ASMARA BERDARAH : JILID-43


Pakaian kakek itu serba polos putih kuning, seluruh rambutnya putih riap-riapan, jenggot dan kumisnya pendek terpelihara baik-baik, tubuhnya cukup jangkung dan wajahnya aneh menyeramkan. Wajah itu memang bagus bentuknya, membayangkan ketampanan, akan tetapi wajah itu terlihat begitu dingin, kulitnya agak kehijauan dan matanya terpejam. Sulit ditaksir berapa usianya, akan tetapi tentu sudah enam puluh tahun lebih.

Ada pun nenek itu juga memiliki keadaan yang sama, baik pakaiannya yang sederhana kedodoran mau pun rambutnya yang juga sudah putih semua dan riap-riapan. Rambutnya masih lebih panjang ketimbang rambut kakek itu, dan bentuk atau raut wajah wanita ini pun menunjukkan bekas kecantikan, hanya nampak begitu dingin seperti topeng.

"Silakan duduk, ji-wi taihiap dan maaf, di sini tidak ada bangku atau kursi, terpaksa kita duduk di atas lantai," kata Hwa Hwa dengan ramahnya.

Cia Sun dan Ci Kang yang sudah terlanjur masuk, lalu duduk di atas lantai berbabut itu, bersila dengan sikap hormat karena mereka berdua meragu orang-orang macam apakah adanya kakek dan nenek ini. Yang jelas, bukan orang-orang sembarangan saja, demikian mereka berpikir.

Setelah dua orang pemuda itu duduk, Hwa Hwa lalu keluar dari dalam kamar itu. Sampai di ambang pintu dia menoleh dan berkata sambil tersenyum,

"Maafkan, saya akan mempersiapkan minuman untuk ji-wi..."

Sebelum dua orang muda itu menolak, pintu yang sempit itu tiba-tiba sudah ditutup dari luar oleh Hwa Hwa dan baru nampak oleh dua orang muda itu bahwa pintu itu terbuat dari pada besi yang kokoh kuat! Akan tetapi karena di dalam ruangan itu masih terdapat kakek dan nenek tadi, Cia Sun dan Ci Kang bersikap tenang saja dan sekarang mereka berdua memandang kepada kakek dan nenek itu dengan penuh perhatian.

Tiba-tiba kakek dan nenek itu membuka matanya, maka terkejutlah dua orang pendekar muda itu melihat betapa dua pasang mata itu amat tajam, mencorong seperti bukan mata manusia biasa! Mata kakek dan nenek itu mencorong dan kehijauan! Terkejutlah Cia Sun dan Ci Kang, tahu bahwa mereka berdua ternyata bukan orang sembarangan, melainkan orang-orang yang memiliki tenaga sinkang amat kuat, kalau tidak demikian, tak mungkin mereka memiliki sinar mata seperti itu.

Akan tetapi keduanya tetap tenang saja dan menanti apa yang akan terjadi selanjutnya, tentu saja dengan penuh kewaspadaan karena kini mereka mulai dapat menduga bahwa sikap gadis yang bernama Hwa Hwa tadi hanya pura-pura saja.

Tiba-tiba saja terdengar suara kakek itu yang berbicara seolah-olah tanpa menggerakkan bibir. "Berlutut...!"

Dua orang pemuda itu terkejut dan heran, akan tetapi biar pun mereka menduga bahwa kakek itu menyuruh mereka berlutut, tentu saja mereka tidak sudi melaksanakan perintah itu. Mereka hanya menatap tajam, menentang dua pasang mata hijau yang mencorong itu. Sekarang nenek itulah yang bicara, suaranya lirih akan tetapi mendesis dan menusuk jantung.

"Kalau murid kami sudah membawa kalian ke sini, tentu kalian bukan orang-orang biasa sehingga ada harganya untuk menjadi pembantu-pembantu kami. Nah, orang-orang muda, berilah hormat kepada Ong-ya!"

Dua orang muda itu kini terkejut bukan main. Mereka berdua sudah mendengar dari guru masing-masing tentang Raja dan Ratu Iblis yang menganggap dirinya raja dan ratu, dan betapa semua tokoh sesat yang takluk kepada mereka menyebut Raja Iblis itu Ong-ya karena memang dia dahulunya seorang pangeran bernama Toan Jit Ong.

Kini Cia Sun dan Ci Kang memandang penuh perhatian. Mereka pun baru sadar bahwa mereka sebenarnya berhadapan dengan Raja dan Ratu Iblis yang amat ditakuti itu, yang kini kabarnya sedang menggerakkan para datuk kaum sesat termasuk Cap-sha-kui untuk menguasai dunia! Bahkan karena adanya gerakan mereka inilah maka para pendekar dan orang-orang sakti hendak mengadakan pertemuan di bekas benteng Jeng-hwa-pang untuk merencanakan langkah-langkah untuk menentang gerakan berbahaya itu.

Dan kini, tanpa mereka sangka-sangka, mereka telah dipancing oleh seorang gadis cantik yang ternyata murid iblis-iblis ini, dan telah berhadapan dengan mereka, berada di sebuah ruangan tertutup!

"Apakah ji-wi yang berjuluk Raja dan Ratu Iblis?" Ci Kang bertanya dengan hati tabah, suaranya sedikit pun tidak gentar.

Nenek itu mengeluarkan suara seperti orang tertawa, walau pun mulutnya tidak tertawa. "Kalau kalian sudah tahu, cepat memberi hormat!" katanya.

Akan tetapi, seperti dikomando saja, Cia Sun dan Ci Kang telah meloncat berdiri. Mereka berdua sudah banyak mendengar mengenai suami isteri iblis ini, dan mereka tahu bahwa sudah menjadi kewajiban mereka untuk menentang dua orang ini. Mereka sama sekali tidak merasa takut, walau pun mereka telah mendengar betapa lihainya kakek dan nenek ini.

"Inilah penghormatanku!" kata Cia Sun yang sudah menyerang kakek yang duduk bersila itu.

"Dan ini bagianku!" bentak Ci Kang, secepat kilat dia pun menyerang ke arah si nenek.

Serangan dua orang muda itu hebat sekali, mendatangkan angin pukulan dahsyat karena mereka berdua yang maklum dengan kelihaian kakek dan nenek itu sudah mengerahkan sinkang dan menyerang sekuat tenaga. Kakek dan nenek itu mendengus dan mengulur tangan menyambut. Mereka hanya mendorong tangan mereka ke depan dan segumpal uap menyambar dan menyambut serangan Cia Sun dan Ci Kang.

"Bresss...!"

Tubuh dua orang muda itu terdorong ke belakang dan tanpa dapat mereka cegah lagi, keduanya terbanting pada dinding di belakang lalu terguling ke atas lantai!

Pada saat itu, lantai tertutup babut itu terbuka dan tentu saja dua orang pemuda yang baru saja terguling, cepat meloncat ke depan. Hanya bagian di mana kakek dan nenek itu duduk saja yang tidak terjeblos sehingga jalan satu-satunya yang ada hanyalah mencoba untuk menyerang lagi kakek dan nenek yang masih duduk bersila di atas lantai, di bagian yang tidak terbuka.

"Desss...!"

Sekarang empat pasang tangan itu beradu langsung secara dahsyat sekali dan akibatnya, kakek serta nenek itu mengeluarkan seruan kaget bukan main. Benturan tangan mereka dengan tangan kedua pemuda itu membuat tubuh mereka tergetar dan terguncang hebat! Akan tetapi karena mereka duduk di atas lantai, sedangkan tubuh Cia Sun dan Ci Kang melayang, tentu saja kedua orang pemuda itu yang tidak mempunyai landasan, terdorong mundur dan tanpa bisa dihindarkan lagi tubuh mereka terjatuh ke dalam lubang di bawah mereka.

Mereka menggunakan ginkang sehingga tak sampai terbanting, juga mereka tiba di dasar lubang itu dengan kaki lebih dahulu, dalam keadaan berdiri. Akan tetapi tiba-tiba tempat di mana mereka terjatuh itu menjadi gelap gulita karena lantai dari kamar di atas tadi telah tertutup kembali!

Tiba-tiba saja terdengar suara mendesis-desis dan tercium bau harum yang menyengat hidung.

"Asap beracun...!" Cia Sun berseru.

Keduanya segera menahan napas sambil meraba-raba mencari jalan keluar. Akan tetapi kamar di mana mereka tersekap itu ternyata terbuat dari besi baja dan tidak ada pintunya! Mereka lalu meloncat ke atas dan menghantam ke arah lantai kamar atas yang sekarang menjadi langit-langit bagi mereka itu.

"Bress…! Bress…!"

Akan tetapi lantai itu terlampau kuat dan tubuh mereka terlempar lagi ke bawah. Mereka seperti dua ekor tikus memasuki perangkap dan kini kamar itu mulai penuh dengan asap wangi beracun. Mereka menahan napas sekuat mungkin, akan tetapi tentu saja kekuatan ini ada batasnya. Betapa pun saktinya kedua orang muda itu, jantung mereka harus terus berdenyut dan untuk ini, jantung membutuhkan hawa murni melalui pernapasan.

Akhirnya Cia Sun dan Ci Kang tak kuat bertahan lagi dan mereka pun terpaksa menyedot asap itu. Tubuh mereka lalu terguling dan mereka pingsan oleh asap pembius. Sebelum mereka kehilangen kesadaran, mereka mendengar suara ketawa merdu, suara dari Hwa Hwa yang sebetulnya adalah Gui Siang Hwa, murid terkasih dari Raja Iblis atau Pangeran Toan Jit Ong.

Ketika Cia Sun dan Ci Kang siuman kembali, mereka telah saling berpisah. Cia Sun yang mulai siuman mendapatkan dirinya sedang tergeletak di atas pembaringan sebuah kamar dalam keadaan terbelenggu dan tertotok jalan darahnya! Dia lalu berusaha membebaskan jalan darahnya, namun usaha ini terpaksa dihentikannya karena ada langkah kaki orang memasuki kamar. Kiranya yang masuk adalah gadis cantik yang sudah menjebaknya itu! Tentu saja Cia Sun menjadi marah sekali dan memandang dengan mata melotot.

"Hemm, perempuan hina! Kiranya engkau adalah seorang penjahat betina yang sengaja menjebak kami! Engkau tentu kaki tangan perampok yang mengacau di dusun itu!" Cia Sun membentak.

Siang Hwa tersenyum manis dan menghampiri, kemudian duduk di tepi pembaringan dan membelai pundak yang kelihatan karena baju pada bagian pundak Cia Sun robek ketika dia meloncat dan mendobrak lantai atas. Cia Sun merasa betapa seluruh bulu tubuhnya meremang pada saat jari-jari tangan yang berkulit halus itu menelusuri pundaknya dengan belaian sayang. Dia lalu menggerakkan pundaknya untuk menolak, akan tetapi karena dia berada dalam keadaan tertotok, pundaknya hanya bergerak sedikit saja, membuat Siang Hwa tertawa geli.

"Hi-hik-hik, pemuda yang gagah dan tampan. Sun-koko, dugaanmu itu terbalik. Bukan aku yang menjadi kaki tangan mereka, tetapi mereka adalah kaki tanganku, para pembantuku. Sun-koko, tahukah engkau mengapa suhu dan subo tidak langsung saja membunuhmu? Akulah yang memintakan ampun. Nyaris aku dibunuh karena mintakan ampun untukmu, koko. Akan tetapi, aku menangis dan meratap minta agar engkau tidak dibunuh..."

"Hemm, apa maksudmu?" tanya Cia Sun, merasa heran mendengar bahwa murid kedua iblis itu mintakan ampun untuknya.

Tiba-tiba Siang Hwa merangkul leher pemuda yang masih rebah terlentang karena belum dapat bangun itu. Tentu saja Cia Sun terkejut bukan main, akan tetapi dia tidak mampu meronta atau mengelak, apa lagi memukul. Kedua tangannya ditelikung ke belakang, juga kedua kakinya terikat dan selain itu, kaki tangannya lumpuh oleh totokan.

"Sun-koko, apakah engkau tidak bisa menebak? Aku cinta padamu...! Aku cinta padamu, karena itu mati-matian aku mempertahankan nyawamu. Apa bila engkau mau membalas cintaku, maka kita akan hidup bahagia dan menjadi pembantu-pembantu suhu yang amat dipercaya. Ahh, koko, marilah kau hidup bahagia bersamaku..."

Siang Hwa mendekatkan mukanya dan siap untuk mencium dengan sikap yang sangat memikat. Bau harum semerbak keluar dari rambut dan leher gadis itu, akan tetapi hal ini sama sekali bukan membuat Cia Sun terpikat atau terangsang, sebaliknya mengingatkan dia akan bau harum asap beracun yang membuat dia dan Ci Kang terbius.

"Ci Kang... di mana dia?"

Gadis itu tersenyum manis. Karena mukanya sangat dekat, Cia Sun dapat melihat rongga mulut yang merah, lidah yang meruncing merah dan deretan gigi yang putih bersih. Mulut yang penuh daya pikat, akan tetapi yang mendatangkan rasa jijik dan marah kepadanya karena maklum bahwa di balik kecantikan ini tersembunyi kejahatan yang mengerikan.

"Sun-koko, temanmu itu sudah dibunuh, dan kalau tidak ada aku, engkau tentu dibunuh pula. Karena itu marilah kita mengecap kebahagiaan, mari kita menikmati hidup berdua..." Gadis itu kini menunduk dan mencium bibir Cia Sun. Akan tetapi dia lantas terkejut dan mengeluh. "Aihh...!" Dia merasa betapa bibir itu kaku dan dingin, betapa pemuda itu sama sekali tidak membalas perasaan cintanya, bahkan pemuda itu kini memandang marah.

"Iblis betina, perempuan tidak tahu malu, jahanam busuk! Jangan harap aku akan dapat terbujuk olehmu. Bujuk rayumu tiada gunanya dan kalau mau membunuh aku, bunuhlah! Lebih baik seribu kali mati dari pada harus tunduk kepada ular betina seperti kamu ini!"

Siang Hwa melepaskan rangkulannya dan memandang dengan alis berkerut. Pandangan matanya membayangkan kekecewaan besar. "Sun-koko, kau pikirlah baik-baik... engkau masih muda, gagah perkasa, apakah harus mati konyol begitu saja? Sun-koko, aku cinta padamu dan aku dapat membahagiakanmu..."

"Sudahlah! Sampai mati pun aku tidak mungkin dapat berbaik dengan iblis-iblis berwajah manusia macam engkau dan Raja Iblis! Kalau aku tidak dijatuhkan dengan kelicikan dan kecurangan, apa bila aku bebas, pertama-tama yang akan kulakukan adalah mencekikmu sampai mampus baru kucari kakek dan nenek iblis untuk kubunuh! Jadi tak perlu engkau membujuk rayu seperti itu. Bunuh saja kalau mau bunuh!"

Tiba-tiba saja terdengar suara lirih, terdengar dari jauh akan tetapi jelas sekali. "Nah, apa kubilang, Siang Hwa. Bocah dari Lembah Naga itu mana mau diajak kerja sama? Bunuh saja, akan tetapi siksa dulu!"

Itulah suara Ratu Iblis yang agaknya secara diam-diam mengikuti usaha muridnya yang sedang membujuk Cia Sun agar suka menjadi pembantu mereka dengan menggunakan kecantikan gadis itu.

"Baik, subo," kata Siang Hwa dengan suara gemas dan kini pandang matanya kepada Cia Sun berubah kelam, "Akan kusiksa mereka, kubikin mereka mati tenggelam, mati secara perlahan-lahan!"

Setelah berkata demikian, kedua tangan gadis yang tadi membelai-belai Cia Sun dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, sekarang mencengkeram pundak pemuda itu dan menariknya turun dari pembaringan, lalu menyeretnya keluar kamar itu.

Cia Sun yang tidak berdaya itu melihat bahwa dirinya diseret keluar dari dalam bangunan induk menuju ke bangunan belakang yang berada di tempat yang agak tinggi. Akan tetapi setelah gadis itu menyeretnya naik dan memasuki bangunan itu, ternyata di bagian dalam bangunan itu terdapat sebuah anak tangga yang menurun.

Kemudian, setibanya di sebuah kamar sempit, Siang Hwa melepaskan cengkeramannya dan dengan pengerahan tenaga dia memutar sebuah roda besi di sudut. Terdengar suara berkerotokan dan dua buah batu besar persegi empat yang berada di atas lantai bergerak terbuka ke kanan kiri, memperlihatkan sebuah lubang.

"Nah, mampuslah kau di situ!" kata Siang Hwa sambil menendang tubuh Cia Sun yang tak mampu melawan.

Tubuh pemuda itu terlempar masuk ke dalam sebuah kolam atau sumur yang sempit. Dia hanya mengangkat kepala supaya tidak sampai terbanting menimpa dasar sumur. Untung bahwa yang menimpa dasar itu adalah pinggulnya lebih dulu.

"Bukkk!"

Rasanya agak nyeri akan tetapi dia tidak terluka. Ternyata sumur itu tidak terlalu dalam, kurang lebih hanya dua meter dan kejatuhannya itu disusul dengan menutupnya kembali dua buah batu persegi yang mengeluarkan suara gaduh.

"Ahh, kau juga?" Tiba-tiba terdengar suara teguran.

Cia Sun terkejut dan cepat menengok. Matanya sudah agak terbiasa dengan keremangan tempat itu dan dia melihat bahwa Ci Kang sudah berada di tempat itu pula, duduk di sudut bersandarkan dinding batu! Cia Sun tidak mempedulikan orang ini. Bagaimana pun juga, dia masih merasa mendongkol dan penasaran.

Harus diakuinya bahwa rasa bersaing dengan pemuda inilah yang memaksa dia mengikuti Siang Hwa. Andai kata tidak ada perasaan itu, mungkin dia akan menolak ajakan Siang Hwa. Dia bangkit berdiri dan dengan kedua tangannya yang masih ditelikung ke belakang, dia kemudian meraba-raba dinding melakukan penyelidikan, dengan kedua kaki yang juga terbelenggu itu meloncat-loncat.

"Sobat, tiada gunanya kau mencari jalan keluar. Sudah semenjak tadi aku menyelidiki dan ternyata semua dinding ini terbuat dari besi kuat, dan lantai ini batu-batu gunung. Jalan keluar satu-satunya hanyalah batu penutup lubang di atas itu, akan tetapi sudah kucoba pula dan kuatnya bukan main."

Cia Sun menghentikan usahanya dan duduk di sudut, memandang pemuda di depannya itu. Agaknya Ci Kang telah kehilangan bajunya karena hanya tubuh bagian bawah sajalah yang tertutup celana. Tubuhnya yang kokoh kuat dengan otot yang melingkar-lingkar itu nampak besar dan menyeramkan. Dia sendiri masih untung, pikir Cia Sun, bajunya hanya robek saja, akan tetapi orang itu malah setengah telanjang!

"Kenapa mereka ingin membunuhmu juga?" akhirnya Ci Kang bertanya.

Cia Sun mengerutkan alisnya. "Karena mereka mengenalku."

"Hemm, lalu kenapa engkau tidak tinggal di atas saja, hidup bahagia dengan perempuan cabul itu dan menjadi pembantu Raja dan Ratu Iblis?" Ci Kang mengejek.

"Aha, ternyata engkau juga sudah dibujuk rayu oleh perempuan itu!" Cia Sun mengejek. "Agaknya lebih parah, sampai baju atasmu ditanggalkan. Mengapa engkau tidak memilih hidup enak di sana? Dan mengapa mereka juga ingin membunuhmu?"

"Karena mereka pun mengenalku, mengenal keadaanku."

"Mengenal ayahmu?" Cia Sun mendesak.

Ci Kang mengangguk dan tiba-tiba wajahnya menjadi muram. "Mereka... telah membunuh ayahku! Dan untuk itu aku harus tetap hidup, aku harus hidup untuk membuktikan kepada mendiang ayah bahwa aku bukan seperti mereka!" kata Ci Kang dengan suara gemetar penuh perasaan.

Cia Sun menjadi tertarik. "Sobat, kita senasib. Agaknya nasib yang mempertemukan kita dimulai dari kesalah pahaman. Dan ternyata akulah yang salah. Aku tertipu oleh penjahat-penjahat yang menyamar menjadi para pengurus kedai itu. Sobat, aku she Cia. Namaku Cia Sun dan ayahku tinggal di Lembah Naga, itulah yang menyebabkan mereka hendak membunuhku. Boleh aku mengetahui siapa ayahmu?"

"Aku she Siangkoan, ayahku... ayahku dikenal sebagai Siangkoan Lo-jin..."

"Ahhhh...!" Cia Sun terkejut bukan kepalang sampai memandang dengan mata terbelalak. "Maksudmu... maksudmu... yang dijuluki Iblis Buta...?"

Ci Kang mengangguk dan menarik napas panjang. "Benar, ayahku dijuluki Iblis Buta dan memang ayahku buta..."

"Tapi... tapi... bukankah ayahmu memimpin para penjahat, malah para datuk Cap-sha-kui juga menjadi sekutunya? Kenapa engkau dimusuhi Raja dan Ratu Iblis?"

"Ayah mereka bunuh akibat menentang mereka, baru kuketahui tadi setelah aku menolak perempuan hina itu dan menghinanya."

"Hemmm, jadi karena ayahmu dibunuh maka kini engkau memusuhi mereka? Akan tetapi mengapa di kedai arak itu engkau memusuhi pula para penjahat yang menyamar?" Kini tahulah Cia Sun mengapa pemuda ini mengenal penjahat yang menyamar sedangkan dia sama sekali tidak mengenal mereka. Ternyata pemuda ini adalah putera seorang datuk penjahat!

"Sejak lama aku berpisah dari ayahku karena aku tidak cocok dengan cara hidupnya. Aku menentang kejahatan dan karenanya aku dibenci golongan sesat, akan tetapi golongan bersih juga menghina dan menentangku karena aku putera Siangkoan Lo-jin..."

"Apa bila ada pendekar menentangmu karena engkau putera Siongkoan Lo-jin, maka dia itu sembrono, Ci Kang. Orang ditentang karena perbuatannya yang jahat, bukan karena keturunannya!"

Ci Kang mengangkat mukanya. Di dalam keadaan remang-remang itu sepasang matanya mencorong ketika memandang wajah Cia Sun penuh selidik. "Orang she Cia, benarkah semua omonganmu itu? Baru saja aku dikecewakan oleh para pendekar di bekas benteng Jeng-hwa-pang. Ketika aku tiba di sana dan dikenal sebagai putera ayah, aku nyaris saja celaka karena dikeroyok mereka."

"Ah, mereka itu sembrono. Jadi itukah sebabnya kenapa engkau murung dan mengamuk di kedai arak itu ketika engkau melihat bahwa mereka itu adalah penjahat-penjahat yang menyamar?"

Ci Kang mengangguk dan secara diam-diam timbul rasa sukanya kepada Cia Sun, walau pun masih ada rasa tidak puas karena dia belum mampu mengalahkan pemuda gagah perkasa ini.

Mendadak terdengar suara mengejek, suara ketawa Siang Hwa. "Hi-hi-hik, kalian ini dua orang laki-laki yang tak tahu diri, berlagak alim dan gagah. Rasakan kini pembalasanku. Kalian akan mampus sebagai dua ekor tikus tenggelam, hi-hik!" Tiba-tiba terdengar suara gemercik air, lantas dari atas, dari celah-celah batu yang menutupi lubang itu turunlah air dengan derasnya!

"Kita harus bisa keluar dari sini!" kata Cia Sun yang segera mencoba untuk mengerahkan tenaga agar ikatan kaki tangannya bisa dipatahkan. Akan tetapi totokan pada jalan darah di tubuhnya masih menguasainya dan dia tidak mempunyai tenaga otot yang cukup besar untuk dapat melawan kuatnya tali pengikat itu.

Ci Kang juga berusaha. Dia sendiri pun baru saja dapat membebaskan totokannya karena memang dia lebih dahulu dilempar ke dalam lubang ini setelah dengan mati-matian Siang Hwa mencoba merayunya tanpa hasil! Kini ia mengerahkan tenaga sehingga putuslah tali yang membelenggu kaki tangannya!

Dia lalu bangkit berdiri dan berusaha mendorong batu yang menutupi lubang dengan dua tangannya. Otot-otot perut, dada, pundak serta kedua lengannya menggembung besar, akan tetapi ternyata batu penutup itu demikian kuatnya sehingga semua usahanya untuk membukanya dari bawah sia-sia belaka!

Apa lagi batu penutup itu terlampau tinggi sehingga dia tidak dapat mengerahkan seluruh tenaga. Andai kata agak rendah tentu tenaganya akan lebih besar. Sementara itu, dengan cepat air mulai menggenangi lubang itu, dan Cia Sun melihat betapa air sudah mencapai setinggi paha dan terus naik dengan cepatnya.

"Ci Kang, cepat kau lepaskan tali pengikat tanganku agar aku dapat membantumu!" kata Cia Sun sambil menoleh kepada Ci Kang yang ketika itu masih berusaha sekuat tenaga untuk membuka batu penutup lubang.

Akan tetapi Ci Kang tidak menjawab, menengok pun tidak, seolah-olah tak peduli kepada Cia Sun dan masih terus berusaha menggunakan tenaganya untuk mendorong membuka batu penutup lubang jebakan itu ke atas. Namun, agaknya batu itu terlalu berat baginya dan air terus naik dengan cepatnya. Dua pendekar muda itu terancam maut dan keadaan mereka amat gawat….!

********************

Seperti telah kita ketahui, sudah beberapa pekan lamanya Raja dan Ratu Iblis berada di daerah utara. Daerah ini sama sekali bukan merupakan daerah asing bagi mereka. Sama sekali tidak. Bahkan pada waktu Raja Iblis masih menjadi Pangeran Toan Jit Ong, dalam pelariannya dari kota raja, dia bersembunyi di utara.

Gedung itu adalah sebuah istana kuno yang dulu dipergunakan kaisar untuk melepaskan lelah dan bermalam jika mengadakan perjalanan ke utara, yang amat jarang terjadi. Dan kaisar yang masih teringat akan pertalian kekeluargaan dengan Pangeran Toan Jit Ong, diam-diam mengutus orang untuk menyerahkan istana kuno itu kepada Pangeran Toan Jit Ong. Maka pangeran pelarian itu pun tinggal di dalam istana tua itu.

Di samping kokoh kuat, istana itu juga mempunyai beberapa tempat untuk tahanan sebab para pengawal kaisar selalu bersiap terhadap mereka yang menentang kaisar, mata-mata musuh atau pun pengacau-pengacau. Tempat-tempat ini oleh Pangeran Toan Jit Ong lalu diperbaiki dan disempurnakan sehingga menjadi tempat-tempat jebakan yang berbahaya.

Pada saat dia meninggalkan kota raja sebagai buronan, Toan Jit Ong sudah berusia tiga puluh tahun lebih, memiliki ilmu kepandaian yang sangat tinggi. Dan ketika dia merantau ke utara dan tinggal di dalam istana kuno itu, dia lalu memperdalam ilmu-ilmunya dengan menghubungi para pertapa dan orang-orang pandai. Pangeran ini pintar sekali mengambil hati orang-orang pandai sehingga dia berhasil mengumpulkan ilmu-ilmu kesaktian yang aneh-aneh.

Di dalam perantauan inilah dia bertemu dengan seorang gadis puteri seorang pertapa di Pegunungan Go-bi-san, gadis she Thio yang kini menjadi Ratu Iblis. Selain cantik gadis itu juga memiliki kepandaian tinggi dan setelah mereka menjadi suami isteri, mereka lalu mengadakan perjalanan ke seluruh negeri. Dengan kepandaian mereka yang amat tinggi, mereka mencoba dan menandingi semua datuk sesat dan tak ada seorang pun di antara para datuk itu yang mampu mengalahkannya!

Nama Raja dan Ratu Iblis, demikian mereka dijuluki oleh para datuk sesat, menjadi amat terkenal dan ditakuti di kalangan kaum sesat. Akan tetapi pangeran ini tinggi hati dan tidak mau merendahkan dirinya untuk bergaul dengan kalangan sesat walau pun dia membenci pemerintah dan kaum pendekar pula. Dia dan isterinya hidup terasing, hanya bertapa dan memperdalam ilmu kepandaian mereka selama dalam perantauan mereka sampai jauh ke barat.

Dalam usia setengah tua, Raja dan Ratu Iblis ini baru kembali ke istana di utara itu dan tinggal di sana. Mungkin karena kini merasakan ketenteraman hati setelah tidak merantau lagi, Ratu Iblis yang setengah tua itu mengandung! Hal ini menggirangkan hati Raja Iblis yang kini hidup bagaikan raja kecil di tempat sunyi, dilayani belasan orang taklukan yang juga rata-rata berkepandaian tinggi.

Akan tetapi dasar watak Pangeran Toan Jit Ong yang aneh dan jahat seperti iblis, bahkan mendekati kegilaan. Dia mengatakan kepada isterinya bahwa dia ingin anak laki-laki.

"Awas kalau engkau melahirkan anak perempuan," katanya mengancam, "akan kubunuh anak itu, atau kalau tidak, akan kuambil dia sebagai selirku!"

Biar pun dia sendiri sudah biasa melakukan hal-hal yang menyeramkan dan juga memiliki dasar watak yang liar dan jahat, namun hati wanita itu khawatir sekali mendengar ucapan suaminya. Dan dia tahu benar bahwa suaminya itu bukan hanya mengancam kosong belaka, akan tetapi tentu akan melaksanakan apa yang diancamkannya. Kalau dia gagal melahirkan seorang putera, kalau yang terlahir itu seorang anak perempuan, tentu akan dibunuh suaminya atau lebih menyakitkan hati lagi, kelak akan menjadi selir suaminya!

Akan tetapi Ratu Iblis bukanlah seorang bodoh. Sebaliknya, dia cerdik sekali dan dalam keadaan terancam itu, jauh hari sebelumnya dia telah mengatur siasat dan merencanakan penyelamatan bayinya andai kata bayinya itu terlahir perempuan. Dia sudah memperoleh seorang pembantu yang akan melaksanakan segala rencananya itu andai kata bayinya terlahir perempuan.

Saat yang dinanti-nantikan itu pun tibalah. Dan untung bagi Ratu Iblis, kelahiran itu terjadi pada tengah malam sehingga sangat memudahkan pelaksanaan siasatnya. Siasat yang amat keji karena pembantunya itu langsung menyingkirkan bayinya yang ternyata terlahir perempuan dan menaruhkan seorang bayi lain, juga bayi perempuan yang diperolehnya dari dalam dusun yang berdekatan. Menculik bayi itu dan menukarnya dengan bayi yang baru dilahirkan oleh Ratu Iblis! Dan ketika pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Raja Iblis datang menjenguk, dia hanya mendapatkan seorang bayi perempuan yang sudah mati!

"Dia lahir perempuan dan... mati?" tanyanya.

"Ya, aku membunuhnya. Lebih baik mati di tanganku dari pada di tanganmu," jawab Ratu Iblis sederhana.

Beberapa hari kemudian, sesudah kesehatan Ratu Iblis pulih kembali, pada suatu malam secara aneh pembantu itu pun tewas. Tentu saja yang membunuhnya adalah Ratu Iblis yang merasa khawatir kalau-kalau rahasianya terbongkar. Setelah dia menyelidiki di mana adanya anak yang ditukarkan itu, dia lalu membunuh si pembantu sehingga rahasia itu hanya diketahui oleh dirinya sendiri saja.

Demikian besarlah ‘aku’-nya Ratu Iblis yang selalu mementingkan diri sendiri saja. Demi menyelamatkan nyawa bayinya, dia tidak segan-segan untuk membunuh lain bayi secara kejam sekali! Akan tetapi, penyakit seperti yang mencengkeram batin Ratu Iblis ini pun agaknya diderita oleh kita semua pada umumnya.

Keakuan yang amat kuat selalu mencengkeram batin kita masing-masing sehingga demi kepentingan sang aku, kita tidak segan-segan melakukan apa saja, bila perlu merugikan orang lain. Kalau dengan mati-matian, dengan mempertaruhkan nyawa, orang membela negara, agama, keluarga, harta atau apa pun juga, maka yang dibela dan dipentingkan itu sesungguhnya adalah aku-nya.

Negara-Ku yang kubela, agama-Ku yang kubela, keluarga-Ku, harta-Ku dan selanjutnya. Bukan negara yang penting, bukan agamanya dan sebagainya, tetapi AKU-nya. Negara orang lain? Masa bodoh bila mau dijajah orang lain! Masa bodoh bila mau dihina, asal jangan agama-Ku. Demikian selanjutnya, yang menunjukkan bahwa semua itu hanyalah merupakan perluasan dari pada si aku belaka. Si aku yang penting. Milikku!

Demikian pula dengan Ratu Iblis itu. Dia melindungi bayi, bukan bayi pada umumnya, melainkan bayi-NYA, dengan cara membunuh bayi lain! Demikian pula terjadi di seluruh dunia. Untuk membela agama-NYA, orang rela menyerang agama lain. Untuk membela bangsa-NYA, orang rela membunuhi bangsa lain. Untuk membela keluarga-NYA, orang rela menghancurkan keluarga lain.


Akan tetapi, setelah isterinya melahirkan seorang anak perempuan yang lalu dibunuhnya sendiri, Raja Iblis menjadi semakin menggila. Dia ingin sekali mendapatkan keturunan, terutama seorang putera.

"Kalau kelak aku menjadi kaisar, lalu siapa yang akan menggantikan aku? Aku tidak rela kalau digantikan oleh orang lain!"

Maka mulailah dia mengambil selir-selir, bahkan Siang Hwa yang menjadi muridnya juga tidak terlepas dari gangguannya, dengan harapan agar dia dapat memperoleh keturunan, terutama keturunan laki-laki dari para selirnya itu. Akan tetapi, Ratu Iblis yang merasa betapa kedudukannya sebagai ‘permaisuri’ akan terancam jika ada selir yang melahirkan seorang anak laki-laki, diam-diam telah mengancam mereka agar mereka itu suka makan ramuan obat yang dibuatnya khusus untuk mencegah kehamilan, dengan ancaman akan membunuh mereka kalau tidak menurut.

Juga Siang Hwa diancam dan dipaksa minum obat itu. Sebagai balas jasa, juga sebagai penyimpan rahasia ini, Siang Hwa selalu dilindungi oleh Ratu Iblis, bahkan dilindungi dan diperbolehkan pula murid itu berbuat cabul dengan pria mana saja yang disukainya.

Seperti sudah kita ketahui, Siang Hwa gagal membujuk Lui Siong Tek, komandan kota Ceng-tek sehingga dia membunuh komandan itu dan melarikan dokumen penting tentang keadaan benteng Ceng-tek. Dia melarikan diri untuk menemui gurunya dan sementara itu tentara Ji-ciangkun yang dibantu oleh para tokoh sesat telah berhasil menguasai benteng San-hai-koan.

Siang Hwa melaporkan kejadian di kota Ceng-tek dan Raja Iblis girang mendengar bahwa komandan kota Ceng-tek yang setia terhadap pemerintah itu telah tewas. Siang Hwa lalu diberi tugas untuk melakukan penyelidikan mengenai berita bahwa para pendekar hendak mengadakan pertemuan di bekas benteng Jeng-hwa-pang.

Gadis yang cerdik ini lalu memasang banyak pembantunya untuk menjadi mata-mata, di antara mereka adalah enam orang yang membuka kedai arak itu. Dan ketika muncul Cia Sun dan Ci Kang yang lihai, hati Siang Hwa menjadi tertarik sekali. Dengan cepat gadis ini dapat menyelidiki siapa adanya dua orang muda yang tampan dan gagah perkasa itu.

Terkejutlah dia mendengar bahwa mereka itu adalah putera penghuni Lembah Naga dan putera mendiang Iblis Buta. Timbul niatnya untuk menaklukkan kedua orang pemuda itu agar suka menjadi pembantu-pembantu gurunya, dan terutama sekali tentu saja, menarik dua orang pemuda itu menjadi kekasihnya!

Maka diaturlah siasat yang sangat kejam, mengorbankan penghuni dusun yang dirampok dan dibunuh hanya untuk membuat dua orang itu mudah percaya kepadanya. Akhirnya ia pun berhasil menjebak Cia Sun dan Ci Kang sehingga dua orang muda itu terperangkap dan karena mereka berdua menolak bujuk rayu Siang Hwa, sekarang gadis itu mencari kesenangan dengan jalan menghukum dan menyiksa mereka berdua sampai mati.

Dia merasa yakin bahwa kedua orang pemuda itu sudah pasti akan menemui kematian bagaikan dua ekor tikus yang tenggelam karena dia tahu bahwa tidak mudah membuka batu-batu penutup lubang yang digerakkan dengan alat rahasia, dan tidak mungkin pula membobol dinding yang terbuat dari besi yang melapisi batu gunung!

Direbutnya San-hai-koan juga mengharuskan Raja dan Ratu Iblis, bersama murid mereka itu, untuk cepat-cepat memasuki San-hai-koan kemudian menyusun kekuatan di benteng pertama yang berhasil direbut itu. Oleh karena itu, yakin bahwa dua orang muda itu tentu akan tewas tenggelam dalam lubang yang dialiri air, kakek dan nenek itu bersama Siang Hwa lalu bergegas pergi meninggalkan istana kuno itu yang hanya disuruh jaga beberapa orang anak buah. Mereka pergi menuju ke San-hai-koan…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner