ASMARA BERDARAH : JILID-41


Akan tetapi, ketika Hui Song menggandengnya dan mengajaknya keluar dari ruangan itu, anak itu menangis.

"Ayah...! Ibu...! Aku ikut ayah dan ibu...!"

Ibunya menangis, akan tetapi Kok-taijin memberi isyarat kepada Hui Song agar membawa anak itu keluar. Hui Song lalu mengangkat dan memondongnya. Anak itu meronta-ronta, akan tetapi tidak berdaya dalam pondongan Hui Song.

"Diamlah, adik yang manis, kita pergi keluar untuk menyelamatkanmu. Marilah!" Hui Song membujuk dengan halus. Dia lalu berlari keluar dan meloncat ke atas punggung kudanya. "Adik yang manis, kau rangkullah leherku, akan kugendong di belakangku. Jangan takut, aku akan menyelamatkanmu," katanya.

Dia pun telah mengambil busur dan menyiapkan anak panahnya, lalu membedal kudanya keluar. Para pengawal telah tahu bahwa pemuda ini bertugas menyelamatkan puteri sang gubernur, maka mereka melindunginya dengan anak-anak panah yang mereka luncurkan ke depan.

Pertempuran sudah terjadi lagi dan sekarang Hui Song membalapkan kudanya di antara pertempuran. Dia dihujani anak panah, akan tetapi semua itu dapat dia runtuhkan dengan busurnya dan kadang-kadang dia pun melepas anak panah merobohkan beberapa orang prajurit musuh yang berani menghadang. Ada kalanya pula dia menggunakan tangan atau tendangan kakinya merobohkan musuh yang berani mendekat.

Kebakaran-kebakaran terjadi ketika para prajurit Ji-ciangkun menghujankan panah api ke arah gedung. Hui Song meloncati pagar-pagar yang terbakar dengan kudanya. Ketika ada beberapa batang anak panah menyambar dari atas, dia segera membalas dengan anak panahnya, maka robohlah dua orang prajurit yang menyerangnya dari atas benteng. Dan para petajurit agaknya gentar juga menyaksikan sepak terjangnya, karena siapa pun yang menghalang di depannya, kalau tidak terpelanting ditabrak kuda pendekar itu, tentu roboh oleh tamparan tangan atau tendangan kakinya.

Walau pun dengan susah payah, akhirnya Hui Song berhasil membawa anak perempuan itu keluar dari pintu gerbang San-hai-koan. Legalah hatinya dan dia terus membalapkan kudanya memasuki sebuah hutan. Akan tetapi tiba-tiba ada benda-benda berkilauan yang menyambarnya dengan kecepatan luar biasa.

Hui Song terkejut sekali, dan sambil memondong tubuh Hui Lian, dia meloncat turun dari atas punggung kudanya. Kuda itu ketakutan. Memang sejak tadi kuda itu sudah panik di antara pertempuran yang terjadi di San-hai-koan. Maka, sesudah dia terbebas dari beban penunggangnya, dia langsung membalap melarikan diri.

Setelah meloncat turun dan menengok ke kanan, dari arah mana pisau-pisau terbang tadi datang menyambar, tahulah dia siapa yang tadi menyerangnya. Si pisau terbang Hui-to Cin-jin sudah berdiri di sana, bersama Kang-thouw Lo-mo si gendut dan tidak ketinggalan pula Gui Siang Hwa! Mereka bertiga berdiri di sana dan memandang kepadanya dengan senyum mengejek.

"Hemm, kembali si tampan gagah putera ketua Cin-ling-pai mencampuri urusan kita," kata Siang Hwa. Biar pun suaranya mengandung nada ejekan, akan tetapi sinar matanya tidak bisa menyembunyikan perasaan kagum dan sukanya kepada pendekar yang tampan dan gagah itu.

"Ha-ha-ha-ha, sekali ini kita tidak boleh membiarkan tikus ini terlepas!" Kang-thouw Lo-mo tertawa. Hui-to Cin-jin yang merasa penasaran karena serangan pisau-pisau terbangnya tadi pun gagal, sekarang sudah mencabut sepasang belatinya dan siap untuk menyerang dengan sikap mengancam.

Hui Lian yang berada dalam gendongan Hui Song menjadi ketakutan dan menangis. Anak itu mulai memanggil-manggil ayah ibunya dan kembali Siang Hwa tertawa.

"Hi-hi-hik, kiranya Cia Hui Song yang gagah perkasa itu kini menjadi seorang pangasuh anak-anak." Dan kini wanita itu mengeluarkan sebatang pedang yang tadi terselip pada punggungnya dan suaranya menjadi kereng dan ganas ketika dia berkata, "Tidak, sekali ini dia tidak boleh lolos. Pekerjaanku di kota Ceng-tek hampir saja gagal karena campur tangannya."

Kang-thouw Lo-mo juga sudah mengambil guci araknya dan membuka tutup guci, minum araknya sambil menyeringai. Hui Song maklum bahwa dia kini menghadapi tiga orang musuh besarnya yang pernah hampir menewaskannya di dalam Goa Iblis Neraka. Selain maklum akan kelihaian dan kecurangan mereka, juga dia ingin sekali membalas kelicikan mereka ketika di dalam goa dahulu itu.

Kali ini dia harus dapat membasmi tiga orang iblis ini, karena kalau tidak, mereka bertiga ini hanya akan menimbulkan kekacauan-kekacauan saja di dalam dunia. Maka dia segera menurunkan anak perempuan itu, melepaskannya di bawah sebatang pohon tak jauh dari situ.

"Adik yang baik, kau duduklah di sini dulu, dan jangan pergi ke mana pun," katanya.

Anak itu berhenti menangis, kemudian duduk sambil memeluk batang pohon, seolah-olah hendak mencari perlindungan pada sebatang pohon yang nampak kokoh kuat itu. Setelah melepaskan anak itu, Hui Song merasa lega sekali. Dengan senyum di bibir, sikap yang tenang dan tabah sekali, dia kemudian menghampiri tiga orang musuh yang sudah siap mengeroyoknya itu.

"Hui-to Cin-jin, Kang-thouw Lo-mo dan Gui Siang Hwa, kalian adalah tiga orang manusia berhati iblis, jangan harap akan dapat melakukan kecurangan lagi padaku. Sekali ini aku akan menghajar dan menghukum kalian yang sudah terlalu banyak melakukan dosa!"

Pendekar ini memang tak pernah membawa pedang dan sudah biasa menghadapi lawan yang tangguh dengan tangan kosong saja. Bagi seorang pendekar seperti Hui Song yang sudah mewarisi ilmu-ilmu dari keluarga Cin-ling-pai, bertangan kosong pun tidak kurang berbahayanya dari pada kalau dia bersenjata dan setiap benda bisa saja menjadi senjata baginya.

Melihat Hui Song melangkah maju tanpa senjata, tiga orang lawan yang telah memegang senjata andalan mereka masing-masing itu diam-diam merasa gentar juga. Orang yang sudah berani maju bertangan kosong, apa lagi dengan sikap sedemikian tenangnya, tentu memiliki ilmu silat yang sangat tinggi. Dan mereka pun sudah pernah menguji kehebatan ilmu silat pemuda ini, maka kini mereka bertiga bersikap hati-hati dan diam-diam mereka mempersiapkan senjata rahasia masing-masing.

Namun gerakan mereka itu sudah diketahui oleh Hui Song. Apa lagi pemuda ini sudah mengenal kecurangan mereka. Bila mana dia teringat kepada Sui Cin, gadis yang menjadi pujaan hatinya, yang sekarang entah berada di mana, yang mengalami gegar otak hingga kehilangan ingatannya, bahkan nyaris tewas saat terkena sambitan batu yang dilontarkan oleh Kang-thouw Lo-mo, pemuda ini merasa sakit hati sekali. Sekali ini dia harus mampu membalaskan penderitaan Sui Cin dan dia sendiri, juga melenyapkan tiga orang manusia jahat ini dari permukaan bumi berarti akan mengurangi terjadinya kejahatan yang timbul dari perbuatan mereka.

"Bocah sombong, bersiaplah untuk mampus!" Tiba-tiba Hui-to Cin-jin menyerang dengan kedua pisaunya.

Gerakannya memang cepat dan lengannya yang panjang itu bergerak dari atas bawah dan kanan kiri, ujung pisaunya yang runcing tajam menyambar-nyambar seperti patukan maut. Tapi dengan lincahnya Hui Song mengelak dan menangkis hantaman Kang-thouw Lo-mo yang sudah menyusul pula dengan serangan hantaman ciu-ouw di tangannya.

"Desss...!"

Tangkisan Hui Song membuat tubuh gendut itu terhuyung dan pada saat itu pula nampak sinar berkelebat dan tahu-tahu pedang di tangan Siang Hwa sudah menyambar ke arah leher Hui Song.

"Mampuslah kau!" bentak Siang Hwa.

Pedangnya mengeluarkan suara berdesing ketika menyambar lewat sebab dengan mudah saja Hui Song dapat mengelak dengan cara merendahkan dirinya, sedangkan kaki kanan pemuda itu segera meluncur ke kanan, menghantam ke arah perut gendut Kang-thouw Lo-mo. Kakek ini terkejut dan menangkis dengan tangan kirinya yang dimiringkan sambil mengerahkan tenaganya.

"Dukkk...!" Kembali kakek itu terhuyung.

Maka terkejutlah kakek gendut ini. Dia adalah seorang tokoh Cap-sha-kui, yang terkenal memiliki tenaga besar, akan tetapi hanya dalam beberapa gebrakan saja sudah dua kali dia terhuyung karena terdorong oleh kekuatan besar sekali dalam pertemuan tenaga itu.

Hal ini tidaklah mengherankan. Hui Song sudah mewarisi tenaga sakti Thian-te Sin-ciang dari ayahnya dan ketika dia digembleng selama tiga tahun oleh Dewa Kipas Siang-kiang Lo-jin, tenaganya itu semakin bertambah kuat saja.

Terjadilah perkelahian yang amat seru antara Hui Song dengan tiga orang pengeroyoknya. Biar pun tiga orang lawannya menggunakan senjata, Hui Song sama sekali tidak nampak terdesak. Dengan mudahnya dia dapat mengelak dari semua serangan, bahkan kadang-kadang menangkis dengan lengannya yang tidak kalah kuatnya jika dibandingkan dengan senjata lawan. Bahkan jari-jari tangan pemuda ini berani menangkis pedang di tangan Siang Hwa, membuat gadis itu terpekik kagum dan kaget karena jari-jari tangan pemuda itu kalau menangkis pedang, langsung membuat pedangnya terpental dan mengeluarkan suara berdencing seolah-olah pedangnya bertemu dengan baja.

Hui Song sama sekali tidak terdesak, bahkan dia pun dapat membagi-bagi pukulan atau tendangan sebagai balasan. Badan pemuda itu kadang-kadang dilindungi ilmu kekebalan yang luar biasa kuatnya, yaitu ilmu kebal Tiat-po-san yang membuat kulitnya tidak dapat ditembus oleh bacokan senjata tajam.

Oleh karena ini, biar pun beberapa kali pisau atau pedang mengenai tubuhnya karena dia memang tidak merasa perlu untuk menghindarkan diri, senjata-senjata tajam itu bertemu dengan kulit dan membalik. Hanya baju pemuda itu saja yang robek oleh senjata-senjata tajam itu.

Dan permainan ilmu silat sakti Thai-kek Sin-kun yang mempunyai daya tahan sangat kuat itu membingungkan tiga orang lawannya, membuat mereka sukar sekali mencari tempat lowong, seolah-olah seluruh tubuh pemuda itu telah dilindungi oleh bayangan lengan yang merupakan benteng yang kokoh kuat.

Hui-to Cin-jin menjadi penasaran dan tidak sabar. Dia mengeluarkan pekik nyaring, lantas ada tiga sinar berkelebat terbang ke arah Hui Song. Itulah tiga batang pisau terbang yang dilepasnya kepada pemuda itu.

"Tring-tring-tringg...!"

Jari-jari tangan Hui Song menyambut dengan sentilan-sentilan, lantas tiga batang pisau terbang itu membalik ke arah pemlliknya! Nyaris saja leher Hui-to Cin-jin terkena pisaunya sendiri kalau dia tidak cepat merendahkan tubuhnya.

Akan tetapi pada saat dia merendahkan tubuh, tiba-tiba tubuh Hui Song telah berkelebat datang dan sebuah tendangan kaki kiri pendekar muda itu tidak mampu dihindarkan oleh si kakek yang berpakaian tosu itu, biar pun dia mencoba mengelak dengan memiringkan tubuhnya.

"Desss...!"

Pinggulnya disambar kaki Hui Song sehingga kakek ini terlempar dan terbanting jatuh. Dia menyeringai karena merasa pinggulnya nyeri bukan main, dan ketika dia bangkit bangun kemudian berjalan, langkahnya pun terpincang-pincang. Hanya kemarahan dan rasa malu yang membuat dia nekat menyerang lagi dengan sepasang pisaunya.

Guci arak di tangan si gendut Kang-thouw Lo-mo menyambar ke arah dada Hui Song. Pemuda ini tidak ingin berkelahi terlalu lama karena kalau dia tidak segera merobohkan mereka ini mungkin kawan-kawan mereka akan datang atau andai pun tidak, dia akan berada dalam ancaman bahaya apa bila sampai ada pengejaran dari pasukan anak buah Ji-ciangkun.

Maka, melihat datangnya guci arak yang menyambar ke dadanya, dia cepat mengerahkan tenaga Tiat-po-san melindungi dadanya. Pada waktu guci itu menghantam dadanya, dia membarengi tamparan tangan kanannya dengan tenaga Thian-te Sin-ciang ke arah perut gendut itu.

"Bunggg...!" Terdengar perut itu berdengung ketika terkena hantaman dan tubuh si gendut itu terjengkang dan terguling-guling sampai jauh.

Akan tetapi bukan hanya kepala hwesio itu saja yang memiliki kekebalan, melainkan juga pada perutnya. Perutnya itu kuat seperti bola karet yang penuh hawa, maka ketika kena hantaman Thian-te Sin-ciang, isi perut itu sama sekali tidak terluka, hanya tubuhnya saja yang terlempar, juga hanya terasa nyeri saja karena babak-belur terguling-guling. Kakek berbaju hwesio ini segera bangkit dan mukanya berubah merah karena malu dan marah. Dia tertatih-tatih maju lagi mengayun-ayun guci araknya di atas kepala.

Sementara itu, sesudah melihat betapa dua orang pembantunya sempat dirobohkan Hui Song, Siang Hwa menjadi marah. Gerakan pedangnya semakin gencar dan dia menerjang ke depan bagaikan kesetanan, lalu tiba-tiba saja tangan kirinya mengebutkan sapu tangan merah yang mengandung racun pembius itu.

Akan tetapi kali ini Hui Song sudah bersiap-siap. Dia menahan napas dan meniup ke arah debu yang mengepul dari sapu tangan, maka buyarlah debu itu bahkan membalik ke arah Siang Hwa sendiri.

"Keparat!" Siang Hwa berteriak marah.

Pada saat itu terdengar bentakan nyaring Hui-to Cin-jin, "Cia Hui Song, segera hentikan perlawananmu atau anak ini akan kusembelih!"

Hui Song terkejut bukan main. Dia cepat meloncat mundur dan ketika menengok ke arah suara itu, mukanya berubah pucat. Kiranya Hui-to Cin-jin sudah menjambak rambut anak perempuan itu dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya yang memegang pisau tajam berkilauan itu ditempelkan di leher anak kecil yang mulai menangis ketakutan itu!

"Jahanam busuk! Lepaskan anak itu dan mari kita bertanding sampai satu di antara kita roboh tewas!" Hui Song membentak marah akan tetapi tosu itu menyeringai.

"Kau menyerah atau anak ini kusembelih lebih dulu... aihhhh...!" Tiba-tiba tosu itu menjerit dan terhuyung, dari lambungnya bercucuran darah segar dan dia pun terguling roboh dan berkelojotan.

Ternyata diam-diam muncul seorang pria yang menggunakan pedang menusuk lambung kakek berpakaian tosu itu. Gerakannya demikian aneh dan cepat sehingga tosu itu tidak sempat mengelak lagi dan kini dia menyelipkan pedangnya di sarung pedang, kemudian menyambar tubuh Kok Hui Lian dengan lengan kanannya lalu dia melompat pergi dari situ tanpa mengeluarkan sepatah pun kata.

"Ciang-suheng...!" Hui Song berseru, kaget dan juga girang.

Dia mengenal orang yang lengan kirinya buntung itu karena orang itu adalah Ciang Su Kiat, bekas murid Cin-ling-pai yang membuntungi lengan kiri sendiri karena dipersalahkan oleh ketua Cin-ling-pai. Akan tetapi lelaki buntung sebelah lengannya itu tidak menjawab, bahkan menoleh pun tidak, melainkan berlari makin cepat. Larinya cepat sekali sehingga mengagetkan hati Hui Song yang dapat menduga bahwa bekas suheng-nya itu kini sudah memiliki kepandaian tinggi.

Tentu saja Kang-thouw Lo-mo dan Siang Hwa terkejut bukan main melihat betapa kawan mereka tewas secara tak terduga-duga, hanya karena serangan satu kali saja dari orang buntung tadi. Akan tetapi mendengar Hui Song menyebut ‘suheng’ kepada orang itu, tentu saja mereka terkejut dan gentar. Baru Hui Song sudah begini lihai, apa lagi suheng-nya! Orang-orang yang berwatak kejam biasanya berjiwa pengecut. Tanpa banyak kata lagi, dua orang itu lalu membalikkan tubuhnya dan melarikan lari!

Melihat ini, Hui Song mengejar, "Keparat, kalian hendak lari ke mana?" bentaknya dan dia pun mengerahkan ginkang-nya melakukan pengejaran.

Semenjak berlatih di bawah bimbingan Si Dewa Kipas, ilmu meringankan tubuh pemuda ini memang meningkat dengan sangat hebat. Belum lama dia mengejar, dia sudah dapat menyusul Kang-thouw Lo-mo yang larinya tidak secepat Siang Hwa.

"Iblis tua, engkau hendak lari ke mana?!" Hui Song membentak.

Karena maklum bahwa lari pun tidak ada gunanya, Kang-thouw Lo-mo menjadi nekat. Dia segera membalik sambil menghantamkan guci araknya ke arah muka Hui Song. Pemuda yang sudah marah ini tidak mengelak, bahkan menggunakan tangan kanan yang terbuka memapaki pukulan itu dengan pengerahan tenaga Thian-te Sin-ciang.

"Prokkk...!"

Guci arak itu pecah berantakan dan isinya, setengahnya masih berisi arak, berhamburan memercik ke mana-mana sehingga terciumlah bau arak yang sangat menyengat hidung. Melihat senjatanya yang sangat disayangnya itu pecah, Kang-thouw Lo-mo marah bukan main. Dia cepat melangkah mundur dan menundukkan kepalanya, tubuhnya direndahkan dan seperti seekor kerbau mengamuk, dia lantas lari ke depan, menggunakan kepalanya yang botak itu untuk menyeruduk ke arah perut Hui Song!

Hebat bukan main serangan ini dan agaknya kakek yang sudah putus harapan dan nekat ini mempergunakan senjatanya yang terakhir, yaitu kepalanya. Kepalanya memang telah terlatih, dapat membentur pecah batu karang, kuat bukan main.

Hui Song belum tahu sampai di mana kekuatan yang berada dalam kepala itu, maka dia pun tidak mau sembrono menerima serudukan itu begitu saja. Dia cepat-cepat miringkan tubuhnya dan ketika kepala botak itu meluncur lewat dekat perutnya, dia menggerakkan tangan kanan, mengerahkan Thian-te Sin-ciang dan tangan kanannya itu seperti sebatang golok atau sebuah palu godam yang menyambar turun dari atas, tepat ke arah tengkuk di belakang kepala botak besar itu.

"Ngekkk...!"

Tengkuk itu besar dan kuat seperti tengkuk kerbau, akan tetapi kekuatan yang berada di tangan Hui Song amat hebat. Maka sekali pukul saja kakek itu mengeluh dan terpelanting roboh dengan dua matanya mendelik, nyawanya putus bersama dengan patahnya tulang tengkuknya! Tewaslah Kang-thouw Lo-mo.

Hui Song sejenak meragu. Siapakah yang harus dikejarnya? Siang Hwa ataukah bekas suheng-nya? Siang Hwa sudah tidak nampak lagi dan dia tahu betapa lihainya wanita itu. Kalau sampai wanita itu mendahuluinya mencapai guru-gurunya, maka dia akan celaka. Bagaimana pun lihainya, dia masih ragu-ragu apakah dia akan mampu menandingi Raja dan Ratu Iblis yang dia tahu sakti bukan main itu.

Dan dia pun amat mengkhawatirkan keselamatan puteri gubernur, maka dia mengejar ke arah larinya Ciang Su Kiat. Akan tetapi, ia pun kehilangan jejak bekas suheng-nya ini dan akhirnya dia menghibur hatinya sendiri bahwa puteri gubernur itu tentu selamat berada di tangan Ciang Su Kiat yang dia yakin memiliki jiwa pendekar yang gagah perkasa.

Maka dia pun lalu kembali ke San-hai-koan untuk melihat bagaimana perkembangan di kota benteng itu. Akan tetapi, dia tidak dapat masuk. San-hai-koan sudah jatuh ke tangan pasukan Ji-ciangkun yang memberontak! Dan pintu gerbangnya dijaga ketat. Juga di atas tembok-tembok benteng terdapat barisan anak panah yang siap menyerang siapa saja yang berani naik.

Apa gunanya lagi memasuki San-hai-koan, pikirnya. Keluarga gubernur telah terbasmi dan dari para pengungsi dia mendengar bahwa gubernur serta keluarganya telah tewas dalam gedungnya yang telah terbakar habis. Sebagian dari pasukan pengawal menyerah kepada pasukan Ji-ciangkun, ada pun pembersihan masih terus dilakukan. Siapa pun juga yang mencurigakan ditangkap, dan yang condong memihak Kok-taijin dibunuh.

Kekacauan terjadi di kota San-hai-koan dan karena dia sudah dikenal sebagai pengawal pribadi Kok-taijin, tentu saja Hui Song tidak begitu bodoh untuk memasuki kota itu. Dia lalu mengambil keputusan untuk kembali ke Ceng-tek dan mengabarkan tentang jatuhnya benteng San-hai-koan ke tangan pemberontak itu kepada Bhe-ciangkun yang sekarang menjadi komandan sementara di Ceng-tek menggantikan kepalanya yang telah tewas.

Mendengar tentang jatuhnya San-hai-koan itu, Bhe-ciangkun tidak berani sembarangan turun tangan dan segera mengutus anak buahnya untuk cepat menunggang kuda ke kota raja dan mengirimkan berita ke kota raja, menanti keputusan dan perintah selanjutnya dari pusat pemerintahan mengenai pemberontakan Ji-ciangkun itu…..

********************

Pemuda yang berjalan seorang diri di luar Tembok Besar itu amatlah gagahnya. Usianya masih muda, paling banyak dua puluh dua tahun, akan tetapi tubuhnya tinggi tegap dan wajahnya tenang serius sehingga dia nampak jauh lebih dewasa dari pada usianya yang sebenarnya. Rambutnya yang hitam dan lebat itu dikuncir tebal dan panjang, dikalungkan ke lehernya yang nampak kokoh kuat itu.

Pakaiannya amat sederhana, terbuat dari kain kasar saja, namun bersih dan di sebelah luarnya dia mengenakan jubah pendek terbuat dari kulit harimau. Dandanan sederhana dan gagah ini memberi kesan bahwa dia adalah seorang pemuda yang gagah, seorang pendekar muda atau setidaknya seorang pemburu, atau orang yang sudah biasa hidup menghadapi kesukaran dan kekerasan. Sinar matanya tajam mencorong dan di dalamnya membayangkan kekerasan hati, walau pun terdapat kelembutan dan kejujuran, terutama pada bentuk dagu dan tarikan mulutnya.

Pemuda tinggi tegap yang gagah perkasa ini adalah Siangkoan Ci Kang yang pada waktu itu sudah berusia dua puluh satu tahun. Seperti sudah kita ketahui, pemuda ini adalah putera tunggal dari mendiang Siangkoan Lo-jin yang berjuluk Iblis Buta yang merupakan seorang datuk kaum sesat yang amat ditakuti. Akan tetapi datuk sesat ini tewas di tangan Ratu Iblis.

Dan sebelumnya, seperti telah diceritakan pada bagian depan, Ci Kang melarikan diri dari ayahnya setelah antara anak dan ayah ini terdapat bentrokan paham, bahkan oleh para tokoh Cap-sha-kui pemuda itu dianggap musuh yang harus ditangkap atau pun dibunuh. Kemudian pemuda ini bertemu dengan Ciu-sian Lo-kai, yaitu tokoh sakti yang berpakaian pengemis itu, dan digembleng sebagai muridnya.

Di bawah bimbingan Ciu-sian Lo-kai, bakat dan watak yang baik dan gagah pemuda ini terus berkembang. Antara Ciu-sian Lo-kai dengan Go-bi San-jin telah diadakan perjanjian dan perlombaan untuk mendidik murid, maka Dewa Arak telah menanamkan pandangan hidup Cia Han Tiong, ketua Pek-liong-pang di Lembah Naga, kepada muridnya itu.

Karena itu, biar pun terlahir di kalangan sesat dan sejak kecil bergaul dengan datuk-datuk sesat, melihat segala macam tindakan yang kejam, ganas dan curang, kini Ci Kang dapat melihat dengan jelas betapa buruknya kehidupan di antara teman-teman ayahnya itu.

Jiwa kependekarannya semakin bangkit dan meski pun dia tetap ingin menentang segala bentuk kejahatan, namun dia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk meluruskan yang bengkok, menyadarkan yang sesat, dan bukannya mematahkannya atau membunuhnya, sesuai dengan pesan-pesan Ciu-sian Lo-kai yang mentrapkan pandangan hidup Cia Han Tiong kepada muridnya ini.

Sesudah lewat tiga tahun, Ciu-sian Lo-kai lalu menyuruh muridnya untuk pergi ke Benteng Jeng-hwa-pang di luar Tembok Besar. Gurunya ini telah memberi tahu kepadanya bahwa di tempat itu hendak diadakan pertemuan para pendekar untuk membicarakan mengenai kebangkitan para datuk kaum sesat yang akan mengadakan gerakan pemberontakan dan pemuda itu ditugaskan oleh gurunya untuk ikut pula menentang usaha para datuk sesat.

Maka berangkatlah Ci Kang meninggalkan gurunya. Akan tetapi, bagaimana pun juga dia teringat akan ayahnya yang sudah tua dan buta. Biar pun ayahnya menjadi seorang datuk sesat, akan tetapi kasih sayangnya sebagai seorang anak terhadap ayahnya membuat Ci Kang lebih dahulu pergi mengunjungi ayahnya di Po-hai, Shen-si, sebelum dia melakukan perjalanan keluar Tembok Besar di utara.

Akan tetapi dia tidak bisa bertemu dengan ayahnya, bahkan dia mendengar berita bahwa ayahnya telah tewas di tangan Raja dan Ratu Iblis, datuk sesat baru yang kini menguasai seluruh datuk sesat pada saat terjadi pertemuan antara para datuk di lereng Pegunungan Tapie-san. Dia hanya menarik napas panjang, sadar bahwa kematian ayahnya di tangan datuk sesat itu hanyalah akibat dari pada sikap dan perbuatan ayahnya sendiri.

Dia akan menentang para datuk sesat, terutama Raja Iblis, akan tetapi bukan disebabkan dendam akibat kematian ayahnya, melainkan karena memang menjadi kewajiban seorang pendekar untuk menentang kejahatan. Andai kata ayahnya masih hidup sekali pun, tetap saja dia akan menentang kejahatan yang dilakukan ayahnya dan anak buahnya.

Ketika pada pagi hari itu dia berjalan seorang diri di luar Tembok Besar di wilayah yang dahulu pernah dikuasai oleh Jeng-hwa-pang, tempat itu masih nampak sunyi. Pemuda ini tidak tahu bahwa dia datang terlalu pagi. Waktu yang ditentukan oleh para pendekar untuk mengadakan pertemuan di tempat itu masih satu bulan lagi.

Namun akhirnya dia tiba juga di bekas benteng Jeng-hwa-pang yang tembok-temboknya masih kokoh kuat akan tetapi kini hanya merupakan sebuah dusun kecil yang dihuni oleh orang-orang yang biasa melakukan pekerjaan sebagai pemburu dan juga menjadi tempat persinggahan bagi para pedagang atau mereka yang sering berlalu lalang melalui Tembok Besar.

Hatinya agak tegang dan berdebar karena dia merasa gembira. Biar pun dahulu dia selalu bergaul dengan para datuk sesat, akan tetapi dia selalu menentang perbuatan-perbuatan mereka yang tidak baik dan dia merasa tidak pernah suka bergaul dengan mereka.

Akan tetapi kini dia datang ke tempat itu sebagai seorang pendekar yang akan menghadiri pertemuan antara kaum pendekar! Hatinya terasa gembira sekali sebab dia akan bertemu dan berkenalan dengan orang-orang gagah yang menurut gurunya hendak berkumpul di tempat ini dan di antara mereka terdapat orang-orang sakti yang berilmu tinggi. Sungguh merupakan pertemuan yang akan membuka matanya dan menambah pengalaman serta meluaskan pengetahuannya.

Ketika dia tiba di tempat itu, pertama-tama dia melihat serombongan orang gagah terdiri dari tujuh orang, lima pria dan dua wanita. Usia mereka antara dua puluh lima hingga tiga puluh lima tahun dan sikap mereka kelihatan gagah sekali dengan pedang di punggung mereka. Karena dari sikap mereka saja Ci Kang sudah dapat menduga bahwa mereka adalah pendekar-pendekar yang datang untuk menghadiri pertemuan pula, maka dia pun menghampiri mereka.

Mereka bertujuh sedang duduk di bawah pohon, di luar bekas benteng itu dan tujuh ekor kuda yang baik ditambatkan di batang pohon itu. Di atas sebuah di antara sela-sela kuda, dia melihat berkibarnya sebuah bendera kecil berwarna kuning yang bertuliskan tiga buah huruf Hoa-kiam-pang (Perkumpulan Pedang Bunga) dan ada gambar sepasang pedang melintang.

Ci Kang belum pernah mendengar tentang nama perkumpulan itu, akan tetapi dia dapat menduga bahwa tentu ini adalah nama sebuah perkumpulan pendekar pedang yang amat tangguh. Dia semakin gembira dan cepat menjura kepada mereka dengan sikap hormat dan wajah ramah.

"Selamat bertemu, cu-wi-enghiong (para pendekar sekalian)! Cu-wi tentu tokoh-tokoh dari Hoa-kiam-pang yang terkenal."

Seorang di antara mereka, seorang laki-laki jangkung yang kurus dan paling tua di antara mereka, agaknya menjadi pemimpin rombongan, bersama yang lain kemudian membalas penghormatan itu dan si jangkung kurus menjawab,

"Selamat berjumpa, sobat. Kami hanyalah murid-murid Hoa-kiam-pang yang diutus oleh para pemimpin kami untuk melihat-lihat keadaan. Selamat berkenalan! Dan bolehkah kami mengenal siapa adanya sobat yang gagah ini?"

Ci Kang tersenyum ramah. "Saya bernama Siangkoan Ci Kang dan saya diutus oleh suhu untuk menghadiri pertemuan para pendekar yang akan diadakan di tempat ini. Bukankah cu-wi juga datang untuk keperluan itu?"

Si jangkung kurus menatap tajam. "Pertemuan itu akan diadakan satu bulan lagi. Engkau datang terlalu pagi, sobat. Kami sendiri datang hanya untuk melihat-lihat keadaan, apakah tempat ini aman untuk pertemuan itu dan selain kami, ada pula belasan orang sahabat dari berbagai perkumpulan pendekar yang juga datang untuk melihat keadaan."

"Benarkah? Ahh, saya ingin sekali belajar kenal dengan para pendekar itu."

"Sekarang mereka berkumpul di sebelah dalam bekas benteng, di sebuah kedai arak kecil yang dibuka oleh penduduk tempat ini. Mari kita ke sana, saudara Siangkoan Ci Kang, nanti kita perkenalkan."

Tujuh orang itu mengajak Siangkoan Ci Kang memasuki bekas benteng Jeng-hwa-pang dan pada saat mereka menghampiri sebuah kedai arak, beberapa orang yang nampaknya gagah-gagah dan yang duduk minum arak di kedai itu memandang penuh perhatian.

"Cu-wi-enghiong!" kata murid Hoa-kiam-pang yang jangkung kurus itu memperkenalkan, "Ini seorang pendatang baru, seorang pendekar muda bernama Siangkoan Ci Kang...!"

"Dia adalah tokoh sesat!" Tiba-tiba terdengar suara orang dan seorang pemuda tampan gagah meloncat keluar kedai lantas menghadapi Ci Kang dengan mata mencorong penuh kemarahan.

Ci Kang terkejut lantas memandang. Dia tidak lupa. Pemuda ini adalah seorang di antara para pendekar yang dulu membela Jenderal Ciang di dalam perayaan pasta ulang tahun Ang-kauwsu di kota Pao-fan! Dulu pemuda ini selalu bersama Ceng Sui Cin, gadis cantik gagah puteri Pendekar Sadis itu. Ahh, benar. Pemuda ini adalah putera ketua Cin-ling-pai seperti yang diketahuihya dari para tokoh Cap-sha-kui!

Tentu saja seruan yang dikeluarkan oleh Hui Song ini mengejutkan semua pendekar yang berkumpul di sana. Seperti kita ketahui, Hui Song tidak dapat kembali ke San-hai-koan yang sudah diduduki oleh pemberontak. Maka dia pun pergi ke benteng Jeng-hwa-pang di mana dia bertemu dengan beberapa orang pendekar, lantas dia bercerita tentang gerakan para pemberontak kepada mereka. Ketika tujuh orang murid Hoa-kiam-pang itu muncul bersama Ci Kang, dia segera mengenal pemuda berbaju kulit harimau ini dan tentu saja dia menjadi marah.

"Dia ini tokoh pemberontak sesat, tentu datang untuk memata-matai kita!" seru Hui Song lagi sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka Ci Kang.

Ci Kang menjura dengan sikap hormat dan gagah, akan tetapi juga tenang, sungguh pun ucapan putera ketua Cin-ling-pai itu seperti pedang menusuk jantung. "Maaf, saya datang sebagai utusan suhu yang berjuluk Ciu-sian Lo-kai, harap cu-wi tidak salah sangka."

Nama Ciu-sian Lo-kai tidak terkenal di dunia kang-ouw karena memang kakek ini, seperti juga kakek-kakek sakti lain yang baru bermunculan setelah dunia kang-ouw dikacau oleh Cap-sha-kui dan terutama sekali karena munculnya Raja dan Ratu Iblis. Oleh karena itu, nama ini tidak mendatangkan kesan di hati pendekar muda yang berkumpul di situ.

Akan tetapi Hui Song juga bukan seorang pemuda sembrono dan dia mau yakin dahulu apakah benar pemuda ini yang beberapa tahun yang lampau pernah dilihatnya membantu Cap-sha-kui lolos dari kepungan.

"Hemm, namamu Siangkoan Ci Kang, engkau putera tunggal dari datuk sesat Siangkoan Lo-jin Si Iblis Buta, bukan?"

"Benar, akan tetapi saya tidak pernah mencampuri semua perbuatan jahat dunia sesat," jawab Ci Kang dengan jujur dan gagah.

"Hemm, bukankah engkau pernah beberapa kali mempergunakan anak panah membantu para tokoh Cap-sha-kui lolos dari tangkapan?" Hui Song mendesak lagi.

Siangkoan Ci Kang terlalu jujur dan gagah untuk menyangkal. Dia lalu mengangguk.

"Benar..."

"Nah, mau bicara apa lagi? Engkau mata-mata kaum sesat, terimalah ini!"

Hui Song menerjang sambil mengirim tamparan dengan tenaga Thian-te Sin-ciang yang amat dahsyat. Tamparannya itu mendatangkan angin bersiut menyambar ke arah muka Siangkoan Ci Kang. Pemuda ini tidak mempunyai kesempatan lagi untuk membantah dan melihat betapa serangan Hui Song sedemikian hebatnya, dia pun menggerakkan lengan menangkis.

"Dukkk...!"

Keduanya mengeluarkan seruan kaget karena pertemuan dua lengan itu membuat kedua orang pemuda itu terdorong ke belakang seolah-olah bertemu dengan gelombang tenaga yang amat kuat. Mereka saling tatap dan tahulah mereka bahwa keduanya menemukan lawan yang amat tangguh.

Sementara itu, semua pendekar yang berada di sana sudah mengenal Hui Song sebagai putera ketua Cin-ling-pai yang berkepandaian tinggi, jadi tentu saja mereka lebih percaya kepada Hui Song. Apa lagi, pemuda berjubah kulit harimau itu sudah mengaku sebagai putera Si Iblis Buta. Hal ini saja sudah cukup membuat mereka semua memusuhinya, dan serentak mereka lalu mencabut senjata dan menerjang maju.

Dihujani dengan senjata, Ci Kang cepat berloncatan dengan amat gesitnya mengelak ke sana sini. Dia tahu bahwa percuma saja membantah dan berbicara untuk membersihkan dirinya, tetapi tidak baik kalau sampai dia bentrok dengan para pendekar ini. Maka sambil mengeluh panjang dia lalu meloncat dan melarikan diri dari tempat itu.

"Aku datang hendak membantu kalian menentang kejahatan, sayang kalian tak percaya!" teriaknya dan tubuhnya sudah berkelebat cepat sekali meninggalkan benteng itu.

Hui Song tidak melakukan pengejaran, juga para pendekar itu pun tidak karena mereka sudah maklum betapa lihainya putera Si Iblis Buta itu. Hui Song sendiri tentu saja dapat mengimbangi kecepatan gerakan Ci Kang dan dapat melakukan pengejaran jika dia mau, akan tetapi dia lantas teringat bahwa bagaimana pun juga Siangkoan Ci Kang itu pernah menyelamatkan Sui Cin dan biarlah kini dia berlaku murah untuk membalas budi Ci Kang terhadap gadis pujaan hatinya itu.

Ci Kang berlari cepat sekali dengan hati murung. Dia lari ke barat dan tidak tahu harus pergi ke mana. Dia sudah datang terlalu pagi dan dia tidak dapat menghadiri pertemuan para pendekar itu tanpa adanya gurunya. Kalau ada Ciu-sian Lo-kai di situ, baru dia akan dapat hadir karena tentu gurunya yang akan dapat memberi kesaksian akan kebersihan dirinya.

Ia tidak menyalahkan Cia Hui Song putera ketua Cin-ling-pai itu, melainkan hanya merasa mendongkol sekali. Bagaimana pun juga, memang pemuda Cin-ling-pai itu pernah melihat dia dan ayahnya membantu dan menyelamatkan orang-orang Cap-sha-kui. Sudah tentu saja Hui Song curiga kepadanya. Dan satu-satunya orang yang akan dapat menanggung dirinya agar dipercaya oleh para pendekar hanyalah gurunya, Ciu-sian Lo-kai yang belum nampak berada di tempat itu.

Hatinya murung sekali dan ketika memasuki sebuah desa kecil di mana terdapat sebuah kedai arak, dia pun memasuki kedai itu. Kedai yang cukup besar, bahkan terlalu besar untuk sebuah dusun yang penghuninya sedikit dan agaknya hanya terdiri dari crang-orang miskin atau pemburu-pemburu.

Agaknya kedai ini belum terlampau lama dibuka orang dan agaknya dibuka untuk menjadi pemberhentian orang-orang yang sedang melakukan perjalanan dan lewat di tempat itu. Bagaimana pun juga, bau arak yang sedap itu menarik perhatian Ci Kang dan dia yang diganggu rasa mendongkol perlu beristirahat untuk menenangkan hatinya.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner