ASMARA BERDARAH : JILID-56


Hui Song terbelalak ketika mengenal siapa adanya prajurit tinggi tegap yang merobohkan dua orang pengawal itu.

"Hemmm...kau...?" gumamnya, sama sekali tidak gembira melihat kedatangan penolong ini, bahkan matanya memancarkan sinar kemarahan. Andai kata dia tidak dalam keadaan terbelenggu, tentu dia sudah bergerak menerjang Ci Kang!

Ci Kang dapat melihat kebencian terpancar dari mata putera ketua Cin-ling-pai itu dan dia pun memaklumi. "Sobat Cia Hui Song, sebaiknya engkau tahan kemarahanmu dan kita simpan dulu urusan pribadi. Yang jelas engkau tertawan..."

"Benar, dan yang menawan adalah murid ayahmu!" Hui Song mengejek.

"Simpan ejekanmu itu, sobat! Walau pun dia adalah sute-ku, akan tetapi jalan hidup kami tidak sejalur. Biar pun mendiang ayahku seorang datuk sesat, akan tetapi kau tidak dapat menyamakan aku dengan mereka, seperti juga berbedanya jalur hidupmu dengan ayahmu yang kini mengabdi pemberontak..."

"Tutup mulutmu! Kalian pembohong...!" Hui Song membentak.

"Sstttt… kita tunda dulu perselisihan ini. Yang penting kita harus bisa lari dari tempat ini," berkata demikian Ci Kang cepat melepaskan ikatan kaki tangan Hui Song.

Walau pun bekas ikatan pada kaki dan tangan itu masih membuat kaki tangannya terasa kesemutan dan setengah lumpuh, akan tetapi Hui Song memaksa diri meloncat turun dari pembaringan dan langsung dia menyerang Ci Kang!

"Jahanam busuk, aku harus membunuhmu untuk membalaskan penghinaanmu terhadap Sui Cin!" Serangan Hui Song tentu saja hebat sekali dan Ci Kang yang sudah mengenal kelihalan lawan ini cepat mengelak.

"Sabar dulu, sobat. Masih ada banyak waktu dan kesempatan bagi kita untuk bertanding. Sekarang yang penting kita harus meloloskan diri dari dusun ini!" Ci Kang berseru, akan tetapi semua seruannya percuma saja karena Hui Song yang sudah marah sekali teringat akan perbuatan pemuda ini memeluk dan mencium Sui Cin, sudah menerjang lagi kalang kabut.

Tentu saja Ci Kang menjadi bingung sekali. Sikap Hui Song ini membuat dia naik darah juga, maka setelah mengelak dan menangkis, dia pun mulai balas menyerang! Terjadilah perkelahian yang amat hebat di dalam kamar itu dan tentu saja, hal ini menarik perhatian para pengawal yang cepat datang melihat.

Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati mereka melihat tawanan itu sudah bebas dan sekarang sedang berkelahi melawan seorang rekan prajurit, sedangkan dua orang prajurit pengawal lainnya telah roboh tak bergerak di atas lantai. Melihat ini, para prajurit itu yang mengira bahwa Ci Kang adalah salah seorang di antara kawan mereka cepat menerjang dan membantu Ci Kang sehingga Hui Song kini dikeroyok!

Pemuda yang sudah mempunyai perasaan benci terhadap Ci Kang ini, rasa benci yang bukan hanya karena Ci Kang putera datuk sesat Iblis Buta, akan tetapi terutama sekali karena rasa cemburu yang hebat, kini menjadi semakin marah dan semakin yakin bahwa Ci Kang tentu bekerja sama dengan sute-nya, Sim Thian Bu yang licik itu.

"Huh, Siangkoan Ci Kang, majulah bersama semua antekmu! Aku tidak takut!" Dan dia pun mengamuk merobohkan empat orang prajurit dengan sekali serang!

Pada saat itu, Sim Thian Bu yang sudah diberi tahu oleh anak buahnya datang dan dia pun terkejut bukan main sesudah mengenal prajurit tinggi tegap itu yang ternyata adalah Siangkoan Ci Kang! Sebaliknya, melihat Sim Thian Bu, Ci Kang juga marah sekali. Kalau tadi pada saat dia mendengar Thian Bu membujuk Hui Song dia masih mampu menahan kemarahannya karena perlu membebaskan Hui Song lebih dahulu, kini sesudah ketahuan dan dikeroyok, kemarahannya terhadap sute-nya itu makin berkobar.

"Sim Thian Bu, engkau semakin gila dan jahat saja!" bentaknya dan tiba-tiba saja dia menyerang Sim Thian Bu!

Thian Bu maklum akan kelihaian putera suhu-nya ini. Maka cepat dia menangkis dengan lengan kanannya.

"Dukkk...!"

Dan tubuh Thian Bu pun terlempar sampai bergulingan. Terkejutlah dia dan baru dia tahu bahwa suheng-nya itu ternyata sudah menjadi semakin lihai saja. Maka dia pun berteriak kepada para prajuritnya.

"Dia prajurit palsu! Kepung dan bunuh dia juga!"

Tadi para prajurit bingung melihat pimpinan mereka berkelahi melawan prajurit itu, bahkan mereka kaget melihat betapa dalam satu gebrakan saja komandan mereka yang biasanya amat lihai itu terlempar sampai bergulingan. Akan tetapi begitu mendengar teriakan Thian Bu mengertilah mereka bahwa prajurit itu adalah seorang musuh yang menyamar, maka tentu saja mereka segera mengeroyok Ci Kang!

Hui Song sendiri juga dihujani senjata dan kini melihat betapa Ci Kang dikeroyok, tadinya dia masih bingung dan ragu, mengira bahwa Ci Kang bersandiwara. Akan tetapi melihat betapa Ci Kang mengamuk dan merobohkan banyak prajurit seperti juga dia, dan betapa para pengeroyoknya itu juga menyerang dengan sungguh-sungguh, barulah dia percaya bahwa Ci Kang benar-benar dimusuhi oleh Sim Thian Bu dan pasukannya!

Dia masih bingung, akan tetapi tidak mendapat kesempatan untuk berpikir lebih lama lagi. Para pengeroyok terlalu banyak dan melihat betapa Ci Kang mendesak para pengeroyok dan berhasil keluar dari dalam kamar yang sempit, dia pun menerjang dan membuka jalan darah.

Segera dua orang pemuda perkasa ini dikeroyok di luar pondok yang lebih luas sehingga terjadilah pertempuran yang sangat seru. Akan tetapi, baik Ci Kang mau pun Hui Song maklum bahwa mereka berdua saja tidak akan mungkin dapat menandingi pengeroyokan prajurit yang jumlahnya hampir seribu orang itu. Mereka tentu akan kehabisan tenaga.

Oleh karena itu, seperti sudah berunding lebih dulu saja, keduanya menyerang ke depan dan menyelinap kemudian meloncat jauh dan melarikan diri. Beberapa orang prajurit yang berusaha mengejar, mereka robohkan dengan pukulan jarak jauh. Melihat ini, para prajurit lainnya menjadi gentar dan ragu-ragu untuk mengejar.

Thian Bu yang marah sekali melihat dua orang itu lolos, cepat berteriak memerintahkan semua anak buahnya untuk mengejar, hendak mengandalkan jumlah banyak pasukan itu melakukan pengejaran. Akan tetapi dua orang pemuda perkasa itu telah lari jauh dan tak nampak lagi bayangannya sehingga terpaksa para prajurit mencari ke sana-sini di bawah pimpinan Sim Thian Bu yang menyumpah-nyumpahi mereka karena pengejaran itu gagal sama sekali.

Sebenarnya Sim Thian Bu cukup maklum bahwa prajurit-prajurit itu tidak dapat disalahkan karena dua orang pemuda itu memang amat lihai, akan tetapi karena kegagalan ini amat menjengkelkan hatinya, maka untuk melampiaskan kemarahannya itu dia memaki-maki para prajuritnya.

Biar pun tidak berjanji lebih dulu, akan tetapi kenyataannya Ci Kang dan Hui Song lari ke satu jurusan. Agaknya mereka berdua tidak mau mengambil jalan lain atau memisahkan diri, khawatir jika disangka takut atau sengaja hendak melarikan diri untuk menghindarkan perkelahian.

Dan setelah mereka lari jauh dan pasukan pemberontak tidak mengejar lagi, pada sebuah tanah datar di lereng sebuah bukit, keduanya berhenti tanpa kencan lantas berdiri saling berhadapan.

"Cia Hui Song, masih belum percayakah engkau kepadaku? Aku juga menentang kaum pemberontak!"

"Boleh jadi engkau memang menentang pemberontak, akan tetapi tak mungkin aku dapat mengampunimu atas kebiadabanmu menghina Sui Cin!" bentak Hui Song lantas dia pun sudah menyerang dengan dahsyatnya.

Ci Kang merasa betapa pemuda ini sudah keterlaluan sekali mendesaknya. Biar pun ada dorongan aneh dalam dirinya ketika dia menjadi terangsang dan timbul birahinya hingga dia melakukan hal yang tidak patut terhadap Sui Cin, akan tetapi dia tidak mau mencari alasan untuk membela diri. Dia diam saja dan menangkis, bahkan lalu membalas.

Dua orang pemuda itu terlibat dalam suatu perkelahian yang amat seru dan mati-matian, biar pun Hui Song lebih banyak menyerang karena Ci Kang masih merasa enggan untuk menyerang. Dia tidak membenci Hui Song, tidak ada alasan baginya untuk membenci pemuda ini, maka dia pun hanya membela diri saja.

Sungguh berbahaya sekali dan tidak cukup aman bila mana hanya membela diri dengan menangkis atau mengelak saja pada waktu menghadapi seorang lawan selihai Hui Song. Serangan balasan yang dilakukannya, yang tak kalah dahsyatnya, hanya dilakukan untuk membendung gelombang serangan yang dilakukan Hui Song terhadap dirinya.

Dua orang ini memang sama mudanya, sama gemblengan orang-orang pandai, bahkan pada akhir-akhir ini selama tiga tahun keduanya sudah digembleng oleh orang-orang sakti yang segolongan. Oleh karena itu sulit dikatakan siapa yang lebih kuat di antara mereka.

Hui Song adalah putera tunggal ketua Cin-ling-pai yang tentu saja telah mewarisi semua ilmu Cin-ling-pai yang sangat tinggi, dan gemblengan selama tiga tahun yang diterimanya dari Siang-kiang Lo-jin membuat ilmu-ilmunya menjadi matang. Akan tetapi di lain pihak, Ci Kang juga telah mewarisi ilmu-ilmu dari ayah kandungnya, Siangkoan Lo-jin atau Iblis Buta, dan gemblengan selama tiga tahun oleh Ciu-sian Lo-kai juga sudah mematangkan ilmu-ilmunya. Karena itu pertandingan antara mereka ini sedemikian dahsyatnya bagaikan perkelahian dua ekor naga sakti yang tidak mau saling mengalah.

Sesudah perkelahian itu berlangsung seratus jurus tanpa ada yang terdesak, keduanya semakin maklum bahwa lawan masing-masing itu ternyata lebih sukar dikalahkan seperti yang mereka sangka semula. Oleh karena itu kini mereka bergerak dengan amat hati-hati sambil mengeluarkan seluruh ilmu silat mereka dan mengerahkan seluruh tenaga.

"Dukkk...!"

Kembali terjadi adu tenaga yang sangat dahsyat, yang mengakibatkan kedua orang muda itu terhuyung ke belakang hingga keduanya harus mengatur pernapasan beberapa detik lamanya untuk menghimpun hawa murni melindungi tubuh bagian dalam supaya jangan sampai terluka akibat guncangan pertemuan tenaga dahsyat itu.

Dan pada saat itu, selagi keduanya siap untuk saling terjang lagi, nampak dua bayangan orang berkelebat. Seorang gadis cantik menghadang di hadapan Hui Song, dan seorang pemuda perkasa menghadang di depan Ci Kang.

"Suheng, harap jangan berkelahi...!" Gadis itu berteriak.

"Ci Kang, tahan dulu...!" Pemuda itu berseru pula.

Melihat gadis yang menghadangnya itu, Hui Song terpaksa menghentikan serangannya, juga Ci Kang segera menghentikan semua gerakannya sesudah dia mengenal siapa yang menghadang di depannya. Gadis dan pemuda itu adalah Tan Siang Wi dan Cia Sun!

Bagaimanakah dua orang muda ini dapat saling berkenalan dan dapat datang bersama di tempat itu? Seperti kita ketahui, Cia Sun hadir pula dalam pertemuan para pendekar di bekas benteng Jeng-hwa-pang dan seperti juga yang lain, dia terpaksa melawan sambil berpencar dan akhirnya menyelamatkan diri karena jumlah lawan yang terlampau banyak.

Ketika dia sedang melarikan diri, tiba-tiba saja dia melihat seorang gadis yang dikepung dan dikeroyok oleh banyak sekali prajurit yang agaknya hendak menangkap gadis cantik itu hidup-hidup. Akan tetapi gadis cantik itu memainkan sepasang pedang secara hebat sehingga dua puluh lebih orang prajurit itu sulit dapat menangkapnya, dan mereka hanya dapat mengepung dan menyerang dari jauh dengan tombak mereka untuk menghabiskan tenaga gadis itu agar akhirnya dapat disergap. Gadis itu adalah Tan Siang Wi.

Sejak muda Tan Siang Wi sudah terbiasa hidup dalam kekerasan sebagai seorang gadis kang-ouw yang disegani. Dia murid Bin Biauw, isteri ketua Cin-ling-pai, bahkan menerima petunjuk pula dari ketua Cin-ling-pai sehingga tentu saja dia sangat lihai, terutama sekali Ilmu Silat Siang-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Sepasang Iblis) yang hebat itu. Dan karena sifatnya yang keras dan berani, juga karena ia tidak pernah memberi ampun kepada para penjahat, maka di dunia kang-ouw dia dijuluki Toat-beng Sian-li (Dewi Pencabut Nyawa)! Maka, meski pun kini dikepung dan dikeroyok dua puluh orang lebih, dia mengamuk dan sedikit pun tidak menjadi gentar.

Gadis ini mendengar tentang adanya pertemuan di antara para pendekar di bekas sarang Jeng-hwa-pang. Selama tiga tahun ini dia merantau dengan hati penuh duka, mencari-cari Hui Song, pemuda yang menjadi pujaan hatinya. Dan seperti telah kita ketahui, ia melihat betapa suheng yang dicintanya itu dirayu di dalam kamar oleh Siang Hwa, membuat dia cemburu dan marah sekali.

Akan tetapi akhirnya ia tertawan dan yang amat menyedihkan hatinya, suheng-nya malah bersekutu dengan wanita iblis itu dan ia disuruh pergi! Sakit sekali rasa hatinya walau pun ia tahu bahwa Hui Song melakukan hal itu untuk menyelamatkan nyawanya dari ancaman Gui Siang Hwa. Akan tetapi bagi dia rasanya lebih suka mati di tangan wanita itu dari pada melihat suheng-nya berkawan dengan iblis betina itu dan dia disuruh pergi. Akan tetapi, suheng-nya yang menyuruhnya sehingga dia tidak dapat membantah.

Dengan hati dirundung duka, gadis yang usianya sudah dua puluh dua tahun ini lalu pergi ke utara, hendak menghadiri pertemuan antara pendekar di benteng Jeng-hwa-pang. Hal ini dilakukannya bukan hanya untuk memperluas pengalaman, akan tetapi terutama sekali karena dia mengharapkan akan bertemu dengan suheng-nya. Ia percaya bahwa seorang pendekar besar seperti suheng-nya itu pasti akan hadir pula di sana.

Demikianlah, dia tiba di antara para pendekar di bekas sarang Jeng-hwa-pang, kemudian menyelinap di antara mereka, namun tak berani muncul secara berterang sebab dia tidak mewakili siapa-siapa dan dia pun tidak datang atas nama perguruan Cin-ling-pai. Hatinya merasa girang sekali ketika dia melihat Hui Song berada di situ pula, bahkan membuat pelaporan. Dia merasa ikut bangga akan tetapi dia tetap bersembunyi dengan keputusan akan menemui suheng-nya itu setelah pertemuan selesai.

Hatinya lega sebab dia tidak melihat adanya iblis betina yang merayu suheng-nya dahulu. Akan tetapi, ada perasaan kecut dan cemburu di dalam hatinya apa bila mengingat akan sikap suheng-nya yang amat dingin kepada dirinya, sikap yang tidak membalas cintanya, teringat pula betapa manis sikap suheng-nya terhadap Ceng Sui Cin, kemudian terhadap wanita iblis itu.

Dan ketika pasukan pemberontak yang sangat besar jumlahnya datang menyergap, Siang Wi ikut pula bertempur dan membela diri sambil mencari jalan keluar. Akan tetapi, belum jauh dia berlari meninggalkan bekas benteng itu, dia dikepung oleh dua puluh orang lebih prajurit pemberontak. Kembali dia mengamuk membela diri dan sama sekali tidak merasa gentar walau pun pihak lawan terlampau banyak baginya.

Dalam keadaan terancam inilah muncul Cia Sun yang segera turun tangan membantu. Sungguh pun dia belum mengenal gadis itu, akan tetapi dia dapat menduga bahwa gadis yang dikeroyok para prajurit pemberontak itu tentulah seorang di antara para pendekar yang tadi hadir dalam pertemuan di bekas benteng Jeng-hwa-pang.

Serbuan Cia Sun mengubah keadaan dan dengan kerja sama mereka, dua puluh orang prajurit pemberontak itu kocar kacir dan banyak di antara mereka yang roboh tidak dapat bangkit kembali. Selebihnya, hanya beberapa orang saja, kemudian melarikan diri.

"Saudara yang gagah, terima kasih atas bantuanmu," Siang Wi berkata sambil menjura setelah semua pengeroyok roboh dan pergi.

"Lebih baik kita pergi secepatnya sebelum pasukan lainnya datang!" jawab Cia Sun tidak mempedulikan ucapan terima kasih orang dan dia pun segera berlari dengan cepat, diikuti oleh Siang Wi.

Gadis ini tadi merasa kagum sekali melihat kelihaian Cia Sun ketika membantunya, dan kini menjadi semakin kagum karena pemuda itu mempunyai ilmu berlari cepat yang hebat sehingga dia tidak akan mampu menyusulnya kalau saja pemuda itu tidak memperlambat larinya.

Demikianlah, sesudah berhasil menyelamatkan diri, mereka saling berkenalan. Keduanya terkejut dan girang setelah mendengar tentang diri masing-masing. Sudah lama Siang Wi mendengar tentang keluarga Cia yang gagah perkasa di Lembah Naga, maka cepat dia memberi hormat ketika mendengar bahwa sekarang dia sedang berhadapan dengan Cia Sun, putera Lembah Naga.

"Sungguh beruntung aku dapat bertemu dengan pendekar gagah perkasa dari Lembah Naga! Pantas tadi aku seperti mengenal gerakan silatmu. Bukankah menurut keterangan suhu, ilmu silat keluarga Cia di Lembah Naga masih dekat sekali kaitannya dengan ilmu dari Cin-ling-pai?"

"Benar, nona. Ilmu-ilmu silat keluarga kami memang satu sumber dengan ilmu-ilmu dari Cin-ling-pai. Aku pun girang bahwa engkau adalah murid dari ketua Cin-ling-pai. Apakah nona hadir di pertemuan itu bersama dengan putera ketua Cin-ling-pai yang kulihat tadi hadir pula? Ataukah sebagai wakil Cin-ling-pai?"

"Cia-toako, pertama-tama kuharap engkau tidak memanggil nona padaku. Bukankah jika diselidiki benar, di antara kita ini masih ada ikatan saudara dalam perguruan? Aku tidak datang bersama suheng, juga bukan utusan suhu. Aku datang untuk... mencari suheng yang sudah lama pergi dan untuk meluaskan pengalaman. Toako, apakah engkau melihat ke mana larinya suheng tadi?"

"Maksudmu Cia Hui Song? Entahlah, nona... eh, Wi-moi. Aku pun tidak melihatnya. Mana mungkin bisa melihatnya di antara serbuan ribuan orang pasukan pemberontak itu?"

Siang Wi mengepal tinju. "Aku benci pemberontak-pemberontak itu! Apa lagi iblis betina yang memimpinnya itu! Sekali waktu aku harus membunuhnya!"

Diam-diam Cia Sun tersenyum. Tidak begitu mudah, nona cilik, betapa pun lihaimu. Murid Raja Iblis itu terlalu lihai bagimu, demikian pikirnya.

"Siauw-moi, apakah engkau mengenal wanita iblis itu?"

"Tentu saja! Dia adalah Gui Siang Hwa, murid Raja Iblis! Dan dialah wanita cabul yang pernah merayu... suheng-ku. Aku benci sekali padanya! Dan sekarang, dia mengerahkan pasukan pemberontak untuk menyerang sehingga banyak kawan kita yang tewas. Dan kini aku terpisah lagi dari suheng yang kucari-cari, tidak tahu ke mana harus mencarinya sekarang?"

Cia Sun memandang wajah gadis itu. Malam telah terganti pagi dan sinar matahari pagi yang keemasan menyiram wajah yang cantik itu. Wajah yang manis sekali dan sepasang mata yang jeli dan penuh sinar berapi, penuh semangat hidup dan keberanian.

"Wi-moi, benarkah engkau membenci para pemberontak dan engkau hendak menentang mereka?"

"Eh, eh, kenapa engkau masih bertanya? Bukankah aku hampir celaka oleh mereka dan mungkin sekarang aku sudah tewas kalau tidak ada engkau yang menolongku, toako?"

"Begini, Wi-moi. Adanya aku bertanya kepadamu adalah... ehhh, apakah engkau belum mendengar atau mengerti bahwa suhu dan subo-mu juga berada di utara sini?"

Siang Wi kaget akan tetapi juga girang. "Aihh! Benarkah itu? Di mana mereka sekarang? Apakah toako sudah berjumpa dengan suhu dan subo? Mengapa mereka tidak nampak hadir dalam pertemuan antara pendekar?"

Cia Sun menggeleng kepala dan memandang tajam penuh selidik. "Siauw-moi, agaknya engkau belum tahu atau mendengar tentang suhu dan subo-mu. Tahukah engkau kenapa mereka berada di daerah ini dan sekarang berada di Ceng-tek?"

Siang Wi memandang bingung. "Aku tidak tahu, toako. Mereka di Ceng-tek? Apa yang terjadi dengan mereka?"

"Mereka... membantu para pemberontak menyerbu Ceng-tek dan kini telah menjadi tokoh pemberontak di Ceng-tek..."

"Ahh...! Tidak mungkin!" seru gadis itu.

"Ketika mendengar berita itu untuk pertama kalinya, aku sendiri tidak percaya dan merasa penasaran bukan main. Aku memang mendengar bahwa gurumu, paman Cia Kong Liang adalah seorang yang keras hati, akan tetapi menurut penuturan ayah, paman Cia Kong Liang selalu menjunjung tinggi kegagahan dan agaknya tak mungkin kalau sampai beliau begitu rendah menjadi kaki tangan pemberontak. Akan tetapi berita itu sudah kuselidiki kebenarannya dan temyata memang paman Cia Kong Liang bersama isterinya dan ayah mertuanya kini membantu Raja Iblis dan Panglima Ji Sun Ki yang memberontak. Aku tak dapat menyelidiki mengapa terjadi hal yang mustahil itu."

Siang Wi termenung dengan wajah pucat. Dia dapat menduga. Tentu ini gara-gara kakek Jepang yang menjadi mertua suhu-nya itu. Bagaimana juga, sebagai murid subo-nya dia tahu bahwa kakek itu dahulu pernah menjadi datuk sesat di timur. Bukan tidak mungkin kakek itu mempunyai hubungan dengan Raja Iblis dan para datuk sesat yang sekarang memberontak, dan berhasil membujuk suhu-nya untuk membantu pemberontak!

"Aku harus cepat mencari mereka... harus menyadarkan mereka...!" Ia berkata berkali-kali seperti kepada dirinya sendiri.

Cia Sun merasa kasihan, juga kagum akan kegagahan gadis ini. Walau pun mendengar betapa suhu dan subo-nya membantu pemberontak, gadis ini tetap dengan pendiriannya berpihak kepada para pendekar yang menentang pemberontak, bahkan kini dia hendak menyadarkan suhu dan subo-nya dari kesesatan itu.

"Wi-moi, telah menjadi keputusan rapat tadi bahwa kita terpaksa harus bertindak sendiri-sendiri, dengan cara sendiri menentang para kaum sesat yang ternyata sudah bersekutu dengan pasukan pemberontak. Dan kita tidak akan berhasil menghadapi mereka apa bila tidak bergabung dengan pasukan pula. Oleh karena itu, mari kita melakukan penyelidikan ke kota Ceng-tek, dan kita membantu gerakan pasukan pemerintah, sekalian menyelidiki paman Cia Kong Liang dan alangkah baiknya jika sampai berhasil menyadarkan mereka sehingga mereka membantu kita dari dalam untuk menghancurkan pemberontak."

Siang Wi yang kini merasa suka dan kagum kepada pendekar muda Lembah Naga ini, merasa setuju dan berangkatlah mereka bersama. Dan secara kebetulan sekali mereka sampai di tempat sunyi di lereng bukit di mana mereka melihat Ci Kang sedang berkelahi mati-matian melawan Cia Hui Song. Melihat ini, tentu saja mereka menjadi terkejut sekali.

"Suheng-ku melawan putera Iblis Buta, aku harus membantunya!" kata Siang Wi, dan dia sudah siap menerjang. Akan tetapi lengannya disentuh Cia Sun.

"Jangan tergesa-gesa! Putera Iblis Buta itu adalah orang yang gagah perkasa yang juga menentang kaum sesat. Kita hentikan perkelahian itu dan bicara dengan baik!" Sesudah berkata demikian, mereka segera meloncat ke dalam gelanggang perkelahian. Siang Wi menghentikan suheng-nya dan Cia Sun menahan Ci Kang.

Baik Ci Kang mau pun Hui Song terpaksa menghentikan gerakan perkelahian mereka ketika Siang Wi dan Cia Sun melerai, walau pun hati Hui Song masih merasa penasaran sekali.

Cia Sun segera memberi hormat kepada Hui Song. Walau pun usia mereka sebaya, dia hanya satu tahun lebih tua dari Hui Song, akan tetapi menurut ‘abu’ dia jauh lebih muda sebab Hui Song masih terhitung pamannya. Kalau pendekar sakti Cia Bun Houw adalah kakek Hui Song, maka baginya kakek sakti itu adalah kakek buyutnya.

Kakek Cia Bun Houw adalah ayah kandung Cia Kong Liang dari ibu Yap In Hong, ada pun kakeknya sendiri, yakni Cia Sin Liong adalah anak kandung Cia Bun Houw dari ibu Liong Si Kwi. Kakeknya itu dengan Cia Kong Liang adalah saudara seayah berlainan ibu.

"Harap paman Cia Hui Song suka bersabar dan maafkan saya yang berani melerai dan menghentikan perkelahian ini," katanya.

Cia Hui Song sudah tahu bahwa pemuda perkasa ini adalah Cia Sun, keturunan Lembah Naga yang masih keluarga Cia juga. Dan walau pun dia terhitung paman dari pemuda itu, karena mereka sebaya, dia pun cepat membalas penghormatan itu.

"Engkau tentu Cia Sun, bukan? Sebetulnya aku senang sekali dapat berkenalan dengan anggota keluarga sendiri, dan aku pun telah melihatmu di bekas benteng Jeng-hwa-pang. Akan tetapi Cia Sun, apakah engkau tidak tahu siapakah jahanam ini?" Dia menuding ke arah Ci Kang. "Bila mana engkau sudah tahu dia siapa tentu engkau tidak akan melerai melainkan membantuku membunuhnya. Dan kau juga sumoi, apakah engkau sudah lupa siapa adanya penjahat ini?"

"Aku tidak lupa, suheng, dan tadi pun aku sudah hendak membantumu, tetapi Sun-toako mencegah."

"Paman Hui Song, aku pun tahu siapa adanya Siangkoan Ci Kang. Aku tahu benar bahwa dia adalah putera mendiang Siangkoan Lo-jin..."

"Putera Si Iblis Buta, datuk sesat yang amat jahat itu!" Hui Song menambahkan.

"Benar, akan tetapi dia tidak boleh disamakan dengan mendiang ayahnya. Saudara Ci Kang ini kukenal benar karena kami sudah sama-sama menentang Raja Iblis dan kami berdua bahkan hampir tewas oleh Raja Iblis dan muridnya yang jahat, Gui Siang Hwa. Saudara Ci Kang ini adalah murid locianpwe Ciu-sian Lo-kai dan dia selalu menentang kejahatan sampai dimusuhi oleh ayahnya sendiri dan oleh para tokoh sesat. Dia adalah seorang gagah dan berjiwa pendekar..."

"Hemm, engkau sudah kena ditipunya, Cia Sun! Engkau tidak tahu siapa dia sebenarnya. Karena dia berkedok domba, engkau tidak tahu bahwa di balik kedok itu adalah seekor harimau yang liar dan buas! Aku dapat membuktikannya sendiri kejahatannya! Ketahuilah bahwa kalau tidak ada aku yang mencegahnya, mungkin dia sudah... memperkosa Sui Cin!"

"Ahhh...!" Cia Sun terbelalak dan memandang wajah Ci Kang dengan penuh selidik. Dia sudah tahu sendiri betapa pemuda itu tak mau menyerah dan memilih mati ketika dirayu Siang Hwa. Pemuda ini bukan orang yang lemah terhadap nafsu birahi dan agaknya tidak mungkin akan melakukan hal terkutuk itu terhadap Sui Cin!

"Ci Kang, benarkah itu...?" tanyanya, masih terkejut dan tidak percaya.

Ci Kang menghela napas panjang. "Pendekar Cia Hui Song terlalu membenciku, terlalu bernafsu memusuhiku sehingga tak memberi kesempatan kepadaku untuk membela diri. Cia Sun, engkau sudah mengenalku, kita bersama telah menghadapi ancaman-ancaman maut dan sudah saling mengenal watak masing-masing. Tidak kusangkal bahwa memang aku pernah bersikap kurang ajar terhadap nona Ceng Sui Cin, akan tetapi apa yang aku lakukan itu terjadi di luar kehendakku, di luar kekuasaanku untuk menahan. Pada waktu itu aku sedang dikuasai nafsu dan gairah yang tidak wajar, dan aku yakin bahwa aku telah keracunan sehingga melakukan hal-hal di luar kesadaranku. Ketika itu aku sedang terluka dan menerima obat dari nona Ceng Sui Cin. Aku diobati dan dirawat, mana mungkin aku melakukan hal keji? Akan tetapi hal itu terjadi dan aku yakin bahwa racun itu terdapat justru dalam obat itu!"

"Alasan yang dicari-cari!" Hui Song membentak marah.

"Terserah, akan tetapi kenyataannya memang demikian. Bukan aku mencari alasan untuk membela diri. Tidak, aku cukup tersiksa dan merasa menyesal dan kalau nona Ceng Sui Cin sendiri yang menghukumku, aku akan menyerahkan diri tanpa melawan. Akan tetapi, jangan orang lain yang hendak menghukumku!" kata Ci Kang dengan sikap dingin.

Mendengar ucapan ini, Hui Song merasa betapa mukanya panas kemerahan. Dia seperti baru diingatkan bahwa dia tidak berhak marah-marah dan hendak membunuh Ci Kang. Bagaimana pun juga, walau dia amat mencinta Sui Cin, akan tetapi secara resmi gadis itu bukan apa-apanya, malah kekasihnya pun bukan karena selama ini dara itu belum pernah menyatakan membalas cintanya! Kalau Sui Cin yang dihina itu tidak apa-apa, mengapa dia yang ribut-ribut?

"Hemmm, sekarang memang tidak dapat kubuktikan bahwa nona Ceng mendendam dan marah, akan tetapi kalau kelak dia mencarimu untuk membuat perhitungan, maka aku akan membantunya dan kami akan membunuhmu!" katanya menahan kemarahan.

"Sudahlah, paman Hui Song. Kita semua sedang menghadapi keadaan yang amat gawat. Para pemberontak sudah merebut Ceng-tek dan semakin merajalela saja. Kalau di antara kita ribut sendiri, bagaimana kita bisa menentang mereka? Seperti yang telah diputuskan dalam pertemuan itu, kita harus bergerak secara sendiri-sendiri untuk membantu pasukan pemerintah yang tentu akan segera menyerbu mereka dari selatan. Sekarang kita harus bersiap-siap dan kalau mungkin, sebelumnya kita melakukan gangguan-gangguan untuk melemahkan mereka, atau setidak-tidaknya menyelidiki kekuatan mereka, memata-matai mereka agar kita dapat memberi pelaporan kepada pasukan pemerintah kelak."

"Benar, suheng," Siang Wi menyambung. "Urusan pribadi lebih baik dikesampingkan saja dulu, lebih baik kita cepat-cepat pergi ke Ceng-tek."

"Ke Ceng-tek? Ada apa? Bukankah kota itu sudah diduduki musuh?" tanya Hui Song.

"Kita harus cepat pergi ke sana, suheng, karena..." Tiba-tiba saja Siang Wi menghentikan kata-katanya dan melirik ke arah Ci Kang.

Melihat ini, Cia Sun menoleh kepada Ci Kang, "Ci Kang, mari kita pergi."

Ci Kang mengangguk. "Memang aku sedang mencari nona Hui Cu..."

"Hui Cu? Ada apa dengannya?"

"Dia telah tertawan oleh Raja Iblis..."

"Ahhh...!" Cia Sun merasa terkejut bukan main.

"Cia Sun, kita sudah berhutang budi kepadanya, marilah kau bantu aku mencarinya dan menyelamatkan dia." Cia Sun mengangguk dan mereka lalu berpamit kepada Siang Wi dan Hui Song.

Setelah dua orang muda itu pergi, Siang Wi berkata, "Suheng, apakah engkau tidak tahu? Suhu dan subo kini berada di Ceng-tek, juga semua saudara anggota Cin-ling-pai."

Sepasang mata Hui Song terbelalak. Dia teringat akan kata-kata Sim Thian Bu mengenai orang tuanya. "Ada... ada apakah sehingga mereka berada di Ceng-tek?" tanyanya gagap dan gelisah.

Siang Wi dapat menduga bahwa suheng-nya belum mendengar tentang hal yang sangat mengejutkan mengenai gurunya itu. "Suheng, suhu, subo, dan sukong bersama dengan para murid Cin-ling-pai telah berada di kota Ceng-tek karena mereka semua membantu pemberontak..."

"Tak mungkin!" Hui Song berteriak. "Sumoi, dari siapa engkau mendengar berita bohong itu?"

"Suheng, ketika pertama kali mendengarnya, aku pun terkejut dan tidak percaya, bahkan ingin marah. Akan tetapi... yang memberi tahu kepadaku adalah toako Cia Sun sendiri."

"Ahhhh...!" Jantung Hui Song berdebar keras. Jadi, benarkah apa yang didengarnya dari Sim Thian Bu? "Bagaimana mungkin itu? Apakah Cia Sun tidak keliru ketika bercerita kepadamu?"

"Suheng, kalau saja yang berterita itu orang lain, tentu sudah kuserang dia! Akan tetapi Cia-toako, kiranya tak mungkin dia berbohong dan aku khawatir sekali suheng. Aku ingin cepat-cepat bertemu dengan subo dan untuk membuktikan kebenaran berita itu."

"Mari kita cepat ke Ceng-tek. Berita itu harus kita selidiki dan kalau memang benar terjadi hal yang luar biasa itu, aku harus menegur dan mengingatkan ayah dan ibu!"

Dengan hati gundah dan gelisah Hui Song dan Siang Wi meninggalkan tempat itu menuju ke Ceng-tek. Mereka berdua mengambil keputusan bahwa kalau memang benar ketua Cin-ling-pai dan para anggotanya membantu pemberontak, mereka akan menegur dan menyadarkan sedapat mungkin…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner