PENDEKAR MATA KERANJANG : JILID-29


Kebiasaan atau anggapan tradisionil seperti ini malah melanda keluarga ketua Cin-ling-pai yang terkenal sebagai perkumpulan para pendekar yang berkepandaian tinggi! Siapakah yang tak mengenal perkumpulan Cin-ling-pai yang terletak di sebuah puncak pegunungan Cin-ling-san, diketuai oleh Pendekar Sakti Cia Kong Liang yang pada waktu itu sudah berusia enam puluh lima tahun.

Biar pun telah menjadi seorang kakek, namun ketua ini masih nampak tegap dan gagah, wataknya masih saja keras, jujur dan memegang teguh peraturan. Seperti telah dituturkan di dalam kisah Asmara Berdarah, isteri ketua Cin-ling-pai ini, yaitu Bin Biauw, telah tewas di tangan Siang-tok Sian-li, seorang iblis wanita yang lihai sekali. Kini ketua Cin-ling-pai sudah menjadi seorang duda.

Dalam kedudukannya sebagai ketua Cin-ling-pai, dia dibantu oleh putera tunggalnya yang bernama Cia Hui Song, seorang pendekar yang usianya kurang lebih tiga puluh delapan tahun, sangat lihai karena selain sudah mewarisi kepandaian ayah dan mendiang ibunya, dia pun pernah digembleng oleh mendiang Siangkiang Lojin atau San-sian, salah seorang di antara Delapan Dewa, dan menerima ilmu-ilmu tinggi dalam hal sinkang dan ginkang.

Sejak belasan tahun yang lalu, Cia Hui Song ini menikah dengan Ceng Sui Cin, seorang wanita perkasa pula, pendekar wanita gemblengan sebab dia adalah puteri dari Pendekar Sadis Ceng Thian Sin yang tinggal di Pulau Teratai Merah dl lautan selatan. Ibunya juga seorang pendekar yang lihai bukan main, bernama Toan Kim Hong.

Selain menerima ilmu-ilmu dari ayah ibunya, Ceng Sui Cin juga memperoleh gemblengan dalam hal ginkang oleh Wu-yi Lo-jin, seorang di antara Delapan Dewa pula. Maka dapat dibayangkan betapa lihainya Ceng Sui Cin, bahkan lebih lihai dari suaminya!

Cia Hui Song dan Ceng Sui Cin mempunyai seorang anak gadis yang telah berusia lima belas tahun bernama Cia Kui Hong. Kui Hong merupakan seorang anak perempuan yang sehat dan mungil sejak kecilnya, juga mempunyai kecerdasan dan bakat yang baik sekali dalam ilmu silat sehingga ketika dia berusia lima belas tahun, dia telah mewarisi ilmu-ilmu kepandaian dari ayah dan ibunya. Wataknya juga sama dengan watak ibu dan ayahnya. Dia manis, galak dan berandalan, akan tetapi jenaka dan lincah, juga berjiwa pendekar yang gagah perkasa.

Melihat keadaan keluarga Cia ini, orang lain tentu membayangkan bahwa mereka adalah keluarga yang berbahagia. Mereka tidak kekurangan, merupakan keluarga yang sehat dan nampak selalu gembira. Juga mereka memiliki kedudukan sebagai keluarga pimpinan dari sebuah perkumpulan yang terpandang dan terhormat. Akan tetapi sebetulnya tidaklah demikian. Semenjak bertahun-tahun yang lalu, ketua Cin-ling-pai, Cia Kong Liang, dengan berterang menyatakan bahwa harapannya sendiri sudah terlepas darinya.

Pendapat yang kemudian menjadi tradisi seperti ini tentu saja merupakan suatu pendapat yang seluruhnya hanya berdasarkan pada kepentingan si aku, dalam hal ini kepentingan si orang tua sendiri. Dan pendapat yang berdasarkan kepentingan diri sendiri selalu akan mendatangkan tindakan-tindakan yang jahat.

Begitu pula dengan tradisi tentang anak laki-laki ini, dapat menimbulkan banyak tindakan yang sesat di kalangan orang-orang tua. Banyak yang menganggap keluarga mereka sial jika mempunyai anak perempuan, bahkan bukan merupakan dongeng belaka kalau ada keluarga yang anaknya, terlahir perempuan melulu, tanpa ada seorang pun yang laki-laki, lantas memperlakukan anak-anak mereka dengan kejam, bahkan ada yang membunuh anak yang ke sekian dan terlahir perempuan, atau menjual anak itu kepada keluarga lain untuk dijadikan budak, selir, atau bahkan pelacur!

Sungguh menyedihkan akibat dari suatu kebiasaan yang turun-temurun dilakukan orang namun tanpa mempergunakan pertimbangan kebijaksanaan lagi.


"Hui Song, sekarang di depan isterimu aku hendak minta ketegasan dan keputusanmu. Bagaimana dengan permintaanku agar engkau menikah lagi?"

Mendengar ini Sui Cin kaget bukan main. Suaminya belum pernah menceritakan tentang keinginan hati ayah mertuanya itu, dan mendengar betapa kini orang tua itu minta kepada suaminya agar menikah lagi, tiba-tiba mukanya menjadi pucat, lalu berubah merah sekali. Tetapi karena yang ditanya adalah suaminya maka dia pun diam saja, hanya memandang kepada suaminya dengan penuh perhatian.

Hui Song juga terkejut. Ayahnya sudah berterus terang di depan isterinya, berarti hal ini merupakan desakan yang terakhir dan sangat kuat, yang memaksa dia untuk mengambil keputusan, tidak seperti biasanya yang hanya dia elakkan dan tangguhkan saja.

Diam-diam dia merasa sangat kasihan kepada isterinya dan tidak berani menoleh untuk memandang wajahnya. Kalau mengingat isterinya dan cinta kasih di antara mereka, ingin rasanya dia meneriakkan keberatannya, akan tetapi untuk menolak dia pun takut kepada ayahnya. Dia tahu ayahnya menganggap keturunan laki-laki yang amat diharapkannya itu sebagai suatu hal yang penting sekali. Maka, dalam keadaan bingung dia menunduk dan berkata dengan suara lirih.

"Ayah, aku... aku tidak mempunyai pikiran untuk..."

"Hui Song!" Cia Kong Liang membentak karena sejak tadi amarahnya sudah menyesak di dada dan dia menduga bahwa puteranya tentu menolak sehingga kalimat jawaban yang belum putus itu langsung dianggapnya sebagai penolakan. "Apakah engkau ingin menjadi seorang anak yang put-hauw (tidak berbakti atau durhaka)? Ingat, sudah lama aku ingin mengundurkan diri dan menyerahkan kedudukan ketua Cin-ling-pai kepadamu, akan tetapi selama engkau belum mempunyai seorang anak laki-laki, maka terpaksa aku tidak berani mengundurkan diri dan mengoperkan kedudukan pimpinan padamu. Aku hanya ingin agar engkau mengambil seorang gadis yang baik-baik supaya dia dapat memberikan seorang cucu laki-laki kepadaku, untuk menyambung keturunan she Cia kita!”

“Tetapi, Ayah…”

“Tidak ada tetapi. Engkau harus menuruti perintahku, kecuali kalau engkau ingin menjadi seorang anak durhaka seperti kataku tadi, tidak hanya durhaka terhadap aku, terhadap mendiang ibumu, akan tetapi juga terhadap nenek moyangmu, nenek moyang she Cia!”

“Akan tetapi, Ayah, isteriku…”

Cia Kong Liang menoleh dan menatap wajah mantunya dengan sinar mata tajam penuh selidik, juga marah. “Ada apa dengan dia?”

Semenjak tadi Sui Cin berusaha menahan kemarahannya. Selama menjadi mantu ketua Cin-ling-pai itu, Cia Kong Liang selalu bersikap baik, penuh kasih sayang, dan juga sangat sayang kepada Kui Hong. Belum pernah ayah mertuanya itu mengeluarkan kata-kata atau memperlihatkan sikap yang menyakitkan hati.

Akan tetapi sekali ini Sui Cin merasa seolah-olah jantungnya ditusuk-tusuk dan sejak tadi dia sudah menahan kemarahannya yang makin berkobar. Kini, mendengar betapa ayah mertuanya itu menanggapi secara acuh saja, dia tidak tahan lagi.

"Ayah, apakah keluarga ini masih menganggap saya sebagai manusia, ataukah sebagai kertas pembungkus saja?"

Mendengar pertanyaan ini, Cia Kong Liang melebarkan matanya. "Maksudmu?"

"Jika saya dianggap sebagai kertas pembungkus, maka hanya dipergunakan dan dirawat sewaktu diperlukan saja, kalau tidak diperlukan lagi boleh dibuang begitu saja! Akan tetapi kalau diperlakukan sebagai manusia, mengapa saya tidak pernah diajak berunding? Saya adalah isteri Cia Hui Song, saya berhak untuk menentukan tentang dirinya!"

"Tapi... tapi aku yakin bahwa engkau tentu akan menyetujui kalau Hui Song mengambil seorang gadis lain sebagai isteri, untuk menyambung keturunan she Cia..."

"Saya tidak setuju!" teriak Sui Cin, sekarang tidak lagi bersopan-sopan, melainkan secara spontan mengeluarkan isi hati berikut kemarahannya. Mendengar teriakan ini dan melihat sikap anak mantunya, Cia Kong Liang yang juga memiliki hati keras itu seketika bangkit kemarahannya.

"Engkau... tidak berhak untuk menolak atau tidak menyetujui! Engkau hanyalah seorang isteri, hanya seorang anak menantu, yang harus patuh kepada suaminya, kepada ayah mertuanya!"

"Ayah, kapankah aku tidak pernah patuh?" teriak Sui Cin. "Selama belasan tahun tinggal di sini, bukankah aku selalu patuh? Akan tetapi sekali ini menyangkut hubungan di antara suami isteri. Aku tidak pernah bersalah kepada Hui Song, aku menjadi seorang isteri yang dicinta dan mencinta, kenapa tiba-tiba saja Hui Song harus menjadi milik wanita lain? Aku tidak mau membaginya dengan wanita lain! Aku tidak setuju kalau dia mengambil seorang wanita lain sebagai isteri ke dua!"

"Engkau tidak berhak melarang!" teriak Cia Kong Liang pula dengan sama marahnya dan menudingkan telunjuknya kepada muka anak mantu yang biasanya amat disayangnya itu. "Engkau sudah tidak mampu melahirkan seorang keturunan laki-laki!"

"Belum tentu kalau aku yang tidak mampu! Siapa tahu Hui Song juga tidak mampu untuk mempunyai turunan laki-laki? Jangan hanya menyalahkan aku seorang!" Kedua mata Sui Cin sudah mulai basah dengan air mata, akan tetapi dia tidak menangis dan memandang kepada ayah mertuanya dengan mata terbelalak biar pun telah basah bahkan air matanya mulai jatuh berderai.

"Kalau dia mengambil gadis lain, tentu dapat mempunyai keturunan laki-laki!"

"Mungkin saja! Kalau aku menikah lagi dengan pria lain juga mungkin saja aku melahirkan anak laki-laki! Akan tetapi, pernikahan antara kami jika tidak membuahkan anak laki-laki, itu bukanlah salahku, atau salah Hui Song. Jangan salahkan kepadaku, Ayah, pendeknya aku tidak setuju kalau Hui Song menikah lagi!"

Ketua Cin-ling-pai itu menjadi marah bukan main. Belum pernah dia didebat dan ditentang orang seperti itu, apa lagi kini yang menentangnya adalah anak mantunya sendiri. Hal ini merupakan pukulan batin yang sangat hebat, yang membuat dia marah bukan main dan dia telah bangkit dari kursinya, mengepal tinju dan agaknya sudah siap untuk menyerang Sui Cin. Melihat ini, Sui Cin juga bangkit berdiri, siap untuk membela diri!

"Sui Cin, jangan...!" Hui Song berteriak dan dia lalu menjatuhkan diri berlutut di hadapan ayahnya, membentur-benturkan dahinya ke lantai. "Ayah... Ayah, ampunkanlah isteriku, Ayah. Apa bila Ayah hendak menjatuhkan hukuman, hukumlah aku. Ayah, tenanglah dan ampunkan kami."

Melihat ini, Cia Kong Liang sadar kembali. Dia tahu bahwa kalau dia menyerang Sui Cin dan mantunya itu melawan, dia bahkan akan kalah oleh anak mantunya yang sangat lihai itu. Dan kalau sampai terjadi hal demikian, bukankah akan memalukan sekali dan nama besar Cin-ling-pai akan hancur sama sekali.

Bayangkan bagaimana akan pendapat orang kalau mendengar bahwa ketua Cin-ling-pai bentrok dengan mantu perempuannya, bahkan dipukul roboh oleh mantu perempuannya sendiri! Dia lalu menjatuhkan dirinya kembali di atas kursi, napasnya terengah-engah dan mukanya masih merah sekali.

"Sudahlah,sekarang engkau boleh pilih. Engkau menuruti permintaan ayahmu, mengambil seorang gadis lain untuk menyambung keturunan she Cia, atau aku yang akan memungut seorang murid yang baik untuk kujadikan putera angkatku, kuberikan she Cia kepadanya, kemudian dia kukawinkan agar dapat menyambung keturunan she Cia, walau pun secara memungut anak. Dan engkau... jangan harap lagi aku mengakuimu sebagai anak."

"Ayah...!" Hui Song berteriak dan kini air matanya pun jatuh bertitik.

Sui Cin menjadi semakin marah. Dianggapnya bahwa orang tua itu sungguh tidak adil dan keterlaluan. Maka, melihat suaminya menangis, dia pun segera berkata sambil menatap ayah mertuanya dengan pandang mata tajam.

"Ayah, mengapa Ayah begitu mendesak Hui Song? Kenapa tidak Ayah sendiri saja yang menikah lagi dan mempunyai seorang anak keturunan laki-Iaki yang lain?"

Mendengar ini, Hui Song, merasa mempunyai harapan untuk mengatasi persoalan itu. "Itu benar, Ayah..."

"Diam...!" Cia Kong Liang membentak penuh kemarahan. "Ceng Sui Cin, jangan engkau mengajukan usul yang begitu gila!" Sejak Sui Cin menjadi mantunya, baru sekarang dia menyebut nama menantunya itu lengkap dengan nama she-nya, dan Sui Cin merasakan benar sebutan itu. Dia sudah mulai dianggap orang luar oleh ayah mertuanya ini!

"Bukan aku yang mengajukan usul yang gila, Ayah, tetapi Ayah sendiri yang mengajukan permintaan yang bukan-bukan."

"Cukup!" Kembali ketua Cin-lin-pai itu membentak. "Sekali lagi, Hui Song, kau boleh pilih. Engkau menikah lagi dengan gadis lain untuk mendapatkan keturunan she Cia, atau aku tidak menganggapmu sebagai anakku lagi dan engkau boleh pergi dari sini bersama isteri dan anakmu."

Mendengar ini, Sui Cin juga berteriak, "Cia Hui Song, dengarkan kata-kataku. Aku akan pergi bersama Kui Hong kembali ke rumah orang tuaku. Kalau engkau kawin lagi, kita tak perlu berjumpa kembali. Kalau engkau masih memberatkan kami, susullah kami ke Pulau Teratai Merah!" Setelah berkata demikian, dengan sekali berkelebat Sui Cin sudah lenyap dari ruangan itu, keluar untuk mencari anaknya.

"Sui Cin...!" Hui Song berkata dan dia pun terkejut bukan main, bangkit berdiri.

"Hui Song, jika engkau pergi meninggalkan ruangan ini, jangan harap akan dapat kembali kepadaku!"

Hui Song yang sudah bangkit itu tersentak dan menoleh kepada ayahnya, lantas menoleh ke arah pintu. Pada waktu itu hatinya terobek menjadi dua, tubuhnya menggigil, kemudian tiba-tiba dia pun mengeluh dan terpelanting jatuh pingsan saking hebatnya pukulan batin yang dideritanya.

Tiada sesuatu yang abadi di dalam kehidupan ini! Perubahan terjadi setiap saat, seperti matahari yang tiba-tiba tertutup awan hitam sehingga dunia menjadi gelap. Hujan yang deras pun tiba-tiba dapat terhenti dan langit kembali menjadi terang. Bahkan perubahan yang paling hebat dapat saja terjadi setiap waktu dengan tiba-tiba, yaitu kalau kematian datang menjemput.

Orang yang selalu waspada pasti mempunyai kebijaksanaan untuk menerima segala hal yang terjadi sebagai suatu kewajaran, sebagai suatu hal yang sudah semestinya terjadi, karena itu takkan mengguncangkan batinnya. Bahkan kematian yang datang menjemput juga akan diterima dengan iklas, pasrah dan mulut tersenyum karena maklum bahwa dia tidak berdaya, tidak berkuasa, hanya menjadi anak wayang saja yang harus tunduk dan patuh terhadap peraturan yang dijalankan oleh Sang Sutradara!

Dijadikan pemegang peran apa pun tidak penting, biar pun dijadikan raja atau pengemis, orang kaya atau pun orang miskin, pintar atau bodoh, sehat atau berpenyakitan. Tidak mengeluh kalau memegang peran rendah, tidak berlebihan gaya kalau memegang peran mulia, karena yang paling penting adalah menghayati peran itu, memainkan peran yang dipegangnya dengan sebaik mungkin.

Memegang peran apa pun juga, baik yang kalah atau yang menang, yang rendah atau yang tinggi, yang miskin atau kaya, bodoh atau pandai, kesemuanya itu hanyalah untuk sementara saja dan semua akan berakhir sama, yaitu tamatnya cerita atau datangnya kematian. Karena maklum bahwa segala sesuatu, yang baik mau pun yang buruk, tidak abadi, bahwa kehidupan sebagai roda, maka tak akan mengeluh selagi berada di bawah dan tidak akan sombong selagi berada di atas. Demikianlah seorang yang bijaksana…..


********************

Dapat dibayangkan betapa hancur rasa hati Cia Hui Song. Dia mengeluh panjang pendek, sampai tiga hari dia tidak mampu meninggalkan kamarnya, hanya rebah dengan gelisah dan menyesali nasibnya setelah dia mendekati usia empat puluh tahun itu. Hatinya ingin sekali pergi menyusul isteri dan puterinya yang pergi secara mendadak tanpa pamit lagi, hanya membawa buntalan pakaian saja.

Dia tahu akan kekerasan hati dan keangkuhan isterinya, tentu isterinya itu mengajak Kui Hong untuk pergi ke Pulau Teratai Merah dan isterinya tidak akan kembali ke Cin-ling-san sebelum dia datang menyusul. Akan tetapi ia pun mengenal baik kekerasan hati ayahnya. Kalau dia nekat pergi, tentu dia benar-benar takkan diakui lagi sebagai anak dan ayahnya tak mungkin mau mengampuninya lagi.

Terjadi perang di dalam batinnya. Dia membayangkan betapa ayahnya akan menderita batin yang amat hebat apa bila dia memaksa diri meninggalkan ayahnya. Ayahnya hanya mempunyai dia seorang, tidak ada lagi keluarga lainnya, dan hanya kepada ayahnya dia memandang dan bergantung. Kalau dia pergi, mungkin hal itu akan menghancurkan hati ayahnya sehingga dia akan mempercepat kematian ayahnya dan dia tentu akan merasa berdosa selama hidupnya kalau sampai terjadi hal seperti itu.

Sebaliknya, isteri dan puterinya akan hidup aman dan terjamin bila berada di Pulau Teratai Merah dan mudah-mudahan saja kelak perasaan Sui Cin akan melunak. Bagaimana pun juga, sebagai putera tunggal tak mungkin ia meninggalkan ayahnya, tak mungkin menjadi anak durhaka yang dikutuk ayahnya sendiri. Selain itu, dia pun harus menjaga nama dan kehormatan Cin-ling-pai, sungguh pun dia harus mengorbankan perasaannya yang seperti tertindih selalu dan semangatnya seolah-olah terbang mengikuti isteri dan puterinya.

Bagaikan seorang yang patah semangat, Cia Hui Song pendekar sakti itu menurut saja ketika ayahnya mencarikan seorang gadis untuk menjadi isterinya, untuk dapat memberi seorang putera penyambung keturunan Cia, keturunan keluarganya. Demi ayahnya, demi keluarga Cia, dia harus mentaati perintah ayahnya walau pun diam-diam hatinya hancur.

Tak mungkin dia bisa mencinta isterinya yang baru, seorang gadis berusia delapan belas tahun dari keluarga Siok, seperti cintanya terhadap Sui Cin. Dia hanya merasa kasihan kepada isteri barunya, Siok Bi Nio, karena seperti sudah lazim pada jaman itu, gadis ini pun menjadi isterinya karena kehendak orang tuanya.

Orang tua mana yang tidak akan merasa bangga apa bila anak perempuannya menjadi mantu Ketua Cin-ling-pai, biar pun hanya menjadi isteri ke dua? Nama besar Cin-ling-pai akan mengangkat derajat keluarga Siok pula di samping kehidupan makmur yang akan dapat dinikmati oleh gadis she Siok itu.

Demikianlah, Cia Hui Song menikah lagi tanpa dirayakan secara meriah karena sungguh pun dia tidak berani menolak kehendak ayahnya untuk kawin lagi, dia berkeras tidak mau jika pernikahan itu dirayakan, tetapi terjadi secara sederhana saja dan hanya melakukan upacara sembahyangan sebagaimana mestinya tanpa mengundang banyak tamu.

Hati Kakek Cia Kong Liang sangat puas dan gembira karena puteranya mau memenuhi permintaannya. Tetapi, tanpa ada yang mengetahuinya, dia sendiri merasa amat berduka dengan kepergian Kui Hong tanpa pamit. Dia amat sayang kepada cucunya itu, bahkan ketika Kui Hong masih kecil, dialah yang menimang-nimang anak itu. Akan tetapi sayang bahwa Kui Hong adalah seorang cucu perempuan, dan kakek ini merasa prihatin bahkan malu kalau sampai puteranya tidak memiliki anak laki-laki yang kelak akan menyambung keturunan keluarga Cia.

Setelah Kui Hong pergi tanpa pamit bersama ibunya, dia merasa sangat kehilangan dan sering kali, seorang diri di dalam kamarnya, kakek ini menutupi mukanya dan menghapus beberapa butir air mata yang keluar karena duka ketika teringat akan cucu perempuan yang amat disayangnya itu. Dia tidak merasa bersalah dalam urusan itu, merasa bahwa keputusannya itu sudah benar dan tepat, dan mantunyalah yang tidak tahu diri, yang tidak adil, tidak seperti para wanita lainnya yang tentu bahkan akan menganjurkan sang suami untuk mengambil isteri muda agar memperoleh keturunan laki-laki!

Lebih gembira dan puas lagi hati Kakek Cia Kong Liang ketika setahun setelah Hui Song menikah dengan Siok Bi Nio, mantu perempuannya itu melahirkan seorang anak laki-laki. Harapannya dan dambaannya terkabul sudah! Keluarga Cia tidak akan putus, melainkan akan bersambung terus dengan lahirnya Cia Kui Bu, cucunya yang kedua itu. Karena itu, begitu cucu ini terlahir, Cia Kong Liang lalu mengundurkan diri dan mengangkat Cia Hui Song menjadi ketua Cin-ling-pai!

Jabatan ini sedikit banyak menghibur hati Hui Song yang selalu teringat kepada Ceng Sui Cin dan Kui Hong. Kesibukan di dalam perkumpulan menyita banyak waktu dan pikiran. Dia bekerja keras untuk memperbaiki segala kekurangan dalam perkumpulan Cin-ling-pai, memperketat peraturan dan menambah latihan-latihan untuk menggembleng para anggota dan murid agar kelak bisa mengangkat tinggi nama besar Cin-ling-pai. Bahkan dia sendiri terjun untuk melatih murid-murid kepala.

Sementara itu, Cia Kong Liang mernperoleh pekerjaan baru yang mengasyikkan hatinya, dan merupakan hiburan pula padanya karena kini dia dapat mengasuh cucunya sebagai pengganti Kui Hong…..!

********************

Kita tinggalkan dulu keluarga Cia di Cin-ling-san ini dan mari kita ikuti perjalanan Ceng Sui Cin dan anaknya, Cia Kui Hong. Pada hari itu juga, malam-malam setelah dia ribut mulut dengan ayah mertuanya, Sui Cin memanggil anaknya. Kui Hong terkejut sekali melihat ibunya berkemas dan melihat betapa pada wajah ibunya ada tanda bahwa ibunya habis menangis.

"Ibu, ada apakah, Ibu?" tanyanya, hatinya tidak enak.

Biasanya ibunya selalu ramah dan senang bergurau, dan dia sendiri pun paling senang bergurau dan memandang dunia ini dengan sepasang mata berkilauan dan wajah berseri serta hati yang lapang dan terang. Akan tetapi, kini ibunya kelihatan murung dan kusut, maka dia pun tidak berani bergurau seperti biasanya dan tidak berani merangkul, hanya menyentuh lengan ibunya sambil mengajukan pertanyaan itu.

Dengan menahan tangisnya karena dia tidak mau memperlihatkan kelemahan di hadapan anaknya, Sui Cin berkata, "Kui Hong, engkau berkemaslah, keluarkan semua pakaianmu yang terbaik, sekarang juga kita pergi ke Pulau Teratai Merah."

Sejenak wajah yang manis itu berseri dan matanya terbelalak. "Ke tempat tinggal kakek dan nenek di Laut Selatan?"

"Benar, cepatlah berkemas!" kata ibunya singkat.

"Horeee... kita pesiar ke lautan, ke tempat Kakek Ceng!" Gadis itu berteriak dan bersorak seperti anak kecil saking girang hatinya.

Baru dua kali dia berkunjung ke tempat yang jauh itu, dan yang terakhir kalinya ketika dia baru berusia sepuluh tahun. Sekarang dia telah berusia lima belas tahun, dan mengenang tempat yang indah sekali di pulau itu, dikelilingi lautan yang liar dan luas, dia pun merasa girang bukan main.

Setelah mereka berdua selesai berkemas, Sui Cin yang sudah selesai lebih dulu, segera menggendong buntalan besar pakaiannya dan menyuruh puterinya melakukan hal yang sama.

"Mari kita berangkat!"

"Ehh, apakah ayah tidak ikut, Ibu?" tiba-tiba gadis remaja itu bertanya.

Ibunya hanya menggeleng kepala tanpa menjawab. Mereka keluar dari dalam kamar dan ibunya mengajak dia langsung keluar.

"Ibu, kita pamit dulu dari kongkong (Kakek) dan ayah "

"Tidak usah, aku sudah pamit tadi. Kita langsung berangkat!" kata ibunya singkat. Tentu saja hal ini tidak dapat diterima oleh Kui Hong yang amat sayang kepada kakeknya dan ayahnya.

"Tapi, Ibu..."

"Cukup! Tidak perlu banyak cakap lagi, mari kita langsung berangkat, lihat, malam sudah semakin gelap!"

"Tetapi mengapa tergesa-gesa, Ibu? Bukankah berangkat besok pagi-pagi lebih baik dan aku harus pamit... "

"Diam dan mari kita pergi!" Tiba-tiba Sui Cin membentak.

Gadis remaja itu terkejut bukan main melihat ibunya demikian galak, apa lagi melihat dua titik air mata meloncat keluar dari mata ibunya. Dia maklum bahwa ibunya sedang marah sekali, maka dia pun tidak berani membantah lagi dan keluarlah dia mengikuti ibunya. Dia merasa lebih terkejut dan heran lagi melihat betapa setelah berada di luar rumah, ibunya langsung saja menggunakan ilmu berlari cepat, meluncur di dalam gelap seperti terbang saja. Terpaksa ia pun mengerahkan tenaganya untuk mengimbangi kecepatan lari ibunya dan mereka lalu melakukan perjalanan yang amat cepat menuju ke tenggara.

Dapat dibayangkan alangkah heran rasa hati Kui Hong melihat ibunya tidak pernah mau berhenti berlari sampai akhirnya, beberapa jam kemudian, lewat tengah malam, Kui Hong yang sudah berkeringat dan napasnya memburu, berkata kepada ibunya.

"Ibu, jangan cepat-cepat... ahh, aku... aku sudah lelah sekali...," dan gadis itu pun mogok lari.

Melihat ini, Sui Cin baru teringat akan keadaan puterinya. Dia pun lantas berhenti berlari dan mengajak puterinya beristirahat di bawah sebatang pohon besar. Dia sendiri pun baru sadar bahwa peluh sudah membasahi seluruh leher dan mukanya, betapa napasnya juga memburu.

Mereka duduk di atas batu-batu yang banyak terdapat di kaki gunung itu, memandang ke atas. Tidak ada bulan di langit, namun langit yang kelam itu penuh dengan bintang yang nampak gemerlapan indah sekali pada latar belakang hitam itu, nampak bagaikan ratna mutu manikam di atas beludru hitam. Kadang-kadang nampak bintang meluncur dengan berekor panjang lalu lenyap ditelan kegelapan. Bintang jatuh? Atau bintang pindah?

Kui Hong selalu kagum jika memandang angkasa penuh bintang, atau angkasa diterangi bulan purnama. Baginya, angkasa penuh denganrahasia alam yang amat hebat, sehingga orang-orang pandai seperti ayahnya dan bahkan kakeknya pun tidak mampu memberikan penjelasan ketika dia bertanya kepada mereka tentang bulan dan bintang. Ia tahu bahwa ibunya juga suka menikmati kebesaran alam, bahkan ibunya suka berkhayal dan bercerita bahwa karena menurut dongeng, bintang-bintang itu merupakan dunia-dunia, maka tentu di setiap bintang dikuasai oleh seorang dewa.

Kalau begitu, alangkah banyaknya dewa-dewa di langit! Tidak terhitung banyaknya! Lebih banyak bintang di langit dari pada rambut di kepalamu, demikian kata ibunya. Mungkin hal itu benar, pikir Kui Hong, sebab walau pun sangat banyak, apa bila memang dikehendaki, rambut di kepala masih dapat dihitung manusia. Akan tetapi bintang di langit? Siapakah yang mampu menghitungnya? Makin gelap langit, makin banyaklah bintang yang nampak, sampai berdempetan dan tak mungkin dihitung.

"Aduh, bukan main indahnya bintang-bintang itu, Ibu..." Kui Hong yang sejenak lupa akan segala hal itu berkata penuh kagum.

Akan tetapi ibunya tidak menjawab dan dia terheran. Biasanya ibunya paling suka memuji keindahan alam. Dia segera menengok dan di dalam keremangan malam itu dia melihat ibunya menyembunyikan muka di balik lengan yang memeluk lutut! Baru dia teringat akan keadaan mereka dan Kui Hong merasa gelisah sekali.

Dia bukan anak kecil lagi. Tentu sudah terjadi sesuatu yang hebat, yang membuat ibunya berduka seperti itu. Jangan-jangan kakeknya atau neneknya yang di Pulau Teratai Merah meninggal dunia, pikirnya dan dia pun bergidik ngeri. Tak mungkin! Kalau benar terjadi hal demikian, tentu ayahnya pun ikut pergi, bahkan Kakek Cia Kong Liang juga tentu pergi melayat. Tidak, tentu ada peristiwa lain.

"lbu... lbu, engkau kenapakah, Ibu...?" tanyanya lirih sambil menyentuh tangan ibunya.

Pertanyaan puterinya ini menyentuh senar yang terhalus di dalam hati Sui Cin. Dia terisak sambil menyembunyikan muka di balik kedua tangannya. Dia menangis!

Ibunya menangis! Kui Hong tersentak kaget. Belum pernah dia melihat ibunya menangis! Dia selalu menganggap bahwa ibunya adalah seorang wanita yang terhebat, yang gagah perkasa dan pantang menangis. Bahkan pada waktu dia masih kecil dan suka menangis, ibunya sering memberi nasehat bahwa seorang wanita gagah lebih menghargai air mata dari pada darah!

Keringat bahkan darah sekali pun boleh menetes kalau perlu, akan tetapi air mata harus dipantang! Tangis hanya menunjukkan kelemahan saja, dan seorang wanita yang gagah perkasa bukanlah orang yang lemah. Demikian kata-kata ibunya yang hingga kini masih diingatnya, kata-kata yang ikut menggembleng dirinya menjadi seorang gadis yang tabah, keras hati, penuh keberanian menghadapi apa pun juga tanpa mengeluh. Tapi sekarang, ibunya menangis!

"Ibu...!" Kui Hong merangkul ibunya dan memaksa ibunya supaya menurunkan tangan. Dipandanginya wajah ibunya. Memang tidak banyak air mata yang mengalir keluar, akan tetapi tetap saja terbukti bahwa ibunya menangis. "Ibu, engkau menangis? Mungkinkah ini? Apakah yang sudah terjadi, Ibuku?" Kui Hong bertanya sambil menciumi pipi ibunya yang agak basah oleh air mata.

Dengan sekuat tenaga Sui Cin menekan perasaannya, menghapus air matanya. Anaknya ini bukan kanak-kanak lagi, melainkan seorang gadis menjelang dewasa, maka tak perlu menyembunyikan keadaan yang sesungguhnya, karena Kui Hong kini tentu sudah dapat mengerti.

"Ayahmu... Ayahmu harus menikah lagi." jawabnya dan begitu dia menjawab, dia merasa lancar dan bisa menahan getaran perasaannya. Sekarang kedukaannya terganti oleh rasa penasaran dan kemarahan.

Mendengar keterangan ini, Kui Hong terkejut sekali, juga heran dan sejenak ia kehilangan akal, hampir tidak dapat mengerti dan tidak dapat menangkap maksud kata-kata ibunya. Ayahnya harus menikah lagi? Keterangan macam apa ini?

Akan tetapi, semuda itu Kui Hong sudah digembleng untuk dapat menguasai hatinya dan sikapnya masih tetap tenang walau pun keterangan ibunya tadi membuatnya terkejut dan terheran-heran sekali. Sukar baginya untuk dapat percaya bahwa ayahnya akan menikah lagi! Dia mempertimbangkan keterangan ibunya dalam satu kalimat tadi. Ayahnya harus menikah lagi. Harus?

"Ibu, siapa yang mengharuskan ayah menikah lagi?"

"Kakekmu, siapa lagi?" Suara ibunya mengandung penasaran dan kemarahan sehingga Kui Hong dapat menduga bahwa tentu ibunya sudah ribut dengan kakeknya.

"Menikah dengan siapa?"

"Dengan siapa saja, ayahmu sendiri pun belum tahu."

"Tetapi, kenapa? Kenapa kongkong menyuruh dan bahkan mengharuskan ayah menikah lagi? Bukankah ayah sudah menikah dengan Ibu?"

"Kongkong-mu ingin mempunyai seorang cucu laki-laki..."

"Akan tetapi, kongkong sudah mempunyai cucu aku!"

"Dia ingin cucu laki-laki untuk menyambung keluarga Cia! Karena aku tidak mempunyai anak laki-laki, maka ayahmu diharuskan menikah lagi."

"Dan ayah... ayah mau...?"

"Ayahmu terpaksa, kalau tidak, dia tak akan diakui lagi sebagai anak kongkong-mu, akan diusir!"

"Ahhh...!" Wajah Kui Hong berubah, kini agak pucat karena dia mulai mengerti benar dan tahu bahwa memang sudah terjadi peristiwa yang hebat sekali, bahkan merupakan mala petaka bagi ibu dan ayahnya, yang mengubah kehidupan keluarga mereka semua!

"Jadi karena itukah Ibu pergi? Tapi... tapi mengapa pergi, Ibu? Mengapa kalau Ibu tidak setuju, Ibu tidak melarang saja pada ayah agar dia tidak usah menikah lagi?"

"Aku sudah menyatakan tidak setuju, bahkan aku sampai cekcok dengan kongkong-mu, akan tetapi kongkong-mu memaksa ayahmu, jika ayahmu tidak mau, maka ayahmu harus pergi dan tidak diakui sebagai anak lagi."

"Ah, kenapa Ibu tidak bilang begitu selagi kita pergi. Biarlah aku kembali ke sana dan aku akan menegur kongkong dan ayah!" Kui Hong bangkit berdiri sambil mengepal tinju, akan tetapi melihat itu, Sui Cin merangkul anaknya disuruhnya duduk kembali.

"Tidak ada gunanya, Kui Hong. Engkau tidak tahu alangkah keras hati kongkong-mu dan betapa pentingnya cucu laki-laki baginya, atau bagi laki-laki yang mana pun juga di dunia ini agaknya. Sungguh menjemukan! Sudahlah, biarlah kita pergi saja dan kalau memang ayahmu ingin berbakti pada kongkong-mu dan melupakan kita, biarlah kita hidup sendiri, di rumah orang tuaku di Pulau Teratai Merah."

"Tapi, Ibu, kenapa Ibu tidak menentang dengan kekerasan saja?"

"Tiada gunanya, juga tidak baik dan memalukan! Aku sudah mengambil keputusan untuk pulang saja ke Pulau Teratai Merah dan kalau ayahmu menyusul kita dan mengurungkan niat kongkong-mu yang mengharuskan dia menikah lagi, baru aku mau ikut dengannya. Bila sebaliknya yang terjadi, dia menikah lagi, biarlah selamanya kita tinggal saja di Pulau Teratai Merah."

Percakapan itu terhenti dan kedua orang wanita itu tenggelam ke dalam lamunan masing-masing. Beberapa kali Cia Kui Hong mengepal tinjunya, hatinya marah dan panas sekali, melebihi panasnya hati ibunya.

Apa bila kelak ayahnya benar menikah lagi, dia akan menegur ayahnya itu, dan menegur kakeknya, kalau perlu dia akan membunuh wanita yang menjadi isteri ayahnya, ibu tirinya yang mendatangkan kehancuran di dalam hidup ibunya. Ibunya kini sampai meninggalkan rumah, kedinginan di kaki gunung ini, di bawah pohon, terlunta-lunta…..!

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner