ASMARA BERDARAH : JILID-42


Ci Kang mengambil tempat duduk pada kursi yang kasar buatannya, menghadapi sebuah meja yang kasar pula. Seorang pelayan cepat menghampirinya dan dengan membungkuk-bungkuk penuh senyum menjilat pelayan itu menyapanya.

"Selamat siang, tuan. Tuan hendak makan dan minum apakah?"

"Bawakan aku seguci besar arak!" kata Ci Kang.

Sesudah menjadi murid Ciu-sian Lo-kai, pemuda ini mewarisi kebiasaan gurunya, senang minum arak. Tentu saja dia tidak minum terlalu banyak walau pun banyaknya arak dapat dilawannya dengan kepandaiannya sehingga dia tidak akan terpengaruh, akan tetapi saat itu hatinya sedang mendongkol dan dia hendak minum sebanyaknya!

"Seguci besar...? Apakah tuan menunggu datangnya banyak teman?"

"Tidak, aku hanya seorang diri..."

"Tapi, arak seguci besar cukup untuk sepuluh orang..."

"Jangan cerewet! Bawalah arak itu dan aku akan membayarnya!" bentak Ci Kang marah. Hatinya yang sedang kesal itu tidak sabar lagi mendengar kerewelan si pelayan.

Pelayan itu pergi dengan tubuh membungkuk-bungkuk, dan Ci Kang mendengar pelayan itu berbisik-bisik dengan teman-temannya dalam bahasa sandi yang mengejutkan hatinya. Bahasa rahasia seperti itu hanya dipergunakan oleh orang-orang dari golongan hitam! Dan pelayan itu berkata kepada teman-temannya agar berhati-hati karena tamu yang datang ini tentulah seorang pendekar.

Ci Kang melirik sambil lalu dan dia dapat melihat bahwa pelayan itu berbisik-bisik dengan teman-temannya. Jumlah mereka semua ada enam orang! Heran dan curigalah hatinya. Sebuah kedai arak begini besar di dalam sebuah dusun miskin kecil! Dan dibukanya tentu masih baru pula. Lebih lagi, dilayani oleh enam orang! Dan tadi mereka menggunakan kata-kata sandi, bahasa rahasia dari golongan hitam.

Ci Kang duduk dengan wajah muram. Kenyataan bahwa dia duduk di warung golongan hitam membuat hatinya makin kesal. Keadaan dirinya membuat dia merasa mendongkol dan juga murung dan sedih.

Dia dilahirkan di tengah keluarga sesat, sungguh pun mendiang ayahnya dahulu bukanlah orang jahat. Dia dibesarkan di antara para datuk sesat. Dia tidak menyukai cara hidup demikian sehingga dia menentang ayahnya sendiri, malah hampir dibunuh ayahnya akibat tidak menuruti kehendak ayahnya.

Dia tak dapat hidup dan dimusuhi di dunia golongan kotor. Kemudian, setelah digembleng selama tiga tahun oleh Ciu-sian Lo-kai dan dia mulai kehidupan baru, di antara golongan bersih, dia pun dihina dan diserang, tidak diterima! Hati siapa takkan merasa murung?

Pada saat itu muncul tiga orang berpakaian seperti orang dusun. Tubuh mereka bertiga kurus-kurus dan melihat pakaian mereka yang kotor, mudahlah diketahui bahwa mereka adalah orang-orang miskin yang kekurangan makan kekurangan pakaian. Begitu melihat mereka, pemilik atau kuasa kedai yang bertubuh gendut dan bermuka ramah itu segera menghampiri dan menyambut ke depan pintu.

"Ehh, kalian bertiga ada keperluan apakah?" tegur pemilik kedai dengan ramah.

"Maaf, twako, kami datang mengganggu lagi...," kata seorang di antara mereka.

"Kalian butuh apa lagi? Bukankah kemarin dulu kami sudah menyumbangkan tiga karung beras untuk dibagi-bagikan di antara kalian penduduk dusun ini? Apakah beras itu sudah habis?"

"Belum, twako, dan terima kasih atas segala pertolongan twako yang dilimpahkan kepada kami para penduduk dusun selama ini. Akan tetapi, kami pun bukan orang-orang yang hanya mengandalkan hidup dari minta-minta saja. Kami ingin bercocok tanam, akan tetapi tanah itu perlu digarap dan kami tidak mempunyai alat-alatnya. Jika twako sudi menolong kami untuk sekali ini hingga kami dapat mengerjakan tanah, selanjutnya tentu kami akan mampu mencukupi diri sendiri..."

Si gendut itu meraba jenggotnya yang agaknya baru beberapa pekan ini dicukur dan kini mulai tumbuh dengan liar. Dia mengangguk-angguk dan melirik ke arah para tamu yang kebetulan sedang duduk minum arak dan makan di kedai itu, seakan-akan dia ingin agar semua percakapan itu dapat didengarkan oleh mereka. Dan memang, percakapan yang cukup keras itu didengarkan oleh mereka, juga Ci Kang ikut memperhatikan.

"Baik, kami akan membantu dan membelikan alat-alat pertanian untuk kalian. Kini kalian pulanglah dulu, dan malam nanti saja akan kita rundingkan kembali kalau kedaiku sedang sepi."

"Baik, twako, dan terima kasih, twako, sungguh engkau merupakan tuan penolong kami." Dan tiga orang itu memberi hormat sampai hampir berlutut, kemudian pergi dengan wajah berseri-seri.

Dari percakapan dan melihat sikap para penduduk dusun miskin itu saja mudah diketahui bahwa pemilik kedai ini adalah seorang yang dermawan dan baik hati. Akan tetapi sikap ini justru membuat Ci Kang mengerutkan alisnya. Mereka itu jelas golongan hitam yang menggunakan kata-kata sandi, akan tetapi kenapa kini mereka bersikap begitu dermawan terhadap para penduduk miskin? Benar-benar suatu keadaan yang sangat aneh dan tidak sewajarnya!

Ketika pesanannya tiba, yaitu seguci besar arak, yang menggotongnya dua orang pelayan diantar pula oleh si kuasa kedai yang gendut dan ramah itu. Si gendut ini membungkuk-bungkuk dengan ramah, akan tetapi matanya yang tajam itu memandang wajah Ci Kang penuh perhatian, tersenyum-senyum dan berkata,

"Harap sicu sudi memaafkan bahwa pelayan kami agak terlambat karena gangguan para petani tadi. Kasihan sekali mereka itu, memang perlu dibantu dan dibimbing."

Jelas bagi Ci Kang bahwa si gendut kuasa kedai ini memang sengaja hendak memancing percakapan dengan dia. Dia tidak bisa menduga apa maunya, akan tetapi karena hatinya sedang kesal, maka dia tidak mau menanggapi, bahkan sama sekali tidak mengacuhkan dan segera menyambar guci arak dan minum langsung dari bibir guci tanpa cawan atau mangkok lagi. Dia mau minum sepuasnya, walau pun dia bukan seorang pecandu arak, akan tetapi sekali ini dia ingin minum sampai mabok untuk mengusir kekesalan hatinya!

Mengingat betapa dia dituduh mata-mata oleh para pendekar dan hampir saja dikeroyok, hatinya merasa panas dan penasaran sekali. Kini dia menjadi orang setengah matang, kepalang tanggung, masuk golongan hitam dimusuhi karena dia menentang mereka, tapi masuk golongan putih dimusuhi pula karena tidak dipercaya.

"Sialan! Manusia tiada guna!" gerutunya dalam hati sambil menenggak lagi araknya.

Melihat pemuda tinggi besar yang bertubuh tegap dan berpakaian mirip seperti seorang pemburu dengan jubah kulit harimau, dan juga melihat caranya minum arak, semua orang yang berada di dalam kedai itu memandang dan mereka semua dapat menduga bahwa pemuda ini tentulah seorang yang gagah perkasa.

"Saya berani bertaruh apa saja bahwa sicu tentulah seorang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan amal terkenal." Kembali terdengar suara si gendut.

Ci Kang merasa semakin kesal dan baru dia melihat bahwa si gendut itu masih berdiri di dekat mejanya. Dia hanya mengerling dengan alis berkerut tanpa menjawab atau berkata sesuatu. Kalau melihat kerut di antara alisnya, sepatutnya si gendut itu mengerti bahwa pemuda itu tidak suka diajak ngobrol. Akan tetapi agaknya dia tidaklah secerdik itu.

"Tentu tidak salah lagi bahwa sicu adalah seorang di antara para pendekar yang hendak mengadakan pertemuan, bukan? Sicu, kapankah pertemuan itu diadakan dan di mana? Saya ingin sekali mengetahui agar dapat membuat persiapan dagangan saya. Pada hari itu tentu akan banyak para pendekar lewat di sini dan..."

"Plakk!"

Tangan Ci Kang menyambar ke arah muka orang gendut itu. Si gendut ternyata memiliki gerakan cepat untuk ukurannya dan berusaha mengelak, akan tetapi tangan itu langsung mengejarnya dan akhirnya mengenai pipinya tanpa dia dapat menghindarkannya lagi.

"Aduhh...!" Si gendut terhuyung dan meraba pipinya yang menjadi merah sekali.

"Ehh, kenapa kau memukul orang...?" Dua orang pelayan cepat-cepat menghampiri untuk melerai.

Akan tetapi, tanpa bangkit dari kursinya, tangan kanan dan kaki Ci Kang cepat bergerak menyambut dua orang pelayan itu. Terdengar mereka mengaduh dan dua orang itu pun terpelanting roboh.

Kini si gendut menjadi marah dan dengan suara menggereng bagaikan harimau, dia pun menubruk dengan kedua tangannya yang membentuk cakar harimau, menyerang ke arah kepala dan dada pemuda yang kini sudah menggerakkan tubuh memutar kursinya hingga meja yang tadi berada di depannya kini berada di sebelah kirinya.

"Wuuuttt...!"

Serangan si gendut itu cukup kuat, mendatangkan angin dan hal ini membuktikan bahwa dugaan Ci Kang memang benar. Si gendut itu yang nampaknya seorang pengurus kedai arak yang ramah dan murah hati, namun ternyata memiliki kepandaian silat yang cukup lihai. Akan tetapi mendadak Ci Kang mengangkat tangan kirinya menangkis, menyambut kedua lengan itu, dan…

“Krekkk…!”

Terdengar suara dan lengan kanan si gendut itu pun patah. Sebelum si gendut sempat menghindar, secepat kilat kaki Ci Kang menendang lutut dan si gendut itu mengaduh, lalu jatuh berlutut. Tangan kanan Ci Kang lalu mencengkeram rambut orang itu dan menekan kepala itu ke bawah.

Dua orang pelayan yang tadi dirobohkan, menjadi terkejut bukan kepalang melihat kepala mereka sudah dikalahkan, dan mereka berdua itu dalam keadaan berlutut hanya mampu memandang penuh kekbawatiran. Juga tiga orang lain yang menjadi pengurus kedai itu hanya bisa berdiri berkelompok di dekat pintu menuju dapur dengan muka ketakutan.

Tiba-tiba saja seorang di antara para tamu yang sedang duduk menghadapi hidangannya, menggebrak meja dan bangkit berdiri. Orang ini adalah seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh lima tahun, pakaiannya sederhana tetapi bersih dan gerak-geriknya halus, wajahnya tampan dan semenjak tadi dia duduk menghadapi hidangan di depan mejanya, makan dan minum sendirian saja. Pakaiannya serba putih dan dia lebih pantas menjadi seorang sasterawan dari pada seorang ahli silat.

Akan tetapi ketika dia menggebrak meja, mangkok piring di atas mejanya itu mencelat ke atas kemudian menimbulkan suara berisik ketika jatuh kembali ke atas mejanya. Pemuda berpakaian putih ini bangkit dan menoleh, memandang kepada Ci Kang yang masih saja menjambak rambut si gendut yang hanya bisa mengeluh panjang pendek. Dengan tangan kanan menekan sandaran kursi, pemuda baju putih itu menudingkan telunjuknya ke arah muka Ci Kang.

"Manusia sombong dan kasar! Berani kau menghina orang dengan mengandalkan sedikit kepandaian?"

Sepasang alis hitam tebal yang mirip sayap burung garuda terbentang itu bergerak-gerak, ada pun sepasang mata yang tajam itu mengeluarkan sinar berapi. Hati Ci Kang menjadi semakin panas. Orang berpakaian putih ini tentu kawan golongan hitam yang menyamar menjadi pengurus-pengurus kedai ini, pikirnya.

"Habis, kau mau apa?" Dia pun membentak sebagai jawaban ucapan pemuda baju putih itu.

Pemuda baju putih itu memandang tajam dan suaranya penuh wibawa. "Hayo lepaskan paman itu dan kau harus mohon maaf atas sikapmu yang kasar dan sombong, baru aku akan melupakan kesombonganmu!"

Ci Kang adalah seorang yang sejak kecil dididik dalam kekerasan. Dasar wataknya jujur dan keras, dan karena semenjak kecil hidup di tengah golongan sesat, dia sudah terbiasa dengan sikap dan perbuatan keras dan kasar.

Akan tetapi dia selalu menentang kejahatan, dan sesudah digembleng selama beberapa tahun oleh Ciu-sian Lo-kai, dia kini sudah dapat mengatasi kekerasan hatinya. Dia selalu bersikap mengalah dansabar, sesuai dengan pelajaran yang diterimanya dari kakek Dewa Arak itu. Akan tetapi penolakan dan penentangan para pendekar kepada dirinya membuat hatinya kesal dan murung sehingga dia menjadi mudah marah.

Sekarang, melihat sikap pemuda baju putih yang menentangnya, pemuda baju putih yang dianggapnya tentulah kawan dari gerombolan penjahat yang membuka kedai arak ini, dia pun tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Gerombolan penjahat ini harus dihajarnya, demikian dia mengambil keputusan.

"Kau mau membelanya? Nih, terimalah!" Dengan gerakan tangannya yang kuat, Ci Kang bangkit dan melontarkan tubuh gendut yang dicengkeram rambutnya itu ke depan.

Tubuh gendut itu terlempar melayang ke arah pemuda baju putih! Apa bila mengenai dan menubruk pemuda baju putih itu, tentu dia akan ikut terpelanting pula.

Akan tetapi, pemuda baju putih itu dengan sikap tenang menyambut tubuh itu dengan dua tangannya dan dia sudah berhasil menangkap tubuh itu pada lengan dan pundaknya, lalu menurunkan tubuh gendut itu sehingga tidak sampai jatuh terbanting. Ketika dia kembali memandang, ternyata Ci Kang sudah duduk lagi menghadapi meja dan mengangkat guci arak, menuangkan isinya ke mulut menggunakan tangan kiri, sedangkan lengan kanannya terletak di atas meja.

"Engkau sungguh manusia sombong yang patut dihajar!" Si baju putih itu dengan cepat melangkah maju lantas menggerakkan tangannya menotok ke arah leher Ci Kang yang sedang minum araknya.

Mendadak Ci Kang menurunkan gucinya dan tanpa bangkit dari kursinya, dia kemudian menggerakkan tangan kanannya ke atas untuk menangkis tangan lawannya. Gerakannya cepat mengandung tenaga amat kuat sebab dia memang telah mengerahkan sinkang-nya untuk menangkis dengan harapan sekali tangkis akan dapat mengalahkan lawan, paling tidak mematahkan tulang lengan lawan.

"Dukkk...!"

Benturan dua lengan itu membuat keduanya berbareng mengeluarkan teriakan tertahan saking kagetnya. Tubuh pemuda berbaju putih itu terdorong ke belakang sampai empat langkah, sedangkan sebaliknya, biar pun tubuh Ci Kang tidak terlempar karena dia tengah duduk, namun kursi yang didudukinya pecah berantakan!

Kini Ci Kang sudah meloncat bangun dan alisnya berkerut semakin dalam. Kecurigaannya makin kuat. Orang ini tentu seorang tokoh sesat walau pun belum pernah dia melihatnya. Seorang tokoh muda yang entah datang dari mana, namun agaknya diam-diam menjadi pelindung gerombolan penjahat yang menyamar menjadi pengusaha kedai arak.

Teringatlah dia betapa si gendut tadi telah berusaha memancingnya agar dia suka bicara tentang pertemuan para pendekar dan kini dia pun menduga bahwa tentu tokoh sesat ini bertugas menyelidiki pertemuan itu!

"Bagus, kiranya engkau seorang yang memiliki kepandaian juga. Sayang, kepandaian itu kau pergunakan untuk kejahatan!" Setelah berkata demikian, Ci Kang melompat ke depan dan menyerang dengan pukulan tangannya yang kuat.

Orang berbaju putih itu sudah mengenal kekuatan tangan lawan, maka dia pun bersikap hati-hati sekali. Dengan mudah dia mengelak dari serangan Ci Kang kemudian membalas dengan tendangan.

Terjadilah perkelahian yang amat hebat di dalam restoran itu antara Ci Kang dan pemuda baju putih. Dan para tamu cepat meninggalkan meja masing-masing, pergi menjauh akan tetapi tetap menonton perkelahian itu. Dari sikap mereka, hampir semua berpihak kepada pemuda baju putih!

"Pemburu dari mana dia?" terdengar orang bertanya-tanya.

"Entah, dia baru datang, akan tetapi dia jahat sekali!"

"Dia telah memukuli Cou-twako, pengurus kedai yang baik hati!"

"Tentu dia penjahat!"

Demikianlah percakapan antara mereka yang sedang menonton perkelahian itu. Ci Kang menjadi semakin heran mendengar semuanya ini. Kenapa semua orang menganggapnya jahat? Akan tetapi dia tidak peduli karena dia maklum bahwa tentu semua orang sudah tertipu oleh sikap para penjahat yang menyamar menjadi pemilik kedai arak ini. Hanya dia yang tahu bahwa mereka ini adalah orang-orang golongan hitam. Maka dia pun merasa penasaran sekali.

Pemuda baju putih ini hebat bukan main! Bukan hanya dalam kegesitan dan tenaga saja si baju putih ini bisa menandinginya, juga dalam ilmu silat agaknya pemuda ini dapat pula mengimbanginya. Gerakannya demikian kuat dan tenang, dan semua serangannya dapat dielakkan atau ditangkisnya dengan baik.

Ci Kang yang sedang murung itu masih dapat menenangkan hatinya dan menahan hawa amarahnya, dan ini adalah berkat gemblengan dari Ciu-sian Lo-kai selama ini. Sebelum menjadi murid Si Dewa Arak, mungkin saja tadi dia telah membunuh para pengurus kedai itu, dan mungkin kini dia akan mengeluarkan serangan-serangan maut untuk membunuh pemuda baju putih yang disangkanya tentu juga seorang tokoh sesat yang membela para penjahat yang menyamar menjadi pengurus kedai.

"Manusia jahat! Terimalah ini...!" Mendadak si baju putih itu membalas dengan serangan yang amat mengejutkan hati Ci Kang.

Pemuda itu menyerangnya dengan pukulan aneh, dengan dua tangan disilangkan lantas didorongkan sambil merendahkan tubuhnya. Tetapi dari kedua tangannya itu menyambar hawa pukulan panas yang amat dahsyat, yang menyambar deras kepadanya bagai badai mengamuk!

Tahulah Ci Kang bahwa pemuda itu ternyata memiliki pukulan sakti yang amat berbahaya dan kini telah menyerangnya dengan ganas sekali. Maka dia pun langsung mengerahkan sinkang-nya dan mendorongkan kedua tangannya dengan telapakan terbuka ke depan.

Kembali dua tenaga raksasa saling membentur dan sekali ini sebelum dua pasang tangan bertemu, terlebih dahulu hawa pukulan itulah yang saling beradu. Dan sekali ini, Ci Kang merasakan betapa tubuhnya tergetar hebat oleh hawa panas itu dan meski pun dia tidak sampai terhuyung ke belakang, namun pasangan kuda-kuda kakinya tergeser.

Terkejutlah dia. Tak disangkanya sama sekali bahwa lawannya sehebat itu. Dan dia yang sudah memiliki banyak pengalaman tentang ilmu-ilmu kaum sesat, tidak dapat mengenal ilmu pukulan apa yang baru saja digunakan pemuda baju putih ini. Maka mulailah timbul keraguannya.

Jangan-jangan pemuda baju putih ini bukan seorang tokoh sesat, tapi seorang pendekar yang juga sudah tertipu oleh para pengurus kedai dan menganggap para pengurus kedai itu orang baik-baik dan dermawan, dan mengira bahwa dialah yang jahat!

Pemuda baju putih itu agaknya juga terkejut saat melihat betapa pukulannya yang ampuh tadi sanggup ditahan oleh Ci Kang dan hanya membuat pemuda berpakaian pemburu itu bergeser sedikit saja kakinya.

"Seorang pemuda yang berilmu tinggi, akan tetapi mempergunakannya untuk kekejaman dan kejahatan! Orang macam engkau ini harus dibasmi agar tidak menyebar kekejaman lagi!" Pemuda baju putih itu berseru marah.

Kini dia menyerang semakin hebat, dengan gerakan-gerakan aneh yang setiap gerakan mengandung daya serang mematikan! Ci Kang terkejut mendengar ucapan itu, lebih lagi melihat serangan bertubi-tubi yang sangat hebatnya dan mendengar pula kata-kata para penonton yang jelas berpihak kepada si pemuda baju putih. Agaknya semua orang sudah menganggap dialah yang jahat!

Cepat dia mengelak beberapa kali, lantas meloncat ke belakang sambil berteriak, "Kalian semua seperti orang buta saja! Tidak tahukah kalian siapa enam orang pengurus kedai ini? Mereka adalah orang-orang dari golongan hitam, kaum sesat atau penjahat-penjahat yang menyamar! Mereka hanya berpura-pura saja dermawan, akan tetapi mereka adalah penjahat-penjahat keji yang memusuhi para pendekar!"

Pemuda berbaju putih itu agaknya tidak percaya, bahkan semakin marah. "Sudah busuk perbuatannya, busuk pula mulutnya melontarkan fitnah keji!" Dan dia pun menyerang lagi dengan pukulan tangan kanan.

"Wuuuttt...! Dukkk!"

Kembali Ci Kang menangkis dan keduanya tergetar hingga terpaksa melangkah mundur beberapa tindak.

"Sobat, engkau masih belum percaya? Lihat, ke manakah mereka itu? Mereka sudah lari setelah aku membuka kedok mereka!" Ci Kang berseru dan pemuda baju putih itu cepat menengok tetapi dia juga tidak melihat seorang pun di antara enam pengurus kedai tadi.

"Kebakaran...! Kebakaran...!"

"Pembunuhan...! Rampok...! Rampok...!"

Di luar kedai terdengar suara gaduh dan tiba-tiba saja di bagian belakang kedai itu pun dimakan api. Asap telah masuk ke dalam ruangan itu dan semua orang sudah cerai-berai dalam keadaan panik dan sebentar saja yang tertinggal di dalam kedai hanyalah Ci Kang dan si pemuda baju putih. Akan tetapi keduanya segera sadar bahwa di luar tentu terjadi hal-hal yang membutuhkan pertolongan mereka, maka bagaikan orang sedang berlomba, kedua orang muda itu cepat-cepat meloncat keluar kedai.

Memang keadaan di dusun kecil itu sangat kacau balau. Kebakaran-kebakaran terjadi di sana-sini dan orang-orang berlarian simpang siur dengan panik. Ci Kang melihat betapa keenam orang pengurus kedai tadi, bersama belasan orang lainnya yang jelas terdiri dari golongan sesat, sedang membakari rumah dan merampoki barang-barang yang mereka angkut keluar.

Tentu saja Ci Kang menjadi marah bukan main. Akan tetapi dia sudah keduluan pemuda baju putih yang telah meloncat dan menerjang orang-orang yang membakar rumah-rumah dan merampoki barang-barang itu. Di beberapa tempat terdapat mayat bergelimpangan, agaknya mayat dari mereka yang hendak melawan keganasan para perampok.

Ci Kang menerjang segerombolan orang yang sedang melakukan pembakaran rumah. Empat orang penjahat yang bertubuh tinggi besar serta berwajah kejam mengeroyoknya dengan senjata golok mereka. Akan tetapi dengan mudah Ci Kang menyambut serangan mereka dengan tamparan dan tendangan yang membuat empat orang itu kocar-kacir dan jatuh bangun.

Mereka merasa penasaran dan hendak melawan terus, akan tetapi hanya dalam beberapa gebrakan saja Ci Kang membuat mereka tidak berdaya, mematahkan tulang lengan atau kaki mereka dan akhirnya empat orang penjahat itu lari tunggang-langgang, yang patah tulang kakinya menyeret kaki itu terpincang-pincang.

Ci Kang tidak mengejar mereka. Gurunya, Si Dewa Arak, selalu menekankan kepadanya alangkah tidak baiknya melakukan pembunuhan-pembunuhan. Bahkan sedapat mungkin jangan melakukan kekerasan, kata gurunya itu. Andai kata terpaksa harus menggunakan kekerasan terhadap penjahat, cukup kalau menundukkan dan sekedar memberi hukuman saja supaya mereka tidak berani melanjutkan kejahatan mereka, akan tetapi sama sekali tidak boleh dibunuh.

Ajaran Si Dewa Arak ini sungguh berlawanan sekali dengan kebiasaan hidup di kalangan kaum sesat, akan tetapi Ci Kang menerimanya dengan hati senang dan patuh karena hal ini memang cocok sekali dengan pendiriannya sendiri yang tidak suka dengan kejahatan dan kekerasan karena dia telah muak hidup di lingkungan yang penuh dengan kekerasan.

Tiba-tiba saja Ci Kang dikejutkan oleh suara teriakan-teriakan yang mengerikan. Dia cepat menoleh dan wajahnya berubah merah. Dia melihat pemuda baju putih itu mengamuk dan sepak terjangnya menggiriskan sekali.

Sudah ada tujuh atau delapan orang penjahat, termasuk si gendut dari kedai arak dan anak buahnya, berserakan menjadi mayat. Pemuda itu menurunkan tangan mautnya dan tak memberi ampun kepada para penjahat. Kini masih ada beberapa orang penjahat yang mengeroyoknya, akan tetapi Ci Kang maklum bahwa mereka semua itu tentu akan tewas di tangan si pemuda baju putih kalau dia tidak mencegahnya.

Cepat ia meloncat dan ketika tangan pemuda baju putih itu menyambar dengan serangan maut kepada seorang penjahat yang goloknya sudah terlempar, dia segera menubruk dan menangkis.

"Dukkk...!"

Untuk ke sekian kalinya, kembali dua lengan yang mengandung tenaga sangat kuat itu saling beradu, menggetarkan tubuh kedua pihak. Pemuda baju putih itu mengerutkan alis dan matanya memandang terbelalak kepada Ci Kang.

"Gilakah kau?" bentak pemuda itu kepada Ci Kang. "Tadi engkau menyerang mereka dan aku yang tidak mengenal siapa mereka membela mereka. Sekarang, setelah mengetahui bahwa mereka ini adalah penjahat-penjahat terkutuk dan hendak membasmi mereka, kau malah muncul melindungi mereka!" Pemuda baju putih itu benar-benar terkejut, heran dan penasaran melihat tingkah Ci Kang yang dianggapnya aneh sekali itu.

"Sobat, engkau memang gagah perkasa, akan tetapi terlalu kejam! Memang telah menjadi kewajiban seorang pendekar untuk menentang kejahatan, akan tetapi bukan membunuh!"

Pemuda itu mengerutkan alisnya. "Kau peduli apa?"

Dia pun sudah menerjang lagi ke depan, merobohkan seorang penjahat dengan tamparan tangan kirinya yang amat ampuh. Sekali terkena tamparan itu, golok yang menangkisnya terlempar dan orang itu tidak mampu menghindarkan dirinya lagi, dadanya kena dihantam kemudian terdengar tulang-tulang iga yang patah-patah dan orang itu menjerit lalu roboh berkelojotan.

"Kau kejam...!" Ci Kang menghardik dan ketika orang baju putih itu hendak mengejar para penjahat yang menjadi gentar dan melarikan diri, Ci Kang sudah menghadangnya.

"Kau kini hendak membela mereka? Gila dan biar kubasmi sekalian!" Orang berbaju putih itu membentak dan menyerang Ci Kang.

Tentu saja Ci Kang cepat mengelak dan untuk mencegah orang itu menyebar maut lebih banyak lagi, dia pun membalas dan kini mereka kembali berkelahi dengan amat serunya. Kerena kini masing-masing telah yakin akan kelihaian lawan, maka mereka pun berkelahi lebih seru dan lebih hebat dari pada tadi, karena masing-masing mengeluarkan ilmu-ilmu silat yang paling hebat.

Kini para penjahat sudah lari semua dan juga para penghuni dusun sudah semenjak tadi melarikan diri. Sebagian besar dari rumah-rumah dusun itu terbakar. Namun, dua orang muda itu agaknya lupa dengan keadaan sekeliling karena mereka itu asyik berkelahi dan terpaksa harus mencurahkan seluruh perhatian, mempergunakan seluruh kepandaian dan mengerahkan seluruh tenaga kalau tidak mau kalah! Dan kepandaian keduanya memang hebat, setingkat dan seimbang.

Entah berapa lama lagi perkelahian itu akan berlangsung sampai ada yang kalah. Hampir seratus jurus sudah berlalu tetapi keduanya masih terus saling hantam dengan gigihnya.
Tiba-tiba terdengar suara jerit minta tolong. Suara wanita yang ketakutan!

Mendengar suara ini, seketika kedua orang muda itu melupakan perkelahian mereka dan meloncat lalu berlari ke arah suara itu seperti orang berlomba. Jerit tangis itu kini semakin jelas, keluar dari sebuah rumah yang bagian belakangnya sudah terbakar.

"Tolong...! Toloonggg... ahh, tolonglah aku...!" Demikianlah suara itu terdengar dari dalam rumah yang sedang terbakar.

"Brakkkkk...!"

Dua tempat pada dinding rumah itu jebol ketika si pemuda baju putih dan Ci Kang secara berbareng menerjang tembok. Keduanya berlari memasuki rumah itu dan melihat seorang gadis yang kedua tangannya terbelenggu pada tiang rumah sedang meronta-ronta akibat ketakutan melihat api mulai membakar dinding kamar itu!

Seorang gadis yang cantik sekali, berpakaian sederhana tetapi justru pakaian sederhana itulah yang membuat kecantikannya makin menonjol. Karena kedua lengannya ditelikung ke belakang dan dia terus meronta-ronta, maka lekuk lengkung dan tonjolan-tonjolan pada tubuhnya nampak jelas dan amat menggairahkan! Melihat munculnya dua orang muda itu, sepasang mata yang jeli itu terbelalak ketakutan, akan tetapi agaknya dia dapat menduga bahwa mereka adalah orang orang yang hendak menolongnya, bukan orang-orang jahat yang menyerang dusun itu.

"Ahh, tolonglah saya...!" Dia memohon.

Pada saat itu, dinding di bagian belakang kamar itu yang mulai terbakar, runtuh ke bawah dan mengancam gadis itu yang tentu akan tertimpa runtuhan dinding tembok! Dua orang muda yang gagah perkasa itu bergerak cepat sekali. Pemuda baju putih sudah meloncat dan sekali sambar dia sudah merenggut putus tali yang mengikat gadis itu dengan tiang, lantas meloncat sambil memondong tubuh itu, sedangkan Ci Kang meloncat menggempur dinding yang runtuh itu dengan kedua tangannya.

"Braaakkkk...!"

Runtuhan dinding itu pecah berantakan dan dia pun cepat meloncat keluar menyusul. Di luar rumah yang terbakar itu dia melihat pemuda baju putih sudah menutunkan gadis tadi yang kini berdiri kebingungan dan masih menangis. Ketika Ci Kang tiba pula di situ, gadis itu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan dua orang pemuda itu sambil menangis.

"Sudahlah, jangan menangis dan ceritakan apa yang sudah terjadi," kata Ci Kang sambil memandang kepada pemuda baju putih yang berdiri tenang dan menghadapi gadis itu dengan pandang mata penuh selidik.

Gadis itu menyusut air matanya. Usianya tidak sangat muda lagi, kurang lebih dua puluh lima tahun. Akan tetapi usia ini bagi seorang wanita merupakan usia yang sedang masak-masaknya, seperti setangkai bunga sedang mekarnya. Pakaiannya sederhana akan tetapi rapi, wajahnya cantik dan terutama sekali mulutnya manis sekali.

"Saya menghaturkan terima kasih kepada ji-wi taihiap... yang telah menyelamatkan nyawa saya yang tidak berharga..."

"Sudahlah," kata pemuda baju putih. "Tak perlu bicara tentang itu. Yang penting sekarang ceritakan apa yang telah terjadi maka kau bisa berada di dalam rumah terbakar itu dalam keadaan terbelenggu."

Pada waktu itu dusun kecil yang terbakar ini sudah ditinggalkan orang dan agaknya hanya mereka bertiga saja yang masih berada di situ, kecuali mayat-mayat yang menggeletak di sana-sini, korban kekejaman para perampok.

"Saya bernama Ji Hwa dan tinggal bersama ayah serta ibu di luar dusun, di lereng bukit sana itu... saya berada di sini karena sedang mengunjungi paman dan bibi saya, pemilik rumah ini. Ketika tadi para penjahat datang, paman melawan dan bibi entah lari ke mana, dan saya... perampok ganas itu menawan saya, hendak dibawa pergi. Tapi ketika paman melawan, perampok itu mengikat saya di tiang tadi dan dia lalu berkelahi dengan paman di luar rumah... selanjutnya... saya tidak tahu apa yang terjadi, rumah terbakar dan saya ketakutan sekali..."

Dia menengok ke kiri di mana terdapat mayat-mayat bergelimpangan, membuat gadis itu bergidik ngeri.

"Siapakah pemimpin perampok-perampok itu, nona?" Ci Kang bertanya. "Apakah engkau mengenal para pengurus kedai arak itu?" Dia menunjuk ke arah kedai arak yang sudah habis terbakar.

Gadis itu menggeleng kepala dan kelihatan ketakutan. "Saya tidak tahu... akan tetapi... saya merasa yakin bahwa ayah saya tahu tentang semua itu. Pernah dia berkata kepada saya bahwa dusun ini sedang terancam kekuasaan para penjahat..."

"Hemm, kalau begitu mari kuantar kau pulang, nona. Aku ingin bicara dengan ayahmu," kata Ci Kang.

"Aku pun ingin bertemu dengan ayahmu, nona," kata pula pemuda baju putih itu.

Ci Kang memandang pemuda itu sambil tersenyum mengejek. "Agaknya dalam segala hal engkau tidak mau kalah, sobat. Perlu apa engkau ikut pula dengan kami?"

Pemuda itu tersenyum pahit. "Aku belum tahu benar siapa engkau dan orang macam apa adanya dirimu. Melihat engkau pergi berdua dengan seorang gadis yang tak berdaya ini, sungguh hatiku merasa tidak enak. Aku baru lega apa bila melihat dia sudah berkumpul kembali dengan orang tuanya."

"Sialan!" Ci Kang membentak. "Engkau masih belum percaya kepadaku? Nah, mari kita saling mengenal. Namaku Ci Kang."

"She-mu?" tanya pemuda itu, ingin tahu nama keluarga Ci Kang.

"Tidak perlu kuperkenalkan." Ci Kang memang tak ingin memperkenalkan nama keluarga ayahnya yang terkenal sebagai Siangkoan Lo-jin atau Si Iblis Buta.

"Namaku Sun," kata pemuda baju putih itu, juga tidak mau menyebutkan she-nya melihat betapa Ci Kang menyembunyikan shenya pula.

Pemuda ini sesungguhnya she Cia. Ya, dia adalah Cia Sun, putera dari Cia Han Tiong yang tinggal di Lembah Naga! Seperti sudah kita ketahui, pemuda ini merasa penasaran sekali akan sikap ayahnya. Ibunya tewas di tangan musuh, namun ayahnya mengampuni musuh-musuh itu.

Dalam keadaan penasaran serta penuh duka dan dendam ini, dia berjumpa dan diambil murid oleh Go-bi San-jin lantas digembleng selama tiga tahun. Oleh gurunya ini, di dalam batinnya ditanam jiwa kependekaran yang tegas dan keras supaya menentang kejahatan. Gemblengan ini, ditambah pula oleh rasa dendam akibat kematian ibunya, membuat Cia Sun menjadi seorang pendekar yang tidak mau mengampuni orang-orang jahat, dan dia menganggap adalah tugas dan kewajibannya untuk menentang kejahatan dan membasmi para penjahat, membunuh mereka tanpa mengenal ampun lagi!

Seperti juga Ci Kang yang disuruh gurunya, Ciu-sian Lo-kai, untuk pergi ke bekas benteng Jeng-hwa-pang di luar Tembok Besar untuk menghadiri pertemuan dengan para pendekar, juga Cia Sun sudah diutus oleh Go-bi San-jin untuk pergi ke tempat itu pula. Munculnya Raja dan Ratu Iblis yang dibantu oleh Cap-sha-kui serta para datuk kaum sesat membuat orang-orang sakti dan para pendekar berusaha menentangnya sehingga mereka hendak mengadakan pertemuan di bekas benteng Jeng-hwa-pang.

Sesudah memperkenalkan nama masing-masing tanpa menyebut nama keturunan, kedua orang muda itu lalu mengawal gadis yang bernama Ji Hwa itu pulang. Mereka keluar dari dusun kecil yang sudah sunyi itu dan menuju ke utara di mana terdapat sebuah bukit yang penuh dengan pohon-pohon rindang.

"Jauhkah rumah ayahmu dari sini, nona?" tanya Cia Sun yang masih belum percaya betul kepada gadis ini dan selalu tidak meninggalkan kewaspadaannya.

"Tidak jauh, di lereng bukit itu, taihiap. Akan tetapi harap jangan menyebut nona padaku, namaku Hwa dan biasa disebut Hwa Hwa saja."

Cia Sun mengerutkan alis dan tidak menjawab. Gadis ini baru saja mengalami peristiwa yang amat menakutkan dan mengejutkan, baru saja terlepas dari maut dan nyaris terbakar hidup-hidup dalam rumah tadi. Akan tetapi sekarang sudah bicara sambil senyum-senyum dan kerling mata gadis ini membuat hatinya terasa tidak enak. Meski pun sampai saat itu Cia Sun belum pernah bergaul rapat dengan wanita, namun dia mengenal kerling yang tajam memikat, kerling yang membayangkan kegenitan yang disembunyikan, sikap yang agaknya tidak wajar dan berpura-pura.

Rumah itu besar dan kuno sekali, terletak di lereng bukit. Rumah yang besar dan kuno, terpencil sendiri dan dari jauh tidak nampak karena tersembunyi di balik pohon-pohon dan semak-semak belukar. Karena kuno, besar dan sudah rusak tak terpelihara, bangunan itu nampak menyeramkan, pantasnya hanya dihuni oleh setan-setan dan iblis-iblis saja.

"Di sinikah engkau dan orang tuamu tinggal?" tanya Ci Kang ketika mereka tiba di depan rumah. "Bekerja apakah orang tuamu?" Ternyata seperti Cia Sun, dia pun mulai merasa heran dan curiga melihat betapa gadis itu bersama orang tuanya tinggal di tempat yang seram seperti ini.

Gadis yang minta disebut Hwa Hwa itu tersenyum memandang Ci Kang. "Kalau melihat pakaian taihiap, agaknya pekerjaan ayah tidak asing bagi taihiap. Dia seorang pemburu dan karena itu kami memilih tempat di bukit dekat hutan-hutan ini." Dengan sikap ramah dan lincah gadis itu mempersilakan dua orang pemuda itu untuk memasuki gedung kuno. "Marilah, harap ji-wi taihiap sudi masuk dan menemui ayah dan ibu yang berada di dalam. Saya merasa yakin bahwa ayah akan dapat bercerita banyak tentang penjahat-penjahat yang tadi mengacau dusun."

Cia Sun dan Ci Kang saling pandang sejenak. Biar pun mereka masih merasa penasaran dan ada rasa tidak suka satu kepada yang lain, akan tetapi kini mereka berada di dalam sebuah perahu yang sama. Maka, walau pun hanya sedikit, terdapat suatu kepentingan bersama di antara mereka dan sesudah saling pandang, tahulah mereka bahwa masing-masing tidak akan mau kalah dan merasa malu kalau mundur.

Mereka lalu mengikuti gadis itu memasuki bangunan dan ternyata memang bangunan itu kuno dan tak terawat. Banyak bagian-bagian yang telah rusak, akan tetapi sebagian besar masih kokoh kuat karena memang bangunan kuno itu kuat buatannya.

"Mari silakan, ji-wi taihiap. Saya kira ayah dengan ibu sedang bersemedhi di dalam kamar semedhi," kata gadis itu sambil mengajak mereka menuju ke sebuah ruang yang pintunya kecil.

Mendengar ini, kembali Cia Sun dan Ci Kang melirik. Kalau mereka sedang bersemedhi, tentu orang tua gadis ini termasuk orang-orang yang pandai ilmu silat, atau kalau tidak tentu orang-orang yang sangat saleh.

Mereka melewati pintu kecil itu, lantas memasuki sebuah ruangan yang bentuknya aneh. Kamar itu tidak berjendela dan bentuknya bundar. Lantainya tertutup permadani tipis yang sudah lapuk dan tidak terdapat perabot rumah, akan tetapi keadaannya cukup bersih.

Di dekat dinding nampak seorang kakek dan seorang nenek sedang duduk bersila dalam keadaan bersemedhi. Begitu melihat keadaan dua orang kakek dan nenek ini, dua orang pemuda itu merasa heran dan terkejut sekali.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner