ASMARA BERDARAH : JILID-52


Karena adanya niat hendak melindungi ini, perlahan-lahan Ci Kang menghampiri Hui Cu sambil matanya terus memandang ke arah Raja Iblis yang berdiri dalam jarak lima meter dari mereka. Setelah dekat, dia menyentuh lengan gadis itu.

"Jangan takut, Hui Cu, aku akan membelamu sampai mati."

Hui Cu tersenyum duka. "Kita berdua akan mati, Ci Kang. Akan tetapi aku gembira dapat mati bersama seorang sahabat sepertimu. Mari kita lawan dia."

"Yang berat adalah tenaga dorongannya, mari kita satukan tenaga untuk menyambutnya," bisik Ci Kang. Gadis itu mengangguk, kemudian menyelipkan kebutan pada pinggangnya, dan bersama Ci Kang dia lalu melangkah maju berdampingan.

Melihat dua orang muda itu nekat maju bersama, Raja Iblis kembali tersenyum mengejek. Dia tahu akan siasat pemuda itu hendak menyatukan tenaga. Akan tetapi dia tadi sudah mengukur sampai di mana tenaga mereka dan dia tidak menjadi gentar. Bahkan sengaja dia maju lagi menyerang dengan kedua tangannya didorongkon ke depan, kedua telapak tangannya menghadap kepada dua orang lawan itu. Begitu kedua tangannya mendorong, nampak uap putih dan angin menyambar dahsyat.

Ci Kang dan Hui Cu yang sudah maklum akan kehebatan tenaga dorongan itu langsung menyambut dengan kedua tangan didorongkan pula. Sekarang mereka bergerak dengan berbareng, menyatukan tenaga sinkang menyambut dengan kuatnya.

"Desss...!"

Hebat bukan main ketika tiga pasang tangan itu bertemu dan akibatnya tubuh Raja Iblis undur dua langkah, akan tetapi tubuh Ci Kang dan Hui Cu terjengkang kemudian roboh terbanting! Mereka kalah tenaga dan kini mereka berdua merasa betapa napas mereka menjadi sesak.

Terpaksa mereka cepat-cepat mengatur pernapasan dan menyalurkan hawa murni untuk mencegah dada yang terguncang hebat itu agar jangan sampai terluka. Kesempatan baik terbuka bagi Raja Iblis dan sambil tersenyum lebar dia melangkah maju, siap-siap untuk mengirim pukulan maut!

"Sungguh tidak tahu malu tua bangka menghina orang-orang muda!" Tiba-tiba terdengar suara halus dan suatu hawa tenaga yang sangat kuat mendorong dan menyambut Raja Iblis.

Kakek ini terkejut dan mengerahkan tenaga, menggunakan tangannya mengibas dan dua tenaga sakti saling bentur membuat keduanya terkejut karena masing-masing mendapat kenyataan betapa kuatnya lawan yang dihadapi!

Raja Iblis cepat memandang dan alisnya pun berkerut. Yang muncul di depannya adalah seorang laki-laki yang usianya paling banyak lima puluh tahun. Perawakannya gagah dan wajahnya masih kelihatan tampan menarik, pakaiannya serba indah sehingga membuat dia nampak semakin anggun. Wajah itu tersenyum ramah akan tetapi sepasang matanya mencorong penuh kekuatan.

Di samping kiri pria ini berdiri seorang wanita yang usianya sebaya, cantik sekali, dengan pakaian yang juga mewah, bersih dan baru, rambutnya dihias batu permata. Akan tetapi, berbeda dengan laki-laki di sampingnya yang tersenyum ramah, wanita cantik ini nampak anggun dan angkuh, serius dengan sepasang matanya menatap wajah Raja Iblis seperti hendak menegur.

Raja Iblis belum pernah mengenal mereka, akan tetapi dia dapat menduga bahwa kedua orang ini tentulah dua orang dari golongan pendekar yang mempunyai kepandaian tinggi, maka dia tidak memandang rendah dan bersikap waspada dan hati-hati.

Biasanya, apa bila ada Ratu Iblis di sampingnya, dia tidak pernah mau bicara sendiri dan bahkan jarang dia turun tangan sendiri. Kini, karena dia seorang diri saja, dia terpaksa bicara dan bertindak sendiri.

Dia teringat bahwa di antara para datuk di dunia persilatan, banyak yang sudah pernah ditaklukkannya, bahkan mereka bersumpah tidak akan melawannya kalau dia memegang Tongkat Suci Sakti. Kini berhadapan dengan dua orang itu, bahkan dia sudah mengukur tenaga pria itu yang ternyata sangat kuat, dia hendak mengambil cara yang lebih mudah.

Kalau dua orang ini memiliki hubungan dengan para tokoh yang pernah ditundukkannya, tentu mereka tidak akan berani pula menentang dia yang memegang Tongkat Suci Sakti. Cepat dia mengeluarkan sebatang tongkat dari balik jubahnya, lantas sambil mengangkat tongkat itu ke atas kepala, dia berkata, suaranya bergema seperti datang dari jauh dan amat berwibawa.

"Lihat Tongkat Suci Sakti dan berlututlah kalian sebelum aku menyatakan kalian berdosa dan harus menerima hukumanku!"

Pria dan wanita itu memandang dengan heran, lalu saling pandang dan pria itu tertawa.

"Ha-ha-ha-ha! Yang suci dan sakti bagi orang jahat belum tentu suci bagi kami! Aku orang she Ceng belum pernah melihat tongkat butut itu!"

"Tua bangka, jangan membadut di hadapan kami. Pergilah dan jangan ganggu dua orang muda ini sebelum aku turun tangan menghajarmu!" kata si wanita dengan suara galak dan sepasang matanya mencorong penuh ancaman.

Raja iblis menjadi marah sekali. Tongkat Suci Sakti itu mereka hina! Padahal, bila melihat tongkat itu saja banyak tokoh persilatan gemetar dan berlutut.

"Bagus, kalau begitu kalian adalah calon-calon bangkai!" Raja Iblis menyerbu ke depan, menggunakan tongkat itu dan secepat kilat tongkat itu sudah melakukan dua kali pukulan ke arah pria dan wanita itu secara bertubi-tubi, bahkan diikuti oleh cengkeraman tangan kirinya yang tidak kalah berbahaya.

Pria dan wanita itu pun bukan orang sembarangan. Dengan sekali gerakan saja mereka sudah maklum akan kelihaian kakek yang mukanya seperti kedok mayat itu, dan mereka paham akan bahayanya tongkat yang disebut Tongkat Suci Sakti itu. Karena itu keduanya cepat mengelak dengan gerakan yang indah dan cepat sehingga semua serangan kakek itu mengenai tempat kosong.

Wanita itu meloncat untuk menghindar dan pada waktu dia membalikkan tubuhnya, kedua tangannya telah memegang sepasang pedang berwarna hitam dan ketika dicabut, tampak dua sinar hitam bergulung-gulung.

"Awas, tongkatnya itu beracun!" kata si wanita kepada pria yang hanya tersenyum saja.

"Orangnya busuk, bagaimana tongkatnya tidak akan beracun?" Pria itu malah mengejek.

Raja Iblis menjadi semakin marah. Tongkatnya menyambar ganas ke arah kepala wanita itu. Wanita setengah tua yang cantik itu bersikap tenang. Sepasang pedang hitamnya lalu membuat gerakan menangkis dan menggunting, menyambut tongkat.

"Trakkk!"

Tongkat itu terjepit oleh sepasang pedang hitam. Pada saat itu pula tangan kiri Raja Iblis melayang, menampar kepala lawan.

"Singgg...!"

Pedang kanan melesat dari tongkat lalu menyambut tangan! Raja Iblis kaget, tak mengira wanita itu mempunyai gerakan sedemikian cepat dan lihainya. Dia tidak berani mengadu lengannya dengan pedang hitam, menarik tangan dan langsung tangan itu mendorong ke depan. Serangkum hawa panas dan kuat sekali menyambar.

"Ihh!" Wanita itu berseru kaget dan cepat meloncat ke belakang. Ketika Raja Iblis hendak mendesak terus, suami wanita itu sudah menghadapinya dan menghalanginya mendesak isterinya.

"Hemmm, engkau lihai juga," kata pria itu. Sungguh jarang terdapat orang yang mampu mengejutkan isterinya dalam satu gebrakan saja. "Siapakah engkau?"

Akan tetapi Raja Iblis tidak menjawab melainkan menubruk dengan serangan tongkatnya yang menyambar dengan totokan ke arah dahi di antara dua mata lawan. Pria itu cepat mengelak dengan kepala ditundukkan dan pada saat tongkat itu melanjutkan gerakannya menyambar ke arah tengkuknya, dia cepat mengangkat tangan kirinya menangkis sambil mengerahkan tenaga sinkang untuk melindungi kulit lengannya kalau-kalau benar tongkat itu mengandung racun seperti yang tadi diperingatkan oleh isterinya. Di dalam hal racun, isterinya memang jauh lebih ahli dari pada dia. Akan tetapi dia tidak takut terhadap racun.

"Plakkk!"

Dan kembali keduanya terkejut. Pria itu merasa betapa lengannya tergetar dan dia tahu pula bahwa tongkat itu memang dilumuri atau direndam dengan racun. Sebaliknya Raja Iblis merasa tangannya yang memegang tongkat bertemu dengan tenaga yang dahsyat sekali.

Jarang dia bertemu tanding yang tenaganya sehebat ini. Apa lagi melihat betapa lawan itu sama sekali tak terpengaruh oleh racun pada tongkatnya. Semenjak tongkatnya terampas oleh kelicikan Sui Cin dahulu itu, dia merendam tongkat saktinya dengan racun yang amat jahat agar siapa pun yang akan merampas tongkatnya menjadi keracunan, dan juga setelah direndam racun, tongkat itu selain merupakan benda pusaka untuk menundukkan tokoh-tokoh dunia persilatan, juga dapat menjadi sebuah senjata yang ampuh. Akan tetapi lawan ini sedemikian lihainya sehingga sinkang-nya mampu menolak hawa beracun yang amat kuat dari tongkatnya.

Maklum akan kehebatan lawan, begitu tongkatnya tertangkis, secara tiba-tiba dan cepat sekali Raja Iblis menggerakkan tangan kirinya dan sebelum pria itu dapat mengelak atau menangkis, tangan kirinya telah menghantam punggung lawan. Tamparan telapak tangan kiri Raja Iblis ini hebat dan cepat sekali, sama sekali tidak tersangka-sangka dan agaknya pria itu pun tidak sempat pula mengelak.

"Plakkk...!"

Tiba-tiba saja sepasang mata Raja iblis terbelalak. Nampak dia berusaha menarik kembali tangan kirinya, akan tetapi tangannya itu sudah melekat pada punggung lawan. Sekarang baru dia tahu bahwa lawannya memang sengaja tidak mengelak dan memang menerima tamparannya tadi.

"Thi-khi I-beng...!" Raja Iblis berseru lantas secepat kilat tongkatnya menyambar ke arah mata lawan.

Pria itu terpaksa mundur dan Raja Iblis segera menyimpan tenaga saktinya. Agaknya dia tahu pula bagaimana cara menghadapi Ilmu Thi-khi I-beng. Setelah Raja Iblis menyimpan tenaga saktinya, tangannya yang tadi melekat di punggung lawan terlepas dengan mudah kemudian dia pun meloncat jauh ke belakang.

"Kau... Pendekar Sadis?" tanyanya, lalu menoleh ke arah wanita cantik.

"Dan kau... yang dulu berjuluk Lam-sin, kau puteri Pangeran Toan Su Ong?"

Kini tahulah pria dan wanita itu dengan siapa mereka berhadapan dan keduanya nampak terkejut bukan main.

"Aha! Ternyata engkau yang terkenal dengan julukan Raja Iblis yang tersohor itu?" kata Ceng Thian Sin Si Pendekar Sadis.

Isterinya, Toan Kim Hong, turut berkata, "Inikah Pangeran Toan Jit Ong yang kabarnya memberontak terhadap pemerintah itu?"

"Hemm, kalau engkau puteri Toan Su Ong, berarti engkau adalah keponakanku sendiri! Keponakan dan mantu keponakan. Tidak lekas memberi hormat kepada pamanmu?"

"Biar paman, biar siapa pun, kalau jahat adalah musuh kami!" Toan Kim Hong berkata dengan suara garang.

Raja Iblis Toan Jit Ong adalah seorang yang amat cerdik. Dia tidak takut menghadapi dan melawan Pendekar Sadis dan isterinya, akan tetapi dia pun tahu bahwa tidak akan mudah baginya untuk mengalahkan suami isteri perkasa ini.

Apa lagi ada Siangkoan Ci Kang di situ dan pemuda ini pun tidak dapat dipandang ringan. Belum lagi puterinya sendiri yang malah membantu musuh! Jika dia tetap nekat melawan mereka berempat lalu kalah atau mati sekali pun tidak takut, akan tetapi namanya akan jatuh dan lagi pula, bagaimana dengan rencana besarnya?

Raja Iblis menarik napas panjang. "Sudahlah, mengingat hubungan darah antara kita, biar aku memandang arwah kakanda Toan Su Ong untuk mengampuni kalian berdua. Inilah anakku. Kemarilah, nak. Mereka ini adalah enci-mu sendiri serta kakak iparmu." Dengan lagak kebapakan dia menghampiri Hui Cu seperti hendak memperkenalkan mereka.

Melihat sikap kakek yang menjadi ayah kandungnya itu, Hui Cu yang masih hijau itu tentu saja menjadi lengah. Dengan amat mudahnya Raja Iblis dapat menangkap lengan kanan anaknya dan tiba-tiba kakek itu sudah menotoknya dan memanggulnya, lantas meloncat jauh dan melarikan diri. Melihat ini, Ci Kang meloncat dan hendak mengejar.

"Lepaskan dia!" bentaknya marah. Akan tetapi, suami isteri pendekar dari Pulau Teratai Merah itu tahu-tahu telah menghadangnya.

"Mengejar dia sama dengan bunuh diri!" kata Pendekar Sadis.

"Gadis itu dibawa pergi oleh ayah kandungnya sendiri, jadi mencampurinya adalah suatu kebodohan!" kata pula Toan Kim Hong.

Ci Kang lantas maklum bahwa suami isteri ini mencegahnya untuk melakukan pengejaran dengan maksud hendak menghindarkan dirinya dari bahaya maut dan dia pun sadar akan kebodohannya. Lagi pula Raja Iblis itu telah cepat menghilang dan dia sendiri tidak begitu mengenal daerah ini maka melakukan pengejaran selain tidak mungkin, juga benar-benar sama dengan membunuh diri. Baru menghadapi Raja Iblis seorang diri saja dia sudah kalah, apa lagi kalau raja sesat itu muncul bersama kaki tangannya.

Akan tetapi, bagaimana pun juga tak mungkin dia dapat mendiamkan saja Hui Cu dibawa ayahnya. Gadis itu seperti berada dalam cengkeraman harimau. Lebih celaka lagi, seperti berada di dalam cengkeraman iblis. Harimau tidak akan membunuh anaknya sendiri, akan tetapi Raja Iblis itu hendak memaksa Hui Cu menjadi isterinya, atau akan dibunuhnya.

Sekarang setelah Raja Iblis pergi, Ci Kang dapat mencurahkan perhatiannya pada suami isteri itu. Dia memandang kepada mereka dan merasa jantungnya berdebar-debar penuh ketegangan. Jadi inikah yang terkenal dengan julukan Pendekar Sadis itu? Ayah dan ibu Sui Cin, gadis yang dicintanya.

Dan mereka ini demikian gagah perkasa, demikian anggun dan berpakaian sangat indah. Sepasang pendekar yang berilmu tinggi, yang mampu membuat datuk sesat seperti Raja Iblis melarikan diri. Sepasang pendekar perkasa yang agaknya kaya raya pula.

Sedangkan dia? Dia hanya seorang yatim piatu, dan lebih lagi, anak seorang datuk sesat yang buta. Dibandingkan dengan Sui Cin dan keluarganya, dia tidak lebih pantas menjadi seorang pelayan atau pegawai mereka saja.

Akan tetapi dia cepat teringat bahwa kemunculan dua orang ini tadi telah menyelamatkan nyawanya dari ancaman maut. Apa bila tidak ada mereka ini, tentu dia sudah tewas di tangan Raja Iblis, maka dia pun cepat menjura dengan sikap menghormat.

"Ji-wi locianpwe telah menyelamatkan nyawa saya. Saya menghaturkan terima kasih."

Suami isteri itu memandang dengan wajah berseri. Mereka merasa suka kepada pemuda gagah yang berani melawan Raja Iblis dan membela gadis itu. Mereka menduga bahwa tentu pemuda ini kekasih gadis itu, atau setidaknya mencinta gadis itu dan mungkin Raja Iblis tidak merestui hubungan mereka. Akan tetapi semua itu bukan urusan mereka.

"Orang muda, engkau gagah dan agaknya tidak akan mudah dapat dirobohkan oleh Raja Iblis itu. Tidak perlu berterima kasih karena kebetulan saja kita berjumpa di sini dan setiap orang gagah memang wajib menentang iblis jahat semacam Raja Iblis itu. Nah, selamat berpisah," kata Ceng Thian Sin dengan suara ramah. Bersama isterinya dia membalikkan tubuhnya hendak melanjutkan perjalanan mereka.

Kepergian Sui Cin yang amat lama itu menggelisahkan hati suami isteri ini dan mereka sering kali melakukan perjalanan untuk mencari puteri mereka. Itulah sebabnya ketika Sui Cin pulang ke Pulau Teratai Merah, ia tidak bertemu dengan ayah bundanya yang sedang pergi mencarinya. Ia meninggalkan surat dan melanjutkan perjalanannya ke utara, sesuai dengan perintah gurunya.

Tak lama kemudian Ceng Thian Sin dan isterinya yang kembali ke pulau itu, menemukan surat puteri mereka. Tentu saja keduanya merasa khawatir sekali mendengar betapa Sui Cin melibatkan diri dalam urusan menentang pemberontakan di utara, hendak menghadiri pertemuan para pendekar di bekas benteng Jeng-hwa-pang untuk menentang gerakan pemberontakan yang dipimpin oleh Raja Iblis. Karena mengkhawatirkan puteri mereka, suami isteri ini berangkat lagi melakukan pengejaran ke utara.

"Ji-wi, harap perlahan dulu!"

Mendengar suara pemuda itu menahan mereka, Ceng Thian Sin serta isterinya berhenti melangkah lalu menengok dengan heran.

"Ada apakah, orang muda?" Pendekar Sadis bertanya.

"Apa bila tadi saya tidak salah mendengar, locianpwe berjuluk Pendekar Sadis. Apakah locianpwe bernama Ceng Thian Sin dan ji-wi merupakan ayah bunda dari nona Ceng Sui Cin?"

"Benar, apakah engkau mengenal anakku itu?" Toan Kim Hong berseru dengan wajah berseri dan suaranya mengandung kegembiraan.

Selama ini mereka berdua telah mencari hingga ke mana-mana akan tetapi belum pernah mendengar tentang puterinya dan tidak dapat menemukan jejaknya. Dan sekarang, tanpa disangkanya dia mendengar orang bertanya tentang Sui Cin!

"Saya mengenal nona Ceng dengan baik," jawab Ci Kang perlahan.

Ceng Thian Sin segera memandang wajah pemuda itu dengan penuh perhatian. Setelah mendengar bahwa pemuda ini mengenal Sui Cin dan agaknya merupakan sumber berita di mana adanya puterinya itu, tiba-tiba saja pemuda itu menjadi penting baginya.

"Orang muda, sungguh Thian sudah menuntun kami berdua untuk bertemu denganmu di sini. Siapakah namamu, orang muda?"

"Nama saya Siangkoan Ci Kang."

"Siangkoan...? Jarang mendengar tokoh dengan she Siangkoan di dunia persilatan," kata Pendekar Sadis.

"Bukankah ada seorang datuk yang juga memiliki she Siangkoan, yang terkenal dengan ilmu silatnya yang tinggi?" tiba-tiba Toan Kim Hong berkata.

"Ahh, maksudmu Siangkoan Lo-jin? Mana ada hubungannya dengan..."

"Maaf, locianpwe. Siangkoan Lo-jin adalah mendiang ayah saya."

"Ahhhh...!" Suami isteri itu saling pandang. Mereka sudah mendengar tentang Siangkoan Lo-jin atau Si Iblis Buta yang terkenal sebagai seorang datuk kaum sesat yang selain berilmu tinggi, juga amat kejam. Dan mereka juga mendengar berita di dunia kang-ouw selama mereka mencari Sui Cin bahwa Iblis Buta sudah tewas di tangan Raja dan Ratu Iblis yang kini merampas kedudukan pemimpin para datuk kaum sesat.

Sebab itu mereka pun kini menduga bahwa tentu pemuda ini memusuhi Raja Iblis karena mendendam atas kematian ayahnya. Akan tetapi kenapa pemuda ini membela puteri Raja Iblis? Namun mereka tidak ingin tahu lebih banyak karena hal itu bukan urusan mereka.

"Orang muda, engkau tadi mengatakan mengenal baik anak kami. Di manakah kini anak kami Sui Cin itu?" Pendekar Sadis bertanya tidak sabar.

"Menurut pengetahuan saya, nona Ceng Sui Cin kini berada bersama para pimpinan suku bangsa di utara ini. Dia telah membantu nenek Yelu Kim yang berhasil meraih kedudukan pemimpin para suku bangsa. Kalau ji-wi dapat bertemu dengan nenek Yelu Kim yang kini menjadi pemimpin besar para kepala suku bangsa di utara, tentu ji-wi akan dapat bertemu pula dengan nona Ceng."

"Apa? Anakku membantu pemimpin para kepala suku liar?" Toan Kim Hong bertanya, matanya terbelalak.

"Orang muda, di mana adanya rombongan nenek Yelu Kim itu sekarang?" Ceng Thian Sin bertanya.

"Tidak begitu jauh dari sini, locianpwe. Di balik bukit tandus di barat itu. Kalau tidak salah, para kepala suku masih berada di sana bersama rombongan masing-masing."

"Terima kasih, orang muda. Kami akan mencarinya sekarang juga."

Thian Sin serta isterinya kemudian mengangguk dan meninggalkan Ci Kang yang hanya menjura dengan hormat kepada mereka. Dia tidak berani bicara banyak tentang Su Cin, tentang hubungannya dengan gadis itu.

Setelah pasangan suami isteri itu pergi, pemuda itu lalu berdiri termangu-mangu, merasa nelangsa dan kesepian, merasa betapa semakin jauhnya dirinya dari Sui Cin, gadis yang dicintanya itu. Akan tetapi, dia segera teringat kepada Hui Cu dan bangkit semangatnya.

Saat ini, yang paling penting adalah menolong Hui Cu dari cengkeraman iblis, dari tangan ayahnya sendiri. Maka dia pun cepat pergi dari situ untuk mencari jejak Hui Cu, atau lebih tepat lagi, jejak Raja Iblis…..

********************

Pertemuan yang dinanti-nantikan dengan hati tegang oleh para pendekar itu pun tibalah. Pada malam bulan purnama, dan mengambil tempat di bekas benteng Jeng-hwa-pang yang sudah rusak dan keadaannya menyeramkan karena tidak pernah ditinggali manusia.

Pada malam itu, tak kurang dari seratus orang pendekar dari berbagai aliran berkumpul di tempat itu. Tentu saja tidak semua aliran mengirim wakilnya karena tidak semua pendekar berjiwa patriot. Bahkan banyak sekali para pendekar di dunia kang-ouw yang tidak mau melibatkan diri dengan urusan pemerintahan mau pun pemberontakan. Mereka lebih suka bekerja secara bebas, menghadapi kejahatan perorangan dan tidak suka terikat di dalam suatu kelompok.

Akan tetapi yang hadir pada malam hari itu sudah mewakili sebagian besar dari semua perguruan silat serta cabang persilatan. Hal ini adalah karena sebagian besar dari para pendekar merasa perlu untuk menghadiri pertemuan.

Pemberontakan yang terjadi sekarang ini bukanlah sekedar pemberontakan dari golongan yang tidak puas terhadap golongan lain yang berkuasa, bukan hanya sekedar perebutan kedudukan belaka. Akan tetapi yang memberontak adalah golongan sesat yang menjadi musuh besar mereka di sepanjang masa.

Raja Iblis sendiri, dibantu oleh Cap-sha-kui, telah mengumpulkan para datuk sesat untuk merampas kedudukan dan menggulingkan pemerintah. Jika sampai mereka berhasil, jika sampai pemerintah dipegang oleh kaum sesat, berarti dunia para pendekar akan hancur! Jadi, pemberontakan kaum sesat itu bukan hanya mengancam para penguasa yang kini menduduki kekuasaan, melainkan juga mengancam kehidupan para pendekar sendiri.

Di pekarangan bangunan-bangunan rusak yang sangat luas itu, yang kini menjadi padang rumput akibat tak terpelihara, para pendekar berkumpul dan membentuk sebuah lingkaran lebar, dan di dalam lingkaran itu dinyalakan api unggun besar. Mereka bekerja bergotong-royong tanpa adanya suatu pimpinan karena memang mereka itu datang untuk berunding, mendengar berita dari mulut ke mulut, dan di antara mereka tidak ada golongan pimpinan.

Hanya dengan sendirinya mereka semua menganggap para locianpwe yang hadir sebagai pimpinan, bukan hanya karena usia mereka yang lebih tua saja, akan tetapi juga karena kedudukan mereka dalam tingkat kepandaian. Dan di antara para tokoh tua dari berbagai cabang persilatan seperti dari Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai dan Kun-lun-pai yang kini hadir, terdapat pula empat orang tokoh tua yang dianggap sebagai tokoh-tokoh bertingkat tinggi oleh mereka, walau pun sebagian dari para pendekar tidak pernah mengenal mereka.

Hanya kaum tua yang mewakili partai-partai besar itu saja yang mengenal empat orang ini lantas memperkenalkan mereka dengan sikap hormat kepada para pendekar. Mereka ini adalah Ciu-sian Lo-kai, Go-bi San-jin, Wu-yi Lo-jin dan Siang-kiang Lo-jin. Seperti sudah kita ketahui, Ciu-sian Lo-kai adalah guru Ci Kang, Go-bi San-jin menjadi guru Cia Sun. Wu-yi Lo-jin menjadi guru Sui Cin sedangkan Siang-kiang Lo-jin menjadi guru Hui Song.

Dan mereka berempat ini bukanlah asing satu sama lain. Puluhan tahun yang lalu mereka merupakan empat di antara tokoh penting di dunia persilatan yang sudah dikalahkan dan ditaklukkan oleh Raja Iblis, lalu mereka mengundurkan diri dari dunia ramai untuk bertapa dan memperdalam ilmu.

Dua orang di antara mereka sudah meninggal dunia dalam pertapaan mereka dan empat orang kakek ini pun tadinya sudah mengambil keputusan hendak mengasingkan diri dan tidak mencampuri urusan duniawi sampai mati. Akan tetapi, kini mereka semua terpaksa bangkit dan turun tangan sesudah mendengar betapa Raja Iblis telah muncul kembali ke dunia ramai, bahkan sedang merencanakan pemberontakan sesudah berhasil menguasai para datuk golongan hitam. Dan seperti yang kita ketahui, mereka telah mengambil murid pilihan masing-masing yang kemudian sengaja mereka gembleng dan mereka wariskan semua ilmu mereka kepada murid-murid itu untuk kelak dapat dipergunakan menghadapi Raja Iblis.

Puluhan tahun yang lalu pernah terjadi kelucuan antara Ciu-sian Lo-kai dan Wu-yi Lo-jin. Karena keduanya tukang minum arak, dan keduanya selalu membawa guci arak, ketika saling bertemu terjadilah keributan di antara mereka, yaitu saling memperebutkan julukan Ciu-sian (Dewa Arak). Untuk menentukan siapa yang lebih berhak memakai julukan Dewa Arak, keduanya lalu bertanding, bukan bertanding silat, melainkan bertanding minum arak dengan sewajarnya tanpa mempergunakan akal dan ilmu sinkang.

Dalam pertandingan ini, sesudah mereka berdua menghabiskan belasan guci besar arak yang kiranya bisa untuk menjamu dua ratus orang, akhirnya Wu-yi Lo-jin menyerah kalah! Dan mulai saat itu pula kakek berpakaian jembel berhak memakai julukan Ciu-sian Lo-kai, sedangkan kakek yang selalu berpakaian mewah memakai julukan Wu-yi Lo-jin, biar pun julukan Ciu-sian atau Dewa Arak masih menempel secara tidak resmi pada dirinya.

Pertemuan antara empat orang kakek itu menggembirakan mereka dan mereka merasa muda kembali dan penuh semangat perjuangan. Mereka berempat ini bersama beberapa orang kakek tokoh partai-partai persilatan yang besar berada di dalam lingkaran itu, dekat api unggun, dikelilingi oleh para pendekar dari berbagai aliran. Tanpa pemilihan dan tanpa diumumkan, empat orang ini lantas dipandang sebagai pimpinan, apa lagi karena mereka berempat itulah yang sudah mengenal Raja Iblis, juga kesaktiannya yang sangat tersohor dan menggemparkan dunia persilatan.

Wu-yi Lo-jin yang usianya sudah sangat lanjut, delapan puluh tahun lebih, masih nampak sehat dan gembira. Kepalanya gundul botak. Alis, kumis, jenggot dan sedikit rambut yang tersisa di belakang kepalanya sudah putih semua. Jenggotnya putih panjang sampai ke perut. Pakaiannya berkembang-kembang, dari kain yang baru dan indah.

Beberapa kali dia minum arak dari gucinya yang besar tanpa menawarkan kepada orang lain. Kini nampak dia menggerakkan tangan kiri ke atas dan berkata, "Mati pun aku tidak akan dapat memejamkan mataku bila mana Raja Iblis itu belum terbasmi habis sampai ke akar-akarnya!"

"Bicara memang enak dan mudah, akan tetapi pelaksanaannya yang amat sulit!" Ciu-sian Lo-kai yang selalu memiliki perasaan bersaing dengan Dewa Arak yang lain itu mencela. "Aku kira menentang Raja Iblis sekarang ini sama artinya dengan menentang puluhan ribu orang prajurit. Dia telah menguasai San-hai-koan dan sudah bergabung dengan pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Panglima Ji Sun Ki. Mana mungkin kita mengandalkan kaki tangan biasa saja untuk menempuh dan melawan pasukan yang terdiri dari laksaan orang? Kita harus mencari cara yang lebih tepat."

"Betul, memang sekarang ini, dengan jumlah kita yang hanya seratus orang lebih, kiranya tidak mungkin melawan laksaan orang prajurit. Tadinya kita bermaksud untuk menentang Raja Iblis bersama antek-anteknya yang tentu jumlahnya tidaklah terlalu besar bagi kita. Hui Song, muridku, sudah kuperintah melakukan penyelidikan di antara para kepala suku karena di sana pun teriadi pergerakan-pergerakan. Hui Song, coba kau ceritakan semua yang kau ketahui," kata Siang-kiang Lo-jin atau Si Dewa Kipas kepada pemuda itu.

Dewa Kipas ini masih tetap gendut sekali perutnya. Kepalanya botak, dengan sedikit saja rambut pada belakang kepala. Jubahnya, seperti biasa, tidak dapat tertutup saking besar perutnya dan juga karena memang tidak suka hawa panas. Kipasnya yang amat lebar itu kini berkembang dan digerak-gerakkan ke arah perutnya. Kakek berusia tujuh puluh tahun lebih ini pun masih nampak sehat.

Hui Song lalu bangkit berdiri di antara mereka yang duduk membentuk lingkaran sehingga semua mata ditujukan kepadanya. Dia lalu menceritakan tentang segala yang dialaminya, mulai dari jatuhnya kota San-hai-koan sampai pada para kepala suku yang mengadakan pertemuan dan pemilihan pimpinan.

"Dengan adanya pemberontakan yang terjadi di kota San-hai-koan, para kepala suku liar itu telah mengambil keputusan hendak mempergunakan kesempatan untuk membonceng keadaan dan mulai gerakan mereka ke selatan untuk menghidupkan kembali kekuasaan bangsa utara. Pertama-tama mereka akan menyerang para pemberontak dan mengambil alih kota-kota yang telah diduduki oleh para pemberontak, kemudian menyusun kekuatan dan bergerak terus ke selatan." Demikian dia mengakhiri ceritanya.

Semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Ahhh, kalau begitu, sama saja dengan kita melibatkan diri ke dalam urusan pemerintah dan pemberontakan. Padahal, bukan demikian maksud kita semula. Kita hanya bergerak untuk menentang Raja Iblis," kata Go-bi San-jin, kakek berjubah pendeta, jubahnya bersih dan baru, mukanya hitam dan matanya lebar menambah kegagahan kakek berusia tujuh puluh tahun yang tubuhnya tinggi besar ini. "Kalau saja kita bisa menyerbu Raja Iblis dan antek-anteknya selagi mereka semua berada di tempat persembunyian Raja Iblis, tentu kita tidak perlu berurusan dengan pasukan pemerintah mau pun pasukan pemberontak. Muridku sudah berhasil menemukan tempat persembunyian Raja Iblis itu. Cia Sun, lekas ceritakan pengalamanmu."

Cia Sun bangkit berdiri, kemudian dia bercerita tentang gedung kuno di lereng bukit yang menjadi tempat persembunyian dan pertapaan Raja dan Ratu Iblis. "Akan tetapi, agaknya akan sukar menemukan mereka di tempat itu," katanya sebagai penutup penuturannya. "Setelah kota San-hai-koan mereka rampas, tentu Raja Iblis dan para kaum sesat itu ikut memasuki kota untuk mempertahankan kota itu."

"Walau pun demikian," bantah Go-bi San-jin, "apa bila pasukan pemberontak itu sampai dipukul hancur, tentu tempat itu menjadi tempat pelarian Raja Iblis dan Cap-sha-kui. Nah, kalau mereka sudah lari ke sana, barulah kita dapat menyergap dan menyerang mereka tanpa adanya campur tangan pasukan."

"Semua itu tidak penting," Wu-yi Lo-jin berkata, "kini yang penting adalah bagaimana kita akan bertindak selanjutnya. Sayang bahwa muridku belum datang memberi laporan."

Tiba-tiba Hui Song bangkit berdiri dan berkata, "Locianpwe, saya sudah bertemu dengan nona Ceng Sui Cin. Dia sekarang membantu nenek Yelu Kim yang telah diangkat menjadi pemimpin para kepala suku. Dia berpendapat bahwa untuk menentang Raja Iblis yang sudah bergabung dengan pasukan pemberontak, harus dilakukan dengan menggunakan pasukan pula. Karena itu, dia akan membantu para suku liar kalau mereka menggempur pasukan pemberontak yang menjadi sekutu Raja Iblis."

"Bagus sekali!" Wu-yi Lo-jin berkata girang. "Ahh, muridku memang cerdik sekali. Melihat keadaannya sekarang, tidak ada jalan lain bagi kita untuk menentang Raja Iblis kecuali dengan jalan membantu pasukan-pasukan yang menggempur pasukan pemberontak yang menjadi sekutunya itu. Sebaiknya kita berpencar, masing-masing harus mengambil jalan dan cara sendiri, baik secara perseorangan mau pun bergabung dan membantu pasukan pemerintah atau pasukan mana saja yang menentang Raja Iblis dan sekutunya."

Semua orang merasa setuju dengan usul ini. Memang kebanyakan para pendekar lebih senang bekerja sendiri-sendiri secara bebas, tidak ditentukan oleh siasat suatu pimpinan, walau pun tujuan dari gerakan mereka mempunyai arah yang sama dan tertentu, yakni menentang kekuasaan Raja Iblis. Maka, mendengar ucapan para tokoh tua itu, mereka menerimanya dengan gembira.

Hanya Ciu-sian Lo-kai seorang yang tidak nampak gembira. Kemuraman tipis menyelimuti wajahnya yang biasanya gembira itu. Dia merasa kecewa karena muridnya, Siangkoan Ci Kang, tidak muncul di dalam pertemuan itu. Akan tetapi, dia tidak mau memperlihatkan kekecewaannya ini dan dia hanya menggunakan pandang matanya untuk melihat-lihat ke sekeliling tempat itu dengan harapan kemunculan Ci Kang yang amat dlharapkannya.

Tiba-tiba sepasang matanya mengeluarkan sinar berkilat, bukan karena melihat Ci Kang, akan tetapi karena dia melihat gerakan orang-orang di luar tembok bekas benteng itu dan sebagai seorang pendekar yang sudah banyak memiliki pengalaman, dia dapat menduga apa artinya gerakan orang-orang ini.

Mendadak kakek ini meloncat ke depan dan menginjak-injak api unggun sambil berseru, "Semua berpencar! Kita dikepung!"

Mendengar ini dan melihat sepak terjang Ciu-sian Lo-kai, semua orang menjadi terkejut. Para tokoh tua yang melihat betapa orang seperti Ciu-sian Lo-kai terlihat amat gugup dan tegang, mengerti bahwa tentu keadaannya gawat, maka mereka pun cepat turun tangan membantu memadamkan api unggun.

"Berpencar dan bersembunyi!" teriak Go-bi San-jin.

"Lihat dulu siapa mereka! Kalau pasukan sekutu Raja Iblis, kita lawan mati-matian!" kata pula Wu-yi Lo-jin.

"Buka jalan darah dan berusaha menyelamatkan diri masing-masing!" teriak Siang-kiang Lo-jin yang maklum bahwa kalau pasukan yang datang dalam jumlah yang amat banyak, melawan pun tidak akan menguntungkan.

Tiba-tiba saja terdengar bunyi terompet disusul derap kaki banyak orang dan benar saja, tempat itu telah dikepung oleh sedikitnya seribu orang prajurit yang sekarang menyerbu ke dalam benteng kuno itu sambil bersorak-sorak. Dengan senjata golok atau pedang di tangan kanan dan perisai di tangan kiri, pasukan besar itu menyerbu ke dalam benteng, dipimpin oleh beberapa orang yang amat lihai gerakannya.

Tentu saja para pendekar yang sudah siap itu lalu menyambut dengan perlawanan secara mati-matian dan terjadilah pertempuran yang amat seru dan hebat di dalam pekarangan luas itu, dalam cuaca yang remang-remang karena hanya disinari bulan purnama.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner