engkau yang ternyata sudah mengenal aku pun sama sekali aku tidak ingat lagi. Siapakah aku ini, nek? Tolonglah bantu aku agar kembali ingatanku. Siapakah aku ini?"

"Anak baik, siapakah musuhmu yang menyerangmu dengan lontaran batu itu?"

Sui Cin menggelengkan kepalanya. "Aku pun tidak tahu, nek. Hanya setahuku, dia adalah seorang pemuda yang lihai sekali ilmu silatnya, dan aku tidak akan melupakan wajahnya karena sekali waktu aku harus membalas perbuatannya itu!" Sui Cin lalu mengepal tinju dengan gemas.

"He-he-heh-heh, anak baik, engkau bukan orang lain, masih terhitung cucu keponakanku sendiri."

Sui Cin terbelalak, terkejut, heran dan sekaligus girang. "Aih, benarkah itu, nek? Siapakah engkau dan siapa pula namaku, siapa pula orang tuaku?"

"Engkau benar-benar tidak ingat kepadaku? Lihat ini, apakah engkau lupa kepada benda ini?" Kui-bwe Coa-li mengeluarkan senjatanya, yaitu cambuk ekor sembilan yang ampuh dan menyeramkan itu. Akan tetapi Sui Cin memandang biasa saja kemudian menggeleng kepalanya.

"Tidak, nek, aku tidak mengenal cambuk itu."

Dan legalah hati Kiu-bwe Coa-li. Agaknya gadis ini memang benar-benar telah kehilangan ingatannya dan tidak ingat lagi akan segala hal yang dikenalnya pada masa lalu. Bagus, pikirnya, memudahkan dia untuk melumpuhkan gadis ini!

"Namamu... Bi Hwa, Ceng Bi Hwa, ayah ibumu sudah tidak ada, engkau yatim piatu dan dulu engkau pernah ikut belajar silat kepadaku selama beberapa tahun. Mendiang ayahmu adalah keponakanku, jadi engkau adalah cucu keponakanku. Aku dijuluki orang sesuai dengan senjataku ini, ialah Kiu-bwe Coa-li." Nenek itu memegang cambuk ekor sembilan di tangan kanannya dan diam-diam ia mempersiapkan diri untuk menyerang, kalau gadis itu teringat kembali akan nama julukannya.

Akan tetapi Sui Cin sama sekali tidak ingat, hanya mengulang namanya dengan dua alis berkerut, "Bi... Ceng Bi Hwa... ahh, aku sama sekali tidak ingat lagi namaku sendiri, nek, Harap maafkan aku..." Kemudian dia memberi hormat pada nenek itu. "Terimalah hormat dariku, nek."

Kiu-bwe Coa-li mengangguk-angguk sambil terkekeh girang. "Bagus, bagus... jangan kau khawatir, cucuku. Sesudah engkau bertemu dengan nenekmu ini, kujamin engkau segera akan menemukan kembali ingatanmu, heh-heh."

"Aih, benarkah, nek? Benarkah engkau hendak mengobatiku? Ah, aku akan girang sekali kalau aku dapat mengingat semua keadaan diriku."

"Tentu saja! Bukankah engkau ini cucu keponakanku yang tersayang? Jangan khawatir, dengan mudah saja aku akan dapat menyembuhkanmu dan mengembalikan ingatanmu. Akan tetapi sebelum itu, aku ingin sekali menyelidiki dulu bagaimana keadaan orang yang kehilangan ingatannya. Perlu bagiku untuk pengobatan. Bi Hwa, apakah engkau lupa pula dengan semua ilmu silatmu yang pernah kuajarkan kepadamu?"

Sui Cin mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepala. "Aku lupa bahwa engkau yang mengajarkan ilmu silat kepadaku, nek, dan lupa lagi ilmu silat apa adanya itu. Akan tetapi gerakan ilmu silat itu sudah mendarah daging di tubuhku, menjadi gerakan otomatis kaki dan tanganku sehingga aku bergerak tanpa mengingat lagi. Agaknya... agaknya aku tidak melupakan ilmu silat itu, nek."

"Hemm... aneh, aneh. Akan tetapi sebaiknya bila kucoba untuk membuktikan kebenaran omonganmu. Nah, kau bergeraklah menurut nalurimu, aku akan mencoba menyerangmu dengan cambukku. Sesudah ujian ini, baru nanti aku akan mengobatimu sampai sembuh, cucuku tersayang."

Nenek itu menggerakkan cambuknya ke atas, dan terdengar bunyi meledak-ledak ketika sembilan ekor cambuknya itu seperti hidup sendiri-sendiri, bergerak-gerak bagai sembilan ekor ular hidup! Dan tiba-tiba cambuk itu menyambar ke arah Sui Cin.

"Tar-tarr-tarrrr...!"

Sui Cin terkejut melihat gerakan cambuk yang hebat ini. Tidak disangkanya bahwa nenek yang aneh seperti orang gila atau seperti anak kecil ini, yang menangisi kematian seekor ular, dan yang ternyata adalah bibi dari ayahnya seperti yang dikatakan nenek itu, kiranya memiliki kepandaian hebat dan serangan cambuk itu benar-benar amat berbahaya.

Sembilan ekor ujung cambuk itu bergerak laksana ular-ular hidup dan masing-masing kini menyerang secara bertubi ke arah sembilan jalan darah di tubuhnya! Tentu saja dia pun cepat menggerakkan tubuhnya dan tiba-tiba saja tubuh gadis di depannya itu berkelebat dan lenyap!

Maka kagelah Kiu-bwe Coa-li. Seingatnya, gadis yang dia ketahui adalah puteri Pendekar Sadis ini, walau pun memang lihai, akan tetapi tidak sehebat ini kelihaiannya. Gadis yang berada di depannya ini mempunyai ginkang yang mentakjubkan! Dia menjadi penasaran sekali, akan tetapi mulutnya terkekeh.

"He-heh-heh, bagus, engkau masih memiliki kegesitanmu. Nah, bersiaplah, kini aku akan menyerang sungguh-sungguh!"

Dan cambuk itu lalu diputar, mengeluarkan suara ledakan-ledakan kecil dan kini nenek itu menyerang dengan amat hebatnya. Dahsyat dan buas serangannya, ujung cambuk yang sembilan itu mematuk-matuk dan menotok-notok, mencari jalan darah di tubuh Sui Cin.

Secara otomatis gadis ini menggerakkan tubuhnya. Dengan ginkang yang baru-baru ini dipelajarinya dari Wu-yi Lo-jin, tubuhnya berkelebatan seperti bayang-bayang yang cepat sekali menyambar-nyambar di antara gulungan sinar-sinar hitam dari cambuk nenek itu. Tentu saja dia tidak membalas kerena dia menganggap bahwa nenek itu hanya sekedar menguji apakah dia tidak melupakan ilmu silatnya yang menurut nenek itu diajarkan oleh nenek itu kepadanya!

Tentu saja niat yang terkandung di dalam hati Kiu-bwe Coa-li tidaklah demikian. Ia hanya ingin melihat sampai di mana kelihaian gadis ini. Jika mungkin, tentu lebih mudah baginya membunuh gadis puteri Pendekar Sadis itu secara langsung saja dengan cambuknya ini. Akan tetapi, kalau ternyata gadis itu terlalu lihai, dalam keadaan hilang ingatan, dia akan dapat mempergunakan akal lain yang lebih halus untuk menjerat dan melumpuhkannya.

Nenek itu terkejut melihat gerakan Sui Cin yang demikian hebatnya ketika berkelebatan mengelak dari sambaran cambuknya,. Tidak dikiranya gadis itu kini sedemikian hebatnya, memperoleh kemajuan yang demikian pesat, jauh lebih hebat dibandingkan dulu. Maka ia pun maklum bahwa dengan cambuknya, ia tidak akan mampu membunuh gadis ini, dan ia pun lalu melompat ke belakang menghentikan serangannya.

"Bagus, bagus... heh-heh, engkau masih belum lupa akan ilmumu. Baiklah, sekarang aku akan memberi obat kepadamu agar engkau dapat pulih kembali, supaya ingatanmu sehat kembali."

Hati Sui Cin merasa lega dan girang sekali. Tadi ia sudah merasa khawatir melihat betapa nenek itu menyerangnya secara dahsyat dan berbahaya. "Terima kasih, nek."

Nenek itu lalu duduk bersila di atas tanah. Sui Cin juga berjongkok di depannya, melihat nenek itu mengeluarkan satu guci arak, sebuah cawan dan sebuah botol kecil dari balik jubah yang lebar itu. Dia menuangkan arak dari guci ke dalam cawan, hanya setengah cawan, lantas menuangkan bubuk kehijauan dari botol kecil ke dalam cawan yang berisi arak setengahnya itu. Sambil terkekeh dia lalu mengocok arak itu sehingga bubukan hijau bercampur ke dalam arak.

"Nah, ini obat mujarab sekali, cucuku. Sekali minum engkau akan merasa mengantuk lalu tertidur dan sesudah engkau bangun dari tidur, ingatanmu akan pulih kembali," katanya sambil menyodorkan minuman itu.

Sui Cin menerimanya dan langsung membawa cawan itu ke bibirnya. Akan tetapi begitu cawan itu menempel di bibirnya, dia tidak jadi minum dan memandang nenek itu dengan alis berkerut.

"Ehh, ada apakah, cucuku? Hayo minum obat itu dan engkau akan sembuh."

"Akan tetapi, nek. Aku tidak tahu apa isi obat ini, hanya perasaanku melarang aku untuk meminumnya karena mengandung bau amis beracun!"

"Heh-heh-heh, tentu saja, memang obat itu mengandung racun dari ular sendok merah! Memang obat itu racun, racun itu obat, asal kita tahu cara mempergunakannya saja. Eh, Bi Hwa, apakah engkau tidak percaya kepada nenekmu sendiri, kepada orang yang dulu menimang-nimangmu di waktu engkau masih kecil, kepada orang yang telah mengajarkan semua ilmu itu kepadamu? Apa kau sangka aku akan meracunimu? Pikiranmu telah jadi hilang ingatan, akan tetapi tentu belum begitu gila untuk mengira bahwa aku, nenekmu yang menyayangmu, akan meracunimu!"

Merah wajah Sui Cin. Tentu saja ia merasa tidak enak sekali. Ia tidak tahu pasti apakah minuman itu akan mencelakakannya, akan tetapi nenek ini mengenalnya, dan nenek ini tadi sudah mengujinya dan kini hendak menyembuhkannya. Mengapa ia ragu-ragu?

Ia mendekatkan lagi cawan itu, sambil memejamkan mata ia pun menuangkan arak itu ke dalam mulut dan terus ditelannya. Ia menahan diri untuk tidak muntah oleh bau amis itu! Begitu arak itu memasuki perutnya, ia merasa ada hawa panas yang berputaran di dalam perutnya.

Itulah hawa sinkang dari pusar yang otomatis memberontak dan hendak melawan ketika perut itu dimasuki benda berbahaya. Akan tetapi racun itu sudah terlanjur bekerja dan Sui Cin merasa betapa tubuhnya lemas dan matanya mengantuk.

"Heh-heh-heh, engkau sudah mulai mengantuk, bukan? Nah, tidurlah dan setelah bangun nanti engkau pasti sudah sembuh sama sekali. Kini tidurlah, cucuku yang baik, tidurlah." Nenek itu sambil tersenyum melihat Sui Cin yang lemas itu merebahkan tubuhnya di atas tanah, dan Sui Cin mendengar nenek itu bersenandung, seperti sedang menina bobokkan cucunya!

Suara itu aneh sekali dan tidak enak didengar, akan tetapi karena rasa kantuk yang tidak tertahankan lagi, maka dia pun tertidurlah.

Sui Cin tidak tahu berapa lama dia tertidur pulas, akan tetapi ketika dia tersadar kembali, matahari sudah naik tinggi dan dia berada dalam keadaan terikat pada sebatang pohon! Tentu saja dia terkejut sekali sehingga otomatis dia mencoba untuk meronta. Akan tetapi usahanya sia-sia belaka karena dia mendapat kenyataan yang sangat mengejutkan, yaitu bahwa kaki tangannya lemas tidak bertenaga! Ia teringat akan nenek itu dan tahulah dia bahwa dia telah tertipu!

"Nenek iblis jahanam!" Dia memaki.

Terdengar suara terkekeh di belakangnya. Lalu muncullah nenek itu, yang tadinya tertidur pula di atas rumput, agaknya menanti sampai korbannya terbangun. Sekarang nenek itu menyeringai dan berdiri di hadapan Sui Cin, mengebut-ngebutkan bajunya yang terkena tanah.

"He-heh-heh, nona yang tolol, he-heh-heh!" Ia terkekeh-kekeh girang melihat korbannya.

Sebagai salah seorang di antara Cap-sha-kui, nenek ini memang memiliki hati yang kejam sekali dan kepuasan hatinya adalah kalau dia dapat menyiksa korbannya. Maka, sesudah kini dapat menawan nona yang menjadi musuhnya itu dalam keadaan tak berdaya, tentu saja hatinya girang bukan main.

"Nenek iblis, kiranya engkau telah menipuku! Jika memang engkau gagah, hayo lepaskan aku dan kita bertanding sampai mati!" Sui Cin berteriak memaki.

"Heh-heh-heh, andai kata kulepaskan juga, engkau tak akan mampu bertahan lebih dari satu dua jurus. Dan aku tidak menipu, karena memang aku adalah Kiu-bwe Coa-li, musuh besarmu, ha-ha-ha!"

Diam-diam Sui Cin terkejut. Kiranya hilangnya ingatannya telah berakibat demikian hebat sampai musuh lamanya tidak dia kenal dan akibatnya dia mudah terjebak.

"Jadi kalau begitu... namaku itu... bukan... bukan Ceng Bi Hwa..."

"Heh-heh-heh, namamu Ceng Sui Cin, engkau puteri Pendekar Sadis, heh-heh-heh, dan sekarang jatuh ke tanganku. Aku ingin menikmati kematianmu yang akan terjadi perlahan-lahan... ha-ha-ha! Ehh, nona manis, apa engkau suka dengan ular?"

"Ular...?" Sui Cin yang merasa bingung itu bertanya.

"Ya, ular... heh-heh, engkau tahu, aku adalah Kiu-bwe Coa-li, Ratu Ular!"

Dan nenek itu lalu membunyikan cambuknya berkali-kali. Terdengar suara meledak-ledak dan suara ledakan ini seperti bergema sampai jauh. Tak lama kemudian, terbelalak mata Sui Cin melihat datangnya banyak ular dari empat penjuru, bagaikan tertarik oleh suara cambuk yang masih meledak-ledak itu, dan juga suara mendesis yang keluar dari mulut ompong Kiu-bwe Coa-li.

Ular-ular itu menggeleser di atas tanah, membuat rumput-rumputan bergerak-gerak lantas terdengar suara mereka mendesis-desis. Lidah mereka itu keluar masuk dan kini mereka semua sudah berkumpul mengelilingi tempat itu.

"Bagus, bagus, heh-heh-heh, anak-anakku, kalian sudah datang..."

Sui Cin bergidik. Teringat dia akan nenek itu yang menangisi kematian seekor ular yang juga disebut anaknya. Nenek ini gila atau lebih dari itu, jahat dan keji bagaikan iblis. Kini nenek itu membuat suara dengan mulutnya, suara mendesis dibarengi ledakan pecutnya hingga beberapa ekor ular yang besar mengembangkan lehernya. Itulah ular-ular sendok yang sangat berbahaya karena amat kuat. Sekali saja digigit oleh ular seperti ini, dalam waktu beberapa jam saja, kalau tidak memperoleh obat penawarnya yang ampuh, orang itu tentu akan mati!

Sui Cin yang kehilangan ingatannya itu tidak mengenal ular seperti itu, akan tetapi ia tahu bahwa ular-ular ini tentu sangat berbahaya. Tiga ekor ular sendok yang paling besar lalu berjoget di depannya, dengan lidah merah menjilat-jilat keluar, mata yang tak berkedip itu memandang kepadanya, kepalanya berlenggang-lenggok laksana sedang menggoda dan hendak mempermainkan Sui Cin.

"Heh-heh-heh, mereka bertiga ini yang kupilih untuk menggerogoti dagingmu, sedikit demi sedikit, ha-ha-ha!" kata nenek itu dan makin gencar cambuknya berbunyi, semakin lincah pula tiga ekor ular itu menari-nari di depan Sui Cin, makin lama semakin mendekati gadis yang terikat kaki tangan dan pinggangnya pada batang pohon itu.

Sui Cin memandang tak berkedip kepada tiga ekor ular ini, menahan hatinya agar jangan sampai dia menjerit kengerian. Sementara itu, puluhan ekor ular lainnya yang mengurung tempat itu ikut pula bergerak-gerak seperti menari, akan tetapi tidak ada di antara mereka yang berani mendekati tiga ekor ular sendok itu.

"Heh-heh-heh, Ceng Sui Cin, engkau baru tahu bahwa aku ini adalah ratu ular, ya? Aku dapat memerintah ular-ular ini menurut sekehendakku. Namun pertama-tama, aku hendak memerintahkan mereka itu menyusup ke dalam pekaianmu, menelusuri seluruh tubuhmu hingga kau hampir mati akibat geli dan ngeri. Kemudian aku akan memerintahkan mereka untuk merobek-robek semua pakaianmu sampai kau bertelanjang bulat. Nah, sesudah itu mulailah pesta untuk mereka. Gigit sana-sini, betis, paha, lengan dan bagian-bagian yang tidak berbahaya, menjilati darah dari luka-luka itu. Kemudian mukamu, pipimu yang halus itu, hidungmu yang mancung, bibirmu yang merah, akan digerogoti perlahan-perlahan. Engkau takkan mudah mati, akan kusiksa dulu sampai puas, sebagai hukuman ayahmu, Si Pendekar Sadis, ha-ha-ha!"

Cambuknya meledak-ledak, lantas tiga ekor ular itu mulai kelihatan beringas. Akan tetapi tiba-tiba saja terdengar suara suling yang ditiup dengan indah dan kuatnya, dan suara itu lalu menyelinap di antara ledakan-ledakan cambuk dan akibatnya sungguh aneh.

Ular-ular yang mengelilingi tempat itu nampak gelisah dan ketakutan, lalu perlahan-lahan mereka meninggalkan tempat itu! Kini yang masih bertahan hanya tinggal tiga ekor ular sendok itu saja, menari-nari di depan Sui Cin. Akan tetapi suara suling terdengar semakin kuat dan tiga ekor ular itu kelihatan ragu-ragu dan bingung, kacau akibat suara ledakan-ledakan cambuk yang kini bercampur dengan suara suling yang agaknya lebih terasa dan lebih mempengaruhi mereka!

"Eh, keparat jahanam kurang ajar!" Nenek Kiu-bwe Coa-li memaki dan menoleh. Matanya terbelalak marah saat dia melihat seorang pemuda datang sambil meniup suling, sikapnya tenang dan gagah.

Sui Cin juga melihat datangnya pemuda ini dan ia pun merasa girang karena ia mengerti bahwa suara suling pemuda itu telah mengusir ular-ular yang tadinya mengurung tempat itu, dan kini suara suling itu membuat ketiga ekor ular itu menjadi bimbang dan bingung, seperti kehilangan pegangan. Dia dapat menduga bahwa suara suling itu menghancurkan pengaruh nenek iblis terhadap ular-ularnya dan timbullah harapannya biar pun dia sendiri masih lemas dan tak mampu meloloskan diri dari belenggu. Pemuda yang mampu meniup suling seperti itu tentu memiliki kepandaian tinggi, dia menduga.

Sementara itu, Kiu-bwe Coa-li yang menengok dan telah memandang pemuda itu, segera mengenalnya dan wajahnya agak berubah, kemarahannya memuncak. "Kau...! Keparat, kau putera ketua Pek-liong-pang di Lembah Naga itu?"

Nenek itu menggerakkan cambuknya dan mengeluarkan suara mendesis. Karena semua ularnya sudah pergi terusir oleh suara suling tadi, kini tinggal tiga ekor ular sendok yang hendak dikerahkan untuk menyerang pemuda itu.

Akan tetapi, dengan tenang pemuda itu melangkah maju pada saat tiga ekor ular sendok menerjangnya dengan semburan-semburan uap hitam dari mulut mereka. Tiba-tiba saja, pemuda yang bukan lain adalah Cia Sun itu, meniup sulingnya dengan kuat. Terdengarlah suara melengking yang membuat Sui Cin sendiri terpaksa harus berusaha mematikan rasa menulikan telinga karena suara melengking itu sangat tinggi dan dahsyat, menusuk telinga menikam jantung.

Akan tetapi agaknya suara itu memang sengaja ditujukan hanya untuk menyerang atau menyambut tiga ekor ular itu. Mendengar suara ini, tiga ekor ular yang sudah mengangkat kepala tinggi-tinggi itu tiba-tiba saja terkulai kemudian berkelojotan seperti dalam keadaan kesakitan hebat.

Cia Sun melangkah maju dan tiga kali kakinya menginjak, pecahlah kepala tiga ekor ular itu. Tubuh mereka masih berkelojotan, akan tetapi karena kepala mereka sudah hancur terinjak kaki yang kuat itu, maka mereka berkelojotan dalam keadaan sekarat!

Dapat dibayangkan betapa marahnya Kiu-bwe Coa-li melihat tiga ekor ular andalannya itu mati. Sambil mengeluarkan suara melengking dia lantas menerjang ke depan, cambuknya meledak-ledak di atas kepalanya sedangkan tangan kirinya yang berkuku panjang itu pun dipergunakan untuk menyerang dengan cakaran-cakaran dan cengkeraman-cengkeraman maut karena kuku-kuku panjang tangan kiri itu mengandung racun.

Akan tetapi, dengan amat tenangnya, Cia Sun mengelak mundur dua langkah kemudian sekali tangan kirinya bergerak mendorong ke depan, angin pukulan dahsyat menyambar bagaikan hawa berapi, panas dan kuat. Kiu-bwe Coa-li menyambut dengan cambuk dan tangan kirinya, namun akibatnya dia langsung terpental ke belakang!

"Ehhh...!" Nenek itu berseru kaget bukan main.

Apa bila tadi dia dikejutkan oleh kecepatan gerakan Sui Cin, kini dia dikejutkan pula oleh kekuatan sinkang yang menyambar keluar dari tangan kiri pemuda ini. Ia pernah melawan pemuda ini, bahkan dengan bantuan ular-ularnya dia pernah hampir merobohkan Cia Sun beberapa tahun yang lalu. Akan tetapi, pada waktu itu, biar pun pemuda ini sudah amat lihai, tenaga sinkang-nya tidaklah sehebat sekarang ini.

Tentu saja nenek ini tidak tahu bahwa Cia Sun tiga tahun yang lalu tidak dapat disamakan dengan Cia Sun sekarang. Seperti telah kita ketahui, pemuda ini diajak pergi oleh seorang kakek sakti yang hanya memperkenalkan diri sebagai Go-bi San-jin dan di antara puncak-puncak Pegunungan Go-bi-san yang sunyi, pemuda ini sudah digembleng dengan hebat. Setelah oleh gurunya yang baru itu dia dinyatakan sudah cukup menerima ilmu, gurunya menyuruhnya pergi ke bekas benteng Jeng-hwa-pang di luar Tembok Besar, tidak begitu jauh dari Lembah Naga, untuk menghadiri pertemuan para pendekar.

"Dunia telah berubah," demikian Go-bi San-jin yang gendut itu berkata, "para datuk sesat, seperti iblis-iblis, keluar dari neraka dan siap mengacau dunia. Sudah menjadi kewajiban kita untuk menentang mereka itu dan para pendekar telah bersepakat untuk mengadakan pertemuan di tempat itu. Pergilah ke sana. Akan tetapi jangan lupa, engkau mempunyai semacam tugas lain. Kalau engkau bertemu dengan seorang murid dari Ciu-sian Lo-kai, nah, dia itu lawanmu. Bukan musuh, melainkan lawan dan antara aku dan Ciu-sian Lo-kai telah saling berjanji untuk mengadu murid kami masing-masing. Engkau tidak boleh kalah karena hal itu akan membuatku malu."

Tugas pertama diterima dengan gembira oleh Cia Sun, akan tetapi tugas yang kedua ini sebetulnya tidak berkenan di dalam hatinya. Bagaimana dia harus melawan dan berkelahi dengan seseorang yang tidak dikenalnya, tanpa sebab, bahkan bukan musuh, melainkan hanya karena perjanjian antara guru mereka untuk saling mengadu murid-murid mereka? Seperti ayam aduan atau jangkerik saja.

Akan tetapi perintah guru tak mungkin diabaikan dan dia pun menyanggupi. Demikianlah, pemuda dari Lembah Naga ini meninggalkan gurunya dan di dalam perjalanan menuju ke bekas benteng Jeng-hwa-pang, di daerah Mongol ini, secara kebetulan saja dia melihat ada seorang gadis yang akan dikorbankan kepada ular-ular berbisa oleh seorang nenek mengerikan.

Cia Sun langsung mengenali nenek itu sebagai Kiu-bwe Coa-li, salah seorang di antara Cap-sha-kui, akan tetapi hampir saja dia berteriak ketika dia mengenal pula Sui Cin! Dara yang dibelenggu dan sedang menghadapi ancaman mengerikan dari ular-ular sendok itu adalah Sui Cin puteri Pendekar Sadis yang selama ini tidak pernah dia lupakan.

Akan tetapi Cia Sun adalah seorang pemuda yang tenang. Melihat keadaan Sui Cin, dia tidak tergesa-gesa bertindak sembrono untuk menyelematkannya dengan jalan kekerasan begitu saja. Dia tahu betapa lihainya nenek itu dan tiga ekor ular sendok itu sudah siap mematuk, apa-lagi tempat itu dikelilingi oleh puluhan ekor ular.

Karena itu, sambil bersembunyi dia kemudian meniup sulingnya yang selalu dibawanya, dan mengerahkan khikang untuk mengusir ular-ular itu. Barulah dia muncul dan dia masih terus menggunakan sulingnya untuk mengalihkan perhatian tiga ekor ular sendok itu dari Sui Cin kepada dirinya. Kemudian, sesudah ular-ular itu menyerangnya, barulah dia turun tangan membunuh binatang-binatang itu.

Melihat betapa nenek iblis itu menyerangnya secara ganas, Cia Sun tak mau tinggal diam menahan diri begitu saja. Nenek ini adalah seorang di antara Cap-sha-kui, datuk-datuk sesat yang amat jahat dan karenanya haruslah dibasmi. Dulu dia pernah hampir celaka diserang nenek ini bersama pengeroyokan ular-ularnya dan pada waktu itu untung muncul Sui Cin yang membantunya. Kini Sui Cin yang menjadi korban kejahatan nenek itu, dan untung dia yang tanpa disengaja tiba di tempat itu sehingga dapat menyelamatkan Sui Cin.

Yang membuat dia terheran-heran adalah melihat Sui Cin kelihatan begitu lemah, tidak mampu membebaskan diri dari belenggu yang tidak begitu kuat itu. Apa yang telah terjadi dengan gadis itu? Dan mengapa Sui Cin memandangnya dengan sinar mata keheranan seperti itu, sama sekali tak nampak bahwa gadis itu mengenalnya? Apakah Sui Cin telah pangling kepadanya?

Sesudah mengelak dari sambaran cambuk ekor sembilan, Cia Sun lalu membalas dengan serangan tamparan tangan kirinya, disusul dengan totokan suling yang tadi digunakannya untuk mengusir ular. Nenek itu mengelak kemudian menggerakkan lagi cambuknya yang mengeluarkan suara meledak-ledak. Terjadilah perkelahian yang seru, serang-menyerang dengan dahsyatnya.

Akan tetapi segera nenek itu mendapatkan kenyataan pahit bahwa lawannya ini luar biasa kuatnya, terlampau tangguh bagi dirinya. Semua serangannya gagal, bukan hanya gagal, akan tetapi setiap kali terjadi benturan tenaga, dia tentu terdorong dan terhuyung. Hatinya mulai terasa jeri. Akan tetapi Cia Sun yang telah mengambil keputusan untuk membunuh nenek jahat ini, mendesak terus dengan pukulan-pukulannya yang ampuh.

Pada suatu saat nenek itu terdesak dan terhuyung ke belakang. Dengan gerakan aneh tangan kanan Cia Sun menyambar ke arah ubun-ubun kepala nenek itu dengan sebuah cengkeraman maut yang dahsyat. Nenek itu terkejut, segera menggerakkan cambuknya menangkis dan langsung melibat lengan kanan lawan, kemudian kepalanya bergerak dan rambutnya yang riap-riapan itu menyambar ke arah leher Cia Sun hendak menotok jalan darah maut.

Pemuda itu tidak menjadi gugup. Tangan kirinya menyambar untuk menangkap bulu-bulu cambuk, kemudian kaki kiri Cia Sun melayang ke depan dan mengirim tendangan yang mengarah leher lawan. Hebat sekali tendangan ini dan dilakukan pada saat kedua tangan mereka tidak bebas. Kiu-bwe Coa-li terkejut sekali dan cepat mengelak dengan miringkan kepala, akan tetapi tetap saja ujung sepatu kaki Cia Sun mengenai pundaknya.

"Dukkk...!"

Tubuh nenek itu terpelanting dan ujung bulu cambuknya rontok karena sebagian putus oleh cengkeraman tangan Cia Sun, sedangkan rambut kepalanya juga banyak yang jebol. Ia menggulingkan tubuh untuk menghindarkan serangah susulan, akan tetapi pemuda itu tidak mau mendesak lawan yang telah roboh, hanya bersiap-siap melanjutkan perkelahian itu.

Kiu-bwe Coa-li tidak terluka berat, akan tetapi dia maklum bahwa kalau dilanjutkan, tentu akhirnya dia akan kalah karena pemuda itu sungguh lihai bukan main. Ia khawatir bahwa jika ia melarikan diri, pemuda itu tentu akan mengejarnya, maka ia pun mempergunakan akal. Sambil menudingkan cambuknya yang sudah bodol itu ke arah Sui Cin yang masih terbelenggu, ia pun berkata,

"Kau membelanya? Biarlah dia mampus sekarang juga!" Dari tengah gagang cambuknya meluncur jarum-jarum halus yang digerakkan oleh alat di gagang cambuk.

Cia Sun terkejut bukan kepalang. Tangannya cepat membuat gerakan memukul ke arah depan gadis itu hingga jarum-jarum halus beracun itu pun runtuh semua! Kiu-bwe Coa-li makin kaget saja. Pemuda ini benar-benar hebat, pikirnya dan hatinya menjadi semakin gentar. Kini cambuknya menuding ke arah pemuda itu dan kembali ada belasan batang jarum halus menyambar ke arah Cia Sun.

"Nenek iblis yang jahat!" Cia Sun membentak dan begitu ia mengebutkan lengan bajunya, maka jarum-jarum itu bukan hanya runtuh, namun membalik ke arah nenek itu! Kiu-bwe Coa-li mengebutkan cambuknya dan jarum-jarum itu pun runtuh.

"Heh-heh-heh, orang muda, kau boleh juga. Akan tetapi temanmu itu jangan harap akan dapat hidup lagi, ia telah keracunan. Lihat, wajahnya sudah mulai kehilangan cahayanya!"

Cia Sun terkejut lantas menoleh. Kesempatan ini dipergunakan oleh Kiu-bwe Coa-li untuk meloncat dan melarikan diri. Cia Sun tidak mau mengejar karena dia mengkhawatirkan keadaan Sui Cin. Dia tahu bahwa nenek itu tidak membohong.

Keadaan Sui Cin memang nampaknya tidak wajar. Gadis yang dahulu dikenalnya sebagai seorang pendekar wanita yang hebat, puteri tunggal Pendekar Sadis, kini demikian lemah dan tidak berdaya sehingga terbelenggu seperti itu pun tidak mampu membebaskan diri. Tentu gadis itu sudah terluka, atau keracunan seperti yang dikatakan nenek itu. Dia pun cepat meloncat dekat dan melepaskan ikatan kaki tangan dan pinggang gadis itu.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner