ASMARA BERDARAH : JILID-59


Mereka yang roboh tidak mampu bangkit kembali karena tulang mereka sudah patah atau retak-retak dihantam kayu melintang di depan gerobak. Setelah mereka semua roboh dan mereka berteriak-teriak minta tolong, Sui Cin cepat menyalakan api membakar jerami di dalam gerobaknya, kemudian mendorong gerobak yang berkobar-kobar itu sampai masuk ke dalam pondok penjagaan sampai pondok itu terbakar pula.

Dia melihat datangnya puluhan orang prajurit dari dalam. Cepat Sui Cin menyambar dua batang golok dari atas tanah dan berlari menghampiri alat pemutar pintu gerbang. Pintu gerbang yang berat itu dibuka atau ditutup dengan menggunakan alat putaran yang kuat, kini Sui Cin menghajar rantai besar itu dengan sepasang goloknya, membacoki rantai itu hingga sepasang goloknya rompal akan tetapi rantai itu pun putus! Sekarang daun pintu gerbang tidak dapat ditutup kembali setelah rantai itu putus.

Ketika puluhan orang prajurit datang menyerbu dan mengeroyoknya, Sui Cin mengamuk, menggunakan sepasang goloknya yang sudah rompal. Dia sengaja mengulur waktu untuk memberi kesempatan kepada teman-temannya bergerak.

Memang, pada saat yang sama di tiga pintu gerbang lainnya terjadi pula kekacauan yang ditimbulkan oleh pembantu-pembantu Yelu Kim yang mempunyai kepandaian tinggi. Akan tetapi mereka itu datang sedikitnya berlima, tidak seperti Sui Cin yang bekerja seorang diri saja.

Tiba-tiba saat yang dinanti-nanti oleh Sui Cin sambil mengamuk itu pun tiba. Terdengar suara teriakan-teriakan riuh rendah di sebelah dalam kota, kemudian tampak api berkobar tinggi. Ternyata kawan-kawan yang menyelundup ke dalam itu kini sudah mulai dengan aksi mereka membakari tempat-tempat penting. Tentu saja ada di antara mereka yang kepergok dan dikeroyok sehingga mulailah terjadi pertempuran-pertempuran antara para mata-mata dengan para petugas keamanan.

Melihat ini Sui Cin tidak mau melayani para pengeroyoknya. Cuaca mulai menjadi gelap dan dia pun menggunakan ilmu ginkang-nya untuk melompat dan melarikan diri memasuki kota Ceng-tek, meloncat ke atas wuwungan rumah-rumah orang lalu lenyap dari kejaran para penjaga. Keadaan menjadi kacau ketika para penjaga melihat bahwa pintu gerbang tidak dapat ditutup dan betapa di dalam kota sudah terjadi pembakaran-pembakaran dan pertempuran-pertempuran.

Dan pada saat itulah terdengar ledakan-ledakan disusul bunyi terompet dan tambur, lalu pasukan-pasukan Yelu Kim menyerbu dari delapan penjuru. Kacau balaulah pertahanan pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Sim Thian Bu dan Siang Hwa. Begitu mereka mencurahkan perhatian untuk menahan serbuan musuh ke empat pintu gerbang, datang serbuan melalui tembok-tembok benteng dan datang pula hujan panah dari luar tembok.

Serbuan pada waktu malam gelap ini sungguh telah diperhitungkan dengan masak-masak oleh Yelu Kim. Pasukannya memiliki sasaran yang jelas, yaitu benteng itu. Dan di dalam kota benteng itu terdapat penerangan yang cukup sehingga mereka mampu melihat jelas keadaan musuh.

Sebaliknya, pasukan pemberontak yang berada di dalam benteng menjadi bingung sebab pihak musuh datang dari tempat gelap, tidak tahu dari arah mana yang tepat, dan pihak musuh ini sama sekali tidak membawa obor. Mereka bahkan tidak tahu siapakah musuh mereka dan berapa jumlahnya. Maka tanpa banyak susah payah, pada menjelang tengah malam pasukan-pasukan Yelu Kim mulai berhasil mendesak masuk melalui pintu gerbang dan melalui tembok-tembok benteng!

Tidak dapat disangkal bahwa Gui Siang Hwa dan Sim Thian Bu adalah dua orang yang memiliki ilmu silat tinggi. Akan tetapi dalam hal ilmu perang, mereka bukan ahli dan tidak berpengalaman, maka ketika menghadapi penyerbuan yang dilakukan dengan taktik yang matang dari Yelu Kim ini, mereka menjadi bingung.

Dan seperti ahli-ahli silat umumnya, mereka hanya mengandalkan kepandaian silat untuk bertahan, lupa bahwa perang antara pasukan tidak dapat disamakan dengan perkelahian antar perorangan di mana ilmu silat memegang peranan yang menentukan kalah menang. Karena pasukan mereka kalah banyak, juga karena mereka diserbu secara tiba-tiba dan tak terduga-duga, maka pertahanan mereka akhirnya bobol dan terjadilah pertempuran di dalam kota benteng itu antara pasukan pemberontak dan suku bangsa utara yang berani mati.

Sebelum melakukan penyerbuan, Sui Cin sudah mendengar dari para mata-mata Mancu bahwa perkumpulan Cin-ling-pai yang dipimpin oleh ketuanya sendiri juga ikut membantu pemberontakan Raja Iblis, bahkan ketika pasukan pemberontak menyerbu kota Ceng-tek dan akhirnya menguasainya, orang-orang Cin-ling-pai sudah berjasa besar. Kemudian dia pun mendengar bahwa orang-orang Cin-ling-pai kini bertugas sebagai perwira-perwira dan kepala-kepala pasukan penjaga untuk menjaga keamanan Ceng-tek.

Oleh karena itu, ketika dia berhasil mengacau pintu gerbang timur dan teman-temannya, baik yang berada di dalam mau pun di luar sudah mulai bergerak, dia lalu berloncatan dari wuwungan ke wuwungan lain, mencari-cari. Ketika dia mendengar akan hal Cin-ling-pai, dia hampir tidak percaya dan merasa prihatin sekali.

Betulkah orang-orang Cin-ling-pai ikut memberontak, bersekutu dengan Raja Iblis? Malah dipimpin sendiri oleh ketuanya, ayah Hui Song? Sulit untuk dipercaya. Bukankah Hui Song sendiri seorang pendekar muda yang gagah perkasa dan budiman?

Meski pun ayah bundanya nampaknya tidak suka kepada ketua Cin-ling-pai yang mereka anggap angkuh dan sombong, akan tetapi mereka pun mengakui bahwa ketua Cin-ling-pai adalah seorang pendekar yang sangat lihai dan gagah perkasa. Bagaimana mungkin kini pendekar itu beserta murid-muridnya malah bersekutu dengan Raja Iblis yang dibantu oleh Cap-sha-kui?

"Tidak mungkin...!" katanya pada diri sendiri.

Akan tetapi tiba-tiba Sui Cin mendekam di atas wuwungan saat dia melihat berkelebatnya dua orang dari dalam sebuah gedung di bawah. Ketika kedua orang itu berdiri di bawah penerangan, dia segera mengenal mereka yang tidak lain adalah Gui Siang Hwa dan Sim Thian Bu!

Melihat dua orang musuh besar yang sangat dibencinya itu, Sui Cin lupa diri, lupa bahwa dua orang itu amat lihai dan terlalu berbahaya baginya kalau menghadapi mereka berdua itu sendirian saja. Akan tetapi kemarahan sudah membuat dia melompat ke bawah sambil berseru marah,

"Jahanam-jahanam busuk hendak lari ke mana kalian?!"

Agaknya dua orang itu memang telah bersiap-siap untuk lari. Mereka membawa buntalan yang kelihatan berat di punggung masing-masing dan agaknya mereka hendak melarikan diri sambil membawa barang-barang berharga dari dalam kota benteng itu.

Siang Hwa dan Thian Bu terkejut sekali. Keduanya segera mencabut pedang dan ketika mengenal Sui Cin, mereka pun marah lalu tanpa banyak cakap lagi keduanya menyerang Sui Cin.

Gadis ini cepat mengelak. Akan tetapi, dua orang itu yang melihat betapa gadis ini hanya bertangan kosong dan sendirian saja, lalu mempercepat serangan mereka, dengan penuh nafsu melancarkan serangan-serangan maut untuk membunuh Sui Cin.

Akan tetapi Sui Cin sudah menguasai Ilmu Bu-eng Hui-teng dari Wu-yi Lo-jin, gerakannya cepat laksana beterbangan saja sehingga dua pedang di tangan Siang Hwa dan Thian Bu tidak dapat menyentuhnya. Dua orang lawan itu terkejut melihat kecepatan gerak Sui Cin dan mereka terus mendesak. Sungguh pun Sui Cin mampu mengelak dan berloncatan ke sana-sini, namun dia tidak mendapatkan kesempatan untuk balas menyerang.

Untung baginya bahwa dua orang lawannya itu kelihatan gugup. Kini pertempuran sudah mulai memasuki kota sehingga mereka harus bergegas melarikan diri. Munculnya Sui Cin menimbulkan bahaya bagi mereka, bahaya terlambat untuk melarikan diri. Maka mereka lantas menyerang terus kalang kabut membuat Sui Cin terpaksa harus mengerahkan ilmu ginkang-nya untuk menghindarkan diri dari libatan dua gulung sinar pedang itu.

Tiba-tiba berkelebat dua bayangan orang dan tahu-tahu di sana telah nampak Hui Song dan Siang Wi! Siang Wi sudah mempergunakan sepasang pedangnya menyerang Siang Hwa sedangkan Hui Song juga membantu Sui Cin menghadapi Thian Bu.

Munculnya dua orang muda ini tentu saja sangat mengejutkan hati Siang Hwa dan Thian Bu. Apa lagi sesudah melihat betapa hebatnya gerakan Hui Song dan betapa sepasang pedang dari Siang Wi itu pun tidak boleh dipandang rendah.

"Lari...!" Thian Bu berseru sambil memutar pedangnya, mendesak mundur Hui Song dan Sui Cin yang bertangan kosong itu. Keduanya lalu meloncat dan lari ke dalam gelap.

Sui Cin, Hui Song dan Siang Wi tidak mengejar. Sui Cin dan Hui Song merasa gembira sekali dapat bertemu di situ.

"Cin-moi, engkau selamat, aku gembira sekali bertemu denganmu di sini!" kata Hui Song sambil memegang tangan gadis itu.

Untuk sejenak Sui Cin hanya membiarkan saja tangannya digenggam oleh pemuda itu, kemudian sambil melirik kepada Siang Wi dia melepaskan tangannya. "Song-ko, mari kita bantu pasukan suku bangsa utara menyerang pasukan pemberontak!"

"Nanti dulu, kami hendak menyelidiki apakah benar ayah dan ibu berada di sini," kata Hui Song, suaranya mengandung rasa penasaran.

Sui Cin menatap wajah pemuda itu dengan hati tegang. Agaknya pemuda ini pun sudah mendengar tentang Cin-ling-pai yang kabarnya membantu Raja Iblis!

"Sejak tadi aku pun mencari-cari apakah benar ada anggota Cin-ling-pai yang..."

"Jadi engkau sudah tahu pula tentang hal itu, Cin-moi?" Hui Song bertanya kaget. "Jadi... benarkah berita tentang..."

"Aku sudah mendengar beritanya dan aku tidak percaya, Song-ko. Aku pun tidak melihat adanya orang Cin-ling-pai... akan tetapi mungkin mereka memakai pakaian seragam dan aku tidak mengenal mereka..."

"Tunggu...!" Tubuh Hui Song berkelebat.

Dan tidak lama kemudian dia sudah kembali lagi sambil mengempit tubuh seorang prajurit pemberontak yang menggigil ketakutan akan tetapi tidak mampu bergerak itu. Hui Song melemparkan tubuh orang itu ke atas tanah lantas meminjam sebatang pedang dari Siang Wi dan menodongkan senjata itu ke dada tawanannya.

"Hayo ceritakan di mana adanya orang-orang Cin-ling-pai!" bentak Hui Song.

Orang itu sudah sangat ketakutan karena tadi secara tiba-tiba saja tubuhnya tidak dapat digerakkan lalu ‘diterbangkan’ orang tanpa dia dapat berbuat sesuatu. Akan tetapi melihat sikap Hui Song yang agaknya bukan sahabat orang-orang Cin-ling-pai, dia mengira bahwa pemuda ini sedang mencari musuh-musuhnya, maka dengan memberanikan hati dia pun menjawab.

"Orang-orang Cin-ling-pai telah dibasmi, banyak yang tewas dan sebagian sudah ditahan dalam penjara. Pengkhianat-pengkhianat itu..." Dia tidak mampu melanjutkan karena Hui Song telah menendangnya sehingga prajurit itu jatuh pingsan.

"Bagus!" Hui Song berseru gembira.

"Biar pun ayah mengajak saudara-saudara Cin-ling-pai ke sini, tapi ternyata bukan untuk menjadi sekutu, melainkan untuk melawan. Mari kita cari di dalam penjara!"

Sui Cin ikut pula bersama kakak beradik seperguruan itu dan mereka pun berloncatan ke atas genteng. Akhirnya mereka dapat menemukan tempat para tahanan yang merupakan penjara di dalam kota benteng itu.

Penjara itu hanya dijaga oleh belasan orang saja, karena sebagian besar para penjaga sudah menjadi panik dengan datangnya penyerbuan musuh dan sekarang mereka sudah ikut membantu pasukan pemberontak untuk mempertahankan kota Ceng-tek dari serbuan pasukan-pasukan suku bangsa utara.

Karena hanya nampak belasan orang penjaga di situ, Sui Cin dan Siang Wi berdua saja sudah cukup untuk melayang turun dan menghadapi mereka, sedangkan Hui Song tanpa membuang banyak waktu lagi sudah memaksa pintu penjara terbuka. Dia membebaskan semua tawanan dan akhirnya dia melihat murid-murid Cin-ling-pai yang diborgol di dalam sebuah kamar tahanan besar.

Para murid Cin-ling-pai gembira bukan main melihat kemunculan Hui Song, dan mereka segera merangkulnya sambil menangis. Hal ini mengejutkan dan mengherankan hati Hui Song, karena dia tahu bahwa murid-murid ayahnya sangat gagah dan bukan merupakan orang-orang cengeng.

"Aih, kenapa kalian malah menangis setelah aku datang membebaskan kalian?" tanyanya dengan alis berkerut.

"Sute... ahhh, sute... kami sudah mengalami mala petaka! Sedikitnya empat puluh orang saudara Cin-ling-pai sudah tewas..."

"Hemm, itu sudah menjadi resiko perjuangan! Perjuangan selalu menuntut pengorbanan, mengapa kalian menangis?" Hui Song mencela karena hatinya merasa tidak puas melihat sikap cengeng saudara-saudara seperguruannya.

"Aihh, sute... subo... subo dan sukong... mereka juga tewas..."

"Apa...?!" Wajah Hui Song pucat dan matanya terbelalak mendengar bahwa kedua orang tua itu, terutama sekali ibunya, sudah tewas pula sehingga beberapa lamanya dia tidak mampu mengeluarkan suara. Siang Wi sudah langsung menangis terisak-isak mendengar subo-nya tewas.

Beginilah keadaan batin kita pada umumnya. Kalau orang lain yang terkena musibah, pandai-pandai kita menghibur dan menasehatinya dengan kata-kata yang indah. Hal ini lumrah karena kita sendiri tidak merasakan kedukaan akibat musibah yang menimpa itu. Akan tetapi kalau kita sendiri yang terkena, entah ke mana perginya segala nasehat kita tadi, sudah terlupa sama sekali dan kita tenggelam ke dalam kedukaan dan kemarahan.

Ketika tadi melihat saudara-saudara seperguruan itu menangis serta mendengar mereka melaporkan bahwa banyak saudara yang tewas, Hui Song masih mampu menghibur dan mengatakan bahwa perjuangan mereka memerlukan pengorbanan. Akan tetapi pada saat mendengar ibu kandungnya sendiri tewas, jantungnya seperti ditusuk rasanya. Muka yang amat pucat tadi perlahan-lahan berubah merah akibat dendam.

"Siapa yang membunuh mereka?" pertanyaan ini keluar dengan datar.

"Sukong tewas oleh Sim Thian Bu dan subo tewas di tangan Gui Siang Hwa," jawab murid Cin-ling-pai itu yang sudah mengenal murid Iblis Buta dan murid Raja Iblis yang menjadi tokoh-tokoh besar dalam pemberontakan itu.

Mendengar siapa pembunuh ibu dan kakeknya itu, kemarahan Hui Song memuncak. Dia mengepal tinju. "Jahanam keparat mereka itu! Aku harus bunuh mereka...!"

Tiba-tiba ada tangan menyentuh lengannya, tangan yang berkulit halus dengan sentuhan hangat akan tetapi dengan cengkeraman yang mengandung teguran. "Song-ko, mereka itu korban-korban perjuangan." Lirih saja ucapan ini, akan tetapi langsung terasa oleh hati Hui Song.

Dan dia pun menoleh, memandang kepada Sui Cin lalu menggunakan punggung tangan untuk menghapus dua titik air mata yang tergantung pada pelupuk matanya. Dia menarik napas panjang dan mengangguk.

"Engkau benar, Cin-moi," bisiknya kembali. Sesaat kemudian pemuda perkasa ini sudah bisa menguasai dirinya, lalu memandang kepada saudara-saudara seperguruannya yang masih merubungnya.

"Semuanya ini adalah pengorbanan demi perjuangan, mereka gugur sebagai orang-orang gagah yang menentang golongan jahat. Nah, sekarang ceritakan tanpa ragu-ragu, di mana ayahku?"

"Sebelum kami disergap oleh pasukan pemberontak itu, suhu sudah pergi meninggalkan kota Ceng-tek untuk melakukan penyelidikan ke San-hai-koan, dan sejak itu tidak pernah kembali."

Hui Song mengerutkan alisnya. Pertempuran di luar penjara masih terdengar ramai sekali dan semua tahanan, kecuali anak buah Cin-ling-pai, sudah berlarian keluar untuk mencari kebebasan atau ada pula yang lari untuk ikut bertempur, tentu saja memihak kepada para penyerbu. Atau ada pula tahanan orang-orang jahat yang lari keluar untuk mengail di air keruh, mencari keuntungan selagi keadaan kacau oleh pertempuran.

"Sebetulnya, apakah yang sudah terjadi? Mengapa kalian berada di sini? Mengapa ayah berada di sini? Lekas ceritakan dengan singkat!"

"Suhu telah terbujuk dan membawa kami ke sini untuk membantu pemberontak. Tadinya suhu mengira bahwa pasukan pemberontak yang dipimpin Ji-ciangkun mempunyai tujuan perjuangan yang murni untuk menggulingkan pemerintahan lalim. Tapi kemudian ternyata bahwa para pemberontak bersekutu, bahkan dipimpin oleh datuk sesat Raja Iblis. Setelah mengetahui hal ini, suhu marah sekali lalu suhu pergi ke San-hai-koan untuk menyelidik. Agaknya hal ini diketahui oleh pihak kaum sesat, maka mereka telah bertindak lebih dulu, kami diserbu dan kami melakukan perlawanan sedapat mungkin. Akan tetapi fihak musuh terlampau banyak dan dalam pertempuran ini, subo dan sukong, juga banyak saudara kita tewas. Kemudian kami ditangkap karena telah roboh dan tidak mampu melawan lagi."

"Kalau begitu mari kita keluar lalu mengamuk dan membasmi para pemberontak keparat yang ditunggangi golongan hitam itu!" Hui Song mengangkat tangan kanan dengan tinju terkepal, disambut sorak sorai para saudara seperguruannya.

"Tahan dulu...!" Tiba-tiba Sui Cin berseru. "Kurasa tidak benar kalau kita terjun ke dalam pertempuran..."

"Kami hendak berjuang dan untuk itu kami tidak takut kehilangan nyawa, kenapa engkau mengatakan tidak benar?" tiba-tiba Siang Wi berkata dengan alis berkerut.

Dia tahu bahwa ada hubungan kasih antara suheng-nya dan Sui Cin, dan bagaimana pun juga hal ini menimbulkan rasa tidak suka dalam hatinya terhadap gadis yang dianggapnya telah merebut hati pria yang sejak kecil dicintanya itu.

"Cin-moi, apa maksudmu menyalahkan maksud kami menyerbu keluar?" Hui Song juga bertanya dan memandang heran.

"Song-ko, menyerbu keluar dan ikut bertempur sama saja dengan bunuh diri..."

"Kami tidak takut mati!" Siang Wi membentak. Semenjak tadi gadis ini sudah mencabut sepasang pedangnya dan mukanya masih basah air mata ketika dia menangisi kematian subo-nya tadi.

Sui Cin tersenyum melihat sikap Siang Wi itu, dan dia mengalihkan pandangan matanya pada Hui Song. "Song-ko, engkau tahu bahwa semua orang gagah tidak takut mati. Akan tetapi menceburkan diri dalam pertempuran adalah perbuatan nekat atau membunuh diri. Harus diingat bahwa yang menyerbu Ceng-tek ini adalah barisan suku bangsa utara dan mereka telah mendengar bahwa Cin-ling-pai membantu pemberontak. Mereka tidak akan percaya semua alasan kita karena mereka tentu akan menganggap Cin-ling-pai sebagai musuh pula. Dan kita berada di dalam kota benteng seperti sekumpulan burung di dalam sangkar perangkap. Apa bila sekarang kita menyerbu keluar dan ikut bertempur di dalam kota, maka akhirnya kita semua akan tewas..."

"Itulah resiko perjuangan! Kalau kau takut, tak perlu ikut dengan kami!" Siang Wi berseru.

"Sumoi, diamlah!" Hui Song mencela sumoi-nya. "Cin-moi, lanjutkan bicaramu." Dia mulai tertarik. Dia sudah mengenal siapa adanya Sui Cin, gadis perkasa yang suka bertualang dan memiliki keberanian yang amat besar, dan tidak mungkin gadis seperti Sui Cin takut bertempur.

Sui Cin tetap tersenyum, tidak marah melihat sikap Siang Wi. "Sumoi-mu memang penuh semangat, Song-ko. Sudah kukatakan tadi bahwa kalau kita ikut menceburkan diri dalam pertempuran, berarti kita nekat dan membunuh diri. Dan perjuangan bukanlah usaha nekat dan bunuh diri! Mati konyol karena kenekatan itu malah merugikan perjuangan dan tidak ada gunanya sama sekali. Jauh lebih berguna kalau kita berlaku cerdik. Kenekatan bukan perbuatan gagah perkasa dan bukan suatu keberanian, melainkan kebodohan orang yang sudah putus asa dan kehilangan akal. Kalau masih dapat mencari jalan yang lebih baik, kenapa mesti nekat dan mati konyol?"

"Lalu menurut pendapatmu, apa yang harus kita lakukan, Cin-moi?"

"Kita menyerbu keluar, akan tetapi bukan untuk menceburkan diri ke dalam pertempuran melawan pemberontak dan membantu suku bangsa utara, namun untuk membuka jalan darah dan meloloskan diri keluar dari kota benteng ini."

"Apa? Melarikan diri? Aku tidak mau menjadi pengecut!" Siang Wi kembali berteriak. Hui Song memandang sumoi-nya dengan alis berkerut dan memberi isyarat kepadanya agar tidak banyak bicara.

"Melarikan diri bukan karena takut, melainkan dengan perhitungan. Bila kita telah berhasil lolos dari kota benteng ini, kita dapat menyusun kekuatan dan siasat baru untuk bertindak selanjutnya menghadapi perkembangan dan dapat menarik keuntungan sebesarnya bagi perjuangan kita. Apakah itu pengecut namanya? Dalam urusan besar, tidak boleh hanya mengandalkan perasaan dan nafsu dendam belaka, melainkan juga harus menggunakan kecerdikan dan ketenangan."

Hui Song mengangguk-angguk. "Benar sekali apa yang diucapkan Cin-moi. Kita semua tidak boleh membuang nyawa sia-sia belaka. Kita keluar dari kota ini. Aku harus mencari ayah di San-hai-koan dan kalau dapat berjumpa dengan ayah, baru kita tentukan langkah selanjutnya. Mari kita keluar, berpencar dan mencari jalan keluar, kemudian berkumpul di sebelah selatan kota raja, di dalam hutan cemara itu!"

Siang Wi terpaksa tidak membantah perintah suheng-nya dan mereka pun lalu keluar dan menyerbu sambil berpencar, mencari jalan keluar dan merobohkan setiap orang prajurit pemberontak yang berani menghalang di depan mereka.

Sementara itu pertempuran masih berlangsung dengan amat serunya antara pasukan para suku bangsa utara dengan pasukan pemberontak. Penyerbu telah berhasil membobolkan pintu benteng dan kini pertempuran terjadi di mana-mana, di seluruh kota walau pun yang paling ramai terjadi di pintu-pintu gerbang yang kini semua telah dibuka secara paksa oleh pihak penyerbu.

Karena Sui Cin berada di samping mereka, orang-orang Cin-ling-pai hanya dihalangi oleh para prajurit pemberontak saja. Prajurit-prajurit suku bangsa utara semua mengenal Sui Cin, oleh karena itu gadis ini dapat mencegah para penyerbu itu menyerang orang-orang Cin-ling-pai. Dengan demikian akhirnya mereka berhasil lolos dan keluar dari kota benteng Ceng-tek, walau pun jumlah mereka sudah berkurang pula.

Setibanya di dalam hutan cemara, Hui Song lalu mengajak Siang Wi serta para saudara lainnya untuk pergi ke San-hai-koan mencari ayahnya. Sui Cin tidak mau ikut.

"Song-ko, aku harus tinggal di sini, membantu subo Yelu Kim menghancurkan pasukan pemberontak."

Hui Song terbelalak. "Apa? Bukankah engkau sudah tahu bahwa nenek itu memiliki niat untuk menyerbu ke selatan? Apakah engkau akan membantu pemberontakan baru yang direncanakan oleh suku bangsa liar itu?"

Sui Cin tersenyum dan menggelengkan kepala. "Song-ko, engkau tentu tahu bahwa aku hanya mau membantu mereka dalam menentang dan menyerbu para pemberontak yang dipimpin Raja Iblis. Jika tiba saatnya mereka akan menentang pemerintah kita, tentu aku tidak akan membantu mereka, bahkan menentang mereka. Siapa tahu dengan halus aku dapat membujuk subo Yelu Kim untuk tidak melanjutkan rencananya yang gila itu. Nah, bukankah perjuangan dapat dilakukan dengan bermacam cara, pokoknya membela nusa dan bangsa?"

Hui Song merasa kecewa sekali harus berpisah lagi dari gadis yang dicintanya itu, akan tetapi dia maklum bahwa dalam keadaan seperti itu dia harus mengeraskan hatinya dan mengesampingkan semua urusan dan perasaan pribadi. Dia harus mencari ayahnya, dan apa yang dikatakan Sui Cin tadi memang tepat.

Gadis ini bukan orang sembarangan dan selalu memakai perhitungan yang amat matang. Mungkin saja apa yang mampu dilakukan Sui Cin pada waktu itu akan jauh lebih besar gunanya dari pada apa yang mampu dilakukan oleh para pendekar lainnya. Maka dia pun berpamit dan bersama rombongannya pemuda ini lalu meninggalkan Sui Cin.

Gadis ini pun segera kembali ke induk pasukan dan bertemu dengan Yelu Kim membuat laporan. Nenek itu merasa gembira sekali dan memuji-muji muridnya. Pertempuran masih terus berlangsung. Biar pun pihak penyerbu berhasil membobolkan pintu gerbang, namun kekuatan pasukan pemberontak juga cukup besar sehingga pertempuran itu berlangsung sampai semalam suntuk.

Dan pada keesokan harinya, sesudah bertempur mati-matian, akhirnya pasukan Yelu Kim mulai mendesak pasukan pemberontak yang berusaha mempertahankan kota Ceng-tek. Akan tetapi, karena desakan yang begitu kuat dari prajurit-prajurit utara yang berani mati, akhirnya pasukan pemberontak mulai melarikan diri keluar kota.

Selagi pasukan Yelu Kim mengobrak-abrik kota dan siap mendudukinya, tiba-tiba datang pasukan bala bantuan dari San-hai-koan sehingga kembali terjadi lagi pertempuran yang hebat. Sekali ini pasukan Yelu Kim yang telah menduduki benteng itu menjadi pihak yang bertahan, berusaha mempertahankan benteng itu, sedangkan barisan pemberontak yang datang dari San-hai-koan itu menjadi pihak penyerbu…..!

********************

Perhitungan Panglima Yang Ting Houw memang betul-betul tepat. Dia tidak tergesa-gesa mengerahkan pasukan pemerintah untuk menggempur pasukan pemberontak yang sudah menduduki San-hai-koan dan Ceng-tek, melainkan memimpin bala tentara ke utara secara diam-diam dan membiarkan pihak pemberontak bertempur dengan pasukan suku bangsa liar di utara. Peristiwa penyerbuan Ceng-tek oleh pasukan suku bangsa di utara itu diikuti dengan gembira oleh Panglima Yang Ting Houw beserta para perwira pembantunya, juga mereka melihat betapa San-hai-koan dikerahkan untuk menolong Ceng-tek.

Inilah saat yang ditunggu-tunggu oleh Panglima Yang itu. Pasukannya sudah berkumpul dan sekarang pasukan yang besar jumlahnya itu dia bagi dua, yang sebagian menyerbu San-hai-koan dan sebagian lagi menyerang pasukan pemberontak yang sedang berusaha merebut kembali Ceng-tek itu dari belakang, sesudah membiarkan pasukan pemberontak itu mati-matian bertempur melawan pasukan utara yang sudah menduduki Ceng-tek. Dan dalam penyerbuan ke San-hai-koan ini, pasukan pemerintah dibantu orang-orang gagah yang datang menawarkan tenaganya dan diterima dengan gembira oleh Panglima Yang Ting Houw.

Sebelum pasukan pemerintah melakukan serbuan ke San-hai-koan, dua orang pendekar telah lebih dahulu memasuki kota benteng itu. Mereka adalah Cia Sun dan Siangkoan Ci Kang. Seperti kita ketahui, kedua orang pendekar muda ini pergi ke San-hai-koan untuk mencari jejak Toan Hui Cu yang dilarikan ayah kandungnya sendiri, yaitu Pangeran Toan Jit Ong atau Si Raja Iblis.

Dengan ilmu kepandaian mereka yang tinggi, dua orang muda ini berhasil menyelundup memasuki kota benteng San-hai-koan dan mereka lalu berpencar, mencari jalan sendiri-sendiri setelah saling berjanji bahwa sebuah kelenteng tua di sudut barat kota itu menjadi tempat pertemuan mereka.

"Kalau menemukan sesuatu yang penting, kita harus saling berhubungan," kata Cia Sun sebelum mereka berpisah. "Dan di belakang kuil ini, tepat pada jam dua belas malam, kita dapat mengadakan pertemuan."

Mereka lantas berpisah dan menyelinap dengan cepat, menghilang ke dalam kegelapan malam. Ci Kang merasa bingung, bagaimana dia akan dapat bersembunyi di waktu siang, akan tetapi dia pun tidak kekurangan akal. Saat dia melihat banyaknya orang berpakaian tentara yang ketika saling berpapasan di jalan tidak saling menegur seperti tidak saling mengenal, dia lalu memperoleh akal.

Dia dapat menduga bahwa saking banyaknya jumlah prajurit, apa lagi mengingat bahwa banyak pula orang-orang kalangan sesat yang membantu pasukan pemberontak, tentu di antara mereka banyak juga yang tak saling mengenal. Dia mencari kesempatan baik dan ketika melihat seorang prajurit yang tubuhnya sebesar dia berjalan seorang diri di tempat yang agak sunyi, dia cepat menotoknya dan prajurit itu pun roboh pingsan tanpa sempat melihat siapa yang merobohkannya.

Kalau dia menghendaki, tentu dengan sekali pukul saja dia mampu membunuh prajurit itu. Akan tetapi, semenjak dia berguru kepada Ciu-sian Lo-kai, hatinya semakin mantap untuk tidak sembarangan melakukan kekerasan-kekerasan terutama sekali membunuh, seperti yang dilakukan oleh mendiang ayahnya dan para kaum sesat pada umumnya. Maka dia tidak membunuh prajurit itu, melainkan hanya melucuti pakaiannya lantas melemparkan tubuh yang pingsan itu ke balik semak-semak.

Sesudah prajurit itu siuman kembali, tentu saja dia merasa heran dan ketakutan setengah mati. Dia tidak melihat siapa penyerangnya, tahu-tahu telah pingsan dan telanjang, hanya memakai pakaian dalam dan terbaring di semak-semak. Maka dia pun diam saja, merasa malu untuk bercerita kepada orang lain bahwa dia telah dibawa oleh ‘siluman’ dan hal ini menguntungkan Ci Kang yang tidak menarik perhatian atas kecurigaan orang lain.

Mudah bagi Ci Kang untuk berkeliaran di kota benteng itu, bahkan pada siang hari pun dia berani jalan-jalan. Kalau berpapasan dengan rombongan prajurit yang tidak mengenalnya, rombongan itu tidak menjadi curiga karena memang banyak sekali prajurit yang tak saling mengenal di tempat itu.

Demikianlah, ketika ketua Cin-ling-pai, Cia Kong Liang, dikepung dan dikeroyok oleh para prajurit, dengan mudah tanpa dicurigai oleh siapa pun juga, Ci Kang dapat menyelundup dan ikut pula mengeroyok. Dia mengikuti semua percakapan antara ketua Cin-ling-pai itu dengan Ji-ciangkun dan Raja Iblis, dan dia merasa bingung sekali.

Jika dia turun tangan menolong dengan kekerasan, walau pun ketua Cin-ling-pai itu lihai, akan tetapi dia tahu bahwa mereka berdua tidak akan mampu menghadapi pengeroyokan banyak prajurit. Maka dia pun cepat mempergunakan ilmu mengirim suara dari jauh untuk membisiki Cia Kong Liang agar menyerah saja karena dia maklum bahwa Raja Iblis tidak menghendaki ketua Cin-ling-pai itu dibunuh, melainkan hendak ditawan saja dan dijadikan sandera. Dan ketua Cin-ling-pai itu pun mau menurut sehingga ditangkap dan dimasukkan dalam tahanan dan dijaga dengan ketat.

Karena Ci Kang dapat pula menyelundup ke dalam tempat penjagaan penjara, maka pada malam hari itu dia pun berhasil menyelundupkan sehelai surat yang dilipat-lipat kecil dan dilemparkannya hingga mengenai tangan ketua Cin-ling-pai yang dua lengannya diborgol di depan.

Kong Liang memandang ke arah prajurit tinggi tegap itu dan tahulah dia bahwa prajurit itu pula yang berbisik kepadanya agar dia suka menyerah. Dia mengangguk perlahan sambil mengepal lipatan surat itu. Setelah dia dibiarkan sendiri dan memperoleh kesempatan, dia membuka lipatan surat itu yang hanya terisi beberapa huruf dan isinya memperkenalkan prajurit muda itu bernama Siangkoan Ci Kang, murid Ciu-sian Lo-kai yang menentang Raja Iblis. Dan surat itu mengatakan pula bahwa untuk sementara, penjara itu merupakan tempat yang aman bagi Cia Kong Liang, juga ketua itu diminta untuk bersabar karena kalau sudah tiba saatnya yang baik, tentu Ci Kang akan membebaskannya.

Membaca surat ini, Kong Liang merasa girang dan berterima kasih sekali, juga dia kagum akan kecerdikan pemuda itu. Dia merasa setuju sekali bahwa untuk sementara penjara ini memang merupakan tempat aman baginya. Andai kata dia melepaskan belenggu tangan dan kakinya sekali pun, agaknya akan sukar baginya untuk dapat lolos dari San-hai-koan yang terjaga kuat itu, apa lagi di situ terdapat banyak sekali orang yang amat lihai.

Dia lalu menggunakan tenaga sinkang-nya untuk meremas sampai hancur kertas surat itu dan bersila dengan tenang, biar pun sukar baginya menekan kegelisahannya memikirkan keadaan isteri, ayah mertua, dan murid-muridnya yang masih berada di Ceng-tek…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner