PENDEKAR MATA KERANJANG : JILID-64


Sekarang dia tiba di depan gadis itu, berdiri berhadapan dalam jarak tiga meter. Hay Hay seperti terpukau, tak bergerak seperti patung, hanya mengamati wajah gadis di depannya itu.

Seorang gadis yang usianya masih sangat muda, tak akan lebih dari delapan belas tahun. Pakaiannya sederhana bahkan terlihat nyentrik, setengah pakaian pemburu dan setengah pakaian puteri, agak kedodoran akan tetapi tidak menyembunyikan tubuh yang padat dan lekuk-lengkungnya sempurna, tubuh seorang gadis yang bagaikan sekuntum bunga mulai mekar meranum.

Rambutnya awut-awutan, terlepas dari gelungnya, tetapi menjadi penambah manis wajah yang sudah sangat manis itu. Anak rambut di pelipis dan sinom di dahi itu bergerak-gerak lembut, wajah yang bulat telur itu berdagu runcing, sepasang matanya tajam seperti mata kucing namun lebih indah, dan hidung itu kecil mancung dan ujungnya seperti kemerahan dan dapat bergerak lucu, mulutnya memiliki bibir yang penuh dan tipis, seperti kulit buah tomat yang mudah pecah, merah basah. Mata yang indah itu mengerling seperti gunting saja tajamnya, akan tetapi nampak galak.

Gadis yang tadinya terkejut itu agaknya sudah dapat menenteramkan hatinya yang kaget. Ketika melihat seorang pemuda bercaping lebar berdiri bagaikan patung memandanginya seperti itu, alisnya berkerut dan matanya menyambar dengan kerling tajam. Mati aku, pikir Hay Hay, memuji kerling mata setajam itu.

"Hemm, mau apa kau teriak-teriak mengagetkan orang, sekarang berdiri bengong seperti orang kehilangan ingatan? Apakah engkau seorang tolol?!" gadis itu membentak. Bibirnya bergerak-gerak sehingga tampak kilatan giginya ketika bicara, membuat Hay Hay menjadi semakin terpesona.

"Bukan main... hemmm, bukan main...!" katanya berkali-kali, masih saja mengamati wajah itu.

Gadis itu membanting kaki kanannya ke atas tanah. "Heh, tolol! Apa maksudmu berkata bukan main? Siapa yang main-main?"

"Wah-wah-wah-wah, selama hidupku belum pernah aku melihat yang seperti ini! Melebihi semua yang pernah kujumpai. Begini jelita, begini bebas dan liar, seperti... bunga mawar hutan, atau seekor singa betina, seekor naga betina, hebat bukan kepalang, ya cantik, ya gagah, ya berani!"

"Heii, apakah engkau ini orang gila?" bentak gadis itu sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka Hay Hay.

"Aku? Tidak, belum gila, Nona, walau pun terpesona. Dan Nona ini, apakah Dewi Penjaga Hutan dan bukit ini?"

Dara itu kembali membanting kakinya dan mukanya menjadi merah sekali, matanya yang indah melotot seperti hendak membakar wajah Hay Hay. "Apa kau bilang? Aku penjaga hutan dan gunung? Kau kira aku ini setan? Engkaulah yang iblis, engkau siluman monyet, siluman babi, engkau setan dan arwah gentayangan, engkau setan isi neraka, engkau... engkau..." Ia kehabisan makian karena tidak tahu lagi nama-nama bangsa setan sehingga gelagapan sendiri.

"Aduh, jangan marah, Nona. Aku bukan memaki, melainkan memujimu karena kusangka engkau Sang Dewi. Apa bila engkau manusia biasa, seorang gadis muda, mana mungkin tahu-tahu muncul di tempat sepi ini?"

Gadis ini cemberut lantas memandang perut bangkai kijang itu. "Sialan! Di tempat begini bertemu orang tolol!" Dan ia pun lalu menyambar kaki depan bangkai itu dan diangkatnya, dipanggulnya.

"Lhoh! Nanti dulu, Nona! Bangkai kijang itu adalah milikku!" Hay Hay mencela dan dia pun melangkah maju menghampiri.

Sekarang nona itu menoleh dan kembali matanya melotot. Hay Hay seakan-akan dapat merasakan hawa panas keluar dari sepasang lubang hidung itu, demikian marahnya dara itu.

"Apa kau bilang? Engkau berteriak mengejutkan aku, lalu memandangi seperti orang tolol, kemudian mengatakan orang sebagai makhluk penjaga gunung, dan kini engkau bahkan berani mengaku bahwa bangkai kijang ini punyamu? Heh, orang sialan yang tak tahu diri, engkau ini sebenarnya mau apakah? Jangan membikin Nonamu marah kemudian sekali tendang engkau akan kulempar ke dalam jurang di bawah tebing!"

"Maafkan aku, Nona, dan bersabarlah, harap jangan marah-marah dahulu. Seorang yang suka marah lekas tua, Nona, dan sayang kalau engkau yang secantik jelita dan semanis ini cepat menjadi tua. Aku tidak berbohong kalau mengatakan bahwa bangkai kijang ini adalah milikku, karena akulah yang telah membunuhnya tadi."

"Apa?! Jangan sembarangan membuka mulut, ya? Akulah yang telah membunuhnya dan menyambitnya dengan sebuah batu!"

"Hemm, aku pun tadi menyambitkan sebuah batu dan batuku itulah yang membunuhnya!" Hay Hay membantah, merasa penasaran karena betapa pun cantik jelitanya, kalau gadis ini hendak merampas buruannya dan mengaku-aku sudah membunuh kijang itu, dia tidak akan menerimanya begitu saja.

"Bohong! Penipu! Akulah yang telah merobohkannya dengan sambitanku tadi. Orang tolol macam engkau ini mana mungkin dapat merobohkan kijang dengan sambitan batu?"

"Hemm, sebaiknya kita melihat buktinya dahulu, Nona. Engkau tadi menyambit kijang ini, mengenai apanya?"

"Mengenai kepalanya, tepat di antara kedua matanya! Kau berani menyangka bahwa aku membohongimu?" Gadis itu menurunkan kembali kijang tadi dan mengangkat leher kijang itu, diperlihatkan kepada Hay Hay.

"Lihat ini, di antara kedua matanya, bukankah ada luka menghitam karena sambitanku?"

"Aku pun tadi menyambitnya, tepat mengenai tengkuknya, tempat yang mematikan," kata Hay Hay dan dia pun kini memeriksa dan memperlihatkan kepada gadis itu.

Gadis itu segera mengamati dan benar saja, tulang di tengkuk kijang itu patah dan ada tanda menghitam bekas sambitan. Dia mengerutkan alisnya, akan tetapi lalu mengangkat bangkai kijang itu dan dipanggulnya.

"Tidak peduli, yang jelas ada tanda sambitan di antara matanya. Kijang ini punyaku, aku yang membunuhnya dan engkau mau apa?!"

"Tidak mau apa-apa, hanya ingin sebagian dagingnya untuk mengisi perutku yang lapar."

"Hemm, kijang ini punyaku, aku yang menentukan harus diberikan kepada siapa!"

"Apakah engkau masih mempunyai kawan lain yang membutuhkan dagingnya, Nona?"

"Tidak, aku hanya seorang diri."

"Kalau begitu, untuk kita berdua juga sudah lebih dari pada cukup!"

"Itu urusanku! Aku boleh memberikan kepada siapa saja dan menolak memberi kepada siapa pun. Dan aku tidak akan memberi kepadamu yang tolol dan kurang ajar!"

"Ehh? Aku kurang ajar?"

"Semua laki-laki kurang ajar!"

Hay Hay merasa penasaran hingga perutnya terasa panas. Dara ini keterlaluan galaknya, tidak ketolongan lagi. "Dan semua perempuan tak tahu diri!"

Gadis itu membanting bangkai kijangnya, kemudian telunjuknya menuding sampai hampir mengenai hidung Hay Hay sehingga pemuda itu langsung melangkah mundur. "Apa kau bilang? Berani kau mengatakan bahwa semua perempuan tidak tahu diri? Apakah ibumu bukan perempuan? Kalau begitu ibumu juga tak tahu diri!"

"Dan kau bilang semua laki-laki kurang ajar! Apakah ayahmu bukan laki-laki? Kalau begitu ayahmu juga kurang ajar!"

"Sialan, engkau berani memaki ayahku?!" bentak gadis itu.

"Engkau juga lebih dulu memaki ibuku!"

"Apa?! Jadi engkau hendak menantang aku berkelahi? Boleh saja, kalau memang engkau sudah bosan hidup!" Gadis itu memasang kuda-kuda.

"Siapa yang mau berkelahi? Aku hanya menuntut hakku, akan tetapi jika engkau memang sudah begitu kelaparan, kalau dapat menghabiskan semua daging kijang ini, silakan, aku dapat mencari yang lain." Hay Hay mundur dan menghindarkan perkelahian. Bagaimana pun juga, dia kagum kepada gadis ini walau pun gadis ini liar, berani, dan galaknya bukan buatan lagi.

"Nah, bilang saja kalau tidak herani!" Gadis itu mengomel dan memanggul lagi bangkai kijang. Ketika dia hendak melangkah pergi, Hay Hay mengomel lirih.

"Huh, gembulnya! Apa perut kecil itu tidak akan meledak pecah nanti?"

Kaki yang sudah melangkah itu ditahan lagi dan untuk ke dua kalinya bangkai kijang itu dibanting. "Kau bilang apa tadi? Aku gembul dan perutku akan pecah kalau makan daging kijang ini?"

Hay Hay tersenyum mengejek. "Aih, engkau memang pemarah sekali, Nona. Siapa bilang engkau yang gembul dan akan pecah perutnya? Aku tidak pernah menyebut siapa pun!"

Kembali bangkai kijang itu dipanggul dan kini Hay Hay memandang sambil mengerahkan kekuatan sihirnya. "Sungguh aneh, Nona cantik ini mengaku menangkap kijang, padahal yang dipanggulnya adalah bangkai anjing!"

Kaki yang baru melangkah lima tindak itu kembali ditahan lantas gadis itu menengok lagi, siap untuk memaki, akan tetapi lebih dahulu dia melirik ke arah kepala kijang yang berada di atas pundaknya.

"Ehhhh...?!" Dia berseru kaget dan melempar bangkai itu dari pundaknya karena memang sebenarnyalah kata-kata pemuda itu, yang dipanggulnya bukan bangkai kijang, melainkan bangkai anjing!

Matanya terbelalak menatap bangkai anjing yang menggeletak di atas tanah kemudian ia mencari-cari dengan pandang matanya. Apakah tadi dia salah pungut? Di mana bangkai kijang yang diperebutkan tadi? Sementara itu, sambil tersenyum Hay Hay lalu mengambil bangkai itu dan dipanggulnya sambil berkata,

"Kalau aku memang merobohkan seekor kijang asli!"

Dengan pandang matanya gadis itu mengikuti semua gerakan Hay Hay dan sekarang dia terbelalak kaget. Bangkai ‘anjing’ yang dilemparkannya tadi tiba-tiba saja berubah menjadi bangkai kijang yang tadi lagi sesudah kini dipanggul oleh pemuda itu!

"Hei, keparat, tunggu!" bentak gadis itu sambil meloncat dan mengejar, melampaui tubuh Hay Hay dan kini menghadang di depannya.

"Hemm, mau apa lagi? Apakah ingin meminta sebagian daging kijangku karena perutmu sudah lapar sekali seperti perutku?"

"Keparat, kembalikan kijangku!" dara itu membentak dan sikapnya siap untuk menyerang! Melihat sikap itu, Hay Hay mengalah.

"Hemm, kijangmu? Baiklah. Aneh, tadi dibuang, sesudah diambil orang lain lalu ribut-ribut dan memintanya kembali."

"Habis, tadi kulihat seperti...," dia menahan kata-kata berikutnya, lalu melanjutkan ketus, "Biar saja! Mau kubuang, mau kuambil, mau kuapakan juga, sesuka hatiku karena kijang itu memang milikku. Kau mau apa?!"

Hay Hay menarik napas panjang akan tetapi tetap tersenyum. Dilepaskan bangkai itu dari pundaknya dan gadis itu pun menyambar kaki kijang lantas dipanggulnya lagi, siap untuk cepat-cepat pergi dari situ.

Akan tetapi Hay Hay segera berkata, kembali mengerahkan kekuatan sihirnya, "Sungguh aneh sekali. Gadis yang cantiknya seperti dewi kahyangan sekarang memanggul bangkai seekor ular besar! Apakah dia doyan daging ular?"

Gadis itu tadinya tidak mau peduli, akan tetapi begitu dia melihat bangkai di pundaknya, wajahnya berubah agak pucat. Kini bukan anjing atau kijang yang dilihatnya, melainkan kepala seekor ular yang besar! Dan tubuh bangkai itu pun tubuh ular yang panjang dan besar, melingkar-lingkar di atas pundaknya, terasa dingin dan licin. Sungguh menjijikkan! Akan tetapi agaknya gadis itu kini mengeraskan hatinya, bahkan mulutnya menyuarakan isi hatinya.

"Aku tak peduli, biar bangkai kijang atau bangkai anjing, bangkai ular, gajah atau bangkai setan sekali pun!"

Agaknya dia mengeraskan hatinya untuk mengusir rasa ngeri yang memenuhi hatinya lalu dia pun melangkah lagi untuk cepat meninggalkan pemuda itu, dan setelah tidak nampak lagi, tentu dia akan cepat membuang jauh-jauh bangkai ular yang menjijikkan itu!

Melihat ini Hay Hay tersenyum dan kagumlah dia akan kekerasan hati gadis itu. Seorang gadis yang luar biasa menarik dalam pandangannya, usianya tak akan lebih dari delapan belas tahun, gagah dan galak tapi wajahnya manis bukan main, terutama sekali mulutnya.

Mulut itu selalu terlihat manis, baik sedang cemberut, marah atau pun sedang terkejut dan ketakutan. Dan hidung yang kecil mancung itu, cuping hidungnya yang tipis itu laksana bergerak-gerak, lucu bukan main dan kerling matanya dapat meruntuhkan hati lelaki yang bagaimana pun alimnya! Gadis yang hebat! Yang memiliki daya tarik yang istimewa dan lain lagi dari pada gadis-gadis yang pernah ditemuinya.

Dan melihat betapa dengan sekali sambit saja gadis itu dapat mengenai kepala kijang, di antara kedua matanya, maka mudah diduga bahwa gadis ini pun tentu memiliki ilmu silat yang cukup lihai. Cara dia mengangkat dan memanggul kijang itu saja telah membuktikan pula akan kekuatannya.

"Wah, hati-hati, Nona, ular itu masih hidup! Dan ular yang kepalanya seperti itu gigitannya membahayakan sekali, mengandung racun!" Tiba-tiba Hay Hay berseru keras.

Sesungguhnya gadis itu sudah merasa jijik dan ngeri sekali dan dia sudah mengerahkan tenaganya untuk berlari cepat. Baru saja dia hendak berhenti dan membuang bangkai ular itu, tiba-tiba saja dia mendengar suara pemuda itu tepat di belakangnya!

Peringatan itu membuat dia terkejut setengah mati dan rasa jijik ngerinya bertambah. Apa lagi saat dia mengerling dan melihat betapa kepala ular yang tadinya terkulai mati itu kini sudah terangkat dan mulutnya ternganga lebar seperti hendak mencaplok kepalanya! Dan tubuh ular itu pun menggeliat-geliat di atas pundaknya, mengelus lehernya mendatangkan rasa dingin yang menjijikkan.

"Ihhh...!" Ia menjerit dan tentu saja dia cepat membuang bangkai ular yang tiba-tiba hidup kembali itu ke atas tanah dan dia pun melompat ke belakang dengan muka pucat.

Ketika dia berlari cepat tadi, Hay Hay semakin kagum. Ternyata gadis itu mempunyai ilmu berlari cepat yang cukup hebat sehingga dia sendiri pun payah mengejarnya dan hampir tertinggal. Maka tadi dia pun cepat meneriakkan kata-kata yang mengandung sihir.

Saking kaget dan jijiknya, gadis itu sampai tak ingat betapa pemuda yang menjengkelkan itu ternyata mampu mengejarnya. Dengan kedua mata terbelalak saking jijik dan ngerinya, dia memandang ular besar yang kini bergerak-gerak di atas tanah.

"Kalau engkau tidak menghendakinya, biarlah aku yang akan membawanya pergi karena memang kijang ini hakku, Nona!" kata pemuda itu.

Tiba-tiba saja gadis itu melihat bahwa ‘ular hidup’ itu bukan lain adalah bangkai kijang tadi yang sekarang dipanggul oleh pemuda itu di atas punggung dan tengkuknya. Dua tangan pemuda itu masing-masing memegang dua kaki depan dan kaki belakang bangkai kijang. Kini pemuda itu sudah melompat dan melarikan diri.

Gadis itu membanting kaki kanannya lantas secepat kilat dia pun mengejar. Ginkang-nya (ilmu meringankan tubuh) memang hebat, maka sebentar saja dia sudah dapat menyusul Hay Hay dan melewati tubuh pemuda itu, menghadang sambil berteriak.

"Berhenti dulu kamu!"

Hay Hay masih tetap tersenyum. "Eh, engkau lagi, Nona? Ada apa lagi? Apakah akhirnya engkau hendak menuntut bagian, yaitu separuh dari daging kijang yang memang menjadi hakmu ini? Aku suka menyerahkan dengan senang hati dan..."

"Cukup!" Gadis itu membentak lagi dan kini untuk kesekian kalinya, telunjuk tangan kirinya menuding, hampir menyentuh hidung Hay Hay yang cepat melangkah mundur selangkah. "Ternyata engkau adalah iblis, tukang sihir, dukun lepus, penipu dengan permainan sulap! Manusia iblis seperti engkau ini berbahaya sekali bagi masyarakat kalau dibiarkan hidup dan aku akan membasmi dan membunuhmu!"

Berkata demikian, secepat kilat gadis itu menyerang dengan tangan kiri yang menyambar ke arah dada Hay Hay dan sekali ini, benar-benar pemuda itu terkejut bukan main melihat betapa pukulan itu amat hebatnya. Bercuitan suara pukulan itu dan mendatangkan hawa pukulan yang sangat kuat, juga sangat cepatnya sehingga hampir saja tak ada waktu lagi baginya untuk menangkis. Terpaksa dia melempar tubuhnya ke belakang, lalu berjungkir balik.

"Crakkk...!"

Perut bangkai kijang yang berada di punggungnya itu terobek oleh cengkeraman tangan gadis itu! Hay Hay semakin kaget dan cepat melepaskan bangkai kijang lalu memandang dengan mata terbelalak.

Kiranya walau pun sudah dapat dia hindarkan, pukulan itu berubah menjadi cengkeraman dan mungkin saja punggung atau tengkuknya akan termakan cengkeraman jika tidak ada perisai istimewa berupa perut kijang itu! Perut itu terobek dan isi perutnya terburai! Bukan main hebatnya serangan gadis ini, pikirnya dan untuk sesaat dia terpukau.

Tentu saja gadis ini amat hebat dan lihai, dan Hay Hay tentu akan lebih terkejut lagi kalau mengetahui siapa dia. Gadis ini bukan lain adalah Cia Kui Hong, puteri ketua Cin-ling-pai dan cucu Pendekar Sadis!

Cia Kui Hong bukan saja memperoleh pendidikan ilmu silat dari ayah dan ibunya yang merupakan sepasang pendekar terkenal dan pernah menggegerkan dunia persilatan dua puluh tahun yang lalu, akan tetapi bahkan selama tiga tahun dia digembleng oleh kakek dan neneknya. Kalau ayahnya dan ibunya yang bukan lain adalah Cia Hui Song dan Ceng Sui Cin sudah lihai, kakek dan neneknya lebih lihai dan lebih terkenal lagi.

Kakeknya adalah Pendekar Sadis Ceng Thian Sin, ada pun neneknya tidak kalah lihainya, yaitu nenek Toan Kim Hong yang pernah menjadi ‘datuk’ kaum sesat dengan julukan Lam Sin. Sesudah selama tiga tahun digembleng oleh kakek dan neneknya, ilmu kepandaian Kui Hong tentu saja meningkat dengan pesat dan kini dia menjadi seorang gadis berusia delapan belas tahun yang sangat lihai, gagah perkasa, galak sekaligus manis, juga agak ugal-ugalan!

"Wah-wah-wah, tobat, nanti dulu, Nona...!" kata Hay Hay ketika melihat gadis itu kembali menerjangnya dengan hantaman yang lebih hebat dari tadi.

Melihat betapa pemuda yang menjengkelkan hatinya itu tadi dapat menghindarkan dirinya dari satu jurus Ilmu Silat Hok-mo Sin-kun (Silat Sakti Penaluk Iblis) yang digunakannya, kini Kui Hong maklum bahwa pemuda itu pun bukan orang sembarangan, maka dia cepat menyerang lagi dan kini dia sengaja mengeluarkan ilmu silat yang paling rumit dan sukar ketika dia pelajari dari kakeknya.

Ilmu silat itu adalah Hok-liong Sin-ciang yang hanya terdiri delapan jurus, namun delapan jurus yang teramat hebat dan sulit dilawan karena merupakan jurus-jurus pilihan yang luar biasa. Juga di dalam ilmu silat ini dipergunakan sinkang yang amat kuat.

Sebenarnya Ilmu Silat Hok-liong Sin-ciang (Silat Sakti Penaluk Naga) ini khusus menjadi ilmu simpanan Pendekar Sadis Ceng Thian Sin, akan tetapi karena sayangnya terhadap cucunya, dia lalu mengajarkannya kepada cucunya walau pun tidak mudah bagi Kui Hong untuk menguasainya. Biar pun dia belum sempurna menguasai ilmu silat itu, tetapi sudah cukup dahsyat kalau dipergunakan.

"Wuuuutttt...!"

Angin kuat menyambar ketika gadis yang tadinya membuat gerakan merendahkan tubuh sampai berjongkok itu tiba-tiba saja menerjang ke arah Hay Hay dengan pukulan kedua tangannya, didorongkan sambil mulutnya mengeluarkan bentakan yang melengking.

"Haiiiiittt...!"

Hay Hay melihat dan mengenal pukulan dahsyat. Karena dia pun mempunyai watak yang ugal-ugalan serta senang sekali menguji kepandaian dan tenaga orang lain, maka sambil tersenyum dia pun mendorongkan kedua tangan menyambut pukulan itu.

"'Dessss...!"

Dua kekuatan yang sama dahsyatnya bertemu di udara dan akibatnya, tubuh Hay Hay terdorong hebat sehingga dia harus melangkah mundur sampai lima langkah. Akan tetapi di lain pihak, Kui Hong tidak dapat menahan kekuatan dorongan yang demikian hebatnya, yang membuat tenaganya membalik hingga tubuhnya terdorong ke belakang sampai dia terjengkang dan terpaksa dia harus bergulingan agar tidak terbanting hebat!

Akan tetapi dia tadi sempat mengerahkan sinkang-nya sehingga tidak sampai terluka oleh tenaganya sendiri yang membalik, dan sesudah tubuhnya menabrak batang pohon, baru dia berhenti bergulingan lalu meloncat berdiri dengan muka berubah pucat, lalu berubah pula menjadi merah sekali. Mukanya merah karena dia menjadi marah dan juga malu!

Menurut kakeknya, pukulan dengan Ilmu Hok-liong Sin-ciang itu sangat hebatnya, jarang ada orang yang mampu menahannya. Apa bila pemuda ini dapat menahannya, maka hal itu hanya berarti bahwa lawannya ini mempunyai tingkat kepandaian yang jauh lebih tinggi darinya.

Sementara itu, ketika melihat gadis itu bergulingan sampai menabrak batang pohon, Hay Hay terkejut bukan main dan merasa menyesal. Dia meloncat dengan gerakan ringan ke depan gadis itu, senyumnya lenyap terganti kekhawatiran.

“Ah, harap engkau suka memaafkan aku, Nona. Aku benar-benar tidak sengaja dan tidak bermaksud untuk mencelakakan dirimu. Apakah engkau terluka, Nona?"

Sikap baik dari Hay Hay ini membuat Kui Hong menjadi makin marah. Dia merasa diejek dan perutnya terasa panas bukan kepalang. "Manusia iblis, kau kira aku sudah mengaku kalah?" Berkata demikian, dia pun menerjang kembali dan sekali ini, biar pun pukulannya tidak sedahsyat tadi, namun gerakannya jauh lebih cepat dari pada tadi.

Memang Kui Hong maklum bahwa mempergunakan tenaga sakti dan mengandalkan ilmu silat yang keras tidak akan menolongnya karena ternyata lawannya memiliki tenaga yang lebih kuat. Maka dia pun menyerang dengan mengandalkan ginkang-nya. Gadis ini sudah menguasai ilmu meringankan tubuh yang disebut Bu-eng Hui-teng (Lari Terbang Tanpa Bayangan) yang dipelajarinya dari ibunya lalu disempurnakan oleh gemblengan neneknya yang memiliki ginkang lebih hebat lagi.

Dan untuk lebih memperhebat ginkang-nya, dia memilih ilmu silat yang paling cepat, yang dipelajarinya dari kakeknya, yaitu Ilmu silat Pat-hong Sin-kun (Silat Sakti Delapan Penjuru Angin). Gerakannya demikian cepat sehingga tubuhnya berkelebatan, lenyap bentuknya berubah menjadi bayangan yang sukar diikuti oleh pandang mata.

"Ihhh, engkau memang lihai sekali, Nona!" kata Hay Hay dan dia pun kini menjadi lega karena jelas bahwa benturan tenaga tadi tidak membuat gadis itu terluka sama sekali! Dia menjadi semakin kagum.

Gadis ini lihai ilmu silatnya, kuat sinkang-nya dan hebat pula ginkang-nya. Kiranya hanya Kok Hui Lian saja yang akan mampu menandingi gadis hebat ini, pikirnya. Melihat betapa gadis itu kini mempergunakan ilmu silat yang luar biasa cepatnya, dia pun melayaninya dengan gerakan cepat.

Akan tetapi diam-diam dia merasa menyesal dan khawatir karena melihat betapa gadis itu bersungguh-sungguh dalam penyerangannya dan agaknya gadis itu sudah marah bukan main. Kiranya akan sukarlah menundukkan gadis yang keras hati ini dengan sikap manis, maka dia pun mengalah dan hanya mengelak ke sana-sini sambil berloncatan dan tidak pernah membalas.

Akan tetapi, biar pun Hay Hay sengaja mengalah agar gadis itu menyadari sendiri bahwa dia tidak ingin bermusuhan, ternyata diterima dengan keliru pula oleh Kui Hong. Karena Hay Hay sama sekali tidak mau membalas, hanya mengelak dengan amat cepatnya dan kadang-kadang menangkis dengan tenaga lunak, maka dia pun menganggap bahwa hal itu membuktikan bahwa lawannya ini sangat memandang rendah kepadanya dan sedang mempermainkannya!

Tapi diam-diam dia pun terkejut bukan main karena baru sekarang dia tahu benar betapa tingginya ilmu kepandaian orang ini. Benar kata kakeknya. Siapa yang mampu menahan pukulan dari Ilmu Silat Hok-mo Sin-kun tentu mempunyai kepandaian yang lebih tinggi darinya.

Akan tetapi bukan watak Kui Hong untuk merasa jeri dan mau mengaku kalah! Dia malah memperhebat serangannya, mengerahkan seluruh kepandaian serta tenaganya sehingga dia berhasil mendesak Hay Hay yang sama sekali tidak mau membalas itu.

Menghadapi seorang cucu Pendekar Sadis yang sedang marah, yang menyerang dirinya secara bertubi-tubi tanpa membalas sama sekali, biar Hay Hay memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi lagi, tentu akan berbahaya dan terdesak. Tidak mungkin mengandalkan pengelakan dan tangkisan belaka untuk membendung serangan yang datang bertubi-tubi seperti gelombang samudera yang sedang mengamuk itu.

Kini Hay Hay mulai merasa bingung. Dia tidak mau mempergunakan ilmu sihir lagi karena akibatnya tentu akan membuat gadis itu semakin marah dan benci kepadanya. Amukan gadis ini pun karena tadi dia mempergunakan sihir sehingga dia dimaki sebagai manusia iblis dan dukun lepus!

"Haiii, Nona, tahan dahulu! Aku sama sekali tidak ingin bermusuhan denganmu!" teriaknya berkali-kali.

Akan tetapi agaknya Kui Hong sudah menulikan telinganya dan tidak sudi mendengarkan omongannya lagi, bahkan menyerang terus walau pun sekarang leher dan dahinya telah berkeringat, dan napasnya telah agak memburu karena sejak tadi dia menyerang dengan sepenuh tenaga dan selalu mengerahkan ginkang-nya.

"Nona yang baik, ambillah kijang itu, aku tidak mendapat bagian pun tak mengapa!" teriak pula Hay Hay menjadi semakin bingung.

Apa bila dilanjutkan, akhirnya dia akan terpukul dan celaka, atau nona itu akan kehabisan napas dan tenaga, dan hal ini juga amat membahayakan gadis yang nekat itu. Maka dia pun melompat lagi lantas melarikan diri ke arah puncak bukit! Akan tetapi Kui Hong juga mengerahkan ilmu berlari cepatnya dan melakukan pengejaran dengan amat nekat.

Celaka, pikir Hay Hay. Gadis itu justru memiliki ilmu berlari cepat yang sangat hebat. Dia pun mengerahkan tenaganya dengan harapan bahwa kalau dia sudah lebih dulu melewati puncak bukit, dia akan menemukan hutan yang lebat di sebelah sana sehingga dia akan dapat bersembunyi. Bagaimana pun juga, gadis ini sudah lelah dan tentu dia akan mampu mendahuluinya sampai ke puncak bukit di atas itu.

Perhitungan Hay Hay tadi memang benar. Ketika dia mengerahkan tenaga mempercepat larinya, Kui Hong agak tertinggal. Gadis itu sudah merasa lelah sekali, akan tetapi dengan nekat dia berusaha mengejar dan menyusul. Hatinya gemas bukan main kepada pemuda yang telah mempermainkannya seenak perutnya sendiri itu. Dia harus bisa menghajarnya sampai pemuda itu minta-minta ampun!

Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Hay Hay sesudah dia tiba di puncak bukit itu. Ternyata di sebelah sananya bukan terdapat hutan, bahkan tidak ada jalan turun karena di sebelah sana yang ada hanya jurang yang amat curam! Tebing yang tegak lurus, yang memisahkan puncak itu dengan daratan di bagian lain bukit itu selebar kurang lebih dua ratus meter. Jurang itu tidak mungkin dilompati, kecuali kalau dia pandai terbang. Dan dia bukan burung!

Sementara itu Kui Hong sudah berhasil menyusulnya dan meski pun napas gadis itu kini sudah terengah-engah, tetap saja Kui Hong menyerangnya lagi dengan dahsyat.

"Cukuplah, Nona, biarlah aku mengaku kalah dan salah!" berkata Hay Hay yang merasa terjebak dan tidak mampu lari mengelak lagi.

Akan tetapi tanpa menjawab, dengan napas mendengus-dengus, Kui Hong telah kembali menyerangnya dengan cengkeraman ke arah kepalanya. Terpaksa Hay Hay menangkap pergelangan tangan itu dengan maksud untuk menundukkan dengan kepandaiannya.

Akan tetapi tiba-tiba saja gadis itu menggerakkan kepalanya sehingga rambutnya terlepas dari gelungnya. Rambut yang hitam panjang dan harum itu kini menyambar ke arah muka dan pundak kanan Hay Hay, mengeluarkan suara bersiut seperti serangan cambuk saja.

Bukan main! Gadis ini pandai mempergunakan rambut sebagai senjata! Memang benar, Kui Hong telah mempelajari ilmu mempergunakan rambut ini dari neneknya! Dan jangan dikira rambut itu tidak berbahaya! Lecutannya seperti sebatang cambuk dan kalau sampai mengenai muka, terutama mata, maka dapat mencelakai lawan!

Menghadapi lecutan rambut ini, terpaksa Hay Hay harus melepaskan pegangannya dan meloncat ke belakang, akan tetapi pada saat itu, tangan kiri Kui Hong bergerak dan sinar merah menyambar ke arah tubuh Hay Hay. Pemuda ini cepat menggerakkan tangannya untuk menangkis senjata rahasia itu dengan angin pukulannya sehingga beberapa batang jarum merah itu pun runtuh.

Hay Hay semakin kaget. Jarum-jarum merah itu tentu mengandung racun. Memang itulah Ang-tok-ciam (Jarum Racun Merah) yang dipelajari oleh Kui Hong dari neneknya. Dengan diam-diam gadis itu pun kagum melihat betapa pemuda itu mampu meruntuhkan jarum-jarumnya hanya dengan hawa pukulan tangannya. Akan tetapi hal ini malah membuat dia merasa penasaran sekali dan kini dia maju lagi sambil mendesak lawan dengan ilmu silat yang nampaknya halus dan lemah.

Melihat pukulan lemah itu, Hay Hay merasa heran sekali. Apakah akhirnya gadis ini sudah kehabisan tenaganya setelah menyerangnya dengan rambut dan kemudian jarum merah? Dia mencoba untuk menangkis pukulan lemah itu, untuk mengukur apakah benar gadis itu sudah kehabisan tenaga.

"Plakkk...!"

Dan Hay Hay terkejut bukan main. Lengannya bertemu dengan telapak tangan yang halus dan lunak sekali. Itulah Bian-kun (Silat Tangan Kapas) yang memang nampaknya lunak saja, namun begitu halusnya sehingga tenaga sinkang dan kekerasan pihak lawan akan luluh seperti batu dilempar pada permukaan telaga saja!

Ketika merasa betapa tenaganya luluh, Hay Hay maklum bahwa gadis ini murid seorang yang amat sakti. Itulah puncak dari ilmu silat, yang selalu mendasarkan kepada pegangan pokok bahwa dengan kelembutan mengalahkan kekerasan! Dia cepat-cepat meloncat lagi ke belakang.

Akan tetapi tangan yang halus lunak itu telah memegang lengannya sehingga pada waktu Hay Hay melompat ke belakang dengan sepenuh tenaga, tubuh Kui Hong turut terbawa pula. Dan karena Hay Hay terlalu tegang menghadapi serangan-serangan maut tadi, dia menjadi lengah, tak melihat ke mana dia melompat, tidak tahu bahwa lompatannya kali ini membuat tubuhnya dan tubuh Kui Hong melayang melampaui tepi tebing sehingga tanpa dapat dicegah lagi, mereka terjun melayang ke dalam jurang yang amat curam itu!

"Ihhhh...!" Saking kagetnya Kui Hong melepaskan lengan Hay Hay dan dia melihat betapa tubuh mereka melayang ke bawah dengan cepatnya. Matikah aku sekali ini, pikirnya.

Akan tetapi dia adalah seorang gadis gemblengan yang tidak pernah gentar menghadapi kematian. Karena dia tidak melihat jalan keluar untuk dapat menyelamatkan dirinya, maka dara ini pun pasrah, menyerahkan jiwa raganya ke tangan Tuhan. Dia tidak memejamkan mata, bahkan membuka kedua matanya lebar-lebar, seakan-akan dia hendak menyambut datangnya maut dalam keadaan sadar sepenuhnya dan dengan mata terbuka!

Hay Hay terkejut bukan main. Akan tetapi seperti Kui Hong, dia pun tidak merasa takut, malah dia membuka mata dan bersiap untuk setiap kemungkinan menyelamatkan dirinya. Setelah Kui Hong melepaskan pegangan pada pergelangan tangannya, luncuran tubuhnya ke bawah tidaklah begitu cepat lagi seperti ketika masih dibebani dengan tubuh Kui Hong, akan tetapi bagaimana pun juga, masih lebih cepat dari pada Kui Hong karena tentu saja berat tubuhnya lebih banyak dibandingkan gadis itu.

Ketika dia melihat sebatang pohon yang secara aneh tumbuh di tebing sebelah bawah, menonjol keluar atau seperti tumbuh agak miring, Hay Hay lalu mengayun tubuhnya agar luncuran tubuhnya mendekati tebing. Hal ini amat berbahaya karena kalau sampai tubuh itu menyerempet batu yang runcing dan tajam, tentu kulitnya akan terobek, bahkan dapat mengoyak tubuhnya dan membunuhnya sebelum tubuhnya hancur lebur menimpa dasar jurang di mana sudah menanti batu-batu yang keras dan keras.

Hidup dan mati merupakan suatu rangkaian, suatu proses, suatu rahasia besar yang tak dikuasai dan juga tak dimengerti manusia. Kita hanya tinggal menerima saja. Jangankan mati, hidup pun manusia tidak dapat menguasai diri sendiri.

Berdetaknya jantung, pertumbuhan badan, rambut dan kuku dan seluruh anggota tubuh, sama sekali terjadi di luar kekuasaan kita! Kita ini diadakan dan hanya menerima apa adanya saja! Ketika kita lahir, dijadikan apa pun, laki-laki atau wanita, dilahirkan oleh ibu yang mana pun, keluarga kaya atau miskin, berkedudukan tinggi atau rakyat biasa, kita dilahirkan dengan tubuh dan wajah yang dianggap oleh umum bagus atau tidak, semua itu terjadi di luar kehendak dan kekuasaan kita.

Kita ini diadakan, dan ada yang mengadakan, melalui orang tua kita sebagai proses kelahiran manusia baru. Kita tidak menguasai diri kita sendiri, baik hidupnya mau pun matinya! Kita diadakan oleh Yang Maha Pencipta, dan kita ditiadakan melalui kematian oleh Dia pula!

Kalau Dia masih menghendaki kita hidup, biar dikelilingi seribu macam ancaman bahaya, dengan satu dan lain cara kita akan terlepas dan selamat. Namun sebaliknya, kalau Dia menghendaki mati, meski kita bersembunyi di dalam benteng baja atau ke dalam lubang semut sekali pun, tetap saja maut akan datang menjemput! Paham, kan.....?



Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner