ASMARA BERDARAH : JILID-66


"Sui Cin! Apa saja yang telah kau lakukan selama ini?" Tiba-tiba terdengar suara teguran yang nyaring, suara seorang wanita.

Begitu suara itu berhenti, nampak dua bayangan orang berkelebat dan di situ telah berdiri seorang pria berusia hampir lima puluh tahun yang tampan dan gagah, bersama seorang wanita yang usianya sebaya, cantik dan mengenakan pakaian mewah indah seperti pria itu pula. Mereka ini adalah Ceng Thian Sin atau Pendekar Sadis, bersama isterinya, Toan Kim Hong yang pernah berjuluk Lam-sin (Malaikat Selatan).

"Ayah...! Ibu...!" Sui Cin berseru gembira bukan main dan cepat dia berlari menghampiri mereka lalu saling rangkul dengan ibunya.

Pakaian dara itu sederhana saja, malah agak nyentrik, sedangkan ibunya berpakaian rapi dan amat mewah, sungguh besar perbedaan pakaian mereka. Akan tetapi wajah mereka sama-sama cantik dan manis.

"Ayah, ibu, mari kuperkenalkan pada orang-orang gagah ini!" kata Sui Cin dengan lincah gembira sambil menuntun tangan ibunya. "Cu-wi yang gagah, mereka ini adalah ayahku dan ibuku! Ayah, ibu, empat orang kakek ini adalah tokoh-tokoh sakti yang memimpin para pendekar menghadapi Raja Iblis serta kaki tangannya. Ini adalah suhu Wu-yi Lo-jin yang terkenal dengan sebutan Dewa Arak. Beliau sudah menjadi guruku, membimbingku selama tiga tahun."

"Heh-heh, aku tua bangka ini sudah lancang dan tak tahu diri berani menjadi guru puteri Pendekar Sadis yang sangat lihai!" kata Wu-yi Lo-jin. Akan tetapi sambil tertawa Ceng Thian Sin menjura.

"Bimbingan locianpwe terhadap anak kami yang bodoh merupakan budi yang besar sekali dan kami amat berterima kasih."

Sui Cin lalu melanjutkan. "Dan ini adalah locianpwe Siang-kiang Lo-jin yang disebut Dewa Kipas, lihai dan lucu, juga amat baik hati. Dan yang ini locianpwe Ciu-sian Lo-kai dan itu Go-bi San-jin. Pemuda ini adalah Cia Sun toako, putera dari paman Cia Han Tiong..."

Cia Sun cepat-cepat memberi hormat kepada Pendekar Sadis dan isterinya. Ceng Thian Sin girang sekali melihat Cia Sun dan memegang pundak pemuda itu sambil memandang wajahnya dengan penuh perhatian. "Ahh, kanda Cia Han Tiong memiliki seorang putera yang gagah perkasa, aku girang sekali."

"Ayah dan ibu, ini adalah enci Tan Siang Wi dan ini koko Cia Hui Song serta ayahnya, ketua Cin-ling-pai, lociawpwe Cia Kong Liang."

Mereka berhadapan dan saling pandang, kemudian Ceng Thian Sin dan isterinya menjura dengan hormat kepada ketua Cin-ling-pai yang dibalas dengan sikap sederhana oleh Cia Kong Liang sambil berkata, "Gembira sekali dapat bertemu lagi dengan ji-wi di tempat ini."

Sebelum mereka sempat bercakap-cakap, tiba-tiba nampak seorang laki-laki berlari-lari mendatangi dan dengan napas agak terengah-engah, pria ini lalu maju dan menudingkan telunjuknya ke arah Hui Song.

"Itu dia! Itulah dia si jahanam Cia Hui Song, keparat yang tidak kenal budi. Penjahat keji yang terkutuk itu!" Orang itu lalu menoleh ke arah Pendekar Sadis dan isterinya. "Orang gagah, engkau telah berjanji, cepat tangkap dan seret dia seperti yang telah kau janjikan!"

Sementara itu, melihat pria ini, Hui Song sudah melangkah maju. "Ehh… ehh, saudaraku, Lam-nong, apakah yang telah terjadi? Kenapa engkau bersikap seperti ini?"

Lam-nong meloncat ke belakang dan matanya melotot. "Jangan menyentuh aku! Apakah engkau mau membunuh aku juga? Sebelum engkau membunuhku, biarlah semua orang gagah ini mendengar perbuatan apa yang telah kau lakukan kepada keluargaku, kepada suku kami!"

Hui Song mengerutkan alisnya dan memandang bingung. Apakah Lam-nong telah menjadi gila, pikirnya. "Saudara Lam-nong, mengapa kau begini?"

"Tak usah berpura-pura. Anak buahku melihat dengan mata sendiri, dan dia tak mungkin berbohong. Kami sudah menerimamu sebagai seorang sahabat baik, membagi makanan yang kami makan dan minuman yang kami minum. Akan tetapi engkau sudah membalas dengan perbuatan terkutuk! Engkau telah membantu para pemberontak, menghancurkan seluruh anak buahku, bahkan engkau sudah merampas isteri-isteriku, memaksa mereka untuk berjinah denganmu dan akhirnya membunuh mereka. Engkau benar-benar manusia iblis! Terkutuk!" Lam-nong maju menyerang dengan nekat, akan tetapi sekali dorong saja Hui Song membuat dia terpelanting.

Ceng Thian Sin langsung maju dan menangkis tangan Hui Song yang hendak menampar Lam-nong.

"Dukkk...!" Dan Hui Song merasa lengannya tergetar hebat, maka dia pun meloncat ke belakang.

"Aku dan isteriku bertemu dengan dia ini yang hampir gila akibat duka mendengar betapa keluarganya hancur. Dan anak buahnya melihat sendiri semua yang sudah diceritakannya tadi, karena itu, sebelum semuanya jelas, jangan persalahkan dia dulu."

"Tapi, tapi... saya tidak..." Hui Song tergagap, tentu saja tidak berani melawan ayah Sui Cin!

"Song-ji!" Tiba-tiba terdengar suara ayahnya membentak marah. "Apa yang sebenarnya telah terjadi? Tak mungkin orang menuduhmu membabi-buta tanpa sebab! Hayo ceritakan sejujurnya!"

"Ayah, sungguh mati aku tidak pernah melakukan perbuatan itu..."

"Cia Hui Song, selain jahat engkau juga pengecut, tak berani mengakui perbuatan sendiri! Anak buahku melihat dengan mata kepalanya sendiri. Ia melihat engkau berada di dalam kamar bersama isteri-isteriku yang kau paksa melayanimu! Hayo katakan, tidak benarkah engkau berada di dalam kamar tidur bersama mereka?"

Kini Hui Song maklum bahwa sudah terjadi kesalah pahaman yang hebat. Pada saat dia ditawan oleh Sim Thian Bu, memang orang bisa saja salah paham kalau melihat betapa selir-selir Lam-nong dipaksa datang melayaninya,.

"Aku tidak menyangkal. Memang aku berada dalam kamar bersama isteri-isterimu, akan tetapi..."

"Nah, taihiap sudah mendengar sendiri. Sekarang harap taihiap tangkapkan penjahat ini untukku seperti yang telah taihiap janjikan!" Lam-nong berkata kepada suami isteri Pulau Teratai Merah itu.

"Pemuda tak tahu malu!" tiba-tiba Toan Kim Hong membentak.

Tubuh wanita ini sudah menyambar ke depan, ke arah Hui Song. Tangannya terulur untuk mencengkeram pundak Hui Song karena nyonya ini telah menjadi marah bukan main dan merasa yakin akan keterangan Lam-nong.

"Dukkk...!"

Tiba-tiba Ci Kong Liang menggerakkan tubuhnya dan dengan cepat dia sudah menangkis lengan wanita itu sehingga keduanya merasa betapa lengan mereka tergetar hebat akibat pertemuan tenaga dahsyat itu. Toan Kim Hong memandang dan tersenyum mengejek, sinar matanya berkilat.

"Hemm, bagus sekali! Tadinya ketua Cin-ling-pai telah melakukan salah perhitungan dan membantu para pemberontak yang bersekutu dengan golongan sesat, apakah kini hendak mengulang lagi dengan membantu anak yang menyeleweng dan melakukan perbuatan-perbuatan rendah?"

Akan tetapi dengan sikap angkuh dan tenang Cia Kong Liang menjawab, "Kesalahan anak harus dipertanggung jawabkan orang tuanya! Aku sebagai ayahnya masih hidup, mana bisa aku membiarkan saja orang lain hendak menghukum anakku? Aku sendiri masih dapat menghajarnya!"

Campur tangan Toan Kim Hong tadi membuat ketua Cin-ling-pai sangat tersinggung dan kemarahannya tentu saja ditumpahkannya kepada Hui Song yang dianggap menjadi biang keladinya. Tangannya bergerak ke kiri dan tahu-tahu dia sudah mencabut pedang yang tadinya tergantung di punggung Siang Wi. Muridnya terkejut bukan main.

"Suhu...!" Siang Wi berseru dengan muka pucat, akan tetapi gurunya memandang dengan mata penuh teguran sehingga gadis ini menunduk dan takut, akan tetapi mukanya yang pucat menjadi semakin pucat ketika dia melirik ke arah Hui Song.

"Hui Song, engkau tahu bahwa kita orang-orang Cin-ling-pai ini selalu berani bertanggung jawab atas perbuatan kita dan bahwa kita selalu siap menerima hukuman untuk perbuatan kita. Nah, sekarang aku perintahkan engkau untuk membuang sebelah lenganmu sebagai penebus perbuatanmu itu. Engkau hendak melakukannya sendiri ataukah harus aku yang melaksanakannya?"

Semua orang terbelalak, ada pun Sui Cin mengeluarkan seruan tertahan, matanya dibuka lebar-lebar memandang kepada Hui Song. Dia sendiri tak dapat percaya bahwa pemuda yang dicintanya itu telah melakukan perbuatan yang begitu jahat seperti yang dituduhkan oleh Lam-nong. Akan tetapi kalau saksi telah ada, bahkan ayah bundanya sendiri sudah percaya, apa yang mampu dia lakukan? Hatinya merasa tegang bukan main dan rasanya dia ingin lari saja meninggalkan tempat yang menegangkan itu.

Hui Song yang biasanya lincah gembira itu, kini wajahnya menjadi agak pucat dan lesu. Dia mengenal watak ayahnya yang keras dan memegang peraturan dengan patuh, sedikit pun tidak dapat ditawar-tawar lagi. Membantah ayahnya juga tiada gunanya, malah hanya menimbulkan gambaran bahwa dia tidak berani menghadapi akibat dari pada hukuman itu saja. Akan tetapi, menerima hukuman itu pun merupakan sesuatu yang sangat penasaran karena dia sama sekali tidak pernah melakukan perbuatan laknat seperti yang dituduhkan Lam-nong kepadanya.

"Ayah, aku bukan seorang pengecut yang suka mengelak hukuman, kalau memang aku bersalah. Dan aku merasa tidak bersalah. Akan tetapi, kalau ayah menetapkan demikian, terserah kepada ayah!" Dengan berani dia menatap pandang mata ayahnya dan melihat betapa sinar mata orang tua itu suram dan layu.

Teringatlah dia bahwa baru saja ayahnya kehilangan ibunya dan juga kongkong-nya. Dia tahu alangkah hebat penderitaan yang terasa di dalam batin ayahnya dan sekarang harus menghadapi urusannya pula. Dia merasa kasihan sekali.

"Ayah, kalau hal itu menyenangkan hatimu, laksanakanlah hukuman itu!" katanya dengan gagah dan ikhlas.

Cia Kong Liang yang merasa batinnya sedang terhimpit itu menerima ucapan Hui Song sebagai satu tantangan, sedangkan keikhlasan itu dianggap sebagai pengakuan bersalah. Maka dia pun mengambil keputusan bulat untuk melaksanakan hukuman itu terhadap diri putera tunggalnya!

Hatinya akan hancur dan merasa kecewa sekali, akan tetapi di samping itu masih akan terhibur oleh rasa bangga bahwa keluarganya tetap bersikap jantan dan tak lari dari pada pertangungan jawab! Maka, karena tahu akan kelihaian puteranya, dia pun menggerakkan pedangnya dengan jurus yang diambil dari ilmu Pedang Siang-bhok Kiam-sut. Bukan main hebatnya serangan ini, ketika pedang yang dipinjamnya dari Siang Wi karena pedangnya sendiri lenyap ketika dia tertawan, berkelebat menyambar ke arah lengan Hui Song!

Biar pun yang hadir di situ adalah orang-orang sakti yang memiliki ilmu tinggi, namun tak ada seorang pun di antara mereka yang berani mencampuri. Apa yang sedang terjadi itu adalah urusan antara anak dan ayah, ada pun sang ayah adalah ke-tua Cin-ling-pai yang sikapnya demikian keras, angkuh dan penuh wibawa. Mereka semua hanya memandang dengan mata terbelalak dan hati diliputi ketegangan.

"Crakkkk...!"

Terdengar jeritan Siang Wi dan Sui Cin, kemudian nampaklah sebuah lengan kiri sebatas siku terbabat putus lantas jatuh ke atas tanah, darah pun muncrat keluar dari lengan yang buntung.

"Ci Kang...!" Cia Sun dan Ciu-sian Lo-kai menubruk Ci Kang yang agak terhuyung itu.

Ternyata tadi, ketika melihat pedang menyambar ke arah tubuh Hui Song, Ci Kang yang berdiri dekat sekali dengan Hui Song, cepat menangkis dengan lengan kirinya. Dia sudah mengerahkan sinkang saat menangkis, akan tetapi gerakan pedang itu bukanlah gerakan biasa, melainkan merupakan jurus ampuh dari Ilmu Pedang Siang-bhok Kiam-sut (Ilmu Pedang Kayu Harum), maka tak dapat dihindarkan lagi, lengan kiri Ci Kang mulai bawah siku terbabat buntung!

Cia Sun merangkul sahabatnya dan Ciu-sian Lo-kai menyuruh muridnya duduk bersila, lalu dia menotok jalan darah pada pundak dan pangkal lengan untuk menghentikan darah yang bercucuran keluar.

"Aku membawa bekal obat luka yang amat manjur!" kata Toan Kim Hong yang bersama suaminya bersikap biasa saja.

Mereka berdua ini sudah terlalu sering menyaksikan hal-hal sangat hebat yang terjadi di dunia persilatan, dilakukan oleh kaum persilatan yang memang berwatak aneh-aneh. Biar pun mereka terkejut juga melihat kenekatan Ci Kang, tetapi mereka tidak sampai menjadi bingung seperti yang lain.

Dengan cekatan nyonya ini lalu menaruhkan obat bubuknya pada lengan yang buntung dan membalut lengan buntung itu dengan sehelai sapu tangan bersih. Ci Kang tadi duduk bersila sambil mengumpulkan hawa murni untuk melawan rasa nyeri dan sekarang sudah bersikap biasa.

Cia Kong Liang yang terbelalak kaget sesudah melihat betapa pedangnya ditangkis orang sehingga malah membuntungkan lengan Ci Kang yang dikaguminya, segera melepaskan pedang itu. Dia hanya dapat mengeluh dan menghapus peluhnya dengan sapu tangan, tak mampu mengeluarkan kata-kata sama sekali.

Setelah pemuda itu selesai diobati dan semua orang memandang padanya, barulah ketua Cin-ling-pai itu berkata kepada Ci Kang, "Ci Kang, apa artinya perbuatanmu itu? Mengapa engkau melakukan itu?"

Ci Kang mengangkat muka memandang ketua Cin-ling-pai itu, lantas tersenyum masam. "Locianpwe tidak boleh menghukum orang yang tidak bersalah dan akulah satu-satunya orang yang agaknya menjadi saksi bahwa Cia Hui Song memang tidak bersalah."

Tentu saja ketua Cin-ling-pai itu terkejut bukan main, juga semua orang yang hadir di situ kini memandang Ci Kang dengan penuh perhatian. Kemudian Lam-nong melangkah maju dengan perasaan marah.

"Orang muda, apa yang kau lakukan tadi memang aneh dan gagah perkasa, dan untuk pengorbanan lenganmu guna orang lain ini sudah membuat aku kagum bukan main. Akan tetapi jangan kau main-main dengan kesaksian itu. Ingat, orang-orangku sendiri sampai mati tidak akan berbohong dan mereka melihat dengan mata kepala sendiri betapa Cia Hui Song ini telah..."

"Harap suka dengarkan penjelasanku lebih dulu. Aku pun mendengar rahasia itu secara kebetulan saja dan dibicarakan oleh pelaku-pelakunya sendiri."

Dengan singkat ia lalu menceritakan betapa ia melihat Hui Song ditawan oleh Sim Thian Bu, kemudian mendengar pula percakapan antara Sim Thian Bu dengan Hui Song, betapa Sim Thian Bu membujuk Hui Song supaya menakluk kepada Raja Iblis, juga mendengar betapa Thian Bu telah memaksa isteri-isteri Lam-nong untuk merayu Hui Song kemudian sengaja membiarkan kakek anak buah Lam-nong agar melihat adegan itu sehingga nama baik Hui Song akan tercemar dan akan terjadi bentrok antara Lam-nong dan Hui Song.

"Semua itu kudengar sendiri dan aku tahu siapa Sim Thian Bu. Dia adalah bekas sute-ku dan aku tahu mengenai kejahatannya. Cia Hui Song telah difitnah dan laporan kakek anak buah bangsa Mancu itu memang benar, hanya saja dia tidak tahu bahwa pada waktu dia melihat empat orang isteri-isteri saudara Lam-nong berada di dalam satu kamar bersama Hui Song, dia sedang dalam keadaan tertotok dan tidak mampu bergerak."

"Ahhh...!" Lam-nong berseru dan laki-laki ini lalu menangis! Dia sudah dihimpit kedukaan karena keluarganya binasa semua, kini ditambah lagi dengan kekeliruan sangka sehingga mengakibatkan sahabat baiknya Cia Hui Song hampir saja terhukum.

"Hemm...!" Cia Kong Liang juga mengeluarkan seruan tertahan dan bermacam perasaan terkandung dalam seruan itu. Ada perasaan lega karena ternyata putera kandungnya itu tidak berdosa, akan tetapi juga ada perasaan menyesal karena pedangnya, biar pun tidak disengaja, telah membuntungkan lengan Ci Kang yang gagah perkasa.

"Ci Kang... ahhh, Ci Kang...!" Tiba-tiba Hui Song menjatuhkan dirinya berlutut di depan Ci Kang dan merangkul pundak pemuda tinggi besar itu. Biar pun Hui Song seorang pemuda perkasa yang gagah berani dan berbatin kuat, akan tetapi kali ini keharuan membuat dia tidak kuasa menahan mengalirnya air matanya.

"Aku... aku telah berdosa kepadamu dan engkau malah melimpahkan budi tiada hentinya kepadaku! Engkau pernah membebaskan aku dari tawanan Sim Thian Bu tapi aku malah mengajakmu berkelahi. Dulu engkau datang ke benteng Jeng-hwa-pang untuk bergabung dengan para pendekar, akan tetapi aku malah menghinamu dan mengajak para pendekar menyerangmu sebab engkau adalah putera mendiang Iblis Buta. Dan aku... tadi aku telah menuduhmu melakukan perbuatan keji terhadap Cin-moi... dan sekarang... engkau malah membelaku, engkau membersihkan namaku dan engkau... engkau bahkan rela berkorban sebuah lenganmu untukku...! Ci Kang, kenapa engkau begini baik sedangkan aku begini jahat dan kejam karena cemburu?"

Ci Kang menepuk-nepuk pundak Hui Song dengan tangan kanannya, lalu dia pun bangkit berdiri, mengebut-ngebut bajunya dengan tangan kanan, wajahnya pucat dan senyumnya pahit. "Sudahlah Hui Song. Memang telah semestinya aku melakukan ini, dan di samping itu, aku... aku..." Dia lalu mellrik ke arah Sui Cin, "aku tidak ingin melihat nona Sui Cin menderita, dan kalau lenganmu buntung, tentu nona Sui Cin akan menderita. Aku... aku hanya anak seorang datuk sesat yang amat jahat, maka biarlah buntungnya lenganku ini bisa sedikit meringankan hukuman bagi ayah kandungku di neraka... nah, selamat tinggal. Suhu, ampunkan teecu, selamat tinggal!" Dia menjura kepada Ciu-sian Lo-kai, kemudian memungut buntungan lengannya dari atas tanah.

"Ci Kang...! Kau maafkanlah aku...!" Sui Cin terisak-isak sambil menyentuh lengan kanan pemuda itu. Sejenak Ci Kang memandang pada wajah gadis itu, menarik napas panjang dan berbisik lirih.

"Nona... semoga engkau berbahagia..." Dan dia pun cepat meloncat lantas melarikan diri pergi dari tempat itu.

Tiba-tiba Ciu-sian Lo-kai tertawa bergelak-gelak. "Ha-ha-ha-ha, Go-bi San-jin, bagaimana sekarang? Masih engkau menganggap keliru sikap pendekar besar Cia Han Tiong? Lihat, bagaimana seorang putera datuk sesat yang amat kejam dan jahat telah berubah menjadi seorang pendekar budiman yang mengagumkan. Ha-ha-ha…!"

Go-bi San-jin mengelus mukanya dan dia pun menarik napas panjang. "Engkau benar... engkau benar... akan tetapi bagaimana pun juga, muridku tidak berubah menjadi seorang yang jahat, melainkan tetap seorang pendekar yang adil dan jujur."

Tentu saja tidak ada yang mengerti apa maksudnya percakapan antara dua orang kakek itu, bahkan Cia Sun sendiri hanya memandang heran mendengar betapa nama ayahnya terbawa-bawa di dalam percakapan itu.

Sementara itu, Wu-yi Lo-jin dan Siang-kiang Lo-jin melangkah maju dan keduanya lantas tertawa ha-ha-hi-hi setelah tadi saling memberi isyarat dengan pandangan mata mereka. Mereka itu seperti saling dorong dengan sikap mereka, seperti dua orang anak-anak yang malu-malu ingin mengatakan sesuatu, hingga akhirnya Wu-yi Lo-jin mengalah dan kakek pendek inilah yang bicara.

"He-he-heh, kebetulan sekali di sini hadir orang-orang gagah Cia Kong Liang dan suami isteri Ceng Thian Sin, juga anak-anak mereka atau murid-murid kami. Sungguh kebetulan sekali karena saat inilah yang teramat baik untuk berbicara soal perjodohan. Pangcu dari Cin-ling-pai telah mendengar bahwa puteranya jatuh cinta kepada muridku, Ceng Sui Cin dan bagaimana pendapat pangcu kalau saat pertemuan ini, selagi kita semua berkumpul, dibicarakan tentang ikatan jodoh antara Hui Song dan Sui Cin?"

Ketua Cin-ling-pai itu mengerutkan alisnya, memandang pada kakek pendek itu kemudian menarik napas panjang dua kali. "Locianpwe, sudah banyak aku mencampuri urusan tapi semuanya menjadi gagal dan rusak. Oleh karena itu, soal perjodohan Hui Song terserah kepadanya dan kepada locianpwe yang sudah menjadi gurunya. Aku sih setuju saja, akan tetapi sekarang aku masih mempunyai kepentingan lain, maka biarlah lain hari saja kita bicarakan hal itu. Cu-wi maafkan, aku harus pergi dulu. Song-ji, mari bantu aku mencari dan mengurus jenazah ibumu dan kongkong-mu."

Mendengar ini, semua orang terkejut dan baru teringat bahwa ketua Cin-ling-pai ini baru saja tertimpa musibah, bahkan belum sempat mencari jenazah isterinya dan mertuanya. Juga Hui Song tak berani membantah perintah ini, maka pemuda itu pun menoleh kepada Sui Cin, melempar pandang mata penuh arti lantas memberi hormat kepada empat orang kakek itu dan juga kepada Ceng Thian Sin beserta isterinya. Kemudian ketua Cin-ling-pai menjura kepada semua orang lalu pergi dengan cepat diikuti Hui Song, Siang Wi dan para anggota Cin-ling-pai.

Wu-yi Lo-jin dan Siang-kiang Lo-jin saling pandang, lalu keduanya menggerakkan pundak seperti kehabisan akal, akan tetapi Siang-kiang Lo-jin tidak kekurangan akal. "Aha, sayang sekali ketua Cin-ling-pai mempunyai urusan yang sangat penting, akan tetapi di sini masih ada orang tua dan juga guru dari Ceng Sui Cin, berarti masih ada kesempatan untuk membicarakan urusan itu walau pun hanya sepihak."

Mendengar ini, Wu-yi Lo-jin juga tertawa. "Heh-heh, benar juga, benar juga. Bagaimana, Ceng-sicu dan juga toanio, ji-wi telah mendengar bahwa antara puteri ji-wi dengan putera ketua Cin-ling-pai itu ada hubungan kasih dan mereka berdua sudah bersepakat untuk mengikat perjodohan, dan kami berdua sebagai guru-guru mereka sudah merasa cocok sekali!"

"Hemm, aku tidak suka mempunyai mantu pemuda itu!" tiba-tiba Toan Kim Hong berseru.

Suaminya menyambung, "Sesungguhnya, keluarga Cia dari Cin-ling-pai itu terlalu angkuh dan ketinggian hati itu membuat kami tidak suka untuk berbesan dengan mereka..."

"Ayah! Ibu!" Sui Cin berteriak marah, "Agaknya ayah dan ibu masih hendak memaksaku untuk menerima pinangan dari si pesolek Can Koan Ti itu, ya? Ayah dan ibu ingin sekali berbesan dengan Pangeran Can Seng Ong, seorang pangeran sekaligus juga gubernur di Ce-kiang! Baiklah, ayah dan ibu saja yang menikah dengan mereka. Akan tetapi aku tidak sudi!" Setelah berkata demikian, Sui Cin meloncat dan melarikan diri sambil menangis!

"Sui Cin...!" teriak Pendekar Sadis marah, akan tetapi anaknya tidak peduli dan sudah lari cepat lenyap dari situ. Ketika dia mendengar suara gerakan halus dan menengok, kiranya Wu-yi Lo-jin dan Siang-kiang Lo-jin, dua orang kakek itu, telah lenyap pula dari situ.

"Hemm, anak itu menjadi besar kepala karena ulah dua orang kakek itu," kata Toan Kim Hong marah. "Sesudah merantau dan berguru, Sui Cin malah menjadi seorang anak yang durhaka terhadap orang tuanya! Kakek itu perlu dihajar!"

Dan nyonya yang galak itu sudah melompat untuk melakukan pengejaran. Akan tetapi dia dipeluk dari belakang oleh suaminya.

"Ehh, ehh, ehh, jangan marah-marah dulu. Ingat, dua orang kakek itu adalah orang-orang sakti yang mencinta Sui Cin dan bermaksud baik. Lagi pula, jangan kira bahwa kita akan mudah saja dapat mengalahkan mereka."

"Aku tidak takut!"

"Eit-eitt, nanti dulu. Tentu saja kita tidak mengenal takut, akan tetapi itu kalau berhadapan dengan orang-orang jahat dan untuk menentang kejahatan. Sekarang persoalannya lain lagi. Mereka bukan orang jahat, bahkan guru Sui Cin dan mereka berniat baik. Mari kita kejar mereka dan kita bicara dengan baik. Ingat, Sui Cin hanya anak tunggal kita, demi kebahagiaannya kita harus dapat merundingkan hal ini secara perlahan dan dengan baik."

Sesudah dibujuk suaminya, Toan Kim Hong mulai sabar dan mereka pun meninggalkan tempat itu. Kini di situ tinggal Cia Sun dengan dua orang kakek, Ciu-sian Lo-kai dan Go-bi San-jin yang sejak tadi hanya menjadi penonton.

Ciu-sian Lo-kai tertawa bergelak. "Ha-ha-ha-ha…, alangkah lucunya manusia di dunia ini, sungguh dunia ini tiada lain hanya sebuah panggung sandiwara dan manusia-manusianya menjadi badut-badut yang kadang-kadang tidak lucu sama sekali. Lihat itu Raja Iblis dan Ratu Iblis. Raja Iblis tadinya adalah seorang pangeran besar, bahkan kemudian dia telah merubah diri menjadi seorang pertapa yang berilmu tinggi sekali. Akan tetapi, ternyata dia masih belum puas dengan hidupnya dan menjangkau yang lebih tinggi. Dan apa jadinya sekarang? Dia dan isterinya hanya merupakan seonggok daging!" kakek itu menggeleng-gelengkan kepala.

Go-bi San-jin menarik napas panjang. "Manusia berbunuh-bunuhan, mayat berserakan, semua itu hanya untuk mengejar cita-cita kosong dan saling mempertahankan kebenaran masing-masing, kebenaran kosong! Lihat itu...!" Dia lalu menunjuk ke arah pasukan yang sudah tiba di situ dan sekarang sedang mengurus mayat-mayat yang berserakan. "Kalau sudah menjadi mayat, semua ya sama saja, sama-sama membusuk. Ketika masih hidup, juga bergelimang dalam kebusukan sungguh pun semua cita-cita untuk kebaikan. Betapa lucunya, lucu dan menyedihkan. Betapa hidup hampir dipenuhi sengsara belaka."

Mendengar percakapan kedua orang kakek itu, Cia Sun teringat kepada ayahnya maka tiba-tiba saja dia melihat betapa ayahnya adalah seorang bijaksana serta berbatin mulia. Ayahnya tidak mendendam, walau pun kehilangan isteri. Ayahnya dapat menerima segala hal yang menimpa dirinya dengan tenang, penuh kewaspadaan, tidak dikuasai nafsu-nafsu amarah dan kebencian. Dan tiba-tiba saja dia merasa rindu kepada ayahnya. Juga dia harus menemui ayahnya untuk suatu hal.

Dia tahu bahwa Sui Cin tidak bisa diharapkannya lagi, bahwa Sui Cin mencinta Hui Song. Akan tetapi pertemuan dan perkenalannya dengan Tan Siang Wi, murid Cin-ling-pai itu, menghidupkan kembali harapannya untuk dapat berbahagia di samping seorang wanita.

Dia amat tertarik kepada Siang Wi, gadis yang manis dan gagah perkasa itu. Dia pun tahu bahwa gadis itu sesungguhnya mencinta Hui Song, dan seperti juga dia mencinta tanpa balasan, hanya bertepuk tangan sebelah. Siang Wi mencinta Hui Song dan dia mencinta Sui Cin, akan tetapi dua orang yang mereka cinta itu ternyata saling mencinta. Maka, jika kini dia tertarik kepada Siang Wi, alangkah baiknya kalau dia berjodoh dengan Siang Wi, dengan demikian, rasa penasaran terobati dan mereka dapat saling menghibur!

"Suhu, teecu ingin menengok ayah," tiba-tiba dia berkata kepada Go-bi San-jin.

Kakek ini maklum akan isi hati muridnya. Dia tahu bahwa muridnya ini agaknya patah hati akibat cintanya terhadap Sui Cin tidak terbalas. Sebagai orang-orang yang waspada, baik Ciu-sian Lo-kai mau pun Go-bi San-jin sama-sama maklum bahwa murid masing-masing itu telah jatuh cinta kepada puteri Pendekar Sadis, namun keduanya telah ditolak karena gadis itu ternyata mencinta putera ketua Cin-ling-pai.

"Kini engkau mau pulang ke Lembah Naga? Baiklah, karena pekerjaan di sini pun sudah selesai, pulanglah dan laporkan segala yang terjadi kepada ayahmu. Kelak, apa bila ada jodoh kita pasti akan bertemu lagi," kata Go-bi San-jin.

Cia Sun lalu pergi dengan diikuti pandangan mata dua orang kakek itu. Mereka berdua itu masih tenggelam di dalam pikiran masing-masing, menyaksikan semua peristiwa di dunia ini, melihat semua ulah manusia yang berlomba mencari kebahagiaan tapi hanya berakhir dengan kesengsaraan.

Sesungguhnya, kalau kita mau melihat kenyataan, timbul sebuah pertanyaan. Dapatkah kebahagiaan dikejar dan dicari? Sebelum menjawab ini, sebaiknya diselidiki lebih dahulu apakah sebenarnya yang dimaksudkan dengan BAHAGIA itu? Apakah kebahagiaan itu kepuasan hati karena tercapainya sesuatu yang diinginkan? Kalau begini, maka bahagia itu akan terbatas sekali dan berumur beberapa lama saja karena kepuasan ini pun hanya sementara saja, lalu segera berubah dengan kebosanan.

Apakah bahagia itu kesenangan? Juga tidak, sebab kesenangan hanya pemuasan nafsu saja, rasa nyaman dan enak bagi badan dan pikiran kita, dan kesenangan ini pun hanya sementara saja, sangat pendek umurnya, dan kesenangan biasanya diselingi kebosanan dan bahkan mempunyai saudara kembar, yaitu kesusahan, seperti tawa dan tangis yang datang silih berganti seperti datangnya musim. Kalau semua itu bukan, lalu apakah yang dimaksudkan dengan kebahagiaan?

Bagaimana kita bisa menggambarkan kebahagiaan bila kita sendiri selalu berada dalam permainan susah dan senang, kalau kita selalu diombang-ambingkan gelombang nafsu? Kebahagiaan bukan sesuatu yang mati, bukan pula sesuatu yang sudah pasti sehingga mudah dicari dan dicapai.

Jika kita menghentikan segala kesibukan pikiran kita yang mengejar-ngejar kesenangan, mengejar-ngejar kebahagiaan itu sendiri, apa bila kita sudah tidak terseret lagi ke dalam tarikan-tarikan susah dan senang yang bertentangan, kalau sudah tidak ada lagi konflik atau pertentangan dalam batin antara kenyataan yang ada dengan gambaran yang kita inginkan, kalau KITA SUDAH TIDAK MENGEJAR APA-APA, tidak menginginkan apa pun yang berada di luar jangkauan kita, nah, mungkin sekali kita akan dapat merasakan dan mengerti apa artinya bahagia itu.

Maka jelaslah bahwa yang dapat dikejar dan dicari hanyalah kesenangan dan kepuasan sementara dari dorongan keinginan kita untuk mendapat kesenangan itu. Dengan begini maka kebahagiaan itu tidak mungkin dapat dicari, tidak mungkin bisa didapatkan melalui pengejaran.

Kita selalu condong untuk mengejar. Karena mengira bahwa kebahagiaan berada di luar diri, kita lantas mengejar keluar, kita merubah-rubah yang berada di luar. Maka terjadilah pergolakan-pergolakan, terjadilah revolusi-revolusi, terjadilah perang. Kita selalu condong untuk membuat keindahan di luar diri. Kita lupa bahwa sebenarnya, yang indah itu ada di dalam, yang indah itu timbul dari dalam, dan bahagia itu adalah urusan batin, urusan di dalam diri kita sendiri.

Tinggal di dalam sebuah gedung memang menyenangkan namun belum tentu bahagia, sebaliknya tinggal di dalam gubuk mungkin saja merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan tidak berada di dalam gedung indah, tidak berada di dalam makanan lezat, tidak berada dalam kedudukan tinggi atau di antara tumpukan emas.

Bila mana batin sudah tidak mengejar-ngejar, tidak mencari-cari apa yang berada di luar jangkauan kita, maka batin itu akan menjadi tenteram dan kita dapat menerima segala sesuatu sebagai hal yang wajar saja, tanpa mengeluh sedikit pun juga, bahkan dengan senyum tulus ikhlas karena kewaspadaan akan membuat kita mengerti bahwa segala itu merupakan suatu kenyataan dan kenyataan itu mengandung keindahan.

Segala sesuatu di dunia ini mengandung keindahan bagi batin yang tidak mencari apa pun. Baik hujan mau pun panas, dihadapi dengan senyum dan dipandang sebagai suatu keindahan, tanpa keluhan karena tidak ada yang perlu dikeluhkan, karena tidak ada rasa penyesalan dalam batin, karena tidak ada hal-hal yang bertentangan dengan yang dicari, karena memang tak ada yang dicari-cari! Dalam keadaan inilah kita mungkin sekali akan merasakan dan mengerti apa sesungguhnya hakekat kebahagiaan itu.

Tidak mencari kesenangan sama sekali bukan berarti bahwa kita menolak kesenangan! Orang-orang yang menolak kesenangan, orang yang mengasingkan diri di puncak bukit dan mengharamkan segala hal yang mendatangkan rasa enak dan nikmat, sebenarnya adalah orang-orang yang MENCARI KESENANGAN, dalam bentuk lain!

Memang, orang sering kali lupa diri dalam mencari kesenangan, bahkan mau bersusah payah menyiksa diri, dalam mengejar kesenangan yang dinamakan cita-cita. Dan andai kata yang dikejar dengan cara menyiksa diri itu tercapai, maka yang didapatkannya itu pun hanyalah suatu bentuk kepuasan, suatu bentuk kesenangan perasaan belaka yang ekornya dapat berupa kekecewaan dan kebosanan pula.

Perasaan enak, nyaman, nikmat yang dinamakan kesenangan adalah sebuah anugerah hidup. Tubuh dan perasaan kita dibekali alat-alat penangkap rasa senang ini, maka kita berhak menikmati kesenangan di dalam hidup ini. Kesenangan adalah berkah dan sama sekali tak berbahaya. Yang berbahaya adalah PENGEJARAN itulah, PENCARIAN itulah, karena dalam mengejar inilah timbulnya segala macam perbuatan yang merugikan orang lain, yang pada umumnya disebut jahat.

Pengejaran kesenangan yang berbentuk kedudukan dan kemuliaan, seperti yang terjadi pada Raja dan Ratu Iblis, menimbulkan perang dan permusuhan, bunuh-bunuhan antara manusia. Pengejaran kesenangan dalam bentuk harta benda menyebabkan perbuatan-perbuatan culas, korupsi, penipuan, perampokan, pencurian dan sebagainya. Pengejaran kepada kesenangan dalam bentuk nafsu birahi menimbulkan perkosaan, pelacuran, dan sebagainya dan segala macam perbuatan yang pada umumnya merugikan dan dianggap jahat, kalau ditelusur, sudah pasti dasarnya adalah pengejaran kesenangan itu.

Akan tetapi orang yang tidak mengejar kesenangan menganggap segala hal yang terjadi merupakan suatu kewajaran dan di dalam kewajaran ini, di mana tidak terdapat keluhan, tidak terdapat kekecewaan karena tak ada pengejaran, terkandunglah kesenangan yang lain lagi! Kenikmatan sebab cita rasa memang menganggapnya enak, bukan kenikmatan karena tercapainya suatu pengejaran.

Bagi orang yang tidak mengejar, memperoleh minuman apa pun akan terasa nikmat, baik itu berupa air jernih belaka mau pun minuman yang amat mahal harganya. Kenikmatan terdapat pula di dalam nasi sambal mau pun dalam nasi beserta masakan yang mahal bagi mereka yang tidak mengejar.

Bukan berarti pula bahwa orang yang tidak mengejar kesenangan lalu menjadi lumpuh semangat dan hanya duduk menganggur! Sama sekali tidak demikian! Akan tetapi orang bahagia seperti ini, jika bekerja bukan bermaksud mengejar uang, melainkan melakukan suatu pekerjaan yang bermanfaat dan yang sesuai dengan minatnya sehingga di dalam pekerjaan itu sendiri dia telah mengecap kenikmatan! Uang sebagai upah atau hasil dari pekerjaannya hanya merupakan akibat saja dalam dunia yang kesemuanya sudah diukur dengan uang ini. Akan tetapi uang bukanlah menjadi tujuan utama untuk dikejar melalui pekerjaan.

Jika pekerjaan itu dilakukan sebagai cara untuk mencari uang, maka akan timbul hal-hal yang buruk dan curang. Pekerjaan itu mungkin menjadi kotor, pegawai berbuat korupsi, pedagang menipu dan memalsu, memanipulasi, penyelundupan, dan berbagai keburukan yang terdapat dalam pekerjaan dan perdagangan.

Sejak ribuan tahun yang lalu, para cerdik pandai, para cendekiawan, para budiman telah berusaha mati-matian untuk mencari cara yang baik agar manusia dapat hidup benar dan besar. Berbagai macam cara hidup sudah diciptakan manusia dengan berbagai paham (isme), berbagai garis hidup sudah dipaksakan kepada manusia.

Akan tetapi, apa bila kita sekarang menengok keadaan di seluruh dunia, semua cara itu ternyata tidak menolong, tak dapat membebaskan manusia dari pada kesengsaraan, dari pada kemurkaan, ketamakan, ketakutan, kebencian dan permusuhan. Ternyata segala macam kedudukan tinggi, kehidupan mewah, ilmu pengetahuan yang tinggi-tinggi, tidak mampu memperbaiki kehidupan batin manusia, tidak mampu mengusir kesengsaraan manusia, tidak mampu mendatangkan KEBAHAGIAAN dalam batin manusia.

Tidak ada paham (isme) apa pun, tidak ada cara apa pun, yang akan dapat merubah batin manusia kecuali dirinya sendiri. Dan perubahan itu baru bisa terjadi kalau kita mau mengenali diri kita sendiri, mengamati diri kita sendiri serta lika-liku kehidupan kita setiap hari dengan penuh perhatian, penuh kewaspadaan.

Pengamatan yang mendalam setiap saat akan membuka mata kita bahwa kita sendirilah yang menjadi sumber segala derita, kita sendiri pencipta kesengsaraan, kita sendiri yang menjauhkan diri dari kebahagiaan, menjauhkan diri dari Tuhan! Dengan segala berkah yang berlimpahan, sedetik pun Tuhan tidak pernah menjauhi kita. Adalah kita yang setiap saat, demi pengejaran kesenangan, menjauhi Tuhan dan sesudah akibat dari pengejaran itu menjerumuskan kita ke dalam lembah kesengsaraan, baru berteriak-teriak mengeluh kenapa Tuhan meninggalkan kita!

Orang bahagia akan selalu menerima segala hal yang terjadi sebagai suatu kenyataan hidup tanpa menilai hal itu sebagai baik atau buruk. Tidak mengeluh, tidak menyalahkan siapa pun, melainkan membuka mata dengan waspada akan gerak-gerik ‘monyet putih’ yang bercokol di dalam pikiran kita…..


********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner