ASMARA BERDARAH : JILID-38


Daerah pegunungan itu penuh dengan batu-batu karang yang besar-besar, seperti barisan bukit-bukit kecil atau jajaran bangunan-bangunan kuno yang bentuknya aneh-aneh. Dan di daerah ini banyak terdapat goa-goa alam yang besar dan bentuknya juga aneh-aneh. Di atas sebuah di antara bukit-bukit batu itu, terdapat sebuah goa yang amat besar.

Pintu goa ini luas, besar dan tinggi, juga amat bersih, tanda bahwa goa itu dirawat dengan baik. Lantainya amat rata dan halus, dan dari luar goa sudah nampak bahwa di sebelah dalam goa itu memang dijadikan tempat tinggal manusia, nampak tirai-tirai kain di balik pintu.

Nenek itu duduk bersila di atas sebuah tikar yang terbentang di ruangan depan goa. Dia adalah nenek Yelu Kim. Pakaiannya tetap bersih dan rapi dan wajahnya berseri. Tangan kaanannya membawa kebutan bulu putih dan di hadapannya terdapat sebuah guci yang mengkilap dan indah, entah terisi apa karena tertutup.

Terdengar auman harimau dari depan goa. Untuk mencapai goa itu orang harus mendaki dari bawah. Nenek itu memandang ke bawah dan mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Mongol untuk menyuruh harimau peliharannya itu agar mendaki naik dan membawa gadis yang diseretnya itu.

Harimau besar itu mendaki naik, menyeret tubuh Sui Cin dengan menggigit punggung baju gadis itu. Gadis itu masih dalam keadaan pingsan dan agaknya tidak sukar bagi harimau itu untuk menyeret tubuh Sui Cin menaiki anak tangga menuju mulut goa di mana nenek itu menanti dengan wajah berseri.

"Letakkan dia di sini, Houw-cu," kata nenek itu sambil menudingkan kebutannya.

Harimau itu membawa Sui Cin ke hadapan si nenek, lantas melepaskannya di atas lantai. Tubuh Sui Cin rebah terlentang.

"Nah, kini kau boleh pergi mengaso, Houw-cu," kata pula nenek Yelu Kim dan harimau itu mengeluarkan suara mengaum panjang lalu berlari pergi menuruni anak tangga.

Nenek itu membuka baju atas Sui Cin kemudian melakukan pemeriksaan, meraba sana sini, mengetuk sana sini dan akhirnya ia menutupkan lagi baju gadis itu dan mengangguk-angguk.

"Sungguh keji sekali Kiu-bwe Coa-li, meracuni seorang anak perempuan dengan racun ular bunga kuning, racun yang melumpuhkan kaki tangannya."

Kemudian, dengan gerakan ringan nenek itu mengangkat tubuh Sui Cin, dipondongnya tubuh itu dan dibawanya masuk ke dalam goa. Ternyata goa itu amat lebar dan di sebelah dalamnya terdapat sebuah kamar tidur dan sebuah ruangan yang sangat luas. Nenek itu merebahkan tubuh Sui Cin di atas pembaringan kayu yang berada di sudut ruangan luas itu. Kemudian dia membuat api di tungku dan mulai memasak obat.

Sebelum obat itu siap, Sui Cin sadar dari pingsannya. Dia mengeluh dan seketika teringat akan harimau itu, maka dia segera bangkit duduk dan matanya terbelalak memandang ke kanan kiri. Tidak dilihatnya ada harimau di sana sehingga melegakan hatinya. Akan tetapi ketika ia melihat nenek yang sedang memasak obat, ia cepat turun dari pembaringan dan alisnya berkerut. Tentu saja ia mengenal nenek yang tadi berkelahi melawan Cia Sun itu.

"Nenek iblis! Apa yang sudah kau lakukan terhadap Sun-twako?" bentaknya marah, akan tetapi perasaannya menjadi gentar ketika dia mencoba mengerahkan tenaga, masih saja tidak dapat membangkitkan tenaganya.

Yelu Kim masih duduk berjongkok di depan tungku api, menoleh lantas tersenyum. "Ahh, engkau telah sadar, nona? Aku dan Houw-cu sudah banyak mengejutkan hatimu, bukan? Lupakanlah itu, karena aku berniat baik terhadap dirimu."

"Hemmm, siapa yang mau percaya omongan seorang nenek iblis sepertimu? Di mana Sun-twako dan mau apa engkau membawaku ke tempat ini?"

Nenek itu tersenyum dan sebelum menjawab, ia mengambil tempat obat dari atas api lalu menuangkan air obat yang berwarna coklat serta mengebulkan uap panas itu ke dalam sebuah mangkok. Bau sedap harum mencapai hidung Sui Cin, bau masakan obat.

"Aku tidak menyalahkan engkau kalau terjadi salah pengertian. Dengarlah, nona, aku Yelu Kim jangan kau samakan dengan Kiu-bwe Coa-li."

"Kalau tidak sama, mengapa engkau menyerang Sun-twako?"

"Memang aku sengaja memancing dia meninggalkanmu agar mudah bagi Houw-cu untuk membawamu ke sini."

Mata Sui Cin terbelalak. "Apa? Harimau itu adalah binatang peliharaanmu dan dia kau suruh datang menculikku?"

Nenek itu masih tersenyum dan mengangguk. "Aku tidak berniat jahat, anakku yang baik."

Sui Cin mendengus marah. "Tidak berniat jahat tetapi menyuruh harimaumu mengejutkan hatiku dan menculikku, dan engkau sendiri menyerang serta memancing Sun-twako agar meninggalkan aku? Bagus, kau kira ada orang yang mau percaya omonganmu ini?"

"Terserah padamu, nona. Akan tetapi, kalau aku berniat buruk, apakah kau kira kau masih hidup sekarang ini, dan juga temanmu itu masih hidup?"

"Di mana Sun-toako?"

"Aku meninggalkan dia. Dia terlampau kuat dan aku tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Setelah engkau dibawa harimauku, aku pun pergi meninggalkannya."

"Tetapi... tetapi apa artinya semua ini dan apa kehendakmu melakukan hal itu terhadap kami?"

"Sabarlah dan dengarkan kata-kataku dengan baik. Terserah kepadamu apakah engkau akan percaya kepadaku atau tidak, akan tetapi sesungguhnya aku tidak mempunyai niat buruk terhadap dirimu atau terhadap temanmu yang gagah perkasa itu. Namaku Yelu Kim dan di daerah Mongol ini aku dihormati orang, bahkan dianggap sebagai orang tua yang patut dimintai nasehat oleh para kepala suku."

Nenek itu mulai bercerita dan ia merasa heran melihat betapa gadis ini sama sekali tidak kaget saat mendengar namanya. Timbul keinginan hatinya mengenal siapa adanya gadis ini dan apakah ia salah pilih, mengira gadis ini adalah seorang yang memiliki kepandaian silat tinggi dan kelak boleh diandalkan.

"Nona, engkau sendiri siapakah, siapa namamu dan siapa pula gurumu, mengapa engkau sampai berada di daerah ini dan keracunan?"

Melihat sikap orang yang begitu ramah dan halus, maka berkuranglah kecurigaan Sui Cin. Bagaimana pun juga, dari sikap serta bicaranya, sukarlah menyamakan nenek ini dengan nenek iblis Kiu-bwe Coa-li. Dia lalu menarik napas panjang. Bagaimana pun juga, dalam keadaan kehilangan tenaga ini dia tidak akan mampu menjaga diri dan keselamatannya berada di tangan nenek ini, maka sebaiknyalah kalau dia bersikap halus mengimbangi sikap nenek itu.

"Ahh, aku menjadi bingung kalau ditanya begitu, nek. Ketahuilah, aku sudah lupa sama sekali tentang keadaan diriku atau riwayatku. Karena aku kehilangan ingatan inilah maka Kiu-bwe Coa-li dapat menipuku, memberiku minum racun itu yang melumpuhkan kaki dan tanganku. Sampai sekarang aku tidak ingat lagi siapa adanya diriku, apa lagi nama orang tua atau guruku, bahkan aku sendiri tidak tahu untuk apa aku berada di daerah ini..."

Mendengar ucapan itu dan melihat sikap yang sedih dari Sui Cin, nenek itu terkejut dan tertarik sekali. Ia memandang tajam penuh selidik. "Apa? Engkau kehilangan ingatanmu? Bagaimana bisa terjadi demikian dan kapan terjadinya?"

"Bagaimana aku tahu, nek? Yang aku ingat hanyalah bahwa kepalaku terpukul batu yang dilontarkan seorang musuh yang lihai. Aku lupa segala tapi ada dorongan di dalam hatiku untuk pergi keluar Tembok Besar dan di sinilah aku. Aku bertemu dengan Kiu-bwe Coa-li yang sejak dahulu menjadi musuh besarku. Akan tetapi aku tidak mengenalnya dan baru aku tahu sesudah dia memberi minum racun dan aku terjatuh ke dalam tangannya, aku ditawan dan dia mengaku bahwa dia adalah musuh besarku. Hampir aku tewas olehnya, akan tetapi untung muncul Cia Sun yang menolongku. Menurut Sun-twako, antara aku dan dia masih ada hubungan dekat, akan tetapi aku pun sudah tidak ingat lagi siapa dia. Dia berusaha mengobatiku dari pengaruh racun yang melumpuhkan, kemudian engkau muncul..."

Nenek itu tertarik sekali dan mengangguk-angguk. "Ah, jika begitu, selain menyembuhkan engkau dari keracunan, aku pun harus berusaha membangkitkan kembali ingatanmu itu, nona."

Sui Cin memandang tajam. "Tetapi mengapa, nek? Mengapa engkau hendak menolongku dengan cara seperti itu? Kenapa memisahkan aku dari Sun-twako dan menyuruh harimau peliharaanmu itu untuk membawaku ke sini?"

"Nona, di tengah jalan aku bertemu dengan Kiu-bwe Coa-li dan tanpa sebab apa pun iblis itu menyerangku. Akan tetapi akhirnya dia tewas oleh ulahnya sendiri, terjatuh ke dalam jurang. Lalu ketika aku melanjutkan perjalanan, aku melihat engkau sedang diobati oleh pemuda itu. Aku dapat menduga bahwa engkau tentu terluka oleh Kiu-bwe Coa-li. Aku merasa kasihan kepadamu dan ingin mengobatimu, akan tetapi aku juga dapat menduga bahwa engkau tentu memiliki ilmu silat tinggi, dan agaknya hanya engkaulah yang akan mampu membantuku menyelesaikan sebuah persoalan. Akan tetapi aku tidak mau kalau pemuda itu mencampurinya, maka aku lalu menggunakan akal untuk memancingnya agar pergi meninggalkanmu dan aku menyuruh Houw-cu untuk membawamu ke sini."

Sui Cin mengerutkan alisnya. Tahulah ia kini bahwa nenek ini hendak menolongnya, akan tetapi juga hendak minta bantuannya. Pertolongan yang bersyarat, pikirnya.

"Nenek yang baik, hendaknya engkau ketahui lebih dahulu bahwa kalau minta bantuanku untuk melakukan kejahatan, aku tidak sudi dan biarlah aku tidak menerima pengobatan darimu!"

Nenek itu tertawa. "Nona, sekali lagi kukatakan bahwa jangan engkau menyamakan aku dengan mendiang Kiu-bwe Coa-li."

"Sungguh aneh sekali. Engkau yang dapat mengalahkan bahkan membunuh seorang iblis seperti Kiu-bwe Coa-li, masih mengharapkan bantuanku. Apakah yang dapat aku lakukan untuk seorang sakti seperti engkau?"

"Sudahlah, tidak perlu engkau membuang banyak tenaga. Mari kuobati engkau lebih dulu, baru nanti kuceritakan apa yang harus kau lakukan untukku. Mari, kau minumlah obat ini maka racun ular itu akan menjadi tawar dan kelumpuhanmu akan lenyap, tenagamu akan pulih kembali."

"Tapi... tapi engkau belum menceritakan syaratmu...," Sui Cin meragu.

"Tidak usah. Biar kusembuhkan dulu engkau, baru kemudian kuceritakan dan andai kata engkau menganggap syarat itu terlalu berat atau tidak berkenan di hatimu, engkau boleh tidak usah melakukannya. Nah, sekarang kau tahu bahwa aku tidak memiliki niat buruk. Minumlah dan engkau akan sembuh."

Sui Cin yang tahu bahwa kalau dia tidak minum obat itu, keselamatannya tentu terancam maut, maka dia pun lalu nekat. Memang benar ucapan nenek ini, kalau nenek ini berniat buruk dan hendak membunuhnya, apa sukarnya? Apa perlunya nenek ini bersusah payah membawanya ke sini dan memberinya obat kalau maksudnya buruk?

Dia lantas menerima mangkok itu dan minum isinya. Cairan berwarna coklat itu rasanya tidaklah seburuk rupanya. Baunya sedap dan rasanya agak manis, maka tanpa ragu-ragu lagi diminumnya obat itu sampai habis.

Tiba-tiba saja Sui Cin merasa betapa dalam perutnya bergerak-gerak kemudian terdengar suara berkeruyukan seperti perut yang lapar sekali. Ia terkejut dan memandang nenek itu dengan tajam. Akan tetapi nenek Yelu Kim tersenyum.

"Nona, kau duduklah bersila dan cobalah perlahan-lahan menghimpun tenagamu. Jangan tergesa-gesa, apa bila pintu pusar sumber tian-tian telah terbuka, perlahan-lahan salurkan tenagamu supaya tidak merusak jaringan syaraf yang penting. Nah, mulailah. Lebih baik pejamkan matamu."

Sui Cin menurut dan ia pun bersila. Makin lama makin keras gerakan dalam perutnya dan perlahan-lahan dia merasa betapa hawa panas bangkit dari pusarnya serta ada kekuatan yang naik. Dia lalu menguasai tenaga itu dan perlahan-lahan menyalurkannya ke seluruh tubuh, perlahan-lahan dan hati-hati sampai dia merasa biasa kembali dengan tenaga sakti yang tadi seperti tenggelam itu.

Tak lama kemudian dia merasa segar dan sehat kembali dan dibukanya kedua matanya. Nenek Yelu Kim berdiri memandang kepadanya dengan senyum ramah. Maka lenyaplah keraguan dari hati Sui Cin dan dia pun cepat bangkit dan memberi hormat kepada wanita itu, malu kepada diri sendiri mengingat betapa ia tadi bersikap kasar dalam keraguannya.

"Harap locianpwe sudi memaafkan kekasaranku tadi dan terima kasih atas pertolongan locianpwe."

Nenek itu tersenyum. "Nantl dulu, aku ingin melihat apakah aku tidak salah menilai orang. Nona, sambutlah seranganku ini!" Dan kebutan di tangannya bergerak menyambar, ujung kebutan melakukan totokan kilat ke arah pundak Sui Cin.

Gadis ini terkejut namun otomatis dia bergerak mengelak dan setelah dia mengerti bahwa nenek itu hendak mengujinya, maka dia pun lantas bergerak lincah menghadapi serangan kebutan bertubi-tubi itu, bahkan berani menangkis menggunakan tenaga sinkang-nya.

"Plakkk…!"

Tangkisannya itu membuat Yelu Kim terhuyung ke belakang dan nenek ini menjadi makin girang. Dia lalu mempercepat gerakan kebutannya, akan tetapi segera dia merasa pusing sesudah Sui Cin menggunakan ginkang-nya yang istimewa.

Nenek ini dapat menghilang dengan bantuan sihirnya, akan tetapi sekarang dia menjadi bingung ketika menghadapi kecepatan Sui Cin, karena kadang-kadang bayangan gadis itu seperti lenyap dan tahu-tahu telah berada di samping atau belakangnya. Ia melompat mundur dan memandang kagum.

"Cukup, cukup! Aihh, girang hatiku karena aku sama sekali tidak kecewa. Engkau bahkan melampaui semua harapan dan dugaanku, nona."

"Ah, locianpwe terlalu memuji. Sekarang harap locianpwe ceritakan, bantuan apakah yang dapat kulakukan untukmu!"

Nenek itu kembali tersenyum. "Nanti dulu, nona, jangan tergesa-gesa. Urusan itu penting sekali, namun aku tidak mau bantuan orang untuk mewakiliku tanpa kukenal benar siapa adanya orang itu. Karena itu, biarlah aku akan mencoba untuk menyembuhkan dulu luka di dalam kepalamu yang membuatmu kehilangan ingatan itu."

Sepasang mata Sui Cin terbelalak dan wajahnya berseri saking gembiranya. "Locianpwe dapat menyembuhkan aku dan mengembalikan ingatanku yang hilang?" tanyanya penuh harapan.

Nenek itu mengangguk. "Mudah-mudahan demikian supaya tak percuma sebutan semua rakyat Mongol yang menyebut aku Dewi Penyelamat. Marilah masuk ke dalam kamarku dan aku akan memulai dengan pengobatan itu, nona. Akan tetapi engkau harus percaya penuh kepadaku dan bersabar karena mengobati bagian kepala harus sangat hati-hati dan teliti."

Demikianlah, nenek Yelu Kim yang ternyata memiliki ilmu pengobatan yang sangat tinggi itu memeriksa kepala Sui Cin dan mulai memberi pengobatan dengan urutan-urutan pada jalan darah dan juga memberi obat minum yang rasanya amat pahit. Namun Sui Cin yang sudah menaruh kepercayaan penuh kepada nenek yang amat ramah itu mentaati semua petunjuknya dengan sabar.

Kemudian dia juga melihat betapa nenek ini dibantu oleh beberapa orang pelayan wanita Mongol yang datang setiap kali tenaga mereka diperlukan dan agaknya mereka itu tinggal di luar goa yang hanya ditempati nenek Yelu Kim seorang diri saja. Juga ia melihat betapa harimau besar yang dulu pernah mengejutkannya itu kiranya adalah seekor binatang yang amat jinak apa bila berada di dekat nenek Yelu Kim. Bahkan dia sendiri mulai bersababat dengan binatang itu yang agaknya sekarang telah mengerti bahwa dia bukanlah seorang musuh melainkan seorang kawan baik…..

********************

Hui Song memasuki kota kecil yang menjadi benteng terakhir dari pasukan pemerintah di daerah utara. Benteng itu berada di dekat Tembok Besar, di sebelah selatan tembok dan penduduknya cukup banyak karena kota San-hai-koan ini benar-benar merupakan kota dekat laut dan gunung. Penghuninya sebagian besar adalah orang-orang Han utara, akan tetapi banyak juga terdapat orang-orang Mongol dan Mancu, yaitu para pedagang yang datang dari luar Tembok Besar, karena kota benteng ini merupakan pertahanan terakhir dari pemerintah Kerajaan Beng.

Pada waktu itu, kekuasaan Kerajaan Beng meliputi daerah yang cukup luas. Ke selatan sampai lautan dan propinsi paling selatan adalah Kiang-si dan Yun-nan, ke barat hanya sampai Se-cuan dan Shen-si saja dan ke utara hanya sampai batas Tembok Besar. Tentu saja luasnya wilayah ini merupakan warisan atau rampasan dari kekuasaan Kerajaan Goan atau penjajah Mongol yang memang berambisi untuk memperluas wilayah.

San-hai-koan merupakan kota penghubung antara Tiongkok dengan daerah Mongol dan Mancu, dan menjadi satu di antara benteng-benteng terakhir di utara, juga merupakan benteng terakhir dan terkuat di daerah timur laut. Karena itu, benteng ini diperkuat dengan pasukan yang cukup besar, dipimpin oleh seorang gubernur yang dibantu oleh seorang panglima perang.

Karena letaknya di tepi lautan, di tepi teluk besar Po-hai, maka sebagian besar dari pada penghuninya adalah para pelaut dan nelayan yang sudah biasa bekerja keras, di samping banyak pula yang menjadi pedagang karena ramainya lalu lalang di daerah perbatasan ini. Kotanya cukup besar, banyak terdapat rumah makan serta rumah penginapan. Akan tetapi penjagaan kota itu sangat ketat dan para penjaga keamanan selalu mengadakan pemeriksaan untuk mencegah terjadinya kerusuhan di kota benteng itu.

Ketika Hui Song memasuki kota itu, dia melihat banyak orang, kesemuanya pria, menuju ke satu jurusan. Dia sedang melakukan penyelidikan dan pencarian terhadap diri Sui Cin, maka melihat ramainya orang pergi ke jurusan tengah kota, dia pun segera menyusup di antara banyak orang sambil bertanya-tanya. Siapa tahu dia akan bertemu dengan Sui Cin di pusat keramaian, karena dia tahu bahwa Sui Cin suka sekali menyamar sebagai pria.

Dia tersenyum geli bila mana teringat tentang hal itu. Betapa bodohnya dia dahulu, kena dipermainkan gadis itu yang menyamar sebagai laki-laki dan dia sama sekali tidak tahu bahwa ‘pemuda jembel’ yang lucu dan jenaka itu adalah Sui Cin! Akan tetapi sekarang, biar gadis itu akan menyamar seribu kali, dia pasti akan dapat mengenalnya.

"Sobat, ada peristiwa apakah maka orang-orang begini banyak berbondong-bondong ke suatu arah? Ke manakah kalian hendak pergi?" tanyanya kepada seorang laki-laki brewok yang wajahnya membayangkan keramahan.

Orang itu memandang kepada Hui Song dan memicingkan matanya. "Hemmm, agaknya engkau baru datang dari selatan, ya?"

"Benar," Hui Song menjawab terus terang, "aku sedang melancong."

Si brewok itu menggeleng kepala. "Aihh, melancong dalam waktu begini, sungguh sangat berbahaya."

"Ehh, ada apakah?"

"Negara sedang tidak aman. Didesas-desuskan orang bahwa akan ada pemberontakan besar. Karena itu, sejak sepekan ini Kok-taijin dan Ji-ciangkun mengadakan sayembara penerimaan perwira-perwira baru, juga para prajurit cadangan untuk menjaga kalau-kalau benteng ini diserang musuh."

"Ahh, begitukah? Sayembara apakah itu?"

"Tentu saja semacam pibu (adu kepandaian silat). Setiap orang yang bisa mengalahkan pengujinya, akan langsung diterima. Akan tetapi jangan harap untuk dapat mengalahkan penguji untuk penerimaan calon perwira itu. Kalau hendak masuk menjadi prajurit, boleh saja karena pengujinya tidak begitu berat. Akan tetapi penguji para calon perwira itu, wah, luar biasa sekali. Raksasa itu tidak terkalahkan sehingga belum ada seorang pun yang lulus ujian dalam sepekan ini! Dan hari ini kami semua ingin melihat apakah masih ada orang yang berani menghadapi raksasa itu."

Hati Hui Song tertarik sekali dan dia pun ikut bersama rombongan orang yang berduyun menuju ke alun-alun, semacam lapangan rumput yang luas dan yang berada di tengah kota. Kota itu memang merupakan kota tentara, dikurung oleh tembok benteng yang tinggi dan kokoh kuat, dan di dalamnya terdapat pula lapangan-lapangan untuk latihan berbaris dan olah raga bagi para prajurit.

Ternyata di tempat itu sudah terdapat banyak orang. Mereka berdiri mengepung sebuah panggung yang tingginya setombak dan di belakang panggung itu ada sebuah bangunan kecil di mana duduk seorang pembesar sipil serta seorang pembesar militer yang dijaga oleh belasan orang pengawal yang bersenjata tombak dan golok. Dan di atas panggung berdiri seorang laki-laki yang tinggi besar.

Hui Song dapat menduga bahwa orang ini tentu memiliki tenaga yang sangat besar. Dia sendiri mungkin hanya setinggi leher orang itu dan tubuhnya tidak ada setengahnya kalau dibandingkan dengan tubuh raksasa itu. Kepalanya gundul, akan tetapi alisnya tebal dan hitam, kepala itu besar, dengan sepasang telinga yang lebar, mulut, hidung dan matanya juga besar.

Tubuhnya yang hanya memakai cawat menutupi pinggul dan selangkangnya itu, kelihatan menyeramkan. Di bagian dada, lengan, paha dan betis ditumbuhi rambut yang panjang-panjang seperti monyet. Selain cawat itu, betisnya diikat dengan semacam tali hitam dan sepatunya berwarna abu-abu. Perutnya besar gendut, tetapi penuh kekuatan dan nampak keras. Lengan serta kakinya juga penuh dengan tonjolan dan gembungan otot-otot yang kekar. Pundaknya seperti pundak sapi jantan.

Pendek kata, raksasa ini cukup menakutkan bagi siapa pun yang harus menghadapinya sebagai lawan. Melihat bentuk wajahnya, Hui Song dapat menduga bahwa raksasa itu tentu bukan Bangsa Han, melainkan suku Mongol atau Mancu. Dan melihat dandanannya yang hanya mengenakan cawat, dia pun dapat menduga bahwa orang itu tentu ahli silat yang amat kuat.

Seorang pengawal yang agaknya bertugas sebagai tukang bicara, dengan suara lantang berkata sambil berdiri di sudut panggung, "Saudara-saudara sekalian! Bagi mereka yang masih belum mengenalnya, kami perkenalkan penguji calon perwira yang diajukan oleh Ji-ciangkun, dan inilah dia jagoan kami, ahli gulat yang bernama Moghul!"

Pegulat raksasa itu mengangkat kedua tangannya ke atas dan memberi hormat ke empat penjuru, disambut tepuk sorak para penonton yang kagum kepadanya karena selama ini belum ada seorang pun mengalahkannya. Akan tetapi banyak juga di antara penonton yang memandangnya penuh kebencian.

"Biarkan aku maju menghadapinya, paman," kata seorang lelaki berusia tiga puluh tahun yang berbaju hitam dan nampaknya gagah. Hui Song memperhatikan percakapan antara orang ini dan seorang laki-laki berusia lima puluhan tahun yang berada di tempat itu pula, tidak jauh darinya.

"Ah, sudahlah, Bian-ji, jangan mencari penyakit. Engkau tidak tahu, selama beberapa hari ini sudah ada belasan orang-orang gagah yang naik melawannya, hanya untuk menjadi bulan-bulan dan permainannya, kemudian dilempar ke bawah panggung dalam keadaan menyedihkan, paling sedikit tentu tulang lengan atau kaki mereka patah-patah. Dia amat lihai, kuat dan kebal," kata yang tua.

"Akan tetapi aku tidak takut, paman. Bukankah telah bertahun-tahun aku mempelajari ilmu silat?" bantah yang muda.

"Ahh, apa kau kira belasan orang muda yang maju pada hari-hari yang lalu itu pun bukan ahli-ahli silat? Percuma saja! Begitu tertangkap oleh tangan raksasa itu, mereka itu satu demi satu tidak mampu berkutik, lalu dibanting, ditekuk dan dipatah-patahkan tulangnya."

"Saudara-saudara sekalian," kembali tukang bicara itu berteriak nyaring, "Sampai hari ini belum ada seorang pun calon perwira yang lulus! Apakah benar di kota kita ini tidak ada orang gagah? Kami hanya membutuhkan lima sampai sepuluh orang saja. Dan tidak perlu mengalahkan Moghul, asal mampu bertahan melawan dia sampai habis terbakarnya satu batang hio saja sudah dianggap lulus. Kami pun tahu bahwa tidak ada orang yang akan mampu menandingi dan mengalahkan Moghul, si manusia gajah!"

Ucapan itu benar-benar merupakan tantangan. Dengan mengatakan pertanyaan apakah di kota San-hai-koan tidak ada orang gagah, pertanyaan yang sengaja dikeluarkan oleh si pembicara tadi, maka si pembicara membangkitkan amarah dan penasaran di dalam hati orang-orang yang merasa mempunyai kepandaian.

"Paman, aku hendak mencoba...!" Pemuda baju hitam tadi segera melangkah maju dan mendekati panggung.

"A-bian... jangan...!" pamannya mencegah, akan tetapi si baju hitam itu sudah meloncat naik ke atas panggung.

Gerakannya cukup cekatan ketika meloncat, dan para penonton menyambut penantang pertama ini dengan sorakan dan tepuk tangan memberi semangat. Si baju hitam itu lantas menghampiri bawah panggung tempat duduk dua orang pembesar dan memberi hormat.

"Hamba Kui Bian mohon perkenan paduka untuk mencoba kebodohan hamba."

Ji-ciangkun memberi isyarat dengan tangannya. "Majulah dan mudah-mudahan engkau dapat lulus."

Seorang pengawal telah siap dengan sebatang hio dan dinyalakannya ujung hio itu. Asap mengepul dan hio itu ditancapkan pada tempat hio yang ditaruh di sudut depan panggung yang luas tempat bertanding itu. Si baju hitam lantas bangkit dan menghampiri raksasa. Moghul yang sudah siap dengan kedua tangan bertolak pinggang dan mulut menyeringai, lagaknya memandang rendah sekali.

Koni si baju hitam itu menghadapi Moghul dan sudah memasang kuda-kuda dengan sikap gagah. Akan tetapi raksasa itu hanya memandang saja dan menyeringai, dan melihat si baju hitam diam saja, dia pun berkata dengan bahasa Han yang kaku, "Majulah, hio telah menyala."

Si baju hitam tiba-tiba berteriak, "Lihat serangan!" dan dia pun menggerakkan tubuhnya yang meluncur ke depan.

Ternyata dia menggunakan tendangan dengan tubuh seperti terbang dan kedua kakinya itu meluncur ke arah dada si raksasa Mongol. Agaknya Moghul tidak menyangka akan diserang seperti ini, maka dia terkejut sekali dan tidak mampu mengelak atau menangkis.

"Blukk...!"

Sepasang kaki itu menghantam dada telanjang itu dengan amat kuatnya dan akibatnya, tubuh yang besar itu terjengkang ke atas papan panggung, menimbulkan suara berdebuk nyaring. Sementara itu, si baju hitam sudah berjungkir balik dan tubuhnya sudah berdiri kembali ke atas papan dengan tegak.

Sorak-sorai menyambut jatuhnya si raksasa ini dan Hui Song melihat betapa pembesar sipil yang duduk di atas panggung itu mengangguk-angguk sambil tersenyum girang dan mengelus jenggotnya. Agaknya pembesar ini amat girang melihat bahwa akhirnya muncul juga seorang gagah yang dapat merobohkan si raksasa hanya dalam satu serangan saja. Sementara itu, Ji-ciangkun mengerutkan alisnya, agaknya tidak senang melihat jatuhnya jagoannya.

Memang tubuh raksasa Moghul itu kebal. Kiranya tendangan yang amat keras dan sudah membuat tubuhnya terjengkang itu sama sekali tidak melukainya. Sebelum lawan sempat menyerang lagi, dia sudah meloncat bangun dan gerakannya ini sungguh mengherankan. Sukar dapat dipercaya seorang yang segendut dia dapat bergerak demikian cepatnya.

Dengan amarah meluap Moghul balas menyerang. Dia mementang sepasang lengannya bagai seorang jago gulat atau seperti seekor beruang yang hendak menerkam, kemudian menerjang ke depan, kedua tangannya menyambar dari kanan dan kiri ingin menangkap kedua pundak lawan.

Akan tetapi si baju hitam itu cukup gesit. Dengan gerakan yang cepat dia menyelinap di antara kedua tangan itu dan meloncat ke samping, lantas kembali melayang sambil dua kakinya menerjang dengan tendangan terbang seperti tadi, akan tetapi sekali ini dari sisi kanan Moghul. Raksasa ini agaknya kini tahu akan kelihaian lawan, terutama tendangan terbang yang berbahaya itu. Maka dia pun lalu menangkis dengan lengan kanannya yang besar.

"Bresss...!"

Dan kembali raksasa itu terguling. Walau pun dia mampu menangkis, akan tetapi tenaga tendangan kedua kaki yang dibantu berat badan yang melayang itu agaknya tidak mampu ditahannya sehingga untuk kedua kalinya dia roboh terpelanting. Agaknya si baju hitam itu sudah lama mengamati gerakan si raksasa Moghul sehingga tahu bagaimana cara untuk mengalahkannya, karena itu dia mempergunakan tendangan-tendangan terbang itu untuk menyerang secara tiba-tiba dan dengan kekuatan yang amat besar.

Kali ini si raksasa Mongol itu agak terlambat bangun dan agaknya kesempatan ini hendak dipergunakan oleh si baju hitam untuk mencari kemenangan. Dia pun sudah meloncat ke depan untuk mengirim tendangan beruntun. Akan tetapi, tiba-tiba saja Moghul mengulur tangan dan dengan kecepatan kilat, jari-jari tangannya yang besar itu sudah menangkap kaki kiri lawan!

Si baju hitam mengeluarkan seruan kaget, kakinya terasa nyeri seperti dijepit jepitan baja dan ketika Moghul yang masih mencengkeram kakinya itu meloncat bangun, tubuh si baju hitam hampir terbanting dan kakinya terangkat pula ke atas. Akan tetapi, selagi Moghul menyeringai girang ketika melihat akalnya yang pura-pura terlambat bangun tadi ternyata berhasil, tiba-tiba saja si baju hitam mengeluarkan bentakan keras lantas kaki kanannya menyambar ke atas, ke arah muka lawan.

Moghul terkejut. Kalau hanya tubuhnya yang ditendang, dia mampu menerimanya dengan lindungan kekebalannya. Akan tetapi sekarang yang diserang adalah wajahnya, di mana terdapat bagian-bagian yang tak mungkin bisa dibuat kebal seperti mata dan hidung. Dan tendangan itu cepat bukan main datangnya, lagi pula tidak terduga-duga.

"Desss...!"

Cengkeraman tangan pada kaki kiri si baju hitam itu terlepas lantas Moghul terhuyung ke belakang, sepasang tangannya menutupi mukanya. Hidungnya mengeluarkan darah yang cukup banyak. Kembali terdengar sorak-sorai menyambut kemenangan si baju hitam ini dan juga Kok-taijin tersenyum girang, akan tetapi Ji-ciangkun menggeleng-geleng kepala dengan alis berkerut.

Akan tetapi Moghul belum kalah karena dia hanya menderita luka ringan saja, berdarah pada hidungnya. Dia menekan batang hidungnya dan darah itu pun berhenti mengalir. Kini matanya agak kemerahan dan mulutnya membayangkan kemarahan besar.

Dan hio yang bernyala itu pun belum padam, baru terbakar separuhnya. Dengan demikian berarti bahwa si baju hitam belum menang. Menurut peraturannya, jika dia dapat bertahan sampai hio itu habis terbakar, atau jika dia dapat merobohkan Moghul sampai si raksasa itu mengaku kalah, barulah calon perwira itu dinyatakan menang.

Kini Moghul menerjang maju dengan kedua lengan bergerak mencengkeram dari atas ke bawah. Melihat serangan yang ganas ini, si baju hitam kembali menyambutnya dengan tendangan. Agaknya si baju hitam itu tak memiliki akal lain kecuali hendak mengalahkan lawannya dengan tendangan-tendangannya yang memang ampuh. Dia tidak tahu bahwa selain kebal dan bertenaga besar, Moghul juga memiliki kecerdikan.

Begitu melihat lawan menyambutnya dengan tendangan, Moghul juga ikut menggerakkan kakinya ke depan dan menerima tendangan kaki kanan lawan itu dengan kaki kanannya sendiri. Dua batang kaki menyambar, sebatang terlampau kecil dibandingkan dengan kaki Moghul.

"Bresss...!"

Dua batang kaki itu bertemu dan kini tubuh si baju hitam yang terpelanting keras, lantas terguling-guling di atas papan panggung. Semua penonton terdiam, sedangkan Kok-taijin mengerutkan alisnya. Juga Hui Song mengerutkan alisnya, bukan karena kekalahan si baju hitam, melainkan akibat dia melihat betapa si raksasa itu curang. Mungkin hanya dia yang tahu, juga tentunya si baju hitam, bahwa di sebelah dalam kain yang dilibat-libatkan di betis raksasa itu, yang diikat dengan tali-temali, tersembunyi perisai baja!

Tentu saja kaki si baju hitam yang terdiri dari kulit daging dan tulang, terasa nyeri bukan kepalang bertemu dengan kaki besar yang dilindungi baja ini. Ketika si baju hitam dapat bangkit berdiri, dia agak terpincang. Akan tetapi dia masih belum mau menerima kalah dan sudah menyerang lagi dengan layangan kedua kaki meluncur ke depan. Agaknya dia tetap hendak mengalahkan lawan dengan tendangan terbang seperti tadi.

Si raksasa menyeringai. Sekarang dia berdiri dengan kedua kaki terkangkang lebar, tubuh direndahkan, dan kedua tangannya yang besar itu melindungi mukanya. Tubuhnya kokoh kuat seperti batu karang dan memang kali ini dia sudah siap-siap menghadapi tendangan terbang yang lihai itu. Dia tidak memandang rendah lagi tendangan itu dan mengerahkan tenaga untuk memasang kuda-kuda yang kokoh kuat. Kedua kaki si baju hitam itu datang menyambar dengan tumbukan keras mengenai dada yang bidang dari Moghul.

"Bresss...!"

Kali ini tubuh Moghul hanya bergoyang-goyang saja, akan tetapi sebaliknya tubuh si baju hitam terlempar ke belakang lantas terbanting keras. Dan sebelum si baju hitam sempat melompat bangun, tahu-tahu Moghul sudah melangkah lebar menghampirinya dan begitu tubuh si baju hitam bangkit, Moghul lalu mengirim tendangan! Agaknya raksasa ini masih marah sebab tadi beberapa kali menjadi bulan-bulan tendangan yang membuatnya roboh, maka kini dia hendak membalas dengan tendangan pula.

Melihat tendangan yang menyambar ke arah perutnya, si baju hitam yang tidak sempat mengelak itu terpaksa menggunakan lengan tangan menangkis keras.

"Dukkk...!"

Si baju hitam mengeluh kesakitan dan terguling. Tulang lengan yang menangkis itu patah begitu bertemu dengan sepatu besar si raksasa. Hui Song yang mendengarkan dengan seksama ketika terjadi pertemuan antara lengan dan sepatu itu, mengerti bahwa sepatu itu pada bagian dalamnya juga berlapis baja!

Kini Moghul mendesak terus dengan tendangan-tendangannya. Si baju hitam yang sudah patah tulang lengannya, terhuyung-huyung dan sebuah tendangan yang keras mengenai lututnya, membuat dia terpelanting. Moghul cepat menghampirinya, lantas menggunakan kedua kakinya bergantian menginjak kedua kaki si baju hitam.

Si baju hitam berteriak kesakitan dan ternyata tulang kedua kakinya itu sudah retak-retak akibat diinjak oleh Moghul. Sambil tertawa-tawa Moghul sekali lagi menendang dan tubuh yang sudah terkulai itu terlempar ke bawah panggung, menimpa para penonton yang kini terdiam dan terbelalak ngeri menyaksikan betapa Moghul menyiksa korbannya. Ada pula beberapa orang yang menang bertaruh langsung bersorak girang memuji dan menyambut kemenangan raksasa Moghul.

Memang di antara para penonton banyak pula yang mengadakan pertaruhan dalam setiap pertandingan dan sekarang orang-orang yang bertaruh memegang Moghul berani melipat gandakan taruhannya dengan satu berbanding tiga! Agaknya mereka sudah merasa yakin benar bahwa tidak ada yang akan mampu lulus jika harus berhadapan dengan Moghul!

Setelah si baju hitam itu kalah dan diusung pergi oleh pamannya, muncul pula beberapa orang pemuda berturut-turut, mencoba peruntungan mereka. Akan tetapi, mereka itu satu demi satu dirobohkan oleh Moghul dengan tulang kaki atau tangan patah-patah. Agaknya si raksasa itu semakin lama semakin kuat saja sehingga berturut-turut, bersama si baju hitam, sudah ada lima orang calon yang dirobohkan dan terpaksa digotong pergi dalam keadaan pingsan dan tulangnya patah-patah.

Keadaan menjadi sunyi dan semua penonton mengerutkan alisnya, kecuali mereka yang menang bertaruh. Si tukang bicara sudah kembali berteriak-teriak melakukan tugasnya, menantang dan menganjurkan orang-orang gagah untuk maju.

"Saudara-saudara yang gagah perkasa, silakan, siapa mau maju lagi? Benarkah tidak ada seorang pun yang mampu bertahan menandingi Moghul sampai habis terbakarnya satu batang hio saja? Apakah kalian tidak malu kalau dikatakan bahwa di San-hai-koan tidak ada seorang pun yang dapat disebut gagah? Ingatlah, yang masuk menjadi perwira akan memperoleh pangkat tinggi dan gaji besar, juga mempunyai tugas amat mulia, membela negara dari gangguan para pemberontak!" Demikianlah si tukang bicara itu membujuk, menantang dan memanaskan hati para penonton.

Akan tetapi mereka yang merasa memiliki kepandaian silat agaknya telah menjadi gentar. Melihat betapa lima orang yang gagah-gagah kalah dan menderita siksaan mengerikan, mereka merasa bahwa mereka tidak akan sanggup menandingi raksasa itu. Maka, para penonton hanya mampu saling pandang dengan perasaan mendongkol, penasaran, juga kecewa dan menyesal.

Sekarang perasaan mereka semua hanya ingin melihat si raksasa Moghul itu dikalahkan. Sayembara memasuki ketentaraan itu sudah berubah menjadi semacam pibu atau adu kepandaian untuk mengalahkan raksasa yang kini nampaknya semakin sombong itu.

Sekarang Moghul berdiri di tengah-tengah panggung sambil bertolak pinggang. Tubuhnya yang telanjang berkilauan karena keringat. Dia terbelalak memandang ke empat penjuru dan mulutnya menyeringai lebar. "Ha-ha-ha, apakah tidak ada lagi yang maju? Aku belum lelah, belum keluar keringat!"

Tentu saja ucapan ini hanya dipergunakan untuk menyombongkan diri saja. Kemudian dia menggerak-gerakkan kaki tangannya hingga terdengar suara berkerotokan dan nampak betapa otot-ototnya mengembang, membayangkan kekuatan yang dahsyat.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner