ASMARA BERDARAH : JILID-55


Di dalam hatinya, Hui Song terkejut setengah mati. Tak disangkanya bahwa ucapan Thian Bu tadi benar-benar dibuktikannya, yaitu bahwa Thian Bu hendak menyenangkan hatinya, bahkan dengan cara yang membuat darahnya tersirap. Dia menjadi rikuh dan malu sekali saat melihat betapa empat orang selir-selir Lam-nong yang paling cantik menghampirinya dengan pakaian hampir telanjang, apa lagi ketika mereka menubruk dan merangkulnya.

Akan tetapi dia tak dapat menggerakkan kaki tangannya untuk menolak atau mengelak. Maka dia diam saja dan membiarkan mereka menangis di pundaknya, di dadanya dan mungkin akibat terpengaruh oleh rayuan-rayuan Thian Bu tadi, dan teringat akan ancaman Thian Bu, mereka bahkan mulai membelai tubuh Hui Song!

"Pergilah... jangan ganggu aku...!" kata Hui Song lemah, akan tetapi empat orang wanita itu tidak menghentikan usaha mereka.

Dalam keadaan seperti itulah tadi kakek Mancu dibawa oleh Thian Bu untuk melihat ke dalam kamar. Tentu saja dia merasa terkejut dan marah. Sama sekali tidak disangkanya bahwa pemuda yang diterima dengan ramah dan baik oleh Lam-nong itu, yang dianggap sebagai seorang sahabat suku bangsanya hanya untuk menjadi mata-mata, dan setelah terjadi penyerbuan, malah berbalik menjadi musuh dan melakukan hal-hal yang sungguh tidak patut, yaitu menjinahi isteri-isteri kepala sukunya.

Kakek Mancu itu tahu bahwa kepala sukunya, Lam-nong, dapat menyelamatkan dirinya, dan dia tahu pula di mana kepala suku itu menyembunyikan diri, karena mereka pernah melewati sebuah hutan sebelum sampai di dusun itu dan ketika itu Lam-nong mengatakan bahwa hutan itu merupakan tempat yang amat baik untuk menyembunyikan pasukan jika kelak terjadi perang di tempat itu.

Maka dia pun lalu memasuki hutan itu dan menyusup-nyusup, memanggil-manggil sambil mencari-cari. Akan tetapi baru dua hari kemudian panggilannya terjawab lantas muncullah Lam-nong dari balik semak-semak belukar.

Melihat pemimpinnya berada dalam keadaan compang-camping itu, kakek Mancu segera menjatuhkan diri berlutut lantas menangis! Lam-nong merangkul satu-satunya anak buah yang masih hidup ini dan dapat dibayangkan alangkah marah hatinya mendengar laporan orang itu bahwa seluruh anak buah dalam rombongannya telah habis dan tewas semua, dan betapa isteri-isterinya sudah menjadi korban perkosaan, dan terutama sekali betapa Cia Hui Song ternyata adalah seorang tokoh pemberontak dan juga turut pula menjinahi empat orang isterinya yang paling disayangnya!

"Mustahil!" Dia membentak. "Cia-taihiap adalah seorang sahabat dan dia pula yang telah menyelamatkan aku sampai ke sini!"

"Saya melihat sendiri dia dengan empat orang isteri paduka dalam sebuah kamar, dalam keadaan yang sangat tidak sopan dan memalukan. Saya berani bersumpah!" kata kakek itu.

Lam-nong mengerutkan alisnya dan hatinya mulai terasa panas. "Akan tetapi... mengapa dia bersikap begitu baik pada waktu menjadi tamu kita, dan dia sama sekali tidak pernah bersikap kurang ajar atau menggoda isteri-isteriku. Kenapa sikapnya bisa berbalik secara mendadak seperti itu dan kenapa pula dia sudah menyelamatkan aku kalau memang dia itu berpihak kepada musuh?"

"Dia tentu bertindak sebagai mata-mata pada waktu menjadi tamu kita, dan dia sengaja menyelamatkan paduka hanya untuk menutupi niatnya yang busuk terhadap isteri-isteri paduka. Bagaimana pun juga, sepasang mata saya tak dapat ditipu dan saya melihatnya sendiri." Kakek Mancu ini lantas menceritakan kembali dengan penggambaran yang lebih jelas apa yang dilihatnya di dalam kamar itu, betapa dalam keadaan setengah telanjang Hui Song dipeluki oleh empat orang isteri Lam-nong yang telanjang bulat.

Mendengar penggambaran itu, hati Lam-nong menjadi semakin panas. Dia telah terpukul sekali mendengar tentang terbasminya seluruh anak buahnya, dan kini mendengar akan perbuatan Hui Song terhadap empat orang isterinya yang tercinta, dia mengepal tinju dan mukanya menjadi merah. Hui Song berjanji akan menyelamatkan seorang selirnya yang paling dicintanya, siapa tahu pemuda itu malah menjinahi selirnya itu bersama selir-selir lain pula.

"Keparat jahanam Cia Hui Song!" dia mengutuk, akan tetapi Lam-nong lantas menutupi mukanya dengan kedua tangannya. "Kasihan isteri-isteriku yang malang..." dan dia pun menangis!

Kakek Mancu itu menjadi terharu sekali ketika melihat pemimpinnya menangis, lantas dia pun teringat akan dua orang anaknya yang menjadi anggota rombongan dan tewas pula, maka tanpa dapat ditahannya, dia pun kini menangis. Dua orang laki-laki itu menangis di dalam hutan yang lebat dan sunyi, dengan hati dilanda duka yang amat hebat.

Dan memang sepatutnya Lam-nong menangisi isteri-isterinya karena nasib wanita-wanita itu memang menyedihkan. Sim Thian Bu adalah seorang lelaki cabul yang berhati kejam bukan main. Dia tak pernah merasa puas dengan wanita tertentu dan menganggap wanita seperti makanan atau pakaian saja. Apa bila sudah kenyang dimakannya, maka sisanya akan diberikan kepada anjing dan kalau sudah bosan memakainya, tentu bekasnya akan dicampakkan begitu saja.

Demikian pula sesudah dia merasa kenyang dan bosan terhadap empat orang wanita itu, untuk menyenangkan hati para anak buahnya, Thian Bu lalu menghadiahkan empat orang tawanan itu kepada anak buahnya. Empat orang wanita yang sejak dulu hidup berbahagia di samping Lam-nong kini mengalami nasib yang amat mengerikan. Mereka diperebutkan dan dipermainkan oleh banyak orang kasar sampai akhirnya mereka tak tahan dan tewas menyusul teman-temannya yang sudah mendahului mereka!

Akan tetapi mengapakah Thian Bu memperlakukan Hui Song seperti itu? Mengapa dia membiarkan kakek Mancu lolos setelah memberinya kesempatan melihat seolah-olah Hui Song sedang berjinah dengan empat orang selir Lam-nong?

Thian Bu melakukannya bukan hanya sekedar untuk melampiaskan rasa kemarahannya kepada Hui Song saat pemuda itu menggagalkan dia yang hendak menculik wanita ketika dia mengintai wanita-wanita yang sedang mandi itu. Dia melakukan hal ini dengan penuh perhitungan.

Ia membiarkan kakek Mancu lolos bukan sekali-kali karena wajah kakek itu mirip dengan ayahnya, sama sekali tidak. Itu hanyalah sebuah alasan belaka. Dia sengaja membiarkan kakek itu hidup agar kakek itu dapat menghubungi Lam-nong! Dia sengaja membiarkan kakek itu melihat seolah-olah Hui Song bermain gila dengan para selir Lam-nong supaya timbul kebencian dan permusuhan antara suku bangsa itu dengan Hui Song.

Dia tidak mau membunuh Hui Song, mengingat bahwa ayah pemuda itu menjadi sekutu Raja Iblis, akan tetapi dia ingin memberi kesan buruk terhadap pemuda ini kepada suku bangsa Mancu. Jika sudah demikian, maka tidak mungkin lagi Hui Song kelak membantu orang-orang Mancu. Dan dia hendak merusak nama baik Hui Song, bukan hanya untuk melampiaskan kebenciannya terhadap pemuda ini akan tetapi secara tidak langsung dia hendak menghantam pula nama baik ketua Cin-ling-pai.

Betapa pun juga, sejak dulu keluarga Cin-ling-pai adalah musuh-musuh yang dibencinya, orang-orang dari golongan pendekar yang selalu memusuhi golongannya. Dan di samping semua alasan ini, juga Thian Bu hendak main-main untuk merendahkan serta membikin malu Hui Song.

Karena memang sudah diaturnya, pada saat kakek itu melarikan diri, diam-diam Thian Bu menyuruh belasan orang pengawalnya untuk membayanginya dan kalau kakek itu sudah bertemu dengan Lam-nong, supaya menangkap mereka tanpa membunuhnya karena dia masih memiliki rencana lebih jauh dengan kepala suku Mancu Timur itu.

Demikianlah, ketika Lam-nong dan kakek Mancu itu bertangisan di dalam hutan, tiba-tiba saja muncul tiga belas orang prajurit pengawal pilihan yang langsung mengurung mereka dan membentak agar keduanya mau menyerah tanpa perlawanan. Akan tetapi, Lam-nong yang sedang dilanda duka dan dendam itu, tentu saja tidak sudi menyerah. Dia mencabut pedangnya dan mengamuk, dibantu oleh kakek Mancu yang sudah luka pundaknya.

Mereka berdua mengamuk secara nekat tanpa mempedulikan keselamatan nyawa sendiri sehingga tiga belas orang pengawal itu agak kewalahan. Kalau saja mereka diperintahkan membunuh, tentu kedua orang itu sudah terbunuh sejak tadi. Akan tetapi mereka dilarang membunuh, melainkan disuruh menangkap dua orang itu hidup-hidup dan inilah sukarnya.

Dua orang itu amat nekat, membuat para pengeroyok itu sulit menangkapnya hidup-hidup. Bagaimana pun juga, karena dikeroyok oleh banyak orang, perlahan-lahan Lam-nong dan pembantunya mulai kehabisan tenaga dan napas mereka sudah terengah-engah, tubuh sudah basah oleh keringat. Agaknya tidak lama lagi mereka akan roboh sendiri kehabisan tenaga sehingga akan mudah ditawan.

Pemimpin regu pengawal pemberontak itu juga tahu mengenai hal ini, maka dalam suatu kesempatan yang baik, kakinya terayun dan tepat mengenai lutut kanan Lam-nong yang lalu roboh terguling. Empat orang menubruknya dan kakek Mancu yang sudah kehabisan tenaga itu pun dapat tertangkap dari belakang dan keduanya lalu dibelenggu. Lam-nong meronta-ronta dan memaki-maki, akan tetapi dia segera tidak berdaya sesudah kaki dan tangannya diikat.

Pada saat itu terdengar bentakan nyaring dan dua orang prajurit terpelanting disusul oleh dua orang prajurit juga terpelanting ke kanan kiri. Semua orang melihat dan ternyata yang datang adalah seorang laki-laki dan seorang wanita yang gagah perkasa. Begitu mereka berdua itu tadi menggerakkan tangan, empat orang langsung terpelanting dan hal ini amat mengejutkan hati pasukan itu, juga membuat mereka marah.

Sembilan orang sisa pasukan pengawal itu segera mencabut senjata dan tanpa banyak cakap mereka lalu menerjang dan mengeroyok laki-laki dan wanita yang baru datang itu. Akan tetapi, dengan gerakan ringan dan mudah saja, dua orang itu mengelak dan begitu mereka menggerakkan kaki tangan membalas, sembilan orang itu terpelanting satu demi satu! Untung bagi tiga belas orang prajurit pemberontak itu bahwa laki-laki dan wanita ini agaknya tidak berhati kejam dan tidak bermaksud membunuh sehingga mereka itu hanya menderita luka-luka ringan saja.

Akan tetapi mereka segera maklum bahwa dua orang ini adalah orang-orang sakti. Hati mereka menjadi gentar sekali dan tanpa menanti komando lagi mereka cepat berloncatan tunggang langgang melarikan diri dari tempat berbahaya itu, meninggalkan kedua orang tawanan yang sudah mereka belenggu.

Suami isteri setengah tua yang gagah perkasa itu adalah Pendekar Sadis Ceng Thian Sin dan isterinya, Toan Kim Hong. Tidak mengherankan kalau dalam satu gebrakan saja tiga belas orang prajurit pemberontak itu terpelanting semua. Setelah semua prajurit melarikan diri, Ceng Thian Sin lalu melepaskan ikatan tangan kaki Lam-nong dan pembantunya.

Setelah dibebaskan dari belenggu, Lam-nong berdiri memandang dua orang penolongnya itu dengan penuh perhatian, kemudian dengan suara kaku dia bertanya dalam bahasa Han. "Apakah kalian ini dua orang pendekar dari selatan?"

Tentu saja suami isteri itu merasa heran melihat sikap serta mendengar pertanyaan ini. Akan tetapi sambil tersenyum Thian Sin mengangguk. "Benar, kami datang dari selatan. Sobat, siapakah engkau dan mengapa kalian ditangkap oleh pasukan itu?"

Tiba-tiba Lam-nong mengepal tinju sambil memandang marah. "Sudahlah! Aku tidak mau berurusan dengan segala pendekar dari selatan yang berhati palsu. Dari pada nanti kalian akan mengkhianati aku lebih baik kalian membunuhku sekarang juga!" Berkata demikian, tiba-tiba saja Lam-nong menyerang kalang kabut kepada Thian Sin. Tentu saja pendekar ini menjadi kaget dan terheran-heran, cepat mengelak.

"Manusia tak kenal budi memang lebih baik mampus!" Toan Kim Hong berseru marah dan tangannya telah bergerak hendak menghajar orang yang diselamatkan akan tetapi malah berbalik memusuhi mereka itu.

Akan tetapi suaminya memegang pundaknya dan mencegahnya menyerang Lam-nong. Dia sendiri lalu menghadapi Lam-nong dan ketika tangan orang itu menyambar ke depan, dia cepat menangkap sehingga tubuh Lam-nong tidak mampu bergerak lagi.

"Nanti dulu, sobat. Segala perkara harus dibicarakan dulu, tidak membabi buta menuduh dan menyerang orang. Apakah yang sudah terjadi dan mengapa engkau membenci para pendekar dari selatan?"

Akan tetapi Lam-nong tidak menjawab dan ketika Thian Sin melepaskan tangannya, dia pun menutupi mukanya dan menangis lagi! Hal ini tentu saja mengejutkan hati suami isteri itu dan Thian Sin lalu bertanya kepada pembantu Lam-nong yang hanya berdiri dengan wajah kusut dan muram.

"Sobat, sebenarnya apakah yang telah terjadi pada kalian?"

Kakek Mancu itu menarik napas panjang lantas menjawab dalam bahasa Han yang kaku akan tetapi cukup jelas. "Dia ini adalah pemimpin kami bernama Lam-nong, kepala suku Mancu Timur yang biasa hidup tenteram. Akan tetapi dalam perjalanan sekali ini kami tertimpa bencana. Semua anggota rombongan kami terbunuh oleh pasukan pemberontak, harta benda dirampok dan wanita-wanita kami juga ditawan. Yang amat menyedihkan dan menggemaskan hati, semua ini gara-gara pengkhianatan seorang pendekar dari selatan."

"Hemm, gara-gara seorang pendekar dari selatan? Apa yang sudah dilakukan pendekar itu?"

"Beberapa waktu yang lalu pemimpin kami telah bertemu dan bersahabat dengan seorang pendekar dan memperlakukan dia sebagai tamu agung dan sebagai sahabat. Akan tetapi, ketika rombongan kami diserbu dan dibasmi oleh pasukan pemberontak, barulah ternyata bahwa pendekar yang tadinya kami kira seorang sahabat itu bukan lain adalah seorang mata-mata pemberontak yang keji bukan main dan sudah mengkhianati kami!" Kakek itu mengepal tinju dan suaranya terdengar marah.

Agaknya Lam-nong kini sudah berhasil menguasai dirinya. Dia menambahkan. "Coba saja bayangkan, orang yang kuanggap sebagai sahabat baik, bahkan seperti saudara sendiri, ketika rombonganku, anak buahku semua tertimpa bencana dan tewas, dia... dia malah menodai isteri-isteriku... dan aku yakin sekali bahwa dia tentu mempergunakan paksaan, kalau tidak, tak mungkin isteri-isteriku bertindak serong dan berjinah!"

Suami isteri itu sangat terkejut. Kalau seperti itu perbuatan pendekar itu, maka dia sama sekali bukan pendekar melainkan seorang penjahat yang mengaku sebagai pendekar.

"Ah, dia itu penjahat keji yang terkutuk, bukan pendekar!" Toan Kim Hong berseru marah.

"Akan tetapi dia seorang pendekar, bahkan putera seorang tokoh yang terkenal. Menurut keterangannya, ayahnya ialah seorang ketua perkumpulan Cin-ling-pai yang besar. Tidak, Cia Hui Song adalah seorang pendekar, namun ternyata hatinya busuk dan penuh khianat keji!"

"Apa...?! Siapa...?!" Ceng Thian Sin berseru kaget dan dia memegang lengan Lam-nong dengan kuat sehingga kepala suku itu menyeringai kesakitan.

Thian Sin segera sadar lalu melepaskan cengkeramannya dan ternyata baju pada lengan Lam-nong sudah hancur lebur! Kepala suku itu memandang dengan wajah pucat, namun dia tersenyum.

"Aku tahu, pendekar-pendekar selatan memang mempunyai kepandaian tinggi akan tetapi hatinya palsu dan busuk. Nah, kau bunuhlah aku!" tantangnya.

"Nanti dulu, saudara Lam-nong. Tentu ada kesalah pahaman di sini. Kalau memang benar dia itu pendekar Cia Hui Song putera ketua Cin-ling-pai, tidak mungkin dia melakukan hal yang kotor itu. Dan andai kata benar dia melakukannya, tentu dia bukanlah putera ketua Cin-ling-pai atau semua itu hanya fitnah belaka."

"Fitnah? Orangku ini telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri dan masih dianggap fitnah? Kalian pendekar-pendekar selatan tentu saja saling membela!" kata Lam-nong dan dia lalu menyuruh pembantunya menceritakan kembali semua yang telah terjadi.

Kakek Mancu itu menceritakan sejak terjadinya penyerbuan pasukan pemberontak hingga ketika dia tertawan kemudian dilepas karena mirip ayah pemimpin pasukan pemberontak, dan betapa dia juga menyaksikan Hui Song berjinah dengan empat orang isteri Lam-nong yang tertawan, betapa wanita-wanita lainnya menjadi korban perkosaan yang biadab.

Mendengar penuturan ini, Thian Sin dan isterinya saling pandang, kemudian pendekar ini menggeleng-gelengkan kepalanya, "Sungguh sukar untuk dipercaya!" serunya.

"Sungguh membingungkan!" kata pula Toan Kim Hong.

Mereka sudah mendengar dari puteri mereka mengenai nama Cia Hui Song itu yang oleh puterinya dipuji-puji sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa. Akan tetapi menurut penuturan dua orang Mancu ini, ternyata Hui Song adalah seorang mata keranjang yang cabul dan berwatak busuk dan palsu.

Tentu saja mereka belum mau percaya sepenuhnya hanya dengan mendengar penuturan dua orang ini walau pun jelas bahwa dua orang yang keadaannya seperti itu, kehilangan semua kawan yang terbunuh habis, kiranya tidak mungkin sempat lagi untuk berbohong-bohong. Tak mungkin mereka ini menceritakan fitnah, akan tetapi besar kemungkinannya pendekar yang menjadi sahabat mereka itu bukan putera Cin-ling-pai yang sebenarnya, melainkan akuan saja. Bagaimana pun juga, di dalam lubuk hatinya suami istri ini kurang begitu suka kepada ketua Cin-ling-pai yang mereka anggap berwatak angkuh.

"Kami akan menyelidiki kebenaran keterangan kalian tadi," akhirnya Thian Sin berkata. "Jika benar orang itu melakukan hal yang demikian jahat, maka kami akan menghajarnya. Akan tetapi, dapatkah kalian menolong kami menceritakan di mana adanya nenek yang bernama Yelu Kim?"

Mendengar pertanyaan ini, sepasang alis Lam-nong berkerut lantas dia pun memandang penuh kecurigaan dan ejekan. "Hemm, kiranya kalian ini pendekar-pendekar dari selatan yang hendak mengabdi kepada nenek Yelu Kim untuk memberontak terhadap pemerintah kalian di selatan?"

"Tutup mulutmu dan jangan menduga yang bukan-bukan!" Toan Kim Hong membentak marah.

Akan tetapi Thian Sin tersenyum. Dia maklum mengapa kepala suku ini demikian penuh dendam dan benci kepada para pendekar dari selatan. "Sobat Lam-nong, mengapa kau menduga demikian?"

"Oleh karena petualang-petualang dari selatan itu berkeliaran di sini hanya untuk mencari kedudukan atau kekayaan saja. Nenek Yelu Kim sendiri pun sekarang sudah dibantu oleh seorang pendekar wanita dari selatan..."

"Ahh, pendekar wanita itulah yang sedang kami cari!" Toan Kim Hong berseru. "Bukankah dia masih muda sekali, cantik dan lihai, dan namanya Ceng Sui Cin?"

Lam-nong menggeleng kepala. "Aku tidak mengenal namanya, akan tetapi memang dia muda, cantik dan lihai bukan main. Aku hanya mendengar bahwa dia menjadi murid dan pembantu nenek Yelu Kim, malah dialah yang telah memenangkan sayembara pemilihan jagoan sehingga kemenangannya membuat nenek Yelu Kim diangkat menjadi pimpinan para kepala suku."

"Ah, tentu dia itu puteri kami Ceng Sui Cin!" Toan Kim Hong berseru dan suaranya agak gemetar.

"Puteri kalian? Ahh, menarik sekali!" kata Lam-nong.

"Saudara Lam-nong, berlakulah baik pada kami dan tolonglah tunjukkan di mana adanya nenek Yelu Kim supaya kami dapat mencari puteri kami," kata Thian Sin, suaranya halus membujuk.

"Hemmm, kalau mengingat betapa kalian tadi baru saja menyelamatkan kami dari tangan pasukan pemberontak, sudah cukup untuk kubalas dengan pertolongan apa pun. Namun apakah arti pertolonganmu tadi sebagai pendekar dari selatan kalau dibandingkan dengan kekejian yang dilakukan oleh pendekar selatan lainnya kepada kami? Oleh karena itu, aku mau membantumu, bahkan bukan hanya menunjukkan melainkan mengantarmu ke sana bila engkau mau berjanji bahwa engkau akan membantuku pula menangkap dan menyeret si jahanam Cia Hui Song ke depan kakiku! Bagaimana?"

Thian Sin saling pandang dengan isterinya. Sungguh janji yang berat. Bagaimana kalau ternyata bahwa pendekar itu benar-benar putera ketua Cin-ling-pai? Bukankah itu berarti bahwa mereka akan berhadapan sebagai lawan dan musuh dengan keluarga Cin-ling-pai? Demikian Thian Sin berpikir.

"Baik, kami setuju!" Tiba-tiba Toan Kim Hong berseru. "Siapa pun juga adanya pendekar itu, kalau benar dia melakukan kekejian seperti itu, tentu akan kami hadapi sebagai lawan dan musuh!"

Kata-kata ini segera menyadarkan Thian Sin akan kewajibannya sebagai seorang gagah, yaitu harus menentang siapa saja tanpa pilih bulu, menentang siapa saja yang melakukan perbuatan jahat.

"Benar, kami setuju. Mari antar kami kepada tempat kediaman nenek Yelu Kim!" katanya.

Lam-nong nampak gembira. Janji ini merupakan sinar terang di dalam kegelapan hatinya. Dia baru akan merasa puas kalau sudah dapat membalas dendam kepada Cia Hui Song, atas perbuatannya yang biadab kepada isteri-isterinya!

Memang sikap Lam-nong ini kelihatannya aneh, akan tetapi memang sudah demikianlah sifat dendam yang mengotori batin kita semua. Perbuatan merugikan kita yang dilakukan oleh orang yang dekat dengan kita akan terasa jauh lebih menyakitkan dari pada kalau dilakukan oleh orang lain yang asing bagi kita. Inilah sebabnya mengapa kebencian yang menyelinap di dalam batin terhadap seorang bekas kawan baik atau keluarga jauh lebih mendalam dari pada kebencian terhadap orang asing.

Lam-nong seakan-akan melupakan perbuatan para pemberontak yang sudah membasmi keluarga dan rombongannya, juga seperti lupa dengan cerita kakek pembantunya betapa selir-selirnya yang lain juga sudah diperkosa secara biadab oleh mereka. Yang diingatnya dengan penuh rasa sakit hati hanyalah perbuatan Hui Song yang berjinah dengan empat orang isterinya!

"Baiklah, aku akan mengantar ji-wi sampai ke depan nenek Yelu Kim. Bahkan aku akan minta pertanggungan jawabnya atas kejadian yang menimpa rombonganku. Bukankah dia sudah menamakan dirinya pemimpin para kepala suku? Mari, mari kita pergi. Akan tetapi, siapakah ji-wi? Aku belum mengenal nama ji-wi."

Thian Sin tersenyum. "Namaku Ceng Thian Sin dan ini adalah isteriku."

Lam-nong mengangguk-angguk, baru sekarang dia teringat betapa lihainya suami isteri ini ketika tadi membubarkan pasukan pemberontak. "Mari, taihiap dan toanio, marilah kita berangkat."

Empat orang itu kemudian berangkat, kembali menuju ke barat untuk mencari nenek Yelu Kim. Lam-nong berjalan paling depan, diikuti oleh kakek pembantunya, kemudian barulah suami isteri Pendekar Sadis yang berjalan berdampingan paling belakang…..

********************

Bagaimana dengan Hui Song? Pemuda ini merasa marah dan mendongkol sekali ketika dalam keadaan tertotok dan tidak berdaya itu, dia melihat empat orang isteri sahabatnya memasuki kamarnya dalam keadaan hampir telanjang bulat. Dia melihat betapa wajah mereka pucat, rambut mereka kusut dan pandang mata mereka penuh takut dan duka.

Dia tahu bahwa mereka itu ketakutan dan menangis ketika mereka memeluknya seperti hendak minta perlindungan, bahwa mereka itu dipaksa oleh Sim Thian Bu untuk merayu dirinya. Dia tidak marah kepada wanita-wanita ini melainkan merasa kasihan, akan tetapi apa yang dapat dilakukannya? Dia tidak berdaya sama sekali.

Untung baginya, hanya sebentar saja wanita-wanita itu disuruh merayu atau menemani dirinya. Dan dia melihat wajah orang Mancu itu ketika pintu dibuka, melihat betapa orang Mancu tua itu terbelalak lalu menyumpah dan pintu ditutup kembali. Agaknya hanya untuk keperluan memperlihatkan adegan itu kepada orang Mancu tua tadilah maka empat orang wanita itu disuruh naik tempat tidurnya. Tidak lama kemudian mereka disuruh keluar lagi, entah dibawa ke mana oleh Thian Bu.

Pada keesokan harinya, Sim Thian Bu muncul pula di dalam kamarnya. Totokan pada tubuhnya sudah bebas, akan tetapi malam tadi Thian Bu mengikat tangannya dengan tali sutera yang amat kuat sehingga percuma saja ketika Hui Song berusaha melepaskan diri dengan cara menariknya putus.

"Aha, Cia-taihiap. Engkau nampak segar pagi ini. Bagaimana, apakah usulku semalam sudah kau pertimbangkan?"

"Aku tak sudi bersekutu dengan pemberontak. Biar akan kau bunuh sekali pun, aku tidak peduli. Akan tetapi ingat, kalau aku sampai dapat lolos dari sini, aku akan mengejar dan mencarimu, dan akan kupaksa engkau bertanding sampai mampus!"

"Aihh, mengapa galak amat? Bukankah aku sudah memperlakukanmu dengan amat baik? Bahkan sudah kusuguhkan wanita-wanita cantik. Sayang engkau yang bodoh tidak mau menerimanya. Cia-taihiap, ketahuilah bahwa aku bersikap baik terhadapmu bukan tanpa sebab. Tahukah engkau bahwa ayah dan ibumu, juga kakekmu, sekarang sudah berada bersama kami dan bekerja sama dengan kami, bahkan ayahmu kini mengepalai pasukan keamanan di Ceng-tek?"

"Bohong! Siapa sudi percaya dengan omongan busukmu?" bentak Hui Song. "Sim Thian Bu, aku tidak tahu mengapa engkau memusuhiku, akan tetapi yang jelas engkau adalah tokoh pemberontak rendah. Jangan mencoba-coba untuk membujukku. Perbuatanmu tadi malam dengan memaksa empat orang isteri Lam-nong dalam keadaan tidak tahu malu itu ke sini saja sudah melewati batas dan untuk itu, mau rasanya aku membunuhmu sampai tujuh kali! Sekarang, kau apakan mereka itu?"

"Ha-ha-ha, karena mereka tak berhasil membujukmu, maka mereka kuhadiahkan kepada orang-orangku dan kau dapat membayangkan apa jadinya kalau empat orang wanita itu harus melayani ratusan orang prajurit..."

"Jahanam keparat kau!" bentak Hui Song dan wajahnya berubah merah sekali, hatinya perih membayangkan nasib para isteri Lam-nong.

Sim Thian Bu sama sekali tidak tahu bahwa semua percakapannya dengan Hui Song itu ada yang mendengarkan. Seorang lelaki yang berpakaian seragam prajurit berdiri di luar kamar itu, dengan sikap bertugas jaga akan tetapi sebenarnya dia sedang mendengarkan dengan teliti semua yang sedang dibicarakan di dalam kamar. Prajurit ini bertubuh tinggi tegap dan memiliki sepasang mata yang mencorong tajam. Prajurit ini adalah Siangkoan Ci Kang!

Seperti telah kita ketahui, Ci Kang terancam bahaya maut di tangan Raja Iblis Pangeran Toan Jit Ong, akan tetapi secara kebetulan dan tiba-tiba muncul Pendekar Sadis beserta isterinya yang menyelamatkannya dan setelah dia memberi tahu kepada mereka tentang Sui Cin, suami isteri yang sakti itu lalu meninggalkannya untuk mencari puteri mereka.

Setelah berpisah dari suami isteri yang sakti itu, yang membuat Ci Kang merasa semakin nelangsa karena mereka adalah ayah bunda Sui Cin yang dicintanya sehingga membuat dia merasa semakin kecil dan rendah, pemuda ini kemudian mengambil keputusan untuk mencari Raja Iblis yang melarikan Hui Cu. Dia harus dapat menyelamatkan gadis itu dari tangan ayah kandungnya sendiri yang jahatnya melebihi iblis.

Gadis itu sudah dua kali menyelamatkannya. Pertama kali ketika dia bersama Cia Sun terjeblos ke dalam goa bawah tanah dan kedua kalinya ketika dia hampir celaka di tangan murid Raja Iblis, Gui Siang Hwa. Kini dia tahu bahwa dara itu berada dalam cengkeraman iblis yang membahayakan keselamatannya, maka dia harus berusaha untuk menolong gadis itu, biar pun untuk itu keselamatan nyawanya sendiri akan terancam.

Dalam perjalanannya mencari Hui Cu inilah secara kebetulan Ci Kang tiba di dusun itu. Dia hanya melihat bekas-bekas kejahatan pasukan pemberontak yang dipimpin Sim Thian Bu itu, yang sudah membasmi puluhan orang anak buah suku Mancu Timur di bawah pimpinan Lam-nong. Hatinya menjadi panas oleh kemarahan ketika dia mendengar dari penyelidikannya betapa sute-nya itu sudah sedemikian jahatnya membunuhi orang-orang yang tidak berdosa, bahkan menganiaya dan memperkosa wanita-wanitanya.

Namun kedatangannya sudah terlambat dan dia tidak sempat lagi mencegah perbuatan sute-nya. Lagi pula Ci Kang tidaklah demikian bodoh untuk langsung menemui Thian Bu dan menegurnya. Bagaimana pun juga, jalan hidup antara mereka telah terpisah, mereka telah bersimpang jalan, bahkan saling menentang.


Sesudah sekarang memimpin ratusan orang prajurit, mana mungkin sute-nya itu masih mau mentaatinya? Tentu tidak takut kepadanya, bahkan dia akan dianggap musuh dan dikeroyok. Karena itulah secara diam-diam Ci Kang lalu menculik seorang prajurit yang perawakannya seperti dia, membawa prajurit itu ke dalam sebuah hutan yang cukup jauh, mengikat kaki tangannya setelah melucuti pakalannya, dan dengan berpakaian prajurit dia kembali ke dalam dusun.

Dengan mudah dia menyelinap di antara prajurit yang seribu orang banyaknya itu dan dia berhasil masuk ke dalam pondok di mana Sim Thian Bu sedang mengunjungi Hui Song yang tertawan. Dengan muka geram dia mendengarkan semua percakapan, dan tahulah dia bahwa pendekar putera ketua Cin-ling-pai itu sedang dibujuk oleh sute-nya agar mau membantu pemberontak.

Sute-nya, Sim Thian Bu, telah membantu Raja Iblis. Padahal, ayahnya, Siangkoan Lo-jin, guru sute-nya itu tewas di tangan Raja Iblis. Sungguh seorang murid murtad. Dia sendiri memang tidak mendendam atas kematian ayahnya yang dianggapnya tewas karena ulah sendiri, akan tetapi dia tidak akan sudi diperalat oleh pemberontak.

Dan meski pun Hui Song pernah memperlihatkan sikap bermusuh dengannya, ketika dia muncul di bekas benteng Jeng-hwa-pang dan ketika dia berada di dalam kamar bersama Sui Cin, tetapi dia tahu bahwa pemuda itu adalah seorang pendekar sejati. Dia pun sudah mendengar tentang ketua Cin-ling-pai yang membantu gerakan para pemberontak, maka diam-diam dia merasa kasihan kepada Hui Song.

Sedikit banyak ada persamaan antara dia dan pemuda ini. Walau pun ayah pemuda ini adalah seorang pendekar besar, ketua Cin-ling-pai, akan tetapi kini sudah menyeleweng karena membantu pemberontak, padahal puteranya mati-matian menentang pemberontak dan lebih memilih mati dari pada harus menjadi kaki tangan kaum pemberontak seperti yang diperlihatkan ketika dibujuk oleh Sim Thian Bu itu. Dan agaknya Hui Song belum tahu akan penyelewengan ayahnya.

"Hui Song, engkau sungguh orang yang tidak tahu akan kebaikan orang!" Akhirnya Sim Thian Bu menjadi marah dan tidak menyebutnya taihiap lagi. "Melihat muka orang tuamu yang kini menjadi rekanku, aku bersikap baik kepadamu dan tidak membunuhmu walau pun engkau sudah membantu suku bangsa liar. Bahkan aku sudah menyuguhkan empat orang wanita tawanan untuk menghiburmu akan tetapi engkau menolak. Baiklah, agaknya engkau baru akan mau percaya kalau sudah kubawa ke Ceng-tek dan bertemu dengan ayah ibumu." Dia mendengus marah. "Karena engkau masih tidak mau tunduk, terpaksa harus kubelenggu terus sampai ke Ceng-tek. Hari ini juga kita berangkat ke sana!"

Dengan uring-uringan Thian Bu meninggalkan Hui Song dalam kamar itu. Tadinya dia berniat untuk membujuk Hui Song agar dapat membantu dan ikut dengannya secara suka rela agar dia dapat berbangga memamerkan jasanya di Ceng-tek. Tidak disangkanya Hui Song demikian keras hati sehingga terpaksa dia akan membawanya sebagai tawanan, hal yang amat tidak enak terhadap ketua Cin-ling-pai.

"Jaga dia, awasi terus jangan sampai dia dapat meloloskan diri!" perintah Sim Thian Bu kepada dua orang pengawal yang berada di luar pintu kamar. Kedua orang pengawal itu mengangguk dan masuk ke dalam kamar, berdiri dekat pembaringan dengan tombak di tangan.

Akan tetapi, tidak lama kemudian setelah Sim Thian Bu meninggalkan kamar itu, sesosok bayangan berkelebat masuk ke dalam kamar itu. Hui Song yang masih rebah tak mampu berkutik itu melihat betapa dengan gerakan yang sangat ringan, bayangan ini menyergap ke arah dua orang penjaga yang tidak sempat berteriak atau mempertahankan diri.

Dua kali totokan membuat mereka itu roboh pingsan. Dengan cekatan Ci Kang, bayangan itu, menyambar dua batang tombak agar tidak mengeluarkan bunyi keras saat terbanting ke atas lantai.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner