PENDEKAR MATA KERANJANG : JILID-63


Malam belum larut dan sedang terang bulan. Ketika dia lewat di depan istana kuno itu, dia mendengar suara nyanyian tadi. Tentu saja hatinya tertarik bukan main sehingga dia pun segera melangkah dan mendekati taman, mengintai sambil mendengarkan.

Saat melihat gadis cantik manis itu dia pun teringat akan cerita Kwan-taijin tentang gadis panggilan dari kota raja yang digunakan sebagai umpan agar pemuda yang bernama Can Sun Hok itu keluar dari sarang dan bangkit semangatnya untuk menentang persekutuan kaum sesat yang digerakkan oleh Lam-hai Giam-lo. Akan tetapi pemuda itu tetap acuh, demikian kata Jaksa Kwan.

Dan kini, melihat keadaan pemuda itu dan mendengarkan nyanyian merdu gadis itu, Hay Hay dapat menduga apa yang sudah terjadi! Agaknya gadis itu sudah jatuh cinta kepada penolongnya, kepada pemuda itu. Dan begitu dia berhadapan kemudian saling pandang dengan pemuda itu, dia pun tidak menyalahkan gadis itu. Memang seorang pemuda yang tampan dan gagah, pantas untuk dicinta seorang gadis cantik yang bagaimana pun juga.

Akan tetapi dia pun teringat bahwa gadis cantik yang bernyanyi ini hanya seorang gadis penghibur, yang seperti isi nyanyiannya tentu saja merasa tidak sepatutnya jika berjodoh dengan seorang pemuda bangawan seperti Can Sun Hok. Gadis itu tadi mengumpamakan dirinya seekor murai betina yang merindukan bulan! Sungguh kasihan.

Mendengar teguran Sun Hok yang kelihatan tidak senang itu, Hay Hay tersenyum dan dia memberi hormat dengan bersoja, yaitu mengangkat kedua tangan ke depan dada dengan tubuh agak dibungkukkan.

"Maaf kalau aku mengganggu. Terus terang saja, aku datang untuk berjumpa dan bicara dengan seorang Kongcu yang bernama Can Sun Hok."

Dengan penuh perhatian Sun Hok mengamati muka yang sebagian tersembunyi di bawah caping itu. Hay Hay sengaja menurunkan capingnya sehingga tergantung di punggungnya dan kini wajahnya nampak jelas. Sun Hok kagum. Wajah seorang pemuda yang tampan, gagah dan ramah sekali, bukan wajah penjahat.

Akan tetapi hatinya tetap merasa tidak senang karena dia merasa terganggu. Lenyaplah sudah kegembiraan yang dirasakannya pada saat dia hanya bersama Siauw Cin dan tiga orang pelayannya tadi. Hilanglah sudah suasana meriah dan suasana santai.

"Akulah Can Sun Hok, akan tetapi aku tidak pernah mengenalmu!" katanya, tidak ramah untuk memperlihatkan kekesalan hatinya.

"Memang kita belum pernah saling berjumpa, Can-kongcu. Namaku Hay Hay dan karena aku mendengar bahwa engkau adalah seorang pendekar muda yang berilmu tinggi, maka hatiku tertarik sekali dan aku ingin sekali datang berkunjung dan berkenalan denganmu."

Sun Hok mengerutkan alisnya. Dia tidak mengenal nama Hay Hay, dan pula ketika itu dia sama sekali tidak ada keinginan untuk berkenalan dengan orang lain, apa lagi dia belum tahu orang macam apa adanya pemuda yang mengaku bernama Hay Hay ini.

"Akan tetapi aku tak ingin berkenalan denganmu, dan aku tidak mempunyai waktu. Sobat, harap engkau pergi dan jangan mengganggu kami. Pula, di malam hari seperti ini bukan waktunya orang berkunjung untuk berkenalan." Suaranya masih halus, namun nada suara itu jelas mengusir!

"Can-kongcu, ketahuilah bahwa aku datang untuk berbicara denganmu mengenai gerakan dari persekutuan kaum sesat yang dipimpin oleh Lam-hai Giam-lo. Kukira sudah menjadi kewajiban seorang pendekar seperti Kongcu untuk bangkit dan menentang persekutuan jahat yang amat berbahaya bagi keamanan hidup rakyat jelata. Nah, kini maukah engkau menerimaku sebagai seorang sahabat dan kita bicara tentang itu?"

"Hemm, apakah engkau seorang pendekar?" Can Sun Hok bertanya, nada suaranya agak memandang rendah dan mengejek. Hay Hay tertawa dan merasa lucu. Dia sendiri belum pernah bertanya apakah dia adalah seorang pendekar, maka dia merasa lucu ketika ada yang bertanya secara demikian langsung.

"Entahlah, aku sendiri tidak tahu, Kongcu. Akan tetapi setidaknya aku merasa penasaran dan ingin menentang gerakan yang dipimpin oleh Lam-hai Giam-lo."

Siauw Cin yang sejak tadi hanya mendengarkan saja, tiba-tiba berkata kepada Sun Hok, "Can-kongcu, agaknya Kongcu yang datang ini membawa berita sangat penting. Lam-hai Giam-lo adalah orang yang menyuruh anak buahnya untuk menculik aku, apakah Kongcu tidak merasa tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang dia?"

Mendengar ini, Hay Hay lalu membalikkan tubuhnya menghadapi Siauw Cin dan pandang matanya penuh kagum.

"Sungguh berbahagia sekali mataku dapat melihat seorang gadis secantik bidadari seperti Nona dan telingaku dapat mendengar nyanyian sorga seperti yang Nona nyanyikan tadi, bahkan kini mendengar pula pendapat yang amat bijaksana. Sukarlah di dunia ini mencari gadis kedua yang sehebat Nona. Harap jangan sebut aku Kongcu, karena aku hanyalah seorang pemuda pengelana biasa saja, Nona yang mulia."

Sepasang mata itu terbelalak dan Siauw Cin memandang kepada Hay Hay, tersenyum lebar, lalu menutup kembali mulutnya, mukanya menjadi kemerahan. Bukan main pemuda ini. Kata-katanya demikian penuh madu, manis merayu dan baru sekarang ini dia merasa dipuji-puji orang sampai ke langit ke tujuh, bukan sekedar rayuan seorang laki-laki yang tergila-gila akibat nafsu. Dan ada sesuatu pada pandang mata pemuda itu yang membuat hatinya tiba-tiba menjadi lemah, tunduk dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

"Kalau begitu, engkau tentu seorang Taihiap (Pendekar Besar), dan harap jangan sebut aku Nona yang mulia, Taihiap, karena aku hanyalah seorang pelayan yang hina dan setia dari Can-kongcu," katanya merendah dengan suara merdu.

"Nona, engkau bukan hanya seorang pelayan yang setia, akan tetapi juga seorang gadis secantik bidadari yang mencinta majikannya dengan segenap badan dan nyawa..."

"Hei, orang asing! Tutup mulutmu dan lekas pergi dari tempat ini!" bentak Sun Hok yang mukanya merah sekali mendengar ucapan Hay Hay itu. Akan tetapi, anehnya Siauw Cin menengahi dan berkata kepada majikannya.

"Kongcu, biarkan dia bicara. Saya kira dia ini seorang yang jujur dan baik, tidak berniat buruk "

"Ha-ha, engkau sungguh seorang gadis yang berpenglihatan tajam, Nona manis. Jangan khawatir, pria mana pun yang kejatuhan cintamu, sudah pasti akan membalasnya, karena pria mana di dunia ini yang tak akan tergila-gila kepada seorang gadis secantik engkau?"

Sun Hok tak dapat menahan kemarahannya lagi.

"Wuuutttt…!" Dia sudah meloncat dan berdiri berhadapan dengan Hay Hay.

"Keparat! Apakah engkau sengaja datang ingin menantang aku? Hay Hay, kalau memang itu adalah namamu, tidak perlu engkau merayu Siauw Cin, tetapi hadapilah aku sebagai laki-laki kalau memang engkau mencari keributan di sini!"

"Kongcu... jangan...! Jangan memusuhinya, aku yakin bahwa dia seorang yang baik hati." Siauw Cin yang telah berada dalam kekuasaan Hay Hay yang mempengaruhinya dengan ilmu sihir itu, kini memegang lengan Sun Hok dan berusaha menarik pemuda itu mundur agar jangan menyerang Hay Hay.

Hay Hay tersenyum dan melepaskan kekuatan sihirnya. Ketika kekuasaan sihir itu lenyap, tiba-tiba Siauw Cin menyadari betapa dia memegangi lengan itu dan melangkah mundur dengan bingung.

"Can-kongcu, agaknya Nona pelayanmu itu lebih pandai menilai orang. Percayalah, aku datang bukan untuk memusuhimu atau membikin ribut, melainkan untuk bicara denganmu tentang gerakan kalangan sesat yang dipimpin oleh Lam-hai Giam-lo. Kongcu, kapan lagi engkau dapat berbakti terhadap nusa dan bangsa, akan mempergunakan kepandaianmu demi kepentingan rakyat kalau tidak sekarang?"

Akan tetapi Sun Hok sudah marah sekali. Pemuda ini perayu besar dan sungguh lancang sekali bicara tentang cinta di dalam hati Siauw Cin terhadap dirinya, bahkan menyinggung cintanya terhadap gadis itu pula. Bagaimana begitu muncul pemuda ini dapat menduga dengan tepat isi hatinya dan isi hati Siauw Cin?

"Baiklah, akan tetapi aku harus melihat dahulu orang macam apa yang hendak berbicara dengan aku tentang pembelaan terhadap rakyat. Apakah engkau benar seorang pendekar ataukah hanya seorang lelaki yang lancang mulut dan pandai merayu. Nah, majulah dan mari kita main-main sebentar, ingin aku melihat kelihaian tangan kakimu. Bukan sekedar mulutmu!"

Setelah berkata demikian, Can Sun Hok segera menerjang ke depan, mengirim serangan dengan dua tangan terbuka. Tangan kirinya mencengkeram ke arah muka Hay Hay, ada pun tangan kanannya yang juga terbuka menusuk dari bawah ke arah perut.

Serangan pertama ini untuk menarik perhatian sedangkan tangan kanan yang merupakan serangan inti. Serangan ini amat berbahaya, dengan sekali pandang saja maklumlah Hay Hay bahwa pemuda ini memiliki dasar ilmu silat dari golongan sesat yang sifatnya curang dan kejam, juga sangat berbahaya, tidak memperhatikan segi keindahan melainkan segi hasilnya walau pun curang dan kejam sekali pun.

"Hemmm, bagus!" teriaknya dan dengan lincahnya dia pun mengelak.

Dengan langkah Jiauw-pou-poan-soan yang berputar-putaran dia dapat mengelak dengan mudah dan sungguh pun lawannya menyusulkan serangan bertubi-tubi sampai tujuh jurus berantai, tetap saja semua serangan tidak dapat menyentuhnya.

Jiauw-pou-poan-soan adalah langkah ajaib berputaran yang dulu dipelajari Hay Hay dari See-thian Lama, berdasarkan ilmu perbintangan ditambah ilmu ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang tinggi. Jangankan hanya satu orang, biar ada sepuluh orang mengepung dan mengeroyoknya, dengan senjata sekali pun, tak akan mudah dapat mengenai tubuh Hay Hay kalau dia memainkan ilmu langkah ajaib ini.

Tentu saja Can Sun Hok menjadi terkejut dan juga penasaran sekali. Serangannya sudah bertubi-tubi dan cepat sekali karena dia ingin segera merobohkan lawan ini, akan tetapi sedikit pun tidak pernah berhasil menyentuh tubuh lawan yang selalu lenyap pada saat serangannya tiba, seperti menyerang bayangan setan saja.

"Pengecut! Jangan lari saja, balaslah menyerang kalau engkau mampu!" bentak Can Sun Hok dengan marah karena dia sangat penasaran dan merasa dipermainkan.

"Sabarlah, Can-kongcu. Kita bukan bermusuhan, namun hanya main-main untuk menguji kepandaian dan saling berkenalan, ingat?"

Sun Hok makin penasaran karena selain dapat terus mengelakkan semua serangannya, lawan itu masih sempat pula bicara dengan nada berkelakar! Dia pun teringat akan ilmu pukulan baru yang sudah dikuasainya selama tiga tahun ini, yaitu yang dipelajarinya dari kitab peninggalan ibu kandungnya.

Tiba-tiba dia menggerakkan kedua tangannya, menggosok dua telapak tangannya sambil mengerahkan tenaga dan menahan napas. Dan kini, begitu dia menggerakkan sepasang tangannya untuk menyerang lagi, Hay Hay mencium bau harum dari dua telapak tangan itu. Sambaran tangan kiri berhasil dielakkan akan tetapi bau wangi menyambar hidungnya sehingga membuat pandang matanya berkunang.

"Ihh...!" Hay Hay cepat menguasai dirinya lalu sambil mengerahkan tenaganya menangkis lengan kanan lawan yang menghantam ke dadanya. Baru sekali ini dia menangkis karena sudah tidak sempat mengelak setelah bau harum itu membuat matanya berkunang.

"Dukkk!"

Akibat benturan kedua lengan ini, tubuh Sun Hok segera terhuyung ke belakang. Pemuda ini terbelalak. Bukan main kuatnya lengan lawan yang menangkisnya tadi, maka mulailah dia menyadari bahwa Hay Hay bukan sekedar pemuda yang lihai mulutnya, akan tetapi lihai pula ilmu silatnya dan memiliki tenaga sinkang yang luar biasa kuatnya. Hal ini selain mendatangkan rasa penasaran, juga menimbulkan kegembiraan di hatinya untuk menguji kepandaiannya dengan sungguh-sungguh.

Karena tahu bahwa lawan lihai, dia pun berani mengerahkan seluruh kepandaiannya dan tenaganya. Sekarang dia menghujankan serangan dengan Ilmu Pukulan Siang-tok-ciang (Tangan Racun Wangi) yang sangat hebat itu. Akibat dari ilmu ini, di sekeliling tempat itu tercium bau wangi.

Akan tetapi anehnya, Siauw Cin beserta tiga orang pelayan yang menonton perkelahian dan mencium bau wangi ini, menjadi pening sehingga terpaksa mereka menjatuhkan diri dan duduk di atas rumput! Demikian hebatnya pengaruh hawa beracun itu. Apa lagi kalau sampai terkena pukulan tangan yang mengandung hawa beracun itu!

Hay Hay juga terkejut dan makin yakinlah hatinya bahwa meski pun pemuda ini seorang bangsawan dan oleh Jaksa Kwan dianggap sebagai seorang pendekar, akan tetapi kalau melihat dari ilmu-ilmunya yang sesat dan kejam, jelas bahwa pemuda ini telah menerima pendidikan dari datuk sesat.

Dia harus mengumpulkan hawa murni untuk melawan hawa beracun berbau wangi itu dan melihat betapa gerakan ilmu silat lawan itu cukup cepat dan berbahaya, Hay Hay segera mengeluarkan ilmu-ilmunya dari Ciu-sian Sin-kai, yaitu Ciu-sian Cap-pek-ciang (Delapan Belas Jurus Ilmu Silat Dewa Arak).

Begitu dia memainkan ilmu ini, Sun Hok menjadi bingung. Gerakan Hay Hay sangat indah namun juga aneh, seperti gerakan orang mabok, akan tetapi setiap tangannya bergerak, ada hawa pukulan yang sangat dahsyat dan walau pun untuk serangan jurus pertama dia masih mampu mengelak dan bertahan, ketika Hay Hay menyerangnya lagi dengan jurus ke dua, meski pun Sun Hok berusaha menangkis dengan kedua lengannya, tetap saja dia terdorong sampai lima langkah, lalu terhuyung dan hampir roboh!

"Cukuplah sudah kita bermain-main, Can-kongcu!" Hay Hay berkata, tersenyum ramah, sama sekali tidak mengejek.

"Belum!" bentak Sun Hok, "Mari kita mencoba kelihaian dalam hal memainkan senjata!" Berkata demikian, dia sudah memegang suling dengan tangan kiri dan yang-kim dengan tangan kanan!

Melihat ini Hay Hay terbelalak. Baru sekarang ini dia melihat lawan yang mempergunakan suling dan yang-kim sebagai senjata. Dia sendiri suka mempergunakan sulingnya sebagai senjata, sungguh pun hal ini jarang sekali dia lakukan. Melihat betapa pemuda itu hendak menggunakan alat musik sebagai senjata, Hay Hay juga segera mencabut sulingnya lalu menghadapi Sun Hok sambil tersenyum lebar.

"Wah, kita ini mau main silat ataukah mau main musik?" tanyanya.

Sun Hok menjawab dengan serangannya. Sulingnya meluncur hingga terdengarlah suara mengaung pada saat suling itu menusuk dada seperti sebatang pedang dan memang dia sedang memainkan ilmu pedang yang baru dipelajarinya dari kitab lama. Ilmu pedang ini dinamakan Kwi-ong Kiam-sut (Ilmu Pedang Raja Iblis), peninggalan dari kakek gurunya Si Raja Iblis. Sementara itu, yang-kim di tangan kanannya juga menyambar ke arah kepala lawan.

Kembali Hay Hay terkejut sekali. Ilmu pedang yang dimainkan dengan suling dari pemuda bangsawan itu pun hebat sekali, bukan seperti ilmu pedang biasa. Dia pun menggerakkan tubuhnya mengelak dan membalas tusukan pedang dari samping ke arah pundak kanan. Namun yang-kim itu bergerak menangkis suling dan kembali suling di tangan kiri Sun Hok sudah membabat, sekali ini membabat pinggang sambil mengeluarkan suara mengaung yang menyeramkan.

Hay Hay cepat menggeser kakinya dan kembali mengandalkan langkah-langkah ajaibnya untuk menghindarkan diri. Sambil menghindar jari tangan kirinya menyentil ke arah tali-tali yang-kim sehingga terdengarlah nada-nada yang merdu!

Untuk belasan jurus lamanya Hay Hay terus memperhatikan gerakan lawan. Setelah tahu bahwa dia masih menang jauh di dalam hal kecepatan, dan bahwa langkah-langkah ajaib Jiauw-pou-poan-soan telah cukup baginya untuk menyelamatkan diri, maka mulailah Hay Hay meniup sulingnya dengan satu tangan, lantas dia pun sengaja memainkan lagu yang dinyanyikan oleh Siauw Cin! Kadang-kadang tangan kirinya dia gunakan untuk menangkis dan balas menotok atau menampar.

Perkelahian itu terjadi dengan cepat sekali dan Siauw Cin bersama tiga orang pelayan itu memandang bengong. Bagaimana mereka takkan menjadi bengong ketika melihat betapa tubuh kedua orang pemuda itu lenyap menjadi dua sosok bayangan berkelebatan sambil terdengar suara suling ditiup melagukan nyanyian tentang murai dan bulan purnama tadi?

Can Sun Hok bukan orang yang tak tahu diri. Berulang kali dia dikejutkan oleh kehebatan ilmu lawan dan sekarang lawannya hanya menghadapinya dengan langkah-langkah ajaib itu, dengan tangan kiri yang kadang menangkis atau bahkan balas menyerang dan tangan kanan meniup suling memainkan lagu tadi! Apa bila dia tidak mengalaminya sendiri, tidak mungkin dia dapat percaya. Selama hidupnya baru sekarang inilah dia berjumpa dengan lawan yang begini sakti, dan diam-diam dia pun merasa takluk!

Sun Hok cepat melompat ke belakang, lalu menjura. "Sobat, ilmu kepandaianmu sungguh berlipat kali lebih tinggi dariku. Aku mengaku kalah!" katanya tanpa malu-malu lagi.

Sikap ini membuat Hay Hay menjadi kagum dan suka sekali kepada pemuda bangsawan ini. Benar kata Jaksa Kwan. Pemuda ini adalah seorang gagah dan seorang yang berjiwa pendekar walau pun ilmu silatnya merupakan ilmu kaum sesat. Dengan wajah sungguh-sungguh dia pun balas memberi hormat.

"Can-kongcu, harap jangan merendahkan diri. Kepandaianmu sendiri juga sangat hebat. Sekarang maukah engkau menerimaku untuk bicara tentang gerakan kaum sesat itu?"

Sun Hok menarik napas panjang. Dia memang selalu ingat akan nasehat pendekar wanita Ceng Sui Cin yang pernah dianggapnya sebagai musuh besarnya itu. Satu-satunya jalan untuk berbakti kepada mendiang ibu kandungnya adalah melakukan perbuatan-perbuatan baik sebagai seorang pendekar sehingga dengan perbuatan-perbuatan itu seolah-olah dia dapat mencuci noda dan dosa ibunya yang pernah menjadi tokoh wanita sesat!

Dia kagum terhadap pemuda di hadapannya ini yang teramat lihai. Ingin dia bersahabat dengan pemuda ini sehingga dia bisa mendapat tambahan pengetahuan biar pun pemuda ini lebih muda darinya. Akan tetapi mengingat betapa pemuda ini sangat pandai merayu, timbul perasaan cemburu dalam hatinya. Jangan-jangan pemuda ini bukan hanya berhasil menarik rasa suka dan kagumnya, akan tetapi bahkan menarik hati dan membuat Siauw Cin tergila-gila kepadanya!

"Tak perlu banyak bicara lagi," katanya. "Aku pasti akan pergi menyelidiki sarang Lam-hai Giam-lo di Yunan dan untuk itu, aku lebih suka bekerja seorang diri tanpa kawan."

Hay Hay maklum bahwa kehadirannya tidak dikehendaki dan dia pun tahu sebabnya. Dia tersenyum, lantas menjura kepada tuan rumah. "Baiklah, Can-kongcu, aku percaya akan kesanggupanmu dan aku juga merasa gembira sekali bahwa engkau telah berjanji untuk mengulurkan tangan membantu." Kemudian dia menoleh ke arah Siauw Cin yang masih memandang dengan terheran-heran, lalu berkata dengan halus. "Nona, jangan bersedih hati tentang murai dan bulan purnama. Kalau dua hati sudah saling mencinta, maka apa pun dapat terjadi. Percayalah!" Setelah berkata demikian, Hay Hay mempergunakan ilmu kepandaiannya, dengan sekali berkelebat dia sudah lenyap dari tempat itu. Hal ini sangat mengejutkan Siauw Cin dan ketiga orang pelayan itu, dan sangat mengagumkan hati Sun Hok.

Siauw Cin bangkit dan mendekati Sun Hok, takut-takut. "Kongcu... apakah dia tadi itu... manusia ataukah setan...?"

Sun Hok memegang tangan gadis itu yang terasa dingin. "Jangan takut, dia itu setengah manusia setengah setan. Karena itu, jangan mudah terkena rayuannya."

Siauw Cin mengerling tajam. "Aihh, Kongcu. Kau kira aku demikian mudah dirayu orang? Walau pun dia memang luar biasa, akan tetapi bagi saya tak ada seorang pun pria yang lebih baik dari pada engkau, Kongcu."

Mereka berdua, diikuti oleh tiga orang pelayan, lalu memasuki rumah. Malam mulai larut dan hawa mulai dingin. Tiga orang pelayan langsung menuju ke kamar masing-masing di belakang, akan tetapi Siauw Cin masih berada di ruangan dalam bersama Sun Hok.

Wajah keduanya memerah dan tanpa kata-kata Sun Hok menggandeng tangan wanita itu. Jari-jari tangan mereka bergetar, akan tetapi ketika Sun Hok menuntun Siauw Cin menuju ke kamarnya, gadis itu menahan diri dan menghentikan langkahnya. Mereka berdiri saling pandang, berhadapan dekat sekali.

Sun Hok merasa betapa tubuhnya gemetar dan napasnya terengah-engah. Dari pandang matanya memancar kemesraan dan permintaan, permintaan setiap pria yang jatuh cinta dan ingin menumpahkan semua rasa sayangnya kepada wanita yang dicintanya. Melihat sinar mata yang biasanya hanya mengandung rasa iba dan cinta, kini mengandung birahi, Siauw Cin menundukkan mukanya, lalu perlahan-lahan dia menggelengkan kepalanya.

"Jangan, Kongcu... jangan... sekarang...," katanya lirih.

Sun Hok mempererat pegangannya pada tangan yang masih merasa dingin itu.

"Kenapa, Siauw Cin? Aku cinta kepadamu, dan bukankah engkau pun cinta kepadaku?" bisiknya dengan suara gemetar.

Selama hidupnya belum pernah dia berdekatan dengan wanita dan sekarang mendadak timbul gairah dan hasratnya untuk tidur bersama gadis yang dicintanya ini!

Siauw Cin mengangkat mukanya dan Sun Hok melihat betapa sepasang mata itu menjadi basah, "Saya cinta padamu, Kongcu, cinta dengan sepenuh jiwa raga saya. Akan tetapi... saya tahu di mana tempat saya, Kongcu. Engkau adalah seorang perjaka, engkau belum pernah berhubungan dengan wanita, sedangkan aku... ahhh, aku tidak layak. Kelak, kalau Kongcu sudah menikah, sudah mempunyai seorang isteri yang pantas mendampingimu sebagai isteri yang sah, barulah saya akan menyerahkan diri, menjadi selir, atau pelayan, atau apa saja. Tapi jangan sekarang, Kongcu..."

"Apa... apa bedanya? Apa salahnya kalau sekarang?"

"Tidak... sama sekali salah. Apa akan kata orang nanti. Engkaulah yang akan malu... ah, mengertilah, Kongcu. Saya cinta padamu, akan tetapi biarlah sementara ini saya menjadi pelayanmu. Kelak saja, kalau Kongcu sudah beristeri, kalau Kongcu masih menghendaki diriku. Diriku bukan untuk pria lain, sampai saya mati, kecuali hanya untukmu, Kongcu..." Gadis itu menarik tangannya, lantas berlari sambil terisak menuju ke kamarnya di bagian belakang.

Sun Hok berdiri termenung seperti patung. Dia sungguh bingung, tak mengerti akan sikap gadis itu. Akan tetapi dia tidak menyesal, bahkan merasa lega bahwa gadis itu menolak ajakannya. Bukan menolak karena tidak mau atau tidak cinta, melainkan karena gadis itu hendak menjaga nama baiknya, dan gadis itu sungguh tahu diri. Ahh, adakah wanita lain seperti Siauw Cin di dunia ini?

Cinta memang sesuatu yang aneh. Cinta dapat melanda hati siapa pun juga, pria atau wanita, tua atau muda, kaya atau miskin, pintar atau bodoh, bahkan seorang wanita yang dicap sebagai wanita pengobral cinta, seorang pelacur tidak terluput dari serangan cinta. Cinta yang lain dari pada yang dijualnya untuk ,mencari uang, atau karena terpaksa, atau karena kebutuhan jasmani mau pun batin. Cinta yang satu ini lain lagi. Cinta yang satu ini meniadakan kepentingan diri pribadi, melainkan mementingkan kepentingan orang yang dicintanya.

Seorang pelacur adalah seorang yang sedang menderita sakit, seperti para penyeleweng atau pelanggar hukum dan susila lainnya, seperti pencuri, penjahat dan lain sebagainya. Sedang sakit! Bukan badannya yang sakit, akan tetapi batinnya. Dan orang yang sakit, baik sakit badan mau pun sakit batin, dapat sembuh, dapat pula kambuh, tergantung dari pemeliharaan batin itu selanjutnya.

Karena itu, mencemooh dan merendahkan orang yang sedang dilanda sakit, baik badan mau pun batinnya, adalah suatu perbuatan yag tidak patut dan tidak terpuji. Seyogianya mengulurkan tangan, memberi jalan keluar, memberi pengobatan. Harus selalu diingat bahwa yang sakit, baik sakit badan mau pun batin bisa sembuh sama sekali, sebaliknya yang sedang sehat, baik badan mau pun batinnya, sekali waktu dapat saja jatuh sakit!

Seperti juga penyakit badan maka penyakit batin timbul dari berbagai macam sebab dan keadaan. Mungkin juga seperti badan yang lemah, batin dapat pula melemah sehingga mudah terserang penyakit. Olah raga menguatkan badan sehingga tidak mudah diserang penyakit, juga olah batin menguatkan batin sehingga tidak mudah diserang penyakit pula.

Olah batin adalah perenungan akan kehidupan, akan kebenaran, tentang kemanusiaan, tentang Tuhan Maha Kasih! Berbahagialah orang yang dapat menjaga kesehatan badan dan batinnya, karena keduanya haruslah seimbang. Kalau salah satu sampai sakit, maka yang lain akan terpengaruh dan kebahagiaan tak mungkin dapat dirasakan lagi.


********************

Hay Hay melakukan perjalanan seorang diri di daerah pegunungan yang sunyi itu. Enak berjalan di padang rumput itu. Pemandangan alamnya sungguh menyenangkan hati dan menyedapkan mata. Serba hijau dan bau rumput dan tanah, juga pohon-pohonan amatlah sedapnya. Dia menyedot napas sekuatnya sampai seluruh paru-parunya penuh dan hawa murni itu terus turun mendesak ke bawah, terasa nikmat dan penuh, lalu dihembuskannya perlahan-lahan. Bukan main nyamannya.

Hidup adalah bahagia! Karena bahagia hanyalah suara perasaan, suatu sebutan, seperti juga hidup. Hidup juga hanya suatu perasaan. Merasa hidup! Siapa yang merasa hidup? Siapa yang merasa bahagia?

Hanya kesadaran pikiran bahwa ada aku yang merasakannya! Kalau kesadaran tertutup sementara selagi tidur, tidak ada lagi itu yang dinamakan hidup atau kebahagiaan, atau bahkan kedudukan, kesenangan dan sebagainya lagi. Semua itu kosong! Sesungguhnya tidak apa-apa, yang ada itu hanyalah permainan pikiran sendiri belaka!


Pagi itu cerah sekali. Sinar matahari pagi menghidupkan segala yang tertidur malam tadi, mendatangkan kesegaran, kehangatan, kenyamanan dan keindahan. Cahaya mataharilah yang menghidupkan segala sesuatunya. Bahkan cahaya matahari pagi sempat membawa batin Hay Hay ke alam yang penuh semangat dan kegembiraan, mendorong dirinya untuk melepaskan riang lewat nyanyian.

Pada saat dia membuka mulut dan mulai bernyanyi, tanpa sengaja dia menyanyikan lagu yang pernah didengarnya dari mulut gadis pelayan dari Can Sun Hok itu! Nyanyi tentang burung murai betina yang bodoh, yang merindukan bulan purnama! Burung yang tidak mampu mencapai bulan purnama, lantas mengejar bulan di dalam air dan akhirnya tewas tenggelam! Setelah nyanyian itu selesai dinyanyikan, baru dia sadar bahwa tanpa sengaja dia menyanyikan lagu baru itu. Dan Hay Hay tertawa sendiri.

Burung murai yang bodoh, pikirnya mencela. Itulah kalau menginginkan sesuatu yang tak terjangkau! Akhirnya bahkan dapat mencelakakan diri sendiri! Tiba-tiba saja dia berhenti melangkah. Kisah burung murai itu, bukankah itu kisah semua manusia?

Bukankah setiap manusia selalu menginginkan keadaan yang lebih? Lebih indah, lebih enak, lebih banyak, pendeknya, semua manusia menginginkan yang serba lebih. Saling berebutan dan bersaing untuk memperoleh yang serba lebih itu, jika perlu saling serang, saling menjatuhkan, dengan cara apa saja demi memperoleh yang serba lebih itu! Seperti si murai bodoh.

Karena pengejaran akan yang serba lebih inilah maka mata menjadi buta dan tidak lagi dapat melihat dan menikmati apa yang ada! Mata ditujukan jauh ke depan, kepada yang dianggap serba lebih itu, yang dikejarnya dan tak terjangkau olehnya. Akhirnya hanya ada dua hal yang terjadi sebagai akibat dari pengejaran itu, sesudah di dalam pengejaran itu menimbulkan banyak pertentangan dan permusuhan.

Apa bila yang dikejar itu bisa didapat, belum tentu akan terasa seindah sebelum didapat, seindah seperti ketika masih dikejar karena hati ini sudah dipenuhi dengan pengejaran terhadap yang lain lagi, yang lebih lagi dari pada yang sudah didapat! Dan kalau gagal? Kecewa, menyesal, berduka dan sengsara!


Hay Hay melompat dan tertawa. "Ha-ha-ha-ha, berbahagialah orang yang tidak mengejar apa-apa, tidak menginginkan apa-apa yang tidak ada padanya! Berbahagialah orang yang membuka mata melihat apa yang ada padanya saja, melihat keindahan dari apa YANG ADA."

Kembali dia menarik napas panjang dan merasakan benar betapa nikmatnya menghirup udara bersih seperti itu! Dia lalu mengamati semua yang terbentang luas di hadapannya. Rumput-rumput hijau luas, pohon-pohon tinggi besar, bunga-bunga, burung-burung yang beterbangan di angkasa yang terhias awan-awan putih laksana sekelompok domba putih bergerak, sinar matahari pagi yang menerobos menembus celah-celah daun pohon.

Betapa indah semua itu, indah tak terlukiskan dengan kata-kata! Dan semua itu tentu tak akan nampak oleh mata yang dibutakan oleh keinginan mendapatkan sesuatu yang tidak ada dan tidak dimiliki!

Tiba-tiba perutnya berkeruyuk. "Hishh, tak tahu malu." Dia menepuk perutnya sendiri dan baru teringat bahwa sejak kemarin siang dia belum makan.

Semalam, sesudah mengunjungi istana tua tempat tinggal Sun Hok, dia pun melanjutkan perjalanan keluar dari kota Siang-tan, kemalaman di tengah jalan dan melewatkan malam di sebuah gubuk petani di tengah sawah, tanpa makan. Pagi tadi, ketika pagi-pagi sekali dia sudah bangun dan melanjutkan perjalanan, mendaki bukit dan kini berjalan di padang rumput.

"Wah, perut lapar di tempat seperti ini. Mana ada makanan?" Dia lalu menoleh ke kiri.

Di lereng itu terdapat hutan. Kalau dia dapat menangkap seekor kelinci, atau ayam hutan, atau kijang muda, tentu tuntutan perutnya yang lapar akan dapat dipenuhi. Dan di dalam hutan yang serimbun itu sudah pasti ada binatangnya. Dia lalu berlari ke arah hutan itu.

Dengan berindap-indap Hay Hay lalu memasuki hutan, mulai mengintai mencari mangsa, calon pengisi perutnya yang lapar bukan main. Seperti seekor harimau kelaparan dia pun jalan perlahan-lahan, jangan sampai mengeluarkan suara sehingga mengejutkan binatang yang dicarinya, yaitu ayam hutan, kelinci atau kijang. Hanya daging tiga binatang ini saja yang dia suka.

Dia tidak suka makan daging kera, ular atau binatang lainnya. Akan tetapi yang dilihatnya hanyalah beberapa ekor kera dan dua ekor ular besar saja. Dia berjalan terus sehingga akhirnya melihat seekor kijang muda sedang minum di pinggir anak sungai. Ketika angin bertiup, baru dia menyadari bahwa angin dari arahnya.

Benar saja, kijang itu menangkap bau manusia melalui angin itu, lantas binatang itu pun meloncat berlari cepat sebelum Hay Hay sempat mendekatinya. Hay Hay juga melompat dan melakukan pengejaran. Kijang itu berloncatan cepat sekali, meloncati semak-semak belukar, kadang-kadang menghilang ke dalam semak-semak, lari lagi mendaki bukit.

Hay Hay mengejar terus dan akhirnya dia melihat kijang itu terhalang sebuah jurang yang curam di tebing bukit. Binatang itu kebingungan, lari ke kanan kiri di tepi jurang. Kalau dia meloncat, maka lenyaplah binatang itu, akan tetapi tentu akan hancur terbanting di bawah jurang. Binatang itu agaknya maklum pula bahwa tak mungkin baginya meloncat turun.

Sejak tadi Hay Hay telah siap, mengambil sepotong batu sebesar kepalan tangannya. Dia merasa heran kenapa binatang itu tidak mau lari ke barat di mana terdapat semak-semak belukar, seolah-olah di sana terdapat sesuatu yang menakutkan, melainkan lari ke kanan lalu ke kiri seperti dikepung.

Setelah binatang itu berhenti sejenak melepas lelah sambil terengah-engah, Hay Hay lalu menggerakkan tangannya. Batu itu melucur cepat mengarah tengkuk binatang itu, bagian yang sekali kena akan mematikan. Dan dia melihat kijang itu roboh terguling, tak bergerak lagi.

Hay Hay berloncatan dengan hati girang dan hampir saja dia berteriak-teriak dan bersorak kegirangan ketika mendadak dari balik semak belukar di sebelah barat itu pun melompat keluar seorang gadis yang berlari seperti terbang cepatnya menghampiri bangkai kijang. Gadis itu memeriksa sebentar, tersenyum girang lalu memegang ekor kijang untuk diseret dan dibawa pergi.

"Heii...! Nanti dulu...!" Hay Hay berteriak dan berlari cepat ke tempat itu.

Gadis itu kaget sekali, tidak mengira akan ada orang berteriak seperti itu di tempat sunyi itu. Saking tersentak kaget, pegangannya pada ekor kijang itu terlepas dan dia menoleh menghadapi Hay Hay dengan mata terbelalak. Dan Hay Hay terpesona! Maklumlah, mata keranjang berhidung belang.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner