PENDEKAR MATA KERANJANG : JILID-53


Akan tetapi pemuda itu agaknya tak peduli, terus melanjutkan makan dan hanya menoleh sejenak ke arah mereka berdua. Dan terjadilah keanehan ke dua yang oleh para jagoan itu dianggap tidak masuk akal. Giam Hok dan Giam Kui mulai menerjang dan memukul, akan tetapi sama sekali bukan kepada pemuda itu, melainkan saling menyerang sendiri! Kakak beradik itu berkelahi mati-matian, saling gebuk dan saling tendang.

"Keparat, kuhancurkan kepalamu!" bentak Giam Hok sambil dia menjotos ke arah kepala Giam Kui yang cepat mengelak, akan tetapi tetap saja menyerempet pipi kirinya. Dia pun terpelantinig dan pipinya bengkak sehingga marahlah Giam Kui.

"Jahanam, kupecahkan dadamu!" Dia pun cepat balas menonjok ke arah dada kakaknya sendiri.

Giam Hok menangkis, akan tetapi sebuah tendangan adiknya mengenai perutnya hingga membuat dia terjungkal kemudian memegangi perut yang mendadak terasa mulas itu. Dia menjadi marah dan kembali mereka saling serang, saling pukul dan saling tendang.

Tentu saja kepala jagoan beserta para tamunya memandang dengan mata terbelalak dan mulut melongo. Bagaimana mungkin ini? Pemuda itu masih enak-enak makan dan kakak beradik itu sudah saling hantam mati-matian.

"Giam Hok! Giam Kui! Apakah kalian sudah gila? Hentikan perkelahian itu!" bentak kepala jagoan Ciok sambil loncat mendekat.

Kini kedua orang kakak beradik itu sedang saling cengkeram dan saling jambak. Tiba-tiba mereka tersentak sadar dan masing-masing mengeluarkan seruan heran ketika mendapat kenyataan bahwa mereka telah saling serang!

"Kui-te (Adik Kui), kenapa engkau menyerang aku?!" bentak Giam Hok.

"Tapi... tapi... bagaimana ini bisa terjadi? Aku tadi memukuli petani busuk itu!"

"Aku juga! Apa yang sudah terjadi...?" Keduanya terbelalak dan kini menoleh kepada Han Siong yang telah menyelesaikan makannya dan kini dengan sikap tenang sedang bangkit dari duduknya untuk menghadapi mereka.

Kepala jagoan Ciok adalah orang yang berpengalaman di dunia persilatan. Sekarang dia mengerti apa yang sudah terjadi. Pemuda yang tidak makan daging itu tentulah seorang ahli sihir! Seperti orang-orang Pek-lian-kauw!

"Celaka, kalian telah dipermainkan dengan sihir!" teriaknya.

Dua orang kakak beradik itu marah sekali. "Bunuh tukang sihir!" bentak mereka dan dua puluh lebih orang yang terkenal sebagai jagoan-jagoan dan tukang-tukang pukul itu kini serentak maju mengepung dan menyerang Han Siong yang berdiri dengan tenang.

Kembali terjadi hal yang aneh luar biasa, dan sekali ini para pelayan rumah makan yang bersembunyi di balik pintu dan tiang menjadi penonton yang merasa terheran-heran saat melihat betapa para tukang pukul itu kini saling berkelahi dengan mati-matian! Sedangkan pemuda itu masih tetap berdiri di sudut, sama sekali tidak diganggu dan nampak tenang-tenang saja.

Bahkan kini Han Siong menghampiri meja kasir dan melihat semua pelayan bersembunyi, dia tersenyum. "Mengapa kalian sembunyi? Hayo hitung berapa yang harus kubayar."

Karena kini Han Siong tidak lagi memperhatikan kepada para tukang pukul, dan tidak lagi mengerahkan kekuatan sihirnya, maka kepala jagoan Ciok sadar lebih dulu dan dia amat terkejut melihat semua tamunya sedang saling hantam.

"Tahan...! Kita berkelahi antara teman sendiri!" Bentakan ini menyadarkan mereka, maka semua orang lalu menghentikan perkelahian, mengusap-usap bagian tubuh yang terpukul di dalam perkelahian kacau-balau tadi dan kini mereka semua memandang ke arah Han Siong yang sudah membayar harga makanan yang dipesannya tadi.

Han Siong menghadapi mereka dan melihat sikap Ciok Cun, dia dapat menduga bahwa orang yang perutnya gendut dan kepalanya botak inilah agaknya yang menjadi pemimpin gerombolan orang kasar itu. "Sobat, engkau beserta teman-temanmu telah merusak meja kursi dan mangkok piring, maka sudah sepatutnya kalau kalian mengganti kerugian yang diderita oleh pemilik rumah makan ini."

Ciok Cun, kepala jagoan itu, yang telah menyadari bahwa pemuda ini yang semenjak tadi telah mempermainkan mereka semua, kini melangkah maju. Mukanya merah bukan main karena dia sudah marah sekali.

"Bocah setan! Engkau tidak tahu dengan siapa engkau sedang berhadapan. Engkau telah mempermainkan kami, akan tetapi aku tidak takut dan aku harus menghajarmu sendiri!"

Orang berperut gendut yang kepalanya botak ini segera melangkah maju lalu mengayun tangannya untuk menampar ke arah wajah Han Siong yang sama sekali tidak mengelak atau menangkis, melainkan hanya memandang dengan matanya yang mencorong.

"Plakkk!"

Pipi itu kena di tampar dan menjadi matang biru. Pipi Ciok Cun! Dia mengaduh-aduh dan mengusap pipinya yang ditamparnya tadi. Semua orang melihat betapa Ciok Cun sudah menampar dengan kuatnya, akan tetapi anehnya, yang ditampar bukan muka pemuda itu, melainkan mukanya sendiri! Agaknya hal ini masih belum membuat kepala jagoan Ciok menjadi jera, dia menyerang lagi dengan hantaman ke arah dada lawan.

"Bukkk!"

Ciok Cun terbatuk-batuk saking kerasnya pukulan tangan kanannya menghantam dada sendiri. Dia masih nekat, beberapa kali masih menyerang akan tetapi selalu yang dipukul adalah tubuhnya sendiri dan ketika dia menyerang ke arah kepala lawan, kepalan kirinya menghantam kepala sendiri sehingga dia pun roboh! Dia mencoba bangun, menggoyang-goyangkan kepalanya yang menjadi pening dan sepasang matanya menjadi juling karena segala sesuatu di sekelilingnya nampak berputaran!

Han Siong masih sabar menghadapi mereka dan kini terdengar dia berkata, "Harap kalian sadar bahwa kalian sendiri yang mencari penyakit, suka mengganggu orang lain. Sekali ini aku mengampuni kalian asal saja kalian mau memberi tahukan kepadaku tentang diri seorang gadis yang mungkin baru-baru ini singgah di kota ini. Dia seorang gadis berusia tujuh belas tahun, hitam manis, tinggi ramping, ada lesung pipit di sebelah kiri mulutnya, pakaiannya seperti pakaian wanita suku bangsa Yi, memakai topi sorban berhiaskan bulu burung, namanya Pek Eng. Apakah di antara kalian ada yang mengetahuinya?"

Sekarang Ciok Cun sudah bangkit kembali dan mendengar pertanyaan Han Siong itu, dia tertawa mengejek. "Ha-ha-ha, ternyata engkau mencari gadis itu? Bocah setan, biar aku tahu sekali pun, takkan kuberi tahukan kepadamu! Engkau sudah menghina kami dengan ilmu iblismu, dan mengapa tak kau pergunakan ilmu iblismu untuk menemukan gadis itu? Ha-ha-ha!"

Karena tidak berdaya membalas kepada pemuda yang mempunyai ilmu sihir itu, Ciok Cun lantas mentertawakannya. Dan teman-temannya yang tadi juga telah kebagian, ada yang bengkak-bengkak dan ada yang babak belur akibat saling hantam sendiri, kini membantu kepala jagoan itu mentertawakan Han Siong!

Pemuda sudah merasa girang sekali mendengar bahwa orang gendut botak di depannya ini tahu tentang adiknya. Maka dia pun segera mengerahkan kekuatan sihirnya. "Baiklah, kalian tertawalah sepuasnya, jika sudah puas dan ingin bercerita tentang gadis itu, bilang saja padaku. Aku masih sabar menunggu." Dia pun duduk kembali.

Dan terjadilah keanehan lagi. Ciok Cun serta teman-temannya masih tertawa-tawa, akan tetapi kini suara ketawa mereka itu makin menjadi-jadi, bergelak bahkan berkakakan. Dan walau pun mulut mereka terbuka mengeluarkan suara ketawa, namun ada sesuatu pada pandang mata mereka. Mata itu terbelalak dan membayangkan rasa kaget dan ketakutan, namun suara ketawa mereka semakin hebat saja. Kini mereka bahkan terpingkal-pingkal, memegangi perut mereka dan ada pula yang telah jatuh bergulingan ke atas lantai sambil masih terus tertawa.

Melihat keadaan ini, seorang pelayan merasa geli sehingga dia pun tidak dapat menahan ketawanya. Akan tetapi sekali dia tertawa, dia pun langsung ikut hanyut dan terus tertawa terpingkal-pingkal pula sampai terguling dari atas bangkunya! Melihat ini, kawan-kawan mereka terkejut dan mereka tidak berani tertawa. Agaknya telah terjangkit penyakit aneh di tempat itu, penyakit tertawa!

Ciok Cun maklum bahwa keadaan ini tidak sewajarnya. Dia berusaha menahan diri, akan tetapi makin ditahan, semakin kuatlah dorongan untuk tertawa sehingga akhirnya dia pun terjungkal dan bergulingan. Keringat dingin lantas membasahi seluruh tubuh dan Ciok Cun merasa betapa napasnya sesak, perutnya sakit dan kepalanya pening, namun dia terus tertwa.

Barulah dia ketakutan, apa lagi melihat betapa di antara teman-temannya ada yang sudah jatuh pingsan! Dia lalu merangkak ke arah Han Siong, sambil bertiarap dan terus tertawa, lantas dia berkata, "Orang... ha-ha, orang muda... heh-heh-heh... aku... aku menyerah... ha-ha-ha... aku mau memberi tahu... Hoah-ha-ha... mengenai gadis itu... ha-ha-ha!"

Han Siong merasa sudah cukup memberi hajaran kepada gerombolan orang kasar itu dan dia memang membutuhkan keterangan tentang adiknya, maka dia pun cepat menyimpan kekuatan sihirnya yang menggelitik batin mereka hingga mereka tertawa-tawa tanpa bisa dihentikan itu. Begitu dia menarik kembali kekuatannya, maka semua orang yang tadinya tertawa-tawa sampai ada yang bergulingan di lantai dengan napas hampir putus, tiba-tiba saja berhenti tertawa.

Suasana menjadi aneh dan sunyi. Sesudah tadi terdengar suara ketawa riuh rendah, kini mereka hanya saling pandang dengan mata terbelalak, muka pucat dan napas terengah-engah, peluh pun bercucuran. Kini Ciok Cun menjadi jeri dan maklumlah dia dan kawan-kawannya tak akan mampu menandingi pemuda yang luar biasa ini. Dia pun bangkit dan memberi hormat kepada Han Siong, diturut oleh kawan-kawannya.

"Harap Kongcu (Tuan Muda) suka memaafkan kami yang tidak mengenal orang pandai dan telah berani main-main," katanya.

"Sudahlah, semua yang terjadi adalah akibat ulah kalian sendiri, mudah-mudahan menjadi pelajaran supaya lain kali kalian tak bersikap sewenang-wenang mengganggu orang lain. Nah, yang kuminta sekarang adalah keteranganmu tentang gadis yang kutanyakan tadi. Betulkah engkau pernah melihatnya dan tahu di mana dia berada?"

Melihat sikap Han Siong yang sangat halus biar pun jelas pemuda itu telah mengalahkan mereka, Ciok Cun menjadi semakin tunduk dan dia tidak lagi berani main-main. Selain itu, juga dia melihat kesempatan untuk membalas kekalahannya terhadap pemuda itu melalui orang-orang yang jauh lebih lihai.

"Kami memang melihat gadis yang Kongcu maksudkan itu. Bukankah dia seorang gadis suku bangsa Yi, memakai topi sorban berhiaskan bulu burung, berusia kurang lebih tujuh belas tahun, hitam manis, dengan lesung pipit di sebelah kiri mulutnya, jenaka, galak dan berani, juga memiliki ilmu silat yang tinggi, katanya dari Pek-sim-pang?"

"Benar sekali!" kata Han Siong gembira karena jelas bahwa yang dimaksudkan orang ini tentulah adik kandungnya itu!

"Kurang lebih dua pekan yang lalu dia berada di kota ini, akan tetapi dia bentrok dengan orang-orangnya Lam-hai giam-lo lalu dia ditawan dan diajak pergi ke selatan!"

Tentu saja berita ini mengejutkan Han Siong. "Lam-hai Giam-lo?" pikirnya dalam hati dan teringatlah dia akan hwesio tua bermuka kuda yang gagu dan tuli di kuil Siauw-lim-pai itu!

Penjahat besar, datuk kaum sesat yang sangat lihai sehingga kalau saja tidak ada kedua orang gurunya yang menjadi orang-orang hukuman di kuil itu, tentu semua hwesio di kuil itu akan tewas olehnya! Setelah dikalahkan oleh dua orang gurunya, Lam-hai Giam-lo lalu melarikan diri dan kini adik kandungnya tertawan dan dibawa pergi orang-orangnya yang menjadi anak buah Lam-hai Giam-lo. Tentu saja dia terkejut dan merasa khawatir sekali.

"Ke mana dia dibawa dan di mana tinggalnya Lam-hai Giam-lo?" tanyanya dengan suara dan sikap tenang.

Kini Ciok Cun memandang wajah pemuda itu seperti orang yang keheranan. Pemuda ini memiliki ilmu tinggi dan aneh, akan tetapi tidak tahu di mana tempat tinggalnya Lam-hai Giam-lo! Akan tetapi dia tidak berani mencela atau mentertawakan.

"Lam-hai Giam-lo berada di daerah pegunungan di Propinsi Yunan, di Lembah Yang-ce-kiang. Semua orang di daerah itu mengenal namanya dan tahu di mana tokoh itu tinggal."

Han Siong mengangguk. "Baiklah, terima kasih atas petunjukmu. Akan tetapi sekali lagi, kuharap kalian sadar bahwa mengganggu orang lain dengan mengandalkan kekerasan dan kekuasaan hanya akan mencelakakan diri sendiri. Nah, selamat tinggal!"

Han Siong kemudian keluar dari restoran itu, diikuti pandang mata mereka yang tadi telah merasakan kelihaiannya…..

********************

Sekarang mari kita ikuti perjalanan Pek Eng yang jejaknya sedang dicari oleh Han Siong. Seperti kita ketahui, gadis ini meninggalkan rumah orang tuanya tanpa pamit dan hanya meninggalkan surat bahwa dia hendak pergi mencari kakak kandungnya, Pek Han Siong.

Sebetulnya penyebab utama dari kepergiannya tanpa minta ijin orang tua itu bukan untuk mencari kakaknya, tapi dia merasa penasaran dan marah karena orang tuanya menerima pinangan keluarga Song. Dia sama sekali tidak mencinta pemuda she Song itu meski pun harus diakuinya bahwa Song Bu Hok adalah seorang pemuda yang gagah, juga memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi, putera Ketua Kang-jiu-pang yang amat terkenal pula.

Pek Eng tidak menganggap bahwa pilihan orang tuanya itu keliru karena memang sudah sepatutnya jika dia berjodoh dengan Song Bu Hok. Keduanya putera ketua perkumpulan besar dan di antara orang tua mereka sudah terdapat pertalian persahabatan yang erat.

Tetapi dia sama sekali tidak mencinta Song Bu Hok. Hal ini terutama sekali dirasakannya setelah dia bertemu dengan Hay Hay! Dia sangat tertarik dan jatuh cinta kepada pemuda yang ugal-ugalan itu, bukan karena dia pernah mencium Hay Hay karena dia menyangka pemuda itu adalah kakaknya, bukan pula karena tingkat kepandaian pemuda itu demikian tingginya sehingga dia merasa amat kagum. Atau mungkin juga ada sebagian dari kedua kenyataan itu yang memperkuat perasaan cintanya. Akan tetapi yang jelas, dia tak dapat melupakan Ha Hay lagi!

Itulah sebabnya maka dia lantas berbuat nekat untuk pergi tanpa pamit dan ingin mencari kakaknya, kepada siapa dia akan membuka semua isi hatinya dan mengharapkan kakak kandungnya itu akan mau membelanya. Ia membawa bekal uang secukupnya, beberapa stel pakaian lengkap yang dibuntalnya di dalam sebuah bungkusan kain tebal, dan tidak lupa membawa sebatang pedang. Dengan pakaian sebagai seorang gadis suku bangsa Yi, kemudian dia pun melakukan perjalanan menuju ke selatan.

Tidaklah aneh jika di sepanjang perjalanannya Pek Eng menjadi perhatian banyak orang, terutama sekali para pria yang melihatnya melakukan perjalanan seorang diri. Meski pun kulitnya agak gelap, tetapi dara ini cantik manis, terutama sekali mata yang agak sipit itu bersinar tajam, dan hidungnya dapat mempesona hati seorang laki-laki dengan bentuknya yang mungil dan ujungnya agak naik sedikit. Bibirnya merah basah dan pada pipi kirinya terdapat sebuah lesung pipit yang nampak jelas kalau tersenyum.

Bentuk tubuhnya yang tinggi ramping dengan kaki yang panjang juga memiliki daya tarik tersendiri, dengan lekuk-lengkung tubuh gadis yang mulai dewasa. Dari pandangan mata dan bibir yang selalu dihias senyum itu dapat diketahui bahwa gadis ini lincah, jenaka dan gembira, akan tetapi juga memiliki ketabahan besar.

Orang-orang yang melihat betapa gadis ini membawa pedang di punggungnya, merasa agak segan untuk mengganggu dan biar pun ada pula pria yang merasa dirinya kuat dan sudah biasa mengganggu wanita mencoba untuk bersikap kurang ajar, namun Pek Eng dapat mengatasinya bahkan telah merobohkan beberapa orang pengganggu.

Pada suatu hari tibalah dia di kota Kui-yang. Seperti yang selalu dilakukan sejak dia pergi meninggalkan rumah, setiap kali ada kesempatan dia lantas bertanya-tanya kepada orang tentang dua orang pemuda, yaitu Pek Han Siong dan Hay Hay! Dia sendiri tidak tahu apa yang akan dia katakan atau dia lakukan apa bila dia berhasil menemukan Hay Hay. Akan tetapi dia ingin sekali bertemu kembali dengan pemuda itu.

Di kota Kui-yang Pek Eng juga bertanya-tanya, ketika dia berjalan-jalan dan melihat-lihat keadaan kota itu di waktu senja, yaitu sesudah dia mendapatkan sebuah kamar di rumah penginapan. Dia hanya meninggalkan buntalan pakaiannya saja di kamar, namun semua uangnya dia bawa, demikian pula pedangnya.

Perhatian Pek Eng tertarik sekali ketika melihat sebuah rumah besar yang dikelilingi oleh pagar tembok tebal dan tinggi, dan di depan pintu gerbangnya terdapat papan nama yang bertuliskan huruf-huruf besar berbunyi ‘HUI HOUW BU KOAN’ (Perguruan Silat Macan Terbang). Apa lagi ketika dari pintu gerbang yang terbuka itu dia dapat melihat belasan orang sedang berlatih gerakan silat, dipimpin oleh seorang lelaki tinggi besar. Seperti juga pelatihnya, belasan orang itu hanya mengenakan celana sampai ke bawah lutut, ada pun tubuh bagian atasnya telanjang, memperlihatkan tubuh yang kokoh kuat penuh otot-otot melingkar-lingkar.

Ahhh, perguruan silat, pikir Pek Eng. Mungkin di antara mereka itu ada yang mengenal kakaknya atau Hay Hay. Bukankah kakaknya, seperti yang diharapkan oleh keluarganya, mempunyai ilmu silat tinggi dan Hay Hay tidak perlu diragukan lagi adalah seorang yang amat sakti? Memang sudah sepatutnya kalau orang-orang seperti kakaknya atau Hay Hay dikenal oleh golongan persilatan. Dengan pikiran ini maka tanpa ragu lagi Pek Eng segera memasuki pintu gerbang yang terbuka itu lantas dia pun tiba di pelataran depan, di mana belasan orang itu sedang melatih gerakan pukulan sambil mengeluarkan suara bentakan-bentakan nyaring.

Ketika belasan orang yang rata-rata masih muda, berusia antara dua puluh sampai tiga puluh tahun itu melihat betapa tiba-tiba saja muncul seorang gadis yang manis dari pintu depan, tentu saja mereka semua memandang dengan kagum dan gerakan mereka kacau, juga bentakan-bentakan itu tergagap dan tidak nyaring lagi, bahkan sebagian dari mereka kini menghentikan gerakan silat mereka lantas berdiri bengong memandang ke arah Pek Eng dengan senyum-senyum ceriwis!

Melihat keadaan para murid itu, pelatihnya menjadi heran dan dia pun menengok. Pelatih itu sudah lebih tua, usianya kurang lebih empat puluh tahun dan dia pun merasa terkejut ketika melihat seorang gadis berdiri di situ, gadis cantik manis yang tidak dikenalnya.

"Aihh, pantas kalian menjadi kacau. Kiranya ada seorang bidadari muncul di sini!" kata Si Pelatih yang ternyata sikapnya lebih ceriwis lagi dari para murid itu. Bahkan kini dengan langkah lebar dia menghampiri Pek Eng dan berdiri di depan Pek Eng.

Karena pelatih itu berdiri terlalu dekat sehingga bau apek dan tidak enak yang keluar dari tubuh setengah telanjang berkeringat itu menyerang hidung Pek Eng, gadis ini langsung mundur dua langkah dan hidungnya yang mungil bergerak-gerak lucu.

"Hai, Nona manis, siapakah engkau dan apa keperluanmu masuk ke tempat latihan kami ini?" tegur Si Pelatih sambil menyeringai lebar seperti merasa lucu melihat pedang yang tergantung di punggung gadis pengunjung itu.

"Hati-hati, Toako. Lihat pedang di punggungnya itu! Jangan-jangan dia seorang pendekar pedang yang lihai sekali!" terdengar suara salah seorang di antara para murid, akan tetapi karena nada suaranya jelas mengandung ejekan, semua orang tertawa dan pelatih yang disebut Toako (kakak) itu pun tertawa bergelak.

Melihat mereka berlagak dan memandang rendah padanya, sepasang alis Pek Eng lantas berkerut dan dia sudah merasa menyesal memasuki tempat ini. Tak disangkanya bahwa mereka itu bukanlah calon-calon pendekar seperti para murid di Pek-sim-pang, melainkan sekelompok laki-laki yang berwatak ugal-ugalan dan bahkan kurang ajar terhadap wanita yang sama sekali belum mereka kenal.

"Ha-ha-ha-ha!" Pelatih itu tertawa lebar. "Nona manis, benarkah engkau adalah seorang pendekar pedang seperti kata dia tadi? Apakah kedatanganmu ini hendak memamerkan kepandaianmu atau hendak menguji kami?"

Karena sudah terlanjur masuk, Pek Eng yang tak mau melayani kekurang ajaran mereka langsung saja bertanya. "Aku tertarik melihat papan nama Hui-houw Bu-koan di luar dan aku masuk untuk bertanya apakah di antara kalian ada yang mengenal dua orang pemuda yang bernama Pek Han Siong dan Hay Hay?"

Sebenarnya pelatih itu dan para anak buahnya tidak pernah mendengar dua buah nama yang disebut Pek Eng tadi, namun pura-pura sudah mengenalnya. "Aahh, kiranya engkau mencari mereka?"

Bukan main girangnya hati Pek Eng. Tak diduganya bahwa orang itu mengenal kakaknya dan Hay Hay. "Benar, tahukah engku di mana mereka?"

Pelatih itu mengangguk-angguk. "Tentu saja aku tahu, akan tetapi sebelum aku memberi tahukan kepadamu, engkau harus memenuhi syarat yang kuajukan."

Pek Eng mengerutkan alisnya dan memandang penuh selidik. "Syarat? Syarat apa itu?"

Pelatih itu tertawa. "Ha-ha-ha, syaratnya engkau harus maju dan main-main dengan aku sebentar. Jika engkau menang, tentu akan segera kuberi tahukan di mana mereka, akan tetapi jika engkau kalah, maka engkau harus menemani aku pelesir selama tiga hari tiga malam, baru engkau akan aku pertemukan dengan mereka. Bagaimana?"

Semua lelaki yang tadi berlatih silat tersenyum-senyum mendengar ini, dan semua mata memandang pada Pek Eng secara kurang ajar sekali. Hati Pek Eng sudah menjadi panas dan kini dia meragukan kebenaran pengakuan pelatih itu bahwa dia tahu di mana adanya dua orang pemuda yang sedang dicarinya. Tentu hanya untuk mencari alasan agar dapat mempermainkannya, pikirnya dengan hati panas dan marah.

Akan tetapi dia tetap tersenyum, bahkan mengangguk-angguk. Andai kata kalah pun, dia masih mempunyai akal untuk menghindarkan diri dari kekurang ajaran orang ini, pikirnya. Akan tetapi melihat gerakan mereka tadi, dia yakin bahwa dia akan mampu mengalahkan orang tinggi besar ini, bahkan tidak merasa gentar jika harus menghadapi pengeroyokan belasan orang yang tingkat kepandaiannya masih amat rendah dan hanya mengandalkan kekuatan otot belaka.

"Baik, akan tetapi jika engkau kalah kemudian tidak dapat membawa aku kepada mereka, akan kuhancurkan mulutmu yang lancang itu!" katanya, tetap tenang dan mulutnya dihias senyum, sama sekali tidak kelihatan marah.

"Toako, biarlah aku menangkap gadis ini untukmu!" tiba-tiba terdengar seruan seorang di antara anak buah itu dan orang ini, berusia kurang lebih dua puluh lima tahun, bertubuh kurus dan mukanya pucat seperti orang berpenyakitan, segera melompat maju ke depan Pek Eng dan langsung saja dia menubruk untuk merangkul dan menangkap gadis itu.

Kesempatan yang amat baik, pikir pemuda itu. Dia akan dapat memeluk gadis manis ini, bahkan mungkin dapat mencuri satu dua kali ciuman sebelum menyerahkannya kepada pelatihnya. Tangan kanannya menyambar hendak memukul leher, ada pun tangan kirinya secara kurang ajar sekali hendak mencengkeram ke arah dada!

Pek Eng melihat gerakan serangan yang kurang ajar akan tetapi juga terlalu lambat dan lemah baginya itu. Dia cepat menggerakkan kakinya memutar tubuh setengah lingkaran, membiarkan cengkeraman ke arah dada itu lewat, ada pun tangan kanannya sendiri cepat bergerak ke atas, menangkap pergelangan tangan kanan lawan yang akan merangkulnya, kemudian cepat sekali dia menekuk lengan kanannya dan akhirnya dengan tepat sekali siku kanannya menghantam muka orang itu.

"Crotttt…!"

Ujung siku tepat menghantam hidung pemuda muka pucat itu dan tulang hidung itu patah, hidungnya menjadi hitam membengkak dan darah pun bercucuran keluar. Ketika pemuda itu tersentak ke belakang dan perutnya maju ke muka, Pek Eng mengangkat kakinya dan lututnya sudah menghantam perut lawan.

"Ngekkkk…!"

Dan pemuda itu pun terjengkang, kedua tangannya sibuk memegangi hidung serta perut karena dalam keadaan hampir pingsan dia tidak dapat membandingkan mana yang lebih nyeri antara hidung yang remuk dengan perut yang mulas itu. Dengan suara bindeng dia mengaduh-aduh sambil berlutut membungkuk-bungkuk.

Pelatih itu marah bukan main. Sambil berseru keras dia pun menubruk ke depan. Namun Pek Eng tak mau membuang banyak waktu lagi. Disambutnya serangan lawan itu dengan tamparan dari samping yang tepat mengenai pelipis pelatih tinggi besar itu.

"Plakkk!"

Tubuh tinggi besar itu terputar karena dia merasa seolah-olah baru saja disambar petir, kepalanya nyeri, pandang matanya berkunang dan dia pun meloncat-loncat bagai monyet menari-nari di atas papan yang panas. Pek Eng menyusulkan dua kali gerakan kaki, ujung sepatunya menyentuh sambungan lutut dan orang tinggi besar itu pun terpelanting roboh.

Kini belasan orang murid itu maju mengeroyok Pek Eng, bahkan di antara mereka sudah ada yang membawa senjata golok, pedang dan toya. Namun mereka itu tidak ada artinya bagi Pek Eng. Gadis perkasa ini bergerak sangat cepat seperti seekor burung walet yang menyambar-nyambar di antara sekelompok capung saja. Belasan orang itu pun satu demi satu roboh terpelanting, roboh sambil mengaduh-aduh!

Pada saat itu pula dari pintu tengah muncul seorang kakek dan seorang nenek. Mereka terkejut sekali melihat betapa ada seorang gadis muda merobohkan belasan orang anak murid Hui-houw Bu-koan. Kakek itu lantas memutar tubuhnya dan berseru ke arah dalam rumah.

"Ciok Kauwsu (Guru Silat Ciok), keluarlah!"

Kini muncullah seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, perutnya gendut dan kepalanya botak, kedua matanya seperti mata burung elang, tajam dan lincah melirik ke sana sini, dan sinarnya mengandung kelicikan. Laki-laki ini adalah Ciok Cun, pemilik Hui-houw Bu-koan, juga seorang kepala jagoan yang amat terkenal di kota Kui-yang dan sekitarnya.

Hampir tidak ada orang yang berani menentang kepala jagoan ini, karena selain lihai, dia mempunyai banyak anak buah dan seluruh jagoan serta tukang pukul di daerah itu tunduk belaka kepadanya. Semua orang juga mengetahui bahwa dia mempunyai hubungan baik dan erat dengan para pembesar setempat. Ia pandai mengambil hati dan mendekati para pejabat yang berwenang dengan cara mengirim hadiah-hadiah barang berharga kepada mereka.

Ketika terjadi peristiwa keributan di pekarangan luar, saat itu Ciok Cun sedang menerima tamu yang agaknya sangat penting karena tamu kakek dan nenek itu diterima di ruangan paling dalam. Mereka bertiga lalu bicara dalam ruangan tertutup, bahkan tak seorang pun pelayan atau murid boleh masuk tanpa dipanggil. Tepat ketika dua orang tamu itu hendak pergi, mereka melihat kesibukan di luar, di mana belasan orang anak buah Hui-houw Bu-koan telah roboh berserakan oleh seorang gadis muda!

Tentu saja Ciok Cun menjadi terkejut dan marah bukan kepalang melihat betapa belasan orang muridnya dihajar orang, apa lagi pembantunya yang tinggi besar, yang merupakan murid dari tingkat atas, agaknya sudah tak mampu bangkit, kedua kakinya seperti lumpuh dan sebelah mukanya matang biru!

"Heiiii, siapakah engkau anak perempuan yang datang mengacau? Aku adalah Ciok Cun, Kauwsu (guru silat) dan pemilik bu-koan (tempat belajar silat) ini! Siapakah engkau dan apa maksudmu membikin ribut di sini?"

Sebagai seorang yang berpengalaman, tentu saja Ciok Cun dapat menduga bahwa meski pun gadis ini masih muda, tentu mempunyai kepandaian tinggi. Kalau tidak demikian, tak mungkin belasan orang muridnya itu roboh semua sedangkan pakaian gadis itu agaknya kusut pun tidak!

Mendengar pengakuan Ciok Cun, Pek Eng lalu memandang tajam. Kalau anak buahnya mengenal kakaknya dan Hay Hay, tentu gurunya lebih mengenal mereka lagi. Maka dia pun menjura ke arah laki-laki gendut botak itu.

"Harap suka maafkan aku, Ciok Kauwsu. Aku bernama Pek Eng dan tadinya aku sama sekali tidak pernah menyangka akan berkelahi dengan anak buahmu di tempat ini. Aku kebetulan lewat dan tertarik bahwa di sini adalah sebuah perguruan silat, aku lalu masuk kemudian kepada mereka ini aku menanyakan nama dua orang pemuda, apakah mereka mengenalnya. Orang tinggi besar ini memberi tahu bahwa dia mengenal mereka dan akan memberi tahukan di mana adanya mereka asal aku mampu mengalahkan dia. Kami lalu bertanding dan semua anak buahmu maju mengeroyokku dan... beginilah jadinya." Pek Eng menggerakkan kedua tangannya ke arah mereka yang masih mengaduh-aduh dan sukar untuk bangkit berdiri.

Ciok Cun sendiri belum pernah mendengar kedua nama itu, maka dia pun memandang kepada muridnya yang menjadi pelatih murid-murid tingkat rendahan, kemudian bertanya, "Benarkah engkau mengenal dua orang yang dicari Nona ini?"

Si Tinggi Kurus terpaksa mengaku. "Sebetulnya kami tidak mengenal mereka, kami hanya membohongi Nona ini untuk main-main saja..."

Mendengar ini, Pek Eng merasa dongkol bukan main. Dengan alis berkerut dia menyapu bekas lawan yang banyak itu dengan pandang matanya, kemudian dia mengomel. "Kalau kalian tidak tahu, kenapa harus pura-pura tahu? Kalau tadi kalian bilang tidak tahu, maka keributan ini tidak perlu terjadi. Sudahlah, jika kalian tidak mengenal mereka, barang kali engkau sendiri mengenal mereka, Ciok Kauwsu, dan aku sungguh akan berterima kasih sekali kalau engkau dapat menunjukkan kepadaku di mana mereka."

Ciok Cun sudah merasa mendongkol melihat betapa para muridnya dihajar, akan tetapi karena dia maklum betapa lihainya dara muda ini, dia pun bertanya. "Siapakah mereka?"

"Yang seorang bernama Pek Han Siong, dan yang kedua dikenal dengan nama Hay Hay."

Ciok Cun mengerutkan sepasang alisnya mengingat-ingat, akan tetapi dia sendiri belum pernah bertemu dengan dua orang yang namanya seperti itu, maka dia pun menggeleng kepala. "Aku tidak mengenal mereka."

Pek Eng kecewa sekali. "Kalau begitu biar aku pergi saja dan sekali lagi maafkanlah aku!" Setelah berkata demikian, Pek Eng segera membalikkan tubuhnya dan hendak pergi dari pekarangan itu, keluar melalui pintu gerbang.

"Nona, tunggu dulu!" tiba-tiba terdengar bentakan orang sehingga Pek Eng membalikkan tubuhnya dan kini dia berhadapan dengan kakek dan nenek itu. Melihat betapa kakek itu menghampirinya, maklumlah Pek Eng bahwa yang mengeluarkan suara menahannya tadi adalah kakek itu. Sekarang dia memperhatikan mereka.

Kakek itu usianya tentu telah enam puluh tahun lebih, tubuhnya tinggi besar dan pandang matanya mencorong tajam. Ada pun nenek itu hanya beberapa tahun lebih muda, kurang lebih enam puluh tahun, tetapi masih nampak cantik dan pesolek karena pipi dan bibirnya masih memakai pemerah kulit, bahkan mukanya yang bentuknya cantik itu dipulas bedak yang cukup tebal. Karena mereka adalah orang-orang tua, Pek Eng menghadapi mereka dengan sikap tenang dan hormat.

“Engkaukah yang menahan aku pergi tadi, Paman Tua? Ada urusan apakah?" tanyanya sambil memandang kepada kakek itu.

"Benarkah yang kau cari itu adalah Pek Han Siong dan Hay Hay?" tanya kakek itu.

"Benar, apakah engkau mengenal mereka?"

Kakek itu saling pandang dengan Si Nenek dan mereka pun mengangguk, bahkan kakek itu berseru. "Mengenal mereka? Ahh, mengenal baik sekali!"

Pek Eng memandang dengan penuh curiga. "Sekarang aku tak akan mudah percaya lagi kalau ada orang mengaku kenal dengan mereka, karena tadi pun aku sudah dibohongi orang," katanya sambil melirik ke arah pelatih silat tadi.

"Akan tetapi aku tidak membohong!" kata pula kakek itu. "Bukankah yang bernama Hay Hay itu seorang pemuda yang berusia dua puluh satu tahun, wataknya lincah gembira, tubuhnya sedang dan dadanya bidang, matanya bersinar-sinar, bibirnya selalu tersenyum, dia memiliki ilmu silat yang amat lihai dan juga pandai sihir? Dan bukankah yang bernama Pek Han Siong itu adalah putera Ketua Pek-sim-pang, yang dahulu ketika kecil disebut Sin-tong (Anak Ajaib)?"

Pek Eng hampir bersorak kegirangan. Wajahnya seketika berubah, berseri-seri dan sinar matanya penuh harapan ditujukan kepada orang tua itu. "Aih, benar sekali, Paman. Benar sekali, aku adalah adik dari Pek Han Siong!"

"Bagus!" tiba-tiba saja nenek yang sejak tadi hanya memandang wajah Pek Eng dengan penuh perhatian itu kini membentak. "Nah, sekarang engkau katakan di mana adanya Pek Han Siong itu!"

Nenek itu bersikap mengancam sehingga diam-diam Pek Eng terkejut, juga merasa heran dan kecewa. Sialan, pikirnya. Tadi dia sudah sangat kegirangan karena kakek dan nenek itu mengenal kakaknya dan Hay Hay, akan tetapi siapa sangka mereka malah bertanya kepadanya di mana adanya kakaknya!

"Hemm, jadi kalian kakek dan nenek ini mengenal kakakku akan tetapi tidak tahu di mana dia berada? Kalau begitu, kalian pun tidak ada gunanya bagiku. Selamat tinggal!" Setelah berkata demikian, Pek Eng yang tidak mau lebih lama lagi tinggal di tempat itu, bergerak cepat hendak lari keluar dari pintu gerbang.

Akan tetapi tiba-tiba nampak bayangan berkelebat di sampingnya dan tahu-tahu nenek itu telah menghadang di ambang pintu gerbang, ke dua tangannya dipalangkan seakan-akan hendak melarang dan mencegah dia keluar!

Diam-diam Pek Eng terkejut juga. Dari gerakan itu tadi saja dia sudah tahu bahwa nenek itu memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat. Dia menoleh dan kakek itu pun menghampirinya. Dia telah dikepung depan dan belakang oleh kakek dan nenek itu.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner