ASMARA BERDARAH : JILID-65


Para pengejar itu mempercepat lari mereka ketika mereka melihat betapa terjadi keributan di sebelah depan, di persimpangan jalan menuju ke Ceng-tek dan ke bukit tempat gedung kuno persembunyian Raja dan Ratu Iblis. Agaknya di sana terjadi pertempuran yang seru antara banyak orang yang melakukan pengeroyokan.

"Ayah...!" Hui Song berseru kaget sekali ketika melihat bahwa yang mengeroyok Raja dan Ratu Iblis adalah ayahnya bersama sumoi-nya Tan Siang Wi, serta tiga puluh lebih orang anggota Cin-ling-pai, sisa dari para murid Cin-ling-pai.

Betapa lihainya Raja dan Ratu Iblis, tetapi mereka harus bersikap hati-hati saat dikeroyok oleh puluhan orang murid Cin-ling-pai yang dipimpin sendiri oleh ketuanya. Mereka berdua dikurung ketat sekali dan para murid Cin-ling-pai yang merasa dendam kepada Raja Iblis, berkelahi dengan semangat tinggi dan mati-matian.

Memang sudah ada lima enam orang di antara murid Cin-ling-pai yang roboh, akan tetapi mereka masih bersemangat. Juga ketua Cin-ling-pai, Cia Kong Liang, nampak terluka di pahanya, tetapi pendekar ini masih bergerak dengan gagah perkasa, mendesak Raja Iblis dibantu oleh Tan Siang Wi dan puluhan orang murid Cin-ling-pai.

Cia Kong Liang merasa girang sekali ketika melihat puteranya muncul. Sebaliknya, Raja Iblis menjadi kaget bukan kepalang. Mereka tidak merasa takut menghadapi orang-orang Cin-ling-pai dan sungguh pun harus mengerahkan kepandaian dan perlu waktu yang agak lama, tapi mereka yakin akan mampu mengalahkan puluhan orang musuh itu. Akan tetapi kemunculan empat pendekar muda beserta dua orang kakek itu membuat mereka gentar juga!

Memang benar bahwa dua orang kakek itu tidak akan berani turun tangan melihat tongkat sakti di tangan Raja Iblis, akan tetapi empat orang pendekar muda itu sama sekali tidak boleh dipandang ringan! Mereka berempat itu bahkan lebih tangguh dibandingkan ketua Cin-ling-pai sendiri!

Kini tanpa banyak cakap lagi, Hui Song, Sui Cin, Cia Sun dan Ci Kang sudah menerjang maju mengeroyok Raja dan Ratu Iblis. Para murid Cin-ling-pai bernapas lega dan mereka yang merasa bahwa tingkat kepandaian mereka masih jauh berada di bawah untuk dapat mengimbangi perkelahian antara orang-orang sakti itu, lalu mundur dan hanya mengurung tempat itu sambil menonton dan siap-siap membantu pihak mereka.

Perkelahian kini menjadi seru bukan kepalang setelah Sui Cin, Hui Song, Cia Sun dan Ci Kang maju mengeroyok Raja dan Ratu Iblis! Benar-benar merupakan perkelahian tingkat tinggi di mana setiap orang mengeluarkan semua kepandaian mereka dan mengerahkan seluruh tenaga.

Empat orang muda itu sungguh tangkas dan lihai, dengan jurus-jurus mereka yang berupa ilmu-ilmu silat pilihan. Cia Sun serta kawan-kawannya maklum akan kelihaian kakek dan nenek itu, maka mereka berempat tidak merasa sungkan untuk maju berempat melawan dua orang.

Bahkan Cia Kong Liang berdiri bengong penuh kagum. Kini puteranya itu sudah memiliki kepandaian yang sangat hebat, bahkan berani bertemu tangan beradu sinkang melawan Raja Iblis! Dia pun hanya berdiri di pinggir dan siap membantu kalau-kalau puteranya dan para pendekar muda itu terancam bahaya.

Dua orang kakek Si Dewa Arak dan Dewa Kipas hanya menonton di antara para murid Cin-ling-pai tanpa berani turun tangan. Akan tetapi Wu-yi Lo-jin lalu mendapat akal. Dia melihat betapa gerakan-gerakan muridnya, Sui Cin, walau pun sudah hebat sekali, namun ada beberapa bagian yang masih lemah. Dia kemudian berteriak-teriak memberi petunjuk kepada Sui Cin dan begitu dara ini mendengar petunjuk-petunjuk gurunya, dia menyerang makin dahsyat sehingga membuat Ratu Iblis kewalahan!

Melihat ini, segera Siang-kiang Lo-jin berteriak memberi petunjuk kepada Hui Song yang setelah mendengar petunjuk-petunjuk dari kakek gendut itu segera bisa memperbaiki dan memperhebat gerakan-gerakannya. Melihat ini, Cia Kong Liang semakin heran dan baru dia dapat menduga bahwa kakek gendut ini tentu seorang guru baru dari puteranya.

Pada saat dua orang kakek itu berlomba memberi petunjuk kepada murid masing-masing, tiba-tiba terdengar suara dua orang lain yang berseru memberi petunjuk kepada Cia Sun dan Ci Kang! Dua orang pemuda ini girang bukan main karena mengenal suara guru-guru mereka, Ciu-sian Lo--kai dan Go-bi San-jin! Kini lengkaplah sudah guru keempat pendekar muda itu.

Mereka berempat berada di situ akan tetapi karena tongkat sakti di tangan Raja Iblis atau Pangeran Toan Jit Ong, mereka berempat tidak berani berkutik dan hanya dapat memberi petunjuk kepada murid masing-masing. Akan tetapi petunjuk-petunjuk ini berharga sekali karena kini gerakan keempat orang muda itu menjadi semakin dahsyat sehingga Raja dan Ratu Iblis sendiri menjadi repot, terdesak hingga permainan silat mereka menjadi kalang kabut. Selain itu, mereka berdua sudah amat tua sehingga dalam hal daya tahan tubuh dan pernapasan, mereka kalah jauh dibandingkan empat orang lawan mereka.

Empat orang muda itu mengeroyok secara bergantian. Mereka seperti tengah membentuk barisan segi empat, membuat suami isteri iblis itu sangat kewalahan. Ketika memperoleh kesempatan yang baik, tiba-tiba Sui Cin menubruk maju lantas tamparan tangannya yang penuh dengan tenaga Thian-te Sin-ciang itu mengenai punggung Ratu Iblis.

"Uakkkk...!"

Ratu Iblis tidak roboh namun dari mulutnya muncrat darah segar, tanda bahwa tamparan itu telah melukainya. Dan pada saat yang hampir bersamaan, Cia Sun juga telah berhasil memukul lambung Raja Iblis dengan jurus Hok-mo Cap-sha-ciang yang mukjijat.

"Desss...!"

Demikian hebatnya pukulan itu, akan tetapi juga demikian lihainya Raja Iblis sehingga Cia Sun yang memukul malah terpelanting sendiri! Akan tetapi dari dalam dada Raja Iblis itu keluar suara keluhan pendek, kemudian dia dan isterinya secara tiba-tiba meloncat lantas melarikan diri ke arah bukit!

"Cepat kejar!" Hui Song berseru dan mereka berempat lalu mengejar, diikuti oleh empat orang kakek, Cia Kong Liang dan para murid Cin-ling-pai yang tertinggal jauh di belakang.

Kakek dan nenek itu berlari bagaikan terbang cepatnya menuju ke arah gedung kuno di lereng bukit. Melihat ini, Ci Kang berseru, "Cepat, kalau mereka memasuki gedung, akan sukar bagi kita karena gedung itu menyimpan banyak rahasia! Mungkin mereka bisa lolos melalui jalan rahasia!"

Mendengar ucapan ini, semua orang lalu melakukan pengejaran secepatnya. Akan tetapi mereka kalah dulu dan sekarang kakek dan nenek itu sudah tiba di depan gedung. Hal ini membuat delapan orang pengejar itu menjadi gelisah. Juga Cia Kong Liang mendengar ucapan Ci Kang tadi dan dia pun yang berada agak jauh di belakang delapan orang itu merasa gelisah.

Tiba-tiba terdengar suara ledakan yang keras sekali dan gedung kuno di depan itu hancur berantakan! Kakek dan nenek itu tentu saja merasa terkejut setengah mati dan Raja Iblis terbelalak memandang pada seorang gadis yang baru saja muncul dari belakang gedung yang sudah hancur itu.

"Hui Cu...!" Ratu Iblis berseru kaget. "Apa yang telah kau lakukan?"

Gadis itu memandang pada ibunya dengan wajah muram, lalu berbalik memandang pada Raja Iblis dengan sinar mata penuh kemarahan. "Maafkan aku, ibu. Terpaksa aku harus menghancurkan gedung ini. Bagaimana pun juga aku harus menentang kejahatannya!" Ia menuding ke arah muka Raja Iblis.

"Anak keparat! Kalau begitu, engkau harus mampus!"

Raja Iblis tiba-tiba melompat ke depan dan menyerang Hui Cu dengan pukulannya yang sangat dahsyat. Pukulan itu dahsyat bukan main, datang menerjang Hui Cu laksana kilat menyambar. Dara itu cepat menggerakkan kedua tangannya menangkis untuk melindungi tubuhnya.

"Desss...!"

Tubuh gadis itu terlempar sampai beberapa meter ke belakang lantas terbanting ke atas tanah. Akan tetapi, berkat latihan-latihan yang diterima dari ibunya, gadis itu tadi sempat melindungi dirinya dengan sinkang sehingga dia hanya kesakitan saja dan tidak sampai terluka parah, maka dia hanya mengeluh dan perlahan-lahan bangkit lagi. Melihat ini, Raja Iblis menjadi penasaran dan semakin marah.

"Heh, satu kali pukulan belum cukup, ya?" katanya dan dia sudah menerjang kembali ke depan untuk menyusulkan pukulan maut kepada puterinya. Akan tetapi pada saat itu pula Ratu Iblis sudah meloncat mendahului suaminya dan menghadang di depan suaminya.

"Jangan bunuh anakku!" katanya dengan sinar mata mencorong laksana seekor harimau betina yang melindungi anaknya.

Sepasang mata Raja Iblis yang biasanya jarang bergerak itu kini terbelalak. Hampir dia tidak percaya melihat isterinya kini berdiri menghadang dan menentangnya. Selama ini, isterinya amat taat kepadanya, melaksanakan segala perintahnya dengan taruhan nyawa sekali pun. Akan tetapi kali ini isterinya menghadapinya dengan sikap seorang musuh! Dia tidak tahu betapa di atas segalanya, seorang ibu selalu mencinta anak tunggalnya hingga berani menentang apa saja, berani kehilangan apa saja demi anaknya itu.

"Kau... kau berani menentang aku?" tanyanya, masih tidak dapat percaya.

"Jangan bunuh anakku!" Hanya itulah yang dapat dikatakan Ratu Iblis karena sebetulnya nenek ini amat takut dan juga cinta kepada Raja Iblis, akan tetapi kasihnya terhadap anak kandung yang tunggal itu agaknya lebih besar lagi.

"Kau membela anak keparat yang sudah menghancurkan tempat kita itu?" tanyanya lagi.

"Jangan bunuh anakku!"

"Hemmm, kalau begitu kalian harus mampus!" Dan Raja Iblis sudah menerjang isterinya dengan dahsyat.

Ratu Iblis menangkis dan dia pun terjengkang, sungguh pun tidak sehebat puterinya tadi. Dia meloncat bangun dan kini Hui Cu juga sudah meloncat dekat ibunya. Ketika Raja Iblis menyerang lagi, dia disambut oleh isterinya dan puterinya!

Terjadilah perkelahian yang seru hingga membuat para pendekar yang sudah tiba di situ memandang bengong dan mereka tidak tahu harus berbuat apa. Mereka mengejar Raja dan Ratu Iblis, akan tetapi sekarang musuh-musuh yang dikejar itu bahkan saling hantam sendiri. Hal ini membuat mereka bingung, tidak tahu harus membantu siapa!

Betapa pun lihainya Ratu Iblis, tapi menghadapi suaminya sama saja dengan menghadapi gurunya. Dan kepandaian Hui Cu belum ada artinya kalau dibandingkan dengan ayahnya itu. Oleh karena itu, dalam waktu tiga puluh jurus saja, pukulan tangan kiri Raja Iblis telah menyambar dengan tepat mengenai dada isterinya sendiri.

"Dukkk...!" Tubuh nenek itu terjengkang dan terbanting keras.

"Ibuuu...!" Hui Cu menubruk ibunya.

Pada saat itu, dengan kemarahan meluap Raja Iblis menyerang anaknya. Akan tetapi, Sui Cin, Hui Song, Ci Kang dan Cia Sun seperti dikomando telah menerjang maju, menyerang Raja Iblis yang sedang hendak membunuh puterinya itu.

Serangan empat orang muda yang perkasa itu dahsyat bukan main, membuat Raja Iblis terpaksa menarik kembali serangannya terhadap Hui Cu lantas berloncatan ke belakang untuk menghindarkan diri dari hujan serangan yang berbahaya itu.

Kini gedung kuno yang menjadi harapannya untuk dapat menyembunyikan atau melarikan diri telah dihancurkan puterinya sendiri, dan pembantunya yang paling dapat diandalkan, yaitu Ratu Iblis, sudah tewas atau setidaknya sudah tidak mampu membantunya lagi. Ada pun melarikan diri dari empat orang muda perkasa ini juga percuma karena dia sendiri sudah sangat lelah dan kalau disuruh berlomba lari, tentu dia akan kehabisan napas dan akhirnya tersusul juga.

Dia lalu mengeluarkan suara pekik melengking dan selagi tenaganya masih ada, tiada lain jalan bagi Pangeran Toan Jit Ong atau Raja Iblis kecuali terus melawan dan berusaha mengamuk, menjatuhkan semua lawan yang empat orang ini karena empat orang kakek itu tidak ada yang berani maju melanggar sumpah mereka sendiri. Oleh karena itu, Raja Iblis segera mengeluarkan suara pekik melengking dan membalas serangan empat orang pengeroyoknya yang cepat menghindar pula.

Kini terjadilah perkelahian yang hebat dan mati-matian antara Raja Iblis yang dikeroyok oleh empat orang pendekar muda perkasa itu. Dan kini, empat orang kakek sakti tak perlu lagi memberi petunjuk kepada murid masing-masing. Dengan hilangnya Ratu Iblis, maka kekuatan Raja Iblis banyak berkurang sehingga empat orang muda itu mulai mendesak dan memperketat pengepungan mereka. Bahkan Ci Kang dan Hui Song sudah berhasil menyarangkan pukulan masing-masing ke tubuh Raja Iblis.

Akan tetapi kakek ini mempunyai kekebalan yang amat kuat sehingga pukulan dua orang muda itu nampaknya tidak berbekas. Tapi betapa pun juga, bukan berarti bahwa pukulan itu sama sekali tidak ada artinya. Biar pun kulit kebal dapat membuat pukulan-pukulan itu membalik, namun Raja Iblis mengalami getaran hebat di sebelah dalam tubuhnya, dan dia pun sudah mengerahkan terlampau banyak tenaga untuk menahan pukulan-pukulan tadi. Gerakannya jelas nampak semakin lemah dan semakin lambat.

Hal ini membuat empat orang pengeroyoknya bertambah semangat hingga kembali tubuh kakek itu terkena pukulan, sekali ini Sui Cin yang menampar lambungnya, disusul Cia Sun mendaratkan pukulannya ke arah pundak. Kakek itu terhuyung ke belakang dan pada saat Hui Song menyusulkan sebuah tendangan keras yang mengenai perutnya, kakek itu mencelat ke belakang dan dari mulutnya tersembur darah segar.

Namun dia memekik lantas menubruk maju. Hampir saja Sui Cin kena dicengkeram kalau saja Hui Song tidak cepat menolongnya dengan tangkisan yang membuat tubuh pemuda itu terjengkang, akan tetapi Sui Cin luput dari cengkeraman maut! Ci Kang menampar pula dari belakang, tamparan yang sangat keras mengenai tengkuk Raja Iblis. Tubuh kakek itu terputar dan kembali dia terhuyung-huyung. Dan tiba-tiba saja kakek itu terpelanting lalu jatuh menelungkup tak bergerak lagi.

Empat orang pendekar muda itu tidak berani mendekat, khawatir kalau-kalau Raja Iblis hanya pura-pura roboh dan kalau mereka mendekat dengan gegabah, mereka mungkin celaka oleh serangan mendadak. Akan tetapi, beberapa menit mereka menunggu, tubuh kakek itu tetap tidak bergerak dan tiba-tiba terdengar Ciu-sian Lo-kai terkekeh.

"Ha-ha-ha, akhirnya Raja Iblis mati juga!"

Mendengar ucapan suhu-nya ini, barulah Ci Kang berani menghampiri dan membalikkan tubuh yang menelungkup itu. Nampak darah memenuhi tanah di bawah tubuh dan kiranya sebatang pedang sudah menancap di dada kakek itu. Pedangnya sendiri! Setelah melihat bahwa dia tak akan menang, kakek itu lalu membunuh diri, memilih mati di tangan sendiri dari pada di tangan empat orang muda itu!

Kini mereka semua menujukan perhatian kepada Hui Cu yang masih menangisi ibunya. Nenek itu masih belum tewas walau pun napasnya sudah empas-empis. Tiba-tiba saja dia berkata, "Yang mana yang bernama Cia Sun...?"

Mendengar pertanyaan ini, Cia Sun mendekat dan berlutut di sebelah Hui Cu yang masih menangis terisak-isak. Melihat Cia Sun, nenek itu mengangguk lemah. Ia telah mengenal pemuda ini, sudah pernah jumpa di dalam goa bawah tanah.

"Engkau seorang pemuda yang gagah, dan aku gembira Hui Cu mencintamu. Cia Sun, maukah kau berjanji untuk melindungi anakku Hui Cu dan menjadi suaminya? Ia sungguh mencintamu..." suaranya sangat lemah dan agaknya nenek ini telah mengerahkan tenaga terakhir untuk bicara itu.

Cia Sun mengerutkan alisnya. Dia tidak peduli terhadap nenek ini yang dia tahu adalah seorang nenek yang keji dan jahat sekali. Akan tetapi dia harus mengakui pada diri sendiri bahwa dia merasa suka dan sayang terhadap Hui Cu yang dianggapnya seorang gadis yang sangat baik. Tadi saja sudah terbukti bahwa Hui Cu menentang kejahatan dengan membakar gedung kuno itu.

Akan tetapi, dia tidak mencinta Hui Cu dan hal ini sudah dia katakan terus terang kepada Hui Cu! Hal seperti ini mana mungkin dibicarakan di hadapan orang banyak? Hanya akan membuat Hui Cu berduka dan malu saja. Akan tetapi nenek itu kini berada dalam sakratul maut dan dia harus bicara terus terang.

"Sayang, aku tidak dapat memenuhi permintaanmu. Aku akan melindungi Hui Cu sebagai seorang sahabat, akan tetapi... aku tidak bisa menjadi suaminya..."

Nenek itu terbelalak dan tangis Hui Cu semakin menjadi-jadi. "Apa? Kau... kau tidak cinta padanya? Engkau berani menolak?" Nenek itu tiba-tiba bangkit dan mengerahkan tenaga untuk menyerang Cia Sun, akan tetapi dia terpelanting dan napasnya putus.

Hui Cu bangkit, mukanya pucat ketika dia memandang pada mayat ibunya. "Ibu... kau... kau kejam... kejam...!" Dan gadis itu pun melarikan diri dengan amat cepatnya.

"Hui Cu...!" Cia Sun memanggil, akan tetapi gadis itu tidak menoleh dan terus lari dengan amat cepatnya. Cia Sun tidak dapat berbuat lain kecuali menghela napas panjang.

Sementara itu, Hui Song menghampiri ayahnya dan mereka pun saling pandang dengan wajah muram dan hati berduka.

"Ayah... kongkong dan ibu..."

Cia Kong Liang mengangguk. "Aku sudah tahu, mereka tewas oleh Raja dan Ratu Iblis, dan engkau sudah membalaskan kematian mereka."

"Ayah...!" Hui Song menahan air matanya, mendekati ayahnya lantas mereka pun saling berpegang tangan. Dari tangan mereka terasa getaran dan kedua orang pria yang kuat ini saling menghibur dengan pegangan tangan mereka itu.

"Aku telah tertipu, Song-ji..."

"Sudahlah, ayah. Aku sudah mendengar dari para suheng. Akan tetapi, ayah sudah cepat berbalik pikiran setelah mengetahuinya dan bagaimana pun juga, Cin-ling-pai telah banyak membantu pemerintah dalam menentang pemberontak."

"Song-ji, perkenalkanlah aku dengan para locianpwe ini. Apakah locianpwe itu gurumu?" ketua Cin-ling-pai berkata. "Juga siapakah gadis gagah itu? Siangkoan Ci Kang dan Cia Sun aku sudah kenal."

Hui Song lalu memperkenalkan Siang-kiang Lo-jin sebagai gurunya, juga Wu-yi Lo-jin guru Sui Cin, Ciu-sian Lo-kai guru Ci Kang dan Go-bi San-jin guru Cia Sun. "Dan ini adalah nona Ceng Sui Cin, puteri tunggal dari locianpwe Ceng Thian Sin di Pulau Teratai Merah."

"Ahh, puteri Pendekar Sadis?" Ketua Cin-ling-pai itu bertanya sambil memandang penuh perhatian kepada Sui Cin. "Pantas lihai bukan main!"

"Dan ini adalah gadis yang kucinta, ayah, telah kucalonkan dia menjadi isteriku!" kata Hui Song dengan cepat sambil mengerling ke arah Ci Kang dan Cia Sun. Dia tahu bahwa dua orang muda itu agaknya juga menaruh hati kepada Sui Cin, maka kini di hadapan banyak orang, dengan terang-terangan dia mengaku cintanya kepada gadis itu kepada ayahnya.

Mendengar ucapan muridnya itu, Siang-kiang Lo-jin tertawa dan perutnya yang gendut itu bergerak-gerak. "Ha-ha-ha-ha, ketua Cin-ling-pai sungguh beruntung mempunyai seorang putera yang jujur dan berani berterus terang tidak malu-malu kucing!"

Cia Kong Liang tersenyum. Dalam hati kecilnya, dia kurang suka jika puteranya berjodoh dengan puteri Pendekar Sadis, karena dalam pandangannya, Pendekar Sadis merupakan seorang pendekar yang terlalu kejam terhadap musuh-musuhnya. Akan tetapi dia sudah mendapat banyak pengalaman dalam peristiwa pemberontakan itu sehingga dia menekan perasaannya dan dia menjura kepada kakek gendut itu.

"Berkat bimbingan locianpwe anakku yang bodoh menjadi tabah. Nona Ceng, terus terang saja, setelah mendengar kata-kata anakku, bagaimana pendapatmu tentang itu?"

Pertanyaan yang diajukan ketua Cin-ling-pai ini malah lebih terang-terangan lagi dari pada puteranya. Pendekar ini bertanya kepada seorang gadis begitu saja tentang pendapatnya mengenai pemyataan cinta puteranya!

Sui Cin adalah seorang dara yang berwatak polos, jenaka dan bebas. Terutama sekali dia mencinta kebebasan yang sejak kecil memang diberikan oleh ayah bundanya kepadanya maka sikap Hui Song dan ayahnya itu tidak membuat dia bingung biar pun kedua pipinya kini menjadi lebih merah dari pada biasanya.

"Locianpwe, Song-ko adalah seorang sahabatku yang baik. Aku suka kepadanya..."

"Suka ataukah cinta? He-he, kukira muridku juga bukan seorang yang pemalu dan suka berpura-pura. Sui Cin, suka berbeda dengan cinta!" Tiba-tiba Wu-yi Lo-jin berkata sambil terkekeh.

Sui Cin melirik kepada gurunya. Sialan. Gurunya ini lebih terang-terangan lagi sehingga ia merasa tersudut. "Yaah, mungkin aku juga cinta padanya dan tentang perjodohan... wah, biarlah hal itu ayah ibuku yang memutuskan!"

Jawaban ini membuat semua orang tersenyum dan Hui Song nampak girang bukan main. Cia Sun diam-diam menarik napas panjang dan dia pun hanya menundukkan muka saja, ada pun Ci Kang juga menundukkan muka. Hanya mereka sendiri yang dapat merasakan kepahitan yang sejenak menyelubungi hati mereka sesudah mendengar jawaban Sui Cin yang terang-terangan menyatakan cintanya kepada Hui Song itu.

Cia Kong Liang mengangguk-angguk. "Baiklah, apa bila kalian memang saling mencinta, kelak aku akan menemui Pendekar Sadis untuk membicarakan urusan perjodohan kalian. Kini aku harus mengucapkan terima kasih kepada para locianpwe yang sudah menolong calon menantuku ini, juga tidak lupa aku berterima kasih sekali kepada Ci Kang dan Cia Sun, terutama Ci Kang karena tanpa adanya dia ini, mungkin sekarang aku sudah mati dikeroyok oleh para pemberontak anak buah Raja Iblis."

"Nanti dulu, ayah!" tiba-tiba Hui Song berkata dengan suara nyaring hingga mengejutkan hati semua orang.

Agaknya hati pendekar muda yang sedang bergelora penuh cinta asmara terhadap Sui Cin ini masih belum dapat melenyapkan rasa marah dan cemburu apa bila teringat akan perbuatan yang pernah dilakukan Siangkoan Ci Kang pada kekasihnya. Membayangkan peristiwa yang lalu, betapa Ci Kang dengan kekerasan merangkul dan menciumi Sui Cin, hatinya menjadi panas dan kini mendengar Ci Kang dipuji-puji ayahnya, dia pun tak dapat menerimanya.

"Kita tidak dapat menilai hati seseorang melalui satu perbuatannya saja. Siapa tahu ketika Siangkoan Ci Kang menolong ayah, hal itu dilakukan secara kebetulan atau hanya untuk mencari muka. Dia itu sesungguhnya seorang yang jahat, seorang tokoh sesat, ayah!"

Siangkoan Ci Kang mengangkat muka memandang kepada Hui Song. Sedikit pun tidak nampak penyesalan di wajahnya yang gagah, bahkan sinar matanya masih lembut seperti biasa. Dia maklum apa yang sedang terjadi di dalam batin pemuda tampan itu.

Dia tahu betapa cemburu dan kemarahan membuat Hui Song membenci padanya, atas perbuatannya kepada Sui Cin tempo hari. Dan dia tidak menyalahkan Hui Song. Apa lagi Hui Song, dia sendiri pun marah dan menyesal sekali atas peristiwa yang terjadi itu dan sulit baginya untuk memaafkan dirinya sendiri. Oleh karena itu dia menanti saja apa yang hendak dikatakan oleh Hui Song yang nampaknya penasaran sekali dan siap membuka keburukan namanya di depan semua orang.

Akan tetapi jawaban Cia Kong Liang sungguh di luar dugaan semua orang, terutama sekali Hui Song. Ketua Cin-ling-pai itu menjawab tenang, "Hui Song, agaknya aku lebih mengenal dia dari pada engkau. Aku sudah tahu, dan dia mengaku sendiri bahwa dia adalah putera tunggal mendiang Siangkoan Lo-jin..."

"Baik sekali apa bila ayah sudah mengetahuinya," kata Hui Song memotong. "Akan tetapi tahu jugakah ayah bahwa Siangkoan Lo-jin itu adalah Si Iblis Buta, yang sebelum muncul Raja dan Ratu Iblis menjadi datuk kaum sesat yang dibantu oleh Cap-sha-kui!"

Ayahnya menarik napas panjang dan mengangguk. "Aku tahu semuanya itu, Song-ji, dan keadaan keluarganya itu bahkan semakin mengagumkan hatiku terhadap Ci Kang, karena dia seperti sekuntum bunga teratai yang hidup di tengah lumpur, tetap indah dan bersih. Aku melihat sendiri betapa hebat sepak terjangnya dalam menentang kejahatan..."

"Ayah belum tahu apa yang tersembunyi di balik kedok domba itu! Ayah, dia jahat sekali! Dia pernah berusaha untuk memperkosa adik Sui Cin...!"

"Song-ko...!" Sui Cin terkejut dan segera menegur karena dia menganggap bahwa tidak pantas pemuda itu membuka rahasia itu.

"Cin-moi, kalau tidak kuberi tahukan sekarang, tentu semua orang akan menganggap dia seorang yang sebaik-baiknya dan hal itu amat berbahaya," bantah Hui Song.

Cia Kong Liang mengerutkan alis, sejenak matanya memandang pada puteranya dengan sinar marah. Sebagai seorang yang berpandangan tajam dia pun dapat menduga bahwa di dalam batin puteranya itu penuh dengan kebencian dan cemburu. Dia lalu mengalihkan pandang matanya, memandang wajah Siangkoan Ci Kang namun pemuda itu sama sekali tidak membantah, hanya menundukkan mukanya yang menjadi agak pucat, wajah yang membayangkan penyesalan besar.

Ucapan Hui Song itu membuat semua orang terkejut. Bahkan Cia Sun yang tadinya amat percaya dan suka kepada Ci Kang yang gagah perkasa, kini ikut memandang dengan alis berkerut. Kakek Ciu-sian Lo-kai yang biasanya suka berkelakar dan jenaka itu, wajahnya langsung berubah dan alisnya berkerut ketika dia memandang kepada muridnya.

"Siangkoan Ci Kang!" tiba-tiba kakek tinggi kurus yang berpakaian pengemis ini berkata, suaranya keras galak, kedua matanya mengeluarkan sinar berkilat. "Benarkah apa yang dituduhkan orang kepadamu? Benarkah bahwa engkau pernah hendak memperkosa nona Ceng Sui Cin ini?"

Semua orang kini memandang kepada Ci Kang, terutama sekali Cia Sun yang merasa bingung dan sulit mempercayai berita bahwa sahabatnya itu pernah hendak memperkosa Sui Cin. Ci Kang mengangkat mukanya yang agak pucat itu, pertama-tama memandang ke arah Sui Cin yang juga memandang kepadanya, kemudian dia memandang kepada gurunya, lalu menunduk kembali dan suaranya lirih dan jelas.

"Benar, suhu. Saya pernah melakukan hal itu."

Sepasang mata Ciu-sian Lo-kai terbelalak, juga semua orang terkejut sekali mendengar pengakuan blak-blakan ini. "Ci Kang! Engkau memalukan aku yang menjadi gurumu! Aku tidak pernah mengajarkan engkau untuk bertindak biadab seperti itu!"

Dengan sikap tenang Ci Kang menjawab, "Suhu mengajarkan supaya saya bersikap jujur dan berani mempertanggung jawabkan semua tindakan saya."

"Hemm, engkau telah melakukan perbuatan terkutuk, lalu apa tanggung jawabmu?" desak kakek tinggi kurus itu dengan marah.

"Saya akan menerima segala hukuman yang dijatuhkan kepada saya untuk perbuatan itu, suhu," jawab Ci Kang dengan tenang dan sedikit pun tidak kelihatan gentar.

Kakek tinggi kurus itu menarik napas panjang dan wajahnya nampak lega. "Ahhh, paling tidak engkau cukup gagah untuk mengakui kesalahan dan menerima hukuman. Nah, aku yang akan menghukummu di hadapan orang banyak ini. Aku harus mencabut sebagian kepandaianmu dan melumpuhkan separuh badanmu!" Berkata demikian, Ciu-sian Lo-kai melangkah maju menghampiri muridnya, sementara Ci Kang hanya berdiri tenang sambil menundukkan mukanya saja, menanti datangnya hukuman dengan pasrah.

"Nanti dulu!" Tiba-tiba saja Cia Sun meloncat ke depan dan menghadang Ciu-sian Lo-kai. "Locianpwe, harap maafkan jika aku turut mencampuri urusan ini karena Ci Kang adalah sababatku yang sangat baik dan aku mengenal benar kegagahannya. Kita semua sudah mendengar tuduhan paman Cia Hui Song dan juga Ci Kang tidak menyangkal tuduhan itu dan dia demikian gagahnya untuk mempertanggung jawabkan perbuatan yang dituduhkan kepadanya. Akan tetapi di sini kita masih mempunyai seorang saksi utama yang belum menyatakan kesaksiannya. Cin-moi, kenapa engkau berdiam diri saja? Pendapat semua orang bisa saja keliru, hanya engkau seoranglah yang bisa menjelaskan apa sebenarnya yang sudah teriadi. Dalam urusan ini aku hanya dapat mempercayai keteranganmu saja. Benarkah tuduhan paman Hui Song terhadap Ci Kang tadi?"

Kini semua orang memandang kepada Sui Cin. Semenjak tadi gadis itu menjadi merah mukanya dan dia sampai kehilangan suaranya saking terkejut dan malunya mendengar betapa Hui Song membuka rahasia Ci Kang itu. Kini, secara langsung Cia Sun bertanya kepadanya dan dia pun menarik napas panjang lalu memandang kepada Ci Kang dengan sinar mata kasihan.

"Apa yang dituduhkan Song-ko memang benar dan tadinya aku pun menyangka bahwa saudara Ci Kang melakukan perbuatan yang sangat jahat terhadap diriku. Hal itu terjadi pada saat dia dan aku menjadi wakil suku bangsa untuk memilih pimpinan dan dia terluka oleh jarum-jarumku. Karena merasa menyesal, aku mengunjungi dia ke perkemahannya untuk mengobatinya. Akan tetapi, sesudah dia sadar, dia malah melakukan usaha untuk memaksaku... dan pada saat itu, Song-ko muncul dan terjadi perkelahian sampai saudara Ci Kang melarikan diri. Pada waktu itu, tentu saja Song-ko menyangka bahwa saudara Ci Kang hendak memperkosaku, bahkan aku sendiri pun mempunyai dugaan demikian."

"Nah, sudah jelas! Tunggu apa lagi?" seru Hui Song.

"Nanti dulu, Song-ko!" kata Sui Cin mengerutkan alisnya. "Hati yang penuh rasa cemburu akan mengundang kebencian dan selalu berprasangka buruk. Aku tadi telah mengatakan bahwa pada waktu peristiwa itu terjadi, aku pun menduga bahwa saudara Ci Kang sudah melakukan perbuatan yang rendah dan jahat. Akan tetapi, kemudian baru aku tahu bahwa hal memalukan itu terjadi bukan karena kesalahannya! Sama sekali dia tidak bersalah!"

Hui Song memandang dengan mata terbelalak dan wajah Cia Sun berseri-seri. Sudah dia duga. Dia tidak akan mungkin dapat percaya bahwa sahabatnya itu melakukan hal yang demikian rendahnya. Biar pun belum lama bergaul dengan Ci Kang, dia sudah mengenal pemuda ini sebagai seorang jantan yang berjiwa gagah perkasa.

"Nona Ceng Sui Cin, bicaralah yang jelas. Tadi nona mengakui bahwa muridku ini sudah berusaha memperkosamu, akan tetapi selanjutnya nona katakan bahwa dia tak bersalah! Apa artinya keteranganmu yang bertentangan itu?" Ciu-sian Lo-kai mendesak.

Kini Ci Kang sendiri merasa amat tertarik. Selama ini dia hanya merasa sangat menyesal atas perbuatannya terhadap Sui Cin itu. Dia sendiri tidak tahu mengapa dia sampai bisa melakukan hal yang terkutuk itu. Sekarang, mendengar keterangan Sui Cin, tentu saja dia tertarik sekali sehingga dia mengangkat muka memandang kepada gadis itu.

"Ketika mengunjungi perkemahan saudara Ci Kang untuk mengobatinya, aku membawa juga obat dari subo Yelu Kim. Dan ternyata obat itu manjur. Akan tetapi baru kemudian aku mendengar dari subo Yelu Kim bahwa obat itu mengandung racun perangsang dan racun inilah yang membuat saudara Ci Kang melakukan perbuatan itu terhadap diriku. Dia keracunan, bukan sengaja hendak berbuat keji terhadap diriku. Dia tidak bersalah, yang salah adalah obat pemberian subo Yelu Kim itu."

Bukan main lega rasa hati Cia Sun, Ciu-sian Lo-kai dan terutama Ci Kang sendiri. Wajah pemuda ini menjadi merah lagi dan dia memandang kepada Sui Cin dengan perasaan terima kasih yang besar. Gadis itu seakan-akan sudah mengangkatnya keluar dari dalam jurang kehinaan yang selama ini membuatnya berduka dan murung. Akan tetapi dia pun marah kepada nenek Yelu Kim dan dia mengepal tinju.

"Ahh, nenek Yelu Kim sungguh keji dan jahat!" katanya.

"Saudara Ci Kang hendaknya tidak salah sangka terhadap subo Yelu Kim!" kata Sui Cin setelah melihat sikap pemuda itu. "Subo Yelu Kim tidak berniat jahat dengan pemberian obat itu."

"Tidak jahat? Nona, dia hampir membuat aku menjadi seorang hina, membuat aku hampir putus asa karena penyesalan, dan engkau masih mengatakan bahwa dia tidak jahat?" Ci Kang berseru heran.

Sui Cin menggeleng kepala sambil tersenyum simpul. "Tidak, dia sama sekali tidak jahat, saudara Ci Kang. Semua terjadi karena salah pengertian. Ketika subo melihat betapa aku merasa menyesal melukaimu dan hendak mengobatimu, dia salah sangka. Dia mengira bahwa aku jatuh cinta kepadamu... kemudian... dengan obat itu, dia bermaksud hendak membantuku...! Ingat, subo adalah pemimpin suku-suku liar, jadi... dalam hal itu, mungkin saja cara berpikirnya dan kebiasaan suku liar itu sendiri jauh berbeda dengan kita..."

Cia Kong Liang memandang kepada puteranya. "Song-ji, engkau telah mendengar sendiri sekarang! Lain kali, jangan sembarangan menjatuhkan tuduhan jika belum mengerti benar apa yang menjadi sebab-sebab perbuatan itu. Tuduban yang tanpa dasar bisa merupakan fitnah keji."

Wajah Hui Song menjadi merah padam, akan tetapi dengan gagah dia segera menjura kepada Ci Kang. "Siangkoan Ci Kang, maafkanlah aku. Akan tetapi, siapa dapat menduga mengenai racun itu? Sebelum mendengar dari nenek Yelu Kim, Cin-moi sendiri juga tidak tahu. Jadi, aku tidak menuduh secara membabi buta, harap kau dapat memakluminya."

Diam-diam Ci Kang merasa kagum. Biar pun akibat cemburunya pemuda ini menjatuhkan tuduhan penuh kebencian kepadanya, akan tetapi sekarang mau mengakui kesalahannya secara gagah perkasa dan minta maaf. Seperti juga ayahnya yang telah melakukan salah langkah yang amat hebat dan membawa anak buah membantu para pemberontak, akan tetapi setelah sadar berani bertindak membetulkan langkah, bahkan dengan pengorbanan nyawa isteri dan ayah mertuanya, dan banyak pula anak murid yang menjadi korban.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner