ASMARA BERDARAH : JILID-62


Sui Cin sudah tak peduli lagi pada mereka. Segera saja dia terjun ke dalam pertempuran membantu nenek Yelu Kim yang dibantu oleh beberapa orang perwira pengawal sedang mengepung Tho-tee-kwi yang lihai.

Majunya Sui Cin membawa perubahan. Kalau tadinya Tho-tee-kwi masih kelihatan gagah perkasa dan agaknya sukar bagi Yelu Kim untuk dapat merobohkan raksasa ini walau pun dia sudah dibantu oleh para perwira pasukan pengawal, sekarang sesudah Sui Cin maju dan menghujankan pukulan dan tamparan ampuh kepada Tho-tee-kwi, kakek itu terdesak hebat! Bahkan sebuah tamparan yang amat kuat dari tangan kiri Sui Cin tepat mengenai pundak kakek itu yang membuatnya terhuyung ke belakang.

Kesempatan ini langsung digunakan oleh Yelu Kim untuk menggerakkan kebutannya yang berwarna putih. Ujung kebutan itu menjadi kaku dan menotok ke arah tiga jalan darah di tubuh kakek raksasa.

Tho-tee-kwi masih sempat menangkis dua totokan, akan tetapi totokan ketiga mengenai tengkuknya dan tubuhnya seketika menjadi kejang. Saat ini kekebalannya pun lenyap dan ketika dua orang perwira pengawal menusukkan pedangnya, pedang itu langsung amblas memasuki lambung dan dadanya. Padahal tadi, sebelum terkena totokan, pedang para perwira itu tidak mampu menembus kekebalan kulitnya!

Robohnya Tho-tee-kwi berarti berakhirnya perlawanan gigih para datuk sesat. Tiga orang Cap-sha-kui yang menjadi pimpinan mereka sudah roboh dan tewas, tentu saja semangat mereka menjadi kecil lantas dengan mudah mereka pun dapat dirobohkan. Habislah tiga belas orang datuk sesat itu, semua tewas di tangan rombongan Yelu Kim walau pun pihak Yelu Kim juga menderita kematian belasan orang pasukan pengawal.

Sesudah bertempur semalaman suntuk, akhirnya Ceng-tek jatuh ke tangan pasukan Yelu Kim. Namun kini datanglah bala bantuan dari San-hai-koan, yakni pasukan pemberontak sehingga kembali terjadi pertempuran yang lebih sengit lagi. Akan tetapi kali ini pihak Yelu Kim yang mempertahankan benteng Ceng-tek, ada pun pihak pasukan pemberontak yang menjadi penyerang dari luar.

Hebat sekali pertempuran ini. Pihak pasukan Yelu Kim sudah lelah setelah mengerahkan tenaga merebut benteng Ceng-tek, sedangkan pasukan pemberontak dari San-hai-koan masih segar bugar dan jumlah mereka pun lebih banyak. Akan tetapi, dengan pandainya Yelu Kim dapat menyusun kekuatan dan pintu-pintu benteng Ceng-tek yang rusak sudah diperbaiki. Sekarang benteng itu menjadi kokoh kuat sehingga tidak mudah bagi pasukan pemberontak untuk merebut kembali benteng itu.

Sampai lima hari lamanya pasukan pemberontak terus mengepung Ceng-tek dan setiap hari terjadi penyerbuan, namun tetap saja benteng itu dapat dipertahankan oleh pasukan Yelu Kim. Bagaimana pun juga, nenek itu mulai merasa gelisah. Kalau pengepungan itu dilanjutkan, paling lama sebulan saja pasukannya akan kehabisan ransum dan ini berarti mereka akan menderita kekalahan dan terpaksa melepaskan kembali kota Ceng-tek yang telah mereka kuasai.

Bagaimana pun juga, nenek itu mengambil keputusan hendak mempertahankan Ceng-tek sampai kekuatan terakhir, karena sekali mereka meninggalkan benteng itu, akan sukarlah bagi mereka untuk memperoleh benteng baru di mana mereka dapat menyusun kekuatan untuk melakukan penyerangan ke selatan.

Sui Cin masih tinggal di Ceng-tek mendampingi gurunya. Gadis ini telah bertekad hendak membantu pasukan Yelu Kim selama pasukan ini bertempur melawan para pemberontak. Dia pun ikut prihatin melihat betapa pasukan gurunya terkurung di Ceng-tek dan benteng itu sudah dikepung oleh pasukan pemberontak yang jumlahnya lebih besar…..

********************

Sementara itu, pertempuran di kota San-hai-koan juga terjadi dengan amat serunya. Sisa pasukan pemberontak yang berada di San-hai-koan terkejut bukan main melihat betapa tiba-tiba pasukan pemerintah yang berjumlah besar sekali telah mengepung San-hai-koan. Mereka dipimpin oleh Ji-ciangkun dan para pembantunya yang melawan dengan gigih dan mempertahankan benteng San-hai-koan mati-matian. Juga para pembantu Raja Iblis, yaitu datuk-datuk sesat beserta tokoh-tokoh dunia hitam, ikut membantu pasukan pemberontak mempertahankan benteng itu.

Akan tetapi pasukan pemerintah jauh lebih kuat, dan pasukan ini pun dibantu oleh para pendekar yang kini membalas dendam kepada pasukan pemberontak. Maka dalam waktu sehari semalam saja benteng itu pun bobol lantas pertempuran terjadi dengan serunya di dalam kota San-hai-koan.

Cia Sun dan Ci Kang sekarang mengikuti Cia Kong Liang yang memimpin mereka untuk menggempur para pemberontak dari dalam. Mereka bertiga mengamuk sampai mereka dapat bertemu dengan para pendekar yang membantu pemerintah.

Melihat betapa ketua Cin-ling-pai kini malah membantu pasukan pemerintah menggempur pemberontak, para pendekar menjadi amat girang dan mereka menganggap bahwa berita tentang Cin-ling-pai yang bersekutu dengan para pemberontak ternyata tidak benar, atau mungkin juga ketua Cin-ling-pai sudah menggunakan siasat pura-pura bersekutu dengan pemberontak untuk dapat menggempur dari sebelah dalam!

Sesudah para pemberontak akhirnya tidak mampu melawan lagi, sebagian besar tewas, sebagian melarikan diri dan sebagian pula menakluk, Ci Kang dan Cia Sun cepat kembali ke tempat rahasia di mana Hui Cu tadi mereka tinggalkan. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget dan gelisah hati mereka ketika mereka tidak lagi melihat gadis itu di tempat itu. Hui Cu telah hilang dan mereka berdua tidak tahu apakah gadis itu pergi sendiri dari situ ataukah dilarikan orang.

Juga dalam penyerbuan itu, walau pun mereka semua sudah mencari-cari bersama para pendekar lain, namun tidak ditemukan jejak Raja dan Ratu Iblis bersama Hui-thian Su-kwi dan beberapa orang datuk sesat lain. Juga Gui Siang Hwa dan Sim Thian Bu tidak dapat mereka temukan. Hanya Ji-ciangkun yang akhirnya bisa mereka tawan hidup-hidup dalam keadaan luka-luka, namun panglima pemberontak ini pun tidak dapat menjawab ke mana larinya Raja Iblis dan kaki tangannya itu.

Tentu saja para pendekar merasa menyesal sekali. Mereka tadinya sudah siap-siap untuk mengeroyok dan membasmi para datuk sesat. Ternyata tokoh-tokoh terpenting mereka dapat melarikan diri.

Setelah kota San-hai-koan jatuh tanpa mengerahkan terlalu banyak tenaga bagi pasukan pemerintah, Yang-ciangkun lalu mengerahkan pasukan untuk menuju ke Ceng-tek. Seperti yang sudah diperhitungkannya, pasukan pemberontak sedang mengepung kota Ceng-tek dan menghamburkan banyak tenaga untuk mencoba membobol benteng Ceng-tek yang sudah diduduki oleh pasukan Yelu Kim. Dan selagi kedua pihak itu kelelahan, muncullah pasukan pemerintah dari San-hai-koan yang keadaannya masih segar dan dalam jumlah yang besar, dibantu pula oleh para pendekar yang penuh semangat.

Tentu saja pasukan pemberontak yang tengah mengepung Ceng-tek menjadi terkejut dan panik ketika mendadak mereka diserang oleh pasukan pemerintah dari belakang. Apa lagi sesudah mereka mendengar berita bahwa benteng pertama mereka, San-hai-koan, telah direbut kembali oleh pasukan pemerintah. Berarti mereka telah kehilangan kedua benteng itu. Ceng-tek direbut oleh pasukan suku bangsa utara sedangkan San-hai-koan dirampas oleh pasukan pemerintah.

Pasukan pemberontak masih mencoba untuk melakukan perlawanan, akan tetapi mereka dihimpit dari depan dan belakang. Dalam waktu sehari saja mereka pun hancur lebur dan cerai berai, sebagian besar melarikan diri atau menakluk.

Dan terjadi perubahan pula di Ceng-tek. Pasukan Yelu Kim masih tetap mempertahankan kota itu namun kini yang mengepung kota itu adalah pasukan pemerintah yang jauh lebih kuat lagi dibandingkan pasukan pemberontak tadi.

Yang-ciangkun adalah seorang panglima yang pandai dan bijaksana. Biar pun dia sudah mendengar bahwa Yelu Kim memimpin para kepala suku bangsa di utara untuk bergerak, pertama-tama menduduki benteng Ceng-tek untuk kemudian menyerbu ke selatan untuk menegakkan kembali kekuasaan bangsa utara di selatan, namun dia menganggap bahwa Yelu Kim telah berjasa bagi pemerintah dalam menghadapi para pemberontak.

Dia pun tahu bahwa tidak ada untungnya menanam bibit permusuhan dengan suku-suku bangsa liar yang kalau sudah bersatu akan menjadi amat kuat itu. Lebih baik mengambil jalan damai dengan mereka, baru kalau tidak ada jalan lain, terpaksa harus dipergunakan kekerasan.

Oleh karena itu, Yang-ciangkun kemudian menyuruh para pembantunya untuk menyuruh penyiar yang suaranya keras supaya menyampaikan pesan dan usulnya kepada pimpinan pasukan para suku bangsa utara. Beberapa orang yang mempunyai suara nyaring dan memang bertugas untuk itu, segera maju ke depan dengan corong-corong di depan mulut mereka kemudian terdengarlah teriakan-teriakan mereka bergema dengan amat kuatnya.

"Para pimpinan suku bangsa yang gagah, dengarlah baik-baik pesan dari Yang-ciangkun! Kami tidak menganggap kalian sebagai musuh, akan tetapi sebagai sahabat yang sudah membantu kami membasmi para pemberontak. Oleh karena itu, kami harap kalian suka menyerahkan benteng Ceng-tek kembali kepada kami supaya persahabatan di antara kita tidak terganggu!"

Berkali-kali kalimat-kalimat itu diteriakkan oleh para penyiar hingga terdengar oleh mereka yang bertugas jaga di pintu gerbang atau di atas tembok benteng dan tentu saja segera disampaikan kepada Yelu Kim.

Nenek itu berada di atas menara yang menjadi pusat di mana dia memimpin para kepala suku bangsa dan pasukan mereka. Nenek ini sedang duduk berdua saja dengan Sui Cin dan merasa bimbang sekali. Ketika menerima laporan tentang usul yang diteriakkan oleh Yang-ciangkun, nenek itu mengepal tinju dan mukanya menjadi merah sekali. Dia merasa penasaran, akan tetapi juga ragu-ragu.

"Keparat! Dengan susah payah kita merebut benteng ini, dengan pengorbanan ribuan jiwa pasukan, dengan cucuran keringat dan darah. Dan sekarang hendak diminta begitu saja? Mana mungkin aku dapat memberikan kepada mereka?"

Semenjak tadi Sui Cin memandang wajah nenek itu. Ia merasa kagum terhadap nenek ini yang dengan gagah dan pandainya sudah memimpin pasukan utara itu sehingga berhasil menduduki Ceng-tek. Akan tetapi dia pun tahu bahwa kini, sesudah pasukan pernerintah datang dan berhadapan dengan pasukan Yelu Kim, dia sendiri tidak mungkin membantu nenek yang menjadi penolong dan gurunya ini. Maka, mendengar usul yang diajukan oleh Yang-ciangkun, Sui Cin melihat suatu cara yang baik untuk turun tangan, yaitu membujuk nenek ini agar suka menerima uluran tangan Yang-ciangkun.

"Subo...," katanya lirih dan hati-hati.

"Hemm...?" Nenek yang sedang tenggelam dalam lamunannya sendiri itu agak kaget dan memandang muridnya.

"Subo tentu percaya kepadaku, bukan?"

"Percaya apa?"

"Percaya bahwa aku selalu memiliki iktikad baik terhadap subo serta pasukan yang subo pimpin."

Nenek itu memperlebar matanya dan memandang tajam. "Tentu saja. Sudah banyak yang kau lakukan untukku, Sui Cin, dan untuk itu aku berterima kasih sekali padamu. Bila aku tidak percaya padamu, tentu selama ini engkau tidak kuberi tugas yang penting-penting."

"Terima kasih! Aku suka menjadi murid dan pembantu subo, bukan hanya karena terikat perjanjian, bukan pula hanya karena aku sudah menerima budi pertolongan subo, namun karena aku merasa suka kepada subo yang gagah perkasa dan bijaksana, juga aku suka melihat pasukan suku bangsa utara yang demikian gagah berani. Nah, karena rasa suka itulah maka aku hendak mengemukakan pendapatku tentang penawaran Yang-ciangkun kepada subo, akan tetapi kuharap subo tidak merasa tersinggung dan menjadi marah."

Nenek itu tersenyum dan memandang lembut. "Muridku, apa kau sangka aku belum juga mengenalmu sehingga tak tahu akan isi hatimu? Selama ini engkau membantuku karena melihat aku menentang kaum pemberontak. Engkau adalah seorang gadis pendekar dan tentu engkau pun menentang para kaum sesat yang menunggangi pasukan pemberontak. Bila mana kami berhadapan dengan pasukan pemerintah, jelas bahwa engkau tidak akan membantu kami sungguh pun aku percaya engkau tidak akan tega untuk mengkhianatiku. Bukankah demikian?"

Sui Cin terkejut dan memandang nenek itu dengan kagum. Sungguh seorang wanita tua yang cerdik dan bijaksana sekali. Pantaslah jika menjadi keturunan Yelu Ce-tai yang amat terkenal di jaman awal pemerintah Mongol itu.

"Sungguh tepat sekali wawasan subo."

"Nah, kini katakanlah apa yang menjadi pendapatmu mengenai keadaan kita sekarang ini."

"Begini, subo. Ceng-tek telah dikepung oleh pasukan pemerintah yang jumlahnya sangat besar. Tanpa diserang sekali pun, baru dikepung saja sampai satu bulan lebih, tentu kita akan kehabisan ransum lantas akan celaka. Andai kata kita melawan pun, tidak mungkin dapat menang. Aku yakin subo tak akan sebodoh itu, membiarkan pasukan hancur lebur hanya untuk mempertahankan sebuah benteng kecil seperti Ceng-tek ini. Kalau menurut pendapatku, akan jauh lebih menguntungkan kalau menerima usul Yang-ciangkun, yakni menyerahkan kembali benteng ini dalam suasana damai dan bersahabat dari pada harus mempertahankan dengan kekerasan dan akhirnya melihat pasukan subo dihancurkan."

"Pendapatmu itu memang tepat dan cocok sekali dengan apa yang kupikirkan, muridku. Tetapi pantaskah jika aku memberikan kota ini begitu saja sehingga semua pengorbanan yang telah kita lakukan itu, kematian ribuan orang saudara itu, menjadi sia-sia dan tanpa guna sama sekali bagi bangsa kami?"

"Subo, Yang-ciangkun mengulurkan tangan sebagai sahabat. Seorang sahabat yang baik tentu tidak hanya pandai meminta saja, akan tetapi juga pandai pula memberi. Minta dan memberi merupakan syarat persahabatan yang baik. Apa bila subo menyerahkan kota ini dengan damai, tentu subo dapat pula mengajukan permintaan-permintaan yang kiranya akan berguna bagi bangsa-bangsa di utara sehingga pengorbanan itu tidak sia-sia belaka melainkan ada pula hasilnya, bukan?"

"Aihh, benar sekali, Sui Cin!" Nenek itu bangkit dan merangkul muridnya. "Mengapa aku tidak berpikir sampai ke situ? Engkau benar sekali. Kini aku akan menyusun permintaan-permintaan itu dan aku tahu siapa yang akan menjadi utusan atau wakilku. Engkaulah orangnya yang akan menyampaikan permintaan dan usul kami kepada Yang-ciangkun!"

Sui Cin gembira sekali. "Aku bersedia, subo!"

Nenek itu lalu memerintahkan pembantunya untuk menjawab teriakan-teriakan dari bawah itu, menyatakan bahwa jawabannya akan dikirim besok pagi-pagi setelah matahari terbit. Setelah jawaban diteriakkan ke bawah, tidak terdengar lagi teriakan-teriakan dari bawah sehingga keadaan menjadi sunyi sekali.

Yang mengepung kota tinggal diam saja dan tidak melakukan gerakan apa-apa, malam itu membuat api unggun, ada pun yang melakukan penjagaan di pintu gerbang dan atas tembok benteng juga kelihatan tenang-tenang saja. Bahkan kedua pihak begitu percaya satu sama lain sehingga para pemimpinnya dapat tidur nyenyak pada malam hari itu.

Pada keesokan harinya, setelah matahari terbit, Sui Cin menerima gulungan kertas berisi permintaan-permintaan atau usul-usul dari Yelu Kim yang ditujukan kepada pemerintah Beng-tiauw melalui Yang-ciangkun yang tentu saja berwenang memutuskan peraturan di perbatasan utara karena di perbatasan, yang berlaku adalah peraturan-peraturan militer.

Akan tetapi dara itu tidak keluar sendirian, melainkan diantar sampai keluar pintu gerbang oleh Yelu Kim sendiri. Hal ini selain untuk memperlihatkan niat baik Yelu Kim, juga nenek ini merasa khawatir kalau-kalau ada di antara para kepala suku bangsa yang tidak setuju kemudian hendak mengganggu muridnya. Untuk keperluan menyampaikan surat itu, Sui Cin menunggang seekor kuda putih yang telah disiapkan oleh penjaga di pintu gerbang.

Pintu gerbang dibuka dan dengan diantar oleh Yelu Kim sampai keluar pintu gerbang, Sui Cin menuntun kuda putih dan setelah berpamit kepada gurunya, gadis itu lalu meloncat ke atas kudanya sambil membawa gulungan kertas itu.

Tiba-tiba nampak berkelebat dua bayangan orang yang langsung menghadang kuda yang ditunggangi Sui Cin. Gadis ini terkejut sekali, apa lagi setelah mengenal bahwa dua orang itu bukan lain adalah Raja dan Ratu Iblis sendiri!

Gadis itu berpikir cepat. Tentu kemunculan dua iblis ini ada hubungannya dengan surat yang dibawanya. "Kalian mau apa?" bentaknya marah.

"Menyerahlah dengan baik!" kata Ratu Iblis.

"Huh, kalian kira aku takut? Sampai mati aku tidak sudi menyerah!" Dan tiba-tiba Sui Cin membalapkan kudanya.

Akan tetapi tak mudah dia lolos begitu saja. Tangan Raja Iblis bergerak dan hawa pukulan yang sangat kuat membuat kuda yang ditungganginya terpelanting ke kiri! Untung Sui Cin masih memiliki ketenangan sehingga dengan ginkang-nya yang tinggi dia dapat melompat dan tidak ikut terbanting. Kuda itu terbanting akan tetapi tidak terluka, hanya terkejut saja dan meringkik ketakutan.

Sementara itu, nenek Yelu Kim yang juga melihat kemunculan dua bayangan itu, tidak masuk kembali ke dalam pintu gerbang, melainkan cepat berlari menghampiri tempat itu yang tidak begitu jauh dari tempat dia berdiri.

"Sui Cin, suratnya...!" nenek ini berseru.

Sui Cin maklum apa yang dikehendaki gurunya. Cepat gulungan kertas itu dia lemparkan ke arah nenek yang dengan cepat lalu menyambarnya. Nenek itu langsung meloncat ke atas punggung kuda yang ketakutan dan dia membalapkan kuda itu untuk menggantikan Sui Cin menghadap Yang-ciangkun, menyerahkan sendiri surat tuntutan atau permintaan bangsanya itu.

Akan tetapi kembali Raja Iblis menggerakkan tangan kanannya dan sekali ini bukan untuk melakukan pukulan jarak jauh seperti yang dia lakukan terhadap kuda tadi, melainkan ada benda bersinar putih yang meluncur dari tangan itu menuju ke arah tubuh Yelu Kim yang sedang melarikan kuda. Benda itu berputar-putar cepat seperti hidup dan tahu-tahu sudah hinggap di atas punggung Yelu Kim.

Nenek ini merasa betapa punggungnya panas dan perih sekali. Ia cepat mencengkeram ke arah benda pada punggungnya itu dan menariknya dari punggung. Ketika dilihatnya, ternyata itu adalah sebuah tengkorak kecil, agaknya tengkorak seorang anak kecil.

Nenek ini terkejut sekali lantas membanting tengkorak itu ke atas tanah. Tengkorak pecah berantakan dan dari dalamnya keluar asap hitam! Nenek itu merasa betapa rasa panas menjalar cepat ke seluruh tubuh dan tahulah dia bahwa dia telah terkena senjata beracun yang amat ampuh.

Akan tetapi dia terus saja membalapkan kuda ke depan, ke arah perkemahan pasukan pemerintah yang mengepung Ceng-tek dari jarak antara dua tiga li jauhnya. Dia menahan rasa nyeri yang menyengat-nyengat tubuhnya, terus melarikan kuda putihnya yang kabur karena sudah ketakutan. Nenek itu berhasil mencapai perkemahan dan terpelanting dari atas kudanya sambil masih mencengkeram gulungan kertas.

Beberapa prajurit yang menyaksikan peristiwa itu cepat mengangkutnya ke dalam kemah besar, ke hadapan Yang-ciangkun. Panglima ini cepat-cepat menerima gulungan kertas, dan nenek Yelu Kim hanya sempat mengeluarkan kata-kata begini, "Tai-ciangkun... demi kejujuran seorang pemimpin, kota Ceng-tek kuserahkan akan tetapi penuhilah permintaan-permintaan kami yang sangat pantas ini...," kemudian nenek yang gagah perkasa ini pun menghembuskan napas terakhir di depan Yang-ciangkun.

Berita mengenai kegagahan nenek Yelu Kim ini tersebar luas, dan sampai puluhan tahun kemudian namanya menjadi kebanggaan suku bangsa di timur serta dikagumi pula oleh para pendekar selatan. Tuntutannya adalah pembebasan pajak bagi suku bangsa utara yang membawa barang dagangan keluar masuk perbatasan dan hal ini langsung disetujui oleh Yang-ciangkun sehingga keadaan para pedagang suku bangsa utara menjadi jauh lebih baik…..

********************

Sementara itu, Sui Cin dengan nekat melakukan perlawanan. Melihat betapa nenek Yelu Kim berhasil lari walau pun agaknya terluka, gadis ini menjadi marah sekali.

"Kalian ini iblis-iblis busuk!" bentaknya. Dia pun sudah menerjang mereka dengan tangan kosong, menggunakan ilmu pukulannya yang sangat ampuh sambil mengerahkan tenaga sinkang-nya.

Akan tetapi yang diserangnya adalah Raja Iblis yang luar biasa tangguhnya. Setiap kali kakek bermuka pucat kehijauan itu menangkis, Sui Cin merasa betapa lengannya nyeri dan tergetar hebat. Akan tetapi dia tidak takut dan menyerang terus sehingga kakek itu menjadi marah bukan kepalang.

Bagaimana pun juga tingkat kepandaian Sui Cin tidak dapat dibilang rendah dan sampai belasan kali tubrukan balasan Raja Iblis tidak mampu menangkap Sui Cin yang lincah dan menggunakan ginkang-nya untuk mengelak ke sana-sini itu.

Sui Cin tidak membiarkan dirinya ditangkap, bahkan membalas dan ketika dia mengelak dari cengkeraman sepasang tangan Raja Iblis, tiba-tiba dia membalik dan dengan kedua tangannya yang terbuka telapak tangannya, ia melakukan pukulan yang dilakukan dengan mengerahkan seluruh tenaga sinkang-nya. Angin dahsyat menyambar ke arah Raja Iblis yang diam-diam merasa kagum juga kepada gadis yang pernah membikin dia penasaran dan repot ketika Sui Cin dahulu merampas Tongkat Suci dari tangannya. Kini, kembali dia tidak mampu menangkap gadis ini dalam waktu singkat.

Raja Iblis merasa penasaran sekali. Dia dan isterinya telah gagal dalam pemberontakan membonceng pasukan Ji-ciangkun dan kedua kota benteng telah jatuh kembali ke tangan pemerintah. Ketika melihat betapa pasukan pemerintah berhadapan dengan pasukan liar dari utara, dia masih memiliki harapan agar kedua pihak berperang sehingga keduanya lemah. Namun ternyata Yelu Kim menerima tawaran dan uluran tangan Yang-ciangkun untuk berdamai.

Oleh karena itu, dia segera keluar bersama isterinya untuk menggagalkan ini, merampas surat dan juga menawan Sui Cin untuk dijadikan sandera. Akan tetapi, ternyata nenek Yelu Kim berhasil melarikan surat dan mengorbankan nyawa sendiri, dan kini tinggal dara itu yang juga tidak mudah ditangkap!

Melihat betapa dara itu malah menyerangnya dengan dahsyat, dari dalam mulutnya kakek yang seperti setan itu mengeluarkan suara mencicit seperti burung dan dia pun mengulur kedua tangan ke depan menyambut pukulan Sui Cin.

"Plakkk!"

Dua pasang telapak tangan itu bertemu dan Raja Iblis merasa betapa tubuhnya tergetar! Maka dia pun semakin kagum, akan tetapi sebaliknya Sui Cin merasa betapa sepasang telapak tangannya melekat pada telapak tangan Raja Iblis. Dia berusaha menarik kedua tangannya akan tetapi merasa betapa ada tenaga menyedot dari kedua telapak tangan iblis itu yang membuat kedua tangannya melekat.

Dan pada saat itu pula, Ratu Iblis sudah bergerak menotok punggungnya. Sui Cin tidak mampu mengelak dan dia pun roboh dengan lemas lalu dipanggul oleh Ratu Iblis.

Namun, pada saat itu serombongan prajurit Yelu Kim sudah menghampiri tempat itu dan mengurung dengan senjata ditodongkan. Akan tetapi nenek Ratu Iblis segera membentak mereka, "Majulah dan nona ini akan kubunuh dulu, baru kalian!"

Melihat betapa Sui Cin yang mereka kenal sebagai pembantu dan murid nenek Yelu Kim sudah tertawan, dan mendengar ancaman Ratu Iblis, pasukan itu tidak berani menyerang maka terpaksa membiarkan saja kakek dan nenek itu berlari cepat sekali meninggalkan tempat itu sambil membawa tubuh Sui Cin yang sudah tidak mampu bergerak…..

********************

Sementara itu, Cia Sun dan Ci Kang yang bersama Cia Kong Liang sudah bergabung dengan para pendekar dan turut pula membantu pasukan pemerintah yang mengurung Ceng-tek, melihat betapa nenek Yelu Kim tewas di tangan Raja Iblis. Dari jauh mereka melihat kakek dan nenek itu yang melarikan diri tanpa diganggu oleh pasukan suku utara. Keduanya segera berlari cepat menuju ke depan pintu gerbang Ceng-tek.

Semua orang mengenal Ci Kang yang gagah perkasa karena Ci Kang pernah dicalonkan menjadi jagoan bahkan hampir memperoleh kemenangan kalau tidak dikalahkan oleh Sui Cin.

"Apa yang terjadi? Kenapa kalian tidak menahan dua orang kakek dan nenek itu tadi?" tanya Ci Kang.

"Mereka menawan nona Sui Cin, jadi kami tidak berani turun tangan."

"Apa?" Cia Sun terkejut mendengar bahwa Sui Cin ditawan Raja dan Ratu Iblis. "Ke mana mereka lari?"

"Ke sana...!" Seorang perwira menunjuk ke arah sebuah bukit yang nampak gundul dari tempat itu.

Tanpa banyak cakap lagi, seperti sudah berunding lebih dahulu, Siangkoan Ci Kang dan Cia Sun berlari menuju ke bukit itu, menggunakan ilmu berlari cepat. Pada saat keduanya tiba di kaki bukit itu, mereka bertemu dengan Hui Song dan sisa murid-murid Cin-ling-pai.

Seperti kita ketahui, Hui Song dan Siang Wi bersama dengan murid-murid Cin-ling-pai, berhasil dibawa keluar dari Ceng-tek oleh Sui Cin. Akan tetapi ketika mereka pergi ke San-hai-koan untuk mencari ketua mereka, ternyata San-hai-koan sedang dalam perang sehingga mereka tidak dapat masuk kota benteng itu. Terpaksa mereka menjauhkan diri karena mereka merasa khawatir akan terjadi salah paham dari pasukan pemerintah yang agaknya sudah mendengar bahwa Cin-ling-pai bersekutu dengan pemberontak.

Sesudah perang berakhir, barulah Hui Song, Siang Wi dan saudara-saudara seperguruan mereka mendengar bahwa Cia Kong Liang kini membantu pasukan pemerintah dan turut menyerang ke Ceng-tek. Mereka merasa gembira sekali, dan mereka pun mengejar ke Ceng-tek.

Biar pun hati Hui Song tetap tidak senang melihat Ci Kang, akan tetapi ketika melihat Cia Sun dia segera bertanya, "Cia Sun, engkau hendak ke manakah dan bagaimana dengan keadaan di Ceng-tek? Apakah engkau bertemu dengan ayah?"

Cia Sun mengangguk. "Kami bersama-sama dengan ayahmu dan beliau sekarang berada di antara pasukan yang mengepung Ceng-tek. Kami berdua hendak mengejar Raja dan Ratu Iblis yang telah menawan dan melarikan nona Sui Cin..."

"Apa...?!" Hui Song menjadi pucat wajahnya. "Ke mana dia dibawa lari?"

"Ke bukit itu, dan kita hendak mencarinya!" kata Cia Sun dan dia pun cepat mengejar Ci Kang yang agaknya tidak mau banyak cakap dan sudah lari lagi.

"Aku ikut...!" kata Hui Song. "Sumoi, bawa saudara-saudara menemui ayah di luar kota Ceng-tek!" Dan dia pun cepat mengerahkan tenaganya untuk mengejar Ci Kang dan Cia Sun. Mereka bertiga seperti orang berlomba lari menuju ke bukit yang nampak gundul dan hitam dari tempat itu.

Bukit itu memang gundul dan kering. Sesudah didekati, nampak bahwa bukit itu hanya terdiri dari padang pasir dan batu-batu karang belaka, tidak nampak sedikit pun tumbuh-tumbuhan. Dan di sebuah lereng bukit karang, mereka melihat pemandangan yang dari jauh nampak amat menegangkan hati sehingga dengan sendirinya ketiganya berhenti dan memandang ke arah depan. Di sana, dalam jarak puluhan meter, nampak Sui Cin sedang berdiri bersandar tiang dan jelas bahwa gadis itu diikat pada tiang itu.

"Itu Sui Cin...!" Hui Song berteriak dan dialah yang lebih dahulu meloncat dan lari, diikuti oleh Cia Sun dan Ci Kang.

"Cin-moi...!" Hui Song berseru setelah tiba dekat.

"Song-ko! Jangan mendekat...!" Tiba-tiba Sui Cin berseru dan seruan ini mengejutkan tiga orang pemuda itu. Mereka berdiri memandang dengan alis berkerut dan memperhatikan keadaan.

Ternyata Sui Cin terikat pada sebuah tiang baja yang terletak di tengah-tengah lingkaran segi delapan. Pat-kwa atau Segi Delapan itu terbuat dari batu dan bentuknya biasa saja, akan tetapi amat mencurigakan. Garis tengahnya kurang lebih enam meter dan jarak dari sisi segi delapan itu ke tiang di mana Sui Cin terikat, sekitar tiga meter.

Tempat di mana Sui Cin diikat itu tak dapat dijangkau dengan tangan. Untuk menghampiri atau menolong dara itu, orang terpaksa harus naik dan menginjak batu segi delapan yang tebalnya antara dua kaki itu. Dilihat begitu saja, tentu akan mudah melepaskan belenggu yang mengikat kedua lengan Sui Cin pada tiang di belakangnya.

Akan tetapi tiga orang muda itu bukan orang sembarangan, apa lagi ada cegahan Sui Cin yang membuat mereka mengerti bahwa segi delapan ini merupakan suatu jebakan yang mengandung rahasia yang amat berbahaya bila diinjak oleh orang yang hendak menolong gadis itu.

"Jangan mendekat dari arah depan. Tadi ada seorang pendekar yang tewas akibat hendak menolongku. Pasir di depan itu adalah pasir yang bisa membunuh, menyedot orang yang menginjaknya. Ahh, mengerikan sekali...! Aku melihat orang yang hendak menolongku itu tersedot, menangis tanpa aku mampu menolongnya hingga akhirnya dia lenyap ke bawah permukaan pasir..." Suara gadis itu tergetar hebat. "Raja Iblis sengaja menaruh aku di sini untuk menjebak kalian yang tentu datang mencoba untuk menolongku. Hati-hati, jangan sembarangan bergerak."

Tentu saja tiga orang pemuda itu menjadi terkejut sekali dan bingung. Mereka berdiri agak jauh di depan Sui Cin.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner