ASMARA BERDARAH : JILID-39


Sejak tadi Hui Song hanya menonton saja dan pemuda ini merasa heran. Dia tahu bahwa raksasa itu memang amat hebat dan sukar dikalahkan. Mengapakah pembesar setempat mengadakan syarat yang begitu beratnya untuk menjadi seorang calon perwira? Jelaslah bahwa di antara para ahli silat biasa saja, jarang ada yang dapat bertahan sampai habis terbakarnya sebatang hio apa bila menandingi seorang jago gulat yang demikian kuatnya seperti Moghul, apa lagi raksasa itu telah berlaku curang, menyembunyikan besi di dalam sepatu dan pembalut kakinya.

Pembesar setempat itu seakan-akan bahkan hendak menghalangi masuknya orang-orang pandai ke dalam ketentaraan. Dan dia tadi melihat betapa setiap kali ada peserta yang unggul, walau pun Kok-taijin nampak gembira, si panglima itu nampak tidak senang dan bahkan khawatir. Mengapa begini? Bukankah justru si panglima itu yang membutuhkan perwira-perwira baru untuk membantunya?

Juga dia yang memilih Moghul sebagai penguji. Bukankah dengan demikian, Ji-ciangkun itu malah hendak mencegah masuknya orang-orang gagah menjadi perwira baru? Semua ini, ditambah pula oleh sikap Moghul yang sombong, dan melihat betapa para penonton menjadi penasaran, mendorong Hui Song untuk meloncat ke atas panggung.

Dia harus menyelidiki semua ini. Pula, kalau dia sudah memperoleh kedudukan, biar pun hanya untuk sementara, dia akan lebih mudah menggunakan pasukan untuk mencari Sui Cin. Selain itu, dia pun dapat membantu dengan pasukannya kalau para pemberontak itu bergerak dari utara seperti yang disangkanya.

Begitu muncul seorang pemuda yang melihat tubuhnya hanya sedang-sedang saja serta tidak ada apa-apanya yang istimewa, Moghul tertawa girang dan matanya bersinar-sinar laksana seekor kucing melihat seekor tikus yang akan bisa dipermainkan sepuas hatinya. Akan tetapi para penonton telah bersorak-sorai lagi menyambut kehadiran Hui Song, biar pun sorak-sorai itu hanya untuk melepaskan ganjalan hati yang menjadi penasaran sebab si pembicara tadi mengatakan bahwa tidak ada orang gagah lagi di San-hai-koan. Padahal di lubuk hati mereka timbul kekhawatiran baru akan melihat pemuda tampan ini nanti juga dilemparkan ke bawah panggung dalam keadaan menyedihkan, luka-luka atau tulang kaki dan tangannya patah-patah.

Hui Song menghampiri panggung di mana dua orang pembesar itu duduk, lalu memberi hormat sambil berkata dengan suara nyaring, "Saya Cia Hui Song mohon ijin memasuki sayembara."

Kok-taijin mengangguk-angguk, ada pun Ji-ciangkun melambaikan tangan berkata, "Baik, majulah dan lawanlah Moghul dengan sungguh-sungguh."

Hui Song memberi hormat lagi, lalu dia bangkit dan menghampiri Moghul. Dia tadi sudah melihat betapa jago gulat ini mempergunakan keuntungan karena lawannya mengenakan pakaian. Sekali raksasa ini dapat menangkap dan mencengkeram baju lawan, tentu akan celakalah lawan itu. Dengan gerakan-gerakan ilmu gulatnya, lawan yang sudah ditangkap bajunya akan bisa diangkat atau dibanting. Sedangkan tubuh si raksasa ini sendiri dalam keadaan telanjang dan berkeringat sehingga licin.

Teringat akan ini, dia tidak mau dirugikan oleh pakaiannya. Setidaknya, karena Moghul mempergunakan ilmu gulat dan cengkeraman, dia khawatir kalau pakaiannya akan robek. Maka sambil tersenyum Hui Song berkata,

"Moghul, tunggu dulu. Engkau telanjang badan, maka tidak adil jika aku memakai baju ini. Tunggu aku akan melepaskan pakaian ini dahulu." Dan dia pun menanggalkan jubah dan baju atasnya, kini hanya memakai sebuah celana saja. Dia melangkah ke tepi panggung dan menghadap penonton.

"Di antara cu-wi sekalian, apakah ada yang kebetulan membawa minyak atau gajih? Bila ada, maukah membantuku dan memberi sedikit?" tanya Hui Song kepada mereka.

Para penonton menjadi heran sekali, akan tetapi memang kebetulan ada yang membawa karena memang tadi dia berbelanja dan datang ke tempat itu mampir dari berbelanja. Dia menghampiri dekat panggung dan menyerahkan sebotol minyak. Hui Song mengoleskan sedikit pada kedua telapak tangannya, dan dia lalu menggosok seluruh tubuh bagian atas yang telanjang itu dengan minyak.

Tentu saja para penonton saling pandang dan menjadi terheran-heran, akan tetapi melihat ini, Moghul terkejut dan diam-diam dia memandang pemuda itu dengan penuh perhatian. Setelah menitipkan bajunya kepada seorang penonton yang terdekat, Hui Song kemudian menghadapi Moghul, sementara sebatang hio dibakar oleh seorang petugas.

"Apakah engkau seorang jago gulat?" Moghul bertanya kepada Hui Song setelah pemuda itu berdiri di depannya.

Hui Song menggelengkan kepala. "Bukan, akan tetapi melihat tubuhmu berminyak, maka aku pun melumuri tubuhku dengan minyak," katanya dengan sikap tolol.

"Orang muda, engkau sudah menanggalkan baju dan melumuri tubuhmu dengan minyak, apakah kau akan menghadapi aku bertanding gulat? Ataukah dengan ilmu silat?"

"Dengan apa saja asal aku dapat mengalahkanmu dan dapat diterima menjadi perwira," jawab Hui Song seenaknya.

"Kau pandai gulat?" tanya Moghul. Hui Song menggelengkan kepala.

"Pandai silat?" Kembali Hui Song menggelengkan kepala.

Mendengar percakapan ini, semua penonton terbelalak. Sudah gilakah pemuda ini? Tidak bisa gulat atau pun silat, akan tetapi berani naik ke panggung melawan Moghul! Apakah pemuda ini mencari mati?

Moghul sendiri tertawa bergelak, kepalanya ditarik ke belakang, wajahnya bordongak dan perutnya sampai bergelombang ketika dia tertawa. "Ha-ha-ha, bocah nakal, lebih baik kau pulang saja dan minum susu ibumu sebelum terlambat, ha-ha-ha!"

Para penonton juga merasa ngeri membayangkan pemuda yang lemah ini akan disiksa habis-habisan, maka di antara mereka ada yang berteriak-teriak minta supaya Hui Song cepat-cepat turun saja dari atas panggung.

Akan tetapi Hui Song bersikap tenang. Dia bahkan menghampiri tempat hio yang sudah ditancapi sebatang hio bernyala, kemudian dia menggunakan dua jari menjepit ujung hio itu sehingga apinya padam.

"Hei, apa yang kau lakukan itu?" Si petugas yang tadi membakar hio menegur.

"Terlalu cepat kalau dibiarkan terbakar. Kalau begini kan bisa lama bermain-main dengan gajah bengkak itu? Biarlah kami berdua main-main sampai seorang di antara kami roboh tak mampu melawan lagi!" jawab Hui Song dengan sikap yang masih tenang.

Mendengar ucapan ini, semua orang menjadi terkejut dan semakin terheran. Pemuda ini benar-benar telah gila! Kalau tidak, mana mungkin berani bersikap seperti itu, menantang si raksasa untuk bertanding sampai seorang di antara mereka menggeletak tidak mampu melawan lagi? Seolah-olah dia akan mampu bertahan sekian lamanya!

Akan tetapi, sikap Hui Song ini membuat Moghul menjadi marah. Dia merasa ditantang dan bahkan dipandang rendah oleh pemuda hijau itu.

"Majulah dan akan kupatahkan seluruh tulang-tulang dalam tubuhmu!" bentaknya sambil melangkah lebar menghampiri Hui Song yang telah kembali ke tengah panggung. "Engkau ini tikus kecil berani banyak lagak!"

Hui Song tersenyum jenaka. "Dan engkau ini babi kebiri terlampau banyak berkaok-kaok, cobalah tangkap aku kalau bisa!"

Para penonton mulai tertawa melihat betapa pemuda ingusan itu berani mempermainkan si raksasa dan memakinya babi kebiri. Moghul memandang marah, dua matanya menjadi semakin lebar dan alisnya bangkit berdiri, kemudian tanpa banyak cakap lagi dia segera menubruk ke depan, sepasang tangannya mencengkeram hendak menangkap tubuh Hui Song, seperti seekor kucing menubruk tikus. Akan tetapi, dengan gaya yang lucu namun cepat, Hui Song sudah menyelinap dan menyeluruk ke bawah lengan si raksasa sambil berseru,

"Sayang luput!"

Kemudian, karena dia tadi menyelinap melalui bawah lengan lawan, kini tubuhnya berada di belakang lawan dan sekali dia mengayun kaki kiri, sepatunya telah menendang pinggul yang besar dan berdaging tebal itu. Tentu saja dia tak mengerahkan tenaga sinkang-nya karena dia ingin mempermainkan raksasa yang berhati kejam ini.

"Bukkk...!"

Pinggul itu kena ditendang dan sungguh pun Moghul tidak roboh dan tendangan itu tidak mendatangkan rasa nyeri, akan tetapi suaranya yang nyaring itu terdengar semua orang sehingga mulailah para penonton bersorak gembira. Walau pun gerakan pemuda itu tidak memperlihatkan gerak silat atau gerak gulat yang mahir, namun buktinya pemuda itu telah berhasil menendang pinggul Moghul. Ini saja sudah hebat!

Moghul memutar tubuhnya, membalik dan mukanya merah bukan main, matanya melotot saking marahnya. Dia menyerbu dan hendak menangkap, akan tetapi kembali Hui Song mengelak. Moghul mengejarnya dan kini raksasa itu mempergunakan kakinya yang besar untuk menyerang dengan tendangan-tendangan bertubi-tubi.

Hemm, pikir Hui Song, kiranya pegulat ini pun mahir ilmu tendangan yang cukup lihai, apa lagi kalau diingat bahwa di balik sepatu dan pembalut kakinya itu tersembunyi baja yang keras dan kuat. Dia mengelak dengan sembarangan saja, sengaja bersikap bodoh untuk memancing si raksasa agar bersikap lengah.

Beberapa kali tendangan itu hanya lewat saja, dan ketika tendangan kaki kanan raksasa itu menyambar, dia cepat merendahkan tubuhnya dan begitu kaki itu lewat, dia mengulur tangannya, menangkap bawah kaki itu dan langsung mendorongnya ke atas. Oleh karena Hui Song hanya menambah tenaga luncuran kaki itu sendiri, maka Moghul tidak mampu mempertahankan diri. Akibat kakinya terus terangkat ke atas, otomatis tubuhnya segera terjengkang dengan keras.

"Brukkk...!"

Papan lantai panggung itu tergetar hebat, dan untung tidak ambrol tertimpa tubuh yang besar dan berat itu.

"Waah, hati-hati, babi kebiri. Perutmu bisa pecah kalau kau banting-banting begitu!" Hui Song mengejek dan kembali terdengar sorak-sorai yang amat hebat.

Kini mulailah timbul harapan di dalam hati penonton. Boleh jadi pemuda itu tidak mampu silat, tidak mampu gulat, akan tetapi jelas amat pemberani dan cerdik, dan sudah terbukti bahwa dalam beberapa gebrakan saja sudah mampu menendang pinggul si raksasa dan kini malah membuatnya terjengkang dan terbanting keras.

Namun Moghul tak segera bangkit, sengaja memancing supaya pemuda itu melanjutkan serangannya untuk ditangkatnya, seperti yang dilakukannya terhadap si baju hitam tadi. Akan tetapi Hui Song tidak menyerang lagi, melainkan hanya pringas-pringis mengejek.

"Heh-heh-heh, apakah perutmu terasa mulas dan kau tidak mampu bangun berdiri? Nah, baiklah. Mari kubantu, babi!" Hui Song mengulurkan tangannya seperti hendak membantu raksasa itu bangun.

Tentu saja para penonton menjadi panik, bahkan ada pula yang berteriak-teriak agar Hui Song berhati-hati. Memang pemuda itu nampaknya terlalu sembrono dengan memberikan tangannya seperti itu. Sekali tangannya tertangkap, tentu pemuda itu akan celaka, akan dipatah-patahkan tulangnya, bahkan mungkin saja akan dibunuh sebab raksasa itu sudah amat marah padanya. Akan tetapi Hui Song pura-pura tak mendengar cegahan-cegahan itu dan tetap mengulur tangan kepada Moghul.

Raksasa itu benar-benar menyambar tangan Hui Song yang diulurkan, dan jari-jari yang panjang besar itu berhasil menangkap pergelangan tangan Hui Song dengan kuat. Akan tetapi tiba-tiba Hui Song menarik lengannya dan cekalan itu pun terlepas. Tangan itu licin seperti belut sehingga terlepas tanpa mampu dipertahankan oleh Moghul.

Hui Song tersenyum sambil memandang kepada orang yang memberi minyak kepadanya tadi, lalu menjura. "Terima kasih atas minyaknya, lenganku jadi licin, hi-hik!"

Kembali orang-orang bersorak-sorai dan Hui Song pun kembali menyerahkan lengan yang satu lagi kepada Moghul. Ketika secara otomatis Moghul mengulurkan tangannya hendak menangkap, Hui Song menarik kembali tangannya, seperti menggoda seorang anak kecil saja.

Sorak-sorai makin keras, orang-orang tertawa dan merasa geli menyaksikan pertunjukan yang lucu itu. Seperti bukan melihat pibu yang menyeramkan saja melainkan menonton panggung lawak yang lucu.

Dapat dibayangkan betapa kemarahan Moghul semakin menjadi-jadi. "Kupatahkan semua tulangmu, kuhancurkan kepalamu...!" katanya berkali-kali dengan suara mendesis.

"Silakan, kalau kau mampu menangkap aku," Hui Song mengejek.

Moghul yang sudah marah sekali itu tak menjawab, melainkan kembali menubruk dengan cepat sambil mengeluarkan suara gerengan seperti seekor beruang marah. Namun Hui Song mengelak dan sambil tersenyum mengejek pemuda ini tidak membalas, melainkan terus mengelak sampai raksasa itu terengah-engah kecapaian.

Semua penonton tertawa-tawa melihat tingkah Hui Song yang mempermainkan Moghul. Namun bagi Moghul agaknya tidak ada kata kalah dalam benaknya. Dia sudah terbiasa selalu menang, sehingga kini, menghadapi seorang lawan yang demikian licin bagai belut sehingga semua serbuan serta terkamannya hanya selalu mengenai tempat kosong, dia pun merasa penasaran dan belum sadar bahwa sesungguhnya dia sedang menghadapi seorang lawan yang jauh lebih pandai dari pada dia.

"Hohhhh...!" Kembali raksasa itu menubruk dari samping, dan untuk ke sekian kalinya Hui Song mengelak dan menyelinap di bawah lengan kanannya.

Raksasa yang sudah lelah itu terhuyung ke depan karena terdorong tenaga tubrukannya sendiri. Ketika dia membalik, tiba-tiba dia melihat lawannya yang bertubuh amat kecil jika dibandingkan dengan tubuh raksasa itu, menerjang ke depan. Hui Song meloncat sambil menggunakan jari-jari tangan kirinya hendak mencengkeram muka raksasa itu.

"Awas, kucokel keluar matamu!"

Moghul terkejut sekali dan tentu saja dia terpengaruh ucapan itu, memperhatikan tangan kiri lawan yang menyerangnya dan siap melindungi matanya dengan kedua tangan sambil mencari kesempatan untuk menangkap tangan kiri itu. Sejak tadi dia sudah mengancam dalam hatinya bahwa sekali dia dapat menangkap pemuda itu, maka akan diangkat dan dibantingnya, akan dipatah-patahkan semua tulang tubuhnya!

Akan tetapi dia sama sekali tidak tahu bahwa serangan Hui Song itu hanyalah merupakan gertakan saja, karena yang bekerja ternyata adalah tangan kanannya yang beberapa kali menepuk ke arah perut gendut itu dengan keras.

"Plak! Plak! Pungg...!" Akan tetapi tamparan-tamparan tangannya itu membalik dan perut yang ditamparnya mengeluarkan suara seperti sebuah tambur besar dipukul.

"Wah, gentong ini kosong!" Hui Song masih mengeluarkan suara ejekan keras sehingga para penonton semakin geli tertawa.

Akan tetapi suara tawa mereka terhenti seketika karena pada saat itu pula Moghul sudah berhasil menangkap lengan kiri Hui Song dengan tangan kanannya. Lalu dengan gerakan seorang jago gulat yang mahir, tangan kirinya menyusul dan sudah menangkap pundak pemuda itu, dan secepat kilat tahu-tahu tubuh Hui Song sudah diangkat ke atas kepala.

Semua orang memandang pucat, sementara itu Moghul menyeringai, mengeluarkan suara ha-ha-huh-huh seperti orang terengah-engah saking girangnya. Dia hendak membanting lawannya itu ke atas lantai panggung dan sudah mengerahkan tenaga agar bantingannya dapat dilakukan sekuatnya. Akan tetapi tiba-tiba saja dia memekik kesakitan dan kedua lengannya menjadi lemas.

Kiranya Hui Song menggunakan jari-jari tangannya, biar pun pergelangan tangan itu telah ditangkap, untuk mencengkeram dan mencabuti bulu-bulu panjang pada dada dan lengan raksasa itu, dan berbareng dengan itu ujung sepatunya telah menotok jalan darah di dekat punggung lawan, membuat Moghul kehilangan tenaga untuk beberapa detik lamanya.

Ini sudah cukup bagi Hui Song untuk meronta dan melepaskan diri dari pegangan kedua tangan lawannya. Dia menggeliatkan tubuhnya yang sudah dilumuri minyak tadi sehingga terlepas lantas meloncat ke belakang sambil berkata, "Heh-heh-heh, tubuhku licin, berkat minyak!"

Kembali penonton tertawa dengan hati lega. Biar pun sampai kini pemuda itu belum juga memperlihatkan ilmu silat atau ilmu gulat, namun semua gerakannya yang nampaknya ngawur itu ternyata telah membuat si raksasa tidak berdaya!

Lumpuhnya kedua tangan Moghul tidak lama dan tentu saja raksasa ini menjadi semakin penasaran dan marah. Apa lagi melihat betapa pemuda itu sekarang sudah berdiri sambil bertolak pinggang dengan kedua kaki terpentang lebar dan berkata kepadanya, "Hei, babi bengkak, coba sekarang engkau mengangkat dan membantingku kalau mampu!"

Tantangan ini mendatangkan rasa heran dan khawatir kepada semua penonton, kecuali beberapa orang di antara mereka yang bermata tajam dan sudah dapat menduga bahwa pemuda itu tentulah seorang pendekar yang lihai dan tinggi ilmu kepandaiannya.

Akan tetapi yang merasa girang adalah Moghul. Tadi dia penasaran dan kecewa karena sungguh tidak dikiranya bahwa pemuda yang sudah berada dalam cengkeramannya dan tinggal banting saja itu dapat lolos. Kini dia ditantang, tentu saja dia merasa girang. Sekali ini, kalau aku dapat menangkapnya, tak mungkin dia akan dapat lolos, pikirnya.

Dengan langkah lebar dia lalu menghampiri dan tadinya mengira bahwa pemuda itu tentu hanya mempermainkannya dan akan mengelak bila ditangkap. Akan tetapi ternyata tidak! Saat dua tangannya yang besar itu menangkap pinggang Hui Song dan dia mengerahkan tenaga untuk mengangkatnya, ternyata tubuh kecil itu tidak bergeming dan tidak mampu diangkatnya! Tubuh yang kecil itu, yang agaknya akan dapat diangkat oleh Moghul walau pun hanya dengan satu tangan saja, kini terasa berat sekali, atau seolah-olah kedua kaki pemuda itu sudah berakar pada lantai panggung.

Moghul tidak percaya dan semakin penasaran. Dikerahkannya kekuatannya sehingga urat serta otot pada kedua lengan dan dadanya menggembung kemudian dicobanya lagi untuk mengangkat tubuh Hui Song. Namun tetap saja tak terangkat olehnya. Kedua tangannya pindah ke pundak, lalu ke pinggang lagi, dan tetap saja tidak terangkat.

Tiba-tiba Hui Song merendahkan tubuh, menggunakan dua tangannya untuk menyangga paha dan perut si raksasa, mengerahkan sinkang-nya dan sambil mengeluarkan lengking suara yang nyaring, dia meluruskan tubuh dan Moghul sudah terangkat ke atas olehnya! Tentu saja perbuatannya ini disambut sorak-sorai gemuruh, bahkan Ji-ciangkun terbelalak dan mukanya berubah menjadi agak pucat, sementara Kok-taijin bertepuk tangan saking gembiranya.

"Brukkkk...!"

Tubuh tinggi besar itu dilempar oleh Hui Song, bukan dibanting namun hanya dilempar. Akan tetapi akibatnya, bagian papan lantai panggung di ujung depan yang tertimpa tubuh raksasa itu langsung ambrol!

Di bawah suara ketawa dan sorak-sorai para penonton. Moghul merangkak ke luar lagi dari lantai papan panggung yang ambrol dan kini mukanya menjadi hitam, matanya merah sekali dan ada hawa pembunuhan membayangi wajahnya ketika dia melangkah maju lagi menghampiri Hui Song. Karena kini tak ada lagi hio yang terbakar, maka orang tidak tahu lagi berapa lama batas pertandingan itu dan agaknya Moghul juga belum mau menerima kalah.

"Eh-eh, engkau masih juga belum mau mengaku kalah?" Hui Song bertanya mengejek.

Raksasa itu tak menjawab, melainkan menubruk dengan dahsyat dan penuh kemarahan. Akan tetapi tiba-tiba dia terbelalak karena tubuh pemuda di depannya itu lenyap. Semua penonton dapat melihat betapa pemuda itu mengelak tubrukan lawan sambil meloncat ke atas, tinggi sekali melampaui kepala Moghul dan ketika tubuhnya berjungkir balik dengan indahnya seperti seekor burung walet di udara, tubuh itu menukik turun dan tahu-tahu Hui Song telah hinggap di atas kedua pundak raksasa itu sambil tertawa-tawa!

Sejenak Moghul kebingungan, akan tetapi melihat dua batang kaki Hui Song bergantung di depan dadanya, dia cepat menangkap kedua kaki itu. Akan tetapi tiba-tiba kedua kaki itu membalik dan menjepit lehernya dan kini tubuh atas Hui Song bergantung di belakang punggungnya dalam keadaan menelungkup.

"Wah, wah, celaka, kain cawatmu bau sekali, babi bengkak!" Hui Song berseru.

Dan dengan kedua kaki masih menjepit leher, dia menggunakan kedua tangannya untuk menangkap ujung kain cawat di belakang pinggul Moghul lantas membukanya. Tentu saja nampaklah kedua bukit pinggul raksasa itu yang berkulit halus dan lebih putih dari pada bagian tubuh lainnya. Melihat ini, semua penonton lantas tertawa bergelak karena dengan ditariknya cawat itu, nampaklah semua tubuh bagian bawah raksasa itu dari belakang!

Kini Moghul sama sekali tidak ingat untuk melakukan serangan lagi karena dua kaki yang menjepit lehernya itu membuat dia merasa sulit sekali bernapas. Dua kaki itu sedemikian kuatnya laksana jepitan baja yang dikalungkan di lehernya saja. Dengan susah payah dia mencoba untuk melepaskan jepitan kedua kaki itu, namun sia-sia saja dan tiba-tiba Hui Song yang bergantungan di belakang tubuhnya itu menggunakan kedua tangannya untuk menotok belakang lutut Moghul.

Raksasa itu mengeluh keras dan kedua kakinya tertekuk. Hui Song melepaskan jepitan kakinya dan meloncat turun kemudian dia berdiri mengejek di depan Moghul. Raksasa ini merasa betapa kedua kakinya nyeri sekali akibat totokan pada belakang lutut tadi, akan tetapi kemarahan membuat dia mata gelap. Dia cepat bangkit berdiri dan kini menyerang dengan pukulan tangannya yang dikepalkan, tidak menggunakan ilmu gulat lagi.

Agaknya Hui Song sudah merasa cukup mempermainkannya, maka dia pun menyambut pukulan lengan kanan ini dengan tangkisan tangan kirinya, dengan jari-jari yang terbuka dan tangan dimiringkan seperti golok membacok ke arah lengan kanan lawan.

"Krekkk...!"

Moghul memekik dan lengan kanannya menjadi lumpuh karena tulang lengan itu sudah patah! Tapi dasar manusia yang keras kepala, dia masih menyerang terus dengan tangan kirinya.

Kembali Hui Song menangkis dan kini lengan kiri itu pun patah lengannya. Pemuda itu teringat betapa raksasa ini telah menyiksa banyak orang dengan mematahkan tulang kaki dan tangan mereka, maka dia pun segera melakukan tendangan susulan dua kali yang mematahkan tulang kedua kaki raksasa itu. Moghul roboh dan tak dapat bangkit kembali karena kedua kaki dan tangannya sudah tidak dapat digerakkan, tulangnya sudah patah-patah.

Hui Song kini membungkuk, menyambar sebuah lengan dan kaki, lalu mengangkat tubuh raksasa itu ke atas, memutar-mutarnya cepat lalu melemparkannya ke bawah panggung. Tubuh itu melayang dan jatuh terbanting ke atas tanah, di luar kepungan para penonton! Sorak-sorai laksana meledak dan seperti akan meruntuhkan panggung itu sendiri. Semua penonton mengangkat kedua tangan, bahkan ada pula yang berjingkrak-jingkrak menari kegirangan.

Akan tetapi semua penonton kini berdiam dan memandang dengan mata terbelalak penuh keheranan dan kekhawatiran setelah melihat betapa Ji-ciangkun bersama belasan orang pengawalnya sudah berdiri di atas panggung sambil mengurung pemuda yang baru saja memperoleh kemenangan secara mutlak itu.

"Cepat tangkap keparat ini!" bentak Ji-ciangkun kepada para prajuritnya yang kelihatan ragu-ragu.

Tentu saja Hui Song juga berdiri dengan mata terbelalak heran karena dia pun merasa penasaran sekali. "Ciangkun, apa sebabnya aku akan ditangkap?" bantahnya.

"Orang muda, engkau masih belum mengakui kesalahan-kesalahanmu? Pertama, engkau sudah memadamkan hio yang terbakar, dan kedua, engkau sudah melukai penguji yang menjadi jagoan kami. Berarti engkau menyalahi peraturan dan tidak memandang kepada kami, berani mempermainkan dan melukai orang kami, dan itu berarti bahwa engkau telah memberontak, berani melawan pejabat tinggi!"

Akan tetapi pada waktu itu Kok-taijin muncul pula, kemudian terdengar pembesar sipil ini berkata, "Tidak, dia jangan ditangkap, ciangkun. Biarlah aku mengampunkan kesalahan-kesalahannya dan aku akan mengambil dia menjadi seorang pengawal pribadiku. Orang she Cia, maukah engkau menjadi seorang pengawal pribadiku?"

Hui Song merasa semakin heran. Agaknya terdapat pertentangan secara rahasia antara kedua pejabat itu dan dia pun menjura kepada gubemur itu, "Saya bersedia, taijin."

Ji-ciangkun nampak marah, akan tetapi karena Kok-taijin merupakan wakil dari kerajaan yang merupakan penguasa tertinggi di daerah itu, maka dia pun tidak berani menentang secara terang-terangan sehingga dia pun memberi isyarat kepada para prajuritnya untuk mundur dan meninggalkan panggung. Kok-taijin mengajak Hui Song mengikutinya pulang ke dalam gedungnya dan pemilihan calon perwira itu pun dibubarkan.

Setelah tiba di dalam gedungnya, Kok-taijin mengajak Hui Song memasuki sebuah kamar untuk berbicara empat mata. Pembesar yang berwibawa itu menyuruh Hui Song duduk di atas kursi, berhadapan dengan dia terhalang sebuah meja kecil dan setelah dia menyuruh seorang pelayan menghidangkan minuman serta menyuruh pelayan lain mempersiapkan sebuah kamar untuk pengawal pribadi baru ini, dia lantas mengajak Hui Song bercakap-cakap.

"Cia-sicu, aku sudah terlalu banyak mengenal para pendekar gagah maka begitu engkau muncul tadi, walau pun engkau bersikap ketolol-tololan, aku sudah dapat menduga bahwa engkau tentu seorang pendekar yang berkepandaian tinggi. Dan timbul keheranan dalam hatiku, karena terasa janggal dan anehlah jika seorang pendekar berilmu seperti engkau ini hendak masuk menjadi seorang perwira. Sebetulnya, apakah yang mendorongmu naik ke panggung dan melawan Moghul?"

Diam-diam Hui Song memuji kecerdikan pembesar ini yang ternyata memiliki pandangan tajam sekali. Dan dia pun tidak perlu lagi bersembunyi karena dia tahu bahwa pembesar ini boleh dipercaya, tidak seperti Ji-ciangkun yang sikapnya mencurigakan itu.

"Harap taijin suka memaafkan saya. Sesungguhnya ada dua hal yang mendorong saya untuk memasuki sayembara itu. Pertama karena saya merasa jengkel melihat kekejaman Moghul yang menyiksa para pengikut sayembara yang kalah, oleh karena itu saya ingin membalaskan mereka itu dan menghukumnya. Kedua, saya merasa heran sekali karena kalau pemerintah benar membutuhkan perwira-perwira baru, dengan mengajukan Moghul sebagai penguji justru seolah-olah pemerintah daerah ingin menghalangi adanya perwira-perwira baru. Sukarlah dicari orang yang akan mampu mengalahkan raksasa itu. Maka saya ingin sekali menyelidiki kejanggalan ini."

Pembesar ini mengangguk-angguk. "Tepat seperti yang sudah kuduga, Cia-sicu. Karena itulah maka aku turun tangan dan mengangkatmu menjadi pengawal pribadi. Sebenarnya sudah lama aku merasa curiga terhadap gerak-gerik Ji-ciangkun yang berubah semenjak beberapa bulan yang lampau ini. Dahulu dia pun merupakan seorang panglima yang setia terhadap pemerintah, akan tetapi entah mengapa, semenjak beberapa bulan ini terjadi perubahan pada sikapnya dan Moghul itu pun pilihan dia. Dialah yang tadinya tidak setuju pada waktu aku mengusulkan untuk menerima prajurit serta perwira baru karena adanya desas-desus pemberontakan. Cia-sicu, aku yakin bahwa tentu engkau sudah mendengar pula tentang desas-desus itu, bukan?"

Hui Song mengangguk. "Itu bukan berita bohong, taijin. Memang ada datuk-datuk kaum sesat yang sedang menghimpun tenaga untuk mengadakan pemberontakan, dan terus terang saja, saya sampai ke daerah ini pun adalah untuk menyelidiki tentang hal itu."

"Bagus kalau begitu, sicu. Bagaimana kalau engkau tinggal di sini, pura-pura saja menjadi pengawal pribadiku, akan tetapi tugas yang sebenarnya bagimu adalah untuk menyelidiki Ji-ciangkun? Siapa tahu kalau dia mempunyai hubungan dengan para tokoh yang hendak memberontak itu."

"Baik, taijin. Saya masih memiliki waktu kira-kira sebulan untuk melakukan penyelidikan di sini."

Demikianlah, mulai hari itu Hui Song berpakaian pengawal dan menjadi pengawal pribadi Kok-taijin. Tentu saja hal ini hanya untuk menyembunyikan tugasnya yang sesungguhnya, yaitu menyelidiki Ji-ciangkun. Hanya dia sendiri beserta Gubernur Kok yang tahu, bahkan keluarga gubernur itu sendiri pun tidak mengetahuinya.

Gubernur Kok tinggal dengan seorang isterinya, beberapa orang selir dan hanya memiliki seorang anak, yaitu seorang anak perempuan yang ketika itu baru berusia sepuluh tahun. Sebagai seorang pengawal pribadi, Hui Song mengenal baik semua keluarga Kok-taijin dan dengan pakaian pengawal, tidak begitu sukar baginya untuk melakukan penyelidikan karena tidak akan dicurigai.

Pada suatu malam, beberapa hari kemudian, dua bayangan yang amat gesit gerakannya berlompatan memasuki benteng dengan melewati tembok benteng yang tinggi. Anehnya, ketika para penjaga melihat dua orang ini, mereka diam saja, bahkan ada perwira yang memberi hormat kepada mereka, kemudian perwira ini melapor kepada Ji-ciangkun yang berada di sebelah dalam gedungnya.

"Ciangkun, dua orang tamu yang ditunggu sudah datang," perwira itu melaporkan.

"Baik. Persilakan mereka untuk menanti di dalam kamar tunggu dan suruh para pengawal menjaga di luar. Juga jangan menerima tamu dari luar pada malam hari ini, aku tidak mau diganggu."

Perwira itu memberi hormat lantas keluar, menanti di pekarangan gedung atasannya itu. Tak lama kemudian ada dua sosok bayangan berlompatan turun dan mereka itu ternyata adalah seorang tosu tinggi kurus dan seorang hwesio gendut yang tidak lain adalah Hui-to Cin-jin dan Kang-thouw Lo-mo, dua orang tokoh dari Cap-sha-kui yang bersama-sama Siang-to Sian-li Gui Siang Hwa murid Raja Iblis pernah memikat Hui Song ke Goa Iblis Neraka tempo hari!

Sang perwira menyambut mereka dengan hormat, lalu mempersilakan mereka menunggu Ji-ciangkun di dalam ruangan tamu yang luas. Tiga orang ini memasuki pintu ruang tamu, sama sekali tidak tahu bahwa salah seorang prajurit pengawal yang berdiri di situ dengan tombak di tangan sama sekali bukanlah prajurit benteng itu, melainkan Hui Song yang telah menyamar!

Dengan bantuan Kok-taijin, tidak sukar bagi Hui Song untuk menyamar dengan pakaian prajurit benteng kemudian menyelundup masuk untuk melakukan penyelidikan. Malam itu, tanpa disangka-sangkanya dia melihat dua orang tamu dari Ji-ciangkun, yang bukan lain adalah kenalan lamanya, yaitu Hui-to Cin-jin dan Kang-thouw Lo-mo yang pernah nyaris menewaskannya di Goa Iblis Neraka.

Terkejut, heran dan juga giranglah hati Hui Song bahwa kecurigaannya pada Ji-ciangkun ternyata sekarang terbukti kebenarannya. Jelaslah bahwa Ji-ciangkun tentu bersekongkol dengan kaum sesat yang hendak memberontak, karena dua orang kakek iblis itu adalah para pembantu Raja dan Ratu Iblis dan tentu kini menjadi semacam utusan dari Raja Iblis untuk bersekongkol dengan Ji-ciangkun. Maka, setelah keadaan sunyi dan dia mendapat kesempatan, Hui Song lalu melakukan pengintaian ke dalam ruangan tamu.

Tidak salah penglihatannya tadi, yang duduk di dalam ruangan itu adalah Hui-to Cin-jin, Kang-thouw Lo-mo, bersama Ji-ciangkun dan Moghul! Agaknya orang Mongol jago gulat itu memang kuat sekali. Meski pun tulang kedua kaki tangannya patah, akan tetapi kini, dengan bantuan kursi roda, dia dapat turut menghadiri pertemuan itu dengan kaki tangan dibalut kuat. Tentu dia menggunakan obat yang amat manjur, pikir Hui Song kagum juga. Dia sudah mendengar betapa Bangsa Mongol mempunyai obat-obat yang sangat mujarab untuk luka-luka atau patah tulang.

Dan kini semakin mengertilah dia. Kiranya Moghul yang dijadikan jagoan penguji itu pun merupakan salah seorang di antara tokoh persekutuan pemberontak itu! Dari percakapan di antara empat orang itu, tahulah dia bahwa Moghul bukanlah orang biasa. Dia mengaku sebagai keturunan para Raja Mongol yang dulu pernah memerintah di Tiongkok dan kini dia berusaha untuk membangun kembali kekuasaan bangsanya yang sudah jatuh.

Jadi di tempat ini terdapat persekutuan antara tiga unsur. Yang pertama adalah seorang panglima pemerintah sendiri yang berambisi untuk memberontak, yakni Panglima Ji Sun Ki. Kedua adalah Moghul yang mewakili orang-orang Mongol yang menjadi anak buahnya. Dan ketiga adalah rombongan kaum sesat yang diketuai Raja Iblis! Suatu persekutuan yang amat berbahaya, pikir Hui Song yang mengintai dan mendengarkan dengan hati-hati.

"Pemuda itu...?" kata Kang-thouw Lo-mo sambil menenggak araknya saat dia mendengar Ji-ciangkun bercerita tentang pemuda yang bisa mengalahkan Moghul dalam sayembara pemilihan perwira baru. "Ahh, dialah orang she Cia, putera ketua Cin-ling-pai itu! Pantas saja kalau saudara Moghul kalah karena dia memang lihai bukan main."

"Dan sekarang dia telah menjadi pengawal pribadi Kok-taijin?" Hui-to Cin-jin menyambung. "Wah, berbahaya sekali itu. Dia harus disingkirkan lebih dahulu!"

Ji-ciangkun mengerutkan alisnya. Dia terkejut bukan kepalang mendengar bahwa pemuda yang sikapnya ketolol-tololan itu, yang sudah mengalahkan Moghul, ternyata bukan orang sembarangan, melainkan seorang pendekar!

"Tidak mudah begitu saja menyingkirkannya, bukan hanya karena dia lihai, akan tetapi karena dia sudah menjadi pengawal pribadi Kok-taijin. Kita harus bertindak hati-hati dan jangan sampai menimbulkan kecurigaan di dalam hati Kok-taijin sebelum gerakan kita itu dilakukan. Jelaslah bahwa Kok-taijin tidak dapat dibujuk dan dia akan menjadi penghalang terbesar. Maka, biarlah aku mengerahkan orang-orangku untuk mengamati orang she Cia itu. Sama sekali aku tidak mengira bahwa dia adalah seorang pendekar, maka aku tidak menaruh curiga."

Mendengar ini, Hui Song merasa sudah cukup. Apa bila kini Ji-ciangkun sudah mengerti siapa dirinya, tentu dia akan selalu diawasi sehingga hal itu membuat dia tak akan leluasa bergerak. Maka secara hati-hati dia lalu meninggalkan tempat itu dan malam itu juga dia menghadap Kok-taijin yang menjadi terkejut karena pembesar ini tadinya sudah mengaso dan bahkan hampir tidur pulas ketika dibangunkan.

"Cia-sicu, ada apakah...?" tanyanya kaget.

"Taijin, mari kita bicara di dalam. Ada hal penting sekali," jawab Hui Song. Mereka lalu memasuki ruangan dalam dan di situ Hui Song menceritakan apa yang baru saja dilihat serta didengarnya.

Diceritakannya kepada pembesar itu bahwa Ji-ciangkun betul-betul bersekongkol dengan orang-orang yang akan memberontak, betapa menurut pengakuannya sebetulnya Moghul adalah keturunan Jenghis Khan dari Raja-raja Mongol yang hendak membangkitkan lagi kekuasaan bangsanya, kemudian diceritakannya mengenai dua orang tokoh Cap-sha-kui yang menjadi para pembantu Raja Iblis yang memimpin para datuk sesat yang hendak memberontak.

Mendengar penuturan itu, Kok-taijin terkejut bukan main. Pembesar ini lalu mengerutkan alisnya. "Ah, tak kusangka sudah sejauh itu! Dan biar pun di San-hai-koan ini aku menjadi penguasa tertinggi, akan tetapi untuk menangkap Ji-ciangkun, aku kekurangan kekuatan. Di sini aku hanya mempunyai pasukan pengawal dan penjaga keamanan yang jumlahnya tidak ada seribu orang sedangkan Ji-ciangkun menguasai pasukan yang beribu-ribu orang banyaknya. Kita harus bertindak hati-hati dan tidak ada jalan bagiku kecuali melaporkan ke kota raja. Akan tetapi hal itu membutuhkan waktu lama dan melaporkan kepada kaisar harus disertai bukti-bukti sedangkan bukti itu belum ada. Maka, sicu, aku hendak minta bantuanmu. Sampaikan suratku kepada komandan benteng Ceng-tek. Komandan itu ialah seorang panglima yang setia dan jika dia menerima suratku, tentu dia akan percaya dan dia akan mengirimkan pasukan yang besar ke sini untuk membantuku. Tidak ada orang lain yang dapat kupercaya untuk melakukan tugas ini, sicu. Berangkatlah malam ini juga."

Hui Song tidak dapat menolak karena dia sendiri pun maklum akan gawatnya keadaan. Agaknya pihak pemberontak itu akan menduduki San-hai-koan lebih dulu untuk menjadi markas dan basis pemberontakan mereka. Maka, malam itu juga, dia diberi seekor kuda yang paling baik, membawa surat dari Kok-taijin dan berangkatlah dia meninggalkan kota San-hai-koan…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner