PENDEKAR MATA KERANJANG : JILID-40


Kini delapan orang itu menghadapi Su Kiat dan Hui Lian yang berdiri dengan sikap tenang biar pun dari sikap para penonton mereka dapat menduga bahwa delapan orang ini tentu bukanlah orang-orang yang disukai rakyat, dan berarti merupakan orang-orang yang suka bertindak sewenang-wenang.

"Toako, Si Buntung ini kurang ajar sekali, berani tak memandang mata kepada kita!" kata seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi kurus.

"Toako, Nona ini sungguh mulus!" kata orang ke dua yang berperut gendut dan mukanya menyeringai kurang ajar.

Raksasa muka hitam yang disebut Toako itu lantas melangkah maju, melotot kepada Su Kiat. Betapa pun marahnya, dia tak mampu memperlihatkan sikap marah kepada seorang gadis secantik Hui Lian, maka yang menerima kemarahannya adalah Su Kiat seorang.

"Heh, buntung! Siapa kau dan dari mana kau datang?" tanyanya dengan suara keras dan memandang rendah.

Wajah Hui Lian berubah merah dan kalau saja suheng-nya tak berkedip kepadanya, tentu dia sudah menerjang raksasa muka hitam yang berani menghina suheng-nya itu. Akan tetapi Su Kiat maklum bahwa kalau dia dan sumoi-nya hendak mencari nafkah di kota itu, tidak menguntungkan kalau di hari pertama sudah harus bermusuhan dengan orang lain. Maka dia pun melangkah maju menghadapi raksasa muka hitam itu, lantas dengan muka cerah dan ramah dia menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.

"Namaku Ciang Su Kiat dan dia adalah sumoi-ku bernama Kok Hui Lian. Kami baru lebih kurang satu bulan ini tinggal di dusun Hek-bun di luar kota Kong-goan, di pinggir Sungai Cia-ling." Dan dia pun balas bertanya, "Siapakah Si-cu dan mengapa Si-cu menghentikan demonstrasi kami?"

"Orang she Ciang yang sombong! Siapa yang memberikan ijin kepadamu untuk membuka perguruan silat? Engkau sungguh tak tahu diri dan melanggar peraturan!"

"Ehh? Maaf, peraturan apakah yang sudah kulanggar? Apa kesalahanku dengan rencana membuka perguruan silat?"

"Engkau telah membuat dua pelanggaran besar. Pertama, engkau menghina kami karena membuka perguruan silat tanpa sepengetahuan kami! Ketahuilah bahwa di Kong-goan ini, perguruan silat kami Hek-houw Bu-koan mempunyai wewenang sepenuhnya dan semua perguruan silat harus mendapatkan restu dari kami. Akan tetapi engkau berani membuka tanpa minta persetujuan kami. Dan ke dua, engkau sudah berani melakukan penipuan di kota kami!"

"Penipuan? Untuk yang pertama, kami minta maaf karena kami tidak tahu tentang adanya peraturan seperti itu. Namun hal itu mudah saja dibereskan. Aku akan pergi menghadap pimpinan Hek-houw Bu-koan untuk meminta persetujuan. Akan tetapi penipuan? Aku tak merasa menipu siapa pun juga."

"Sombong! Engkau ini berlengan buntung, jadi mana mungkin akan mampu mengajar silat dengan baik? Bukankah itu artinya kalian mengelabui dan menipu para peminat, hendak mengeduk uang mereka dengan alasan mengajar silat akan tetapi sesungguhnya engkau tidak mampu bersilat dengan baik?"

"Toako, hajar saja orang ini dan kita tahan gadis itu sebagai sandera!" kata laki-laki yang berperut gendut.

Dia pun melangkah maju, kakinya menendang meja kecil yang disediakan oleh Hui Lian. Di atas meja itu tersedia kertas dan alat tulis untuk mendaftar mereka yang berminat. Kini tinta dan kertas terlempar sehingga berserakan, meja itu pun ringsek. Delapan orang itu tertawa.

Bukan main marahnya Hui Lian. Dia tidak mampu menahan dirinya lagi dan dia pun cepat meloncat ke depan suheng-nya.

"Suheng, aku tidak sudi dihina orang seperti ini. Biarlah aku mewakili Suheng menghadapi tikus-tikus busuk ini!" Dan sebelum Su Kiat dapat menahannya, Hui Lian telah melangkah maju menghadapi raksasa muka hitam, jari tangannya lalu menuding ke arah muka yang hitam itu.

"Kamu ini manusia ataukah iblis? Menjadi harimau hitam pun tidak patut karena harimau pun tidak sejahat kamu! Kamu menghina orang seenak perutmu sendiri. Apa kesalahan kami? Untuk membuka perguruan silat tidak perlu meminta persetujuan binatang macam kamu, dan kalau kami tetap melanjutkan usaha kami, kamu mau apa? Majulah jika ingin mengenal kelihaian nonamu!"

Si Perut Gendut segera melangkah maju. "Toako, harap tahan kemarahanmu. Serahkan saja kuda betina liar ini kepadaku. Aku akan menangkapnya, barulah engkau menghajar Si Buntung itu!"

Tanpa menunggu jawaban raksasa muka hitam yang mendelik marah karena dimaki-maki oleh Hui Lian, Si Gendut itu sudah menerjang ke arah Hui Lian dan begitu dia menyerang, dia menggunakan dua tangannya untuk mencengkeram ke arah dada gadis itu! Sungguh serangan yang amat tidak sopan dan memandang rendah kepada Hui Lian.

"Sumoi, jangan membunuh orang!" Su Kiat memperingatkan, diam-diam juga amat marah melihat serangan yang kurang ajar itu.

"Plakk! Plakk!"

Sepasang tangan Hui Lian menyambut dua tangan Si Perut Gendut itu yang tentu saja menjadi girang maka segera dia mencengkeram kedua tangan gadis itu. Jari-jari tangan mereka saling remas seperti sepasang kekasih sedang bermain-main saja. Teman-teman Si Gendut sudah mentertawakan.

"Wah, untung besar Si Gendut kali ini!"

"Wah, main remas jari tangan!"

"Halusnya!"

"Hangatnya, heh-heh!"

Si Perut Gendut yang mencengkeram tangan Hui Lian berusaha menarik gadis itu untuk mencium mukanya. Akan tetapi tiba-tiba dia mengeluarkan pekik kesakitan, dua matanya terbelalak seperti hendak meloncat keluar, mukanya menjadi pucat sekali ada pun seluruh tubuhnya menggigil saking menahan rasa nyerinya.

Kiranya, jari-jari tangannya itu bertemu dengan jari-jari tangan yang keras seperti baja dan panas seperti api membara! Biar pun jari-jari tangannya lebih panjang dan besar, namun jari-jari tangannya itu seperti tahu dicacah saja, tahu bertemu pisau! Jari tangan Hui Lian lalu mencengkeram dan terdengar suara berkeretakan ketika tulang-tulang dan buku jari tangan Si Gendut itu patah-patah dan remuk!

"Aduhhh... aduhhhh... ampunnn... amm... punnnn... augghhhh...!" Si Gendut menjerit-jerit dan menangis seperti babi disembelih, dan saking nyerinya, dia berjongkok dengan kedua lengannya bergantung.

Hui Lian mendengus jijik, lantas kakinya menendang sambil membentak. "Anjing buduk, pergilah!"

"Bukkk!"

Kaki Hui Lian menendang perut yang gendut itu sambil dia melepaskan cengkeramannya. Tubuh Si Gendut itu terjengkang dan bergulingan, dan kini dia merintih dengan bingung, menggunakan kedua tangan yang tulang-tulang jarinya telah remuk itu untuk meraba-raba perutnya yang mendadak menjadi mulas dan nyeri sekali. Agaknya usus buntunya sudah terkena tendangan yang cukup keras itu

Gegerlah semua orang melihat peristiwa yang sama sekali tak mereka sangka-sangka itu. Para penonton yang berada di jarak aman, terbelalak dan wajah mereka berseri. Walau pun mereka bergembira, terkejut heran dan kagum bukan main, akan tetapi mereka tidak berani bersorak, hanya bersorak di dalam hati sambil saling pandang dengan senyum di bibir.

Sebaliknya tujuh orang teman Si Gendut terkejut bukan main dan mereka menjadi marah, terutama Si Raksasa bermuka hitam yang menjadi saudara tertua di antara mereka dan merupakan pimpinan kelompok itu karena dialah yang paling lihai dan paling kuat.

"Perempuan jahat, berani engkau memukul orang?!" bentak Si Raksasa muka hitam.

"Huh, matamu kamu taruh di mana? Jelas dialah yang memukul orang, bukan aku. Kalau kamu ingin memukulku juga boleh. Majulah!"

"Perempuan sombong, engkau ingin merasakan tangan besi jagoan Hek-houw Bu-koan? Nah, sambutlah!" Teriak Si Muka Hitam dan dia pun mengirim pukulan dengan tamparan tangannya ke arah pundak Hui Lian. Tangan raksasa muka hitam itu besar dan lengannya panjang, ketika menampar mendatangkan angin yang cukup kuat.

Karena melihat Si Raksasa ini tidak menyerang secara ganas, hanya menampar pundak, tidak kurang ajar seperti Si Perut Gendut, Hui Lian juga tak mau bertindak kejam. Dengan mudah saja dia mengelak, lalu kakinya menotok ke depan dan tubuh Si Raksasa itu pun segera terjungkal karena kedua kakinya tiba-tiba saja menjadi lumpuh ketika ujung sepatu kecil itu dua kali mencium kedua lututnya!

Kembali suasana menjadi geger. Gadis itu sudah merobohkan toako mereka hanya dalam satu gebrakan saja! Para penonton juga gempar, dan sekali ini meski pun tidak bersorak, tetapi ada terdengar suara ketawa di sana-sini menyambut kemenangan mudah gadis itu.

Enam orang murid Hek-houw Bu-koan kini menjadi marah sekali. Pemimpin mereka telah dirobohkan seorang gadis dengan sedemikian mudahnya, hal ini merupakan penghinaan bagi mereka.

"Bunuh siluman betina itu!" teriak mereka dan enam orang itu sudah menerjang ke depan dengan golok tipis di tangan.

Melihat berkelebatnya senjata tajam, para penonton menjadi panik. Hanya Su Kiat yang masih berdiri di pinggir dengan tenang. Tingkat kepandaian enam orang itu tiada artinya bagi sumoi-nya, maka dia hanya diam menonton saja. Dan memang benar. Begitu melihat enam orang itu menerjangnya dalam kepungan, menggunakan golok, Hui Lian tersenyum mengejek.

"Kalian memang tikus-tikus pengecut yang beraninya main keroyok!"

Dan tiba-tiba saja enam orang yang telah menyerang dengan golok, menjadi terkejut dan bingung karena tubuh gadis yang dikepung mereka itu lenyap, berubah menjadi bayangan yang berkelebatan ke sana sini lalu satu demi satu mereka pun mengeluarkan teriakan dan roboh. Golok di tangan mereka beterbangan ke sana sini! Mereka sendiri tidak tahu bagaimana mereka dapat roboh, hanya merasa ada bagian tubuh yang kena tendangan atau tamparan tanpa melihat lawan yang melakukannya!

Hui Lian berdiri tegak sambil bertolak pinggang memandang delapan orang yang sekarang saling bantu dan merangkak bangun sambil mengerang kesakitan itu.

"Nonamu masih mengampuni nyawa anjing kalian! Hayo lekas pergi dari sini dan jangan berani mengganggu orang lagi."

Si Raksasa muka hitam hanya mampu mendelik, lalu bersama tujuh orang kawannya dia pergi dari situ sambil terpincang-pincang, diikuti senyum lebar para penonton yang masih juga belum berani bersorak. Sesudah delapan orang itu lenyap, para penonton berduyun datang mengelilingi Su Kiat dan Hui Lian. Seorang di antara mereka, yang usianya sudah lima puluh tahun lebih mendekati Su Kiat.

"Sebaiknya jika Ji-wi cepat pergi meninggalkan tempat ini, bahkan meninggalkan kota ini. Ji-wi tidak tahu, Hek-houw Bu-koan merupakan perguruan silat paling besar dan berkuasa di sini. Banyak putera bangsawan dan hartawan yang menjadi muridnya, dan Hek-houw Bu-koan memiliki banyak sekali tukang-tukang pukul! Ji-wi baru menghajar delapan orang murid rendahan saja, jika sampai murid-murid utama atau bahkan pimpinan mereka yang datang ke sini, Ji-wi bisa celaka!"

Su Kiat memandang kepada orang itu sambil tetap tersenyum tenang. "Terima kasih atas peringatan itu, Saudara yang baik. Akan tetapi kita tinggal di dunia yang sopan dan ada hukumnya, bukan di rimba raya di mana kekuatan dan kekerasan merajalela. Kami tidak tidak bersalah, maka siapa pun yang mengganggu kami, akan kami hadapi. Nah, Saudara sekalian siapa yang hendak mendaftarkan diri menjadi murid perguruan silat Cia-ling?"

Hui Lian sudah memungut lagi kertas dan alat-alat tulis yang tadi berserakan, siap untuk mencatat nama-nama dari mereka yang ingin belajar silat. Beberapa orang pemuda maju mendaftarkan diri sambil membayar uang pangkal. Ada pula yang bertanya,

"Jika sudah menjadi murid Cia-ling Bu-koan, apakah kami pun akan memiliki kepandaian sehebat Nona ini yang dapat mengalahkan orang-orang Hek-houw Bu-koan?"

Cu Kiat tersenyum dan mengangkat tangan untuk minta perhatian semua orang. Suasana menjadi hening sehingga terdengarlah suara Su Kiat dengan jelas. "Harap Anda sekalian mengetahui bahwa ilmu silat bukan alat untuk berkelahi atau mengikat permusuhan. Ilmu silat adalah suatu olahraga yang menyehatkan lahir batin, juga merupakan seni tari yang indah dan menyehatkan, selain itu merupakan ilmu bela diri pula, semacam perisai untuk melindungi diri kita dari ancaman mara bahaya. Cu-wi tadi telah melihatnya. Sumoi bukan menggunakan ilmu silat untuk bermusuhan atau berkelahi, melainkan untuk membela diri dari ancaman orang-orang kasar tadi. Jika sumoi menggunakan untuk bermusuhan, tentu delapan orang tadi tidak akan dapat bangun kembali."

Semua orang mengangguk dan merasa kagum sekali. Makin banyaklah penduduk yang mendaftarkan diri. Untuk tahap pertama, karena baru pertama membuka perguruan silat, tentu saja Su Kiat dan Hui Lian tidak mungkin dapat mengadakan pemilihan atau ujian, melainkan menerima saja mereka semua. Kelak kalau keadaan mereka sudah baik, tentu saja tidak mungkin menerima segala orang untuk menjadi murid. Harus lebih dahulu diuji mentalnya, dinilai wataknya, dan dilihat pula bakatnya dan kesehatan tubuhnya.

"Semua orang harap mundur dan biarkan kami bicara dengan guru silat liar itu!" Tiba-tiba terdengar suara nyaring dan semua orang langsung menengok.

Ketika melihat munculnya dua orang itu, orang yang tadi memberi peringatan kepada Su Kiat segera berbisik kepada Su Kiat. "Celaka, dua orang pelatih mereka datang sendiri! Mereka adalah orang-orang kedua dalam perguruan itu, wakil dari ketuanya yang bertugas melatih ilmu silat. Kepandaiannya tinggi sekali!" Sesudah berkata demikian, seperti juga dengan orang-orang lain, dia pun cepat menjauhkan diri.

Sekarang Su Kiat dan Hui Lian berdiri memandang dua orang laki-laki yang melangkah menghampiri mereka dengan langkah lambat-lambat, sedangkan pandang mata mereka ditujukan kepada Hui Lian dengan tajam dan alis berkerut, mulut mereka cemberut, sikap yang tidak ramah atau bersahabat sama sekali. Diam-diam Su Kiat lalu memperhatikan mereka.

Dua orang itu adalah lelaki yang berusia empat puluh tahun dan dari gerak-gerik mereka saja mudah diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang bertubuh kuat dan pandai ilmu silat. Keduanya bertubuh tegap dan kokoh kuat laksana batu karang. Yang seorang memelihara kumis dan jenggot pendek, kulit mukanya menghitam, ada pun orang ke dua bermuka bersih tanpa kumis dan jenggot, juga kulit mukanya kuning. Namun keduanya nampak marah sekali.

Su Kiat dan Hui Lian bersikap tenang saja, bahkan Hui Lian menghadapi mereka dengan senyum mengejek. Dua orang itu agak tertegun ketika melihat seorang gadis cantik manis menghadapi mereka dengan sikap demikian berani. Padahal biasanya orang-orang selalu merasa takut dan sungkan terhadap mereka yang terkenal sebagai jagoan di Kong-goan. Karena tidak ingin berurusan dengan seorang gadis muda, Si Jenggot muka hitam lantas memandang kepada Ciang Su Kiat dan membentak dengan suaranya yang parau dan bengis.

"Engkaukah guru silat baru yang tidak tahu aturan dan telah berani memukul murid-murid kami dari Hek-houw Bu-koan itu?" tanya yang bermuka hitam dan yang bernama Cu Kat.

Orang ke dua itu bernama Cu Hoat, adiknya. Kedua orang kakak beradik ini terkenal di Kong-goan sebagai Kong-goan Siang-houw (Sepasang Harimau Kong-goan) dan ditakuti orang karena mereka adalah murid-murid kepala dan pelatih para murid perguruan silat Harimau Hitam itu.

Sebelum Su Kiat menjawab, Hui Lian sudah mendahuluinya. "Memang Suheng Ciang Su Kiat bersama aku Kok Hui Lian yang hendak membuka perguruan silat Cia-ling Bu-koan di dusun Hek-bun! Aku yang menghajar delapan orang kurang ajar tadi, bukan Suheng. Kalian mau apa? Apakah kalian hendak membela murid-murid kalian yang tak tahu aturan dan kurang ajar tadi?"

Sepasang Harimau Kong-goan itu saling pandang, sangat terkejut dan hampir tidak dapat percaya bahwa delapan orang murid mereka tadi ternyata dikalahkan oleh seorang gadis muda seperti ini. Dan gadis ini bersama suheng-nya hanyalah orang-orang yang hendak membuka perguruan silat di dusun Hek-bun, dusun kecil itu! Padahal orang sedusun itu semuanya sudah mengenal nama mereka berdua, apa lagi nama perguruan silat Harimau Hitam.

"Nona, bukan murid-murid kami yang kurang ajar, melainkan kalian yang tak tahu aturan. Setiap orang yang hendak membuka perguruan silat di daerah Kong-goan ini setidaknya harus melapor dahulu kepada perguruan kami yang merupakan perguruan paling besar di Kong-goan. Tanpa memberi tahu kepada kami, berarti memandang rendah dan menghina kami!" kata pula Si Muka Hitam.

"Kami hendak membuka perguruan silat, lalu apa hubungannya dengan kalian? Dan kami tidak memandang rendah apa lagi menghina siapa juga. Bagaimana kami dapat menghina kalian yang tidak pernah kami kenal? Kami hanya ingin mencari sesuap nasi secara halal, kenapa kalian dari Hek-houw Bu-koan hendak mengganggu dan menghalangi?" Hui Lian membantah dengan suara yang marah dan penasaran.

"Bukan menghalangi melainkan segala sesuatu harus menurut peraturan, dan kalian telah melanggar peraturan dan sopan santun!" sekarang Si Muka Kuning berkata. Bagaimana pun juga mereka berdua adalah murid-murid kepala bahkan pelatih, maka mereka tidak bersikap ugal-ugalan dan main keras seperti murid-murid mereka tadi.

"Boleh saja kalian menganggap demikian, tetapi kami juga punya pendapat sendiri. Habis, kalian mau apa sekarang?" tanya Hui Lian dengan sikap menantang.

Su Kiat membiarkan saja karena dia juga merasa penasaran melihat sikap orang-orang itu. Dia sendiri sudah lama berkecimpung di dunia kang-ouw dan tahu akan aturan-aturan di dunia kang-ouw ketika dahulu dia masih menjadi murid Cin-ling-pai, tetapi orang-orang Hek-Houw Bu-koan ini memang sungguh congkak. Mudah dibayangkan bagaimana sikap mereka terhadap rakyat yang lemah.

"Hemm, kalian adalah dua pendatang baru yang sombong!" kata Si Muka Hitam. "Baiklah, jika kalian hendak menggunakan aturan sendiri, lebih dulu kalian harus berani menentang kami dan mengalahkan kami berdua beserta guru kami!"

Hui Lian menjebikan bibirnya yang merah dan memandang tajam. "Aku sama sekali tidak takut terhadap kalian! Akan tetapi aku pun datang ke kota ini untuk bekerja, bukan untuk bermusuhan dengan kalian. Asal saja kalian tidak mengganggu, maka kami juga tak akan peduli dengan kalian!"

"Kami tantang kalian sekarang juga datang ke perguruan kami supaya Suhu kami melihat apakah kalian cukup berharga untuk menjadi guru penduduk Kong-goan dan wilayahnya," kata pula Si Muka Hitam dengan hati-hati.

Dia bukan seorang yang ceroboh. Melihat betapa gadis semuda ini mampu mengalahkan pengeroyokan delapan orang muridnya, dia pun bisa menduga bahwa gadis ini tentu lihai sekali. Kalau gadis ini sudah lihai, apa lagi suheng-nya. Dia sudah memperoleh ilmu silat yang cukup matang untuk tidak memandang rendah pada seorang yang buntung sebelah lengannya.

Gurunya yang bernama Bouw Kwa Teng, pendiri perguruan silat Harimau Hitam, pernah memperingatkan dia agar berhati-hati bila menghadapi lawan yang nampak lemah, seperti orang cacat, wanita, orang tua, pendeta serta orang-orang yang nampaknya saja lemah. Orang lemah yang sudah berani menghadapi lawan, tentu mempunyai sesuatu yang bisa diandalkannya dan orang seperti itu dapat menjadi lawan yang amat berbahaya.

Hui Lian hendak menolak dan membentak, akan tetapi Su Kiat yang merasa tak enak bila menolak terus, apa lagi dia memang tahu tentang peraturan seperti itu di dunia kang-ouw, segera melangkah maju.

"Baiklah, sobat. Kami akan datang menemui guru kalian dan semua pemimpin Hek-houw Bu-koan sekarang juga."

"Suheng...!"

"Biarlah, Sumoi. Biar urusan ini cepat selesai sehingga tidak mengganggu pekerjaan kita lagi."

Hui Lian tidak membantah lagi dan mereka lalu mengikuti dua orang jagoan itu menuju ke Hek-houw Bu-koan yang ternyata merupakan bangunan besar dengan kebun yang luas untuk dipakai sebagai tempat berlatih silat. Ketika mereka memasuki pintu gerbang, Su Kiat dan Hui Lian melihat papan nama Hek-houw Bu-koan dengan tulisan yang besar dan gagah. Kemudian, begitu memasuki pekarangan depan, mereka melihat paling sedikit tiga puluh orang laki-laki sedang berlatih silat dengan gerakan yang berbareng, dipimpin oleh seorang laki-laki kurus yang memberi aba-aba.

Melihat sepintas saja, Sui Kiat dapat mengenali dasar ilmu silat Siauw-lim-pai, akan tetapi gerakan tangan itu mirip dengan ilmu silat Bu-tong-pai. Memang tak keliru pandangannya yang tajam, karena Bouw Kwa Teng pemimpin Bu-koan (Perguruan Silat) itu, sebenarnya adalah seorang ahli silat yang ilmu silatnya bersumber pada dua aliran silat, yaitu Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai. Pengetahuannya dalam kedua ilmu silat ini lalu digabung, maka muncullah ilmu silat yang diajarkan di Hek-houw Bu-koan.

Kong-goan Siang-houw, dua orang jagoan itu, diam-diam merasa kagum dan makin tidak berani memandang rendah pria buntung dan gadis muda itu. Kalau mereka sudah berani memenuhi undangannya, memasuki Hek-houw Bu-koan dengan sikap begini tenang, jelas bahwa mereka berdua itu pasti memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sehingga demikian percaya kepada diri sendiri.

Sementara itu, ketika para murid Hek-houw Bu-koan melihat masuknya dua orang tamu ini bersama dua orang toa-suheng mereka, seketika latihan itu pun menjadi kacau dan terhenti. Semua orang sudah mendengar belaka mengenai jatuhnya delapan orang murid Hek-houw Bu-koan oleh guru silat baru yang terdiri dari seorang lelaki berlengan sebelah dan seorang gadis muda yang cantik manis.

Akan tetapi dengan muka bengis Cu Kat menghardik. "Lanjutkan latihan kalian!"

Sute-nya yang kurus, yang tadi sedang memimpin latihan, menjadi ketakutan maka cepat meneriakkan aba-aba lagi dan latihan itu pun dilanjutkan. Pukulan-pukulan dan tangkisan-tangkisan yang mantap, gerakan kaki yang kokoh, dan keringat membasahi tubuh-tubuh bagian atas yang telanjang dan rata-rata tegap berotot itu.

Kong-goan Siang-houw membawa dua orang tamunya memasuki ruangan tamu. Cu Kat segera masuk ke dalam untuk mengundang gurunya, sedangkan Cu Hoat menemani dua orang tamu itu. Ruangan tamu itu berupa ruangan yang cukup luas, dan di sudut nampak sebuah rak penuh senjata tajam, delapan belas macam. Di dinding terdapat tulisan-tulisan indah yang mengagungkan kegagahan.

Tak lama kemudian terdengar bunyi langkah kaki dan muncullah Cu Kat bersama seorang lelaki yang membuat suheng dan sumoi itu memandang dengan terbelalak kagum. Lelaki itu usianya sekitar enam puluh tahun, akan tetapi tubuhnya masih kokoh kuat, berdirinya tegak dan yang membuat dua orang tamu itu terbelalak adalah melihat betapa muka tuan rumah ini hitam seperti arang!

Bukan mukanya saja yang hitam, tapi agaknya seluruh kulit tubuhnya, karena kulit kedua tangannya, juga kulit lehernya, semua menghitam! Hitam arang mengkilap dan sepasang matanya begitu lebar dan tajam. Pantaslah kalau perguruan itu dinamakan perguruan silat Harimau Hitam, karena kakek ini memang mengingatkan mereka akan seekor harimau hitam yang gagah dan galak!

Sejenak mereka saling pandang. Kakek itu sendiri memandang dengan sinar mata penuh keheranan. Tak disangkanya bahwa kedua orang guru silat yang oleh dua orang muridnya diceritakan kepadanya telah mengalahkan delapan orang muridnya, ternyata hanya lelaki berlengan sebelah dan seorang gadis muda!

Su Kiat cepat menjura, diturut oleh Hui Lian yang juga kagum melihat kakek itu. "Apakah kami sedang mendapat kehormatan berhadapan dengan pemimpin Hek-houw Bu-koan?" tanyanya dengan sikap hormat.

Hemm, sama sekali bukan orang congkak seperti yang diceritakan muridnya, pikir Bouw Kwa Teng. Sebenarnya ahli silat ini adalah seorang yang berwatak gagah dan baik, akan tetapi sayang sekali, nama besar membuat dia menjadi agak tinggi hati, dan biar pun dia seorang guru silat yang pandai, namun ternyata dia tidak mampu mendidik moral murid-muridnya sehingga dia tidak tahu betapa para murid perguruannya itu sering kali bersikap kasar, congkak dan bahkan sewenang-wenang terhadap rakyat yang lemah.

Dia segera membalas penghormatan Su Kiat dan Hui Lian. "Benar, aku adalah pemimpin Hek-houw Bu-koan bernama Bouw Kwa Teng. Siapakah Ji-wi (Anda Berdua)?"

"Nama saya Ciang Su Kiat dan ini adalah Sumoi saya bernama Kok Hui Lian, kami datang dari dusun Hek-bun di luar kota Kong-goan."

Kakek berkulit hitam arang itu mengangguk-angguk dan sinar matanya menyambar tajam mengamati dua orang di depannya itu. "Ji-wi yang hendak membuka perguruan silat dan telah merobohkan delapan orang murid Hek-houw Bu-koan?"

"Maaf, Bouw-kauwsu (Guru Silat Bouw), sesungguhnya bukan niat kami untuk berkelahi, akan tetapi ketika kami sedang mencari calon murid di tempat ramai di kota ini, tiba-tiba muncul delapan orang itu yang melarang dan menyerang kami."

Kembali guru silat itu mengangguk-angguk. Sukar melihat perasaan hatinya melalui muka yang hitam itu, yang agaknya tidak pernah berubah. "Ji-wi memandang rendah terhadap kami sebanyak dua kali. Pertama, Ji-wi membuka perguruan silat tanpa memberi tahukan kepada kami sebagai rekan, yang ke dua, andai kata ada murid kami yang keliru, maka sepatutnya Ji-wi melaporkan kepada kami. Aku masih sanggup menegur dan menghukum murid-murid kami, tidak semestinya Ji-wi turun tangan menghajar mereka."

"Maaf, karena benar-benar tidak tahu siapa mereka dan dari perguruan mana, kami telah lancang tangan, harap Bouw-kauwsu suka memaafkan," kata pula Su Kiat.

Sementara itu, Hui Lian yang sejak tadi diam saja hanya memandang dengan kedua alis berkerut. Diam-diam dia merasa tidak setuju dan tidak puas melihat betapa suheng-nya demikian mengalah, padahal mereka sama sekali tidak salah.

"Baiklah, tetapi ketahuilah oleh Ji-wi, bahwa di Kong-goan ini terdapat peraturan di antara para pemimpin perguruan silat, yaitu bahwa hanya orang-orang yang memiliki kepandaian hingga tingkat tertentu saja yang dibenarkan membuka bu-koan. Hal ini kita lakukan untuk mencegah munculnya orang-orang yang melakukan penipuan terhadap para muda di kota Kong-goan dengan membuka perguruan silat dan mengumpulkan uang, padahal mereka itu tidak memiliki kepandaian atau tingkat mereka masih terlampau rendah untuk menjadi guru silat."

"Bagus!" Hui Lian tak dapat lagi menahan kemarahannya. "Kalau ada peraturan semacam itu, lalu siapa yang harus menentukan tinggi rendahnya serta tingkat kepandaian mereka yang hendak membuka perguruan silat baru?"

Tantangan berselubung ini disambut oleh Bouw-kauwsu dengan tenang. "Biasanya kami tentukan bahwa mereka yang dibenarkan untuk menjadi guru silat harus memiliki tingkat seperti tingkat seorang di antara dua murid kepala dari perguruan kami. Siapa saja yang mampu menandingi seorang di antara Kong-goan Siang-houw ini, dua orang murid kepala yang sekarang menjadi pelatih di Hek-houw Bu-koan, selama lima puluh jurus tanpa jatuh, dianggap berhak menjadi guru silat."

"Bagus! Telah kuduga demikian!" kata pula Hui Lian. Su Kiat membiarkan saja sumoi-nya marah-marah karena dia sendiri pun sudah merasa panas. "Agaknya Hek-houw Bu-koan hendak merajai persilatan di daerah ini. Nah, akulah calon guru silat baru, dan aku akan memasuki ujian yang ditentukan itu! Akan tetapi jangan hanya seorang yang maju. Biarlah kedua Kong-goan Siang-houw itu maju bersama-sama, aku ingin melihat sampai di mana kehebatan Sepasang Harimau Kong-goan ini, apakah benar hebat ataukah hanya macan ompong belaka!"

Sesudah berkata demikian, Hui Lian langsung meloncat ke tengah ruangan yang luas itu, yang agaknya selain dipakai sebagai ruangan tamu, juga digunakan untuk tempat berlatih silat, melihat adanya rak senjata di sudut itu.

Kakek muka hitam arang itu nampak amat tertegun, bahkan Cu Kat dan Cu Hoat saling pandang dengan bingung. Sebagai dua orang terkuat di Kong-goan yang sangat disegani, tentu saja mereka merasa sungkan dan malu apa bila harus maju bersama mengeroyok seorang gadis cantik manis ini! Akan tetapi mereka telah ditantang dan mereka kini hanya dapat memandang kepada suhu mereka untuk minta keputusan.

Bouw Kwa Teng tentu saja merasa penasaran dan tidak setuju kalau kedua orang murid kepala yang kini menjadi pembantunya dan pelatih para murid lain, yang sudah mewarisi tiga perempat dari seluruh ilmunya, maju bersama mengeroyok seorang gadis muda.

"Di sini ada dua orang muridku yang menjadi penguji, sedangkan kalian juga dua orang, maka sebaiknya dua lawan dua, barulah adil," katanya. "Harap Ji-wi suka maju melayani Cu Kat dan Cu Hoat selama lima puluh jurus!"

"Tak perlu Suheng sampai maju sendiri!" kembali Hui Lian berseru penuh tantangan. "Biar kalian maju berdua, atau boleh juga bersama guru kalian. Kalian boleh maju bertiga dan akan kulawan sendiri!"

"Sumoi...!" Su Kiat terkejut dan menegur sumoi-nya yang dianggapnya terlalu lancang dan takabur.

"Biarlah, Suheng. Orang telah menghina dan mengganggu kita, hendak kulihat sampai di mana kelihaian Hek-houw Bu-koan!"

Kong-goan Siang-houw bukan hanya terkejut mendengar tantangan Hui Lian, akan tetapi juga marah bukan main. Mereka sudah meloncat dan menghadapi Hui Lian dengan muka merah. Mereka merasa amat marah karena menganggap tantangan gadis yang ditujukan kepada mereka dan guru mereka itu merupakan penghinaan terhadap guru mereka.

"Bocah sombong!" bentak Cu Kat sambil menudingkan jari telunjuknya ke arah muka Hui Lian. "Baru bisa mengalahkan delapan orang murid rendahan saja engkau sudah bersikap sombong! Guru kami terlalu terhormat untuk menandingi seorang bocah seperti engkau. Benarkah engkau menantang kami berdua untuk maju bersama? Jangan-jangan engkau akan mati konyol dan menjadi setan penasaran!"

"Huhh!" Hui Lian mendengus dengan sikap mengejek. "Kalau kalian mampu mengalahkan aku dalam lima puluh jurus, biarlah aku berlutut dan menjadi murid Hek-houw Bu-koan!"

"Bagus!" kata Cu Hoat girang membayangkan betapa nona cantik ini nanti akan menjadi muridnya. Kalau memang begitu, dia sendiri yang akan turun tangan melatihnya. "Suhu, perkenankan teecu berdua menyambut tantangan Nona ini!"

Sebenarnya masih berat rasa hati Bouw Kwa Teng membiarkan dua orang murid kepala mengeroyok seorang gadis muda, akan tetapi dia pun menjadi sangat penasaran setelah mendengar tantangan gadis itu yang bukan hanya ditujukan pada dua orang murid kepala itu, melainkan juga kepada dirinya sendiri.

Gadis itu sombong sekali dan perlu diberi pelajaran agar tak memandang rendah kepada Hek-houw Bu-koan, pikirnya. Biarlah kedua orang muridnya menghajar gadis itu dan nanti dia sendiri yang akan menghajar orang yang lengannya buntung sebelah. Oleh karena itu dia pun segera mengangguk begitu mendengar permintaan Cu Hoat.

Melihat suhu mereka telah memberi persetujuan, Kong-goan Siang-houw lalu menghadapi Hui Lian dari kanan kiri. Hui Lian berdiri tegak, sama sekali tidak memasang kuda-kuda dan hanya mengikuti gerakan kedua orang lawan itu dengan pandang matanya.

"Sumoi, kendalikan diri dan jangan sampai melukai orang!" kata Su Kiat memperingatkan.

Ia tidak menghendaki kalau baru saja tinggal di daerah Kong-goan sudah harus menanam bibit permusuhan dengan perguruan silat yang paling berkuasa di daerah itu. Hal ini sama saja dengan mencari penyakit! Biar pun berhati keras, namun Hui Lian juga seorang gadis yang tidak bodoh. Ia dapat mengerti apa maksud suheng-nya, maka dia pun mengangguk sambil tersenyum.

Sebagai penguji, Kong-goan Siang-houw itu tidak merasa sungkan untuk menyerang lebih dahulu, maka Cu Kat segera berseru, "Nona Kok, bersiaplah kami segera menyerang!"

"Majulah. kalian!" Hui Lian berseru menantang tanpa memasang kuda-kuda seperti kedua orang lawan yang sudah memasang kuda-kuda dengan gagahnya.

Melihat kedua lengan mereka yang bersilang di depan dada membentuk cakar harimau, maka tahulah Hui Lian bahwa kedua orang lawannya mempergunakan ilmu silat harimau yang tangguh, sebab ilmu silat yang bersumber dari Siauw-lim-pai ini mengandalkan gerak cepat dan tenaga kuat seperti seekor harimau. Kedua lengan itu sangat kuatnya, dengan jari-jari yang membentuk cakar mampu merobek kulit daging lawan, bahkan mampu pula mencengkeram tulang hingga remuk!

Memang kedua orang itu tidak mau main-main. Begitu menyerang langsung saja mereka memainkan Houw-kun (Silat Harimau) yang menjadi andalan mereka dan yang membuat mereka dijuluki Sepasang Harimau. Keduanya mengeluarkan suara gerengan mirip suara harimau dan ini pun termasuk bagian ilmu itu yang menggunakan auman harimau untuk melemahkan semangat lawan. Auman itu dikeluarkan dengan pengerahan tenaga khikang sehingga terdengar menggetarkan jantung.

Namun gadis muda itu sama sekali tidak terpengaruh, bahkan dia lalu tersenyum manis. "Hemm, aumannya boleh juga, cukup nyaring!" Dia bahkan berkata demikian yang tentu saja merupakan ejekan karena ucapan itu seakan ingin melihat apakah ilmu silatnya juga sehebat aumannya!

Yang lebih menantang lagi, gadis itu sama sekali tidak memasang kuda-kuda, melainkan berdiri tegak, bahkan kini bertolak pinggang dengan dua tangannya. Sebenarnya, bertolak pinggang dengan kedua tangan ini juga merupakan semacam kuda-kuda, karena kedua tangan itu sudah siap, baik untuk menangkis mau pun untuk menyerang. Dan kedua kaki yang berdiri tegak itu kokoh kuat, namun mengandung kelenturan sehingga akan mudah dipergunakan untuk menendang mau pun untuk melompat dan bergeser.

"Haiiittttt…!"

Tiba-tiba Cu Kat membentak dengan nyaring, kedua tangannya bagaikan cakar harimau sudah menyerang dengan cengkeraman bertubi ke arah kepala dan pundak kiri Hui Lian. Pada waktu yang hampir berbarengan, Cu Hoat juga membentak dan menyerang dengan cengkeraman ke arah pundak kanan dan dada.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner