PENDEKAR MATA KERANJANG : JILID-22


Wanita itu mengerang dan makin merapatkan dirinya, kini bahkan duduk di atas pangkuan Hay Hay sambil merangkul pinggang pemuda itu dan membiarkan diri tenggelam di dalam rangkulan Hay Hay. Pemuda itu sebaliknya merasa kepanasan dan mulai bingung. Degup jantungnya terdengar jelas di telinganya sendiri dan dia merasa malu kalau-kalau Sun Bi akan mendengarnya pula.

Telinga Sun Bi menempel pada dada Hay Hay, maka tentu saja wanita itu mendengarnya. Secara diam-diam wanita itu tersenyum puas. Suara degup jantung pemuda ganteng itu seolah-olah menjadi sorak kemenangan baginya, atau sorak pertanda bahwa kemenangan sudah berada di ambang pintu! Dia harus pandai bersikap untuk menuntun pemuda ini memenuhi segala kehendaknya, memuaskan segala gairah dan hasratnya yang timbul.

Bagaimana lihainya pun, Hay Hay hanyalah seorang pemuda yang masih hijau dalam hal hubungan dengan wanita, walau pun dia terkenal mata keranjang dan perayu wanita. Kini berhadapan dengan seorang wanita yang sudah matang, tentu saja dia tidak tahu bahwa dialah yang kini menjadi permainan.

Wanita itu bukan sembarang orang. Selain cantik manis, dia pun memiliki ilmu silat yang sangat hebat dan merupakan seorang tokoh besar dalam dunia golongan hitam, terkenal pula sebagai seorang wanita cabul yang menjadi hamba nafsu birahi yang berkobar-kobar dan tak pernah mengenal puas.

Entah sudah berapa banyak pria yang menjadi korbannya, menjadi korban permainannya atau pun menjadi mayat akibat dibunuhnya karena pria itu tidak memuaskan hatinya atau berani menolaknya! Demikian jahat dan palsunya sampai dia diberi julukan Tok-sim Mo-li (lblis Betina Berhati Racun).

Namanya memang Ji Sun Bi dan kini usianya sudah tiga puluh tahun. Karena pandainya merawat diri dan bersolek, maka dia selalu nampak jauh lebih muda dari pada usia yang sebenarnya. Ketika dia menceritakan riwayatnya kepada Hay Hay, memang ada beberapa hal yang betul. Dia memang seorang janda dan suaminya memang telah mati. Akan tetapi suaminya itu mati karena dibunuhnya! Juga kedua mertuanya dibunuhnya! Padahal, baru tiga bulan saja dia menikah dengan suaminya itu.

Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi adalah murid tunggal dari Min-san Mo-ko (Iblis Gunung Min-san) yang kini usianya sudah enam puluh tahun. Sejak masih kecil Ji Sun Bi yang telah yatim piatu menjadi murid Min-san Mo-ko kemudian sesudah menjadi dewasa, dia pun menjadi kekasih Min-san Mo-ko!

Akan tetapi, guru yang mengambil murid menjadi kekasih ini memberi kebebasan kepada Sun Bi untuk bermain cinta dengan pria yang disukainya, di mana saja dan kapan saja! Bahkan gurunya ini mempunyai kesukaan yang aneh dan tidak patut. Dia suka mengintai kalau murid yang juga menjadi kekasihnya ini bermain cinta dengan orang lain!

Sun Bi tahu bahwa gurunya mengintai, akan tetapi dia pun malah senang kalau ditonton gurunya. Sudah demikian bejat akhlak kedua orang guru dan murid yang sebenarnya tak pernah berpisah ini sehingga mereka berdua terkenal sebagai sepasang iblis yang sangat ditakuti, terutama di sepanjang sungai Min-kiang di Pegunungan Min-san.

Ketika Sun Bi menikah dengan pria yang membuatnya tergila-gila, Min-san Mo-ko sama sekali tidak keberatan, bahkan dia yang bertindak sebagai ‘wali’. Akan tetapi hubungan di antara mereka masih saja dilanjutkan.

Dan pada suatu hari, setelah menikah tiga bulan, suaminya menangkap basah hubungan antara isterinya dengan kakek itu. Suaminya marah, akan tetapi Sun Bi yang sudah mulai bosan dengan suaminya lantas turun tangan membunuhnya. Ayah beserta ibu mertuanya juga dibunuhnya, kemudian dia melanjutkan permainan cintanya dengan Min-san Mo-ko di dalam ruangan di mana menggeletak mayat-mayat suaminya dan kedua mertuanya!

Pada suatu hari, kebetulan saja Sun Bi melihat Hay Hay yang sedang memancing ikan. Segera dia tertarik sekali karena Hay Hay memang memiliki banyak daya tarik yang amat kuat bagi wanita. Maka dia lalu mendekati Hay Hay, menggunakan kepandaiannya untuk bermain sandiwara. Hay Hay yang masih hijau itu tentu saja tidak menduga akan hal itu dan dia pun terkecoh, melayani wanita yang sebenarnya kehausan dan tak pernah puas dengan pria itu.

"Betapa rinduku selama bertahun-tahun ini kepada suamiku yang kini telah tiada..., siang malam aku merindukan pelukannya dan sekarang engkau mau memelukku seperti yang dilakukan suamiku dahulu... ahh, terima kasih, Hay Hay, terima kasih..."

Hay Hay merasa terharu sekali, akan tetapi juga girang bahwa sedikitnya dia sudah dapat menghibur wanita yang sengsara ini. Dan dia pun bukan asing dalam pergaulan dengan wanita, bahkan sudah sering kali dia berdekatan dengan wanita atau berpacaran, walau pun dia belum pernah melakukan hubungan yang lebih mendalam. Karena itu, dalam hal merangkul dan memeluk tubuh wanita yang hangat itu pun tidak membuat dia kehilangan keseimbangannya.

Akan tetapi, seperti tidak disengaja, kedua tangannya yang merangkul itu ditangkap oleh kedua tangan Sun Bi lantas wanita itu mengeluh, "Hay Hay... peluklah aku, belailah aku seperti dahulu suamiku membelaiku... ciumlah aku..."

Sun Bi seperti menuntun Hay Hay yang langsung memenuhi semua permintaannya. Hay Hay membelai dan menciumnya. Ketika dia mendapat kenyataan bahwa pemuda ini agak canggung menurut ukuran dia yang telah berpengalaman, Sun Bi lalu balas mencium dan mengajarnya cara bermain asmara yang amat asing bagi Hay Hay, yang dianggap terlalu berani!

Apa bila tadinya Ji Sun Bi berusaha menggoda dan membangkitkan gairah pada pemuda itu, akibatnya malah dia sendiri yang kebakaran! Wanita itu sendiri yang kini dicengkeram birahi sampai ke puncaknya sehingga tubuhnya sudah panas dingin dan gemetaran ketika dia berbisik,

"Hay Hay... belum... belum pernahkah engkau dengan wanita...?"

Menghadapi permainan asmara yang sangat berani dan merangsang dari Sun Bi, betapa pun juga Hay Hay merasa betapa seluruh tubuhnya panas dan gemetar. Dia memandang wanita itu dan menggeleng kepala, tidak menjawab karena dia tahu bahwa suaranya tentu terdengar aneh dan menggetar.

Melihat ini, nafsu birahi semakin kuat mencengkeram pikiran Ji Sun Bi. Bagaikan seekor kuda binal yang lepas kendali, dia menarik tangan Hay Hay supaya rebah di atas rumput. Akan tetapi tiba-tiba Hay Hay melepaskan diri dari pelukan, lantas bangkit dan melangkah mundur. Dia hanya menggelengkan kepala sambil mengerutkan alis.

Sun Bi yang telah kebakaran itu cepat meloncat berdiri dan menyambar tangan Hay Hay. "Hay Hay, mengapa? Marilah... aku... aku cinta kepadamu, Hay Hay, aku membutuhkan dirimu, aku..."

"Tidak, Sun Bi. Semua ada batasnya dan aku tidak mau melanggar batas itu. Aku belum siap untuk yang satu itu dan aku tidak mau melakukannya."

"Hay Hay...!" Sun Bi yang sudah mata gelap itu menarik tangan Hay Hay, akan tetapi Hay Hay tetap mempertahankan bahkan lalu merenggutkan tangannya terlepas dari pegangan Sun Bi.

"Hay Hay, kasihanilah aku... aku kesepian... aku..."

"Tidak, Sun Bi, engkau sadarlah, tenanglah! Engkau harus dapat menguasai dirimu. Aku mau menghiburmu, akan tetapi untuk yang satu itu, maaf, aku tidak mau melakukannya!" katanya tegas.

Dia memang suka pada wanita, suka berdekatan, suka bercumbuan, dan harus diakuinya bahwa bangkit pula gairahnya yang amat besar. Namun dia juga sadar bahwa harus ada batasnya dan dia tak boleh melanggar batas itu sembarangan saja. Dia hanya akan mau melakukan hal itu dengan wanita yang dicintanya, tidak dengan sembarang wanita, apa lagi Ji Sun Bi yang janda muda dan baru saja dikenalnya.

Tiba-tiba saja terjadi perubahan pada wajah Ji Sun Bi. Wajah yang tadinya sedikit pucat dan pandang matanya sayu merayu itu, kini berubah kemerahan dan pandang matanya berubah sama sekali, menjadi berkilat. Mata yang tadinya memandang padanya dengan setengah terpejam, basah dan sayu, kini mencorong sambil melotot. Mulut yang tadinya tersenyum manis, agak terengah dan menciuminya, juga diciuminya, kini ditarik keras dan terdengar suaranya membentak keras,

"Hay Hay, sekali lagi. Benar engkau tidak mau memenuhi kehendak hatiku, memuaskan hasrat cintaku?"

Hay Hay terkejut sekali melihat perubahan itu dan baru sekarang dia melihat kekejaman membayang pada sinar mata dan mulut itu. Dia hanya menggeleng kepala, merasa heran, terkejut dan juga penasaran. Belum pernah dia bertemu dengan wanita senekat ini.

"Keparat jahanam! Apakah engkau lebih senang mampus?" dengan mulutnya yang manis, hangat dan bergairah, wanita itu kini memaki dengan kata-kata yang penuh kebencian.

"Sun Bi, ingatlah. Kita bersahabat, bukan? Kita baru saja bertemu, dan kita telah menjadi teman "

"Cukup! Untuk yang terakhir, mau tidak engkau melayani aku?"

Hay Hay mengerti apa yang dimaksudkan, karena itu dengan sikap tegas dia menggeleng kepala.

"Mampuslah!" Tiba-tiba saja wanita itu sudah menerjang dengan pukulan tangan miring ke arah lehernya. Pukulan maut!

Wanita ini jelas bermaksud hendak membunuhnya sebagai pelampiasan kemarahan dan kekecewaan hatinya. Keganasan dan kekejamannya ini mengejutkan Hay Hay, walau pun serangan itu sendiri tidak mengejutkannya karena sejak tadi dia memang sudah bersikap waspada. Dengan mudah saja dia mengelak ke kiri, membiarkan pukulan itu lewat tanpa membalas.

Kini Jin Sun Bi yang merasa terkejut sendiri. Dia tadi sudah merasa yakin bahwa dengan sekali pukulan saja, laki-laki yang mengecewakan hatinya itu tentu akan roboh dan tewas. Pukulannya tadi selain keras bertenaga, juga dilakukan dengan kecepatan kilat.

Akan tetapi siapa kira bahwa pemuda yang kelihatannya lemah ini mampu mengelak dan menghindarkan diri dari pukulan pertamanya. Dia masih merasa penasaran dan mengira bahwa hal itu hanya kebetulan saja.

"Heiiittt...!" Serangan berikutnya menyusul dan sekali ini kedua tangannya mencengkeram dari kanan kiri, disusul tendangan kakinya.

"Wuuuttt...! Dukkk!"

Tubuh Ji Sun Bi hampir terpelanting pada waktu tendangannya ditangkis Hay Hay setelah kedua cengkeramannya mengenai angin saja. Barulah wanita itu sadar bahwa pemuda itu ternyata tidaklah selemah yang disangkanya.

"Keparat, ternyata engkau dapat bersilat? Nah, sekarang kau sambutlah ini!" Dan kini Ji Sun Bi menyerang bagai datangnya gelombang lautan yang ganas sekali, menghujankan serangan bertubi-tubi secara gencar dan setiap pukulannya mengandung tenaga sinkang yang akan dapat menewaskan seorang lawan tangguh!

Hay Hay maklum bahwa kini dia tidak boleh main-main lagi. Bagaimana pun juga, wanita ini ternyata mempunyai ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi dari pada yang diduganya semula. Hal ini bisa diukurnya dari pertemuan tangan pada saat dia menangkis tadi, juga dari kecepatan gerakannya.

Maka dia pun tidak mungkin tinggal diam dan hanya mengandalkan elakan dan tangkisan. Jika hal ini terus dilakukan, maka dia akan terancam bahaya. Apa lagi karena dia maklum bahwa wanita ini jahat sekali, tentu inilah golongan wanita sesat yang pernah dia dengar diceritakan oleh Ciu-sian Sin-kai, gurunya yang ke dua. Menurut gurunya, dia harus amat berhati-hati menghadapi wanita-wanita cantik yang berwatak cabul sebab di samping lihai mereka itu juga licik dan pandai merayu.

"Hati-hati," demikian antara lain gurunya berpesan, "engkau memiliki kelemahan terhadap kaum wanita, dan rayuan wanita cantik jauh lebih berbahaya dan sulit dielakkan dari pada serangan yang bagaimana pun dahsyatnya."

Kini baru dia mengalaminya sendiri. Memang Sun Bi wanita hebat. Tadi hampir saja dia jatuh. Kepandaian wanita itu bercumbu rayu membuat dia hampir taluk. Untung dia masih dapat bertahan dan menghindar pada saat terakhir.

Dari pengalaman yang pertama ini Hay Hay memperoleh pelajaran yang baik sekali, yaitu bahwa yang berat bukanlah mengelakkan diri dari cumbu rayu wanita cantik, akan tetapi mengalahkan nafsunya sendiri! Di dalam hal ini dia berhasil, karena sejak kecil dia sudah digembleng oleh dua orang sakti sehingga dia memiliki kekuatan batin yang cukup untuk menguasai nafsunya sendiri.

"Ahh, kiranya engkau seorang wanita yang kejam sekali, Ji Sun Bi!" kata Hay Hay sambil menangkis sebuah pukulan, lalu membalas dengan tamparan ke arah pundak wanita itu.

"Aihhhhh..!" Sun Bi cepat melempar tubuh ke belakang karena pundaknya nyaris terkena tamparan yang datangnya demikian cepat, tidak terduga, juga kuat bukan main.

Sun Bi menjadi semakin terkejut dan penasaran. Ternyata pemuda ini bukan hanya dapat bersilat, bahkan memiliki kepandaian yang sangat tinggi! Gairah cintanya bangkit kembali, akan tetapi segera hatinya kecewa teringat betapa pemuda yang tampan, menarik hati ini menolaknya mentah-mentah.

Ahh, betapa senangnya jika dia dapat memiliki seorang kekasih seperti ini, selain tampan dan romantis, juga dapat menjadi kawan yang sangat kuat dalam menghadapi musuh. Dia merasa kecewa sekali dan kekecewaan ini akhirnya menimbulkan kebencian.

"Jahanam keparat, engkau harus mampus di tanganku!" bentaknya.

Begitu kedua tangannya bergerak menyambar buntalannya yang panjang, wanita ini telah mencabut keluar sepasang pedang yang berkilauan saking tajamnya. Kini dia menerjang dengan sepasang pedangnya, gerakannya begitu cepat dan kuat sehingga yang nampak hanya dua gulungan sinar pedang yang mengeluarkan suara berdesing-desing!

Diam-diam Hay Hay terkejut dan kagum. Wanita ini benar-benar lihai sekali, sungguh pun belum tentu selihai Bi Lian, akan tetapi juga amat berbahaya dan sudah mencapai tingkat yang tinggi. Dia masih bersikap tenang dan menghadapi serangan sepasang pedang itu dengan tangan kosong saja.

Dengan Jiauw-pouw Poan-soan, yaitu langkah ajaib yang dulu dipelajarinya dari See-thian Lama, tubuhnya dapat berputar-putaran secara tenang dan aneh sekali, semua sambaran pedang-pedang di kedua tangan lawan itu tak pernah dapat menyentuhnya. Memang ilmu ini amat hebat, merupakan sebuah di antara ilmu-ilmu yang aneh dan tinggi dari See-thian Lama, seorang di antara Delapan Dewa itu.

Dari dalam lingkaran yang dibentuk oleh gerakan kedua kakinya yang melakukan langkah-langkah berputaran, dia bahkan bisa membalas dengan serangan-serangan pembalasan. Setiap kali tangannya mencuat keluar dari lingkaran kemudian mengirim tamparan, tentu lawannya berteriak kaget dan terpaksa menyelamatkan diri dengan pelemparan tubuh ke belakang.

Pada saat itu pula tiba-tiba terdengar bentakan orang, suaranya tinggi kecil melengking, menyakitkan anak telinga, "Heiii, siapa berani kurang ajar terhadap muridku?"

Hay Hay cepat melangkah ke belakang lantas memandang. Kiranya yang muncul adalah seorang lelaki yang berusia kurang lebih enam puluh tahun. Orang ini bertubuh kurus dan bermuka pucat seperti orang berpenyakitan, akan tetapi pakaiannya mewah dan pesolek, sedangkan sebatang pedang tergantung pada punggungnya. Kakek ini demikian pesolek sehingga menggelikan karena dia memakai penghitam alis dan pemerah bibir!

Sementara itu, begitu melihat munculnya kakek ini, Ji Sun Bi cepat berkata dengan sikap dan suara yang manja sekali, "Suhu... ahhh, suhu, bantulah aku menghukum laki-laki ini. Dia telah berani menolak untuk melayaniku bermain cinta!"

"Apa...?! Wah, itu penghinaan namanya. Kecuali aku, tidak ada laki-laki di dunia ini yang cukup berharga untuk bercinta dengan Sun Bi, dan dia berani menolakmu? Wah, untuk itu dia harus mampus!" Kakek itu segera mencabut pedangnya kemudian bersama Ji Sun Bi, dia kini menerjang dan mengeroyok Hay Hay.

Pemuda ini terkejut melihat kehebatan serta kekuatan di dalam serangan kakek itu, maka dia cepat meloncat ke belakang untuk menghindarkan serangan mereka. Dia merasa tak perlu lagi bicara dengan kakek itu. Dari percakapan mereka saja dia sudah tahu bahwa guru dan murid itu adalah manusia-manusia iblis, orang-orang sesat yang kemungkinan besar merupakan tokoh-tokoh golongan hitam yang tidak dikenalnya. Percuma saja bicara dengan orang-orang seperti mereka, pikirnya.

Maka sambil meloncat tadi dia melihat-lihat untuk mencari buntalan pakaiannya. Buntalan itu masih berada di tempat tadi, di dekat bekas api unggun di tepi sungai. Maka dia cepat melompat ke sana, lalu menyambar buntalan pakaiannya dan mencabut keluar sebatang suling terbuat dari kayu hitam.

Suling itu seperti suling milik Ciu-sian Sin-kai, terbuat dari sejenis kayu pohon yang hanya tumbuh di Pulau Hiu, kayunya ulet sekali dan suling kayu sepanjang tiga kaki itu selain dapat ditiup seperti suling biasa, juga merupakan senjata yang ampuh, senjata khas dari Ciu-sian Sin-kai!

Dengan suling kayu hitam di tangan dan buntalan diikat di punggung, Hay Hay sekarang menghadapi dua orang pengeroyoknya. Guru dan murid itu kini mengepung dari kanan kiri dan begitu kakek itu mengeluarkan pekik melengking yang menggetarkan jantung, dia dan muridnya sudah menerjang dari kanan kiri dengan cepat dan kuat, dengan serangan maut karena memang mereka menyerang untuk membunuh.

"Cringgg..! Tranggg…!" Bunga api berpijar di kanan kiri Hay Hay.

Kakek itu berseru kaget dan pedangnya terpental, ada pun Sun Bi terhuyung-huyung oleh tangkisan itu. Guru dan murid itu semakin terkejut. Kiranya pemuda itu benar-benar hebat, pikir mereka dengan penasaran dan kini mereka menyerang dengan lebih hebat pula.

Akan tetapi Hay Hay sudah siap siaga. Dengan langkah-langkah Jiauw-pouw Poan-soan yang dipelajarinya dari See-thian Lama dia bisa menghindarkan diri dari kepungan lawan, sementara suling hitamnya menciptakan gulungan sinar hitam yang mengeluarkan bunyi berdengung-dengung, dengan gerakan aneh namun mantap dan kuat sekali.

Biar pun guru dan murid itu memiliki ilmu pedang yang ganas, liar dan lihai, akan tetapi sebagai murid dari dua orang kakek sakti yang merupakan dua orang di antara Delapan Dewa, tingkat ilmu kepandaian Hay Hay lebih tinggi sehingga sesudah mereka berkelahi selama lima puluh jurus lebih, guru dan murid itu mulai mendesak.

"Haiiiittttt...!" Sun Bi menubruk dengan nekat, menggunakan pedangnya untuk membacok kepala Hay Hay, ada pun tangan kirinya mencengkeram ke arah dada, tubuhnya meloncat seperti seekor harimau menubruk.

Hay Hay mulai merasa muak dengan kekejaman guru dan murid itu. Dia lalu menangkis pedang, mengelak dari cengkeraman tangan kiri wanita itu dan kakinya menendang.

"Desss...!"

Tubuh Sun Bi terlempar sampai tiga meter dan terbanting ke atas tanah. Untung baginya bahwa Hay Hay tidak berniat membunuhnya sehingga tendangan itu mengandung tenaga yang terbatas saja.

Melihat muridnya roboh, kakek itu tidak jadi menyerang Hay Hay melainkan cepat-cepat menghampiri muridnya yang merintih kesakitan. Dengan sikap sangat menyayang, kakek itu bertanya. "Di mana yang sakit, Sun Bi? Apanya yang sakit?"

"Aduhh, Suhu... lengan kiriku... terbanting, nyeri sekali...," kata wanita itu sambil merintih-rintih.

Kakek itu cepat mengurut lengan kiri, menyingsingkan lengan bajunya. Setelah mengurut lengan itu, dia lalu menundukkan mukanya dan menciumi lengan yang nampak membiru itu. "Sudah, nanti sebentar tentu sembuh."

Hay Hay berdiri bengong. Kalau dia mau, tentu saja dengan mudah dia bisa menyerang dan merobohkan mereka. Akan tetapi dia terlampau heran melihat apa yang terjadi antara guru dan murid itu. Sudah gilakah kakek itu? Murid itu demikian manja kekanak-kanakan, dan gurunya juga begitu menyayang, menciumi lengan yang terbanting, sikapnya seperti seorang yang mencumbu pacarnya saja!

Dia menggeleng-gelengkan kepala, menyelipkan suling di buntalan pakaiannya, kemudian menggerakkan kedua pundak dan memutar tubuh untuk meninggalkan guru dan murid itu. Muak dia melihat tingkah mereka.

"Heiii! Berhenti dulu kau, keparat!"

Bentakan dengan suara melengking tinggi ini membuat Hay Hay menahan kakinya, lantas dengan alis berkerut dan hati marah dia membalikkan tubuh menghadapi kakek yang tadi membentaknya itu.

Kakek itu masih berjongkok dekat muridnya, akan tetapi kini sudah menghadapi Hay Hay. Sepasang matanya mencorong dan kedua tangannya menepuk-nepuk tanah secara aneh sekali, kemudian kedua tangan itu diangkat dengan telapak tangan menghadap ke arah Hay Hay dan terdengarlah suara kecil melengking aneh.

"Majulah engkau ke sini!"

Tentu saja Hay Hay tidak sudi mentaati perintah itu, akan tetapi tiba-tiba saja sepasang kakinya sudah melangkah ke depan! Tidak dapat ditahannya lagi, seolah-olah kedua kaki itu kini sudah bukan miliknya lagi, tidak menurut lagi terhadap kehendak dan perintahnya. Terkejutlah dia dan maklumlah Hay Hay bahwa ini tentulah kekuatan sihir yang aneh! Dia mengerahkan kekuatan batinnya dan tiba-tiba ke dua kakinya berhenti melangkah.

Akan tetapi kakek itu lalu menggerak-gerakkan kedua tangannya secara aneh, sepasang matanya makin tajam mencorong seperti mata kucing, ada pun suaranya semakin tinggi melengking, "Berlututlah engkau!"

Kembali Hay Hay ingin menolak, akan tetapi tiba-tiba kedua kakinya telah bertekuk lutut!

"Jangan mencoba bergerak, engkau tidak akan mampu bergerak dan tidak akan bergerak sebelum kuperintahkan!"

Hay Hay membantah di dalam hatinya, memaksa diri untuk meronta dan bangkit berdiri, akan tetapi seluruh tubuhnya sudah mogok! Dia tetap dalam keadaan berlutut dan tidak mampu bergerak laksana sebuah arca dan matanya seperti melekat pada sepasang mata yang mencorong kehijauan itu!

Melihat ini, tiba-tiba Sun Bi bangkit berdiri. "Suhu... Suhu... jangan bunuh dia dulu. Biarlah dia melayani aku dahulu, baru dibunuh. Suhu suruh dia melayani aku!" Berkata demikian, wanita itu mulai meraba-raba kancing bajunya!

"Heh-heh-heh, bagus sekali!" Kakek itu tertawa, kemudian terdengar lagi suaranya yang melengking tinggi penuh wibawa. "Orang muda, engkau harus melayani Ji Sun Bi. Hayo kau buka bajumu!"

Hay Hay masih berada dalam keadaan sadar dan dia terbelalak. Mau apa perempuan itu? Mau memperkosanya di hadapan gurunya sendiri? Gilakah perempuan itu? Gilakah kakek itu? Ataukah dia yang sudah gila?

Pikirannya menjadi semakin kacau pada saat dia melihat betapa kedua tangannya sendiri mulai melepas kancing bajunya, seperti yang dilakukan oleh Sun Bi yang kini tersenyum-senyum menyeramkan baginya! Dia berusaha melawan, namun semakin dilawan, kedua tangannya bekerja semakin cepat seperti terdorong oleh tenaga yang tidak nampak atau seolah-olah kedua tangannya telah menjadi tangan-tangan orang lain yang membukakan kancing bajunya!

Pada waktu Hay Hay berperang dengan tenaga aneh yang hendak menelanjanginya itu, tiba-tiba ada angin lembut bertiup dan terdengarlah suara yang halus lunak dibawa angin yang bersilir lembut. "Min-san Mo-ko dan Tok-sim Mo-li, kejahatan tidak akan membawa kalian ke alam kebahagiaan...!"

Ketika terdengar suara itu dan merasakan angin semilir meniup mukanya, mendadak Hay Hay merasa kesadarannya pulih kembali, kedua tangannya menurut kepada perintahnya dan berhenti dengan kegiatan mereka yang sama sekali tidak dikehendakinya. Ketika dia memandang, dia pun langsung bergidik.

Baju atasnya telah tanggal, sedangkan kedua tangannya tadi mulai membuka celananya. Terlambat sedikit saja tentu dia sudah bertelanjang bulat! Cepat dia mengenakan kembali bajunya lantas meloncat berdiri, memandang kepada seorang kakek berambut putih yang tiba-tiba muncul di situ.

"Keparat"' Min-san Mo-ko membentak marah dengan sepasang mata melotot. "Berani kau mencampuri urusanku? Aku akan membunuhmu!" Berkata demikian, Min-san Mo-ko lalu mengangkat pedangnya dan menerjang ke depan.

Akan tetapi tiba-tiba tubuhnya tersentak ke belakang, seperti tertolak oleh kekuatan yang hebat, dan betapa pun dia berusaha untuk maju, kedua kakinya tetap saja seakan-akan tertumbuk sesuatu dan tidak dapat maju, tidak mampu mendekati kakek yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua itu.

"Setan, lihat kekuatanku"' Min-san Mo-ko berseru dan dia menghentakkan kakinya di atas tanah beberapa kali, mulutnya berkemak-kemik.

Hay Hay hanya menonton saja karena merasa tidak sanggup menghadapi ilmu-ilmu sihir yang aneh itu. Tiba-tiba Min-san Mo-ko menggerakkan tangannya dan angin yang keras sekali menyambar ke arahnya, ke arah kakek berambut putih. Rambut dan pakaian kakek itu sampai melambai-lambai dan angin itu mengeluarkan suara menderu-deru. Akan tetapi di tengah badai yang mengamuk itu, terdengar suara yang lunak dan lembut seperti tadi,

"Min-san Mo-ko, perbuatan jahat hanya akan menimpa diri sendiri, bukan orang lain."

Sungguh aneh sekali, angin itu sekarang berputaran di sekeliling kakek berambut putih itu dan sesudah berputaran beberapa kali, angin itu membalik lalu menerjang Min-san Mo-ko dengan kekuatan yang berlipat ganda.

Hay Hay melihat betapa tubuh Min-san Mo-ko terjengkang dan bergulingan, sedangkan Ji Sun Bi berlindung di balik batu besar dan tengah mengenakan kembali pakaiannya sebab perempuan ini tadi sudah hampir telanjang sama sekali.

Min-san Mo-ko berteriak-teriak dengan suaranya yang melengking, lalu meloncat bangkit lagi. Kini dia mendorong dengan kedua telapak tangannya dan dari kedua telapak tangan itu kini mencuat sinar kemerahan, seperti api yang menyambar perlahan-lahan menuju ke arah kakek berambut putih.

"Siancai-siancai-siancai...!" Kakek itu berkata halus.

Dia pun menjulurkan kedua tangan dengan telapak tangan menghadap keluar. Dari kedua telapak tangannya kini keluar sinar terang yang perlahan-lahan meluncur ke depan, lantas menyambut sinar kemerahan yang keluar dari telapak tangan Min-san Mo-ko. Dua gulung sinar itu bertemu di antara mereka lantas bertaut, akan tetapi Hay Hay melihat betapa perlahan akan tetapi pasti, sinar kemerahan dari Min-san Mo-ko terdorong mundur, terus mundur oleh sinar terang.

Akan tetapi Hay Hay juga melihat betapa tubuh Ji Sun Bi berkelebat, kemudian dengan sepasang pedangnya, wanita itu berindap-indap menghampiri kakek berambut putih dari belakang, sudah siap untuk menusuk dari belakang dan agaknya kakek rambut putih itu tidak melihatnya. Melihat hal ini, Hay Hay meloncat dan membentak.

"Manusia curang!" Dan kakinya sudah menendang.

"Desss...!"

Tubuh Ji Sun Bi terlempar dan terbanting keras. Akan tetapi sekali ini pun Hay Hay tetap membatasi tenaganya sehingga wanita itu hanya terbanting dengan keras saja dan tidak sampai menderita luka parah.

Sementara itu sinar merah telah kembali ke telapak tangan Min-san Mo-ko, sedang sinar terang pun kembali ke tangan kakek berambut putih.

"Pergilah kalian!" kakek berambut putih itu berseru perlahan dan tangan kirinya melambai seperti menyuruh mereka pergi. Guru bersama muridnya itu seperti mentaati perintah ini dan mereka berdua pun mengambil langkah seribu, melarikan diri dari tempat itu!

Sesudah kedua orang itu pergi dan tidak nampak lagi, tiba-tiba kakek berambut putih itu mengeluh dan tubuhnya terhuyung, lalu dia jatuh terduduk dan bersila di atas rumput. Hay Hay terkejut bukan main, cepat dia menghampiri dan berlutut di dekat kakek itu.

"Locianpwe kenapakah ?" tanyanya khawatir melihat betapa wajah kakek ini pucat sekali.

Kakek itu membuka matanya, memandang kepada Hay Hay lantas tersenyum, mukanya ramah dan nampak kesabaran luar biasa membayang di seluruh bagian wajahnya. "Orang muda yang gagah, jangan menyebut Locianpwe padaku, karena aku hanyalah seorang pertapa yang lemah. Bahkan kalau tidak ada engkau, tadi aku tentu sudah tewas di ujung pedang wanita itu."

"Akan tetapi... Locianpwe sudah menyelamatkan saya dari... dari..." Tiba-tiba wajah Hay Hay berubah merah karena dia teringat akan peristiwa yang amat memalukan tadi.

Kakek itu mengangguk-angguk. "Aku tahu, hampir saja engkau mengalami penghinaan, kemudian mungkin sekali kematian. Guru dan murid itu memang jahat sekali dan mereka seperti bukan manusia lagi, tidak mengenal tata susila dan kesopanan lagi. Akan tetapi, aku hanya dapat mengusir mereka dengan kekuatan sihir. Apa bila mereka menyerangku dengan ilmu silat, hemmm, aku sama sekali tidak pandai ilmu silat dan... ahhhhhh!" Kakek itu memejamkan kedua matanya sambil menggigit bibir, nampaknya menahan rasa nyeri yang hebat.

"Locianpwe... apakah Locianpwe terluka...?" Hay Hay bertanya khawatir, sebab dia masih belum dapat menerima bahwa kakek yang sudah menyelamatkannya ini seorang pertapa lemah yang tidak pandai silat, hanya pandai dengan ilmu sihir saja.

Kakek itu mengangguk. "Aku memang sedang menderita sakit, akan tetapi bukan karena pertandingan tadi. Penggunaan sihir memaksa aku mengerahkan tenaga hingga membuat penyakitku menjadi bertambah berat. Ahhh, orang muda, bila tidak mendapatkan obatnya, agaknya paling lama dua puluh empat jam lagi aku terpaksa harus meninggalkan dunia yang keruh ini..."

Tentu saja Hay Hay menjadi prihatin bukan main. Bagaimana pun juga, kakek ini adalah penolongnya! "Locianpwe, apakah obat itu? Di manakah mencarinya? Biarlah saya yang akan mencarikan untukmu."

Sepasang mata yang sayu itu sekarang menjadi terang dan wajah kakek itu berseri, jelas nampak harapan timbul dalam hatinya ketika dia memandang Hay Hay.

"Benarkah engkau mau menolongku, orang muda yang gagah?"

"Harap Locianpwe tidak meragukan kesanggupan saya. Apalah artinya saya mempelajari ilmu kalau tidak untuk, menolong siapa saja yang terancam bahaya? Apa lagi Locianpwe baru saja menyelamatkan saya. Katakanlah di mana saya dapat menemukan obat itu dan apakah macamnya obat itu."

"Ahhh, kalau saja kekuatan sihirku ini dapat menundukkan harimau seperti menundukkan manusia, tentu sudah lama aku mampu mencari sendiri obat itu. Obat yang akan dapat menyembuhkan penyakitku adalah otak seekor harimau dan di hutan yang kelihatan dari sini itu terdapat banyak harimau hitam yang kumaksudkan."

"Otak seekor harimau hitam? Di hutan itu? Baiklah, harap Locianpwe menunggu sebentar di sini, saya akan mencarikannya!" Sesudah berkata demikian, Hay Hay segera meloncat dan berlari cepat.

Kakek itu tertegun melihat betapa dengan sekali berkelebat saja pemuda itu telah lenyap dari hadapannya. Seorang pemuda yang gagah perkasa dan mempunyai ilmu silat tinggi, pikirnya. Sayang dia tidak mahir ilmu sihir sehingga hampir saja menjadi korban kekuatan sihir Min-san Mo-ko!

Kakek ini pun mengangguk-angguk karena dia tahu dengan cara apa dia akan membalas kalau pemuda itu benar-benar dapat mencarikan obat dan dapat menyembuhkan penyakit yang dideritanya selama ini…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner