PENDEKAR MATA KERANJANG : JILID-07


Ketika dia memanggilnya, Han Siong cepat bangkit berdiri dan berlari memasuki ruangan. Kakek Pek Khun girang sekali karena kehidupan di kuil ini akan merubah cara hidup Han Siong yang tentu tidak akan kesepian lagi. Di situ terdapat pula banyak calon hwesio yang sejak kecil digembleng untuk menjadi manusia-manusia yang baik.

Setelah Han Siong datang menghadap, kakek Pek Khun lalu berkata, "Han Siong, seperti yang telah kuberi tahukan kepadamu, mulai hari ini engkau akan menjadi murid di kuil ini. Ceng Hok Hwesio ini adalah ketua kuil ini dan menurut tingkat, dia masih kakek gurumu sendiri. Akan tetapi karena mulai hari ini engkau akan menjadi muridnya, maka engkau harus memberi hormat kepadanya sebagai gurumu."

Han Siong memandang kepada Ceng Hok Hwesio, kemudian memandang kepada kakek buyutnya. "Apakah Kakek hendak meninggalkan aku di sini?"

"Benar, aku sudah terlampau tua untuk mendidikmu sedangkan engkau perlu memperoleh pengalaman hidup yang lain dan pergaulan yang tepat. Di sini terdapat banyak anak-anak yang menjadi murid, maka engkau dapat bergaul dengan mereka."

"Baik, Kek," kata Han Siong dan dia pun cepat menjatuhkan diri berlutut di depan Ceng Hok Hwesio, memberi hormat delapan kali, sambil menyebut, "Suhu!"

Dengan wajah berseri-seri Ceng Hok Hwesio menyentuh pundak anak itu. "Bangkitlah, Han Siong, dan mulai sekarang engkau harus mentaati segala peraturan di kuil ini. Untuk sementara engkau menjadi murid dalam ilmu silat, juga mempelajari agama namun belum menjadi calon hwesio karena untuk hal itu diperlukan bakat dan pinceng ingin melihat dulu apakah engkau berbakat untuk menjadi calon hwesio."

"Baik, Suhu. Teecu hanya mentaati perintah Suhu." kata Han Siong.

Diam-diam hwesio itu kagum sekali. Anak ini baru berusia tujuh tahun, sejak kecil hidup di dalam pertapaan bersama kakek buyutnya, namun anak ini sudah pandai membawa diri.

"Han Siong, engkau harus selalu ingat bahwa engkau keturunan keluarga Pek yang turun-temurun menjadi pimpinan dari perkumpulan Pek-sim-pang. Nama perkumpulan ini berarti Hati Putih dan hati putih adalah hati yang bersih, tidak ternoda oleh perbuatan-perbuatan yang sesat dan jahat. Karena itu aku hanya mengharapkan agar kelak engkau akan dapat melanjutkan pimpinan Pek-sim-pang dengan baik, dan untuk itu, terimalah kitab ini. Kitab ini adalah tulisanku sendiri, merupakan inti dari ilmu silat Pek-sim-kun, telah kusaring dan kupadatkan sehingga menjadi tiga belas jurus saja. Untuk dapat mempelajari ini, engkau harus sudah mencapai tingkat ilmu silat yang cukup tinggi, karena itu rajin-rajinlah belajar di Siauw-lim-si." Kakek itu menyerahkan sebuah kitab yang diterima dengan sikap hormat oleh Han Siong.

"Pesan Kakek akan selalu kuperhatikan baik-baik dan akan kulaksanakan dengan patuh," jawabnya.

Setelah meninggalkan pesan-pesan kepada cucu buyutnya, pada hari itu juga kakek Pek Khun meninggalkan kuil Siauw-lim-si itu untuk kembali ke Kun-lun-san di mana dia akan bertapa sampai akhir hayatnya.

Demikianlah, mulai hari itu juga Han Siong tinggal di kuil Siauw-lim-si dan menjadi murid yang setiap hari membantu pekerjaan para hwesio tua muda di kuil itu. Setelah dia dapat menyesuaikan diri, barulah Ceng Hok Hwesio mulai memberikan pelajaran ilmu silat, juga ilmu baca tulis dan membaca kitab-kitab agama. Ternyata anak itu cerdik sekali sehingga segala macam mata pelajaran yang diajarkan kepadanya, dengan cepat dapat dimengerti dan diresapi.

Di Siauw-lim-si ini dia menerima gemblengan dasar-dasar ilmu silat sehingga dia memiliki dasar yang kuat dan asli dari Siauw-lim-pai. Berbeda dengan kakek Pek Khun yang biar pun tokoh Siauw-lim-pai akan tetapi tidak mempunyai cukup waktu untuk menggembleng seperti yang dilakukan di perguruan Siauw-lim-si.

Di kuil ini Han Siong benar-benar harus mengulang kembali semua pelajaran yang pernah diajarkan oleh kakek Pek Khun, dan belajar lagi mulai dari tingkat yang terendah. Untuk memperkuat dan menyempurnakan kuda-kuda kedua kakinya saja, setiap hari dia harus berlatih dengan memikul air melewati jalan tanjakan yang licin dan berliku-liku, dan harus terus berlatih selama dua tahun! Sesudah itu dia harus melatih kaki dan tangannya untuk memperkuat otot-ototnya dengan menggantungi kaki tangan dengan gantungan besi yang cukup berat. Belajar pula menghimpun tenaga untuk dasar ilmu meringankan tubuh.

Setelah lima tahun digembleng, meski pun belum pernah diajarkan ilmu silat yang berarti, tubuh Han Siong yang berusia dua belas tahun itu menjadi kuat sekali. Otot-ototnya kuat dan lentur sehingga dia dapat bergerak dengan gesit seperti tubuh seekor kijang dan kuat seperti seekor harimau.

Bukan hanya otot-otot tubuhnya yang dilatih sehingga menjadi kuat, juga panca inderanya dilatih sehingga memiliki pandangan yang tajam, pendengaran dan penciuman yang peka pula. Pendeknya, selama lima tahun dia terus digembleng sehingga memiliki dasar-dasar bagi seorang calon ahli silat yang lihai.

Di antara tugas-tugas pekerjaannya, Han Siong setiap pagi dan sore menyapu lantai, baik pekarangan depan mau pun pekarangan belakang. Sesudah lima tahun tinggal di dalam kuil, kadang kala dia merasa kesepian dan rindu kepada kakek buyutnya. Sejak kecil dia biasa hidup di alam terbuka, dan di Pegunungan Kun-lun-san setiap hari dia menjelajah hutan-hutan dan alam bebas. Akan tetapi sekarang dia tidak boleh keluar dari dalam kuil sehingga dia mulai merasa terkurung dan tidak leluasa.

Di bagian belakang bangunan kuil itu terdapat dua buah bangunan kecil, di ujung kanan dan di ujung kiri, dekat kebun yang luas. Dari para hwesio kecil lainnya, dia mendengar bahwa dua bangunan kecil ini merupakan tempat-tempat hukuman. Yang sebelah kanan terdapat seorang hwesio yang menjalani hukuman kurungan, sedangkan yang sebelah kiri terdapat seorang nikouw (pendeta perempuan) yang menjalani hukuman yang sama.

Sesudah lima tahun berada di situ, sekarang Han Siong juga telah menjadi seorang calon hwesio. Kepalanya sudah digundul dan dia mengenakan pakaian seperti hwesio. Dia juga sudah pandai membaca kitab-kitab agama, pandai berliam-keng (berdoa) dan di samping berlatih ilmu silat, kesukaannya adalah membaca kitab-kitab suci sampai jauh malam.

Malam itu amat sunyi. Semua hwesio sudah tidur. Bahkan hwesio tua yang tadi membaca liam-keng dengan suara yang parau sudah berhenti sehingga suasananya menjadi makin sunyi. Akan tetapi, seperti biasa, Han Siong yang senang menyendiri itu belum memasuki kamarnya. Dia masih duduk melamun di sudut pekarangan belakang, di tepi kebun sambil menikmati langit yang amat indah, penuh dengan bintang-bintang cemerlang.

Di Pegunungan Kun-lun-san, semenjak kecil Han Siong suka sekali menerawang ke langit mengagumi kebesaran alam. Karena sudah menjadi sebuah kebiasaan, maka dia banyak mengenal bintang-bintang di langit. Dari kakek buyutnya, dia banyak mendapat pelajaran dan keterangan tentang perbintangan sehingga niatnya untuk mempelajari ilmu itu menjadi semakin besar.

Sekarang, sesudah dia menjadi calon hwesio di kuil Siauw-lim-si dan memperdalam ilmu membaca kitab agama, secara kebetulan dia berhasil menemukan sebuah kitab tentang perbintangan di perpustakaan. Dia sudah selesai membaca kitab itu, maka kini dia dapat menikmati bintang-bintang di langit dengan perasaan lebih tertarik karena dia sudah mulai mengenal peredaran dan pergerakan bintang-bintang itu.

Tiba-tiba Han Siong merasa terkejut dan cepat dia menyelinap di belakang batang pohon di sebelah kirinya untuk bersembunyi. Dia melihat berkelebatnya orang yang melompat turun dari luar pagar tembok kebun! Lalu ada bayangan ke dua yang juga berkelebat cepat sekali. Bagaikan terbang saja dua bayangan itu kemudian berlari menuju kedua pondok belakang di sudut kanan kiri kebun dan lenyap di situ.

Han Siong merasa jantungnya berdebar-debar. Demikian cepatnya gerakan dua orang itu sehingga dia tidak mampu melihat muka mereka dengan jelas. Selagi dia menduga-duga, tiba-tiba berkelebat bayangan ke tiga dari luar.

Bayangan ini berbeda dengan dua bayangan terdahulu karena begitu dia melompat turun, bayangan ini lalu celingukan seperti orang menyelidik. Ketika orang itu agak mendongak sehingga mukanya tertimpa sinar bintang, Han Siong menjadi terkejut sekali.

Dia mengenal muka itu sebagai muka seorang hwesio tua yang bekerja sebagai tukang sapu di dalam kuil, seorang hwesio tua yang tuli dan gagu. Dia ditemukan kelaparan dan hampir mati di pekarangan depan kuil, maka oleh Ceng Hok Hwesio lalu ditolong, dirawat dan diberi pekerjaan sebagai tukang sapu di situ.

Setelah celingukan dengan sepasang matanya yang tampak mencorong ditujukan ke arah kedua pondok di mana dua bayangan pertama tadi menghilang, hwesio tua ini pun lantas meloncat dan menghilang di bagian belakang bangunan di mana terdapat kamar hwesio tua tuli gagu itu.

Han Siong mengerutkan alisnya, berpikir dengan hati tegang. Biar pun tidak jelas, tapi dia dapat menduga bahwa dua bayangan pertama tadi tentulah dua orang terhukum itu. Hal ini saja sudah amat aneh. Akan tetapi lebih aneh lagi adalah hwesio tua tuli dan gagu itu. Melihat gerakannya tadi, jelaslah bahwa hwesio tua ini lihai bukan main.

Sudah lama dia menaruh perasaan curiga terhadap hwesio gagu tukang sapu ini. Sering kali dia melihat betapa kalau dia sedang tidak diperhatikan orang, hwesio tua itu memiliki sinar mata yang mencorong dan berkilat, penuh kekerasan. Akan tetapi di hadapan para hwesio, sinar matanya dapat berubah menjadi demikian lembut dan mendatangkan rasa iba.

Selain ini, yang membuat Han Siong semakin curiga adalah ketika beberapa kali, dalam perjalanannya keliling bila sedang bergadang, ketika dia lewat di depan kamar hwesio tua ini dan mendengar suara hwesio tua ini mengigau! Hal ini tentu saja sangat mengejutkan hatinya karena mana mungkin seorang gagu dapat mengigau dan bicara, biar pun dalam tidur! Dia semakin curiga akan tetapi masih menyembunyikan hal itu sebagai rahasianya sendiri.

Dan malam ini secara kebetulan sekali dia dapat memergoki hwesio tua itu yang agaknya tadi membayangi dua orang hukuman yang berkeliaran keluar dari kuil, dan dia mendapat kenyataan bahwa hwesio tua gagu ini adalah seorang yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi.

Pada keesokan harinya, Han Siong masih menyembunyikan rahasia yang dilihatnya tadi malam. Jantungnya kadang-kadang berdebar tegang dan bagi pemuda remaja seperti dia, mengetahui sebuah rahasia bagi dirinya sendiri seolah-olah tengah menggenggam sebutir mutiara yang belum diketahui orang lain. Menimbulkan ketegangan yang menggembirakan sekali!

Pada pagi hari itu, pada saat Han Siong sedang menyapu lantai pekarangan dengan sinar mata berseri karena kegembiraan menyimpan rahasia semalam, tiba-tiba terdengar suara Ceng Hok Hwesio memanggilnya dari ruangan depan.

"Han Siong... ke sinilah sebentar!"

Han Siong menyandarkan sapunya pada dinding lalu memasuki ruangan depan itu. Dia melihat suhu-nya duduk bersila di atas lantai bertilamkan kasur kecil dan hwesio tua itu menatap kepadanya dengan sinar mata tajam penuh selidik. Hal ini amat mengherankan hati Han Siong karena belum pernah gurunya bersikap seperti itu. Dia lalu menjatuhkan diri berlutut dan menghadap gurunya.

"Suhu memanggil teecu hendak memerintah apakah?" tanyanya dengan sikap sopan.

Ceng Hok Hwesio tidak segera menjawab, melainkan mengamati anak itu dengan penuh perhatian. "Han Siong, tahukah engkau siapa yang berada di dalam dua buah kamar di sudut belakang dekat kebun itu?" tiba-tiba dia bertanya dan pandang matanya amat tajam menatap wajah anak itu.

Han Siong sampai terkejut melihat sinar mata gurunya itu dan dia menjadi semakin heran. "Suhu maksudkan, dua kamar yang bernama Kamar Renungan Dosa itu?"

"Benar! Bukankah setiap hari engkau menyapu lantai di depan dua kamar itu? Tahukah engkau siapa yang berada disana?"

Dengan pandangan mata yang polos Han Siong lalu menjawab sejujurnya. "Teecu pernah mendengar penuturan beberapa orang suheng bahwa di dalam kamar yang sebelah barat terdapat seorang hwesio tua yang bertapa dan menjalani hukuman, sedangkan di kamar yang sebelah timur terdapat seorang nikouw tua. Hanya itulah yang pernah teecu dengar dari pembicaraan para Suheng."

"Hemm, apa yang engkau dengar itu memang benar adanya. Pernahkah engkau bertemu atau melihat mereka atau seorang di antara mereka berdua itu?" Kembali sepasang mata Ceng Hok Hwesio menatap tajam penuh selidik.

Sejenak Han Siong tertegun. Tadi malam dia melihat dua bayangan orang yang lenyap di dalam kedua kamar itu, akan tetapi dia tidak melihat wajah kedua orang itu dan dia pun tak berani merasa yakin bahwa dua bayangan orang itu adalah Si Hwesio dan Si Nikouw yang dibicarakan. Maka dia lantas menggelengkan kepala. "Teecu belum pernah bertemu dengan mereka, Suhu."

"Dan engkau juga tidak pernah bicara atau mendengar suara mereka? Ingat, engkau tidak boleh membohong."

"Suhu, bagaimana teecu berani membohong kepada Suhu atau kepada siapa pun juga? Teecu tahu bahwa membohong merupakan sebuah dosa. Tidak, Suhu, teecu benar-benar tidak membohong kepada Suhu."

"Baiklah, pinceng percaya padamu. Akan tetapi sekarang engkau pergilah kepada kedua orang itu, ketuk pintu kamar mereka dan sampaikan bahwa pinceng memanggil mereka agar sekarang juga menghadap ke sini."

Han Siong terkejut dan juga hatinya merasa tegang. Tentu saja dia merasa girang bahwa dia yang diserahi tugas ini karena memang sudah lama ingin sekali melihat kedua orang hukuman itu.

Secara diam-diam dia merasa amat kasihan sebab menurut percakapan para hwesio kecil di kuil itu, kedua orang hukuman itu kabarnya sudah menjalani hukuman selama sepuluh tahun lebih dan masih harus meringkuk di situ selama sepuluh tahun lagi karena mereka masing-masing dihukum dua puluh tahun! Tidak ada seorang pun hwesio kecil di situ tahu apa yang menjadi kesalahan kedua orang itu maka dihukum selama dua puluh tahun.

"Ba... baik, Suhu...," katanya agak gagap saking tegang hatinya. Dia cepat bangkit lantas berlari menuju kebelakang.

Pertama-tama Han Siong menuju ke rumah pondok yang sebelah barat, rumah pondok yang hanya terdiri dari satu kamar yang menjadi kamar hukuman dengan nama Kamar Renungan Dosa itu. Jantungnya berdebar kencang penuh ketegangan, karena bukankah selama bertahun-tahun ini dia menganggap kamar ini penuh rahasia, merupakan tempat yang terlarang untuk dikunjungi?

Dia hanya boleh menyapu lantai pekarangannya saja, sama sekali tidak boleh mendekati pintu, apa lagi menyentuhnya. Dan kini dia harus mengetuk pintu itu, dan bicara dengan penghuninya yang selama ini menjadi tokoh penuh rahasia.

"Tok-tok-tok…!"

Tiga kali Han Siong mengetuk daun pintu yang ternyata terbuat dari papan yang tebal itu. Dia menanti sambil memasang telinga mendengarkan suara yang keluar dari dalam. Akan tetapi tidak ada jawaban.

"Heiii, Sute, apa yang kau lakukan itu?" Tiba-tiba saja terdengar bentakan seorang hwesio muda karena dia terkejut bukan kepalang melihat betapa hwesio kecil itu berani mengetuk daun pintu kamar larangan itu!

"Sssttt, Suheng, baru saja aku diperintah Suhu untuk mengetuk pintu ini dan memanggil penghuninya agar menghadap Suhu!"

Mendengar jawaban ini, hwesio itu nampak terkejut, lalu mengangguk-angguk dan pergi dari situ karena dia tidak berani mencampuri sutenya yang sedang melaksanakan tugas penting itu.

"Tok-tok-tok..!"

"Siapa di luar yang mengetuk pintu?" tiba-tiba terdengar pertanyaan dari dalam, suaranya lembut namun nyaring dan mengejutkan Han Siong walau pun tadinya dia mengharapkan memperoleh jawaban.

"Aku... eh, teecu...diutus oleh Suhu Ceng Hok Hwesio untuk mengundang... Lo-suhu agar suka datang menghadap Lo-suhu..."

Hening sejenak, lalu suara itu bertanya lagi. "Siapa namamu?"

"Teecu... Han Siong...," jawabnya tanpa berani menyebutkan she (nama keluarga) yang oleh kakek buyutnya telah dipesan agar dia tidak memperkenalkan she-nya kepada siapa pun juga.

"Engkau adalah anak yang suka menyapu pekarangan di luar pondok ini?" kembali suara itu terdengar.

Tentu saja Han Siong merasa heran. Orang ini tidak pernah keluar, bagaimana bisa tahu bahwa dia suka menyapu pekarangan di luar rumah itu?

"Benar, Lo-suhu…!"

Daun pintu berderit dan Han Siong cepat melangkah mundur. Ketika daun pintu terbuka, muncullah seorang laki-laki dan Han Siong memandang dengan mata terbelalak, tertegun karena kagum dan heran. Sama sekali tidak seperti yang diduganya.

Tadinya dia membayangkan bahwa hwesio tua yang dihukum itu tentulah seorang hwesio yang sudah tua, pucat dan kurus kering, karena hwesio itu tidak pernah tersentuh sinar matahari, makan pun hanya dari makanan yang diantar khusus oleh hwesio tua di dapur. Namun yang muncul ini ternyata adalah seorang laki-laki bertubuh tegap yang rambutnya panjang awut-awutan, biar pun jubahnya masih jubah hwesio. Agaknya karena lama tidak bercukur, maka rambut telah tumbuh dengan subur di kepalanya yang tadinya gundul.

Mukanya sebagian tertutup kumis dan jenggot, akan tetapi dapat dilihat bahwa muka itu sangat tampan, gagah dan tidak terlalu tua. Sekitar tiga puluh tahun lebih! Sinar matanya mencorong akan tetapi penuh kelembutan dan kegagahan. Walau pun pakaiannya adalah pakaian hwesio yang lusuh, namun tidak menyembunyikan tubuhnya yang tegap.

Anehnya, lengan kiri pria itu buntung sebatas siku sehingga lengan bajunya tergantung lemas dan kosong. Makin iba rasa hati Han Siong melihat bahwa orang yang terhukum ini adalah seorang penderita cacat.

Sejenak keduanya saling pandang dan pria itu tersenyum melihat keheranan membayang di mata anak itu. "Kau... kau... masih muda dan… bukan hwesio...," kata Han Siong agak tergagap.

"Anak baik, pada waktu memasuki kamar ini, aku adalah seorang hwesio." Dia meraba kepalanya yang penuh dengan rambut yang subur, lalu tersenyum. "Sekarang bukan lagi."

Ingin sekali Han Siong bertanya mengapa pria itu dihukum, akan tetapi tentu saja dia tidak berani karena hal itu dianggapnya tidak sopan. Akan tetapi hatinya telah demikian tertarik kepada pria ini, kagum dan juga kasihan.

Teringatlah dia akan hwesio tua gagu yang menjadi tukang sapu itu, yang semalam dia lihat seperti membayangi dua bayangan orang terdahulu. Jangan-jangan hwesio tua gagu itu mempunyai niat buruk, pikirnya. Tentu berniat buruk karena dia sendiri tidak percaya bahwa hwesio itu benar-benar gagu. Dan orang yang pura-pura gagu, tentu mengandung niat tidak baik.

"Lo-suhu... eh, Paman... aku mempunyai berita yang menarik sekali untuk Paman..." Han Siong celingukan ke kanan kiri dan melihat bahwa di sana tidak ada orang lain, dia baru melanjutkan sambil berbisik, "semalam, dengan tidak sengaja aku melihat dua bayangan orang berloncatan masuk dari luar pagar tembok, akan tetapi tidak lama kemudian muncul pula seorang lain yang agaknya membayangi dua orang terdahulu..."

Pria itu mengerutkan alisnya yang tebal. "Hemm... siapakah orang terakhir itu?"

Kembali Han Siong celingukan. "Dia adalah hwesio tua gagu yang menjadi tukang sapu di sini, akan tetapi aku curiga padanya, Paman. Dia baru setahun ditolong karena kedapatan kelaparan, lalu dijadikan tukang sapu di sini, dan dia itu mengaku gagu, akan tetapi sudah beberapa kali aku mendengar dia mengigau dan bicara dalam tidurnya."

"Ehhh...?" Pria itu semakin tertarik. "Anak baik, coba ceritakan bagaimana bentuk wajah dan tubuh orang yang mengaku gagu itu."

"Usianya sekitar lima puluh tahun. Wajahnya panjang meruncing ke depan seperti muka kuda, mulutnya lebar dengan gigi atas menjorok ke depan dan menonjol keluar, sepasang matanya sipit dan dua telinganya lebar. Tubuhnya tinggi kurus dan dua kakinya timpang."

Pria itu kembali mengerutkan kedua alisnya kemudian mengangguk-angguk. "Anak baik, keteranganmu ini penting sekali. Apakah engkau juga diutus untuk memanggil... penghuni di kamar timur?"

Han Siong mengangguk.

"Kalau begitu, kau pergilah ke sana, Han Siong. Selain menyampaikan panggilan ketua, juga kau ceritakan semua yang kau lihat semalam kepadanya. Hal ini amat penting untuk diketahuinya."

Girang rasa hati Han Siong. Pria yang menimbulkan perasaan kagum di dalam hatinya ini percaya kepadanya!

"Baik, Paman!" Dan dia pun berlari menuju ke pondok terpencil di ujung timur itu. Ketika dia mengetuk beberapa kali, dia pun mendengar suara wanita dari dalam.

"Siapa yang mengetuk pintu?" Suara ini begitu halus dan merdu, juga seperti suara pria tadi, mengandung penuh kesabaran sehingga menyenangkan hati Han Siong.

"Teecu Han Siong, diutus oleh Suhu Ceng Hok Hwesio untuk mengundang Locianpwe agar menghadap suhu sekarang juga."

Hening sejenak, kemudian suara halus itu bertanya, "Engkau anak yang biasa menyapu pekarangan depan pondok ini?"

Kembali Han Siong terkejut. Sebelum dia menjawab, daun pintu sudah terbuka dan untuk kedua kalinya dia merasa tertegun. Wanita yang nampak sesudah daun pintu dibuka itu sama sekali jauh dari pada perkiraan yang dibayangkannya. Bukan seorang nikouw tua, melainkan seorang wanita yang amat cantik dan perkasa!

Seperti juga pria tadi, wanita ini usianya sekitar tiga puluhan dan pakaiannya juga seperti pakaian seorang pendeta. Dari keadaannya ini Han Siong bisa menduga bahwa agaknya wanita ini pun dahulunya seorang nikouw yang gundul kepalanya, akan tetapi rambutnya sudah tumbuh dengan subur selama bertahun-tahun dalam tahanan.

Dia merasa kagum bukan main, akan tetapi juga kasihan. Dua orang itu ternyata masih muda, dan mereka tentu lebih muda lagi ketika pertama kali masuk ke kamar hukuman itu. Mengapa? Apa kesalahan mereka?

Seperti yang sudah dipesankan oleh pria di kamar sebelah barat tadi, Han Siong segera menceritakan tentang apa yang dilihatnya semalam. Wanita itu nampak lebih terkejut lagi.

"Hemm... jahanam itu berani memata-matai kami!" Demikian dia menggumam akan tetapi agaknya dia bisa menguasai kemarahannya dan berkata, "Han Siong, sampaikan kepada ketua kuil bahwa sebentar lagi aku datang menghadap."

"Baik... Bibi!" kata Han Siong.

Wanita itu tersenyum manis sekali, mendengar betapa kini anak itu sudah cepat merubah sebutan sesudah melihatnya. Tadi menyebut Locianpwe, sebutan menghormat dari kaum muda kepada kaum tua yang dianggap gagah perkasa dan mempunyai kepandaian tinggi, akan tetapi kini menyebut Bibi saja. Dan agaknya dia lebih senang dengan sebutan ini.

Han Siong lalu berlari ke ruangan depan di mana Ceng Hok Hwesio masih duduk bersila. Dia segera menjatuhkan diri berlutut di depan kakek hwesio itu, lalu berkata, "Suhu, teecu sudah menyampaikan undangan Suhu kepada kedua orang Paman dan Bibi yang berada di dalam Kamar Renungan Dosa itu."

"Bagus, sekarang kau boleh pergi dan melanjutkan pekerjaanmu lagi," kata ketua kuil itu sambil memandang keluar.

Han Siong bangkit berdiri lantas keluar dari ruangan itu. Dia melihat apa yang dipandang oleh gurunya, yaitu pria dan wanita yang ditemuinya tadi. Mereka berdua sedang berjalan perlahan, berdampingan, dengan sikap dan wajah tenang sekali.

Han Siong mengambil sapunya lagi dan menyapu lantai, melanjutkan pekerjaannya tadi. Ketika pria dan wanita itu lewat di depannya, mereka berhenti melangkah dan tersenyum kepadanya. Han Siong membalas senyum mereka dan melanjutkan pekerjaannya ketika mereka kembali berjalan meninggalkannya untuk memasuki ruangan depan di mana Ceng Hok Hwesio sudah menanti…..

********************

Han Siong...!"

Suara ini demikian dekat terdengar olehnya, seperti diserukan orang di dekat telinganya saja, mengejutkan Han Siong yang sore hari itu duduk mengaso di bawah pohon di kebun sesudah selesai bekerja. Dia menoleh ke kanan kiri akan tetapi tidak melihat seorang pun manusia.

"Han Siong ke sinilah engkau…!" kembali terdengar suara itu.

Dan Han Siong segera mengenal suara lembut itu. Suara pria yang berada dalam kamar tahanan di pondok sebelah barat! Maka dia lalu bergegas bangkit dan melangkah cepat menuju ke Kamar Renungan Dosa sebelah barat. Dia menghampiri pintu namun tiba-tiba terdengar suara yang jelas sekali, keluar dari kamar itu.

"Han Siong, kau pergilah menghadap gurumu dan katakan kepadanya bahwa hwesio gagu tukang sapu itu adalah seorang tokoh sesat bernama Lam-hai Giam-lo, murid mendiang Lam-kwi-ong seorang di antara Empat Setan. Kedatangannya ke sini dengan menyamar sebagai seorang hwesio gagu tentu mengandung maksud yang tidak baik!"

Han Siong merasa terkejut sekali. Sudah diduganya bahwa kakek gagu itu tentu seorang yang mempunyai niat jahat. Akan tetapi tak disangkanya bahwa kakek itu adalah seorang yang memiliki julukan demikian mengerikan. Lam-hai Giam-lo (Malaikat Pencabut Nyawa Laut Selatan)!

"Baik..., baik, Paman...!" katanya dan dia pun berlari-lari mencari suhu-nya.

Pada saat itu Ceng Hok Hwesio sedang duduk di dalam ruangan semedhi, akan tetapi dia tidak sedang bersemedhi karena sudah selesai membaca kitab suci. Melihat munculnya Han Siong di ambang pintu, dia kemudian menggapai. Han Siong memasuki ruangan dan menjatuhkan diri berlutut.

"Harap Suhu sudi memaafkan kalau teecu datang mengganggu."

Ketua kuil itu tersenyum. Dia seorang yang berwatak keras dan memegang teguh disiplin dan peraturan kuil, akan tetapi setiap kali habis berliam-keng dan bersemedhi, kekerasan itu seperti luntur dan dia menjadi lebih ramah.

"Tidak mengapa Han Siong. Pinceng sudah selesai bersemedhi. Ada keperluan apakah maka engkau agaknya mencari pinceng?"

"Benar, Suhu. Tadi... paman yang berada di dalam Kamar Renungan Dosa sebelah barat memanggil teecu dan minta agar teecu menyampaikan pesanan penting kepada Suhu."

Hwesio tua itu mengerutkan alisnya dan sekarang mulailah kelihatan kekerasan hatinya. Agaknya dia tidak suka mendengar ini. "Han Siong, engkau tentu sudah tahu apa artinya Kamar Renungan Dosa itu. Orang yang dihukum di dalam kamar itu harus merenungkan dosa-dosa yang telah diperbuatnya."

Ingin Han Siong bertanya dosa apa gerangan yang sudah dilakukan oleh pria dan wanita itu. Akan tetapi dia tahu akan kegalakan suhu-nya, maka dia menahan keinginannya dan mengangguk.

"Teecu mengerti, Suhu."

"Nah, oleh karena itu engkau jangan terlampau berdekatan dengan mereka yang sedang menjalani hukuman di dalam Kamar Renungan Dosa, karena dosa itu sifatnya menular seperti sebuah penyakit, muridku."

"Baik, Suhu."

"Nah, sekarang pesan penting apakah yang harus kau sampaikan kepada pinceng?"

"Begini, Suhu..." Han Siong memandang ke kanan kiri, takut kalau-kalau kakek tukang sapu itu berada di dekat situ. Mendengar bahwa kakek itu adalah seorang penjahat besar, seorang tokoh sesat, dia telah merasa ngeri. "Tadi paman di sana itu mengatakan bahwa hwesio tua tukang sapu yang gagu itu sebenarnya adalah seorang tokoh sesat yang amat jahat berjuluk Lam-hai Giam-lo, murid dari mendiang Lam-kwi-ong salah seorang di antara Empat Setan."

"Plakk!" Ketua kuil Slauw-lim-si itu menepuk pahanya sendiri dengan tidak sabar. "Jangan bicara sembarangan!"

"Teecu hanya menyampaikan pesan paman itu..."

"Dia bohong! Mana pinceng bisa percaya pada omongan seorang yang berdosa? Sudah setengah tahun dia di sini dan dia benar-benar seorang tua yang patut dikasihani, kenapa difitnah demikian kejam?"

"Akan tetapi, Suhu, teecu percaya akan keterangan Paman di Kamar Perenungan Dosa itu."

Ceng Hok Hwesio membelalakkan kedua matanya yang lebar, menatap Han Siong lantas alisnya berkerut. "Han Siong, bagaimana engkau bisa mempercayai keterangan seorang yang berdosa? Engkau ikut berdosa kalau menjatuhkan fitnah kepada orang lain!"

"Teecu tidak mengucapkan fitnah, Suhu, akan tetapi keadaan kakek itu memang sangat mencurigakan. Beberapa kali di waktu malam teecu lewat di depan kamarnya, dan teecu mendengar dia ngelindur dan mengigau. Suhu, seorang gagu mana dapat bicara walau pun hanya dalam ngelindur?"

Ceng Hok Hwesio nampak terkejut. "Benarkah apa yang kau katakan itu?"

"Demi nama Sang Buddha, teecu tidak berbohong, Suhu."

"Omitohud, jangan kau bawa-bawa nama Sang Buddha dalam hal ini. Akan tetapi pinceng masih belum yakin benar." Dia lalu bertepuk tangan beberapa kali, kemudian muncullah lima orang hwesio yang menjadi murid-murid kepala di dalam kuil itu. Mereka datang dan memandang kepada guru mereka dan Han Siong dengan heran.

"Panggil hwesio tua yang tuli gagu itu ke sini!" perintah Ceng Hok Hwesio. "Dan kalian berlima tetap berdiam di sini pula menjadi saksi."

Salah seorang dia antara lima murid itu lalu pergi memanggil tukang sapu tua yang gagu tuli itu, sedangkan empat orang murid lainnya duduk bersila. Tak lama kemudian, seorang kakek hwesio yang wajahnya sangat menyeramkan, mirip seekor kuda, dengan mata sipit dan telinga lebar, masuk bersama hwesio murid kepala tadi dengan langkah terpincang-pincang.

Memang jelas hwesio tua ini tidak kelihatan sebagai seorang jahat, apa lagi yang memiliki kepandaian tinggi. Dia lebih pantas menjadi seorang hwesio cacat yang lemah dan patut dikasihani.

Hwesio tua itu cepat memberi hormat dan duduk bersila pula, memandang kepada ketua kuil dengan sikap bodoh. Lima orang murid kepala pun memandang guru mereka, karena mereka belum tahu apa maksud guru mereka memanggil mereka dan memanggil hwesio gagu itu pula.

"Pinceng mendengar bahwa Aekau Hwesio (Gagu) ini dapat berbicara, karena itu pinceng ingin menguji apakah berita itu benar ataukah tidak," kata Ceng Hok Hwesio.

Mendengar ucapan ini, lima orang murid itu menjadi terkejut dan memandang kepada Si Gagu yang kelihatan tenang-tenang saja karena agaknya dia tidak mendengar dan tidak mengerti apa yang dibicarakan. Akan tetapi dalam hatinya, Han Siong merasa menyesal. Dia menganggap bahwa keterus terangan suhu-nya itu merupakan kebodohan.

Apa bila persangkaannya benar bahwa Si Gagu ini tidak gagu dan benar pula keterangan orang hukuman itu bahwa kakek yang pura-pura gagu ini seorang tokoh sesat yang lihai, bukankah ucapan suhu-nya itu sama saja dengan membuka rahasia sehingga kakek gagu tuli itu dapat menjadi berhati-hati dan dapat menjaga diri sebelumnya?

Ceng Hok Hwesio lalu menggapai dan memberi isyarat agar Si Gagu mendekat. Si Gagu menggeser duduknya, menghadap semakin dekat dengan pandangan mata bodoh. Ceng Hok Hwesio lalu menggunakan bahasa isyarat dengan tangan, bertanya apakah Si Gagu dapat bicara.

Hwesio tua yang gagu tuli ini menggeleng kepala keras-keras, mengeluarkan suara ah-ah uh-uh, memberi isyarat dengan tangan bahwa. mulutnya tidak dapat bicara dan telinganya tidak dapat mendengar. Sampai beberapa kali Ceng Hok Hwesio mendesaknya, dibantu oleh lima orang muridnya, akan tetapi tukang sapu gagu itu tetap menggelengkan kepala keras-keras, menyangkal bahwa dia dapat bicara atau mendengar.

"Omitohud...semoga Sang Buddha memaafkan pinceng jika dia ini memang benar-benar gagu dan tuli. Memang sukar membuktikan bahwa dia ini benar-benar gagu atau tidak, namun pinceng punya akal untuk membuktikan apakah dia benar-benar tuli ataukah tidak. Kalian berlima harus menutup telinga dengan rapat dan mengerahkan sinkang melindungi pendengaran kalian. Dan engkau, Han Siong, keluarlah dan pergi agak jauh dari ruangan ini, dan bila masih ada suara getaran menyerangmu, cepat tutup kedua telingamu dengan tangan. Beri tahu kepada para suheng-mu agar melakukan hal yang sama."

Lima orang murid kepala itu mengerti apa yang hendak dilakukan oleh Ceng Hok Hwesio, maka mereka pun cepat-cepat menggunakan kedua telapak tangan menutupi telinga, dan mengerahkan tenaga sinkang mereka. Sementara itu, Han Siong juga sudah pergi keluar dari ruangan itu.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner