ASMARA BERDARAH : JILID-50


Sejenak Sui Cin terbelalak dan tak dapat bergerak saking kagetnya, akan tetapi ciuman-ciuman yang panas pada pipinya, bibirnya, lehernya, membuat dia tiba-tiba menjerit dan meronta untuk melepaskan dirinya. Akan tetapi pelukan Ci Kang itu kuat sekali sehingga terjadilah pergulatan. Karena keduanya menggunakan tenaga, maka terdengarlah suara.

“Brettt...!”

Kain baju bagian leher dan sebagian dada yang menutupi tubuh Sui Cin terobek! Melihat kulit leher dan dada bagian atas ini, Ci Kang seperti menjadi buas dan dia pun menciumi bagian itu seperti orang gila.

“Lepaskan...! Ah, lepaskan...!” Sui Cin meronta sekuat tenaga dan pada saat itu terdengar suara keras disusul jebolnya tirai serta papan di atas jendela ketika Hui Song menerjang masuk.

Sui Cin telah berhasil melepaskan dirinya dari pelukan Ci Kang lalu ia meloncat turun dari pembaringan dan menjauhi pemuda itu. Ci Kang sendiri terkejut mendengar suara gaduh itu dan dia pun meloncat turun kemudian berdiri dalam keadaan siap siaga.

Pada saat itu pula Hui Song meloncat sambil menyerbu ke arah Ci Kang, menggerakkan sebatang tongkat kayu yang disambarnya dari luar tadi dan menyerang Ci Kang. Tongkat kayu itu menghantam ke arah kepala Ci Kang dan terdengar suara Hui Song memaki.

“Jahanam busuk, kuhancurkan kepalamu!”

Melihat datangnya serangan potongan kayu sebesar lengan yang menyambar kepalanya dengan dahsyat itu, Ci Kang cepat-cepat melemparkan selimut yang masih menempel di tubuhnya, kemudian dia mengelak sambil melompat ke belakang.

Hui Song yang sudah marah sekali terus menerjang kembali dengan hebatnya. Ketika dia melihat Sui Cin merawat Ci Kang yang sakit, biar pun hatinya terasa panas, namun dia masih mampu mengendalikan dirinya. Namun ketika dia melihat Ci Kang tiba-tiba bangkit duduk dan merangkul Sui Cin, lalu menciumi gadis itu dan melihat Sui Cin meronta-ronta, darah di dalam tubuh Hui Song mendidih.

Dia menyambar sepotong kayu dari dekatnya dan menerjang ke dalam kamar, langsung saja menyerang Ci Kang tanpa bertanya-tanya lagi. Apalagi yang perlu ditanyakan kalau sudah jelas betapa Ci Kang berbuat kurang ajar terhadap Sui Cin dan gadis itu meronta dan menolak? Agaknya Ci Kang hendak memperkosa Sui Cin dan untuk perbuatan itu, Ci Kang harus dibunuhnya!

“Hyaatttttt...!”

Kembali tongkat itu meluncur dan menyambar ke arah kepala Ci Kang yang masih berdiri kaget dan bingung. Pemuda ini masih kebingungan karena semua peristiwa yang terjadi ini sungguh berada di luar kemampuannya untuk menguasainya. Tadi pun pada waktu dia merangkul dan menciumi Sui Cin, hal itu dilakukannya dengan keadaan perang di dalam batinnya, satu pihak didorong oleh nafsu birahi yang berkobar, tetapi di pihak lain batinnya menentang keras.

Ketika Hui Song muncul, dia merasa terkejut, malu dan bingung, tidak tahu harus berkata atau berbuat apa. Betapa pun juga, tenaganya sudah pulih kembali dan melihat sambaran tongkat, maklumlah dia bahwa Hui Song yang marah itu menyerangnya dengan sungguh-sungguh, dengan pengerahan tenaga sinkang dan dia tahu betapa bahayanya jika sampai kepalanya terkena hantaman kayu yang mengandung tenaga sinkang amat kuatnya itu.

“Ihhhhh...!” Ci Kang terpaksa menggerakkan lengan kanannya untuk menangkis, karena sungguh berbahaya sekali apa bila mengelak dari sambaran tongkat seperti itu di ruangan yang sempit ini.

“Dukkk...!” Keras sekali pertemuan antara tongkat dan lengan tangan itu.

Ci Kang merasa betapa lengannya tergetar hebat, akan tetapi tongkat kayu itu pun pecah berantakan! Hui Song membuang sisa tongkat itu yang tadi digunakan hanya karena dia sudah hampir lupa diri saking marahnya. Padahal menggunakan kedua tangannya malah lebih dahsyat dan lebih berbahaya dari pada tongkat yang mati itu.

Ci Kang yang merasa bahwa telah melakukan hal yang amat memalukan, merasa bahwa dia bersalah, tidak berniat melawan, dan dia bahkan merasa malu sekali kepada Sui Cin. Dilihatnya Sui Cin berdiri di sudut kamar itu dengan mata dan muka pucat, kedua tangan berusaha menyatukan lagi baju yang terobek.

Ci Kang merasa jantungnya bagai ditusuk melihat baju yang robek itu, suatu bukti bahwa hal tadi memang benar-benar sudah terjadi, bahwa dia tadi telah melakukan sesuatu yang sangat memalukan. Bahkan sekarang pun darahnya tersirap dan mukanya terasa panas melihat kecantikan Sui Cin. Dia tahu bahwa tidak ada gunanya menerangkan segalanya, tidak ada gunanya membela diri.

“Nona, maafkan aku...!” katanya dengan suara gemetar lantas tubuhnya melayang keluar dari dalam kamar itu.

“Jahanam busuk, hendak lari ke mana kau? Dosamu harus kau tebus dengan nyawamu!” Hui Song membentak dan melakukan pengejaran dengan loncatan jauh keluar dari dalam kamar itu.

Sui Cin yang semenjak tadi tercengang dan masih terpengaruh oleh peristiwa yang amat mengejutkan dan membingungkan hatinya itu, kini baru tersadar lantas dia pun turut pula meloncat dan melakukan pengejaran, tangan kirinya memegang dan merapatkan bagian baju yang terobek tadi.

Akan tetapi, pada waktu mereka tiba di luar, ternyata oleh mereka bahwa Ci Kang sudah tak nampak lagi bayangannya. Pemuda itu masih dalam keadaan bingung dan menyadari kesalahannya, agaknya tidak mau melayani mereka, bahkan merasa malu untuk bertemu muka dengan Sui Cin, maka dengan cepat sekali dia sudah melarikan diri menghilang ke dalam kegelapan malam yang mulai menyelimuti tempat itu.

“Jahanam, jangan lari kau!” Hui Song membentak dan mencari-cari, akan tetapi dia tidak tahu ke jurusan mana Ci Kang melarikan diri dan pada saat itu, terdengar suara ribut-ribut karena suara gaduh mereka tadi sudah menarik perhatian para penjaga dan kini banyak pengawal Bangsa Khin mulai berdatangan.

“Song-ko, mari kita pergi dari sini!” Sui Cin berkata. Dia telah mengikat baju yang robek dengan sapu tangan. “Tak perlu dicari lagi!”

Suara Sui Cin ini membuat jantung Hui Song berdebar keras saking girangnya. Sui Cin telah mengenalnya! Hal ini berarti bahwa gadis itu telah memperoleh kembali ingatannya! Akan tetapi di samping rasa girangnya, dia masih merasa terbakar oleh kemarahan.

“Tidak, aku harus mencarinya sampai dapat dan membunuhnya!” bentaknya marah.

Sui Cin mengerutkan alisnya. Dia sendiri tidak marah kepada Ci Kang, tapi hanya merasa heran. Tak biasanya Ci Kang bersikap seperti tadi. Dia tidak pernah memperlihatkan sikap kurang ajar, apa lagi berani melakukan hal seperti tadi. Bukankah dahulu Ci Kang bahkan pernah mati-matian menentang Sim Thian Bu ketika saudara seperguruannya itu hendak memperkosanya?

Akan tetapi, kenapa secara tiba-tiba saja Ci Kang melakukan hal itu? Dan sikap itu timbul sesudah pemuda itu makan nasi dengan akar obat. Mula-mula mukanya menjadi merah, juga matanya, lantas tubuhnya panas sekali. Apakah tidak ada apa-apa di balik itu? Kini, melihat Hui Song marah-marah dan hendak membunuh Ci Kang tanpa dipertimbangkan lebih dahulu persoalannya, dia pun merasa tidak senang.

"Kalau begitu kau carilah sendiri!" Dan Sui Cin lalu membalikkan tubuhnya dan melompat pergi.

"Cin-moi...!" Hui Song gelagapan melihat gadis itu melarikan diri dan dia cepat mengejar, takut kehilangan bayangan Sui Cin dalam kegelapan malam itu.

Sui Cin tidak menjawab malah terus melarikan diri. Mereka berkejaran dan meninggalkan perkemahan itu, melalui padang pasir yang halus dan sunyi. Bintang-bintang bertaburan di langit, merupakan kumpulan titik-titik terang yang membuat cuaca remang-remang, sejuk dan indah.

Akhirnya, di sebuah lapangan yang penuh batu-batu gunung, Sui Cin berhenti dan duduk. Hui Song menyusulnya, kemudian pemuda ini berdiri di hadapan gadis itu. Sampai lama mereka saling berpandangan tanpa berkata-kata, masing-masing mengatur pernapasan yang agak memburu karena berlari cepat tadi.

"Cin-moi... ahh, engkau telah sembuh dan mendapatkan ingatanmu kembali! Girang sekali hatiku. Dan jahanam itu! Siangkoan Ci Kang, sekali waktu aku akan membunuhnya! Akan tetapi kenapa engkau malah merawatnya, padahal bukankah siang tadi engkau pula yang merobohkannya? Engkau maju sebagai penunggang harimau itu, bukan? Cin-moi, kenapa engkau berada di daerah ini, bahkan lebih aneh lagi, mengapa engkau menjadi jagoan yang membantu nenek iblis itu?"

Dihujani pertanyaan bertubi-tubi itu, Sui Cin diam saja. Sesudah Hui Song selesai dengan pertanyaan-pertanyaannya, barulah dara ini menjawab, "Song-ko, ceritaku panjang sekali. Kuharap engkau yang lebih dahulu bercerita kepadaku sejak kita berpisah dan mengapa pula engkau dapat berkeliaran di tempat ini?"

Batin Sui Cin masih terguncang karena peristiwa dengan Ci Kang tadi, maka dia belum sempat memperoleh kembali kegembiraannya dan sekarang bersikap serius. Hal ini pun dipengaruhi oleh sikap Hui Song yang agaknya sangat membenci Ci Kang, padahal dia sendiri, walau pun sikap Ci Kang tadi amat mengejutkan dan membuatnya sangat marah, masih belum merasa bahwa dia membenci pemuda putera datuk sesat itu.

Melihat sikap serius gadis itu, Hui Song juga bersikap tenang dan dia pun mencari tempat duduk di depan Sui Cin. Sejenak mereka saling berpandangan lagi dan keduanya merasa seolah-olah mereka tak pernah berpisah, apa lagi saling berpisah hingga tiga tahun lebih.

"Aaihh, alangkah cepatnya waktu berkelebat," akhirnya Hui Song berkata. "Ingatkah kau bahwa kita telah saling berpisah selama tiga tahun lebih? Akan tetapi, ketika berhadapan denganmu seperti sekarang ini, aku merasa seolah-olah kita tidak pernah saling berpisah, atau baru kemarin saja."

Sui Cin mengangguk karena memang demikian pula perasaan hatinya. "Song-ko, terlebih dahulu ceritakanlah segala pengalamanmu. Aku ingin sekali tahu mengapa engkau dapat bekerja sama dengan murid Raja Iblis di Goa Iblis Neraka itu, dan bagaimana sekarang engkau tiba-tiba berada di daerah ini pula."

"Ceritaku juga panjang, akan tetapi baiklah akan kupersingkat saja. Tiga tahun lebih yang lalu, kita saling berpisah. Engkau diajak pergi oleh locianpwe Wu-yi Lo-jin, sedangkan aku pergi mengikuti Siang-kiang Lo-jin untuk mempelajari ilmu. Nah, selama tiga tahun itu aku belajar ilmu dari suhu Siang-kiang Lo-jin. Sesudah tiga tahun, suhu menyuruh aku untuk menghadiri pertemuan para pendekar di bekas benteng milik Jeng-hwa-pang sehubungan dengan tekad para pendekar untuk menentang gerakan yang dipimpin oleh Raja Iblis. Di dalam perjalanan itu aku bertemu dengan iblis betina itu. Dia menipuku, mengaku sebagai pejuang yang menentang Raja Iblis, karena itu aku membantunya mencari harta karun yang tersembunyi di dalam Goa Iblis Neraka itu. Akan tetapi harta itu lebih dahulu sudah diambil orang lain yang meninggalkan lencana Harimau Terbang di daerah utara. Dan aku terjebak, tentu telah tewas kalau tidak ada engkau yang muncul menolongku. Akan tetapi, engkau sendiri malah tertimpa bencana saat menolongku, kepalamu terluka oleh pukulan batu musuh sehingga engkau kehilangan ingatan, bahkan kemudian menyerangku. Nah, pertemuan yang hanya sebentar itu pun berakhir dan kita saling berpisah kembali. Aku lalu pergi menyelidiki ke utara dan aku sempat terlibat dalam pemberontakan yang terjadi di San-hai-koan." Hui Song lalu menceritakan pengalamannya dt kota benteng itu.

"Nah, karena tak mungkin lagi menyelamatkan San-hai-koan, aku pergi ke bekas benteng Jeng-hwa-pang, bertemu dengan suhu yang menyuruhku melakukan penyelidikan kepada para suku bangsa di sini. Aku bertemu dan berkenalan dengan Lam-nong, kepala suku Mancu Timur, lantas ikut bersama rombongannya ke tempat pertemuan para suku untuk memilih pimpinan. Aku ingin menyelidiki Yelu Kim yang kabarnya adalah ketua Harimau Terbang, menyelidiki tentang harta karun dan juga tentang pergerakan para suku di sini, kemudian aku melihat engkau! Melihat pula Ci Kang, jahanam busuk itu..."

"Sekarang dengarkanlah pengalamanku," Sui Cin memotong cepat ketika mendengar Hui Song mulai hendak memaki-maki Ci Kang lagi. "Seperti juga engkau, aku mengikuti suhu Wu-yi Lo-jin selama tiga tahun untuk menerima gemblengan ilmu. Lantas aku pun disuruh oleh suhu untuk pergi ke bekas benteng Jeng-hwa-pang. Di tengah jalan aku melihat kuil tempat tinggal murid Raja Iblis itu dan kaki tangannya. Aku merasa curiga dan menyelidiki mereka. Aku mendengar percakapan mereka tentang harta pusaka di Goa Iblis Neraka, maka aku melakukan penyelidikan ke situ. Aku lalu melihat engkau bersama iblis-iblis itu dan selanjutnya engkau tahu. Aku terluka, kehilangan ingatan. Dalam keadaan seperti itu, aku hampir celaka oleh Kiu-bwe Coa-li. Untung ada saudara Cia Sun yang menolongku. Akan tetapi, pada saat itu juga muncul nenek Yelu Kim yang lalu mengobati aku sampai sembuh sama sekali dari racun yang diberikan oleh Kiu-bwe Coa-li, juga sembuh sama sekali dari kehilangan ingatan. Karena budinya ini, aku lalu diangkat menjadi muridnya dan menjadi pembantunya. Aku berjanji membantunya memperoleh kedudukan pimpinan dalam pemilihan jago dan aku berhasil."

"Akan tetapi, kenapa setelah engkau merobohkan Ci Kang, engkau lalu..."

Sui Cin menggerakkan tangan dengan kesal. "Dengarkanlah dulu! Engkau tahu bahwa Ci Kang pernah menyelamatkan aku dan pertandingan antara kami itu bukan urusan pribadi. Dan aku telah merobohkannya dengan menggunakan jarum merah beracun. Aku merasa sangat menyesal karena kalau tidak kuobati, mungkin dia akan celaka. Aku akan merasa menyesal bukan main kalau sampai dia mati dalam pertandingan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pribadi kami itu. Maka aku lalu mengobatinya. Sungguh tidak kusangka sama sekali dia... dia akan melakukan hal itu..."

"Dasar orang jahat, anak seorang datuk sesat seperti Iblis Buta, mana bisa baik?"

"Aku tidak yakin, Song-ko, perbuatannya itu seperti tidak sewajarnya..."

"Ah, dia itu putera datuk sesat, tentu seorang yang jiwanya sudah kotor. Kalau dahulu dia menolongmu, bukan karena kebaikan hatinya, akan tetapi karena dia tidak ingin engkau diganggu orang lain itulah!"

"Sudahlah, Song-ko, aku tak mau membicarakan soal itu lagi. Anehnya, aku sendiri tidak mendendam atas peristiwa itu dan masih ragu-ragu, akan tetapi mengapa engkau malah ribut-ribut?"

"Kenapa tidak, Cin-moi? Melihat engkau hendak dipaksa, hatiku sudah terbakar dan tentu aku sudah menghancurkan kepalanya kalau saja dia tidak lari. Siapa yang tidak cemburu melihat itu...?"

"Cemburu...?"

"Cin-moi, masih haruskah kujelaskan lagi? Perlukah kuulangi lagi? Sui Cin, sejak dahulu sampai sekarang aku tetap mencintamu tetapi sampai saat ini pun engkau belum pernah memberi jawaban yang pasti. Sui Cin, aku cinta padamu dengan sepenuh jiwa ragaku dan aku hampir merasa yakin bahwa cintaku tidak bertepuk tangan sebelah, bahwa engkau pun cinta padaku. Cin-moi, jawablah..." Sekarang sikap Hui Song yang biasanya gembira jenaka itu berubah menjadi serius, bahkan di dalam suaranya terdengar nada memelas dan memohon.

Hingga lama sekali Sui Cin menatap wajah pemuda itu. Hatinya diliputi kebimbangan yang membuat dia bingung sehingga sejenak tidak mampu menjawab. Harus diakuinya bahwa dia merasa amat suka, mungkin mencinta kepada pemuda ini.

Hui Song adalah seorang pemuda yang gagah perkasa, budiman, dan mempunyai watak yang cocok dengannya, riang jenaka dan gembira. Akan tetapi, dia pun tahu bahwa ayah ibunya tidak suka kepada orang tua pemuda ini, dan dia pun belum tahu apakah orang tua pemuda ini, ketua Cin-ling-pai, suka pula kepada ayah bundanya. Apa lagi baik dia sendiri mau pun Hui Song adalah anak-anak tunggal!

"Cin-moi..."

"Song-ko, maafkan aku. Bagaimana mungkin kita bicara tentang hal itu kalau kita berdua masih sibuk dengan urusan perjuangan yang amat penting? Raja Iblis bersama sekutunya telah menduduki San-hai-koan, dan kekuatan mereka makin membahayakan keselamatan negara. Lebih baik kita selesaikan tugas-tugas kita lebih dulu. Setelah urusan ini selesai, barulah kita sempat berpikir tentang urusan pribadi. Kalau saatnya tiba, sudah sepatutnya kalau orang-orang tua kita yang berunding mengenai hal itu, bukan kita sendiri. Bukankah begitu, Song-ko?"

Wajah Hui Song berubah merah. Dia seperti menerima teguran sehingga merasa tidak enak sendiri. Orang-orang gagah sedunia sedang sibuk bersiap-siap menanggulangi para datuk yang hendak memberontak, dan dia sendiri ribut-ribut bicara tentang cinta!

"Ahh, maafkan aku, Cin-moi. Bukan maksudku hendak melupakan perjuangan, hanya aku ingin sekali tahu dan merasa pasti tentang cinta kita. Ahh… sudahlah, engkau benar. Biar nasib kita saja yang menentukan kelak. Kalau sudah selesai perjuangan, kita akan bicara lagi dan aku tentu akan minta orang tuaku pergi kepada orang tuamu untuk meminang. Nah, sekarang marilah kita bicara tentang perjuangan. Bagaimana pendapatmu tentang usaha kita untuk menentang Raja Iblis dan kaki tangannya?"

"Aku tidak tahu, Song-ko. Aku menjadi bingung setelah mendengar bahwa Raja Ibils dan para datuk sudah bergabung dengan pasukan pemberontak di San-hai-koan dan bahkan sudah menduduki kota benteng itu. Dengan demikian tentu tidak mungkin bagi kita untuk menentang pasukan besar secara begitu saja. Kurasa akan lebih besar hasilnya apa bila aku melanjutkan perjuangan di sini, membantu nenek Yelu Kim yang akan menggerakkan para suku utara untuk menghantam pasukan pemberontak. Dengan demikian berarti aku secara tidak langsung menentang kekuasaan Raja Iblis, melawan pasukan pemberontak dengan mengandalkan pasukan suku utara."

"Tetapi para kepala suku itu pun bermaksud memberontak dan menyerang ke selatan!" Hui Song berseru.

"Itu adalah soal nanti. Kini yang terpenting adalah menentang para pemberontak, bukan? Apa bila pemberontak sudah dapat dihancurkan dan kalau para suku utara masih hendak melanjutkan gerakan mereka menyerang ke selatan, masih belum terlambat bagiku untuk meninggalkan mereka. Dengan adanya gerakan dari para suku di utara yang menyerang mereka, disertai pasukan pemerintah yang menyerang dari selatan, berarti Raja Iblis dan sekutunya akan tergencet dari utara dan selatan."

Hui Song mengangguk-angguk. "Aku dapat melihat kebenaran pendapatmu tadi, Cin-moi. Baiklah, kini aku akan pergi menghadiri pertemuan para pendekar untuk melihat apa yang akan dibicarakan dan keputusan apa yang akan diambil."

"Song-ko, kalau bertemu dengan suhu, ceritakan keadaanku dan rencanaku menghadapi para pemberontak."

Mereka lalu berpisah. Sui Cin kembali ke perkemahan nenek Yelu Kim sedangkan Hui Song pergi menuju ke bekas benteng Jeng-hwa-pang. Betapa pun gembira hatinya telah dapat bertemu kembali dengan Sui Cin dan melihat gadis itu telah sehat kembali, namun ada sedikit kekecewaan di dalam hati Hui Song mendengar jawaban Sui Cin mengenai cintanya, jawaban yang sama sekali masih belum meyakinkan hatinya bahwa dara itu pun mencintanya.

Cinta asmara memang lebih banyak mendatangkan rasa kekecewaan dan sengsara di dalam hati. Asmara selalu menuntut balasan! Asmara selalu mengandung cemburu, dan asmara yang tidak dibalas merupakan sumber kekecewaan dan kedukaan.

Asmara adalah nafsu birahi yang menciptakan ikatan. Tapi asmara amat mengasyikkan, membuai batin setiap orang manusia sehingga manusia seperti dengan rela menentang semua kesengsaraan itu demi mencicipi madu asmara, walau pun sedikit.

Hal ini adalah manusiawi, karena semenjak lahir nafsu birahi terbawa oleh badan. Yang lebih penting adalah menyadarinya, mengenalnya sebagai satu di antara sifat-sifat badan sehingga kita tak sampai terseret dan menjadi hambanya, terikat kuat sehingga akhirnya menjadi permainan nafsu.


********************

Pemuda itu menangis seorang diri! Nampaknya amat lucu, akan tetapi juga mengharukan melihat seorang pemuda bertubuh tinggi besar, yang gagah perkasa seperti Siangkoan Ci Kang itu menangis!

Akan tetapi, tangis tak terlepas dari pada kehidupan setiap orang manusia, karena hidup ini memang merupakan tempat bagi tawa dan tangis untuk silih berganti mengisi batin manusia. Tangis merupakan alat pelepas semua ganjalan dalam batin, pelepas semua kedukaan dan kekecewaan. Orang yang tidak bisa menangis, yang tidak memiliki tangis sebagai pelepasan duka, tentu kesehatannya akan terganggu.

Siangkoan Ci Kang adalah seorang pemuda yang semenjak kecil hidup dalam lingkungan yang keras dan boleh dibilang tidak pernah mengenal tangis. Semenjak kecil hampir tidak pernah dia menangis. Segala derita batin diterimanya dengan gigitan bibir. Namun, hal itu bukan berarti dia tidak pernah menangis di dalam batinnya. Hanya karena kerasnya hati maka tangis tidak sampai tersalur keluar dari mulut.

Akan tetapi sekarang, menghadapi pengalaman yang bertubi-tubi yang amat menyakitkan hatinya, sesudah berada seorang diri di tempat yang sunyi itu, Ci Kang tidak kuasa lagi membendung air matanya lantas dia pun menangis tersedu-sedu sambil berlutut di atas tanah dan menutupi muka dengan kedua tangannya!

Dan begitu air matanya mengucur, bagaikan air yang sudah lama terbendung dan sudah terlalu penuh, tangisnya pun menjadi-jadi. Terbayanglah segala pengalaman yang sangat menyedihkan dan mengecewakan hatinya dan dia pun membiarkan semua rasa duka itu mengalir keluar melalui air matanya.

Tangis timbul dari perasaan-perasaan hati yang dilanda iba diri. Dan iba diri ini timbul dari kekecewaan dan kedukaan. Semua ini muncul dari pikiran yang mengenangkan masa lalu, mengenangkan semua pengalaman pahit, semua pengalaman yang mengecewakan dan tidak menyenangkan hati.

Pikiran mengunyah-ngunyah kembali semua hal busuk yang mengecewakan diri, dan hal ini kemudian menimbulkan rasa iba diri. Pikiran yang mengenang-ngenang hal-hal yang mengecewakan dan tidak menyenangkan itu seakan-akan berubah menjadi tangan yang mencengkeram dan meremas-remas hati sendiri hingga air mata pun bercucuran keluar. Jika sudah begitu, maka kesadaran akan kenyataan pun menjadi kabur dan pikiran yang menguasai perasaan itu pun membayangkan bahwa dirinya merupakan orang yang paling sengsara, paling menderita di dalam dunia ini.

Dengan demikian, maka nampaklah dengan jelas bahwa duka timbul akibat pikiran yang mengunyah-ngunyah semua pengalaman yang dianggap tak menyenangkan. Andai kata pikiran tidak mengenang-ngenang kembali semua yang telah terjadi itu, adakah duka?

Hal ini hanya dapat kita ketahui dengan mempelajari dan mengamati diri sendiri. Tidak akan ada duka kalau pikiran tidak mengunyah-ngunyah masa lalu, tidak akan ada rasa takut kalau pikiran tidak bermain-main dengan masa lalu dan masa depan.

Segala peristiwa yang terjadi di dunia ini tentu bersebab. Akan tetapi pikiran kita yang dipenuhi oleh kesibukan memikirkan masa lalu dan masa depan membuat kita sering kali tidak dapat melihat bahwa segala macam sebab dari pada peristiwa yang menimpa diri kita dapat dipisahkan dari sikap dan perbuatan kita sendiri sebelum peristiwa itu terjadi.

Mungkinkah bagi kita manusia-manusia lemah ini, membiarkan segala macam peristiwa yang menimpa kita lewat begitu saja tanpa meninggalkan bekas sehingga pikiran kita tak akan mengenang dan mengunyah-ngunyahnya lagi sebagai sesuatu yang menimbulkan duka dalam hati? Dapatkah seluruh perhatian kita tertuju kepada saat ini, saat demi saat, tanpa harus berpaling ke belakang, kepada masa lalu atau menjenguk ke depan, kepada masa yang akan datang?

Terikat kepada masa lalu adalah duka, terikat kepada masa depan menimbulkan takut. Hidup adalah saat ini sepenuhnya! Betapa indahnya, betapa bahagianya! Bukan berarti tak peduli, bukan berarti masa bodoh, melainkan justru waspada karena bukankah hidup adalah SEKARANG INI? Sekarang ini, saat demi saat, adalah hidup. Masa lalu sudah lewat, sudah mati. Masa depan hanya khayal, belum ada.


Ketika menangis amat sedihnya itu, pikiran Ci Kang penuh dengan kenangan-kenangan yang mengecewakan hatinya. Teringat dia akan semua nasibnya, sejak dia dimusuhi oleh ayahnya sendiri sehingga hampir saja dia dibunuh oleh ayahnya. Betapa senangnya dia menentang kejahatan yang dilakukan oleh ayahnya bersama teman-teman ayahnya, akan tetapi hal ini membuat dia dibenci oleh golongan sesat.

Kemudian, dalam usahanya menjadi orang baik, lalu menggabungkan diri dalam golongan pendekar, dia tidak dipercaya, bahkan dimusuhi oleh para pendekar, dianggap sebagai putera datuk sesat yang tentu jahat pula. Dan berita tentang kematian ayahnya di tangan Raja Iblis, sungguh pun dia merasa bangga bahwa pada saat terakhir hidupnya, ayahnya menentang raja datuk sesat itu, bahkan mengorbankan nyawanya, akan tetapi tetap saja kenangan akan ayah kandungnya yang tak pernah akrab dengannya itu menghancurkan perasaannya pula.

Kemudian sekali, pengalaman yang baru-baru ini dialami bersama Sui Cin! Dia tahu betul bahwa semenjak pertemuannya pertama dengan gadis pendekar itu, ketika dia menolong Sui Cin dari ancaman tangan kotor Sim Thian Bu, dia sudah merasa kagum dan tertarik sekali, bahkan dalam pertemuannya tadi, ketika dia diobati gadis itu, dia merasakan benar betapa sejak dahulu dia telah jatuh cinta kepada nona itu!

Dan teringatlah dia akan ulahnya terhadap Sui Cin. Gadis itu mengobatinya, merawatnya, menyuapkan nasi ke mulutnya! Bukan main kenyataan ini! Akan tetapi apa yang sudah dilakukannya tadi? Dia sudah membalas kebaikan hati gadis itu dengan perbuatan yang tak senonoh! Dia telah menghina gadis itu! Makin dibayangkan perbuatannya tadi, makin hancurlah hatinya dan dia merintih-rintih.

"Ya Tuhan... apa yang telah kulakukan tadi...?" Dia mengeluh dan menjatuhkan dirinya di atas tanah, rebah menelungkup sambil menangis!

Batin yang kemasukan satu di antara perasaan girang, susah, takut dan sebagainya akan kehilangan kepekaannya dan biar pun Ci Kang seorang pemuda terlatih yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi, namun dalam keadaan menangis dan tenggelam di dalam lautan kedukaan itu dia menjadi lengah. Sama sekali dia tidak tahu ketika ada bayangan orang berkelebat dengan gerakan yang amat cepat dan ringan.

Bayangan itu tahu-tahu telah berada dekat sekali dengan Ci Kang. Ketika sekali tangan kanannya bergerak, tubuh Ci Kang mengejang lalu lemas dan tidak mampu bergerak lagi, karena jalan darahnya telah tertotok secara amat lihai!

"Hi-hik-hik, akhirnya engkau jatuh juga ke tanganku, manusia sombong!" Bayangan yang ternyata seorang wanita itu tertawa mengejek, kemudian menggunakan kaki kirinya untuk membalikkan tubuh Ci Kang yang sudah lemas itu sehingga terlentang.

Ci Kang yang tiba-tiba saja merasa tubuhnya lemas dan lumpuh memandang wanita itu. Seorang wanita cantik, bajunya kembang-kembang, perawakannya ramping, pakaiannya sederhana dengan hiasan rambut setangkai kembang. Akan tetapi alis Ci Kang berkerut melihat wanita muda yang cantik ini karena dia mengenalnya sebagai seorang iblis betina yang amat lihai dan berbahaya, juga amat kejam. Gadis ini bukan lain adalah Gui Siang Hwa yang berjuluk Siang-tok Sian-li (Dewi Racun Wangi), murid Raja Iblis!

Tahulah Ci Kang bahwa dia sedang berada dalam ancaman bahaya maut. Iblis ini tentu tidak akan mau melepaskan dirinya, dan dia merasa heran mengapa totokan tadi bukan merupakan serangan maut, karena kalau hal itu dilakukan, tentu kini dia sudah tewas.

Kemudian teringat olehnya akan watak cabul wanita ini yang dulu pernah membujuk rayu padanya. Teringat akan ini, dia maklum bahwa tentu sekarang pun, sebelum membunuh dirinya, wanita cabul ini akan mengulangi lagi usaha dan bujuk rayunya. Dia merasa sebal dan merasa lebih baik mati saja, apa lagi hatinya sedang berduka seperti itu. Memang kematian lebih baik baginya, sebagai hukuman atas perbuatannya terhadap Sui Cin tadi.

"Iblis betina, engkau sudah merobohkan aku dengan curang seperti seorang pengecut. Nah, tidak perlu lagi engkau mengulangi perbuatanmu yang hina dan tak tahu malu, tidak perlu lagi engkau merayuku. Kalau engkau memang gagah, bebaskan aku kemudian kita bertanding sampai mati, atau kalau memang engkau seorang pengecut hina seperti yang kuduga, lekas bunuh saja aku!" katanya sambil memandang dengan mata melotot penuh tantangan.

Akan tetapi, Siang Hwa yang dimaki-maki itu hanya tersenyum mengejek, sama sekali tidak memperlihatkan sikap marah. Dengan lagak genit dia menggunakan telunjuk tangan kirinya mengelus dagu Ci Kang. "Ehm, tampan! Jangan dikira bahwa hanya engkau saja laki-laki tampan di dunia ini. Kalau engkau menolak melayaniku, masih ratusan orang pria tampan yang siap untuk menyenangkan hatiku. Dan tentang membunuhmu, tentu saja aku akan membunuhmu, akan tetapi jangan mengira engkau akan mati dengan nyaman. Hi-hik, tidak, tampan, karena engkau menyakitkan hatiku dengan penolakanmu, engkau akan mati perlahan-lahan dan dengan sengsara sekali. Aku akan menyayat-nyayat semua kulit badanmu sampai penuh darah, lantas kutinggalkan engkau di sini dalam keadaan seperti itu biar engkau dikeroyok semut dan dipatuk burung-burung sampai engkau mati dengan siksaan hebat. Nah, menarik sekali, bukan?"

Akan tetapi, sebaliknya Ci Kang juga tak nampak gentar sama sekali. Dia sudah bertekad untuk menghadapi kematian dengan tabah. "Perempuan iblis busuk, pengecut jahanam, tak perlu banyak mengeluarkan omongan busuk lagi, bunuhlah kalau mau bunuh, dengan cara apa pun juga, aku tidak takut mati!" Dan Ci Kang lalu memejamkan mata seperti orang yang merasa muak dan hendak tidur, tidak lagi mau mempedulikan gadis itu.

Sesungguhnya perbuatan ini dilakukan untuk menyembunyikan rasa sesal dan malunya. Dia memaki-maki wanita iblis ini sebagai wanita yang hina dan busuk, wanita yang cabul. Akan tetapi bagaimana dengan dia sendiri? Apa yang sudah dilakukannya terhadap Sui Cin hampir tidak ada bedanya dengan kecabulan yang dilakukan wanita ini. Memaksakan hasrat dan gejolak birahi kepada orang lain.

Gui Siang Hwa telah mengenal watak seorang pendekar muda seperti Ci Kang yang amat keras hati ini. Dia tahu bahwa percuma saja membujuk pemuda ini, baik untuk menjadi kekasihnya atau menjadi pembantu gurunya.

Dan orang yang tidak mau bekerja sama berarti musuh, apa lagi orang yang mempunyai kelihaian seperti pemuda ini. Sungguh bisa berbahaya sekali. Maka, jalan terbaik adalah membunuhnya!

Ia kemudian mencabut pedangnya dan siap untuk melaksanakan ancamannya tadi, yaitu merobek-robek kulit tubuh pemuda itu dan membiarkannya tergolek di situ dalam keadaan lumpuh dan penuh luka supaya dia mati perlahan-lahan kehabisan darah dan dikeroyok binatang-binatang kecil yang tentu akan tertarik oleh bau darah.

"Hi-hik, lebih dulu aku akan membikin putus otot-otot kaki tanganmu agar sesudah bebas dari totokan engkau tidak akan mampu bergerak lagi!" kata Gui Siang Hwa.

Pedangnya diangkat ke atas, lalu berkelebat ke arah lutut kiri Ci Kang.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner