PENDEKAR MATA KERANJANG : JILID-65


Begitu pula dengan Hay Hay. Jelaslah bahwa Yang Maha Pencipta masih menghendaki dia hidup sehingga meski pun tubuhnya sudah meluncur dari ketinggian yang mengerikan dan menurut perhitungan akal manusia sudah wajarlah apa bila dia binasa dengan tubuh hancur di dasar jurang yang curam itu, namun secara ‘kebetulan’ sekali, di tengah tebing itu ada sebuah pohon yang tumbuh menonjol dan ‘kebetulan’ pula Hay Hay melihatnya.

Kemudian, ‘kebetulan’ ke tiga adalah bahwa pemuda ini mempunyai ilmu kepandaian silat yang tinggi sehingga memungkinkan dia untuk dapat meraih cabang pohon yang mencuat sehingga tubuhnya yang meluncur itu tertahan. Andai kata tidak ada kebetulan pertama, ke dua atau ke tiga itu, sudah tentu riwayat Hay Hay akan tamat!

Begitu tubuhnya tertahan, Hay Hay teringat kepada gadis itu dan melihat betapa tubuh gadis itu pun meluncur ke bawah, tidak jauh di atasnya, cepat dia menjulurkan kakinya ke depan, ke arah yang akan dilalui tubuh gadis itu dalam luncurannya.

"Cepat tangkap kakiku!" teriak Hay Hay sekuat tenaga.

Agaknya Kui Hong melihat dan mendengar pula semua itu, atau lebih tepat lagi, agaknya Tuhan masih menghendaki dia hidup. Maka cepat Kui Hong menjulurkan tangannya dan dia pun berhasil memeluk sebatang kaki yang dijulurkan itu.

Sentakan ketika tubuh Kui Hong tertahan merupakan sentakan yang amat kuat dan kalau bukan Hay Hay yang memiliki kaki itu, di mana dia telah mengerahkan sinkang-nya, tentu kaki itu akan copot sambungan tulangnya, atau pegangan tangan Hay Hay pada batang pohon itu akan terlepas!

Demikianlah, pemuda dan gadis itu kini bergantungan di cabang pohon itu, dan di bawah mereka, maut menganga lebar dan siap menelan tubuh mereka. Hay Hay memperhatikan keadaan mereka, memperhatikan pohon yang ternyata cabangnya cukup kuat menahan tubuh mereka berdua. Akan tetapi perhatiannya yang sedang melakukan penyelidikan itu terganggu oleh suara omelan Kui Hong yang bergantung pada betis dan pegangan kaki kirinya.

"Hemmm, kini nyawamu berada di tanganku," kata gadis itu, agaknya kemarahannya kini bangkit kembali sesudah melihat bahwa mereka selamat biar pun hanya untuk sementara waktu. "Sekali aku menggerakkan tangan, engkau akan mampus!"

Hay Hay tersenyum. Pemuda ini memang luar biasa sekali. Dalam keadaan seperti itu dia masih mampu tertawa dan tidak kehilangan kegembiraan dan watak jenakanya. Alangkah bahagianya orang seperti Hay Hay ini yang memandang segala hal dan segala keadaan dari sudut yang menggembirakan dan cerah selalu.

Apakah sukarnya untuk dapat hidup seperti Hay Hay ini? Syaratnya, kalau mau disebut syarat, hanya satu, yakni pikiran tidak mengada-ada, tidak sarat oleh keinginan-keinginan akan hal-hal yang tidak ada! Berarti menerima segala sesuatu seperti apa adanya, setiap saat. Dengan demikian takkan pernah ada kekecewaan, takkan pernah mengeluh, sebab memang tidak mengharapkan hal-hal yang tidak ada. Hanya orang yang mengharapkan sesuatu yang tidak ada sajalah yang akan kecewa kalau kemudian yang diharapkannya itu tidak terjadi.

"Ha-ha-ha, Nona manis. Agaknya engkau lupa diri. Kalau aku kau bunuh, tentu tanganku akan terlepas dari cabang ini dan kau sangka engkau akan dapat selamat kalau bersama mayatku meluncur ke bawah sana itu?"

Agaknya Kui Hong baru teringat mengenai hal ini karena tadi kemarahan telah memenuhi hatinya. Dia marah bukan hanya karena teringat tentang perebutan kijang, bukan hanya karena berkali-kali dia merasa dipermainkan bahkan setelah bertanding dia tidak mampu mengalahkan pemuda itu, tapi dia marah terutama karena mengingat bahwa kecelakaan ini adalah karena ulah pemuda itu! Kalau pemuda itu tidak melompat ke jurang, tentu dia pun tidak akan terbawa!

Kini, mendengar ucapan itu, dia tidak mampu menjawab dan otomatis matanya melirik ke bawah. Ia menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara jeritan ketika melihat bawah yang demikian jauhnya. Kalau sampai terjatuh, tentu tubuhnya akan remuk!

Meski pun mulutnya tidak mengatakan sesuatu, akan tetapi pelukannya pada kaki kiri Hay Hay itu dipererat dan hal ini terasa oleh Hay Hay yang senyumnya menjadi semakin lebar. Memang dia amat nakal dan ugal-ugalan, bukan saja suka sekali melihat keindahan dan kecantikan wanita, suka memuji-muji mereka, akan tetapi dia pun suka menggoda!

"Nona, apa bila aku mau, tentu kaki kananku ini dapat menendangmu, menendang kedua tanganmu yang merangkul kaki kiriku, lantas engkau akan terlepas dan jatuh. Akan tetapi jangan khawatir, aku tak sekejam dan seganas engkau yang haus darah ingin membunuh orang. Sayang kalau seorang gadis secantik engkau sampai mati di bawah sana."

Kui Hong merasa betapa mukanya panas dan dia tahu bahwa wajahnya berubah merah sampai ke telinganya. Untunglah bahwa dia berada di bawah dan pemuda di atasnya itu tidak dapat melihat mukanya yang ditundukkan.

"Sudahlah, tutup mulutmu dan kita pikirkan bagaimana agar dapat terlepas dari keadaan berbahaya ini!" Akhirnya dia berkata sambil bersungut-sungut.

Semenjak tadi Hay Hay telah mempelajari keadaan mereka. Pohon itu tumbuh keluar dari celah-celah batu menonjol keluar dan agaknya cukup kuat tertanam dan terbelit di antara batu-batu bukit itu. Dia dapat saja merayap ke batang pohon, akan tetapi percuma saja karena permukaan tebing di sekeliling pohon itu rata. Dan ketika dia memandang ke atas, ternyata mereka tadi terjatuh dari tempat yang sangat tinggi. Mendaki ke atas merupakan hal yang tidak mungkin sama sekali melihat betapa permukaan tebing itu rata dan licin, tiada tempat untuk berpijak dan berpegang sama sekali.

"Naikkanlah kakimu agar aku dapat meraih cabang itu!" Kui Hong berkata lagi.

Tentu saja dia dapat merayap naik melalui tubuh pemuda itu, akan tetapi hal ini tidak akan dilakukannya karena dia merasa malu. Apa bila dia merayap naik melalui tubuhnya maka seolah-olah dia meraba-raba seluruh tubuh pemuda itu!

"Dan sesudah engkau duduk di atas cabang ini, engkau langsung menyerangku agar aku terjatuh, begitukah?" Hay Hay bertanya. "Berjanjilah lebih dahulu bahwa engkau tak akan menyerangku, baru aku mau menaikkan kakiku."

Kui Hong menjadi semakin gemas. Akan tetapi dia pun teringat betapa dia telah bersikap terlampau galak. Ia harus mengakui bahwa memang di tengkuk kepala kijang itu terdapat luka bekas sambitan. Tidak dapat disangkal bahwa agaknya mereka berdua merobohkan kijang itu pada saat yang sama. Pemuda ini tak bersalah. Akan tetapi sikapnya itu seperti mempermainkan, itulah yang membuat dia marah. Dan pemuda itu tukang sihir pula! Dia bergidik.

"Baiklah, aku berjanji tidak akan menyerangmu, asal engkau tidak mempergunakan ilmu hitammu itu!"

Hay Hay tertawa. "Terima kasih, aku pun berjanji tidak akan main-main dengan ilmu sihir. Namaku Hay Hay, dan siapakah engkau, Nona?"

Kui Hong mengerutkan sepasang alisnya. Kurang ajar, pikirnya. Pemuda itu memerasnya! Menggunakan keunggulannya karena kakinya dijadikan tempat bergantung dan mengajak berkenalan. Akan tetapi apa salahnya? Saling mengenal nama lebih baik dari pada asing sama sekali padahal mereka ini sedang menghadapi bahaya maut bersama-sama. Dan pemuda itu sudah memperkenalkan namanya. Hay Hay. Nama yang aneh karena tanpa nama keturunan.

"Namaku Kui Hong," katanya kemudian, juga hanya memperkenalkan namanya tanpa she (nama keturunan).

"Kui Hong... Kui Hong... ahh, nama yang indah dan manis, seperti pemiliknya..." Hay Hay memuji.

Apa bila pemuda ini memuji, maka dia memuji dari lubuk hatinya, bukan sekedar memuji untuk merayu atau mengambil hati. Tidak, Hay Hay tak pernah ingin mengambil hati atau merayu. Justru karena dia menyukai keindahan maka dia memuji berdasarkan apa yang dirasakannya, dan karena itu seperti orang merayu!

"Sudahlah, tutup mulutmu dan angkat kakimu supaya aku dapat naik ke cabang itu!" Kui Hong membentak, akan tetapi jantungnya berdebar aneh, seperti merasa gembira sekali oleh pujian itu.

Hay Hay lalu mengangkat kaki kirinya naik dan gadis itu segera meraih cabang pohon di sebelah, lalu melepaskan kaki Hay Hay dan kini dia sudah duduk di atas cabang pohon, berhadapan dengan Hay Hay yang memandangnya sambil tersenyum.

Untung ada pohon ini yang menyelamatkan nyawa kita, Nona Kui," kata Hay Hay, kini sikapnya hormat karena dia melihat api kemarahan masih bernyala di dalam kedua mata gadis itu.

Mendengar sebutan itu, Kui Hong merasa lucu dan dia pun tersenyum. Lenyaplah semua kegalakannya dalam senyum itu sehingga Hay Hay terpesona.

"Aih, Nona Kui. Mengapa engkau tidak mau memperbanyak senyummu itu? Bukan main! Senyummu membuat aku lupa bahwa aku terjebak di mulut maut ini!"

Senyum ini lenyap seketika. "Hemm, sudahlah, engkau sungguh memualkan perutku!"

Hay Hay membelalakkan matanya. "Memualkan perutmu? Wah aneh! Akan tetapi biarlah, hanya aku ingin sekali tahu apa yang menyebabkan engkau tersenyum tadi, Nona Kui? Bukankah benar kataku bahwa pohon ini menyelamatkan nyawa kita?"

"Ada beberapa hal yang membuatku geli dan ingin tersenyum," kata Kui Hong. "Pertama, karena engkau menyebutku Nona Kui seolah-olah aku she Kui. Padahal, Kui Hong adalah namaku, dan Kui bukan nama keturunan keluargaku."

"Aihhh, begitukah? Mengapa engkau memperkenalkan diri hanya nama saja tanpa nama keturunan?"

"Hemm, sungguh tak tahu diri? Kenapa engkau tidak mau bercermin?" Kui Hong mencela.

Hay Hay memandang wajah yang manis itu sehingga keduanya saling pandang, dan Hay Hay mengerutkan alisnya. "Aihh Nona Hong!" Dia merubah panggilannya, tidak lagi Nona Kui melainkan Nona Hong. "Jangan engkau main-main!"

"Main-main? Aku...?” Kui Hong bertanya marah. Orang ini sungguh keterlaluan, dia yang main-main kini malah mengatakan bahwa dialah yang main-main!

"Di tempat ini mana ada cermin? Bagaimana mungkin aku bercermin? Aku bukan pesolek dan..."

"Tolol!"

"Memang aku tolol, tapi mengapa..."

"Maksudku bercermin diri, bukan bercermin muka. Engkau sendiri mengaku namamu Hay Hay, tanpa menyebutkan she-mu. Tak mungkin engkau she Hay bernama Hay. Mana ada she Hay di dunia ini? Kalau engkau sendiri tidak mau menyebutkan she-mu, apakah aku perlu memperkenalkan she-ku?"

Hay Hay tersenyum dan diam-diam Kui Hong harus mengakui bahwa pemuda ini tampan dan menarik sekali, senyumnya tidak dibuat-buat dan sepasang matanya itu kadang kala mencorong seperti mata seekor naga dalam dongeng. Akan tetapi kalau teringat betapa pemuda itu pandai ilmu sihir, dia bergidik dan segera menundukkan mukanya, tak berani terlalu lama bertemu pandang.

"Ahh, kiranya engkau membalas? Baiklah, Nona Hong, meski pun selama ini aku ini tidak pernah mempergunakan she-ku, akan tetapi nama keturunanku adalah Tang, jadi nama lengkapku adalah Tang Hay. Akan tetapi sungguh mati, aku lebih suka dikenal sebagai Hay Hay saja."

"Aneh kalau ada orang ingin mengingkari nama keturunan ayahnya!" kata Kui Hong. " Aku sendiri she Cia "

"Heiiii...!"

Kui Hong sampai tersentak kaget. "Apakah engkau gila? Teriak-teriak mengejutkan orang! Ada apa sih engkau langsung berteriak ketika mendengar nama keturunanku?"

"She Cia? Aku jadi teringat kepada seorang suheng-ku. Menurut keterangan seorang di antara guru-guruku, beliau memiliki seorang murid yang juga she Cia, nama lengkapnya Cia Sun."

"Ihhhh...!"

Kini bagian Hay Hay yang tersentak kaget. "Wah, wah, hampir aku terjatuh karena kaget. Kenapa sih engkau menjerit mendengar nama suheng-ku itu? Apakah engkau mengenal dia?"

"Mengenal? Tentu saja! Dia masih keluarga kami dari Cin-ling-pai."

Hay Hay mengangguk-angguk. "Aku sudah sering mendengar akan keluarga Cin-ling-pai. Perkumpulan yang terkenal gagah perkasa. Kiranya engkau ini murid Cin-ling-pai?"

"Aku puteri ketuanya!" kata Kui Hong sambil mengangkat dada.

Kembali Hay Hay merasa kagum. Bentuk dada dan bahu wanita itu sungguh indah, ketika diangkat dada itu membusung dan nampak lekuk-lengkung yang menarik.

"Wah-wah, kalau begitu aku sudah bersikap kurang hormat. Engkau adalah puteri Ketua Cin-ling-pai, keluarga Cia yang sangat terkenal, sedangkan aku hanya seorang perantau tanpa nama, dan tentang kijang itu... maafkanlah aku, Nona. Sebetulnya bukan maksudku untuk berebutan akan tetapi..."

"Sudahlah. Mengapa kita mengobrol ke barat dan ke timur tanpa arah ini? Lebih baik kita berbicara tentang keadaan kita. Bagaimana kita dapat keluar dari sini. Apa engkau ingin hidup selamanya di pohon ini?" kata Kui Hong, sambil menatap wajah Hay Hay.

Yang ditatap tersenyum lebar sehingga Kui Hong juga tersenyum karena merasa betapa lucunya pertanyaan itu. Tentu saja tidak akan ada manusia di dunia ini yang suka hidup selamanya di pohon itu!

"Ya, aku ingin dan mau hidup selamanya di pohon ini asal bersamamu, Nona!"

Senyum Kui Hong langsung lenyap dan mukanya kembali menjadi merah, tetapi matanya mencorong dan alisnya berkerut.

"Engkau mau mempermainkan aku dan kurang ajar lagi?"

"Tidak, tidak…, mana aku berani? Maafkanlah, Nona. Aku memang suka sekali bergurau. Sudahlah, aku tidak akan bicara main-main lagi, marilah kita selidiki tempat ini. Lihat, aku tidak mungkin memanjat ke atas, permukaan tebing itu demikian licin dan rata, tidak ada celah-celah atau tempat kaki berpijak dan tangan bergantung. Untuk turun ke bawah juga tidak mungkin, dinding tebingnya sama, bahkan lebih jauh dari pada kalau naik ke atas. Akan tetapi di sana itu terdapat sebuah goa. Lihat!"

Kui Hong memandang ke bawah sebelah kanan dan benar saja, di sana nampak sebuah goa yang cukup besar, kurang lebih tiga puluh meter dari tempat mereka duduk di cabang pohon itu.

"Akan tetapi goa itu terlalu jauh, bahkan untuk ke situ pun tidak mungkin dengan merayap melalui dinding tebing yang rata dan licin itu," kata Kui Hong. "Aku dapat mencoba dengan mengerahkan sinkang sambil menggunakan dua tangan menempel dinding dan merayap ke sana. Akan tetapi apa gunanya? Kalau gagal, aku akan terjatuh ke bawah, sedangkan kalau berhasil, paling-paling hanya bertukar tempat tanpa jalan keluar, dari pohon ini ke goa itu."

"Akan tetapi, kalau kita bisa ke sana, setidaknya kita dapat bergerak lebih leluasa, dapat merebahkan diri untuk tidur, dapat pula berjalan dan berdiri, dan mungkin bisa mencari makanan di dalam goa itu. Kalau di sini? Kita hanya duduk di batang pohon dan akhirnya kita berdua akan mati kelaparan. Sayang, bangkai kijang itu tidak kita bawa! Gemuk dan muda lagi!"

Diingatkan akan kijang itu, Kui Hong membayangkan betapa lezatnya membakar daging kijang dan tanpa disengajanya, perutnya berkeruyuk.

"Nah, perut siapa yang berkeruyuk?" kata Hay Hay untuk mempertahankan suasana agar gembira.

Wajah Kui Hong berubah merah sekali. "Kau berani menghinaku dan mengatakan perutku berkeruyuk?" bentaknya marah.

"Aihhh, siapa yang mengatakan demikian, Nona? Aku tadi hanya mendengar suara perut berkeruyuk dan tidak tahu perut siapa itu yang berkeruyuk."

"Perutku tidak!" Kui Hong mempertahankan, tentu saja malu untuk mengaku.

"Lagi pula perut berkeruyuk tidak perlu memalukan, dan bukan suatu penghinaan apa bila terdengar orang. Kalau perutmu tidak berkeruyuk, tentu perutku. Nah, dengar, berkeruyuk lagi...!" Benar saja, terdengar perut Hay Hay berkeruyuk karena sejak berburu kijang, dia memang sudah merasa lapar sekali. Dan pada saat yang hampir bersamaan, perut Kui Hong berkeruyuk lagi!

"Wah, jagonya yang berkeruyuk ada dua ekor!" kata Hay Hay tertawa dan kini Kui Hong tak dapat menahan diri untuk tidak tertawa. Dia tidak merasa malu lagi karena jelas perut Hay Hay terdengar berkeruyuk lebih dulu, lebih nyaring lagi!

"Kalau tinggal di sini terus, walau pun kita kuat bertahan namun perut kita ini yang tidak akan kuat bertahan. Kita harus mencari..."

"Hay Hay, lihat...!" tiba-tiba Kui Hong berteriak sambil menuding ke arah goa.

Hay Hay tersenyum mendengar namanya dipanggil dan tentu dia akan menggodanya jika saja dia tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh dara itu. Ketika dia menoleh ke arah goa, dia melihat sebuah kepala nongol keluar dan dia terkejut.

Sebuah wajah yang sesungguhnya cantik, akan tetapi kotor sekali. Rambut yang sudah berwarna dua itu awut-awutan, disanggul sembarangan saja, dan wajah itu adalah wajah seorang nenek-nenek yang sulit ditaksir berapa usianya. Jika melihat keriput pada pipinya tentu lebih dari enam puluh tahun.

Tetapi wajah itu memang cantik, setidaknya menunjukkan dengan jelas bahwa dahulunya wanita itu tentulah seorang yang cantik sekali. Akan tetapi matanya! Mata itu merah dan liar seperti mata serigala, atau mata seekor anjing gila.

"Hik-hik-hik," nenek itu tertawa dan nampaklah bahwa mulutnya sudah tidak bergigi lagi. Pantas saja kelihatan kempot dan kisut. Andai kata nenek itu masih bergigi, tentu kedua pipinya masih halus, melihat betapa dahinya, lehernya, masih kelihatan mulus seperti dahi dan leher orang muda saja.

"Sepasang monyet muda, sasaran bagus sekali untuk latihanku, hi-hi-hik!"

Hay Hay dan Kui Hong mengamati nenek itu yang kini bagian tubuhnya yang lain nampak lebih banyak, sampai batas pinggangnya. Pakaiannya hitam dan lapuk pula, kotor sekali, akan tetapi tubuhnya padat dan ramping seperti tubuh wanita muda!

Kini mereka melihat tangan nenek itu memasukkan dua buah kerikil ke dalam mulutnya dan begitu dia meniup, dua buah kerikil yang runcing tajam karena kerikil itu pecahan dari batu keras, segera menyambar ke arah muka Hay Hay dan Kui Hong dengan kecepatan luar biasa sampai mengeluarkan suara bercuitan!

"Awas...!" Hay Hay berseru dan cepat tangannya menyambar batu itu yang hendak lewat ketika dia miringkan kepala.

Dia terkejut bukan main karena telapak tangannya terasa nyeri, tanda bahwa sambaran batu kerikil itu kuat bukan main! Kui Hong juga melihat sinar menyambar itu, dan dengan mudahnya dia miringkan kepala dan batu itu lewat dengan cepatnya di dekat kepalanya.

Hay Hay membuka kepalan tangannya. Hanya sebuah kerikil yang tajam runcing, namun bagaimana mungkin orang dapat meniupkan kerikil itu sedemikian kuatnya? Kalau nenek itu mempergunakan tangannya, dia masih tidak heran. Akan tetapi mempergunakan mulut meniup?

Kui Hong kagum juga, bukan hanya kagum kepada nenek itu yang dapat melepas kerikil sebagai senjata rahasia hanya dengan tiupan mulutnya, akan tetapi juga kagum terhadap Hay Hay yang mampu menangkap batu kecil itu ketika tadi menyambar ke arah mukanya. Dia sendiri harus mengakui bahwa dia tidak akan sanggup melakukannya, kecuali kalau sambaran batu kecil itu tidak secepat dan sekuat tadi.

Sementara itu, nenek yang melepas dua buah kerikil itu nampak terkejut dan penasaran. "Ehhh? Kaliah mampu menghindarkan tiupanku? Hemm, coba yang ini!"

Nenek itu kembali meniup dan kini ditambah dengan gerakan kedua tangannya. Kini dua buah kerikil menyambar ke arah muka dan dada Hay Hay, ada pun dua buah yang lain lagi menyambar ke arah muka dan dada Kui Hong! Dengan kecepatan dan kekuatan yang lebih besar dari pada tadi!

Kui Hong yang sudah siap siaga, tadi sudah mengerahkan tenaga dan begitu melihat dua sinar menyambar, dia telah meloncat ke atas sehingga dua buah kerikil itu lewat di bawah tubuhnya. Akan tetapi Hay Hay masih memperlihatkan kepandaiannya yang sangat hebat. Dia hanya miringkan tubuhnya dan cepat kedua tangannya berhasil menangkap dua buah kerikil itu!

"Nenek iblis jahat!" bentak Kui Hong marah. "Hay Hay, balas iblis itu, serang dia dengan kerikil-kerikil itu!"

Hay Hay menggelengkan kepalanya.

"Kalau engkau tidak mau, kesinikan kerikil-kerikil itu, biar aku yang akan menyambitnya!" Kui Hong marah bukan main namun tidak berdaya karena dari jarak sejauh itu, kalau dia menggunakan jarum-jarum merahnya, tentu hasilnya tidak akan memuaskan.

"Jangan, biarkan aku bicara dengannya."

Sementara itu, ketika melihat mereka berdua kembali dapat menghindarkan diri, apa lagi melihat betapa dua butir kerikilnya berhasil ditangkap oleh pemuda itu, nenek itu berseru. "Celaka, kalian tentu urusannya datang untuk membunuhku! Baik, akan kulihat kalau aku menghujankan kerikil beracun kepada kalian. Kalian hendak menghindar ke mana?"

Melihat nenek itu sudah bersiap hendak menyerang lagi, tentu kini lebih hebat, cepat Hay Hay mengerahkan tenaga sihirnya memandang kepada nenek itu lantas berseru nyaring, suaranya mengandung getaran yang penuh wibawa,

"Nenek yang baik, nenek yang cantik, lihatlah baik-baik. Kami bukan musuh-musuhmu, bahkan aku adalah suamimu sendiri. Lihat, apakah engkau sudah lupa kepada suamimu sendiri?"

“Apakah engkau sudah gila, Hay Hay?” Kui Hong berkata, namun gadis ini segera teringat bahwa pemuda itu memiliki ilmu kepandaian aneh, yaitu ilmu sihir, maka dia pun menutup mulutnya, dapat menduga bahwa sekarang pemuda itu tentu sedang menggunakan ilmu sihirnya untuk mempengaruhi nenek itu.

Ia melihat betapa nenek itu terpukau sejenak, lalu matanya memandang kepada Hay Hay, nampak terkejut, heran, seperti tidak percaya dan mengusap-usap kedua matanya sendiri dengan punggung tangan kanannya, memandang kembali, dan... seketika muka nenek itu menjadi merah dan kelihatan marah bukan main.

"Hek-hiat-kwi (Setan Berdarah Hitam) Lauw Kin, kiranya engkau sendiri yang ke sini untuk membunuh aku? Atau untuk mengejek dan sengaja membawa pacarmu yang baru, gadis muda yang cantik itu? Bagus, jangan kira aku tidak berdaya lagi setelah bertahun-tahun ini, engkaulah yang akan mampus lebih dahulu, setan!"

Tiba-tiba saja nenek itu menyerang dengan banyak sekali kerikil yang disambitkan atau ditiupkan, semua ke arah Hay Hay sehingga pemuda ini menjadi sibuk bukan main karena kini benar-benar dia dihujani batu kerikil yang datang menyerang bertubi-tubi dan semua itu dilepaskan dengan kekuatan dahsyat, bahkan masing-masing batu kerikil menyerang ke arah bagian berbahaya dari tubuhnya. Dia terpaksa berloncatan di atas cabang, lalu dari dahan ke dahan sambil memutar-mutar caping yang sudah diambilnya dari punggung untuk menangkis.

Diam-diam Kui Hong merasa geli juga melihat hasil sihir pemuda itu, akan tetapi dia pun kagum bukan main melihat cara pemuda itu menghindarkan diri. Kalau dia yang diserang seperti itu, sukarlah baginya untuk dapat menyelamatkan diri. Dan diam-diam dia merasa khawatir sekali, maka dia pun segera mengerahkan khikang lantas dengan suara nyaring mengandung kekuatan khikang dia pun berteriak.

"Nenek tolol! Lihat baik-baik, dia adalah seorang pemuda bernama Hay Hay, sama sekali bukan suamimu yang bernama Lauw Kin!"

Ternyata lengkingan suara ini mampu menembus jarak dan pada saat itu Hay Hay juga menyimpan kekuatan sihirnya. Nenek itu memandang heran dan langsung menghentikan serangannya. Hay Hay berdiri di atas cabang pohon, wajahnya masih sedikit pucat dan diam-diam dia memaki diri sendiri. Tolol, kiranya nenek ini agaknya bermusuhan dengan suaminya sendiri!

Sesudah melihat bahwa yang diserangnya mati-matian tadi bukanlah suaminya melainkan seorang pemuda, nenek itu terbelalak dan kelihatan bingung. Kesempatan ini digunakan oleh Hay Hay untuk membujuknya.

"Nenek yang baik, kami tidak punya kesalahan padamu, kenapa engkau memusuhi kami? Manusia hidup harus saling tolong menolong. Kami sedang berada dalam kesulitan, tadi terjatuh dari atas dan tertolong oleh pohon ini, akan tetapi kami tidak dapat naik atau turun dari sini. Tolonglah kami, Nek, siapa tahu kami juga akan dapat menolongmu kelak."

Nenek itu agaknya berpikir sampai lama, memandang pada Hay Hay dan Kui Hong, lalu mengangguk-angguk. "Aku sudah salah sangka, kalian jelas bukan musuh, bukan utusan suamiku, akan tetapi kalian lihai. Memang benar, kalian tentu akan dapat menolong aku yang hidup sengsara ini... uhu-hu-huh... aku yang sengsara, disengsarakan oleh seorang laki-laki yang jahat."

Nenek itu lalu menangis sampai sesenggukan. Tangis itu seperti tiada hentinya sehingga kedua orang muda di atas pohon itu saling pandang. Karena sudah menanti tangis nenek itu sampai lama akan tetapi tangis itu tak pernah berhenti, Kui Hong menjadi kehilangan kesabarannya.

"Sudahlah, Nek, hentikan tangismu itu dan tolonglah kami kalau memang engkau mampu, baru kita bicara tentang masalahmu dan aku akan menolongmu!" kata Kui Hong sebelum dapat dicegah oleh Hay Hay. Khawatir kalau-kalau nenek itu marah lagi, Hay Hay segera menyambung sambil mengerahkan ilmu sihirnya untuk menguasai nenek ini.

"Benar, Nek. Percayalah kepada kami. Kami bukan orang jahat dan kalau engkau dapat menolong kami, tentu kami juga akan berusaha menolongmu untuk membalas budimu."

Nenek itu menghentikan tangisnya dan memandang kepada Hay Hay, kemudian dia pun mengangguk. "Baik, baik, jangan khawatir. Aku pasti akan menolong kalian."

Mendadak tubuh bagian atas dan kepala nenek itu lenyap, agaknya dia masuk ke dalam goa. Dua orang muda di atas pohon itu saling pandang lagi, dan tentu saja keadaan ini amat menegangkan bagi mereka. Mereka masih meragukan karena bagaimana mungkin nenek itu akan dapat menolong mereka?

"Nona, dengarlah..."

"Hay Hay, kalau engkau menyebut nona lagi kepadaku, selamanya aku takkan sudi bicara denganmu lagi! Namaku Kui Hong, engkau sudah tahu ini, jadi tidak ada tuan-tuan atau nona-nonaan!"

Hay Hay tersenyum, dalam hatinya merasa gembira sekali. Sejak tadi, di luar dugaannya gadis ini menyebut namanya ketika melihat nenek dalam goa, dia sudah menduga bahwa gadis itu telah hilang kemarahannya terhadap dirinya dan mulai percaya kepadanya.

"Baiklah, Kui Hong, dan terima kasih. Sekarang dengar baik-baik sebelum dia muncul," katanya dengan suara halus dan lirih setengah berbisik. "Jika nenek itu nanti benar-benar menolong kita, biar aku yang lebih dulu ditolongnya, karena aku masih curiga kepadanya. Jangan-jangan dia menolong hanya untuk menjebak kita."

Kui Hong memang kini sudah percaya kepada Hay Hay. Percaya sepenuhnya, terutama sekali mengenai tingkat kepandaian mereka. Dia maklum bahwa Hay Hay adalah seorang pemuda yang sangat tinggi ilmunya. Dia sudah melihat sendiri betapa pemuda itu bukan hanya mampu menyambar kerikil itu, bahkan bisa menyelamatkan diri ketika dihujani batu kerikil, hanya dengan bantuan topinya!

Mendengar suara bisikan itu dia pun mengangguk karena dia sendiri juga belum percaya benar terhadap nenek itu dan memang sebaiknya Hay Hay yang lebih dahulu berhadapan dengan nenek itu, yang jelas mempunyai ilmu kepandaian silat yang tinggi pula dan akan merupakan lawan yang amat berbahaya.

Pada saat itu kepala Si Nenek tadi nongol kembali dan kini dia membawa segulung tali! Melihat tali itu, mengertilah Hay Hay dan wajahnya berubah gembira. Tidak disangkanya bahwa nenek itu mempunyai gulungan tali yang nampaknya panjang dan kuat itu! Kini dia pun mengerti bagaimana nenek itu hendak menolong mereka, yaitu mengajak mereka ke dalam goa itu, akan tetapi bagaimana pun juga, tentu lebih baik dari pada di atas pohon yang mencuat keluar dari tebing itu!

Akan tetapi Kui Hong cemberut. "Hemm, tali sebegitu, mana cukup untuk dipakai turun ke bawah?" katanya.

Mendengar ucapan ini, Si Nenek tertawa, kini suara ketawanya tidak bernada mengejek seperti tadi, walau pun masih kelihatan sama, yaitu mulut itu tidak bergigi lagi.

"Mau apa turun ke bawah? Kalau sudah turun ke dasar jurang, tak ada kemungkinan naik kembali, kecuali menunggang burung rajawali!" nenek itu berkata dengan suara sungguh-sungguh. "Akan tetapi sayang, selama bertahun-tahun ini tidak pernah kulihat seekor pun burung rajawali di daerah ini. Jalan keluar untuk menyelamatkan diri hanyalah melalui goa ini."

"Baiklah, Nenek yang baik. Lekas lontarkan ujung tali itu ke sini!" kata Hay Hay.

"He-heh-heh, engkau lebih cerdik. Dan engkau pun lihai sekali, orang muda. Aku percaya hanya engkau dan Nona itu yang mampu membantuku menghadapi musuh besarku. Nah, sambutlah tali ini!"

Nenek itu melontarkan ujung tali dan dari perbuatan ini saja sudah dapat dilihat betapa lihainya nenek itu. Kekuatan lontarannya begitu hebatnya sehingga ujung tali itu meluncur dengan cepat ke arah pohon itu, bagaikan dibawa anak panah saja,. Dan ternyata ujung tali itu dengan tepat sekali membelit batang pohon itu, melilit seperti seekor ular melilitkan ekornya!

Hay Hay cepat menghampiri batang pohon itu dan mengikatkan ujung tali dengan kuatnya pada sebatang pohon yang berukuran sepinggangnya, cukup kuat untuk menahan berat badannya. Dia memeriksa tali itu dan merasa kagum. Tali itu adalah tali yang amat kuat, dipintal dengan rapi, agaknya dikerjakan oleh tangan yang tekun dan bahannya semacam rumput yang ulet sekali dan sudah kering. Dia tidak tahu dari bahan apa tali itu dibuatnya, namun dia dapat menduga tentu dari semacam rumput yang amat kuat.

"Sudah kuikat dengan kuat, Nek. Tariklah biar tegang!" Kemudian dia berbisik kepada Kui Hong. "Kui Hong, jika nanti engkau menyeberang, jangan berjalan di atas tali. Berbahaya kalau dia melepaskan tali di ujung sana. Bergantung saja seperti yang aku lakukan."

Nenek di goa itu telah menarik talinya hingga tali itu kini menegang, merupakan jembatan yang terbuat dari sehelai tali, dari atas ke bawah namun tidak terlalu menurun sehingga kalau saja tidak takut dikhianati oleh nenek itu, akan lebih mudah bagi Hay Hay kalau dia berjalan atau berlari saja di atas tali itu. Akan tetapi kalau dia melakukan hal ini, sekali nenek itu melepaskan talinya, tubuhnya tentu akan terjatuh ke bawah sana.

"Kui Hong, aku menyeberang lebih dahulu, perhatikan!" bisiknya kepada nona itu dan dia pun berteriak ke arah goa, " Aku mulai menyeberang, Nek!"

Dan dia pun memegang tali itu dengan kedua tangannya, lalu meloncat dari atas cabang pohon. Kini tubuhnya bergantung pada tali itu dan melihat betapa tali itu benar cukup kuat seperti yang diduganya, mulailah dia bergerak maju, menggunakan sepasang tangannya merayap maju sambil bergantung.

Dengan cara demikian, andai kata nenek itu bertindak curang dan melepaskan tali, maka tubuhnya akan terjatuh ke bawah, akan tetapi karena dia berpegang pada tali tentu pohon itu cukup kuat menahan tubuhnya sehingga dia akan selamat dan kembali ke pohon tadi. Agaknya hal ini dimengerti pula oleh Kui Hong dan dia semakin kagum. Di samping lihai, pemuda itu juga cerdik sekali.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner