PENDEKAR MATA KERANJANG : JILID-43


Hui Lian tahu bahwa empat orang ini bukan orang baik-baik, tentu dari golongan hitam yang sering bertindak sewenang-wenang. Akan tetapi karena dia tidak mengenal mereka dan tidak bermusuhan dengan mereka, sedangkan kesalahan mereka hanyalah mencuri domba-domba, maka dia pun tidak bermaksud untuk membunuh mereka. Apa bila hal itu dikehendakinya, biar pun tak begitu mudah karena dikeroyok empat, dia tentu akan dapat merobohkan mereka satu demi satu.

Kini dia membalas dengan kecepatan gerak tangan dan kakinya, dan sungguh pun empat orang lawan ini pun mampu menghindarkan diri dengan saling bantu, namun permainan silat mereka menjadi kacau saking cepatnya gerakan Hui Lian, dan mereka pun merasa jeri. Mereka sedang melaksanakan tugas, sungguh tidak menguntungkan jika melibatkan diri dalam perkelahian melawan orang yang sangat lihai ini, apa lagi hanya untuk urusan yang sepele.

Siangkoan Leng memberi isyarat kepada tiga orang lainnya untuk melarikan diri, ada pun dia sendiri segera mendahului menarik tangan isterinya diajak meloncat ke luar kalangan perkelahian. Suami isteri dari Goa Iblis Pantai Selatan juga berloncatan menjauh, lantas tanpa menoleh lagi keempatnya telah melarikan diri secepatnya meninggalkan lereng itu.

Hui Lian tidak mengejar mereka karena dia mengenal bahayanya melakukan pengejaran terhadap orang-orang dari golongan sesat yang sering kali menggunakan segala macam kecurangan. Apa lagi memang tidak ada apa-apa antara mereka dan dirinya.

Ketika dia menoleh dan mencari, ternyata sekumpulan domba itu sudah lenyap dari situ dan sesudah dia mencari-cari dengan pandangan matanya, domba-domba itu sudah jauh berada di kaki bukit, digembala oleh anak tadi yang sekarang berjalan bersama seorang dewasa yang tidak dikenalnya, seorang laki-laki yang mengenakan sebuah caping lebar yang menutupi seluruh kepala dan mukanya. Caping seperti itu memang dapat digunakan untuk melindungi tubuh, baik dari panas mau pun dari curahan air hujan.

Hui Lian tersenyum. Anak itu telah terlepas dari bahaya tanpa mengucapkan terima kasih sedikit pun kepadanya. Hal ini tidak mengapa, apa lagi anak itu tidak dikenalnya, hanya secara kebetulan saja mereka bertemu, juga anak itu tidak minta tolong kepadanya.

Akan tetapi melihat betapa anak itu sekarang berjalan bersama seorang dewasa, hatinya merasa tidak enak dan dia menjadi curiga. Siapa tahu kalau orang bercaping lebar itu juga seorang penjahat yang menipu anak itu dan hendak merampas domba-dombanya! Maka dia pun cepat berlari turun dari lereng itu melakukan pengejaran.

Ketika dia sudah dapat menyusul, Hui Lian mencoba untuk memperhatikan muka orang dewasa yang berjalan bersama dengan anak gembala itu. Mereka berjalan berdampingan, akan tetapi agaknya tidak pernah bicara.

Anak itu pun melihatnya dan nampaknya bingung dan juga khawatir, akan tetapi dia tidak mengeluarkan kata-kata, hanya berjalan lebih merapat kepada orang dewasa itu. Ketika Hui Lian mendahului supaya dapat melihat wajah orang, orang itu segera menundukkan mukanya sehingga caping lebar itu kini menutupi mukanya sama sekali dari arah samping dan depan! Hui Lian yang melirik tidak melihat apa-apa kecuali sebuah caping yang dicat kuning itu. Orang itu mengenakan pakaian berwarna biru muda dengan garis-garis pada pinggirnya.

Beberapa kali Hui Lian berjalan sambil melirik di dekat mereka, baik dari belakang mau pun dari depan. Namun selalu hanya caping yang dapat dilihatnya karena dari mana pun dia memandang, muka itu selalu terlindung caping. Dia menjadi penasaran dan semakin curiga.

Jangan-jangan orang ini memang sengaja menyembunyikan wajahnya, pikirnya dongkol akibat merasa dipermainkan. Oleh karena itu, dengan langkah lebar dia pun menghampiri mereka.

"Hei, berhenti dulu!" kata Hui Lian dengan suara gemas, mempergunakan bahasa Miao sedapatnya.

Anak itu cepat menahan langkahnya dan orang bercaping itu pun ikut pula berhenti. Akan tetapi kalau anak itu pun mengangkat muka memandang kepada wajah Hui Lian dengan sikap takut, orang bercaping itu berhenti dan berdiri sambil menundukkan muka sehingga kembali Hui Lian hanya dapat melihat capingnya saja!

"Angkat mukamu dan perlihatkan kepadaku!" bentak Hui Lian yang sudah tidak sabar lagi. Dia masih mempergunakan bahasa campuran dengan bahasa Miao.

Baru sekarang orang itu mengangkat mukanya hingga caping itu kini berada di belakang kepalanya dan wajahnya kelihatan jelas ketika sepasang mata Hui Lian bertemu dengan sepasang mata lain yang membuat dia terkejut bukan kepalang. Wajah itu adalah wajah seorang pemuda yang tampan, hidungnya mancung, mulutnya dihias senyum ramah dan sepasang matanya seperti mata naga, mencorong dan berpengaruh!

"Ehh, siapa kau?" tanyanya dalam bahasa Miao. Akan tetapi pemuda yang usianya dua puluh tahun lebih sedikit itu hanya memandang kepadanya sambil tersenyum bodoh.

Hui Lian mengerutkan alisnya dan bertanya kepada anak penggembala yang juga sedang memandang kepadanya. "Siapakah dia ini?"

Penggembala itu menoleh, lantas memandang kepada Si Caping Lebar dan menggeleng sambil menjawab. "Aku tidak tahu."

Hui Lian menjadi semakin curiga. Wah, benar dugaannya, pikirnya. Penggembala itu tidak mengenal orang ini, berarti penggembala ini tertipu.

"Tanya siapa dia!" katanya lagi dengan bahasa Miao sambil menatap tajam wajah orang bercaping yang masih tersenyum-senyum akan tetapi nampaknya tak mengerti apa yang dipertanyakan itu.

Anak itu kini menghadapi Si Caping Lebar dan menggerak-gerakkan kedua tangan serta jari-jari tangannya, berusaha memberi isyarat dengan tangan untuk menanyakan namanya sambil menuding-nuding ke arah dada orang itu.

Melihat hal ini Hui Lian menjadi semakin heran dan terkejut, juga jengkel karena melalui bahasa isyarat tangan ini, orang bercaping yang berwajah tampan itu agaknya belum juga dapat mengerti maksudnya pertanyaannya melalui anak penggembala itu.

"Sialan," gerutunya dalam bahasanya sendiri. "Dia gagu pula..."

Akan tetapi pemuda tampan itu terkekeh geli sambil memandang kepadanya. "Sobat yang baik, aku tidaklah gagu seperti yang kau kira."

Hui Lian terkejut. Kiranya orang bercaping ini tidak gagu sama sekali. Ia menjadi semakin jengkel karena merasa dipermainkan. "Kalau tidak gagu, mengapa sejak tadi engkau tidak mau menjawab pertanyaanku dan anak ini mengajakmu bicara dengan isyarat tangan?!" bentaknya.

"Aihh, bagaimana aku tahu bahwa tadi engkau mengajakku bicara, sobat? Apa yang kau bicarakan bersama adik ini tadi, aku sama sekali tidak mengerti sebuah kata pun."

Kini Hui Lian menahan ketawanya. Barulah dia mengerti. Ternyata orang ini tidak pandai bahasa Miao, maka tentu saja tidak menjawab ketika dia bertanya karena memang tidak mengerti. Dan dia telah menyuruh anak penggembala itu bertanya kepadanya, tentu saja mereka pun tidak dapat saling bicara dan anak itu agaknya sudah tahu bahwa orang ini tidak pandai bahasa Miao maka mencoba dengan isyarat tangan. Hui Lian tersenyum dan orang itu agaknya girang bukan main melihat senyumnya.

"Wah, dugaanku benar sekali, ha-ha-ha!"

Hui Lian kembali mengerutkan alisnya. Ia melihat pemuda itu tertawa dan wajahnya yang tampan menjadi semakin menarik.

"Engkau mentertawakan apa?!" bentaknya.

Pemuda yang sedang celangap tertawa itu tiba-tiba menghentikan ketawanya dan hal ini nampak demikian lucu sehingga anak penggembala itu tidak dapat menahan ketawanya. Memang lucu sekali melihat wajah yang tadinya tertawa gembira, tiba-tiba menghentikan suara ketawa itu dan berubah menjadi demikian serius.

Pemuda itu kemudian menoleh memandang kepada anak penggembala dan melihat anak itu tertawa-tawa, dia pun tertawa lagi. Keduanya tertawa dan Hui Lian yang tidak mengerti apa yang mereka tertawakan, mengerutkan alisnya lebih dalam lagi.

"Diam! Mengapa kalian tertawa-tawa seperti orang gila?" bentaknya.

Meski pun anak itu tidak mengerti ucapannya, namun agaknya dia mengerti bahwa orang berpakaian serba putih itu sedang marah-marah. Maka dia pun langsung berhenti tertawa seperti juga Si Pemuda Bercaping Lebar yang secara tiba-tiba sudah menghentikan lagi suara ketawanya.

"Nah, apa yang kau tertawakan? Kau mentertawakan aku, ya?!" Hui Lian kini menghardik Si Caping Lebar.

Caping lebar itu bergerak-gerak lucu pada saat kepala yang ditungganginya menggeleng. "Bukan mentertawakan, melainkan tertawa akibat girang sebab dugaanku agaknya benar. Tadi aku menduga bahwa engkau adalah seorang yang amat tampan dan ganteng, juga berhati baik sekali. Ketika engkau menegur aku dan marah-marah, aku merasa kecelik. Orang marah mana bisa nampak tampan? Akan tetapi ketika engkau tidak marah lagi dan tersenyum tadi, barulah aku yakin bahwa dugaanku benar. Engkau seorang laki-laki yang tampan dan ganteng, juga berhati baik sekali. Atau... barangkali dugaanku tetap keliru?"

Tentu saja Hui Lian tidak berani lagi memperlihatkan sikap marah. Siapa orangnya yang tidak ingin disebut tampan dan baik hati? Dia tersenyum, kini senyumnya lebih manis dan ramah, namun karena dia masih merasa curiga kalau-kalau pemuda bercaping ini sedang mempermainkannya, dia pun berkata. "Tentu saja aku marah kalau engkau pecengisan?"

"Pecengisan? Apa itu?" tanya Si Pemuda Bercaping.

"Pecengisan itu tidak bersungguh-sungguh tapi ingin memperolokku! Engkau tidak sedang mempermainkan aku, bukan?"

"Wah, tidak! Tidak! Mana bisa aku mempermainkan? Engkau begini tampan dan gagah, begini baik, mana aku berani?"

"Nah, kalau begitu tanggalkan dulu capingmu yang selalu menutupi mukamu supaya aku dapat bicara sambil memandang mukamu!"

Pemuda itu lalu menanggalkan capingnya dengan cara mendorong caping itu ke belakang sehingga benda itu kini tergantung di belakang tubuhnya karena talinya tergantung pada leher, dan caping itu menutupi buntalan pakaiannya yang digendongnya.

Hui Lian makin kagum. Ternyata pemuda ini ganteng bukan kepalang! Pakaiannya yang berwarna biru muda itu biar pun sederhana, namun bersih, juga rambutnya hitam sekali, terawat baik.

"Nah, begitu baru baik. Sekarang katakan, bagaimana engkau tahu-tahu dapat berjalan bersama penggembala ini? Di mana engkau ketika ada orang mencuri domba-domba itu tadi?"

"Aku kebetulan saja lewat dan melihat engkau berkelahi melawan empat orang iblis tadi. Melihat adik penggembala ini ketakutan, aku segera mengajaknya pergi dan menghalau semua domba-dombanya menjauhi tempat itu karena takut kalau-kalau ada orang jahat lagi yang akan merampas dombanya. Bagaimana dengan perkelahian tadi? Menangkah engkau? Dan di mana mereka itu?"

Hui Lian mengangguk-angguk. Ternyata hanya orang lewat secara kebetulan saja. "Aku sudah berhasil mengusir mereka," jawabnya singkat. "Mereka itu orang-orang berbahaya sekali, aku harus mengantar adik penggembala ini sampai ke rumahnya."

"Wah, kebetulan sekali kalau begitu. Aku pun tadinya hendak mengantarnya, akan tetapi aku takut kalau-kalau ketemu orang jahat. Kalau engkau yang suka mengantarnya, hatiku menjadi lega, Toako. Kini aku bisa melanjutkan perjalananku. Selamat berpisah, senang sekali dapat bertemu seorang yang demikian gagah perkasa seperti engkau."

Pemuda itu mengenakan capingnya kembali, lalu memisahkan diri dengan langkah lebar menuju ke kiri. Kepada anak penggembala itu, dia hanya tersenyum sambil melambaikan tangan, dibalas oleh penggembala itu.

"Di mana dusunmu?" Hui Lian bertanya kepada Si Penggembala setelah orang bercaping lebar itu lenyap di balik pohon-pohon.

Anak itu menunjuk ke sebuah bukit gundul yang berada di depannya. "Di balik bukit itu."

"Hemm, kenapa engkau menggembala domba sedemikian jauhnya?"

"Di sana tidak ada rumput yang bagus, dan domba-domba ini harus diberi makan rumput yang segar agar mereka tetap sehat dan segar ketika disembelih esok lusa."

"Disembelih? Semuanya ini...?" Hui Lian memandang kepada domba-domba itu, dan baru sekarang timbul perasaan ngeri mendengar bahwa domba-domba yang jinak dan manis itu akan disembelih semua!

Melihat betapa binatang-binatang yang jinak dan lemah ini, yang pada waktu digiring dan mengembik nampak sekali tidak berdaya, kini hendak disembelih semua, timbul perasaan kasihan dan ngeri. Padahal sejak kecil dia sudah makan daging domba dan belum pernah dia teringat kepada dombanya kalau sedang makan daging domba.

"Ya, semuanya ini dan masih banyak lagi. Kepala suku kami hendak mengadakan pesta pemilihan suami untuk puterinya. Wah, pasti akan ramai sekali karena pemilihan sekali ini pakai sayembara mengadu ilmu ketangkasan!"

Tentu saja Hui Lian merasa tertarik sekali. Dia pernah mendengar tentang suku bangsa yang mempunyai kebiasaan bermacam-macam mengenai pernikahan, dan dia pun pernah mendengar tentang kebiasaan sayembara untuk memperebutkan seorang wanita cantik, terutama puteri kepala suku.

"Apakah aku boleh ikut menonton?" tanyanya, mempergunakan bahasa Miao yang hanya dikuasainya setengah matang tapi cukup untuk dapat dipakai berkomunikasi dengan anak penggembala itu.

Anak itu mengangguk. "Pesta ini memang merupakan pesta suku kami, akan tetapi boleh saja orang luar menonton, bahkan boleh juga kalau ada yang mau mengikuti sayembara. Apa lagi untuk engkau yang sudah menyelamatkan domba-domba ini, kepala suku kami tentu akan senang sekali mendengarnya. Marilah ikut bersamaku sampai ke dusun, nanti akan kuperkenalkan kepada kepala suku."

Hui Lian yang memang sedang merantau dan ingin mengalami hal-hal baru, mengangguk senang. Mereka mendaki bukit di depan dan ketika tiba di puncak bukit, anak itu segera menuding ke bawah. "Nah, di sanalah perkampungan kami."

Di bawah bukit itu nampak sebuah perkampungan terdiri dari rumah-rumah sederhana. Akan tetapi perhatian Hui Lian tertarik kepada sesosok tubuh yang menggeletak tak jauh dari situ, terlentang seperti sudah tak bernyawa saja.

"Di sana ada orang...," katanya dan cepat menghampiri, diikuti oleh anak penggembala itu yang berlari-lari di belakang Hui Lian.

"Aihhh… dia Kiao Yi!" tiba-tiba penggembala itu berseru. "Tuan, apakah dia... dia sudah mati...?" Wajahnya pucat dan matanya terbelalak penuh kekhawatiran.

Hui Lian cepat memeriksa. Orang itu belum mati, akan tetapi lemah sekali dan pingsan. Melihat mukanya yang agak kebiruan serta mulutnya yang mengeluarkan busa, dia dapat menduga bahwa tentu orang ini sudah keracunan. Suheng-nya pandai membuat obat anti racun, dan dia juga membawa obat itu untuk bekal dalam perjalanan.

"Tidak, dia belum mati. Cepat cari air untuk kuberi minum obat padanya," kata Hui Lian.

Penggembala itu lalu mengeluarkan guci tempat air yang dibawanya untuk bekal. Hui Lian mengeluarkan satu butir pil putih, kemudian memaksa orang yang pingsan itu menelan pil bersama air yang diminumkannya, dibantu oleh penggembala itu.

Hui Lian lalu menotok sana sini. Orang itu masih muda, usianya paling banyak dua puluh lima tahun, kulitnya kecoklatan seperti bangsa Miao pada umumnya, kepalanya memakai kain kepala yang dilibat-libatkan seperti sorban, dan wajahnya cukup tampan.

Pemuda Miao itu mengeluh, mulai siuman dan membuka mata lalu bangkit dan muntah-muntah. Legalah hati Hui Lian. Kalau pemuda itu muntah, hal itu berarti nyawanya akan tertolong, karena racun itu ikut tertumpah keluar.

Sesudah semua isi pencernaannya tertumpah keluar, agaknya pemuda itu baru melihat adanya Hui Lian dan penggembala itu. Dia mengenal penggembala itu, akan tetapi heran melihat Hui Lian. Anak penggembala itu cepat memberi tahu bahwa Hui Lian adalah orang yang telah mengobatinya. Pemuda itu cepat-cepat memberi hormat sambil menghaturkan terima kasih.

"Tak perlu berterima kasih," kata Hui Lian dengan bahasa Miao yang kaku. "Lebih baik ceritakan bagaimana engkau berada di sini, pingsan dan keracunan."

Pemuda yang bernama Kiao Yi itu mengerutkan alisnya lalu menggelengkan kepala.

"Saya sendiri tidak tahu. Tadi saya sedang bersama para pemuda lain, terutama mereka yang hendak mengikuti sayembara besok, kami makan-makan bersama. Kemudian saya merasa perutku tidak enak sehingga saya lalu menjauhkan diri pergi ke sini. Makin lama perutku terasa semakin nyeri dan akhirnya saya tidak ingat apa-apa lagi."

"Hemm, engkau keracunan, tentu dalam makanan itu terdapat racunnya," kata Hui Lian.

"Ahh, kalau begitu semua temanku tentu keracunan pula! Saya harus segera kembali ke sana untuk melihatnya!" Kiao Yi meloncat bangun, akan tetapi segera terguling roboh lagi dan dia mengeluh. Kepalanya pening dan tubuhnya lemah sekali.

"Engkau sudah terhindar dari bahaya maut, akan tetapi masih lemah dan sedikitnya harus beristirahat sampai seminggu barulah kesehatanmu akan pulih kembali."

"Ahh, mana bisa begitu?" Kiao Yi berteriak kaget. "Saya harus mengikuti sayembara itu! Tidak mungkin saya tidak ikut dan membiarkan saja kekasih saya jatuh ke tangan orang lain!"

Anak gembala itu lalu menerangkan kepada Hui Lian. "Kakak Kiao Yi ini adalah kekasih Nian Ci, puteri kepala suku kami, dan juga dia paling gagah di antara para pemuda kami. Sudah dapat dipastikan bahwa dia tentu akan menang dalam sayembara itu, apa lagi dia memperoleh dukungan puteri kepala suku kami. Akan tetapi sekarang dia sakit..."

Kiao Yi mencoba untuk bangkit lagi, tetapi dia harus terduduk kembali sambil memegangi kepala dengan kedua tangannya karena kepalanya terasa seperti melayang dan pandang matanya terputar.

"Jangan dipaksa berdiri dulu, engkau harus beristirahat. Jelas bahwa engkau tak mungkin dapat mengikuti sayembara itu, apa lagi jika sayembara itu dilakukan besok pagi. Apakah tidak bisa ditunda dan diundurkan sampai seminggu lagi agar engkau sembuh lebih dulu?"

"Tidak mungkin." jawab Kiao Yi. "Waktu telah diputuskan oleh kepala suku sehingga tidak mungkin dirubah atau diundurkan, semua persiapan sudah dilakukan. Ahh, Nian Ci... Nian Ci... agaknya Langit dan Bumi tidak menghendaki kita menjadi suami isteri!" Pemuda itu nampak berduka sekali.

Pada saat itu terdengar suara gaduh dan ketika Hui Lian menoleh, ternyata ada belasan orang pemuda berlari-larian naik ke bukit itu. Melihat mereka, anak penggembala itu cepat mengangkat tongkatnya kemudian berteriak-teriak memanggil. Mereka berlarian naik dan nampak oleh Hui Lian bahwa mereka adalah pemuda-pemuda yang bertubuh sehat dan kuat, juga sikap mereka gembira.

Akan tetapi, saat mereka tiba di situ melihat adanya seorang asing, mereka memandang heran dan sibuklah anak penggembala itu menceritakan betapa domba-dombanya hampir dirampok orang, namun dia ditolong oleh pemuda bangsa Han. Selain itu diceritakannya pula betapa ketika pemuda Han itu sedang mengantar dia pulang, di puncak itu mereka menemukan Kiao Yi dalam keadaan pingsan dan pemuda itu pula yang sudah menolong dan mengobatinya.

"Dan aku harus beristirahat satu minggu baru kesehatanku akan pulih kembali!" Kiao Yi mengeluh kepada teman-temannya. "Dan aku tidak bisa ikut sayembara itu... ahh, betapa sial nasibku...!"

Hui Lian memandang kepada belasan orang muda itu, kemudian bertanya kepada Kiao Yi. "Mereka inikah yang makan-makan bersamamu tadi?"

Kiao Yi mengangguk. "Untung di antara mereka agaknya tidak ada seorang pun yang keracunan seperti aku."

Para pemuda itu lalu menggotong Kiao Yi yang lemah turun dari bukit, diikuti oleh anak penggembala domba dengan domba-dombanya, dan Hui Lian yang semakin tertarik juga mengikuti mereka. Sesudah tiba di perkampungan itu, para pemuda membawa Kiao Yi ke dalam rumahnya, disambut oleh ibu pemuda itu dengan bingung.

Kiao Yi sudah tidak berayah lagi, ada pun ibunya menjadi khawatir sekali melihat keadaan puteranya. Akan tetapi ketika mendengar bahwa Hui Lian adalah pemuda Han yang telah menolong puteranya, dia segera mempersilakan Hui Lian masuk ke dalam rumah sebagai seorang tamu yang dihormati.

Setelah anak penggembala pergi bersama para pemuda itu, Hui Lian yang duduk di dekat pembaringan Kiao Yi lantas bertanya. "Namamu Kiao Yi, bukan? Aku tadi mendengarnya dari anak penggembala itu."

"Benar sekali," jawab pemuda yang lemah itu.

"Namaku Hui Lian. Kiao Yi, apa saja yang harus dilakukan dalam sayembara yang akan diadakan besok itu?"

"Ada lima macam. Pertama diadu kemahiran menunggang kuda dan mempergunakan anak panah sambil berkuda. Ke dua diadu kecepatan menangkap seekor rusa muda. Ke tiga diharuskan melawan seekor kerbau. Ke empat, diserang tiga kali dengan anak panah dalam jarak seratus meter, dan ke lima siapa yang bisa lulus dalam ujian sampai empat macam itu diharuskan mengadu ilmu berkelahi. Sebagai ujian saringan bagi para pengikut harus membawa sebuah batu besar meloncat ke atas panggung."

Hui Lian mengangguk-angguk. "Hemm, berat juga. Dan tadinya engkau yakin akan dapat menang?"

Kiao Yi lalu menarik napas panjang. "Semenjak kecil saya telah mempelajari semua ilmu ketangkasan suku kami, dan apa bila melihat kemampuan teman-teman yang memasuki sayembara besok, saya dapat mengharapkan untuk menang. Akan tetapi sekarang... ahh, tak mungkin lagi..." Wajahnya nampak sedih sekali.

"Sudahlah, Anakku, tidak perlu berduka. Agaknya Nian Ci memang bukan jodohmu. Lebih baik engkau menjaga dirimu agar cepat sembuh, dan aku akan mencarikan gantinya Nian Ci. Puteri Bibimu Mang juga cantik dan..."

"Tidak, Ibu! Kalau tidak dengan Nian Ci, aku tidak mau menikah!"

"Anakku...!" lbu itu menangis.

Melihat ini, tergerak hati Hui Lian. Pemuda ini sudah saling mencinta dengan Nian Ci, apa bila perjodohan mereka sampai gagal tentu akan mendukakan hati kedua orang muda itu. Dan lebih lagi, dia merasa curiga sekali.

Kiao Yi makan-makan bersama belasan orang pemuda temannya yang juga akan menjadi saingannya besok. Dia keracunan, akan tetapi kenapa pemuda-pemuda yang lain tidak? Agaknya tentu ada permainan kotor di sini! Hal inilah yang membuat dia penasaran sekali.

"Kiao Yi, karena engkau sedang sakit, biarlah aku saja yang akan mewakilimu maju dalam sayembara itu. Aku akan berusaha sampai menang supaya engkau bisa menikah dengan Nian Ci," katanya.

Kedua mata pemuda itu terbelalak dan pandang matanya menatap wajah Hui Lian penuh selidik. "Kak Hui Lian, apakah engkau pernah melihat Nian Ci?"

Hui Lian menggeleng kepala. "Secara kebetulan saja aku bertemu dengan penggembala domba itu dan ikut ke sini."

Pemuda itu nampaknya semakin heran. Tadinya dia mengira bahwa tentu pemuda Han ini melihat Nian Ci dan tertarik oleh kecantikan gadis kepala suku itu.

"Kalau begitu, mengapa engkau hendak ikut sayembara?"

"Aku ingin mencegah agar Nian Ci tidak menikah dengan orang lain, kecuali denganmu."

"Kakak Hui Lian, engkau sudah menolong saya, sekarang hendak melakukan hal itu lagi? Tidak, besok engkau boleh memasuki sayembara, akan tetapi kalau menang, biarlah Nian Ci menjadi isterimu. Ia cantik jelita dan menarik, juga pandai sekali. Dari pada dia terjatuh ke tangan pemuda lain, saya rela kalau dia menjadi isterimu!"

"Tidak, Kiao Yi, aku melakukannya untukmu."

"Mana bisa? Sayembara itu bukan tidak berbahaya, terutama sekali ujian diserang anak panah dan adu ilmu berkelahi itu. Bisa terluka, bahkan bisa tewas!"

"Akan tetapi aku yakin akan dapat menangkan mereka, Kiao Yi."

"Tapi... tapi... Kak Hui Lian, mengapa engkau tidak mau menerima hadiahnya? Mengapa engkau tidak mau menikah dengan Nian Ci jika menang, melainkan hendak memberikan gadis itu kepadaku? Mengapa?" Melihat betapa pemuda ini berkeras dan agaknya akan menolak kalau dia tidak berterus terang, Hui Lian tersenyum.

"Kiao Yi, memang ada rahasianya mengapa aku tidak mau menikah dengan Nian Ci atau gadis mana saja di dunia ini. Akan tetapi, kalau aku membuka rahasia ini kepadamu agar engkau tak merasa penasaran, dapatkah engkau menjaga supaya rahasia ini tidak bocor dan diketahui orang lain?"

"Saya bersumpah tidak akan membocorkannya!" kata Kiao Yi kemudian pemuda ini minta kepada ibunya agar meninggalkan mereka berdua. Ibu yang tahu diri itu pun cepat keluar dan setelah tinggal berdua saja, Hui Lian berkata lirih.

"Kiao Yi, ketahuilah mengapa aku tidak bisa menikah dengan Nian Ci, karena sebenarnya aku adalah seorang wanita yang menyamar sebagai pria."

Kiao Yi terkejut sekali. Kalau saja tubuhnya tak selemah itu, tentu dia langsung meloncat turun dari pembaringannya. Dia memandang dengan mata terbelalak dan sejenak dia tak mampu mengeluarkan kata-kata. Akhirnya dia bicara, suaranya berat dan gemetar.

"Kalau begitu, sungguh... lebih tidak mungkin lagi. Sebagai seorang wanita, bagaimana... bagaimana engkau dapat melakukan semua ujian dalam sayembara...?"

Kembali Hui Lian tersenyum. "Jangan khawatir, percayalah kepadaku, Kiao Yi. Kalau aku tidak merasa mampu, tentu aku tidak menawarkan diri mewakilimu."

Kiao Yi segera teringat akan cerita yang pernah didengarnya, yang dianggapnya sebagai dongeng, tentang wanita-wanita pendekar di antara bangsa Han.

"Apakah... apakah... engkau seorang pendekar wanita?"

Untuk meyakinkan hati pemuda itu, Hui Lian segera mengangguk. "Nah, cukuplah, jangan dibicarakan lagi hal itu. Bersikaplah seakan-akan aku masih seperti tadi, seorang sahabat laki-laki. Dan namaku tetap Hui Lian, karena memang itulah namaku."

Kiao Yi girang sekali. Kalau seorang pendekar wanita yang menolongnya, tentu dia akan berhasil menikah dengan gadis kekasihnya itu! Dia lalu berteriak memanggil ibunya yang tergopoh-gopoh memasuki kamar.

"Ibu, kakak Hui Lian ini akan mewakili aku di dalam sayembara dan aku yakin dia pasti dapat menang. Ibu persiapkan saja segala keperluan untuk pernikahanku dengan Nian Ci. Dan berikan kamar tidur besar kepada Kakak Hui Lian. Ibu tidur di sini bersamaku."

Ibunya memandang puteranya dengan perasaan heran. Kenapa tamu muda itu tidak tidur saja bersama Kiao Yi? Bukankah hal itu lebih tepat, pemuda tidur dengan pemuda? Akan tetapi karena tamu itu merupakan orang terhormat, dia pun tidak membantah dan cepat meninggalkan kamar itu untuk membersihkan kamar besar…..

********************

Siapakah pemuda bercaping lebar yang pernah bertemu dengan Hui Lian ketika gadis ini menolong anak penggembala dari serangan empat orang manusia iblis itu? Dia bukan lain adalah Hay Hay!

Seperti telah diceritakan di bagian depan, dalam perantauannya Hay Hay bertemu dengan seorang kakek yang mengaku bernama Song Lojin dan Hay Hay lalu menjadi murid dari pencinta alam dan pencinta binatang itu. Kakek itu tidak lama melatih Hay Hay, hanya kurang lebih selama satu bulan, tapi gemblengan yang diberikan itu betul-betul membuat Hay Hay menjadi seorang yang matang ilmu-ilmunya!

Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, tentu saja Hay Hay kagum bukan main ketika dia melihat perkelahian antara Hui Lian dengan empat orang manusia iblis itu. Apa lagi ketika dia mengenal siapa adanya empat orang pengeroyok itu! Dia tahu benar akan kelihaian Lam-hai Siang-mo dan juga suami isteri Goa Iblis Pantai Selatan.

Akan tetapi pemuda tampan yang dikeroyok oleh empat orang datuk sesat yang amat lihai itu tampak demikian lincah, gerakannya begitu ringan dan tampak tidak sungguh-sungguh pada saat menghadapi pengeroyokan mereka! Akan tetapi tetap saja empat orang ilbis itu menjadi jeri dan melarikan diri.

Tadinya Hay Hay sudah siap untuk membantu pemuda itu, akan tetapi setelah dia merasa yakin bahwa pemuda itu tidak akan kalah, dia segera mengajak anak penggembala untuk meninggalkan tempat berbahaya itu, menggiring pergi domba-dombanya. Walau pun dia tidak mengerti sepatah kata pun bahasa Miao, namun dengan gerakan tangan dia mampu meyakinkan anak penggembala untuk cepat-cepat pergi dan Hay Hay lalu menemaninya pergi dari tempat pertempuran.

Dia mengajak penggembala itu pergi. Pertama untuk menyelamatkan anak itu bersama domba-dombanya, dan ke dua karena dia merasa segan untuk bertemu muka dengan mereka, terutama Lam-hai Siang-mo yang pernah menjadi ayah ibunya selama hampir tujuh tahun, sejak dia bayi sampai berusia tujuh tahun.

Ketika Hui Lian mengejar mereka dan dia berkesempatan berbicara dengan Hui Lian, dia merasa sangat kagum dan tertarik. Belum pernah dia bertemu dengan seorang pemuda yang demikian lihai dan juga tampan seperti pemuda itu, hanya sayang sedikit, pikirnya, pemuda perkasa itu agak galak dan sikapnya sedikit kewanitaan, terutama sekali aroma harum yang keluar dari tubuhnya. Seorang pemuda yang senang memakai minyak wangi, sungguh tidak menyenangkan hatinya karena hal itu amat kewanitaan.

Setelah mereka berpisah, Hay Hay sudah melupakan Hui Lian dan penggembala domba itu. Akan tetapi ketika dia melanjutkan perjalanan dan lewat dekat sebuah dusun, dia pun mendengar percakapan orang tentang keramaian yang akan diadakan oleh suku bangsa Miao pada besok hari, yaitu keramaian adu kepandaian dan ketangkasan!

Sebagai seorang pemuda, apa lagi yang suka dengan ilmu ketangkasan, Hay Hay tertarik sekali. Maka pada keesokan harinya, setelah malam itu dia bermalam di sebuah padang rumput yang indah bersih, pagi-pagi sekali dia lalu pergi menuju ke perkampungan orang Miao untuk nonton keramaian adu ketangkasan!

Ketika dia sampai di perkampungan itu, di sana telah berkumpul banyak orang, baik suku bangsa itu sendiri mau pun penduduk dusun-dusun di sekitar daerah itu yang berbondong datang untuk turut menonton keramaian yang menarik itu. Dan di sebuah lapangan sudah dipersiapkan alat-alat untuk ujian saringan bagi para peserta sayembara. Ketika Hay Hay tiba di situ, dia melihat pada sudut lapangan itu didirikan sebuah panggung, dan di bawah panggung terdapat sebuah batu hitam yang besarnya seperti perut kerbau dan nampak berat.

Saat itu pula nampak seorang lelaki tinggi besar yang pakaiannya indah, dengan banyak gelang serta kalung menghias tubuhnya, dengan bulu burung indah menghias sorbannya. Dan keadaan pakaian yang berbeda dari para laki-laki lainnya dari suku bangsa Miao itu menunjukkan bahwa dia adalah kepala suku.

Lelaki tinggi besar ini lalu membuat pidato pendek yang isinya memberi tahukan tentang syarat-syarat dan macamnya perlombaan, juga pengumuman bahwa pemenangnya akan berhak untuk menjadi menantunya, menikah dengan Nian Ci.

Akan tetapi, walau pun dia mendengarkan, Hay Hay hanya melongo saja, sedikit pun dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh kepala suku itu. Tentu saja hal ini membuat dia merasa kesal, maka dia pun menjadi lega karena pidato itu ternyata hanya pendek saja. Ketika para penonton mundur dan memberi tempat di sekitar panggung itu supaya cukup luas, ia pun lalu mendekat, maklum bahwa di panggung itulah akan diadakan pertunjukan pertama.

Ada belasan orang pemuda yang sudah siap di tempat itu, pemuda-pemuda suku bangsa Miao, ada juga yang peranakan dan yang agaknya berbangsa Han karena kulitnya putih kuning. Yang sangat menarik hati Hay Hay yang berdiri di antara para penonton adalah pada saat dia melihat hadirnya seorang pemuda bertubuh ramping yang amat tampan di antara para pemuda lainnya itu karena dia mengenal pemuda ini sebagai pemuda lihai yang kemarin pernah dikeroyok dua pasang suami isteri iblis dan mengalahkan mereka.

Heran sekali, pikirnya. Seorang pemuda dengan ilmu kepandaian yang demikian tingginya kini hadir di sana dan ikut pula memasuki sayembara mengadu ketangkasan? Hampir dia tertawa karena dia dapat memastikan bahwa semua saingan itu tentu akan kalah jauh dibanding pemuda yang lihai itu.....,


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner