ASMARA BERDARAH : JILID-51


Akan tetapi, tiba-tiba pedang itu berhenti di udara, tertahan oleh sesuatu yang amat kuat. Siang Hwa terkejut sekali dan cepat membalikkan tubuhnya. Ia melihat bahwa pedangnya itu telah terlibat oleh bulu-bulu panjang sebuah kebutan berwarna putih yang gagangnya dipegang oleh seorang gadis remaja yang berdiri sambil memandang kepadanya dengan sepasang mata berapi penuh teguran!

Gadis ini paling banyak delapan belas tahun usianya. Wajahnya agak pucat, akan tetapi sepasang mata yang jeli itu mengeluarkan sinar mencorong! Pakaiannya amat sederhana, rambutnya pun dibiarkan riap-riapan ke belakang.

"Engkau orang jahat!" Gadis ini menegur Siang Hwa dengan suara halus. "Engkau mau membunuh orang begitu saja, orang yang sudah tidak sanggup melawan sama sekali. Sungguh jahat!"

Akan tetapi Siang Hwa marah bukan main. Gadis muda ini cukup cantik dan mengingat bahwa Ci Kang selalu menolaknya, kemudian muncul gadis ini yang membela Ci Kang, mudah diduga bahwa gadis ini tentulah merupakan kekasih Ci Kang. Dia merasa betapa libatan bulu kebutan itu mengendur, maka ia pun lalu menarik pedangnya dan menghadapi gadis itu dengan senyum mengejek. Tentu saja dia memandang rendah gadis bertampang pucat seperti orang berpenyakitan ini.

"Hi-hik, engkau hendak menemaninya mampus? Baik, akan kukirim engkau lebih dulu ke neraka!" Berkata demikian, pedangnya menyambar ganas ke arah leher gadis itu.

Akan tetapi Siang Hwa kecelik kalau mengira bahwa pedangnya akan mudah merobohkan lawan hanya dengan sekali serang saja. Dia tadi mengeluarkan jurus yang penuh tipuan, pedangnya meluncur menusuk ke arah tenggorokan, akan tetapi sebenarnya pedang itu hanya menggertak saja karena secara tiba-tiba pedang yang meluncur itu berubah arah dan membacok ke bawah, ke arah perut!

Hebatnya, gadis bermuka pucat itu agaknya sudah mengenal gerak serangan ini, karena dia sama sekali tidak melindungi lehernya, melainkan menangkis ke depan dada dengan gagang kebutannya sehingga secara tepat sekali dia menggagalkan serangannya ke arah perut.

"Tranggg...!"

Dan Siang Hwa mundur dua langkah dengan kaget karena tangkisan gagang kebutan itu membuat lengannya tergetar, juga gerakan menangkis tadi amat dikenalnya.

Dengan penasaran Siang Hwa lantas menyerang lagi sambil memutar pedangnya dengan amat cepat. Dia menerima pelajaran ilmu pedang dari Raja dan Ratu Iblis, tentu saja ilmu pedangnya sangat ganas dan berbahaya. Pedangnya lenyap berubah menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar ganas ke arah lawan.

Akan tetapi, keheranan hati Siang Hwa semakin menjadi-jadi ketika lawannya itu mampu mengelak atau menangkis, menghindarkan semua serangannya dengan amat mudah dan seolah-olah semua gerakan serangannya itu telah diduga lebih dahulu. Dia terkejut bukan main saat lawannya membalas dengan serangan ujung kebutan sehingga terpaksa Siang Hwa harus mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua kepandaiannya untuk mempertahankan diri karena serangan balasan lawannya itu benar-benar sangat hebat. Ujung kebutan itu terus menyambar-nyambar dan setiap helai bulu kebutan seperti hidup, kadang-kadang berubah kaku seperti kawat-kawat baja tapi kadang-kadang lemas sekali dan dapat menyerang ke arah jalan darah.

Ci Kang tidak merasa heran melihat betapa dara muda yang baru saja datang ini mampu menandingi Siang Hwa. Begitu membuka matanya memandang, dia langsung mengenali gadis itu yang bukan lain adalah Toan Hui Cu, puteri Raja dan Ratu Iblis yang tinggal di dalam goa bawah tanah itu.

Kemunculan gadis muda yang membelanya ini menimbulkan harapan baginya bahwa dia akan tertolong dari ancaman maut, biar pun hal ini tidak mendatangkan kegirangan besar dalam hatinya. Pada saat itu, bagi Ci Kang mati dan hidup tiada bedanya, bahkan dia tak akan menyesal kalau tewas karena hal ini hanya akan membebaskan dirinya dari pada kedukaan dan penyesalan.

Perkelahian itu berlangsung dengan serunya dan lima puluh jurus telah berlalu. Kini tiada keraguan lagi di dalam hati Siang Hwa bahwa lawannya sudah mengenal semua gerakan silatnya, namun dia pun mengenal gerakan yang serupa dengan ilmu silat yang diajarkan kepadanya oleh suhu dan subo-nya.

Malang baginya, gerakan kebutan itu asing baginya sehingga baberapa kali dia kebobolan dan hampir saja celaka ketika ujung kebutan menyambar. Untung dia amat gesit sehingga hanya keserempet saja dan belum terkena serangan yang telak. Bagaimana pun juga hal ini mengecutkan hatinya, maka Siang Hwa mulai terdesak hebat oleh Hui Cu.

Untung bagi Siang Hwa, sejak kecil Hui Cu hidup menyendiri di dalam goa di bawah tanah sehingga dia berwatak bersih, belum terseret ke dalam lembah kekejaman dan kejahatan oleh kehidupan orang tuanya. Oleh karena itu, walau pun dia telah mempelajari ilmu-ilmu silat dari ibunya, bahkan menguasai ilmu kebutan yang merupakan ilmu rahasia dan yang hanya dipelajari olehnya sendiri, namun tiada sedikit pun keinginan di dalam hatinya untuk mencelakakan orang lain.

Perasaan inilah yang membuat dia menentang mati-matian ketika ibunya pernah hendak membunuh Cia Sun dan Ci Kang. Dan sekarang dia menentang Siang Hwa yang hendak membunuh Ci Kang.

"Hyaaaattt...!"

Tiba-tiba Hui Cu mengeluarkan bentakan aneh seperti sering dilatihnya ketika dia berlatih silat di dalam goa bawah tanah, dan ujung kebutannya membuat gulungan cahaya yang membuat pandangan mata Siang Hwa kabur. Sebelum Siang Hwa dapat menghindarkan dirinya baik-baik, pundak kirinya telah disambar ujung kebutan dan dia berteriak kesakitan lantas meloncat ke belakang. Pundaknya terasa nyeri bukan main dan kalau saja dia tidak melindungi dirinya dengan tenaga sinkang, tentu dia sudah roboh.

Dengan muka agak pucat Siang Hwa memandang gadis itu lalu telunjuknya menuding ke arah muka yang putih agak pucat itu. "Kau... dari mana engkau mencuri ilmu perguruan kami...!"

Yang ditanya hanya tersenyum saja dan wajahnya tak lagi nampak menyeramkan akibat kepucatan wajahnya, karena sesudah tersenyum, wajah itu menjadi manis sekali. "Aihhh, agaknya engkaulah murid ibuku. Engkau amat lihai dengan pedangmu itu, sayang engkau jahat, mau membunuh orang! Ibu pernah bercerita mengenai seorang muridnya bernama Gui Siang Hwa. Engkaukah itu?"

Gui Siang Hwa menjadi semakin terkejut. Puteri subo-nya? Belum pernah dia mendengar subo-nya mempunyai seorang puteri. Memang subo-nya pernah melahirkan seorang anak perempuan akan tetapi anak itu telah mati!

"Kau... kau... puteri subo...?" Ia memandang terbelalak seperti melihat setan. Mungkinkah anak yang mati dapat hidup kembali?

Tiba-tiba Hui Cu teringat akan pesan ibunya agar tidak memperkenalkan diri kepada siapa pun juga, maka dia pun berkata dengan tak sabar lagi, "Sudahlah, engkau cepat pergi dari sini dan jangan mengganggu orang lain. Pergilah!" Dia melangkah maju dan mengancam dengan kebutannya untuk mengusir Siang Hwa.

Pada saat itu pula ada angin menyambar kuat, lantas tiba-tiba muncullah seorang nenek berpakaian putih dengan rambut putih riap-riapan dan wajah pucat kehijauan. Ci Kang mengenal nenek ini sebagai Ratu Iblis dan diam-diam dia pun merasa menyesal mengapa dia masih dalam keadaan tertotok. Kalau tidak, ingin dia melawan Ratu Iblis ini dengan muridnya yang jahat.

"Hui Cu, apa yang sedang kau lakukan ini?" bentak nenek itu kepada puterinya dan ketika dia melihat Siang Hwa, wajah nenek itu lalu berubah, alisnya berkerut dan sinar matanya mencorong. "Siang Hwa, apa yang kau kerjakan di sini?"

Nenek ini sejenak merasa bingung dan kaget melihat betapa anaknya yang kehadirannya dirahasiakan itu ternyata telah bentrok dengan muridnya dan jika hal ini sampai ketahuan oleh suaminya tentu akan terjadi kegegeran. Suaminya tentu akan menuntut agar Hui Cu dibunuh mati atau diberikan kepadanya untuk menjadi selirnya!

"Subo, teecu berhasil merobohkan Siangkoan Ci Kang dan hendak membunuhnya, akan tetapi lalu muncul... ehhh, adik ini yang menentang teecu," kata Siang Hwa membela diri karena dia tahu bahwa subo-nya sedang marah sekali.

Nenek itu membalikkan tubuhnya memandang pada tubuh Ci Kang, lalu kepada puterinya dengan sikap marah. Sebelum dia mengeluarkan kata-kata, Hui Cu sudah meloncat dan sekali berkelebat, tubuhnya sudah tiba di dekat Ci Kang dan dia bersikap melindungi.

"Ibu, kenapa engkau dan juga muridmu itu berkeras hendak membunuh orang yang tidak bersalah?"

"Hui Cu, pergilah dan biarkan Siang Hwa membunuhnya!" bentak Ratu Iblis.

"Tidak! Siapa pun tak boleh membunuhnya! Aku akan menentang siapa saja yang hendak membunuhnya!" berkata Hui Cu dengan sikap gagah lalu dia melintangkan kebutannya di depan dada. "Siang Hwa, kalau engkau berkeras hendak membunuhnya, aku yang akan lebih dulu merobohkanmu. Kalau engkau jahat, aku pun terpaksa akan tega melukaimu!"

Tentu saja Siang Hwa tidak berani sembarangan bergerak. Dia sudah tahu akan kelihaian gadis itu, apa lagi setelah kini tahu bahwa gadis itu ternyata adalah puteri subo-nya. Mana dia berani menyerang atau menentangnya?

"Kalau aku yang membunuhnya?" bentak pula nenek itu.

"Aku tetap akan melindunginya dan agaknya ibu harus membunuh aku lebih dulu sebelum dapat membunuhnya!"

Nenek itu nampak terkejut dan sepasang matanya yang mencorong itu terbelalak. "Apa?! Kau... kau cinta pemuda itu?"

"Aku tidak tahu apa maksudmu, ibu. Aku tidak tahu apa artinya cinta, akan tetapi aku suka kepadanya karena dia orang yang baik dan aku tidak suka melihat dia dibunuh. Aku akan menentang setiap pembunuhan tanpa sebab."

Melihat kenekatan puterinya, nenek itu sejenak nampak bingung dan kehabisan akal. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Akan tetapi baginya, mati hidupnya seorang pemuda seperti Siangkoan Ci Kang tidaklah begitu penting. Yang merupakan urusan besar adalah pertemuan antara anaknya dengan Siang Hwa. Maka dia menoleh ke arah Siang Hwa dan berkata dengan suara penuh mengandung ancaman,

"Siang Hwa, berjanjilah untuk menutup mulutmu dan tidak bicara kepada siapa pun juga tentang Hui Cu, terutama sekali kepada suhu-mu. Kalau hal ini sampai bocor, engkaulah satu-satunya orang yang tahu maka engkau akan kubunuh!"

Mendengar suara subo-nya dan melihat sikap yang mengancam itu, Siang Hwa menjadi pucat dan dia pun mengangguk sambil berkata lirih, "Baik subo... teecu berjanji tak akan bicara dengan siapa juga mengenai... sumoi."

"Nah, Hui Cu, Siang Hwa, mari kita pergi!" kata pula nenek itu.

Hui Cu memandang kepada Ci Kang, dan kemudian dengan ragu-ragu kepada ibunya. "Ibu... dan... suci sungguh tidak akan membunuh dia?"

"Tidak, mari kita pergi," kata pula nenek itu mendesak.

"Pergilah dahulu, ibu dan suci, nanti aku menyusul," kata pula Hui Cu yang masih belum percaya benar bahwa ibunya dan suci-nya itu benar-benar akan membebaskan Ci Kang dan tidak mengganggunya.

"Mau apa kau?!" ibunya membentak.

"Aku mau bercakap-cakap dulu sebentar dengan dia," jawab gadis itu menunjuk kepada Ci Kang.

Nenek itu mendengus marah, akan tetapi dia segera meninggalkan tempat itu. Siang Hwa tersenyum mengejek.

"Sumoi yang manis, agaknya engkau sudah tergila-gila kepada pemuda ini, ya? Memang dia tampan dan gagah, akan tetapi hati-hatilah, dia jahat dan curang tak dapat dipercaya. Jangan-jangan engkau akan celaka olehnya. Bila engkau ingin agar dia dapat melayanimu sepuas hatimu, engkau berilah dia minum ini." Wanita itu lalu mengeluarkan sebungkus bubukan merah dan memberikannya kepada Hui Cu.

Akan tetapi Hui Cu menolak, menggelengkan kepala dengan alis berkerut. "Aku tidak tahu apa yang kau maksudkan, akan tetapi dia tidak jahat dan curang seperti engkau. Pergilah cepat!" bentaknya marah.

Gui Siang Hwa hendak menjawab, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara melengking lirih dan ini adalah tanda panggilan dari subo-nya. Maka, sambil tersenyum mengejek Siang Hwa mengangkat pundak dan pergi meninggalkan sumoi-nya.

Hui Cu berjongkok dan melihat betapa pemuda itu tak mampu bergerak karena totokan, ia cepat menepuk lalu mengurut punggung dan kedua pundak Ci Kang. Akhirnya berhasillah dia membebaskan pemuda itu dari pengaruh totokan dan Ci Kang segera bangkit duduk sambil mengatur pernapasan.

"Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh suci tadi." Hui Cu mengomel sambil duduk di depan Ci Kang.

Pemuda ini menatap wajah yang manis itu dan merasa kagum. Gadis ini sungguh masih bersih dan polos, batinnya belum tercemar oleh kekotoran yang mengelilingi keluarganya.

"Suci-mu itu jahat sekali, Hui Cu. Dan kalau tadi aku tidak tertotok, tentu akan kuserang dan kurobohkan suci-mu itu."

Gadis itu memandang dengan alis berkerut, agaknya bingung dan tak mengerti. "Kenapa akan kau lakukan hal itu?"

"Karena dia jahat dan berbahaya bagi orang lain, dan ibumu juga."

"Engkau akan menyerang dan membunuh ibuku pula?"

"Kalau mungkin, biar pun ibumu lihai sekali. Mereka itu jahat bukan main, mereka adalah datuk-datuk sesat, bahkan ibumu dijuluki Ratu Iblis. Mereka semua hanya menyebarkan perbuatan jahat dan kejam dan merupakan ancaman bagi keselamatan orang-orang lain yang tidak berdosa dan mengotorkan bumi."

"Engkau... benci kepada mereka?"

Mendengar pertanyaan ini, Ci Kang termenung sambil mengamati batinnya sendiri. Tidak, dia tidak benci siapa pun. Apa yang diajarkan oleh Ciu-sian Lo-kai tentang cinta, benci dan dendam sudah mendalam di dalam batinnya dan dia tidak merasa membenci siapa pun juga. Akan tetapi dia merasa harus menentang orang-orang semacam Ratu Iblis dan Siang Hwa karena mereka itu jahat dan berbahaya bagi manusia pada umumnya, seperti juga dia menentang ayahnya sendiri yang sama sekali tidak dibencinya.

"Tidak, Hui Cu. Aku tak membenci mereka, akan tetapi yang kutentang adalah kejahatan mereka demi menyelamatkan orang-orang dari ancaman kejahatan mereka."

Gadis itu menggeleng-geleng kepala. "Aku menjadi bingung dan tidak mengerti, Ci Kang. Akan tetapi, tadi aku melihat engkau seorang diri menangis demikian sedihnya. Kemudian muncul suci yang menotokmu dengan curang. Ci Kang, kenapa engkau menangis begitu menyedihkan? Apakah yang menyusahkan hatimu?"

Ci Kang merasa terharu sekali. Terhadap seorang gadis yang sejujur dan sebersih ini, dia merasa mendapatkan seorang sahabat sehingga dia tidak perlu merasa malu atau harus menyembunyikan rahasia hatinya. Bahkan Hui Cu dapat merupakan satu-satunya orang kepada siapa dia boleh mencurahkan semua kepedihan hatinya saat itu.

"Hui Cu, aku memang berduka sekali karena aku mencinta seorang gadis tetapi tidak ada harapan bagiku untuk berjodoh dengannya."

Gadis itu mengerutkan alisnya seperti hendak mengerahkan otaknya untuk menangkap arti ucapan Ci Kang. "Engkau cinta padanya? Apakah cinta itu?"

Ci Kang tersenyum. Tidak mengherankan kalau gadis ini demikian hijau, karena semenjak kecil selalu berada seorang diri saja di dalam goa bawah tanah.

"Cinta adalah perasaan seorang pria terhadap wanita, Hui Cu, dan orang yang mencinta mengharapkan untuk bisa hidup bersama dengan wanita yang dicintanya. Aku jatuh cinta kepada seorang gadis akan tetapi tidak ada harapan bagiku untuk dapat berjodoh dan hidup bersamanya."

"Kenapa, Ci Kang? Engkau seorang pemuda yang gagah perkasa dan baik. Apakah dia tidak suka kepadamu?"

"Aku tidak tahu..." Dia lantas teringat betapa Sui Cin menyuapkan makanan ke mulutnya, betapa gadis itu mengobati dan merawatnya. "Mungkin dia suka padaku... akan tetapi aku sudah melakukan kesalahan besar terhadap dirinya... dan pula, dia adalah puteri seorang pendekar besar, sedangkan aku..."

"Engkau kenapa?"

"Aku sebaliknya adalah anak seorang datuk sesat yang amat jahat!" kata Ci Kang dengan gemas dan suaranya mengandung penuh penyesalan.

Ucapan ini amat menarik hati Hui Cu. Gadis itu memegang lengan Ci Kang dan menatap tajam wajah pemuda itu. "Apa? Orang tuamu itu jahat? Sejahat... orang tuaku?"

Ci Kang mengangguk. "Ayah dan ibumu berjuluk Raja dan Ratu Iblis dan kini menjadi raja para datuk sesat. Sebelum itu, yang menjadi raja datuk-datuk sesat adalah ayahku yang berjuluk Iblis Buta."

"Ahh... kenapa mereka itu jahat? Aku tidak suka perbuatan jahat, dan engkau pun tidak suka. Kenapa mereka begitu, Ci Kang?"

Pertanyaan yang sederhana ini tidak mampu terjawab oleh Ci Kang. "Aku tidak tahu, Hui Cu. Akan tetapi aku girang bahwa engkau tidak suka kejahatan seperti mereka. Kita ini senasib, sama-sama menjadi anak orang-orang jahat. Dan ayahku kini telah tiada..."

"Akan tetapi kalau dia buta, berarti tidak dapat melihat, kenapa jahat? Dan dia tentu lihai sekali, karena engkau pun amat lihai."

"Dia lihai, akan tetapi masih kalah oleh ayah ibumu. Ayahku tewas di tangan ibumu."

"Ihhhh...! Dan kau... kau adalah puteranya, karena itu engkau membenci ibu dan hendak membalas..."

"Tidak! Engkau keliru, Hui Cu. Kalau aku menentang ibumu, itu hanya karena ibumu jahat. Ayahku mati karena akibat perbuatannya sendiri, akibat kejahatannya sendiri. Aku tidak mendendam kepada siapa pun juga."

Gadis itu terdiam. "Aku bingung dan tidak mengerti mengenai semua ini, Ci Kang. Akan tetapi, mendengar bahwa engkau pun anak seorang datuk sesat seperti aku, aku semakin suka padamu. Ehh, Ci Kang, di manakah kawanmu itu?"

"Kawanku? Kau maksudkan Cia Sun?"

"Benar! Cia Sun, yang bersamamu masuk ke dalam goa bawah tanah itu. Di manakah dia sekarang dan mengapa tidak bersamamu? Aku ingin sekali bertemu dan bicara dengan dia."

Mendengar kegairahan dalam suara gadis itu, Ci Kang menatap wajahnya dengan penuh selidik. Akan tetapi wajah dan pandangan mata yang berseri itu tidak berubah dan tetap polos terbuka.

"Hui Cu, kau... kau cinta pada Cia Sun?"

"Cinta? Ahh, kau tadi bilang bahwa cinta berarti ingin selamanya hidup bersama orang yang dicinta. Aku tidak tahu, apakah aku ingin hidup selamanya dengan Cia Sun, akan tetapi, aku suka sekali kepadanya dan semenjak bertemu dengannya, aku selalu teringat kepadanya."

"Hemm, kalau tidur engkau sering kali mimpi bertemu dengannya?"

"Benar..."

"Kalau engkau sedang duduk seorang diri, wajahnya sering terbayang olehmu, suaranya seperti kau dengar kembali, setiap gerak-geriknya amat menyenangkan hatimu?"

"Wah, benar! Benar sekali! Ehh, bagaimana engkau bisa tahu?"

Ci Kang tersenyum pahit. Tentu saja dia tahu benar, karena seperti itulah keadaan dan perasaannya terhadap Sui Cin selama ini! Puteri Raja dan Ratu Iblis ini sudah jatuh cinta kepada Cia Sun! Kenyataan ini membuat hatinya semakin pedih.

Dia, putera datuk sesat jatuh cinta kepada puteri Pendekar Sadis yang terkenal. Dan kini, puteri Raja Iblis yang sangat jahat itu jatuh cinta kepada putera ketua Pek-liong-pang dari Lembah Naga yang juga terkenal sebagai seorang pendekar sakti yang dihormati orang! Mana mungkin terjadi?

"Ci Kang, kenapa engkau bengong saja? Kau belum menjawab pertanyaanku, bagaimana engkau dapat mengetahui apa yang kualami selama ini, dan di mana pula adanya Cia Sun?"

"Hui Cu, aku tahu apa yang kau alami karena aku sendiri pun mengalami hal yang sama terhadap bayangan gadis yang kucinta. Dan Cia Sun... ah, engkau belum tahu siapa dia. Dia bukan orang sembarangan saja, dia adalah putera dari pendekar besar Cia Han Tiong, ketua Pek-liong-pang di Lembah Naga."

"Lembah Naga? Aku pernah mendengar nama tempat itu dari ibu, tidak begitu jauh dari sini! Jadi dia berada di sana?"

"Entahlah, kukira begitu."

"Kalau begitu, aku akan pergi mencarinya! Aku akan mencari Cia Sun, aku tidak senang tinggal bersama ibuku!" Gadis itu bangkit berdiri.

"Nanti dulu, Hui Cu!" Ci Kang juga melompat dan memegang lengan gadis itu.

"Kenapa kau menahanku? Ada apa?"

Ci Kang merasa kasihan terhadap gadis ini dan tidak ingin melihat gadis ini mengalami patah hati dan penghinaan di Lembah Naga. "Dengarkan dahulu baik-baik. Ingat bahwa engkau adalah puteri Raja dan Ratu Iblis, sedangkan Cia Sun adalah putera pendekar..."

Dia tidak melanjutkan kata-katanya karena pada saat itu menyambar angin dahsyat sekali dan tahu-tahu di situ muncul seorang kakek yang rambutnya riap-riapan putih, pakaiannya juga serba putih dan sepasang matanya mencorong mengerikan, ada pun mukanya pucat kehijauan. Melihat kakek ini, terkejutlah Ci Kang karena dia mengenal kakek ini sebagai Raja Iblis sendiri!

"Aku mendengar tadi ada puteri Raja dan Ratu Iblis. Siapa puteri itu?" terdengar suara kakek aneh itu, suaranya seperti terdengar dari lain tempat yang jauh, dan bibirnya tidak nampak bergerak.

Hui Cu yang juga kaget melihat munculnya seorang kakek aneh, kini memandang kakek itu dengan mata terbelalak. "Engkau kakek aneh dan lucu, bicara tanpa menggerakkan bibir! Akulah puteri Raja dan Ratu Iblis!"

Ci Kang terkejut sekali dan tidak sempat menahan gadis itu mengeluarkan kata-kata yang demikian beraninya. Berhadapan dengan iblis ini tak perlu banyak cakap, pikirnya, karena tak mungkin iblis itu akan mau melepasnya seperti yang dilakukan oleh Ratu Iblis karena bujukan puterinya tadi.

Maka tanpa banyak cakap lagi dia pun cepat menerjang maju dengan pukulan tangannya yang ampuh. Karena dia maklum bahwa lawannya ini amat sakti, maka begitu menerjang dia langsung mengerahkan seluruh tenaga sinkang-nya kemudian mengirim pukulan yang mengandung tenaga dahsyat.

"Wuuuttt...! Dukkk...!"

Tubuh Ci Kang terjengkang ke belakang dan dia tentu akan terbanting keras kalau saja dia tidak cepat berjungkir balik dan berloncatan ke belakang. Dia dapat berdiri lagi dengan tegak dan merasa betapa lengan kanannya yang tertangkis oleh lengan kakek itu terasa nyeri dan panas.

"Jangan pukul kawanku!" Hui Cu membentak dan dia pun langsung menyerang kakek itu dengan kebutannya. Dia marah melihat betapa Ci Kang terjengkang dan hampir roboh.

Kakek itu mengeluarkan suara menggereng aneh dan begitu jari-jari tangannya bergerak, bulu kebutan itu berhenti dan menempel di telapak tangannya, sedangkan tangan kirinya diulur untuk mencengkeram ubun-ubun kepala Hui Cu. Jelas bahwa dia bermaksud akan membunuh puterinya itu dengan sekali serangan.

"Iblis keji! Kau hendak membunuh anakmu sendiri?" Ci Kang membentak, lantas dengan nekat dia menerjang dari samping, memukul ke arah tengkuk kakek itu dan tangan kirinya menangkis tangan kakek yang mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala Hui Cu.

"Dukk! Dukkk!"

Kembali lengan mereka beradu dan Ci Kang terjengkang, akan tetapi Hui Cu selamat dan dapat menarik kembali kebutannya. Gadis ini memandang kakek itu dengan kedua mata terbelalak ketika dia mendengar bentakan Ci Kang tadi.

"Apa?! Dia... dia ini ayahku?" teriaknya.

"Benar, dia adalah Raja Iblis atau Pangeran Toan Jit Ong, ayah kandungmu. Pangeran Toan Jit Ong, gadis ini adalah Toan Hui Cu, puterimu sendiri. Jangan ganggu dia, akulah lawanmu dan mari kita bertanding sampai mati!" Ci Kang menantang dengan sikap gagah dan dia sudah memasang kuda-kuda dan siap untuk berkelahi mati-matian melawan raja kaum sesat ini.

Akan tetapi kakek itu tidak menjawab, bahkan tidak memperhatikan dia. Sepasang mata yang mencorong itu ditujukan kepada Hui Cu, mengamatinya dari pucuk rambut sampai ke kaki.

"Ia harus mati, tapi sayang, dia gagah dan cantik. Engkau harus melahirkan anak laki-laki dariku!"

Dan tiba-tiba kakek itu mengeluarkan suara melengking nyaring dan tangannya sudah meluncur ke depan. Lengan itu dapat mulur panjang dan tangan itu hendak menangkap pinggang Hui Cu. Gadis ini terkejut dan menjerit, kebutannya digerakkan menotok ke arah pergelangan tangan lawan.

"Tukkk!"

Bagaimana pun saktinya, Raja Iblis itu terkejut karena pergelangan tangan yang tertotok ujung kebutan itu seperti dipatuk ular sehingga terasa kesemutan. Mengertilah dia bahwa isterinya telah melatih anak ini dan mungkin anak ini telah mewarisi ilmu kebutan rahasia dari mendiang gurunya yang belum sempat dipelajarinya, dan ilmu kebutan ini lebih lihai dari pada ilmu menggunakan rambut dari isterinya. Maka terpaksa dia menarik kembali lengannya.

"Iblis keji!" Ci Kang menyerangnya dari samping dengan totokan ke arah lambung kiri Raja Iblis.

Totokan ini amat hebat dan saking cepatnya, tidak dapat ditangkis lagi sehingga terpaksa pula Raja Iblis itu menggerakkan tubuh ke belakang untuk mengelak. Diam-diam dia pun terkejut. Pemuda ini cukup lihai, mungkin lebih lihai dari pada semua pembantunya. Dan anak perempuan itu pun memiliki ilmu kebutan yang hebat.

Tiba-tiba dia melompat ke belakang dan mengangkat kedua tangan. Kakek ini memang memiliki wibawa yang kuat karena dua orang muda itu segera berhenti dan memandang.

"Siapa namamu?" tanyanya kepada Ci Kang.

"Aku Siangkoan Ci Kang," jawab pemuda itu dengan tabah.

"Bagus! Kau putera Siangkoan Lo-jin?"

"Benar!"

"Hemm, kau datang untuk membalas kematian ayahmu?"

"Tidak, aku datang untuk menentang kejahatanmu!"

"Siangkoan Ci Kang, apakah engkau cinta kepada puteriku ini? Engkau jadilah suaminya dan kalian menjadi pembantu-pembantuku yang setia. Bagaimana?"

Sungguh luar biasa sekali watak iblis ini! Baru saja menyerang dan hendak membunuh, sekarang tiba-tiba menawarkan hal yang sebaliknya. Ini menunjukkan betapa cerdiknya Raja Iblis. Dia segera dapat mengubah pendirian begitu melihat segi keuntungannya.

"Persetan dengan engkau!" bentak Ci Kang.

Usul Raja Iblis itu tentang perjodohannya dengan Hui Cu tentu saja bukan merupakan hal yang buruk, akan tetapi menjadi pembantu iblis itu benar-benar merupakan tawaran yang dianggapnya amat menghina. "Lebih baik mati dari pada menjadi antekmu!"

Dan pemuda itu sudah menyerang lagi. Raja Iblis mengelak dengan mudah lantas balas menendang dengan kecepatan kilat. Akan tetapi Ci Kang juga dapat menghindarkan diri dan langsung menyerang kembali dengan bertubi-tubi.

"Kalau begitu engkau akan mampus dan ia menjadi isteriku!" Raja Iblis berloncatan sambil berkata demikian, kemudian membalas.

Terjadilah serang-menyerang dengan hebat dan lewat beberapa jurus, kembali tangannya yang ampuh itu ketika ditangkis Ci Kang membuat pemuda itu terhuyung ke belakang.

"Mampuslah!" Raja Iblis meloncat dan mengirim pukulan susulan terhadap pemuda yang sedang terhuyung itu.

Akan tetapi Hui Cu menerjang dari samping dengan kebutannya yang menyambar dan beruntun mematuk ke arah jalan darah di pelipis, leher serta pundak! Terpaksa Raja Iblis mengurungkan pukulannya terhadap Ci Kang dan mengelak dari sambaran ujung kebutan yang cukup lihai itu. Kesempatan ini cepat dipergunakan oleh Ci Kang untuk memperbaiki kedudukannya, lalu dia pun membantu Hui Cu menyerang lagi.

Raja Iblis menjadi marah sekali. Selama ini hampir tidak pernah ada orang yang berani menentangnya, namun kini, seorang pemuda, hanya putera mendiang Iblis Buta, berani menentangnya. Dan yang lebih menggemaskan lagi anak perempuan itu, anaknya sendiri, membantu si pemuda!

Ia mengeluarkan suara lengkingan nyaring berkali-kali dan kedua tangannya kini bergerak dengan dorongan-dorongan yang mengeluarkan hawa panas dan menerbitkan angin kuat. Nampak uap putih setiap kali dia mendorongkan kedua tangannya.

Dan dua orang muda itu pun segera terdesak hebat. Hanya dengan pengerahkan sinkang sekuatnya saja keduanya tak sampai terlempar oleh hawa dorongan yang begitu kuatnya. Walau pun demikian, Ci Kang maklum bahwa tidak lama lagi dia dan Hui Cu tentu akan roboh. Raja Iblis ini sungguh memiliki ilmu kepandaian yang amat dahsyat.

Karena merasa bahwa tenaga sinkang-nya masih kalah jauh dibandingkan kakek itu, Ci Kang segera teringat akan ilmu yang diajarkan oleh Ciu-sian Lo-kai kepadanya, yaitu ilmu silat menggunakan tongkat atau benda apa saja yang berbentuk tongkat. Dia melompat ke kiri dan menyambar patah sebatang cabang pohon yang besarnya selengan, kemudian dia pun menggunakan senjata ini.

Ilmu tongkat bambu merupakan satu di antara ilmu-ilmu yang ampuh dari Ciu-sian Lo-kai. Karena itu, begitu Ci Kang mainkan tongkat ini, dia dapat menggempur desakan-desakan lawan dan dibantu oleh Hui Cu, kini dia mampu membalas, bekerja sama dengan kebutan gadis itu yang juga ampuh sekali.

Menghadapi keadaan yang berbalik ini, Raja Iblis menjadi semakin marah dan mendadak dia pun mengeluarkan gerengan keras dan ketika kedua tangannya bergerak menyilang menyambut tongkat di tangan Ci Kang, terdengarlah suara keras. Tongkat itu hancur dan tubuh Ci Kang terjengkang!

Dengan mengeluarkan suara gerengan seperti tertawa, kakek itu cepat menubruk ke arah Ci Kang yang masih terlentang. Pemuda ini menyambutnya dengan satu tendangan, akan tetapi kakek itu berhasil menangkis tendangan ini dan segera menjatuhkan diri berlutut, kedua tangannya dihunjamkan dengan jari-jari terbuka ke arah kepala Ci Kang.

Pemuda ini merasa betapa ada hawa pukulan dahsyat menyambar, maka maklumlah dia bahwa dia sedang terancam maut karena sekali jari-jari tangan itu mengenai kepalanya, tentu kepalanya akan hancur berantakan. Jalan satu-satunya baginya hanya menangkis. Dia mengangkat kedua tangannya dan berhasil menangkap dua lengan tangan lawan.

Terjadilah adu tenaga yang mengerikan. Kakek itu berusaha melanjutkan terkaman kedua tangannya, ada pun Ci Kang yang berada di bawah berusaha mempertahankan. Mereka bersitegang dan sepasang lengan Ci Kang mulai menggigil, mukanya pucat dan penuh keringat, tanda bahwa dia sudah mengerahkan seluruh tenaga dan berada di tepi maut. Agaknya sebentar lagi dia tidak akan kuat bertahan sehingga kakek itu dapat melanjutkan pukulan mautnya.

Melihat keadaan Ci Kang yang terancam maut seperti itu, tiba-tiba Hui Cu mengeluarkan teriakan keras dan dia pun cepat menggerakkan kebutannya. Ujung kebutannya berubah menjadi dua gumpal yang ujungnya meruncing seperti pedang, lantas dua batang pedang dari bulu-bulu halus yang kini menjadi kaku keras itu menusuk ke arah sepasang mata Raja Iblis! Tusukan ini cepat dan hebat sekali dan agaknya gadis itu sudah lupa bahwa dia bisa menewaskan atau setidaknya membutakan mata ayah kandungnya.

Menghadapi serangan mendadak yang amat berbahaya ini, Raja Iblis terkejut sekali dan terpaksa dia cepat menarik kembali kedua tangan yang tadi menekan ke bawah, dan kaki kanannya menyambar ke depan menyambut serangan gadis itu.

"Desss...!"

Tubuh Hui Cu terpental dan biar pun dia sudah melindungi dirinya dengan sinkang, tidak urung tubuhnya terlempar sampai beberapa meter jauhnya lalu terbanting ke atas tanah sampai bergulingan. Akan tetapi, perbuatannya itu menyelamatkan Ci Kang yang segera meloncat bangun dan menjauhkan diri karena dia harus mengumpulkan hawa murni untuk memulihkan tenaganya.

Hui Cu juga sudah melompat bangun dan kedua orang muda itu sudah bersiap lagi. Kini wajah mereka pucat dan kedua kaki agak gemetar karena kecapaian.

Raja Iblis tersenyum mengejek. Kedua orang itu tentu akan dapat dirobohkannya dalam serangan berikutnya. Dia menggerak-gerakkan sepasang tangannya, saling bersilang dan setiap kali dua lengan itu bergesekan, tentu nampak uap putih mengepul. Memang hebat sekali ilmu kakek ini kalau dia sudah mengeluarkan tenaga sakti seperti itu.

Ci Kang memandang khawatir. Dia tidak mengkhawatirkan diri sendiri. Memang sejak tadi dia telah menghadapi kematian dengan tenang. Akan tetapi dia mengkhawatirkan Hui Cu. Gadis itu tadi sudah menyelamatkan nyawanya. Dia tahu bahwa tanpa bantuan Hui Cu tadi, dia sudah tewas.

Dan kini, dia merasa tidak kuat untuk dapat melindungi gadis itu dari ayah kandungnya yang jahat seperti iblis itu. Namun betapa pun juga, dia akan melawan dan melindungi Hui Cu sampai napas terakhir.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner