PENDEKAR MATA KERANJANG : JILID-55


Untuk memperluas kekuasaan serta pengaruhnya, Lam-hai Giam-lo mengutus para datuk yang menjadi pembantu-pembantunya untuk membujuk tokoh-tokoh dunia kang-ouw agar suka datang menggabungkan diri atau setidaknya mengakui kepemimpinannya. Dia tidak merasa sayang menghamburkan hartanya untuk menarik hati para tokoh itu, seperti yang sudah dilakukan oleh dua pasang suami isteri iblis dari selatan dengan hasil baik.

Para utusan lainnya belum pulang kembali ketika Sepasang Iblis Laut Selatan dan suami isteri Goa Iblis Pantai Selatan tiba bersama Pek Eng di tempat tinggal Lam-hai Giam-lo. Secara diam-diam Pek Eng memperhatikan keadaan rumah besar itu dan sekelilingnya.

Rumah itu berdiri di lereng bukit. Walau pun terletak di tepi Sungai Yang-ce-kiang, rumah itu dalam keadaan aman karena berada jauh di atas permukaan sungai itu sehingga tidak khawatir dilanda banjir. Rumah besar itu berdiri sendiri tanpa tetangga, di tengah sebuah hutan dan pemandangan di daerah itu sungguh indah.

Ketika dengan halus tapi bernada memerintah para penawannya menyuruh dia turun dan mengikuti mereka masuk ke beranda rumah, Pek Eng melihat betapa rumah itu dilengkapi dengan perabot-perabot rumah yang serba mewah, dan ketika mereka memasuki pintu gerbang depan tadi, dia melihat belasan orang penjaga yang nampaknya galak dan kuat, akan tetapi yang segera memberi hormat ketika dua pasang suami isteri iblis itu masuk. Kini, di beranda depan mereka disambut oleh lima orang gadis pelayan yang muda-muda dan cantik-cantik.

Diam-diam Pek Eng merasa kagum dan heran. Melihat para penjaga itu, perabot rumah yang mewah, serta para pelayan ini, sepantasnya orang yang berjuluk Lam-hai Giam-lo adalah seorang bangsawan tinggi, seorang pembesar tinggi atau seorang yang kaya raya!

"Ngo-wi, (Anda Berlima) diminta untuk menanti Bengcu di kamar tunggu," kata seorang di antara lima gadis pelayan itu.

Lam-hai Giam-lo memang cerdik. Dia menyuruh semua pelayan dan anak buahnya untuk menyebut bengcu (pemimpin rakyat) kepadanya supaya sebutan ini melekat pada dirinya sehingga setiap orang akan menganggap dia seorang pemimpin besar rakyat yang kelak tentu saja pantas untuk menjadi kaisar apa bila gerakannya berhasil.

Dua pasang suami isteri iblis itu tidak merasa heran mendengar ucapan gadis pelayan itu, akan tetapi Pek Eng merasa kagum sekali. Hebat juga orang yang menjadi pimpinan itu, lebih dahulu sudah mengetahui akan kedatangan mereka berlima.

Dia tidak tahu bahwa memang Lam-hai Giam-lo memasang banyak sekali mata-mata dan penyelidik sehingga begitu memasuki daerah itu, kedatangan mereka telah diketahui para penyelidik yang langsung melaporkan kepada Lam-hai Giam-lo bahwa dua pasang suami isteri iblis yang menjadi pembantu-pembantunya itu datang berkunjung bersama seorang gadis yang tidak dikenal.

Ruangan tamu itu luas sekali. Terdapat banyak kursi di situ, mepet di dinding yang dihiasi lukisan-lukisan dan tulisan-tulisan indah. Pada sudut ruangan itu terdapat pot-pot tanaman yang menyegarkan. Ruangan tamu itu tentu akan dapat menampung ratusan orang tamu.

Dua orang pelayan wanita keluar membawa arak dan air teh, dihidangkan di atas meja di depan lima orang tamu yang menunggu itu. Dari gerakan mereka yang cekatan dan gesit, Pek Eng bisa menduga bahwa para pelayan itu tentu memiliki ilmu silat yang cukup baik. Tanpa kata mereka menghidangkan minuman, lalu pergi lagi meninggalkan ruangan yang kembali menjadi sunyi. Tak lama kemudian muncul seorang gadis pelayan lainnya di pintu tembusan dan berseru dengan suaranya yang halus.

"Bengcu datang!" Kemudian dengan sikap hormat pelayan itu berdiri di samping sambil membungkuk.

Dua pasang suami isteri bangkit berdiri dan melihat ini, tanpa disuruh lagi Pek Eng juga bangkit berdiri. Bukan sekedar ikut menghormat, akan tetapi terutama sekali untuk dapat melihat dengan jelas bagaimana keadaan orang yang agaknya amat penting dan berkuasa itu.

Pada waktu Lam-hai Giam-lo muncul di pintu tembusan itu, Pek Eng memandang penuh perhatian dan dia tak dapat menahan ketawanya karena hatinya merasa geli bukan main seperti digelitik. Orang yang disebut Malaikat Elmaut Laut Selatan itu, yang amat ditakuti dan dihormati oleh orang-orang sakti seperti dua pasang suami isteri iblis ini, dan memiliki rumah besar seperti istana pembesar tinggi, ternyata hanyalah seorang kakek yang lucu sekali.

Usianya tentu kurang lebih enam puluh tahun. Mukanya sangat lucu seperti muka kuda, dan matanya sipit hingga seperti terpejam, telinganya berdaun lebar dan tubuhnya tinggi kurus, ditambah lagi saat melangkah, kakinya agak terpincang!

Melihat bentuk wajah dan tubuhnya orang ini, dia lebih pantas menjadi seorang pengemis yang cacat tubuhnya. Akan tetapi pakaiannya sangat mewah, berkembang-kembang, dan kepalanya yang hanya ditumbuhi sedikit rambut itu mengenakan sebuah topi sutera yang berhias bulu burung amat indahnya.

Melihat gadis yang tak dikenalnya itu tertawa biar pun ditahannya, Lam hai Giam-lo yang sudah berjalan menghampiri itu mendadak menggerakkan tangan kanannya dan... lengan itu mulur lalu sekali jari tangannya bergerak, dia sudah menangkap leher baju Pek Eng di bagian tengkuk dan gadis itu tiba-tiba merasa betapa tubuhnya terangkat ke atas!

Pek Eng yang tadinya tertawa geli itu terkejut bukan main. Orang yang wajahnya seperti kuda itu dapat menangkapnya semudah itu, hanya ibu jari dan jari telunjuk menjepit leher bajunya di tengkuk dan mengangkatnya, padahal orang itu berdiri dalam jarak dua meter darinya. Lengan itu dapat mulur panjang!

"Mengapa engkau tertawa?"

Terdengar suara Lam-hai Giam-lo dan Pek Eng yang sudah terkejut itu menjadi semakin ngeri mendengar suara kakek ini seperti ringkik kuda, pecah dan parau!

Pek Eng memang cerdik. Walau pun dia terkejut setengah mati dan merasa ngeri ketika tubuhnya yang diangkat itu kini didekatkan sehingga dia bisa memandang wajah aneh itu dari jarak dekat, namun dia dapat menekan rasa takutnya dan dia malah tesenyum.

"Kakek yang baik, engkaukah bengcu yang dijuluki Lam-hai Giam-lo? Ketika dua pasang suami isteri iblis itu membawaku ke sini dan mendengar namamu, aku merasa ketakutan setengah mati, mengira bahwa sesuai dengan julukanmu, engkau tentulah seorang kakek yang bertubuh raksasa dan berwajah menakutkan dan kejam sekali. Akan tetapi apa yang kulihat? Engkau sama sekali tidak menakutkan, tidak terlihat kejam, bahkan nampak baik hati walau pun berbeda dengan orang-orang biasa. Aku tertawa karena hatiku lega."

Mendengar ini Lam-hai Giam-lo tersenyum, dan lenyaplah sinar mencorong dari matanya. Kalau saja Pek Eng keliru berbicara sedikit saja, tentu sekali banting gadis itu akan tewas seketika! Lengan itu mulur kembali, kemudian Pek Eng mendapatkan dirinya diturunkan di tempat tadi, di antara dua pasang suami istri yang masih berdiri dengan sikap hormat itu.

"Siapa yang membawa gadis ini ke sini dan siapa dia?" Suaranya yang parau dan pecah itu pendek-pendek saja namun mengandung wibawa menakutkan.

Kini Siangkoan Leng yang menjawab dan terdengar sungguh aneh oleh Pek Eng karena suara kakek yang amat lihai ini terdengar agak gemetar dan sikapnya seperti orang yang ketakutan.

"Kami berdua yang membawanya ke sini. Harap Bengcu ketahui bahwa gadis ini adalah adik dari Pek Han Siong dan dia bernama Pek Eng..."

"Aku tidak mengenal dan tidak peduli akan nama-nama itu!"

Lam-hai Giam-lo memotong singkat dan ketus. Memang beberapa tahun yang lampau dia adalah seorang laki-laki yang memiliki kelemahan terhadap wanita muda dan cantik, akan tetapi sekarang, setelah dia mempunyai ambisi yang lebih tinggi dan setiap hari dikelilingi para pelayan wanita yang muda dan cantik, yang setiap waktu siap untuk melayani dan menyenangkan hatinya, dia tidak tertarik kepada Pek Eng biar pun gadis ini masih muda dan cukup cantik manis.

Mendengar ucapan ini dan melihat sikap pemimpin mereka yang nampak kurang senang, Siangkoan Leng menjadi semakin gelisah. Isterinya, Ma Kim Li cepat menyambung untuk membantu suaminya. "Bengcu, tadinya kami juga hendak membunuh gadis ini, akan tetapi kami dicegah oleh suami isteri Goa Iblis, dan mereka menganjurkan agar gadis ini kami haturkan kepada Bengcu."

Dengan matanya yang sipit akan tetapi kadang-kadang dari garis yang sempit itu keluar cahaya mencorong laksana mata kucing di kegelapan, Lam-hai Giam-lo kini memandang kepada suami isteri Goa Iblis Pantai Selatan. Tanpa bertanya pun sikapnya sudah jelas, minta penjelasan dari mereka.

Tong Ci Ki mewakili suaminya berkata, "Harap Bengcu tidak mendengarkan ucapan Ma Kim Li yang ingin menimpakan kesalahan kepada kami. Adalah menjadi keinginan kami berempat bahwa gadis ini dihadapkan kepada Bengcu, walau pun yang menangkapnya adalah Lam-hai Siang-mo. Kami menduga bahwa Bengcu tentu akan tertarik, mengingat bahwa gadis ini adalah adik dari Pek Han Siong yang terkenal sebagai Sin-tong dan dulu pernah diperebutkan, bahkan dicari oleh para pendeta Lama di Tibet."

Lam-hai Giam-lo mengerutkan alis dan sepasang matanya agak melebar sehingga makin nampaklah biji mata yang mengeluarkan sinar kehijauan itu, "Kita bukan anak-anak kecil yang mempercayai ketahyulan para pendeta Lama. Kita mempunyai cita-cita yang lebih tinggi! Aku tidak peduli dengan segala macam Sin-tong!"

"Bagus sekali!" Tiba-tiba Pek Eng berseru sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. "Sudah kuduga bahwa Bengcu adalah orang yang amat bijaksana, pintar dan tidak tahyul atau bodoh seperti dua pasang suami isteri iblis ini! Kakakku Pek Han Siong adalah orang biasa, bagaimana bisa disebut Sin-tong? Sin-tong atau orang-orang besar lainnya adalah orang-orang yang diciptakan Tuhan untuk menjadi lain dari pada orang biasa, maka tentu juga memiliki kelainan dalam bentuknya. Akan tetapi kakakku orang biasa saja, pemuda biasa yang tiada bedanya dengan orang lain. Berbeda dengan Bengcu, misalnya. Bengcu telah diciptakan oleh Tuhan dalam bentuk yang lain dari pada manusia umumnya, karena itu dapat menjadi Bengcu, bahkan pantas untuk menjadi kaisar sekali pun!"

Gadis ini memang asal bicara saja untuk menyenangkan hati pemimpin kaum sesat yang amat mengerikan itu, juga agar kakek itu tidak tertarik kepada kakaknya. Dia pun kagum sekali dengan kepandaian Lam-hai Giam-lo yang luar biasa. Meski pun dia belum melihat seluruh kepandaiannya, baru melihat cara kakek itu tadi menangkapnya saja, akan tetapi sudah membuktikan bahwa kakek itu memang sakti bukan main. Juga sikap empat orang datuk itu membuktikan bahwa Bengcu itu amat ditakuti, maka dapat dibayangkan betapa hebat kepandaiannya. Mendadak saja timbul suatu keinginan di hati Pek Eng. Kalau saja dia dapat menjadi murid kakek sakti ini!

Ucapan yang hanya ngawur itu ternyata amat mengena di hati Lam-hai Giam-lo. Dia amat terkesan ketika mendengar bahwa gadis itu menganggap dia seorang manusia luar biasa, yang secara istimewa diciptakan Tuhan untuk menjadi kaisar!

"Nona kecil, siapakah namamu tadi?" Tiba-tiba Bengcu itu bertanya, suaranya terdengar ramah sehingga dua pasang suami isteri itu terkejut, heran dan juga merasa lega. Suara itu menunjukkan bahwa pemimpin mereka itu tidak marah lagi.

"Bengcu, namaku adalah Pek Eng."

“Pek Eng, keberanianmu sangat menyenangkan hatiku. Sekarang engkau telah berada di sini, sebelum engkau kubebaskan dan boleh pergi dari sini, kau dapat mengajukan satu permintaan kepadaku, tentu akan kupenuhi."

Mendengar ini, dua pasang suami isteri itu terkejut dan heran. Mereka memang merasa lega, akan tetapi terheran-heran karena belum pernah mereka melihat Lam-hai Giam-lo begini ramah dan pemurah terhadap seseorang yang sama sekali asing, kecuali terhadap para pembantunya.

Pertanyaan yang tidak diduga-duga oleh Pek Eng itu membuat gadis ini merasa terkejut dan heran pula. Akan tetapi tanpa ragu-ragu lagi dia pun cepat menjawab, "Bengcu, aku percaya sepenuh hatiku bahwa seorang yang hebat seperti engkau ini, seorang Bengcu yang berkedudukan tinggi..."

"...juga seorang calon kaisar...," kata bengcu itu dengan gembira.

Tanpa memperlihatkan keheranannya karena kini dia pun mengerti bahwa kebaikan sikap bengcu itu adalah karena kata-katanya tadi, maka dia lalu melanjutkan,

"...ya, sebagai seorang calon kaisar, tentu engkau akan memegang teguh kata-kata yang sudah dikeluarkan. Bengcu, ada sebuah permintaan yang kuajukan kepadamu, yaitu aku minta agar engkau menerima aku menjadi muridmu!"

Kembali dua pasang suami isteri iblis itu terkejut melihat keberanian anak perempuan itu. Anak ini sudah beruntung sekali diberi kebebasan, pikir mereka. Masa masih minta agar diterima sebagai murid? Mereka tahu bahwa bengcu itu tidak pernah menerima murid.

Kini sepasang mata yang sipit itu membuka, dan mulut yang bentuknya maju ke depan seperti mulut kuda itu pun mengeluarkan suara ketawa yang mirip bunyi ringkik seekor kuda. "Hieeh-he-he! Engkau memang anak yang pintar sekali, Eng Eng! Mulai sekarang, engkau adalah muridku dan engkau tidak akan kecewa karena akan kuturunkan ilmu-ilmu pilihan untuk kau pelajari, bahkan engkau kuanggap sebagai puteriku sendiri!"

"Terima kasih atas kemurahan hati Bengcu!" kata Pek Eng dan dia pun segera memberi hormat.

"Ha-ha-ha, peruntungan bagus sekali, Nona!" kata Siangkoan Leng, gembira juga karena pemimpin itu tidak jadi marah kepadanya.

"Engkau membuat kami merasa iri, Nona," kata pula Kwee Siong. "Akan tetapi mengapa engkau tidak menyebut suhu atau ayah kepada Bengcu?"

Dengan sikap bersungguh-sungguh Pek Eng berkata, "Bengcu akan merasa lebih senang kalau dipanggil Bengcu, karena memang dia seorang pemimpin besar rakyat yang kelak akan menjadi kaisar. Kalau kupanggil ayah, aku sendiri masih mempunyai seorang ayah kandung, jadi seolah-olah membandingkan dia sederajat dengan orang lain. Kalau suhu, kiranya tidak patut seorang calon kaisar disebut suhu! Bukankah begitu, Bengcu?"

Lam-hai Giam-lo mengangguk-angguk dan kembali dia berkata kepada dua pasang suami isteri itu. "Sekarang kalian berempat boleh memberi laporan. Dan engkau, Eng Eng, kau duduk di sini di samping Ayah!"

Dua pasang suami isteri iblis itu lalu membari laporan mengenai hasil tugas mereka dan Lam-hai Giam-lo mengangguk-angguk gembira ketika mendengar betapa mereka berhasil membujuk banyak orang kang-ouw untuk mengakuinya sebagai bengcu. Sesudah mereka selesai dengan laporan mereka, dia pun berkata,

"Kalian tunggu di sini, yang lainnya belum pulang dari tugas. Dan pada pertengahan bulan nanti, di waktu bulan purnama, akan berkunjung orang-orang penting. Buatlah persiapan untuk sebuah pesta besar karena kalau mereka datang semua, sedikitnya akan hadir lima belas orang. Mari, Eng Eng, mari kau ikut aku ke kebun belakang, aku sudah ingin sekali menguji kepandaianmu agar aku tahu sampai di mana tingkatmu."

Gadis itu lalu mengikuti kakek itu dengan hati girang. Tidak disangkanya bahwa nasibnya bisa berubah demikian baiknya. Setelah menjadi tawanan Lam-hai Siang-mo yang nyaris membunuhnya dan dibawa kepada datuk besar pemimpin para tokoh sesat yang sangat lihai, dia tidak diganggu, tidak dibunuh bahkan diangkat menjadi murid dan anak angkat!

Kebun itu luas sekali, ditanami pohon-pohon buah, sayur-sayuran, dan sebagian dijadikan taman bunga. Di tengah kebun itu terdapat petak rumput yang cukup luas dan memang enak sekali dipakai untuk berlatih silat. Setelah tiba di situ, Lam-hai Giam-lo duduk bersila di atas batu hitam yang bentuknya seperti piring, lalu berkata,

"Nah, sekarang perlihatkan kepandaianmu!"

"Bengcu, aku hanya mempelajari ilmu silat yang dangkal saja, harap jangan ditertawakan dan suka memberi petunjuk!" kata Pek Eng, sikapnya lincah tetapi tetap menghormat tak berlebihan. Sikapnya tampak akrab seolah-olah memang telah bertahun-tahun dia menjadi murid dan anak angkat iblis itu.

Pek Eng lalu bersilat. Ia mengeluarkan semua kepandaiannya dan mengerahkan seluruh tenaganya sehingga tubuhnya berkelebatan cepat sekali, pukulan dan tendangan kakinya mengeluarkan suara angin menyambar-nyambar. Setelah selesai bersilat tangan kosong, dia lalu mengambil ranting dan menggunakannya sebagai pedang untuk bersilat pedang.

Lam-hai Giam-lo mengangguk-angguk. "Hemm, ilmu silatmu sudah lumayan, akan tetapi masih jauh kalau dibandingkan dengan tingkat para pembantuku. Aku akan menurunkan beberapa ilmu silat pilihanku saja, tapi jika engkau sudah menguasai ilmu-ilmu itu, kiranya para pembantuku sendiri akan sukar untuk mengalahkanmu."

"Bengcu, menghadapi salah seorang di antara dua pasang suami isteri itu saja aku tidak mampu berbuat banyak!"

"He-heh-heh, tentu saja dalam keadaanmu sekarang. Akan tetapi tunggu paling lama satu tahun lagi, engkau sudah akan mampu mengalahkan seorang di antara mereka. Eng Eng, sekarang ceritakan, mengapa engkau meninggalkan rumah orang tuamu sampai engkau tertawan oleh Lam-hai Siang-mo?"

Ditanya demikian secara tiba-tiba, Pek Eng terkejut. Akan tetapi dia tidak mejadi gugup, bahkan tiba-tiba saja dia dapat memaksa perasaannya sehingga kedua matanya menjadi basah dengan air mata! Tidak sukar baginya untuk membuat hatinya berduka. Begitu dia mengingat keputusan orang tuanya bahwa dia dijodohkan dengan Song Bu Hok, hatinya seperti ditusuk dan air mata pun amat mudah keluar membasahi matanya.

"Ehh, engkau menangis?" tanya Lam-hai Giam-lo.

Pertanyaan ini mendorong air mata Pek Eng keluar semakin banyak lagi dan sekali ini dia benar-benar menangis, bukan bersandiwara lagi. Dia teringat betapa usahanya mencari Pek Han Siong dan Hay Hay mengalami kegagalan, juga dia teringat tentang pertunangan yang tidak disetujuinya itu sehingga dia tidak ingin kembali ke rumah orang tuanya.

"Bengcu," katanya sesudah dia dapat menahan tangisnya, memandang kepada kakek itu dengan mata agak kemerahan dan kedua pipi basah oleh air mata. Kini, sesudah merasa menjadi murid kakek itu, wajah yang bentuknya aneh dan menakutkan itu baginya tak lagi kelihatan menyeramkan.

"Sesungguhnya aku meninggalkan rumah orang tuaku tanpa pamit."

Kakek itu tertawa bergelak, agaknya senang sekali mendengar ulah muridnya. Bagi dia, sikap ugal-ugalan itu malah menarik dan menyenangkan!

"Kenapa engkau minggat?"

"Aku dipaksa untuk dijodohkan dengan seorang pemuda yang tidak kusukai, orang tuaku telah menerima lamaran keluarga Song. Aku lalu lari meninggalkan rumah untuk mencari kakak kandungku yang bernama Pek Han Siong."

"Di mana adanya kakakmu itu?"

Pek Eng langsung merasa menyesal menyebut nama kakaknya. Kalau sampai gurunya ini tertarik pula kepada Sing-tong, jangan-jangan kakaknya malah akan terancam bahaya. "Aku tidak tahu, Bengcu. Aku mencarinya dengan ngawur saja. Akan tetapi..." Ia teringat akan sebuah kesempatan yang baik dan juga untuk mengalihkan percakapan, "...maukah Bengcu mendatangi keluarga Song untuk membatalkan perjodohan itu? Sebagai guru dan ayah angkatku, tentu Bengcu barhak mengurus diriku dan membatalkan ikatan jodoh itu!"

"Di mana tinggalnya keluarga Song itu?"

"Ayah pemuda itu adalah ketua Kang-jiu-pang di kota Cin-an, bernama Song Un Tek dan pemuda itu bernama Song Bu Hok. Bengcu, marilah kita ke sana dan kau batalkan ikatan jodoh itu!"

Lam-hai Giam-lo tersenyum menyeringai dan suara ringkik kuda itu menunjukkan bahwa dia tertawa. "Tidak perlu aku sendiri yang ke sana. Cin-an tidak dekat dan kalau aku yang pergi ke sana, akan makan waktu lama sehingga pekerjaan di sini dapat terbengkalai..."

"Aihh, kalau begitu Bengcu hanya pura-pura saja suka kepadaku, mengangkatku sebagai murid dan bahkan anak!" Pek Eng berkata sambil cemberut dan memperlihatkan muka kecewa.

"Heh-heh, bukan begitu, muridku yang baik! Aku sendiri tidak dapat pergi ke Cin-an, akan tetapi apa sukarnya membatalkan ikatan perdojohan yang tak kau sukai itu? Pembantuku cukup banyak, dan kalau mau selamat, Kang-jiu-pang harus mentaati perintahku. Jangan khawatir, muridku, anakku, ikatan perjodohan itu batal sudah, heh-heh-heh!"

Ucapan Lam-hai Giam-lo ini bukan sekedar membual belaka sebab pada hari itu juga dia mengutus Lam-hai Siang-mo, suami isteri yang menjadi orang-orang kepercayaannya itu untuk pergi ke Cian-an, berkunjng ke perkumpulan Kang-jiu-pang dan menemui ketuanya untuk membatalkan ikatan jodoh antara Pek Eng dan Song Bu Hok.

Giranglah hati Pek Eng karena dia yakin bahwa suami isteri iblis yang amat lihai itu tentu akan dapat memaksa keluarga Song untuk membatalkan atau memutuskan ikatan jodoh yang tidak dikehendakinya itu. Dia pun semakin suka kepada gurunya maka mulailah dia melatih diri dengan tekun di bawah bimbingan Lam-hai Giam-lo. Gadis ini memang pandai sekali membawa diri sehingga Lam-hai Giam-lo yang tidak pernah mempunyai isteri atau anak itu menjadi semakin sayang dan menganggap Pek Eng seperti anaknya sendiri…..

********************

Pertengahan bulan tiba dengan cepatnya, dan suami isteri Goa Iblis Pantai Selatan yang bertugas jaga di luar segera melihat munculnya para rekannya, yaitu tokoh-tokoh yang membantu gerakan Lam-hai Giam-lo. Berturut-turut datang Min-san Mo-ko, Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi, Sim Ki Liong yang kini selalu berdua dengan Ji Sun Bi, serta beberapa orang tosu Pek-lian-kauw. Kemudian bermunculan pula para tamu yang sudah dinanti-nanti oleh Lam-hai Giam-lo.

Oleh karena waktu yang ditentukan masih kurang satu hari lagi, maka ramailah keadaan di tempat itu. Para tamu memperoleh kamar-kamar tamu yang banyak terdapat di rumah besar itu dan dalam hal melayani para tamu itu, Lam-hai Giam-lo bersikap royal sekali. Bukan hanya hidangan lezat yang dikirim kepada mereka di kamar masing-masing, akan tetapi segala kebutuhan para tamu dipenuhi, dan mereka itu dilayani laksana tamu-tamu agung saja sehingga para tamu itu merasa puas dan gembira. Malam harinya disediakan hiburan berupa pertunjukan tarian dan nyanyian yang berlangsung sampai jauh malam.

Pek Eng yang kini sudah menjadi murid, bahkan anak angkat Lam-hai Giam-lo, tidak ikut menyambut para tamu, bahkan tidak mencampuri kesibukan para pembantu gurunya itu. Dia bersembunyi saja di kamarnya karena merasa tak suka melihat sikap para pembantu gurunya.

Pada saat dia diperkenalkan kepada semua pembantu gurunya, dan ketika diperkenalkan kepada Sim Ki Liong, diam-diam dia terkejut dan merasa heran sekali bagaimana seorang pemuda yang kelihatan begitu tampan, halus dan sama sekali tidak mencerminkan watak jahat, dapat menjadi pembantu gurunya yang mengepalai para tokoh sesat.

Pek Eng tahu bahwa dia hidup di antara para datuk sesat, bahwa gurunya adalah seorang tokoh besar golongan hitam. Akan tetapi dia tidak mempedulikan hal ini. Dia berada di situ hanya karena ingin mempelajari ilmu silat tinggi dari Lam-hai Giam-lo dan dia tidak akan mau mencampuri urusan persekutuan yang sedang dikerjakan oleh gurunya beserta para pembantunya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali muncul Lam-hai Siang-mo yang disambut oleh Lam-hai Giam-lo dan Pek Eng, lalu mereka bercakap-cakap di ruangan dalam, berempat saja. Lam-hai Siang-mo, suami isteri iblis itu lalu menuturkan pelaksanaan tugas mereka pergi berkunjung ke Cin-an, mencari perkumpulan Kang-jiu-pang yang diketuai oleh Song Un Tek untuk membatalkan ikatan tali perjodohan antara Pek Eng dan puteranya, Song Bu Hok.

Kedatangan Lam-hai Siang-mo disambut keluarga itu dengan rasa heran karena mereka belum pernah berjumpa dengan suami isteri iblis itu walau pun tentu saja mereka pernah mendengar nama besar mereka. Song Un Tek, Ketua Kang-jiu-pang itu keluar bersama adiknya, Song Un Sui dan puteranya Song Bu Hok, diikuti pula oleh dua puluh orang lebih anggota Kang-jiu-pang. Dengan heran Song Un Tek menyambut suami isteri itu yang tadi memperkenalkan diri kepada penjaga dan minta supaya Ketua Kang-jiu-pang keluar untuk bicara dengan mereka.

Biar pun dia adalah seorang ketua perkumpulan yang cukup terkenal, Song Un Tek yang sudah mendengar bahwa yang datang adalah suami isteri yang sangat terkenal di dunia kang-ouw, segera memberi hormat kepada mereka.

"Kami merasa terhormat sekali menerima kunjungan Ji-wi yang nama besarnya telah kami dengar. Akan tetapi, mari silakan masuk ke dalam dan duduk di ruangan tamu agar kita dapat bicara dengan enak."

Suami isteri itu tidak membalas penghormatan tuan rumah, lalu dengan sikap angkuh dan dingin Singkoan Leng berkata. "Tidak usah masuk, di sini pun kita dapat bicara!"

Melihat sikap ini, keluarga Song sudah merasa tak suka, juga para anggota Kang-jiu-pang menganggap bahwa dua orang tamu ini sangat kasar dan tidak menghargai sopan santun sebagai tamu. Akan tetapi, Song-pangcu masih bersabar hati.

"Terserah kepada Ji-wi kalau hendak bicara di sini saja. Nah, keperluan apakah yang Ji-wi bawa sehingga memberi kehormatan kepada kami dengan kunjungan ini?"

"Song-pangcu," kata pula Songkoan Leng sambil memandang tajam. "Benarkah engkau mempunyai seorang putera yang bernama Song Bu Hok, dan jika benar demikian, mana dia?"

Melihat sikap kedua orang tamu ini yang sama sekali tidak menghormati ayahnya, Song Bu Hok berseru galak, "Akulah Song Bu Hok, kalian mau apa mencariku?!"

Siangkoan Leng dan Ma Kim Li menoleh, dan kini Siangkoan Leng tersenyum mengejek. "Ahh, kiranya engkau! Song-pangcu, apakah engkau masih sayang kepada puteramu?"

Kembali dia menghadapi ketua Kang-jiu-pang yang mengerutkan alisnya dengan perasaan heran, akan tetapi juga khawatir karena melihat sikap dua orang tamunya, jelas bahwa mereka datang tidak membawa niat yang baik.

"Sebenarnya, apakah yang Ji-wi maksudkan ini? Kami tidak merasa mempunyai urusan dengan Ji-wi. Harap memberi tahukan apa keperluan Jiwi datang berkunjung ke sini," kata Song-pangcu, masih bersikap hormat walau pun dia juga waspada terhadap kedua orang tamunya.

"Song-pangcu tidak merasa mempunyai urusan dengan kami, akan tetapi kami memiliki urusan dengan keluargamu. Kami datang untuk bicara tentang ikatan perjodohan antara puteramu Song Bu Hok dengan Nona Pek Eng. Benarkah ada ikatan perjodohan itu?"

"Benar, akan tetapi ada apakah?" Song Un Tek bertanya heran.

Singkoan Leng tersenyum. "Bagus! Kami datang untuk minta kepada keluarga Song agar membatalkan atau memutuskan tali perjodohan itu!"

"Ahhhh...!" Seruan ini keluar dari mulut keluarga Song, juga dari beberapa orang anggota Kang-jiu-pang yang merasa terkejut sekali. Wajah Song Un Tek, menjadi merah karena rasa amarah membakar hati mereka. Keraguan memenuhi hati Song-pangcu pada waktu dia bertanya.

"Apakah Ji-wi menjadi utusan dari keluarga Pek?"

Siangkoan Leng menggelengkan kepalanya. "Kami adalah utusan dari Bengcu kami, yaitu Lam-hai Giam-lo!"

Makin kagetlah Song Un Tek dan Song Un Sui mendengar ini karena mereka juga sudah mendengar akan nama Lam-hai Giam-lo yang akhir-akhir ini telah menggemparkan dunia persilatan di bagian selatan.

"Apakah hubungan antara Lam-hai Giam-lo dengan perjodohan putera kami?" kini Song Un Sui yang galak bertanya dengan nada suara yang keras.

"Memang tidak ada hubungannya dengan perjodohan anakmu, namun Bengcu kami tidak menghendaki Nona Pek Eng berjodoh dengan Song Bu Hok!"

"Akan tetapi, kami sudah menjalin ikatan perjodohan itu dengan keluarga Pek...!"

"Tidak peduli! Sekarang Nona Pek telah menjadi murid dan juga anak angkat Bengcu, dan Bengcu menghendaki agar pertalian ini batalkan dan diputuskan!"

Marahlah Song Un Sui. "Hemm, Ji-wi sungguh terlalu. Bagaimana kalau kami tidak mau membatalkan?"

"Uuhhh! Siapa yang berani menentang perintah Bengcu akan kuhajar!"

Mendadak Ma Kim Li sudah meloncat dan menerjang Song Un Sui dengan gerakan yang amat cepat. Song Un Sui yang bertubuh gendut itu, menangkis kedua tangan lawan yang mencengkeram ke arah kepala dan dadanya, sambil mengerahkan tenaga sin-kang.

"Dukkk!"

Dua pasang lengan bertemu dan akibatnya, tubuh yang bulat seperti bola itu terjengkang dan bergulingan. Melihat ini, Song Un Tek menjadi marah maka dia pun maju menyerang Siangkoan Leng, ada pun Song Bu Hok menyerang Ma Kim Li. Tanpa diperintah lagi para anggota Kang Jiu-pang juga sudah mencabut senjata mereka dan maju mengeroyok.

Suami isteri itu mengamuk, dikeroyok oleh dua puluh orang lebih, namun mereka sama sekali tidak menjadi gentar. Dengan tangan kosong saja suami isteri itu berani menangkis senjata tajam, menampar, ada pun kedua kaki mereka bergerak cepat menendang, dan akibatnya, dalam waktu yang tidak terlalu lama, semua murid Kang-jiu-pang terlempar ke kanan kiri dan hanya mengaduh-ngaduh, tidak mampu bangkit kembali! Kini tinggal Song Un Tek yang melawan Singkoan Leng, sedangkan Ma Kim Li dikeroyok oleh Song Un Sui dan Song Bu Hok.

Sesuai nama perkumpulan yang dipimpinnya, yakni Kang-jiu-pang (Perkumpulan Tangan Baja), tiga orang keluarga Song ini hanya mengandalkan kekuatan kedua tangan mereka saja untuk menghadapi dua orang suami isteri yang amat lihai itu. Namun hanya Ma Kim Li yang dapat ditahan oleh Song Un Sui dan Song Bu Hok. Dengan pengeroyokan paman dan keponakan ini, Ma Kim Li bahkan agak terdesak. Akan tetapi di lain pihak Song Un Tek terdesak hebat oleh Singkoan Leng karena tingkat kepandaiannya memang masih kalah jauh.

Tiba-tiba Ma Kim Li mengeluarkan lengking panjang lantas ada sinar hitam kecil meluncur dari tangannya, disusul teriakan Song Bu Hok yang terpelanting roboh. Ternyata, sesudah merasa terdesak wanita ini lalu menggunakan senjatanya yang paling dia andalkan, yaitu jarum beracun! Memang hebat dan berbahaya sekali jarum beracun ini dan sekali lepas, sebatang jarum sudah menembus baju pemuda itu dan mengenai pundaknya, membuat dia seketika roboh dan pingsan!

Song Un Sui terkejut sekali dan kesempatan selagi dia menengok ke arah keponakannya yang roboh digunakan oleh Ma Kim Li untuk menghantam dadanya sehingga Si Gendut bulat ini pun terpelanting roboh. Hampir pada saat itu juga, Song Un Tek juga roboh oleh tendangan kaki Singkoan Leng!

Kini tidak seorang pun dari Kang-jiu-pang dapat melawan lagi. Song Un Tek dan Song Un Sui hanya dapat bangkit duduk lantas mereka berdua memandang dengan mata melotot kepada Lam-hai Siang-mo. Kemudian Ma Kim Li mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dan melemparkannya kepada Song Un Tek sambil berkata,

"Hanya obatku ini yang mampu mengembalikan nyawa anakmu, Pangcu. Sekali ini kami hanya memberi peringatan, kalau kalian masih membangkang terhadap perintah Bengcu kami dan tidak memutuskan ikatan perdojohan itu, lain kali aku datang mengambil nyawa kalian sekeluarga!" Setelah berkata demikian, suami isteri itu segera pergi meninggalkan tempat itu.

Demikianlah laporan Lam-hai Siang-mo kepada Lam-hai Giam-lo dan Pek Eng yang sejak tadi mendengarkan dengan hati gembira. Dia yakin bahwa keluarga Song itu tentu segera membatalkan pertalian jodoh itu.

Kalau saja dia tidak memesan kepada gurunya yang kemudian melanjutkan pesanan itu melalui perintahnya kepada Lam-hai Siang-mo, tentu keluarga Song sudah dibunuh dan dibasmi oleh suami isteri iblis itu! Dia memang telah memesan kepada gurunya bahwa dia hanya menginginkan supaya pertalian jodoh itu dibatalkan, dan tidak menghendaki terjadi pembunuhan atas diri keluarga Song…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner