PENDEKAR MATA KERANJANG : JILID-11


Tubuhnya agak kurus, pakaiannya penuh dengan tambal-tambalan berkembang-kembang akan tetapi bersih, sepatunya butut berlubang, rambut, kumis dan jenggotnya yang sudah banyak putihnya itu kusut akan tetapi juga bersih, sepasang matanya bersinar tajam dan bergerak-gerak cepat membayangkan kecerdikan. Di pinggang kirinya terselip sebatang suling yang panjangnya tiga kaki.

"Ha-ha-ha-ha, sungguh lucu sekali. Justru karena yang bercakap-cakap adalah tiga orang pendeta Lama tingkat tertinggi, maka terdengar amat lucu sekali. Ha-ha-ha!"

Mendengar ucapan ini dan melihat sikap kakek jembel itu, Bai Long Lama menjadi marah atau setidak-tidaknya hatinya merasa tidak senang karena dia merasa dipermainkan dan ditertawakan. Dia pun mengenal siapa adanya kakek jembel itu, salah seorang di antara Delapan Dewa, rekan dari sute-nya, See-thian Lama.

"Siancai... Ciu-sian Sin-kai majikan Pulau Hui, sungguh tidak memandang sebelah mata kepada orang-orang Tibet. Sin-kai, kami yang tadi bercakap-cakap, kalau kau anggap lucu menggelikan, apanya yang lucu?" Meski pun suaranya masih lunak, namun mengandung kekerasan dan tantangan.

"Ha-ha-ha-ha!" kembali kakek pengemis itu tertawa dan seperti bicara kepada diri sendiri dia berkata, "Sama-sama menggerakkan mulut dan mengeluarkan suara, jauh lebih sehat tertawa dari pada menangis, jauh lebih baik bergembira dari pada berduka! Para Lama yang mulia, sebelum aku menjawab, aku ingin bertanya lebih dulu. Apakah ucapan Dalai Lama yang terkenal angker dan mengandung kebenaran, pernah salah? Apakah ramalan yang keluar dari kamar suci Dalai Lama di Tibet, pernah bohong dan tidak cocok dengan kenyataan?"

"Tentu saja belum pernah!" kata Bai Long Lama dengan marah.

"Heh-heh-heh-heh, pinceng juga senang ketawa seperti engkau, jembel tua. Akan tetapi pinceng tidak berani main-main dengan kesucian Dalai Lama. Tentu saja segala ucapan yang keluar dari kamar suci, yang diramalkan dari sana, semuanya pasti benar dan sama sekali tidak pernah bohong!" Sambung Bai Hang Lama yang bertubuh gendut.

"Nah, nah, itulah yang lucu!" Kakek jembel itu kembali tertawa. "Aku mendengar sendiri berita itu di dunia kang-ouw bahwa calon Dalai Lama yang akan datang adalah seorang anak laki-laki yang terlahir dengan tanda warna merah pada kulit punggungnya! Dan anak bernama Hay Hay ini kulit punggungnya putih bersih, sedikit pun tak ada merahnya. Akan tetapi tetap saja kalian tidak percaya! Bukankah ini lucu sekali? Dua orang Lama tingkat tinggi tidak mempercayai ramalan dari kamar suci Dalai Lama. Aneh dan lucu!"

Wajah kedua orang pendeta Lama itu menjadi agak merah. "Bukan tidak percaya, engkau salah sangka, Sin-kai. Sudah pasti di punggung calon itu ada tanda merahnya. Yang kami kurang percaya adalah, Sin-tong ini memang tidak mempunyai tanda itu, tetapi siapa tahu tanda itu hilang atau bahkan sengaja dihilangkan. Karena itu kami akan membawanya ke Tibet agar para pimpinan mengadakan pemeriksaan dan menentukan benar tidaknya dia Sin-tong yang kami cari!"

"Ha-ha-ha, itu lebih lucu lagi namanya! Siapa tidak mengenal See-thian Lama seorang di antara Delapan Dewa? Pernahkah ada tokoh Delapan Dewa berbohong? Dan siapa pula yang tidak mengenal Ciu-sian Sin-kai? Meski pengemis, aku selamanya tidak pernah mau berbohong. Kami berdua yang menemukan anak ini, kami berdua yang memeriksa lantas mendapat kenyataan bahwa anak ini sama sekali bukan Sin-tong seperti yang dikabarkan orang. Kalau dia memang Sin-tong, untuk apa kami mengambilnya sebagai murid? Tentu telah kami kembalikan ke Tibet. Hemm, aku menjadi curiga. Pernah aku mendengar kabar angin bahwa karena semenjak kecil tidak boleh berdekatan dengan wanita, banyak kaum pendeta yang memelihara remaja-remaja pria! Benarkah hal itu? Jangan-jangan murid kita akan dijadikan peliharaan semacam itu, See-thian Lama!"

Ucapan terakhir ini betul-betul menyentuh kelemahan dua orang pendeta Lama itu. Muka mereka lantas menjadi merah. Harus diakui bahwa mereka berdua bukan termasuk para pendeta yang suka menyembunyikan anak laki-laki yang menjadi kekasih mereka dengan berkedok sebagai kacung, akan tetapi mereka melihat kenyataan yang amat memalukan seperti itu.

"Sudahlah, mungkin pinceng yang keliru. Kalau engkau juga menjadi saksi bahwa anak ini sejak awal memang tidak memiliki tanda merah di punggung, berarti dia bukan Sin-tong, kami percaya. Biarlah kami akan kembali ke Tibet untuk melaporkan hal ini kepada para pimpinan dan terserah kebijaksanaan mereka nanti. Sute, selamat tinggal," kata pendeta Lama yang kecil pendek itu.

"Suheng, selamat tinggal. Mari, Sin-kai!" kata pula pendeta ke dua, Bai Hang Lama yang gendut dan suka tertawa.

"Selamat jalan, Suheng dan Sute," balas See-thian Lama.

"Terima kasih, kalian ternyata Lama-Lama yang mau mengerti dan bijaksana, ha-ha-ha!" Ciu-sian Sin-kai juga berkata.

Dua orang pendeta Lama itu lalu pergi dan cara mereka pergi juga mengejutkan hati dan mengagumkan hati Hay Hay karena begitu berkelebatan mereka telah nampak jauh sekali sehingga sebentar saja mereka hanya nampak sebagai titik-titik hitam yang cepat sekali menghilang.

Setelah mereka pergi, Ciu-sian Sin-kai lalu memandang kepada Hay Hay dan tersenyum simpul. "Wah, engkau sudah besar sekarang, Hay Hay. Nah, cepat kau serang aku untuk dapat kulihat sampai di mana kemampuanmu sesudah lima tahun digembleng oleh Lama pemakan rumput ini!"

Ciu-sian Sin-kai memang selalu mengejek kaum pendeta yang tidak suka makan barang berjiwa sebagai ‘pemakan rumput’. Bukannya mengejek untuk mencemooh atau mencela, bahkan dia merasa kagum sekali dan membenarkan mereka karena pernah dikatakannya bahwa pemakan rumput adalah makhluk-makhluk yang paling besar dan kuat di dunia ini. Lihat saja, katanya, binatang-binatang pemakan rumput adalah yang terkuat, di antaranya gajah, onta, kuda, sapi, kerbau dan lain-lainnya. Sedangkan binatang pemakan bangkai hanya menjadi ganas saja, seperti harimau, serigala dan sebagainya.

Tentu saja Hay Hay meragu ketika disuruh menyerang kakek berpakaian pengemis itu. Dia memang masih ingat pada Ciu-sian Sin-kai, akan tetapi karena sudah lima tahun tidak jumpa, tentu saja dia merasa sungkan kalau datang-datang disuruh menyerangnya! Akan tetapi See-thian Lama tertawa dan berkedip kepadanya.

"Hay Hay, gurumu Ciu-sian Sin-kai sudah mulai hendak memberikan petunjuk, mengapa engkau malu dan sungkan? Seranglah dan habiskan kepandaianmu!"

Mendengar perintah ini, baru Hay Hay teringat bahwa watak kakek pengemis tua itu tidak kalah anehnya dibandingkan dengan See-thian Lama, maka dia pun segera melompat ke depan kakek itu. Sejenak mereka saling pandang dan Sin-kai girang melihat remaja yang wajahnya cerah dan sepasang matanya yang mengandung kecerdikan itu.

Sebaliknya, Hay Hay juga senang melihat wajah kakek jembel itu yang membayangkan gairah dan kebahagiaan hidup, selalu gembira. Bertolak belakang dengan sikap See-thian Lama yang selalu lembut dan tenang bagai air danau yang dalam, sebaliknya sikap kakek jembel ini bagai anak sungai yang airnya selalu berdendang dan gemericik terus menerus, mengalir cepat di antara batu-batu sungai. Mendadak timbul niatnya untuk menguji, siapa yang lebih unggul di antara kedua orang kakek itu dan dia sudah memperoleh cara untuk melakukannya.

"Suhu Ciu-sian Sin-kai, teecu mulai menyerang. Awas!" bentaknya.

Dan dia pun segera menerjang dengan pukulan keras sambil memainkan langkah-langkah ajaibnya, yaitu Jiauw-pouw Poan-soan dan menggunakan ginkang Yan-cu Coan-in yang membuat tubuhnya ringan dan gerakannya cepat bukan main.

Kakek jembel itu terkekeh sesudah melihat betapa anak itu bergerak luar biasa cepatnya. Pukulan ke arah perutnya itu cepat dielakkan kemudian dari samping dia mengulur tangan hendak menangkap pundak Hay Hay. Akan tetapi ternyata tangkapannya mengenai angin kosong belaka karena pada waktu yang tepat, pundak itu lenyap ketika Hay Hay kembali menyerang, sekali ini menotok ke arah punggung.

"Ehhh...?" Ciu-sian Sin-kai berseru kagum, cepat meloncat ke depan lantas membalikkan tubuhnya.

Tanpa ragu-ragu lagi dia pun melayangkan kakinya menendang ke arah kedua lutut Hay Hay. Gerakan kaki kiri kakek ini hebat sekali karena sekali bergerak, ujung kaki kirinya sudah membuat gerakan menendang dua kali mengarah kedua lutut. Cepat sekali. Akan tetapi dengan langkah ajaibnya kembali Hay Hay bisa menghindarkan kedua lututnya dari serangan kakek itu.

"Bagus! Engkau sudah menguasai Jiauw-pouw Poan-soan dengan baik!" Sin-kai memuji.

Dia terus menghujani anak itu dengan tamparan-tamparan dan tendangan-tendangan dari segala arah. Namun, dalam hal mempergunakan langkah-langkah ajaib, memang anak ini telah digembleng oleh See-thian Lama sehingga sangat menguasainya. Dengan langkah-langkahnya itu dia bahkan sanggup menghindarkan diri dari sergapan tiga orang pendeta Lama.

"Suhu, coba hendak teecu lihat bagaimana Suhu akan mampu merobohkan teecu kalau teecu menggunakan Jiauw-pouw Poan-soan dan Yan-cu Coan-in!" tiba-tiba saja Hay Hay berseru gembira.

Hampir saja See-thian Lama menegur muridnya karena ucapan itu dianggapnya takabur sekali. Juga Cui-sian Sin-kai mengerutkan alisnya.

"Kau kira aku tak mampu?" sambil berkata demikian tiba-tiba saja kakek itu merendahkan tubuhnya dan kedua kakinya secara bergantian membuat gerakan menyapu dari kanan dan kiri.

Dibabat dari kanan kiri seperti itu, langkah-langkah kaki Hay Hay menjadi agak kacau dan ketika anak itu mengerahkan ilmu ginkang Yan-cu Coan-in untuk berloncatan menghindar, tahu-tahu ujung kaki Sin-kai sudah mencium belakang lutut kirinya sehingga tanpa dapat dicegah lagi tubuh Hay Hay terjatuh berlutut!

Memang Hay Hay sengaja memancing agar dirobohkan kakek jembel itu. Begitu roboh, dia segera menghadap See-thian Lama.. "Harap suhu ampunkan teecu bila teecu kurang pandai memainkan ilmu Suhu, ataukah… memang ilmu Suhu Ciu-sian Sin-kai yang lebih lihai maka teecu mudah saja dijatuhkan?"

"Husshhh...! Hay Hay, jangan bicara begitu!" Ciu-sian Sin-kai berseru kaget. Akan tetapi terlambat. Api yang disulutkan oleh Hay Hay itu sudah membakar dan menyentuh harga diri See-thian Lama.

"Hay Hay, engkau tadi roboh karena salahmu sendiri. Kalau engkau sudah mahir benar, menghadapi segala macam serampangan seperti tadi tentu engkau berbalik akan berada di pihak pemenang, dan tidak mungkin dapat dirobohkan."

Hay Hay merasa mendapat jalan dengan kata-kata itu. Dia lalu berkata kepada Ciu-sian Sin-kai, "Suhu, teecu ingin sekali mempelajari ilmu membabat dengan dua kaki tadi, yang telah dapat merobohkan teecu dan membuat langkah ajaib teecu tidak berdaya."

Ciu-sian Sin-kai tertawa. "Ha-ha, boleh saja, muridku. Ilmu itu hanya sebagian kecil saja dari apa yang akan kuajarkan kepadamu. Nah, perhatikan baik-baik. Jurus ini adalah jurus Kaki Gunting dari Ilmu Tendangan Soan-hong-twi (Tendangan Berantai). Lihat bagaimana engkau menggerakkan tubuh dan kedua kakimu." Kakek itu memberi petunjuk dan karena Hay Hay memang berbakat dan pula sudah menguasai dasar-dasar ilmu silat tinggi, maka dilatih sebentar saja dia sudah mampu memainkan tendangan jurus Kaki Gunting itu.

"Nah, Suhu, marilah kita berlatih. Suhu menggunakan Jiauw-pouw Poan-soan sedangkan teecu akan mencoba jurus Kaki Gunting ini!" kata Hay Hay dengan gembira sekali sambil menghampiri See-thian Lama.

Kakek ini tersenyum dengan pandang mata mengejek. "Hemm, jurus kaki gunting tumpul seperti itu saja, apa artinya? Nah, kau boleh menyerangku!"

Karena memang ini yang dikehendaki Hay Hay, dia lalu memainkan jurus tendangannya itu dengan sungguh-sungguh sambil mengerahkan tenaga. Dia menerjang ke depan, agak merendahkan tubuhnya lalu dua kakinya membuat gerakan menyapu seperti menggunting dari kanan kiri dengan cepat, kadang-kadang bergantian, kadang kala berbareng sambil menahan tubuh menggunakan kedua tangan.

Akan tetapi sambil tersenyum-senyum See-thian Lama menggerakkan sepasang kakinya melakukan langkah-langkah mundur, dan kedua tangannya bergerak melakukan totokan-totokan atau tamparan-tamparan ke arah kepala Hay Hay. Karena kedua kaki pendeta itu selalu melangkah mundur, tentu saja sabetan kedua kaki dari kanan kiri itu tidak pernah mengenai sasaran, sebaliknya serangan ke arah bagian atas tubuh itu membuat Hay Hay menjadi amat kerepotan.

Hay Hay mencoba menangkis, akan tetapi sukar untuk mengelak karena kedua kakinya digunakan untuk melakukan tendangan bertubi-tubi sehingga akhirnya pundaknya terkena totokan. Walau pun See-thian Lama tidak menggunakan tenaga besar, namun tetap saja Hay Hay terduduk lemas untuk beberapa detik lamanya.

"Selama ini suhu tidak pernah mengajarkan jurus itu kepada teecu!" kata Hay Hay kepada See-thian Lama setelah dia dapat bangkit berdiri.

"Itulah Jurus Burung Mematuk Ular untuk menghadapi Kaki Gunting tadi."

"Harap Suhu suka mengajarkan kepada teecu."

See-thian Lama yang sedikit banyak merasa bangga karena secara tidak langsung sudah dapat membalas Ciu-sian Sin-kai, mengalahkan jurus Kaki Gunting itu, tentu saja dengan senang hati mengajarkan jurus Burung Mematuk Ular kepada muridnya. Hanya sebentar saja Hay Hay sudah dapat memainkan jurus itu dengan baik, menggunakan Jiauw-pouw Poan-soan melangkah mundur sambil dua tangannya mematuk-matuk ke depan dari atas ke bawah. Setelah dia menguasai jurus itu, dia pun menghadap Ciu-sian Sin-kai.

"Suhu, sekarang teecu sudah dapat mengalahkan jurus Kaki Gunting."

"Ha-ha-ha, akan tetapi jurus Burung Mematuk Ular itu pun mudah pula dipunahkan," kata Ciu-sian Sin-kai.

Kakek ini lantas mengajarkan jurus baru untuk mengatasi dan mengalahkan jurus Burung Mematuk Ular itu. Sesudah menguasai jurus itu, Hay Hay lalu diberi pelajaran jurus baru dari See-thian Lama untuk mengalahkan jurus dari Cui-sian Sin-kai. Demikianlah, dengan cerdiknya, Hay Hay berhasil ‘mengadu’ kedua orang gurunya itu.

Dua orang kakek sakti itu ‘saling menyerang dan saling mengalahkan jurus lawan’ secara tidak langsung, melainkan melalui murid mereka. Dan karena ingin saling mengalahkan, tentu saja makin lama mereka mengeluarkan jurus-jurus yang semakin tinggi dan pilihan! Maka semakin sukarlah bagi Hay Hay untuk mempelajari setiap jurus baru yang semakin rumit. Karena itu adu ilmu secara tak langsung ini telah berlangsung lebih dari tiga bulan!

Nampaknya saja keduanya melatih Hay Hay dengan jurus-jurus ampuh dan pilihan, akan tetapi sesungguhnya, keduanya saling tidak mau mengalah untuk menonjolkan kehebatan ilmu masing-masing. Tentu saja yang untung adalah Hay Hay. Walau pun tentu saja dia tidak atau belum bisa menguasai semua jurus itu secara sempurna karena kurang latihan, akan tetapi setidaknya dia telah mengenal dan menguasai teorinya sehingga kelak tinggal mematangkan saja dengan latihan.

Lambat laun kedua kakek itu pun maklum bahwa mereka berdua sudah diadu oleh murid mereka. Secara diam-diam mereka merasa geli akan kebodohan diri sendiri dan kagum akan kecerdikan murid mereka, akan tetapi mereka juga maklum betapa pentingnya cara mengajarkan ilmu seperti itu kepada Hay Hay. Mereka melanjutkan ‘adu ilmu’ ini sampai seratus hari lamanya.

"Omitohud, sudah cukuplah, Hay Hay. Hari ini pinceng merasa kalah dan harus mengaku kelebihan Ciu-sian Sin-kai. Engkau ikutlah dengan dia dan belajarlah secara rajin selama lima tahun," kata See-thian Lama setelah Hay Hay memperlihatkan jurus baru dari kakek pengemis itu.

"Ha-ha-ha, See-thian Lama terlampau merendah. Ketahuilah, Hay Hay. Bagi orang-orang yang sudah betul-betul menguasai ilmu silat, tidak ada jurus yang tak akan dapat dihadapi sebagaimana mestinya. Akan tetapi, seperti juga tidak ada benda yang paling besar atau tempat yang paling tinggi di alam ini, tidak ada pula orang yang tidak dapat terkalahkan. Sepandai-pandainya orang, tetap takkan mampu menandingi serangan usia sendiri yang menggerogoti dari dalam. Karena itu, belajarlah yang giat dan lenyapkan sikap takabur. Selama masih hidup, engkau juga masih sempat mempelajari hal-hal yang baru."

Hay Hay berlutut di depan kedua orang gurunya itu sambil menghaturkan ucapan terima kasihnya. Dan pada hari itu juga, Hay Hay pergi meninggalkan See-thian Lama, mengikuti gurunya yang baru, Ciu-sian Sin-kai yang membawanya pulang ke Pulau Hiu…..

********************

Kita tinggalkan dulu Hay Hay yang mulai berguru kepada Ciu-sian Sin-kai dan mengikuti gurunya itu pergi ke Pulau Hiu, dan kini marilah kita mengikuti keadaan Lam-hai Giam-lo, kakek muka kuda yang penuh rahasia itu.

Mengapa kakek yang memiliki kepandaian sangat tinggi itu sampai rela merendahkan diri, menjadi tukang kebun dan bahkan pura-pura gagu tuli di kuil Siauw-lim-si yang sunyi itu? Dia menyamar sebagai seorang hwesio tuli gagu, seolah-olah dia ingin menyembunyikan diri karena ketakutan.

Memang kakek iblis muka kuda ini tengah dilanda ketakutan! Ada dua orang musuh besar yang selalu mengejarnya dan walau pun dia amat lihai, akan tetapi dalam beberapa kali perkelahian melawan mereka, dia selalu kalah dan bahkan nyaris tewas.

Akhirnya, karena terus dikejar-kejar, dalam keadaan terluka dalam dia melarikan diri dan menggunduli rambut, menyamar sebagai hwesio dan dengan bermain sandiwara sebagai seorang hwesio terlantar kelaparan, dia kemudian ditolong oleh para hwesio kuil itu dan diterima bekerja sebagai tukang sapu.

Siapakah dua orang yang ditakuti seorang seperti Lam-hai Giam-lo ini dan mengapa dia bermusuhan dengan mereka? Awal mula permusuhan itu terjadi sepuluh tahun yang lalu. Ketika itu Lam-hai Giam-lo yang baru saja kehilangan gurunya, yaitu Lam-kwi-ong, salah seorang di antara Empat Setan Dunia.

Dia seolah-olah menggantikan kedudukan mendiang gurunya, kemudian dia merajalela di dunia persilatan, di bagian selatan hingga jauh ke barat. Karena sejak muda dia memang berkeliaran di pantai selatan sehingga memperoleh julukan Lam-hai Giam-lo (Raja Akhirat Laut Selatan), maka namanya sangat ditakuti di daerah selatan. Ketika itu usianya baru sekitar empat puluh tahun.

Salah satu di antara kejahatan yang biasa dia lakukan adalah menculik dan memperkosa wanita yang menarik hatinya. Demikianlah, pada suatu hari dia melarikan seorang gadis cantik dari kota Swat-ouw, yang dilarikannya menuju ke pantai yang amat curam karena pantai ini merupakan bagian pegunungan tepi laut selatan.

Gadis itu baru berusia tujuh belas tahun dan dia selalu menangis, meronta dan menolak untuk melayani orang yang mukanya mengerikan seperti muka kuda itu. Hal ini membuat Lam-hai Giam-lo marah sekali. Dia ingin gadis ini mau menyerahkan diri dengan suka rela karena dia tidak merasa puas kalau harus memperkosa dengan kekerasan.

Di tempat yang sunyi itu, di tebing jurang yang amat curam itu, dia marah-marah karena kembali gadis itu menolak, bahkan memaki-maki sambil menangis. Dijambaknya rambut gadis itu yang panjang dan terurai lepas dari sanggulnya, dan dibawanya gadis itu ke tepi tebing. Dengan satu tangan, dia menggantung gadis itu pada rambut yang dijambaknya.

"Nah, lihatlah ke bawah! Apakah engkau lebih suka kulempar ke bawah sana? Hayo pilih, engkau memenuhi permintaanku dengan manis atau kulempar ke bawah sana?"

Gadis itu tergantung di udara. Dengan muka pucat dan mata terbelalak dia memandang ke bawah. Jauh di sana nampak air laut dan batu-batu besar, amat jauh di bawah. Air laut yang kalau didekati bergelombang besar namun dari tempat setinggi ini kelihatan tenang dan indah.

Akan tetapi sungguh sangat mengerikan membayangkan dirinya dilepas dan meluncur ke bawah. Batu-batu yang seperti bentuk-bentuk binatang purba itu tentu akan menyambut tubuhnya menjadi hancur lebur, kemudian ombak-ombak laut akan melenyapkan sisa-sisa tubuhnya. Tinggi tebing itu tidak kurang dari seribu kaki!

"Tidak... tidak... lebih baik bunuh saja aku! Lebih baik aku mati dari pada harus memenuhi permintaanmu yang keji!" Gadis itu sudah nekat dan dia memejamkan mata, menanti saat dia dilemparkan ke bawah.

Dapat dibayangkan betapa marahnya rasa hati Lam-hai Giam-lo. Dia amat suka kepada gadis ini, suka dengan kecantikannya, kesegaran tubuhnya, dan keberaniannya. Dia ingin memiliki gadis ini dengan suka rela, tidak memperkosa seperti yang biasa dilakukannya terhadap wanita yang tidak mau melayaninya dengan suka rela. Penolakan yang sangat keras dari gadis itu membuat rasa sukanya lalu berbalik menjadi rasa benci yang besar.

"Baik, jika begitu engkau akan kuperkosa sampai puas, baru akan kulemparkan ke bawah sana!" katanya penuh geram.

Mendengar ancaman ini, yang baginya terasa lebih mengerikan dari pada maut, gadis itu menjerit sekuat tenaga, lantas terkulai pingsan! Agaknya jeritan itu menarik perhatian dua orang yang berada tidak jauh dari tempat itu. Seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih bersama seorang gadis kecil berusia dua belas tahun lalu datang berlari-lari.

Laki-laki itu buntung lengan kirinya, sebatas siku, tubuhnya tinggi besar dan di wajahnya terbayang sikap yang gagah perkasa. Ada pun gadis cilik itu cantik mungil, dengan tubuh yang tangkas terlatih. Ketika laki-laki buntung lengan kirinya itu sampai di situ dan melihat seorang lelaki bermuka kuda sedang menjambak rambut seorang gadis yang tergantung di tepi tebing, dia terkejut bukan main kemudian membentak nyaring.

"Lepaskan gadis itu!"

Melihat munculnya seorang laki-laki yang buntung sebelah lengannya, dan seorang gadis remaja yang cantik manis, Lam-hai Giam-lo menatap tajam ke arah wajah gadis remaja itu. Kejengkelan hatinya segera memuncak melihat ada orang berani membentaknya dan mencampuri urusannya, akan tetapi dia pun tertarik melihat gadis remaja itu.

"Ha-ha-ha! Baik, akan kulepaskan gadis ini tetapi gadis remaja itu menjadi penggantinya, ha-ha-ha-ha!" Dan dia benar-benar melepaskan jambakan rambutnya sehingga tentu saja tubuh gadis yang sudah pingsan itu meluncur ke bawah.

Melihat ini, gadis remaja itu terbelalak dan berlari ke tepi tebing, kemudian menjenguk ke bawah. Mukanya berubah pucat sesudah melihat betapa tingginya tebing itu, sedangkan tubuh yang meluncur ke bawah itu sudah tidak kelihatan lagi. Tentu sudah hancur lebur terbanting pada batu-batu karang di bawah sana!

Laki-laki tinggi besar berlengan buntung sebelah itu marah bukan main. "Keparat, engkau ini iblis jahat, bukan manusia!" Sambil membentak demikian, dia melangkah maju.

Lam-hai Giam-lo kembali tertawa. "Tepat, memang aku bukan manusia, melainkan Raja Akhirat Laut Selatan. Aku tadi memberi korban kepada laut selatan, ha-ha-ha!"

"Lam-hai Giam-lo...?!" Sekarang mata laki-laki berlengan buntung sebelah itu terbelalak dan mukanya berubah.

Tentu saja dia sudah mendengar tentang nama tokoh sesat ini ketika dia mulai memasuki daerah pantai selatan. Tak disangkanya bahwa dia akan menyaksikan iblis itu membunuh seorang wanita secara begitu kejam. Biar pun dia sudah mendengar bahwa iblis itu amat sakti, tetapi melihat kekejamannya dia melupakan hal ini dan mengambil keputusan untuk menentangnya.

"Ha-ha-ha, engkau sudah mendengar namaku? Lekas berlutut dan serahkan gadis remaja itu kepadaku sebagai pengganti korban tadi."

Laki-laki berlengan buntung itu memandang marah. Mukanya yang gagah dan keras itu berubah merah dan dia mengepal tangan kanannya.

"Iblis seperti engkau ini harus dibasmi!" bentaknya dan dia pun langsung menerjang maju dengan marah, menyerang dengan tangan kanannya, menghantam ke arah dada Lam-hai Giam-lo.

Melihat datangnya pukulan yang mengandung angin pukulan keras itu, Lam-hai Giam-lo hanya tersenyum mengejek. Dia tidak berani menerima pukulan yang cukup ampuh itu, melainkan mengelak ke samping lantas kakinya mencuat dalam sebuah tendangan kilat mengarah lambung lawan.

Akan tetapi lelaki buntung lengan kirinya ini dapat meloncat ke samping, menghindarkan tendangan dan kembali tangan kanannya menyambar lagi dengan totokan ke arah lener. Lam-hai Giam-lo menangkis sambil mengerahkan tenaga pada lengan kirinya.

"Dukkk!"

Tangan laki-laki buntung itu terpental, akan tetapi tidak membuat lengan itu patah, bahkan kembali tangan kanan lelaki itu menyerang lagi dengan cengkeraman ke arah ubun-ubun kepala Lam-hai Giam-lo. Iblis ini menyeringai, maklum bahwa bagaimana pun juga, pria buntung sebelah lengannya ini mempunyai sedikit kepandaian. Dan melihat gerakan serta geseran kakinya, dia maklum bahwa lawannya memiliki dasar ilmu silat yang cukup tinggi.

Maka dia pun mengeluarkan kepandaian simpanannya dan dengan gerakan dahsyat dia menubruk ke depan, mengembangkan kedua tangannya dan membentak dengan nyaring sekali. Suara bentakannya melengking dan mengejutkan laki-laki itu yang berusaha untuk menghindar sambil menggerakkan tangan kanan menangkis.

Akan tetapi serangan itu terlampau hebat. Angin pukulan yang keras menyambar hingga lelaki itu terpelanting sampai bergulingan dan sebuah tendangan susulan yang mengenai pinggulnya membuat tubuhnya terjungkal ke dalam jurang, ke bawah tebing yang amat curam tadi!

"Ha-ha-ha-ha, kau susullah gadis keras kepala tadi. Dan kau, anak manis, ke sinilah, mari ikut bersamaku untuk bersenang-senang!" Dia melangkah menghampiri gadis remaja yang masih berada di tepi tebing.

Tadi dara itu masih merasa ngeri melihat betapa tubuh wanita itu tadi dilempar ke bawah. Kini, melihat pria buntung lengan kirinya juga terpelanting ke bawah tebing, dia menahan jeritnya dan memandang dengan mata terbelalak ke bawah tebing. Pada waktu Lam-hai Giam-lo yang mukanya amat menyeramkan itu menghampirinya, gadis cilik itu tak dapat menahan rasa ngerinya maka dengan nekat dia pun meloncat ke bawah tebing menyusul gurunya sambil berteriak memanggil.

"Suhuuuuu...!"

Lam-hai Giam-lo tertegun. Mukanya berubah merah lantas dia mengepal tinju kanannya, mengamang-amangkan tinjunya ke bawah tebing.

"Keparat, kau melahap semuanya!" bentaknya seakan-akan marah terhadap tebing yang telah menelan dua calon korbannya.

Kini dia tidak kebagian apa-apa dan kalau saja di sana terdapat orang lain, tentu akan menjadi korban kemarahannya. Dia menendang sebuah batu besar sehingga batu itu pun menggelinding ke bawah tebing, lantas mendorong roboh sebatang pohon besar dengan sepasang tangannya, menendangi batu-batu kecil seperti orang kesurupan setan. Setelah melampiaskan kemarahannya, Lam-hai Giam-lo lalu berlari dari tempat itu.

Menurut akal sehat, sungguh tidak mungkin sekali kalau orang yang terjungkal ke bawah tebing securam itu, seribu kaki tingginya, akan tetapi selamat. Tubuh tentu akan hancur lebur apa bila menimpa batu-batu karang, dan akan lebih remuk lagi kalau ditangkap dan dihempaskan ombak laut yang besar itu kepada batu dan dinding karang yang runcing, tajam dan keras.

Akan tetapi, kenyataan kadang-kadang lebih aneh dari pada perhitungan akal. Terdapat keajaiban di mana-mana yang oleh kita dinamakan ‘kebetulan’. Lebih lagi urusan nyawa, sungguh di luar perhitungan akal dan kita sama sekali tidak dapat menguasai mati hidup kita sendiri.

Apa bila memang sudah tiba saatnya nyawa harus meninggalkan raga, walau pun kita bersembunyi ke dalam lubang semut pun, tetap saja maut akan datang menjemput, tepat pada saatnya dan dengan cara yang bagaimana aneh pun. Sebaliknya, kalau memang belum saatnya kita mati, meski pun sudah terancam seribu satu bahaya maut, ada saja seribu satu macam ‘kebetulan’ yang akan membuat kita terluput dari pada kematian.

Seorang prajurit yang sejak mudanya menjadi prajurit, hidup di medan perang dan setiap saat terancam bahaya maut, bisa keluar tanpa lecet sedikit pun sampai hari pensiunnya. Akan tetapi begitu dia pulang ke kampung, baru saja dia terkena penyakit dan dalam satu dua hari saja meninggal dunia!

Banyak pula orang yang sudah menderita sakit yang berat, sampai bertahun-tahun tidak juga mati walau pun dia sudah merasa bosan dengan penderitaan penyakitnya dan minta mati. Namun sebaliknya, ada pula orang yang hari ini masih nampak segar bugar dan tertawa-tawa, besok secara tiba-tiba saja meninggal dunia!


Karena itu, biar pun nampaknya ajaib dan luar biasa aneh, kalau mengingat akan hal-hal di atas, maka tidaklah aneh jika laki-laki buntung lengan kirinya tadi, yang terjungkal dari tempat setinggi seribu kaki, tidak menjadi mati karena memang belum waktunya. Hanya perkataan ‘belum waktunya’ itulah yang mampu kita keluarkan karena kita memang tidak dapat menembus rahasia di balik itu semua.

Ketika meluncur turun, laki-laki gagah ini tidak menjadi pingsan, bahkan tidak kehilangan ketenangannya. Dia tahu bahwa tubuhnya tentu akan hancur terbanting pada batu-batu karang bawah sana.

Akan tetapi, tiba-tiba saja tubuhnya tertahan lantas dia merasa punggungnya perih dan ketika dengan cekatan tangan kanannya meraih ke belakang, kiranya secara ‘kebetulan’ sekali tubuhnya tertahan oleh sebuah pohon yang secara ‘kebetulan’ pula tumbuh miring pada dinding tebing curam itu! Agaknya jubahnya yang berkembang karena luncuran tadi, tertangkap dan terkait dahan pohon yang ‘kebetulan’ tidak patah sehingga tubuhnya bisa tertahan.

Pada saat itu pula dia mendengar jeritan muridnya. Cepat dia bergantung dengan kedua kakinya pada dahan pohon yang terbesar, lalu memandang ke atas dan dilihatnya tubuh kecil muridnya melayang turun!

Laki-laki itu memang hebat sekali, memiliki kekuatan batin yang luar biasa sehingga dalam keadaan seperti itu dia masih sadar dan dapat membuat perhitungan dengan tepat. Ketika tubuh gadis remaja itu sudah meluncur di dekatnya, cepat dia menyambar dengan tangan kanannya dan berhasil menangkap lengan anak perempuan itu!

Anak perempuan itu mengaduh. Dia sendiri harus menahan keluhannya karena belakang lutut kedua kakinya yang bergantung terasa nyeri sekali, juga pangkal lengan kanannya terbetot keras. Akan tetapi dia dapat bertahan dan dia girang bahwa anak perempuan itu pun masih dalam keadaan sadar.

"Cepat, Hui Lian, kau tangkap dahan pohon depanmu itu," katanya sambil menarik tubuh anak itu ke atas.

Anak yang bernama Hui Lian itu lalu menangkap dahan pohon, kemudian dia mendekam di situ, tubuhnya agak gemetar dan dia kembali menutup matanya ketika memandang ke bawah. Dia merasa ngeri bukan main!

"Tenangkan hatimu, jangan memandang ke atas atau ke bawah. Bersukurlah bahwa kita masih dalam keadaan selamat."

"Baik, Suhu!" Dalam suara anak itu kini sudah terdengar keriangan, tanda bahwa hatinya sudah tenang dan dia pun berusaha bersikap riang untuk membesarkan hati gurunya.

Laki-laki itu lalu memandang ke bawah dan ke atas, mengukur dengan pandang matanya. Kiranya letak pohon itu berada di tengah-tengah tebing, ke atas masih lima ratus kaki, ke bawah masih lima ratus kaki! Tidak mungkin mendaki tebing itu karena tegak lurus serta permukaannya rata dan licin.

Setelah melihat secara teliti, dia mendapat kenyataan bahwa pohon itu keluar dari sebuah goa. Burung-burung walet beterbangan keluar masuk goa yang garis tengahnya tak lebih dari satu meter itu. Hal ini menandakan bahwa walau pun bagian luarnya hanya bergaris tengah satu meter, akan tetapi goa itu tentu cukup lebar di sebelah dalamnya. Kalau tidak demikian, burung-burung itu tidak akan memilih tempat itu sebagai sarang mereka.

"Hui Lian, engkau berpegang erat-erat pada dahan itu, aku mau menyelidiki keadaan goa itu."

Dengan hanya sebelah tangan dan dua kaki, laki-laki itu lalu merayap melalui dahan dan batang pohon hingga akhirnya berhasil sampai ke mulut goa. Dia menjenguk dan hampir berteriak kegirangan. Benar seperti yang diduga dan diharapkannya. Goa itu amat besar di bagian dalamnya dan memperoleh sinar yang cukup dari ‘pintu’ yang satu meter garis tengahnya itu.

"Hui Lian, mari ikuti aku, merayap ke sini. Hati-hati…!" katanya.

Dengan hati-hati sekali Hui Lian lalu merayap melalui dahan dan batang pohon, mengikuti gurunya dan masuk ke dalam goa itu melalui batang pohon. Ketika mereka tiba di dalam goa kemudian turun, berdiri di lantai goa, keduanya girang bukan main. Barulah laki-laki itu sadar bahwa mereka berdua baru saja lolos dari lubang maut dan dia pun merangkul muridnya.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner