PENDEKAR MATA KERANJANG : JILID-47


Hay Hay segera meninggalkan tempat itu, mempergunakan ilmu berlari cepat untuk turut melakukan pengejaran pula ke arah larinya Min-san Mo-ko yang dikejar oleh Hui Lian tadi. Dia merasa sangat khawatir terhadap keselamatan Hui Lian karena dia maklum betapa berbahayanya Min-san Mo-ko, apa lagi ilmu sihirnya yang akan sukar dilawan oleh Hui Lian. Dia khawatir, lebih-lebih setelah kini dia tahu bahwa Hui Lian adalah seorang wanita! Seorang gadis yang cantik jelita dan... harum bau keringatnya!

Kekhawatirannya bertambah ketika dia tiba di luar sebuah hutan dan masih belum juga dapat menemukan jejak mereka, baik jejak Min-san Mo-ko dan teman-temannya mau pun jejak Hui Lian. Dia teringat akan dua orang yang tadi terluka oleh Hui Lian, maka cepat dia berlari seperti terbang menuju ke tepi telaga yang tadi. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan mereka yang hanya bisa berjalan perlahan-lahan karena salah seorang di antara mereka menderita patah tulang kaki kirinya sehingga hanya mampu berjalan terpincang-pincang. Ketika melihat Hay Hay yang tiba-tiba muncul, mereka terkejut bukan main dan langsung menggigil ketakutan!

Hay Hay tak mau membuang waktu lagi. Segera dia mengerahkan ilmu sihirnya, menatap tajam dan berkata dengan suara yang sangat berwibawa, "Aku ingin kalian mengatakan di mana sarang Min-san Mo-ko. Apa bila kalian berbohong, awas! Lihat, aku dapat menjadi seorang raksasa yang akan mengganyang habis kalian!"

Dua orang itu terbelalak dan muka mereka berubah pucat, tubuh mereka menggigil dan mereka berdua jatuh berlutut ketika melihat betapa pemuda yang berada di depan mereka itu benar-benar telah berubah menjadi seorang raksasa yang mukanya amat mengerikan, mulutnya lebar terbuka dan penuh dengan taring yang runcing!

"Ampun... ampunkan kami... kini Min-san Mo-ko pasti berada di dalam kuil Pek-lian-kauw yang terdapat di dalam hutan... di lereng bukit sana..."

Tanpa menanti keterangan lebih lanjut karena sudah cukup baginya, Hay hay berkelebat lenyap dari depan kedua orang itu yang terjungkal pingsan saking takutnya. Kini Hay Hay berlari cepat menuju ke bukit itu dan ketika dia memasuki hutan yang berada di lereng bukit itu, sore telah larut dan cuaca di dalam hutan mulai remang-remang.

Tiba-tiba dia mendengar suara beradunya senjata dari tengah hutan. Jantungnya segera berdebar tegang dan dia pun langsung berlompatan ke arah datangnya suara berkelahi itu. Tak lama kemudian tibalah dia di depan sebuah kuil tua dan di situ dia melihat Hui Lian yang memegang pedang sedang dikeroyok oleh banyak orang!

Tentu saja Hui Lian terdesak hebat karena pengeroyoknya adalah Min-san Mo-ko, kedua pasangan suami isteri iblis, dan masih ada pula beberapa orang tosu Pek-lian-kauw yang lihai! Tidak nampak iblis betina Ji Sun Bi di situ.

Diam-diam Hay Hay merasa lega bahwa Hui Lian belum terluka walau pun dia terdesak hebat. Agaknya gadis ini sudah melindungi dirinya dengan sinkang dan khikang sehingga tak akan mudah dipengaruhi sihir Min-san Mo-ko dan dengan gigihnya dia masih mampu membuat perlawanan.

"Toako, aku datang membantumu!" teriak Hay Hay dan dia pun mencabut sebuah suling dari pinggangnya, lalu terjun ke dalam perkelahian itu dengan suling di tangan.

"Hay-te, cepat ke sini, kita saling melindungi!" kata Hui Lian sambil memutar pedangnya.

Hay Hay yang maklum betapa bahayanya musuh-musuh itu, segera membuka kepungan dengan putaran sulingnya. Terdengar suara senjata beradu, lantas dua orang anak buah gerombolan itu terjengkang. Hay Hay melompat masuk dan sekarang telah berdiri beradu punggung dengan Hui Lian, memutar suling dan menangkis senjata-senjata yang datang menyambar, juga dia menggunakan tangan kiri mendorong ke kanan kiri dan pihak lawan yang kurang kuat tentu langsung terdorong mundur sehingga mereka merasa kaget dan jeri terhadap pemuda yang baru muncul ini.

Kini legalah hati Hui Lian karena tadi dia sudah kewalahan dan kalau Hay Hay terlambat datang, bukan tak mungkin dia akan segera roboh, tertawan atau tewas. Hatinya merasa gembira dan jantungnya berdebar aneh setiap kali pinggulnya menyentuh Hay Hay dalam gerakan mereka yang saling melindungi.

Mereka berdua segera mengamuk dan setelah banyak anak buah gerombolan roboh oleh pedang Hui Lian dan suling di tangan Hay Hay, mereka menjadi jeri dan kini yang masih mengeroyok hanya tinggal Min-san Mo-ko, dua pasang suami isteri dari selatan, ditambah lima orang tosu Pek-lian-kauw yang lihai dan bersenjata tongkat panjang.

Beberapa kali tosu dan juga Min-san Mo-ko mencoba ilmu sihir mereka, namun berkat kekuatan sihir Hay Hay, semua serangan mereka tidak mempan. Juga Hay Hay tidak mau mencoba ilmu sihirnya, maklum bahwa dia takkan berhasil karena selain Min-san Mo-ko, di situ terdapat lima orang tosu yang kesemuanya memiliki ilmu sihir yang cukup kuat!

Walau pun kedua orang muda itu dikeroyok sepuluh orang pandai, namun mereka sama sekali tidak merasa gentar, juga tidak terdesak, walau pun bagi mereka berdua pun tidak mudah untuk dapat melukai para pengeroyok yang lihai itu. Selagi Hay Hay berniat untuk mengajak kawannya melarikan diri, tiba-tiba muncul dua orang di pihak para pengeroyok. Mereka itu bukan lain adalah Ji Sun Bi, wanita cabul itu, beserta seorang pemuda yang tampan dan sikapnya gagah.

Ji Sun Bi segera membantu para pengeroyok, menyerang Hui Lian, sedangkan pemuda gagah itu menggunakan sebatang pedang yang mengeluarkan cahaya perak mengeroyok Hay Hay. Ketika menangkis cahaya perak itu dengan sulingnya, dia kaget bukan main.

Pemuda yang baru datang ini memiliki sinkang yang amat kuat, dan pedang iu pun sangat bebrahaya karena ujung sulingnya terbabat putus! Kiranya pemuda itu seorang yang amat lihai dan memegang sebatang pedang pusaka yang ampuh. Secara diam-diam Hay Hay mengeluh. Dengan munculnya pemuda ini dan Ji Sun Bi, jelas bahwa kedudukan dia dan Hui Lian terhimpit dan berat sekali.

Di lain pihak, dengan munculnya Ji Sun Bi yang meyerang dengan siang-kiam (sepasang pedang), Hui Lian juga merasa berat dan repot. Wanita cabul itu memang lihai, lebih lihai kalau dibandingkan suami isteri iblis atau para tosu Pek-lian-kauw. Maka kemunculannya membuat Hui Lian terdesak dan hanya mampu menangkis saja, sedikit sekali mendapat kesempatan untuk balas menyerang. Kini dia dan Hay Hay dikeroyok dua belas orang dan pada waktu dia melirik melalui sudut matanya, dia melihat betapa pemuda yang datang bersama Ji Sun Bi itu pun ternyata lihai bukan main.

"Toako, mari kita pergi!" tiba-tiba terdengar Hay Hay berseru.

Dan tiba-tiba saja Hay Hay tertawa bergelak. Suara tawanya sampai menimbulkan gema, demikian dalam penuh wibawa. Para pengeroyok terkejut sekali dan tanpa mereka sadari, mereka pun kini tertawa semua, terseret oleh arus yang sangat kuat dari getaran suara ketawa Hay Hay. Kesempatan ini digunakan oleh Hay Hay untuk menyambar lengan Hui Lian lantas diajaknya meloncat keluar dari kepungan!

Pada saat para lawan terpengaruh sihirnya dan tertawa, Hay Hay yang memegang lengan Hui Lian melompat keluar. Akan tetapi hanya sebentar saja Min-san Mo-ko terpengaruh, demikian pula lima orang tosu Pek-lian-kauw. Min-san Mo-ko sudah menubruk ke depan dengan pedangnya yang menyambar ke arah leher belakang Hay Hay.

Pemuda ini mengelak dengan memutar tubuhnya. Dia melihat benda mencorong di dada Min-san Mo-ko. Batu giok milik Kwan-taijin! Hay Hay lalu menusukkan sulingnya ke arah mata Min-san Mo-ko, akan tetapi tangan kirinya menyambar dan dia berhasil merampas batu giok yang dikalungkan pada leher Min-san Mo-ko. Pada saat itu pula lima orang tosu Pek-lian-kauw sudah menubruknya!

Hui Lian segera membantunya dengan putaran pedang sehingga tongkat para tosu dapat ditangkis. Akan tetapi pada saat itu ada sinar hitam menyambar, dan Hui Lian mengeluh lantas terhuyung. Dia telah diserang dari belakang dengan jarum beracun oleh Tong Ci Ki yang berjuluk Si Jarum Sakti, iblis betina dari Goa Iblis Pantai Selatan. Tiga batang jarum kecil memasuki pinggul kanan tanpa dapat ditangkisnya sama sekali sehingga tubuhnya terhuyung dan sebelah kakinya seperti lumpuh.

Pada saat itu pula Hay Hay cepat menyambar tubuh Hui Lian dengan tangan kiri, ada pun sulingnya diputar cepat. Dua orang tosu Pek-lian-kauw terjungkal roboh, akan tetapi ujung pedang di tangan Min-san Mo-ko juga menyerempet dada Hay Hay, merobek baju berikut kulit dan daging di dada kanannya.

"Kami tidak ada waktu melayani kalian. Kami pergi, kami menghilang dan kalian tak dapat melihat kami lagi!" terdengar Hay Hay berseru, kini mengerahkan seluruh tenaga sihirnya.

Sekali ini dia berhasil baik karena semua musuhnya tiba-tiba menjadi bingung ketika Hay Hay dan Hui Lian lenyap. Beberapa kali Min-san Mo-ko beserta para tosu Pek-lian-kauw mengeluarkan bentakan-bentakan untuk memunahkan pengaruh sihir itu, hingga akhirnya mereka berhasil juga menyingkirkan pengaruh itu.

Akan tetapi, ketika semua orang sudah sadar dan mengejar keluar ruangan depan, yang terlihat hanya bayangan kedua orang musuh itu memasuki hutan yang telah menjadi amat gelap. Mengingat akan lihainya dua orang itu, mereka tidak berani melakukan pengejaran di dalam gelap karena hal itu berbahaya sekali bagi mereka.

Min-san Mo-ko membanting-banting kakinya. "Keparat jahanam! Mereka dapat lolos!" Dia mengutuk.

"Jangan khawatir, Mo-ko," kata Si Jarum Sakti Tong Ci Ki. "Pemuda berpakaian putih itu telah kuhadiahi tiga batang jarum beracunku, tentu dia tidak akan mampu berlari jauh dan akan mampus juga."

"Dan aku melihat tadi pedangmu juga telah melukai dada Hay Hay," kata Ji Sun Bi kepada suhu-nya dengan suara menghibur. "Tentu dia tidak akan terlepas dari maut pula karena pedangmu yang beracun."

Akan tetapi ucapan kedua orang wanita itu agaknya bahkan menambah kejengkelan hati Min-san Mo-ko. "Semoga semua iblis mengutuk mereka!" katanya dengan muka merah dan mata melotot. "Apa artinya luka-luka oleh jarum dan pedang beracun apa bila mereka memiliki batu giok mustika itu?"

"Apa? Jadi batu giok itu terampas oleh mereka?"

"Hay Hay keparat itu yang merampasnya dari leherku. Besok sesudah terang tanah kita harus melakukan pengejaran. Pemuda itu memang harus dibunuh, jika tidak, kelak hanya akan mendatangkan gangguan saja bagi kita. Ahh, bagaimana kita akan bisa menghadap Giam-lo kalau begini? Jaksa Kwan lolos, dan sekarang mustika batu giok juga terampas orang." Min-san Mo-ko kelihatan marah dan juga bingung, takut akan kemarahan Lam-hai Giam-lo yang menjadi pimpinan mereka.

Pemuda tampan yang tadi muncul bersama Ji Sun Bi kini melangkah maju dan berkata kepada Min-san Mo-ko, "Mo-ko, kenapa susah amat? Sungguh memalukan jika kita yang begini banyak sampai tidak mampu membekuk bocah itu. Biarlah aku yang akan mencari dan membekuk mereka, atau setidaknya merampas kembali mustika batu giok itu."

Min-san Mo-ko memandang pada pemuda itu. Seorang pemuda yang usianya juga masih muda, sebaya dengan Hay Hay, dan pemuda ini pun mempunyai ilmu kepandaian yang hebat! Dia sendiri sudah mengujinya dan memang pemuda ini patut menjadi sekutunya yang boleh diandalkan, biar pun pemuda ini tidak memiliki ilmu sihir. Dalam hal ilmu silat, agaknya dia sendiri pun belum tentu akan mampu mengalahkannya!

"Besok pagi kita beramai-ramai akan mencari mereka!" Dia hanya dapat berkata demikian karena dia juga tidak berani bersikap kasar atau keras terhadap pemuda yang baru saja menjadi sekutu mereka ini,.

"Tentang mustika batu giok itu, agaknya Giam-lo juga tidak akan terlalu menyesal karena sebagai gantinya, dia mendapatkan Sim-kongcu sebagai sahabat, dan Sim-kongcu sudah berjanji akan menghadiahkan kepada Lam-hai Giam-lo sebuah benda mustika yang tidak kalah langkanya kalau dibandingkan dengan mustika batu giok itu," kata Ji Sun Bi sambil menggandeng tangan pemuda itu dan mengerling dengan sikap manja.

Pemuda yang disebut Sim-kongcu (Tuan Muda Sim) itu hanya tersenyum, lantas berkata dengan suara yang jelas membayangkan kebanggaan dirinya. "Batu giok penawar racun seperti itu saja kiranya tak perlu diperebutkan. Aku memiliki sebuah cawan arak yang bisa dipakai mengenal minuman atau makanan beracun. Cawan itu akan kuhadiahkan kepada Lam-hai Giam-lo sebagai tanda persahabatan, dan kelak dapat dipakai sebagai pengganti mustika batu giok yang tak berhasil lita rampas itu"

Hati Min-san Mo-ko menjadi agak lega ketika mendengar janji ini. Setidaknya kemarahan Lam-hai Giam-lo akan berkurang jika dia mendapat seorang pembantu selihai pemuda ini sebagai pengganti mustika batu giok itu, apa lagi ditambah dengan sebuah cawan pusaka yang langka.

Oleh karena itu, ketika pada keesokan harinya mereka tak berhasil menemukan jejak Hay Hay dan Hui Lian, Min-san Mo-ko mengajak kawan-kawannya meninggalkan tempat itu dan pergi menghadap Lam-hai Giam-lo untuk memberi laporan.

Siapakah pemuda lihai yang sekarang agaknya baru saja bersekutu dengan gerombolan itu? Dia bukan lain adalah Sim Ki Liong, atau tadinya memakai she Ciang ketika berguru kepada Pendekar Sadis dan isterinya di Pulau Teratai Merah.

Seperti sudah kita ketahui, dengan siasat yang sangat cerdik, ketika berusia empat belas tahun Sim Ki Liong berhasil menjadi murid Pendekar Sadis dan isterinya karena dia amat pandai membawa diri, memperlihatkan diri sebagai seorang pemuda yang sopan santun, berbakti dan juga sangat berbakat. Suami isteri pendekar yang biasanya amat cerdik itu dapat dikelabui dan dia pun mendapat pelajaran ilmu silat yang hebat dari suami isteri itu selama enam tahun.

Suami isteri itu tak pernah melihat kelakuan buruk Ki Liong selama menjadi murid mereka dan tinggal di pulau itu, sampai kemudian datang puteri serta cucu perempuan mereka, yaitu Ceng Sui Cin dan Cia Kui Hong. Berkobarlah nafsu birahi dalam diri Ki Liong ketika dia melihat Kui Hong dan hampir tak tertahankan lagi sehingga dia pun bersikap ceriwis dan kurang ajar terhadap Kui Hong sehingga terjadi keributan.

Agaknya karena memang sudah merasa pandai dan tidak betah lagi tinggal di pulau itu, setelah terjadi keributan dengan Kui Hong yang menolak keinginannya untuk bermesraan, Ki Liong lalu minggat dari Pulau Teratai Merah sambil membawa beberapa buah benda pusaka dan juga harta dari pulau itu, milik Pendekar Sadis dan isterinya!

Di antara benda-benda pusaka itu, dia juga membawa pergi Gin-hwa-kiam milik Pendekar Sadis dan sebuah cawan pusaka yang amat langka karena minuman atau makanan apa saja yang mengandung racun, bila mana ditaruh di dalam cawan, lalu akan nampak tanda hijau pada cawan perak itu!

Demikianlah, setelah meninggalkan pulau secara minggat, Ki Liong mencari ibunya yang tinggal di sebuah dusun. Hanya beberapa hari saja dia tinggal di situ. Sesudah rasa rindu pada ibunya terobati, maka mulailah dia merantau untuk mencari musuh besarnya, yaitu pembunuh ayahnya.

Menurut ibunya, pembunuh ayahnya itu bernama Siangkoan Ci Kang yang dahulu masih terhitung saudara seperguruan dengan ayahnya yang bernama Sim Thian Bu. Menurut cerita ibunya, Siangkoan Ci Kang adalah seorang laki-laki yang berkepandaian tinggi dan lengan kirinya buntung sebatas siku.

Tidak sukar mencari orang yang buntung lengan kirinya, apa lagi kalau orang itu seorang ahli silat yang lihai. Tentu akan mudah dia mencari keterangan di dunia kang-ouw, karena Si Lengan Buntung yang lihai itu tentu dikenal oleh banyak orang kang-ouw.

Akan tetapi ternyata harapannya sia-sia belaka dan dugaannya meleset. Memang banyak orang mendengar nama Siangkoan Ci Kang, putera dari mendiang Siangkoang Lojin yang berjuluk Si Iblis Buta, akan tetapi semenjak belasan tahun sampai dua puluh tahun yang lalu, nama Siangkoan Ci Kang tidak pernah muncul lagi di dunia kang-ouw dan tidak ada seorang pun tokoh kang-ouw yang tahu di mana adanya jagoan itu.

Hal ini tidaklah aneh karena waktu itu Siangkoan Ci Kang bersama Toan Hui Cu memang ‘bersembunyi’ di dalam kuil Siauw-lim-si, menjadi orang-orang hukuman sehingga mereka berdua itu seolah-oleh lenyap dari dunia kang-ouw, bahkan dunia ramai.

Ki Liong tidak putus asa dan terus mencari sehingga akhirnya dia tiba di daerah Propinsi Hu-nan dekat Telaga Tung-ting di mana dia berjumpa dengan Ji Sun Bi. Dan seperti kita ketahui, setelah tak mampu mengalahkan Hay Hay dan Hui Lian, Ji Sun Bi juga melarikan diri bersama teman-temannya.

Seperti yang telah mereka rencanakan, mereka lalu berkumpul di dalam kuil tua di mana terdapat para tosu Pek-lian-kauw yang menjadikan kuil itu sebagai tempat persembunyian mereka untuk sementara waktu. Memang di antara para anggota gerombolan itu dengan Pek-lian-kauw sudah terjalin hubungan baik, apa lagi kalau diingat bahwa Min-san Mo-ko sendiri adalah bekas seorang tokoh Pek-lian-kauw.

Ji Sun Bi tidak betah tinggal di kuil tua yang buruk itu, sebab itu dia pun berkeliaran keluar kuil dan mendaki bukit itu, keluar dari dalam hutan. Dan di puncak bukit inilah dia melihat seorang pemuda yang amat menarik hatinya.

Seperti biasanya, setiap kali berjumpa dengan seorang pemuda yang tampan dan gagah, maka tergeraklah hati Ji Sun Bi dan gairahnya pun timbul. Melihat pemuda itu melangkah seorang diri dari atas puncak bukit menuju turun, Ji Sun Bi cepat-cepat mencubit pahanya sendiri sampai kain celananya robek dan kulit pahanya membiru, kemudian dia rebah di atas tanah di dekat jalan setapak sambil merintih-rintih.

Ketika berjalan seenaknya menuruni bukit itu, tentu saja Ki Liong dapat melihat seorang wanita yang rebah miring di atas tanah sambil merintih-rintih itu. Dia terkejut sekali, lantas dengan beberapa lompatan saja dia sudah menghampiri wanita itu.

Wanita itu sangat cantik manis. Mukanya bulat dan kulitnya putih mulus, tubuhnya padat dan menggairahkan. Sepasang pedang yang melintang pada punggungnya menunjukkan bahwa wanita itu bukan wanita sembarangan.

"Aduhh... aughh... aduuhh...," Ji Sun Bi merintih-rintih, pura-pura tidak melihat orang yang datang menghampirinya.

"Toanio, siapakah engkau dan apakah yang telah terjadi?" tanya Ki Liong kepada wanita yang dia takisr usianya tentu beberapa tahun lebih tua darinya biar pun masih cantik dan menarik sekali.

Ji Sun Bi menoleh dan seolah-olah baru melihat Ki Liong. Tiba-tiba saja dia bangkit duduk kemudian meloncat berdiri dengan kaki terpincang, memasang kuda-kuda dan memegang gagang pedangnya.

"Engkau siapa...?!" bentaknya seperti orang khawatir yang sedang menghadapi seorang musuh dalam keadaan terluka.

Ki Liong tersenyum hingga Ji Sun Bi yang mata keranjang itu merasa jantungnya jungkir balik melihat betapa tampannya pemuda ini kalau tersenyum.

"Toanio, jangan salah duga. Aku bukan musuhmu, tadi aku hanya kebetulan saja melihat engkau rebah di sini sambil merintih kesakitan. Apakah engkau sakit, Toanio? Barang kali aku dapat menolongmu...?"

“Tidak! Engkau tentu seorang musuh!" kata Ji Sun Bi.

Dan tiba-tiba saja dia menyerang dengan kedua tangannya, menggunakan jurus pukulan yang sangat ampuh. Tangan kirinya menotok ke arah leher sedangkan tangan kanannya mencengkeram ke arah lambung.

Serangan yang hebat ini dilakukan Ji Sun Bi bukan untuk mencelakakan orang, melainkan untuk menguji apakah pemuda ini seorang yang mempunyai kepandaian silat seperti yang diduganya, melihat cara pemuda itu tadi berlompatan menghampirinya. Kalau pemuda ini tidak pandai silat, atau tak begitu pandai sehingga jurusnya ini terlalu berbahaya baginya, tentu dia akan menarik kembali tangannya.

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Ji Sun Bi ketika melihat pemuda itu sama sekali tidak mengelak atau menangkis, melainkan membuat gerakan aneh dengan dua tangannya dan tahu-tahu kedua pergelangan tangannya telah dipegang oleh pemuda itu! Sepasang lengan pemuda itu tadi bergerak sedemikian cepatnya seperti dua ekor ular saja, mendahului serangannya. Serangannya disambut oleh serangan pula dan tahu-tahu kedua pergelangan tangannya sudah di pegang dan dia tidak berdaya!

Ki Liong memperlebar senyumnya. "Aku bukan musuhmu! Tidak mungkin pula aku mau bermusuhan dengan orang secantik engkau. Aku lebih suka kalau bersahabat denganmu, Toanio," kata Ki Liong, baru kemudian dia melepaskan pegangannya.

Ji Sun Bi yang merasa terkejut, heran dan juga girang sekali mendapat kenyataan bahwa pemuda ini ternyata lihai bukan main dan juga ingin bersahabat, lalu sengaja terhuyung dan terpincang kemudian rebah pula, seolah-olah kaki kanannya menjadi lumpuh.

"Aduuuhhh...!"

Kembali Ki Liong sudah berlutut di dekatnya. "Engkau kenapakah, Toanio? Apanya yang sakit?"

Ji Sun Bi berlagak menahan sakit dan menggigit bibirnya, kemudian berkata dengan alis berkerut, "Aku dan kawan-kawan... baru saja berkelahi dengan musuh, dan aku terluka... pada paha kananku, aduuhh...!" Dan dia pun memijit paha kananya.

Ki Liong merasa kasihan. "Bolehkah aku memeriksa lukamu, Toanio? Mungkin aku dapat menolongmu sebab aku membawa obat yang amat manjur untuk menyembuhkan luka..."

Ji Sun Bi mengangguk dan Ki Liong lalu memeriksa paha kanan itu. Dia membuka kain celana yang terobek cukup lebar sehingga nampaklah paha yang mulus karena kulitnya putih mulus, akan tetapi ada nampak biru kemerahan bekas cubitan. Setelah memeriksa dengan teliti, Ki Liong hampir tertawa, akan tetapi dia cukup cerdik untuk menahannya.

Paha itu tidak apa-apa, hanya kulit paha yang halus hangat itu saja yang membiru bekas cubitan. Akan tetapi dia lalu mengelus paha itu dan jantungnya berdebar penuh gairah. Wanita ini cantik sekali, tubuhnya padat dan pahanya demikian mulus!

"Lukanya tidak parah, Toanio, akan segera sembuh sesudah kuurut dan kupijit," kata Ki Liong sambil mengelus-elus kulit paha yang membiru itu.

Diam-diam Ji Sun Bi merasa girang bukan main. Jelas ada tanda-tanda bahwa pemuda ini menyambut dan suka kepadanya, seorang pemuda yang tampan dan gagah, bahkan dia menduga pemuda ini mempunyai ilmu kepandaian yang sangat tinggi! Ketika pahanya dielus seperti itu, ingin dia langsung saja merangkul pemuda itu, akan tetapi ditahannya karena dia tidak mau gagal, seperti yang pernah terjadi dengan Hay Hay.

"Terima kasih, ahhh... terasa nyaman sekarang..."

Ki Liong tersenyum, elusan tangannya semakin berani. "Enak...?"

"Enak sekali, terima kasih, nyerinya sudah hampir hilang... ahh, sobat yang baik, engkau tadi begitu mudah menangkap kedua pergelangan tanganku. Engkau yang lihai dan baik hati ini, siapakah engkau?"

Tanpa melepas jari-jari tangannya yang mengelus dan membelai, Ki Liong menatap wajah manis itu sambil menjawab. "Namaku Sim Ki Long, aku seorang perantau yang kebetulan lewat di sini dan bertemu denganmu, Toanio..." Dia memandang paha itu dan melihat kulit paha yang demikian putih mulus, demikian hangat terasa di tangannya, Ki Liong lantas menunduk dan mencium paha itu.

Makin keras jantung Ji Sun Bi berdegup dan mukanya menajdi kemerahan, tanda bahwa nafsunya sudah naik ke kepala. Sungguh beruntung, pikirnya, sekali ini dia menemukan seorang pemuda yang begini hebat dan menyenangkan!

"Sim-kongcu... engkau tentu seorang pemuda bangsawan atau hartawan. Engkau jangan menyebut Toanio kepadaku karena aku belum... belum menikah, ehh, namaku Sun Bi, Ji Sun Bi..." Suara Sun Bi sudah tidak karuan karena napasnya semakin memburu.

"Baiklah, Enci Sun Bi. Wah, engkau cantik sekali..."

Sun Bi tidak dapat menahan dirinya lagi lalu tiba-tiba dia memeluk dan mencium pemuda itu. Hati Sun Bi semakin gembira ketika pemuda itu membalas ciumannya. Dia mendapat kenyataan betapa canggung pemuda ini melakukan hal itu, menandakan bahwa pemuda yang menarik hatinya ini adalah seorang pemuda yang belum memiliki pengalaman sama sekali.

Dia segera menarik pemuda itu rebah di atas rumput, dan kegembiraannya makin besar saat dia mendapat kenyataan bahwa dia bertemu dengan seorang perjaka tulen! Dengan penuh gairah dan kesukaan hati dia pun lalu mengajar dan membimbing pemuda itu untuk memuaskan birahi dan gairah mereka. Dan di dalam hal ini, tentu saja Sun Bi merupakan seorang guru yang amat pandai dan berpengalaman bagi Ki Liong!

Tak lama kemudian, dengan hati yang girang sekali, seperti menemukan sebuah mustika yang amat hebat, Ji Sun Bi sudah menggandeng tangan Ki Liong dan diajaknya pemuda ini menemui Min-san Mo-ko serta yang lain-lainnya, memperkenalkan pemuda itu sebagai sahabat barunya, sebagai kekasihnya!

"Suhu, Sim Ki Liong adalah sahabat baikku yang boleh dipercaya dan jangan dipandang rendah karena dia amat lihai. Ilmu kepandaiannya tidak kalah dibandingkan dengan siapa pun juga, dan andai kata dia membantu kita dalam menghadapi dua orang musuh itu, tentu pihak kita tidak akan kalah!"

Ji Sun Bi adalah murid merangkap kekasih Min-san Mo-ko, akan tetapi Iblis dari Min-san ini tidak merasa cemburu melihat Sun Bi yang gila lelaki itu mendapatkan kekasih baru. Namun diam-diam dia merasa tidak senang mendengar ucapan Sun Bi yang memuji-muji Ki Liong dan mengatakan bahwa pemuda ini tidak akan kalah dibandingkan dengan siapa pun juga. Ucapan itu seperti merendahkan dirinya, seolah-olah dia sendiri pun tentu kalah oleh pemuda yang menjadi kekasih Sun Bi ini. Dia merasa penasaran dan ingin menguji sampai di mana kebenaran pujian Sun Bi.

"Benarkah demikian? Jika memang Sim-kongcu benar-benar lihai dan dapat menahanku sampai sepuluh jurus, sungguh aku merasa girang sekali karena kita telah mendapatkan seorang sekutu baru yang boleh diandalkan."

Ki Liong memiliki watak yang tinggi hati. Merasa bahwa dia adalah murid Pendekar Sadis dan isterinya, dia merasa seakan-akan kepandaian silatnya sudah paling tinggi dan tidak ada lawannya! Oleh karena itu, kini dia pun memandang rendah kepada orang tua yang diperkenalkan oleh Sun Bi sebagai gurunya dan yang bernama Min-san Mo-ko itu.

Kini semua orang sudah berkumpul di situ, ingin sekali melihat pimpinan mereka menguji kepandaian pemuda yang baru tiba itu, juga anak buah gerombolan itu berkumpul di situ dengan hati tegang. Setelah memandang ke sekelilingnya, Ki Liong menghampiri Min-san Mo-ko dan dengan lantang berkata,

"Mo-ko, aku pun ingin sekali mengetahui apakah engkau mampu mengalahkan aku dalam sepuluh jurus, karena kalau begitu halnya, engkau bukan hanya pantas menjadi pimpinan kelompok ini, bahkan pantas menjadi guruku!"

"Bagus!" Min-san Mo-ko menggerakkan tubuhnya dan tahu-tahu dia telah berdiri di depan Ki Liong. "Orang muda, sambutlah seranganku!" Dan dia pun segera menyerang dengan amat ganasnya, menyambung suaranya yang melengking tadi. Tangannya bergerak cepat sekali mencengkeram ke arah kepala Ki Liong, disusul tendangan ke arah pusar.

"Hemmm...!" Ki Liong masih tenang saja dan dengan sangat mudah dia miringkan tubuh mengelak, sedangkan tendangan itu ditangkisnya dengan tangan terbuka. Tendangan itu mental dan kedua pihak kini maklum bahwa lawan memiliki tenaga yang amat kuat!

Jurus pertama gagal, lalu disusul jurus kedua dan makin lama serangan Min-san Mo-ko menjadi semakin dahsyat dan berbahaya. Namun bukan saja Ki Liong mampu mengelak dan menangkis, bahkan tiga kali dia mampu membalas dengan serangan yang tentu akan mencelakakan diri Min-san Mo-ko jika saja Ki Liong tidak menahan dan menarik kembali serangannya sambil tersenyum.

Jurus ke sepuluh merupakan serangan paling hebat. Tubuh Min-san Mo-ko melayang ke depan, tangan kirinya dengan jari terbuka menotok ke arah pelipis kanan lawan, ada pun tangan kanannya mencengkeram ke bawah pusar, ke bagian tubuh yang paling lemah dan berbahaya bagi seorang pria. Ji Sun Bi sampai mengeluarkan jerit tertahan ketika melihat kekasihnya terancam demikian hebatnya!

Namun Ki Liong masih tetap tersenyum saja, kakinya bergeser dan lutut kirinya terangkat melindungi bawah pusar, tangan kanannya meluncur bagaikan ular mematuk menyambut totokan ke pelipisnya, dan tangan kirinya sudah menyelinap masuk dan tahu-tahu sudah menyentuh ulu hati di dada Min-san Mo-ko!

Tentu saja Min-san Mo-ko terkejut bukan main dan dia pun sudah cepat meloncat jauh ke belakang, mukanya agak pucat karena dia maklum bahwa jika pemuda itu menghendaki, sekarang dia sudah menjadi mayat atau setidaknya akan terluka parah. Tak disangkanya bahwa bukan saja pemuda itu menahan sepuluh jurus serangannya, bahkan berkali-kali mampu membalas dan yang terakhir kalinya malah memperlihatkan keunggulannya!

Dia lantas mengangguk-angguk. "Sim-kongcu memang hebat! Sun Bi tidak salah memilih kawan dan kami merasa girang sekali mendapatkan seorang sekutu seperti Sim-kongcu. Lam-hai Giam-lo tentu akan girang pula menerimamu, Sim-kongcu."

Tentu saja Ji Sun Bi girang dan bangga sekali. Wanita ini segera merangkul dan mencium mulut Ki Liong begitu saja di depan demikian banyak orang! Tentu saja Ki Liong menjadi gelagapan dan mukanya menjadi merah, akan tetapi Sun Bi langsung menarik tangannya dan diajak keluar dari kuil, diikuti suara ketawa para anggota gerombolan itu.

Seperti sedang mendapatkan barang mainan baru yang sangat menarik hatinya, Ji Sun Bi mengajak Ki Liong menjauhi kuil dan bersenang-senang sepuas hatinya dengan pemuda itu. Di lain pihak, Ki Liong baru saja terjun ke dalam dunia yang baru ini, merasa senang sekali mendapatkan seorang kawan, kekasih dan juga guru dalam permainan cinta yang demikian pandai dan berpengalaman seperti Ji Sun Bi.

Ketika senja itu Hay Hay beserta Hui Lian menyerbu kuil dan Hay Hay berhasil merampas mustika batu giok, barulah Ji Sun Bi dan Ki Liong muncul dan mereka segera membantu sehingga dua orang lawan itu akhirnya melarikan diri.

Ki Liong lalu berjanji akan memberikan hadiah cawan arak pusaka untuk diberikan kepada Lam-hai Giam-lo sebagai pengganti mustika batu giok yang telah lenyap dirampas lawan. Memang pemuda ini memiliki beberapa benda pusaka yang langka, yaitu yang dicurinya dari Pulau Teratai Merah.

Dengan munculnya Sim Ki Liong maka pihak gerombolan kaum sesat yang dipimpin oleh Lam-hai Giam-lo menjadi semakin kuat, dan hal ini merupakan ancaman bagi keamanan, juga bagi para pendekar. Sim Ki Liong sendiri mengharapkan untuk memperoleh bantuan kawan-kawan barunya dalam mencari musuh besarnya, yaitu Siangkoan Ci Kang…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner