PENDEKAR MATA KERANJANG : JILID-56


Ruangan yang luas itu menampung para tamu yang sejak kemarin sudah berdatangan. Ada empat belas orang jumlah tamu yang datang memenuhi undangan Lam-hai Giam-lo. Mereka adalah para tokoh kang-ouw dan datuk-datuk golongan hitam yang telah terkenal di dunia persilatan.

Kecuali empat belas orang tamu ini, di sana hadir pula para pembantu Lam-hai Giam-lo yang diandalkan, yaitu Lam-hai Song-mo, sepasang suami isteri Goa Iblis Pantai Selatan, Min-san Mo-ko, Ji Sun Bi dan tidak ketinggalan pula Sim Ki Liong yang sekarang bahkan telah dianggap pembantu terpandai oleh Lam-hai Giam-lo. Tentu saja di antara para tamu itu terdapat tokoh-tokoh Pek-lian-kauw yang sudah lebih dulu bersekutu dengan Lam-hai Giam-lo.

Setelah membuka rapat dan mengucapkan selamat datang, lebih dahulu Lam-hai Giam-lo minta pendapat para tamunya yang dihormati itu apakah mereka setuju kalau dia menjadi bengcu dan memimpin mereka semua dalam suatu kelompok yang kuat. Sebagian besar yang sudah mengenai dan tahu akan kelihaian Lam-hai Giam-lo menyatakan setuju, akan tetapi ada beberapa orang yang merasa sangsi.

Seorang di antara mereka segera bangkit berdiri. "Nanti dulu, Lam-hai Giam-lo, sebelum kami bisa menerimamu sebagai Bengcu, lebih dulu aku ingin sekali mengetahui mengapa engkau mempersatukan kita semua dan mengangkat dirimu menjadi pemimpin."

Beberapa orang yang tadi masih merasa sangsi mengangguk-angguk tanda setuju dengan pernyataan ini dan Lam-hai Giam-lo melihat pula hal ini. Meski pun hatinya merasa tidak senang, namun ketika melihat bahwa ada beberapa orang tokoh yang masih sangsi, dia pun bersikap ramah. Dia memandang kepada orang yang mengajukan pertanyaan tadi.

Orang itu berusia kurang lebih lima puluh tahun dan bertubuh tinggai kurus. Akan tetapi yang sangat mencolok adalah pakaiannya karena pakaian itu putih polos seperti pakaian orang yang sedang berkabung. Akan tetapi semua orang yang hadir tahu belaka bahwa dia bukanlah orang sembarangan. Dia bernama Kim San, Ketua dari Kui-kok-pang.

Kui-kok-pang (Perkumpulan Lembah Iblis) adalah perkumpulan golongan hitam yang amat terkenal dan berada di Kui-san-kok, yaitu Lembah Iblis di Pegunungan Hong-san. Kim San hendak melanjutkan pekerjaan yang dulu dilakukan kedua orang gurunya, yaitu kakek dan nenek Kui-kok Siang-mo (Sepasang Iblis dari Kui-kok) yang mendirikan Kui-kok-pang, dua orang tokoh yang termasuk dalam kelompok Cap-sha-kwi (Tiga Belas Iblis). Seperti yang diceritakan dalam kisah Asmara Berdarah, kakek dan nenek iblis ini tewas di tangan Ratu Iblis.

Seperti juga mendiang kedua orang gurunya, selain berpakaian serba putih, Kim San atau Kui-kok-pangcu (Ketua Kui-kok-pang) ini juga mempunyai wajah yang putih pucat laksana wajah mayat. Tetapi hal ini bukan menjadi tanda bahwa dia mengidap penyakit, melainkan karena dia telah menguasai ilmu sinkang yang luar biasa dan membuat mukanya menjadi pucat dan putih.

"Keraguan Kui-kok-pangcu dan pertanyaan tadi memang pantas karena agaknya engkau belum mengerti akan maksud kami. Para saudara yang juga masih bersangsi hendaknya suka mendengarkan baik-baik. Kini keadaan pemerintah sangat kuat dan para pendekar menyembunyikan diri semua. Hal ini hanya menunjukkan bahwa kini golongan kita dalam keadaan amat lemah sehingga dianggap tidak ada saja oleh para pendekar sombong itu. Bukankah hal ini amat merendahkan martabat kita yang dikenal sebagai golongan hitam? Dahulu kita pernah mengalami masa jaya, pada saat Empat Setan memimpin dunia hitam dibantu oleh Tiga Belas Iblis. Kemudian muncul Raja dan Ratu Iblis yang mengambil alih kekuasaan, akan tetapi malah membawa kita ke dalam kehancuran."

Kui-kok-pangcu mengangguk-angguk. Kedua orang gurunya itu pun tewas di tangan Ratu Iblis.

"Kalian semua tentu tahu bahwa Empat Setan terdiri dari mendiang Guruku Lam Kwi Ong, mendiang Susiok (Paman Guru) See Kwi Ong dan masih ada dua orang lagi, yaitu Susiok Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi. Kedua orang susiok ini sekarang entah berada di mana, namun kalau pun belum meninggal dunia tentu juga sudah amat tua sehingga tidak dapat diharapkan lagi. Nah, sekarang tinggal aku seorang diri yang menjadi penerus dari Empat Setan! Kini murid-murid Tiga Belas Iblis mulai banyak disebut orang, di antaranya bahkan engkau sendiri, Kui-kok-pangcu, yang merupakan murid dari mendiang Kui-kok Lo-mo dan Kui-kok Lo-bo, dua orang tokoh Cap-sha-kwi (Tiga Belas Iblis). Sekarang kalau bukan aku yang memimpin, habis mau siapa lagi? Dan kalau bukan kita bersama yang bangkit untuk memperoleh kembali kejayaan masa dulu, siapa lagi?"

Pek Eng juga hadir di situ. Sejak tadi dia hanya duduk di belakang kursi Lam-hai Giam-lo dan tidak bicara, hanya mendengarkan saja dan dia merasa kagum kepada gurunya yang demikian berwibawa dan ditakuti para tokoh yang aneh-aneh ini.

Hatinya lega dan gembira bukan main mendengar laporan Lam-hai Siang-mo tadi bahwa ikatan jodoh antara dia dan Song Bu Hok sudah dibikin putus! Dia tahu bahwa tentu orang tuanya akan marah sekali, akan tetapi hal itu akan dihadapinya kelak. yang penting, pihak keluarga Song sudah menerima pembatalan itu. Kini dia telah bebas!

Kui-kok-pangcu Kim San mengangguk-angguk setuju setelah mendengar ucapan Lam-hai Giam-lo. Akan tetapi segera bangkit berdiri seorang lelaki berusia kurang lebih lima puluh tahun yang bertubuh cebol, hanya setinggi leher Pek Eng, kepalanya kecil tapi tubuhnya besar dan nampak kokoh kuat,. Suaranya juga kecil seperti kepalanya ketika dia berkata lantang seperti tikus menjerit-jerit.

"Tetapi apa maksudnya diadakan persekutuan ini? Apakah semua pekerjaan kita, baik itu perampokan, pencurian, pembajakan, penguasaan tempat judi dan pelacuran, semua itu harus dilakukan beramai-ramai? Kalau tidak ada tujuan yang jelas, tentu saja aku merasa ragu-ragu untuk menggabungkan diri. Harus dilihat lebih dahulu apakah penggabungan ini akan menguntungkan kita ataukah sebaliknya."

"Tentu saja menguntungkan!" kata Lam-hai Giam-lo sambil memandang orang cebol itu.

Si Cebol ini pun bukan orang sembarangan karena dia terkenal dengan nama julukannya yang menyeramkan, Hek-hiat Mo-ko (Iblis Berdarah Hitam)! Belasan tahun yang lampau orang mengenal nama besar Hek-hiat Lo-mo dan Hek-hiat Lo-bo, cucu keponakan murid dari iblis betina Hek-hiat Mo-li yang juga pernah menggemparkan dunia kang-ouw puluhan tahun yang lalu.

Dan sekarang keturunan terakhir yang mewarisi ilmu kepandaian mereka adalah Hek-hiat Mo-ko inilah. Akan tetapi jangan menganggap ringan tubuhnya yang cebol, karena orang ini telah mampu menguasai ilmu mukjijat sehingga mengakibatkan darahnya benar-benar berwarna hitam, sesuai dengan julukannya.

"Tentu saja menguntungkan, Hek-hiat Mo-ko," Lam-hai Giam-lo mengulang kata-katanya kembali. "Kita masing-masing masih tetap mengurus pekerjaan sendiri tanpa boleh saling mengganggu, bahkan dengan adanya penggabungan ini maka kita dapat saling bantu bila mana menghadapi kesulitan. Kita juga dapat menampung dana yang sewaktu-waktu bisa dipergunakan untuk membantu saudara kita yang sedang dilanda kekurangan. Kalau kita bersatu dan memperlihatkan sikap tegas, memiliki kekuatan besar, tentu pemerintah tidak akan berani menekan kita, dan para pendekar pun tidak akan mampu berbuat seenaknya terhadap kita."

"He-he-heh-heh!" Hek-hiat Mo-ko terkekeh. "Tentu semua orang akan selalu mengatakan kekurangan. Apakah kekayaanmu akan cukup untuk membantu mereka semua, Lam-hai Giam-lo? Dana yang dibutuhkan akan amat besar untuk membantu saudara-saudara kita yang kekurangan!"

"Tidak usah khawatir!" kata Lam-hai Giam-lo dengan suaranya yang seperti ringkik kuda, "Sumbangan akan mengalir dari mereka yang merasa diuntungkan oleh persekutuan ini, lagi pula di sini sudah hadir seorang tamu agung yang mempunyai kekayaan cukup besar untuk menjadi tulang punggung kita dalam hal menghimpun dana. Perkenalkan, saudara sekalian, inilah Saudara Kulana, tamu agung kita itu!"

Seorang di antara para tamu yang sejak tadi hanya duduk diam saja, kini bangkit berdiri. Dia adalah seorang lelaki yang usianya empat puluh tahun lebih, pakaiannya aneh namun indah, dengan kepala dibungkus kain kepala warna-warni dan dihiasi emas permata yang berbentuk burung merak indah sekali. Tubuhnya sedang saja, tetapi sikapnya berwibawa seperti sikap seorang bangsawan tinggi dan wajahnya cukup anggun.

Dia memang seorang bangsawan tinggi dari Birma. Karena kepandaiannya yang sangat tinggi, dia pernah berjasa besar dan berkat kemampuannyalah maka berkali-kali tentara dari Tiongkok dapat dicegah menguasai Birma. Akan tetapi, akhirnya Kulana yang masih berpangkat pangeran mempunyai ambisi untuk merebut tahta kerajaan. Dia ketahuan dan terpaksa melarikan diri meninggalkan negerinya membawa harta kekayaan berupa emas permata yang tak ternilai saking banyaknya.

Sejak tadi Kulana hanya mendengarkan saja, akan tetapi matanya sering kali menyambar ke arah gadis manis yang duduk di belakang Lam-hai Giam-lo dengan pandangan mata penuh kagum dan gairah seorang laki-laki mata keranjang. Sekarang Kulana bangkit dan membungkuk ke kanan kiri, lalu bekata dengan suara agak asing namun cukup jelas,

"Aku sudah mendengar semuanya dan apa yang dikatakan oleh Bengcu Lam-hai Giam-lo memang benar. dia patut menjadi Bengcu kita dan aku sanggup membantu. Bukan hanya bersekutu agar kedudukan kita menjadi kuat. Bahkan lebih dari itu. Kita dapat mendirikan sebuah pemerintahan tandingan untuk menentang pemerintah yang selalu menekan kita. Kalau perlu, ketika saatnya sudah masak kita rebut tahta kerajaan. Kita, semua anggota persekutuan kita, yang akan duduk di kursi-kursi pemerintahan, menguasai seluruh negeri dan mengadakan peraturan-peraturan baru! Akan tetapi aku harus lebih dulu melihat bukti kesetiaan kalian, baru aku mau membantu."

Semua orang terkejut sekali, terbelalak memandang kepada orang asing itu. Begitu tinggi dan besar cita-citanya! Merampas tahta kerajaan lalu mereka semua menjadi pembesar-pembesar tinggi!

Macam-macam bayangan memasuki pikiran mereka. Ada yang membayangkan dia kelak menjadi menteri pajak, ada yang ingin menjadi menteri keuangan, tentu saja dengan harta yang belimpahan, ada yang ingin menjadi menteri pengadilan agar dia dapat sesuka hati menghukum mereka yang tak disukainya. Pendeknya ucapan Kulana tadi telah membuat mereka mengkhayal yang muluk-muluk, maka otomatis mereka mengangguk-angguk dan merasa tertarik. Akan tetapi Kim San, Ketua Kui-kok-pang, masih merasa penasaran dan dia pun bangkit berdiri.

"Saudara Kulana boleh jadi seorang yang berpengetahuan luas dan kaya raya, akan tetapi kami semua hanyalah orang-orang kasar yang selalu mengandalkan kekuatan dan ilmu silat. Bagaimana mungkin dapat terjalin kerja sama antara engkau dan kami?" Ucapan ini jelas menyatakan keraguan Ketua Kui-kok-pang itu terhadap diri Kulana yang hanya kaya saja akan tetapi kelihatan seperti orang yang lemah.

Mendengar ucapan ini, Lam-hai Giam-lo mengeluarkan suara ketawanya yang terdengar menyeramkan, persis suara kuda meringkik, "Hyeh-heh-hehh! Kim-pangcu, engkau belum mengenal siapa adanya Saudara Kulana..."

Tiba-tiba dia menghentikan ucapannya sebab pada saat itu pula terjadi kegaduhan di pintu masuk. Terdengar seruan-seruan dan tampak dua orang anggota keamanan yang berjaga di depan pintu terlempar masuk ke kanan kiri kemudian seorang gadis melangkah masuk dengan tenangnya.

Kiranya dua orang penjaga itu tadi hendak mencegah dia masuk, tetapi sekali mendorong gadis itu telah membuat mereka terpental lalu bangkit dan memandang dengan kaget dan heran. Lam-hai Giam-lo sendiri mengerutkan alisnya dan memandang marah melihat ada seorang gadis muda begitu berani untuk menggangu rapat penting itu.

"Bengcu... lapor... Dia... dia tetap memaksa untuk masuk biar pun sudah kami cegah dan halangi," kata seorang di antara dua penjaga yang didorong roboh tadi.

"Hemm, Nona yang lancang, siapakah engkau?!" bentak Lam-hai Giam-lo, akan tetapi dia masih merasa sungkan untuk turun tangan mengingat bahwa dia adalah seorang bengcu ada pun pengganggu itu hanya seorang gadis muda yang usianya belum ada dua puluh tahun.

"Bengcu, biar aku yang menghajarnya!"

Pek Eng merasa marah juga melihat pengacau itu sama sekali tak menghormati gurunya, maka sekali bergerak dia sudah meloncat ke depan gadis itu. Gadis itu hanya melirik saja kepada Pek Eng, akan tetapi agaknya merasa heran menemukan seorang gadis seperti Pek Eng berada di antara para datuk sesat itu.

"Hemm, anak kecil, siapa engkau? Jangan mencampuri urusan ini dan pergilah," gadis itu berkata, sikapnya sangat tenang dan memandang rendah. Pek Eng yang berwatak galak itu menjadi semakin penasaran karena disebut anak kecil.

"Namaku Pek Eng dan aku adalah murid Bengcu Lam-hai Giam-lo! Engkaulah yang harus minggat dari sini dan jangan coba-coba membikin kacau. Hayo katakan siapa engkau dan apa maksudmu menerobos masuk seperti ini!"

Dara itu pun masih muda, nyaris sebaya Pek Eng. Kulitnya putih mulus, rambutnya yang panjang itu digelung menjadi dua, dan tubuhnya ramping. Wajahnya cantik sekali, dengan muka bulat telur, mata tajam, hidung kecil mancung, bibirnya merah membasah dan ada setitik tahi lalat pada dagunya yang menambah kemanisannya.

"Hemm, siapa adanya aku tidak perlu diketahui orang! Ada pun kedatanganku ini tak ada sangkut-pautnya dengan orang lain. Aku hanya minta supaya suami isteri Goa Iblis Pantai Selatan yang bernama Kwee Siong dan Tong Ci Ki, juga suami Siangkoan Leng dan Ma Kim Li, cepat maju ke ini!"

Mendengar nama mereka disebut, dua pasang suami isteri iblis itu menjadi marah. Maka mereka pun segera bangkit dari tempat duduk mereka.

"Kami adalah Lam-hai Siang-mo!" bentak Ma Kim Li.

"Kami sepasang suami iteri Goa Iblis Pantai Selatan, engkau mau apa menyebut nama kami?!" bentak pula Tong Ci Ki.

Gadis itu bukan lain adalah Siangkoan Bi Lian, atau seperti yang dianggapnya sendiri, Cu Bi Lian karena sejak kecil dia dijadikan anak angkat oleh suami isteri Cu Pak Sin. Seperti telah diceritakan pada bagian depan, ketika terjadi perkelahian antara dua kakek Iblis Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi melawan dua pasang suami isteri iblis yang dibantu banyak anak buahnya, dua orang kakek itu mengamuk dan karena orang kampung dapat diajak oleh dua pasang suami isteri iblis itu untuk mengeroyok, maka banyak orang kampung termasuk pula Cu Pak Sin dan isterinya, tewas di tangan dua orang kakek itu.

Mereka mengatakan bahwa Cu Pak Sin dan isterinya terpaksa dibunuh karena orang itu sudah berpihak kepada dua pasang suami isteri iblis. Dengan demikian, kematian Cu Pak Sin beserta isterinya adalah akibat dari ulah Lam-hai Siang-mo dan suami isteri Goa Iblis Pantai Selatan.

Inilah sebabnya kenapa Bi Lian mencari dua pasang suami isteri iblis ini untuk membalas kematian ayah ibunya, yang sebenarnya bukanlah ayah ibu kandungnya. Pada waktu dia bertemu dengan Hay Hay, dari pemuda itu dia mendengar bahwa dua pasang suami isteri yang dianggapnya musuh besar itu berada di daerah selatan, maka dia pun mencari-cari dan akhirnya mendapat keterangan bahwa dia dapat menemukan mereka di tempat ini.

Saat tadi dia tiba di depan pintu gerbang dan melihat banyak orang berjaga dengan ketat, dia tidak mau menimbulkan keributan dan dengan kepandaiannya yang tinggi, dia dapat melompati pagar tembok tanpa diketahui penjaga. Akan tetapi ketika dia sampai di depan pintu tempat diadakannya rapat dan hendak masuk, dua orang penjaga menghadangnya maka terpaksa dia mendorong mereka sampai terpelanting ke dalam ruangan itu.

Ketika dua pasang suami isteri itu bangkit memperkenalkan diri, Bi Lian memandang pada mereka dengan sinar mata tajam. "Bagus, akhirnya kalian dapat juga kutemukan!"

"Hemm, sesudah bertemu, engkau mau apakah?!" bentak Siangkoan Leng marah karena dia melihat betapa gadis muda itu sama sekali tidak menghormati mereka, bahkan terlihat memandang rendah.

"Kau masih bertanya lagi mau apa? Mau membunuh kalian berempat tentu saja!" jawab Bi Lian.

"Bocah lancang mulut!" Ma Kim Li membentak kemudian dia pun meloncat ke depan dan langsung menyerang Bi Lian.

Si Jarum Beracun ini meloncat ke atas dan menerkam dengan kedua tangan membentuk cakar. Suaminya dan pasangan suami iseri yang lain hanya menonton saja sebab mereka percaya bahwa Ma Kim Li tentu cukup tangguh untuk menghajar gadis muda itu. Agaknya amat memalukan kalau mereka harus maju mengeroyok seorang anak yang sepantasnya menjadi anak, bahkan cucu mereka.

Tetapi Bi Lian menghadapi serangan dahsyat ini dengan tenang saja. Dia hanya kelihatan mengangkat tangan kirinya dengan jari tangan terbuka, mendorong sambil mengeluarkan bentakan nyaring.

"Haiiikk!" Dan akibatnya, tubuh Ma Kim Li yang masih terapung di udara itu terdorong ke belakang lalu terbanting ke atas lantai!

Tentu saja Siangkoan Leng kaget bukan main dan tubuhnya sudah melayang ke atas, lalu dia menubruk ke arah kepala Bi Lian dengan serangan dahsyat dan mematikan karena yang diserangnya adalah ubun-ubun kepala gadis itu.

Menghadapi serangan dahsyat yang jauh lebih berbahaya dari pada serangan Ma Kim Li ini, Bi Lian menggeser kakinya ke kiri, kemudian tubuhnya membalik ke kanan dan kedua tangannya mendorong. Dari posisi diserang, dia kini bahkan berbalik menjadi penyerang dari samping.

Siangkoan Leng masih mencoba menangkis ke arah kanannya, dari mana dorongan itu datang. Akan tetapi seperti juga apa yang dialami Ma Kim Li tadi, tubuhnya terdorong ke kiri lantas terbanting jatuh ke atas lantai!

Melihat ini, Kwee Siong dan Tong Ci Ki yang tadinya sudah siap menyerang, kini menjadi terkejut dan meragu. Tak diduga oleh mereka bahwa gadis muda yang mendadak muncul dan menyatakan hendak membunuh mereka berempat itu demikian lihainya!

"Biar aku yang menghadapi gadis ini!" Tiba-tiba saja terdengar suara Kim San dan Ketua Kui-kok-pang ini sudah meloncat ke depan Bi Lian.

"Akan tetapi kamilah yang dia cari, Kim-pangcu!" kata Kwee Siong.

"Sudahlah, kalian berempat adalah pihak tuan rumah, tidak enak kalau aku sebagai tamu mendiamkan saja ada orang membikin kacau di sini. Hei, Nona Muda, siapa engkau dan mengapa pula engkau datang-datang hendak membunuh dua pasang suami isteri itu?"

Sebagai Ketua Kui-kok-pang, Kim San telah mempunyai banyak pengalaman. Akan tetapi dia merasa heran melihat gerakan gadis itu tadi ketika demikian mudahnya merobohkan Lam-hai Siang-mo walau pun suami isteri itu tidak sampai terluka parah. Akan tetapi dia juga maklum bahwa kini di dunia para pendekar banyak bermunculan pendekar-pendekar muda yang tidak dikenalnya.

Bi Lian memandang orang tinggi kurus yang mukanya pucat seperti mayat hidup itu, lalu tersenyum mengejek dan menjawab. "Mayat hidup, aku tidak mempunyai urusan dengan kamu, karena itu aku tidak mau memperkenalkan namaku. Sebaliknya, siapakah engkau ini yang begini lancang berani mencampuri urusan pribadiku?"

Ketua Kui-kok-pang itu memiliki watak yang tinggi hati, maka melihat seorang gadis muda seperti Bi Lian tentu saja dia memandang rendah. Biar pun dara itu tadi telah merobohkan Lam-hai Siang-mo, dia menganggap bahwa hal itu terjadi karena suami isteri itu kurang hati-hati dan terburu nafsu, juga karena tingkat kepandaian mereka memang masih belum mencapai tingkat tinggi seperti dia. Kini, mendengar pertanyaan Bi Lian, dia pun berkata dengan mulut menyeringai.

"Ha-ha, engkau ini gadis muda agaknya baru saja keluar dari sarang dan belum banyak mengenal tokoh dunia! Aku bernama Kim San dan akulah Ketua Kui-kok-pang! Sebaiknya engkau batalkan saja niatmu itu dan ikut bersamaku ke Hong-san untuk menjadi anggota Kui-kok-pang dan engkau akan hidup senang."

"Kui-kok-pangcu, kalau boleh aku menasehatimu, jangan engkau ikut mencampuri urusan pribadiku dengan dua pasang suami isteri iblis itu. Lekaslah minggir dan biarkan mereka berempat maju, atau engkau akan menyesal nanti!" kata Bi Lian dengan sinar mata tajam seperti kilat menyambar.

"Ha-ha-ha, engkau memang anak bandel dan sombong. Nah, rasakanlah tanganku!" Kim San yang maklum bahwa gadis ini tidak mungkin dapat ditundukkan dengan halus, sudah menerjang ke depan. Gerakannya aneh sekali, kaku seperti gerakan mayat dan setiap kali menggerakkan kaki tangan, ada hawa panas menyambar.

Melihat lawan menggunakan tangan kanan menyerangnya dengan cengkeraman ke arah leher sedangkan tangan kirinya sudah siap di atas kepala, Bi Lian lalu menggeser kakinya ke belakang. Akan tetapi cepat sekali tangan kiri yang tadi mengancam di atas kepala itu menyambar turun, mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala Bi Lian. Gerakan itu cepat sekali dan juga kaki mayat hidup itu sudah bergeser ke depan mengejarnya.

Melihat keanehan serta kecepatan gerakan lawan, tahulah Bi Lian bahwa lawan memiliki tingkat kepandaian yang cukup tinggi, lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian Lam-hai Siang-mo. Dia pun lalu mengerahkan tenaga sinkang-nya dan mengangkat tangan untuk menangkis ke atas. Dari telapak tangannya nampak uap mengepul!

"Dukkk!"

Dua telapak tangan itu bertemu, keduanya mengandung hawa panas dan mereka berdua terdorong mundur dua langkah. Kiranya tenaga mereka seimbang dan melihat kenyataan ini, tentu saja Ketua Ku-kok-pang terkejut dan heran bukan main.

Dia mempunyai sinkang yang sangat kuat, bagaimana mungkin seorang gadis semuda itu sanggup menahan tenaganya itu, bahkan dalam adu tenaga tadi sempat membuat dirinya terdorong sampai dua langkah? Dengan hati-hati dia pun kini menerjang lagi, lebih cepat dan lebih dahsyat dari pada tadi.

Bi Lian sudah mengukur tenaga lawan, maka kini dia tahu bahwa dengan mengandalkan tenaga, maka sukarlah baginya untuk menang. Dia pun cepat mengerahkan ilmu ginkang (meringankan tubuh) yang sudah dipelajarinya dari Pak-kwi-ong. Begitu dia mengelak dan bergerak cepat, lawannya mengeluarkan seruan kaget.

Tentu saja Kim San kaget setengah mati ketika melihat betapa gadis itu tiba-tiba lenyap dari depannya kemudian hanya terlihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu gadis itu telah membalas serangannya dari arah kirinya. Dia pun menangkis lantas berusaha mendesak lawan dengan serangan bertubi-tubi. Namun Bi Lian dapat pula mengelak dengan mudah, lalu menggunakan kegesitannya untuk menyelinap dan membalas dari berbagai jurusan.

Kim San merasa bingung juga menghadapi kecepatan gerakan gadis itu,. Dia kemudian mengeluarkan suara menggereng dan mengamuk, akan tetapi serangan-serangannya itu hampir dapat dikatakan ngawur saja karena yang diserang hanyalah tempat kosong.

Memang sulit bagi Ketua Kui-kok-pang itu menghadapi lawan yang memiliki gerakan jauh lebih cepat darinya. Dia hanya melihat bayangan berkelebatan lalu menyerang bayangan itu dengan ngawur. Sebaliknya, setiap kali Bi Lian menyerang dari sudut yang sama sekali tidak diduganya, Kim San menjadi repot dan terdesak hebat.

Sesudah lewat tiga puluh jurus, Ketua Kui-kok-pang itu mulai menjadi pening juga. Gadis itu bergerak amat lincahnya, berputar-putar sekeliling dirinya, membuat Kim San terpaksa turut berputaran dan hal ini membuatnya menjadi pusing. Pada waktu ujung kaki Bi Lian menyentuh sambungan lututnya, disusul tamparan pada pundak, Ketua Kui-kok-pang itu tidak dapat mempertahankan dirinya lagi dan dia pun roboh!

Khawatir jika lawannya terus menyerang sehingga akan membahayakan nyawanya, maka terpaksa Ketua Kui-kok-pang ini menggulingkan tubuhnya, lalu bergulingan terus sampai ke tempat duduk para tamu baru dia meloncat berdiri, akan tetapi roboh lagi karena kaki yang tertendang itu masih setengah lumpuh! Tapi ternyata gadis itu hanya berdiri bertolak pinggang sambil tersenyum mengejek, sama sekali tidak mengejarnya.

"Siangkoan Leng, Ma Kim Li, Kwee Siong dan Tong Ci Ki, kalian berempat majulah untuk menerima kematian, dan tidak perlu melibatkan orang lain yang tidak mempunyai urusan denganku," kata Bi Lian menantang empat orang itu.

Memang Lam-hai Siang-mo tadi roboh, akan tetapi dia tidak terluka dan sekarang mereka berempat itu saling pandang. Timbul keberanian mereka karena ditantang berempat maju bersama.

"Siapakah engkau dan kenapa engkau memusuhi kami?" bentak Kwee Siong, kemarahan menutupi kegelisahannya.

"Biarlah kalain berempat mendengar supaya tidak mati penasaran. Tentu kalian berempat masih ingat ketika kalian bersama-sama anak buah kalian mengeroyok Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi. Kalian menghasut orang-orang dusun itu untuk turut mengeroyok sehingga banyak orang dusun tewas, dan di antaranya adalah ayah bundaku! Nah, kini kalian harus menebus kematian ayah dan ibuku itu dengan nyawa kalian!"

Tentu saja empat orang itu masih ingat dengan peristiwa yang terjadi belasan tahun yang silam itu. Mereka pernah memusuhi dua orang kakek iblis itu yang dahulu meninggalkan mereka sesudah memperoleh Sing-tong. Bahkan di dalam pengeroyokan itu pun mereka gagal, banyak anak buah mereka tewas di tangan dua orang kakek sakti itu.

Sebelum mereka membantah atau menjawab, tiba-tiba terdengar suara ketawa. Suara itu seperti tikus terjepit, mencicit tinggi. Hek-hiat Mo-ko itu sudah maju menghadapi Bi Lian. Sejenak dia berdiri berhadapan dengan Bi Lian, memandang gadis itu dari kepala sampai ke kaki dan berkali-kali mengeluarkan suara memuji.

Sungguh pun cebol, Hek-hiat Mo-ko ini memang juga terkenal mata keranjang dan cabul. Semenjak tadi dia sudah tertarik sekali dengan kemunculan Bi Lian yang demikian jelita, manis dan gagah perkasa pula. Dia memandang kagum. Seorang gadis muda dan cantik mampu mengalahkan Kui-kok-pangcu, sungguh bukan main hebatnya dan pantas untuk menjadi isterinya! Dia memang belum mempunyai seorang isteri yang sah.

Melihat munculnya Si Cebol yang memandangnya seperti hendak menelan dirinya dengan sinar matanya, Bi Lian lantas mengerutkan alis. "Manusia sepotong siapakah engkau dan mau apa memandangku sambil cengar-cengir seperti tikus?" Bi Lian sengaja menyebut Si Cebol sebagai tikus mengingat suara ketawanya yang seperti bunyi tikus mencicit tadi.

Walau pun dimaki, Hek-hiat Mo-ko tidak marah, bahkan tertawa mencicit lalu menjawab. "Manis, engkau sungguh cantik jelita dan engkau patut sekali menjadi isteriku! Meski pun begini, aku masih belum mempunyai isteri dan aku adalah Hek-hiat Mo-ko. Marilah, Nona manis, hentikan amarahmu dan marilah kita menyongsong hidup baru penuh kenikmatan dan..."

"Tutup moncongmu yang kotor itu!" Bi Lian membentak dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menyerang orang cebol itu. Marahlah gadis ini sehingga serangannya amat ganas dan juga cepat sekali.

Akan tetapi, sebelum menghadapi gadis itu Hek-hiat Mo-ko telah mempelajari gerakan Bi Lian dan jagoan ini maklum bahwa gadis itu selain memiliki tenaga sinkang yang mampu menandingi kekuatan Kui-kok-pangcu, juga mempunyai ginkang atau kecepatan gerakan yang luar biasa, seperti seekor burung yang menyambar-nyambar. Karena itu dia sudah bersiap-siap siaga sehingga begitu gadis itu bergerak cepat, dia pun mengerahkan tenaga sinkang-nya dan kini kedua telapak tangannya berubah hitam dan tercium bau amis yang memuakkan!

Bi Lian terkejut dan cepat melangkah mundur menjauhi, akan tetapi Hek-hiat Mo-ko sudah menyerang dengan cepat, kedua tangannya dengan jari terbuka menghantam dada dan muka. Bi Lian mengelak dengan meloncat ke samping, akan tetapi ada hawa busuk yang memuakkan menyambar sehingga hampir saja dia muntah.

Bau itu membuatnya pusing sekali, maka tahulah dia bahwa lawan ini tentu memiliki ilmu pukulan beracun yang amat jahat! Dia pun segera mempercepat gerakannya dan kini dia berkelebatan mengelilingi lawan, selalu mengelak dan menjauhi kedua tangan yang hitam itu, sambil membalas dengan tamparan-tamparan dan tendangan-tendangan.

Hek-hiat Mo-ko mempunyai tingkat kepandaian yang masih lebih tinggi dari pada Kui-kok-pangcu. Biar pun gadis itu berkelebatan di sekelilingnya dan mengirim serangan balasan yang mendadak, namun dirinya dengan kedua tangan hitam itu masih dapat bertahan.

Karena Bi Lian tidak berani terlampau dekat, takut kalau menjadi pening lantas roboh oleh bau yang busuk, juga karena Hek-hiat Mo-ko pandai melindungi dirinya, maka perkelahian itu berlangsung dalam waktu cukup lama. Bagi Hek-hiat Mo-ko sendiri, tidak mudah untuk dapat merobohkan lawannya karena gerakan gadis itu memang terlampau cepat baginya, bagaikan menyerang bayang-bayang saja.

Sesudah lewat hampir lima puluh jurus, tiba-tiba saja Hek-hiat Mo-ko mengeluarkan suara mencicit tinggi dan sekarang dari mulutnya juga keluar uap menghitam yang baunya lebih busuk lagi. Bi Lian kagett sekali ketika disambar oleh hawa busuk yang keluar dari kedua tangan dan dari mulut. Lawan itu sengaja meniupkan hawa busuk itu, mengarah mukanya sehingga repotlah gadis itu menyelamatkan diri dengan mengandalkan kelincahannya.

Maklum bahwa dia terancam bahaya, mendadak dara itu mengeluarkan suara melengking yang bukan saja mengejutkan lawan, bahkan mengejutkan seluruh tamu yang hadir di situ sebab lengkingan itu mengandung getaran yang mengguncangkan jantung mereka. Cepat mereka mengerahkan singkang untuk melindungi tubuh bagian dalam.

Tidak mengherankan kalau suara ini dapat menggetarkan jantung karena gadis itu sudah mengerahkan tenaga khikang yang disebut Pek-houw Ho-kang (Suara Gerengan Harimau Putih) yang dipelajarinya dari Tung-hek-kwi.

Yang paling hebat menderita oleh suara gerengan ini adalah Hek-hiat Mo-ko sendiri yang diserang secara langsung! Seketika tubuhnya terhuyung-huyung dan cepat dia meloncat ke belakang ketiak Bi Lian menampar mukanya. Akan tetapi kagetlah hati iblis ini ketika dia melihat tangan gadis itu tetap saja mengejarnya dan tak dapat dihindarkan lagi, dalam keadaan terhuyung karena pengaruh suara itu, tangan gadis yang terus mengejarnya itu berhasil menampar pipinya. Lengan tangan itu dapat mulur dan terus mengejar sehingga tamparannya tepat mengenai sasaran.

"Plakkk!"

Pipi itu menjadi matang biru akibat tamparan yang keras dan Hek-hiat Mo-ko langsung menyumpah-nyumpah sambil meludahkan dua buah giginya yang copot! Pada saat suara lengkingan gadis itu berhenti, terdengarlah suara melengking yang jauh lebih nyaring dari pada yang dikeluarkan Bil Lian akan tetapi lebih parau.

"Hebat... hebat...!" Tiba-tiba saja Kulana, bangsawan Birma yang tadi hanya menonton sambil tersenyum dan matanya memandang kagum kepada Bi Lian, kini sudah berada di hadapan gadis itu. Bi Lian memandang penuh perhatian dan dapat menduga bahwa tentu orang ini adalah seorang asing, dapat dilihat dari pakaiannya dan sorban di kepalanya.

"Pergilah engkau, orang asing! Aku tidak mempunyai urusan denganmu!" bentak Bi Lian. Hatinya marah bukan main karena tidak disangkanya, setelah berhasil menemukan empat orang musuh besarnya, ternyata di tempat itu terdapat banyak sekali orang pandai yang membela empat orang musuhnya itu.

Tetapi orang asing yang anggun dan berwibawa itu hanya tersenyum, sepasang matanya yang lebar itu mengeluarkan sinar aneh yang membuat Bi Lian merasa ngeri. "Nona, tidak baik menurutkan perasaan amarah. Kenapa kita tidak bersahabat saja dan bicara dengan baik-baik? Namaku Kulana, Nona, dan aku pernah menjadi seorang pangeran di Kerajaan Birma, seorang bangsawan yang tidak suka akan kekerasan. Nona yang baik, bolehkah aku tahu siapa nama Nona yang terhormat?"

Terjadi keanehan pada diri Bi Lian. Tiba-tiba saja semua kemarahannya lenyap dan dia menjadi lemas, tertarik oleh sikap manis itu, lalu seperti di luar kesadarannya sendiri dia pun membalas penghormatan Kulana yang membungkuk padanya dan menjawab dengan suara halus.

"Aku bernama Cu Bi Lian."

"Cu Bi Lian, sebuah nama yang indah sekali dan sungguh pantas kalau nama itu dirubah menjadi Nyonya Kulana. Tidakah kau juga berpendapat demikian, Nona Bi Lian?"

Terkejut hati Bi Lian mendengar ucapan yang halus namun jelas bermaksud tidak sopan itu, akan tetapi dia lebih terkejut lagi ketika dia mendapatkan dirinya sendiri mengangguk membenarkan! Seketika dia pun dapat menduga bahwa tentu ada kekuatan aneh yang memaksanya agar bersikap lunak, maka dia pun cepat mengeluarkan suara melengking, mengerahkan khikang-nya sehingga kekuatan sihir yang dilakukan Kulana dan yang telah mempengaruhi dirinya tadi seketika membuyar!

Kulana adalah seorang yang pandai sihir, terutama dalam hal menguasai segala macam ular. Kekuatan sihirnya tadi telah membuat Bi Lian menjadi lembut dan lemah, akan tetapi setelah kekuatan itu buyar oleh lengkingan Bi Lian, gadis ini sadar sepenuhnya bahwa dia tadi telah memperlihatkan sikap yang tidak sewajarnya! Marahlah dia karena sudah yakin bahwa orang Birma di depannya ini tadi mempergunakan sihir.

"Tak perlu banyak cakap, minggirlah!" bentaknya.

Dia pun menerjang ke depan, mendorong dengan kedua tangannya sambil mengerahkan tenaga sinkang-nya. Serangan ini hebat bukan main dan angin besar menyambar ke arah Kulana. Akan tetapi orang ini tenang-tenang saja, merendahkan tubuh dengan menekuk kedua lututnya sampai hampir berjongkok lantas dia pun mendorongkan kedua tangannya ke depan, menyambut serangan Bi Lian.

"Desss...!"

Hebat sekali pertemuan tenaga ini karena Bi Lian tadi telah mengerahkan sebagian besar tenaganya sehingga akibatnya, tubuh Kulana bergoyang-goyang akan tetapi Bi Lian juga terpaksa mundur dua langkah!

Diam-diam gadis ini terkejut sekali. Tidak disangkanya orang asing ini bahkan lebih kuat dari pada semua lawannya tadi. Juga Kim San Ketua Kui-kok-pang yang tadi memandang rendah orang Birma itu, kini terbelalak kagum dan mukanya berubah merah. Baru dia tahu bahwa orang Birma itu selain kaya raya, juga ternyata mempunyai ilmu kepandaian yang agaknya jauh lebih tinggi dari padanya.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner