PENDEKAR MATA KERANJANG : JILID-17


"Sing-sing-singgg...!"

Dua sinar kecil menyambar ke arah dua orang kakek itu, mengeluarkan suara berdesing nyaring, terutama sekali jarum-jarum yang dilepas oleh Tong Ci Ki ke arah Tung-hek-kwi, yang lebih kuat dari pada jarum-jarum Ma Kim Li yang menyambar ke arah Pak-kwi-ong.

Akan tetapi dua orang kakek itu sama sekali tak mengelak atau menangkis. Jarum-jarum yang mengenai kulit tubuh mereka rontok semua, kemudian sambil tersenyum mengejek mereka menyapu rontok jarum-jarum yang menancap di pakaian mereka.

Tentu saja dua orang wanita itu terkejut bukan kepalang. Melihat ini, Siangkoan Leng dan Kwee Siong sudah memberi aba-aba dan dua puluh orang pembantu mereka itu langsung menerjang maju, menggerakkan senjata mereka mengeroyok dua orang kakek tua renta itu.

Terdengar Pak-kwi-ong tertawa-tawa lantas kedua orang kakek itu pun bangkit berdiri dan menyambut pengeroyokan itu. Sepak terjang dua orang kakek itu hebat bukan kepalang. Mereka tidak memegang senjata, hanya menggunakan kedua lengan mereka dan kedua kaki mereka, menghadapi keroyokan orang-orang yang bersenjata tajam.

Namun, karena kedua lengan dan kaki mereka itu kebal dan sanggup menangkis senjata-senjata lawan, bahkan bila mana tubuh mereka terkena tusukan maka senjata tajam yang datang bagaikan hujan senjata itu segera mental bahkan ada yang patah, maka terjadilah kepanikan di antara para pengeroyok.

Dua orang kakek itu hanya mengelak kalau dua pasang suami isteri itu yang menyerang, baik dengan senjata mau pun dengan tangan mereka karena dua pasang suami isteri ini merupakan orang-orang yang serangannya amat berbahaya.

Para penduduk dusun yang tidak tahu apa-apa, sekarang ada pula yang ikut mengeroyok. Mereka tidak mengenal orang-orang yang berkelahi, akan tetapi melihat betapa dua orang kakek tua itu tadi selain membunuh dua ekor anjing mereka, juga minum darah anjing dan makan dagingnya secara mentah-mentah, tentu saja mereka lalu condong untuk berpihak kepada dua puluh empat orang yang mengeroyok dua orang kakek itu.

Mereka menganggap bahwa dua orang kakek itu tentu merupakan iblis-iblis jahat, ada pun dua puluh empat orang itu adalah orang-orang gagah yang menentang kejahatan. Maka, tanpa diminta, ada beberapa orang penduduk yang merasa kuat cepat mengambil senjata dan ikut pula mengeroyok!

Melihat betapa semua pengeroyoknya berkelahi secara mati-matian, mengeroyok mereka bagaikan segerombolan anjing-anjing serigala kelaparan, dua orang datuk kaum sesat itu menjadi marah sekali.

Pak-kwi-ong mengeluarkan suara tawa bergelak dan tahu-tahu dia sudah menangkap dua orang pengeroyok dan membanting mereka. Terdengar bunyi keras dan kepala dua orang itu pecah berantakan, darah berhamburan bersama otak mereka.

Juga Tung-hek-kwi mengeluarkan suara menggereng laksana seekor binatang buas dan seperti yang dilakukan Pak-kwi-ong, dia pun berhasil menangkap dua orang pengeroyok dan membanting mereka sehingga tubuh mereka remuk!

Melihat ini, dua pasangan suami isteri itu menjadi marah sekali. Dengan aba-aba mereka memberi semangat, bahkan mereka mempergunakan pedang untuk melakukan serangan dengan gencar, dibantu oleh para teman mereka.

Tetapi dua orang kakek itu memang memiliki kesaktian yang jauh melampaui kepandaian mereka. Mereka berdua mengamuk dan dalam waktu singkat saja, masing-masing sudah menewaskan dua orang anak buah gerombolan dan dua orang penduduk yang ikut-ikutan mengeroyok.

Melihat ini, kembali dua pasangan suami isteri itu mengeluarkan aba-aba untuk memberi semangat. Akan tetapi sia-sia saja, sekarang teman-teman mereka sudah menjadi gentar menghadapi dua orang kakek sakti itu. Apa lagi sesudah Siangkoan Leng terhuyung oleh tendangan Pak-kwi-ong, ada pun tulang lengan kiri Tong Ci Ki patah ketika ditangkis oleh Tung-hek-kwi, mereka semua menjadi semakin panik dan akhirnya, sisa para pengeroyok itu melarikan diri tanpa dapat dicegah lagi!

Mereka meninggalkan paling sedikit mayat enam orang kawan mereka. Yang terluka ikut pula melarikan diri. Terpaksa dua pasang suami isteri itu pun harus melarikan diri apa bila mereka tidak ingin tewas di tangan dua orang raja datuk sesat itu!

Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi mengamuk terus. Karena dua pasang suami isteri beserta teman-teman mereka telah melarikan diri ke dalam gelap, dua orang kakek itu mengamuk kepada orang-orang dusun yang mereka anggap telah membantu musuh-musuh mereka! Celakalah para penghuni dusun yang tidak sempat melarikan diri. Mereka diseret keluar lantas dibanting remuk, tidak peduli laki-laki perempuan atau kanak-kanak.

Juga dua orang kakek itu tidak melewatkan rumah keluarga Cu Pak Sun. Dengan sebuah tendangan mereka menjebol daun pintu dan sambil tertawa-tawa, Pak-kwi-ong memasuki rumah itu, diikuti oleh Tung-hek-kwi. Kedua lengan tangan mereka telah penuh berlepotan darah!

Ketika itu Cu Pak Sun dan isterinya sedang memeluk Bi Lian yang baru berusia kurang lebih sembilan tahun. Suami isteri ini menggigil ketakutan mendengar suara perkelahian di luar itu, mendengar jeritan-jeritan kematian mereka yang menjadi korban.

Akan tetapi Bi Lian tidak terlihat takut, bahkan merasa penasaran sekali. Tadi dia hendak menonton keluar, akan tetapi segera dipeluk dengan erat oleh ayah dan ibunya yang tidak memperkenankan dia keluar. Kini mereka sudah bersembunyi di dalam kamar dan malah dia dipeluk oleh dua orang, dipegangi agar jangan keluar.

"Aku harus melihat keluar...!" kata Bi Lian berkali-kali.

"Jangan... jangan... ada orang-orang jahat seperti iblis sedang mengamuk di luar, mereka membunuhi orang-orang dusun!" Cu Pak Sun berkata dengan suara gemetar dan isterinya menangis dengan menahan suara tangisnya.

"Kalau begitu aku justru harus keluar, membantu orang-orang untuk melawan penjahat-penjahat itu!"

Memang Bi Lian memiliki watak yang keras dan berani, tabah karena gemblengan suhu dan subo-nya. Malam itu kebetulan suhu dan subo-nya tidak datang karena baru kemarin malam mereka datang dan melatihnya ilmu silat sampai hampir pagi.

"Jangan, engkau akan celaka...!" kata Cu Pak Sun.

"Jangan, Bi Lian, aku takut... engkau jangan keluar, di sini saja menemaniku...," Nyonya Cun mengganduli dan merangkul Bi Lian sambil menangis.

Ketika dua orang kakek iblis itu menjebol pintu, tentu saja Cu Pak Sun dan isterinya yang bersembunyi di dalam kamar menjadi semakin ketakutan. Apa lagi ketika dua orang kakek itu laksana iblis sendiri muncul di ambang pintu kamar, seketika isteri Cu Pak Sun jatuh pingsan. Cu Pak Sun sendiri segera berlutut di atas lantai dan minta-minta ampun dengan suara gemetar.

Melihat ini, Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi tertawa. Akan tetapi tiba-tiba Bi Lian meloncat berdiri, menghadapi dua orang kakek itu dengan sinar mata tajam seperti sepasang mata seekor anak harimau.

"Kalian sungguh kakek-kakek yang jahat sekali! Jangan ganggu ayah ibuku dan keluarlah kalian dari sini!" Bi Lian membentak, seperti mengusir dua ekor anjing saja, sedikit pun tak merasa takut dan sepasang matanya yang tajam itu terbelalak penuh kemarahan.

Dua orang datuk sesat itu amat terkejut dan terheran sampai bengong sejenak, kemudian saling pandang dan Pak-kwi-ong tertawa bergelak. Tentu saja mereka terkejut dan heran sekali melihat ada seorang anak perempuan berusia paling banyak sepuluh tahun berani menghardik mereka, padahal banyak laki-laki dewasa lari ketakutan melihat mereka!

"Ha-ha-ha, Setan Hitam, aku mendadak merasa seperti menjadi seekor anjing kecil yang ketakutan, ha-ha-ha-ha!"

"Huh, anak setan!" Tung-hek-kwi menggereng lantas lengan tangannya yang panjang itu meluncur ke depan, ke arah Bi Lian dengan jari-jari tangan terbuka seperti cakar harimau hendak mencengkeram seekor kelinci kecil. "Dagingnya tentu lunak!"

"Wuuuttt...!”

“Ehhhh...?!" Tung-hek-kwi berseru kaget karena terkaman tangannya tadi luput!

Dengan gerakan lincah dan langkah kaki yang amat aneh, Bi Lian mampu menghindarkan diri dari cengkeraman itu dengan cara menyelinap bahkan mendekati Tung-hek-kwi yang menyerangnya, dan dengan cepat sekali tangannya bergerak menghantam ke arah perut Si Iblis Hitam dari Timur itu!

"Bukkk!"

Lambung Tung-hek-kwi kena terpukul dan akibatnya tubuh Bi Lian terlempar ke belakang. Akan tetapi anak ini berjungkir balik dan membuat poksai (salto) yang indah sekali!

"Ha-ha-ha, yang kau sangka kelinci berdaging lunak itu ternyata anak naga!" Pak-kwi-ong berseru kagum dan dia pun sudah mengulur tangan menerkam.

Kembali Bi Lian memperlihatkan keringanan tubuhnya dan langkahnya yang ajaib, karena seperti juga terkaman Tung-hek-kwi, kini cengkeraman tangan Pak-kwi-ong juga luput!

"Ehhh...!" Pak-kwi-ong lupa tertawa saking kaget dan herannya. Dia mengerahkan tenaga sinkang-nya mendorong dan tubuh Bi Lian tentu saja tak kuat bertahan sehingga anak itu pun roboh terguling, disambut tangan Pak-kwi-ong yang menangkap kedua kakinya lantas mengangkat tubuh itu ke atas!

Dengan kedua kaki tergantung, kepala di bawah, Bi Lian tidak menjerit ketakutan, bahkan dia mengamuk dan berusaha untuk memukul dengan kedua tangannya, terus menggeliat-geliat berusaha membebaskan diri sambil memaki-maki.

"Kakek setan! Kakek iblis! Lepaskan aku dan mari kita berkelahi sampai seribu jurus kalau kau memang gagah!"

Melihat sikap anak perempuan itu, juga mendengar tantangannya, kembali Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi melongo.

"Ha-ha-ha! Setan Hitam, apa yang kita temukan di sini? Agaknya dia memiliki bakat yang lebih baik dari pada Sin-tong agaknya!"

"Serahkan kepadaku, Pak-kwi-ong! Aku ingin mendidik anak ini!" kata Tung-hek-kwi yang tiba-tiba merasa suka pula kepada anak itu karena dia dapat melihat sendiri betapa anak itu memiliki keberanian luar biasa, juga memiliki gerakan cepat dan aneh, sepasang mata tajam mencorong dan seluruh keadaannya menunjukkan bakat yang luar biasa.

"Ha-ha-ha, enak saja! Aku yang menangkapnya lebih dulu!" berkata Pak-kwi-ong lantas kakinya menendang ke depan ketika Cu Pak Sun merangkak hendak menolong anaknya yang digantung dengan kepala di bawah itu.

"Desss...!" Tubuh Cu Pak Sun terlempar dan dia tewas seketika oleh tendangan itu.

"Ouhhh...!" melihat suaminya ditendang, nyonya Cu Pak Sun yang kebetulan baru siuman bangkit dan hendak menubruk. Di saat itu pula, Tung-hek-kwi yang merasa marah kepada Pak-kwi-ong yang dianggap merebut anak itu darinya, segera menggerakkan kakinya ke arah wanita itu.

"Dessss...!" Sekarang giliran wanita itu yang tewas seketika dan tubuhnya terlempar lalu terbanting menindih mayat suaminya.

"Kalian pembunuh-pembunuh jahat!" berkali-kali Bi Lian berteriak dan meronta-ronta.

Akan tetapi Pak-kwi-ong hanya tertawa dan tiba-tiba kakek ini meloncat keluar dari rumah itu sambil membawa tubuh Bi Lian dengan cara seperti tadi yaitu memegangi kedua kaki anak itu dengan tangan kirinya seperti orang membawa seekor ayam saja. Pak-kwi-ong bukan sembarangan meloncat, melainkan mengelak karena pada waktu itu Tung-hek-kwi sudah menubruk untuk merampas tubuh Bi Lian dari tangannya.

Begitu tiba di luar dusun, Pak-kwi-ong langsung melarikan diri dengan cepat, dikejar oleh Tung-hek-kwi! Kejar-kejaran itu terus berlangsung selama semalam suntuk bahkan hingga keesokan harinya pagi-pagi sekali Pak-kwi-ong masih dikejar-kejar oleh Tung-hek-kwi.

Kini mereka telah tiba di daerah pegunungan yang jauh sekali dari dusun di mana mereka menyebar maut semalam itu. Dan Bi Lian masih dibawa oleh Pak-kwi-ong dalam keadaan tergantung! Dapat dibayangkan penderitaan anak ini, akan tetapi, bukan main rasa kagum di dalam hati Pak-kwi-ong karena anak itu satu kali pun tidak pernah terdengar berteriak ketakutan atau pun menangis! Benar-benar seorang anak perempuan dengan hati keras melebihi besi!

Pak-kwi-ong terpaksa melarikan diri karena dia maklum bahwa tingkat kepandaian dirinya sangat berimbang dengan Tung-hek-kwi. Apa bila dia harus melawan rekannya itu sambil melindungi anak perempuan itu, tentu dia akan kalah. Akan tetapi dia pun tidak rela untuk menyerahkannya.

Akhirnya dia memperoleh akal maka dia pun berhenti. Keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya dan napasnya agak terengah-engah. Biar pun dia seorang yang sakti, dia harus mengaku kalah oleh usianya. Usia tua telah membuat kekuatannya tak sehebat dulu lagi. Ketika Tung-hek-kwi berhenti di depannya, keadaan kakek raksasa ini sama saja, mandi peluh dan napasnya memburu.

"Setan Hitam, engkau nekat mengejarku?" tegur Pak-kwi-ong, kini membalikkan tubuh Bi Lian dan mengempit di bawah lengannya, membuat Bi Lian tidak mampu berkutik.

Kini anak itu tidak begitu tersiksa seperti ketika dijungkir balikkan tadi. Hanya bau ketiak penuh keringat yang berada di dekat hidungnya itu saja membuat dia ingin muntah. Akan tetapi untuk muntah pun dia sudah kehilangan kekuatan. Tubuhnya lemas dan setengah pingsan oleh penderitaannya semalam, dilarikan dalam keadaan tergantung jungkir balik.

"Lari ke neraka pun akan kukejar. Anak itu harus menjadi muridku," jawab Tung-hek-kwi, makin kagum kepada Bi Lian karena anak itu sama sekali tidak menangis atau kelihatan ketakutan atau berduka. Selama hidupnya belum pernah dia melihat anak seperti ini, apa lagi anak perempuan.

"Aku pun ingin menjadi gurunya," kata Pak-kwi-ong.

"Aku tetap akan merampasnya dari tanganmu," Tung-hek-kwi menjawab kukuh.

"Kalau aku melawan sambil membawa anak ini, tentu aku kalah. Akan tetapi jika anak ini berhasil kau rampas lantas aku menyerangmu, tentu engkau pun akan kalah. Perkelahian antara kita untuk memperebutkan anak ini hanya akan berakhir dengan tewasnya anak ini akibat terkena pukulan kita, Setan Hitam!"

"Tidak peduli, dia harus menjadi muridku atau mati!" kata Tung-hek-kwi.

"Aihh, kita berebutan seperti anak kecil. Anak ini luar biasa, sebaiknya kita tanyakan dia, siapa di antara kita yang dia pilih sebagai guru!" kata Pak-kwi-ong dan dia melepaskan Bi Lian dari kempitannya.

Anak itu berdiri agak terhuyung karena lemas dan pusing, akan tetapi dengan angkuh dia cepat mengangkat kepalanya dan berusaha untuk berdiri tegak dan tidak memperlihatkan kelemahannya. Sepasang matanya masih berkilat menyambar kepada dua orang kakek itu penuh kemarahan.

"Anak baik, kami berdua sama-sama ingin sekali mengambil engkau sebagai murid. Coba kau pilih, siapa di antara kami yang kau kehendaki untuk menjadi gurumu?" Pak-kwi-ong berkata dengan suara ramah dan muka penuh senyum.

Akan tetapi dengan alis berkerut Bi Lian memandang kedua orang kakek itu, lalu dengan penuh kebencian dia pun menjawab, suaranya amat ketus. "Memilih kalian untuk menjadi guru? Hemm, aku memilih kalian berdua untuk menjadi musuh besarku yang kelak harus kubunuh untuk membalas dendam atas kematian ayah dan ibuku dan orang-orang dusun kami!" Jawaban itu berapi-api, penuh perasaan dan bersungguh-sungguh.

"Wah, anak ini sangat berbahaya, sebaiknya dibunuh saja!" Tung-hek-kwi berseru sambil mengangkat tangan. Akan tetapi Pak-kwi-ong mencegahnya malah dia pun mengedipkan mata kepadanya.

"Bunuhlah! Aku tidak takut mati! Kelak kalian akan kubunuh!" Anak itu tetap membentak sambil matanya mencorong menatap wajah Tung-hek-kwi yang menyeramkan itu, sedikit pun tidak mengenal takut. Sikapnya ini tidak memarahkan hati Tung-hek-kwi, sebaliknya malah membuat dia kagum dan merasa semakin suka.

"Anak baik, engkau salah paham. Kami bukan pembunuh ayah ibumu. Bukan kami yang membunuh mereka..."

"Bohong! Aku melihat dengan mataku sendiri betapa engkau membunuh ayahku, kakek gendut dan engkau yang membunuh ibu, kakek hitam!" Bi Lian menudingkan telunjuknya bergantian kepada mereka. "Kelak aku akan menuntut balas!"

"Ah-ah, engkau tidak mengerti. Memang tangan kami... "

“Kaki kalian yang membunuh mereka!" teriak Bi Lian, teringat betapa dua orang kakek itu menendang mati ayah dan ibunya.

"Betul, memang kaki kami yang melakukan pembunuhan, akan tetapi itu hanya akibatnya saja. Kami sama sekali tidak bermusuhan dengan ayah ibumu, bahkan mengenal mereka pun tidak! Mereka tewas sebagai akibat perkelahian, ada pun yang menjadi biang keladi adalah dua pasang suami isteri. Merekalah yang sesungguhnya membunuh orang tuamu, menjadi sebab kematian ayah ibumu!"

"Benar, Pak-kwi-ong berkata benar dan dia bukan pembohong!" kata pula Tung-hek-kwi, mengangguk-angguk.

Bi Lian menjadi bingung dan mengerutkan sepasang alisnya. "Apa maksudmu? Jangan memutar-balik, kalian menendang mati ayah ibuku, bagaimana menyalahkan orang lain?"

"Tahu akibat juga harus tahu sebabnya!" kata pula Pak-kwi-ong. "Aku dan Tung-hek-kwi sedang berada di dusun itu, kemudian datang dua pasang suami isteri Lam-hai Siang-mo (Sepasang Iblis Laut Selatan) bersama suami isteri Goa Iblis Pantai Selatan. Mereka itu membawa dua puluh orang bahkan mengerahkan penduduk dusun itu untuk mengeroyok kami berdua. Terjadilah perkelahian sehingga banyak yang jatuh dan tewas, di antaranya ayah dan ibumu yang menjadi korban karena dihasut dan dipaksa oleh dua pasang suami isteri itu untuk memusuhi kami. Kami sama sekali tak mengenal ayah ibumu. Nah, kalau begitu bukankah yang bersalah itu dua pasang suami isteri tadi? Andai kata mereka tidak mengajak orang-orang dusun mengeroyok kami, perlu apa kami membunuhi orang-orang dusun termasuk ayah dan ibumu?"

Bi Lian adalah seorang gadis cilik yang amat cerdik. Sejak tadi dia sudah maklum bahwa dua orang kakek ini mempunyai kesaktian yang amat hebat, mungkin tak kalah oleh suhu dan subo-nya. Ketika mendengar keterangan dari Pak-kwi-ong itu, dia pun dapat melihat kebenarannya. Jelas, yang menyebabkan kematian ayah dan ibunya adalah dua pasang suami isteri itu!

"Jadi, kalau engkau hendak membalas dendam, balaslah kepada dua pasang suami isteri itu, dan hal itu pasti akan terlaksana kalau engkau menjadi murid seorang di antara kami," kata pula Tung-hek-kwi yang biasanya tidak banyak cakap.

Hati Bi Lian menjadi bimbang. Ia tidak tahu siapa di antara dua orang kakek ini yang lebih lihai dan tiba-tiba dia mendapatkan akal yang amat baik. "Aku hanya mau menjadi murid kalian berdua, bukan salah seorang di antara kalian. Jika kalian berdua mau mengajarku sehingga kelak aku dapat membalas dendam kepada dua pasang suami isteri itu, biarlah aku suka menjadi murid kalian," katanya.

Dua orang kakek itu saling pandang. Anak ini benar-benar mengagumkan hati mereka dan syarat itu pun dapat mereka terima.

"Kita kerja sama...? Ha-ha-ha!" Pak-kwi-ong tertawa dan Tung-hek-kwi mengangguk.

"Kita sudah tua, usia kita takkan lama lagi. Apa salahnya kita bekerja sama membentuk anak ini agar kelak dapat mengangkat nama kita?" kata Tung-hek-kwi.

Demikianlah, mulai saat itu Cu Bi Lian menjadi murid Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi. Dua orang dari Empat Setan ini amat sayang kepada Bi Lian karena anak itu memperlihatkan watak yang cocok dengan mereka. Keras, ganas dan berani, juga cerdik bukan main.

Mereka sama sekali tidak tahu bahwa murid mereka itu adalah keturunan dari datuk-datuk sesat yang namanya tak kalah besar dari pada mereka sendiri, yaitu cucu dari mendiang Siangkoan Lojin Si Iblis Buta, dan cucu luar dari Raja dan Ratu Iblis yang dahulu pernah mengguncangkan seluruh dunia kang-ouw!

Agaknya Bi Lian menuruni watak para kakek dan nenek moyangnya sehingga dia menjadi seorang gadis yang cantik jelita dan manis, tapi juga ganas keras dan penuh keberanian. Dan karena dua orang kakek datuk sesat itu amat sayang kepadanya, mereka pun tanpa ragu-ragu dan sama sekali tidak pelit untuk menurunkan seluruh kepandaian yang mereka miliki kepada murid tunggal mereka. Mereka mengharapkan agar murid mereka itu, walau pun seorang wanita, kelak akan menjadi jagoan nomor satu atau setidaknya akan dapat mengangkat nama besar mereka yang menjadi gurunya.

Demikianlah riwayat Cu Bi Lian atau yang sesungguhnya she Siangkoan itu karena dia di luar tahunya adalah anak kandung suhu dan subo-nya yang pertama, yaitu Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu. Selama kurang lebih sepuluh tahun dia digembleng oleh kedua orang gurunya sehingga Bi Lian menjadi seorang gadis yang mempunyai ilmu kepandaian luar biasa.

Tentu saja watak yang seperti iblis dari dua orang gurunya itu sedikit banyak berpengaruh dalam membentuk watak Bi Lian sehingga ketika dia meninggalkan kedua orang gurunya yang kini sudah amat tua itu, dia telah menjadi seorang gadis yang selain amat tinggi ilmu silatnya, juga memiliki watak yang aneh dan kadang-kadang ganas sekali.

Pertemuan tanpa sengaja antara dia dengan Hay Hay membuat hatinya terganggu. Pada mulanya dia merasa muak dan membenci pemuda itu yang dianggapnya mata keranjang. Akan tetapi ketika mendapat kenyataan bahwa pemuda itu tidak melakukan hal-hal yang melanggar kesusilaan dan tidak mengganggu gadis-gadis itu, dia pun tak peduli lagi. Juga karena pemuda itu tidak melawannya ketika dia usir dari dalam ruangan kuil tua.

Dia pun lalu mencoba untuk melupakan pemuda tampan yang suka bergurau dan pandai merayu itu. Peduli setan, pikirnya dan Bi Lian tidak peduli lagi di mana pemuda itu akan melewatkan malam, asal tidak di dalam kuil tua. Malam ini dia harus beristirahat dengan enak dan tidak terganggu supaya besok seluruh tenaganya pulih kembali karena dia akan melanjutkan perjalanannya yang sukar, yakni mencari musuh-musuh besarnya. Mereka adalah dua pasang suami isteri yang namanya terkenal di dunia kang-ouw, yaitu Lam-hai Siang-mo dan suami isteri dari Goa Iblis Pantai Selatan…..

********************

Sementara itu, Hay Hay sendiri juga merasa penasaran bertemu dengan seorang gadis yang cantik jelita dan agaknya mempunyai ilmu kepandaian yang tinggi, namun wataknya begitu galak dan ganas. Terpaksa dia menjauhi kuil tua itu dan akhirnya dia pun memilih tempat di dekat sungai kecil yang airnya jernih dan mengalir di luar dusun. Dia kembali ke tempat itu dan duduk di atas batu besar di mana dia bertemu dengan para gadis dusun pagi tadi.

Pada waktu dia mengumpulkan kayu bakar untuk membuat api unggun sebentar malam, tiba-tiba saja dia mendengar suara tawa tertahan. Cepat dia menoleh dan ternyata yang datang adalah gadis bertahi lalat di dagunya dan gadis hitam manis yang matanya indah.

"Aihhh…, kalian lagi gadis-gadis manis. Hendak ke manakah sore-sore begini, Nona-nona manis?" tegur Hay Hay dan dua orang gadis itu tersenyum gembira, akan tetapi mereka menoleh ke kanan kiri seperti orang merasa ketakutan kalau-kalau ada orang lain melihat pertemuan mereka dengan pemuda itu.

"Ssstttt...!" kata gadis bertahi lalat sambil menaruh telunjuk di depan mulut, lalu bersama temannya dia menghampiri Hay Hay. "Hay-ko (Kakak Hay), jangan keras-keras, takut ada yang mendengar. Engkau tadi... tidak apa-apakah?"

Hay Hay tersenyum dan menggelengkan kepala.

"Tadi kami merasa khawatir sekali, Hay-ko," kata gadis manis bermata indah. "Kemudian kami mendengar bahwa sore ini engkau kembali lagi ke sini, agaknya hendak bermalam di tempat terbuka ini."

Hay Hay menggerakkan pundaknya. "Yah, begitulah. Habis bagaimana lagi kalau semua penduduk dusun tidak ada yang sudi menerima diriku untuk bermalam?"

"Kami mendengarnya dan merasa kasihan, Hay-ko. Nih, aku membawa selimut untukmu. Kau pakailah supaya malam ini engkau tak kedinginan dan tidak diganggu nyamuk," kata gadis bertahi lalat sambil mengeluarkan sehelai selimut tebal yang dilipat rapi dan tadinya disembunyikan di dalam keranjang sayurnya.

"Dan ini aku membawa daging panggang untukmu, Hay-ko. Ini untuk sekedar penambah makan malammu, Hay-ko," kata gadis hitam manis.

Hay Hay yang tadinya tersenyum gembira itu, kini memandang dengan mata mengandung keharuan. Ingin dia merangkul dan mencium dua orang gadis ini untuk menyatakan rasa syukur dan terima kasihnya. Akan tetapi tentu saja pemuda ini tidak berani melakukan hal itu karena takut akan akibatnya yang tentu tidak baik bagi mereka berdua.

"Ahh, kalian sungguh baik sekali!" serunya terharu. "Kenapa kalian harus bersusah payah untukku? Kalian tahu, jika sampai terlihat oleh kepala dusun atau penduduk dusun, tentu kalian akan mendapat marah."

"Biar saja mereka marah!" Gadis bertahi lalat berkata penasaran. "Si A-Iiong itu hanya iri hati dan cemburu. Huh, tak tahu malu!"

Hay Hay tersenyum. "A-liong siapakah yang kau maksudkan? Pemuda tinggi besar yang hendak menghajarku itu?"

Gadis hitam manis mengangguk. "Benar, dia mencinta Siauw Lan..."

"Akan tetapi aku tidak sudi padanya!" Siauw Lan gadis bertahi lalat di dagunya itu cepat memotong. "Lagi pula, apa salahnya kalau kami berkenalan denganmu, Hay-ko? Engkau seorang pemuda yang baik dan menyenangkan, tidak seperti mereka. Aku... kami... suka padamu..."

Hay Hay semakin terharu, lantas dipegangnya tangan dua orang gadis itu dengan kedua tangannya. Tangan-tangan hangat yang halus lembut. "Kalian memang adik-adikku yang cantik manis dan berhati baik. Aku berterima kasih kepadamu. Percayalah, aku pun suka sekali kepada kalian dan selamanya aku takkan melupakan gadis-gadis di dusun ini yang manis-manis. Akan tetapi, sekarang sebaiknya kalian pulang saja sebelum hari menjadi malam. Sungguh tidak enak bagi kalian apa bila sampai kelihatan orang lain bahwa kalian datang menjengukku, apa lagi membawakan selimut dan makanan."

Dua orang gadis itu pun merasa terharu sungguh pun mereka girang sekali dapat saling berpegang tangan dengan pemuda yang mereka kagumi itu. "Hay-ko, engkau tentu akan lama tinggal di sini, bukan?" tanya Si Gadis Bertahi Lalat.

"Betul, jangan tergesa-gesa pergi, Hay-ko, kami ingin menjadi sahabat-sahabatmu. Besok pagi-pagi kami akan datang lagi, mungkin dengan teman-teman lainnya. Setiap pagi kami mencuci pakaian dan mandi di sini, dan kami dapat menjengukmu...," kata gadis kedua.

Hay Hay menggeleng kepala dan sebagai gantinya mencium pipi atau bibir mereka, dia membungkuk dua kali dan mencium punggung tangan mereka, lalu melepaskan kembali tangan mereka. "Besok pagi sekali aku harus melanjutkan perjalanan. Nah, pulanglah dan selamat berpisah, Nona-nona manis."

Dua orang gadis itu pun tersipu dengan jantung berdebar ketika punggung tangan mereka tersentuh hidung dan bibir pemuda itu, dan biar pun mereka merasa ogah dan tidak tega meninggalkan pemuda itu, karena cuaca mulai gelap, terpaksa mereka lalu berpamit dan meninggalkan tempat itu dengan dua pasang mata yang basah.

Mereka merasa sedih sekali mengingat betapa pemuda ini besok sudah tak akan berada lagi di tempat itu. Mereka tahu bahwa ada sesuatu yang lenyap dari dalam hati mereka, meninggalkan kenangan indah yang hanya akan mendatangkan duka.

"Selamat tinggal, Hay-ko."

"Semoga kita bertemu kembali kelak, suatu waktu...!"

Hay Hay tersenyum dan melambaikan tangan, sengaja tidak mengeluarkan sepatah kata pun agar keharuan tidak semakin menenggelamkan mereka bertiga. Setelah kedua orang gadis itu pergi, Hay Hay lantas mempersiapkan tempat beristirahat di dekat batu besar itu. Hay Hay menyalakan api unggun dan sesudah hari menjadi gelap, dia pun duduk bersila, menyelimuti tubuhnya dengan selimut pemberian gadis manis bertahi lalat pada dagunya. Selimut yang tebal dan hangat.

Akan tetapi Hay Hay sudah cepat melupakan lagi dua orang gadis itu. Demikianlah watak pemuda ini, tak mau mengikatkan diri dengan segala sesuatu, bahkan dengan kenangan pun tidak! Segala peristiwa yang terjadi lewat saja tanpa bekas di hatinya, dan dengan cara hidup demikian itu, dia selalu bergembira.

Dan kini dia pun sudah duduk bersila dengan wajah tenang gembira, sedikit pun tidak ada bekas-bekas kejadian masa lampau yang mengganggu hatinya, baik yang menyenangkan sehingga menimbulkan keinginan untuk mengulanginya mau pun yang tak menyenangkan sehingga menimbulkan kegelisahan atau duka…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner