PENDEKAR MATA KERANJANG : JILID-57


Karena sudah maklum akan kekuatan lawannya, Bi Lian sekarang menerjang maju sambil mengerahkan ginkang-nya yang sangat istimewa. Akan tetapi lawannya bergerak dengan tenang sekali, bahkan gerakannya nampak lambat namun anehnya, Bi Lian tidak melihat lowongan yang dapat diserang dan setiap kali dia menyerang, selalu dapat dielakkan atau bertemu dengan tangkisan.

Bagaimana pun juga, karena kecepatan gadis itu, Kulana juga tak berdaya, tidak memiliki kesempatan sama sekali untuk balas menyerang melainkan hanya bisa melindungi dirinya dengan ilmu silat bertahan yang sangat kokoh kuat dan rapat sekali. Akan tetapi tiba-tiba Kulana mengeluarkan kata-kata aneh yang tak dimengerti oleh Bi Lian, lantas disambung ucapan yang amat halus dan berwibawa.

"Nona, tidakkah engkau sudah lelah sekali? Mengasolah dan jangan memaksa diri untuk mengerahkan kekuatan, aku tidak ingin menyusahkanmu..."

Sungguh aneh sekali, secara tiba-tiba saja Bi Lian merasa betapa tubuhnya lelah bukan main, matanya mengantuk dan dia membayangkan betapa akan nikmatnya jika dia boleh mengaso! Akan tetapi, begitu gerakannya melambat, tiba-tiba jari tangan Kulana berhasil menyentuh dadanya.

Ia terkejut dan mengeluarkan suara lengkingan panjang, maka buyarlah semua pengaruh yang membuatnya lelah dan mengantuk tadi. Muka gadis itu menjadi merah sekali, merah karena perasaan malu dan marah. Orang asing itu secara kurang ajar sudah menyentuh buah dadanya!

Mendadak terdengar lengkingan nyaring menyambut lengkingan yang dikeluarkan Bi Lian dan tiba-tiba saja di sana muncul dua orang kakek yang sudah tua sekali. Seorang kakek yang perutnya gendut sekali hingga tubuhnya seperti bola saja, kulitnya kuning mulus dan kepalanya botak. Bajunya di bagian dada terbuka, memperlihatkan dada berikut sebagian perutnya yang gendut. Dia nampak lebih dulu, tersenyum-senyum memperlihatkan mulut yang sudah tidak bergigi lagi. Dia sungguh seperti seorang bayi montok yang besar!

Orang yang ke dua, juga kakek yang usianya telah delapan puluh tahun lebih, sebaliknya bertubuh tinggi besar menyeramkan, mukanya penuh brewok, kulitnya hitam bagai arang. Dia tidak tersenyum seperti kakek gendut, akan tetapi dengan sikap angker memandang ke arah Kulana. Kemudian, tanpa mengeluarkan sepatah pun kata, tangannya bergerak cepat sekali mencengkeram ke arah orang Birma itu!

Kulana terkejut dan cepat mengelak, akan tetapi tangan itu terus mulur sehingga berhasil mencengkeram bagian belakang leher bajunya, lantas Kulana merasa tubuhnya terangkat naik! Orang Birma ini cukup lihai, maka dia pun menyerang dengan totokan jari tangannya ke arah siku lengan yang mencengkeram leher bajunya.

Totokan ini kuat sekali. Hal ini pun agaknya disadari oleh kakek tinggi besar yang segera mengayun tubuh itu lalu melepaskan pegangannya. Tubuh Kulana melayang ke atas dan tentu akan terbanting jatuh kalau saja dia tidak cepat menggerakkan tubuhnya sehingga tubuh itu beberapa kali berjungkir balik di udara kemudian meluncur turun dan dia sudah jatuh dengan empuk, duduk kembali di atas kursinya yang tadi.

"Hemmm...!" Kakek tinggi besar mengangguk-angguk, suatu tanda bahwa dia mengagumi kepandaian orang Birma itu.

Sementara itu, melihat munculnya dua orang kakek ini, sebagian besar di antara mereka terkejut bukan main. Mereka mengenal dua orang kakek itu. Yang gendut bundar adalah Pak-kwi-ong, datuk sesat dari Utara, sedangkan orang tinggi besar berkulit hitam adalah Tung-hek-kwi, datuk sesat dari Timur.

Mereka inilah yang disebut Lam-hai Giam-lo sebagai susiok (paman guru) karena mereka adalah dua orang di antara Empat Setan, ada pun dua orang yang lain, yaitu Lam-kwi-ong Datuk Selatan guru Lam-hai Giam-lo, dan See-kwi-ong Datuk Barat, keduanya telah lama meninggal dunia.

Melihat munculnya kedua orang susiok-nya itu, Lam-hai Giam-lo juga terkejut akan tetapi juga merasa girang. Cepat dia melangkah maju dan menjatuhkan diri berlutut di hadapan dua orang kakek itu.

"Susiok Pak-kwi-ong dan Susiok Tung-hek-kwi, teecu Kin Cung menghaturkan hormat dan selamat datang!" Suaranya yang seperti ringkik kuda itu terdengar merendah, tidak seperti biasanya yang selalu terdengar angkuh.

Kini semua orang terkejut. Mereka yang belum pernah bertemu dengan dua orang kakek itu tentu saja pernah mendengar nama mereka sebagai dua orang di antara Empat Setan, datuk sesat yang kedudukannya tinggi. Mereka telah merasa sungkan dan hormat kepada Lam-hai Giam-lo namun kini mereka melihat betapa bengcu itu begitu merendahkan diri terhadap dua orang kakek itu.

Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi memandang kepada orang yang berlutut di depan mereka itu, dan Pak-kwi-ong terkekeh. "Heh-heh-heh, sungguh lucu. Selama ini aku belum pernah mengenal orang bernama Kin Cung. Engkau bagaimana, Hek Kwi (Setan Hitam), apakah engkau mempunyai seorang keponakan seperti kuda ini?"

Tung-hek-kwi tidak menjawab, hanya menggelengkan kepala.

"Susiok, teecu adalah murid mendiang Suhu Lam Kwi Ong," kata Lam-hai Giam-lo cepat-cepat.

Kembali dua orang kakek tua renta itu menatap kepadanya, kali ini lebih memperhatikan. "Aha, kiranya engkau yang berjuluk Lam-hai Giam-lo itukah?" tanya Pak-kwi-ong.

"Benar, Susiok."

"Dan untuk apakah engkau mengumpulkan orang-orang pandai di tempat ini?" tanya pula Pak-kwi-ong sambil memandang kepada orang-orang yang duduk di tempat itu.

"Kebetulan sekali Susiok datang. Kami sedang mengadakan rapat untuk membentuk satu persekutuan antara golongan sendiri, hendak melanjutkan sepak terjang Suhu dan Susiok bertiga sambil mengangkat kembali derajat golongan kita, dan teecu mereka pilih sebagai Bengcu."

Dua orang kakek itu saling pandang, bahkan Tung-hek-kwi yang selalu nampak galak itu mengangguk-angguk dan sinar matanya tampak senang. Pak-kwi-ong juga merasa girang sekali mendengar itu.

"Bagus sekali! Ahh, senang hatiku mendengar ini, Lam-hai Giam-lo"

"Harap Ji-wi Susiok sudi mengambil tempat duduk dan..."

"Suhu berdua ini bagaimana, sih?" tiba-tiba Bi Lian mencela kedua orang gurunya, berdiri di antara mereka sambil bertolak pinggang. "Aku telah menemukan pembunuh-pembunuh orang tuaku. Lihat, merekalah orangnya. Dua pasang suami isteri iblis, Lam-hai Siang-mo dan suami isteri Goa Iblis Pantai Selatan! Tadi akan kubunuh, akan tetapi orang-orang di sana membela mereka dan Suhu kini beramah tamah dengan mereka!"

Mendengar teguran murid yang disayangnya itu, Tung-hek-kwi mengerutkan alisnya dan matanya terbelalak, mendelik mencari-cari. "Mana orangnya yang berani mengganggumu, biar kuhancurkan kepalanya!"

Semua orang menjadi gentar melihat sikap raksasa tua hitam itu. Namun Pak-kwi-ong tertawa dan suaranya terdengar lantang.

"Ha-ha-heh-heh…! Setan Hitam, jangan begitu! Kita berada di antara orang-orang sendiri! Lihat betapa keponakan kita sedang berusaha membangun kembali kekuasaan golongan kita yang sudah runtuh. Apa yang dialami murid kita hanyalah sebuah kesalah pahaman belaka. Akan tetapi, mengadu ilmu merupakan cara berkenalan yang amat biasa!"

"Suhu...!" Bi Lian merajuk.

"Sssst, Bi Lian. Dengarlah baik-baik," kata kakek gendut itu. "Lam-hai Giam-lo ini adalah murid Lam-kwi-ong, saudara tuaku. Jadi dia masih terhitung suheng-mu sendiri dan kita berada di antara teman-teman sendiri."

"Akan tetapi dua pasang suami isteri itu..."

"Sudahlah. Mereka juga teman-teman dan orang kita sendiri. Memang pernah mereka itu tidak tahu diri berani menentang kami berdua, akan tetapi mereka pun sudah merasakan pahitnya. Nah, urusan sudah habis sampai di sini saja."

"Tapi orang tuaku..."

"Mereka tewas karena suatu pertempuran di mana mereka berada di tengahnya, anggap saja kecelakaan!" kata pula Pak Kwi Ong.

Lam-hai Giam-lo lalu menjura kepada Bi Lian. "Kiranya Nona ini adalah sumoi-ku sendiri? Aih, Sumoi. Akulah yang memintakan maaf atas sikap teman-teman kita ini karena belum mengenalmu. Apa bila aku tahu bahwa engkau murid kedua susiok-ku, mana kami berani bersikap kurang ajar?"

Lam-hai Siang-mo dan suami istri Goa Iblis Pantai Selatan juga merupakan orang-orang yang cerdik. Mereka tadi sudah ketakutan sekali melihat munculnya dua orang kakek itu, akan tetapi mendengar ucapan Pak Kwi Ong, lalu melihat sikap Lam-hai Giam-lo, mereka berempat segera maju dan menjura kepada Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi.

"Ji-wi Locianpwe (Dua Orang Tua Gagah) memang benar. kami orang-orang bodoh telah melakukan kesalahan pada masa lampau, tapi telah kami tebus dengan kematian banyak teman, harap Ji-wi sudi melupakan hal itu. Dan Nona Cu, kami bersumpah tidak pernah membunuh orang tuamu."

Bi Lian menjadi bingung. Memang empat orang ini tidak membunuh orang tuanya, karena yang membunuh adalah Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi yang sudah menjadi gurunya. Kematian orang tuanya memang terjadi karena adanya perkelahian di antara mereka lalu orang tuanya tewas di tangan kedua orang gurunya. Akan tetapi kedua orang gurunya tak sengaja membunuh orang tuanya dan bukan karena urusan pribadi. Orang tuanya hanya terbawa saja dan menjadi korban. Dia menjadi bingung dan ketika tangannya ditarik oleh Pak Kwi Ong, dia pun menurut saja.

Lam-hai Giam-lo sibuk memperkenalkan para tamunya kepada dua orang kakek itu yang duduk di tempat kehormatan. Para tamu itu satu demi satu memberi hormat kepada Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi sebagai orang dari tingkatan lebih tua, yang diterima oleh dua orang kakek itu dengan gembira karena mengingatkan mereka akan masa lampau ketika mereka masih menjadi datuk yang dihormati dan disegani seluruh tokoh kang-ouw.

Bi Lian duduk di samping Pak Kwi Ong. Dara ini diam saja, hanya memperhatikan mereka yang diperkenalkan satu demi satu. Ketika Kulana yang lihai itu diperkenalkan, dia segera memandang penuh perhatian, akan tetapi dia menunduk ketika lelaki itu memandangnya dengan sinar mata yang haus.

"Dan ini adalah murid teecu, namanya Pek Eng," kata Lam-hai Giam-lo memperkenalkan muridnya sebagai orang terakhir.

Pek Eng berlutut memberi hormat kepada susiok-couw-nya, kakek paman guru itu. Ketika diperkenalkan kepada Bi Lian, dua orang gadis itu saling pandang. Pek Eng memandang dengan kagum karena tadi dia sudah menyaksikan betapa lihainya gadis cantik itu yang mampu menandingi tokoh-tokoh lihai.

Sebaliknya Bi Lian memandang Pek Eng dengan alis berkerut, diam-diam menyayangkan bahwa seorang gadis seperti Pek Eng berada di antara orang-orang semacam itu. Akan tetapi pikiran ini ditekannya sendiri ketika dia teringat bahwa dia sendiri pun menjadi murid dua orang datuk sesat!

Kulana minta bicara empat mata dengan Lam-hai Gaim-lo dan mereka berdua masuk ke kamar sebelah, ada pun dua orang kakek tua renta itu dijamu dengan hidangan-hidangan yang lezat dan arak yang harum. Bi Lian juga turut makan, akan tetapi dia hanya makan sedikit, tidak selahap kedua orang gurunya.

Kulana lalu keluar dan dia pun minta diri, pamit hendak pulang lebih dahulu. Kepada Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi yang duduk semeja dengan Bi Lian, dia memberi hormat dan berkata, "Saya mohon sudi kiranya kedua Locianpwe serta Nona Cu agar menyediakan waktu untuk berkunjung ke rumah saya."

Bi Lian cemberut saja sedangkan dua orang gurunya mengangguk-angguk. Orang Birma itu pun segera pergi, membuat para tamu lainnya diam-diam merasa bingung. Pertemuan itu masih berlangsung, hanya terganggu oleh kemunculan Bi Lian dan dua orang gurunya, pembicaraan mereka belum selesai, akan tetapi kenapa orang Birma yang menjadi orang penting dalam persekutuan ini telah pulang terlebih dahulu?

Sesudah mengajak para tamunya makan minum bersama kedua orang paman gurunya, Lam-hai Giam-lo lalu melanjutkan pembicaraan mereka yang terputus tadi. Lebih dulu dia menerangkan kepada dua orang kakek itu tentang apa yang baru saja mereka bicarakan, tentang persekutuan antara golongan yang mereka bentuk.

"Untuk memudahkan mengatur persekutuan ini, kawan-kawan mengangkat teecu menjadi Bengcu," Lam-hai Giam-lo melanjutkan keterangannya. "Biarpun sebagian besar di antara mereka mempunyai ilmu kepandaian tinggi, seperti dua pasang suami isteri itu, Min-san Mo-ko, Ji Sun Bi, bahkan Saudara Sim Ki Liong ini yang meski pun masih muda namun sudah memiliki ilmu kepandaian yang paling hebat di antara mereka, semuanya menjadi pembantu-pembantu teecu. Juga para tokoh Pek-lian-kauw menjadi pembantu-pembantu luar yang bisa diandalkan karena di samping memiliki banyak orang pandai, juga memiliki anak buah yang banyak dan kuat. Para saudara yang hari ini hadir menjadi tamu adalah tokoh-tokoh kang-ouw dari berbagai penjuru, dan mereka sudah menyatakan setuju. Ada pun Saudara Kulana tadi adalah seorang yang amat pandai, baik ilmu silat mau pun ilmu perangnya, selain itu juga amat kaya raya, dan dia pun telah menyatakan persetujuannya. Karena itu, setelah Ji-wi Susiok datang, kami mohon sudilah Ji-wi supaya suka menjadi penasehat kami."

Dua orang kakek itu saling pandang kemudian mengangguk-angguk.

“Bagus, bagus!” kata Pak-kwi-ong sambil tersenyum lebar. “Tentu saja kami amat senang mendengar itu karena sebagai murid Lam Kwi Ong engkau sudah melanjutkan jejak kami dan membangkitkan kembali kekuatan golongan kita. Namun kami sudah terlalu tua dan kami ingin bebas tugas, ingin beristirahat. Kami hanya bisa membantu melalui murid kami Cu Bi Lian ini. Dialah yang akan membantu persekutuan ini dan tentang kepandaiannya, tadi kalian sudah melihat sendiri.”

Semenjak kecil Bi Lian diasuh serta dididik oleh dua orang kakek yang terkenal sebagai datuk-datuk kaum sesat, sudah biasa melihat watak yang aneh dan tidak mempedulikan segala aturan dan sopan santun. Karena itu mau tak mau dia pun terbiasa melihat hal-hal aneh atau kejahatan-kejahatan.

Baiknya, pada dasarnya Bi Lian bukanlah seorang yang berwatak jahat dan sesudah dia melakukan perantauan dan melihat dunia ramai, dia pun dapat menilai mana baik mana buruk. Hatinya condong untuk menentang kejahatan, karena itu dalam waktu singkat saja dia telah terkenal di dunia kang-ouw dengan julukan Tiat-sim Sian-li (Bidadari Berhati Besi) karena dia menentang kejahatan tanpa mengenal ampun terhadap para penjahat.

Sekarang melihat betapa sekumpulan orang pandai telah bersekutu dan oleh gurunya dia ditunjuk untuk membantu persekutuan itu, dia pun tidak peduli, hanya merasa kecewa dan tidak puas karena dendamnya terhadap dua pasang suami isteri itu kini tak terbalas. Dan kini dia bahkan menjadi ragu dan bingung, karena agaknya memang tidak adil kalau dia membunuh dua pasang suami isteri itu yang tidak berdosa dalam kematian ayah ibunya.

“Tapi, Suhu, aku pun tidak mau terikat oleh suatu persekutuan!” dia membantah.

Melihat ini, Lam-hai Giam-lo cepat berkata kepada Bi Lian, “Sumoi, tentu saja kami tidak mau mengikatmu, cukuplah kalau kami dapat mengharapkan bantuanmu sewaktu-waktu kami membutuhkan.” Lam-Hai Giam-lo memang cerdik. Dia sudah merasa senang kalau dua orang paman gurunya itu bersama murid mereka tidak menghalangi usahanya.

Akhirnya semua tamu setuju untuk mengangkat Lam-hai Giam-lo menjadi Bengcu. Ketua Kui-kok-pang yang tadinya agak ragu, kini pun dapat menerimanya setelah melihat bahwa Kulana yang ternyata jauh lebih lihai darinya, dan kabarnya amat kaya raya, juga menjadi seorang pimpinan, bahkan telah siap untuk menunjang persekutuan itu dalam hal biaya.

Mulai hari itu juga para tokoh dunia hitam menerima secara bulat bahwa Lam-hai Giam-lo menjadi bengcu. Kini mereka semua siap untuk melaksanakan perintahnya, dan siap pula untuk datang kalau sewaktu-waktu dipanggil. Ketika para tamu bubaran, Lam-hai Giam-lo membagi-bagi hadiah sehingga mereka menjadi makin percaya dan senang. Hanya Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi saja yang masih tinggal di situ bersama murid mereka.

Pak kwi Ong dan Tung Hek Kwi sering diajak makan minum oleh Lam-hai Giam-lo, namun Bi Lian jarang menemani mereka. Bi Lian lebih dekat dengan Pek Eng yang merasa amat kagum kepadanya. Pada keesokan harinya, ketika kedua orang kakek itu makan minum bersama Lam-hai Giam-lo, bengcu ini memberi tahu mereka tentang Kulana yang kemarin sebelum pulang meninggalkan pesan padanya. Ternyata bahwa Kulana sudah tergila-gila sekali terhadap Bi Lian, dan melalui Lam-hai Giam-lo, dia melamar Bi Lian untuk menjadi isterinya!

“Dia seorang bangsawan tinggi, memiliki ilmu kepandaian tinggi dan juga amat kaya-raya.” Kata Lam-hai Giam-lo kepada dua orang susiok-nya setelah memberitahu tentang pesan lamaran itu. “Sumoi akan hidup berbahagia sebagai isterinya, dan Ji-wi Susiok juga akan terangkat sebagai orang-orang yang berderajat tinggi dan hidup mulia. Pula, kalau Sumoi sudah menjadi isterinya, tentu dia mau membantu persekutuan ini secara aktip.”

Sebelumnya Lam-hai Giam-lo sudah memberi tahu kepada kedua orang kakek itu tentang tujuan akhir persekutuan mereka itu, yaitu menyusun kekuatan yang akan dipergunakan untuk merampas tahta kerajaan kelak! Ternyata bujukan Lam-hai Giam-lo ini menarik hati kedua orang kakek itu.

“Ha-ha-ha, memang aku sendiri pun sangat kagum kepada orang itu. Bagaimana dengan engkau, Setan Hitam?”

Mendengar kata-kata Pak Kwi Ong ini, Tung Hek Kwi hanya mengerutkan kedua alisnya, akan tetapi kemudian mengangguk tanpa menjawab.

“Baiklah, karena dia mengundang kami, kami akan berkunjung kepadanya sambil melihat keadaannya, juga membicarakan urusan ini dengan dia sendiri,” kata Pak Kwi Ong.

Sementara itu Bi Lian tengah mengajak Pek Eng berjalan-jalan di taman bunga yang luas, kemudian mereka duduk di tepi kolam ikan, di atas bangku panjang.

“Enci, aku ingin sekali dapat menguasai ilmu silat selihai engkau,” Pek Eng berkata sambil memandang wajah gadis yang duduk di sebelahnya.

Bi Lian tersenyum. “Sebagai seorang murid Suheng Lam-hai Giam-lo, tentu engkau juga telah memiliki kepandaian tinggi.”

“Ah, Enci, aku baru saja diterima menjadi murid Suhu, bahkan baru diajarkan dasar-dasar dari ilmu silat yang akan diajarkan kepadaku.”

“Ehh? Jadi engkau baru saja menjadi murid Suheng? Apakah sebelum ini engkau pernah belajar silat?”

Pek Eng mengangguk. “Aku belajar dari ayahku sendiri.”

Bi Lian memandang tajam, merasa heran bukan main. “Bagaimana engkau dapat sampai ke tempat ini… ehh, maksudku bagaimana bisa menjadi murid Suheng Lam-hai Giam-lo?”

“Aku…. Aku lari dari rumah….”

“Ehh? Kenapa, Eng-moi (Adik Eng)?”

“Karena…. karena aku tidak mau dijodohkan dengan pemuda yang tidak kusuka….”

Bi Lian tersenyum. Akan tetapi sebelum dia bicara, di depan mereka sudah hadir seorang pemuda. Pemuda itu bukan lain adalah Sim Ki Liong! Sejak kedatangan Pek Eng sebagai murid Lam-hai Giam-lo, pemuda ini sudah merasa tertarik sekali. Tetapi karena kesibukan akibat datangnya para tamu, maka dia pun belum sempat melakukan pendekatan.

Pemuda yang gairahnya telah dibangkitkan oleh Ji Sun Bi itu kini mempunyai watak mata keranjang, karena itu begitu melihat Pek Eng pikirannya sudah penuh dengan bayangan-bayangan yang menggairahkan dan menyenangkan hatinya! Apa lagi pada waktu Bi Lian muncul, dia pun segera jatuh hati kepada gadis ini.

Setelah para tamu pulang dan sekarang dua orang kakek sakti itu sedang makan minum dengan Lam-hai Giam-lo, Sim Ki Liong lalu mencari dua orang gadis yang membuatnya merasa amat tertarik itu dan kebetulan dia melihat mereka berdua di dalam taman. Tanpa ragu-ragu lagi, dengan jantung berdebar tegang dan juga gembira, dia segera memasuki taman dan menemui mereka.

Sejak remaja Ki Liong dididik di Pulau Teratai Merah, bukan saja digembleng di dalam hal ilmu silat tinggi, akan tetapi juga di dalam hal ilmu membaca, menulis serta kebudayaan. Karena itu dia pandai sekali membawa diri dan pandai bersikap halus dan sopan. Walau pun jantungnya berdebar girang dan batinnya penuh birahi melihat dua orang gadis manis itu, akan tetapi sikapnya tetap lemah lembut ketika dia memandang kepada mereka lalu menjura dengan gaya seorang yang amat sopan dan peramah. Senyum di wajahnya yang tampan itu nampak memikat.

“Selamat pagi, Nona-nona. Maafkan kalau aku mengganggu karena aku tidak tahu bahwa kalian berada di taman ini,” katanya dengan sikap hormat.

Bi Lian dan Pek Eng memandang pemuda itu. Mereka pun telah melihat pemuda itu yang hadir dalam pertemuan kemarin. Karena pemuda itu tidak bicara di dalam rapat itu, maka mereka tidak tahu orang macam apakah adanya pemuda ini. Mereka hanya mengenalnya karena telah diperkenalkan, yaitu saat Lam-hai Giam-lo memperkenalkan mereka kepada para pembantunya. Bahkan mereka berdua sudah lupa lagi siapa nama pemuda ini.

Melihat keraguan pada wajah dua orang nona itu serta kerut alis Bi Lian, Ki Liong segera menyambung kata-katanya, “Mungkin Nona berdua sudah lupa lagi kepadaku walau pun pernah diperkenalkan oleh Bengcu. Baiklah kuperkenalkan diri lagi kepada Nona Pek Eng dan Nona Cu Bi Lian. Namaku Sim Ki Liong dan aku telah mendapat kehormatan menjadi pembantu yang paling dipercaya dari Bengcu.”

“Wah, jika engkau adalah pembantu yang paling dipercaya oleh Suhu, tentu ilmu silatmu sudah tinggi sekali!” kata Pek Eng dengan jujur sambil memandang kagum.

Ki Liong tersenyum dan merendahkan diri. “Aihh, tidak setinggi ilmu kepandaian Bengcu, Nona, akan tetapi kalau dibandingkan dengan para pembantu Bengcu yang lain agaknya aku tidak akan kalah.”

“Lebih tinggi dari para pembantu itu? Wah, kalau begitu engkau tentu sangat lihai!” seru Pek Eng kagum.

“Tidak lihai sekali, akan tetapi ilmu silatku sungguh tidak dapat dibandingkan dengan ilmu silat mereka yang tidak indah, kotor dan mengandung banyak kecurangan. Aku beruntung sekali mewarisi ilmu-ilmu dari para pendekar yang sakti,” jawab Ki Liong sambil melirik ke arah Bi Lian. “Akan tetapi, sungguh aku kagum sekali terhadap Nona Cu Bi Lian. Masih begini muda dan terlihat lemah lembut, akan tetapi mempunyai kepandaian yang sungguh mengagumkan, biar pun hal itu tidak mengherankan setelah kudengar bahwa dia adalah sealiran dan masih Sumoi dari Bengcu sendiri.”

Bi Lian adalah seorang gadis yang keras hati. Dia tertarik sekali mendengar pengakuan pemuda ini bahwa dia mewarisi ilmu silat dari pendekar sakti. Dia pun pandai bicara dan kalau melihat sikap yang halus dan ramah dari pemuda itu, memang menunjukkan bahwa pemuda ini bukan dari golongan sesat. Ingin sekali dia melihat sampai di mana kehebatan ilmu silat pemuda ini yang biar pun secara halus, telah menyombongkan kepandaiannya yang dikatakan melebihi semua pembantu Lam-hai Giam-lo.

Padahal, seperti yang kemarin telah dialaminya sendiri, kepandaian para tokoh yang hadir itu sangat lihai, seperti Hek-hiat Mo-ko itu dan terutama sekali kepandaian Kulana, orang Birma itu. Dia masih ngeri bila mengenang kembali perkelahiannya melawan Kulana yang selain lihai ilmu silatnya, juga mahir menggunakan ilmu sihir. Kalau kedua orang gurunya tidak segera muncul, entah apa jadinya dengan dirinya! Mungkinkah kepandaian pemuda ini lebih lihai dari tingkat kepandaian Hek-hiat Mo-ko atau Kulana?

“Hemm, Saudara Sim Ki Liong, apa bila dibandingkan dengan kepandaianmu, mana lebih tinggi dengan ilmu silatku?” pancingnya. “Bagaimana kalau kita main-main sebentar untuk melihat siapa yang lebih lihai?”

“Aihhh, mana aku berani, Nona? Akan tetapi, kalau kalian hendak mengenal ilmu silatku, boleh kuperlihatkan beberapa jurus.”

Setelah berkata demikian, pemuda itu segera meloncat ke petak rumput di dekat empang ikan kemudian mulailah dia bersilat. Dia sengaja memilih Ilmu Silat San-in Kun-hoat yang indah gayanya sambil mengerahkan tenaga Thian-te Sin-cing. Setiap gerakan tangannya mengeluarkan bunyi bercuitan dan mengandung hawa pukulan amat kuatnya hingga dua orang gadis itu memandang kagum. Apa lagi Bi Lian, karena dia telah mempunyai tingkat yang tinggi maka bisa mengenal ilmu silat indah dan kuat, juga yang mengandung tenaga sinkang yang dahsyat!

Sesudah memainkan San-in Kun-hoat dengan tenaga Thian-te Sin-ciang selama belasan jurus, tiba-tiba saja Ki Liong mengubah gerakannya dan sekarang ia memainkan Pat-hong Sin-kun (Silat Sakti Delapan Penjuru Angin). Sungguh jauh sekali bedanya dengan ilmu silat San-in Kun-hoat (Silat Awan Gunung) tadi yang lambat namun mantap, kini Ilmu Silat Pat-hong Sin-kun dimainkan dengan pengerahan ginkang (ilmu meringankan tubuh) tinggi sehingga tubuhnya berkelebatan dan berputaran seolah-olah dia menyerang dari delapan penjuru!

Angin pun bertiup kencang dan menerbitkan suara riuh. Ketika pemuda itu mengerahkan Ilmu Pek-in-ciang (Tangan Awan Putih), maka ketika dia mendorong dari kedua telapak tangannya keluarlah uap putih menyambar-nyambar.

Bi Lian makin kaget dan kagum. Bukan main, pikirnya. Pemuda ini ternyata tak membual dan dia sendiri merasa sangsi apakah dia akan sanggup menandingi kalau menghadapi seorang pemuda yang memiliki tingkat ilmu silat seperti itu!

Pek Eng juga merasa kagum sekali, dan gadis ini bertepuk tangan memuji. "Hebat sekali ilmu silatmu, Sim-kongcu!" katanya.

Ia ikut menyebut ‘kong-cu’ karena gurunya, Lam-hai Giam-lo dan juga para pembantunya juga menyebut kongcu kepada pemuda itu. Mendengar sebutan ini, Bi Lian mengerutkan alisnya dan Ki Liong juga merasa betapa sebutan itu terlalu menghormat untuknya.

"Aihh, Nona Pek Eng, mengapa menyebut aku kongcu? Namaku Sim Ki Liong, dan aku lebih tua darimu. Bagaimana kalau menyebut aku kakak saja?" katanya.

Pek Eng tersenyum gembira. "Engkau sendiri menyebut aku Nona! Kalau aku menyebut Toako kepadamu, engkau pun harus menyebut adik kepadaku!"

Ki Liong tersenyum, merasa bahwa dia telah mendapatkan kemenangan, dapat membuat Pek Eng bersikap ramah kepadanya. "Baiklah, Eng-moi (Adik Eng), dan jangan engkau terlalu memujiku, jangan-jangan kepalaku akan kemasukan angin dan menggembung lalu meledak oleh pujianmu itu!"

Mendengar ucapan ini Pek Eng tertawa dan Bi Lian juga tersenyum. Bagaimana pun juga pemuda ini memang amat menyenangkan, menarik hati sekali. Sopan, ramah, dan pandai membawa diri, halus dan rendah hati.

"Saudara Sim Ki Liong, engkau adalah murid seorang pendekar sakti yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, akan tetapi mengapa engkau bersekutu dengan orang-orang seperti... kita, dari golongan hitam?"

Ditanya demikian, Sim Ki Liong terkejut sekali, namun hal ini tidak diperlihatkannya dan dengan cerdik dia pun menjawab. "Nona Cu Bi Lian, agaknya pertanyaan seperti itu dapat juga ditujukan kepadamu atau kepada Eng-Moi, bukan? Kita masing-masing mempunyai alasan pribadi untuk mengambil jalan hidup kita. Dan aku mau bersekutu dengan Lam-hai Giam-lo Bengcu karena selain sangat mengagumi kepandaiannya, juga karena aku telah bermusuhan dengan salah seorang di antara para pendekar sehingga tak mungkin bagiku bergabung dengan mereka."

Percakapan sudah mulai akrab, akan tetapi tiba-tiba saja muncul Ji Sun Bi di tempat itu. Melihat betapa Ki Liong bercakap-cakap dengan dua orang gadis cantik itu dengan sikap sedemikian akrabnya, tentu saja Ji Sun Bi merasa tidak senang dan cemburu. Ki Liong adalah kekasih barunya yang amat dicintainya karena pemuda itu adalah seorang jantan yang mempunyai ilmu kepandaian jauh lebih tinggi darinya sehingga dapat mendatangkan kepuasan yang tak terbatas padanya. Kini, melihat betapa kekasihnya itu bercakap-cakap dengan dua orang gadis muda yang cantik jelita dalam suasana demikian akrabnya, tentu saja dia merasa khawatir dan cemburu.

"Sim-kongcu, teman-teman telah menunggu untuk merundingkan hal yang penting sekali. Marilah!" katanya tanpa memandang kepada dua orang gadis itu.

Biar pun dia cemburu dan marah, namun tentu saja dia tidak berani memperlihatkan sikap tidak senang kepada dua orang gadis itu. Yang seorang adalah murid bengcu, sedangkan yang ke dua adalah sumoi bengcu, bahkan memiliki ilmu kepandaian yang sangat hebat! Melihat munculnya Ji Sun Bi dan mendengar kata-kata itu, Ki Liong tidak ingin wanita itu membuat ribut, maka dia pun menjura dengan sikap hormat kepada Pek Eng dan Bi Lian.

"Eng-moi, Nona Cu, maafkan aku. Agaknya mereka itu ingin merundingkan sesuatu yang penting denganku. Sampai lain kali!" Sambil tersenyum manis dia pun pergi meninggalkan dua orang gadis itu, bersama Ji Sun Bi yang menunggunya.

Setelah pemuda itu pergi, Pek Eng menarik napas panjang. "Aihh, dia seorang pemuda yang hebat..."

Bi Lian menjebi. "Huh, berhati-hatilah terhadap seorang lelaki yang begitu halus budi dan manis tutur sapanya. Orang seperti itu pandai merayu dan siapa tahu hatinya palsu."

Pek Eng menarik napas panjang kembali. "Bagaimana pun juga dia sungguh pandai, dan sikapnya rendah hati, hemm, mengingatkan aku kepada Hay-ko..."

"Ehh? Siapa itu Hay-ko (Kakak Hay)?" Bi Lian bertanya.

"Hay-ko ya Hay-ko, namanya Hay Hay..."

"Hay Hay...? Tentu saja Bi Lian terkejut karena pemuda yang bernama Ha Hay itu pernah membuat dia tak dapat tidur karena selalu terkenang kepadanya.

"Ya, namanya Hay dan kalau tidak salah, she-nya Tang. Akan tetapi dia selalu mengaku bernama Hay Hay, tidak pernah menyebutkan she-nya. Apakah engkau pernah mengenal dia, Enci Lian?"

Bi Lian menggelengkan kepala. "Tidak, mengapa?"

"Ahh, sudah lama aku mencarinya, juga mencari kakakku yang bernama Pek Han Siong. Akan tetapi aku tidak berhasil menemukan mereka dan akhirnya malah aku ditawan oleh Lam-hai Siang-mo dan dibawa ke sini. Untung Bengcu baik dan mau menerimaku sebagai muridnya, Enci."

Bi Lian mengerutkan alisnya. Nasib gadis ini mirip dengan nasib dirinya. Tanpa disengaja terjatuh ke tangan golongan sesat. Dia sendiri kini menjadi murid dua orang datuk sesat yang paling tinggi kedudukannya! Padahal dahulu dia hanya puteri suami isteri dusun dan sudah mempunyai dua orang guru, yaitu sepasang suami isteri yang bertapa di dalam Kuil Siauw-lim-si dan kabarnya merupakan sepasang pendekar sakti. Dia masih ingat dengan nama dua orang gurunya itu, yaitu Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu.

Dan anehnya, seperti juga dara ini, dia pernah bertemu pula dengan Hay Hay, akan tetapi pertemuannya itu tak perlu dia beri tahukan kepada Pek Eng. Sungguh pengalaman hidup dan nasib yang sangat mirip di antara kedua gadis ini.

"Kakakmu itu, ke mana perginya, Adik Eng?"

Pek Eng menarik napas panjang. Begitu bertemu dengan Bi Lian dia telah tertarik, kagum dan suka sekali. Gadis ini demikian lihainya sehingga dapat mengalahkan hampir semua pembantu gurunya. Entah berapa kali lipat tingkat kepandaiannya sendiri!

"Aih, sejak kecilnya kakakku itu sudah dihebohkan orang, Enci Lian. Ketika baru terlahir, menurut penuturan orang tuaku, dia telah diperebutkan oleh orang-orang sakti di seluruh dunia..."

"Ehhh...?

"Benar, Enci Lian. semenjak kecil, bahkan semenjak masih di dalam kandungan, kakakku itu sudah diramalkan oleh para pendeta Lama di Tibet sebagai Sin-tong, seorang calon Dalai Lama Agung! Begitu dia terlahir, maka dia langsung diperebutkan!"

"Ahh! Kiranya dia...?"

"Engkau tahu, Enci?"

"Aku pernah mendengar cerita ini dari kedua orang guruku. Lalu, sekarang dia berada di mana, Eng-moi?"

"Entahlah. Aku sedang mencarinya. Ketika aku dijodohkan dengan seorang pemuda yang tidak kusuka, aku lalu lari untuk mencari kakakku itu, dan mencari Hay-ko yang amat baik kepadaku."

Bi Lian menghela napas panjang. "Pengalamanmu benar-benar aneh, Adik Eng. Semoga engkau akan cepat bertemu dengan kakakmu atau dengan orang yang bernama Hay Hay itu. Oya, ada hubungan apakah antara engkau dan Hay Hay itu?" Pandang mata Bi Lian penuh selidik dan dia merasa betapa hatinya tidak enak. Mengapa dia merasa cemburu?

"Dia pernah datang ke rumah kami, Enci, untuk menanyakan dirinya. Ketahuilah bahwa di waktu masih bayi, pernah kakakku disembunyikan oleh kakek buyutku karena takut dicuri oleh para pendeta Lama dan sebagai gantinya, Hay Hay itulah yang dipelihara oleh orang tuaku. Akan tetapi, ketika masih bayi dia pun diculik orang! Nah, setelah dewasa dia lalu datang untuk bertanya kepada keluarga kami, siapa dirinya yang sesungguhnya. Wah, dia lihai bukan main, Enci. Ilmunya... wah, selangit deh!"

Makin tak enak rasa hati Bi Lian mendengar betapa gadis ini memuji-muji Hay Hay.

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Dia menghadapi para pendeta Lama yang menyerbu kami dan dia mempermainkan para pendeta Lama itu seperti anak kecil saja. Dan aku... aku telah mencium pipinya..."

"Ihhh…!" Hampir saja tangan Bi Lian menampar pipi Pek Eng, akan tetapi ditahannya dan sebaliknya dia memandang dengan mata terbelalak dan muka merah.

"Engkau tak tahu malu, mengaku begitu!" bentaknya

Pek Eng tersenyum. "Jangan salah sangka, Enci. Tadinya, karena dia mengaku sebagai Pek Han Siong di depan para pendeta Lama itu, tentu saja aku mengira dia adalah kakak kandungku yang sudah lama kurindukan, maka saking girangnya aku langsung mencium pipinya. Ehh, ternyata kemudian dia bukan kakakku. Hati siapa tidak menjadi marah dan jengkel, juga malu?"

Mendengar ini, mau tidak mau Bi Lian tersenyum, akan tetapi tetap saja dia merasa tidak senang.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner