PENDEKAR MATA KERANJANG : JILID-31


Tiba-tiba telinganya yang terlatih dan tajam itu mendengar suara yang tidak wajar di atas genteng, seperti suara seekor kucing yang berjalan dengan lembut. Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, Kui Hong merasa curiga dan dia pun sudah siap siaga, dengan seluruh urat syaraf menegang.

Bulu tengkuknya tiba-tiba meremang saat dia melihat bayangan berkelebat di luar jendela kamar yang gelap itu, sebab dia teringat akan setan-setan. Jangan-jangan iblis yang lewat di depan jendela tadi, karena gerakannya demikian cepat dan bayangan itu pun semakin lama semakin membesar!

Kalau menghadapi lawan manusia, betapa pun lihainya, Cia Kui Hong tidak akan mundur meski setapak pun. Akan tetapi kalau harus melawan siluman, hiihh, belum apa-apa bulu tengkuknya sudah meremang, tengkuknya terasa dingin dan jantungnya berdebar keras, tubuhnya pun agak gemetar!

Kedua matanya terbelalak memandang bayangan yang makin membesar di luar jendela. Bayangan itu dapat nampak dari kertas yang menempel pada jendela, tentunya bayangan seorang laki-laki karena tubuhnya kelihatan tegap, bukan seperti tubuh wanita walau pun bayangan itu tentu saja tidak nampak jelas.

Karena rasa takut terhadap bayangan yang disangkanya iblis itu, yang muncul dari dalam pikiran Kui Hong sendiri karena sarat dengan gambaran-gambaran tentang iblis, seketika Kui Hong kehilangan kegagahannya dan dia pun menyentuh kaki ibunya.

"Ibu, Ibu, bangunlah...," bisiknya.

Sui Cin adalah seorang pendekar wanita. Ketidak wajaran sedikit saja sudah cukup untuk membuatnya tergugah dari tidurnya dan begitu sadar, dia pun telah bangkit duduk dengan cepat.

"Ada apa?" bisiknya kembali.

"Lihat...!" Kui Hong menunjuk ke arah jendela.

"Srttt...! Srttt...!"

Nampak dua sinar merah kecil meluncur dari tangan pendekar wanita ini ke arah jendela dan ternyata dia telah menyerang bayangan itu dengan jarum-jarum merahnya yang amat lihai. Jarum-jarum kecil itu meluncur lalu menembus kain dan kertas jendela, menyerang langsung bayangan yang berdiri di luar jendela, bayangan yang nampak sebentar besar sebentar kecil.

"Hemmm...!" Terdengar seruan kaget dan bayangan itu pun lenyap!

Dengan sekali lompat Sui Cin sudah berada di dekat jendela, membukanya dan meloncat keluar, dikuti oleh Kui Hong. Akan tetapi tidak nampak seorang pun di luar, hanya lampu gantung yang berada di ruangan luar kamar itu bergoyang-goyang. Melihat betapa orang yang diserang ibunya itu selain dapat menyelamatkan diri, juga dapat demikian cepatnya menghilang, kembali Kui Hong bergidik.

"Dia tentu iblis, Ibu...," katanya dengan suara gemetar.

Sui Cin mengerutkan alisnya. Percuma saja kalau mengejar atau mencoba untuk mencari orang tadi karena tentu sudah bersembunyi dan menghilang, dan jika dia mengejar tentu hanya akan menimbulkan keributan yang tidak menguntungkan saja. Dia cepat mendekati jendela lantas meneliti ke bawah. Di bawah sinar lampu gantung dia melihat jelas bekas sepatu di bawah jendela, menginjak lantai yang berdebu.

"Dia bukan setan, melainkan manusia biasa. Lihat telapak sepatunya di sini," katanya.

Kui Hong juga memeriksa tapak kaki itu. "Aih, betapa bodohku, Ibu. Kalau aku tadi tidak takut setengah mati dan langsung menerjang keluar, mungkin aku dapat menangkapnya. Akan tetapi... hiiih, kenapa bayangannya bisa membesar dan mengecil seperti itu? Kalau bukan setan..."

Sui Cin tersenyum. "Itu adalah permainan sinar lampu, Kui Hong. Masuklah dan kau lihat bayanganku di balik jendela."

Kui Hong melompat masuk kamar, menutupkan daun jendela dan ketika ia melihat, benar saja, bayangan ibunya menjadi kecil, kemudian membesar, persis seperti bayangan orang tadi. Ibunya kemudian masuk.

"Mengertikah engkau? Lampu itu tergantung di sana. Kalau orang itu mundur dari jendela mendekati arah lampu, tentu saja bayangannya akan menjadi besar dan sebaliknya kalau dia menjauhi lampu, menghampiri jendela, bayangannya akan mengecil."

Ingin rasanya Kui Hong menampar kepalanya sendiri. "Betapa tololnya aku, Ibu! Sungguh mati, tadi kusangka dia adalah seorang iblis. Untung aku tidak mengompol saking seram dan takutku!" Gadis itu cekikikan teringat akan ulahnya sendiri.

"Nah, itulah. Jangan mudah membiarkan batin dicengkeram oleh rasa takut! Takut timbul karena keraguan dan ketidak mengertian. Kalau ada sesuatu, selidiki saja dulu agar tidak menimbulkan keraguan dan ketakutan. Rasa takut memang dapat membuat batin menjadi tumpul sehingga orang bisa melakukan hal yang lucu-lucu, aneh-aneh dan tolol sekali."

"Tapi, siapakah orang itu, Ibu?"

"Aku tidak tahu. Jelas dia seorang laki-laki, dan tentu memiliki ilmu kepandaian silat yang cukup baik. Kalau tidak, tentu dia telah terkena serangan jarum-jarumku tadi. Mungkin dia seorang pencuri biasa yang mempunyai sedikit kepandaian. Serangan jarum itu pun tidak terlampau berbahaya sebab sudah menembus kain dan kertas jendela, dan aku pun tidak bermaksud mencelakai orang yang belum diketahui jelas kesalahannya."

"Akan tetapi dia telah mengintai kamar ini!"

"Mungkin, akan tetapi siapa tahu dia hanya kebetulan lewat saja? Sudahlah, sebaiknya mulai sekarang kita berhati-hati dan kau tidurlah."

Malam itu terlewat tanpa ada suatu gangguan lagi dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka sudah bangun, mandi, sarapan pagi lalu berkemas karena mereka hendak melanjutkan perjalanan ke tenggara, menuju lautan selatan di mana Pulau Teratai Merah berada, tempat tinggal Pendekar Sadis dan isterinya, yaitu ayah dan ibu Ceng Sui Cin.

Karena puterinya ingin melakukan perjalanan secepatnya, Sui Cin lalu membeli dua ekor kuda di tempat itu. Dengan menunggang kuda mereka kemudian membalap menuju ke selatan.

Menjelang senja mereka sudah tiba di luar kota Siang-tan dan di jalan yang sunyi ini, di luar sebuah rawa-rawa, tiba-tiba saja bermunculan belasan orang laki-laki menghadang di tengah jalan dan ada pula yang memasang tali melintang setinggi dada. Melihat rintangan ini, terpaksa Sui Cin dan puterinya menahan kendali kuda mereka karena kalau mereka menerjang terus, kuda mereka akan tersangkut tali dan dapat menyebabkan kuda mereka terjungkal.

"Hemm, mau apa kalian menghadang perjalanan kami?" bentak Kui Hong marah dan dia segera meloncat turun, membiarkan kudanya terlepas lalu dia menghampiri mereka yang menghadang di tengah jalan.

Dua orang itu memandang kepada dua orang wanita ini dan mereka pun terbelalak penuh kagum. "Ha-ha-ha, ada dua ekor domba mulus dan gemuk memasuki perangkap. Kawan-kawan, malam ini kita berpesta pora sampai kenyang!" kata seorang di antara mereka.

"Ha-ha-ha, dan mereka membawa dua ekor kuda yang bagus dan mahal."

"Dan lihat pakaian mereka, lihat perhiasan yang berada di leher dan sanggul mereka!"

"Dan dua buntalan besar itu banyak isinya!"

Maklumlah Sui Cin dan Kui Hong bahwa mereka berhadapan dengan perampok! Khawatir kalau-kalau puterinya membunuh orang, Sui Cin segera melompat turun dan berkata. "Kui Hong, kau pegangi kendali dua ekor kuda kita. Biar aku menghadapi mereka, siapa tahu mereka mengerti akan bayangan semalam."

Kui Hong merasa kecewa sebab dia tidak boleh turun tangan sendiri menghajar perampok itu, akan tetapi dia tidak berani membantah perintah ibunya. Dia lalu memegangi kendali dua ekor kuda itu supaya tidak melarikan diri sambil melihat betapa dengan sikap tenang ibunya maju menghampiri orang-orang yang kasar itu.

"Heh-heh, yang muda bagaikan bunga sedang mekar, yang lebih tua seperti buah yang telah masak. Keduanya cantik menarik, he-heh-heh!" kata orang tinggi besar muka hitam yang agaknya menjadi pemimpin kawanan perampok itu. "Kawan-kawan, tangkap mereka! Jangan sampai terluka, yang muda berikan aku, yang tua biar untuk kalian semua."

Wajah Sui Cin sudah menjadi merah sekali karena marah, akan tetapi dengan tenang dia maju terus. "Kalian ini orang-orang tidak tahu malu, hendak merampok dua orang wanita yang tengah melakukan perjalanan. Apakah seorang di antara kalian semalam melakukan pengintaian di kamar hotel kami?"

Mendengar pertanyaan ini, orang-orang itu saling pandang, lalu Si Tinggi Besar bermuka hitam tertawa, diikuti pula oleh para anak buahnya. "Manis, kalau aku mengintai kamarmu semalam, apa kau kira aku sudah melepaskanmu pula hari ini? Ha-ha-ha!"

"Plakk!"

Tamparan tangan Sui Cin itu cepat bukan main, sampai tak terlihat oleh kepala perampok itu. Demikian cepatnya dan tahu-tahu tangan kiri itu telah menampar pipi kanan Si Kepala Rampok yang merasa seperti disambar petir saja.

"Aughhhh...!"

Tubuhnya terpelanting lalu dia pun roboh, memegangi pipi kanan dengan kedua tangan. Pipi itu telah menjadi biru dan bengkak, mulutnya berdarah karena selain bibir kanannya pecah, juga semua giginya di bagian kanan telah copot! Hebat bukan main tamparan Sui Cin yang merasa amat marah karena dia telah dihina dengan kata-kata yang kotor.

Melihat pemimpin mereka dipukul roboh, sebelas orang perampok menjadi sangat marah dan mereka sudah mencabut senjata masing-masing, mengepung Sui Cin dan Kui Hong. Gadis remaja ini berdiri tenang saja, masih memegangi kendali dua ekor kuda yang mulai nampak ketakutan karena sikap belasan orang itu. Si Kepala Perampok telah bangkit lagi dan dia pun mencabut goloknya setelah kepalanya tidak pening lagi.

"Bedebah, tangkap mereka! Serahkan perempuan ini kepadaku dulu, akan kuhancurkan dia sampai minta-minta ampun kepadaku."

Akan tetapi dua belas orang itu bagaikan macan-macan ompong saja bagi Sui Cin. Tentu saja orang-orang kasar yang hanya mengandalkan tenaga dan kenekatan itu sama sekali bukan merupakan lawan yang tangguh bagi Sui Cin. Siapa yang berani maju menyerang tentu akan terpelanting terkena tamparan atau tendangan kakinya yang gerakannya amat cepat itu. Namun Sui Cin tak mau membunuh orang, maka tenaga yang digunakan dalam pukulan dan tendangan itu terbatas.

Juga mereka yang menubruk ke arah Kui Hong kecelik. Dengan kedua kakinya, gadis ini menendang kanan kiri dan mereka yang terkena tendangan tentu roboh tersungkur.

Selagi para perampok itu kacau balau akibat terkena pukulan Sui Cin serta tendangan ibu dan anak itu, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring. "Hentikan semua itu!"

Para perampok segera menghentikan gerakan mereka. Ketika mereka menoleh kemudian melihat seorang pemuda yang datang menuntun seekor kuda putih, tiba-tiba saja mereka semua, dipimpin oleh Si Muka Hitam, menjatuhkan diri dengan muka berubah ketakutan.

"Can Kongcu (Tuan Muda Can), harap ampunkan kami...," kepala perampok itu meratap sambil berkali-kali bersoja (memberi hormat dengan merangkap kedua tangan) kepada pemuda itu.

Sui Cin dan Kui Hong juga turut memandang dan mereka terkejut ketika mengenal bahwa pemuda itu bukan lain adalah pemuda peniup suling yang kemarin mereka lihat di Telaga Tung-ting! Sungguh mudah mengenali kembali pemuda ini, karena selain wajahnya yang tampan serta matanya yang mencorong itu mudah diingat, juga suling di ikat pinggangnya dan yang-kim di punggungnya mudah dikenal.

Pemuda itu tidak mempedulikan para perampok yang berlutut mohon ampun kepadanya. Dia menoleh kepada Sui Cin dan Kui Hong dan agaknya baru sekarang dia mengenal lagi dua orang wanita ini. Cepat dia melepaskan kendali kuda yang dipegangnya dan menjura dengan sikap hormat kepada ibu dan anak itu.

"Ahh, kiranya Ji-wi yang diganggu oieh tikus-tikus kecil ini. Selamat bertemu kembali, Bibi yang terhormat dan Adik yang manis."

Wajah Kui Hong menjadi merah dan dia mengerutkan sepasang alisnya, akan tetapi pada waktu dia memandang wajah pemuda tampan itu, tidak nampak tanda bahwa pemuda itu main-main atau menggodanya atau berkurang ajar dengan sebutan adik manis tadi, maka dia pun tidak menjadi marah-marah.

"Mereka semua berlutut kepadamu, apakah engkau ini kepala perampoknya?" dara yang lincah dan galak ini mengejek.

Kalau dugaannya itu memang benar, tentu pemuda ini akan diserangnya, karena kini dia tidak akan dipersalahkan oleh ibunya. Kalau pemuda ini kepala perampok, tentu dia boleh menyerang dan bahkan merobohkannya, walau pun ibunya selalu melarang agar jangan sampai dia membunuh orang.

Mendengar pertanyaan itu, pemuda tadi tersenyum dan diam-diam Sui Cin merasa tertarik sekali. Ketika tersenyum, lenyaplah keangkeran serta wibawa yang ada pada pemuda itu, terganti keramahan dan kebaikan hati yang terbayang lewat senyuman itu.

"Nona, mereka ini adalah tikus-tikus busuk yang tidak kukenal, akan tetapi bukan salahku bila mereka kenal dan takut padaku karena di daerahku ini aku memang dikenal sebagai pembasmi tikus-tikus. Nah, karena tikus-tikus ini sudah berkeliaran di daerahku, bahkan sudah mengganggu Bibi dan engkau Nona, maka katakanlah, apa yang harus kulakukan terhadap mereka?"

"Bunuh saja mereka!" bentak Kui Hong.

Pemuda itu nampak terkejut, akan tetapi dia mengangguk. "Baiklah, aku akan membunuh mereka."

Para perampok itu segera berseru mohon ampun dengan wajah ketakutan. Melihat betapa pemuda itu agaknya benar-benar hendak membunuh mereka atas perintah Kui Hong, Sui Cin berseru, "Tahan! Jangan bunuh mereka, kalau hendak membunuh pun, bukan karena permintaan anakku!" Kemudian kepada Kui Hong dia pun berkata, "Kui Hong, engkau tak boleh menyuruh dia membunuh orang!"

"Aku tidak menyuruh siapa-siapa, dia tadi bertanya dan aku menjawab, bukan berarti aku menyuruh dia untuk membunuh. Mau membunuh atau tidak adalah urusannya dan tidak ada sangkut pautnya denganku!" jawab Kui Hong.

Pemuda itu tersenyum. "Nah, tikus-tikus busuk, Nona kalian telah memberi ampun, tidak lekas menghaturkan terima kasih dan menggelinding pergi?"

Dengan diikuti oleh para anak buahnya Si Muka Hitam itu lalu berlutut dan bersoja kepada Kui Hong dan Sui Cin, mohon ampun, kemudian mereka pergi sambil memapah teman-temannya yang terluka babak belur terkena tamparan dan tendangan tadi.

Setelah mereka pergi, pemuda itu segera menjura kepada Sui Cin. "Sungguh aku merasa malu dan menyesal sekali. Tempat ini merupakan daerahku, maka sedikit banyak aku ikut bertanggung jawab atas peristiwa perampokan ini. Lain kali semua perampok di sini akan kubersihkan. Bibi yang gagah perkasa, perkenalkanlah, aku bernama Can Sun Hok."

Melihat sikap orang yang ramah dan sopan, Sui Cin juga balas menjura. "Namaku Ceng Sui Cin dan ini puteriku bernama Cia Kui Hong."

"Ahh, Bibi dari keluarga Cia? Aku pernah mendengar tentang keluarga Cia yang menjadi pimpinan Cin-ling-pai, apakah...?"

"Ketua Cin-ling-pai adalah kakekku!" kata Kui Hong cepat-cepat. Dia merasa bangga juga bahwa nama keluarganya terdengar dan dikagumi sampai sejauh ini.

"Ahh, saya telah bersikap kurang hormat!" Tiba-tiba pemuda yang bernama Can Sun Hok itu menjura sampai dalam. "Harap Locianpwe dan Nona sudi memaafkan kalau tadi saya bersikap kurang hormat karena tak mengenal ji-wi. Nama besar keluarga Cia sudah lama saya dengar dan saya kagumi, terimalah hormat saya." Dan kembali dia menjura kepada Sui Cin dan Kui Hong. Sui Cin merasa canggung juga mendapat kehormatan yang amat berlebihan itu.

"Ahhh, Can-kongcu bersikap terlalu sungkan. Engkau sendiri juga seorang pendekar yang gagah perkasa, harap jangan sebut Locianpwe kepadaku dan kepada Kui Hong."

"Ahh, mana saya berani selancang itu?" kata Can Sun Hok.

"Kenapa engkau begini rewel dan banyak sungkan-sungkan? Ibuku telah memerintahkan demikian, maka biarlah aku yang menyebutmu Toako!" kata Kui Hong yang kini berbalik merasa suka kepada pemuda itu yang selalu memperlihatkan keramahan dan kesopanan.

Mendengar ucapan itu, Can Sun Hok kembali tersenyum dan mengangguk-angguk. "Saya tidak bermimpi apa-apa semalam, akan tetapi ternyata kini memperoleh kehormatan yang sangat besar! Baiklah, Bibi, dan engkau Adik Kui Hong, aku yang sudah yatim piatu kini seolah-olah memperoleh keluarga lagi. Aihh, kalau Bibi dan Adik merasa kasihan kepada saya dan sudi menerima undangan saya, maka saya mempersilakan Ji-wi (Anda Berdua) untuk singgah di rumahku yang terletak di Siang-tan, kota di depan itu. Tidak mungkin kita berpisah begini saja sesudah Thian mempertemukan kita di tempat yang tak terduga-duga."

Karena perjalanan mereka malam itu memang melewati Siang-tan dan harus bermalam di tempat itu, Sui Cin tidak merasa keberatan. "Terima kasih, Kongcu..."

"Aih, Bibi! Setelah aku tidak sungkan lagi, kenapa Bibi masih menyebut Kongcu padaku? Namaku Can Sun Hok, harap Bibi suka menganggap aku sebagai keponakan Bibi sendiri saja."

Sui Cin tersenyum dan merasa semakin suka kepada pemuda yang ramah ini. "Baiklah, Sun Hok, kami menerima undanganmu dan kuucapkan terima kasih. Akan tetapi, karena engkau hidup sebatang kara, apakah kehadiran kami tidak akan merepotkanmu?"

"Tidak sama sekali, Bibi. Aku mempunyai banyak pelayan di rumah."

"Ha, engkau seorang yang kaya rupanya!" Kui Hong berseru. "Akan tetapi tidak mengapa, yang kubutuhkan hanya agar engkau suka melayani aku untuk pi-bu."

"Hah?!" Sun Hok terbelalak. "Pi-bu?"

"Ya, adu silat secara persahabatan. Tidak apa-apa, bukan? Aku sudah mendengar bahwa engkau dapat menggulingkan perahu, dan aku melihat engkau merobohkan tukang pukul di tepi Telaga Tung-ting, maka aku ingin sekali mencoba ilmu kepandaianmu!"

"Kui Hong! Bersikaplah sopan dan ramah, kau jangan kurang ajar!" Sui Cin membentak puterinya.

"Tidak apa-apa, Bibi. Adik Kui Hong ini lucu bukan main, aku suka padanya. Akan tetapi, Adikku, mana aku berani mengadu ilmu dengan cucu ketua Cin-ling-pai? Jangan-jangan belum sampai sepuluh jurus aku sudah akan keok!"

"Apa itu keok?" Kui Hong bertanya, karena memang dia tak pernah mendengar istilah itu.

"Ayam itu jika diadu dan kalah, bukankah lalu mengeluarkan bunyi keok-keok? Nah, keok berarti kalah."

Kui Hong tertawa geli dan merasa lucu sekali. Mereka lalu menunggang kuda masing-masing dan mengikuti Sun Hok yang mengajak mereka ke rumahnya. Sui Cin mengambil keputusan untuk melihat keadaan rumah pemuda itu. Kalau terlalu merepotkan, dia akan mengajak puterinya untuk bermalam di rumah penginapan saja.

Akan tetapi, apa yang dilihatnya sungguh jauh di luar dugaannya. Sebuah rumah gedung yang besar sekali, seperti istana dan pantasnya menjadi rumah seorang bangsawan dan hartawan besar! Dan kedatangan mereka disambut oleh tiga orang pelayan laki-laki yang mengurus tiga ekor kuda itu. Ketika pemuda itu mengajaknya masuk ke rumah gedung itu, dua orang pelayan wanita yang berpakaian serba bersih segera menyambut mereka dan memberi hormat dengan ramah.

Bukan hanya Sui Cin yang terheran-heran, bahkan sekarang Kui Hong juga memandang dengan takjub. Pada waktu mereka memasuki ruangan depan, dinding itu penuh dengan lukisan-lukisan sajak berpasangan yang serba indah, lantainya mengkilat putih, ada pun perabot-perabot rumah juga terdiri dari barang-barang mewah yang semuanya indah dan mahal!

"Can-toako... ini... ini rumahmu sendiri?" Kui Hong bertanya heran.

Sun Hok tersenyum. "Benar, Adik Kui Hong. Ini rumahku, peninggalan dari ayahku yang sudah menerima warisan dari kakekku pula. Kakekku adalah bekas gubernur di Ning-po, dia juga seorang pangeran..."

"Ahh, kiranya engkau seorang bangsawan!" kata Sui Cin kaget.

"Bukan bangsawan, Bibi, melainkan keturunan bangsawan saja. Mendiang ayahku sudah tidak memegang jabatan walau pun kakekku adalah seorang bekas gubernur dan seorang pangeran. Ada pun aku sendiri... ah, agaknya aku hanya kebagian menghabiskan warisan mereka saja."

Mendadak muncul seorang nenek yang membuat dua orang tamu itu terkejut. Kalau para pelayan yang lain nampak rapi dan bersih, nenek ini terlihat amat menakutkan. Seorang nenek yang usianya sudah tua sekali, sedikitnya tentu tujuh puluh tahun, mukanya hitam dan bopeng penuh bekas cacar, sedangkan matanya lebar menakutkan.

Wajahnya tentu akan menakutkan seorang anak-anak, bahkan Kui Hong juga terbelalak memandang. Gadis ini kembali teringat akan dongeng tentang setan dan iblis. Nenek ini agak bungkuk, pakaiannya serba hitam dan memegang sebatang tongkat.

"Kongcu baru pulang?" tanya nenek itu, tanpa mempedulikan dua orang tamunya.

"Benar, Lo-bo, harap beri tahukan kepada pelayan supaya mempersiapkan sebuah kamar besar untuk dua orang tamu terhormat ini, sekalian siapkan pula air hangat untuk mandi, kemudian hidangan yang cukup untuk kami makan malam. Lo-bo, ini adalah Bibi Ceng Sui Cin dan puterinya, Adik Cia Kui Hong."

Nenek itu nampak amat terkejut, memandang pada dua orang tamunya, sejenak matanya terbelalak dan mencorong, lalu dia menunduk dan membungkuk sebagai tanda hormat.

"Selamat datang, Toanio dan Siocia!" katanya, kemudian dia pun membalikkan badan dan terseok-seok berjalan pergi dibantu tongkatnya.

Melihat betapa kedua orang tamunya kelihatan terkesan oleh kemunculan nenek itu, Sun Hok cepat berkata menjelaskan, "Ia adalah Wa Wa Lo-bo, seorang pembantu yang setia, yang sudah menjadi pembantuku sejak aku masih bayi. Karena kesetiaannya, maka aku merasa kasihan kepadanya dan membolehkan dia hidup di sini sampai selamanya untuk membalas budinya. Dialah yang dulu mengasuh dan merawat aku sejak aku bayi."

Mereka lalu diajak memasuki ruangan dalam, yaitu sebuah ruangan yang lebih indah lagi, penuh dengan gorden-gorden sutera yang serba indah. Mereka duduk berhadapan di atas kursi-kursi dan meja yang diukir indah.

"Kita duduk di sini dahulu sambil menanti dipersiapkannya kamar Ji-wi dan juga keperluan mandi. Sesudah mandi kita akan makan bersama di ruangan makan," kata Can Sun Hok, nampaknya gembira sekali menerima dua orang tamunya ini.

Diam-diam Sui Cin memperhatikan tuan rumah yang masih muda akan tetapi kaya raya ini. Seorang pemuda yang usianya masih kurang lebih dua puluh tahun, wajahnya tampan dan tubuhnya tegap. Pakaiannya sederhana, tidak sesuai dengan keadaan rumah gedung yang mewah seperti istana itu. Wajahnya yang tampan itu penuh wibawa, pendiam dan nampak bengis, akan tetapi ada kalanya seperti sekarang ini, perangainya nampak halus dan sikapnya ramah.

Yang masih membuat Sui Cin menduga-duga adalah tentang ilmu silatnya. Sulit menaksir sampai di mana tingkat kepandaian pemuda ini. Pada saat mempelajari keadaan pemuda ini timbul suatu gagasan dalam pikiran Sui Cin. Pemuda ini sungguh merupakan seorang pemuda yang baik, dan agaknya tidak akan mengecewakan apa bila menjadi calon jodoh puterinya! Cukup tampan, kaya raya, lihai dan berperangai baik, bahkan jelas dia seorang pendekar kalau melihat sepak terjangnya baru-baru ini.

Akan tetapi Sui Cin tidak tahu bahwa diam-diam Kui Hong juga memperhatikan pemuda itu dan puterinya itu mempunyai pendapat sendiri. Seorang pemuda yang sangat tampan dan gagah, akan tetapi agak aneh dan sinar matanya yang kadang-kadang mencorong itu mencurigakan, pikir Kui Hong!

Entah mengapa dia sendiri tidak tahu, akan tetapi Kui Hong mempunyai perasaan kurang suka kepada pemuda ini! Seorang yang menyembunyikan sesuatu, seorang yang palsu, pikir Kui Hong.

Tak lama kemudian Sui Cin mulai menyelidiki keadaan pemuda itu secara tidak langsung, dengan pertanyaan-pertanyaan yang sepintas lalu nampak biasa saja, "Sun Hok, sungguh janggal sekali menyebutkan namamu begitu saja seakan-akan kita masih ada hubungan keluarga, padahal engkau adalah seorang pemuda yang kaya raya. Akan tetapi, melihat usiamu yang tentu tak akan lebih dari dua puluh tahun, tentu orang tuamu juga belum tua benar. Akan tetapi, mengapa engkau telah menjadi seorang yatim piatu? Apa yang telah terjadi dengan orang tuamu?"

Pemuda itu menarik napas panjang kemudian menundukkan mukanya, kelihatan berduka sehingga ibu dan anak itu semakin tertarik dan menanti penuh perhatian.

"Ah, memang sejak masih bayi nasibku amat buruk, Bibi. Ibu kandungku meninggal dunia saat aku berusia tiga tahun, kemudian ketika aku berusia belasan tahun, ayah kandungku meninggal pula karena sakit. Sejak kecil, sejak berpisah dari ibu, aku dirawat dan diasuh oleh Wa Wa Lo-bo, malah setelah ayah meninggal, Wa Wa Lo-bo yang terus mendidikku, memanggil guru-guru baca tulis, bahkan mencarikan sastrawan-sastrawan yang terpandai dengan bayaran mahal untuk mendidik aku "

"Hemm, pantas sekali engkau demikian pandai membuat sajak!" kata Kui Hong kagum.

"Dan siapakah yang sudah mengajarkan ilmu silat kepadamu? Engkau tentu memiliki ilmu silat yang tinggi sekali dan gurumu tentu seorang tokoh persilatan yang sangat terkenal!" kata Sui Cin memancing.

Pemuda itu kembali menarik napas panjang. Nampak jelas bahwa dia sama sekali tidak suka membicarakan tentang hal itu. "Bibi yang baik, aku mempelajari ilmu silat hanyalah sebagai bekal untuk suatu tujuan. Selama ini aku berusaha menyembunyikan kepandaian silatku, dengan maksud untuk kelak dapat kupakai melaksanakan tujuan itu, tapi ternyata tak lepas dari pengamatan Bibi yang amat tajam. Sesungguhnya aku... aku agak merasa kikuk dan canggung untuk bicara soal ilmu silat, karena sesungguhnya ilmu silatku belum berapa tinggi dan masih jauh dari pada cukup untuk melaksanakan tujuan yang kupendam sejak aku kecil itu, Bibi!"

"Hemm, untuk tujuan balas dendam, bukan?"

Tiba-tiba saja pemuda itu meloncat dari kursinya dan memandang kepada wajah nyonya itu dengan mata terbelalak dan muka berubah pucat. "Bagaimana Bibi... bisa mengetahui hal itu...?" tanyanya gagap.

Sui Cin tersenyum dan melambaikan tangannya. "Duduklah dan jangan kaget, jangan pula khawatir orang muda. Tidak sulit untuk menduga demikian. Engkau kehilangan ayah dan ibu semenjak masih kecil dan aku menduga bahwa kematian mereka, atau satu di antara mereka tentu karena dibunuh orang. Dan engkau menyembunyikan ilmu silatmu, dengan maksud tertentu dan karena kuhubungkan dengan dugaan bahwa orang tuamu mungkin dibunuh orang, maksud apa lagi kalau bukan balas dendam?"

Pemuda itu memandang kagum. "Ahh, sungguh, luar biasa sekali ketajaman pikiran Bibi! Kalau begitu, Bibilah tempat aku bertanya. Telah lama aku dibikin pusing oleh keadaanku ini. Bibi yang terhormat, bolehkah aku bertanya dan kumohon Bibi suka memberi nasehat kepadaku yang selama ini seperti orang dalam gelap, maukah Bibi memberi penerangan kepadaku?"

Sui Cin tersenyum lagi. Pemuda ini sungguh membuat dia merasa suka sekali, demikian penuh rahasia, akan tetapi juga demikian rendah hati dan ramah. "Tanyalah, orang muda, jika aku dapat memberi nasehat tentu aku akan membantu memikirkan masalah apa yang memusingkan hatimu."

"Begini, Bibi Ceng. Terus terang saja, mendiang ibu kandungku adalah seorang yang dulu pernah melakukan kejahatan, bahkan dikenal jahat bukan main, seorang tokoh sesat kata orang-orang dunia persilatan. Nah, biar pun aku sendiri tidak pernah melihat buktinya, tapi setelah mendengar bahwa Ibu kandungku adalah seorang yang amat jahat, lalu apa yang harus kulakukan? Baikkah kalau aku berbakti kepadanya?"

Pertanyaan itu sangat mengejutkan hati Sui Cin. Biar pun hatinya ingin sekali tahu siapa gerangan ibu kandung pemuda ini, namun tentu saja dia tidak berani bertanya karena hal itu bukan merupakan urusannya dan sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengannya. Dan pertanyaan itu pun membuat ia menjadi bingung. Apa yang harus dilakukannya andai kata dia sendiri yang demikian? Dan bagaimana dia harus menjawab?

Keraguan ini bangkit karena Sui Cin merasa bahwa dahulu ibu kandungnya sendiri juga adalah seorang tokoh sesat, bahkan seorang datuk sesat! Ibunya, yang bernama Toan Kim Hong, dahulu sebelum menikah dengan ayahnya terkenal sebagai datuk sesat yang berjuluk Lam Sin (Malaikat Selatan), seorang datuk sesat yang seolah-olah menjadi raja di antara orang-orang jahat!

Ah, pikirnya, kini ibunya telah menjadi orang baik-baik, malah menjadi seorang pendekar. Jadi, jika ibu kandung pemuda ini dahulunya jahat, tak boleh dikatakan bahwa selamanya akan menjadi jahat. Hanya bedanya, ibu kandung pemuda ini telah meninggal dunia!

"Can Sun Hok, tidak ada yang abadi di dunia ini," jawabnya. "Orang yang tadinya disebut baik, belum tentu baik selamanya dan yang jahat belum tentu jahat selamanya. Terhadap seorang ibu, tentu saja seorang anak harus berbakti apa pun kata orang terhadap ibunya, baik mau pun buruk. Berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban utama bagi seorang anak."

"Ibuku sudah meninggalkan aku sejak bayi, Bibi, meninggalkan aku dalam asuhan Nenek Wa Wa Lo-bo bersama ayahku yang tidak tahu bagaimana caranya mendidik anak. Ibuku tewas terbunuh orang. Nah, bagaimana pendapat Bibi? Haruskah aku membalas dendam kematian ibuku. Mencari pembunuh ibuku itu dan membalas dengan membunuhnya demi kebaktianku terhadap ibuku?"

Bagaimana pun juga Sui Cin tidak berani langsung menyatakan pendapatnya karena dia menghadapi urusan orang lain. Dia membayangkan seandainya ibu kandungnya dibunuh orang, dengan alasan apa pun juga, sudah pasti dia akan mencari pembunuh ibunya itu dan membalas dendam! Walau pun dia memiliki pandangan sendiri tentang cara berbakti, akan tetapi sanggupkah dia menahan sakit hatinya kalau terjadi musibah menimpa dirinya seperti yang telah menimpa diri pemuda ini?

"Bagaimana pendapat ayahmu?" tanyanya untuk mencari waktu.

Pemuda itu menarik napas panjang. "Ketika hal itu terjadi, aku baru berusia tiga tahun. Setelah aku mengerti, ayah selalu menghindari pertanyaanku tentang ibuku dan aku tahu bahwa ayah agaknya membenci atau setidaknya dia tidak suka kepada ibu. Biar pun dia tidak pernah mengatakan sesuatu, tapi aku hampir yakin bahwa ayah tidak peduli tentang kematian ibu dan tentu tidak setuju kalau aku membalas dendam. Ketika aku berusia dua belas tahun, ayahku meninggal dunia karena sakit."

"Aiihhh, sungguh malang sekali nasibmu, Can-toako," kata Kui Hong sambil memandang dengan sinar mata mengandung iba. Ternyata pemuda yang amat pandai dan kaya raya ini hanya pada luarnya saja nampak hidup senang, padahal nasibnya amat buruk.

"Jadi, semenjak berusia dua belas tahun, engkau hanya hidup berdua saja dengan Nenek Wa Wa Lo-bo itu?" tanya Sui Cin, teringat akan nenek yang wajahnya menyeramkan tadi.

"Bukan sejak dua belas tahun, bahkan boleh dibilang semenjak lahir Nenek Wa Wa Lo-bo itulah yang merawat dan kemudian mendidik aku. Seingatku, pada saat masih amat kecil sekali pun yang mengasuh aku selalu adalah nenek itu. Mungkin sejak kecil mendiang ibu tidak peduli kepadaku." Wajah pemuda itu nampak diliputi awan duka.

"Dan dia pula yang memanggil guru-guru yang pandai untuk mendidik dan mengajarmu. Apakah dia pula yang memanggil seorang guru silat, dan siapakah ahli silat yang sudah mendidikmu, Sun Hok?"

"Dalam segala ilmu kepandaian, Nenek Wa Wa Lo-bo selalu mencarikan guru yang terbaik dengan bayaran mahal. Akan tetapi tentang ilmu silatku yang tidak ada artinya ini, hanya mengenal satu dua pukulan, semua dilatih oleh Nenek Wa Wa sendiri."

"Aihhhh...!" Sui Cin terkejut dan memandang terbelalak. "Kalau begitu nenek itu tentu lihai bukan main." Dia lalu mengingat-ingat, akan tetapi tak pernah rasanya mendengar tokoh kang-ouw yang bernama Wa Wa Lo-bo. "Tetapi rasanya belum pernah aku mendengar nama besarnya."

"Nenek Wa Wa memang tak pernah berurusan dengan dunia kang-ouw. Dan sejak dahulu dia adalah pengasuh mendiang ibuku, yang sengaja ditinggalkan ibu untuk mengasuh dan merawatku." Sun Hok yang sejak tadi membiarkan percakapan membelok ke arah lain, kini bertanya lagi. "Akan tetapi, Bibi Ceng, aku masih menanti jawabanmu tentang niatku membalas dendam untuk berbakti kepada mendiang ibuku."

"Hemm, sebelum aku menjawab, katakan dulu bagaimana pendapat nenek yang menjadi pengasuh dan juga gurumu itu? Mengapa engkau tidak bertanya kepadanya?"

Sun Hok menarik napas panjang sambil menggelengkan kepalanya. "Sudah berulang kali kutanyakan kepada nenek Wa Wa siapa nama pembunuh ibuku, tetapi dia tidak pernah mau mengaku, dan mengatakan bahwa belum tiba waktunya bagiku untuk memusingkan diri mengenai balas dendam karena ilmu kepandaianku masih jauh dari pada mencukupi. Akan tetapi aku tak pernah bertanya tentang kebaktian kepadanya, Bibi, karena dia hanya pandai ilmu silat tetapi dalam hal pengertian hidup tentu saja tak banyak dapat diharapkan darinya. Karena itu, kepada Bibilah aku memandang dan mengharapkan keterangan yang jelas. Haruskah aku membalas dendam demi kebaktianku terhadap mendiang ibuku, Bibi Ceng?"

Sekarang Ceng Sui Cin tidak dapat mengelak lagi, akan tetapi tadi dia sudah memperoleh cukup waktu untuk mempertimbangkan jawabannya.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner